0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan14 halaman

Faktor-Faktor Mempengaruhi Belajar Siswa

Bab II memberikan tinjauan pustaka tentang konsep-konsep kunci seperti belajar, pembelajaran, hasil belajar, dan kesulitan belajar. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar juga dijelaskan, seperti faktor internal (psikologis dan fisiologis) dan eksternal (lingkungan sekolah dan keluarga).

Diunggah oleh

Roruzh Al Faruq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan14 halaman

Faktor-Faktor Mempengaruhi Belajar Siswa

Bab II memberikan tinjauan pustaka tentang konsep-konsep kunci seperti belajar, pembelajaran, hasil belajar, dan kesulitan belajar. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar juga dijelaskan, seperti faktor internal (psikologis dan fisiologis) dan eksternal (lingkungan sekolah dan keluarga).

Diunggah oleh

Roruzh Al Faruq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu aktivitas dimana terdapat sebuah proses dari
tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengert, tidak bisa menjadi bisa
untuk mencapai hasil yang optimal.
Ihsana El Khuluqo (2017:1) “Belajar adalah proses yang dilakukan oleh
manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies),
keterampilan (skill), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan
berkelanjutan”.
Wahab Jufri (dalam Skiner, 2017:50) menyatakan “Belajar sebagai suatu
proses yang berlangsung secara progresif dalam mengadaptasi atau menyesuaikan
tingkah laku dengan tuntutan lingkungan sekitarnya”. Selanjutnya Muhibbin Syah
(2017:87) menyatakan Belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau
menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran.
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas
yang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, perilaku.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Belajar merupakan serangkaian kegiatan atau perbuatan yang berhubungan
dengan banyak faktor. Faktor-faktor dalam belajar ada yang bersumber dari siswa
(intern), ada juga bersumber dari luar kepribadian siswa (ekstern). Slameto
(2015:54-60) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar,
baik faktor yang dari dalam diri individu yang belajar (internal) maupun faktor
yan berasal dari luar (eksternal) atau biasa saja gabungan dari dua faktor tersebut.
Penjelasan dari faktor-faktor tersebut sebagai berikut:

a. Faktor intern
Faktor intern terbagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Faktor jasmaniah
(faktor kesehatan, faktor cacat tubuh), 2. Faktor psikologis (intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), 3. Faktor kelelahan
(kelelahan jasmani dan kelelahan rohani).

7
8

b. Faktor ekstern
Faktor ekstern yang mempengaruhi proses belajar dapat digolongkan
menjadi tiga yaitu : 1. Faktor keluarga (cara orangtua mendidik, relasi
antar keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian
orangtua, luar belakang kebudayaan), 2. Faktor sekolah (metode mengajar,
kurikulum,relasi, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah,, keadaan gedung, metode
belajar). 3. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dengan masyarakat, mass
media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).

Ihsana El Khuluqo (2017:22-33) menyatakan faktor-faktor yang


mempengaruhi proses belajar, sebagai berikut ini :

a. Faktor dari dalam individu (internal)


Faktor internal faktor yang berasal dari dalam individu (faktor internal)
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : 1. Faktor jasmaniah ( faktor
kesehatan, faaktor cacat tubuh), 2. Faktor psikologi (intelegensi, minat,
emosi, bakat, kematangan dan kesiapan).
b. Faktor-faktor eksternal
Faktor-faktor dari luar peserta didik (eksternal). Adapun faktor eksternal
yang mempengaruhi proses belajar dapat digolong menjadi tiga yaitu : 1.
Faktor keluarga (cara orangtua mendidik, hubungan antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluaarga). 2. Faktor sekolah
(faktor kurikulum, keadaan sarana dan prasarana, waktu sekolah, metode
pembelajaran, hubungan antara pendidik dan peserta didik, hubungan
antara peserta didik dengan peserta didik), 3. Faktor masyarakat
merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap belajar
anak.

Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2015:154) menyatakan faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar, sebagi berikut :

a. Memberikan Motivasi atau menarik perhatian peserta didik,


b. Menjelaskan tujuan kemampuan dasar kepada peserta didik,
c. Mengingatkan kompetensi belajar kepada peserta didik,
d. Memberi petunjuk kepada peserta didik ecaraa mempelajarinya,
e. Munculnya aktivitas,
f. Memberi umpan balik.

3. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran sebagai perangkat tindakan yang di rancang untuk
mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-
9

kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian internal yang


berlangsung di dalam diri peserta didik.
Ihsana El Khuluqo (2017:52) menyatakan “Pembelajaran adalah segala
upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta
didik”. Ahmad Susanto (2016:18) menyatakan “Pembelajaran merupakan
perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar”. Aktivitas belajar secara
metodologi cendrung lebih dominan pada siswa, sementara secara intruksional
dilakukan oleh guru.

Ahmad Susanto (2016:19) menyatakan:


pembelajaran merupakan kedua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas
belajar secara metodologis cendrung lebih dominan pada siswa, sementara
mengajar secara intrksionaal dilakukan oleh guru. Jadi, istilah
pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar(BM),
proses belajar mengajar (PBM), atau kegiatan belajar mengajar (KBM).

Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan interaksi
antara guru dengan siswa untuk memperoleh proses belajar seperti ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran, serta pembentukan sikap dan kepercayaan
siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

4. Pengertian Hasil Belajar


Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran.
Berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar.
Hasil belajar merupakan ukuran keberhasilan kegiatan belajar siswa dalam
menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode tertntu yang dinyatakan dalam
bentuk simbol atau angka yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh
setiap anak didik.
Asep Ediana Latip (2018:213) menyatakan “Hasil belajar adalah sejumlah
kemampuan yang dapat dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti proses
pembelajaran baik itu dalam kegiatan pendahuluan, inti sampai kegiatan penutup
yang meliputi aspek sikap spritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan
mencapai perubahan”.
10

Menurut Siswanto (2017:2) “Hasil belajar adalah proses pengumpulan


informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi
sikap, sosial, pengetahuan, dan keterampilan dalam proses pembelajaran”.
Purwanto (2014:54) mengemukakan “Hasil belajar adalah perubahan perilaku
yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
pendidikan”.
Berdasarkan pengertian hasil belajar menurut para ahli di atas, maka
peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah segala kemampuan yang
dimiliki siswa setelah meemperoleh pengalaman belajar, sehingga mengakibatkan
perubahan.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Menurut Syafiful Bahri Djamarah (2018:176-190) “Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu (1) faktor lingkungan ( bagian dari
kehidupan anak didik) yang meliputi; lingkungan alami, lingkungan sosial
budaya. (2) faktor instrumental (meningkatkan kualitas belajar mengajar) yang
meliputi; kurikulum, program, sarana dan fasilitas, guru. (3) kondisi fisiologis
berpengaruh pada kemampuan belajar seseorang. (4) kondisi psikologis ( hakekat
belajar) yang meliputi; minat, kecerdasan, bakat, kemampuan kognitif”.
Menurut Ahmad Susanto (2016:12) faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar sebagai berikut:

a. Faktor Internal; faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari


dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya.
Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi
belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan
kesehatan.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal; fakor yang berasal dari luar diri peserta didik yang
mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah,dan masyarakat.
Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. keluarga yang
morat-marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian
orangtua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari
berperilaku yang kurang baik dari orangtua dalam kehidupan sehari-hari
berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.
11

6. Pengertian Kesulitan Belajar


Menurut Marlina (2019:46) menyatakan bahwa “Kesulitan belajar
adalah suatu kondisi terjadinya peyimpangan antara kemampuan sebenarnya
dimiliki dengan prestasi yang ditunjukkan yang termanifestasi pada tiga bidang
akademik dasar seperti membaca, menulis dan berhitung”.
Menurut Mulyono (2018:1) “Kesulitan belajar adalah suatu konsep
multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun
ilmu kedokteran”. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2017:234) menyatakan
bahwa “Kesulitan belajar adalah suatu pendapat yang keliru dengan mengatakan
bahwa kesulitan belajar anak didik disebabkan rendahnya intelegensi, karena
dalam kenyataanya cukup banyak anak didik yang memiliki intelegensi yang
tinggi tetapi hasil belajarnya rendah jauh dari yang diharapkan”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah
ketidakmampuan anak dalam mengerjakan soal dan menghapal simbol-simbol
pada bahasa indonesia. Kemungkinan prestasi belajar siswa masih rendah.

7. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar


Faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar menurut Syaiful Bahri
Djamarah (2018:235-246) ada 4 faktor penyebab kesulitan belajar anak yaitu:

1. Faktor anak didik


Anak didik adalah subjek yang belajar. Dialah yang merasakan
langsung penderitaan akibat kesulitan belajar.
Faktor yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik:
(a). Intelegensi (IQ) yang kurang baik, (b) Bakat yang kurang atau
tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau yang
diberikan oleh guru., (c) fator emosional yang kurang stabil, (d)
aktivitas belajar yang kurang. (e) kebiasaan belajar yang kurang baik.
(f) penyesuaian sosial yang sulit. (g) latar belakang pengalaman yang
sulit . (g) latar belakang pengalaman yang pahit. (h) Cita-cita yang
tidak relevan (tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari),
(i) Latar belakang pendidikn yang dimasuki dengan sistem sosial dan
kegiatan belajar mengajar di kelas yang kurang baik. (j) ketahanan
belajar (lama belajar) tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
(k) keadaan fisik yng kurang menunjang, (l) kesehatan yang kurang
baik, (m) seks atau pernikahan yang tak terkendali, (n) pengetahuan
12

dan keterampilan dasar yang kurang memadai (kurang mendukung)


atas bahan yang dipelajari. (o) tidak ada motivasi dalam belaja.

2. Faktor Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal tempat pengabdian guru
dan rumah rehabilitas anak didik.
Faktor-faktor dari lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan
kesulitan belajar bagi anak didik adalah sebagai berikut:
(a)Pribadi guru yang kurang baik, guru tidak berkualitas, baik
dalam pengembalian metode yang digunakan ataupun dalam
penguasaan mata pelajaran yang dipegangnya, (c) hubungan guru
dengan anak didik kurang harmonis, (d) guru-guru menuntut
standar pelajaran di atas kemampuan anak, (e) guru tidak memiliki
kecakapan dalam usaha kesulitan belajar, (f) cara guru mengajar
dengan baik, (g) alat/media yang kurang memadai.

3. Faktor keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan formal (luar sekolah) yang
diakui keberadaanya dalam dunia pendidikan. oleh karena itu, ada
beberapa faktor dalam keluarga yang menjadi penyebab kesulitan
belajar anak didik sebagai berikut:
(a). Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak di rumah, (b).
Kurangnya pendidikan yang disdiakan orang tua sehingga anak harus
ikut memikirkan bagaimana mencari uang untuk biaya sekolah
hingga tamat, (c). Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar
yang khusus di rumah, (d). Ekonomi keluarga yang terlalu lemah
atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan, (e). Kesehatan
keluarg yang kurang baik, (f). Perhatian orang tua yang tidak
memadai, (g). Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang, (h).
Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan.

8. Pembelajaran Bahasa Indonesia


Secara teknis Bahasa adalah seperangkat ujaran yang memiliki arti atau
makna yang dihasilkan dari alat ucap. Pengertian secara praktis, Bahasa
merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa system
lambang bunyi yang bermakna, sehingga dapat dikatakan bahwa Bahasa lambang
bunyi yang bermakna, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa memiliki dua
aspek yaitu sistem (lambang) bunyi dan makna.
Pembelajaran bahasa Indonesia, terutama di sekolah dasar tidak akan
terlepas dari empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara
dan menulis. Kemampuan berbahasa bagi manusia sangat diperlukan sebagai
13

makhluk sosial, manusia berinteraksi, komunikasi dengan manusia lain dengan


menggunakan bahasa lisan, juga berkomunikasi menggunakan bahasa tulis. Pada
masa ini, anak di tuntut untuk mempelajari bahasa tulis dan ketika anak memasuki
usia sekolah dasar, anak-anak akan terkondisikan untuk mempelajari bahasa tulis.
Keraf dalam buku (Nur Samsiyah 2016:1) menyatakan Bahasa merupakan
symbol-symbol vocal (bunyi ujaran) yang bersift arbitrer (manasuka) yang dapat
ditarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan sistem yang mencakup dua bidang
yaitu bunyi dan arti yang dapat diteria oleh lawan bicara.

Yeti Mulyati, dkk (2017) menyatakan:


Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat
saling berhubungan ataau berkomunikasi, saling berbagi pengalaman,
saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.
Bahasa Indonesia memang banyak ragamnya. Hal ini karena bahasa
Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam
penuturnya.

Chaer (2015:1) menyatakan “Bahasa adalah fenomena yang


menghubungkan dunia makna dengan dunia bunyi. Lalu sebagai penghubung
diantara kedua dunia itu, bahasa dibangun oleh tiga komponen, yaitu komponen
lesikon, gramatik, dan komponen fonologi”.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia merupakan
suatu pembelajaran untuk siswa sebagai alat komunikasi sehari-hari dan siswa
dapat menguasai keterambilan berbahasa, yaitu menulis dengan simbol-simbol
vocal, menyimak, berbicara dan membaca.

9. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD


Nur Samsiah (2016: 14) menyatakan:
Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD adalah berkomunikasi
secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku baik secara
lisan maupun tulisan, menghargai dan bangga menggunakan Bahasa
Indonesia sebagai Bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa
Indonesia dengan menggunakan dengan tepat dan kreastif untuk bertujuan,
menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
intelekual, serta kematangan emosional dan social, menikmati dan
memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi
pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
14

Ahmad Susanto (2016:245) menyatakan “Tujuan pembelajaran Bahasa


Indonesia di SD adalah siswa mampu menikmati dan meanfaatkan karya sastra
untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wwasan kehidupan, serta
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa”.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD adalah untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan siswa
mampu berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan.

10. Bahasa Tulis dan Bahasa Lisan


1. Bahasa Tulis
a. Pengertian Bahasa Tulis
Fita dan Isnawati (2016:14) menyatakan Bahasa tulis dan lisan adalah
bahasa yang digunakan menggunakan media tulisan.
Menurut Prima Gusti Yanti, dkk (2017:28) Bahasa tulis adalah bahasa
yang dihasilkan dengan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf
sebagai unsur dasarnya.
Dendy Sugono (2009: 6) menyatakan Bahasa tulis yang mencakup tata
bahasa, ejaan, dan tanda baca.
b. Ciri-ciri Bahas Tulis
1) Bahasa tulis tidak terikat dengan ruang dan waktu
2) Bahasa tulis dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan. Dihilangkannya
tanda baca atau ejaan ini dapat mempengaruhi pemahaman orang
lain yang membaca tulisan tersebut.
3) Dalam bahasa tulis, unsur-unsur gramatikal harus dinyatakan secara
lengkap sehingga jelas kedudukannya tiap-tiap kata yang dituliskan
2. Bahasa Lisan
a. Pengertian Bahasa Lisan
Dendy Sugono (2009:5) menyatakan “Bahasa Lisan adalah bahasa yang
mencakup aspek lafal, tata bahasa, dan kosakata/istilah”.
Menurut Fita dan Isnawati (2016:9) menyatakan “Bahasa lisan adalah
bahasa yang diungkapkan melalui lisan atau diucapkan”.
15

Prima Gusti Yanti, DKK (2017: 28) menyatakan “Bahasa lisan adalah
bahasa yang dihasilkaan dengan menggunakan alat ucap (organ of
speech)”.
b. Ciri-ciri Bahasa Lisan
1) Unsur-unsur gramatikal tidak selalu dinyatakan lengkap
2) Terikat dengan ruang dan waktu
3) Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara si penutur

Dari teori di atas dapat disiumpulkan bahwa bahasa tulis dan bahasa lisan
berbeda dan yang membedakan bahasa tulis adalah bahasa yang dipengaruhi tanda
baca sedangkan bahasa lisan adalah bahasa yang menggunakan alat ucap.

11. Tanda Baca


Sri Wintala Achmad (2017:105) menyatakan “Tanda baca adalah simbol
yang tidak berhubungan dengan fonkem (suara), kata, frasa pada suatu bahasa,
melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan,
intonasi, serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembaca”. Sejumlah tanda baca
yang digunakan adalah titik (.), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua
(: ), tanda hubung (-), tanda pisah (_), tanda elips (…), tanda tanya (?), tanda seru
(!), tanda kurung (()), tanda siku ([]), tanda petik tunggal („), tanda petik dua (“),
tanda garis miring (/), tanda penyingkat/apostrof („).
Enung Nuraeni (2016: 17) “Bentuk-bentuk tanda baca yaitu titik (.), tanda
koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (: ), tanda hubung (-), tanda pisah
(_), tanda elips (…), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung (()), tanda siku
([]), tanda petik tunggal („), tanda petik dua (“), tanda garis miring (/), tanda
penyingkat/apostrof („)”. Menurut Wijayanti (2015:30) menyatakan “Tanda baca
adalah tanda yang dipakai dala sistem ejeaan seperti : titik (.), tanda koma (,),
tanda titik koma (;), tanda titik dua (: ), tanda hubung (-), tanda pisah (_), tanda
elips (…), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung (()), tanda siku ([]), tanda
petik tunggal („), tanda petik dua (“), tanda garis miring (/), tanda
penyingkat/apostrof („).
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa didalam tanda baca terdapat 15
simbol untuk memahami penulisan dan tulisan.

12. Tanda Petik (“”)


Sri Wintala Achmad (2017:125) “Tanda petik mengapit petikan langsung
yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain”.
16

Suparlan (2016:59) menyatakan “Tanda petik dipakai untuk mengapit


petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain”.
1. Tanda petik (“”) mengapit pembicaraan
Misalnya :
“Saya belum siap pak”, kata Mira. “ Tunggu sebentar”.
“Namamu siapa?” tanya herman. “ Aku ingin tahu”.
“Pergi!” pinta ayah. “ Pulanglah sesudah berhasil”.
“Merdeka atau mati!”. Seru Bung Tomo pada pidato nya.
“Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya.
“ Besok akan dibahas dalam rapat”.
2. Tanda Petik (“”) yang mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang
digunakan dalam kalimat.
Misalnya :
Cerpen “Perempuan Batu” dimuat Minggu Pagi.
Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar.
Bacalah “Sejarah Bahasa Indonesia” dalam buku mahir Bahasa Indonesia!
3. Tanda petik (“”) mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya :
Kata Ikwan, “Saya baru belajar deklamasi”.
“Cobalah sekali lagi! Jangan putus asa!” pinta ayahnya.
“Siapa takut?” tanya Sandi.
4. Tanda petik (“”) mengapit istilah yang kurang dikel atau kata memiliki arti
khusus.
Misalnya :
Belajar menulis puisi harus dilakukan dengan metode “pengamatan,
pencerapan, metabolisme, penuangan, dan revisi”.
Gadis itu sangat menyukai lagu-lagu “melo”.
5. Tanda petik (“”) sebagai penutup kalimat diletakkan di belakang tanda petik,.
Misalnya :
Karena jarang mandi, Hasan dikenal dengan julukan “Si Dekil”.
17

Indah adalah gadis tercantik di kampungku; karenanya, ia diknal dengan “Si


Bunga Desa”.
Anak itu dijuluki “Tukang Ngibul”, ia suka berbohong kepada teman-
temannya.

13. Tanda Petik Tunggal („‟)


Suparlan (2016:60) menyatakan bahwa “Tanda petik tunggal dipakai
untuk mengapit yang terdapat dalam mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan dan dalam petikan lain”.
Sri Wintala Achmad (2017:127) menyatakan Tanda petik tunggal
mengapit petikan lain, makna, terjemahan, penjelasan kata dan ungkapan asing.
1. Tanda Petik Tunggal („‟) mengapit petikan tersusun di dalam petikan
lain.
Misalnya :
“Aku selalu ingat patuah ayah, „Surga itu ada di telapak kaki ibu‟, sejak
itu aku selalu berbakti pada ibu,” kata andi.
“Para pelaja itu berkata „siap‟ pada gurunya sebelum mengerjakanPR-
nya,” kata kepala sekolah.
“Mereka ingat pesan dari seorang filsuf,‟hidup itu adalah gerak‟,
karenanya mereka selalu bekerja giat,” tutur Achmad.
Tanya dia, “Kau dengar bunyi „kring-kring‟ tadi?”
“Kita bangga karena lagu „Indonesia Raya‟ berkuman-dang di arena
olemiade itu,” kata ketua KONI.
2. Tanda Petik Tunggal („‟) mengapit makna, terjemahan, penjelasan kata,
atau ungkapan asing
Misalnya :
Istilah „upload‟ (unggah) dan „download‟ (unduh) lebih dikenal oleh
para pengguna medsos.
Seorang penulis sedang melakukan „editing‟ atas karyanya sendiri.
Tegugat „yang digugat‟.
Retina „dinding mata sebelah dalam‟.
18

Noken „tas khas papua‟.

14. Menulis
H Dalman (2015:3) menyatakan “Menulis adalah suatu kegiatan
komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak
lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya”.
Tarigan (2005:21) menyatakan “Menulis adalah menurunkan atau
melukiskan lambang-lambang grafis yang menghasilkan suatu bahasa yang
dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang
grafis tersebut dan dapat memahami bahasa dan grafis itu”.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu
kegiatan komunikasi yang berupa informasi secaraa tertulis yang menghasilkan
suatu bahasa yang dapat dipahami oleh pembaca.

15. Argumentasi
Menurut M Atar Semi (2017:7) “Argumentasi adalah tulisan yang
bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat
penulis”. Menurut Gorys Keraf(2016:3) “Argumentasi adalah suatu bentuk
retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar
mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang di inginkan
oleh penulis atau pembicara”.
H Dalman (2015:138) menyatakan “Argumentasi adalah meyakinkan atau
membuktikan seseorang agar menerima seuatu kebenaran sehingga seseorang
meyaakini kebenaran itu”.

Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa argumentasi adalah suatu


tulisan yang dibuat untuk bertujuaan meyakinkan dan membujuk seseorang untuk
mecari kebenaran pendapat penulis.

B. Kerangka Berfikir
Pembelajaran Bahasa Indonesia Di SD tidak terlepas dari empat
keterampilan yaitu : menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Tujuan
pembelajaran Bahasa Indonesia berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai
19

dengan etika yang berlaku baik secara lisan dan tulisan. Bahasa lisan adalah
bahasa yang menggunakan alat ucap sedangkan bahasa tulis adalah bahasa yang
dipengaruhi oleh tanda baca. Tanda baca ada 15 macam yaitu : titik (.), tanda
koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (: ), tanda hubung (-), tanda pisah
(_), tanda elips (…), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung (()), tanda siku
([]), tanda petik tunggal („), tanda petik dua (“), tanda garis miring (/), tanda
penyingkat/apostrof („). Pada saat ini belajar merupakan aktvitas dimana terdapat
sebuah prase tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti. Maka
untuk mecapai semua itu dilakukan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru
agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Saat ini siswa masih kesulitan
menentukan Tanda Petik (“”) dan Tanda Petik Tunggal („‟) dalam penulisan
Argumentasi. mungkinn kesulitan siswa di pengaruhi oleh duaa faktor yaitu faktor
internal dari dalam diri siswa dan faktor eksternal dari guru yang kurang aktif
dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan pada uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui kesulitan
siswa dalam menentukan Tanda Petik (“”) dan Tanda Petik Tunggal („‟) pada
tulisan Argumentasi di kelas IV SD Negeri 104221 Pancur Batu.

C. Pertanyaan Peneliti
1. Bagaimana Pemahaman siswa dalam menentukan Tanda Petik (“”) dan
Tanda Petik Tunggal („‟) pada tulisan Argumentasi SD Negeri 104221
Pancur Batu tahun ajaran 2019/2020
2. Bagaimana Kemampuan siswa dalam membedakan Tanda Petik (“”) dan
Tanda Petik Tunggal („‟) pada tulisan Argumentasi SD Negeri 104221
Pancur Batu tahun ajaran 2019/2020
3. Apa kesulitan siswa dalam menentukan Tanda Petik (“”) dan Tanda Petik
Tunggal („‟) pada tulisan Argumentasi SD Negeri 104221 Pancur Batu
tahun ajaran 2019/2020
4. Apa faktor penyebab dalam menentukan Tanda Petik (“”) dan Tanda Petik
Tunggal („‟) pada tulisan Argumentasi SD Negeri 104221 Pancur Batu
tahun ajaran 2019/2020
20

D. Defenisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi terhadap judul penelitian ini, maka
perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

1. Belajar adalah suatu aktivitas yang dapat memperoleh pengetahuan,


keterampilan dan perilaku dalam belajar penggunaan tanda petik dan tanda
petik tunggal dalam argumentasi
2. Faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor eksternal dan internal.
3. Faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah faktor eksternal dan
internal.
4. Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dimiliki siswa setelah
meemperoleh pengalaman belajar, sehingga mengakibatkan perubahan.
5. Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan anak dalam mengerjakan soal
dalam penggunaan tanda petik dan tanda petik tunggal dalam argumentasi.
6. Tanda baca terdapat 15 simbol untuk memahami penulisan dan tulisan.
7. Tanda Petik (“”) mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan
dan naskah atau bahan tertulis lain dan Tanda Petik Tunggal („‟) dipakai
untuk mengapit yang terdapat dalam mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata.
8. Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi yang berupa informasi
secaraa tertulis yang menghasilkan suatu bahasa yang dapat dipahami oleh
pembaca.
9. Argumentasi adalah suatu tulisan yang dibuat untuk bertujuaan
meyakinkan dan membujuk seseorang untuk mecari kebenaran pendapat
penulis.

Anda mungkin juga menyukai