0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan4 halaman

Aktivator Bonggol Pisang vs Kulit Nanas dalam Pengomposan

Skripsi ini membandingkan penambahan aktivator bonggol pisang dan kulit nanas pada pengomposan limbah organik. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan aktivator konsentrasi 300 ml, 200 ml, dan 100 ml dapat mempercepat proses pengomposan hingga memenuhi standar kualitas kompos. Penelitian ini menyarankan masyarakat memanfaatkan limbah organik untuk dikompos dan digunakan sebagai pupuk.

Diunggah oleh

Riska Wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan4 halaman

Aktivator Bonggol Pisang vs Kulit Nanas dalam Pengomposan

Skripsi ini membandingkan penambahan aktivator bonggol pisang dan kulit nanas pada pengomposan limbah organik. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan aktivator konsentrasi 300 ml, 200 ml, dan 100 ml dapat mempercepat proses pengomposan hingga memenuhi standar kualitas kompos. Penelitian ini menyarankan masyarakat memanfaatkan limbah organik untuk dikompos dan digunakan sebagai pupuk.

Diunggah oleh

Riska Wati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ABSTRAK

Politeknik Kesehatan Makassar


Jurusan Kesehatan Lingkungan
Skripsi, Juni 2021
Riska Wati
Po.[Link].1.035
“Perbandingan Penambahan Aktivaktor Bonggol Pisang (Musa
Paradisiaca) Dan Kulit Nanas (Anana Comosus [Link]) Terhadap
Pengomposan”.

Dibimbing Oleh : Juherah dan Rasman


(xv + 63 halaman + 3 gambar + 8 tabel + 6 lampiran + 20 daftar
pustaka (2005-2020))
Sampah merupakan buangan dari hasil kegiatan baik rumah
tangga, perkantoran, pasar dan [Link] di Indonesia setiap
tahunnya semakin meningkat. Sampah jika dibiarkan dapat menimbulkan
berbagai masalah seperti, keindahan, kenyamanan dan juga masalah
kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan
penambahan aktivaktor bonggol pisang (Musa paradisiaca) dan kulit
nanas (Anana comosus [Link]) terhadap pengomposan dari sisa sayuran,
kotoran sapi dan serbuk gergaji. Jenis penelitian yng digunakan dalam
penelitian ini adalah eksperimen semu dengan sampel sebanyak 19
perlakuan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas kompos pada
masing-masing perlakuan memenuhi syarat yaitu pH 7,5, kelembaban
60%, suhu 30oC, berwarna coklat kehitaman, berbau tanah. Hasil uji
statistiknya yaitu 1,000 > 0,005 dan lama waktu kematangan kompos
dengan aktivator bonggol pisang konsentrasi 300 ml matang pada hari ke
18, kompos dengan aktivator bonggol pisang 200 ml matang pada hari ke
ke 20, kompos dengan aktivator bonggol pisang konsentrasi 100 ml
matang pada hari ke 22. Sedangkan Kompos dengan aktivator kulit nanas
konsentrasi 300 ml matang pada hari ke 20, kompos dengan aktivator kult
nanas konsentrasi 200 ml matang pada hari ke 21,kompos dengan
aktivator kulit nanas konsentrasi 100 ml matang pada hari ke 22 dan
kompos tanpa aktivator matang pada hari ke 23. Hasil uji statistinya yaitu
0,003 < 0,005.
Kesimpulan, penambahan aktivator bonggol pisang dan kulit nanas
konsentrasi 300 ml, 200 ml, dan 100 ml mampu mempercepat
pengomposan dengan kualitas yang memenuhi syarat. Sebaiknya
masyarakat memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan kompos atau
aktivator dan dimanfaatkan untuk kegiatan bercocok tanam.
Kata Kunci : Aktivator Bonggol Pisang, Aktivator Kulit Nanas,
Pengomposan.

iv
ABSTRACT
Makassar Health Polytechnic
Environmental Health Department
Thesis, June 2021
Riska Wati
Po.[Link].1.035
"Comparison of Addition of Banana Hump (Musa paradisiaca) And
Pineapple Skin (Anana comosus [Link]) Activator Against
Composting".
Supervised By : Juherah and Rasman
(xv + 63 pages + 3 pictures + 8 tables + 6 appendices + 20
bibliography (2005-2020))
Garbage is a waste from the results of activities both households,
offices, markets and others. Garbage in Indonesia is increasing every
year. Garbage if left unchecked can cause various problems such as
beauty, comfort and health problems.
This study aims to compare the addition of banana weevil (Musa
paradisiaca) and pineapple peel (Anana comosus L. Merr) activator to
composting of vegetable residues, cow dung and sawdust. The type of
research used in this study was a quasi-experimental with a sample of 19
treatments.
The results of this study indicate that the quality of the compost in
each treatment met the requirements, namely pH 7.5, humidity 60%,
temperature 30oC, blackish brown in color, smelled of earth. The results of
the statistical test are 1,000 > 0.005 and the maturity time of compost with
banana wee activator concentration of 300 ml is ripe on day 18, compost
with banana wee activator 200 ml is ripe on day 20, compost with banana
wee activator concentration of 100 ml is ripe on day 22. Meanwhile,
compost with pineapple peel activator concentration of 300 ml ripened on
day 20, compost with pineapple peel activator concentration of 200 ml
ripened on day 21, compost with pineapple peel activator concentration of
100 ml ripened on day 22 and compost without activator was ripe. on day
23. The statistical test results were 0.003 < 0.005.
In conclusion, the addition of banana weevil and pineapple peel
activator with concentrations of 300 ml, 200 ml, and 100 ml can accelerate
composting with quality that meets the requirements. People should use
organic waste to make compost or activator and use it for farming
activities.

Keywords: Banana Weevil Activator, Pineapple Skin Activator,


Composting.
DAFTAR PUSTAKA

Edi Warsidi. 2008. Mengolah Sampah Menjadi Kompos. Bekasi : Mitra


Utama.
Endang Astuti Handayani. 2019. Mikro Organisme Lokal. (online)
[Link]
Lokal------------------------------------------------------------------------------------
Bonggol-Pisang-/. (Diakses tanggal 9 Januari 2021)
Enri Damanhuri, Tri Padmi. 2011. Pengolahan Sampah. Diklat Kuliah.
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institud Teknologi Bandung.
H.A. Mustofa. 2005. Kamus Lingkungan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Karyono, T., & Laksono, J. (2019). Kualitas Fisik Kompos Feses Sapi
Potong dan Kulit Kopi dengan Penambahan Aktivator Mol Bongkol
Pisang dan EM4. Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal
of Animal Science), 21(2), 154. [Link]
162.2019

Muchlisin Riadi. 2015. Pengertian, Jenis dan Dampak Sampah. (online)


[Link]
[Link]?m=1 (diakses pada tanggal 22 Desember
2020)
Mulyono. 2016. Membuat Miktoorganisme Lokal (Mol) Dan Kompos Dari
Sampah Rumah Tangga. Jakarta : PT Agromedia Pustaka.
Nurul Fajriah Sudarman. 2020. Kemampuan Mikroorganisme Lokal
Bonggol Pisang Sebagai Sumber Nutrisi Mikroorganisme Terhadap
Proses Pengomposan Sampah Organik. Skripsi. Jurusan Kesehatan
Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar.
Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.
Sampul Pertanian. 2017. Klasifikasi dan morfologi nanas (Ananas
comosus). (online).
[Link]
[Link]?m=1. (Disukses tanggal 24 Desember 2020)
Sampul Pertanian, 2017. Klasifikasi dan Morfologi Pisang (Musa
Parasidica). (online)
[Link]
[Link]?m=1 (Diakses tanggal 28 Desember 2020)
Soekidjo Notoatmodjo. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Supionor, Juanda, & Hardiono. (2018). Perbandingan Penambahan
Bioaktivator EM4 (Effective Microorganisme) dan MOL
(Microorganisme Local) Kulit Nanas (Anana Comosus L. Merr)
Terhadap Waktu Terjadinya Kompos. Kesehatan Lingkungan, 15(1),
567–572.
[Link]
41

Teti Suryati. 2014. Bebas Sampah Dari Rumah. Jakarta Selatan: PT


Agromedia.

Tim Penulis PS. 2010. Penanganan & Pengolahan Sampah. Jakarta:


Penebar Swadaya.
Wahyuni Sahani. dkk. 2018. Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan
Skripi. Makassar: Politeknik Kesehatan Jurusan Kesehatan
Lingkungan.
Willyan Djaja. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos Dari Kotoran Ternak
dan Sampah. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.
Windriati. 2019. Mikro Organisme Lokal (Mol) Buah. (online)
[Link]
ORGANISME-LOKAL-MOL-BUAH/. ( Diakses tanggal 9 Januari
2021)
Yovita Hety Indrianti. 2011. Membuat Kompos, Secara Kilat. Jakarta:
Swadaya.
Yovita Hety Indrianti, Praseya W. 2017. Cara Mudah & Cepat Buat
Kompos. Jakarta: Penebar Swadaya.

Anda mungkin juga menyukai