0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
401 tayangan81 halaman

Logbook Praktik Kebidanan BBL 2022/2023

Logbook Praktik Stase Bayi Baru Lahir Program Studi Pendidikan Profesi Bidan ITKES Muhammadiyah Sidrap 2022/2023 memberikan informasi tentang: 1. Identitas mahasiswa yang melaksanakan stase 2. Tujuan dan target yang ingin dicapai dalam stase BBL ini 3. Tempat dan waktu pelaksanaan stase 4. Metode bimbingan dan evaluasi yang akan dilakukan selama stase
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
401 tayangan81 halaman

Logbook Praktik Kebidanan BBL 2022/2023

Logbook Praktik Stase Bayi Baru Lahir Program Studi Pendidikan Profesi Bidan ITKES Muhammadiyah Sidrap 2022/2023 memberikan informasi tentang: 1. Identitas mahasiswa yang melaksanakan stase 2. Tujuan dan target yang ingin dicapai dalam stase BBL ini 3. Tempat dan waktu pelaksanaan stase 4. Metode bimbingan dan evaluasi yang akan dilakukan selama stase
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUKU LOGBOOK PRAKTIK PROFESI

STASE BAYI BARU LAHIR

IDENTITAS MAHASISWA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN PROGRAM


PROFESI

Nama Mahasiswa : HARIYANI


NIM : 2021102132.
Tempat/ Tanggal Lahir : I N D R A G I R I H I L I R / 1 0 A P R I L 1 9 7 6
No. HP : 082197370175
Email : anihariyani09@[Link]
Alamat : MAKASSAR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI PROGRAM PROFESI


INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS (ITKES)
MUHAMMADIYAH SIDRAP
2022/2023
1
SAMBUTAN
REKTOR ITKES MUHAMMADIYAH SIDRAP

Dengan senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah


SWT, karena atas rahmat dan karuniaNya jualah maka Logbook Praktik
Stase Bayi Baru Lahir Program studi Pendidikan Profesi Bidan Program
Profesi ITKES Muhammadiyah Sidenreng Rappang tahun 2022/2023
dapat diselesaikan.
Kami haturkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas
kerjasama dalam melaksanakan tugas – tugas ini dengan baik
Harapan kami dengan Kepada semua pihak yang telah berjasa
dalam penyusunan loogbook ini, sekali lagi diucapkan terima kasih. Dan
marilah kita berkomitmen untuk memajukan Pendidikan Tinggi ITKES
Muhammadiyah Sidrap dengan menjadi bagian penting dalam
Peningkatan Sumber Daya Manusia yang islami dan berkemajuan.

Pangkajene, 25 Muharram
1444 H 23 Agustus
2022
M
Rektor,

[Link] Tahir, SKM.,M. Kes


NBM. 1069207

2
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena


atas izin-Nya jualah maka Logbook Praktik Stase Bayi Baru Lahir .
Program studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi ITKES
Muhammadiyah Sidenreng Rappang tahun 2022 - 2023 dapat
diselesaikan.
Kami sadar bahwa apa yang terkandung dalam pedoman ini belum

tersaji dengan optimal, sehingga perlu kritik dan saran demi

tersempurnanya pedoman ini.

Jazakumullahu khairan katsiran.

Fastabiqulkhaerat.

Sidrap, 23 Agustus 2022


Ketua Prodi Profesi Bidan
ITKes Muhammadiyah Sidrap

Wilda Rezki Pratiwi, [Link]., M. Kes


NIDN : 0906129102
3
METODE BIMBINGAN EVALUASI
STASE Manaj
Laporan TOTAL
CBD BST TutorialK RefleksiK K JournalR O P DOPS Mini C OSLER OSCE
(COC) M
Keterampilan Dasar Praktik
Kebidanan 1 3 0 0 0 0 0 2 1 0 0 0 7

Asuhan Kebidanan pada Pra


1 2 0 1 0 2 1 0 1 0 0 2 10
Nikah dan Pra Konsepsi
Asuhan KebidananKehamilan
2 50 0 1 0 2 4 2 2 1 0 16 80
Asuhan KebidananPersalinan
1 23 1 1 0 1 5 2 2 1 0 2 39
Asuhan Kebidanan Bayi Baru
Lahir 1 25 1 1 0 2 3 1 1 1 0 9 45

Asuhan Kebidanan Nifas 1 60 1 1 0 2 5 2 2 1 0 20 95


Asuhan Kebidanan Pada Bayi,
Balita dan Anak Pra Sekolah 1 61 0 1 0 2 5 2 2 1 0 20 95
Asuhan Keluarga Berencana
dan Pelayanan Kontrasepsi 1 10 0 1 0 2 1 1 1 1 0 2 20
Asuhan Pada Remaja dan
Perimenopause 1 2 0 1 0 0 0 1 2 0 0 1 8
Asuhan Kebidanan
berkelanjutan 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2
Asuhan Kebidanan Komunitas
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2
Manajemen Pelayanan
Kebidanan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2
TOTAL
10 236 3 8 4 13 24 15 13 6 0 76 405
STASE IV

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR

5
STASE V
ASUHAN BAYI BARU LAHIR

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memberikan pengalaman belajar klinik pada
mahasiswa dalam lingkup asuhan kebidanan yaitu
Asuhan kebidanan pada BBL dan Kegawatdaruratan
neonatal

2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada
kehamilan,nifas,dan BBL secara holistik,komprehensif dan
berkesinambungan yang di dukung kemampuan berpikir
kritis,rasionalisasi klinis sesuai lingkup asuhan kebidanan
b. Mampu melakukan deteksi dini,konsultasi,kalaborasi
dan rujukan,didukung kemampuan berpikir kritis dan
rasionlisasi klinis sesuai lingkup asuhan kebidanan
c. Mampu melakukan pendokumentasian asuhan dan
pelopor pelayanan kebidanan sesuai kode etik profesi
d. Mampu melakukan KIE,promosi kesehatan dan konseling
tentang pandangan tentang persalinan sebagai profesi fisiologi
e. Mampu melakukan upaya pemberdayaan perempuan
sebagai mitra untuk meningkatkan kesehatan,dan atisipasi
masalah,pencegahan komplikasi dan kegawatdaruratan.
f. Mampu melakukan asuhansecara tepat dalam
pelayanan kebidanan berdasarkan pemikiran
logis,ktitis,inovatif sesuai dengan kode etik

B. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN


Waktu Praktik : Tgl 14 s/d 26 November 2022
Tempat : UPTD Pukesmas Lau [Link]
Bagian : Nifas ( Rooming In )

C. KOMPETENSI YANG INGIN DICAPAI

1. Asuhan segera bayi baru lahir

2. Asuhan lanjutan pada bayi baru lahir normal

3. Pengkajian bayi baru lahir

4. Pemeriksaan Fisik

5. Perilaku bayi baru lahir

6. Kuning fisiologis bayi baru lahir


7. Imunisasi

8. Suntik vit K dan salep mata

9. Memandikan bayi

10. Perawatan tali pusat

11. Prinsip pemberian nutrisi pada bayi baru lahir

12. Asuhan rutin bayi baru lahir normal

13. Penanganan pada bayi dengan asfiksia

14. Penanganan awal kegawatdarutan neonatal

15. rujukan pada bayi baru lahir bermasalah

D. TARGET

1. CBD 1
2. BST 25
3. Tutorial Klinik 1
4. Refleksi Kasus 1
5. Journal Reading 1
6. OMP 3
7. DOPS 1
8. Mini Cex 1
9. OSLER 1
10. Laporan Lengkap 9
E. PENILAIAN
a. CBD, BST, Tutorial Klinik, Refleksi
kasus, Journal Reading, OMP, DOPS, Mini Cex, Osler,
Laporan Lengkap

N Target Stase Tanggal Catatan Nilai


Pelaksanaan
0
1 CBD 15 Nov 2022 Telah dilakukan kegiatan
pengambilan kasus capu
seccedeneum
2 Tutorial klink 15 Nov 2022 Telah dilakukan
kegiatan tindakan
perasat
3 Refleksi Kasus 15 \Nov 2022 Telah dilakukan
4 Journal reading 15 \Nov2022 Telah dilakukan 2 journal
5 OMP
6 DOPS
7 MINI CEX
8 OSLER
9 LAPORAN
LENGKAP
10 LAPORAN
LENGKAP
11 LAPORAN
LENGKAP
12 LAPORAN
LENGKAP
13 LAPORAN
LENGKAP
14 LAPORAN
LENGKAP
15 LAPORAN
LENGKAP
17 LAPORAN
LENGKAP
18 LAPORAN
LENGKAP
Bed Side Teaching

No Identitas Tanggal Tanda Catatan


Jenis Keterampilan Pasien Tangan
Preceptor
1 Penilaian awal

[Link].K 15 Nov 22

2 Penilaian awal [Link].K 15 Nov 22

3 Penilaian awal
[Link].K 15 Nov 22

4 Penilaian awal [Link].K 15 Nov 22

5 Penilaian awal [Link].K 15 Nov 22

6 Penilaian awal [Link].K 15 Nov 22

7 Deteksi dini Asfiksia [Link].K 15 Nov 22

8 Deteksi Dini BBLR [Link].K 15 Nov 22

9
9 Deteksi dini BBLR
[Link].K 15 Nov 22

10 IMD
[Link].K 15 Nov 22

11 IMD

[Link].K 15 Nov 22

12 IMD
[Link].K 15 Nov 22

13 IMD

[Link].K 15 Nov 22

14 IMD
[Link].K 15 Nov 22

15 IMD
[Link].K 15 Nov 22

16 Perawatan rutin [Link].k 15 Nov 22


(vitk/hepatitis b/salep mata)

10
17 Perawatanrutin [Link].P 16 Nov 22
(vit k/hepatitis b/salep mata)

18 Perawatanrutin [Link].J 16 Nov 22


(vit k/hepatitis b/salep mata)

19 Perawatanrutin
(vit k/hepatitis b/salep mata)

20 Perawatanrutin (vit k/hepatitis


b/salep mata)

21 Perawatanrutin (vit k/hepatitis


b/salep mata)

22 Deteksi awal cacat bawaan


melalui pemeriksaan fisik

23 Pemantauan dan pencegahan


infeksi tali pusat

24 Pemantauan dan pencegahan


infeksi tali pusat

11
25 Pemantauan dan pencegahan
infeksi tali pusat

c. OMP
No Identitas Tanggal Tanda Catatan
Jenis Keterampilan Pasien Tangan
Preceptor
1

1
LAPORAN CASE BASED DISCUSSION (CBD)
STASE BAYI BARU LAHIR
JUDUL KASUS ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI
BARU LAHIR NORMAL [Link].T
TAHUN AKADEMIK 2022/2023

Preseptor Pembimbing Pendidikan : Nur Laela, [Link], [Link]

Disusun Oleh :
(HARIYANI – 2021102132)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN PROGRAM


PROFESI FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
ITKES MUHAMMADIYAH SIDRAP

1
DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ..................................................................................................1


Halaman Judul.............................................................................................................2
Daftar Isi ......................................................................................................................3
Pembahasan .................................................................................................................4
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 - 4000 gram, cukup bulan, lahir
langsung menangis, dan tidak ada kelainan kongenital (cacat bawaan) yang [Link] waktu
kelahiran, sejumlah adaptasi psikologik mulai terjadi pada tubuh bayi baru lahir, karena
perubahan dramatis ini, bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan bagaimanaia
membuat suatu transisi yang baik terhadap kehidupannya diluar uterus. Bayi baru lahir juga
membutuhkan perawatan yang dapat meningkatkan kesempatan menjalani masa transisi dengan
[Link] neonatal (bayi baru lahir) merupakan proses penyesuaian fungsional neonatus
dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan di luar uterus (Rahardjo dan Marmi, 2017 : 11).
Keberlangsungan hidup bayi baru lahir bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi
dengan lingkungan ekstrauterin. Kemampuan adaptasi ini meliputi adaptasi dalam sikulasi
kardiopulmunal dan penyesuaian fisiologis lain untuk menggantikan fungsi plasentadan
mempertahankan homeostatis. kelahiran juga merupakan permulaan awal hubungan orang
tua/bayi dan, setelah ibu dan bayi dipastikan sehat, privasi orang tua untuk berbicara,
menyentuh, dan berkumpul berdua saja dengan bayinya merupakan hal penting (Fraser dan
Cooper, 2017 : 397).

2. Tujuan

a. Tujuan Umum
Untuk memberi asuhan kebidanan bayi baru lahir normal [Link].T
b. Tujuan Khusus
Untuk melakukan pengkajian dan asuhan bayi lahir normal
BAB II
TINJAUAN TEORI
( BERDASARKAN EVIDENCE BASED MIDWIFERY (EBM)

1. Pengertian Bayi Baru Lahir


Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37- 42 mingguatau 294
hari dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram, bayi baru lahir (newborn atau
neonatus) adalah bayi yang baru di lahirkan sampai dengan usia empat minggu (Wahyuni,
2017).
Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan
yang [Link] psikologi, bayi adalah periode perkembangan yang panjang dari kelahiran
hingga 18 atau 24 [Link] tidak hanya diberikan kepada ibu, tapi juga sangat diperlukan
oleh bayi baru lahir (BBL).
Walaupun sebagian besar proses persalinan terfokus pada ibu, tetapi karena proses tersebut
merupakan pengeluaran hasil kehamilan (Bayi) maka penatalaksanaan persalinan baru dapat
dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang
optimal. Memberikan asuhan yang segera, aman, dan bersih untuk BBL merupakan bagian
esensial asuhan BBL. Bayi “cukup bulan” adalah bayi yang dilahirkan setelah usia kehamilan
genap mencapai 37 minggu dan sebelum usia kehamilan genap mencapai 41 minggu
(Williamson, 2018 : 3).
2. Ciri-ciri Bayi Normal
Ciri-ciri bayi lahir normal yaitu :
a. Berat badan 2500-4000 gram.
b. Panjang badan lahir 48-52 cm.
c. Lingkar dada 30-38 cm.
d. Lingkar kepala 33-35 cm .
e. Bunyi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira 180×/menit, kemudian menurun sampai
120-140×/menit.
f. Pernafasan pada menit-menit pertama kira-kira 80x/menit, kemudian menurun setelah tenang
kira-kira 40×menit.
g. Kulit kemerah- merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup terbentuk dan
diliputi vernix caseosa,Kuku panjang .
h. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna.
i. Genitalia : labia mayora sudah menutupi labia minora (pada perempuan), Testis sudah turun
(pada laki-laki).
j. Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
k. Refleksmoro sudah baik: bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan seperti
memeluk.
l. Refleks grasping sudah baik: apabila diletakkan suatu benda diatas telapak tangan, bayi akan
menggengam / adanya gerakan refleks.
m. Refleks rooting/mencari puting susu dengan rangsangan tektil pada pipi dan daerah mulut
Sudah terbentuk dengan baik.
n. Eliminasi baik: urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna
hitam kecoklatan (Saleha, 2017)
Tanda 0 1 2 Appearance Biru, pucat tungkai biru Badan pucat,muda Semuanya merah Pulse
Tidak teraba 100 Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat Activity Lemas/lumpuh
Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/ reaksi melawan Respiratory Tidak
ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat Sumber: Kriebs Jan. M. Buku saku asuhan
kebidanan varney. 2010:471.
Interpretasi:Nilai 1-3 asfiksia berat, Nilai 4-6 asfiksia sedang, Nilai 7-10 asfiksia [Link]
nilai APGAR skor dinilai setiap variabel dinilai dengan 0, 1, dan 2 nilai tertinggi adalah 10,
selanjutnya dapat ditentukan keadaan bayi sebagai berikut: a. Nilai 7-10 menunjukkan bahwa
bayi dalam keadaan baik (Vigrous baby) b. Nilai 4-6 menunjukkan bayi mengalami depresi
sedang dan membutuhkan tindakan resusitasi c. Nilai 0-3 menunjukkan bayi mengalami
depresi serius dan membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi (Walyani dan
Purwoastuti, 2015).
3. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan diLuar Uterus
a. Sistem pernapasan
Masa yang paling kritis pada bayi baru lahir adalah ketika harus mengatasi resistensi
paru pada saat pernapasan yang pertama [Link] umur kehamilan 34-36 minggu struktur
paru-paru matang, artinya paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem [Link]
dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui [Link] bayi lahir,
pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi. (Rahardjo dan Marmi, 2015: 14
Struktur matang ranting paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem [Link]
dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui [Link] bayi lahir,
pertukaran gas harus melalui paru- paru [Link] gerakan pernapasan pertama : 1.
Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasimekanik) 16 2. Penurunan
Pa02 dan peningkatan PaC02 merangsang kemoreseptor yangterletak disinus karotikus
(stimulasi kimiawi) 3. Rangsangan dingin didaerah muka dan perubahan suhu didalam
uterus(stimulasi sensorik)(Indrayani, 2013:311). Pernapasan pertama pada bayi normal
terjadi dalam waktu 30 menit pertama sesudah [Link] bayi pertama kali untuk
mempertahankan tekanan alveoli, selain adanya surfaktan yang dengan menarik nafas dan
mengeluarkan nafas dengan merintih sehingga tertahan di [Link] pada neonatus
biasanya pernafasan diafragmatik dan abdominal, sedangkan frekuensi dan dalam tarikan
belum [Link] surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku
sehingga terjadi atelektasis, dalam keadaan anoksia neonatus masih dapat mempertahankan
hidupnya karena adannya kelanjutan metabolisme anaerobik.
b. Sirkulasi Darah
Pada masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilikalis sebagian ke hati, sebagian
langsung ke serambi kiri jantung, kemudian ke bilik kiri [Link] bilik kiri darah di
pompa melalui aorta ke seluruh [Link] bilik kanan darah di pompa sebagian ke paru dan
sebagian melalui duktus arteriosus ke [Link] bayi lahir, paru akan berkembang
mengakibatkan tekanan-tekanan arteriol dalam paru menurun. Tekanan dalam jantung kiri
lebih besar dari pada tekanan jantung kanan yang mengakibatkan menutupnya foramen ovale
secara [Link] ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran. Oleh karena
tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aorta desenden naik dan karena rangsangan
biokimia (pa02 yang naik), duktus arteriosus akan berobliterasi, ini terjadi pada hari
[Link] darah paru pada hari pertama ialah 4-5 liter per menit / [Link] darah
sistolik pada hari pertama rendah yaitu 1.96 liter/menit/m2 karena penutupan duktus
arteriosus (Indrayani, 2017: 312).
c. Metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus, relatif lebih luas dari orang dewasa sehingga
metabolisme basal per kg BB akan lebih besar, sehingga BBL harus menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru sehingga energi diperoleh dari metabolisme karbohidrat dan
[Link] jam-jam pertama energi didapatkan dari perubahan [Link] hari kedua,
energi berasal dari pembakaran [Link] mendapat suhu
d. Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal
Tubuh bayi baru lahir relatif mengandung lebih banyak air dan kadar natriumrelatif lebih
besar dari kalium karena ruangan ekstraseluler luas. Fungsi ginjalbelum sempurna karena: 1.
Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa 2. Tidak seimbang antara luas
permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal 3. Aliran darah ginjal (renal blood
flow) pada neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa(Indrayani, 2017:
313)
e. Imunoglobulin
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus
rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan
kekebalan alami maupun yang [Link] alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh
yang berfungsi mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan
alami:Perlindungan dari membran mukosa, Fungsi saringan saluran nafas, Pembentukan
koloni mikroba dikulit dan usus, Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
(Walyani dan Purwoastuti, 2017:135).
f. Truktus Digestivus
Truktus digestivenus relatif lebih berat dan lebih panjang dibandingkan dengan orang
[Link] neonatus traktus digestivenus mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan
yang terdiri dari mukopolisakarida dan disebut meconium. Pengeluaran mekonium biasanya
dalam 10 jam pertama dan 4 hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa. Enzim
dalam traktus digestivenus biasanya sudah terdapat pada neonatus kecuali amilase
[Link] sudah ada refleks hisap dan menelan, sehingga pada bayi lahir sudah bisa
minum ASI. Gumoh sering terjadi akibat dari hubungan oesofagus bawah dengan lambung
belum sempurna, dan kapasitas dari lambung juga terbatas yaitu < 30 cc (Indrayani, 2017:
314).
g. Hati
Fungsi hati janin dalam kandungan dan segera setelah lahir masih dalam keadaan matur
(belum matang), hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan hepar untuk menghilangkan
bekas penghancuran dalam peredaran darah (Rahardjo dan Marmi, 2015: 22). Setelah segera
lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan morfologis, yaitu kenaikan kadar protein dan
penurunan kadar lemak dan glikogen. Sel hemopoetik juga mulai berkurang walaupun
memakan waktu yang lama. Enzim hati belum aktif benar pada waktu bayi baru lahir, daya
detoksifikasihati pada neonatus juga belum sempurna,contohnya peberian obat kloramfenikol
dengan dosis lebih dari 50 mg/kgBB/hari dapat menimbulkan grey baby
syndrome(Indrayani, 2013: 314).
4. Tahapan Bayi Baru Lahir
1. Tahap I:terjadi segera setelah lahir, Selama menit- menit pertama [Link] tahap ini
digunakan sistem skoring apgar untuk fisik dan scoring gray untukinteraksi bayi dan ibu.
2. Tahap II: di sebut transisional reaktivitas. Pada tahap II dilakukanpengkajian selama 24 jam
pertama terhadap adanya perubahan perilaku.
3. Tahap III: disebut tahap periodik, pengkajian dilakukan setelah 24 jampertama yang meliputi
pemeriksaan seluruh tubuh (Saleha,2017: 4)
5. Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir Normal
Memberikan asuhan aman dan bersih segera setelah bayi baru lahir merupakan bagian
esensial dari asuhan pada bayi baru lahir seperti jagabayi tetap hangat, isap lender dari mulut dan
hidung bayi (hanya jika perlu), keringkan, pemantauan tanda bahaya, klem dan potong tali pusat,
IMD, beri suntikan Vit K, 1 mg intramuskular, beri salep mataantibiotika pada keduamata,
pemeriksaan fisik, imunisasi hepatitis B 0.5 ml intramuscular (Buku Saku Pelayanan Kesehatan
Neonatal Esensial, 2010).
a. Pencegahan Infeksi
Bayi lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi
mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir.
Sebelum menangani bayi, pastikan penolong persalinan telah menerapkan upaya pencegahan
infeksi, antara lain:
1. Cuci tangan secara efektif sebelum bersentuhan dengan bayi
2. Gunakan sarung tangan yang bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
3. Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, penghisap
lender Delee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Gunakan
bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan penghisapan lendir dengan alat
tersebut (jangan bola karet penghisap yang sama untuk lebih dari satu bayi)
4. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi sudah
dalam keadaan bersih. Demikian pula halnya timbangan, pita
5. pengukur, thermometer, stetoskop, dan benda-benda lain yang akanbersentuhan dengan
bayi. Dokumentasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.
6. Penilaian
Segera setelah lahir, lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir:
a. Apakah bayi bernapas atau menangis kuat tanpa kesulitan ?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
c. Bagaimana warna kulit, apakah berwarna kemerahan ataukah ada sianosis?
7. Perlindungan Termal (Termogulasi)
Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan
usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali suhu [Link]
karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan berkewajiban
untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Suhu tubuh normal pada neonatus
adalah 36,5-37,5 oC melalui pengukuran di aksila dan rektum, jika nilainya turun dibawah 36,5
oC maka bayi mengalami hipotermia(Rahardjo dam Marmi, 2017: 25).
1) Mekanisme Kehilangan Panas
Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi sempurna, untuk itu
perlu dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas dari tubuh bayi karena bayi beresiko
mengalami [Link] dengan hipotermia sangat rentan terhadap kesakitan dan
[Link] mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak
segera dikeringkan dan di selimuti walaupun di dalam ruangan yang relatif hangat. Dalam
proses adaptasi kehilangan panas, bayi mengalami 1. Stress pada BBL menyebabkan
hipotermia 2. BBL mudah kehilangan panas 3. Bayi menggunakan timbunan lemak coklat
untuk meningkatkan suhu tubuhnya 4. Lemak coklat terbatas sehingga apabila habis akan
menyebabkan adanya stress dingin
2) Proses Adaptasi
Dalam proses adaptasi kehilangan panas, bayi mengalami
1. Stress pada BBL menyebabkan hipotermia
2. BBL mudah kehilangan panas
3. Bayi menggunakan timbunan lemak coklat untuk meningkatkan suhu tubuhnya
4. Lemak coklat terbatas sehingga apabila habis akan menyebabkan adanya stress dingin
3) Mencegah Kehilangan Panas
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan panas dari tubuh bayi adalah:
1. Keringkan bayi secara seksama Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah bayi lahir
untuk mencegah kehilangan panas secara [Link] untuk menjaga kehangatan
tubuh bayi, mengeringkan dengan menyeka tubuh bayi juga merupakan rangsangan taktil
yang dapat merangsang pernafasan bayi.
2. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat Bayi yang di selimuti
kain yang sudah basah dapat terjadi kehilangan panas secara [Link] itu setelah
mengeringkan tubuh bayi, ganti kain tersebut dengan selimut atau kain yang bersih,
kering dan hangat.
3. Tutup bagian kepala bayi Bagian kepala
Bayi merupakan permukaan yang relatif luas dan cepat kehilangan [Link] itu tutupi
bagian kepala bayi agar bayi tidak kehilangan panas.
4. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya Selain untuk memperkuat jalinan
kasih sayang ibu dan bayi, kontak kulit antara ibu dan bayi akan menjaga kehangatan
tubuh bayi. Untuk itu anjurkan ibu untuk memeluk bayinya.
5. Perhatikan cara menimbang bayi atau jangan segera memandikan bayi baru lahir 1.
Menimbang bayi tanpa alas timbangan dapat menyebabkan bayi mengalami kehilangan
panas secara konduksi. Jangan biarkan bayi ditimbang telanjang. Gunakan selimut atau
kain bersih. 2. Bayi baru lahir rentan mengalami hipotermi untuk itu tunda memandikan
bayi hingga 6 jam setelah lahir. a) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat Jangan
tempatkan bayi di ruang ber-AC. Tempatkan bayi bersama ibu (rooming in).Jika
menggunakan AC, jaga suhu ruangan agar tetap hangat. b) Jangan segera memandikan
bayi baru lahir
4) Merawat Tali Pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan pengikatan tali
pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat (bila tersedia). 1. Celupkan tangan yang masih
menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan
sekresi lainnya. 2. Bilas tangan dengan air DTT. 3. Keringkan dengan handuk atau kain yang
bersih dan kering. 4. Ikat tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari pusat bayi. Gunakan
benang atau klem plastik penjepit tali pusat DTT atau steril. Ikat kuat dengan simpul mati
atau kuncikan penjepit plastik tali pusat. 5. Lepaskan semua klem penjepit tali pusat dan
rendam dalam larutan klorin 0,5% 6. Bungkus tali pusat yang sudah di ikat dengan kasa steril
5) Pemberian Asi
Rangsangan hisapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke
hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon 25 prolaktin. Prolaktin akan mempengaruhi
kelenjar ASI untuk memproduksi ASI di alveoli. Semakin sering bayi menghisap puting susu
maka akan semakin banyak prolaktin dan ASI yang di produksi. Penerapan inisiasi menyusui
dini (IMD) akan memberikan dampak positif bagi bayi, antara lain menjalin / memperkuat
ikatan emosional antara ibu dan bayi melalui kolostrum, merangsang kontraksi uterus, dan
lain sebagainya. Melihat begitu unggulnya ASI, maka sangat disayangkan bahwa di
Indonesia pada kenyataannya penggunaan ASI belum seperti yang [Link]
ASI yang dianjurkan adalah sebagai berikut: a) ASI eksklusif selama 6 bulan karena ASI saja
dapat memenuhi 100% kebutuhan bayi. b) Dari 6-12 bulan ASI masih merupakan makanan
utama bayi karena dapat memenuhi 60-79% kebutuhan bayi dan perlu ditambahkan makanan
pendamping ASI berupa makanan lumat sampai lunak sesuai dengan usia bayi. c) Diatas 12
bulan ASI saja hanya memenuhi sekitar 30% kebutuhan bayi dan makanan padat sudah
menjadi makanan utama. Namun, ASI tetap dianjurkan pemberiannya sampai paling kurang
2 tahun untuk manfaat lainnya (Saifuddin AB, 2017).
6) Pencegahan Infeksi Pada Mata
Pencegahan infeksi mata dapat diberikan kepada bayi baru [Link] infeksi
tersebut di lakukan dengan menggunakan salep mata tetrasiklin 1%.Salep antibiotika tersebut
harus diberikan dalam waktu 26 satu jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis infeksi mata
tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran (Indrayani, 2017).
7) Profilaksis perdarahan pada bayi baru lahir
Semua bayi baru lahir harus segera diberikan vitamin K1 injeksi 1 mg intramuskuler di
paha kiri sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan pada bayi baru lahir akibatdefesiensi
vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.
8) Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah terjadinya infeksi disebabkan oleh
virus Hepatitis B terhadap bayi (Saifuddin AB, 2014).Terdapat 2 jadwal pemberian imunisasi
Hepatitis B. jadwal pertama, imunisasi hepatitis B sebanyak 3 kali pemberian, yaitu usia 0
hari (segera setelah lahir menggunakan uniject), 1 dan 6 bulan. Jadwal kedua, imunisasi
hepatitis B sebanyak 4 kali pemberian, yaitu pada 0 hari (segera setelah lahir) dan DPT+
Hepatitis B pada 2, 3 dan 4 bulan usia bayi (Indrayani, 2017).
BAB III
DOKUMENTASI SOAP DAN RENCANA TINDAK LANJUT

No. Register : 01350


Tanggal masuk : Tgl 15 November 2022 jam 14.00 WITA
Tanggal Partus : Tgl 15 November 2022 jam 09.48 WITA
Tanggal pengkajian : Tgl 15 November 2022 jam 15.00 WITA

IDENTITAS ORANG TUA


Nama : Ny,T / Tn.K
Umur : 27 Tahun / 28 Tahun
Agama : Islam / Islam
Suku/Bangsa : Bugis / Indonesia
Pendidikan : SMU / SMK
Pekerjaan : IRT / Karyawan
Alamat : Maros
Status Pernikahan : 1 kali, sah, lamanya ±1 tahun

Identitas Bayi
Nama : [Link].T
Umur : 0 Hari
Jenis Kelamin : Laki-Laki

A. Data Subyektif
-
B. Data Objektif
1. Bayi segera menangis kuat
2. Tonus otot baik
3. Warna kulit kemerahan
4. Tanda-tanda Vital : HR : 138 x/m, Pernapsan : 40 Kali / Menit Suhu : 36,5 ° C
5. Bayi lahir spontan tanggal 22 November 2022 pukul 09.48 WITA A/S : 8/10
6. Jenis kelamin Laki-Laki BB : 3250 gram , PB : 49 , LK : 33 cm, LD : 34 cm

C. Analisa (A)

Bayi baru lahir Cukup Bulan (BCB) Sesuai Masa Kehamilan (SMK)
Penanganan Bayi Baru Lahir Normal
D. Penatalaksanaan (P)

Tanggal 15 November 2022 pukul 09.48-10.30 WITA

1. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan yang diperoleh, yaitu keadaan umum bayi baik
dan tidak ditemukan kelainan. BB bayi 3250 gram, PB 49 cm. Bayi bernafas normal
sebanyak 40 x/mnt, denyut jantung bayi normal sebanyak 138 x/mnt, suhu tubuh bayi normal
yaitu 36,5ºC. Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan, bayi tidak mengalami kelainan/
cacat bawaan.
Ibu merasa senang mengatahui hasil pemeriksaan bayinya dalam keadaan normal.

2. Memberitahukan pada ibu bahwa bayi akan dinjeksi vitamin K1 Phytomenadion 1 mg dengan
dosis 0,1 cc secara IM pada 1/3 paha kiri atas bagian luar yang berfungsi untuk mencegah
terjadinya perdarahan di kepala bayi, memberikan salep mata oxcytetracyclin 1% untuk
mencegah terjadinya infeksi.

Bayi sudah diberi vitamin K1 dan salep mata.

3. Memberitahu pada ibu bahwa bayi akan diberikan imunisasi Hb0 uniject pada saat ibu akan
pulang nanti di paha kanan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis.
Ibu mengerti penjelasan yang diberikan.

4. Memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu mengenai :


a. Menjaga kehangatan bayi
1) Jaga bayi tetap hangat dan tunda untuk memandikan bayi sekurang-kurangnya 6 jam
setelah lahir.
2) Selimuti bayi dengan kain kering, ganti jika kain pakaian bayi basah.
3) Bayi jangan ditidurkan ditempat yang dingin atau banyak angin.
b. Pemberian ASI berupa :
1) Susui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkannya sedikitnya 8 kali
sehari, pagi, siang maupun malam.
2) Susui dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian bila payudara yang pertama
disusui sudah kosong.
3) Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI sampai bayi berusia 6 bulan.
c. Perawatan tali pusat berupa :
1) Jaga agar tali pusat selalu bersih dan kering, jika kotor bersihkan tali pusat dengtan
air matang lalu keringkan dengan handuk badan bayi dan tali pusat tidak dibungkus.
Pada saat mandi dapat dibersihkan dengan air dan sabun kemudian dibersihkan
dengan air dan dikeringkan kembali.
2) Jangan bubuhkan ramuan atau bahan lain pada tali pusat
4. Tanda-tanda bahaya, berupa :
1) Kesulitan pemberian ASI, sulit menghisap, atau hisapan lemah.
2) Kesulitan bernapas.
3) Bayi terus menerus tidur tanpa bangun untuk menyusui.
4) Kulit/bibir biru, atau seluruh tubuh bayi berwarna kuning.
5) Suhu tubuh bayi terlalu panas atau dingin.
6) Tangis atau prilaku abnormal atau tidak biasa.
7) Muntah terus menerus, pembesaran perut, kotoran berwarna hijau atau
berdarah/lendir.
8) Mata bengkak atau mengeluarkan cairan.
9) Menganjurkan ibu untuk segera memeriksakan bayinya bila mengalami salah satu
tanda bahaya tersebut.
Ibu mengerti tentang pendidikan kesehatan yang diberikan dan bersedia
melakukannya.
10) Menjadwalkan kunjungan ulang pada ibu 2 hari lagi yaitu pada tanggal 25 November
2022 di rumah Ibu.
Ibu bersedia untuk kunjungan selanjutnya yaitu pada tanggal 25 November 2022.
BAB IV
PEMBAHASAN

Penulis melakukan pengkajian data subjektif pada By Ny. T dengan melakukan anamnesa. Hasil
yang didapatkan bayi menangis kuat dan bergerak aktif, bayi nya sudah menyusu dan ASI nya
masih sedikit. Pada pelaksanaan asuhan kebidanan segera setelah bayi lahir dan 1 jam setelah lahir
keadaan umum pada bayi baik 1 jam setelah lahir bayi dilakukan injeksi Vit.K untuk membantu
pencegahan pembekuan darah dan membantu mencegah perdarahan pada bayi, kemudian bayi
diberikan salep mata untuk mencegah terjadinya infeksi pada mata. Pada kasus By Ny.T penulis
juga melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan fisik. Dari hasil yang diperoleh
keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pernafasan 40 x/menit, nadi 138 x/menit,
suhu 36,5°C, berat badan 3250 gram, panjang badan 49 cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 34
cm, semua reflex bagus, genetalia testis sudah turun ke scrotum dan penis berlubang, anus normal
dan tidak ada cacat bawaan. Hal ini sesuai dengan teori (Noordiati, 2018)
Assessment pada studi kasus ini telah sesuai dengan teori (Oktarina, 2016) neonatus cukup
bulan dengan usia kehamilan 39 minggu dengan keadaan fisik normal dan keadaan umum baik, dan
IMD berhasil. Planning pada asuhan memberikan pendidikan kesehatan tentang melakukan
perawatan rutin BBL yaitu menyuntikkan vit k, untuk membantu proses pembekuan darah dan
mencegah perdarahan yang bisa terjadi pada bayi. Kemudian memberikan salep mata
(cloramphenicol) untuk mencegah terjadinya infeksi pada mata bayi. Menjaga kehangatan bayi
dengan memakaikan bayi pakaian, popok, bedong bayi mengunakan kain yang bersih. Serta
melakukan rawat gabung untuk memberikan bantuan emosional bagi ibu dan keluarganya untuk
mendapat pengalaman menjaga bayinya, agar bayi dapat segera mungkin mendapatkan ASI, dan
menambahkan produksi asi, mencegah infeksi dan mencegah kehilangan panas.(Marmi, 2015) Ada
pun cara melakukan pencegahan kehilangan panas dengan cara : pastikan tubuh bayi dikeringkan
dengan handuk atau kain bersih, selimut bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, pastikan
bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat, anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui
bayi nya, pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan menjaga kehilangan
panas, tempatkan bayi pada ditempat yang hangat, menempatkan bayi bersama ibu nya adalah cara
paling mudah untuk menjaga bayi tetap hangat (Yongki, 2012). Pada penatalaksanaan catatan
perkembangan By Ny.T didapatkan teori menurut (Prasetyawati, 2012) bayi post partum 6 jam baru
dapat dimandikan untuk membersihkan bayi dan kemudian dilanjutkan dengan menyuntikkan HB0
pada paha sebelah kiri bayi untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis B. Kemudian melakukan
perawatan tali pusat pada bayi dan kemudian memberikan KIE kepada ibu untuk melakukan ASI
ekslusif pada bayi selama 6 bulan tanpa makanan tambahan apa pun dan mengajarkan ibu cara
menyusui yang benar agar bayi puas saat diberi ASI, dan memberikan kolostrum pada bayi,
melakukan pemijatan laktasi pada ibu dan memberitahu ibu tentang nutrisi selama masa menyusui
(Jenny, 2013)
Cara melakukan perawatan tali pusat adalah dengan cara: jangan membungkus tali pusat dan
mengoleskan cairan atau bahan apapun pada tali pusat bayi, lipat popok dibawah puntung tali pusat,
jika tali pusat kotor bersihkan dengan air DTT dan sabun lalu keringkan dengan kain bersih.
(Rukiyah, 2010). Kemudian cara pemberian ASI yaitu dengan cara memberikan dukungan kepada
ibu untuk mengenali saat bayi siap untuk disusui, disusui dimulai 30 menit setelah bayi lahir,
memberikan kolostrum kepada bayi, tetap mengusahakan bayi menghisap untuk merangsang
produksi ASI, menyusu bayi dari kedua payudara secara bergantian, masing-masing 15-25 menit,
memberikan ASI saja selama 6 bulan pertama, mempertahankan posisi tubuh bayi saat ibu menyusui
dengan cara bayi menghisap dimana putting dan aerola mammae masuk seluruhnya ke mulut untuk
menghindari putting susu lecet. (Sembiring, 2017)
Penatalaksaan pada bayi usia 6 jam penulis memberikan pendidikan kesehatan tentang
pencegahan infeksi, kehilangan panas, perawatan tali pusat, dan pemberian ASI. Pencegahan infeksi
menurut (Marmi, 2015) pencegahan infeksi yaitu dengan cara : mencuci tangan sebelum melakukan
kontak dengan bayi, memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan
untuk bayi dalam keadaan bersih, menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri, terutama
payudaranya dengan mandi setiap hari, membersihkan muka, pantat dan tali pusat bayi baru lahir
dengan air bersih, hangat dan sabun setiap hari.
BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal di PMB
Hasna Dewi pada By Ny. T neonatus cukup bulan usia 1 jam. Asuhan yang dilakukan adalah
melakukan ijeksi vit.k, melakukan pemeriksaan fisik dan antropometri, kemudian melakukan IMD
dan menjaga kehangatan bayi baru lahir normal. yang dilaksanakan menggunakan metode
pendekatan SOAP (subjektif, objektif, assessment, planning). Pada kasus Ny. E proses yang
dilakukan adalah memberikan konseling tentang cara menyusui yang baik dan benar. Dan hasil nya
terlihat bahwa bayi Ny.E saat menyusui tidak menangis dan gelisah. Setelah penulis mengumpulkan
data secara keseluruhan maka dapat dibuat kesimpulan yaitu, Analisis sesuai dengan data yang telah
dikumpulkan. Analisis data yang diperoleh yaitu neonatus normal, keadaan umum baik
REFERENSI

APN. (2017). Buku Acuan Persalinan Normal. JNPK-KR.

Armini. (2017). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. Yogyakarta
: Andi.

Herman, H. (2020). the Relationship of Family Roles and Attitudes in Child Care With Cases
of Caput Succedeneum in Rsud Labuang Baji, Makassar City in 2018.

Jitowiyono. (2010). Asuhan Keperawatan Neonatus dan Anak. Mulia Medika.

Indrayani. (2013). Asuhan Persalinan dan bayi Baru Lahir. CV. Trans Info Media.

Lutfiani, A. K. (2015). ( Midwifery Care In Newborn Care At The Rope Centre In Bpm Ny .
Beautiful Village 1 .
Marmi. (2015). Asuhan neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah. pustaka pelajar.

Noordiati. (2018). Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita, Dan Anak Pra Sekolah

Oktarina. (2016). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Deepublish.

Prasetyawati. (2012). Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Nuha Medika.

Prianti, A. T. (2019). Seminar nasional sains, teknologi, dan sosial humaniora uit 2019. Sains,
Seminar Nasional Penelitian, Lembaga Pengabdian, D A N Uit, Masyarakat, 4–12. rukiyah.
(2019).

Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Rendah Serta Hipotermi Umur 1 Hari di RSUD Sumbawa
Besar. Rukiyah. (2011).

Asuhan Kebidanan. I. CV. Trans Info Media. Sembiring, B. (2017).

Buku Ajar Neonatus, Bayi, Balita, Prasekolah (Pertama). CV Budi Utama.

Widiastini. (2014). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin dan BBL. IN MEDIA. World Health
Organization (WHO). (2018). Deafness and hearing loss.

Yongki. (2012). Asuhan Pertumbuhan Kehamilan, persalinan, Neonatus, Bayi dan Balita.
Nuhamedika.
Format Laporan BST

LEMBAR MONITORING PRE DAN POST CONFERENCE


1. KEGIATAN 1

NAMA MAHASISWA : Hariyani


NIM : 2021102132
TEMPAT PRAKTIK : UPTD Puskesmas Lau
MATERI BIMBINGAN : Stase Bayi Baru Lahir (BBL)

PRECONFERENCE POST CONFERENCE


Hari/ Masukan Tanda Tangan Hari/ Masukan Tanda Tangan
Tanggal Pembimbing Pembimbing Tanggal Pembimbing Pembimbing

29/11/2022  Jenis kasus 29/11/2022  Kompetensi


untuk stase dasar
bayi baru pelaksanaan
lahir kegiatan
 Kompetensi sudah sesuai
apa yang dengan
ingin dicapai kompetensi
 Kapan pengetahuan
pelaksanaan pengkajian
sesi kasus untuk
pengambilan stase bayi
kasus, sesuai baru lahir
kasus  Kompetensi
ditemukan pembelajaran
ditempat dalam stase
praktek sudah
 Persiapan diri terpenuhi
berdasarkan  Sesi kegiatan
pengkajian sudah
kasus dilakukan
(kemampuan sesuai
pengetahuan dengan
tentang kasus kontrak
tersebut pembimbinga
 Pembimbinga n
n dilakukan  Langkah
selama 10-15 kegiatan
menit sudah
dilakukan
dengan benar
 Pembimbingan
dilakukan
selama 10-15
menit
Preseptor Lahan

ZAHRIYANTI, [Link]
NIP.197609122003122007
LEMBAR BIMBINGAN PRE CONFERENCE

NAMA MAHASISWA : HARIYANI


TEMPAT PRAKTIK : UPTD PUSKESMAS LAU
WAKTU PELAKSANAAN : 28 November s/d 10 Desember 2022

HAL YANG DIDISKUSIKAN CATATAN PEMBIMBING KLINIK


1 Kesiapan Mahasiswa  Mahasiswa mempersipkan ;
Diri , alat dan Pasien

2 Rencana Kegiatan (Kontrak Belajar)  Mahasiswa menyusun job sheet langkah


kegiatan sesuai dengan perasat yang
dilakukan
 Tiap kegiatan dilakukan 15-25 Menit
 Tiap sesi kegiatan diwali dengan infomed
concent terhadap pasien
 Tahap kegiatan dilakukan dengan 3 sesi
3 Umpan Balik  Mahasiswa telah melaksanakan tindakan
sesuai dengan langkah kegiatan job sheet
 Langkah kegiatan dilakukan sesuai dengan
standart kompetensi yang ingin dicapai
dalam pembelajaran klinik stase bayi baru
lahir
 Langkah kegitan sudah memenuhi kriteria
semua penilaian dan sesuai dengan standart
operasional prosedur

Preseptor Lahan Mahasiswa Preseptor Institusi

ZAHRIYANTI, [Link] HARIYANI NUR LAELA, [Link]


NIP.197609122003122007 NIM. 2021102132 NIDN.0903019101

LEMBAR BIMBINGAN POST CONFERENCE

NAMA MAHASISWA : HARIYANI


TEMPAT PRAKTIK : UPTD PUSKESMAS LAU
WAKTU PELAKSANAAN : 28 November s/d 10 Desember 2022

HAL YANG DIDISKUSIKAN CATATAN PEMBIMBING KLINIK


1 Kesiapan Mahasiswa  Mahasiswa mempersipkan ;
Diri , alat dan Pasien

2 Rencana Kegiatan (Kontrak Belajar)  Mahasiswa melakukan kegiatan sesuai


dengan job sheet/ langkah kegiatan
 Tiap kegiatan dilaksanakn dalam waktu
20-35 menit sesuai kesepakatan
 Lembar infomed consent terhadap
klien/pasien telah diisi sebelum
melakukan tindakan
 Tahap kegiatan dilakukan dengan 3 sesi
 Tahap awal persiapan diri 5 menit
 Tahap pelaksanaan 15-20 menit
 Tahap akhir tindakan melakukan
pendokumentasian dan pemrosesan alat
(desinfektan / dekontaminasi) 5 -10 Menit
3 Umpan Balik  Mahasiswa telah melksanakan tindakan
sesuai dengan langkah kegiatan jobsheet
 Langkah kegiatan sudah memenuhi ktiteria
semua penilaian sesuai dengan standart
oprasional prosedur
 Langkah kegiatan dilakukan sesuai dengan
standar kompetensi yang ingin dicapai
dalam pembelajaran klinik satse bayi baru
lahir
 Kompetensi dasar mulai awal sampai
dengan akhir kegiatan mahasiswa cukup
/mampu melakukan kegiatan
 Kesimpulan dari semua kegiatan
mahasiswa mahir melakukan tindakan
dengan benar dan tepat sesuai langkah
kegiatan
 Langkah kegiatan yang terlewatkan bukan
hal patal diluar langkah yang tidak boleh
tidak dilakukan

Preseptor Lahan Mahasiswa Preseptor Institusi

ZAHRIYANTI, [Link] HARIYANI NUR LAELA, [Link]


NIP.197609122003122007 NIM. 2021102132 NIDN.0903019101
WORKSHEETS (LEMBAR KERJA)TUTORIAL KLINIK

Stase : Bayi Baru Lahir


Kasus : Bayi Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan
Nama : Bayi Ny.S

No Komponen Pembahasan

1 Tutorial 1 :
Data Subjektif : ;Bayi Ny.S, 2 menit yang lalu lahir
-

Data Objektif : Pernapasan 28 x/menit, denyut jantung janin 100 / menit,


extermitas atas kemerahan, extermitas bawah kebiruan , apgar
score 7/10
Diagnosis Banding Asfiksia berat
Perencanaan Jelaskan hasil pemeriksaan, Bebaskan jalan nafas, memposisikan
Pemeriksaan bayi , bersihkan jalan nafas, selimuti, observasi TTV bayi
Penunjang
2 Tutorial II :
Diagnosis Bayi Ny.S , bayi baru lahir dengan asfiksia
Penatalaksaan sesuai Memposisikan bayi dengan baik ( kepala bayi setengah tengadah /
kasus sedikit extensi atau menggganjal bahu dengan kain
Bersihkan jalan nafas dengan alat penghisap yang tersedia
sepertyi deele
Bungkus bayi dengan selimut yang kering
Letakkan bayi pada posisi yang benar, kemudian hitung usaha
nafas, frekuensi denyut jantung bayi dan warna kulit
3 Feedback ( dari Prognosis buruk pada bayi yang mengalami asfiksia jika tidak
3 preceptor dan ditangani dengan cepat dan benar
Pembimbing
Institusi

Preseptor Lahan Mahasiswa Preseptor Institusi

ZAHRIYANTI, [Link] HARIYANI NUR LAELA, [Link]


NIP.197609122003122007 NIM. 2021102132 NIDN.0903019101
REFLEKSI KASUS

1. Deskripsi : Bayi baru lahir normal jika mengalami masalah perlu pengkajian khusus , bila
salah dalam penilaian awal bayi baru lahir bisa terjadi kematian bayi.
Yang menarik dari kasus tersebut adalah:
 Mengapa sampai terjadi kematian pada bayi baru lahir ?
 Bagaimana cara penganan bayi baru lahir ?
 Bagaimana dampak yang terjadi jika bayi baru lahir yang mengalami komplikasi
 Bagaimana mengubah pola pikir ibu yang biasa melahirkan tanpa didampingi oleh
tenaga kesehatan ?
2. Emosi Pribadi Terhadap Kasus
 Saya puas dapat melakukan asuhan pada bayi baru lahir normal dari berbagai aspek
sehingga dapat mengetahui permasalahan-permasalahan bayi baru lahir supaya bisa
memberi penanganan yang holistik.
 Perasaan yg tidak menyenangkan: Saya kecewa kasus seperti asfiksia dan hipotermi
pada bayi baru lahir banyak terjadi pada bayi baru lahir sehingga dapat menyebabkan
kematian
3. Evaluasi
 Mampu melakukan pengkajian mendalam pada klien sehingga klien mampu
mengungkapkan permasalahan yang ada sehingga permasalahan bisa diketahui. Dengan
demikian diharapkan permasalahan dapat ditangani sebaik-baiknya.
 Pengalaman yang buruk: tidak mampu melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk
pemeriksaan penunjang karena keterbatasan peralatan
4. Analisis
 Mengapa perlu pengetahuan tentang penanganan bayi baru lahir yang baik dan benar
 Bagaimana konseling terhadap ibu yang baik sehingga komplikasi pada waktu
melahirkan dapat ditangani dengan cepat sehingga tidak terjadi kematian
5. Kesimpulan
 Asuhan kebidanan yang diberikan kurang lengkap. Perlu tindakan kolaboratif untuk
pengkajian pemeriksaan penunjang
 Teknik asuhan yang tepat untuk pasien bayi baru lahir
6. Tindak Lanjut
 Pendampingan dan konseling ibu hamil dan kelas ibu hamil perlu digalakkan dan di
rutinkan
LAPORAN PRAKTIK PROFESI READING JURNAL TENTANG
TAHUN AKADEMIK 2022/2023

STASE BAYI BARU LAHIR


JUDUL KASUS ASUHAN KEBIDANAN TENTANG CAPUT SUCCEDANEUM
TAHUN AKADEMIK 2022/2023

Preseptor Pembimbing Pendidikan : Nur Laela, [Link], [Link]

Disusun Oleh :
(HARIYANI – 2021102132)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN PROGRAM


PROFESI FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
ITKES MUHAMMADIYAH SIDRAP
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN READING JURNAL
STASE BAYI BARU LAHIR
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR DENGAN CAPUT SUCCEDENEUM
TAHUN AKADEMIK 2022/2023

Maros, Tanggal 14 s/d 26 Nopember 2022

Preseptor Institusi Preseptor Lahan Mahasiswa

Nur Laela, [Link], [Link] Zahriyanti, [Link] Hariyani


NIDN.0903019101 NIP. 1976091220031220007 NIM.2021102132
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Reading jurnal yang berjudul : “Asuhan
Kebidanan Bayi Baru Lahir dengan Caput Succedaneum”. Karya Tulis Ilmiah ini disusun dengan
maksud untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat penyelesaian tugas loogbook
Kebidanan ITKes Muhammadiyah Sidrap. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan pengarahan
dari berbagai pihak. Makalah journal reading ini tidak akan mungkin bisa terselesaikan tepat waktu ,
terima kasih yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah
journal ini . Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis membuka saran demi kemajuan penulisan jornal .

Maros tgl 26 Juni 2022

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................................i


Halaman Pengesahan ....................................................................................................ii
Kata Pengantar...............................................................................................................iii
Daftar Isi ........................................................................................................................iv
BAB I Pendahuluan ........................................................................................................1
BAB II Tinjauan Pustaka ................................................................................................2
BAB III Kesimpulan Dan Saran ................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................15
LAMPIRAN ..............................................................................................................16
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2013 Angka Kematian Bayi (AKB)
di dunia 34 per 1.000 kelahiran hidup, AKB di Negara berkembang 37 per 1.000 kelahiran hidup
dan AKB di negara maju 5 per 1.000 kelahiran hidup. AKB di Asia Timur 11 per 1.000 kelahiran
hidup, Asia Selatan 43 per 1.000 kelahiran hidup, Asia Tenggara 24 per 1.000 kelahiran hidup dan
Asia Barat 21 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2013 AKB di Indonesia mencapai 25 per
1.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan Malaysia, Filipina dan Singapura, angka tersebut
lebih besar dibandingkan dengan angka dari negara–Negara tersebut dimana AKB Malaysia 7 per
1.000 kelahiran hidup, Filipina 24 per 1.000 kelahiran hidup dan Singapura 2 per 1.000 kelahiran
hidup Pada tahun 2014 AKI di Dunia mencapai angka 289.000 jiwa dimana dibagi atas beberapa
negara antara lain, Amerika Serikat mencapai 9300 jiwa, Afrika Utara179.000 jiwa dan Asia
Tenggara 16.000 jiwa (WHO,2014) Angka kematian bayi akibat infeksi yang disebabkan oleh
Caput Succedaneum menurut WHO tahun 2013 sebesar 0,05% dari 4 juta bayi yang meninggal
dalam usia 30 hari (neonatal lanjut). Sedangkan di Indonesia angka kematian bayi akibat infeksi
Caput succedaneum pada tahun 2013 sebesar 11% dari 35 per 1000 kelahiran hidup. Adapun
penyebab utama kematian neonatal dini terdiri dari (asfiksia, ikterus, berat badan lahir rendah,
caput succedaneum) 62%, diare 17%, kelainan kongenital 6%, meningitis, 5%, pneumoni 4%,
tetanus 2%, sepsis 4%, dimana salah satu penyebab komplikasi sepsis pada bayi baru lahir yaitu
Caputsuccedaneum.(WHO,2015).
Pada kasus didapatkan data subjektif sebagai berikut ibu mengatakan bayinya menangis kuat,
kulit kemerahan, bernapas tanpa menggunakan alat bantu, gerakan aktif. Data subjektif: Ibu
mengatakan melahirkan bayi gukup bulan pada tanggal 08-12-2017 jam 15.46 wib. Data objektif:
Keadaan Umum : lemah, kesadaran : composmentis, TTV : S : 37ºC, R : 51 x/menit, N : 136
x/menit, pemeriksaan antropometri BB : 3290gram, PB : 51 cm, LK : 34 cm, LD : 33 cm, nilai
Apgar Score : 8-9, kepala bayi bagian belakang terdapat benjolan yang teraba lunak bentuk
mesochepal, teraba caput succedaneum, lunak warna kemerahan, edema melampaui garis sutura,
reflek moro : baik, reflek palmar graps : baik, reflek sucking : baik, reflek rooting : baik.
Berdasarkan hal di atas penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan praktek
Diharapkam petugas kesehatan lainnya dapat lebih meningkatkan pelayanan dalam menangani
kasus caput succedaneum, pencegahan infeksi , sehingga perlu adanya peran bidan untuk memberi
konseling terhadap ibu dan keluarga penyebab dari caput dan cara penanganannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Asuhan kebidanan ( logbook data focus)

ANALISIS DATA

Nama : By.K Umur : 1 hari


Ruangan : Nifas ( Rooming in)

No Tanggal Data Relevan Penyebab Diagnosa TTD

1. 16-11-2022 DS :
Jam : 17.00 Persalinan Bayi Ny.K,
- ibu melahirkan tgl 16 November
2022 jam 08.00 WITA anak Kala II umur 6 jam,
perempuan Lama dengan Caput
succedaneum
- persalinan pertama 6 jam yang lalu
- Benjolan lembut pada area kepala
dikeluhkan oleh ibu
- Ibu bertanya apakah benjolan dapat
sembuh

DO :
- Benjolan berbatas jelas bagian
parietal
- Teraba lembut diarea benjolan
- Tampak kemerahan sedikit area
kepala
- TTV : HR : 138 x/m Pernapasan 42
x/menit, Suhu : 36,5 ºC
- Tali Pusat masih basah
- Perabaan mula-nula keras lama
kelamaan lembut
- Tampak benjolan bengkak berisi
difusi cairan
-

DIAGNOSA KEBIDANAN

NO Tanggal Diagnosa Kebidanan TTD

1 16-11-2022 Dx: Asuhan kebidanan bayi baru lahir normal 6 jam yang
lalu, dengan gangguan rasa nyaman akibat caput
succedaneum
RENCANA ASUHAN

Tanggal No. Tujuan / Kriteria Rencana Tindakan Rasional TTD


Dx Hasil
16-11-2022 001 Tujuan :
1. Pemeriksaan tanda- 1. Keadaan umum
1. Anak akan tanda vital anak : dan tanda-tanda
menunjukkan vital merupakan
berkurangnya indikasi untuk
rasa ketidak mengetahui
nyamanan keadaan anak ,
memantau
Kriteria Hasil : perkembangan
kesejahteraan
1. KU bayi baik fisik anak dan
2. Tanda-tanda antisipasi
Vital Normal kemungkinan
(Evelyn) terjadinya
HR : ≥ 100 masalah yang
Pernapsana : ≥ 2. Kaji ekspresi anak tidak diinginkan
24 – 48 kali ( diam, rewel , 2. Memberikan data
/menit menangis terus dasar untuk
menerus dll menetukan ,
Suhu : 36,5 – mengevaluasi
37,5 intervensi yang
3. Kurangi jumlah diberikan
3. Anak tidak
cahaya lampu, 3. Stimulus cahaya
rewel
kebisingan dan yang berlebih
4. Anak tidak berbagai stimulus dapat
terus menangis lingkungan lainnya mengganggu
dari anak anak yang
mengalami
cedera karena
4. Kaji tanda vital , catat dapat
peningkatan frekuensi meningkatkan
nafas, frekuensi nadi, tekanan
intrakranial
peningkatan atau
penurunan nafas dan 4. Peningkatan
diforesis frekuensi nadi,
peningkatan atau
penurunan
5. Anjuran ke keluarga frekuensi
untuk jangan pernapasan atau
diforesi
mengangkat bayi
menunjukkan
sering
ketidak
nyamanan
5. Untuk
mengurangi
tekanan pada
area kepala yang
bisa
menyebabkan
peningkatan
tekanan
intrakranial
IMPLEMENTASI

Tanggal [Link] Jam Tindakan Kebidanan TTD


16-11-2022 001 08.00
1. Memeriksaan tanda-tanda vital anak :
a. HR : 134 x/menit
b. Pernapasan 42 x/ menit
c. Suhu : 36,5 ºC

2. Mengkaji i ekspresi anak ( diam, rewel ,


menangis terus menerus dll
Anak tampak gelisah

3. Mengurangi jumlah cahaya lampu,


kebisingan dan berbagai stimulus
lingkungan lainnya dari anak : menutup
bagian sinar cahaya yang berlebih

4. Mengkaji tanda vital , catat peningkatan


frekuensi nafas, frekuensi nadi,
peningkatan atau penurunan nafas dan
diforesissudah dilakukan pencatatan

5. Menganjurkan keluarga untuk jangan


mengangkat bayi sering , ibu mengerti
tentang ajuran yang disampikan
EVALUASI

[Link] Evaluasi TTD


Tanggal
16 Oktober 001
2022 Tgl 16-11-2022 jam 09.30-10.00 WITA
1. Rasa Nyaman terpenuhi dengan kriteria
bayi tidak rewel
2. Anak sesekali bangun ketika popok
basah, anak lapar
3. Pembengkakan pada kepala tidak meluas
B. Telaah jurnal

Jurnal Judul Populasi Intervensi Comparasion outcome Time


Jurnal The 34 orang Prognosis Angka Daat Sekitar 2
inovasi Relationship Of baik jika kejadian dijadikan minggu
penelitian Family Roles dapat caput dengan bahan
And Attitudes ditangani kejadian pertimbangan
ISSN In Child Care dengan baik kematian penilitian
2722- With Cases Of Prognosis akibat selanjutnyya
9475 Caput kurang baik infeksi atau
(Cetak) Succedeneum bila terjadi sekundr penulisan
ISSN In Rsud infeski akibat kasus jurnal
2722- Labuang Baji, sekunder tidak lainnya
9467 Makassar City tertangani
(Online) In 2018 dengan baik
1 orang Manajemen Dasar
asuhan pertimbangan 5 hari
Vol 3 No kebidanan untuk
bayi baru melakukan
1 (2018): Asuhan lahir dengan Kejadian intervensi
Vol 3 No Kebidanan Bayi caput Caput tindakan
1 (2018) : Baru Lahir succedaneum dengan pada kasus
Elisabeth Pada Bayi Ny. kejadian yang sama
Health S Usia 1 Hari ikutan pasca berdasarkan
Jurnal Dengan Caput melahirkan evidence
Succedaneum terjadi caput basic
akibat partus kebidanan
Di Rumah Sakit lama
Elisabeth
Lubuk Baja
Batam
Desember
Tahun 2018

C. Penulis melakukan pengkajian data subjektif pada By Ny. K dengan melakukan anamnesa. Hasil
yang didapatkan Caput succedaneum merupakan pembengkakan lokal pada presenting part yang
dapat melewati garis sutura, biasanya keadaan ini akan menghilang dalam waktu sekitar 3 hari
(Lockhart Rn dan Saputra, 2014: 39). Sesuai dengan jurnal yang di tulis oleh elizabeth bahwa
terjadinya tekanan bagian terendah janin pada proses persalinan menyebabkan pembengkakan
lokal pada kepala yang mempunyai batas tegas akan menghilang dengan sendirinya pada minggu
ke 5-6 . Caput succedaneum terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala pada saat
memasuki jalan lahir, sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan
pengeluaran cairan tubuh kejaringan ekstravaskuler. Keadaan ini bisa terjadi pada partus lama atau
persalinan dengan vacum eksrtaksi (Dewi, 2013: 124). Kelainan pada Caput succedaneum timbul
akibat tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir hingga terjadi pembendungan
sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh kejaringan ekstra vasa (Maryunani,
Sari, 2013: 371). Menurut Arief ZR dan Sari terdapat beberapa etiologi terjadinya Caput
succedaneum yaitu: 1) Karena adanya tekanan pada kepala oleh jalan lahir 2) Partus lama Partus
lama dapat menyebabkan caput succedaneum karena terjadi tekanan pada jalan lahir yang teralu
lama, menyebabkan pembuluh darah vena tertutup, tekanan dalam capilair venus meninggi hingga
cairan masuk kedalam cairan longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat terendah.
3) Persalinan dengan vacum ekstraksi Pada bayi yang dilahirkan vakum yang cukup berat, sering
terlihat adanya caput vakum sebagai edema sirkulasi berbatas dengan sebesar alat penyedot vakum
yang digunakan proses persalinan yang panjang dan sulit. Sering menyebabkan pengumpulan
cairan dibawah kulit kepala bayi, sehingga kepala bayi terlihat bengkak/ udema (Arief ZR dan
Sari, 2009: 46).
Jadi tidak terjadi kesejangan antara teori dengan tanda dan ciri bayi dikatakan mengalami caput
ditinjau dari segi penyebab dari pada caput
Assessment pada studi kasus ini telah sesuai dengan teori Caput succedaneum tidak memerlukan
pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari. Tegas pada tulang yang
bersangkutan dan tidak melampaui sutura-sutura sekitarnya, sering ditemukan pada tulang
temporal dan parietal. Kelainan dapat terjadi pada persalinan biasa, tetapi lebih sering pada
persalinan lama atau persalinan yang diakhiri dengan alat, seperti ekstraksi cunam atau vakum..
Penatalaksanaan pada bayi dengan caput succedaneum sebagai berikut: a. Perawatan bayi sama
dengan bayi normal b. Pengawasan keadaan umum bayi c. Berikan lingkungan yang baik, adanya
ventilasi dan sinar matahari yang cukup d. Pemberian ASI yang adekuat, bidan harus mengajarkan
pada ibu teknik menyusui dengan benar e. Pencegahan infeksi harus dilakukan untuk menghindari
adanya infeksi pada benjolan Berikan konseling pada orang tua tentang : 1) Keadaan trauma yang
dialami oleh bayi; 2) Jelaskan bahwa benjolan akan menghilang dengan sendirinya setelah 2
sampai 3 minggu tanpa pegobatan 3) Perawatan bayi sehari-hari 4) Manfaat dan tekhnik pemberian
ASI (Dewi, 2013: 125).
Penatalaksaan pada bayi usia 6 jam penulis memberikan pendidikan kesehatan tentang jangan
sering mengangkat bayi dari tempat tidurnya untuk mengurangi tekanan pada kepala ini sejalan
dengan teori yang dikemukakan oleh (Dewi, 2013:125) dan sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Herman tentang ada hubungan antara peran keluarga dalam perawatan keluarga
dengan kejadian caput, bila keluarga turun berperan dalam perawatan dan mengikuti anjuran yang
disampikan oleh bidan atau petugas maka penatalaksanaan erawatan akan berjalan dengan baik dan
akan hilang sendiri caputnya 3-5 minggu perawatan tanpa pengobatan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan Caput
succedaneum pada By Ny. K neonatus cukup bulan usia 6 jam. Asuhan yang dilakukan adalah
melakukan melakukan pemeriksaan fisik dan antropometri, kemudian melakukan pemeriksaan
tanda-tanda vital , kaji tingkat ketidak nyamanan by Ny.K dan tetap mengajarkan pada ibu
penyebab caput yang dialam yang dilaksanakan menggunakan metode pendekatan SOAP
(subjektif, objektif, assessment, planning). Pada kasus [Link].K proses yang dilakukan adalah
memberikan konseling tentang cara menyusui yang baik dan benar. Dan hasil nya terlihat
bahwa bayi Ny.K saat menyusui tidak menangis dan gelisah. Setelah penulis mengumpulkan
data secara keseluruhan maka dapat dibuat kesimpulan yaitu, Analisis sesuai dengan data yang
telah dikumpulkan. Analisis data yang diperoleh yaitu bayi 6 jam rasa tidak nyaman akibat
adanya caput dikepala, anak tampak tenang dan tidak rewel dan ibu mengerti tentang penyebab
caput dan kooperatif melakukan ajuran yang diajarkan bidan
2. Saran

a. Petugas

Penanganan pasien yang mempunyai masalah yang serius harus ditangani dengan
pendekatan asuhan kebidanan secara holistik sehingga keluarga dapat kooperatif terhadap
segala tindakan yang dilakukan oleh petugas dan keluarga paham tentang apa yang terjadi
terhadap pasien yang dilakukan perawatan

b. Penulis

Penulis perlu mencari jurnal yang terupdate tentang caput succedaneum, sehingga
perawatan yang diberikan mengikuti evidence basic kebidanan terbaru
DAFTAR PUSTAKA

APN. (2017). Buku Acuan Persalinan Normal. JNPK-KR.

Armini. (2017). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. Yogyakarta
: Andi.

Herman, H. (2020). the Relationship of Family Roles and Attitudes in Child Care With Cases
of Caput Succedeneum in Rsud Labuang Baji, Makassar City in 2018.

Jitowiyono. (2010). Asuhan Keperawatan Neonatus dan Anak. Mulia Medika.

Indrayani. (2013). Asuhan Persalinan dan bayi Baru Lahir. CV. Trans Info Media.

Lutfiani, A. K. (2015). ( Midwifery Care In Newborn Care At The Rope Centre In Bpm Ny .
Beautiful Village 1 .
Marmi. (2015). Asuhan neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah. pustaka pelajar.

Noordiati. (2018). Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita, Dan Anak Pra Sekolah

Oktarina. (2016). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Deepublish.

Prasetyawati. (2012). Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Nuha Medika.

Prianti, A. T. (2019). Seminar nasional sains, teknologi, dan sosial humaniora uit 2019. Sains,
Seminar Nasional Penelitian, Lembaga Pengabdian, D A N Uit, Masyarakat, 4–12. rukiyah.
(2019).

Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Rendah Serta Hipotermi Umur 1 Hari di RSUD Sumbawa
Besar. Rukiyah. (2011).
LAMPIRAN
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR BY. NY. K
DENGAN CAPUT SUCCEDANEUM DI RSUD
KARANGANYAR
TAHUN 2013

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Tugas Akhir
Pendidikan Diploma III Kebidanan

Disusun Oleh :

YULIANA SUNDARI
NIM. B10.120

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2013
ii

Persetujuan
iii

Pengesahan
Program Studi Diploma III Kebidanan, STIKES Kusuma Husada Surakarta
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2013
Yuliana Sundari
B10 120

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR BY. NY. K DENGAN


CAPUT SUCCEDANEUM DI RSUD KARANGANYAR
TAHUN 2013

(xiii + 67 halaman + 12 lampiran)

ABSTRAK
Latar Belakang : Angka kematian bayi di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 35
per 1000 kelahiran hidup. Di RSUD Karanganyar periode Januari sampai Oktober
2012 di peroleh 117 bayi mengalami caput succedaneum. Hal ini jika tidak segera
ditangani bisa menimbulkan infeksi sekunder pada daerah caput succedaneum
yang berkaitan dengan angka kematian bayi
Tinjauan Studi Kasus : Melaksanakan Asuhan Kebidanan pada bayi baru lahir
dengan caput succedaneum dengan menerapkan menejemen kebidanan sesuai
dengan 7 langkah varney.
Metode Studi Kasus : Merupakan laporan studi kasus dengan metode deskriptif.
Teknik pengumpulan data meliputi data primer yaitu memeriksaan fisik,
wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder meliputi dokumentasi dan
studi kepustakaan.
Hasil Studi Kasus : Setelah diberikan asuhan kebidanan selama 4 hari dan
dilakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak, didapatkan hasil caput
menghilang, keadaan umum bayi baik, bayi tampak tenang dan nyaman tali pusat
kering tidak terdapat tanda-tanda infeksi, kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi.
Kesimpulan : Setelah pelaksanaan tindakan dilakukan evaluasi hasil asuhan
kebidanan selama 4 hari yang didapat keadaan umum dan tanda vital bayi baik
dan caput dikepala bayi sudah menghilang. Pada studi kasus ini tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan praktik.

Kata Kunci : Asuhan Kebidanan, Bayi Baru Lahir, Capput Succedaneum.


Kepustakaan : 25 literatur (2001 – 2010)
Vol.1 No.2 Juli 2020 49
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
THE RELATIONSHIP OF FAMILY ROLES AND ATTITUDES IN CHILD CARE WITH
CASES OF CAPUT SUCCEDENEUM IN RSUD LABUANG BAJI, MAKASSAR CITY IN
2018

Oleh
Herman
STIKES Yapika Makassar
Email : hermanmm68@[Link]

Abstract
Newborns (BBL) are babies who have just undergone the birth process, aged 0-28 days. BBL
requires physiological adjustments in the form of maturation, adaptation (adjusting from
intrauterine life to extraurine life) and tolerating BBL to live well. The succedeneum head is a
banjolan or swelling due to the presence of lymph nodes in the head (at the percentage of the
head) that occur in babies born. The purpose of this study was to determine the relationship of
family roles and attitudes in the care of children with cases of headache succedeneum. The
method used was cross sectional, using the chi square test design. The sample of 34 respondents
was chosen by using purposive sampling at RSUD Labuang Baji Makassar. The results of this
study showed that respondents with positive succedeneum caput were as many as 88.2% of
respondents who played a role and fewer than negative respondents who played no role namely
as much as 11.8%. Based on the chi square test, the analysis shows the relationship between
family attitudes in child care and the succedeneum caput results obtained by analysis of
indigo p = 0.005 <α = 0.005. The conclusion is there is a relationship between the role and
attitudes of families with child care cases of succedeneum caput.
Keywords: Bbl, Role, Attitude & Caput Succedeneum

PENDAHULUAN edema sebagai akibat pengeluaran serum dari


Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi yang
baru mengalami proses kelahiran, berusia 0-28
hari. BBL memerlukan penyesuain fisiologi
berupa maturasi, adaptasi (menyusuaikan diri
dari kehidupan intrauteri ke kehidupan
ekstraurine) dan tolerasi BBL untuk dapat
hidup dengan baik.
Bayi baru lahir disebut juga dengan
neonatus merupakan individu yang sedang
bertumbuh dan baru saja mengalami trauma
kelahiran serta harus dapat melakukan
penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine ke
kehidupan ekstrauterin.
Caput succedeneum merupakan
penumpukan cairan serosanguineous, subkutan
dan ekstraperiosteal dengan batas yang tidak
[Link] ini biasanya pada presentasi
kepala, sesuai dengan posisi bagian mana yang
[Link] bagian tersebut terjadi
pembuluh [Link] ini disebabkan Organization (WHO), pada tahun 2013
oleh tekana bagian terbawah janin saat Angka Kematian Bayi (AKB) di dunia 34
melawan dilatasi [Link] per 1.000 kelahiran hidup, AKB Negara
succedeneum menyebar melewati garis berkembang 37 per 1.000 kelahiran hidup dan
tengah dan sutura serta berhubungan AKB di Negara maju 5 per 1.000 kelahiran
dengan moulding tulang kepala. Caput hidup. AKB di Asia Tenggara 24 per 1.000
succedeneum biasanya kelahiran hidup dan Asia Barat 21 per 1.000
tidak menimbulkan komplikasi kelahiran [Link] tahun 2013 AKB di
dan akan menghilang beberapa hari setelah Indonesia mencapai 25 per 1.000 kelahiran
kelahiran. Terapi hanya berupa observasi [Link] dibandingkan dengan Malaysia.
Menurut Word Health Filipina dan Singapura, angka tersebut
lebih besar dibandingkan dengan
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN 2722-9475 (Cetak) Jurnal Inovasi Penelitian
ISSN 2722-9467 (Online)
50 Vol.1 No.2 Juli 2020
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
angka dari Negara-negara tersebut dimana data pada pengumpul data. Dalam penelitian
ini AKB Malaysia hidup hasilnya dapat diperoleh
dengan cara
Berdasarkan data Sulawesi Selatan melakukan wawancara, observasi, kuesioner
yang diperoleh dari profil dinas kesehatan pada yang telah di isi langsung oleh responden.
tahun 2015 jumlah kematian bayi menjadi sedangkan Data sekunder adalah sumber yang
1.056 bayi atau 7.23 per 1000 kelahiran hidup tidak langsung memberikan data kepada
yang disebakan oelh beberapa faktor seperti pengumpul data, misalnya orang lain atau
lewat pertumbuhan janin yang lambat, kekuranga gizi dokumen. Analisis
data penelitian ini pada janin,
kelahiran premature dan berta badan menggunakan analisis univariat dan bivariate
lair rendah (BBLR) sedangkan penyebab dengan uji chi square.
lainnya yang cukup banyak terjadi adalah
kejadian kurangnya oksigen dalam rahim HASIL DAN PEMBAHASAN
(hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas Berdasarkan hasil penelitian yang
secara spontan dan teratur pada saat lahir atau dilakukan di RSUD labuang baji Makassar
beberapa saat setelah lahir (afiksia lahir), dan mengenai hubungan peran dan sikap keluarga
trauma persalinan (chefalhematoma, caput dalam perawatan anak dengan kasus caput
succedaneum), maka masih perlu peran dari succedeneum, dapat dilihat ditabel berikut.
semua pihak yang terkait dalam rangka Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan
penurunan angka tersebut sehingga target peran keluarga dalam perawatan anak
Milinium Development Goals (MDGs) dengan kasus caput succedeneum
khususnya penurunan angka kematian dapat Peran Caput Succedeneum Total P
tercapai. keluarga
value
Pengambilan data awal yang dilakukan Positif Negatif
di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
Makassar didapatkan jumlah kasus bayi baru n % n % n %
lahir dengan caput succedeneum pada tahun Ya 26 92,2 2 7,1 28 100,0
0,003
2016 sebanyak 278 bayi, pada tahun 2017
sebanyak 275 bayi, sedangkan pada tahun
Tidak 4 66,7 2 33,3 6 100,0
2018 sebanyak 135 bayi.(Ruangan Rekam
Medik, RSUD Labuang Baji Makassar, 2018).

METODE PENELITIAN Total 30 88,2 4 11,8 34 100,0


Penelitian ini merupakan jenis
penelitian analitik untuk mengetahui hubungan Berdasarkan tabel 4.7 diatas
peran dan sikap keluarga dalam perawatan menunjukkan bahwa dari responden yang
anak dengan kasus caput succedeneum memiliki peran keluarga ya, dan caput
dengan menggunakan pendekatan Cross succedeneum yang positif sebanyak 26
sectional yang merupakan rancangan (92,2%) orang, sedangkan yang
penelitian dengan melalukan pengukuran memiliki peran keluarga ya tetapi caput
atau pengamatan pada saat bersamaan succedeneum yang negatif sebanyak 2
(sekali waktu) antara faktor risiko/paparan (7,1%), sedangkan pada kelompok
dengan penyakit. responden yang memili peran keluarga
Variabel terikat pada penelitian ini tidak, dan caput succedeneum yang positif
adalah bayi baru lahir dengan kasus caput sebanyak 4 (66,7%) orang, sedangkan yang
succedeneum dan variable bebas adalah peran memiliki peran keluarga tidak tetapi caput
keluarga dan sikap keluarga. succedenum yang negatif sebanyak 2 (33,3%)
Data ini diperoleh kuesioner. Data orang.
primer adalah data yang langsung memberikan Analisis menunjukkan hubungan antara
peran keluarga dengan dalam perawatan anak
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Jurnal Inovasi Penelitian ISSN 2722-9475 (Cetak)
ISSN 2722-9467 (Online)
Vol.1 No.2 Juli 2020 51
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
dengan kasus caput succedeneum, diperoleh terkecil dan biasanya selalu ada hubungan
hasil dengan analisis Uji Chi Square diperoleh darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya,
nilai P=0,003 < α = 0,003 yang berarti bahwa tinggal bersama dalam satu rumah yang
ada hubungan antara peran keluarga dengan dipimpin oleh seorang kepala keluarga dan
perawatan anak dengan kasus caput makan dalam satu periuk
succedeneum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan pada responden dengan caput succedeneum
sikap keluarga dalam perawatan anak yang positif lebih banyak pada responden yang
dengan kasus caput succedeneum. berperan ya yaitu sebesar 88,2% dan lebih
sedikit dari responden negatif yang berperan
Sikap Caput succedeneum Total P tidak yaitu sebanyak 11,8%.
keluarga value
Hubungan sikap keluarga dalam perawatan
Positif Negatif anak dengan kasus caput succedeneum
Menurut (Wawan A, dan Dewi
n % n % n % 0,005 M.2010). Menjelaskan sikap dapat diposisikan
sebagai hasil evaluasi terhadap objek sikap
Ya 28 87,5 4 12,5 32 100,0 yang diekspresikan terhadap proses-proses
komunitif, efektif(emosi), dan perilaku
Menurut hasil penelitian dapat dilihat
Tidak 2 100,0 0 0,0 2 100,0 bahwa pada responden dengan caput
succedeneum yang positif lebih banyak pada
Total 30 88,2 4 11,8 34 100,0 responden yang berperan ya yaitu
sebanyak 88,2%, sedangkan responden
dengan caput
succedeenum negatif yang berperan tidak yaitu
Berdasarkan tabel 4.8 diatas sebanyak 11,8%.
menunjukkan bahwa dari responden yang
memiliki sikap keluarga ya, dan caput PENUTUP
succedeneum yang positif sebanyak 28 Kesimpulan
(87,5%) orang, sedangkan yang memiliki sikap 1. Ada hubungan antara peran keluarga
keluarga ya tetapi caput succedeneum dengan perawatan anak kasus caput
yang negatif sebanyak 4 (12,5%), sedangkan succedeneum.
pada kelompok responden yang memili sikap 2. Ada hubungan antara sikap keluarga
keluarga tidak, dan caput succedeneum yang dengan perawatan anak kasus caput
positif sebanyak 2 (100,0%) orang, succedeneum
sedangkan yang memiliki sikap keluarga Saran
tidak tetapi caput succedenum yang negatif 1. Untuk institusi.
sebanyak 0 (0,0%) orang. Sebagai bahan kajian, masukan dan
Analisis menunjukkan hubungan antara dasar pemikiran bagi mahasiswa
sikap keluarga dengan dalam perawatan anak khususnya untuk penelitian lebih
dengan kasus caput succedeneum, diperoleh lanjut, guna meningkatkan kualitas
hasil dengan analisis Uji Chi Square diperoleh pendidikan
nilai P= 0,005< α = 0,005 yang berarti bahwa 2. Untuk peneliti
ada hubungan antara sikap keluarga dengan
perawatan anak dengan kasus caput
Penelitian ini merupakan pengalaman
succedeneum.
berh ga, diha apa an dap t lebih
Hubungan peran keluarga dalam perawatan memperluas wawasan dan
ar r k a
pengetahuan peneliti dan sebagai
anak dengan kasus caput succedeneum
Keluarga adalah salah satu kelompok sumbangan yang diharapkan dapat
atau kumpulan manusia yang hidup bersama
sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
ISSN 2722-9475 (Cetak) Jurnal Inovasi Penelitian
ISSN 2722-9467 (Online)
52 Vol.1 No.2 Juli 2020
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………..
bermanfaat untuk pembaca dan [13] Manajemen Asuhan
Kebidanan,Caput peneiliti berikutnya
Succedeneum,2014 ([Link]
[Link]/[Link])
DAFTAR PUSTAKA [14] Maryunani, Anik dan Eka
Puspita [1] Arief Zr Dan Sari, 2014, Neonatus Dan Sari.2014. Asuhan
Kegawatdaruratan
Asuhan Keperawatan Anak Yogyakarta: Maternal &Neonatal, Jakarta: Cv
Trans Nuha Medika
[2] Angka Kematian Bayi (AKB) di
Indonesia Menurut

WHO,
([Link]
/handl e/123456789/50561/Chapter
%[Link]?seq uence=5.)
[3] Asuhan Kebidanan NeonatusCaput Succedeneum
([Link]
[Link]/F
assets/dokumen/[Link])
[4] Azwar S, 2013, Sikap Manusia:
Teori Dan Pengukuran, Jakarta:
Pustaka Pelajar
[5] Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI (1975).Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang [Link]:Balai Pustaka
[6] Dewi, Vivian Nanny Lia.2013,
Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak
Balita, Jakarta: Salemba Medika.
[7] Diouf dkk : / Jurnal Of
Neonatal and Pediatric Medicine.
Vol. 3. Issue. 1, Maret 2017.
[8] Jenny J.S.
[Link]
Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir,Jakarta:Erlangga,7
[9] Laili Jamilatus Sanifa, 2018,
Hubungan tingkat pengetahuan dengan
sikap keluarga [10] Lockhart Rn
Dan Dan Lyndon Saputra,2014,
Asuhan Kebidanan Neonatus
Normal Patologis, Tanggerang
Selatan: Binarupa Aksara Publisher
[11] Manggiasih, Vidia Atika &
Pongki
[Link] KebidananPada Neonatus, Bayi,Balita Dan Anak Pra Sekolah, Jakarta
Timur, DKI Jakarta: Cv Trans Info
Media.
[12] Marni dan Kukuh
[Link] Neonatus,
Bayi, Balita Dan Anak Pra
Sekolah, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………….. Jurnal Inovasi Penelitian ISSN 2722-9475
(Cetak)
ISSN 2722-9467 (Online

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA BAYI NY. S USIA 1 HARI
DENGAN CAPUT SUCCEDANEUM DI RUMAH SAKIT ELISABETH
LUBUK BAJA BATAM DESEMBER TAHUN 2018

1, 2
Putri Miseri Cordias Domini Hulu OktafianaManurung
Staf Pengajar STIKes Santa Elisabeth Medan
ABSTRAK

Latar Belakang: Menurut data Word Health Organization (WHO), Angka kematian bayi
yang disebabkan oleh infeksi Caput Succedaneum menurun sebesar 0,05% dari 4 juta bayi
yang meninggal dalam usia 30 hari (neonatal lanjut). Sedangkan di Indonesia angka kematian
bayi akibat infeksi Caput succedaneum pada tahun 2013 sebesar 11% dari 35 per 1000
kelahiran hidup.
Tujuan : Mendapat pengalaman nyata dalam melaksanakan Asuhan Kebidanan Bayi Baru
Lahir pada By. Ny. S usia 1 hari dengan Caput Succedaneum di Rumah Sakit Santa Elisabeth
Lubuk Baja Batam tahun 2017.
Metode: Berdasarkan studi kasus pada By. Ny. S, metode menggunakan pendekatan
Manajemen Asuhan Kebidanan Varney, untuk pengumpulan data yaitu data primer yang
terdiri dari pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan perluasan caput, keadaan umum, tanda
tanda vital, danantropometri.
Hasil: Berdasarkankasus By. Ny. S dengan Caput Succedaneum dilakukan penanganan dan
perawatan selama 4 hari di Rumah Sakit Santa Elisabeth Batam. Setelah dilakukan perawatan
Caput Succedaneum dan pemberian terapi Trombophop gel 20 gram, keadaan bayi sudah
membaik dan masalah caput sudah teratasi.
Kesimpulan: Berdasarkan kasus By. Ny. S setelah dilakukan penatalaksanaan Caput
Succedaneum dan meminimalkan pengangkatan kepala bayi, keadaan bayi sudah membaik.

Kata Kunci : Caput succedaneum


Referensi : 17 (2008-2018)
MIDWIFERY MANAGEMENT ON NEONATAL OF Ny. S AGE 1 DAY WITH
CAPUT SUCCEDANEUM IN THE HOSPITAL OF ELISABETH BATAM
DECEMBER 2018
1, 2
Putri Miseri Cordias Domini Hulu OktafianaManurung

Staf Pengajar STIKes Santa Elisabeth Medan


ABSTRACT

Background: According to Word Health Organization (WHO) data, infant mortality caused
by Succedaneum Caput infection decreased by 0.05% from 4 million infants who died at 3
days (advanced neonatal). While in Indonesia the infant mortality rate due to infection of
Caput succedaneum in 2013 amounted to 11% from 35 per 1000 live births.
Goals: To have real experience in implementing Care of Newborn Gynecology Born on By.
Mrs. S age of 1 day with Caput Succedaneum at Santa Elisabeth Lubuk Baja Batam Hospital
in 2017.
Method: Based on a case study on By. Mrs. S, the method uses Varney Midwifery
Management approach, for data collection that is primary data consisting of physical
examination include examination of caput extension, general condition, vital signs, and
anthropometry.
Result: Based on By case. Mrs. S with Caput Succedaneum performed handling and
treatment for 4 days at Santa Elisabeth Hospital Batam. After the treatment of Caput
Succedaneum and giving 20 gram Trombophop gel therapy, the baby's condition has
improved and the caput problem has been resolved.
Conclusion: Based on By case. Mrs. S after the management of Succedaneum Caput and
minimize the removal of baby's head, the baby's condition has improved.

Keywords: Caput succedaneum


Reference: 17 (2008-2018)
PENDAHULUAN 5%, pneumoni 4%, tetanus 2%,
Menurut World Health sepsis 4%, dimana salah satu
Organization (WHO), pada tahun penyebab komplikasi sepsis pada
2013 Angka Kematian Bayi (AKB) bayi baru lahir yaitu
di dunia 34 per 1.000 kelahiran Caput succedaneum. (WHO,2015).
hidup, AKB di Negara berkembang
37 per 1.000 kelahiran hidup dan METODE STUDI KASUS
AKB di negara maju 5 per 1.000 1. Jenis Studi Kasus
kelahiran hidup. AKB di Asia Timur Jenis studi kasus ini adalah
11 per 1.000 kelahiran hidup, Asia observasional deskriptif dengan
Selatan 43 per 1.000 kelahiran hidup, pendekatan studi kasus. Studi kasus
Asia Tenggara 24 per 1.000 yang digunakan penulis
kelahiran hidup dan Asia Barat 21 menggunakan asuhan
per 1.000 kelahiran hidup. Pada kebidanan Tujuh Langkah Varney
tahun 2013 AKB di dari pengkajian sampai dengan
Indonesia mencapai 25 per 1.000 evaluasi, serta catatan
kelahiran hidup. Bila perkembangannya menggunakan
dibandingkan dengan Malaysia, Subyektif, Obyektif, Assesment,
Filipina dan Singapura, angka Plan (SOAP) pada asuhan
tersebut lebih besar kebidanan By. Ny. Usia 1 hari
dibandingkan dengan angka dari dengan caput succedaneum.
negara–Negara tersebut dimana AKB
Malaysia 7 per 1.000 kelahiran 2. Tempat dan Waktu Studi Kasus
hidup, Filipina 24 per 1.000 Tempat untuk studi kasus ini
kelahiran hidup dan Singapura 2 per dilaksanakan di Rumah Sakit Santa
1.000 kelahiran hidup Pada tahun Elisabeth Lubuk Baja Batam. Waktu
2014 AKI di Dunia mencapai angka studi kasus adalah waktu yang
289.000 jiwa dimana dibagi atas digunakan penulis untuk pelaksanaan
beberapa negara antara lain, Amerika laporan kasus. Pelaksanaan asuhan
Serikat mencapai 9300 jiwa, Afrika kebidanan ini dilakukan pada tanggal
Utara179.000 jiwa dan 09 Desember-12 Desember 2017.
Asia Tenggara 16.000 jiwa
(WHO,2014) 3. Subjek Studi Kasus
Angka kematian bayi akibat Pada penyusunan Studi Kasus
infeksi yang disebabkan oleh Caput ini penulis mengambil subyek
Succedaneum menurut WHO tahun penelitian pada By. Ny. S umur 1
2013 sebesar 0,05% dari 4 juta bayi hari dengan caput succedaneum.
yang meninggal dalam usia 30 hari
(neonatal lanjut). Sedangkan di 4. Metode Pengumpulan Data
Indonesia angka kematian Dalam penyusunan studi
bayi akibat infeksi Caput kasus ini yang digunakan sebagai
succedaneum pada tahun 2013 metode untuk pengumpulan data
sebesar 11% dari 35 per 1000 antara lain :
kelahiran hidup. Adapun penyebab a. Metode
utama kematian neonatal dini Metode di lakukan secara
terdiri dari (asfiksia, ikterus, berat observasional deskriptif
badan lahir rendah, caput menggunakan prinsip–
succedaneum) 62%, diare 17%, prinsip
kelainan kongenital 6%, meningitis
manajemen asuhan kebidanan - Data Sekunder
menurut Varney dan menggunakan Data penunjang untuk
SOAP untuk catatan perkembangan. mengidentifikasi masalah dan untuk
melakukan tindakan. Data sekunder
b. Jenis Data ini dapat diperoleh dengan
Pada penyusunan studi mempelajari kasus atau dokumentasi
kasus ini penulis menggunakan pasien serta catatan
sumber data yang berupa : asuhan kebidanan dan studi
- Data Primer perpustakaan. Data sekunder
Data primer diperoleh dari diperoleh dari:
hasil wawancara dengan bidan,
dokter dan pasien, observasi 1) Studi dokumentasi
langsung kepada pasien, dan Studi dokumentasi
pemeriksaan fisik terhadap pasien. adalah sumber informai yang
berhubungan dengan dokumentas,
1. Pemeriksaan fisik baik dokumen-dokumen resmi atau
Pemeriksaan yang di pun tidak resmi. Diantaranya biografi
lakukan meliputi pemeriksaan dan catatan harian. Pada kasus BBL
perluasan kaput, keadaan umum, dengan caput succedaneum diambil
tanda tanda vital, antropometri. dari catatan status pasien di RS
Elisabeth Batam.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan 2) Studi Kepustakaan
secara autoresponden kepada Ny. S Studi kepustakaan adalah
dan mengacu pada format asuhan bahan bahan pustaa yangsangat
kebidanan bayi baru lahir yang penting dan menunjang teoritis dari
digunakan oleh DIII Kebidanan yang studi kasus. Pada kasus ini
meliputi: Data identitas diri dan mengambil studi kepustakaan dari
suami, Data keluhan utama, Data buku, laporan penelitian, majalah
kebidanan, Data riwayat kesehatan, ilmiah, jurnal dan sumber terbaru
Data kebiasaan sehari-hari, Data terbitan tahun 2008-2018.
psikososial dan agama, dan lain
sebagainya. 5. Alat dan Bahan yang
butuhkan.
3. Observasi Alat dan bahan yang
Pada kasus BBL dengan dibutuhkan dalam
caput succedaneum, penulis teknik pengumpulan data antara lain :
melakukan observasi terhadap semua 1) Wawancara
tindakan dan terapi yang di berikan Alat dan bahan untuk
untuk By. Ny. S umur 1 hari dengan wawancara meliputi :
caput succedaneum , yang perlu - Format pengkajian BBL
dipantau dan di observasi yaitu - Buku tulis
keadaan umum, tanda tanda vital, - Bolpoin + penggaris
skala nyeri dan perluasan caput. 2) Observasi
Alat dan bahan untuk
observasi meliputi :
- Thermometer
- Stethoschop Succedaneum adalah pembengkakan
- Timbangan berat badan difus jaringan lunak kepala yang
- Alat pengukur tinggi dapat melampaui sutura garis tengah
badan (Saifuddin, 2008). Menurut Pilliteri
- Pita pengukur lingkar (2008) ciri-ciri caput succedaneum
lengan atas adalah adanya benjolan dikepala,
- Jam tangan dengan pada perabaan teraba lembut dan
penunjuk detik lunak, biasa menghilang dalam 2-3
- Metline hari.
Pada kasus didapatkan data
3) Dokumentasi subjektif sebagai berikut ibu
Alat dan bahan untuk mengatakan bayinya menangis kuat,
dokumentasi meliputi : kulit kemerahan, bernapas tanpa
- Status atau catatan pasien menggunakan alat bantu, gerakan
- Alat tulis aktif. Data subjektif: Ibu mengatakan
- Rekam medis melahirkan bayi gukup bulan pada
tanggal 08-12-2017 jam 15.46 wib.
PEMBAHASAN Data objektif: Keadaan Umum
: lemah, kesadaran :
Dalam pembahasan ini akan composmentis, TTV : S : 37ºC, R :
diuraikan mengenai isi Laporan 51 x/menit, N : 136 x/menit,
Tugas Akhir, khususnya tinjauan pemeriksaan antropometri BB :
kasus untuk melihat kesenjangan- 3290gram, PB : 51 cm, LK : 34 cm,
kesenjangan yang terjadi pada LD : 33 cm, nilai Apgar Score :
asuhan kebidanan pada bayi baru 8-9, kepala bayi bagian belakang
lahir dengan Caput Succedaneum di terdapat benjolan yang teraba
ruang Monika RS Santa Elisabeth lunak bentuk mesochepal,
Batam. Pada pembahasan ini penulis teraba caput succedaneum,
juga akan membandingkan teori lunak warna kemerahan,
medis dan teori Asuhan Kebidanan edema melampaui garis sutura,
dengan praktek sehari-hari reflek moro : baik, reflek palmar
di lapangan. graps : baik, reflek sucking : baik,
reflek rooting : baik.
1. Pengumpulan data Berdasarkan hal di atas
Pengkajian adalah langkah penulis tidak menemukan adanya
awal yang dipakai dalam kesenjangan antara teori dan praktek.
menerapkan asuhan kebidanan pada
pasien. Pada tahap ini semua data 2. Interpretasi Data
dasar dan informasi tentang pasien Data-data yang telah
dikumpulkan dan dianalisa untuk dikumpulkan
mengevaluasikan keadaan pasien kemudian diinterpretasikan menjadi
(Varney, 2010). Data subjektif diagnosa kebidanan, masalah dan
adalah data yang didapatkan dari kebutuhan. Diagnosa kebidanan
pasien sebagai suatu pendapatan pada teori adalah By Ny. X
terhadap suatu situasi dan kejadian Umur .. dengan caput
(Nursalam, 2011). Caput succedaneum. Masalah adalah hal-
hal yang berkaitan dengan
pengalaman klien yang ditemukan
dari hasil pengkajian atau menyertai ada. Penulis mencantumkan masalah
diagnosa dan tetap membutuhkan potensial pada kasus adalah
penanganan (Varney, 2010). perluasan Caput . Perluasan caput
Masalah pada bayi dengan caput dapat terjadi pada saat kepala bayi
succedaneum yaitu bayi sering mengalami penekanan
rewel. Menurut Varney (2010). sehingga mengakibatkan perluasaan
Kebutuhan yang diberikan pada pada caput.
bayi baru lahir dengan caput
succedaneum adalah menghindari 4. Antisipasi tindakan segera/
adanya sentuhan pada benjolan kolaborasi/ rujuk
(Kosim, 2008). Penanganan segera pada
Pada kasus didapatkan kasus ini adalah kolaborasi dengan
diagnosa kebidanan Bayi Ny. S umur tenaga kesehatan yang lain seperti
1 hari dengan Caput Succedaneum. dokter spesialis anak (Saifuddin,
Masalah yang timbul adalah 2008). Menurut Saifuddin (2008),
gangguan rasa tidak nyaman pada penanganan yang segera dilakukan
bayi akibat ada pembengkakan pada adalah : kompres daerah caput
kepala. Kebutuhan yang diberikan succedaneum dan kolaborasi dengan
Perawatan caput dokter spesialis.
seccedeneum, Pantau Keadaan Pada kasus ini antisipasi yang
Umum dan TTV, Konseling dilakukan adalah berkolaborasi
tentang keadaan trauma yang di dengan Dokter Spesialis Anak dalam
alami bayi., Perawatan bayi baru pemberian asuhan.
lahir Pada langkah ini penulis
Pada langkah ini penulis menemukan adanya kesenjangan
tidak menemukan adanya antara teori dan kasus dilahan
kesenjangan antara teori dan kasus di praktek, pada penanganan segera
lahan praktek. tidak dilakukan pengompresan pada
daerah caput succedaneum.
3. Identifikasi diagnosa/ masalah
potensial 5. Perencanaan
Langkah ini membutuhkan Rencana asuhan kebidanan
antisipasi, bila memungkinkan pada bayi baru lahir dengan caput
dilakukan pencegahan, di samping succedaneum menurut Surasmi
mengamati klien bidan diharapkan (2008), adalah : daerah benjolan
dapat bersiap-siap bila jangan ditekan-tekan, lingkungan
diagnosa masalah potensial ini harus dalam keadaan baik, cukup
benar-benar terjadi (Varney, ventilasi untuk masuk sinar matahari,
2010). Diagnosa potensial pada berikan ASI yang kuat, jaga
bayi baru lahir dengan caput kebersihan atau mencegah infeksi
succedaneum adalah infeksi, pada area benjolan dan sekitarnya
ikterus dan anemia (Kosim, 2008). dengan memberi kompres air hangat,
Pada kasus ini diagnosa berikan penyuluhan kepada orang tua
potensial tidak muncul dikarenakan tentang : keadaan trauma pada bayi,
kesigapan dari petugas kesehatan. perawatan bayi sehari-hari, manfaat
Pada langkah ini penulis serta cara pemberian ASI, cegah
menemukan adanya kesenjangan
antara teori dan masalah potensial
yang dicantumkan pada kasus yang
terjadinya infeksi dengan cara : pada langkah kelima secara efisien
pensterilan alat, perawatan tali pusat dan aman. (Varney, 2010).
dengan baik, personal hygiene yang Pada kasus ini implementasi
baik, bayi dirawat seperti pada yang dilakukan sesuai dengan
perawatan bayi normal, observasi rencana yang telah dibuat. Pada
keadaan umum bayi. kasus serta data perkembangannya
Pada kasus rencana tindakan telah mengobservasi keadaan umum
yang dilakukan yaitu : observasi dan vital sign bayi, mengobservasi
keadaan umum dan vital sign bayi, keadaan benjolan, memberi
catat dan observasi keadaan pengertian pada ibu dan keluarga
benjolan, beri pengertian pada ibu untuk menjaga daerah benjolan tidak
dan keluarga usahakan ditekan-tekan dan bayi tidak sering
daerah benjolan tidak ditekan- diangkat agar benjolan tidak meluas,
tekan dan bayi tidak sering memberi nutrisi yang
diangkat agar benjolan tidak adekuat melalui botol yang sama
meluas, beri ASI yang adekuat pada bayi A ke bayi B,
melalui botol, observasi BAB dan mengobservasi BAB dan BAK bayi.
BAK bayi. Pada langkah ini penulis
Pada langkah ini penulis menemukan adanya kesenjangan
penulis tidak menemukan adanya antara teori dan kasus dilahan
kesenjangan antara teori dan kasus praktek, pada implementasi tidak
yang ada dilahan. dilakukan pencegahan infeksi dengan
melakukan pemberian nutrisi bayi
6. Implementasi menggunakan botol yang sama dari
Langkah ini merupakan bayi A ke bayi B.
pelaksanaan asuhan
secara menyeluruh seperti yang tanda-tanda perdarahan atau infeksi,
diuraikan caput succedaneum sudah berkurang,
warna agak kemerahan, tidak ada
7. Evaluasi luka, tidak ada tanda infeksi, pakaian
Diharapkan setelah diberikan bayi bersih dan kering dan bayi
asuhan kebidanan pada bayi dengan terlihat nyaman, ASI telah diberikan
caput succedaneum menurut Surasmi melalui botol, BAB : 2 kali,
(2008), adalah : tidak terjadi tanda- konsistensi lunak warna hijau gelap
tanda infeksi pada daerah sekitar dan BAK : 5 kali, warna kuning
caput succedaneum, tidak terjadi jernih, ibu dan keluarga paham
pembesaran pada caput tentang perawatan bayinya
succedaneum, nutrisi bayi terpenuhi, dan perawatan pada area caput di
Caput succedaneum rumah, ibu dan keluarga paham
tidak memerlukan pengobatan tentang pentingnya ASI dan cara
khusus dan biasanya menghilang menyusui yang benar, ibu
setelah 2-5 hari.(Dewi,2013). bersedia untuk kontrol tumbuh
Pada kasus didapatkan kembang bayi dan mendapat
evaluasi Keadaan Umum bayi : imunisasi ke BKIA 1 minggu
baik, kesadaran : composmentis, lagi.
TTV : N : 134 x/menit, R : 50
0
x/menit, S : 36,6 C, BB :
3300gram, tali pusat masih
terbungkus kassa, tidak ada
Pada langkah ini penulis tidak 6. Implementasi
menemukan adanya kesenjangan antara Pada kasus ini implementasi
teori dan kasus dilahan praktek. dilakukan sesuai dengan rencana yang
telah dibuat pada kasus observasi keadaan
KESIMPULAN umum dan vital sign bayi, catat dan
observasi keadaan benjolan, beri
1. Pengkajian pengertian pada ibu dan keluarga usahakan
Pada kasus didapatkan data daerah benjolan tidak ditekan-tekan dan
subjektif sebagai berikut ibu mengatakan bayi tidak sering diangkat agar benjolan
kepala bayi bagian belakang terdapat tidak meluas, beri ASI yang adekuat
benjolan yang teraba lunak bentuk melalui botol, observasi BAB dan BAK
mesochepal, teraba caput succedaneum, bayi.
lunak warna kemerahan,
edema melampaui garis sutura. 7. Evaluasi
Pada kasus didapatkan evaluasi
2. Interpretasi data Keadaan Umum bayi : baik kesadaran :
Pada kasus didapatkan diagnosa composmentis, TTV : N : 134 x/menit, R :
kebidanan Bayi Ny. S umur 1 hari dengan 0
50 x/menit, S : 36,6 C, BB : 3300gram,
Caput Succedaneum. Masalah yang timbul tali pusat masih terbungkus kassa, tidak
adalah gangguan rasa tidak nyaman pada ada tanda-tanda perdarahan atau infeksi,
bayi akibat ada pembengkakan pada caput succedaneum sudah berkurang,
kepala. Kebutuhan yang diberikan warna agak kemerahan, tidak ada luka,
Perawatan caput seccedeneum, tidak ada tanda infeksi, pakaian bayi bersih
Pantau Keadaan Umum dan TTV. dan kering dan bayi terlihat nyaman, ASI
telah diberikan melalui botol, BAB : 2
3. Identifikasi diagnosa/ masalah kali, konsistensi lunak warna hijau gelap
potensial dan BAK : 5 kali, warna kuning jernih, ibu
Pada kasus ini diagnosa dan keluarga paham tentang perawatan
potensial tidak muncul bayinya dan perawatan pada area caput di
dikarenakan kesigapan dari rumah, ibu dan keluarga paham tentang
petugas kesehatan. pentingnya ASI dan cara menyusui yang
benar, ibu bersedia untuk kontrol tumbuh
4. Antisipasi tindakan segera/ kembang bayi dan mendapat imunisasi ke
kolaborasi/ rujuk BKIA 1 minggu lagi.
Pada kasus ini antisipasi yang
dilakukan adalah berkolaborasi dengan SARAN
Dokter Spesialis Anak dalam pemberian
asuhan.
a. Institusi Program Studi D3
5. Perencanaan Kebidanan STIKes Santa Elisabeth
Pada ada kasus rencana tindakan Medan
yang dilakukan yaitu : observasi keadaan Agar lebih meningkatkan mutu
umum dan vital sign bayi, catat dan pendidikan dalam proses
observasi keadaan benjolan, beri pembelajaran baik teori
pengertian pada ibu dan keluarga usahakan maupun praktek. Agar
daerah benjolan tidak ditekan-tekan dan mahasiswa dapat meningkatkan
bayi tidak sering diangkat agar benjolan pengetahuan dan wawasan
tidak meluas, beri ASI yang adekuat tentang teori teori BBL fisiologi
melalui botol, observasi BAB dan BAK dan patologis.
bayi.
b. Rumah Sakit Santa Elisabeth Maternal & Neonatal, Jakarta: Cv
Lubuk Baja Batam Trans Info Media .
Diharapkam petugas kesehatan
lainnya dapat lebih meningkatkan Nicholson,Lisa: Jurnal of Caput
pelayanan dalam menangani kasus Succedaneum and
caput succedaneum, pencegahan Cephalohematoma. Vol. 26. No.5.
infeksi dengan tidak menggunakan September/Oktober 2007.
botol yang sama pada bayi A dan B
saat memberikan nutrisi, sarana Prawirohardjo,Sarwono. 2005 Ilmu Bedah
prasarana maupun tenaga kesehatan Kebidanan. Jakarta: Pt Bina Pustaka.
yang ada di institusi kesehatan. Edisi keempat.

c. Klien Prawirohardjo,Sarwono. 2014 Ilmu


Diharapkan kepada klien dalam Kebidanan. Jakarta: Pt Bina Pustaka.
merawat bayinya hendaknya hati-hati Edisi keempat.
serta menghindari adanya sentuhan
dan benturan yang terlalu keras pada Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2013
kepala bayi. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak
Balita. Jakarta: Cv Trans Info
Media. Cetakan keenam.
DAFTAR PUSTAKA
Rukiyah, Yulianti Lia. (2011) Asuhan
Dewi, Vivian, 2013 Asuhan Neonatus Bayi Neonatus, Bayi dan Anak balita.
dan Anak Balita. Jakarta Salemba Jakarta: Trans info Media.
Medika. Edisi kelima.
Sondakh,Jenny.J.S. 2013 Asuhan
JNPK-KR. 2012 Asuhan Persalinan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru
Normal. Jakarta:ISBN. Edisi Lahir. Jakarta: PT. Penerbit Erlangga
keenam.
Varney. (2009) Konsep Kebidanan.
Khosim. (2007) Asuhan Neonatus, Bayi Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
dan Balita. Jakarta: POGI.
[Link]
Manggiasih, Vidia Atika & Pongki jaya. handle /123456789/50561/Chapter
2016 Asuhan Kebidanan Pada %20I.p df?sequence=5. Angka
Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Kematian Bayi
Pra Sekolah, Jakarta Timur, DKI (AKB) di Indonesia Menurut
Jakarta: Cv Trans Info Media. WHO, (Diakses tanggal 07 mei 2018
jam 19.10 wib)
Marmi dan Kukuh Rahardjo. 2016 Asuhan
Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak [Link]>10_KEPRI_2015.
Pra Sekolah, Yogyakarta: Pustaka Angkah Kematian bayi (AKB).
Pelajar. (Diakses tanggal 07 mei 2018 jam
11.20 wib).
Maryati, Dwi 2011. Buku Ajar Neonatus,
Bayi dan Balita. Jakarta: Trans info [Link]>13_jateng_2014.
Media. Jumlah kematian neonatal, bayi dan
balita. (Diakses tanggal 07 mei 2018
Maryunani, Anik dan Eka Puspita Sari. jam 19.20 wib)
2013 Asuhan Kegawatdaruratan
[Link]>dowload>pusdatin.
Angkah kematian bayi (AKB)
menurut Kepmenkes. (Diakses
tanggal 07 mei 2018 jam 20.00 wib)
TATA TERTIB MAHASISWA DI LAHAN PRAKTIK ITKES
MUHAMMADIYAH SIDRAP

A. Sikap
1. Disiplin dalam tugas
2. Kerja sama dengan orang lain sesuai dengan ketentuan institusi
3. Inisiatif dalam bekerja
4. Bertanggung jawab dalam tugas yang diberikan
5. Komunikasi yang baik dengan klien
6. Perhatian dalam bekerja
7. Jujur, sopan dan teliti dalam bekerja
B. Waktu kehadiran
1. Jam 07.30 sampai 14.00 WITA untuk dinas pagi
2. Jam 14.00 sampai 21.00 WITA untuk dinas sore
3. Jam 21.00 sampai 07.30 WITA untuk dinas malam
C. Tidak diperkenankan meninggalkan ruangan tempat praktik tanpa seizin kepala
ruangan/pembimbing atau petugas ruangan serta tidak diperkenankan
meninggalkan lokasi/wilayah praktik klinik tanpa seizin C.I institusi
D. Sanksi penggantian dinas praktik diberikan kepada mahasiswa apabila
(disesuaikan oleh lahan) :
1. Izin 1 hari ganti dinas 1 hari
2. Sakit 1 hari ganti dinas 1 hari (harus ada surat keterangan Dokter)
3. Alpa 1 hari ganti dinas 2 hari
4. Bila mahasiswa merusak, menghilangkan alat-alat di ruangan praktik berkewajiban
mengganti alat tersebut
5. Mahasiswa berkewajiban menjaga kebersihan dan kesterilan alat-alat dan bahan
praktik yang dimiliki di lahan praktik
6. Tidak diperkenankan menggunakan alat-alat dan bahan praktik milik lahan praktik,
milik klien dan atau memindahkan tanpa sepengetahuan kepala ruangan
7. Mahasiswa baik secara pribadi atau kelompok berkewajiban mengganti alat-alat,
bahan-bahan praktik yang hilang atau rusak selama praktik
8. Mahasiswa hendaknya membawa sendiri alat-alat pemeriksaan fisik
E. Ketentuan Pakaian Praktik
1. Pada saat melakukan praktik, mahasiswa harus menggunakan pakaian
praktik lengkap (putih-putih) dengan atribut, sepatu putih dan berpenampilan
rapi, bersih dan sopan
2. Menggunakan atribut :
a. Papan nama di sebelah kanan
b. Lencana (Logo) di sebelah kiri
3. Tidak diperkenankan memakai training spak (baju olahraga) saat melakukan praktik
kecuali persetujuan pihak lahan
4. Tidak diperkenankan memakai perhiasan kecuali jam tangan (yang memakai jarum
detik) saat melakukan praktik.
Demikianlah buku pedoman ini disusun sebagai acuan dalam mencapai target yang
telah ditetapkan. Semoga bermanfaat

Anda mungkin juga menyukai