Modul Ajar Manajemen SDM Mahasiswa
Modul Ajar Manajemen SDM Mahasiswa
Penyusun:
Erwin Purwaningsih
Program Studi Administrasi Rumah Sakit
STIKES Mutiara Mahakam
Samarinda
2020
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas rahmat dan ridho nya,
sehingga penyusunan media pembelajaran ini dapat selesai tepat waktu. Modul ini
disusun dengan tujuan untuk membantu para mahasiswa untuk memahami dan
memperoleh gambaran mengenai konsep-konsep dalam materi mata kuliah
manajemen sumber daya manusia (MSDM). Pengaturan dan tata kelola aspek sumber
daya manusia menjadi salah satu aspek penting terhadap pencapaian tujuan suatu
organisasi. Oleh karena menjadi hal penting untuk mahasiswa untuk menguasai segala
aspek SDM yang ada di dunia kerja nantinya. Faktor perencanaan, pengorganisasian,
aktualisasi dan kontrol menjadi hal kunci yang harus dikuasai dari materi perkuliahan
ini
Demikian kiranya deskripsi kami selaku tim penyusun, kiranya modul ini dapat
memberi manfaat bagi para pembacanya, khususnya mahasiswa peserta perkuliahan
manajemen sumber daya manusia.
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................3
PENDAHULUAN..........................................................................................................4
MATERI 1......................................................................................................................6
Pengantar Manajemen SDM..........................................................................................6
MATERI 2....................................................................................................................12
Pengantar Manajemen SDM........................................................................................12
MATERI 3....................................................................................................................22
Perencanaan SDM Kesehatan......................................................................................22
MATERI IV.................................................................................................................31
Job Analysis dan Elemen Desain Pekerjaan.................................................................31
MATERI V...................................................................................................................43
Proses Rekrutmen.........................................................................................................43
MATERI VI.................................................................................................................46
Pengembangan Sumber Daya Manusia........................................................................46
MATERI VII................................................................................................................51
Konseling dan Karier...................................................................................................51
MATERI VIII...............................................................................................................64
Komunikasi, Produktif dan Perencanaan SDM............................................................64
MATERI IX.................................................................................................................78
Promosi dan pemindahan SDM....................................................................................78
MATERI X...................................................................................................................96
Penilaian Prestasi Kerja SDM......................................................................................96
MATERI XI...............................................................................................................110
Kompensasi, Keamanan dan Kesehatan SDM...........................................................110
MATERI XII..............................................................................................................124
Kesepakatan Kerja......................................................................................................124
MATERI XIII.............................................................................................................134
Mutu Manajemen SDM..............................................................................................134
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................138
3
PENDAHULUAN
I. Pengantar
Mata kuliah ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dan atau pembaca memahami
konsep, teori dan aplikasi praktis manajemen sumber daya manusia. Fungsi
manaemen sumber daya manusia ini penting dalam menentukan kualitas sumber daya
manusia dalam suatu perusahaan/organisasi.
4
online serta penugasan terhadap
mahasiswa
12 Penilaian Prestasi Kerja 100 menit Model Blended Learning dengan Nanda dkk, 2013
SDM metode ceramah dan diskusi
13 100 menit Model Blended Learning dengan Gary, 2009
Kompensasi, Keamanan metode ceramah dan diskusi
dan Kesehatan SDM online serta penugasan terhadap
mahasiswa
14 100 menit Model Blended Learning dengan Donal, 2007
metode ceramah dan diskusi
Kesepakatan Kerja
online serta penugasan terhadap
mahasiswa
15 100 menit Discovery Learning &Small -
Studi Kasus
Group Discusion
UAS
5
MATERI 1
3. Pengertian MSDM
a. Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah pemafaatan para individu
untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. (Mondy 2008)
6
b. Tujuan manajemen sumber daya manusia adalah meningkatkan kontribusi
produktif para karyawan bagi organisasi secara stratejik, etis, dan bertanggung
jawab sosial. (Werther & Davis 1996)
c. SDM adalah aset yang harus dikelola secara cermat dan sejalan dengan
kebutuhan organisasi. (Schuler & Jackson 2006)
7
para bawahannya, departemen SDM hanya memberikan dukungan dalam hal-
hal yang terkait dengan pengelolaan SDM.
b. Tujuan Fungsional
Menjaga kontribusi departemen SDM dalam tingkat yang layak bagi
kebutuhan-kebutuhan organisasi. Sumber-sumber daya akan terbuang
percuma jika MSDM tidak direncanakan secara optimal sesuai kebutuhan
organisasi.
c. Tujuan kemasyarakatan
Bersikap etis dan bertanggung jawab sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan
dan tantangan-tantangan masyarakat sembari meminimalkan dampak negatif
tuntutan-tuntutan tersebut bagi organisasi.
d. Tujuan personal
Membantu para karyawan mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka sejauh
tujuan-tujuan mendorong kontribusi individual bagi organisasi. Tujuan
personal para karyawan akan tercapai jika para karyawan dipelihara,
dipertahankan, dan dimotivasi. Jika tidak demikian, kinerja dan kepuasan
karyawan akan menurun dan karyawan bisa meninggalkan organisasi.
8
b. Pelayanan professional dalam mendahulukan kepentingan pasien atau klien
mengacu pada kepentingan atau nilai-nilai luhur sebagai norma kritik yang
memotivasi sikap dan tindakan.
c. Pengembanan profesi harus selalu mengacu pada masyarakat sebagai
keseluruhan.
d. Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat sehingga dapat
menjamin mutu dan peningkatan mutu pengemban profesi harus bersemangatkan
solidaritas anatar sesama rekan seprofesi.
9
Tantangan SDM Indonesia di Era MEA
Kesiapan berperan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEE) menuntut
pengembangan kualitas SDM secara formal dan informal, sehingga mahasiswa
sebagai potensi pekerja di masa datang akan memiliki kualifikasi yang lebih baik
untuk mendukung dan berpartisipasi di era MEA.
Agenda 2030 pembangunan sustainable
a. Fokus pada ekologi: SDA dan kapasitas ekologis
b. Sistem-sistem ekonomi: Fokus pada ekonomi
c. Modal sosial dan tujuan kesejahteraan: Fokus pada sosial
10
Transformasi yang dibutuhkan:
a. Evidence Based Health Policy untuk quality leveling/ continuous quality
improvement
b. Pemanfaatan data/informasi untuk keputusan-keputusan stakeholders
1) Manajemen & Layanan
2) Keberdayaan klien
3) Jejaring dan teamwork
11
MATERI 2
Contoh:
Strength: Alat laser baru , Komunitas senam lansia, Kunjungan di Klinik
Saraf/kasus stroke meningkat
Weakness: SpS dokter tamu
Opportunity: Stroke urutan ke 3, prevalensi 5%, Piramida penduduk dewasa,
Belum ada RS yang mengembangkan Unit Stroke terintegrasi
Threat: Masyarakat lebih percaya sangkal putung
12
3. Apa Kriteria Formulasi Kebijakan?
Anderson (2006, 127:137), 6 kriteria mempengaruhi suatu kebijakan tertentu:
a) nilai-nilai yang dianut baik oleh organisasi, profesi, individu, kebijakan
maupun ideologi
b) afiliasi partai politik
c) kepentingan konstituen
d) opini publik
e) penghormatan terhadap pihak lain
f) aturan kebijakan
13
f) Proses 6
Evaluasi kebijakan aktivitas: melaporkan output dari program pemerintah;
mengevaluasi dampak kebijakan kepada kelompok sasaran dan bukan sasaran;
mengusulkan Peserta: departemen dan badan; komite pengawasan kongres;
media massa; pemikir
14
c. Masyarakat memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu dan juga memperoleh jaminan kesehatan
1. Pengertian SKN
Suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara
terpadu dan saling mendukung guna menjami derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam
Pembukaan UUD 1945.
Dari rumusan pengertian di atas, jelaslah SKN tidak hanya menghimpun
upaya sektor kesehatan saja melainkan juga upaya dari berbagai sector lainnya
termasuk masyarakat dan swasta. Sesungguhnyalah keberhasilan pembangunan
kesehatan tidak ditentukan hanya oleh sektor kesehatan saja.
2. Tujuan SKN
Terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik
masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil-guna dan
15
berdaya-guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
6. Prinsip-Prinsip SKN
a. Perikemanusiaan
b. Hak Asasi Manusia
c. Adil dan Merata
d. Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat
e. Kemitraan
16
f. Pengutamaan dan Manfaat
g. Tata kepemerintahan yang baik
17
Penyediaan staf (staffing) merupakan proses untuk memastikan bahwa
organisasi memiliki jumlah karyawan yang tepat dengan berbagai
keahlian yang memadai untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang
tepat, pada waktu yang tepat, untuk mencapai tujuan organisasi.
Penyediaan staf mencakup:
1) Analisis jabatan
2) Perencanaan SDM
3) Perekrutan dan seleksi
1. Kompensasi
Kompensasi mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada karyawan
sebagai penghargaan atas jasa mereka, yang meliputi:
a. Kompensasi finansial langsung: Bayaran yang diterima dalam bentuk gaji,
upah, komisi, bonus, dsb.
[Link] finansial tidak langsung (tunjangan): Semua imbalan finansial
yang tidak termasuk dalam kompensasi langsung seperti cuti dibayar, cuti
sakit, liburan, asuransi kesehatan, dsb.
c. Kompensasi nonfinansial: Kepuasan yang diterima seseorang dari
pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau fisik di mana
orang tersebut bekerja.
18
Kedua aspek di atas penting karena para karyawan yang bekerja dalam
lingkungan yang aman dan menikmati kesehatan yang baik akan cenderung
lebih produktif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi organisasi.
19
c. Perencanaan SDM
d. Rekrutmen
e. Seleksi
7. Tugas-Tugas MSDM
a. Perencanaan Sumber Daya Manusia, rekrutmen, dan seleksi
1) Melaksanakan analisis pekerjaan untuk menentukan pekerjaan-pekerjaan
yang spesifik
2) Meramalkan sumber daya manusia yang dibutuhkan organisasi untuk
mencapai sasaran
3) Mengembangkan dan mengiplementasikan rencana untuk memenuhi
kebutuhan SDM tersebut
4) Rekrutmen Sumber Daya Manusia untuk Mencapai Sasarannya
5) Seleksi dan penempatan sumber daya manusia untuk mengisi pekerjaan
tertentu di dalam
c. Kompensasi
1) Mendesain dan mengimplementasikan sistem kompensasi untuk semua
karyawan
2) Menjamin keadilan dan konsistensi kompensasai
20
d. Karyawan dan Hubungan Perburuhan
1) Melayani sebagai perantara antara organisasi dan serikat pekerja
2) Mendesain sistem disiplin dan menangani keluhan
e. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1) Mendesain dan mengimplementasikan untuk menjamin kesehatan dan
keselatan kerja
2) Menyediakan bantuan untuk mengatasi persoalan pribadi karyawan yang
berpengaruh pada pelaksanaan kinerjanya
21
MATERI 3
22
B. Sub Materi 2: Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan
1. Perencanaan dan pemerataan nakes di fasyankes milik Pemda
a. Perencanaan dan Pemerataan Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan milik Pemerintah Daerah dilakukan terhadap Tenaga Kesehatan
dengan memperhatikan:
1). jenis;
2). jumlah; dan
3). mutu Tenaga Kesehatan.
b. Jumlah dan Jenis Nakes disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan
kesehatan dan ketersediaan fasyankes milik pemda
c. Pemerataan Tenaga Kesehatan dilaksanakan melalui redistribusi dan
distribusi
d. Redistribusi dan distribusi Tenaga Kesehatan harus dilakukan dengan
memperhatikan ketersediaan sarana dan prasarana serta jenis Tenaga
Kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan
23
f. Insentif Tenaga Kesehatan belum memadai
24
e. Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 1999 No. 60, Tambahan Lembaran Negara
No. 3839);
f. Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1996 No. 49, tambahan Lembaran Negara No.
3637);
g. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom
(Lembaran Negara Tahun 2000 No.54, Tambahan Lembaran Negara
No. 3952) ;
h. Peraturan Pemerintah No.8 tentang Perangkat Daerah;
i. Keputusan Menkes No. 850/MENKES/SK/V/2000 tentang Kebijakan
Pengembangan Tenaga Kesehatan tahun 2000 – 2010;
j. Keputusan Menkes No. 1277/MENKES/SK/XI/2001 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
k. Keputusan Menkes No. 004/MENKES/SK/I/2003 tahun 2003 tentang
Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan;
l. Keputusan Menkes No. 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang SPM bidang
kesehatan di Kabupaten/Kota.
25
b. Antrian : Jumlah antrian
Tingkat Kedatangan Rata-Rata (Arrival Rate Per Jam)
Jumlah Waktu Pelayanan / Kecepatan pelayanan (services rate)
Waktu Normal
PFD
Standar Waktu
Jumlah Kebutuhan Loket Pelayanan Pendaftaran Rawat Jalan
Jumlah Loket = Arrival Rate : Service Rate
26
c. Analisa jabatan unit rekam medis
Membuat Rincian Tugas-tugas yang dikerjakan oleh Petugas tertentu dalam
suatu unit Kerja (Mencakup Tugas Pokok Petugas maupun Tugas
Lain/Tambahan).
27
3) Dapat melihat apa nakes bekerja sudah sesuai dengan profesinya atau
tidak
4) Dapat mengidentifikasi seberapa besar beban kerja SDM Kesehatan
b. Langkah WISN
1) Menetapkan waktu kerja tersedia
2) Menetapkan unit kerja dan kategori SDM
3) Menyusun standar beban kerja
4) Menyusun standar kelonggaran
5) Perhitungan kebutuhan tenaga per unit kerja
d. Standar pekerjaan
Waktu yang diperlukan seorang anggota kategori tenaga tertentu yang
terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki motivasi yang baik untuk
melaksanakan kegiatan sesuai dengan standar profesi dan keadaan di
daerah tersebut. (untuk Standar Tugas Pokok)
28
e. Standar beban kerja
Jumlah waktu yang digunakan seseorang untuk bekerja (dalam satu
kegiatan) dalam setahun (jam/tahun) menjadi Rata2 waktu/kegiatan
f. Standar kelonggaran
Standar waktu kerja untuk tugas tambahan/ lainnya (kegiatan yang tidak
dilaporkan dalam pelaksanaan tugas pokok), Misal kegiatan : Pencatatan
dan pelaporan; Menghadiri pertemuan; Mengikuti pelatihan; Menyiapkan
pelatihan.
2
C. Sub Materi 3: Postur Anggaran
30
MATERI IV
31
3. Rekrutmen/penarikan
Rekrutmen adalah usaha mencari dan mempengaruhi tenaga kerja agar mau
melamar lowongan pekerjaan yang ada dalam suatu perusahaan.
b. Rekrutmen
1) Sumber: Internal dan eksternal
2) Dasar : Job spec dan PP
3) Metode : Tertutup dan terbuka
4) Kendala: Internal dan eksternal
32
6) Soliditas perusahaan
7) Peraturan perburuhan
8) Penawaran tenaga kerja
e. Evaluasi rekrutmen
1) Jumlah pelamar
2) Jumlah penawaran
3) Jumlah tenaga kerja yang diterima
4) Jumlah penempatan tenaga kerja yang tepat
g. Penilaian kinerja
Adalah perbandingan antara pegawai, proses bekerja dan prestasi kerja
dengan perusahaan, proses penilaian, dan standar prestasi yang kemudian
hasilnya di tentukan apakah bawah standar, sesuai standar atau di atas
standar
i. Mengelola karyawan
1) Motivasi karyawan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja
karyawan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan
33
2) Merekrut, melatih dan mengevaluasi karyawan dilakukan dengan
perekrutan karyawan yang sesuai, pelatihan karyawan yang sesuai dan
evaluasi karyawan yang sesuai, yang pada akhirnya dapat meningkatkan
kinerja perusahaan.
34
C. Sub materi 3: Perencanaan Sumber Daya Manusia
Aktivitas perencanaan untuk memuaskan kebutuhan perusahaan atas pekerja,
terdapat 3 tugas: meramalkan kebutuhan tenaga kerja, analisis pekerja dan
perekrutan.
2. Analisis Kerja
Analisis yang digunakan untuk menentukan tugas dan surat kepercayaan yang
diperlukan untuk posisi tertentu. Hasil job analisis adalah :
a) Job specification
Identifikasi berbagai keterampilan yang diperlukan, ciri atau atribut untuk
kesuksesan performance sebuah pekerjaan tertentu.
b) Job description
Uraian tugas dan tanggung jawab posisi pekerjaan (job description)
3. Perekrutan
Meliputi pencarian dan menarik individu yang berkualitas yang dapat dipilih.
a. Internal : Merekrut karyawan di dalam perusahaan
b. Eksternal : Merekrut karyawan di luar perusahaan
35
c. Kompensasi nonfinansial: Kepuasan yang diterima seseorang dari
pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau fisik di mana
orang tersebut bekerja.
3. Insentif-insentif individu
a. Bonus
Insentif kinerja perorangan dalam bentuk pembayaran khusus
b. Komisi
Kompensasi untuk mencapai target penjualan tertentu.
c. Sistem Penggajian Prestasi (Merit salary system)
Program insentif yang menghubungkan kompensasi terhadap kinerja dalam
pekerjaan nonpenjualan.
[Link] atas Kinerja (pay for performance) atau Pembayaran variabel
(variable pay). Insentif perorangan yang diberikan kepada seorang manager
terutama untuk output yang produktif
36
Program insentif untuk mendorong para karyawan mempelajari ketrampilan
baru atau menjadi ahli dalam pekerjaan yang berbeda.
5. Tunjangan/benefit
a. Kompensasi selain upah dan gaji yang ditawarkan perusahaan kepada para
karyawannya.
b. Asuransi Kompensasi pekerja (worker’s compensation insurance)
Asuransi legal untuk mengkompensasikan pekerja yang terluka sewaktu
melaksanakan pekerjaan.
c. Bentuk-bentuk tunjangan :
Pembayaran masa liburan; Kesehatan; Asuransi kesehatan; Kematian atau
gigi; Program pensiun; Perumahan, kendaraan; Pendidikan.
37
4. Desain pekerjaan
Herjanto (2001) menjelaskan bahwa desain pekerjaan adalah rincian tugas dan
cara pelaksanaan tugas atau kegiatan yang mencakup orang-orang yang
mengerjakan tugas, cara tugas itu dilaksanakan, tempat tugas itu dikerjakan dan
hasil apa yang diharapkan.
5. Analisis pekerjaan
Pengumpulan, penilaian, dan penyusunan informasi secara sistematis mengenai
tugas-tugas dalam perusahaan, yang biasanya dilakukan oleh seorang ahli
disebut job analyst. Informasi yang dikumpulkan secara lebih rinci meliputi
tugas-tugas (duties), tanggung jawab (responsibility), kemampuan manusia
(human ability), dan standar kinerja (performance standard).
8. Elemen-elemen pekerjaan
Handoko (2000) menjelaskan bahwa elemen desain pekerjaan meliputi elemen
organisasi ( pendekatan mekanik, aliran kerja dan praktik kerja), elemen
lingkungan (tersedianya tenaga kerja yang potensial), dan elemen perilaku
(otonomi, variasi tugas, identitas tugas dan umpan balik).
38
F. Sub Materi 6: Keperilakuan dan Efisiensi
Pekerjaan tidak bisa dirancang hanya dengan menggunakan elemen-elemen yang
mengarah efisiensi. Sebagai gantinya para perancang pekerjaan menggunakan riset
perilaku untuk menyediakan suatu lingkungan pekerjaan yang membantu
mencukupi kebutuhan individu. Efisiensi merupakan perbandingan antara keluaran
dengan pemasukan. Unsur-unsur efisiensi akan membentuk spesialisasi yang tinggi,
mengurangi perbedaan atau variasi, meminimumkan otonomi dan unsur-unsur
kontradiktif lainnya.
39
4. Teknik rancang pekerjaan kelompok dan individu
40
c. Menghilangkan persyaratan kerja yang menyebabkan diskriminasi
pekerjaan individual
d. Merencanakan kebutuhan pengadaan sumber daya manusia untuk waktu
yang akan datang
e. Memadukan lamaran-lamaran dengan kualifikasi yang ada
f. Meramalkan dan menentukan kebutuhan bagi karyawan baru dan lama,
serta mengembangkan karyawan yang potensial
g. Menetapkan standar prestasi kerja yang realistis
h. Menetapkan karyawan sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya
i. Membantu revisi struktur organisasi dan memperbaiki aliran kerja Orientasi
karyawan
Gambar 4.6 Sejumlah informasi yang akan didapat dari hasil analisis pekerjaan
41
Gambar 4.7 Model Karakteristik Pekerjaan dari Motivasi Kerja
42
MATERI V
Proses Rekrutmen
3. Perekrutan
43
a. Hakekat rekrutmen adalah suatu proses menentukan dan menarik pelamar
yang mampu untuk bekerja dalam suatu perusahaan.
b. Proses rekrutmen dimulainya para pelamar dicari dan berakhir ketika
lamaran mereka diserahkandikumpulkan
c. Hasil rekrutmen : sekumpulan pelamar calon karyawan baru untuk diseleksi
dan dipilih.
4. Tujuan perekrutan
Menerima pelamar sebanyak-banyaknya sesuai dengan kualifikasi kebutuhan
perusahaan dari berbagai sumber, sehingga memeungkinkan akan terjaring
calon karyawan dengan kualitas tertinggi dari yang terbaik.
44
d. Recruiting Methodes
1) Internal methods
2) Internet/Web-based
3) External methods
7. Sumber rekrutmen
a. Sumber Internal (Rencana suksesi; Job Posting; Perbantuan pekerja;
Keluarga pekerja; Promosi & pemindahan)
Keuntungan:
Tidak terlalu mahal; Dapat memelihara loyalitas dan mendorong usaha
yang jelas; Sudah terbiasa dengan suasana perusahaan sendiri
Kelemahan
Pembatasan terhadap bakat-bakat; Mengurangi peluang; Dapat
meningkatkan perasaan puas diri
45
MATERI VI
46
c. Pengembangan (Development)
Meliputi pemberian kesempatan belajar yang betujuan untuk
mengembangkan individu, tetapi tidak dibatasi pada pekerjaan tertentu pada
saat ini atau pada masa yang akan datang
Wexley, 1991
Dengan kata lain, melalui peningkatan kemampuan dan unjuk kerja individu
dan kelompok, program pelatihan pada gilirannya diharapkan dapat
meningkatkan unjuk kerja organisasi.
47
c. Pemilihan metoda
d. Pemilihan media
e. Implementasi program
f. Evaluasi program
7. Analisis Organisasi
Analisis organisasi mencakup pengkajian terhadap lingkungan eksternal
tempat organisasi beroperasi, tujuan organisasi, sumber daya manusia dan
iklim organisasi. Melalui analisis ini dapat ditentukan dibagian mana kegiatan
pelatihan dan pengembangan harus diselenggarakan (apakah dibutuhkan?)
dan layak diselenggarakan (apakah berhasil?)
Jika jawaban terhadap di mana dan mengapa program pengembangan
sudah ditemukan, maka selanjutnya perlu ditentukan rancangan atau isi
program itu sendiri. Ini dilakukan melalui analisis terhadap tugas.
Analisis tugas dilakukan dengan cara:
a. Mengidentifikasi tugas-tugas dalam jabatan yang akan dirancang
program pelatihannya
b. Mengidentifikasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
diperlukan untuk melakukan tugas-tugas tersebut dengan sebaik-baiknya
48
Analisis lain yang dilakukan dalam identifikasi kebutuhan adalah analsis
terhadap orang (person analysis) yang berfokus pada pekerja secara
individual
Analisis ini akan menjawab pertanyaan:
a. Siapa yang memerlukan pelatihan dan apa jenis pelatihannya?
[Link] yang perlu dilatih dapat diketahui antara lain dengan melakukan
penilaian unjuk kerja
Jika prestasi seseorang di bawah standar, diperlukan analisis lanjutan
untuk mengidentifikasikan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang
dibutuhkannya untuk melakukan tugas-tugas secara baik.
49
9. Evaluasi pelatihan dan pengembangan
Pelatihan harus di evaluasi dengan mendokumentasikan atau mencatat secara
sistematis hasil-hasil pelatihan. Bagaimana perilaku peserta sesudah mereka
kembali bekerja dan relevan tidaknya perilaku peserta dengan tujuan organisasi.
Untuk mengetahui manfaat atau nilai pelatihan, kita harus menjawab empat
pertanyaan berikut:
a. Apakah terjasi perubahan sesudah pelatihan?
b. Apakah perubahan itu terjadi karena program pelatihan?
c. Apakah perubahan itu mempunyai korelasi positif dengan pencapaian tujuan-
tujuan organisasi?
d. Apakah perubahan yang sama akan dialami pula oleh peserta baru yang
mendapatprogram pelatihan yang sama?
50
MATERI VII
51
b. Fungsi Penyaluran
c. Fungsi Adaptasi
d. Fungsi Penyesuaian
e. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
52
catatan-catatan singkat hasil pembicaraan konseling, memberikan tugas-
tugas tertentu kepada klien yang relevan dengan pokok pembicaraan
apabila diperlukan.
53
jenjang karier yang tepat, pada akhirnya tanggung jawab kemajuan karier
karayawan akan terpulang pada karyawan itu sendiri. Kendati demikian, lebih
banyak perusahaan yang terus maju dan menganggap bantuan perencanaan
karier sebagai cara untuk membantu memastikan pemasokan yang memadai
bakat internal.
54
Dengan perencanaan karier para karyawan dapat menetapkan tujuan
kariernya, di mana hal ini akan mendorongnya untuk meraih jenjang pendidikan
lebih lanjut serta pelatihan dan kegitan pengembangan lainnya sehingga akan
menambah jumlah kualifikasi pelamar internal dan dengan demikian formasi
pekerjaan dapat dipenuhi secara internal, tidakperlu merekrut pelamar dari luar.
5. Perencanaan karier
a. Kebutuhan dan kesempatan karyawan dan perusahaan dapat disesuaikan
dengan berbagai cara.
55
b. Pendekatan yang paling sering digunakan adalah konseling karier oleh
karyawan dengan penyelia. Sedangkan pendekatan formal jarang
digunakan, seperti workshop, seminar, dan pusat-pusat pengembangan
diri.
c. Konseling karier yang dilakukan oleh penyelia umumnya termasuk pula
evaluasi kinerja.
7. Dukungan perusahaan
Untuk dapat terwujudnya manfaat perencanaan karier perusahaan harus
mendukung melalui:
a. Pendidikan karier
b. Informasi tentang Perencanaan karier
c. Konseling karier
d. Bimbingan karier:
1) Penilaian karier diri sendiri oleh karyawan
2) Penilaian terhadap lingkungan
56
8. Pola karier
a. Hasil dari perencanaan karier adalah penempatan SDM pada bidang tugas
yang merupakan bagian awal dari rangkaian suatu pekerjaan.
b. Dari perspektif perusahaan, pola karier merupakan perencanaan yang
penting di bidang SDM.
c. Pola karier didefinisikan sebagai bagian dari pekerjaan yang membentuk
karier individu.
9. Pengembangan karier
a. Pengembangan karier Individu
1) Prestasi Kerja (job Performance)
2) Eksposur (exposure)
3) Jaringan Kerja (net working)
4) Pengunduran Diri (resignations)
5) Kesetiaan terhadap organisasi (organizational loyality)
6) Pembimbing dan sponsor (mentors sponsors)
7) Bawahan yang mempunyai peranan kunci (key subordinatess)
8) Peluang untuk tumbuh (growth opportunies)
9) Pengalaman Internasional (international experience)
b. Pengembangan Karier yang didukung oleh Departemen SDM
c. Peran Pimpinan Dalam Pengembangan Karier
d. Peran Umpan Balik terhadap Pengembangan Karier
1) Untuk menjamin bahwa karyawan yang gagal menduduki suatu posisi
dalam rangka pengembangan kariernya masih tetap berharga dan akan
dipertimbangkan lagi untuk promosi diwaktu mendatang bila mereka
memenuhi syarat
2) Untuk menjelakan kepada karyawan yang gagal kenapa mereka tidak
terpilih
3) Untuk mengidentifikasi apa tinakan-tindakan pengembangan karier
spesifik yang harus mereka laksanakan
57
10. Pilihan pengembangan karier
Pengembangan karir itu sendiri mempunyai arah atau jalur-jalur serta
pilihan yang akan memberikan kepada setiap karyawan untuk
mengembangkan karirnya sepanjang arah itu mencerminkan tujuan dan
kemapuannya. Pilihan arah yang ingin dikembangkan merupakan kesempatan
yang baik bagi karyawan itu sendiri di manapun dan kapanpun. Pilihan arah
atau jalur pengembangan karier meliputi.
a. Enrichment
b. Lateral
c. Vertical
d. Relocation
e. Exploration
f. Realignment
Yaitu pergerakan kearah bawah yang mungkin dapat merfleksikan sesuatu
peralihan atau pertukaran prioritaspekerjaan bagi karyawan untuk mengurangi
resiko, tanggung jawab, dan stress, menempatkan posisi karyawan tersebut
kearah yang lebih tepat yang sekaligus sebagai kesempatan atau peluang yang
baru.
58
Penjelasan gambar 7.1
a. Fase Awal pembentukan, menekankan pada perhatian untuk memperoleh
jaminan terpenuhinya kebutuhan dalam tahun-tahun awal pekerjaan
b. Fase Lanjutan , dimana pertimbangan jaminan keamanan sudah mulai
berkurang, namun lebih menitik beratkan pada pencapaian, harga diri dan
kebebasan
c. Fase Mempertahankan, pada fase ini individu mempertahankan pencapaian
keuntungan atau manfaat yang telah diraihnya sebagai hasil pekerjaan
dimasa lalu
d. Fase Pensiun, pada fase ini Individu talah menyelesaikan satu karier, dan ia
akan berpindah ke karier yang lain.
59
Gambar 7.2 Hubungan perencanaan dan pengembangan karier
60
14. Pendekatan Diagnotik Untuk Perencanaan Dan Pengembangan Karier
Pada pendekatan diagnotik, perencanaan dan pengembangan karier
dipengaruhi oleh dua faktor penting, yaitu:
a. Pengaruh lingkungan eksternal, antara lain:
1). Peraturan perudang-undangan dan persyaratan yang dikeluarkan oleh
pemerintah
2). Serikat pekerja
3). Kondisi ekonomi
4). Tingkat kompetisi
5). Komposisi angkatan kerja
6). Lokasi organisasi
[Link] lingkungan internal antara lain:
1). Strategi Perusahaan
2). Tujuan Perusahaan
3). Budaya Perusahaan
4). Sifat Pekerjaan
5). Gaya kepemimpinan dan pengalaman
Karier individu umumnya berjalan melalui tahap-tahap tertentu.
Masing-masing tahap mungkin dipengaruhi oleh sikap, motivasi, sifat
karyawan, kondisi ekonomi, dan lain-lain
61
salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat/sesuai dengan yang
Anda alami, Anda ketahui, dan Anda yakini dengan memberikan
lingkaran pada salah satu jawaban pilihan Anda.
2) Instrumen ini semata-mata untuk tujuan penelitian, sehingga Anda tidak
perlu mencantumkan nama ataupun identitas lainnya
3) Apapun jawaban Anda, akan dijamin kerahasiannya
4) Apapun jawaban Anda, akan membantu kami dalam upaya untuk lebih
meningkatkan kualitas pengelolaan pelatihan (Diklat)
5) Apa bila Anda ingin mengubah pilihan yang telah Anda tandai, berilah
tanda silang (X) pada pilihan lama, dan kemudian berikan lagi lingkaran
pada pilihan baru.
62
18. Mendesain program pengembangan karier
Desain program pengembangan karier ini akan membantu para manajer dalam
membuat keputusan yang kreatif mengenai pengembangan karier para
[Link] itu perlu dibedakan atas tiga fase dalam mendesain program
pengembangan karier yang terdiri dari:
a. .Fase perencanaan
b. .Fase pengarahan
1) .Pengaranan dengan menyelenggarakan konseling karier.
2) Perbedaan dengan menyelenggarakan playanan informasiyang mencakup
kegiatan sebagai berikut:
a) Sistem pemberitaan pekerjaan sasaran terbuka.
b) Menyediakan informasi inventarisasikemapuan pekerja, yang dapat dan
boleh diketahui oleh masing-masing pekerja.
c) Informasi tentang alirankarier berupa chart yang menunjukan
kemungkinan arah dan kesempatan yang tersedia di dalam organisasi.
d) Selenggarakan pusat sumber pengembangan karier merupakan
himpunan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan jabatan,
dan lain-lain.
c. Fase pengembangan
Fase ini adalah tenggang waktu yang diperlukan pekerja untuk memenuhi
persyaratan yang memungkinkannya melakukan gerak dari suatu posisi ke
posisi lain yang menginginkanya. Kgiatan-kegitan yang dapat dilakukan
antara lain.
1) .Menyelenggarakan system mentor
2) Pelatihan
3).Rotasi jabatan
4) Program beasisiwa/ ikatan dinas
63
MATERI VIII
2. Komunikasi Organisasi
Organisasi harus menyadari bahwa salah satu kunci penting tercapainya tujuan
tergantung pada kemampuan pegawai dan pimpinan dalam melakukan
komunikasi. Komunikasi menjadi titik penting karena segala proses
perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat dijalankan dengan baik
tanpa adanya komunikasi yang baik.
Terdapat tujuh konsep kunci dari komunikasi organisasi sebagaimana
dikemukakan oleh Muhammad (2002:67), yaitu:
a. Proses
b. Pesan
c. Jaringan
d. Keadaan Saling Tergantung
e. Hubungan
f. Lingkungan
g. Ketidakpastian
3. Pembagian komunikasi
Beberapa bentuk komunikasi organisasi menurut Athoillah (2010:219) adalah
sebagai berikut:
a. Dari segi lawannya dapat dibedakan menjadi :
64
1) Komunikasi satu lawan satu
2) Komunikasi satu lawan banyak
3) Komunikasi banyak lawan atau kelompok lawan satu
4) Komunikasi kelompok lawan kelompok
b. Dari segi arahnya, dapatdibedakan :
1) Komunikasi ke atas
2) Komunikasi kebawah
3) Komunikasi diagonal keatas
4) Komunikasi horizontal
c. Dari segi sifatnya dibagi :
1) Komunikasi Verbal
2) Komunikasi Non Verbal
65
6. Upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam organisasi.
7. Semangat kerja mereka dan
sebagainya. Komunikasi Kesehatan.
Dibutuhkan Karena:
1. Gerakan untuk melokalisir para penderita penyakit menular ke suatu tempat
tertutup yang terpisah dari masyarakat umum agar penyakit tersebut tidak
menular
2. Yakni gerakan pendidikan yang bertujuan mengajarkan ilmu pengetahuan
tentang kebersihan kepada masyarakat agar supaya lebih peduli terhadap
kebersihan lingkungan. Yang hasilnya dapat menjauhkan dari sumber penyakit
atau mencegah tubuh terinfeksi atau tertular dari penyakit yang lain
3. Merupakan gerakan yang mendorong setiap individu melakukan pengawasan
terhadap kontak antara tubuh ditempat tempat [Link] ini umumnya
dipelopori oleh pemerintah melalui regulasi mengenai perlindungan kesehatan
dari waktu ke waktu
4. Gerakan ini memperkenalkan konsep baru dalam bidang kesehatan masyarakat.
Misalnya dengan memperluas agenda kerja maupun ke sasaran masyarakat
umum. Misalnya politik hijau,kesehatan kota,kesehatan sanitasi dllPerhatian
dunia pada komunikasi kesehatanTahun 1978
66
Merupakan hubungan konseptual antara komunikasi dan kesehatan.
Komunikasi kesehatan adalah studi yang mempelajari bagaimana cara
menggunakan strategi komunikasi untuk menyebarluaskan informasi kesehatan
yang mempengaruhi individu dan komunitas agar mereka dapat membuat
keputusan yang tepat dengan pengelolaan kesehatan. Studi yang menekankan
peranan teori komunikasi yang dapat di gunakan dalam penelitian dan praktik
yang berkaitan dengan promosi kesehatan
2. Pendidikan kesehatan
Yakni suatu pendekatan yang menekankan pada usaha mengubah perilaku
kesehatan secara luas agar mereka mempunyai kepekaan terhadap masalah
kesehatan
67
D. Sub Materi 4: pengawasan sumber daya manusia
Mempunyai beberapa fungsi yang penting dalam meningkatkan produktivitas
karyawan, yaitu:
1. Mencegah terjadinya penyimpangan atau kesalahan
2. Memperbaiki berbagai penyimpangan atau kesalahan yang terjadi
3. Dapat membuat setiap bagian dalam perusahaan selalu dinamis dan terarah
untuk mencapai tujuannya
4. Mempertebal rasa tanggung jawab karyawan
68
F. Sub Materi 6: Pengertian Perencanaan SDM
Perencanaan SDM merupakan proses perencanaan sistematis untuk
memaksimalkan sumber daya manusia sebagai aset utama perusahaan. Tujuan dari
perencanaan SDM ini adalah untuk memastikan kesesuaian antara tenaga kerja
dan pekerjaan, baik dari segi jumlah maupun kualitas yang dibutuhkan. Proses ini
didasari oleh supply dan demand dalam konteks SDM perusahaan.
69
d. Strategi dan implementasi pencarian SDM
Setelah mengetahui kekurangan yang dibutuhkan dari evaluasi supply dan
demand SDM, HR bisa mengembangkan strategi berdasarkan perkiraan
permintaan SDM yang sudah dibuat. Strategi yang dibuat tentunya harus bisa
memberikan solusi bagi kekurangan masalah SDM di perusahaan. HR bisa
melakukan relokasi, rekrutmen, outsourcing, pelatihan, manajemen SDM,
hingga melakukan perubahan kebijakan terkait SDM.
70
Gambar 8.2 Model proses manajemen stratejik
71
Gambar 8.4 Strategi dan dasar proses manajemen SDM
72
Gambar 8.6 Analisis pekerjaan
73
Gambar 8.8 Proses seleksi
74
Gambar 8.10 Pelatihan dibanding pengembangan
75
Gambar 8.12 Komponen penghargaan keseluruhan
76
Gambar 8.14 Penyebab dari kepuasan kerja
77
MATERI IX
1. Perencanaan Karier
Perencanaan tentang kemungkinan-kemungkinan bagi seorang karyawan
dan anggota suatu organisasi sebagai individu untuk meniti proses kenaikan
78
pangkat dan jabatan sesuai persyaratan jabatan dan kemampuannya. Tidak
harus dikonsentrasikan hanya pada peluang kenaikan jabatan, jika memang
pada lingkungan kerja saat ini peluang tersebut sangat terbatas. Karakteristik
dan kriteria pengelolaan karier dirancang berdasarkan pengembangan struktur
organisasi sebab jalur karier ditentukan berdasarkan rentang struktur organisasi
yang tersedia dalam organisasi. Persyaratan untuk duduk pada posisi tertentu
sangat ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki karyawan yang akan
menduduki jabatan tersebut..
79
a. Kecakapan-kecakapan apakah yang sudah saya miliki, dan apakah
kemungkinan-kemungkinannya untuk mengembangkan atau untuk
mempelajari hal-hal yang baru?
b. Apakah sesungguhnya yang saya butuhkan untuk saya sendiri sepanjang
mengenai pekerjaan?
c. Kemampuan dan kecakapan saya sekarang yang mana yang dapat saya
berikan?
d. Apakah yang sesungguhnya diperlukan untuk
pekerjaan-pekerjaan/jabatan-jabatan tertentu?
e. Latihan apakah yang diperlukan apabila saya memilih mengejar tujuan
karir tertentu?
6. Pengembangan karier
Suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan-peningkatan status
seseorang dalam suatu organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam
organisasi yang bersangkutan. Bagaimanapun juga pengembangan karir masing-
masing anggota dalam suatu organisasi tentunya tidak sama (bersifat unik).
80
5) MENTOR DAN SPONSOR, umumnya adalah atasan langsung, yang
memberikan bimbingan karir secara informal dan memberikan kesempatan-
kesempatan karir dalam bentuk promosi dan nominasi untuk suatu jabatan.
6) KESEMPATAN UNTUK TUMBUH, yang dapat dicapai melalui
peningkatan kemampuan karyawan, salah satunya melalui PROGRAM
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
8. Jalur karier :
4 jalur karier yang biasa digunakan oleh organisasi:
a. Jalur karier tradisional,
Suatu tipe jalur karier di mana karyawan mengalami kemajuan secara vertikal
ke atas di dalam suatu organisasi dan suatu jabatan tertentu ke jabatan
berikutnya.
b. Jalur karier jaringan,
Jalur karier yang meliputi urutan urutan (sekuensi) jabatan secara vertikal dan
horizontal. Mengakui adanya saling pertukaran pengalaman pada level
tertentu dan kebutuhan pengalaman yang luas pada suatu level sebelum
promosi ke level yang lebih tinggi.
c. Jalur karier lateral,
Jalur karier yang memungkinkan seseorang memperoleh revitalisasi dan
menemukan tantangan baru pada jenjang posisi yang sama karena jumlah
jabatan yang akan ditempati sangat terbatas. Dalam hal ini tidak ada promosi
dan kenaikan upah, namun nilai seseorang menjadi lebih tinggi dengan
ditempatkannya pada posisi yang lebih menantang
d. Jalur karier rangkap.
81
Jalur karir ganda yang diberikan kepada seseorang karena pengetahuan
teknisnya sebagai penghargaan kepadanya. Hal ini biasanya terjadi pada
perusahaan berteknologi tinggi dan karyawan tersebut tidak masuk dalam
jajaran manajemen struktural.
9. Sasaran karier
Posisi di waktu yang akan datang di mana seseorang harus “berjuang” untuk
mencapainya sebagai bagian dari jenjang karirnya. Titik sentral yang
memungkinkan seseorang meniti suatu jalur karir pada dasarnya terletak pada dua
hal utama:
a. Kemampuan intelektual
b. Kepribadian dalam kepemimpinan
82
system) atas usaha dan prestasinya di masa lampau. Promosi dapat terjadi tidak
hanya bagi mereka yang menduduki jabatan manajerial, akan tetapi juga bagi
mereka yang pekerjaannya bersifat teknikal dan non-manajerial.
1. Tujuan Promosi
Menurut Sastrohadiwirjoyo (2002:261), tujuan promosi yaitu :
a. Meningkatnya Moral Kerja
Promosi merupakan salah satu faktor dominan yang dapat dilakukan
perusahaan demi terwujudnya tujuan peningkatan moral kerja karyawan.
b. Meningkatnya Disiplin Kerja
c. Terwujudnya Iklim Organisasi yang Menggairahkan
d. Meningkatnya Produktivitas Kerja
2. Dasar-dasar promosi
Menurut Siagian (2005:170), organisasi pada umumnya menggunakan dua
dasar utama dalam mempertimbangkan seseorang untuk dipromosikan yaitu:
1. Prestasi kerja
Promosi yang didasarkan pada prestasi kerja menggunakan hasil penilaian
atas hasil karya yang sangat baik. Dengan demikian promosi tersebut
dapatdipandang sebagai penghargaan organisasi atas prestasi kerja
anggotanya.
2. Senioritas
Promosi berdasarkan senioritas berarti bahwa pegawai yang paling berhak
dipromosikan ialah yang masa kerjanya paling [Link] organisasi
menempuh cara ini dengan tiga poin pertimbangan yaitu :
a. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa seseorang paling sedikit dilihat dari
segi loyalitas kepada organisasi.
b. Penilaian biasanya bersifat obyektif karena cukup dengan
membandingkan masa kerja orang-orang tertentu yang dipertimbangkan
untuk dipromosikan.
c. Mendorong organisasi mengembangkan para pegawainya karena pegawai
yang paling lama berkarya akhirnya mendapat promosi.
83
3. Azas-Azas Promosi Karyawan/Pegawai
Azas-azas promosi jabatan menurut Hasibuan (2002:108), yaitu :
a. Kepercayaan
Promosi hendaknya berazaskan pada kepercayaan atau keyakinan mengenai
kejujuran, kemampuan dan kecakapan karyawan/pegawai yang bersangkutan
baik pada jabatan tersebut.
b. Keadilan
Promosi jabatan berazaskan keadilan terhadap penilaian kejujuran, kemampuan
dan kecakapan karyawan. Penilaian harus jujur dan obyektif tidak pilih kasih
atau like and dislike.
c. Formasi
Promosi harus berdasarkan formasi yang ada. Karena promosi
karyawan/pegawai hanya mungkin dilakukan jika ada formasi jabatan yang
lowong. Untuk itu harus ada uraian pekerjaan/jabatan yang akan dilaksanakan
karyawan/pegawai.
84
5. Syarat-syarat promosi
Persyaratan promosi untuk setiap perusahaan tidak selalu sama tergantung
kepada perusahaan/lembaga masing-masing. Menurut Handoko (1999) syarat-
syarat promosi pada umunya sebagai berikut.
1. Kejujuran 6. Loyalitas
[Link] 7. Kepemimpinan
3. Prestasi kerja 8. Komunikatif
4. Kerjasama 9. Pendidikan
5. Kecakapan
85
Menduduki jabatan struktural dan pangkatnya telah mencapai jenjang pangkat
terendah yang ditentukan untuk jabatan itu; atau sedang tugas belajar dan
sebelumnya menduduki jabatan struktural/fungsional tertentu;
2) Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir;
3) Setiap unsur DP-3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun
terakhir; dan
4) Tidak melampaui pangkat atasan langsungnya.
8. Promosi Jabatan
Handoko (2004 : 47) menjelaskan bahwa promosi jabatan pada umumnya dapat
memberikan motivasi yang positif terhadap karyawan dalam bekerja, beberapa
dampak positf tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Tingkat kedisiplinan tinggi
b. Meningkatnya semangat kerja karyawan
c. Motivasi tinggi
d. Tingkat absensi menurun
e. Kinerja karyawan meningkat
86
Melalui penilaian prestasi kerja akan diketahui seberapa baik Ia telah
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, sehingga perusahaan dapat
menetapkan balas jasa yang sepantasnya atas prestasi kerja tersebut. Penilaian prestasi
kerja juga dapat digunakan perusahaan untuk mengetahui kekurangan dan potensi
seorang karyawan.
87
dilakukan untuk menghindari kejenuhan karyawan atau pegawai pada rutinitas
pekerjaan yang terkadang membosankan serta memiliki fungsi tujuan lain supaya
seseorang dapat menguasai dan mendalami pekerjaan lain di bidang yang berbeda
pada suatu perusahaan. Transfer terkadang dapat dijadikan sebagai tahapan awal atau
batu loncatan untuk mendapatkan promosi di waktu mendatang. Hakekatnya mutasi
adalah bentuk perhatian pimpinan terhadap bawahan.
1. Prinsip Mutasi
Prinsip mutasi adalah Memutasikan karyawan kepada posisi yang tepat dan
pekerjaan yang sesuai atau “ The right man in the right place “, agar semangat dan
produktifitas kerjanya meningkat (Hasibuan 2005:102). Kemudian prinsip mutasi
berdasarkan PP No. 100 Tahun 2000 sama dengan prinsip dalam promosi jabatan
yaitu berdasarkanprinsip profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja,
dan jenjang pangkatyang ditetapkanuntuk jabatan itu serta syarat obyektif lainnya
tanpa membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras, atau golongan.
2. Tujuan mutasi
Tujuan mutasi menurut Mudjiono (2000) adalah sebagai berikut :
a) Meningkatkan poduktivitas kayawan.
b) Menciptakan keseimbangan anatar tenaga kerja dengan komposisi pekejaan atau
jabatan.
c) Memperluas atau menambah pengetahuan karyawan.
d) Menghilangkan rasa bosan/jenuh tehadap pekerjaannya.
e) Memberikan perangsang agar karyawan mau berupaya meningkatkan karir yang
lebih tinggi.
f) Alat pendorong agar spirit kerja meningkat melalui pesaingan terbuka.
g) Menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi fisik karyawan.
88
f. Persiapan untuk menghadapi tugas baru, misalnya karena promosi
g. Motivasi dan kepuasan kja yang lebih tinggi berkat tantangan dan situasi baru
yang dihadapi
4. Dasar-Dasar Mutasi
Ada tiga dasar/landasan pelaksanaan mutasi karyawan yang kita kenal merit system,
seniority system, dan spoiled system (Hasibuan 102-103)
a. Merit system
Merit system adalah mutasi karyawan yang didasarkan atas landasanyangbersifat
ilmiah, objektif, dan hasil prestasi kerjanya. Merit sistem atau career system ini
merupakan dasar mutasi yang baik karena:
1) Output dan produktifitas kerja meningkat;
2) Semangat kerja meningkat;
3) Jumlah kasalahan yang diperbuat menurun;
4) Absensi dan disiplin karyawan membaik;
5) Jumlah kecelakaan akan menurun.
b. Seniority system
Seniority system adalah mutasi yang didasarkan atas landasan masa kerja, usia, dan
pengalaman kerja dari karyawan bersangkutan. Sistem mutasi seperti ini tidak
objektif karena kecakapan orang yamg dimutasikan berdasarkan senioritas belum
tentu mampu memangku jabatan baru.
c. Spoil system
Spoil system adalah mutasi yang didasarkan atas landasan kekeluargaan. Sistem
mutasi seperti ini kurang baik karena didasarkan atas pertimbangan suka atau tidak
suka (like or dislike).
5. Jenis-Jenis Mutasi
Jenis mutasi menurut Endang (2010:87) adalah
a. Ditinjau dari tempat kerja karyawan
1) Mutasi antarurusan
2) Mutasi antarseksi
3) Mutasi antarbagian
89
4) Mutasi antarbiro
5) Mutasi antarinstansi
90
b. Pengaruh senioritas
c. Soal etis (etika)
d. Kesulitan menetapkan standar-standar sebagai kriteria untuk pelaksanaan
10. Beberapa tips yang perlu dilakukan oleh organisasi yang dalam hal ini
divisi/departemen atau direktorat dalam melaksanakan proses mutasi dan atau
rotasi di kalangan karyawannya:
[Link] penting baik mutasi maupun rotasi, keduanya harus merupakan bagian
integral dari sistem keorganisasian. Harus didasarkan pada perencanaan
strategis, kriteria dan indikator yang terukur, dan prospektif pada
pengembangan SDM serta karir. Karena itu sebelum perusahaan melakukan
proses mutasi dan rotasi maka diperlukan pemetaan potensi, performa dan
91
perilaku karyawan di semua unit. Dalam pelaksanaannya harus menggunakan
prosedur operasi standar.
[Link] tidaknya ada mutasi dan rotasi dengan segala persyaratannya merupakan
kebijakan pimpinan puncak organisasi setelah melalui rapat-rapat pimpinan
dan rapat di lini terbawah. Namun demikian siapa-siapa yang terkena mutasi
dan rotasi sebaiknya diusulkan oleh pimpinan unit divisi kepada pimpinan
puncak setelah ada usul dari setiap manajer. Karena manajerlah yang paling
tahu perkembangan karyawannya dan kondisi unitnya. Direktorat atau
depertemen atau divisi SDM hanyalah pelaksana kebijakan pimpinan puncak
organisasi; dengan kata lain tidak terlibat praktis dan langsung menentukan
orang-orang atau jabatan yang dimutasi dan dirotasi.
[Link] dan rotasi janganlah terlalu didasarkan pada pragmatisme seperti demi
penyegaran karyawan. Kalau seperti itu tidak perlu dilakukan mutasi dan rotasi
besar-besaran. Asalkan pihak manajer selalu mengembangkan suasana belajar
dan hubungan kemitraan kerja sesama karyawan dan atasan yang efektif maka
kejenuhan tidak akan terjadi atau kalau toh ada tetapi relatif kecil.
[Link] memutuskan perlunya mutasi dan atau rotasi karyawan untuk seluruh
unit yang memiliki lingkup dan beban kerja yang sama jangan main pukul rata.
Lho kok begitu? Karena kinerja masing-masing unit, potensi SDM, dan
lingkungan kerjanya cenderung beragam. Kalau pendekatannya dengan asumsi
semua konsidi unit seragam akan menimbulkan kontra produktif. Jadi prioritas
adanya mutasi dan rotasi hendaknya pimpinan unit yang kinerjanya cenderung
di bawah atau rata-rata organisasi. Atau bisa dilakukan mutasi kalau ada
karyawan yang memang sudah tepat memeroleh promosi dalam rangka
kenaikkan jenjang karir. Atau mutasi dilakukan dalam rangka demosi
karyawan.
[Link] melakukan persiapan yang matang dan semua pimpinan unit bersetuju
barulah dilakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan yang akan mutasi dan
rotasi. Sejauh mungkin dilakukan pelatihan atau penyegaran yang intinya
adalah bagaimana melakukan orientasi kerja pada lingkungan kerja baru,
pengembangan dinamika kelompok, dan tentang budaya kerja.
92
tersebut harus dilakukan melalui menu “Employee Transfer” agar dapat ditentukan
effective date perubahan serta tercatat sejarahnya pada sistem di bagian History
karyawan.
93
Pecat atau pemecatan pada umumnya dihindari oleh perusahaan karena
memiliki biaya yang cukup besar pada jangka panjang untuk membayar pesangon,
gaji, asuransi, beban psikologis dan lain sebagainya.
94
Berhubungan dengan interaksi sosial atar sesama pekerja, pekerja dengan atasan,
maupun masyarakat
c. Faktor fisik
Berhubungan dengan kodisi fisik lingkungan kerja seperti jenis kerja, keadaan
ruangan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja dan peralatan
keselamatan kerja
d. Faktor finansial
Meliputi besarnya upah dan sistem penggajian, jaminan sosial, macam-macam
tunjangan dan fasilitas yang diberikan
95
MATERI X
96
2) Individu yang dinilai tinggi dapat mendominasi penilaian
c. Penilaian oleh kelompok staf: atasan meminta satu atau ebih individu untuk
bermusyawarah dengannya; atasan langsung yang membuat keputusan akhir.
d. Penilaian gabungan yang masuk akal dan wajar.
e. Penilaian melalui keputusan komite: sama seperti pada pola sebelumnya kecuali
bahwa manajer yang bertanggung jawab tidak lagi mengambil keputusan akhir;
hasilnya didasarkan pada pilihan mayoritas.
1) Memperluas pertimbangan yang ekstrim.
2) Memperlemah integritas manajer yang bertanggung jawab.
f. Penilaian berdasarkan peninjauan lapangan: sama seperti pada kelompok staf,
namun melibatkan wakil dari pimpinan pengembangan atau departemen SDM
yang bertindak sebagai peninjau yang independen. Membawa satu pikiran yang
tetap ke dalam satu penilaian lintas sektor yang besar.
g. Penilaian oleh bawahan dan sejawat.
1). Mungkin terlalu subjektif.
2). Mungkin digunakan sebagai tambahan pada metode penilaian yang lain.
97
7)Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk
memperbaiki desain pekerjaan, lingkungan kerja, dan rencana karier
selanjutnya.
8) Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan/efektivitas.
9) Sebagai salah satu sumber informasi untuk perencanaan SDM, karier dan
keputusan perencanaan suksesi.
10) Membantu menempatakan karyawan dengan pekerjaan yang sesuai untuk
mencapai hasil yang baik secara menyeluruh.
11) Sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan gaji-upah-insentif-kompensasi dan berbagai imbalan lainnya.
12) Sebagai penyaluran keluhan yang berkaitan dengan masalah pribadi
maupun pekerjaan.
13) Sebagai alat untuk menjaga tingkat kinerja.
14) Sebagai alat untuk membantu dan mendorong karyawan untuk mengambil
inisiatif dalam rangka memperbaiki kinerja.
15) Untuk mengetahui efektivitas kebijakan SDM, seperti seleksi, rekrutmen,
pelatihan dan analisis pekerjaan sebagai komponen yang saling
ketergantungan di antara fungsi-fungsi SDM.
16) Mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan-hambatan agar kinerja
menjadi baik.
17) Mengembangkan dan menetapkan kompensasi pekerjaan.
18) Pemutusan hubungan kerja, pemberian sanksi ataupun hadiah.
98
f. Melalui penilaian kinerja, terdeteksi karyawan yang kemapuannya rendah
sehingga memungkinkan adanya program pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan mereka.
99
h. Pelatihan
i. Keberuntungan
10
3). Dengan bantuan departemen SDM menemukan dan menggunakan teknik
penilaian yang dipandang paling tepat, baik yang berorientasi pada prestai
kerja di masa lalu maupun yang ditujukan kepada kepentingan perusahaan di
masa depan.
10
10. Syarat penilaian prestasi kerja (Zainal, 2014:414)
a. Praktis. Keterkaitan langsung dengan pekerjaan seseorang adalah bahwa
penilaian ditujukan pada perilaku dan sikap yang menentukan keberhasilan
menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
b. Kejelasan standar. Standar adalah merupakan tolok ukur seorang dalam
melaksankanan pekerjaanya.
c. Kriteria yang objektif. Kriteria yang dimaksud adalah berupa ukuranukuran
yang memenuhi persyaratan seperti mudah digunakan, handal, dan memberikan
informasi tentang perilaku kritikal yang menentukan keberhasilan dalam
melaksanakan pekerjaan.
10
b. Tanggung jawab
c. Ketaatan
d. Kejujuran
e. Kerjasama
f. Prakarsa yaitu kemampuan seorang tenaga kerja untuk mengambil keputusan
g. Kepemimpinan
h. Kualitas kerja
10
[Link] komunikasi dengan prestasi kerja
Menurut Fahmi Irham (2016 : 190),
Organisasi diciptakan melalui komunikasi. Komunikasi tidak sekedar instrumen
atau alat untuk berinteraksi tetapi komunikasi adalah medium yang menyebabkan
adanya organisasi. Komunikasi yang dilakukan antara individu dan kelompok
dalam organisasi merupakan bagian penting dari proses organisasi yang
berlangsung terus menerus
3. Evaluasi Kinerja
Evaluasi kinerja merupakan pendapat yang bersifat evaluatif atas sifat, perilaku
seseorang, atau prestasi sebagai dasar untuk keputusan dan rencana
pengembangan personel (Kreitner dan Kinicki dalam Wibowo, 2014).
5. Pendekatan sikap
Pendekatan ini menyangkut penilaian terhadap sifat atau karakteristik individu.
Sifat biasanya diukur dalam bentuk inisiatif, kecepatan membuat keputusan, dan
ketergantungan. Meskipun pendekatan sifat sangat luas dipergunakan oleh
manajer, pada umumnya dipertimbangkan oleh para ahli sebagai paling lemah.
10
6. Pendekatan Perilaku
Masalah dalam pendekatan perilaku menunjukkan bagaimana orang berperilaku,
dan bukan tentang kepribadiannya. Kemampuan orang untuk bertahan meningkat
apabila penilaian kinerja didukung oleh tingkat perilaku kinerja.
7. Pendekatan hasil
Apabila pendekatan sikap memfokuskan pada proses, pendekatan hasil memfokus
pada produk atau hasil usaha seseorang.
8. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan sifat, perilaku, dan hasil cocok untuk dipergunakan tergantung pada
situasi tertentu. Oleh karena itu, diusulkan pendekatan kontingensi yang selalu
dicocokan dengan situasi tertentu yang sedang berkembang.
9. Sasaran Evaluasi
Menurut Kreitner dan Kinicki dalam Wibowo (2014), evaluasi kinerja dapat
dipergunakan untuk:
a. Administrasi Penggajian;
b. Umpan balik kinerja;
c. Identifikasi kekuatan dan kelemahan individu;
d. Mendokumentasikan keputusan kepegawaian;
e, Penghargaan terhadap kinerja individu;
f. Mengidentifikasi kinerja buruk;
g. Membantu dalam mengidentifikasi tujuan;
h. Menetapkan keputusan promosi;
i. Pemberhentian pegawai;dan
j. Mengevaluasi pencapaian tujuan.
10. Evaluasi kinerja dapat dipergunakan untuk kepentingan yang lebih luas lagi,
seperti:
a. Evaluasi Tujuan dan sasaran;
Evaluasi terhadap tujuan dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai atau tidak.
10
b. Evaluasi Rencana
Evaluasi kinerja melakukan penilaian apakah hasil yang dicapai sesuai dengan
apa yang direncanakan. Apabila hasil yang diperoleh tidak seperti yang
diharapkan dalam rencana, dicari tahu apa yang menyebabkan.
c. Evaluasi Lingkungan
Evaluasi kinerja melakukan penilaian apakah kondisi lingkungan yang dihadapi
pada waktu proses pelaksanaan tidak seperti yang diharapkan, tidak kondusif, dan
mengakibatkan kesulitan atau kegagalan dalam mencapai hasil kinerja.
d. Evaluasi Proses Kinerja
Evaluasi kinerja melakukan penilaian apakah terdapat kendala dalam proses
pelaksanaan kinerja. Apakah mekanisme kerja dapat berjalan seperti yang
diharapkan? Apakah terdapat masalah kepemimpinan dan hubungan antar
manusia dalam organisasi?
e. Evaluasi Pengukuran Kinerja
Evaluasi kinerja menilai pakah penilaian kinerja telah dilakukan dengan benar,
apakah sistem review dan coaching telah berjalan dengan benar serta apakah
metode yang dipergunakan dalam pengukuran kinerja sudah tepat dan dilakukan
dengan benar oleh seorang penilai yang objektif.
f. Evaluasi Hasil
Evaluasi terhadap hasil kinerja dapat dilakukan terhadap hasil kinerja organisasi,
kelompok maupun individu masing-masing pekerja. Evaluasi terhadap terhadap
hasil kinerja organisasi dapat diketahui dari seberapa besar tujuan dan sasaran
organisasi telah dapat dicapai.
10
e. Penilaian dari sumber lain seperti pelanggan, pemasok, komite para manajer,
konsultan eksternal; dan
f. Evaluasi 360 derajat.
10
13. Teknik Evaluasi Individu
a. Written Essays
Teknik ini memberikan evaluasi kinerja dengan cara mendeskripsikan apa yang
menjadi penilaian terhadap kinerja individu, tim maupun organisasi.
b. Critical Incidents
Teknik ini mengevaluasi perilaku yang menjadi kunci dalam membuat perbedaan
antara menjalankan pekerjaan secara efektif dengan tidak efektif.
c. Graphic Rating Scales
Teknik ini merupakan metode evaluasi dimana evaluator meningkatkan faktor
kinerja dalam skala inkremental.
d. Behaviorally Anchored Rating Scales
Teknik ini merupakan pendekatan skala yang mengkombinasikan elemen utama
dari critical incident dan graphic rating scale.
e. Group Order Ranking
Teknik ini merupakan metode evaluasi yang menempatkan pekerja ke dalam
klasifikasi tertentu, seperti quartiles.
f. Individual Ranking
Teknik ini merupakan suatu metode evaluasi yang menyusun/rankorder pekerja
dari terbaik ke terburuk.
g. Paired Comparison
Teknik ini merupakan metode evaluasi yang membandingkan masing-masing
pekerja dengan setiap pekerja lain dan menyusun peringkat berdasarkan pada
jumlah nilai superior yang dicapai pekerja.
10
b. Memulai dengan pelanggan tim dan proses kerja yang diikuti tim untuk
melmuaskan kebutuhan pelanggan. Produk akhir yang diterima pelanggan dapat
dievaluasi dalam bentuk persyaratan pelanggan.
c. Mengukur kinerja tim dan individu. Untuk itu, didefinisikan peran setiap
anggota tim dalam bentuk penyelesaian yang mendukung proses kerja tim.
Kemudian, mengukur kontribusi masing-masing anggotadan kinerja
menyeluruh tim.
d. Melatih tim untuk menciptakan ukuran sendiri. Tim mendefinisikan sasarannya
dan setiap anggota memastikan bahwa setiap orang memahami perannya dalam
tim dan membantu mengembangkan ke dalam unit yang lebih berat.
10
MATERI XI
Gambar 11.1. Umpan balik jasa atau tenaga dan kompensasi (Jahrie dan Hariyoto,
1999:109)
2. Fungsi Kompensasi
Fungsi
Kompensasi
Menurut Martoyo (1994), fungsi kompensasi adalah :
a. Penggunaan SDM secara lebih efisien dan lebih efektif
b. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi
3. Jenis Kompensasi
Jenis-jenis kompensasi selain upah/gaji tetap adalah
11
a. Pengupahan insentif;
Insentif adalah memberikan upah/gaji berdasarkan perbedaan prestasi kerja
sehingga bisa jadi dua orang yang memiliki jabatan sama akan menerima upah
yang berbeda, karena prestasinya berbeda, meskipun gaji pokoknya/dasarnya
sama. Perbedaan tersebut merupakan tambahan upah (bonus) karena adanya
kelebihan prestasi yang membedakan satu pegawai dengan yang lain.
b. Kompensasi pelengkap;
Kompensasi pelengkap merupakan salah satu bentuk pemberian kompensasi
berupa penyediaan paket benefit dan program-program pelayanan karyawan,
dengan maksud pokok untuk mempertahankan keberadaan karyawan sebagai
anggota organisasi dalam jangka panjang. Kalau upah dan gaji merupakan
kompensasi langsung karena berkaitan dengan prestasi kerja, maka kompansasi
pelengkap merupakan kompensasi tidak langsung berkaitan dengan prestasi kerja.
Kompensasi pelengkap meliputi :
1) Tunjangan antara lain berbentuk : Pensiun, Pesangon, Tunjangan Kesehatan
dan Asuransi Kecelakaan Kerja.
2) Pelayanan yang meliputi : Majalah, Sarana Olah Raga, Perayaan Hari
Raya,dan Program Sosial Lainnya
c. Keamanan serta kesehatan karyawan
Pembinaan kesehatan karyawan atau anggota organisasi merupakan suatu bentuk
kompensasi nonfinansial yang sangat penting dalam organisasi. Keadaan aman
dan sehat seorang karyawan / anggota organisasi tercermin dalam sikap individual
dan aktivitas organisasi karyawan yang bersangkutan.
11
2). Tunjangan adalah kompensasi yang diberikan perusahaan kepadapara
karyawannya, karena karyawannya tersebut dianggap telah ikut
berpartisipasi dengan baik dalam mencapai tujuan perusahaan.
3). Insentif adalah kompensasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan
tertentu, karena keberhasilan prestasinya di atas standar atau mencapai
target.
4). Bonus adalah Pemberian bonus kepada karyawan dimaksudkan untuk
meningkatkan produktivitas kerja dan semangat kerja karyawan.
b.. Kompensasi Tidak Langsung (Non Financial)
Kompensasi yang tidak dapat dirasakan secara langsung oleh karyawan, yakni
benefit dan service adalah kompensasi tambahan yang diberikan berdasarkan
kebijaksanaan perusahan terhadap semua karyawan dalam usaha meningkatkan
kesejahteraan mereka seperti uang pensiun, dan olah raga.
6. Tunjangan
Menurut Herman (2008:167) Macam-macam tunjangan bagi karyawan dapat berupa
a. Tunjangan keselamatan
b. Tunjangan pada waktu tidak bekerja
c. Bonus hadiah
d. Program pelayanan karyawan
7. Insentif
Menurut Marwansyah (2016:278), beberapa macam insentif yang dapatdiberikan
kepada karyawan antara lain.
a. Dorongan material uang atau barang
11
b. Kesempatan untuk mendapatkan kehormatan, prestasi dan kekuasaan
perseorangan
c. Syarat-syarat pekerjaan yang diinginkan bersih, lingkungan yang tenang atau
ruang kotor yang tersendiri
d. Kebanggaan akan pekerjaannya, jasa untuk keluarga, dan patriotisme atau
perasaan keagamaan
e. Kesenangan perseorangan dan kepuasan dalam hubungan-hubungan sosial dan
organisasi
f. Persesuaian dengan kebiasaan praktik dan sikap biasa, serta dapat menerima
aturan dan pola-pola tingkah laku perusahaan
g. Perasaan turut serta dalam kejadian atau peristiwa yang penting dalam
perusahaan
9. Tujuan Kompensasi
Tujuan perusahaan memberikan kompensasi yaitu (Rachmawati, 2008: 144-145)
a. Mendapatkan karyawan yang berkualitas
b. Mempertahankan karyawan yang sudah ada
c. Adanya keadilan
d. Perubahan sikap dan perilaku
e. Efisiensi biaya
f. Administrasi legalitas (Dalam administrasi kompensasi juga terdapat batasan
legalitas karena diatur oleh pemerintah dalam sebuah Undang-Undang.
11
Tujuannya agar perusahaan tidak sewenang-wenang memperlakukan karyawan
sebagai aset perusahaan)
11
harus dipenuhi dalam memberikan kompensasi kepada karyawan. Persyaratan
menghendaki bahwa kompensasi itu haruslah:
11
15. Sistem Kompensasi
Menurut Sutrisno (2009:195)
Sistem pembayaran kompensasi yang umum diterapkan diantaranya adalah:
a. Sistem waktu
Dalam sistem waktu kompensaasi diterapkan berdasarkan standar waktu seperti
jam, hari, minggu, atau bulan
b. Sistem hasil
Besarnya kompensasi ditetapkan atas kesatuan unit yang dihasilkan pekerja,
seperti perpotong, permeter, liter dan kilogram.
c. Sistem borongan
Suatu cara pengupahan yang penetapan besarnya jasa didasarkan atas volume
pekerjaan dan lama mengerjakannya
11
d. Visibilitas,
Imbalan-imbalan yang dapat dilihat jika dikehendaki supaya kalangan karyawan
merasakan adanya hubungan antara kinerja dan imbalanimbalan.
e. Biaya,
Sistem kompensasi nyata sekali tidak dapat dirancang tanpa pertimbangan yang
diberikan terhadap biaya imbalan-imbalan yang tercakup.
11
1) Sistem Waktu
Tabel 11.1 Kelemahan dan kelebihan sistem waktu
11
e. Menyesuaikan tingkat upah dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (menjamin gaji layak dan wajar)
1. Keselamatan Kerja
Keselamatan mencakup dua istilah, yaitu risiko keselamatan dan risiko kesehatan.
Dalam bidang kepergawaian, kedua istilah tersebut dibedakan.
a. Keselamatan kerja menunjukkan kondisi aman atau selamat dari
penderitaan,kerusakan atau kerugian di tempat kerja. Risiko keselamatan
merupakan aspek-aspek darilingkungan kerja yang dapat menyebabkan
11
kebakaran, ketakutan aliran listrik terpotong, lukamemar, patah tulang,
kerugian alat tubuh, penglihatan, dan pendengaran. Semua itu
seringdihubungkan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik
dan mencakup tugas-tugaskerja yang membutuhkan pemeliharaan dan
latihan.
b. Kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik,
mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan olehlingkungan kerja. Risiko
kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan yang dapatmembantu
stress, emosi, dan gangguan fisik.
12
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangungan;
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan, dan
penyimpanan barang;
q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya; dan
r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengaman pada pekerjaan yang
bahayakecelakaannya menjadi bertambah tinggi
3. Pedoman K3
Pemerintah merumuskan pedoman sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja yangdituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor Per.05/MEN/1996
tentang sistemmanajemen keselamatan [Link] peraturan tersebut adalah:
a. Tujuan dan sasaran sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3),
yaitumenciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
yangmelibatkan manajemen, tenaga kerja, kondisi, dan lingkungan kerja yang
terintegrasiuntuk mencegah, mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
dan menciptakantempat kerja yang efisien dan efektif (Pasal 1 PP
No.05/MEN/1996).
b. Dalam rangka mencapai tujuan di atas, Pasal 4 PP Per.05/MEN/1996
menyatakan bahwa perusahaan wajib:
1) Menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan adanya
komitmenterhadap penerapan sistem manajemen KK;
2) Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan, dan sasaran penerapan
keselamatandan kesehatan kerja;
3) Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif
denganmengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang
diperlukan untukmencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran keselamatan dan
kesehatan kerja;
4) Mengukur, memantau, dan mengevaluasi keselamatan dan kesehatan kerja
sertamelakukan tindakan perbaikan dan pencegahan;
5) Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem manajemen
K3secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja
keselamatan dankesehatan kerja
c. PP No. Per.05/MEN/1996 selanjutnya undang-undang tersebut
mengemukakan pedoman penerapan dan sistem manajemen keselamatan dan
12
kesehatan kerja. Adapuninti pedoman tersebut adalah merumuskan berbagai
aspek yang berkaitan dengankomitmen manajemen terhadap keselamatan dan
kesehatan kerja, pelembagaan K3 di perusahaan, strategi, pelaksanaan,
pengevaluasian, pengadministrasian, dan beberapaaspek yang terkait, dalam
upaya perbaikan dan pencapaian tujuan program sebagai pedoman
pelaksanaan, sebagaimana tertuang dalam Lampiran I Peraturan
MenteriTenaga Kerja Nomor Per.05/MEN/1996 Tanggal 12 Desember 199
5. Kompensasi Kesehatan
Samsudin (2005:203) menyatakan sebagai berikut.
“Kesehatan pada dasarnya mencakup kesehatan jasmani maupun rohani. Seorang
disebut sehat jasmani apabila seluruh unsur organisme badanialah seseorang itu
berfungsi normaldan baik, yang berarti tanpa sakit, tanpa mengidap penyakit, dan
tanpa kelemahan [Link] sehat rohaniah adalah bila seseorang sudah
berhasil mengadaptasikan dirinya pada organisasi tempat ia bekerja, memiliki
konsepsi yang akurat tentang kenyataan- kenyataan hidup, dapat mengatasi
berbagai stress dan frustasi, dan sebagainya”
12
6. Penciptaan Lingkungan Kerja Sehat
a. Menjaga kesehatan karyawan dari berbagai gangguan penglihatan,
pendengaran,kelelahan, dan sebagainya (pengendalian suara asing, pengaturan
penerangan tempat kerja, pengaturan suhu udara, pengaturan penggunaan warna,
dan fasilitas istirahat).
b. Penyediaan fasilitas-fasilitas pengobatan dan pemeriksaan kesehatan bagi
karyawandengan berbagai kemudahan sehingga terjangkau bagi setiap
karyawan yang memerlukan (termasuk penyediaan dokter dengan staff nya)
7. Pelayanan Kesehatan
Perusahaan dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan penyediaan
dokterorganisasi dan klinik kesehatan perusahaan. Terkait dengan jaminan
kesehatan kerja, jaminan inidasarnya tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan
perasaan aman dan puas (quality of work lofeatua QWL). Beberapa di antaranya
adalah sebagai berikut.
a. Asuransi jiwa, yaitu sebagai jaminan kehidupan keluarga di masa depan
bukanlahmenopoli atau hanya berlaku bagi para pekerja di lingkungan suatu
organisasi/perusahaan
b. Kompensasi akibat pekerjaan. Kompensasi tidak langsung ini berbentuk suatu
bantuan para pekerja yang sifat pekerjaannya dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan psikologis
c. Asuransi cacat tubuh. Asuransi ini termasuk asuransi kecelakaan, keadaan
terburuk yangmenempatkan asuransi ini menjadi sangat penting adalah
kecelakaan yang berakibat cacat jasmani (tubuh) sehingga pekerja tidak dapat
lagi menjalankan fungsi utama dalam pekerjaannya
d. Biaya rumah sakit. Dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi pekerja,
salah satu bentuknya adalah penyediaan biaya perawatan rumah sakit
e. Jaminan pengobatan lainnya. Jaminan ini memperluas kompensasi tidak
langsung yangtidak sekedar mengenai pekerja yang menderita sakit
berkepanjangan, tetapi juga berbagaiaspek kesehatan lainnya seperti
perawatan dan pengobatan gigi, mata
12
MATERI XII
Kesepakatan Kerja
2. Asas Perjanjian
Walau tidak ada satu pun peraturan yang mengikat tentang bentuk dan isi perjanjian,
karena dijamin dengan adanya ”asas kebebasan berkontrak” yakni suatu asas yang
menyatakan bahwa setiap orang pada dasarnya boleh membuat kontrak (perjanjian)
yang berisi dan macam apapun asal tidak bertentangan dengan undang-undang,
kesusilaan, dan ketertiban umum. Asas kebebasan berkontrak dituangkan dalam
12
Pasal 11338 ayat 1 KUH Perdata, dengan memperhatikan Pasal 1320, 1335 dan
1337 KUH Perdata di samping Pasal 52 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003
Ketenagakerjaan. Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
4. Perjanjian Kerja
menurut pasal 1601 a KUH Perdata
Suatu persetujuan bahwa pihak kesatu yaitu buruh/pekerja mengikatkan diri untuk
menyerahkan tenaganya kepada pihak lain, yaitu majikan/pengusaha dengan upah
selama waktu tertentu
Shamad, :55
Perjanjian kerja adalah suatu perjanjian dimana seseorang mengikatkan diri untuk
bekerja pada orang lain dengan menerima imbalan berupa upah sesuai dengan
syarat-syarat yg dijanjikan atau disetujui bersama
12
b. Perjanjian kerja,
c. Adanya pekerjaan,
d. Upah dan
e. Perintah.
Dengan demikian, landasan hubungan kerja adanya perjanjian kerja, baik
tertulis maupun tidak tertulis (lisan). • Sedangkan beberapa ahli berpendapat
bahwa di dalam perjanjian yang menjadi dasar hubungan kerja adalah empat
unsur penting yaitu: •
a. Adanya pekerjaan (pasal 1601 a KUH Perdata dan Pasal 341 KUH Dagang)
b. Adanya upah (pasal 1603 p KUH Perdata)
c. Adanya perintah orang lain (pasal 1603 b KUH Perdata)
[Link] waktu tertentu, karena tidak ada hubungan kerja berlangsung terus
menerus. Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
12
8. Pihak-Pihak Terkait Dengan Perjanjian Kerja
a. Buruh/Pekerja
b. Pengusaha
Di dalam Pasal 1 Angka 5 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 menjelaskan
pengertian pengusaha, yakni:
1). Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu
perusahaan milik sendiri;
2). Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
3). Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud yang berkedudukan
di luar wilayah Indonesia.
c. Organisasi Pekerja/Buruh
Kehadiran organisasi pekerja dimaksudkan untuk memperjuangkan hak dan
kepentingan pekerja
d. Organisasi Pengusaha
1). Kamar dagang dan Industri
2). Asosiasi pengusaha Indonesia
e. Pemerintah/Penguasa
12
e. Besarnya upah dan cara pembayarannya;
f. Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan
pekerja/buruh;
g. Jangka waktu mulai berlakunya perjanjian kerja;
h. Tempat dan lokasi perjanjian kerja dibuat; dan
i. Tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja
12
6) Kewajiban lainnya yang dimuat dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan,
perjanjian kerja bersama, dengan syarat tidak melanggar 3 hal seperti diatur
Pasal 1337 KUH Perdata.
b. Kewajiban Pekerja/buruh
1). Melaksanakan tugas/pekerjaan sesuai yang diperjanjikan dengan
sebaik-baiknya (Pasal 1603)
2). Melaksanakan pekerjaan sendiri tidak dapat digantikan oleh orang lain
tanpa izin dari pengusaha (Pasal 1603a)
3). Menaati peraturan dalam melaksanakan pekerjaan (Pasal 003b)
4). Menaati peraturan tata tertib dan tata cara yang berlaku di rumah/tempat
majikan bila pekerja tinggal disana (Pasal 1603c)
5). Melaksanakan tugas dan kewajiban secara layak (Pasal 1603d)
6). Membayar ganti rugi atau denda (Pasal 1603w)
c. Kewajiban lainnya yang dimuat dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan,
perjanjian kerja bersama, dengan syarat tidak melanggar 3 hal seperti diatur
Pasal 1337 KUH Perdata Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
12
a. Berdasarkan waktu berlakunya:
1). Kesepakatan Kerja Waktu Tidak Tertentu (KKWTT); dan
2). Kesepakatan Kerja Waktu Tertentu(KKWT)
b. Perjanjian kerja lainnya:
1). Perjanjian pemborong pekerjaan
2). Perjanjian kerja bagi hasil
3). Perjanjian kerja laut
4). Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa.
15. Secara yuridis maupun empiris, perjanjian kerja dapat dibagi dalam empat
kelompok, yaitu
a. Berdasarkan bentuk perjanjian,
b. Jangka waktu perjanjian,
c. Status perjanjian, dan
d. Pelaksanaan pekerjaan. Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
13
PKWT adalah perjanjian kerja antara P/B dengan pengusaha yg hanya dibuat
untuk pekerjaan tertentu yg menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya
akan selesai dalam waktu tertentu. Perjanjian ini diatur dalam pasal 56 s/d.
pasal 60 UU Ketenagakerjaan
b. Hal-hal yg perlu diperhatikan dalam PKWT :
1). PKWT tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja, bila ada
maka batal demi hukum
2). PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yg menurut jenis dan
sifat pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu
3). PKWT dibuat dalam rangkap 3 (tiga), yaitu untuk pekerja, pengusaha dan
dinas yg membidangi ketenagakerjaan setempat
4). Seluruh biaya yg timbul dlm pembuatan PKWT menjadi tanggungan
pengusaha
c. Pekerjaan yang bersifat musiman;
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor ; KEP.
100/MEN/VI/2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu yang merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 59 ayat (8) Undang
undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menetapkan
kategori pekerjaan untuk Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) sebagai
berikut :
1). Pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya yang
penyelesaiannya paling lama 3 (tiga) tahun;
2). Pekerjaan yang bersifat musiman;
3). Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru atau
produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajagan
d. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu
Perjanjian ini terdapat dalam pasal 1603 q ayat (1) KUHPerdata,
dimana dinyatakan bahwa lamanya hubungan kerja tidak ditentukan,baik
dalam perjanjian, peraturan majikan maupun dalam peraturan perundang-
undangan atau pula menurut kebiasaan maka hubungan kerja itu diadakan
untuk waktu tidak tertentu
Pasal 57 ayat (2) UU Ketenagakerjaan, disamping alasan tersebut diatas, PKWTT
secara hukum otomatis terjadi sebagai akibat pelanggaran pengusaha thdp. Pasal
57 ayat (1).
13
Pengertian PKWTT : suatu perjanjian kerja antara P/B dan pengusaha dimana
jangka waktunya tidak ditentukan, baik dalam perjanjian, UU maupun kebiasaan,
atau terjadi secara hukum karena pelanggaran pengusaha terhadap ketentuan
perundang-undangan yg berlaku
13
kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai jam
07.00 (pasal 76 ayat (2))
c. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul
23.00 sampai dengan jam 07.00 (pasal 76 ayat (3) Wajib : Memberikan
makanan dan minuman bergizi
d. Menjaga kesusilaan dankeamanan selama di tempat kerja
e. Pengusaha wajib menyediakan angkutan anterjemput bagi pekerja/buruh
perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai
dengan 05.00 (Pasal 76 ayat (4)).
f. Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid measakan sakit dan
memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bkerja pada hari pertama dan
kedua pada waktu haid (Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 tahun
2003) Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
g. Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan
sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut
perhitungan dokter kandungan atau bidan (Pasal 82 ayat (1) Undang-undang
Nomor 13 Tahun 2003)
h. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak
memperoleh istirahat 1,5 bulan atau sesuai perhitungan dokter kandungan
atau bidan (Pasal 82 ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003)
i. Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi
kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal harus dilakukan
selama waktu kerja (Pasal 83 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003).
j. Sebagai tindak lanjut Pasal 27 ayat (3) dan (4) Undang-undang Nomor 13
Tahun 2003) tentang Ketenagakerjaan telah diterbitkan Keputusan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep-224/Men/2003 tentang
Kewajiban Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh Perempuan antara
Pukul 23.00 sampai dengan Pukul 07.00. Manaj. Pengupahan dan Perburuhan
13
MATERI XIII
13
2. Perspektif Mutu SDM
Perspektif – perspektif tersebut seharusnya tercermin pada visi, misi, tujuan, serta
strategi pengembangan mutu SDM perusahaan secara terintegrasi dan sekaligus
merupakan turunan dari visi, misi, tujuan, serta strategi perusahaan secara
keseluruhan dalam rangka mereposisikan peran karyawan sebagai unsur yang
semakin penting dalam suatu organisasi
13
2). Bekerja dalam sistem yang total.
3). Perubahan (peningkatan dan pengurangan) motivasi kerja.
4). Kejadian konflik horizontal dan vertikal.
5) Frekuensi daya prakarsa, kreativitas, dan inovatif.
6) Frekuensi dan ketepatan waktu kehadiran kerja.
7). Tingkat keselamatan dan keamanan kerja individual.
8). Tingkat kesehatan kerja.
9). Tingkat kerusakan mutu produksi.
10). Tingkat efisiensi kerja.
11). Tingkat komitmen kerja.
c. Output mencakup unsur-unsur berikut.
1). Pencapaian standar produktivitas kerja.
2). Pencapaian standar kinerja organisasi (produksi, biaya, dan keuntungan).
3). Pencapaian omset penjualan/ produksi (barang & jasa ). Kesejahteraan
karyawan.
13
c. Sementara dari sisi manajemen antara lain berupa manajemen waktu, manajemen
konflik, manajemen stress, manajemen kepemimpinan, manajemen pelatihan, dan
pengembangan SDM.
Faktor lain yang sangat mempengaruhi kinerja dari karyawan atau SDM antara lain
a. Mutu SDM sangat didukung oleh kualitas komunikasi, keberhasilan manajemen
kepemimpinan, adanya program-program peningkatan motivasi
b. Mutu SDM itu juga sangat bergantung pada perubahan manajemen yang
dilakukan oleh perusahaan
13
DAFTAR PUSTAKA
13