0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan7 halaman

Penyuluhan Stunting pada Balita: Solusi dan Pencegahan

1) Dokumen tersebut membahas tentang satuan acara penyuluhan (SAP) mengenai stunting pada balita. SAP ini berisi tentang latar belakang, tujuan, sasaran, waktu, tempat, metode, dan materi penyuluhan stunting yang mencakup penjelasan apa itu stunting, dampak, penyebab, dan langkah pencegahannya.

Diunggah oleh

Selfiani Triutami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan7 halaman

Penyuluhan Stunting pada Balita: Solusi dan Pencegahan

1) Dokumen tersebut membahas tentang satuan acara penyuluhan (SAP) mengenai stunting pada balita. SAP ini berisi tentang latar belakang, tujuan, sasaran, waktu, tempat, metode, dan materi penyuluhan stunting yang mencakup penjelasan apa itu stunting, dampak, penyebab, dan langkah pencegahannya.

Diunggah oleh

Selfiani Triutami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

“STUNTING”

Cabang Ilmu : Kebidanan

Topic : Stunting

Sub Tema : Stunting Pada Balita

A. Latar Belakang
Sebenarnya apa itu stunting? Menurut IDAI, stunting adalah perawakan
pendek yang merupakan gangguan pertumbuhan yang sebagian besar
disebabkan karena masalah nutrisi. Secara sederhana stunting dapat dikatakan
sebagai pengerdilan. Hal ini merujuk pada kondisi gagal pertumbuhan pada
anak yang menyebabkan mereka tidak memiliki tubuh proporsional
sebagaimana mestinya. Stunted children atau anak yang
terkena stunting biasanya memiliki tubuh badan yang pendek dan kemampuan
otak yang sedikit terbelakang. Penyebab utama dari penyakit ini adalah
kurangnya asupan gizi penting dalam waktu yang cukup lama. Menurut
beberapa penelitian, kasus stunting seringkali terjadi di masyarakat tanpa
disadari. Hal ini utamanya terjadi pada komunitas yang orang tuanya kurang
menyadari apa itu stunting dan pentingnya melakukan kontrol rutin terhadap
perkembangan anak. 
Secara kasat mata, seringkali anak yang terkena kondisi stunting tidak terlalu
dapat dibedakan dengan kebanyakan anak-anak lainnya. Orang tua yang tidak
memahami apa itu stunting seringnya tidak bisa membedakan pertumbuhan
anak yang terlambat dengan anak yang terkena stunting. Menurut World
Health Organization (WHO), stunting merupakan penyakit dari hasil interaksi
kompleks yang ada dalam rumah tangga, lingkungan, aspek sosio ekonomi,
hingga pengaruh budaya. Stunting biasanya diidentifikasi dengan menilai
panjang atau tinggi anak (panjang anak saat telentang untuk anak usia di
bawah dua tahun atau tinggi saat berdiri untuk anak usia di atas dua tahun),
dan membandingkannya dengan pengukuran atas standar-standar tertentu yang
dapat diterima. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementerian
Kesehatan RI, ada sekitar 8,9 juta anak di Indonesia yang menderita kondisi
stunting. Artinya, 1 dari 3 balita mengalami gangguan pertumbuhan dan butuh
perhatian lebih. 
B. Tujuan
Tujuan Umum :
Setelah melakukan penyuluhan ini diharapkan ibu dan keluarganya dapat
mengubah pola pikir dan lebih peduli pada balitanya agar balita tidak
mengalami Stunting.
Tujuan Khusus :
Setelah mengikuti penyuluhan ini diharapkan ibu dan keluarga mampu:
 Mengetahui definisi stunting
 Dampak stunting
 Penyebab stunting
 Langkah pencegahan stunting
C. Sasaran : Ibu hamil dan balita
D. Waktu Kegiatan : 25 Januari 2023, 16.00 WIB.
E. Tempat : Posyandu
F. Metode : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab
G. Media : PowerPoint
H. Alat Penunjang : Infokus
I. Pemateri : Laelatul Musoharoh
J. Materi : Terlampir
K. Susunan Acara Penyuluhan
Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Kegiatan Waktu
1 Pendahuluan  Memberi salam terapeutik 1 menit
 Menjelaskan tujuan
 Kontrak waktu
2 Penyajian 8 menit
 Mengetahui definisi stunting

 Mengetahui Dampak stunting


 Mengetahui Penyebab
stunting
 Langkah pencegahan stunting
3 Penutup  Salam terapeutik 1 menit

L. Evaluasi
1. Evaluasi Persiapan
Warga kp girilaya menghadiri serta mengikuti penyuluhan, media dan alat
penyuluhan sesuai dengan rencana.
2. Evaluasi Proses
 Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
 Warga Kp. Girilaya RT08 ikut dalam berpartisipasi dalam kegiatan
 Waktu yang direncanakan tidak sesuai dengan pelaksanaannya
 Suasana yang kurang mendukung karena terik matahari
3. Evaluasi Hasil
Setelah mengikuti penyuluhan ini :
 Mengetahui definisi stunting
 Mengetahui dampak stunting
 Mengetahui penyebab stunting
 Mengetahui langkah pencegahan stunting
B. Materi
a. Apa itu Stunting
Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan
penyakit dari hasil interaksi kompleks yang ada dalam rumah
tangga, lingkungan, aspek sosio ekonomi, hingga pengaruh
budaya. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh
Kementerian Kesehatan RI, ada sekitar 8,9 juta anak di Indonesia
yang menderita kondisi stunting. Artinya, 1 dari 3 balita
mengalami gangguan pertumbuhan dan butuh perhatian lebih.
b. Dampak Stunting
Salah satu dampak stunting yang paling mudah dilihat adalah
tinggi dan berat badan si Kecil yang jauh di bawah rata-rata anak
seusianya. Selain itu, stunting juga bisa berdampak sebagai berikut:
1. Si Kecil yang mengalami stunting mengalami kekurangan gizi
yang berdampak pada kurangnya asupan energi sehingga
menghambat perkembangan otak mereka. Hal ini tentu akan
memengaruhi kecerdasan otak mereka yang ditunjukkan
dengan kesulitan belajar dan menyerap informasi.
Beberapa kasus menunjukkan keterlambatan perkembangan
sejak kecil; misalnya belajar merangkak di waktu yang lebih
lambat dibandingkan bayi lain pada umumnya.
2. Membuat si Kecil mudah terserang penyakit. Anak yang
mengidap stunting pada umumnya memiliki sistem imun yang
kurang baik sehingga mereka gampang terserang penyakit
mulai dari pneumonia, diare, meningitis, tuberkulosis hingga
hepatitis.
3. Mempunyai postur tubuh kecil ketika dewasa.
4. Risiko terserang penyakit kronis lebih tinggi pada usia dewasa.
Studi menunjukkan penderita stunting memiliki relasi dengan
tekanan darah tinggi, disfungsi ginjal, dan metabolisme glukosa
yang buruk.
5. Menyebabkan kematian pada usia dini. Hal ini tentunya
berkaitan dengan bagaimana stunting berdampak pada imunitas
dan risiko terserang penyakit kronis. Anak yang yang
terkena stunting identik dengan malnutrisi yang jika
berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang lama tidak
menghindari risiko kemungkinan berujung pada kematian pada
usia dini.
6. Ukuran lingkar kepala anak lebih kecil dibanding ukuran
normal anak seusianya yang menandakan bahwa otaknya tidak
berkembang dengan baik.
7. Jika otak tidak berkembang dengan baik, maka dapat
mempengaruhi kecerdasan.
8. Badan anak terlalu kurus atau bisa jadi malah kegemukan
akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula.
c. Penyebab Stunting
1. Ibu kurang mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi
selama hamil dan menyusui. Misalnya, kekurangan nutrisi yang
mengandung Protein, Asam Folat, Kalsium, Zat Besi, Omega
3, dan Serat.
2. Si Kecil tidak mendapat ASI eksklusif dan jumlah serta
kualitas MPASI-nya tidak mencukupi kebutuhan si Kecil
ketika berusia 6 bulan ke atas.
3. Lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Misalnya, kekurangan
air bersih dan tidak mempunyai saluran pembuangan limbah
mandi, mencuci, atau membuang kotoran yang baik.
Akibatnya, si Kecil, terutama saat berusia kurang dari 2 tahun,
lebih rawan terkena infeksi maupun bermacam penyakit.
4. Kurangnya fasilitas kesehatan untuk ibu dan anak dari masa
kehamilan hingga kelahiran dan pertumbuhan.
5. Kurangnya stimulasi psikososial melalui hubungan orang tua-
anak semasa perkembangan anak.
6. Faktor keturunan. Penderita stunting kemungkinan besar juga
akan melahirkan anak yang menderita stunting.
d. Langkah Pencegahan Stunting
1. Selama hamil, Ibu memang harus makan lebih banyak
sekaligus lebih bergizi supaya janin dalam kandungan turut
mendapatkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Penting bagi
kedua orang tua untuk menyadari bahwa selama masa
kehamilan, konsumsi ibu selama masa kehamilan juga menjadi
sumber nutrisi utama bagi janin tidak hanya bagi ibu sendiri.
Jika diperlukan ibu dapat mengkonsultasikan asupan nutrisi
kepada ahli untuk memastikan konsumsi nutrisi janin terpenuhi
dengan baik.
2. Rutin melakukan kontrol kandungan ke bidan atau dokter
kandungan untuk mengetahui tumbuh kembang janin. Di masa
sekarang ini dokter dan rumah sakit telah dilengkapi dengan
berbagai macam perangkat medis yang didukung oleh teknologi
yang canggih untuk membantu para ibu hamil memantau
kondisi janin mereka. Tidak ada salahnya memanfaatkan
teknologi ini dengan baik untuk memastikan janin tumbuh dan
berkembang dengan baik sebagaimana mestinya.
3. Mengonsumsi suplemen penambah darah dan asam folat.
4. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada bayi. ASI
eksklusif merupakan sumber nutrisi yang sangat penting bagi
masa-masa awal perkembangan bayi oleh karenanya penting
bagi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Selain itu, ibu
juga perlu memastikan kualitas ASI dengan mengkonsumsi
makanan-makanan yang bergizi dan membantu menopang
kebutuhan produksi ASI bagi sang anak.
5. Memberikan susu pertumbuhan untuk si
Kecil. Penelitian mengungkapkan bahwa mengonsumsi susu
pertumbuhan dapat menekan jumlah angka anak stunting di
Indonesia. Konsumsi susu pertumbuhan lebih dari 300 ml per
hari atau 2-3 gelas sehari bisa melindungi si Kecil
dari stunting lho, Bu
6. Memberikan MPASI setelah bayi berusia 6 bulan dengan
tekstur makanan yang ditingkatkan sesuai usia bayi. Meskipun
6 bulan, ibu diharapkan masih tetap diharapkan memberikan
ASI sebagai sumber utama nutrisi anak. Namun disamping itu
ibu juga sudah mulai dapat memberikan asupan tambahan
seperti susu formula atau bubur bayi yang dapat membantu
memenuhi asupan anak.
7. Rajin mencari informasi tentang makanan dan minuman yang
boleh dan tidak boleh diberikan kepada si Kecil sesuai usianya.
8. Memberi si Kecil asupan gizi yang cukup, terutama protein dan
kalsium. Hapus kebiasaan mengkonsumsi nasi dengan porsi
banyak, tapi protein sedikit. Asupan yang terpenting justru
adalah protein yang dapat menunjang tumbuh kembang si
Kecil.

Anda mungkin juga menyukai