PATOFISIOLOGI
MASALAH
PADA SISTEM
IMUN DAN
ASUHAN
KEPERAWATAN
PADA ANAK:
SLE
AURELIYA HUTAGAOL,
[Link]., NS.,MPH
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN ANAK
DENGAN SISTEMIK LUPUS
ERYTHEMSTOSUS (SLE)
Lupus eritematosus sistemik (SLE)
adalah radang kronis yang
disebabkan oleh penyakit autoimun
(kekebalan tubuh) di mana sistem
pertahanan tubuh yang tidak normal
melawan jaringan tubuh sendiri.
Antara jaringan tubuh dan organ
yang dapat terkena adalah seperti
kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi,
dan sistem saraf.
Lupus merupakan sistemik (SLE) adalah suatu
penyakit inflamasi autoimun pada jaringan
penyembuhan yang dapat mencukup ruam kulit,
nyeri sendi, dan keletihan. Penyakit ini lebih sering
terjadi pada prempuan dari pada pria dengan
faktor 10:1. Androgen mengurangi gejala SLE dan
estrogen memperburuk keadaan tersebut. Gejala
memburuk selama fase luteal siklus menstruasi,
namun tidak dipengaruhi pada derajat yang besar
oleh kehamilan ( Elizabeth 2009).
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah
penyakit radang yang menyerang banyak
sistem dalam tubuh, dengan perjalanan
penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai
adanya antibodi yang menyerang
tubuhnya sendiri
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah
suatu penyakit autoimun multisystem
dengan manifestasi dan sifat yang sangat
berubah – ubah, penuakit ini terutama
menyerang kulitr, ginjal, membrane serosa,
sendi, dan jantung.(Robins, 2007)
Penyebab/factor predisposisi
Factor genetic
Factor Humoral
Factor lingkungan
Kontak dengan sinar matahari
Infeksi virus/bakteri
Obat golongan sulva
Penghentian lehamilan
Trauma psikis
Gejala klinis
Gejala klinis yang mungkin muncul pada pasein SLE
yaitu:
a. Wanita muda dengan keterlibatan dua organ atau
lebih.
b. Gejala konstitusional: kelelahan, demam (tanpa bukti
infeksi) dan penurunan berat badan
c. Muskuloskeletal: artritis, artralgia, myositis
d. Kulit: ruam kupu-kupu (butter• ly atau malar rash),
fotosensitivitas, lesi membrane mukosa, alopesia,
fenomena Raynaud, purpura, urtikaria, vaskulitis.
e. Ginjal: hematuria, proteinuria, silinderuria, sindroma
nefrotik
f. Gastrointestinal: mual, muntah, nyeri abdomen
g. Paru-paru: pleurisy, hipertensi pulmonal,lesi
parenkhim paru.
h. Jantung: perikarditis, endokarditis, miokarditis
i. Retikulo-endotel: organomegali (limfadenopati,
splenomegali, hepatomegali)
j. Hematologi: anemia, leukopenia, dan
trombositopenia
k. Neuropsikiatri: psikosis, kejang, sindroma otak
organik, mielitis transversus,
gangguan kognitif neuropati kranial dan perifer.
C. Patofisiologi
Kerusakan organ pada SLE didasari oleh reaksi
imunologi. Proses diawali dengan faktor pencetus
yang ada dilingkungan, dapat pula infeksi, sinar
ultraviolet atau bahan kimia. Cetusan ini
menimbulkan abnormalitas respon imun didalam
tubuh yaitu :
1. Sel T dan B menjadi autoreaktif
2. Pembentukan silokin yang berlebihan
3. Hilangnya regulator control pada sistem imun
anatara lain :
a) Hilangnya kemampuan membersihkan antigen
dikompleks imun maupun sitokin didalam tubuh
b. Menurunnya kemampuan mengendalikan
apoptosis
c. Hilangnya toleransi imun sel T mengenali
molekul tubuh sebagai antigen karena
adanya mimikri molekul
Akibat proses tersebut, maka terbentuk berbagai
macam antibody didalam tubuh yang disebut
sebagai autoantibodi. Selanjutnya antibody 2 yang
membentuk kompleks imun tersebut terdeposisi
pada jaringan / organ yang akhirnya menimbulkan
gejala inflamasi atau kerusakan jaringan.
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunnya
regulasi kekebalan yang menyebabkan
peningkatan autoimun yang berlebihan.
Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh
kombinasi antara faktor-faktor genetika,
hormonal (sebagaimana terbukti oleh penyakit
yang biasannya terjadi selama usia prodiktif) dan
lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal).
Obat-obatan tertentu seperti hidralazin,
prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan
beberapa preparat antikonvulsan disamping
makanan seperti kecambah alfa-alfa turut
terlihat dalam penyakit SLE akibat senyawa kimia
atau obat-obatan
D. Manifestasi
Gambaran klinis SLE sangat bervariasi, baik
dalam keterlibatan organ pada suatu waktu
maupun keparahan manifestasi penyakit pada
organ tersebut. Sebagai tambahan,perjalanan
penyakit berbeda antarpasien.
Keparahan dapat bervariasi dari ringan ke
sedang sehingga parah atau bahkan
membahayakan hidup. Karena perbedaan
multisystem dari manifestasi kliniksnya,lupus telah
menggantikan sifilis sebagai great imitator.
Gambaran klinis SLE menjadi rumit karena
dua hal. Pertama,walapun SLE dapat
menyebabkan berbagai tanda dan gejala,
tidak semua tanda dan gejala pada pasien
dengan SLE disebabkan oleh penyakit infeksi
virus, dapat menyerupai SLE.
Kedua, efek samping pengobatan,khususnya
penggunaan glukokortikoid jangka panjang,
harus dibedakan dengan tanda dan gejala.
JENIS MANIFESTASI
Manifestasi Konstitusional
Manifestasi Mukokutan
Manifestasi Muskuloskeletal
Manifestasi Kardiovaskular
Manifestasi Paru
Manifestasi Ginjal
Manifestasi Neurologis dan Psikiatrik
Manifestasi Gastrointestinal
Manifestasi Hematologi
Manifestasi Mata
E. Klasifikasi
Subcommitte ini mengajukan diagnosis SLE jika terdapat
empat diantra 11 kriteria berikut beruntun atau secara
stimultan, selama sati interval observasi :
Ruam dibagian malar wajah
Ruam berbentuk discoid
Fotosensitivitas
Ulkus dimulut
Setositosis (pleuritis, pericarditis)
Gangguan ginjal
Gangguan neurologis ( kejang atau psikosis )
Arthritis
Gangguan hematologis (anemia
hemolitik,leucopenia,trombositopenia)
Gangguan imunologi
Antibody nuclear
F. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan termasuk penatalaksanaan penyakit akut
dan kronik :
Mencegah penurunana progresif fungsi organ,
mengurangi kemungkinan penyakit akut,
meminimalkan penyakit yang berhubungan dengan
kecacatan dan mencegah komplikasi dari terapi yang
diberikan.
Gunakan obat-obatan antinflamasi nonsteroid (NSAID)
dengan kortikosteroid untuk meminimalkan kebutuhan
kortikosteroid.
Gunakan krortikosteroid topical untuk manifestasi kutan
aktif.
Gunakan pemberian bolus IV sebagai alternative untuk
penggunaan dosis oral tinggil tradisional.
Atasi manifestasi kutan, mukuloskeletal dan sistemik
ringan dengan obat-obat antimalarial.
Preparat imunosupresif (percobaan) diberikan untuk
bentuk SLE yang serius
G. Pemeriksaan Penunjang
Antibody fosfolipid dapat timbul tanpa SLE tetapi
menandakan resiko keguguran. Temuan pemeriksaan
laboratorium :
Tes flulorensi untuk menentukan antinuclear antibody
(ANA), positif dengan titer
tinggi pada 98% penderita SLE.
Pemeriksaan DMA double standed tinggi,spesifik
untuk menentukan SLE
Bila titel antibobel strandar tinggi, spesifik untuk
diagnose SLE
Tes sifilis bias positif palsu pada pemeriksaan SLE.
Pemeriksaan zat antifosfolipid antigen (seperti
antikardolipin antibody) berhubungan dengan
menentukan adanya thrombosis pada pembuluh
arteri, vena atau pada abortus spontan, bayi
meninggal dalam kandungan dan trombositopeni.
Pemeriksaanlaboratorium ini diperiksa
pada penderita SLE atau lupus meliputi
darah lengkap, laju sedimentasi darah,
antibodyantinuklir (ANA), anti-AND, SLE,
CRP, analyses urin, komplemen 3 dan 4
pada pemeriksaan diagnosis yang
dilakukan adalah biopsy.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian :
Data subyektif :
- Pasien mengeluh terdapat ruam-ruam
merah pada wajah yang menyerupai bentuk
kupu-kupu.
- Pasien mengeluh rambut rontok.
- Pasien mengeluh lemas
- Pasien mengeluh bengkak dan nyeri pada
sendi.
- Pasien mengeluh sendi merasa kaku pada
pagi hari.
- Pasien mengeluh nyeri
Data obyektif :
Terdapat ruam – ruam merah pada wajah yang
menyerupai bentuk kupu-kupu.
Nyeri tekan pada sendi.
Rambut pasien terlihat rontok.
Terdapat luka pada langit-langit mulut pasien.
Pembengkakan pada sendi.
Pemeriksaan darah menunjukkan adanya
antibodi antinuclear.
Masalah Keperawatan
Nyeri akut
Fatigue
Risiko infeksi
Gangguan citra tubuh
Risiko injuri
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Rencana Asuhan
Keperawatan
Nyeri akut Factor yang berhubungan: Agen injuri fisik
NOC:Pain control
Indikator:
Mengenali onset nyeri
Menjelaskan factor penyebab
Melaporkan perubahan nyeri
Melaporkan gejala yang tidak terkontrol
Menggunakan sumber daya yang tersedia untuk
mengurangi nyeri
Mengenali gejala nyeri yang berhubungan dengan
penyakit
Melaporkan nyeri terkontrol
NIC
Pain management
Aktivitas
Melakukan pengkajian nyeri termasuk lokasi,
karateristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas atau
keparahan nyeri, dan factor pencetus nyeri
Observasi tanda nonverbal dari ketidaknyamanan,
terutama pada pasien yang tidak bisa
berkomunikasi secara efektif –
Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk
mengetahui pengalama nyeri pasien dan respon
pasien terhadap nyeri –
Kaji pengetahuan dan kepercayaan pasien
tentang nyeri -
NIC
Pain management
Aktivitas
Tentukan dampak dari nyeri terhadap kualitas hidup
(tidur, selera makan, aktivitas, dll)
Evaluasi keefektifan manajemen nyeri yang pernah
diberikan sebelumnya
Control factor lingkungan 22 yang dapat
mempengaruhi ketidaknyamanan pasien
Kolaborasi dengan pasien, anggota keluarga, dan
tenaga kesehatan lain untuk implementasi
manajemen nyeri nonfarmakologi
Dukung pasien untuk menggunakan pengobatan
nyeri yang adekuat
Dx: Fatigue Karakteristik : Factor yang
berhubungan : anemia
NOC:
Fatigue level
Indicator
- Kelelahan
- Kualitas tidur
- Kualitas istirahat
- Hematocrit
NIC
Energy Management
Aktivitas:
Kaji status fisik pasien untuk kelelahan dengan
memperhatikan umur dan perkembangan
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan
tentang keterbatasan
Gunakan instrument yang valid untuk mengukur
kelelahan
Tentukan aktivitas yang boleh dilakukan dan
seberapa berat aktivitasnya
Monitor asupan nutrisi untuk mendukung sumber
energy yang adekuat
Konsultasi dengan ahli gizi tentang peningkatan
asupan energy
Bantu pasien untuk beristirahat sesuai
jadwal
Dorong pasien untuk tidur siang
Bantu pasien melakukan aktivitas fisik
reguler.
Diagnosa NOC NIC
Risiko infeksi Factor Infection severity Infection Control
risiko : Imunosupresi Indicator : Aktivitas: -
- Demam Pertahankan teknik
isolasi jika diperlukan
- Nyeri
Batasi jumlah
- Limpadenopati pengunjung
- Penurunan jumlah Ajarkan kepada
sel darah putih tenaga kesehatan
- Risk control untuk meningkatkan
cuci tangan
Ajarkan pasien dan
pengunjung untuk
cuci tangan
Cuci tangan
sebelum dan
sesudah melakukan
perawatan kepada
pasien
Lakukan perawatan
aseptic
Lakukan perawatan
aseptic pada IV line
Tingkatkan asupan
nutrisi yang adekuat
Dorong pasien untuk
istirahat
Ajarkan pada pasien
dan keluarga cara
untuk mencegah
infeksi
Gangguan citra Body image I Body image
tubuh ndicator: - enhancement Aktivitas:
Karakteristik: - Gambaran internal diri – - Tentukan harapan
Perilaku Keserasian anatara realitas pasien tentang citra
menghindari tubuh, ideal tubuh, dan tubuhnya
salah satu penampilan tubuh Berdasarkan tingkat
bagian tubuh Kepuasan terhadap perkembangan
Respon penampilan tubuh - - Bantu pasien
nonverbal Perilaku menggunakan mendiskusikan
strategi untuk penyebab penyakit
meningkatkan fungsi tubuh dan penyebab
terjadinya perubahan
pada tubuh
Bantu pasien
mendiskusikan
penyebab penyakit
dan penyebab
terjadinya
perubahan pada
tubuh
Bantu pasien
menetapkan
batasan perubahan
actual pada
tubuhnya
Gunakan
anticipatori
guidance untuk
menyiapkan pasien
untuk perubahan
yang dapat
diprediksi pada
tubuhnya -
Bantu pasien menentukan
pengaruh dari kelompok
sebaya dalam
mempresentasikan citra
tubuh - Bantu pasien
mendiskusikan perubahan
yang disebabkan karena
masa pubertas - Identifikasi
kelompok dukungan unutk
pasien - Monitor frekuensi
pernyataan pasien tentang
kritik terhadap dirinya -
Gunakan latihan
pengakuan diri dengan
kelompok sebaya
Risiko Injuri Risk control Risk identification
Factor Risiko: Disfungsi Indicator: Aktivitas:
autoimun Mencari informasi Review riwayat
kesehatan pasien –
tentang risiko pada
Review data yang
kesehatannya - berasal dari
Identifikasi factor pengkajian risiko –
risiko - Mengakuir Tentukan sumber
factor risiko personal - daya yang tersedia
Monitor factor risiko seperti tingkat
lingkungan - pendidikan,
Melakukan strategi psikologis, finansial,
dan dukungan
untuk control risiko
keluarga
Identifikasi sumber-
sumber ynag dapat
meningkatkan risiko
Identifikasi factor
risiko biologis,
lingkungan, dan
perilaku serta
hubungan antara
factor risiko
Tentukan rencana
untuk mengurangi
risiko - Diskusikan dan
rencanakan aktivitas
mengurangi risiko
dengan berkolaborasi
dengan pasein dan
keluarga -
Implementasikan
rencana aktivitas
mengurangi risiko
Ketidakseimbangan NOC: Kaji adanya alergi
nutrisi kurang dari Nutritional status: makanan
kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient Kolaborasi dengan
Berhubungan dengan b. Nutritional Status : ahli gizi untuk
: Ketidakmampuan food and Fluid Intake menentukan
untuk memasukkan c. Weight Control jumlah kalori dan
atau mencerna nutrisi Setelah dilakukan nutrisi yang
oleh karena faktor tindakan dibutuhkan pasien
biologis, psikologis keperawatan Yakinkan diet yang
atau ekonomi selama….nutrisi dimakan
kurang teratasi mengandung tinggi
dengan indikator: serat untuk
a. Albumin serum mencegah
b. Pre albumin serum konstipasi
c. Hematokrit Ajarkan pasien
d. Hemoglobin bagaimana
e. Total iron binding membuat catatan
capacity makanan harian.
f. Jumlah limfosit Monitor adanya
penurunan BB dan
gula darah
Monitor lingkungan
selama makan
Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan tidak selama
jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan,
rambut kusam, total
protein, Hb dan kadar
Ht
Monitor mual dan
muntah
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Informasikan pada
klien dan keluarga
tentang manfaat
nutrisi
Kolaborasi dengan
dokter tentang
kebutuhan
suplemen
makanan seperti
NGT/ TPN sehingga
intake cairan yang
adekuat dapat
dipertahankan.
Atur posisi semi
fowler atau fowler
tinggi selama
makan
Kelola pemberan
anti emetik:.....
Anjurkan banyak
minum
Pertahankan terapi
IV line
Catat adanya
edema, hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
Terima kasih