PERUMDA AIR MINUM TIRTA MANGUTAMA
KABUPATEN BADUNG
Nama
I Gusti Ayu Dinda Mahalini Parmita
I Gusti Ayu Rastiti Jinahsih
I Gusti Ayu Diah Wahyundari
Kadek Gita Putri
Ni Putu Dhita Indah Sari
Ni Putu Henny Prasetya Dewi
SMAN 1 Abiansemal
Tahun ajaran 2022/2023
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh aparatur pemerintah terkait pemenuhan hak-
hak sipil dan kebutuhan dasar masyarakat dalam pelaksanaanya belum dapat dikatakan
optimal. Kinerja dari penyelenggara layanan publik tersebut belum seperti yang diharapkan
oleh publik selaku penerima layanan. Masyarakat sebagai pengguna layanan publik
mengharapkan pelayanan yang prima dan memuaskan, sehingga instansi pemerintah perlu
membenahi kinerja organisasi agar tercipta optimalisai pelayanan dan memberikan pelayanan
yang prima bagi masyarakat. Air sebagai kebutuhan dasar manusia. sesuai dengan Undang-
Undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air menyebutkan bahwa pemerintah daerah
sebagai penyediayang secara langsung berhubungan dengan masyarakat (publik).
Upaya PDAM Tirta Mangutama dalam memberikan pelayanan yang prima kepada
masyarakat terus dilaksanakan, namun masih terjadi permasalahan dan kendala yang dihadapi
oleh PDAM Tirta Mangutama dalam memberikan layananya menyangkut produksi dan
distribusi air bersih di Kabupaten Badung. Hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis
Kabupaten Badung yang cukup luas yaitu mencapai 418,52 Km², serta topografi alam yang
berbeda antar wilayah Badung Utara dangan Badung Selatan. sehingga mempengaruhi kualitas
pelayanan air bersih di wilayah tersebut.
Kapasitas produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mangutama saat ini
adalah 1.210 liter/detik. Sedangkan tingkat kebutuhan konsumen untuk air bersih setidaknya
akan mencapai 1.700 liter/detik. Hal tersebut mengindikasikan bahwa wilayah Kabupaten
Badung akan kekurangan kurang lebih 500 liter/detik air bersih.
Berdasarkan laporan PDAM Tirta Mangutama dari sumber air baku yang terdapat di
wilayah Kabupaten Badung, sumber air baku dengan kontribusi produksi paling besar adalah
sungai sebesar 15.946.600 m3 tahun. Air dari tanah sebesar 7.987.482 m3/tahun, serta dari
sumber mata air sebesar 2.166.104 m3/tahun.
Penggunaan air di Kabupaten Badung dari segi penggunaan terbesar ialah dalam sektor
rumah tangga dengan volume air 11.364.582 m3/tahun, dikuti oleh sektor hotel dengan
penggunaan 5.618.801 m3/tahun, selanjutnya sektor industri dengan volume 1.510.096
m3/tahun, serta untuk fasilitas publik dengan volume 1.335.624 m3/tahun.
PDAM Tirta Mangutama merupakan penyelenggara pelayanan publik yang memiliki
peranan dalam pengelolaan air bersih bagi kepentingan masyarakat di wilayah Kabupaten
Badung. Sebagai salah satu BUMD di Kabupaten Badung. PDAM Tirta Mangutama perlu
memberikan pelayanan yang prima dalam upaya meningkatkan kepuasan pelanggan atau
masyarakat selaku pengguna. Hal tersebut dikarenakan PDAM merupakan instansi pemerintah
sebagai operator penyedia layanan Karena jumlah penduduk yang terus bertambah, sedangkan
jumlah sumber air baku yang terus berkurang. Ketidakseimbangan antara kebutuhan
masyarakat dengan ketersediaan air bersih ini menimbulkan banyak permasalahan, khususnya
menyangkut pelayanan distribusi air kepada publik yang tidak akan optimal dan dapat
mempengaruhi suplai air bersih untuk seluruh wilayah di Kabupaten Badung.
1.2 Rumusan Masalah
Penduduk bertambah sedangkan jumlah air tetap dan cenderung menurun baik
kuantitas dan kualitas
Degradasi daerah tangkapan air akibat perubahan fungsi lahan karena desakan
aktifitas penduduk membuat perubahan kondisi air didaratan sehingga pada daerah
tertentu pada musim hujan terjadi banjir dan musim kemarau kekeringan.
1.3 Tujuan
Turut serta dalam melaksanakan pembangunan daerah khususnya, dan pembangunan
ekonomi nasional pada umumnya, dengan cara menyediakan air minum yang bersih, sehat, dan
memenuhi persyaratan kesehatan bagi masyarakat di suatu daerah.
1.4 Manfaat
Mencukupi kebutuhan masyarakat akan air bersih, meliputi penyediaan, pengembangan
pelayanan sarana dan prasarana serta distribusi air bersih, sedang tujuan lainnya adalah ikut
serta mengembangkan perekonomian guna menunjang pembangunan daerah dengan
memperluas lapangan kerja.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Air Permukaan
Secara umum air permukaan dibagi menjadi air danau, air sungai dan air laut. Air sungai
pada umumnya mempunyai derajat pencemaran yang cukup tinggi dengan kualitas yang
cenderung berfluktuatif. Air permukaan merupakan air yang terkumpul di atas tanah atau di
mata air, sungai danau, lahan basah, atau laut. Air permukaan berhubungan dengan air bawah
tanah atau awan. Air permukaan secara alami terisi melalui presipitasi dan secara alami
berkurang melalui penguapan dan rembesan ke bawah permukaan sehingga menjadi air bawah
tanah. Meskipun ada sumber lainnya untuk air bawah tanah, yakni air jebak dan air magma,
presipitasi merupakan faktor utama dan air bawah tanah yang berasal dari proses ini disebut air
meteor. Air permukaan merupakan sumber terbesar untuk air bersih.
Air tanah dibedakan menjadi dua yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah
dangkal terjadi akibat penyerapan air dari permukaan tanah. Air tanah dalam terdapat pada
lapisan kedap air, pengambilan air tanah dalam lebih sulit karena posisi air sangat dalam yang
biasanya terdapat pada kedalaman 100 300 meter. Air tanah dalam tidak mempengaruhi air
tanah dangkal. Dari segi kualitas air tanah dalam lebih baik dari pada air tanah dangkal, kualitas
air tanah dalam tergantung dari lapisan tanah yang dilaluinya. Kalau air tanah melalui lapisan
tanah berkapur sehingga kesadahan air akan tinggi. Kualitas air tanah dalam tidak dipengaruhi
oleh musim. Bila tekanan air tanah dalam besar, maka air dapat menyembur keluar yang
disebut air artesis.
2.2 Kualitas Air
Air merupakan pelarut yang sangat baik bagi banyak bahan sehingga air merupakan media
transport utama bagi produk buangan/sampah yang dihasilkan oleh proses kehidupan.
Sehingga air yang ada di bumi tidak ada yang murni, tetapi selalu ada senyawa atau unsur
mineral lain di dalamnya.
Air tanah adalah merupakan sumber air bersih yang paling banyak digunakan karena
murah dan kualitasnya relative baik. Akan tetapi dengan semakin sempitnya areal pemukiman
khususnya diperkotaan, di sisi lain masyarakat masih banyak mengolah tinjanya dengan system
resapan sehingga akan terjadi pencemaran air tanah khususnya pada daerah perkotaan. Akibat
pemakaian air tanah melalui sumur dalam yang tidak terkontrol dengan pemakaian secara
berlebihan mengakibatkan terjadinya intrusi air laut.
Krisis air secara kuantitas atau dari segi volume ketersediaan. Semakin sulitnya
ketersediaan air khususnya pada musim kemarau Karena menyusutnya debit sumber air
sehingga banyak danau yang elevasi airnya terus menurun dan sungai menjadi kering.
Terjadinya intrusi air laut akibat dari pemanfaatan air tanah yang tidak terkontrol.
Krisis air secara kualitas merupakan turunnya kualitas air akibat terjadinya pencemaran.
Pencemaran pada air tanah khususnya pada daerah perkotaan terjadi akibat resapan septiktank.
Pencemaran air permukaan (sungai) disebabkan oleh pembuangan limbah baik limbah
domestic maupun industry ke badan air.
2.3 Pencemaran Air
Sumber pencemar :
- limbah domestik: rumah tangga, rumah makan, pasar, perkotaan, terminal dan lain sebagainya
- limbah industri dan pertanian: logam berat, pestisida dan bahan pupuk
Bentuk pencemaran :
- berupa cair
- berupa padat
Limbah domestic bersumber dari buangan kamar mandi, dapur, tempat cuci pakaian,
peralatan rumah tangga, rumah sakit dan rumah makan yang secara kuantitatif terdiri dari zat
organic baik berupa padat dan cair. Dengan tingginya kandungan organic dan teriknya sinar
matahari pada musim kemarau maka perkembangbiakan alga akan cepat sehingga air akan
menjadi berwarna.
Limbah non domestic terdiri dari limbah industry dan pertanian, yang biasanya terdiri dari
logam berat dan pestisida serta bahan pupuk seperti nitrogen, fospor, sulfur dan lain
sebagainya.
2.4 Perlindungan Sumber Air
Untuk mencegah terjadinya krisis air harus dilakukan upaya menjaga kelestarian hutan
sebagai reservoir atau penyerap air hujan. Air hujan akan diserap oleh akar tanaman dan ditahan
pada akarnya sehingga hutan juga mengurangi limpasan air hujan pada DAS sungai yang dapat
mengakibatkan banjir. Dengan terjaganya kelestarian hutan akan menjamin keberadaan sumber
mata air sehingga elevasi air danau akan tetap terjaga dan air sungai akan tetap mengalir.
Menjaga kelestarian hutan merupakan tanggung jawab kita bersama.
Prinsip dasar konservasi SDA adalah mengurangi banyaknya tanah yang hilang akibat
erosi dan longsor oleh kekuatan energi air dan merupakan salah satu upaya pengelolaan kualitas
air dan pengendalian pencemaran air secara fisik (kandungan sedimen terlarut dalam air),
sedangkan prinsip konservasi air adalah memanfaatkan air hujan yang jatuh ke tanah seefisien
mungkin, mengendalikan kelebihan air dimusim hujan, dan menyediakan air yang cukup di
musim kemarau (upaya pengawetan air).
2.5 Perbaikan Kualitas Air Dengan Menjaga Lingkungan
Tujuan dari menjaga lingkungan adalah untuk melindungi terjadinya pencemaran
terhadap sumber- sumber air. Pencemaran dapat berasal dari air buangan, jamban atau septic
tank, sampah, peternakan, pertanian, industry dan yang lainnya.
Sampah merupakan sumber tercemarnya air maka sampah harus dikelola dengan baik,
dengan. meningkatkan kesadaran masyarakat jangan membuang sampah ke badan air karena
sampah yang membusuk meningkatkan kadar organic.
2.6 Perbaikan Kualitas Air Dengan Pengolahan Air
Khusus untuk pemenuhan air bersih dengan memanfaatkan air sungai sebagai air baku
dilakukan upaya pengolahan dengan instalasi pengolahan air sehingga diperoleh kualitas air
secara fisika, kimia dan bakteriologi yang memenuhi syarat kesehatan.
Tujuan dari pengolahan air adalah untuk memperbaiki kualitas air sehingga mendapatkan
air hasil olahan yang memenuhi syarat kesehatan baik secara fisika, kimia dan biologis.
System pengolahan air ada beberapa jenis tergantung dengan kualitas air yang akan
diolah. Untuk air sungai atau air permukaan yang memiliki tingkat pencemaran yang
berfluktuatif menggunakan system pengolahan konvensional yang terdiri dari aerasi,
koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi. Sedangkan untuk air tanah
menggunakan system filtrasi dan desinfeksi.
Semakin tinggi tingkat pencemaran air maka akan semakin sulit dalam pengolahan dan
semakin mahal biaya pengolahannya.
Skema Pengolahan Air Konvensional
2.7 Air Laut Sebagai Air Bersih
Air laut dengan kandungan salinitas yang tinggi tidak dapat secara langsung
dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam teknologi pengolahan air air laut dipakai
sebagai sumber air baku kalau air tawar sudah tidak ada lagi karena dalam proses
pengolahannya air laut memerlukan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan mengolah
air tawar.
Dalam sekala besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pengolahan air laut
sebagai sumber air baku menggunakan system membrane atau RO (Reverse Osmosis).
System membrane reverse osmosis memiliki diameter pori lebih kecil dari 0,0001 mikron.
Dalam teknologi ini akan memerlukan biaya mahal dalam tenaga pembangkit untuk
membangkitkan pressure yang tinggi dalam membaran.
Skema Pengolahan Air Laut Dengan Sistem RO
Konsep Bio Pori
2.8 Pengolahan Air Minum
Proses pengolahan air minum yang dilakukan tergantung dari kualitas air baku. Air baku
air minum biasanya diambil dari air permukaan (sungai, danau, kali dsb.) Menurut PP No. 20
/ 1990, air permukaan adalah semua air yang berasal dari sumber air dan terdapat di atas
permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini adalah air yang terdapat di bawah
permukaan tanah dan air laut.
Secara umum air permukaan dibagi menjadi air danau, air sungai dan air laut. Air sungai
pada umumnya mempunyai derajat pencemaran yang cukup tinggi dengan kualitas yang
cenderung berfluktuatif. air danau kebanyakan berwarna yang disebabkan oleh zat-zat organic.
Air laut memiliki salinitas sangat tinggi sehingga kalau dipakai sebagai air bersih memerlukan
biaya yang cukup mahal.
Tujuan dari pengolahan air adalah untuk memperbaiki kualitas air sehingga mendapatkan
air hasil olahan yang memenuhi syarat kesehatan baik secara fisika, kimia dan biologis. System
pengolahan air ada beberapa jenis tergantung dengan kualitas air yang akan diolah. Untuk air
sungai atau air permukaan yang memiliki tingkat pencemaran yang berfluktuatif menggunakan
system pengolahan konvensional yang terdiri dari aerasi, koagulasi, flokulasi, sedimentasi,
filtrasi dan desinfeksi. Sedangkan untuk air tanah menggunakan system filtrasi dan desinfeksi.
Semakin tinggi tingkat pencemaran air maka akan semakin sulit dalam pengolahan dan
semakin mahal biaya pengolahannya, dan begitu juga sebaliknya.
Bangunan Intake
Bangunan intake berfungsi sebagai penyadap atau penangkap air baku yang berasal dari
sumbernya, dalam hal ini sungai. Beberapa lokasi intake pada sumber air yaitu intake
sungai, intake danau dan waduk
Bangunan Aerator
Aerasi adalah proses pemasukan udara ke dalam air untuk menigkatkan kandungan
oksigen dengan memancarkan air atau melewatkan gelembung udara ke dalam air.
Aerasi permukaan adalah sistem pemberian udara pada permukaan cairan; dengan cara
ini akan terjadi proses kelarutan udara pada cairan tersebut sehingga terjadi proses
oksidasi zat yang ada di dalam cairan itu.
Bangunan Pengaduk Cepat (flash mix)
Bangunan pengaduk cepat (flash mix) digunakan untuk proses koagulasi yang
merupakan awal untuk pengendapan partikel - partikel koloid yang terdapat dalam air
baku. Partikel koloid sangat halus dan sulit untuk diendapkan tanpa proses pengolahan
lain (plain sedimentation). Koagulasi adalah proses pengadukan cepat dengan
pembubuhan bahan kimia/koagulan yang berfungsi untuk mengurangi gaya tolak -
menolak antar partikel koloid kemudian bergabung membentuk flok - flok.
Bangunan Pengaduk Lambat (slow mix)
Pengaduk lambat merupakan tempat terjadinya flokulasi yaitu proses yang bertujuan
untuk menggabungkan flok-flok kecil yang ttitik akhir pembentukannya terjadi di flash
mix agar ukurannya menjadi lebih besar sehingga cukup besar untuk dapat
mengendapkan secara gravitasi.
Pengadukan lambat digunakan dalam proses flokulasi, karena:
-Memberi kesempatan kepada partikel flok yang sudah terkoagulasi untuk bergabung
membentuk flok yang ukurannya semakin membesar.
-Memudahkan flokulan untuk mengikat flok - flok keci.
- Mencegah pecahnya flok yang sudah terbentuk.
Clearator
Bangunan clearator dalam contoh proses WTP dapat disebut dengan reactor berfungsi
sebagai bak pengendap kedua sekaligus terdapat proses flokulasi di dalamnya. Bak
pengendap tersebut untuk mengendapkan partikel flokulen yang terbentuk akibat
adanya penambahan koagulan pada proses koagulasi dan flokulasi
Filtrasi
Proses filtrasi adalah mengalirkan air hasil sedimentasi atau air baku melalui media
pasir. Proses yang terjadi selama penyaringan adalah pengayakan (straining), flokulasi
antar butir, sedimentasi antar butir, dan proses biologis. Dilihat dari segi desain
kecepatan, filtrasi dapat digolongkan menjadi saringan pasir cepat (filter bertekanan
dan filter terbuka) dan saringan pasir lambat.
Desinfeksi
Desinfeksi air minum bertujuan membunuh bakteri patogen yang ada dalam air.
Desinfektan air dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:pemanasan, penyinaran
antara lain dengan sinar UV, dan chlorinasi.
Diagram Instalasi Pengolahan Air
BAB III
KESIMPULAN
Air merupakan kebutuhan pokok mahluk hidup di dunia, manusia tidak bisa hidup tanpa
air, air yang dimanfaatkan oleh manusia harus memenuhi baku mutu air sesuai
peruntukannya. Hutan sebagai reservoirnya air tanah harus dijaga kelestariannya,
penataan lingkungan dengan ruang terbuka hijau dan untuk daerah pemukiman dengan
membuat lubang bio pori akan memaksimalkan terjadinya resapan air hujan ke dalam
tanah sehingga surface run off atau air yang melimpas dipermukaan tanah yang
akhirnya terbuang ke laut dapat dikurangi. Untuk menghindari terjadinya pencemaran
air tanah maka didaerah yang padat penduduknya dibuatkan pengolahan air limbah
terpadu. Dengan pertambahan penduduk sehingga kebutuhan akan air bersih terus
meningkat dan sumber air tawar semakin sulit maka yang dilakukan adalah
meningkatkan teknologi pengolahan air.
PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung selaku pihak yang penyedia layanan air
bersih harus lebih maksimal dalam memanfaatkan sistem serta inrastruktur yang sudah
tersedia. Sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat mencapai 100 persen dan
dapat berjalan dengan optimal serta tindak lanjut penanganan keluhan pelanggan tidak
hanya berupa tanggapan normatif melainkan sampai pada penanganan di lapangan yang
tepat. PDAM Tirta Mangutama juga harus menyediakan petugas monitoring
penanganan pengaduan di lapangan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam
penyelesaian penanganan keluhan pelanggan. Karena tanpa adanya monitoring atau
pengawasan akan sulit menentukan bahwa seluruh bagian sudah melaksanakan tugas
dan kewajibannya dalam mengatasi dan menangani pengaduan masyarakat secara riil.
Karena monitoring melalui rapat evaluasi dengan jajaran PDAM saja tidak akan
menjanjikan perbaikan yang signifikan dalam pelayanan pengaduan tersebut.