0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan16 halaman

Pembelajaran Basa Rinengga untuk SMA

Rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa di SMA memuat rencana untuk tiga pertemuan pelajaran tentang materi Bahasa Rinengga. Materi pelajaran meliputi pengertian, jenis, dan penggunaan bahasa Rinengga dalam teks sastra dan non sastra. Siswa akan belajar menganalisis, membandingkan, dan menulis teks menggunakan bahasa Rinengga melalui diskusi dan demonstrasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan16 halaman

Pembelajaran Basa Rinengga untuk SMA

Rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa di SMA memuat rencana untuk tiga pertemuan pelajaran tentang materi Bahasa Rinengga. Materi pelajaran meliputi pengertian, jenis, dan penggunaan bahasa Rinengga dalam teks sastra dan non sastra. Siswa akan belajar menganalisis, membandingkan, dan menulis teks menggunakan bahasa Rinengga melalui diskusi dan demonstrasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA....


Kelas/Semester : X/Genap
Mata Pelajaran : Bahasa Jawa
Materi Pokok : Bahasa Rinengga
Alokasi Waktu : 3 x Pertemuan (6 x 45 menit)

A. Kompetensi Inti
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli terhadap
lingkungan (menjaga kebersihan, keindahan, dan kerapian lingkungan sekitar), santun,
responsive dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkrit dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan
metoda sesuai isi keilmuan.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
NO. KOMPETENSI DASAR INDIKATOR
3.3 Mengidentifikasi, memahami, dan 3.3.1 Mengidentifikasi karakterisitik bahasa
menganalisis penggunaan bahasa dalam dalam teks sastra.
teks sastra dan non sastra secara lisan 3.3.2 Mengidentifikasi karakterisitik bahasa
dan tulis. dalam teks non sastra
. 3.3.3 Mengklasifikasikan jenis basa
rinengga/lalongèt dalam teks
3.3.4 Menjelaskan makna basa
rinengga/lalongèt dalam teks.
3.3.5 Menganalisis basa rinengga/lalongèt
dalam teks
3.3.6 Menganalisis panyandra/oca’
pangalem dalam kegiatan budaya.

4.4 Membandingkan penggunaan bahasa 4.4.1 Membandingkan penggunaan bahasa


dalam teks sastra dan non sastra secara dalam teks sastra dengan teks non
lisan dan tulis. sastra.
4.4.2 Membuat kalimat yang memuat basa
rinengga/lalongèt
4.4.3 Menulis paragraf yang memuat basa
rinengga/lalongèt
4.4.4 Mendemonstrasikan teks
panyandra/oca’ pangalem dalam
kegiatan budaya.

C. Tujuan Pembelajaran (Harus ABCD = Audience, Behavior, Condition, Degree)


Pertemuan I
1) Melalui kegiatan berdiskusi dengan santun, peserta didik dapat mengidentifikasi
karakteristik bahasa dalam teks sastra dengan benar.
2) Melalui kegiatan berdiskusi, peserta didik dapat mengidentifikasi karakteristik bahasa
dalam teks non sastra dengan benar.
3) Melalui kegiatan tanya jawab, peserta didik dapat mengklasifikasikan jenis basa
rinengga/lalongèt dalam teks dengan benar.
4) Melalui kegiatan berdiskusi, peserta didik dapat menjelaskan makna basa rinengga/lalongèt
dalam teks dengan benar.
Pertemuan II
1) Melalui kegiatan berdiskusi dengan santun, peserta didik dapat menganalisis basa
rinengga/lalongèt dalam teks dengan benar.
2) Melalui kegiatan tanya jawab, peserta didik dapat menganalisis panyandra/oca’ pangalem
dalam kegiatan budaya dengan tepat.
3) Setelah belajar tentang struktur teks basa rinengga, peserta didik dapat membandingkan
penggunaan bahasa dalam teks sastra dengan teks non sastra bahasa yang baik dan benar.
4) Setelah belajar tentang basa rinengga, peserta didik dapat membuat kalimat yang memuat
basa rinengga/lalongèt dengan bahasa yang baik dan benar.
Pertemuan III
1) Setelah belajar tentang struktur basa rinengga, peserta didik dapat Menulis paragraf yang
memuat basa rinengga/lalongèt yang benar.
2) Setelah belajar tentang basa rinengga, peserta didik dapat mendemonstrasikan teks
panyandra/oca’ pangalem dalam kegiatan [Link] baik dan benar.
D. Materi Pembelajaran
 Materi Reguler:
1. Teks sastra
2. Teks yang memuat basa rinengga/lalongèt
3. Karakterisitik bahasa dalam teks sastra
4. Jenis basa rinengga/ lalongèt
5. Makna basa rinengga/ lalongèt.
6. Penggunaan basa rinengga/ lalongèt
7. Teknik menyusun kalimat
8. Teknik menyusun paragraf
9. Teks panyandra/oca’ pangalem
 Materi Pengayaan
1. Mencari penggunaan basa rinengga di Majala atau media cetak lain
 Materi Remedial
1. Menuliskan basa Rinengga untuk percakapan sehari-hari
2. Teknik menyusun paragraf dengan basa rinengga

E. Metode Pembelajaran
 Pendekatan : Saintifik dan Kontekstual
 Model : Model Pembelajaran Kooperatif (Collaborative Learning)
Model Discovery Learning
Pembelajaran Berbasis Teks (Genre-based Aproach)
Sintaks:
1) Membangun konteks
2) Pemodelan teks
3) Pemecahan masalah secara bersama
4) Pemecahan masalah secara individual
 Metode : Demonstrasi, tanya jawab, diskusi
 Teknik : Think Pair Share/ NHT/ Jigsaw
F. Media Pembelajaran
Alat/ Media
1) CD cerita wayang yang ada basa rinenggana
2) Laptop
3) LCD
G. Sumber Belajar
1) Bruce, Joice, Caolhun, 2009. Models of Teaching (model Pengajaran). Yogyakarta:
Pustka Pelajar.
2) Jatirahayu, Warih dan Margono Notopertomo. Pakartitama:Wayang Sebagai Sumber
Pendidikan Budi Pekerti. Klaten: CV Sahabat.
3) Padmosoekotjo, S. 1960. Ngengrengan Kasusastran Djawi 1. Jogjakarta: Hien Hoo
Sing.
4) Saryono, Djoko. 2011. Sosok Budaya Jawa:Rekonstruksi Normatif Idealistis. Malang:
Aditya Media Publishing.
5) Sasangka Sry Tjatur Wisnu. 2011. Bunyi-bunyi Distingtif Bahasa
[Link]:Elmatera Publishing.
6) Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia:J.B. Wolter.
7) Bambang Murtiyoso. 1983. Pengetahuan Pedalangan. Surakarta: STSI
8) Imam Sutardjo. 2010. Keindahan Bahasa Pedalangan. Surakarta: FSSR Publishing
9) Kristuti Suryosaputro. 1983. Janturan Wayang Purwa Surakarta: Pribadi
10) Marwanto. tt. Wejangan Wewarah Bantah Cangkriman Piwulang Kaprajan. Surakarta:
Cendrawasih.
11) Poerwadarminta. W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: Groningen
12) Siswaharsojo. 1966. Wahyu Makutharama. Yogyakarta: Habiranda.
13) Slametmuljana. 1956. Peristiwa Bahasa dan Sastra. Bandung – Jakarta: Ganaco
14) Soepomo Poedjosoedarma, dkk. 1986. Ragam Panggung dalam Bahasa Jawa. Jakarta:
P dan K
15) Soetarno, Sunardi, Sudarsono. 2007. Estetika Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta
dan CV Adji Surakarta
16) Soetrisno. 1976. Kawruh Pedalangan. Surakarta: ASKI
H. Langkah- Langkah Pembelajaran
PERTEMUAN I
a. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
 Guru mengondisikan siswa belajar
 Guru melakukan apersepsi melalui kegiatan bertanya jawab dan demonstrasi.
 Menyampaikan tujuan pembelajaran meliputi aspek sikap (sikap spiritual dan sikap
sosial), pengetahuan, dan keterampilan.
 Guru menyampaikan garis besar cakupan materi.
 Guru menyampaikan lingkup penilaian.
b. Kegiatan Inti (60 menit)
Mengamati
 Peserta didik membaca teks sastra yang memuat basa rinengga/lalongèt
 Peserta didik membaca teks non sasra
 Peserta didik mencermati ciri-ciri dan jenis basa rinengga/lalongèt
Menanya
 Peserta didik bertanya jawab tentang ciri-ciri bahasa dalam teks sastra.
 Peserta didik bertanya jawab tentang ciri-ciri bahasa dalam teks non sastra
 Peserta didik bertanya jawab tentang jenis dan makna basa rinengga/lalongèt
Mengumpulkan informasi :
 Peserta didik mencari informasi tentang basa rinengga/lalongèt dalam teks dengan
membaca buku teks.
 Peserta didik mendiskusikan dengan santun basa rinengga/lalongèt dalam teks.
Mengasosiasi:
 Peserta didik menganalisis basa rinengga/lalongèt dalam teks
 Peserta didik menyimpulkan jenis basa rinengga/lalongèt berdasarkan perbedaan cirinya.
c. Penutupan (15 Menit)
 Guru bersama peserta didik melakukan refleksi hasil pembelajaran
 Guru menutup pelajaran
PERTEMUAN II
a. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
 Guru mengondisikan siswa belajar
 Guru melakukan apersepsi dengan mengulas materi pelajaran minggu yang lalu melalui
kegiatan bertanya jawab dan demonstrasi.
 Menyampaikan tujuan pembelajaran meliputi aspek sikap (sikap spiritual dan sikap
sosial), pengetahuan, dan keterampilan.
 Guru menyampaikan garis besar cakupan materi.
 Guru menyampaikan lingkup penilaian.
b. Kegiatan inti (60 menit)
Menanya
 Peserta didik bertanya jawab tentang materi yang sudah disampaikan pertemuan
sebelumnya.
Mengumpulkan informasi :
 Peserta didik mencari informasi tentang basa rinengga/lalongèt dalam teks dengan
membaca buku teks.
 Peserta didik mendiskusikan dengan santun basa rinengga/lalongèt dalam teks.
Mengomunikasikan:
 Peserta didik menyampaikan hasil temuan basa rinengga/lalongèt masing-masing
kelompok di depan kelas
 Peserta didik menulis kalimat yang memuat basa rinengga/lalongèt.
 Peserta didik mengubah kalimat lugas menjadi kalimat yang menggunakan basa
rinengga/lalongèt.
 Peserta didik mendemonstrasikan pembacaan teks panyandra/oca’ pangalem dalam
kegiatan budaya.
 Peserta didik mengerjakan LKS yang tersedia untuk mengukur kompetensi.
c. Penutupan (15 Menit)
 Guru bersama peserta didik melakukan refleksi hasil pembelajaran
 Guru menutup pelajaran
PERTEMUAN III
a. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
 Guru mengondisikan siswa belajar
 Guru melakukan apersepsi dengan mengulas materi pelajaran minggu yang lalu melalui
kegiatan bertanya jawab dan demonstrasi.
b. Kegiatan Inti (60 menit)
 POS TEST (penilaian untuk materi basa rinengga)
c. Kegiatan Penutup
 Guru bersama peserta didik melakukan refleksi hasil pembelajaran
 Guru menutup pelajaran
I. Penilaian
1. Sikap spiritual dan sosial
a. Teknik Penilaian : Observasi, Penilaian Diri, Jurnal, Penilaian Antar Peserta Didik
b. Bentuk Instrumen: Lembar Observasi, Lembar Angket, Catatan
c. Kisi-kisi:
CONTOH: LEMBAR OBSERVASI
No. Sikap/Nilai Indikator Rubrik Butir
Penilaian Pertanyaan
1 1.1 Menghargai dan men- 1.1.1 Berdoa sebelum dan sesudah
syukuri keberadaan melakukan kegiatan
bahasa daerah sebagai
anugerah Tuhan Yang 1.1.2 Memberi salam pada saat dan
Maha Esa untuk akhir pelajaran
meningkatkan
pengetahuan dan
keterampilan berbahasa
daerah, serta untuk
melestarikan dan
mengembangkan
budaya daerah untuk
didayagunakan sebagai
upaya pembinaan dan
pengembangan
kebudayaan Nasional.
2 2.1 Menunjukkan sikap 1.1.1 Membetulkan kesalahan
tanggung jawab, berbahasa teman dalam
peduli terhadap berkomonikasi
kebersihan lingkungan
sekitar, responsif, dan
santun menggunakan
bahasa daerah dalam
teks sastra dan
nonsastra, wacana
beraksara Jawa/carakan
Madura, dengan tema
bahasa, sastra dan
budaya daerah

2. Pengetahuan
a. TeknikPenilaian : Tes Tulis, Tes Lisan
b. BentukInstrumen : Tes Objektif, Tes Uraian Terstruktur/ Non Struktur
c. Kisi-kisi:
CONTOH : LEMBAR PENILAIAN PENGETAHUAN

Rubrik Butir Instrumen


No Indikator Penilaian
1 Memengidentifikasi karakteristik bahasa dalam teks sastra Soal nomor...
dengan benar
2 Mengidentifikasi karakteristik bahasa dalam teks non sastra Soal nomor....
dengan benar
3 Mengklasifikasikan jenis basa rinengga Soal nomor ...
4. Menjelaskan makna basa rinengga Soal nomor...
5. Menganalisis basa rinengga. Soal nomor....
6. Menganalisis panyandra Soal nomor ...

3. Keterampilan
a. Teknik Penilaian : P1= Tes Produk dan P2=Tes Unjuk Kerja/ Praktik
b. Bentuk Instrumen : Lembar Penilaian
c. Kisi-kisi:
CONTOH: LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN

No. Indikator Rubrik Butir Instrumen


Penilaian
1. Membandingkan penggunaan bahasa dalam teks sastra P1
dengan teks non sastra
2. Membuat kalimat yang memuat basa rinengga P2
3. Membuat kalimat yang memuat basa rinengga P3
4. Mendemonstrasikan teks panyandra P4
NILAI = (Skor yang didapat/Skor maks) x 100

4. Pembelajaran Remidial dan Pengayaan


a. Remidial
Bagi peserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), maka
guru bisa memberikan soal tambahan misalnya sebagai berikut :
Apa makna basa rinengga ing ngisor iki lan gawea ukarane!
1. Panas Sumelat
2. Andhap asor
3. Abang kupinge
4. Dawa tangane
5. Gedhe endhase

CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah : ……………………………………………..
Kelas/Semester : ……………………………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………………………..
Ulangan Harian Ke : ……………………………………………..
Tanggal Ulangan Harian : ……………………………………………..
Bentuk Ulangan Harian : ……………………………………………..
Materi Ulangan Harian : ……………………………………………..
(KD / Indikator) : ……………………………………………..
KKM : ……………………………………………..
Nama Indikator Bentuk Nilai
Nilai
No Peserta yang Belum Tindakan Setelah Keterangan
Ulangan
Didik Dikuasai Remedial Remedial
1
2
3
4
5
6
Dst

b. Pengayaan
Guru memberikan nasihat agar tetap rendah hati, karena telah mencapai KKM
(Kriteria Ketuntasan Minimal). Guru memberikan soal pengayaan sebagai berikut :
 Gawea paragrap sing jerone ana tembung entheng bahune, jembar segarane,
andhap asor, lan rahayu wilujeng.

Surabaya,
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
LAMPIRAN-LAMPIRAN:

I. Materi/ Bahan Ajar (Jabaran materi untuk menjawab tuntutan indikator)

Wacan no. 1
SEMAR NJANTUR BARANG
Kamuktening praja, saperlu mesu brata mati raga, murih cinaket marang Hyang Widhi Wasesa.
Nalika samana Risang Wasi Jaladara nedheng sekung denira yoga brata ing bale pacrabakan amung
rineksa dening ingkang rayi, sesilih Endhang Bratajaya miwah para rowang ing pratapan. Nalika Sang
Bratajaya nedhengira lelenggahan sakparipurnaning rerakit sesaji, katungka pisowaning para ambarang
jantur, kang nora liya Kyai Badranaya sakgotrah kang sumedya ngupaya boga. Praptane Kyai Semar
tinampa kanthi suka rena.
“Mangko ta Kyai, kowe kuwi sapa, lan darbe sedya apa dene tumeka aneng Pratapan Harga
Sonya kene ?“
“Nami kula pun Lurah Semar, dene anak-anak kula punika nami pun Gareng Petruk lan Bagong.
Sowan kula wonten ngarsa paduka namung badhe ngupaya boga kanthi ambebarang cariyos utawi sinebat
mbarang jantur.”
“Banjur yen aku nanggap anggonmu mbarang jantur, kira- kira pira opahe Kyai?”
“E e e kula menika seniman Den Ayu, dados mboten kulina babagan tarip utawi honor nun,
nanging kula namung nyuwun dipuncawisaken sesaji ingkang arupi sekul saklawuhipun, jajan pasar
warninipun, pisang raja satangkep, kaliyan pituwas rupi arta salembar, ingkang ajinipun radi cucuk Raden
Ayu”.
“Iya ta Kyai, yen mung iku kang sira karepake, aku nora kabotan. Sawatara para bocah endhang
padha cecawis sesaji, mara age tumuli mbabara carita utawa janturan Kyai”.
“E e e .... inggih ngestokaken dhawuh Raden Ayu, kaparenga kula badhe murwakani cariyos. Eee
rumiyin wonten satunggaling satriya trahing kusuma rembesing madu, turasing andanawarih. Ing
satunggaling dinten sang satriya tama nampi jejibahan kinen ngupadi mendranipun satunggaling raja
putri, ingkang murca saking Kenya Puri, awit cinidra durjana. Nanging satriya kala wau supe weweka,
tilar prayitna, temah kalimput kapilut ing pamiluta. Sang satriya tama temah kecalan kautamanipun awit
wantun nerak pepali nglampahi lambang sari. kaliyan salah satunggaling raja putri sakderengipun
nglunasi kardi. Lah ing mriki, sang sinatriya nampi benduning jawata nampi panandhang ingkang damel
wirang, nggih punika kalupan utawi kelingsir aliyas kaliren ngantos marlupa tanpa daya sariranipun.
Makaten babaring cariyos utawi janturan kula Raden Ayu”.
”Janturanmu apik temen ta Kyai, banjur caritamu mau ngemu wewarah apa Kyai?”
“Eee .... cariyos kalawau muhung dadosa pepenget, bilih jejering satriya kedah widagda
ngandhemi darma, mboten kenging slewengan gampil kapilut suwuring asma, gebyaring raja brana,
eseming wanita, liringing netra, saha mungaling pranaja, weweging sarira, utawi manawi dipun aturaken
kanthi mlaha. Manawi sampun sagah sinebat satriya, ampun gampil trataban mulat kilating wentis
kuning”.
“Apa ing jagad iki ana satriya kang kaya ngono iku Kyai?”
“E e e manawi mriki mboten wonten, nanging yen mrika - mrika kathah sanget Deen he he he
Lha satriyanipun kemawon remen slewengan, menapa malih kawulanipun. Manawi satunggaling nagari
kathah satriyanipun ingkang nindakaken pangiwa, mboten sande badhe damel risaking bangsa. Risaking
bangsa sami kaliyan. risaking praja, risaking praja sami kaliyan risaking bawana. Menika menggah
isinipun cariyos janturan kula Raden Ayu”.
“Jagad dewa bathara! teka jero temen surasane caritamu iku, apa isih ana kabisanmu liyane
Kyai?”
“E e e taksih wonten Den Ayu, anak- anak kula menika sami anggadhahi kapinteran main sulap.
Ayo Thole, mara age padha ngatonna kapinteranmu dhewe- dhewe Thole”.
Nampa sasmitane Ki Lurah Semar, anak-anake nuli padha tumandang gawe. Nala Gareng nyulap
godhong waru malih dadi bulus. Bagong nyulap dluwang malih manuk dara. Petruk malah gawe
pangeram-eram, nyulap papah gedhang bisa dadi ula gedhe. Cinarita Endhang Bratajaya lan para endhang
rowange, bareng nyumurupi wujuding ula kang banget gedhene padha sanalika jerit-jerit kamigilan, lan
lumayu ninggalake kang padha mbarang sulap tambuh-tambuh papaning umpetan. Lurah Semar sakanake
nyumurupi kang darbe wisma padha bubar lumayu tumuli ngukup sesaji kang rupa sega salawuhe,
gedhang raja, kembang setaman, kinang saracik, jajan pasar, dibuntel carup dadi sawiji, tumuli
gegancangan ninggal papan sumedya ngaturake oleh-oleh mbarang jantur marang bendarane.
Suka jroning wardaya Raden Premadi, nalika mulat pangupaya boga wus katon marak kanthi
nggawa buntelan. Nanging saiba dukane Risang Premadi, nalika mirsani kahananing si buntelan, katon
carup wor dadi sawiji. Sega campur enjet, carup kembang, kesiram banyu kembang, lan sapiturute.
Njenggirat Raden Premadi ngunus curiga brabat lumayu nggendring pulih bebayuning santa. Kang tinuju
nora liya papan padunungane kang asung boga marang Lurah Semar.
Endhang Bratajaya wus katon lenggahan den rubung dening para abdi endhang pratapan. Durung
mandheg getering panggalih awit gila nyumurupi wujuding ula daden-daden, katungka praptane Premadi
kang ngagar curiga bakal mrajaya Endhang Bratajaya kang rinasa hanggegabah marang sarirane. Endhang
Bratajaya lumayu sarwi jerit-jerit tumuju sanggar pamelengan. Ing kana ingkang raka ya Wasi Jaladara
lagya semedi ayoga brata. Jugar denira meleng cipta, nalika padane den rungkebi dening ingkang rayi
sarwi tawang- tawang tangis. Gragaban sang wasi mudha.
“Heh Adhiku Dhi Bratajaya, ana kedadeyan apa dene siadhi ngrungkebi padane pun Kakang lan
katon melar mingkus ambeganmu kaya candrane sinamber gelap tuna tinubruking sima luput Yayi?”
“Adhuh Kakang Wasi ... aku dioyak- oyak uwong, arep dipateni. Mangka aku nora tau tepung
karo pawongan kuwi Kakang”.
“We lha mbebayani! Kaya ngapa pawongan kang wanuh wani bakal mrajaya kowe Bratajaya.
Wis aja maras atimu Yayi, ndakayunane pawongan kang bosen urip kuwi!”
Katungka praptane Risang Premadi, kang ngagar curiga. Waspada ing paningal Sang Wasi
Jaladara, nora pangling lamun iku ingkang rayi pribadhi. Cinandhak astane risang nawung bendu. Den
arih-arih kanthi ririh, satemah sareh bendunira Risang Premadi.
“I ... ya jagad dewa. bathara, tujune durung kabacut kadrawasan. Yayi Premadi, mara racuten
bramantyanira, waspadakna iki rakanta kang ana pangarepanira Yayi”.
“Nuwun inggih Kakangmas, kula nyuwun pangapunten dene ngantos kalimputing manah mboten
kuwawi nayuti hardaning runtik. Awit jejering Premadi ingkang darajat sinatriya, teka pinaringan boga
dening Kakangmbok Bratajaya ingkang rupinipun kados utah-utahan sona. Ingkang makaten, anganggep
drajatipun Premadi sami kaliya sona, Kakangmas”.
“Manawa Bratajaya kang luput, pun Kakang dhewe ingkang bakal matrapi pidana. Mangko ta
Bratajaya, apa bener sira aweh boga marang Premadi kahanane kaya utah- utahan sona ?“
“Dhuh Kakang Wasi, aku nora rumangsa aweh boga marang sapa-sapa, nanging aku amung
nyawisake sesaji warna-warna, jumbuh kalawan panjaluke pawongan kang mbarang jantur mau Kakang”.
Lurah Semar sumela atur, “E.. e.. e kula ingkang lepat Ndara, kula ingkang nyampur adhuk
dhaharan kaliyan sesaji kala wau. E e e menika mugi dadosa pepenget dhumateng Ndara Premadi,
manawi Satriya trah Saptaarga sirik manawi ngantos ngraos kalupan wonten paran. E e e menika mesthi
wonten babagan ingkang dipun slewengaken Den. Pramila dados Satriya ampun dhemen slewengan nun”.
Sawusnya Dyan Premadi ndhadha kaluputan, Sang Wasi Jaladara murwani pangandika: “Yayi
Permadi, kapiye mula bukane dene siadhi kongsi nandhang kalupan aneng samadyaning wana ?“
“Kakangmas, awrat mundhi dhawuhipun Wa Prabu Salya kinen ngupadi mendranipun
Kakangmbok Ayu Erawati ingkang murca ical saking Kenyapuri. Nanging katiwasan Kakangmas,
saderengipun ingkang Rayi mungkasi kardi, sampun manggih alangan, ingkang anjalari kula dumugi
Pratapan Argasonya, lan pinanggih kaliyan paduka Kakangmas”.
“We lha jagad dewa bathara! Eman dene siadhi durung bisa nyembadani dhawuhe Sri Aji
Mandaraka. Lha upama pun Kakang melu cawe-cawe sabyantu ngupadi murcane Dewi Enawati mau, apa
kira-kira sira lilani Yayi Permadi”.
“Tamtunipun kula sanget nayogyani, jer sampun dados byawaraning pasanggiri, sinten ingkang
saget ngundunaken Kakangmbok Erawati dhateng Dhatulaya Mandaraka manawi wanita badhe kaaken
kadang Sinarawedi, dene manawi kakung tetepa dados jatu kramanipun Kakangmbok Ayu Dewi Enawati
Kakangmas”.
“Yen mangkono tiwas kebeneran Yayi, ayo larapna pun Kakang marang ngarsane Prabu Salya,
pun Kakang bakal mupu sayembara ngundunake sekaring putri Mandaraka, babar pisan saguh mikut
durjanane.”
Gegancangan Raden Premadi lan Wasi Jaladara lumawat marang Praja Mandaraka Gancanging
carita, Wasi Jaladara wus tinampa dening Prabu Salya sarta rinilan pasang gelar sandi nedya mikut
duratmaka . kang anut petunge Wasi Jaladara durjana mau bakal bali laku dhustha aneng pura
Mandaraka. Nalika samana wengine sangsaya ngalangut, samirana sumilir atis. Para wadya tunggu kemit
padha kapati turu. Pranyata si maling julig Raden Kartapiyoga wus prapta ing Pura Mandaraka, sarta wus
namakake aji panyirepan. Amung Wasi Jaladara lan Raden Premadi kang kalis saka dayaning sirep.
Raden Kartapiyoga kumlebat nedya manjing pura. Waspada Wasi Jaladara mapag sang laku cidra. Kagyat
Raden Kartapiyoga dene ana pawongann Mandaraka kang kalis saka dayaning aji sirep. Perang tandhing
tan kena den selaki. Raden Premadi mulat ingkang Raka adu tyasa datan taha-taha nuli ngembuli yuda
saengga Sang Kartapiyoga tan kuwawa nandhingi yudane satriya kekalih kang tuhu sura sekti. Rumangsa
bakal kasoran lan wedi kapikut, Raden Kartapiyoga ngoncati raranggana kanthi ambles bantala.
Playune Raden Kantapiyoga den tututi dening satriya sakeloron kanthi amblas bumi, saengga
anjog ing Praja Tirtakandhasan. Sang Kartapiyoga laju manjing Kenyapuri papan dununge Dewi Erawati
kang tinarungku. Satriya sakloron uga trengginas nututi manjing pura, ing kana ngambali denya mangun
yuda. Wekasane Sang Kartapiyoga lena ing madyaning rana kataman pusaka Alugora. Kwandhane den
buwang marang ngarsane Prabu Kurandageni. Kagyat anjola sang nata yaksa mulat gumebruging
gembung kang nora liya layone ingkang putra Hanggero pindha gumuruhing gona ing antariksa. Prabu
Kurandageni ngamuk punggung arsa apepulih. Pangamuke den tandhingi dening Wasi Jaladara kang
wekasane sang nata raseksa kasambut ing rana. Para wadya raseksa samya sahabipraya mangsah yuda
ambelani sedaning gusti. Pinapag deresing udan jemparing saka langkape Raden Premadi satemah ludhes,
kekes, sirna tanpa sisa.
Saksirnaning mungsuh, Wasi Jaladara lan Raden Premadi gya angluwari Dewi Erawati banjur
kaboyong kondur marang Praja Mandaraka katur ngarsane Prabu Salya Pati. Sang Prabu uga netepi
bawalaksana, Dewi Erawati dadi ganjarane Wasi Jaladara kang nora liya satriya Mandura kang kekasih
Raden Kakrasana kang lagya madeg pinandhita. Purnaning carita, amarengi birating pedhut kang
hanawengi pura Mandaraka, anjalari suka rena tyase wong saknagara.

TANCEP KAYON.

Wacan no. 2

Assalamualaikum, wr. Wb.


Bapak-bapak, Ibu-ibu para sedherek kakung putri ingkang kula kurmati, langkung rumiyin sumangga kita
sesarengan ngunjukaken raos puji syukur dhumateng padanipun Gusti Allah Ingkang Maha Agung,
amargi ngantos ing titi wanci punika kita sadaya tansah dipunparingi rahayu kawilujengan. Saengga kita
saged jagong sapatemon wonten dalemipun Bapak Catur Irianto punika kanthi kawilujengan. Solawat
saha salam sumangga kita aturaken dhumateng Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ingkang sampun paring
pitedah dhumateng kita arupi piwucal agami Islam.

Bapak, Ibu, para kadang ingkang kula tresnani, wonten ing kalodhangan punika kita sadaya kaaturan
rawuh wonten dalemipun Bapak Catur Irianto sakulawarga, saperlu mangayubagya anggenipun Bapak
Catur Irianto sakulawarga tampi nugraha.

Bapak, Ibu, para sedherek ingkang kula kurmati, kala dinten Selasa Kliwon tanggal 22 Desember 2009,
Panjenenganipun Bapak Catur Irianto saha ibu tampi kanugrahan saking Gusti Allah Ingkang Maha
Mirah, inggih punika wiyosipun keng wayah ingkang dados gegadhanganipun. Alhamdulillah, wayah
nomer setunggal punika mijil putri. Salajengipun ingkang wayah kaparingan asma Lina Nur Afida Puri
Hayuningrat M.

Para Bapak, Ibu, saha kadang-kadang ingkang kula tresnani, wonten ing kalodhangan punika, sumangga
kita sami nyenyuwun dhumateng padanipun Gusti Allah Ingkang Maha Agung, mugi-mugi Anakmas
Lina Nur Afida Puri Hayuningrat M., dadosa putra ingkang solekah, luhur budinipun , luhur derajadipun
tuwin mulyaa gesangipun. Mugi-mugi putra-putri kita sadaya ugi dados lare ingkang mursid, migunani
tumrap sesamining gesang, mahanani tumrap bebrayan.
Ing salajengipun para rawuh ingkang kula kurmati, sumangga kita ugi nyuwunaken daya kekiyatan
utaminipun kagem Ibu Putri Budyaningrah Utami ingkang nembe kajibah dados lantaran tumuruning bayi
suci punika, mugi-mugi enggal dipunparingi seger lan kesarasan. Makaten ugi kita sadaya mugi-mugi
inggih dipunparingi rahayu kawilujengan.

Dhumateng para kadang ingkang dereng kaparingan momongan, mugi-mugi kanthi kasabaran tansah
nyenyuwun dhumateng Gusti Ingkang Maha Mirah, mugi-mugi enggal dipunparingi kanugrahan.

Para Bapak, Ibu, saha kadang-kadang ingkang kula tresnani, mbokbilih cekap semanten punapa ingkang
saged kula aturaken, menawi wonten tetembungan ingkang mboten ngremenaken penggalih, kepareng
nyuwun agunging pangapunten. Wasana kula cekapi sugeng lenggah ngantos purnaning pepanggihan.

Wassalamualaikum,[Link].

1. Gawea kelompok kang anggotane 5 bocah


2. Coba wacanen wacan no. 1 lan wanan no. 2
3. Kanthi diskusi kelompok bedakna wujude wacan no. 1 lan no. 2

Bentuk basa rinengga ingkang dadi rerengganing bahasa atau unsure estetika bahasa yaiku:
1. Panyandra
2. Purwakanthi yaitu purwkanthi guru swara, purwakanthi guru sastra, purwakanthi guru lumaksita
atau guru basa,
3. Tembung saroja,
4. Pepindhan
5. Tembung rangkep, yaitu tembung rangkep dwipurwa, dwi madya, dwiwasana,
6. Tembung garba,
7. Paribasan
8. Bebasan
9. Saloka
10. lly
II. Alat Evaluasi (Contoh)
a. Evaluasi Sikap
CONTOH: LEMBAR PENGAMATAN SIKAP
Perilaku yang diamati pada pembelajaran
N
o Mengagumi Mengguna-kan Memiliki rasa Peduli terhadap Tanggung
keindahan bahasa daerah ingin tahu bahasa daerah jawab
Nama
karya sastra dalam terhadap
komunikasi kebersihan
lingkungan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1 A

2 B

3 C

Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 5


Rubrik Penilaian (Penafsiran angka): 1. sangat kurang, 2. kurang, 3. cukup, 4. baik, 5. amat baik
b. Evaluasi Pengetahuan
CONTOH: LKS PENGETAHUAN
TES URAIAN NON OBJEKTIF (UNO)
PENGETAHUAN STRUKTUR SUSUNAN ACARA, KRITERIA MENJADI PEWARA YANG
BAIK DAN TUGAS-TUGAS PEWARA

Wangsulana pitakonan ing ngisor iki.


(1) Sebutna bakune rembug babagan rantamaning adicara ?
(2) Aranana apa wae pawitan baku kang kudu didarbeni dening panata adicara kang becik
(3) Aranana lan terangna apa wae jejibahane panata adicara.
c. Evalusai Keterampilan
CONTOH: LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN
1) Gawea rantamaning adhicara pawiwahan penganten!

No. Nama Menulis susunan acara Butir


kelengkapan urutan Kesesuaian Bahasa Soal P1
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

2) Gawea teks wicara pambukaning adicara!

No. Nama Menulis teks wicara pambukaning adhicara Butir


Kelengkapan Urutan Kesesuaian Bahasa Soal P2

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

3) Coba paragakna minangka panata adicara!

Nama Praktik menjadi pewara Butir


Intonasi Ekspresi pelafalan Tata krama Soal
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 P3
4) Gawea teks pidato!

No. Nama Menulis teks wicara pambukaning adhicara Butir


Kelengkapan Urutan Kesesuaian Bahasa Soal P5

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

5) Coba paragakna minangka orator!

Nama Praktik menjadi pewara Butir


Intonasi Ekspresi pelafalan Tata krama Soal
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 P6

Rubrik Penilaian (Penafsiran angka):


1 = kurang
2 = cukup
3 = baik
4 = amat baik

Anda mungkin juga menyukai