A.
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang
harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Tujuan
dari pembangunan kesehatan di Indonesia yaitu untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya
manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. Sebagai kebutuhan sekaligus hak
dasar, kesehatan harus menjadi milik setiap orang dimanapun mereka berada melalui
peran aktif individu dan masyarakat untuk senantiasa menciptakan lingkungan yang sehat
serta berperilaku sehat sehingga dapat hidup secara produktif.
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut. Istilah ini
diadaptasi dari dalam bahasa inggris Acute Respiratory Infection (ARI). Penyakit infeksi
akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai hidung
(saluran napas atas) hingga alveolus (saluran napas bawah) termasuk jaringan
adneksanya, seperti sinus, rongga telinga, dan pleura. Mayoritas penyebab ISPA adalah
virus dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA atas, sedangkan ISPA untuk bagian
bawah frekuensinya lebih kecil (WHO,1995).
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak karena system
pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk pilek pada balita di
Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata
mendapat serangan batuk dan pilek sebanyak 3 sampai 6 kali dalam setahun.
Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT)
yang mempunyai prevalensi di atas angka nasional (Riskesdas Nasional 2007).
Sedangkan pada pola 10 penyakit terbanayk dirumah sakit umum daerah maupun data
survey (SDKI, Surkesnas) menunjukkan tingginya kasus ISPA (profil kesehatan NTT
2008).
1
Data yang diperoleh dari Puskesmas Oepoi dalam 10 daftar penyakit terbesar
dalam 3 tahun terakhir, ISPA merupakan penyakit yang menduduki urutan pertama
dengan jumlah kasus 7.406. Pada bulan Maret tahun 2016 juga diperoleh data dari
Puskesmas Pembantu di Kecamatan Liliba khususnya di RW 08 RT 14 dan RT 29 dalam
3 bulan terakhir ada 16 orang yang menderita ISPA dari 23 Kepala keluarga yang
memiliki 144 anggota keluarga. Berikut ini data tentang penyakit ISPA di Puskesmas
Oepoi dan di Puskesmas pembantu Kelurahan Liliba.
Tabel 1. Daftar 10 penyakit terbesar 3 tahun terakhir (Periode 2013-2015)
No Nama penyakit Jumlah kasus
1. ISPA 7.406
2. Faringitis 1.905
3. Gastritis 1.412
4. Hipertensi 926
5. Penyakit pada system otot dan jaringan 814
6. Tonsillitis 646
7. Dermatitis 578
8. Dyspepsia 555
9. Penyakit kulit karena infeksi 420
10. Penyakit kulit karena alergi 393
Sumber : data sekunder (Laporan Puskesmas Oepoi)
Tabel 2. Ada tidaknya anggota keluarga yang sakit dalam 3 bulan terakhir di RW
08 Kelurahan Liliba Tahun 2016 (Periode Desember-Febuari)
Anggota keluarga RT Jumlah
yang sakit 14 29
Ya 13 8 21
Tidak 78 45 123
Jumlah 91 53 144
Sumber : data sekunder (Laporan Pustu Liliba)
2
Tabel 3. Jenis penyakit yang diderita dalam 3 bulan terakhir di RW 08 Kelurahan
Liliba Tahun 2016 (Periode Desember-Febuari)
Jenis penyakit Jumlah
ISPA 16
Alergi 5
Jumlah 21
Sumber : data sekunder (Laporan Pustu Liliba)
Beberapa factor yang berkontribusi terhadap kejadian penyakit ISPA adalah
rendahnya aktioksidan, status gizi yang kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan. Di
Negara berkembang kesakitan dan kematian akibat ISPA mencapai 25%-50%.
Angka kesakitan ini lebih tinggi lagi pada daerah berpenduduk padat (Yuswianto,
2007).
Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat
berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta
keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga maupun individu. Rumah
merupakan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan
keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental, social sehingga
seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Masalah perumahan
merupakan masalah yang mempunyai pengaruh dalam kehidupan manusia sehari-
hari. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok kita sehari-hari serta untuk
berteduh apabila terjadi panas dan hujan, sebagai tempat berlindung. Rumah juga
menimbulkan beberapa risiko penyakit termasuk bahaya radiasi dan pencemaran
udara apabila setiap harinya tidak bersih. Agar penghuni rumah terhindar dari
penyakit-penyakit tersebut, maka perlu kondisi kualitas kesehatan lingkungan rumah
yang baik. Bila lingkungan perumahan tidak diperhatikan maka dapat memudahkan
terjadinya kecelakaan dan penularan atau penyebaran penyakit seperti ISPA,
cacingan, diare dan sebagainya.
3
Berikut ini adalah distribusi penduduk RW 08 Kelurahan Liliba kecamatan
Oebobo berdasarkan jenis rumah tinggalnya pada tahun 2016
Jenis Bangunan RT Jumlah %
Rumah 14 29
Permanen 10 12 22 96
Semi Permanen 1 0 1 4
Jumlah 11 12 23 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa di RT 14 dan RT 29 Kelurahan
Liliba sebagian besar jenis bangunan rumah penduduk adalah permanen yaitu
sebanyak 22 KK dengan persentasi 96 % dan jenis bangunan rumah yang paling
sedikit adalah sembayak 1 KK dengan persentasi 4 %.
Dengan melihat tingginya kasus ISPA yang terjadi di Puskesmas Oepoi
khususnya di RW 08 Kelurahan Liliba dan keadaan bentuk rumah tinggal penduduk
yang permanen maka kami tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Kesehatan
Rumah Tinggal Dengan Kejadian ISPA Pada Masyarakat di RW 08 Kelurahan Liliba
Kecamatan Oebobo"
2. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari uraian pada latar belakang masalah, maka dapat dirumusakn
permasalahan penelitian ini yaitu: “Bagaimana Hubungan Kesehatan Rumah Tinggal
dengan Kejadian ISPA pada Masyarkat di RW 08 Kelurahan Liliba Kecamatan
Oebobo?”
4
3. Tujuan Penelitian
3.1. Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan keadaan rumah tinggal dengan kejadian ISPA pada
masyarakat RW 08 Kelurahan Liliba Kecamatan Oebobo.
3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk menganalisis hubungan pencahayaan rumah tinggal dengan kejadian ISPA
b. Untuk menganalisis hubungan kualitas udara (suhu dan kelembaban) dalam
rumah tinggal dengan kejadian ISPA
c. Untuk menganalisis hubungan anatara keberadaan ventilasi dengan kejadian ISPA
d. Untuk menganalisis hubungan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA.
4. Manfaat Penelitian
4.1. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kiranay
bermanfaat bagi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit ISPA.
4.2. Bagi Pemerintah
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya bagi dinas kesehatan
kabupaten dan semua fasilitas kesehatan lainnya yang bertanggung jawab dalam
program pemberantasan penyakit menular. Hal ini mempermudah dalam penetuan
arah kebijakan program penanggulangan penyakit menular khususnya ISPA.
4.3. Bagi peneliti
Merupakan suatu pengalaman yang snagat berharga dalam mengaplikasikan ilmu
yang telah didapat dan menambah wawasan pengetahuan.
5
B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
1.1. Pengertian ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Istilah ini di
adaptasi dari istilah dalam bahasa inggris Acute Respiratory Infection (ARI). Penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran pernapasan
mulai dari hidung (saluran napas atas) hingga alveolus (saluran napas bawah) termasuk
jaringan adneksanya,seperti sinus,rongga telinga tengah, dan pleura.(Ramadhan,2006)
Menurut Depkes RI (2007) ISPA adalah infeksi saluran pernapasan akut ,istilah
ini meliputi tiga unsur yakni infeksi,saluran pernapasan dan akut, dengan pengertian
sebagai berikut :
Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia
dan berkembangbiak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Saluran Pernapasan adalah organ dari hidung hingga alveoli serta organ
adneksanya seperti sinus sinus rongga telinga tengah dan pleura.
Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung selama 14 hari diambil untuk
menunjukkan proses akut. Meskipun beberapa penyakit yang dapat digolongkan
dalam ISPA proses ini berlangsung selama lebih dari 14 hari.
1.2. Klasifikasi ISPA
Menurut (Widoyono,2005) klasifikasi penyakit ISPA terdiri dari :
a. Bukan Pneumonia
Mencakup pasien balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkataan
frekuensi napas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah
kearah dalam.
Contoh adalah common cold,faringitis,tonsilitas dan otitis.
b. Pneumonia
Didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas,diagnosa ini berdasarkan
umur. Batas frekuensi nafas cepat pada anak berusia dua bulan sampai < 1 tahun
adalah 50 kali per menit dan untuk anak usia1 sampai< 5 tahun adalah 40 kali per
menit.
c. Pneumonia Berat
Didasarkan pada adanya batuk dan atau kerusakan bernapas sertai sesak napas atau
tarikan dinding dada bagian bawah kearah dalam (Chest indrawing), pada anak
berusia dua bulan sampai < 5 tahun. Untuk anak berusia < 2 tahun bulan, diagnosa
pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat yaitu frekuensi pernapasan
6
yaitu 60 kali per menit atau lebih atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada
bagian bawah kearah dalam (severe chest indrawing)
1.3. Faktor Resiko Penyakit ISPA
Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang terserang bibit penyakit,terutama faktor
yang ada pada dirinya sendiri seperti berikut :
a) Umur
Kejadian ISPA,terutama pneumonia pada bayi dan anak balita dipengaruhi oleh
faktor usia anak. Bayi yang berumur kurang dari 2 bulan mempunyai risiko yang
lebih tinggi untuk terkena pneumonia dibandingkan dengan anak umur 2 bulan
– 5 bulan (Depkes RI,1996)
b) Jenis Kelamin
Menurut buku Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk
Penanggulangan Pneumonia pada balita (1996),anak jenis kelamin laki – laki
mempunyai resiko yang lebih tinggi terkena ISPA dibandingkan dengan anak
perempuan (Depkes RI,1996)
c) Status Gizi
Menurut Martin (1987) dalam Djaja(1999),keadaan gizi buruk muncul sebagai
faktor risiko yang penting untuk ISPA. Hal ini membuktikkan adanya hubungan
antara gizi buruk dan infeksi paru sehingga anak – anak yang bergizi buruk
sering mengalami pneumonia.
d) Berat Badan Lahir
Berat badan lahir rendah ditetapkan sebagai berat badan lahir kurang dari 2500
gram. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) akan meningkatkan risiko
kesakitan dan kematian karena bayi rentan terhadap kondisi infeksi saluran
napas bagian bawah. Ibu yang sedang hamil harus mendapatkan asupan makanan
yang cukup dengan gizi seimbang. Kekurangan asupan gizi pada saat hamil
dapat menyebabkan berat badan bayi lahir rendah. Penyakit anemia defisiensi
besi pada ibu yang tengah hamil juga dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat
badan rendah atau bayi lahir prematur.
e) Status ASI dan Makanan Tambahan
ASI ekslusif adalah ASI yang diberikan pada bayi tanpa tambahan cairan lain
(seperti susu formula,jeruk,madu,air teh,air putih), dan tanpa makanan tambahan
(seperti pisang ,pepaya, bubur susu,biskuit,bubur nasi dan tim)
Menyusui bayi dianjurkan bila bayi dan ibunya dalam keadaan sehat dan tidak
terdapat kelainan – kelainan yang tidak memungkinkan untuk menyusui.
f) Status Imunisasi
Imunisasi berarti memberikkan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. setiap
anak harus mendapatkan imunisasi dasar 7 penyakit utama sebelum usia 1
tahun,yaitu imunisasi [Link],Polio,Campak dan Hepatitis B(Roesli,2001).
7
Imunisasi adalah cara untuk menimbulkan kekebalan terhadap berbagai penyakit.
(Djaja,1999)
g) Vitamin A
Pada anak - anak yang kekurangan vitamin A sering ditemukkan berbagai
macam infeksi,namun hubungan langsung antara kekurangan vitamin A dan
infeksi tidak begitu jelas (Pudjiadi,2000).
h) Lingkungan
Faktor lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukkan
terjadinya proses interaksi antara pejamu dan unsur penyebab dalam proses
terjadinya penyakit. Faktor lingkungan sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa
hal sebagai berikut:
Asap dalam ruangan
Pencemaran udara dalam ruangan terjadi terutama karena aktivitas
penghuninya,seperti pengguunaan bahan bakar biomassa untuk memasak
ataupun memanaskan ruangan,asap dari sumber penerangan yang
menggunakan minyaktanah sebagai bahan bakarnya,asap
rokok,penggunaan insektisida semprot atau bakar. Di samping itu
pencemaran udara juga ditentukkan oleh ventilasi serta penggunaan
bahan bangunan sintetis berupa cat dan abses (Anwar,1992)
Ventilasi
Ventilasi bermanfaat untuk menjaga aliran udara di dalam ruangan tetap
segar sehingga keseimbangan O2 tetap terjaga, selain itu ventilasi juga
berfungsi membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri,terutama
bakteri patogen dan menjaga agar rumah selalu tetap dalam kelembaban
yang optimum(Notoatmodjo,20007b). Jumlah ventilasi harus memadai
yang mana harus berbanding lurus dengan penghuni rumah. Kuman
penyebab penyakit saluran pernapasan dapat semakin banyak apabila
jumlah penghuni rumah semakin banyak.
Selain faktor faktor di atas,ISPA dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
lain yakni status ekonomi dan pendidikan,tata ruang dan kepadatan
hunian,penggunaan antinyamuk bakar dan bahan bakar untuk memasak.
2. Tinjauan Tentang Kesehatan Rumah Tinggal
2.1 Pengertian rumah sehat
Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan. Menurut Wicaksono, rumah adalah sebuah tempat tujuan akhir dari manusia.
8
Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan sekitar,
menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang kehidupan setiap manusia,
dan menjadi bagian dari gaya hidup manusia.
Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh
pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya dapat berjalan
dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor-faktor yang dapat
merugikan kesehatan (Hindarto, 2007).
Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan tempat
untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani,
maupun sosial (Sanropie dkk., 1989).
Rumah yang sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat
pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik,
kepadatan hunian yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (BPS,
2004).
2.2 Kriteria rumah sehat
Kriteria rumah sehat yang diajukan oleh dalam Entjang (2000) dan Wicaksono
(2009) yang dikutip dari Winslow antara lain:
Harus dapat memenuhi kebutuhan fisiologis
Harus dapat memenuhi kebutuhan psikologis
Harus dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan
Harus dapat menghindarkan terjadinya penularan penyakit
Hal ini sejalan dengan kriteria rumah sehat menurut American Public Health
Asociation (APHA), yaitu:
Memenuhi kebutuhan dasar fisik
a. Sebuah rumah harus dapat memenuhi kebutuhan dasar fisik, seperti: Rumah
tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipelihara atau
dipertahankan temperatur lingkungan yang penting untuk mencegah
bertambahnya panas atau kehilangan panas secara berlebihan. Sebaiknya
temperatur udara dalam ruangan harus lebih rendah paling sedikit 4°C dari
temperatur udara luar untuk daerah tropis. Umumnya temperatur kamar 22°C -
30°C sudah cukup segar.
b. Rumah tersebut harus terjamin pencahayaannya yang dibedakan atas cahaya
matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala api lainnya
(penerangan buatan). Semua penerangan ini harus diatur sedemikian rupa
sehingga tidak terlalu gelap atau tidak menimbulkan rasa silau.
c. Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga aliran udara
segar dapat terpelihara. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai
ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup)
minimum 5% luas lantai sehingga jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai
ruangan. Ini diatur sedemikian rupa agar udara yang masuk tidak terlalu deras dan
tidak terlalu sedikit.
d. Rumah tersebut harus dapat melindungi penghuni dari gangguan bising yang
berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik langsung maupun
9
dalam jangka waktu yang relatif lama. Gangguan yang dapat muncul antara lain
gangguan fisik seperti kerusakan alat pendengaran dan gangguan mental seperti
mudah marah dan apatis.
e. Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktivitas dan untuk anak-
anak dapat bermain. Hal ini penting agar anak mempunyai kesempatan bergerak,
bermain dengan leluasa di rumah agar pertumbuhan badannya akan lebih baik,
juga agar anak tidak bermain di rumah tetangganya, di jalan atau tempat lain yang
membahayakan.
Memenuhi kebutuhan dasar psikologis
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan dasar
psikologis penghuninya, seperti:
a. Cukup aman dan nyaman bagi masing-masing penghuni
Adanya ruangan khusus untuk istirahat bagi masing-masing penghuni, seperti
kamar tidur untuk ayah dan ibu. Anak-anak berumur di bawah 2 tahun masih
diperbolehkan satu kamar tidur dengan ayah dan ibu. Anak-anak di atas 10
tahun laki-laki dan perempuan tidak boleh dalam satu kamar tidur. Anak-anak
di atas 17 tahun mempunyai kamar tidur sendiri.
b. Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga, dimana
anak-anak sambil makan dapat berdialog langsung dengan orang tuanya.
c. Dalam memilih letak tempat tinggal, sebaiknya di sekitar tetangga yang
memiliki tingkat ekonomi yang relatif sama, sebab bila bertetangga dengan
orang yang lebih kaya atau lebih miskin akan menimbulkan tekanan batin.
d. Dalam meletakkan kursi dan meja di ruangan jangan sampai menghalangi lalu
lintas dalam ruangan
e. WC (Water Closet) dan kamar mandi harus ada dalam suatu rumah dan
terpelihara kebersihannya. Biasanya orang tidak senang atau gelisah bila terasa
ingin buang air besar tapi tidak mempunyai W.C. sendiri karena harus antri di
W.C. orang lain atau harus buang air besar di tempat terbuka seperti sungai atau
kebun.
f. Untuk memperindah pemandangan, perlu ditanami tanaman hias, tanaman
bunga yang kesemuanya diatur, ditata, dan dipelihara secara rapi dan bersih,
sehingga menyenangkan bila dipandang.
Melindungi dari penyakit
Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi
penghuninya dari kemungkinan penularan penyakit atau zat-zat yang membahayakan
kesehatan. Dari segi ini, maka rumah yang sehat adalah rumah yang di dalamnya
tersedia air bersih yang cukup dengan sistem perpipaan seperti sambungan atau pipa
dijaga jangan sampai sampai bocor sehingga tidak tercemar oleh air dari tempat lain.
Rumah juga harus terbebas dari kehidupan serangga dan tikus, memiliki tempat
pembuangan sampah, pembuangan air limbah serta pembuangan tinja yang
memenuhi syarat kesehatan.
Melindungi dari kemungkinan kecelakaan
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari
kemungkinan terjadinya bahaya atau kecelakaan. Termasuk dalam persyaratan ini
antara lain bangunan yang kokoh, tangga yang tidak terlalu curam dan licin, terhindar
10
dari bahaya kebakaran, alat-alat listrik yang terlindung, tidak menyebabkan
keracunan gas bagi penghuni, terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain
sebagainya (Azwar, 1990; CDC, 2006; Sanropie, 1989).
2.3 Syarat rumah sehat
1. Lokasi
Lokasi adalah letak rumah, sebaiknya tidak berada di daerah yang rawan bencana
seperti bantaran sungai. Garis sempadan atau batasan sungai berdasarkan Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum no 63 tahun 1993 ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter
di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Pada daerah sempadan atau bantaran sungai
tidak dijinkan untuk mendirikan bangunan permanen untuk hunian dan tempat usaha.
2. Keadaan fisik
Informasi mengenai keadaan rumah dapat dilihat dari beberapa criteria, antara lain
luas dan jenis lantai, jenis atap, jenis dinding, ventilasi dan pencahayaan ruangan.
3. Sanitasi dasar
Sanitasi dasar yang berkualitas baik juga merupakan persyaratan dalam rumah sehat.
Adapun sarana dasar yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi
penyediaan air, jamban, pembuangan air limbah, dan pengelolaan sampah rumah
tangga (Suskesnas, 2002)
a. Sarana air bersih
Sarana air bersih dalam sanitasi dasar rumah tangga meliputi sumber air bersih
dan kualitas air bersih.
b. Jamban
Pembuangan tinja dan limbah cair yang dilaksanakan secara saniter merupakan
salah satu kegiatan dalam rangka penyehatan lingkungan (Soeparman, 2001).
Jamban yang baik harus memenuhi persyaratan berikut:
1. Tanah permukaan tidak boleh terkontaminasi
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata
air atau sumur
3. Tidak boleh terjadi kontaminasi air permukaan
4. Tinja tidak boleh terjangkan oleh lalat atau hewan lain
5. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
c. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Banyak aktivitas rumah tangga yang menghasilkan limbah cair. Air limbah yang
melalui penyaluran, pengumpulan, dan pengelolaan yang benar diharapkan tidak
menimbulkan masalah pencemaran air. SPAL sebaiknya tidak dialirkan langsung
ke sungai.
d. Pengelolaan sampah rumah tangga
Pengelolaan sampah rumah tangga yang saniter perlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya penyakit, dan masalah-masalah lainnya.
11
12
3. Kerangka Konsep
Kesehatan Rumah Tinggal
(Kepmenkes No. 829/MENKES/SK/VII/1999)
1. Pencahayaan
2. Kualitas udara
3. Ventilasi
4. Kepadatan hunian
Rumah sehat
1. Bahan bangunan
2. Komponen dan penataan
ruang
3. Vektor penyakit
4. Penyediaan air
5. Sarana penyimpanan
makanan
6. Pembuangan sampah
Keterangan :
= variabel independen yang diteliti
= variabel independen yang tidak diteliti
= variabel dependen
13
C. METODE PENELITIAN
1. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan potong silang (cross sectional study)
artinya, sunjek penelitian hanya di observasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status
ISPA atas variable subjek pada saat penelitian. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian
diamaTi pada waktu yang sama.
2. Lokasi dan Waktu Peneletian
2.1. Lokasi
Penelitian ini akan dilakukan di RT 14 dan RT 29/RW 08 Kelurahan Liliba kecamatan
oebobo Kota Kupang.
2.2. Waktu
Penelitan ini akan dilakukan pada bulan Desember 2016.
3. Populasi dan Sampel
3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk RT 14 dan RT 29/RW 08di kelurahan
Liliba sebanyak 23 KK
3.2. Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode probability
sampling dengan teknik total sampling. Metode probability sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Teknik total sampling disebut juga teknik sampling jenuh merupakan teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
14
4. Definisi Operasional
Tabel 4.1. Definisi Operasional Penelitian, Variabel Penelitian, Kriteria Objektif,
dan Skala Objektif
No Variable Definisi Kriteria Objektif Skala
Penelitian Operasional Data
1 Penderita Pasien yang a. Ya, jika hasilnya positif Nominal
ISPA dinyatakan menderita ISPA
menderita ISPA berdasarkan buku register
oleh petugas b. Tidak, jika hasilnya
kesehatan di negatif tidak menderita
Puskesmas ISPA berdasarkan buku
berdasarkan data register.
Tahun 2016
2 Pencahayaan Jumlah cahaya a. Beresiko; jika cahaya Nominal
alami yang yang masuk ≤ 60 lux.
masuk kedalam b. Tidak beresiko; jika
rumah cahaya yang masuk > 60
lux (Kepmenkes RI No
829/Menkes/SK/VII/1999)
3 Kelembaban Jumlah kadar air a. Baik jika berkisar antara Nominal
dalam rumah relatif udara 40%-70%
dalam rumah b. Buruk jika berkisar ,40%
atau 70%
4 Suhu dalam Derajat panas a. Baik, jika ssuhu berada Nominal
Rumah dalam rumah diantara 18Oc-30o C
(oC) b. Buruk, jika suhu <18oC
atau >30oC
5 Ventilasi Lubang untuk a. Baik, jika ada jendela Nominal
sirkulasi udara dengan luas jendela >
atau pertukaran 10% dari luas lantai yang
15
udara dan ada
cahaya. b. Burk, jika tidak ada
jendela dengan luas
jendela kurang dari 10%
dari luas lantai yang ada.
6 Kepadatan Banyaknya a. Baik, jika kepadatan Nominal
Hunian orang yang penghuni 2,5 m2-
mendiami suatu 3m2/orang
ruang atau b. Buruk, jika kepadatan
kamar penghuni < 2,5m2/orang.
5. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
5.1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan wawancara, observasi dan pengisian
kuesoner. Jenis data yang akan dikumpulkan yaitu :
a) Data Primer
Penentuan status ISPA ini terdiri dari pemeriksaan klinis dengan bantuan tenaga
medis, pengukuran dengan menggunakan alat ukur dan wawancara dengan responden
dengan menggunakan kuesoner.
b) Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Kelurahan Liliba, Puskesmas Oepoi dan PUSTU Liliba.
5.2. Instrumen Pengumpulan Data
1. Kuesoner
2. Thermohygroometer untuk mengukur suhu dan kelambapan
3. Roll meter untuk mengukur luas ventilasi.
16
6. Teknik Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan
wawancara, observasi dan pengukuran. Data yang dikumpulkan adalah pengolahan melalui
editing, coding, dan entry kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi dengan bantuan
komputer menggunakan program SPSS for windows.
Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat adalah
analisis data yang dilakukan terhadap suatu variabel yang meliputi perhitungan jumlah presentase
per kategori, sedangkan analisis bivariat adalah analisis data yang dilakukan terhadap dua variabel
yaitu untuk melihat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, kemudian
dianalisis menggunakan uji chi square. Data yang diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel
disertai dengan penjelasan.
17