EVALUASI PENERIMAAN SISTEM INFORMASI
E-LEARNING DENGAN METODE TECHNOLOGY
ACCEPTANCE MODEL (TAM) DI PUSDIKLAT BPK RI
Tesis
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2
Program Studi Magister Teknologi Informasi
Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi
Fakultas Teknik
diajukan oleh
Astomo Fitra Wibowo
11/322530/PTK/07510
kepada
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
ii
iii
PRAKATA
Pertama-tama, penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang
telah memberikan anugerah dan kesehatan sehingga penulis bisa menyelesaikan
tesis ini. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
mendapatkan gelar Master of Engineering pada Sekolah Pasca Sarjana Magister
Teknologi Informasi program Studi Chief Information Officer Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan pernah selesai tanpa bantuan
dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini ingin menyampaikan
penghargaan dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Ir. Eko Nugroho, [Link]., sebagai pembimbing utama, yang telah
mengarahkan penulis dalam menyusun tesis ini.
2. Dr. Wing Wahyu Winarno, MAFIS., Ak., sebagai pembimbing pendamping,
yang juga telah mengarahkan penulis dalam menyusun tesis ini.
3. Seluruh staf dan dosen pengampu pada Magister Teknologi Informasi
Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan pelayanan dan bekal ilmu
yang sangat bermanfaat bagi penulis.
4. Ayah Ibu tercinta dan seluruh keluargaku atas segala bentuk dukungan,
bimbingan dan doa yang tak pernah berhenti diberikan kepada penulis.
5. Istriku Intan Rosita Rachmawati dan anakku Khairunnisa Gayatri Wibowo
yang merupakan pembawa semangat untuk senantiasa berkarya termasuk
dalam menyelesaikan tesis ini.
iv
6. Keluarga besar atas segala bentuk dukungan, bimbingan dan doa yang tak
pernah berhenti diberikan kepada penulis.
7. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi CIO angkatan 7 Magister Teknologi
Informasi Universitas Gadjah Mada yang dengan segala bantuan dan
dukungan serta kebersamaannya dalam mengisi hari-hari di Yogyakarta.
8. Responden pengguna E-learning BPK RI yang telah bersedia membantu
penelitian ini.
9. Semua pihak yang tak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu terselesaikannya tesis ini dengan baik.
Semoga segala kebaikan, bimbingan, masukan dan doa mereka mendapat balasan
yang berlipat ganda dari Allah SWT dan diberikan kemudahan dalam urusannya.
Penulis berharap agar tesis ini memberikan manfaat bagi para pembacanya.
Yogyakarta, April 2013
Penulis
v
ARTI SINGKATAN
AT : Attitude Towards Using Technology
AU : Actual Use
AVE : Average Variance Extracted
BI : Behavioral Intention To Use Internet
BPK RI : Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
CBSEM : Covariance Based Structural Equation Model
EUC : End User Computing
HOT : Human Organization Technology
ICT : Information and Communication Technology
KPU : Komisi Pemilihan Umum
LMS : Learning Management System
PEOU : Perceived Ease of Use
PU : Perceived Usefulness
PLS : Partial Least Square
SEM : Structural Equation Model
TAM : Technology Acceptance Model
TIK : Teknologi Informatika dan Komunikasi
TPB : Theory Planned Behavior
TTF : Task Technology Fit
TRA : Theory of Reasoned Action
UTAUT : Unified Theory of acceptance and Usage of Technology
(UTAUT)
vi
ABSTRACT
The implementation of e-learning at the Center of Education and Training
BPK RI encourage business process effectively and efficiently. E-learning is
expected to enhance the business processes of education and training center
because it facilitates the learning process of representative offices in 33 provinces.
E-learning also enables the learning activities independently. The readiness of the
factors supporting the success of e-learning can lead the full implementation of e-
learning. Therefore, it is necessary to evaluate the acceptance of e-learning
information system.
The theory that influences in the evaluation of the use of information
technology systems and is commonly used to explain the individual acceptance of
the use of information technology systems is the Technology Acceptance Model
(TAM). TAM was introduced by Fred D Davis. It defines two factors that
influence user acceptance in technology. These factors are the perception of the
benefits of technology and the perception of the ease of technology.
This research was carried out to 118 respondents of e-learning users. The
data was analyzed by Structural Equation Modeling (SEM) in software SmartPLS.
The results indicate that Perceived Ease of Use influences Perceived Usefulness,
Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use influence Attitude Toward,
Attitude Toward and Perceived Usefulness influence Behavioral Intention, and
Behavioral Intention and Perceived Usefulness influence Actual Technology Use
(α = 0.05).
Keywords: Evaluation, E-learning, Technology Acceptance Model( TAM)
vii
INTISARI
Penerapan e-learning di Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPK RI mendorong
peningkatan proses bisnis menjadi efektif dan effisien. Dengan Kantor perwakilan
yang tersebar di 33 Provinsi, penerapan e-learning diharapkan dapat
meningkatkan proses bisnis pusat pendidikan dan pelatihan menjadi lebih baik. E-
learning juga memungkinkan terjadinya aktivitas pembelajaran secara
independen. Pemanfaatan e-learning dapat diperoleh secara lengkap apabila
seluruh faktor yang menyertainya dalam kondisi yang siap (ready). Oleh karena
itu, perlu adanya evaluasi terhadap penerimaan sistem informasi e-learning.
Salah satu teori tentang evaluasi penggunaan sistem teknologi informasi
yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan
penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi adalah
model penerimaan teknologi atau Technology Acceptance Model (TAM) yang
pertama kali diperkenalkan oleh Fred D Davis. TAM dapat digunakan untuk
mengukur tingkat penerimaan pengguna terhadap teknologi. TAM mendefinisikan
dua faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna terhadap teknologi yaitu
persepsi akan manfaat teknologi dan persepsi akan kemudahan dalam teknologi.
Penelitian ini dilakukan kepada 118 responden pengguna e-learning. Metode
analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM)
dengan software SmartPLS. Hasil pengujian dengan menggunakan α = 0,05
menunjukan bahwa Perceived Ease of Use berpengaruh terhadap Perceived
Usefulness, Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use berpengaruh
terhadap Attitude Toward, Attitude Toward dan Perceived Usefulness berpengaruh
terhadap Behavioral Intention, serta Behavioral Intention dan Perceived
Usefulness berpengaruh terhadap Actual Technology Use.
Kata Kunci: Evaluasi, E-learning, Technology Acceptance Model( TAM)
viii
DAFTAR ISI
Hal
PERNYATAAN............................................................................................... ..iii
PRAKATA ....................................................................................................... ..iv
ARTI SINGKATAN ........................................................................................ ..vi
ABSTRACT ..................................................................................................... .vii
INTISARI......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................... ..ix
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ..xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ ...1
1.1. Latar Belakang ......................................................................... ....... 1
1.2. Perumusan Masalah .................................................................. ........6
1.3. Keaslian Penelitian .................................................................... .......6
1.4. Manfaat Penelitian..................................................................... .......8
1.5 Tujuan Penelitian........................................................................ .......9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. ......10
2.1 Tinjauan Pustaka ....................................................................... ......10
2.2 Landasan Teori .......................................................................... ......12
2.3 Hipotesis Penelitian ................................................................... ......45
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................... ......47
3.1 Bahan Penelitian ........................................................................ ......47
ix
3.2 Alat Penelitian ........................................................................... ......48
3.3 Jalan Penelitian .......................................................................... ......53
3.4 Populasi dan Sampel .................................................................. ....59
3.5 Kesulitan - Kesulitan .................................................................. ....59
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. ....60
4.1 Hasil Penelitian ........................................................................... ....60
4.2 Pembahasan ................................................................................ ....85
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... ....92
5.1 Kesimpulan ................................................................................. ....92
5.2 Saran ........................................................................................... ....93
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. ....95
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tampilan muka E-learning BPK RI ............................................ 20
Gambar 2.2 Menu utama E-learning BPK RI .................................................. 21
Gambar 2.3 Proses Pendaftaran E-learning BPK RI ........................................ 21
Gambar 2.4 Proses Login E-learning BPK RI ................................................. 22
Gambar 2.5 Tampilan pengguna E-learning BPK RI ...................................... 22
Gambar 2.6 Menu diklat E-learning BPK RI ................................................... 23
Gambar 2.7 Menu mata kuliah E-learning BPK RI ......................................... 24
Gambar 2.8 Model Kesuksesan Deleon dan McLean ...................................... 25
Gambar 2.9 Technology Acceptance Model (TAM)........................................ 25
Gambar 2.10 Model Task Technology Fit ........................................................27
Gambar 2.11 Model UTAUT .......................................................................... 28
Gambar 2.12 End User Computing (EUC) Satisfaction .................................. 29
Gambar 2.13 Human organizational Technology (HOT) Fit Model .............. 30
Gambar 2.14 Technology Acceptance Model (TAM) (Davis, 1989) ............... 34
Gambar 2.15 Model Hipotesis Penelitian ......................................................... 45
Gambar 3.1 Tampilan awal E-learning BPK RI ......................................... .....48
Gambar 3.2 Jalan Penelitian .............................................................................54
Gambar 4.1 Grafik responden berdasarkan jenis kelamin .............................. 62
Gambar 4.2 Grafik responden berdasarkan lokasi penempatan ..................... 63
Gambar 4.3 Grafik responden berdasarkan usia ............. .............................. 64
xi
Gambar 4.4 Grafik responden berdasarkan pendidikan ................................. 65
Gambar 4.5 Grafik responden berdasarkan masa kerja . ............................... 66
Gambar 4.6 Grafik responden berdasarkan jabatan ........ .............................. 67
Gambar 4.7 Grafik jawaban responden terhadap Perceived Ease of Use ........68
Gambar 4.8 Grafik jawaban responden terhadap Perceived Usefulness ..........69
Gambar 4.9 Grafik jawaban responden terhadap Attitude Toward .................70
Gambar 4.10 Grafik jawaban responden terhadap Behavioral Intention
to Use Internet ..................................................................................................71
Gambar 4.11 Grafik jawaban responden terhadap Actual Use Internet ...........72
Gambar 4.12 Hasil Loading factor awal masing-masing indikator..................73
Gambar 4.13 Hasil Loading factor masing-masing indikator ..........................75
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbandingan beberapa metode evaluasi sitem informasi................30
Tabel 3.1 Skala Likert.......................................................................................49
Tabel 3.2. Indikator Perceived Ease of Use (PEOU) .......................................51
Tabel 3.3. Indikator Perceived Usefulness (PU) ..............................................51
Tabel 3.4. Indikator Attitude Towards Using Technology (AT) .......................52
Tabel 3.5. Indikator Behavioral Intention to use internet (BI) .........................52
Tabel 3.6. Indikator Actual Use (AU) ...............................................................53
Tabel 3.7. Jadwal Rencana Penelitian ..............................................................53
Tabel 4.1 Hasil pengumpulan kuesioner ..........................................................62
Tabel 4.2 Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin ...............................62
Tabel 4.3 Deskripsi responden berdasarkan lokasi penempatan ......................63
Tabel 4.4 Deskripsi responden berdasarkan usia..............................................63
Tabel 4.5 Deskripsi responden berdasarkan Pendidikan ..................................64
Tabel 4.6 Deskripsi responden berdasarkan lamanya masa kerja dalam
organisasi ...…………………...........……………………………. 65
Tabel 4.7 Deskripsi responden berdasarkan jabatan dalam organisasi.............66
Tabel 4.8 Jawaban responden terhadap variabel Perceived Ease of Use .........67
Tabel 4.9 Jawaban responden terhadap variabel Perceived Usefulness ...........68
Tabel 4.10 Jawaban responden terhadap variabel Attitude Toward .................69
Tabel 4.11 Jawaban responden terhadap variabel Behavioral Intention
xiii
to Use Internet ................................................................................70
Tabel 4.12 Jawaban responden terhadap variabel Actual Use Internet ............71
Tabel 4.13 Hasil awal Loading factor ..............................................................74
Tabel 4.14 Hasil Loading factor .......................................................................75
Tabel. 4.15 Nilai korelasi antar konstruk (Latent Variable Correlations) .......76
Tabel 4.16 Nilai AVE dan Akar AVE ................................................................76
Tabel 4.17 Nilai Cross Loading .......................................................................77
Tabel 4.18 Nilai Composite Reability dan Cronchbach Alpha ........................78
Tabel 4.19 Nilai R-Square ................................................................................79
Tabel 4.20 Path Coefficients (Mean, STDEV, T-Values) .................................80
Tabel 4.21 Hasil Inner Weight ..........................................................................81
Tabel 4. 22 Kesimpulan hasil uji hipotesis .......................................................85
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) berbasis
internet saat ini sangat pesat, membuat semua pihak termotivasi untuk secepat
mungkin beradaptasi dalam segala hal termasuk pemanfaatan dan
penyebarluasannya. Internet memungkinkan orang dapat berkomunikasi,
mengakses sumber-sumber informasi dan bertransaksi tanpa dibatasi oleh batas-
batas wilayah suatu negara. Berdasarkan data dari Internet Worlds Stats,
pengguna internet di Indonesia hingga Desember 2010 tercatat sebanyak 39,6 juta
pengguna [1]. Data ini menunjukkan bahwa internet dimanfaatkan oleh
masyarakat di semua bidang.
Salah satu wujud perkembangan TIK adalah penggunaan e-learning. E-
learning adalah sebuah pembelajaran pada semua tingkatan, formal atau non
formal yang menggunakan jaringan komputer (baik internet maupun intranet)
untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan atau fasilitas [2]. E-learning pertama
kali diperkenalkan oleh Universitas Illionis di Urbana-Champaign dengan
menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction)
dan komputer bernama PLATO. Sejak itu e-learning berkembang sejalan dengan
perkembangan dan kemajuan Information, Communication, Technology (ICT).
BPK RI adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-
1
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945[3]. Dalam pasal 23 ayat E
ayat 1 disebutkan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab
tentang keuangan negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas
dan mandiri.
Penerapan e-learning di pusat pendidikan dan pelatihan BPK RI baru
dimulai pada tahun 2011. Sistem pembelajaran secara elektronik ini dibangun
untuk mempermudah pegawai BPK dalam memperoleh pengetahuan/
pembelajaran melalui intranet BPK. Hal ini memungkinkan para pegawai untuk
belajar melalui komputer di unit kerja mereka masing-masing sehingga informasi
yang didapat melalui pembelajaran di kelas dapat di peroleh dengan mengakses
komputer. Di sini, peserta diklat bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa
mengambil tugas-tugas dan tes-tes yang harus dikerjakan, peserta juga bisa
melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai yang diperoleh.
Dengan e-learning, peserta diklat dan instruktur dapat memiliki
kesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan cara yang efektif dan
efisien, tanpa memerlukan kehadiran fisik di tempat yang sama. E-learning juga
memungkinkan terjadinya aktivitas pembelajaran secara independen.
Evaluasi terhadap sistem infomasi khususnya e-learning di BPK RI saat ini
masih belum dilakukan. Evaluasi sistem informasi membutuhkan integritas dan
komitmen dari pihak manajemen. Hal ini dirasakan sangat penting dikarenakan
organisasi telah melakukan investasi yang besar pada sistem informasi. Oleh
karena itu sistem informasi yang digunakan harus dapat memberikan timbal balik
atas investasi tersebut. Sistem informasi tersebut harus dapat melakukan
2
penghematan waktu, biaya, dan sumber daya lainnya serta mendukung
pengambilan keputusan yang tepat. Selain hal tersebut diatas, evaluasi sistem
informasi bermanfaat sebagai masukan bagi manajemen organisasi tentang
seberapa besar kontribusinya bagi organisasi. Hal lain adalah dengan sistem
informasi tersebut dapat meningkatkan pencapaian tujuan strategis organisasi.
Terakhir, dapat meraih keunggulan kompetitif dengan pemanfaatan sistem
informasi yang lebih luas.
Kegagalan dalam penerapan sistem informasi dapat terjadi bila evaluasi
tidak dilakukan secara tepat. Contoh nyata adalah tender pengadaan jaringan TI
KPU sendiri terdiri dari proyek pengadaan jaringan internet senilai Rp 1,6 miliar,
proyek pengadaan jaringan komunikasi data sebesar Rp 18, 9 miliar, pemeliharaan
data center Rp 2,3 miliar, dan pengadaan jasa integrasi sistem informasi KPU Rp
1,2 miliar [4]. Dengan investasi yang besar tersebut KPU diyakini dapat lebih
efektif dan effisien dalam perhitungan suara dalam Pemilu tahun 2009.
Realitasnya adalah bahwa informasi yang didapatkan adalah sekitar 6-7%
penghitungan suara nasional masuk ke Pusat Tabulasi Nasional sampai dengan
tanggal akhir. Angka capaian ini, jauh di bawah target KPU, dan juga capaian
suara sebagaimana yang dialami oleh KPU 2004. Pada hari yang sama, KPU 2004
sudah mampu mengumpulkan data hampir pada angka 80 %-an [5]. Hasil yang
didapat sangat jauh dari target yang diharapkan, hal ini menyebabkan dana Pemilu
tahun 2009 yang besar dan investasi IT KPU yang tidak sedikit tidak sebanding
dengan manfaat yang dirasakan dan terkesan sia-sia.
3
Contoh lain kegagalan penerapan TI adalah penerapan sistem baru yang
disebut dengan sistem kendali operasi terpadu (Integrated Operasional Control
System/IOCS) yang bernilai 1,5 juta dollar (sekitar Rp 13,5 miliar). Sistem ini
mengintegrasikan tiga sistem yang sebelumnya masing-masing terpisah dan
berdiri sendiri, yakni sistem untuk memantau pergerakan pesawat, awak kabin,
dan penjadwalan. Garuda mengoperasikan 81 pesawat, dengan penerbang sekitar
580 orang. Walaupun telah dilakukan uji coba, tetapi karena menyangkut banyak
data yang kompleks, dalam proses transisi ini ada data yang tidak sinkron dan
mengakibatkan informasi yang diterima awak kabin tidak akurat. Akibat tidak
akuratnya informasi yang diterima ini, awak kabin terlambat tiba di bandara
sehingga sejumlah penerbangan harus ditunda. Direktur Utama PT Garuda
Indonesia, Emirsyah Satar mengaku pihaknya telah mengeluarkan sekitar Rp 220
juta untuk biaya menginap sekitar 737 penumpang yang tidak jadi berangkat.
Biaya tersebut belum termasuk kompensasi pembayaran tiket hingga dua kali lipat
besarnya. Selain itu juga munculnya potensi kehilangan pendapatan akibat tidak
berfungsi sistem informasi tersebut [6].
Melihat contoh kasus kegagalan penerapan sistem informasi tersebut maka
evaluasi terhadap penerimaan e-learning ini dirasakan penting. Dengan kantor
perwakilan BPK RI yang tersebar di 33 propinsi yang terdiri dari auditor maupun
penunjang dan pendukung maka implementasi e-learning dirasakan akan
membuat penghematan dari sisi anggaran yang ada. E-learning akan membuat
proses bisnis Pusdiklat BPK RI menjadi lebih efektif dan efisien.
4
Salah satu teori tentang evaluasi penggunaan sistem teknologi informasi
yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan
penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi adalah
model penerimaan teknologi atau Technology Acceptance Model (TAM) yang
pertama kali diperkenalkan oleh Fred D Davis. Faktor utama yang menentukan
keberhasilan dari penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam organisasi
adalah sumber daya manusia yang juga sebagai pengguna. Hal yang menjadi
fundamental dari keberhasilan pengimplementasian teknologi informasi dan
komunikasi dalam organisasi adalah kemauan penggunaan untuk menerima dan
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.
TAM dapat digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan pengguna
terhadap teknologi. TAM mendefinisikan terdapat dua faktor yang mempengaruhi
penerimaan pengguna terhadap teknologi yaitu persepsi akan manfaat teknologi
dan persepsi akan kemudahan dalam teknologi. Kesederhanaan (parsimony) dan
kemampuan menjelaskan (explanatory power) hubungan sebab akibat merupakan
alasan utama penggunaan model TAM. Tujuan utama TAM adalah untuk
memberikan dasar untuk penelusuran pengaruh faktor eksternal terhadap
kepercayaan, sikap, dan tujuan pengguna [7]. TAM menganggap bahwa dua
keyakinan individual, yaitu persepsi kemanfaatan (perceived usefulness) dan
persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) adalah variabel perilaku
utama dalam mengadopsi sistem informasi.
Maka dengan uraian tersebut di atas, penulis berencana untuk melakukan
evaluasi E-learning dengan metode Technology Acceptance Model (TAM).
5
Metode ini akan mengukur tingkat penerimaan pengguna terhadap sistem
informasi e-learning di Pusdiklat BPK RI.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan kondisi tersebut diatas maka rumusan
penelitian ini adalah bagaimana tingkat penerimaan pengguna terhadap sistem
informasi E-Learning di BPK RI.
1.3 Keaslian Penelitian
Penelitian e-learning saat ini telah dilakukan baik itu kearah perancangan,
kesiapan (readiness), maupun keefektifan. Selain hal itu penelitian yang
membahas e-learning dilakukan terutama di perguruan tinggi atupun sekolah. Hal
ini dapat terjadi dikarenakan penerapan e-learning tersebut sudah berjalan dalam
jangka waktu yang cukup lama.
Adapun penelitian yang berkaitan dengan e-learning adalah:
1) Alam [8] melakukan penelitian yang memfokuskan pada efektifitas
pembelajaran ICT dalam konsep pembelajaran e-learning di Sekolah
Menengah Pertama. Penelitian ini memfokuskan pada aspek-aspek apa saja
yang mempengaruhi keefektifitasan e-learning di SMPN V Yogyakarta.
Metode yang dilakukan adalah dengan membandingkan dengan beberapa
kelas yang tidak menggunakan metode e-learning. Hasil penelitian ini
diketahui bahwa kelas yang menggunakan e-learning lebih efektif dengan
aspek yang dominan berupa aspek materi dan aspek guru.
6
2) Gunawan [9] dengan judul “Pengukuran kepuasan pengguna e-learning di
Madinah International University Yogyakarta”. Dalam penelitian ini diukur
tingkat kepuasan mahasiswa dalam menjalankan proses pembelajaran
dengan instrumen alat ukur kepuasan semisal ELS Yi-Shun Wang. Hasil
dari penelitian ini didapati bahwa semua valid, reliable dan mempunyai
korelasi yang kuat sehingga layak dijadikan pengukuran kepuasan. Korelasi
terkuat ada pada dimensi umpan balik dan penilaian.
Sementara penelitian dengan metode Technology Acceptance Model
(TAM) adalah:
1) Alfiansah [10] dengan judul “Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi
penggunaan teknologi informasi oleh auditor eksternal dan internal”.
Penelitian ini mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi para auditor
dalam menggunakan teknologi informasi. Penelitian dilakukan pada kantor
akuntan publik di Yogyakarta. Dari hasil pengujian hipotesis dengan 10
variabel terdapat 4 hipotesis yang diterima yaitu pengaruh positif antara
kemampuan akses terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi
informasi dalam pengauditan, pengaruh positif kompatibilitas terhadap
persepsi manfaat TI dalam pengauditan, pengaruh positif persepsi
kemudahan penggunaan terhadap penggunaan TI dalam pengauditan, dan
pengaruh positif persepsi manfaat penggunaan teknologi informasi dalam
pengauditan.
2) Putra [11] dengan judul “Analisis Penerimaan Penggunan Terhadap
Aplikasi E-Procurement PT Pertamina EP Dengan Menggunakan Metode
7
Technology Acceptance Model.” Penelitian ini mengukur variabel-variabel
TAM terhadap penggunaan aplikasi e-procurement di PT Pertamina. Dari
hasil pengujian disimpulkan bahwa penerimaan penggunaan aplikasi e-
procurement PT Pertamina dipengaruhi oleh perceived usefulness,
perceived ease of use, dan security and privacy, sedangkan perceived
enjoyment dan attitude toward using tidak cukup bukti berpengaruh
terhadap penggunaan aplikasi e-procurement.
Salah satu penelitian evaluasi E-learning dengan metode Technology
Acceptance Model (TAM) adalah Wahyuni [13] dengan judul “ Analisa
Penerimaan Penerapan E-Learning System dengan Menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) pada PT. Bank Mandiri Tbk Cabang Yogyakarta
Sudirman.” Penelitian ini hanya membatasi variabel yang digunakan yaitu sebatas
Perceived ease of use, Perceived Usefulness, Attitude Toward, dan penerimaan
pengguna (Acceptance). Hasil penelitian tesebut semua hipotesis sebanyak 5 buah
diterima atau berpengaruh secara signifikan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Memberikan masukan dan saran kepada pihak manajemen di Pusdiklat BPK
RI dalam melakukan perbaikan dan menjadi landasan pengembangan e-
learning;
b. Memberikan sumbangan referensi penelitian khususnya yang berhubungan
dengan faktor-faktor penerimaan pengguna terhadap aplikasi e-learning.
8
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk:
a. Mengetahui sejauh mana tingkat penerimaan pengguna terhadap e-learning
di Pusdiklat BPK RI;
b. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen Pusdiklat BPK atas
identifikasi faktor yang mempengaruhi pengguna terhadap e-learning.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Saat ini perkembangan e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat
dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan
baik itu sekolah, training, maupun universitas ataupun di level industri seperti
Cisco System, IBM. HP, Oracle dan sebagainya. E-learning merupakan suatu
metode pembelajaran yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa
dengan menggunakan metode intranet, internet, dan jaringan komputer lainnya. E-
learning adalah proses learning (pembelajaran) menggunakan atau memanfaatkan
information and communication technology (ICT) sebagai tools yang dapat
tersedia kapanpun dan dimanapun dibutuhkan, sehingga dapat mengatasi kendala
ruang dan waktu.
Penelitian terhadap e-learning sendiri sudah banyak dilakukan oleh peneliti
sebelumnya salah satunya adalah Alam [8] dengan judul “Studi Efektifitas
pembelajaran ICT dengan metode e-learning di SMPN V Yogyakarta”. Penelitian
ini memfokuskan pada aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi keefektifitasan
e-learning di SMPN V Yogyakarta. Metode yang dilakukan adalah dengan
membandingkan dengan beberapa kelas yang tidak menggunakan metode e-
learning. Hasil penelitian ini diketahui bahwa kelas yang menggunakan e-
learning lebih efektif dengan aspek yang dominan berupa aspek materi dan aspek
guru.
10
Gunawan [9] dengan judul : “Pengukuran kepuasan pengguna e-learning di
Madinah International University Yogyakarta. Dalam penelitian ini diukur tingkat
kepuasan mahasiswa dalam menjalankan proses pembelajaran dengan instrumen
alat ukur kepuasan semisal ELS Yi-Shun Wang. Hasil dari penelitian ini didapati
bahwa semua valid, reliable dan mempunyai korelasi yang kuat sehingga layak
dijadikan pengukuran kepuasan. Korelasi terkuat ada pada dimensi umpan balik
dan penilaian.
Penelitian dengan menggunakan metode Technology Acceptance Model
(TAM) dilakukan oleh Alfiansah [10] dengan judul “Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi penggunaan teknologi informasi oleh auditor eksternal dan
internal”. Penelitian ini mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi para auditor
dalam menggunakan teknologi informasi. Penelitian dilakukan pada kantor
akuntan publik di Yogyakarta. Dari hasil pengujian hipotesis dengan 10 variabel
terdapat 4 hipotesis yang diterima yaitu pengaruh positif antara kemampuan akses
terhadap persepsi kemudahan penggunaan teknologi informasi dalam
pengauditan, pengaruh positif kompatibilitas terhadap persepsi manfaat TI dalam
pengauditan, pengaruh positif persepsi kemudahan penggunaan terhadap
penggunaan TI dalam pengauditan, dan pengaruh positif persepsi manfaat
penggunaan teknologi informasi dalam pengauditan.
Penelitian lainnya adalah Putra [11] dengan judul “Analisis Penerimaan
Penggunaan Terhadap Aplikasi E-Procurement PT Pertamina EP dengan
menggunakan metode Technology Acceptance Model.” Penelitian ini mengukur
variabel-variabel TAM terhadap penggunaan aplikasi e-procurement di PT
11
Pertamina. Dari hasil pengujian disimpulkan bahwa penerimaan penggunaan
aplikasi e-procurement PT Pertamina dipengaruhi oleh perceived usefulness,
perceived ease of use, dan security and privacy, sedangkan perceived enjoyment
dan attitude toward using tidak cukup bukti berpengaruh terhadap penggunaan
aplikasi e-procurement.
Dalam penelitian ini akan dilakukan evaluasi penerimaan e-learning di
pusdiklat BPK RI dengan menggunakan metode TAM dengan variabel – variabel
kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan (perceived ease of use)
memberikan pengaruh pada sikap yang mendorong minat (attitude towards
behavior) yang pada akhirnya mendorong penggunaan teknologi yang
sesungguhnya (actual technology usage).
2.2 Landasan Teori
2.2.1 E-learning
E-learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak
didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi dari e-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya
bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media
jaringan komputer lain [12].
Definisi lain dari e-learning adalah sebagai penyampaian pelatihan,
pembelajaran, atau program pendidikan dengan menggunakan media elektronik.
E-learning melibatkan penggunaan komputer atau perangkat elektronik (misalnya
12
ponsel) dalam beberapa cara untuk memberikan pelatihan, materi pendidikan atau
pembelajaran [14]. Naidu [15] menyatakan bahwa e-learning sering disebut
sebagai intensitas penggunaan jaringan informasi dan teknologi komunikasi dalam
proses belajar mengajar. Istilah lain untuk menggambarkan metode belajar
mengajar ini adalah termasuk belajar secara online, secara virtual, dan melalui
jaringan dan berbasis web.
Di dalam dunia belajar mengajar, e-learning memiliki arti yang lebih luas
dari sekedar definisi tersebut. Pertama, e-learning terhubung dengan network
yang membuatnya mudah di update, disimpan, didistribusikan, serta berbagi
instruksi dan informasi secara instan. Kedua, e-learning disampaikan pada user
melalui komputer yang memiliki standar teknologi internet maupun intranet. Dan
ketiga, e-learning berfokus pada cara pandang pendidikan secara luas yang
berbeda dengan cara pandang pendidikan tradisional.
Hrastinski [16] menyatakan terdapat tiga model yang dapat dijadikan acuan
dalam melakukan penerapan dan pengembangan sistem pembelajaran e-learning,
yaitu:
1) Asynchronous learning
Asynchronous learning merupakan model e-learning yang dilaksanakan
secara tidak langsung. Pada model ini peserta didik belajar secara mandiri,
namun tetap berkomunikasi dengan peserta didik lainnya maupun dengan
pendidik walaupun tidak harus di waktu khusus. Penggunaan email, instant
13
massage, atau forum yang dapat digunakan sebagai media komunikasi dan
interaksi baik dengan pendidik maupun sesama peserta didik.
2) Synchronous learning
Synchronous learning merupakan model e-learning yang dilaksanakan
secara langsung. Model ini mirip dengan pembelajaran konvensional hanya
saja pada e-learning hal ini tidak ditandai dengan kehadiran secara fisik.
Pada bentuk synchronous learning pendidik dan peserta didik melakukan
pertemuan secara online (live) baik menggunakan audio maupun video
conference.
3) Hybrid learning (Blanded learning)
Hybrid learning (Blanded learning) merupakan penggabungan antar model
asynchronous learning dan synchronous learning.
E-learning sendiri mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
1) Biaya : kelebihan pertama e-learning adalah mampu mengurangi biaya
pembelajaran. Dengan adanya e-learning, perusahaan yang ingin melakukan
pelatihan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyediakan ruang kelas
khusus serta perlengkapan lainnya seperti proyektor, papan tulis.
Penghematan biaya dengan penggunaan e-learning contohnya adalah
Daimler Chrysler yang telah menghemat sebanyak USD250.000 dari biaya
pelatihan.
2) Fleksibilitas Waktu: Seringkali seorang karyawan harus meninggalkan
pekerjaannya selama satu atau dua hari untuk mengikuti pelatihan di kelas.
Dengan tuntutan kompetisi perusahaan yang kian meningkat, kekurangan
14
pegawai selama lebih dari satu hari akan sangat mengganggu produktivitas
perusahaan. E-learning membuat karyawan atau siswa dapat menyesuaikan
waktu belajar. Mereka dapat menyisipkan waktu belajar setelah makan
siang, setelah kantor selesai dan menunggu jemputan, atau ketika sedang
menunggu laporan rekan dan tidak ada pekerjaan mendesak. Karyawan dan
siswa dapat dengan mudah mengakses e-learning.
3) Fleksibilitas tempat: akan sangat sulit bila tempat pendidikan harus
menyediakan tempat sekitar 50 atau 100 orang beserta perlengkapan
pembelajaran dalam waktu lebih dari empat kali seminggu. Para siswa pun
harus menempuh perjalanan dalam jarak tertentu ke kelas. Hal ini membuat
enggan untuk mengikuti pelatihan. Dengan adanya e-learning membuat
siswa dapat dengan santai mengakses pelatihan di kantor, bahkan di meja
kerja. Selama komputer terhubung dengan komputer yang menjadi server e-
learning, maka mereka dapat mengaksesnya dengan mudah. Terlebih lagi
bila server terhubung dengan internet, maka pembelajar dapat mengakses
pelajaran dari rumah. Jangkauan internet yang sangat luas membuat
perusahaan dapat melatih karyawan yang berada di kantor cabang lain kota
atau pulau. E-learning dapat menjadi solusi pelatihan yang tepat untuk
Indonesia yang berbentuk kepulauan.
4) Fleksibilitas kecepatan pembelajaran: siswa memiliki gaya belajar yang
berbeda-beda. Di dalam suatu kelas ada pelajar yang mengerti dengan cepat
dan ada yang harus mengulang pelajaran untuk memahaminya, namun
pengajar memiliki kecepatan mengajar yang sama untuk semua siswanya.
15
Siswa yang memiliki daya tangkap yang cepat akan menginginkan lebih
bnyak materi, sedangkan siswa yang lebih lambat menginginkan
pengulangan materi. Dengan e-learning siswa dapat mengatur sendiri
kecepatan pelajaran yang diikuti. Jika belum mengerti, ia dapat tetap
mempelajari modul tertentu dan mengulanginya nanti. Siswa juga dapat
memilih modul yang ingin dipelajari. Dia dapat melewati modul pelajaran
yang dianggap tidak sesuai dan mengkonsentrasikan diri ke bagian lain.
5) Kecepatan distribusi: kemajuan teknologi yang cepat menuntut suatu
pelatihan teknologi baru dan menjangkau area luas secara singkat. Dengan
kondisi geografis Indonesia memungkinkan terjadi perusahaan dengan
kantor pusat di Jakarta sedangkan kantor cabang di daerah terpencil. E-
learning dapat cepat menjangkau karyawan yang berada di luar wilayah
pusat. Tim desain pelatihan hanya perlu mempersiapkan bahan pelatihan
secepatnya dan menginstal hasilnya di server pusat e-learning. Jadi semua
komputer yang terhubung ke server dapat langsung mengakses materi
pelatihan. Apabila terdapat cabang yang tidak memiliki sambungan network
ke server, pelajaran hanya perlu disimpan di compact disk (CD) dan
dikirimkan.
6) Otomatisasi proses administrasi: e-learning dilengkapi oleh suatu learning
management system (LMS) yang berfungsi sebagai platform pelajaran-
pelajaran e-learning. LMS berfungsi pula menyimpan data pembelajar,
pelajaran, dan proses pembelajaran yang berlangsung. LMS yang baik dapat
menyimpan dan membuat laporan tentang kegiatan belajar seorang siswa,
16
mulai dari pelajaran yang telah diambil, tanggal akses, berapa persen
pelajaran yang telah diselesaikan, berapa lama pelajaran diikuti, sampai
berapa hasil tes akhir yang diambil. Dengan adanya laporan di dalam sistem,
administrator pelatihan akan sangat terbantu. Pengajar yang memiliki akses
ke LMS dapat setiap saat mencetak sendiri laporan dengan otomatis untuk
memonitor kemajuan belajar siswanya, tanpa harus menunggu
administrator.
Panitz [17] telah menuliskan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari e-
learning yaitu:
a. Manfaat akademik (Academic Benefits): memacu keahlian berfikir secara
kritis; melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran; meningkatkan
hasil pembelajaran; merupakan model teknik pemecahan masalah siswa.
b. Manfaat sosial (Social Benefits): membangun sistem mendukung sosial bagi
siswa; menampung keberagaman pemahaman diantara siswa dan staf;
menciptakan atmosfer positif untuk memodelkan dan mempraktikan
kerjasama.
c. Manfaat psikologis (Psychological Benefits): dapat meningkatkan percaya
diri siswa; membangun perilaku positif dalam menghadapi dosen.
Di samping memiliki kelebihan e-learning juga memiliki beberapa
keterbatasan yang perlu diwaspadai yaitu:
1. Budaya: beberapa orang merasa tidak nyaman mengikuti pelatihan melalui
komputer. Penggunaan e-learning menuntut budaya self-learning, dimana
seseorang memotivasi diri sendiri agar mau belajar. Sebaliknya, sebagian
17
besar motivasi pembelajar masih tergantung pada pengajarnya. Maka di
dalam penerapan e-learning perlu dilihat budaya dan kebiasaan para
pembelajarnya, jika mereka tidak terbiasa dengan menggunakan komputer
implementasi e-learning akan memakan waktu yang lebih lama.
2. Investasi: walaupun e-learning dapat menghemat biaya, tetapi terlebih
dahulu harus mengeluarkan sejumlah investasi awal yang cukup besar untuk
memulai mengmplementasikannya. Investasi dapat berupa biaya desain, dan
pembuatan program LMS, paket pelajaran, dan biaya lain seperti hardware
(komputer, server, jaringan).
3. Teknologi: karena teknologi yang digunakan beragam, ada kemungkinan
teknologi tersebut tidak sejalan dengan yang sudah ada dan terjadi konflik
teknologi sehingga e-learning tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu,
kompatibilitas teknologi yang digunakan harus diteliti sebelum memutuskan
menggunakan suatu paket e-learning.
4. Infrastruktur: internet belum menjangkau seluruh kota di Indonesia layanan
broadband baru ada di kota-kota besar. Akibatnya, belum semua orang atau
wilayah dapat merasakan e-learning dengan internet.
5. Materi: pelajaran yang memerlukan banyak kegiatan fisik seperti olahraga
dan instrumen musik, sulit disampaikan melalui e-learning secara
sempurna, namun e-learning dapat digunakan untuk memberikan dasar-
dasar pelajaran sebelum masuk ke praktik.
Masalah keterbatasan budaya ditempatkan di urutan pertama karena sulit
diatasi. Masalah budaya memakan waktu lama untuk diubah karena menyangkut
18
kebiasaan organisasi yang turun-temurun. Oleh karena itu perlu dilakukan
evaluasi atas e-learning atas pengimplementasiannya didalam suatu organisasi.
2.2.2 E-learning di BPK
Penerapan e-learning sendiri di pusat pendidikan dan pelatihan BPK RI
sendiri baru dimulai pada tahun 2011. Sistem pembelajaran secara elektronik ini
dibangun untuk mempermudah pegawai BPK dalam memperoleh pengetahuan/
pembelajaran melalui intranet BPK. Hal ini memungkinkan para pegawai untuk
belajar melalui komputer di unit kerja mereka masing-masing sehingga informasi
yang didapat melalui pembelajaran di kelas dapat diperoleh dengan mengakses
komputer. Di sini, peserta diklat bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa
mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, peserta juga bisa
melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai yang diperoleh.
Dengan e-learning, peserta diklat dan instruktur dapat memiliki kesempatan
untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan cara yang efektif dan efisien, tanpa
memerlukan kehadiran fisik di tempat yang sama. e-learning juga
memungkinkan terjadinya aktivitas pembelajaran secara independen. Jumlah
pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas.
Materi pembelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar
dibandingkan dengan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari
pengajar.
19
Berikut ini adalah tampilan e-learning di BPK RI [18] :
Gambar 2.1 Tampilan muka E-learning BPK RI
E-learning tersebut dapat diakses dengan mendaftarkan terlebih dahulu e-
mail kita disertai dengan user name dan password. Setelah mendaftarkan e-mail
kita maka akan muncul notifikasi ke e-mail kita untuk pengaktifan e-learning.
Menu utama e-learning adalah berupa diklat-diklat yang disesuaikan dengan
peran peserta diklat. Berikut ini adalah tampilan e-learning setelah log in dengan
user name dan password kita:
Gambar 2.2 Menu Utama E-learning BPK RI
20
[Link] Mendaftar Di E-learning BPK
Untuk dapat menggunakan e-learning maka kita diharuskan untuk
mendaftar terlebih dahulu agar dapat memanfatkaan fitur-fitur secara penuh.
Berikut langkah-langkah mendaftar menjadi atau bergabung di e-learning BPK:
1. Mengklik tombol register di bagian kanan atas;
2. Mengisi form pendaftaran yang ditampilkan setelah mengklik menu register
pada tampilan depan;
3. Proses registrasi telah berhasil;
Gambar 2.3 Proses pendaftaran E-learning BPK RI
[Link] Login E-learning BPK
Langkah selanjutnya setelah mendaftar adalah melakukan login pada e-
learning BPK. Login dilakukan setelah ada konfirmasi dari administrator e-
learning ke email yang digunakan untuk proses pendaftaran.
21
Gambar 2.4 Proses login E-learning BPK RI
Setelah pendaftaran selesai dan telah berhasil login ke menu e-learning
BPK maka tampilan selanjutnya adalah tampilan dimana kita dapat melihat siapa
saja yang telah terdaftar dan login terakhir pada e-learning BPK seperti gambar di
bawah ini:
Gambar 2.5 Tampilan Pengguna E-learning BPK RI
22
[Link] Fitur E-learning
Pada menu awal E-learning terdapat beberapa jenis diklat yang dijadwalkan
seperti dibawah ini:
Gambar 2.6 Menu Diklat E-learning BPK RI
Setelah kita memilih menu kursus seperti pada gambar 2.6 maka tampilan
berikutnya adalah akan muncul menu dimana terdapat bahan-bahan atau mata
kuliah yang akan diambil bila kita mengikuti kursus yang telah kita ambil tersebut
seperti terlihat di bawah ini:
23
Gambar 2.7 Menu mata kuliah E-learning BPK RI
2.2.3 Evaluasi Sistem Informasi
Ada beberapa model yang biasa dan sering digunakan dalam evaluasi sistem
informasi, di antaranya adalah :
1. Model kesuksesan sistem informasi DeLone & McLean
Menurut DeLone & McLean [19] kesuksesan sistem model ini diukur dari
enam elemen atau faktor, yaitu: kualitas sistem (system quality), kualitas
informasi (information quality), penggunaan (use), kepuasan pemakai (user
satisfaction), dampak individual (individual impact) dan dampak organisasi
(organization impact). Model ini tidak mengukur ke enam dimensi pengukuran
kesuksesan secara independen tetapi mengukurnya secara keseluruhan satu
mempengaruhi yang lainnya.
24
System Quality
System Use
Information
Quality Net Benefit
User Satisfaction
Service Quality
Sumber : Delone & Mclean (2003)
Gambar 2.8. Model Kesuksesan DeLeon dan McLean
2. Technology Acceptance Model (TAM)
Metode TAM ini pertama sekali dikenalkan oleh Davis pada tahun 1989.
Model ini telah banyak digunakan dalam penelitian sistem informasi untuk
mengetahui reaksi pengguna terhadap sistem informasi. TAM adalah teori sistem
informasi yang membuat model tentang tingkat akseptasi pengguna terhadap
teknologi. Faktor – faktor dalam model ini yang mempengaruhi antara lain :
usefulness (keyakinan bahwa penggunaan sistem akan meningkatkan kinerjanya),
ease of use (keyakinan pengguna bahwa sistem mudah dalam penggunaannya).
Perceived Usefulness
Behavioral
Actual System Use
Intention to use
Perceived Ease of
Use
Sumber : Davis (1989)
Gambar 2.9. Technology Acceptance Model (TAM)
25
Perceived usefulness (kegunaan yang dirasakan) didefinisikan sebagai
sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan
meningkatkan kinerja pekerjaannya. Dengan demikian jika seseorang percaya
bahwa suatu sistem informasi berguna maka dia akan menggunakannya.
Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang
berguna maka dia tidak akan menggunakannya. Perceived Ease of Use
(kemudahan penggunaan yang dirasakan) didefinisikan sebagai sejauh mana
seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha
yang rumit. Behavioral Intention to Use (niat perilaku) adalah suatu keinginan
seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Seseorang akan melakukan
suatu perilaku (behavior) jika mempunyai keinginan atau niat (behavioral
intention) untuk melakukannya.
3. Task Technology Fit (TTF)
Inti dari model ini adalah sebuah konstruk formal yang dikenal sebagai
Task-Technology Fit (TTF), yang merupakan kesesuaian dari kapabilitas
teknologi untuk kebutuhan tugas dalam pekerjaan yaitu kemampuan teknologi
informasi untuk memberikan dukungan terhadap pekerjaan [20]. Model TTF
memiliki empat konstruk kunci yaitu Task Characteristics, Technology
Characteristics, yang bersama-sama mempengaruhi konstruk ketiga TTF yang
balik mempengaruhi variabel outcome yaitu Performance atau Utilization. Model
TTF menempatkan bahwa teknologi informasi hanya akan digunakan jika fungsi
dan manfaatnya tersedia untuk mendukung aktivitas pengguna. Tampak bahwa
model TTF ini terdiri dari 5 variabel, yaitu: task characteristics, technology
26
characteristics, task-technology fit, performance impacts, dan utilization.
Task Performance
Characteristics Impacts
Task –
Technology Fit
Technology
Utilization
Characteristics
Sumber : Goodhue and Thomson (1995)
Gambar 2.10. Model Task Technology Fit
4. Unified Theory of Acceptance and Usage of Technology (UTAUT)
Venkatesh [21] melakukan penelitian teori penerimaan teknologi oleh
pemakai-pemakai sistem dengan menggabungkan delapan buah teori yang sudah
ada. Model gabungan ini kemudian disebut dengan nama teori gabungan
penerimaan dan penggunaan teknologi (Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology) atau UTAUT. UTAUT ini bertujuan untuk menjelaskan maksud
pengguna untuk menggunakan sistem informasi dan perilaku penggunaan
berikutnya. Teori ini berpendapat bahwa empat faktor kunci (performance
expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions) adalah
penentu langsung niat penggunaan dan perilaku [21]. Ada empat moderator kunci
untuk model UTAUT ini adalah gender, age, experience, and voluntariness of
use. Performance expectancy, effort expectancy, social influence dan facilitating
conditions berhubungan dengan intention behavior yang akhirnya menghasilkan
behavior use. Behavior use menjadi pengukuran user acceptance dari sebuah
sistem.
27
Performance
Expectancy
Behavioral
Effort Intention
Expectancy
Social
Influence Use Behavior
Facilitating
Conditions
Gender Age Experience Voluntariness of Use
Sumber : Venkatesh (2003)
Gambar 2.11. Model UTAUT
5. End User Computing (EUC) Satisfaction
Pengukuran terhadap kepuasan dalam lingkup end-user computing,
sejumlah studi telah dilakukan untuk meng-capture keseluruhan evaluasi dimana
pengguna akhir telah menganggap penggunaan dari suatu sistem informasi
(misalnya kepuasan) dan juga faktor-faktor yang membentuk kepuasan ini [22].
Model evaluasi ini dikembangkan oleh Doll & Torkzadeh. Evaluasi dengan
menggunakan model ini lebih menekankan kepuasan (satisfaction) pengguna
akhir terhadap aspek teknologi, dengan menilai isi, keakuratan, format, waktu dan
kemudahan penggunaan dari sistem. Model ini telah banyak diujicobakan oleh
peneliti lain untuk menguji reliabilitasnya dan hasilnya menunjukkan tidak ada
perbedaan bermakna meskipun instrumen ini diterjemahkan dalam berbagai
bahasa yang berbeda.
28
Content
Accuracy
Format
End User
Computing
Satisfaction
Ease of Use
Timeliness
Sumber : Doll & Torkzadeh (1995)
Gambar 2.12. End User Computing (EUC) Satisfaction
6. Human Organization Tecnology (HOT) Fit Model
Yusof M. M., Paul R. J., dan Stergioulas L. K. [23] membuat suatu
kerangka baru yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi sistem informasi
yang disebut HOT-Fit Model yang menggabungkan konsep Manusia (Human),
Organisasi (Organization) dan Teknologi (technology) dan kesesuaian hubungan
di antaranya.
29
Sumber : Yusof et al (2006)
Gambar 2.13. Human-Organization-Technology (HOT)-Fit Model
Berikut ini perbandingan beberapa metode dalam melakukan evaluasi
terhadap sistem informasi:
Tabel 2.1 Perbandingan beberapa metode evaluasi sitem informasi
No Metode Evaluasi Keterangan
1 Technology Acceptance Menekankan bagaimana pengguna mau
Model (TAM) menerima dan menggunakan teknologi.
2 End User Computing (EUC) Menekankan kepada kepuasan
pengguna akhir terhadap aspek
teknologi dengan menilai isi,
keakuratan, format, waktu, dan
kemudahan penggunaan dari sistem.
3 Task Technology Fit (TTF) Menekankan kepada kesesuaian dari
kapabilitas teknologi untuk kebutuhan
tugas yaitu kemampuan teknologi untuk
memberikan dukungan terhadap
30
pekerjaan.
4 Human Organization Menekankan konsep menggabungkan
Technology (HOT) Fit unsur manusia, organisasi, dan
teknologi dan kesesuaian hubungan
didalamnya.
5 Delone & Mc Lean Menekankan bahwa kesuksesan sitem
informasi diukur dari enam elemen
yaitu: kualitas sistem, kualitas
informasi, penggunaan, kepuasaan
pemaikai, dampak individual, dan
dampak organisasi secara keseluruhan.
6 Unified Theory of Acceptance Menekankan bahwa terdapat empat
and Usage of Technology faktor kunci yaitu: performance
(UTAUT) expectancy, efford expectancy, social
influence, dan facilitating condition
yang menjadi peentu langsung niat
penggunaan dan perilaku terhadap
sistem informasi.
2.2.4 Evaluasi E-learning
Aspek yang penting dari e-learning adalah evaluasi terhadap implementasi
e-learning itu sendiri. Evaluasi akan memberikan gambaran sejauh mana
penggunaan e-learning telah berhasil diimplementasikan sesuai dengan tujuan
awal. Dalam hal ini keberhasilan sistem e-learning dapat dilihat dari
efektifitasnya dalam memfasilitasi kegiatan pendidikan dan pengembangan SDM
diantararanya dalam aktifitas penyampaian materi pembelajaran, proses interaksi
sosial dan komunikasi antara individu-individu yang terlibat, serta pencapaian
tujuan pembelajaran menggunakan e-learning. Kunci pokok untuk mencapai
31
efektivitas dari e-learning adalah konten yang menarik yang menitikberatkan pada
kebutuhan sasaran pembelajaran (user) serta teknologi yang digunakan dalam
penyampaiannya. Dengan demikian keberhasilan implementasi e-learning dapat
dilihat melalui assessment pada tiga aspek yaitu : content, teknologi, dan
manajemen. Namun demikian Danishwara tidak menguraikan lebih lanjut
bagaimana konsep assesmentnya.
Diantara sekian banyak komponen yang terlibat dalam implementasi e-
learning, maka aspek yang mendapat perhatian dalam evaluasi adalah pengguna,
pengajar, dan organisasi. Untuk kepentingan e-learning readiness dari sisi
mahasiswa terdapat beberapa model. Salter (2009), dan Rosenberg (2006)
masing-masing memberikan model yang berbeda dalam melakukan evaluasi bagi
aspek readiness untuk mahasiswa. Menurut Salter (2009) readiness dari isi
mahasiswa paling tidak mencakup tiga dimensi yaitu computer/technical skill,
learning skill, dan well time management behaviors. Semakin baik
computer/technical skill yang dimiliki siswa maka secara individu akan semakin
siap untuk menggunakan e-learning. Termasuk dalam computer dan technical
skill adalah kemampuan siswa dalah hal koneksi internet. Sementara itu learning
skill akan mencakup kemampuan siswa dalam bekerja secara independen,
memotivasi diri, kemampuan dalam hal menulis dan membaca serta literatur.
Rosenberg [24] menyusun sejumlah checklist untuk kepentingan self
assessment checklist terdapat 18 buah pertanyaan dengan arah utama pertanyaan
adalah pada penguasaan teknologi, karakteristik e-learning, dan kemampuan
belajar mandiri. Dari sisi institusi, terdapat beberapa model assessment untuk
32
mengukur readiness, diantaranya adalah yang dikemukakan oleh Schreurs.
Schreurs mengajukan konsep e-learning readiness assessment untuk kepentingan
executive team alignment, terdapat 10 pertanyaan yang akan mengukur sejauh
mana pimpinan dari institusi penyelenggara e-learning telah memasukan e-
learning sebagai bagian dari strategic planning institusinya. Menurut Schreurs
aktivitas e-learning seharusnya bukan menjadi individual initiatives dan part of
the strategy tapi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari strategic planning
[25].
2.2.5 Technology Acceptance Model (TAM)
TAM merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang
akan digunakan oleh pemakai. TAM dikembangkan oleh Davis pada tahun 1998,
berdasarkan model Theory of Reasoned Action (TRA) [26]. Model TRA dapat
diterapkan karena keputusan yang dilakukan individu untuk menerima suatu
teknologi sistem informasi merupakan tindakan sadar yang dapat dijelaskan dan
diprediksi oleh minat perilakunya. TAM menambahkan dua konstruk utama
kedalam model TRA. Dua konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian
(Perceived Usefulness), dan kemudahan penggunaan persepsian (Perceived Ease
of use). TAM berargumentasi bahwa penerimaan individual terhadap sistem
teknologi informasi ditentukan oleh dua konstruk tersebut.
Kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan (perceived ease of use)
memberikan pengaruh pada sikap yang mendorong minat (attitude towards
behavior) yang pada akhirnya mendorong penggunaan teknologi yang
33
sesungguhnya (actual technology usage). Berikut ini adalah konstruksi dalam
TAM:
Perceived
Usefulness
Attitude Toward Behavioral Actual
Using Intention Use Technology
Technology Use
Perceived Ease
of Use
Gambar 2.14 Technology Acceptance Model (Davis, 1989)
1. Persepsi Kegunaan (Perceived usefulness)
Perceived usefulness didefinisikan sebagai sejauh mana seorang percaya
bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya
(“as the extend to which a person believes that using a technology will enhance
her or his performance”). Dari definisinya diketahui bahwa persepsi kegunaan
(perceived usefulness) merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses
pengambilan keputusan. Dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa
sistem informasi berguna maka dia akan menggunakannya, sebaliknya jika
seseorang percaya bahwa sistem informasi kurang berguna maka dia tidak akan
menggunakannya [27].
34
Menurut Rahadi [28] persepsi kegunaan (Perceived usefulness)
didefinisikan sebagai suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa
penggunaan suatu subyek tertentu akan dapat meningkatkan prestasi kerja orang
tersebut.
2. Persepsi kemudahan pengguna (perceived ease of use)
Davis (2007) mendefinisikan kemudahan penggunaan (ease of use) sebagai
suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa komputer dapat dengan mudah
dipahami. Intensitas penggunaan dan interaksi antara pengguna (user) dengan
sistem juga dapat menunjukan kemudahan penggunaan.
Jogiyanto [26] mendefinisikan persepsi kemudahan penggunaan ini
merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan. Jika
seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan, maka
dia tidak akan menggunakannya.
3. Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) atau sikap
menggunakan teknologi (attitude towards using technology).
Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) didefinisikan oleh
Davis [7] sebagai perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus
melakukan perilaku yang akan ditentukan (an individual positive or negative
feelings about performing the target behavior). Sikap terhadap perilaku juga
didefinisikan oleh Mathieson [29] sebagai evaluasi pemakai tentang ketertarikan
menggunakan sistem (the user evaluation of the desirability of his or her using the
system)
35
4. Minat perilaku (behavioral intention) atau minat perilaku menggunakan
teknologi (behavioral intention to use)
Minat perilaku adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan
suatu perilaku yang tertentu. Seseorang akan melakukan suatu perilaku (behavior)
jika mempunyai keinginan atau minat (behavioral intention) untuk melakukannya.
5. Perilaku (behavior) atau penggunaan teknologi sesungguhnya (actual
technology use)
Perilaku adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam konteks
teknologi internet, perilaku adalah penggunaan sesungguhnya dari teknologi
internet. Karena penggunaan sesungguhnya (actual use) tidak dapat diobservasi
oleh peneliti yang menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) maka penggunaan
sesungguhnya diganti dengan pemakaian persepsian (perceived usage). Igbaria
dalam Jogiyanto [26] menggunakan pengukuran pemakaian persepsian (perceived
usage) yang diukur sebagai jumlah waktu yang digunakan untuk berinteraksi
dengan suatu teknologi dan frekuensi penggunaannya.
[Link] Kelebihan TAM
Kelebihan TAM menurut Jogiyanto [26] adalah :
1. TAM merupakan model perilaku (behavior) yang bermanfaat untuk
menjawab pertanyaan mengapa banyak sistem TI gagal diterapkan karena
pemakainya tidak mempunyai niat (intention) untuk menggunakannya.
Tidak banyak model-model penerapan system TI yang memasukan faktor
psikologis atau perilaku (behavior) di dalamnya modelnya dan TAM adalah
salah satu yang mempertimbangkannya
36
2. TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan hasilnya sebagian besar
mendukung dan menyimpulkan bahwa TAM merupakan model yang baik.
Bahkan TAM telah banyak diuji dibandingkan dengan model lain misalnya
dengan Theory Planned Behavior (TPB) dan hasilnya juga konsisten bahwa
TAM cukup baik.
3. Kelebihan TAM yang paling penting adalah model ini adalah model yang
parsimony (parsimonious) yaitu model yang sederhana tapi valid. Membuat
model sederhana tapi valid merupakan hal yang tidak mudah. Terjadi trade
off dari pembuatan model. Jika diinginkan model yang sederhana mestinya
digunakan banyak asumsi bahwa faktor-faktor lain tetap tidak berpengaruh
pada modelnya, tetapi ini akan berpengaruh pada kualitas dan validitas
modelnya yang akan menurun. Sebaliknya jika diinginkan model valid dan
lengkap maka semua faktor-faktor pengaruh harus dimasukan ke dalam
model dengan akibat model akan menjadi komplek.
[Link] Kelemahan TAM
Kelemahan TAM menurut Jogiyanto [26] adalah :
1. TAM hanya memberikan informasi atau hasil yang sangat umum saja
tentang niat dan perilaku pemakai system dalam menerima system TI. TAM
hanya menjelaskan kepercayaan-kepercayaan (beliefs) mengapa pemakai
mempunyai niat perilaku menggunakan sistem yaitu percaya bahwa sistem
yang digunakan berguna dan mudah digunakan akan tetapi TAM belum
memberikan informasi dan menjelasakan mengapa pemakai sistem
mempunyai kepercayaan-kepercayaan tersebut.
37
2. Perilaku (behavior) yang diukur TAM seharusnya adalah pemakaian atau
penggunaan teknologi sesungguhnya (actual usage). Kenyataannya banyak
peneliti menggunakan teknologi yang dilaporkan sendiri oleh responden
(self report usage) atau penggunaan teknologi yang diperkirakan (self-
predicted usage) yang belum tentu mencerminkan atau mengukur
pemakaian sebenarnya.
3. Tidak mempertimbangkan perbedaan kultur.
2.2.5 Structural Equation Model (SEM)
Maruyama [30] menyatakan bahwa SEM merupakan sebuah model statistik
yang memberikan perkiraan perhitungan dari kekuatan hubungan hipotesis di
antara variabel dalam sebuah model teoritis, baik secara langsung atau melalui
variabel antara (intervening or mediating variables).
SEM adalah suatu teknik statistik yang memiliki kemampuan untuk
menganalisis pola hubungan antara konstruk laten dan indikatornya, konstruk
laten yang satu dengan lainnya serta kesalahan pengukuran secara langsung. SEM
atau model persamaan struktural telah digunakan dalam berbagai bidang ilmu
seperti psikologi, ekonomi, pendidikan, dan ilmu sosial lainnya. SEM merupakan
perkembangan dari beberapa keterbatasan analisis multivariat. SEM memiliki
keunggulan dibanding dengan analisis asosiasi lainnya seperti regresi atau analisis
jalur. SEM mampu menjelaskan keterkaitan variabel secara kompleks dan efek
langsung maupun tidak langsung dari satu atau beberapa variabel terhadap
variabel lainnya.
38
SEM adalah model yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian
hubungan yang relatif rumit. SEM juga seringkali disebut sebagai kombinasi
antara analisis faktor dan analisis jalur. SEM mengacu kepada hubungan antara
variabel endogen (Endogenous variables) dan variabel eksogen (Eksogenous
variables) atau variabel laten (latent variables).
Tujuan utama analisis SEM adalah menguji fit suatu model yaitu kesesuaian
model dengan data empiris. SEM mampu menganalisis hubungan antara variabel
laten dengan variabel indikatornya (variabel manifest), hubungan antara variabel
laten yang satu dengan variabel laten yang lain, juga mengetahui besarnya
kesalahan pengukuran. Selain hubungan kausal searah, SEM juga memungkinkan
untuk melakukan analisis hubungan dua arah yang seringkali muncul dalam ilmu
sosial dan perilaku. Perbedaan terbesar antara SEM dan teknik multivariat lainnya
adalah penggunaan dari relasi yang terpisah untuk setiap sekumpulan variabel
dependen.
Ada dua pendekatan SEM, yaitu SEM dengan dasar covariance (CBSEM)
dan SEM dengan pendekatan varians (VBSEM). Penggunaan SEM berbasis
covariance dipermudah oleh software pengolah data seperti Lisrel, Amos, EQS.
Sedangkan SEM berbasis varians yang banyak digunakan adalah XLSTAT PLS,
PLS Graph, SmartPLS, Visual PLS dan lainnya.
Ghozali [31] menyatakan istilah-istilah penting yang ada dalam SEM adalah
sebagai berikut :
39
a. Variabel laten
Variabel laten merupakan variabel pengukuran dari sebuah konstruk dalam
SEM, yang tidak dapat diukur secara langsung tapi dapat diwakili atau diukur
dengan satu atau lebih variabel manifest. Ada dua jenis variabel laten, yaitu
variabel eksogen dan variabel endogen. Variabel eksogen adalah variabel
independen dalam setiap persamaan yang ada sementara variabel endogen adalah
variabel dependen pada minimal satu persamaan yang ada, meskipun dalam
persamaan lain bisa menjadi variabel independen.
b. Variabel manifest
Variabel manifest adalah suatu nilai hasil observasi untuk suatu item atau
pertanyaan yang spesifik, yang dihasilkan dari jawaban responden atau dari
pengamatan peneliti. Variabel manifest digunakan sebagai indikator terhadap
variabel laten. Variabel manifest merupakan ukuran dan skor aktual, yang
ditujukan untuk menghubungkan model variabel laten dengan data sebenarnya.
Variabel manifest yang berhubungan dengan variabel eksogen dilambangkan
dengan X dan yang berhubungan dengan variabel endogen dihubungkan dengan
Y.
c. Model pengukuran (Measurement Model)
Setiap konstruk laten biasanya dihubungkan dengan multiple measure.
Hubungan antara konstruk laten dengan pengukurannya dilakukan lewat factor
analytic measurement model, yaitu setiap konstruk laten dibuat model sebagai
common factor dari pengukurannya (measurement). Nilai loading yang
40
menghubungkan konstruk dengan pengukurannya diberi simbol dengan “lamda”
(λ).
d. Kesalahan Pegukuran
Model SEM memasukkan kesalahan pengukuran dalam modeling.
Kesalahan pengukuran (error) ini adalah faktor yang unik dikaitkan dengan setiap
pengukuran. Kesalahan pengukuran yang berhubungan dengan pengukuran X
diberi simbol “delta” (δ), sedangkan kesalahan pengukuran yang dihubungkan
dengan pengukuran Y diberi simbol “epsilon” (ε).
e. Model struktural dengan variabel observed (analisis jalur atau path
analysis)
Analisis jalur merupakan regresi simultan dengan variabel observed atau
terukur secara langsung.
[Link] Ukuran Sampel SEM
Asumsi dasar yang harus dipenuhi dalam analisis SEM adalah jumlah
sampel yang memenuhi kaidah analisis. Menurut Ghozali [31] analisis SEM
membutuhkan sampel paling sedikit lima kali jumlah variabel indikator yang
digunakan. Teknik maximum likelihood membutuhkan sampel berkisar 100-200
sementara teknik Generalized Least Square Estimation (GLS) digunakan pada
sampel 150-400.
Analisis SEM mensyaratkan data berdistribusi normal untuk menghindari
bias dalam analisis data. Data outliner harus dikeluarkan karena menimbulkan
bias dalam interpretasi dan mempengaruhi data lainnya. Data dikatakan normal
apabila critical ratio (CR) memiliki syarat -2,58 <CR<2,58. Contohnya adalah
41
distribusi nilai ujian dalam satu kelas adalah 7,8,7,8,9,7,6,7,8,9, dan 3. Nilai 3
merupakan outliner sehingga harus dikeluarkan dalam analisis data.
[Link] Partial Least Square Path Modelling
Partial Least Square (PLS) pertama kali dikembangkan oleh Herman Word
(1975). PLS merupakan analisis yang powerfull karena dapat digunakan pada
setiap jenis skala data (nominal, ordinal, interval, dan rasio) serta syarat asumsi
yang lebih fleksibel. PLS tidak mengasumsikan data harus berdistribusi normal
multivariate. Pendekatan PLS merupakan distribution free serta ukuran sampel
yang fleksibel.
Bila CBSEM yang dianalisis dengan LISREL, AMOS berbasis covariance
yang membandingkan antara matriks covariance data dan matriks covariance
hasil prediksi model, maka PLS berbasis variance atau component, PLS didesain
dengan tujuan prediksi, namun PLS dapat juga digunakan untuk tujuan konfirmasi
seperti pengujian hipotesis dan tujuan eksploratori. PLS dapat menduga apakah
terdapat atau tidak terdapat hubungan dan kemudian proporsi untuk pengujian.
Selain itu, PLS dapat menganalisa konstruk yang dibentuk dengan indikator
reflektif dan formatif. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh SEM yang berbasis
Covariance Based Sem (CBSEM) karena akan terjadi unidentified model. Tujuan
utama adalah untuk menjelaskan hubungan antar konstruk dan menekankan
tentang nilai hubungan tersebut.
42
[Link] Evaluasi Model PLS
PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi
parameter, maka teknik parameter untuk menguji signifikasi parameter tidak
diperlukan Chin [32] Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukuran prediksi
yang mempunyai sifat non parametrik. Model pengukuran atau outer model
dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity
dari indikatornya dan composite reliability untuk blok indikator. Outer model
dengan formatif indikator dievaluasi berdasarkan pada substantive content nya
yaitu dengan membandingkan besarnya relatif weight dan melihat signifikasi dari
ukuran weight tersebut [32]. Model struktural atau inner model dievaluasi dengan
melihat prosentase variance yang dijelaskan yaitu dengan melihat nilai R-Square
untuk konstruk laten dependen dengan menggunakan ukuran stone Geisser Q
sqaures test dan juga melihat besarnya koeffisien jalur strukturalnya. Stabilitas
dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat
prosedur bootstraping.
A. Model pengukuran atau Outer Model
Convergent Validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator
dinilai berdasarkan korelasi antar item score atau component score dengan
construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan
tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin diukur. Artinya
indikator tersebut dikatakan valid sebagai indikator yang mengukur konstruk.
Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala
pengukuran nilai loading 0,50 sampai 0,60 dianggap cukup [32].
43
Disciminant validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator
dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi
pengukuran dengan konstruk lebih besar daripada ukuran dengan kontruk lainnya,
maka hal ini menunjukan bahwa kontruk laten memprediksi ukuran pada blok
mereka lebih baik daripada ukuran pada blok lainnya. Metode lain dalam menilai
discriminant validity adalah membandingkan nilai square root of average
variance extracted (AVE) setiap kontruk dengan korelasi antara kontruk dengan
konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar kuadrat AVE setiap kontruk lebih
besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan lainnya dalam model, maka
dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik. Direkomendasikan nilai
AVE lebih besar dari 0,50.
Composite reliability blok indikator yang mengukur suatu konstruk
dievaluasi dengan melihat nilai dari cronbach’s alpha dan composite reliability.
Composity reliability lebih baik dalam mengukur internal consistency
dibandingkan dengan cronbach’s alpha dalam model SEM. Cronbach’s alpha
cenderung menaksir lebih rendah dari konstruk reliability dibandingkan dengan
composite reliability. Interpretasi dari composite reliability dan cronbach’s alpha
adalah 0,70; diatas 0,80 dan 0,90, berarti sangat memuaskan.
B. Model Struktural atau Inner Model
Evaluasi terhadap model struktural dilakukan melalui dua tahap. Tahap
pertama adalah dengan melihat signifikasi hubungan antar konstruk. Signifikansi
hubungan antar konstruk ini dapat dilihat dari koeffisien jalur (path coeffisient)
44
yang menggambarkan kekuatan hubungan antara konstruk yang diperoleh dari
proses bootsrtapping (resampling method).
Evaluasi tahap kedua dari model struktural adalah dengan melakukan
evaluasi terhadap nilai R-Square. Penjelasan nilai R Square sama dengan nilai R
Square dalam regresi linear yaitu besarnya variability variabel endogen yang
mampu dijelaskan oleh variabel eksogen. Chin [31] menjelaskan kriteria batasan
nilai R-Square dalam tiga klasifikasi yaitu 0,67 sebagai kategori baik; 0,33
sebagai kategori moderat; dan 0,19 sebagai kategori lemah.
2.2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan konstruksi TAM tersebut di atas maka terdapat beberapa
hipotesis penelitian seperti pada Gambar 2.15:
Perceived H7
Usefulness
H2 H6
Attitude Toward Behavioral Actual
H1
Using Intention Use Technology
Technology H4 Use
H5
H3
Perceived Ease
of Use
Gambar 2.15. Model Hipotesis Penelitian
45
Model hipotesis yang dikembangkan untuk evaluasi penerimaan sistem
informasi E-learning yang berdasarkan metode TAM adalah sebagai berikut :
H1 : Perceived Ease of Use (Persepsi kemudahan) penggunaan e-learning
berpengaruh positif terhadap Perceived Usefulness (persepsi kegunaan) dari
menggunakan e-learning;
H2 : Perceived Usefulness (persepsi kegunaan) dari penggunaan e-learning
berpengaruh positif terhadap Attitude Toward Using Technology (sikap
menggunakan teknologi) e-learning;
H3: Perceived Ease of Use (persepsi kemudahan) penggunaan e-learning
berpengaruh positif terhadap Attitude Toward Using Technology (sikap
menggunakan teknologi) yang ada pada e-learning.
H4: Attitude Toward Using Technology (sikap menggunakan teknologi) e-
learning berpengaruh positif terhadap Behavior Intention Use (minat
keperilakuan).
H5: Behavior Intention Use (perilaku minat menggunakan teknologi) e-learning
berpengaruh positif terhadap Actual Technology Use (pemakaian
sesungguhnya) dari e-learning.
H6: Perceived Usefulness (persepsi kegunaan) dari penggunaan e-learning
berpengaruh positif terhadap Behavior Intention Use (minat menggunakan
teknologi) e-learning.
H7: Perceived Usefulness (persepsi kegunaan) dari penggunaan e-learning
berpengaruh positif terhadap Actual Technology Use (pemakaian
sesungguhnya) e-learning.
46
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Bahan Penelitian
Bahan penelitian ini adalah sistem e-learning pada Pusat Pendidikan dan
Pelatiahan BPK RI. Penelitian ini menggunakan dua jenis data yakni primer dan
sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner yang akan diberikan kepada
pengguna e-learning sebagai responden. Pengguna adalah pegawai di lingkungan
BPK RI baik di kantor pusat maupun kantor perwakilan. Responden yang diambil
adalah dari kalangan auditor maupun penunjang/pendukung dengan jumlah 118
orang. Responden diambil dengan dua cara yaitu datang langsung ke masing-
masing kantor perwakilan dengan menyebarkan kuesioner dan melalui survey
online yang dilakukan melalui email, facebook dengan media kuesioner google
docs. Data sekunder diperoleh dari studi literatur baik dari buku, jurnal ataupun
peneilitian sebelumnya tentang model-model yang mendukung penelitian ini.
Berdasarkan Gambar 3.1 tampak bahwa tampilan muka layanan e-learning
Pusdiklat BPK RI yang akan dievaluasi menggunakan model TAM adalah sebagai
berikut:
47
Gambar 3.1. Tampilan awal E-learning BPK RI
3.2 Alat Penelitian
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner.
Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang nantinya akan diisi
oleh responden secara langsung yang terbagi ke dalam dua bagian yaitu bagian
pertama adalah demografi responden dan bagian kedua adalah pertanyaan yang
sesuai Skala likert merupakan metode yang digunakan untuk mengukur sikap,
persepsi, pendapat seseorang terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu.
Dengan skala likert, variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.
Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-
item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan [39].
Dalam hal ini ada lima klasifikasi jawaban yang diberikan dengan
kemungkinan pemberian skor sebagai berikut :
48
Tabel 3.1 Skala Likert
1 Sangat Tidak Setuju 1
2 Tidak Setuju 2
3 Netral 3
4 Setuju 4
5 Sangat Setuju 5
Nilai 1 :
Untuk jawaban yang sangat tidak setuju, dimana pertanyaan sangat tidak sesuai
dengan keadaan yang dirasakan oleh responden
Nilai 2 :
Untuk jawaban yang tidak setuju, dimana pertanyaan tidak sesuai dengan keadaan
yang dirasakan oleh responden
Nilai 3 :
Untuk jawaban yang cukup setuju, dimana pertanyaan cukup menggambarkan
dengan keadaan yang dirasakan oleh responden
Nilai 4 :
Untuk jawaban yang setuju, dimana pertanyaan sesuai dengan keadaan yang
dirasakan oleh responden
Nilai 5 :
Untuk jawaban yang sangat setuju, dimana pertanyaan sangat sesuai dengan
keadaan yang dirasakan oleh responden
Hasil kuesioner yang disebarkan akan digunakan untuk mengukur variable-
variabel yang terdapat di dalam model penelitian. Selanjutnya data yang diperoleh
akan dianalisa dengan menggunakan software pengolah data.
Kemudian hasil dari pengukuran dengan kuesioner akan dianalisis dengan
Structural Equation Model (SEM). SEM adalah teknik statistic multivariat yang
49
merupakan kombinasi antara analisa faktor dan analisis regresi (korelasi), yang
bertujuan untuk menguji hubungan-hubungan antar variabel yang ada pada sebuah
model, baik itu indikator dan konstruknya, ataupun hubungan antar konstruk [33].
Jika dilihat dari penyusunan model serta cara kerjanya, sebenarnya SEM adalah
gabungan analisis faktor dan analis regresi. Pada tahun 1950-an SEM sudah
dikemukakan oleh para ahli statistik yang mencari metode untuk membuat model
yang dapat menjelaskan hubungan diantara variabel-variabel. Dalam
kenyataannya, khususnya ilmu-ilmu sosial, banyak variabel yang bersifat laten,
seperti motivasi seseorang, komitmen, kesetiaan pelanggan dan lainnya [33].
SEM adalah generasi kedua teknik analisa multivariate yang
memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel yang kompleks
baik recursive maupun non recursive untuk memperoleh gambaran menyeluruh
mengenai keseluruhan model. Tidak seperti analisis multivariate biasa (regresi
berganda, analisis faktor), SEM dapat menguji secara bersama-sama:
1. Model Struktural: Hubungan antara konstruk independen dan dependen
2. Model Measurement: hubungan (nilai loading) antara indikator dengan
konstruk (variable laten)
Bentuk pertanyaan yang diukur adalah Perceived Ease of Use (PEOU),
Perceived Usefulness (PU), Attitude Towards Using technology (AT), Behavioral
Intention to use internet (BI),dan Actual use (AU) diadopsi dari jurnal TAM dan
studi yang pernah dilakukan sebelumnya dengan menyesuaikan dengan kondisi
yang ada. Tujuannya adalah untuk menjaga tingkat validitas dan realibilitasnya.
50
a. Perceived Ease of Use (PEOU) atau persepsi kemudahan menggunakan.
Indikator PEOU diukur dengan menggunakan item-item pertanyaan yang
diadaptasi dari Davis, 1989 dan Chau, 1996.
Tabel 3.2. Indikator Perceived Ease of Use (PEOU)
Perceived Ease of Use (PEOU)
PEOU _1 Saya merasa e-learning mudah untuk dipelajari
PEOU _2 Saya merasa e-learning mudah untuk digunakan
PEOU _3 Saya merasa sangat mudah untuk mendapatkan materi
pendidikan dan pelatihan dari e-learning
PEOU _4 E-learning menyediakan petunjuk pelaksanaan (SOP)
sehingga memudahkan penggunaannya
PEOU _5 Secara keseluruhan, E-learning mudah untuk digunakan
b. Perceived Usefulness (PU) atau persepsi kegunaan.
Indikator PU diukur dengan menggunakan item-item pertanyaan yang
diadaptasi dari Davis, 1989, dan Chau, 1996.
Tabel 3.3. Indikator Perceived Usefulness (PU)
Perceived Usefulness (PU)
PU _1 Menggunakan e-learning dapat meningkatkan kinerja
saya
PU _2 Menggunakan e-learning dapat memudahkan saya dalam
mengerjakan dan menyelesaikan aktivitas pendidikan dan
pelatihan saya
PU _3 Menggunakan e-learning dapat meningkatkan efektivitas
pendidikan dan pelatihan saya
PU _4 Menggunakan e-learning menghemat waktu saya
PU _5 Secara keseluruhan, e-learning bermanfaat untuk
pekerjaan saya
51
c. Attitude Towards Using Technology (AT) atau sikap menggunakan
teknologi.
Indikator AT diukur dengan item-item pertanyaan indikator yang diadaptasi
dari Agarwal dan Karashanna [34].
Tabel 3.4. Indikator Attitude Towards Using Technology (AT)
Attitude Towards Using Technology (AT)
AT _1 Saya merasa nyaman belajar secara online dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran
AT _2 Saya senang berinteraksi dengan menggunakan e-
learning
AT _3 Saya menikmati pembelajaran e-learning
AT _4 Saya merasa terjamin keamanan account saya di e-
learning
AT _5 Saya senang dengan tampilan interface e-learning
d. Behavioral Intention to use internet (BI) atau minat keperilakuan.
Indikator BI diukur dengan menggunakan item-item pertanyaan yang
diadaptasi dari Davis, 1989, dan Chau, 1996.
Tabel 3.5. Indikator Behavioral Intention to use internet (BI)
Behavioral Intention to use internet (BI)
BI _1 Saya berniat menggunakan e-learning dalam aktivitas
pendidikan dan pelatihan saya
BI _2 Saya berniat menggunakan e-learning sesering mungkin
dalam proses pendidikan dan pelatihan saya
BI _3 Saya berniat mengikuti diskusi secara online melalui
komunitas e-learning
BI _4 Saya menyarankan teman saya menggunakan e-learning
e. Actual Use (AU) atau penggunaan sesungguhnya.
Indikator AU diukur dengan menggunakan item-item pertanyaan yang
diadaptasi dari Davis [7], dan Iqbaria [36]
52
Tabel 3.6. Indikator Actual Use (AU)
Actual Use (AU)
AU _1 Saya hanya menggunakan e-learning selama memerlukan
AU _2 Saya mengakses e-learning hampir setiap minggu
AU _3 E-learning menyediakan informasi yang saya butuhkan
AU _4 Pelatihan terkait e-learning tersedia untuk saya.
AU _5 Saya merasa puas dengan kinerja e-learning
3.3 Jalan Penelitian
Agar penelitian ini dapat berjalan dengan sistematis dan tidak menyimpang
dari tujuan maka terdapat beberapa tahap yang ditentukan sebelum penelitian
dimulai. Penelitian dilaksanakan pada semester 3-4 tahun ajaran 2012/2013
dengan tabel waktu sebagai berikut:
Tabel 3.7. Jadwal Rencana Penelitian
No Kegiatan Bulan
Agt- Okt- Jan Feb Mar Apr
Sept Des 2013 2013 2013 2013
2012 2012
1 Tahap Awal
2 Tahap identifikasi
Masalah
3 Tahap Pengolahan dan
Analisa Data
4 Tahap Perumusan Hasil
5 Tahap Akhir
Untuk mendukung tahapan agar berjalan sistematis dalam rangka penelitian
tersebut dibuatlah jalan penelitian seperti berikut:
53
Mulai
Study Literatur
Observasi E-Learning
Perancangan Kuesioner
Penentuan Sampel dan Populasi
Penyebaran Kuesioner
Validasi data dengan SEM
Diterima Evaluasi
Ditolak
Hasil
Uji Hipotesis
Selesai
Gambar 3.2. Jalan Penelitian
3.3.1 Tahap Awal (Agustus s.d September 2012)
Pada tahap ini penelitian dimulai dengan studi literatur dari buku, jurnal,
dan artikel yang terkait dengan e-learning di Pusdiklat BPK RI. Selain itu juga
dilakukan diskusi dengan para stakeholder Pusdiklat BPK RI untuk mengetahui
permasalahan yang dapat diidentifikasi menjadi perumusan masalah dalam
penelitian. Di samping itu penulis juga menguraikan apa yang membedakan
54
dengan penelitian-penelitian sebelumnya terkait dengan objek penelitian yang
dipilih.
3.3.2 Tahap identifikasi Masalah (Oktober s.d Desember 2012)
Pada tahap ini, penulis mengidentifikasi permasalahan dengan cara
mengumpulkan data dan mencari informasi yang terkait dengan penyelenggaraan
e-learning di Pusdiklat BPK RI. Tahapan selanjutnya menyusun daftar faktor-
faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna terhadap e-learning,
menentukan tujuan penelitian yang akan dicapai dan penentuan metode
pendekatan yang dinilai sesuai yaitu menggunakan metode Technology
Acceptance Model (TAM). Selanjutnya, peneliti melakukan penyebaran dan
pengumpulan data kuesioner dengan melibatkan pengguna sebagai responden dan
sumber informasi penelitian.
3.3.3 Tahap Pengolahan dan Analisis Data (Januari - Februari 2013)
Pengolahan data akan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM)
dengan aplikasi SmartPLS.
Dalam metode PLS untuk pengujian model dilakukan dua tahap analisis
yaitu :
1. Model pengukuran atau Outer model
Outer model sering juga disebut outer relation atau measurement model,
mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel
latennya. Ada tiga kriteria untuk menilai outer model, yaitu :
55
1) Validitas Konvergen (Convergent Validity)
Validitas berhubungan dengan apakah suatu variabel mengukur apa yang
seharusnya diukur. Validitas dalam penelitian menyatakan derajat ketepatan alat
ukur penelitian terhadap isi atau arti sebenarnya yang diukur. Pengujian validitas
dilakukan untuk mengetahui apakah semua pertanyaan (instrumen) penelitian
yang diajukan untuk mengukur variabel penelitian adalah valid. Uji validitas di
dalam PLS dengan melihat convergent validity masing-masing indikator. Hasil
output menunjukkan loading factor untuk indikator tidak kurang dari 0,5. Bila
terjadi maka indikatornya sebaiknya didrop. Convergent validity dari model
pengukuran dengan reflektif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item
score/component score dengan construct score yang dihitung dengan PLS.
Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,7 dengan
konstruk yang ingin diukur. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari
pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 sampai 0,6 dianggap cukup
menurut Chin [32].
2) Validitas Diskriminan (Discriminant Validity) atau menggunakan rerata
ekstraksi varian (Average Varian Extracted)
Validitas instrumen selain ditentukan berdasarkan convergent validity juga
ditentukan oleh discriminant validity, yang bertujuan membuktikan bahwa
indikator pada konstruk laten memprediksi ukuran pada blok mereka lebih baik
dari ukuran pada blok lainnya. Atau dengan kata lain discriminant validity
bertujuan untuk menguji bahwa alat ukur, secara tepat mengukur konstruk yang
diukur, bukan konstruk yang lain Untuk pengujian discriminant validity dapat
56
dilihat dari nilai cross loadings dan akar AVE konstruk. Pada data cross loadings
akan valid jika nilai korelasi indikator terhadap konstruknya harus lebih besar
dibandingkan nilai korelasi antar indikator dengan konstruk lainnya, atau jika akar
AVE lebih besar daripada korelasi antar konstruk dan konstruk lainnya maka
memenuhi discriminant validity [31].
3) Construct Reliability yang diukur menggunakan Composite Reliability dan
Cronbachs Alpha
Reliabilitas adalah instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk
memperoleh informasi yang diinginkan dapat dipercaya (terhandal) sebagai alat
pengumpul data serta mampu mengungkap informasi yang sebenarnya.
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur
dapat menghasilkan data yang reliabel, artinya data tersebut dapat memberikan
hasil yang stabil dan konsisten bila dipakai untuk mengukur gejala yang sama
pada waktu yang berbeda. Uji reliabilitas dapat dilakukan secara bersama-sama
terhadap seluruh item pertanyaan untuk lebih dari satu variabel, namun sebaiknya
uji reliabilitas dilakukan pada masing-masing variabel, sehingga dapat diketahui
konstruk variabel mana yang tidak reliabel.
Uji reliabilitas di dalam PLS dengan melihat construct reliability masing-
masing indikator. Construct reliability adalah konsistensi indikator jika
pengukuran skala tersebut dilakukan pada waktu, lokasi dan populasi yang
berbeda. Construct reliability diukur dengan dua kriteria yaitu composite
reliability dan cronbachs alpha (Internal consistency reliability) dari blok
57
indikator yang mengukur konstruk. Konstruk dinyatakan reliabel jika nilai
composite reliability lebih besar 0,7 dan cronbachs alpha diatas 0,6 [31].
2. Model struktural atau inner model
Inner model (inner relation, structural model dan substantive theory)
menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada substantive
theory. Menilai inner model adalah mengevaluasi hubungan antar konstruk laten
seperti yang telah dihipotesiskan dalam penelitian ini. Inner model dievaluasi
dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen, Stone-Geisser Q-
Square test untuk predictive relelvance dan uji t serta signifikansi dari koefisien
parameter jalur struktural. Perubahan nilai R-squares dapat digunakan untuk
menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten
dependen.
Pengujian terhadap model struktural dilakukan dengan melihat nilai R-
square yang merupakan uji goodness-fit model. Nilai R-square mencerminkan
kekuatan prediksi dari keseluruhan model [35] dengan batasan nilai R-square
lebih besar dari 0,1 atau lebih besar dari 10%.
Di samping melihat nilai R-square, model PLS juga dievaluasi dengan
melihat Q-square predictive relevance untuk model konstruk. Q-square mengukur
seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi
parameternya. Nilai Q-square lebih besar 0 (nol) menunjukkan bahwa model
mempunyai nilai predictive relevance, sedangkan nilai Q-square kurang dari 0
(nol) menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance.
58
3.3.4 Tahap Perumusan Hasil (Maret 2013)
Pada tahap ini merupakan pengujian hipotesis yang dilakukan dengan
membandingkan hipotesis awal dari model yang digunakan dengan data hasil
kuesioner yang telah diolah dan diuji dengan memanfaatkan software smart PLS.
3.3.5 Tahap Akhir (April 2013)
Pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan atas penelitian yang
dilakukan. Setelah peneliti dapat menarik kesimpulan maka selanjutnya
diharapkan akan memberikan masukan dan saran kepada Pusdiklat BPK RI.
3.4 Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini populasinya adalah pegawai di lingkungan Badan
Pemeriksa Keuangan RI. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
Purposive sampling yaitu terfokus kepada target yang telah melakukan e-learning.
Dalam hal ini penelitian dilakukan pada seluruh pegawai BPK RI baik kantor
pusat maupun perwakilan yang telah menggunakan e-learning. Sampel yang
diambil sebanyak 120 orang yang tersebar di seluruh kantor BPK RI.
3.5 Kesulitan-Kesulitan
Pada penelitian ini dimungkinkan akan ditemukan beberapa kesulitan yang
mungkin akan dihadapi adalah :
1. Sosialisasi e-learning di BPK yang masih minim menjadikan beberapa
responden belum mengerti, sehingga peneliti harus memberikan penjelasan
awal terlebih dahulu.
2. Jarak dan responden yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi kendala
dalam proses pengumpulan data.
59
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPK RI
Pusdiklat BPK RI merupakan unit kerja setingkat eselon dua yang berada di
lingkungan BPK RI. Berdasarkan Keputusan BPK RI Nomor 39/K/I-
VIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana
BPK RI, Pusat Pendidikan dan Pelatihan atau Pusdiklat adalah unsur pelaksana
sebagian tugas dan fungsi Ditama Revbang (Direktorat Utama Perencanaan,
Evaluasi, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan
Negara), yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Ditama
Revbang
Pusdiklat mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan
pemeriksaan keuangan negara dalam rangka peningkatan kompetensi/
profesionalisme pegawai dan calon pegawai di lingkungan BPK berdasarkan
kebijakan pengembangan SDM. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut,
Pusdiklat menyelenggarakan fungsi:
Perumusan dan pengevaluasian rencana aksi Pusdiklat dengan
mengidentifikasikan indikator kinerja utama berdasarkan rencana
implementasi rencana strategis BPK;
Perumusan rencana kegiatan Pusdiklat berdasarkan rencana aksi, serta tugas
dan fungsi Pusdiklat;
60
Pelaksanaan kegiatan diklat pada Pusdiklat, Balai Diklat Medan, Balai
Diklat Yogyakarta dan balai Diklat Makassar;
Pelaksanaan hubungan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan yang
terkait dengan tugas dan fungsi BPK;
Pelaksanaan kegiatan lain yang ditugaskan oleh kepala Ditama Revbang;
Pelaporan hasil kegiatannya secara berkala kepada Ditama Revbang.
4.1.2. Sistem Pembelajaran E-learning
Sistem pembelajaran secara elektronik ini di bangun untuk mempermudah
pegawai BPK dalam memperoleh pengetahuan/ pembelajaran melalui intranet
BPK. Hal ini memungkinkan para pegawai untuk belajar melalui komputer di unit
kerja mereka masing-masing sehingga informasi yang di dapat melalui
pembelajaran di kelas dapat di peroleh dengan mengakses komputer. Di sini,
peserta diklat bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-
tugas dan test-test yang harus dikerjakan, peserta juga bisa melihat nilai tugas dan
test serta peringkatnya berdasarkan nilai yang diperoleh.
4.1.3. Analisis Data
[Link].Identifikasi Responden
Penelitian dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner terhadap beberapa
responden. Dari 120 kuesioner yang disebar ada 118 kuesioner yang dikembalikan
dan layak dianalisis, seperti pada Tabel 4.1
61
Tabel 4.1 Hasil pengumpulan kuesioner
Keterangan Jumlah
Kuesioner yang disebar 120
Kuesioner yang kembali 118
Kuesioner yang bisa dianalisis 118
Identifikasi responden dikelompokkan menjadi empat, yaitu berdasarkan
jenis kelamin, usia, jenjang pendidikan, masa kerja di BPK RI dan jabatan
terakhir dalam organisasi. Secara terperinci deskripsi responden, yaitu :
1. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, responden terdiri dari laki-laki dan perempuan,
yang ditunjukkan Tabel 4.2 dan Gambar 4.1
Tabel 4.2 Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin Jumlah (orang)
Laki-laki 46
Perempuan 72
Jenis Kelamin
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Laki - Laki Perempuan
Gambar 4.1. Grafik responden berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan Tabel 4.2 dan Grafik 4.1 terlihat bahwa responden terbanyak
adalah perempuan yaitu 72 orang atau 61,02% dari total jumlah responden.
62
2. Deskripsi responden berdasarkan lokasi penempatan kerja
Berdasarkan lokasi penempatan kerja, responden terdiri dari kantor pusat
dan kantor perwakilan, yang ditunjukkan Tabel 4.3 dan Gambar 4.2
Tabel 4.3 Deskripsi responden berdasarkan lokasi penempatan
Jenis kelamin Jumlah (orang)
Kantor Pusat 13
Kantor Perwakilan 105
Lokasi Penempatan
150
100
50
0
Kantor Pusat Kantor Perwakilan
Gambar 4.2. Grafik responden berdasarkan lokasi penempatan
Berdasarkan Tabel 4.3. dan Gambar 4.2 terlihat bahwa responden terbanyak
adalah kantor perwakilan yaitu 105 orang atau 88,98% dari total jumlah
responden.
3. Deskripsi responden berdasarkan usia
Berdasarkan usia, responden terdiri atas empat kategori, yaitu < 25 tahun,
25 – 35 tahun, 36 – 45 tahun dan >45 tahun. Data karakteristik responden
berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 4.4. dan Gambar 4.3.
Tabel 4.4 Deskripsi responden berdasarkan usia
Usia Jumlah (orang)
< 25 11
25 – 35 80
36 – 45 18
> 45 9
63
Usia
100
80
60
40
20
0
< 25 Th 25 - 35 Th 36 - 45 Th > 45 Th
Gambar 4.3. Grafik responden berdasarkan usia
Berdasarkan Tabel 4.4 dan Gambar 4.3 menunjukkan bahwa responden
terbanyak berusia antara 25 – 35 tahun yaitu 80 orang atau 67,80% dari total
jumlah responden diikuti dengan responden yang berusia 36– 45 tahun yaitu 18
orang atau 15,25% dari total jumlah responden. Sisanya berasal dari kelompok
usia lain, yaitu <25 tahun sebanyak 11 orang atau 9,32% dan kelompok usia >45
sebanyak 9 orang atau 7,63%.
4. Deskripsi responden berdasarkan jenjang pendidikan
Berdasarkan jenjang pendidikan, responden terdiri atas empat kategori,
yaitu SMA dan sederajat, Diploma (D1/D3), Sarjana (S1), dan Pasca Sarjana (S2).
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat pada Tabel
4.5 dan Gambar 4.4.
Tabel 4.5 Deskripsi responden berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Jumlah (orang)
SLTA/Sederajat 13
Diploma (D1/D3) 7
Sarjana (S1) 81
Pasca Sarjana (S2) 17
64
Pendidikan
100
80
60
40
20
0
SLTA/Sederajat Diploma Sarjana (S1) Pasca Sarjana
(D1/D3) (S2)
Gambar 4.4. Grafik responden berdasarkan pendidikan
Berdasarkan Tabel 4.5 dan Gambar 4.4 menunjukkan bahwa responden
mayoritas memiliki tingkat pendidikan terakhir Sarjana (S1) sebanyak 81
responden atau 68,64% dari total [Link] dari tingkat pendidikan lain
yaitu Pasca Sarjana sebanyak 17 orang atau 14,41%, SLTA/Sederajat sebanyak 13
orang atau 11,02%, dan Diploma (D1/D3) sebanyak 7 orang atau 5,93%.
5. Deskripsi responden berdasarkan lamanya masa kerja dalam organisasi
Berdasarkan jabatan dalam organisasi, responden terdiri atas auditor dan
penunjang/pendukung. Data responden berdasarkan jabatan dalam organisasi
dapat dilihat pada Tabel 4.6. dan Gambar 4.5
Tabel 4.6 Deskripsi responden berdasarkan
lamanya masa kerja dalam organisasi
Masa Kerja Jumlah (orang)
< 1 Th 6
1 – 5 Th 44
5 – 10 Th 47
>10 Th 21
65
Masa Kerja
50
40
30
20
10
0
< 1 Th 1 - 5 Th 5 - 10 Th > 10 Th
Gambar 4.5. Grafik responden berdasarkan masa kerja
Berdasarkan Tabel 4.6 dan Gambar 4.5 menunjukkan bahwa responden
mayoritas lama bekerja bekerja 5-10 tahun sebanyak 47 responden atau 39,83%
dari total responden. Sisanya 1-5 tahun sebanyak 44 orang atau 37,29%, lama
bekerja >10 tahun sebanyak 21 orang atau 17,80%, dan lama bekerja <1 tahun
sebanyak 6 orang atau 5,08%.
6. Deskripsi responden berdasarkan jabatan dalam organisasi
Berdasarkan jabatan dalam organisasi, responden terdiri atas auditor dan
penunjang/pendukung. Data responden berdasarkan jabatan dalam organisasi
dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan Gambar 4.6
Tabel 4.7 Deskripsi responden berdasarkan jabatan dalam organisasi
Jabatan Jumlah (orang)
Auditor 47
Penunjang/pendukung 71
66
Jabatan
80
60
40
20
0
Auditor Penunjang/Pendukung
Gambar 4.6. Grafik responden berdasarkan jabatan
Berdasarkan Tabel 4.7 dan Gambar 4.6 terlihat bahwa responden terbanyak
adalah penunjang/pendukung yaitu 71 orang atau 60,17% dari total jumlah
responden.
Sedangkan jawaban responden di tiap variabel berdasarkan kuesioner yang
telah disebar akan diuraikan sebagai berikut :
1. Variabel Perceived Ease of Use (Kemudahan dalam menggunakan E-
learning)
Jawaban responden untuk variabel kualitas sistem bisa dilihat pada Tabel
4.8.
Tabel 4.8 Jawaban responden terhadap variabel Perceived Ease of Use
Jenis Jawaban
Item Sangat Jumlah
Tidak Sangat
Pertanyaan Tidak Netral Setuju Total
Setuju Setuju
Setuju
PEOU1 1 7 37 70 3 118
PEOU2 1 5 39 70 3 118
PEOU3 0 11 40 64 3 118
PEOU4 0 12 49 53 4 118
PEOU5 0 11 45 57 5 118
Jumlah 2 46 210 314 18 590
Persentase 0.3% 7.8% 35,6% 53,2% 3,1% 100%
67
Berdasarkan Tabel 4.8
4. terlihat bahwa mayoritas responden yang menjawab
setuju atas pertanyaan mengenai Perceived Ease of Use (Kemudahan dalam
menggunakan E-learning
learning) yaitu 53,2%
Gambar 4.7 Grafik jawaban responden terhadap Perceived Ease of Use
(Kemudahan dalam menggunakan E-learning)
80
60
40
20
0
STS TS N
S
SS
PEOU1 PEOU2 PEOU3 PEOU4 PEOU5
2. Variabel Perceived Usefulness (kebermanfaatan dalam menggunakan
E-learning)
Jawaban responden
responden untuk variabel kualitas informasi bisa dilihat pada Tabel
4.9.
Tabel 4.9 Jawaban responden terhadap variabel Perceived Usefulness
Jenis Jawaban
Item Sangat Jumlah
Tidak Sangat
Pertanyaan Tidak Netral Setuju Total
Setuju Setuju
Setuju
PU1 0 8 38 67 5 118
PU2 0 8 26 76 8 118
PU3 0 4 33 73 8 118
PU4 0 5 25 77 11 118
PU5 0 5 36 69 8 118
Jumlah 0 30 158 362 40 590
Persentase 0.0% 5,1% 26,8% 61,4% 6,7% 100%
68
Berdasarkan Tabel 4.9
4. terlihat bahwa mayoritas responden yaitu 61,4% dari
total jumlah responden menjawab setuju atas pertanyaan mengenai Perceived
Usefulness (kebermanfaatan dalam menggunakan E-learning)
Gambar 4.8 Grafik jawaban responden terhadap Perceived Usefulness
(kebermanfaatan dalam menggunakan E-learning)
learning)
80
60
40
20
0
STS TS N S
SS
PU1 PU2 PU3 PU4 PU5
3. Variabel Attitude Toward (Sikap untuk menggunakan E-learning
learning)
Jawaban responden untuk variabel Attitude Toward bisa dilihat pada Tabel
4.10.
Tabel 4.10 Jawaban responden terhadap variabel Attitude Toward
Jenis Jawaban
Item Sangat Jumlah
Tidak Sangat
Pertanyaan Tidak Netral Setuju Total
Setuju Setuju
Setuju
AT1 0 7 43 64 4 118
AT2 0 6 49 60 3 118
AT3 0 6 50 57 5 118
AT4 0 10 65 42 1 118
AT5 0 10 57 50 1 118
Jumlah 0 39 264 273 14 590
Persentase 0.0% 6.6% 44,7% 46,3% 2,4% 100%
69
Berdasarkan Tabel 4.10
4. terlihat bahwa mayoritas responden yang menjawab
setuju atas pertanyaan mengenai Attitude Toward (Sikap untuk menggunakan E-
learning) yaitu 46,3%
Gambar 4.9 Grafik jawaban responden terhadap
Attitude Toward (Sikap untuk menggunakan E-learning)
learning)
70
60
50 AT1
40 AT2
30 AT3
20 AT4
10 AT5
0
STS TS N
S
SS
4. Variabel Behavioral Intention to Use Internet
Jawaban responden untuk variabel Behavioral Intention to Use Internet bisa
dilihat pada Tabel 4.11.
4.1
Tabel 4.11 Jawaban responden terhadap variabel Behavioral Intention to Use
Internet
Jenis Jawaban
Item Sangat Jumlah
Tidak Sangat
Pertanyaan Tidak Netral Setuju Total
Setuju Setuju
Setuju
BI1 0 2 38 72 6 118
BI2 0 3 45 63 7 118
BI3 1 6 50 54 7 118
BI4 1 5 52 52 8 118
Jumlah 2 16 185 241 28 472
Persentase 0.4% 3.4% 39,2% 51,1% 5,9% 100%
70
Berdasarkan Tabel 4.11
4. terlihat bahwa mayoritas responden yaitu 51,1%
dari total jumlah responden menjawab setuju atas pertanyaan mengenai
Behavioral Intention to Use Internet
Gambar 4.10 Grafik jawaban responden terhadap
Behavioral Intention to Use Internet
80
70
60
50 BI1
40 BI2
30
BI3
20
10 BI4
0
STS
TS
N
S
SS
5. Variabel Actual Use Internet (Kondisi Sebenarnya dalam menggunakan
internet.
Jawaban responden untuk variabel Actual Use Internet bisa dilihat pada
Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Jawaban responden terhadap variabel Actual Use Internet
Jenis Jawaban
Item Sangat Jumlah
Tidak Sangat
Pertanyaan Tidak Netral Setuju Total
Setuju Setuju
Setuju
AU1 2 2 32 75 7 118
AU2 6 28 55 28 1 118
AU3 0 6 48 61 3 118
AU4 2 13 62 39 2 118
AU5 0 6 66 44 2 118
Jumlah 10 55 263 247 15 590
Persentase 1,7% 9,3% 44,6% 41,9% 2,5% 100%
71
Berdasarkan Tabel 4.12
4.1 terlihat bahwa mayoritas responden yaitu 44,6%
dari total jumlah responden menjawab setuju atas pertanyaan mengenai Actual
Use Internet (Kondisi Sebenarnya
Sebena dalam menggunakan internet)
Gambar 4.11 Grafik jawaban responden terhadap Actual Use Internet
(Kondisi Sebenarnya dalam menggunakan internet)
80
60 AU1
AU2
40
AU3
20 AU4
0 AU5
STS TS N S
SS
[Link].Analisis
Analisis Model Persamaan Struktural
Pada tahap ini data diolah dengan menggunakan software SMARTPLS.
Langkah di dalam menyelesaikan model persamaan strukutral (SEM) dengan
menggunakan software SMARTPLS adalah sebagai berikut :
Model Pengukuran (outer model)
Outer model atau measurement model mendefinisikan bagaimana setiap
blok indikator berhubungan dengan variabel latennya. Ada tiga kriteria untuk
mengevaluasi outer model yaitu 1) Validitas Konvergen (Convergent
Convergent Validity); 2)
Validitas Diskriminan (Discriminant
( Validity)) atau menggunakan rerata ekstraksi
varian (Average
Average Varian Extracted);
Extracted 3) Construct Reliability yang diukur
menggunakan Composite Reliability dan Croncbach Alpha.
72
a. Validitas Konvergen (Convergent Validity)
Convergent validity bertujuan untuk mengetahui validitas setiap hubungan
antar indikator dengan mengukur skor konstruk item indikator terhadap
konstruknya. Jika nilai korelasi diatas 0,70 indikator individu dianggap valid [31].
Validitas Konvergen mensyaratkan bahwa alat ukur (indikator) secara tepat
mengukur konstruk yang dimaksud. Dalam software SMARTPLS, convergent
validity sama dengan outer loading/loading factor yang nilainya dikatakan tinggi
apabila lebih besar dari 0,7. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari
pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 dianggap cukup [32]. Hasil
loading factor dapat pula dilihat dalam Gambar 4.12 dan Tabel 4.13.
Gambar 4.12 Hasil loading factor awal masing-masing indikator
73
Tabel 4.13 Hasil awal Loading factor
Variabel Laten Variabel Manifest Loading Factor
Perceived Usefulness PU1 0.794
PU2 0.917
PU3 0.927
PU4 0.860
PU5 0.854
Perceived Ease of Use PEOU1 0.883
PEOU2 0.901
PEOU3 0.797
PEOU4 0.758
PEOU5 0.764
Attitude Toward AT1 0.806
AT2 0.896
AT3 0.881
AT4 0.769
AT5 0.717
Behavioral Intention BI1 0.889
BI2 0.911
BI3 0.867
BI4 0.866
Actual Use AU1 0.314
AU2 0.570
AU3 0.852
AU4 0.719
AU5 0.849
Dari Gambar 4.12 dan Tabel 4.13 tersebut diatas ditemukan terdapat 1
indikator dengan nilai dibawah 0,5 yaitu AU1. Dengan demikian indikator AU1
tersebut dikeluarkan dari model. Dengan membuang indikator tersebut kemudian
dilakukan perhitungan kembali maka didapat hasil outer loading sebagai berikut:
74
Gambar 4.13 Hasil loading factor masing-masing indikator
Tabel 4.14 Hasil loading factor
Variabel Laten Variabel Manifest Loading Factor
Perceived Usefulness PU1 0.794
PU2 0.916
PU3 0.927
PU4 0.860
PU5 0.854
Perceived Ease of Use PEOU1 0.882
PEOU2 0.901
PEOU3 0.797
PEOU4 0.758
PEOU5 0.764
Attitude Toward AT1 0.806
AT2 0.896
AT3 0.881
AT4 0.769
AT5 0.717
Behavioral Intention BI1 0.887
BI2 0.910
BI3 0.869
BI4 0.868
Actual Use AU2 0.618
AU3 0.848
AU4 0.747
AU5 0.860
75
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa nilai loading factor di atas
0.50, sehingga semua indikator telah memenuhi convergent validity dan memiliki
validitas yang dipersyaratkan.
b. Validitas diskriminan (Discriminant Validity) dan rerata ekstraksi varian
(Average Varian Extracted)
Validitas diskriminan adalah menguji bahwa alat ukur, secara tepat
mengukur konstruk yang diukur, bukan konstruk yang lain. Validitas instrumen
selain ditentukan berdasarkan convergent validity juga ditentukan oleh
discriminant validity. Untuk pengujian discriminant validity dapat dilihat dari
nilai Cross Loadings dan akar AVE konstruk. Berdasarkan Tabel 4.15 terlihat
korelasi antar konstruk (Latent Variable Correlations) dan nilai AVE bisa dilihat
dari Tabel 4.16.
Tabel. 4.15 Nilai korelasi antar konstruk (Latent Variable Correlations)
AT ATU BI PEOU PU
AT 1,000000
ATU 0,657617 1,000000
BI 0,725989 0,607249 1,000000
PEOU 0,727733 0,604672 0,591518 1,000000
PU 0,694197 0,627774 0,683133 0,641840 1,000000
Tabel 4.16 Nilai AVE dan Akar AVE
AVE Akar AVE
AT 0,666761 0,816554346
ATU 0,595122 0,771441508
BI 0,780920 0,883696781
PEOU 0,676588 0,822549695
PU 0,759666 0,871588206
Pada Tabel 4.16 terlihat bahwa nilai AVE untuk semua variabel di atas 0.50,
sehingga bisa dikatakan bahwa semua variabel valid. Sementara itu berdasarkan
76
Tabel 4.16 terlihat bahwa nilai akar AVE lebih besar daripada korelasi antar
konstruk dan konstruk lainnya, misalnya pada akar AVE AT sebesar 0.816554346
nilai ini lebih besar daripada nilai korelasi antar konstruk dan konstruk lainnya
pada Tabel 4.15. Demikian halnya dengan nilai akar AVE variabel yang lain
sehingga dapat dikatakan bahwa semua variabel memenuhi discriminant validity.
Untuk nilai cross loading masing-masing indikator dapat dilihat pada Tabel
4.17. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai korelasi indikator terhadap
konstruknya lebih besar dibandingkan nilai korelasi antar indikator dengan
konstruk lainnya, sehingga indikator-indikator tersebut bisa dikatakan valid.
Tabel 4.17 Nilai Cross Loading
AT ATU BI PEOU PU
AT1 0,805519 0,484956 0,597936 0,603605 0,579082
AT2 0,896490 0,579498 0,689232 0,591040 0,639266
AT3 0,881082 0,573893 0,645929 0,681005 0,642912
AT4 0,768659 0,499426 0,467732 0,531487 0,533378
AT5 0,717015 0,549159 0,537359 0,555528 0,413528
AU2 0,330812 0,617796 0,238638 0,306666 0,288683
AU3 0,583480 0,848260 0,500530 0,482175 0,586691
AU4 0,455798 0,746666 0,402014 0,345690 0,323923
AU5 0,589068 0,849566 0,617931 0,631834 0,612631
BI1 0,713025 0,518749 0,887434 0,577309 0,650242
BI2 0,696511 0,578496 0,910062 0,575419 0,641528
BI3 0,589618 0,502359 0,868952 0,474406 0,547002
BI4 0,552708 0,544550 0,867670 0,451210 0,566709
PEOU1 0,648918 0,517445 0,541102 0,882498 0,611951
PEOU2 0,663005 0,505609 0,532410 0,901003 0,619109
PEOU3 0,572813 0,499858 0,470738 0,796548 0,497382
PEOU4 0,526534 0,457876 0,467704 0,757977 0,369390
PEOU5 0,567213 0,509994 0,414025 0,763751 0,500511
PU1 0,491576 0,539261 0,463145 0,464249 0,794450
PU2 0,629614 0,534862 0,677848 0,600265 0,916386
PU3 0,647400 0,537721 0,622152 0,548380 0,926935
PU4 0,620423 0,607378 0,607470 0,607074 0,859638
PU5 0,621631 0,518115 0,585708 0,563167 0,853949
77
c. Reliabilitas Konstruk (Construct Reliability)
Dalam PLS uji reliabilitas diukur dengan dua kriteria yaitu composite
reliability dan cronbachs alpha dari blok indikator yang mengukur konstruk.
Konstruk dinyatakan reliabel jika nilai composite reliability lebih besar 0,7 [31],
sedangkan beberapa batasan mengenai skor Cronbachs Alpha lebih besar dari 0,6
[26]. Hasil dari pengolahan dengan menggunakan SmartPLS dapat dilihat pada
Tabel 4.18.
Tabel 4.18 Nilai Composite Reliability dan Cronbachs Alpha
Composite Cronbachs
Reliability Alpha
AT 0,908557 0,873344
ATU 0,852733 0,779100
BI 0,934438 0,906641
PEOU 0,912315 0,879397
PU 0,940322 0,920158
Pada Tabel 4.18 dapat diketahui bahwa nilai composite reliability dan
cronbachs alpha pada model bahwa konstruk telah memenuhi reliabilitas.
[Link].Model struktural (inner model)
Inner model (inner relation, structural model dan substantive theory)
menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada substantive
theory. Menilai inner model adalah mengevaluasi hubungan antar konstruk laten
seperti yang telah dihipotesiskan dalam penelitian ini. Inner model ingin melihat
hubungan antar konstruk dan nilai signifikansi serta nilai R-Square. Berdasarkan
Tabel 4.19 diketahui nilai R-Square.
78
Tabel 4.19 Nilai R-Square
R Square
AT 0,617308
ATU 0,453773
BI 0,589011
PEOU -
PU 0,411959
Pengujian terhadap model struktural dilakukan dengan melihat nilai R-
Square yang merupakan uji goodness-fit model. Berdasarkan tabel 4.19 di atas
dapat disimpulkan bahwa :
1. Konstruk AT (Attitude Toward) memiliki R-Square sebesar 0,617308 yang
berarti bahwa variansi pada konstruk attitude toward dapat dijelaskan oleh
konstruk perceived usefulness, dan perceived ease of use sebesar 61,73 %.
Sementara 38,27 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
2. Konstruk ATU (Attitude Toward Usefulness) memiliki R-Square sebesar
0,453773 yang berarti bahwa variansi pada konstruk Attitude toward dapat
dijelaskan oleh konstruk Behavioral Intention dan Perceived Usefulness
sebesar 45,38 %. Sementara 54,62% lainnya dijelaskan oleh variabel lain
diluar model.
3. Konstruk BI (Behavioural Intention) memiliki R-Square sebesar 0,589011
yang berarti bahwa variansi pada konstruk behavioral Intention dapat
dijelaskan oleh konstruk Perceived of usefulness dan attitude toward sebesar
58,90%. Sementara 41,10% lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar
model.
79
4. Konstruk PU (perceived of usefulness) memiliki R-Square sebesar 0,411959
yang berarti bahwa variansi pada konstruk perceived of usefulness dapat
dijelaskan oleh konstruk Perceived ease of use sebesar 41,20%. Sementara
58,80% lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Menurut Falk dan Miller [35] menyatakan bahwa nilai R-Square dapat
dikatakan baik atau memadai apabila nilainya lebih besar dari 0,100. Tabel 4.19
menunjukkan nilai R-Square dari variabel masing-masing variabel endogen yang
lebih besar dari 0,10. Hai ini dapat dikatakan bahwa seluruh konstruk memadai
atau baik.
Dengan menggunakan bootstrap dalam PLS kita dapat memperoleh hasil
path coefficients dan t-value
Tabel 4.20 Path Coefficients (Mean, STDEV, T-Values)
Original Standard Standard
Sample T Statistics
Sample Deviation Error
Mean (M) (|O/STERR|)
(O) (STDEV) (STERR)
AT -> BI 0,485938 0,490998 0,087666 0,087666 5,54304
BI -> ATU 0,334495 0,33862 0,098557 0,098557 3,393933
PEOU -> AT 0,479846 0,483839 0,07914 0,07914 6,063247
PEOU -> PU 0,64184 0,649006 0,078527 0,078527 8,173448
PU -> AT 0,386213 0,388856 0,075887 0,075887 5,089308
PU -> ATU 0,399269 0,404319 0,094791 0,094791 4,212101
PU -> BI 0,345797 0,345363 0,092681 0,092681 3,731032
Berdasarkan Tabel 4.20 terlihat bahwa signifikansi pengaruh antar variabel
dengan melihat nilai koefisien parameter dan nilai signifikansi t-statistiknya.
[Link].Pengujian Hipotesis
Untuk pengujian hipotesis biasanya digunakan tingkat signifikansi sebesar
95% (α = 0.05). Dengan menggunakan nilai signifikansi sebesar 95% (α = 0.05),
80
maka nilai t tabel dengan tingkat signifikasi 95% adalah 1,96. Pengujian hipotesis
dan hubungan antar variabel dapat dilihat dari hasil Inner Weight pada model.
Berdasarkan Tabel 4.21 dapat dilihat hasil path coefficients dan t-value pada inner
model.
Tabel 4.21 Hasil Inner Weight
Jalur Path
T– Hasil Pengujian
Hipotesis Cofficeints
Value (t) hα = 0,05
Dari Ke (β)
H1 PEOU PU 0.642 8.173 Diterima
H2 PU AT 0.386 5.089 Diterima
H3 PEOU AT 0.480 6.063 Diterima
H4 AT BI 0.486 5.543 Diterima
H5 BI ATU 0.334 3.393 Diterima
H6 PU BI 0.346 3.731 Diterima
H7 PU ATU 0.399 4.212 Diterima
Dari Tabel 4.21 diatas dapat diketahui hipotesis ditolak maupun yang
diterima dengan melihat nilai dari T statistik dan koefisien jalurnya.
1. H1 : Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Perceived
Usefulness (PU).
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Perceived Ease of Use terhadap Perceived
Usefulness sebesar 8.173. Nilai t-statistik tersebut lebih besar dari pada nilai
t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar 1,960. Hal ini
menunjukkan bahwa ada pengaruh yang siginifikan dari variabel Perceived
Ease of Use terhadap Perceived Usefulness, karena itu dapat dinyatakan
bahwa hipotesis pertama (H1) diterima. Sementara koefisien jalur bernilai
81
0.642 membuktikan bahwa adanya terdapat korelasi yang positif antara
Perceived Ease of Use dengan Perceived Usefulness.
2. H2 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Attitude Toward
(AT)
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Perceived Usefulness (PU) terhadap Attitude
Toward (AT) sebesar 5.089. Nilai t-statistik tersebut lebih besar dari pada
nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar 1,960. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang siginifikan dari variabel
Perceived Usefulness (PU) terhadap Attitude Toward (AT), karena itu
dapat dinyatakan bahwa hipotesis kedua (H2) diterima. Sementara
koefisien jalur bernilai 0.386 membuktikan bahwa adanya terdapat korelasi
yang positif antara Perceived Usefulness (PU) terhadap Attitude Toward
(AT).
3. H3 : Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Attitude
Toward (AT)
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Perceived Ease of Use (PEOU) terhadap
Attitude Toward (AT) sebesar 6.063. Nilai t-statistik tersebut lebih besar
dari pada nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar 1,960. Hal
ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang siginifikan dari variabel
kualitas informasi terhadap penggunaan sistem, karena itu dapat dinyatakan
bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima. Sementara koefisien jalur bernilai
82
0.480 membuktikan adanya terdapat korelasi yang positif antara Perceived
Ease of Use (PEOU) terhadap Attitude Toward (AT)
4. H4 : Attitude Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioral Intention
of Use (BI).
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Attitude Toward (AT) terhadap Behavioral
Intention of Use (BI) sebesar 5.543. Nilai t-statistik tersebut lebih besar dari
pada nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar 1,960. Hal ini
menunjukkan adanya pengaruh yang siginifikan dari variabel Attitude
Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioral Intention of Use (BI), karena
itu dapat dinyatakan bahwa hipotesis keempat (H4) diterima. Sementara
koefisien jalur bernilai 0.486 membuktikan adanya korelasi yang positif
antara Attitude Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioral Intention of
Use (BI)
5. H5 : Behavioral Intention of Use (BI) berpengaruh terhadap Actual
Technology Use (ATU)
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Behavioral Intention of Use (BI) terhadap
Actual Technology Use (ATU) sebesar 3.393. Nilai t-statistik tersebut lebih
besar dari pada nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar
1,960. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh siginifikan dari
Behavioural Intention of Use (BI) berpengaruh terhadap Actual Technology
Use (ATU), karena itu dapat dinyatakan bahwa hipotesis kelima (H5)
83
diterima. Sementara koefisien jalur bernilai 0.334 membuktikan bahwa
adanya terdapat korelasi yang positif antara Behavioural Intention of Use
(BI) berpengaruh terhadap Actual Technology Use (ATU)
6. H6 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Behavioural
Intention of Use (BI).
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Perceived Usefulness (PU) terhadap
Behavioural Intention of Use (BI) sebesar 3.731. Nilai t-statistik tersebut
lebih besar dari pada nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar
1,960. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang siginifikan dari
variabel Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Behavioural
Intention of Use (BI), karena itu dapat dinyatakan bahwa hipotesis keenam
(H6) diterima. Sementara koefisien jalur bernilai 0.346 membuktikan
bahwa adanya terdapat korelasi yang positif antara Perceived Usefulness
(PU) berpengaruh terhadap Behavioural Intention of Use (BI).
7. H7 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Actual
Technology Use (ATU)
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat pada tabel 4.21 diperoleh
nilai t-statistik untuk variabel Perceived Usefulness (PU) terhadap Actual
Technology Use (ATU) sebesar 4.212. Nilai t-statistik tersebut lebih besar
dari pada nilai t-tabel pada tingkat keyakinan 95 % yaitu sebesar 1,960. Hal
ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang siginifikan dari variabel
Perceived Usefulness (PU) terhadap Actual Technology Use (ATU), karena
84
itu dapat dinyatakan bahwa hipotesis ketujuh (H7) diterima. Sementara
koefisien jalur bernilai 0.399 membuktikan walaupun terdapat korelasi yang
positif antara Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Actual
Technology Use (ATU)
Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan SmartPLS, semua hipotesis
diterima dan hasilnya dapat ditunjukan di Tabel 4.22.
Tabel 4. 22 Kesimpulan hasil uji hipotesis
Hipotesis Hasil Uji
Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap
H1 Diterima
Perceived Usefulness (PU).
Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap
H2 Diterima
Attitude Toward (AT)
Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap
H3 Diterima
Attitude Toward (AT)
Attitude Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioural
H4 Diterima
Intention of Use (BI).
Behavioural Intention of Use (BI. berpengaruh terhadap
H5 Diterima
Actual Technology Use (ATU)
Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap
H6 Diterima
Behavioural Intention of Use (BI).
Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Actual
H7 Diterima
Technology Use (ATU)
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian evaluasi tingkat penerimaan sistem informasi e-learning
dengan metode TAM di Pusdiklat BPK RI ini memiliki 7 (tujuh) hipotesis yang
diuji. Dari 7 (tujuh) hipotesis tersebut ternyata semua hipotesis tersebut diterima.
1. H1 : Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Perceived
Usefulness (PU).
Perceived ease of use (persepsi kemudahan dalam pemakaian) didefinisikan
sebagai tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem informasi
85
merupakan hal yang mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya.
Konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan sistem informasi dan
kemudahan penggunaan sistem untuk tujuan sesuai dengan keinginan pemakai
[7].
Sedangkan perceived usefulness (persepsi kegunaan) didefinisikan sebagai
sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem informasi tertentu
dalam pekerjaannya akan meningkatkan kinerjanya. Konsep ini menggambarkan
manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan productivity
(produktivitas), Job performance atau effectiveness (kinerja tugas atau efektifitas),
immportance to job (pentingnya bagi tugas), dan overall usefulness
(kebermanfaatan secara keseluruhan) [7].
Berdasarkan teori, sesuai dengan TAM, perceived usefullness juga
dipengaruhi oleh perceived ease of use karena semakin mudah suatu sistem
digunakan maka sistem tersebut dirasakan semakin bermanfaat. Rasa mudah
menggunakan teknologi/sistem informasi akan menimbulkan perasaan dalam
dirinya bahwa sistem itu mempunyai kegunaan, dan karenanya menimbulkan rasa
nyaman bila bekerja dengan teknologi/sistem informasi [40].
Berdasarkan hasil penelitian ditinjau dari berbagai aspek antara lain profil
responden, hasil pengolahan data dan wawancara dengan objek penelitian,
terdapat pengaruh yang signifikan antara persepsi kemudahan dalam
menggunakan sistem terhadap persepsi kegunaan sistem itu sendiri dapat
dijelaskan.
86
Kemudahan – kemudahan yang didapat dalam penggunaan fitur e-learning
yaitu meng-upload dan men-download materi perkuliahan, serta dapat diakses
kapanpun dan dimanapun. Kedua fitur ini sangatlah membantu dalam terciptannya
kesuksesan pembelajaran jarak jauh melalui media internet, intranet [37].
Kemudahan-kemudahan lainnya adalah ditunjukannya petunjuk navigasi yang
jelas, petunjuk ini sangat membantu atau memudahkan penggunan untuk
mempelajari e-learning itu sendiri. Navigasi berfungsi untuk mengarahkan
penggunaan agar tidak tersesat dalam menggunakan sistem, sehingga penggunaan
sebuah sistem tepat dan sesuai sasaran.
Hasil ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu Davis, Chau di
dalam Jogiyanto [38] yang menunjukan bahwa kemudahan penggunaaan
persepsian (Perceived Ease of Use) merupakan konstruk yang mempengaruhi
kegunaan persepsian (Perceived Usefulness), artinya semakin besar kepercayaan
atau kemudahan dalam menggunakan TI ini maka akan semakin besar pula minat
untuk menggunakan TI tersebut, sehingga berpengaruh langsung terhadap
kegunaan atau manfaat yang dirasakan penggunanya.
2. H2 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Attitude Toward
(AT)
Artinya persepsi manfaat dari menggunakan e-learning akan meningkatkan
sikap positif untuk menggunakan e-learning tersebut. Manfaat yang dirasakan
oleh pengguna e-learning secara tidak langsung akan membawa peningkatan
kualitas pembelajaran, pengguna merasa dimudahkan dalam proses belajar
87
mengajar dengan adanya fitur upload dan download materi diklat. Pengajar tidak
perlu dipusingkan jika membutuhkan materi diklat yang hendak diajarkan.
Hal ini juga didukung oleh penelitian Davis [7], Iqbaria [36] dan Jogiyanto
[26] yang menunjukan bahwa konstruk kegunaan persepsian (Perceived
Usefullness) meerupakan konstruk yang mempengaruhi secara positif dan
signifikan terhadap konstruk sikap menggunakan teknologi (Attitude Toward
Using) artinya semakin besar manfaat yang dirasakan dalam menggunakan e-
learning maka akan semakin besar pula respon dan sikap positif untuk
menggunakan e-learning tersebut.
3. H3 : Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Attitude
Toward (AT)
Pengaruh positif menunjukan pengaruh yang bersifat searah, yaitu apabila
persepsi kemudahan meningkat maka sikap positif untuk terus menggunakan e-
learning juga akan meningkat. Hasil ini juga didukung oleh penelitian
sebelumnya didalam Jogiyanto [26] yang menunjukan bahwa kemudahan
menggunakan persepsian (Perceived Ease of Use) merupakan konstruk yang
mempengaruhi sikap menggunakan teknologi (Attitude Toward using) artinya
semakin besar kepercayaan atau kemudahan yang diberikan dalam penggunaan e-
learning maka semaikin besar pula respon dan sikap positif untuk menggunakan
e-learning tersebut.
88
4. H4 : Attitude Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioral Intention
of Use (BI).
Pengaruh positif menunjukan pengaruh searah, yaitu apabila sikap positif
untuk menggunakan teknologi meningkat maka minat untuk menggunakan e-
learning juga akan meningkat. Pengguna e-learning yang bersikap positif
menggunakaan e-learning akan mempengaruhi minatnya untuk terus
menggunakan e-learning. Ketika seseorang telah nyaman untuk menggunakan e-
learning maka akan timbul sikap dan minat untuk terus menggunakan e-learning
ini.
Hasil ini didukung oleh penelitian sebelumnnya dalam Jogiyanto [26] yang
menunjukan bahwa konstruk minat menggunakan teknologi (Attitude Toward
using) merupakan konstruk yang mempengatugi secara positif dan signifikan
terhadap kontruk minat menggunakan teknologi (Behavioral Intention) artinya
semakin positif sikap yang ditunjukan dalam penggunaan e-learning maka akan
semakin besar pula minat untuk menggunakan e-learning tersebut.
5. H5 : Behavioural Intention of Use (BI) berpengaruh terhadap Actual
Technology Use (ATU)
Pengaruh positif menunjukan pengaruh searah, yaitu apabila minat untuk
menggunakan teknologi meningkat maka penggunaan yang sesungguhnya untuk
menggunakan e-learning juga akan meningkat. Seseorang pengguna e-learning
akan berminat terus menggunakan e-learning dan mengaplikasikan e-learning
tersebut sesering mungkin sebagai media pembelajaran sehingga membantu
mempermudah proses belajar mengajar kapanpun.
89
Hasil ini didukung oleh penelitian sebelumnya Davis [7], Vankatesh dan
Davis [40] di dalam Jogiyanto [26] yang menunjukan bahwa semakin besarnya
minat diberikan untuk menggunakan sistem TI maka semakin besar pula sikap
untuk menggunakan TI tersebut dengan sungguh sungguh sesuai dengan fungsi TI
sebenarnya.
6. H6 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Behavioural
Intention of Use (BI).
Pengaruh positif menunjukan pengaruh searah, yaitu apabila manfaat dari
menggunakan teknologi meningkat maka minat yang besar untuk terus
menggunakan e-learning juaga akan meningkat. Seseorang akan terus
menggunakan suatu teknologi bila manfaaat dari sebuah teknologi tersebut dapat
dirasakan manfaatnya.
Hal ini didukung oleh penelitian Davis [7], Iqbaria [36], dan Jogiyanto [26]
yang menunjukan bahwa konstruk kegunaan persepsian (Perceived Usefulness)
merupakan konstruk yang mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap
konstruk minat menggunakan teknologi (Behavioral Intention) artinya semakin
besar manfaat yang dirasakan dalam menggunakan TI maka akan semakin besar
pula minat untuk menggunakan TI tersebut.
7. H7 : Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Actual
Technology Use (ATU)
Pengaruh positif menunjukan pengaruh searah, yaitu apabila manfaat dari
menggunakan teknologi meningkat maka penggunaan e-learning secara
sesungguhnya juga akan meningkat.
90
Hal ini didukung oleh penelitian Davis [7], Iqbaria [36], dan Jogiyanto [26]
yang menunjukan bahwa konstruk kegunaan persepsian (Perceived Usefulness)
merupakan konstruk yang mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap
konstruk penggunaan teknologi secara sesungguhnya (Actual Technology Use)
artinya semakin besar manfaat yang dirasakan dalam menggunakan TI maka akan
semaikin besar pula penggunaan TI tersebut secara sebenarnya.
Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan e-learning
cukup berhasil karena memberikan dampak yang positif terhadap pengguna
maupun organisasi. Hasil konfirmasi dengan beberapa pengguna e-learning
diketahui bahwa e-learning sangat bermanfaat namun terkadang di kantor
perwakilan sering terjadi gangguan jaringan dan terkadang kurang tersedianya
waktu untuk melakukan akses e-learning dikarenakan padatnya jadwal
pemeriksaan yang ada. Faktor seperti koneksi yang lambat serta interface yang
kurang menarik menjadi masukan dari para pengguna bagi penyedia jasa e-
learning.
Hasil konfirmasi dengan Kepala Sub Bagian Fasilitas Pembelajaran
Pusdiklat BPK RI menyatakan bahwa e-learning saat ini masih terus akan
disempurnakan. Saat ini e-learning pusdiklat hanya digunakan untuk diklat peran
auditor dan hanya untuk mengunduh modul yang akan diajarkan. Unsur interaksi
antara peserta diklat dengan pengajar secara langsung memang belum ada. Untuk
kedepan diharapkan adanya penyempurnaan interaksi langsung antara peserta dan
pengajar secara langsung serta tata cara pengelolaan yang lebih baik lagi.
91
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan mengenai evaluasi
penerapan sistim informasi E-learning di Pusdiklat BPK RI, secara umum
penerapan E-learning cukup berhasil karena memberikan dampak yang positif
terhadap pengguna maupun organisasi.
1. Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Perceived Usefulness
(PU). Hal ini berarti pengguna E-learning merasa mudah dalam
menggunakan E-learning dan meyakini akan kebermanfaatannya.
2. Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Attitude Toward (AT). Hal
ini berarti bahwa dengan adanya kebermanfaatan dalam menggunakan e-
learning akan mendorong sikap untuk menggunakannya.
3. Perceived Ease of Use (PEOU) berpengaruh terhadap Attitude Toward
(AT). Hal ini berarti bahwa pengguna e-learning mudah digunakan dan
akan menimbulkan sikap untuk menggunakannya.
4. Attitude Toward (AT) berpengaruh terhadap Behavioural Intention of Use
(BI). Hal ini berarti bahwa ketika sikap pengguna e-learning telah nyaman
untuk menggunakan e-learning maka akan timbul sikap dan minat untuk
terus menggunakan e-learning ini.
5. Behavioural Intention of Use (BI) berpengaruh terhadap Actual Technology
Use (ATU). Hal ini menunjukan bahwa pengguna e-learning akan berminat
92
terus menggunakan e-learning dan mengaplikasikan e-learning tersebut
sesering mungkin sebagai media pembelajaran sehingga membantu
mempermudah proses belajar mengajar kapanpun.
6. Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Behavioural Intention of
Use (BI). Hal ini menunjukan apabila manfaat dari penggunaan e-learning
meningkat maka minat yang besar untuk terus menggunakan e-learning
juaga akan meningkat. Pengguna sistim informasi akan terus menggunakan
suatu teknologi bila manfaaat dari sebuah teknologi tersebut dapat terus
dirasakan.
7. Perceived Usefulness (PU) berpengaruh terhadap Actual Technology Use
(ATU). Hal ini menunjukan bahwa apabila pengguna e-learning dapat
merasakan manfaat dari penggunaan e-learning tersebut maka penggunaan
e-learning secara sesungguhnya juga akan meningkat.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian tersebut maka terdapat
beberapa saran yaitu:
1. Dilihat dari sisi regulasi, perlu adanya aturan yang jelas untuk jenis-jenis
diklat apa saja yang dapat dilakukan dengan metode e-learning. E-learning
perlu untuk terus dilakukan sosialisasi dan pelatihan secara intensif, agar
pengguna semakin mudah dalam menggunakan dan memanfaatkan aplikasi
e-learning dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
93
2. Dilihat dari sisi pelaksanaan, peningkatan akan kualitas e-learning dalam
hal kemudahan pengguna dalam menggunakan e-learning perlu terus
ditingkatkan, contohnya adalah peningkatan interface yang menarik dan
user friendly, penambahan bandwidth, serta kemudahan akses untuk
menggunakan e-learning tersebut dapat digunakan dimana saja dan kapan
saja melalui jaringan internet.
3. Dilihat dari sisi evaluasi, e-learning ini perlu dilakukan evaluasi terus
menerus, berkala dalam suatu periode tertentu. Untuk penelitian selanjutnya
dapat menambahkan variabel lain diluar persepsi seperti user interface atau
tampilan fitur.
4. Untuk penelitian yang akan datang sebaiknya dapat dikembangkan dengan
lingkup yang lebih luas dari seluruh perwakilan yang ada di Indonesia dan
tingkat pendidikan yang beragam.
5. Penelitian selanjutnya dapat pula dengan menggunakan metode lain
sehingga dapat diperoleh bahan evaluasi penerapan e-learning sehingga
pengembangan e-learning lebih baik.
94
DAFTAR PUSTAKA
[1] Situs resmi Internet World Stats pada [Link]
diakses tanggal 8 Juni 2012.
[2] Tinio, Victoria L., 2006, ICT in Education, United Nation Development
Programme.
[3] Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
[4] Situs resmi Komisi Pemilihan Umum pada [Link] diakses
tanggal 12 Agustus 2012.
[5] Situs resmi media digital vivanews pada [Link] diakses
tanggal 12 Agustus 2012.
[6] Situs resmi media digital surabaya post pada [Link]
diakses tanggal 12 Agustus 2012.
[7] Davis. F. D, 1989 Perceived Usefulness, Ease of User & User Acceptance of
IT, MIS Quarterly.
[8] Alam, Lukis, 2007, Studi Efektivitas Pembelajaran ICT menggunakan metode
E-learning di SMPN V Yogyakarta, Tesis. Universitas Gadjah Mada.
[9] Gunawan, Muh, 2009, Pengukuran Kepuasan Pengguna E-Learning di
Madinah International University Yogyakarta, Tesis, Universitas Gadjah
Mada.
[10] Alfiansah, Herjuno, 2010, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Penggunaan Teknologi Informasi oleh Auditor Eksternal dan Internal,
Tesis, Universitas Gadjah Mada
[11] Putra, Meinur, 2009, Analisis Penerimaan Pengguna Terhadap Aplikasi E-
procurement PT Pertamina dengan Menggunakan Metode Technology
Acceptance Model, Tesis, Universitas Gadjah Mada
[12] Hartley, Darin and Ellisabeth Rossen, 2001, Basic of e-learning, American
Society for Training and Development
[13] Wahyuni, Sri., 2008, Analisa Penerimaan Penerapan E-learning System
dengan Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) pada PT.
Bank Mandiri, Tbk Cabang yogyakarta Sudirman, Tesis, Universitas
Gadjah Mada.
[14]Stockley, Derek, 2003, E-learning Definition and Explanation,
[Link], diakses tanggal 7 Juni 2012
[15] Naidu, Som.,2006, E-learning – A Guidebook of Principes and Practices,
Commonwealth of Learning, New Delhi
[16] Hrastinski, Stefan, 2008, Asynchronous & Synchronous E-learning, Educase
Quarerly Number 4.
95
[17] Panitz, Ted, 2001, Ted's Cooperative Learning e-book, New Forums Press
Stillwater, Oklahoma.
[18]Situs resmi Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPK RI pada
[Link] diakses tanggal 8 Juni 2012.
[19] DeLone, W. H. McLean, E.R. 1992. Information Systems Success: The
Quest for the Dependent Variable. Information Systems Research,
Volume 3, Nomor 1. Institue Of Management Science.
[20] Goodhue, Dale and Thompson, R.L. (1995), "Task-technology fit and
individual performance",MIS quarterly, Vol. 19, No. 2.
[21] Venkatesh, 2003, User Acceptance of Information Technology: Toward a
Unified View, MIS Quarterly, Management Information System.
[22] Doll, W. J., dan G. Torkzadeh. 1995. The Measurenment of End-User
Computing Satisfaction, MIS Quarterly Volume 12.
[23] Yusof M.M, R.J. Paul dan L. K. Stergioulas,2006, Towards a Framework
for Health Information System Evalutio,. Proceedings of the 39th Hawaii
international Conferences on System Sciences.
[24] Rosenberg, M.J, 2006, Beyond e-Learning, John Wiley & Sons, Inc, San
Fransisco, CA.
[25] Prayudi, Y. 2009, Kajian Awal:E-learning Readiness Index (ELRI) sebagai
model bagi Evaluasi E-learning pada sebuah Institusi, Seminar Nasional
Aplikasi Teknologi Informasi 2009.
[26] Jogiyanto, H. M, 2008, Sistem informasi keperilakuan, Penerbit Andi
Yogyakarta.
[27] Jogiyanto, H. M, 2007. Model Kesuksesan Sistem Teknologi Informasi.
Penerbit Andi, Yogyakarta.
[28] Rahadi, Dedi Rianto, 2007, Peranan Teknologi Informasi Dalam
peningkatan pelayanan di Sektor Publik. Seminar nasional Teknologi,
Yogyakarta.
[29] Mathieson, K., 1991. Predicting user Intentions: Comparing The Technology
Acceptance Model with yhe Therory of Planned Behaviour, Information
Research.
[30] Maruyama, M. Geoffrey, 1998, Basic of Structural Equation Modeling,
SAGE Publications, Inc, 1st Edition.
[31] Ghozali, Imam, 2011, SEM Metode Alternatif dengan PLS, Badan Penerbit
Undip, Semarang.
[32] Chin, W.W, 1998. The Partial Least Squares Approach for Structural
Equation Modelling in G.A. Marcoulides (Ed.), Modern Methods for
Business Research (pp. 295-236), London, Lawrence Erlbaum
Associates.
96
[33] Santoso, 2008, Analisis SEM menggunakan AMOS, Elex Media Komputindo,
Jakarta.
[34] Agarwal, R. dan Karahanna, E., 2000, Time Flies When You’re Having Fun
Cognitive Absorption and Beliefs about Information Technology Usage,
MIS Quarterly 24.
[35] Falk, R.F dan Miller N.B., 1992, A Primer for Soft Modelling, Akron,
University of Akron Press.
[36] Iqbaria, M.N., Zinaelli, P.C. and Cavaye, L.M. (1997). Personal Computing
Acceptance Factors in Small Firms: A Structural Equation Model. MIS
Quarterly, 21.
[37] Purbo, O.W ,2002, E-learning berbasis PHP dan My SQL, Penerbit Elex
Media Komputindo, Jakarta.
[38] Jogiyanto, H.M. 2011. Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modelling
Berbasis Varian Dalam Penelitian Bisnis. Penerbit STIM YKPN.
Yogyakarta.
[39] Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D,
Penerbit. Alfabeta, Bandung.
[40] Venkatesh, V & F.D Davis, 1996, A model of the Antecendents of perceived
ease of use development test, Decision Science.
97
LAMPIRAN
KUISIONER PENELITIAN
Evaluasi Penerimaan Sistem Informasi E-Learning Dengan Metode Technology
Acceptance Model (TAM) di Pusdiklat BPK RI
Kepada Yth. Bapak/Ibu/rekan-rekan di BPK RI
Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
penerimaan pengguna terhadap sistem informasi E-Learning di BPK RI. Saya sangat
mengharapkan bantuan dan kesediaan Bapak/Ibu/rekan-rekan untuk berpartisipasi
dalam survey ini. Survey ini tidak ada hubungan nya dengan status dan kedudukan
Bapak/Ibu/rekan-rekan. Segala informasi yang Bapak/Ibu/Sdr/Rekan-rekan
sampaikan semata-mata hanya akan dipergunakan untuk kepentingan penelitian
sehingga kerahasiaan data pribadi dijamin. Tidak ada jawaban yang benar atau salah
dalam survey ini. Hal yang terpenting adalah memilih jawaban yang paling sesuai
dengan pendapat anda.
Atas kesediaan Bapak/Ibu/Sdr/Rekan-rekan berpartisipasi dalam kuisioner ini, kami
ucapkan terimakasih.
Hormat Saya,
Astomo Fitra Wibowo
A. Identitas Responden
Nama : ............................................................
Lokasi Penempatan Kerja : a. Kantor Pusat BPK RI
b. Kantor Perwakilan BPK RI
B. Karakteristik Responden(Berikan tanda silang atau bulat pada pilihan anda)
1. Jenis Kelamin:
a. Perempuan
b. Laki-laki
2. Usia anda saat ini:
a. <25 tahun
b. 25-35 tahun
c. 36-45 tahun
d. >45 tahun
L- 1
3. Pendidikan terakhir:
a. SLTA/Sederajat
b. D3
c. S1
d. S2
e. S3
4. Masa kerja di BPK RI:
a. < 1 tahun
b. 1-5 tahun
c. 6-10 tahun
d. >10 tahun
5. Jabatan tearkhir, sebagai:
a. Auditor
b. Penunjang/Pendukung
Keterangan: isilah kotak kosong disetiap pertanyaan pada tabel C dibawah ini dengan
tanda cek (v) atau silang (x) pada salah satu jawaban yang anda pilih.
ST: Sangat Tidak Setuju TS: Tidak Setuju N: Netral S: Setuju SS: Sangat Setuju
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan E-Learning:
1. Perceived ease of use
Perceived ease of use (kemudahan dalam menggunakan E-Learning)
Pertanyaan ST TS N S SS
1.1 Saya merasa e-learning mudah untuk
dipelajari
1.2 Saya merasa e-learning mudah untuk
digunakan
1.3 Saya merasa sangat mudah untuk
mendapatkan materi pendidikan dan
pelatihan dari e-learning
1.4 E-learning menyediakan petunjuk
pelaksanaan (SOP) sehingga
memudahkan penggunaannya
1.5 Secara keseluruhan, E-learning mudah
untuk digunakan
L- 2
2. Perceived usefulness
Perceived usefulness (kebermanfaatan dalam menggunakan E-learning)
Pertanyaan ST TS N S SS
2.1 Menggunakan e-learning dapat
meningkatkan kinerja saya
2.2 Menggunakan e-learning dapat
memudahkan saya dalam mengerjakan
dan penyelesaikan aktivitas pendidikan
dan pelatihan saya
2.3 Menggunakan e-learning dapat
meningkatkan efektivitas pendidikan dan
pelatihan saya
2.4 Menggunakan E-Learning menghemat
waktu saya
2.5 Secara keseluruhan, E-learning
bermanfaat untuk pekerjaan saya
3. Attitude Towards
Attitude Towards (Sikap untuk menggunakan e-learning)
Pertanyaan ST TS N S SS
3.1 Saya merasa nyaman belajar secara
online dan berpartisipasi dalam proses
pembelajaran
3.2 Saya senang berinteraksi dengan
menggunakan e-learning
3.3 Saya menikmati pembelajaran
e-learning
3.4 Saya merasa terjamin keamanan account
saya di e-learning
3.5 Saya senang dengan tampilan interface
e-learning
4. Behavioral Intention to use internet
Behavioral Intention to use internet
Pertanyaan ST TS N S SS
4.1 Saya berniat menggunakan e-learning
dalam aktivitas pendidikan dan
pelatihan saya
4.2 Saya berniat menggunakan e-learning
L- 3
sesering mungkin dalam proses
pendidikan dan pelatihan saya
4.3 Saya berniat mengikuti diskusi secara
online melaluiu komunitas e-learning
4.4 Saya menyarankan teman saya
menggunakan e-learning
5. Actual use Internet
Actual use Internet
Pertanyaan ST TS N S SS
5.1 Saya hanya menggunakan e-learning
selama memerlukan
5.2 Saya mengakses e-learning hampir
setiap minggu
5.3 E-learning menyediakan informasi yang
saya butuhkan
5.4 Pelatihan terkait e-learning tersedia
untuk saya.
5.5 Saya merasa puas dengan kinerja
e-learning
D. Masukan dan Saran kepada Pengelola E-Learning (optional):
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
Terima kasih atas segala masukan, saran, dan partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Rekan-
rekan dalam penelitian. Semoga dengan penelitian ini akan membantu
pengembangan E-learning lebih baik lagi.
L- 4