Tugas : Resume Assessing Problem Solving
Setiap mata pelajaran pasti memiliki “masalah” dalam artian tujuan yang ingin dicapai,
dimana cara untuk mencapai tujuan tersebut tidak otomatis dan memerlukan pemikiran.
Pemecahan masalah yang baikyaitu mengidentifikasi dengan tepat apa masalahnya, apa
hambatan untuk menyelesaikannya, dan apa solusi yang diharapkan dapat berhasil.
Pemecahan masalah yang baik yaitu setidaknya mencoba salah satu solusi. Sedangkan untuk
masalah yang lebih kompleks, pemecahan masalah yang baik yaitu dapat memprioritaskan
dan mengevaluasi efektivitas serta strategi solusi yang berbeda (Marzano dll., 1993). Jika
tugas yang diberikan telah dikenal oleh siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan tugas
tanpa kesusahan, maka siswa tidak harus menggunakan kemampuan pemecahan masalah
serta tugas tersebut tidak benar-benar menjadi “masalah” bagi siswa.
Klasifikasi kemampuan pemecahan masalah menurut Bransford dan Stein (1984) ada 5
tahap dalam proses pemecahan masalah yang disebut dengan IDEAL:
I : Identifikasi masalahnya
D : Definisikan dan gambarkan masalahnya
E : Eksplor (jelajahi) strategi yang mungkin
A : Act (mengerjakan) strategi
L : Look back (memeriksa kembali) dan evaluasi efek dari aktivitasmu.
Langkah-langkah IDEAL ini mudah dihafal dan memiliki manfaat untuk siswa dan guru.
Manfaat untuk siswa yaitu siswa dapat menggunakan langkah-langkah IDEAL ini untuk
menyelesaikan masalah. Manfaat untuk guru yaitu dapat membantu fokus pada satu atau
lebih tugas pemecahan masalah untuk pengajaran dan penilaian. Untuk masalah yang
membutuhkan pemikiran tingkat tinggi adalah masalah non rutin, yaitu masalah yang tidak
langsung menemukan solusinya.
Masalah ada dua, yaitu masalah terstruktur dan ada juga masalah tidak terstruktur. Masalah
bervariasi dalam jumlah struktur yang diberikan kepada siswa. Semakin banyak keputusan
terbuka bagi siswa, semakin kurang terstruktur masalahnya. Masalah tidak terstruktur lebih
khas dari masalah kehidupan nyata. Masalah yang sangat terstruktur memungkinkan untuk
guru lebih mengontrol isi pekerjaan siswa. Guru dapat menggunakan jumlah struktur yang
bervariasi. Akan tetapi tetap harus diperhatikan bahwa masalah yang diberikan merupakan
masalah yang memerlukan kemampuan pemecahan masalah dan sesuai dengan apa yang
ingin dinilai.
Masalah tujuan bebas, masalah jenis ini dapat dijelaskan dengan sebuah eksperimen
yang dilakukan oleh Ayres (1993). Ayres meminta siswa SMP untuk menyelesaikan soal
geometri yang berhubungan dengan sudut. Ayres secara acak membagi siswa kedalam dua
kelompok untuk diberikan 2 versi masalah yang keduanya identik tetapi berbeda. Kelompok
pertama memiliki arahan konvensional, masalahnya yaitu “Temukan x dimana x adalah
sebuah ukuran sudut tertentu”. Kemudian untuk kelompok kedua, masalahnya yaitu
“Temukan semua sudut yang tidak dketahui”. Ayres menyebut masalah untuk kelompok dua
ini merupakan masalah tujuan bebas. Guru menyebut masalah tersebut adalah masalah tidak
terstruktur serta tujuan belajar siswa yaitu memahami dan menggunakan sifat-sifat sudut
dalam geometri. Dari hasil eksperimen tersebut didapatkan bahwa siswa pada kelompok
kedua lebih berhasil daripada siswa pada kelompok pertama. hal ini konsisten dengan
hipotesis Ayres. Ayres beralasan bahwa siswa yang bekerja mundur dari keadaan akhir
tertentu yang diinginkan akan menggunakan analisis, mean-end, dalam hal ini penalaran
mundur yaitu dari ukuran sudut yang diinginkan, mengidentifikasi sudut demi sudut ukuran
mana yang dapat ditemukan yang akan mengarah pada solusi. Kelompok kedua (kelompok
yang tidak terstruktur) bebas untuk mencari ukuran sudut dlam urutan apapun sampai mereka
menyelesaikan masalah. Dengan demikian beban kognitif mereka lebih sedikit akan tetapi
mereka belajar lebih banyak.
Untuk menilai apakah siswa dapat memecahkan masalah yang melibatkan konten dan
konsep tertentu yang diajarkan, yaitu dengan memberikan siswa masalah non rutin yang
mengharuskan siswa untuk menyelesaikan dengan salah satu atau semua langkah IDEAL
untuk melakukan tugas pemecahan masalah yang lengkap.
Identifikasi masalah yang akan dipecahkan adalah langkah pertama dari pemecahan
masalah. Menilai penjelasan siswa secara khusus untuk mengetahui bagaimana mereka
mengkonseptualisasikan masalah Untuk menilai identifikasi masalah yaitu dengan
menyajikan masalah kemudian minta siswa untuk mengidentifikasi masalah yang perlu
dipecahkan. Atau dapat dengan memberikan pertanyaan yang berisi masalah dan meminta
siswa untuk mengajukan pertanyaan yang perlu dijawab untuk memecahkan masalah. Siswa
harus mengungkapkan pertanyaan dalam hal bahasa dan konsep mata pelajaran yang
diajarkan.
Selanjutnya adalah identifikasi ketidakrelevanan. Banyak masalah dalam kehidupan
nyata yang mengharuskan siswa untuk mencari tahu informasi apa yang penting atau relevan
dan apa yang tidak relevan untuk memgidentifikasi dan memecahkan masalah. Untuk menilai
bagaimana siswa mengidentifikasi apa yang relevan dan yang tidak relevan, yaitu dengan
menyajikan kepada siswa materi interpretatif dan pernyataan masalah kemudian minta siswa
untuk mengidentifikasi semua informasi yang tidak relevan. Untuk melihat apakah siswa
dapat mengidentifikasi ketidakrelevanan, maka guru dapat meminta siswa untuk
memecahkan masalah dan menjelaskan alasan mereka. Guru juga dapat secara eksplisit
menyanyakan informasi apa yang akan mereka gunakan dan informasi apa yang tidak akan
mereka gunakan serta alasannya apa.
Jelaskan dan mengevaluasi berbagai strategi. Menjelaskan beberapa strategi berbeda
yang dapat digunakan adalah salah satu kemampuan untuk memecahkan masalah dalam
kehidupan nyata. Memprioritaskan strategi sesuai dengan kriteri penting untuk masalah yang
sedang dihadapi. Misalkan yang paling efisien, paling efektif, paling murah, dll. Hal ini dapat
dilakukan baik sebelum mencobanya atau setelah mencoba beberapa di antaranya, serta
memutuskan strategi mana yang terbaik. Untuk menilai bagaimana siswa menggambarkan
beberapa strategi pemecahan masalah, yaitu dapat dengan menyatakan masalah dan meminta
siswa untuk memecahkan masalah dalam dua atau lebih cara serta menunjukan solusi mereka
menggunakan gambar, diagram, atau grafik. Selain cara tersebut, bisa juga dengan cara
memberikan suatu masalah dan dua atau lebih strategi yang dapat diterima untuk
memecahkannya, kemudian minta siswa untuk mengevaluasi strategi tersebut. Misalnya ada
yang lebih efisien, ada yang lebih mudah dll.
Memodelkan masalah. Untuk menilai bagaimana siswa memodelkan masalah, yaitu
dapat dilakukan dengan cara memberikan masalah dan minta siswa untuk menggambarakan
diagram atau gambar yang menunjukkan situasi masalah. Untuk menilai siswa seberapa baik
mereka menggambarkan masalah dapat dilihat dengan apakah masalah tersebut diselesaikan
dengan benar. Dalama penilaian, siswa dapat diminta untuk memasukkan gambar mereka ke
dalam pengerjaanya dan menjelaskan maksudnya. Siswa dan guru akan memperoleh
informasi khusus tentang bagaiamana setiap siswa memodelkan masalah.
Idenetifikasi hambatan dan informasi tambahan untuk memecahkan masalah.
Memecahkan masalah dengan baik terkadang sama pentingnya dengan mencari tahu
informasi yang tepat untuk digunakan seperti halnya dengan menemukan solusi. Untuk
menilai bagaimana siswa mengidentifikasi hambatan dan memutuskan apakah informasi
tambahan diperlukan untuk memecahkan masalah, yaitu dengan cara menyajikan masalah
yang kompleks untuk dipecahkan dan meminta siswa untuk menjelaskan mengapa sulit untuk
menyelesaikan tugas, apa hambatannya, dan informasi tambahan apa yang ada.
Bernalar dengan data. Untuk menilai bagaimana siswa bernalar dengan data,
menyajikan materi interpretatif (cerita, kartun, grafik, tabel data, dll) dan masalah yang
membutuhkan penggunaan informasi dari materi tersebut. Kemudian meminta siswa untuk
memecahkan masalah dan menjelaskan prosedur yang siswa gunakan untuk mencapai solusi.
Menggunakan analogi. Penalaran analogi memungkinkan siswa menerapkan strategi
solusi untuk memecahkan masalah. Untuk menilai bagaimana siswa menggunakan analogi,
yaitu dengan menyajikan pernyataan masalah dan strategi solusi yang benar, kemudian
meminta siswa untuk menggambarkan masalah lain yang dapat diselesaikan dengan
menggunakan strategi solusi yang sama serta menjelaskan mengapa solusi untuk masalah
yang mereka hasilkan seperti solusi untuk masalah yang diberikan kepada siswa.
Memecahkan amsalah secara mundur. Siswa perlu mencari cara untuk berhasil
mengurangi perbedaan antara masalah yang disajikan dengan dan solusi yang diinginkan.
Memecahkan masalah secara mundur dapat menjadi strategi pembelajaran yang baik untuk
beberapa jenis masalah tertutup. Untuk menilai bagaimana siswa memecahkan masalah yang
lebih terbuka ke secara mundur yaitu dengan menyajikan masalah yang kompleks atau tugas
multi langkah yang kompleks untuk diselesaikan, kemudian minta siswa untuk bekerja secara
mundur dari hasil yang diinginkan untuk menggambarkan rencana dalam menyelesaikan
masalah. Penilaian formatif pemecahan masalah dimulai di kelas dimana penalaran siswa
disebut eksplisit, berpikir keras, dan aktivitas membahas alasan dibalik solusi masalah adalah
kegiatan rutin. Brainstroming dan aktivitas kelas lainnya yang menggunakan strategi solusi
lebih dari satu dan dapat dibantu dengan diskusi.