BICARA TENTANG METODE PEMBELAJARAN
َََ َولَكَنََالَمَدََرسََأَهَمََمَن,َاَلطََريَقَةََأَهَمََمَنََالَمَادَة
ََبَلَََرَوحََالَمَدََرسََأَهَمََمَنََالَمَدََرسََنَفَسَه,َالطََريَقَة
“At-thariqah ahammu mina-l-maddah, wa al-mudarris ahammu mina-t-thariqah,
wa ruhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi.”
Dalam konteks proses belajar mengajar, para pendidik selalu diingatkan dengan hikmah sebuah
mahfudhot di atas, secara terjemah bebas dapat diartikan bahwa: Metode lebih penting dari materi atau
at-thariqah ahammu mina-l-maddah. Materi apapun yang disampaikan, jika menggunakan metode
yang benar, maka akan dapat diterima para siswa dengan baik. Sebaliknya, materi yang telah
dipersiapkan dengan matang, akan menjadi hampa, tanpa metode yang baik. metode memang
berpengaruh, namun tidak mutlak. Yang berpengaruh adalah the man or teacher, manusianya,
orangnya, al-mudarris nafsihi atau guru itu sendiri. Tak berhenti pada kata guru, ada sesuatu yang lebih
penting dari itu, yakni jiwa seorang guru, the soul of teacher, atau ruh al-mudarris. (Ismail, 2009,
Strategi Pembelajaran PAIKEM)
Model pembelajaran KTSP Kurikulum 2006 adalah PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan) melalui proses ekploratif, elaboratif, dan konfirmatif. Dalam KTSP KURIKULUM
2013, hampir sama, yaitu pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), discovery learning
(murid menemukan sesuatu bukan karena diberi tahu guru tetapi karena usahanya sendiri berkat
dorongan gurunya) melalui proses "mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, dan
menyimpulkan" serta model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dalam aktivitas
"tematik terpadu (SD/MI, SMP/MTs) dan akomodasi minat dan bakat (SMA/MA)" – Kompas, Desember
2014.
Lalu apa model pembelajaran PAIKEM itu? Apa impact-nya atau ma ba’daahu? Jika model pembelajaran
seperti itu dilakukan secara taat azas, hasil pembelajaran tentu lebih berkualitas, apapun kurikulumnya.
Jangan sampai di sebuah sekolah terjadi “HIGH COST BUT LOW QUALITY”. Masalah selama ini adalah
model pembelajaran tersebut belum -dalam banyak hal, bahkan tidak - dilaksanakan sama sekali. Para
peserta didik, misalnya, kurang aktif, kurang inovatif, dan kurang kreatif karena mereka belajar dalam
situasi yang sangat konvensional, monoton, dan membosankan.
Lalu apa yang perlu dilakukan oleh pengajar? Miriam Kronish seorang kepala pada Elementary school
(Sekolah Dasar) John Elliot 1988 – 2002, Needham, Massachusetts, Amerika Serikat, sekolah terbaik di
Amerika mengatakan bahwa: “Masa depan pendidikan di Amerika ditentukan oleh sebuah kekuatan.
Jika saja kami punya kekuatan, kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah kami, yaitu
PELATIHAN GURU. Guru tidak hanya cukup membaca metode-metode belajar mengajar terbaru. Guru
harus dilatih, seperti halnya aktor atau penyair yang perlu berlatih. Setelah itu guru baru bisa
mengajarkannya kepada orang lain. Guru profesional adalah gelombang masa depan Amerika. (Munif
Chatib, 2011, Gurunya Manusia)