0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan70 halaman

Terapi Semi Fowler untuk CHF

Dokumen tersebut membahas tentang penerapan posisi semi fowler untuk menangani pola napas yang tidak efektif pada pasien gagal jantung kongestif (CHF). Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan pengumpulan data dari observasi, pemeriksaan fisik, rekam medis, wawancara, jurnal, dan buku. Hasil studi menunjukkan bahwa terapi oksigenasi, posisi tidur ideal, dan posisi semi fowler d

Diunggah oleh

dox xam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan70 halaman

Terapi Semi Fowler untuk CHF

Dokumen tersebut membahas tentang penerapan posisi semi fowler untuk menangani pola napas yang tidak efektif pada pasien gagal jantung kongestif (CHF). Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan pengumpulan data dari observasi, pemeriksaan fisik, rekam medis, wawancara, jurnal, dan buku. Hasil studi menunjukkan bahwa terapi oksigenasi, posisi tidur ideal, dan posisi semi fowler d

Diunggah oleh

dox xam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

penerapan terapi semi fowler

pada pasien CHF


by ade idrawansyah

Submission date: 08-Oct-2022 02:01AM (UTC-0500)


Submission ID: 1907809855
File name: 01._ade_indra_penerapan_CHF.docx (188.27K)
Word count: 1343
Character count: 18039
KARYA TULIS IMIAH
PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER UNTUK POLA
NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN
CONGESTIVE HEART FAILURE
(CHF)

Oleh:

ADE IDRAWANSYAH

(NIM : 01.19.0063)

PROGRAM DIPLOMA III KEPRAWATAN


AKADEMI KEPRAWATAN KESDAM II/SRIWIJAYA
PALEMBANG TAHUN 2022

KARYA TULIS IMIAH


PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER UNTUK POLA

i
NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN
CONGESTIVE HEART FAILURE
(CHF)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan


Program Ahli Madya Keperawatan

Oleh:
ADE IDRAWANSYAH
(NIM : 01.19.0063)

PROGRAM DIPLOMA III KEPRAWATAN


AKADEMI KEPRAWATAN KESDAM II/SRIWIJAYA
PALEMBANG TAHUN 2022

ii
PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER UNTUK POLA
NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN
CONGESTIVE HEART FAILURE
(CHF)

ADE IDRWANSYAH
Program Diploma III Keperawatan
Mahasiswa Akademi Keperawatan Kesdam II/Sriwijaya
adeidrawansyah@[Link]

ABSTRAK

Gagal jantung kongestif adalah suatu gangguan fungsi jantung yang mengalami
kegagalan dalam memompa darah untuk kebutuhan sel-sel tubuh. Penyakit ini
dapat menyebabkan kematian bagi para penderita, angka kejadian gagal
jantung di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Gejala yang
sering timbul karna penyakit ini adalah dyspnea atau sesak napas, hal tersebut
terjadi karena penumpukan cairan di dalam [Link] pola napas menjadi
tidak efektif. Mengambarkan upaya penataklaksanaan pola napas tidak
efektifpada pasien gagal [Link] diskriptif dengan pendekataan study
kasus.
Pengumpulan data dari hasil observasi, pemeriksaan fisik, rekammedik,
wawancara, jurnal maupun buku. study menunjukkan pola napas setelah
dilakukan [Link] pengaruh tindakan terapi oksigenasi dengan kriteria
oksigenasi, tirah baring ideal dan posisi semi fowler. Maslah pada pasien
dengan pola napas tidak efektif tidak teratasi karena saat dilakukan tindakan
asuhan keperatawan pasien tidak mengalami peningkatan keefektipan pola
napassesuai dengan kreteria hasil yang [Link] terapi
oksigenasi,tirah baring ideal dan posisi semi fowler dapat di lakukan sebagai
masukan dalam tindakan keperawatan mandiri mandiri untuk menangani pola
napas tidak efektif, karena cukup maksimal dalam peningkatan pola napas
pasien.
Kata Kunci: Emergency, Gagal jantung kongestif,pola napas tidak efektif,
posisi semi fowler

iii
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : ADE IDRAWANSYAH

Nim :01.19.0063

Program Study : DIII Keperawatan

Institusi : Akper Kesdam II/Sriwijaya

dengan sebenarnya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah Studi kasus ini saya
susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di
Akademi Keperawatan Kesdam II /Sriwijaya Palembang.

Jika di kemudian hari saya melakukan tindakan plagiarisme, saya bertanggung


jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Akademi
Keperawatan Kesdam II / Sriwijaya Palembang.

Palembang,07 Juni 2022

Ade Idrawansyah

iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang saya tulis dengan judul
“PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER UNTUK POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF
PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)” adalah hasil karya
saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain kecuali
kutipan yang sumbernya dicantumkan. Jika kemudian pernyataan yang saya
buat ini ternyata tidak betul, maka status kelulusan dan gelar yang pernah saya
peroleh menjadi batal dengan sendirinya.

Palembang,07 Juni 2022

Ade Idrawansyah

v
LEMBAR PERSETUJUAN KARYA TULIS ILMIAH

Proposal/karya tulis ilmiah oleh ADE IDRAWANSYAH Nim:01.19.0063


dengan judul “PENERAPAN POSISI SEMI FOWLER UNTUK POLA NAPAS
TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)”

“Telah di periksa dan di setujui untuk di ujikan

Palembang, februari 2022

Menyetujui,

Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Aris Teguh Hidayat, [Link]., Ns., [Link] Tri Febrianti, S, [Link]., [Link]
Mayor Ckm NRP. 11080097290784 NIDN. 0210028502

vi
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Penerapan posisi semi fowler untuk pola napas tidak


efektif pada pasien congestive heart failure.
Nama Lengkap : Ade idrawansyah
NIM : 01.19.0063

Telah berhasil dipertahankan dihadapan dewan penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli
Madya Keperawatan Akper Kesdam II/Sriwijaya.

Menyetujui Komisi

Pembimbing II
Pembimbing I

Tri Febrianti, S, [Link]., [Link]


Mayor Ckm Aris Teguh Hidayat [Link]., Ns., [Link].
NIDN : 021112290002
NRP : 11080097290784

Mengetahui
Direktur

Aris Teguh Hidayat,[Link]., Ns., [Link]


Mayor CKM NRP 11080097290784

vii
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya Tulis Ilmiah ini,
sebagai salah satu syarat untuk melakukan penyusunan Karya Tulis Ilmiah di
Akper Kesdam II/Sriwijaya Palembang.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, baik isi maupun cara penulisannya. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
penyempurnaan dimasa yang akan datang
Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak dan pada kesempatan ini penulis juga
mengungkapkan banyak terimakasih kepada yang terhormat :
1. Bapak KOLONEL CKM [Link] Hartono,[Link].,M.A.R.S. Selaku Kepala
Kesehatan Daerah Militer Kesdam II/Sriwijaya.
2. Bapak KOLONEL CKM (purn) dr Toni Siguntang,SP,THT. Selaku ketua
Yayasan Wahana Bhakti Karya Husada Perwakilan Sumbagsel.
3. Bapak Mayor CKM Aris Teguh Hidayat,[Link].,Ns.,[Link] Selaku Direktur
Akademi Keperawatan Kesdam II/Sriwijaya.
4. Bapak [Link], SKM,[Link] Selaku pudir I Akademi Keperawatan Kesdam
II/Sriwijaya.
5. Ibu Susanti, [Link], [Link] selaku pudir II Akademi Keperawatan Kesdam
II/Sriwijaya.
6. Ibu Fermata Sari,[Link].,[Link] selaku ketua prodik akademi keperawatan
kesdam II/Sriwijaya dan seluruh staf Akper Kesdam II/Sriwijaya.
7. Bapak Aris Teguh Hidayat,[Link].,Ns.,[Link] dan Ibu Tri Febrianti,
[Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing karya tulis ilmiah.
8. Orang tua, keluarga yang telah memberi dukungan ,semangat dan doa.

viii
9. Teman-teman seangkatan dan seperjuangan Akper Kesdam II/Sriwijaya
Mahesa Angkatan XXVIII.

DAFTAR ISI

KARYA TULIS IMIAH.......................................................................................................................i


KARYA TULIS IMIAH......................................................................................................................ii
ABSTRAK......................................................................................................................................iii
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME.................................................................................iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITIS...............................................................................................v
LEMBAR PERSETUJUAN KARYA TULIS ILMIAH.............................................................................vi
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................................vii
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................viii
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ix
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................................................xii
2.1.2 Anatomi Fisiologi jantung........................................................................8..........xii
DAFTAR TABEL...........................................................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................................................xiv
BAB 1............................................................................................................................................1
1.1LatarBelakang......................................................................................................................1
[Link] Masalah..............................................................................................................3
[Link] Penelitian................................................................................................................3
[Link] Umum..............................................................................................................3
[Link] khusus..............................................................................................................3
1.4. Manfaat penelitian.......................................................................................................3
[Link] praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat:.....................3
1.4.2. Secara keilmuan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :...............4
BAB II............................................................................................................................................5
2.1 Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat......................................................................5
2.1.1 Definisi.............................................................................................................................5

ix
Keperawatan Gawat Darurat (Emergency Nursing) merupakan........................................5
keperawatan yang Komprehensif diberikan kepada pasien dengan................................5
injuri akut atau sakit yang mengacam kehidupan (Krisanty, 2016)...................................5
2.1.2. Tujuan penggulangan Gawat Darurat.........................................................................5
2.1.3 prinsip-prinsip keperawatan Gawat Darurat...............................................................5
Tabel 2.1...................................................................................................................................6
2.2 Konsep Dasar penyakit.................................................................................................8
2.1.1 Definisi.........................................................................................................................8
2.1.2 Anatomi Fisiologi jantung.....................................................................................9
2.1.3 Etiologi................................................................................................................12
2.1.4 Klasifikasi Gagal Jantung.....................................................................................13
2.1.5 Manifestasi Klinis................................................................................................14
2.1.6 Patofisiologi........................................................................................................16
2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik......................................................................................18
2.1.8 Komplikasi..........................................................................................................19
2.1.9 Penatalaksanaan.................................................................................................19
2.3 konsep pola Nafas Tidak efektif..................................................................................21
2.3.2. Definisi Pola Nafas Tidak Efektif..........................................................................21
2.3.3. Etiologi................................................................................................................21
2.3.4. Manifestasi Klinik................................................................................................22
2.3.5. Patofisiologi........................................................................................................25
2.3.6. Komplikasi..........................................................................................................25
2.3.8 Pengkajian.................................................................................................................28
2.3.9 Diagnosa keperawatan..............................................................................................28
2.3.10 Perencanaan keperawatan......................................................................................29
2.3.11 Implementasi...........................................................................................................30
2.3.12 Evaluasi....................................................................................................................30
2.4 Konsep posisi semi powler.........................................................................................30
2.4.1 Definisi Posisi Semi Fowler........................................................................................30
2.4.2 Tujuan........................................................................................................................30
2.4.3 Prosedur....................................................................................................................31
BAB III.........................................................................................................................................33
2.5 Desain studi kasus......................................................................................................33
2.6Tempat dan waktu studi kasus..........................................................................................33

x
2.6.2 Kriterian inklusi dalam penulisan ini:.........................................................................33
2.6.3 Kriteria eklusi.............................................................................................................33
2.7Definisi operasional focus studi.........................................................................................33
2.7.1 Metode pengumpulan data dan instrument penelitian ............................................34
2.7.2 Penyajian data...........................................................................................................34
BAB IV.........................................................................................................................................35
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................................................................................35
A. GAMBARAN UMUM LINGKUNGAN STUDY KASUS.............................................................35
B. HASIL STUDI KASUS........................................................................................................36
C. PEMBAHASAN....................................................................................................................38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................40
A. KESIMPULAN..................................................................................................................40
B. SARAN............................................................................................................................40

xi
DAFTAR GAMBAR

2.1.2 Anatomi Fisiologi jantung........................................................................8

xii
DAFTAR TABEL

Table 2.1 Prioritas emergency..................................................................7

Tabel 2.3 Klasifikasi sesak nafas............................................................22

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Pengajuan Judul

Lampiran II : Lembar Konsul

Lampiran III : Jadwal Kegiatan

Lampiran IV : Bukti Proses Bimbingan

Lampiran V : Instrumen Study Kasus

xiv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1LatarBelakang
Seiring dengan perkembangan ekonomi, kemajuan industri dan teknologi yang semakin cepat
serta perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan potensi masalah kesehatan kardiovaskuler
semakin meningkat. Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu jenis penyakit yang saat ini
banyak diteliti dan dihubungkan dengan gaya hidup seseorang.
Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah suatu keadaan ketika
jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi
tubuh untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh. Gagal jantung menjadi penyakit yang terus
meningkat terutama pada lansia (Asromo, 2020).
Informasi yang diperoleh dari World Healt Association (WHO) 2016 menyebutkan bahwa 17,5
juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 2008, yang mewakili dari 31%
kematian didunia dan meningkat seiring pertambahan usia dan pada umumnya mengenai pasien
dengan usia sekitar lebih dari 65 tahun dengan presentase sekitar 6-10% lebih banyak mengenai laki-
laki dari wanita.
Sedangkan Pada tahun 2020 WHO memprediksi bahwa peningkatan penderita Congestive
Cardiovascular breakdown (CHF). (Austaryani,dalamHandayani 2020). Di Amerika serikat penyakit
gagal jantung hampir terjadi 550.000 kasus pertahun. Sedangkan dinegara - negara berkembang
didapatkan kasus sejumlah 400.000 sampai 700.000 pertahun. Dari seluruh angka tersebut, benua
asia menduduki tempat tertinggi akibat kematian penyakit jantung dengan jumlah penderita 276,9 ribu
jiwa (WHO,dalam kasan 2020).
Di Indonesia informasi dari Riskesdas tahun 2018, Informasi menunjukan prevelensi penyakit
jantung berdasarkan analysis dokter di indonesia yaitu sebesar 1,5% dari absolute penduduk
(Kemenkes RI,2018). Informasi riskesdas tahun 2013 menunjukan prevalensi gagal jantung di
Indonesia sebanyak 0,3 % dan mengalami peningkatan pada tahun 2018 yaitu sebanyak 1,5%. Klien
terbanyak dengan gagal jantung terdapat di Kalimantan Utara yaitu dengan prevalensi sebanyak 2,2
%, sedangkan Nusa TenggaraTimur menjadi yang withering sedikit klien yang mnederita gagal
jantung yaitu dengan prevalensi sebanyak 0,7% (Riskesdas, 2018).
Gagal jantung menimbulkan berbagai komplikasi yang withering dirasakan pada penyakit gagal
jantung adalah sesak nafas pada malam hari dan sering muncul tiba-tiba yang menyebabkan pasien

15
terbangun. Disorder klinis yang ditandai dengan sesak napas dan fisik saat istrahat atau aktivitas,
yang menyebabakan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung dan juga disebabkan pengurangan
ventikel dan kontraktilitas miokardial (kusuma dan ahmad marzuki, 2020).
Posisi adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk memberikan posisi tubuh dalam
meningkatkan kesejahteraan atau kenyamanan fisik dan psikologis. Aktivitas intervensi keperawatan
yang dilakukan untuk pasien gagal jantung diantaranya menempatkan tempat tidur yang terapeutik,
mendorong pasien meliputi perubahan dan posisikan untuk mengurangi dyspnea seperti posisi semi
fowler, tinggikan 45 ̊C atau lebih diatas jantung untuk memperbaiki aliran darah balik (Ahmad marzuki,
n.d.)
Mengatur posisi semi fowler akan membantu menurunkan konsumsi oksigen dan meningkatkan
ekspansi paru-paru maksimal serta mengatasi kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan
perubahan alveolus Dengan posisi semi fowler, sesak nafas berkurang dan sekaligus akan
meningkatkan durasi tidur (Melanie, 2020).
Dengan posisi semi fowler,sehingga sesak nafas berkurang dan akan mengoptimalkan kualitas
tidur pasien. Pengembangan rongga dada dan paru-paru akan menyebabkan asupan oksigen
membaik, sehingga compositions respirasi akan kembali typical. Dari uraian tersebut penulis tertarik
untuk melakukan studi kasus dengan judul penerapan posisi semi powler terhadap ketidakefektifan
pola nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF).

[Link] Masalah
Bagaimanakah penerapan keperawatan pada Klien posisi semi fowler dengan masalah
keperawatan pola napas tidak efektif pada pasien Congestive Heart Failure (CHF).
[Link] Penelitian
[Link] Umum
Memperoleh gambaran penerapan posisi semi powler terhadap ketidakefektifan pola nafas
pada pasien dengan Congestive Heart Failure (CHF).
[Link] khusus
a. Mengidentifikasi penelitian/artikel penerapan posisi semi powler terhadap ketidakefektifan
pola nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF).
b. Menganalisis hasil penelitian penerapan posisi semi powler terhadap ketidakefektifan pola
nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF).
c. Dirumuskan rekomendasi hasil penelitian penerapan posisi semi powler terhadap
ketidakefektifan pola nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF).

16
1.4. Manfaat penelitian
[Link] praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat:
1. Bagi Penulis
Penulis memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian, di samping it
meningkatkan pemahaman tentang memberikan dan menyusun penatalaksanaan pola
napas tidak efektif pada pasien Congestive Heart Failure (CHF) melalui pemberian semi
fowler.
2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan dalam bidang keperawatan dalam
menangani masalah pola napas tidak efektif pada pasien CHF.
3. Bagi Klien
Meningkatkan pengetahuan keluarga dalam penanganan pola napas tidak efektif pada
pasien CHF.
4. Pedoman kerja bagi perawat dalam meleksanakan implementasi semi fowler untuk pola
napas tidak efektif pada pasien Congestive Heart Failure (CHF).
1.4.2. Secara keilmuan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :
a. Evindance Base Nursing Practice implementasi semi powler terhadap ketidakefektifan pola
nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF).
b. Data dasar bagi pengembangan studi atau penelitian yang mengembangkan metode posisi
semi powler atau implentasi keperawatan lainnya dalam mengatasi ketidak efektifan pola
nafas pada pasien dengan Congestive Heart Failure(CHF)

17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat


2.1.1 Definisi
Keperawatan Gawat Darurat (Emergency Nursing) merupakan
keperawatan yang Komprehensif diberikan kepada pasien dengan
injuri akut atau sakit yang mengacam kehidupan (Krisanty, 2016)
2.1.2. Tujuan penggulangan Gawat Darurat
Menurut, (Krisanty, 2016) Tujuan penanggulangan gawat darurat adalah:
1. Mengcegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat hidup dan
berfungsi kembali dalam masyarakat.
2. Merujuk pasien gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganganan
yang lebih memadai.
3. Penanggulangan korban bencana.
Untuk dapat mencegah kematian petugas harus tahu penyebab kematian yaitu:
1. Mati dalam waktu singkat (4-6 menit)
a. Kegagalan sistem otak.
b. Kegagalan sistem pernafasan.
c. Kegagalan sistem Kardiovaskuler.
2. Mati dalam waktu lebih lama (perlahan-lahan)
a. Kegagalan sistem hati
b. Kegagalan sistem ginjal (perkemihan)
c. Kegagalan sistem pangkreas (endokrin)
2.1.3 prinsip-prinsip keperawatan Gawat Darurat
[Link] diambil dari bahasa perancis "Tries” artinya
"mengelompokkan" atau "memilih" (Krisanty, 2016). Konsep emergency unit gawat darurat
adalah berdasarkan pengelompokan atau pengklasifikasian klien kedalam tingkatan p rioritas
tergantung pada keperahan penyakit atau injuri.
Perawat Emergency adalah "penjaga pintu gerbang" pada syetem pelayanan gawat
darurat. Norms of Crisis Nusing Practice(RN) Sebagai pemberi layanan yang harus
mentriage setiap pasien (ENA,2001,dalam pauls krisanty,2016)
2. Prioritas Tindakan

18
a. Prioritas Nol (HITAM) : Pasien dikategorikan meninggal akibat adanya cidera
yang lethal dan tidak mungkin dilakukan resusitasi.
b. Prioritas pertama (MERAH) : Pasien mengalami cidera yang berat yang memerlukan
tindakan dan transport segera.
c. Prioritas kedua (KUNING): Pasien dengan cidera yang telah dipastikan tindak
mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan waktu dekat.
d. Prioritas ketiga (HIJAU) : Pasien dengan cidera minor yang tidak membutuhkan
stabilitas segera.
Tabel 2.1
Prioritas emergency

(Ramsi,irhash Faisal,2016)

No Prioritas Keterangan

1 Prioritas tertinggi Korban gawat-darurat, artinya terancam


( MERAH) jiwa dan anggota badannya (akan
menjadi cacat), jika tidak mendapatkan
pertolongan secepatnya.

2 Prioritas tinggi (KUNING). Korban moderate energent, yaitu


2.2 Konsep Dasar korban gawat atau darurat yang tidak
penyakit dapat dimasukkan prioritas tertinggi
2.1.1 Definisi dimasukkan prioritas tertinggi maupun
Penyakit prioritas sedang ( tidak merah, tidak
gagal jantung kuning).
yang dalam
istilah 3 Prioritas sedang (HIJAU) Korban gawat darurat,artinya meskipun

medisnya kondisinya dalam keadaan gawat, tetapi

disebut dengan ia tidak memerlukan tindakan segera:

"Heart Failure atau korban darurat tidak gawat atau

atau Cardiac korban gawat tidak darurat.

failure"
merupakan
4 Prioritas terakhir(HITAM) Korban ada tanda-tanda telah
suatu keadaan
meninggal.
19
darurat medis di mana jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap
menitnya (curah jantung,cardiac yield) tidak mampu memenuhi kebutuhan ordinary
metabolisme tubuh
Gagal jantung adalah tidak mampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen.
Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung termasuk kerusakan sifat kontraktil dari
jantung,yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal (Abdul majid, 2018).
Congestive Heart Failure(CHF) sering disebut dengan gagal jantung kongestif adalah
ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah yang adekuat untuk memenuhi
kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi, Istilah gagal gjantung kongestif sering
digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan kanan (Kasron, 2016).
Gagal jantung(dekompensasi kordis) dapat pula dikatakan sebagai sekumpulan tanda
dan gejala yang ditandai dengan sesak nafas dan kelelahan(saat istirahat atau sat
aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung (Sudoyo, 2011 dalam
M. Asikin, 2016).
Berdasarkan sejumlah definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gagal jantung
yaitu ketidakmampuan jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh,sehingga tidak
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh atau memperlihatan perbedaan antara jantung
yang sehat dengan jantung yang gagal memompa darah.
2.1.2 Anatomi Fisiologi jantung

Gambar 2.1: anatomi jantung

fisiologi dari sisitem kardiovaskular sebagai berikut:

20
Kardiovaskular ( jantung) merupakan organ berotot yang memiliki empat ruang yang terletak
dirongga dada dibawah perlindungan tulang iga, sedikit ke sebelah kiri sternum (tulang dada).
Mekanisme kerjanya mirip dengan pompa untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah agar
darah dapat senantiasa mengalir di dalam tubuh. Ukuran jantung lebih kurang sebesar genggaman
tangan kanan.
1. Tinjauan Anatomis
Secara anatomis jantung terletak di dalam rongga dada (toraks), yaitu pada rongga
mediastinum dan di antara kedua paru. Selaput yang melapisi jantung disebut perikardium,
yang terdiri atas lapisan:
a. Perikardium parietalis, yaitu lapisan luar yang melekat pada tulang dada dan selaput
paru.
b. Perikardium viseralis, yaitu lapisan permukaan yang langsung melapisi jantung yang
disebut epikardium.
Di antara kedua lapisan selaput tersebut (kantung perikardium), terdapat sedikit cairan
pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan yang timbul akibat gerak jantung saat
memompa . Cairan ini disebut cairan perikardium. Dinding jantung terdiri atas 3 lapisan,
yaitu :
1. Lapisan luar disebut epikardium viseralis
[Link] tengah merupakan lapisan berotot disebut miokardium.
3. Lapisan dalam disebut endokardium.
2. Struktur mikro jantung
Serat lintang otot jantung sama dengan otot rangka dan terdapat garis-garis Z Banyak
terdapat mitokondria panjang yang berdekatan dengan fibril-fibril otot. Serat-serat otot
bercabang dan saling berikatan ( interdigitate), tetapi masing-masing merupakan unit
lengkap yang di kelilingi oleh membran sel. Perbatasan ujung suatu serat otot dengan
ujung serat otot yang lain disebut tersusun paralel satu sama lain menyerupai serangkaian
lipatan yang luas.
3. Ruang jantung
Ruang jantung terdiri dari:
a. Atrium Kanan
Chamber kanan memiliki lapisan dinding yang tipis berfungsi sebagai tempat
penyimpanan darah dan mengalirkan darah dari vena-vena sirkulasi sistemis ke dalam
ventrikel darah dari vena-vena sirkulasi ssistemis kedalam ventrikel kanan dan kemudian
keparu-paru. Darah yang berasal dari pembuluh darah vena ini masuk ke dalam
21
chamber kanan melalui vena cava dan chamber kanan, tetapi dipisahkan oleh lipatan
katup atau pita otot.
b. Ventrikel kanan
Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang berguna untuk menghasilkan kontraksi
bertekanan rendah, yang cukup untuk mengalirkan darah ke dalam arteri pulmonaris.
Sirkulasi pulmonar merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi
yang jauh lebih kecil terhadap aliran darah yang berasal dari ventrikel kanan. Namun,
sirkulasi sistemis yang menerima darah dari ventrikel kiri merupakan sistem aliran darah
bertekanan tinggi. Oleh karenanya, beban kerja dari ventrikel kanan hanya sepertiga dari
tabel dinding ventikel kiri.
Saat berkontraksi,ventrikel harus menghasilkan kekuatan yang cukup besar untuk dapat
memompakan darah yang diterimanya dari chamber ke dalam sirkulasi pulmonar
ataupun sirkulasi sisitemik.
c. Atrium kiri

Chamber kiri menerima darah yang sudah dioksigenasi dari paru-paru melalui vena
pulmonaris. Tidak terdapat katup sejati antara vena pulmonalis kembali ke pembuluh
paru-paru bila terdapat perubahan tekanan dalam chamber kiri (retrograde).
Peningkatan tekanan chamber kiri yang akut akan menyebabkan bendungan pada paru-
paru. Chamber kiri memiliki dinding tipis dan bertekanan rendah. Darah dari chamber kiri
mengalir ke dalam ventrikel kiri melalui katup mitral.
d. Ventrikel kiri

Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan
sirkulasi sistemis dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer.
e. Katup Artrioventrikel

Katup antrioventrikel merupakan katup yang terletak antara chamber dan ventrikel.
Katup yang terletak antrium kanan dan ventrikel kanan ini mempunyai tiga buah daun
katup yang disebut katup trikuspidalis; sedangkan katup yang terletak antara chamber
kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup yang disebut katup mitral. Katup
atrioventrikuler memungkinkan darah mengalir dari masing-masing chamber ke ventrikel
pada fase diastolik ventrikel (dilatasi) dan mencegah aliran balik pada fase sistolik
ventrikel (kontraksi)
f. Katup semilunar

22
Katup semilunar terdiri dari dua katup yaitu katup semilunar pulmonar dan katup
semilunar aorta. Katup semilunar pulmonar terletak pada arteri pulmonaris, memisahkan
arteri pulmonaris dengan ventrikel kanan. Katup semilunar aorta terletak antara ventrikel
kiri dan aorta.
Kedua katup semilunar ini mempunyai bentuk yang sama, terdiri dari 3 daun katup yang
simetris yang menonjol menyerupai corong yang dikaitkan dengan sebuah cicin serabut.
Adanya katup semilunar me,ungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke
arteri pulmonaris atau aorta selama fase sistolik ventrikel dan mencegah aliran
balikwaktu diastolik ventrikel (Abdul majid, 2018).
2.1.3 Etiologi
Menurut, (Brunner dan Suddarth 2002 dalam kasron, 2016.) Ada beberapa
etiologi/penyebab dari gagal jantung sebagai berikut:
a. Kelainan Otot jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelaianan otot jantung, disebabkan
menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi
otot mencukup ateriosklerosis koroner, hipertensi blood vessel, dan penyakit
degeneratif atau inflamasi.
b. Aterosklerosis Koroner
Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya
aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukanasam
laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal
jantung. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif, berhubungan dengan gagal
jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan
kontraktilitas menurun.
c. Hipertensi Sistemik atau Pulmonal
Meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrophi
serabut otot jantung.
d. Peradangan dan penyakit Miokardium Degeneratif Sangat berhubungan dengan gagal
jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
e. Penyakit Jantung Lain
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang
secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup
gangguan aliran darah yang masuk jantung ( stenosis katup semiluner), ketidak

23
mampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade, perikardium, perikarditif konstriktif,
atau stenosis AV), peningkatan mendadak afterload.
[Link] Sistemik
Terdaoat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal
ginjal. Meningkatnya laju metabolisme, hipoksia dan frailty memerlukan peningkatan
curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia dan frailty juga
dapat menurunkan suplai oksigen kejantung. Asidosis respiratorik atau metabolik dan
abnormalita elektrolik dapat menurunkan kontraktilitas jantung
2.1.4 Klasifikasi Gagal Jantung
Menurut,Karson,(2016) Ada beberapa Klasifikasi Gagal jantung berikut:
a. Gagal jantung akut-kronik
1. Gagal jantung akut terjadinya secara tiba-tiba, ditandai dengan penurunan kardiak yield
dan tidak adekuatnya perfusi jaringan. Ini dapat mengakibatkan edema paru dan kolaps
pembuluh darah.
2. Gagal jantung Kronik terjadinya secara perlahan ditandai dengan penyakit jantung
iskemik, penyakit paru kronis. Pada gagal jantung kronik terjadi retensi air dan sodium
pada ventrikel sehingga menyebabkan hipervolemia, akibatnya ventrikel dilatasi dan
hipertrofi.
b. Gangguan Jantung Kanan-Kiri
1. Gagal Jantung kiri terjadi karena ventrikel gagal untuk memompa darah secara adekuat
sehingga menyebabkan kongesti pulmonal, hipertensi dan kelaianan pada katub
aorta/mitral.
2. Gagal jantung kanan, disebabkan peningkatan tekanan pulmo akibat gagal jantung kiri
yang berlangsung cukup lama sehingga cairan yang terbendung akan berakumulasi
secara sistemik di kaki, asites, hepatomegali, efusi pleura dan lain-lain.
c. Gagal jantung Sistolik-Diastolik
1. Sistolik terjadi karena penurunan kontraktilitas ventrikel kiri sehingga ventrikel kiri tidak
mampu memompa darah akibatnya kardiak yield menurun dan ventrikel hipertrofi.
2. Diastolik karena ketidakmampuan ventrikel dalam pengisian darah akibatnya stroke
volume cardiovascular result turun.
2.1.5 Manifestasi Klinis
Menurut, (Kasron, 2016). Tanda dominan gagal jantung adalah meningkatkannya
volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat
akibat turunnya curah jantung pada kegagalan jantung. Ventrikel dan kiri dapat mengalami
24
kegagalan secara terpisah. Gagal ventrikel kiri withering sering mendahului gagal ventrikel
kanan. Kegagalan salah satu ventrikel dapat mengakibatkan penurunan perfusi jaringan perfusi
jaringan, tetapi manifestasi kongesti dapat berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana
yang terjadi.
a. Gagal jantung kiri,
Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak mampu memompa
darah yang datang dari paru. Manifestasi klinis yang terjadi yaitu;
1. Dispneu
Terjadi akibat penimbulan cairan dalam alveoli dan mengganggu pertukaran gas. Dapat
terjadi ortopnu. Beberapa pasien dapat mengalami ortopnu pada malam hari yang
dinamakan paroksimal Nokturnal Dispnea(PND).
2. Batuk
3. Mudah lelah
Terjadi karena curah jantung yang kurang menghambat jaringan dari sirkulasi ordinary
dan oksigen serta menurunkan pembungan sisa hasil katabolisme juga terjadi karena
meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan sleep deprivation yang terjadi
karena trouble pernafasan dan batuk.
4. Kegelisahan dan kecemasan
Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, Stress akibat kesakitan bernafas dan
pengtahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik.
5. Sianosis
b. Gagal jantung kanan
1. Kongestif jaringan perifer dan viseral
2. Edema ekstrimitas bahwa (edema dependen), biasanya edema petting, penambahan
berat badan.
3. Hepatomegali. Dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas midsection terjadi akibat
pembesaranan vena dihepar.
4. Anorexia dan mual. Terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga
midsection
5. Nokturia
6. Kelemahan
Menurut, (Sudoyo dalam M. Asikin, 2016) gagal jantung harus dipertimbangankan terhadap
derajat latihan fisik yang dapat menyebabkan timbulnya gejala. Pada awalnya, secara khas
gejala hanya muncul saat melakukan aktifitas fisik. Namun semakin berat kondisi gagal
25
jantung, semakin menurun toreransi terhadap latihan, dan gejala muncul lebih awal dengan
aktifitas yang lebih ringan.
Dampak dari curah jantung dan kongesti yang terjadi pada sistem vena atau sistem pulmonal
antara lain:
1. Sesak saat beraktivitas,
2. Sesak saat berbaring dan membaik dengan melakukan elevasi kepada menggunakan
bantal (ortopnea)
3. Sesak dimalam hari (paroxysmal nighttime dyspnea)
4. Sesak nafas beristirahat.
5. Nyeri dada dan palpitasi.
6. Anoreksia.
7. Mual,kembung
8. Penurunan berat badan
9. Letih,lemas
10. Oliguria/nokturia.
11. Gejala otak bervariasi mual dari ansietas hingga gangguan memori dan konfusi.
2.1.6 Patofisiologi
Kelaianan fungsi otot jantung disebabkan oleh aterosklerosis koroner, hipertensi blood
vessel, dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi. Aterosklerosis koronermengakibatkan
disfungsi miokardium karena tergangguanya aliran darah keotot , Terjadi hipoksia dan asidosis
(akibat penumpukan asam laktat). Infark miokard biasanya mendahuluhi terjadinya gagal
jantung. Hipertensi sistemik/pulmonal(peningkatan afterload) meningkatkan beban kerja
jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.
Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi
karena akan meningkatkan kontraktilitas [Link] tetapi, untuk alasan yang tidak
jelas,hipertrofi otot jantung tadi tidak dapat berfunsi secara ordinary, dan akhirnya terjadi gagal
jantung, peradangan dan penyakit miokarium degeneratif berhubungan dengangagal jantung
karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung,menyebabkan kontraktilitas
menurun.
Ventrikel kanan dan kiri dapat mengalami kegagalan secara terpisah. Gagal ventrikel kiri
withering sering mendahuluhi gagal ventrikel kanan. Gagagal ventrikel kiri murni sinonim
dengan edema paru akut, karena curah ventrikel berpasangan atau sinkron,maka kegagalan
salah satu ventrikel dapat mengakibatkan penurunan perfusi jaringan.

26
Gagal jantung dapat dimulai dari sisi kiri atau kanan jantung. Sebagai contoh, hipertensi
sitemik yang kronis akan menyebabkan ventrikel kanan mengalami hipertifi dan melemah.
Letak suatu infark miokardium akan menentukan sisi jantung yang pertama kali terkena setelah
terjadi serangan jantung.
Karena ventrikel kiri yang melemah akan menyebabkan darah kembali ke chamber, lalu
ke sirkulasi paru,ventrikel kanan dan chamber kanan,maka jelaslah bahwa gagal jantung kiri
akhirnya akan menyebabkan gagal jantung kanan. Pada penyataannya, penyebab utama gagal
jantung kanan adalah gagal jantung kiri. Karena tidak dipompa secara ideal keluar dari sisi
kanan jantung, maka darah mulai terkumpul disisi vena perifer. Hasil akhirnya adalah semakin
berkurangnya volume darah dalam sirkulasi dan menurunnya tekanan darah serta perburukan
siklus gagal jantung (Abdul majid, 2018).
2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik
Menurut, (Kasron, 2016).
a. EKG (Elektrokardiogram)

Mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, infark, penyimpanan aksis, iskemia dan
kerusakan pola.
b. Tes Laboratorium Darah

Enzym hepar : Meningkat dalam gagal jantung/kongesti


Elektrolit : Kemungkinan berubah karena perpindahan cairan, penurunan fungsi ginjal.
Oksimetri Nadi : Kemungkinan situasi oksigen rendah.
AGD : Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia
dengan peningkatan PCO2.
Egg whites : Mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein.
c. Radiologis

Ultrasound image Ekokardiogram, dapat menunjukkan pembesaran bilik perubahan dalam


fungsi struktur katup, penurunan kontraktilitas ventrikel.
d. Scan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding.
e. Rontgen dada : Menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan mencerminkan dilatasi atau
hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau perubahan dalam pembuluh
darah atau peningkatan tekanan pulnonal.
f. Ekokardiogram

27
Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk mengetahui ukuran dan bentuk
jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan fungsi katup jantung, sangat bermanfaat
untuk menegakkan analysis gagal jantung.

g. Sonogram
Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katub atau
region penurunan kontraktilitas ventrikel.
h. Kateterisasi jantung
Tekanan abormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan
verus sisi kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi. Selain itu, juga mengkaji potensi arteri
koroner. Zat kontras disuntikan kedalam ventrikel; menunjukkan ukuran unusual dan ejeksi
fraksi atau perubahan kontraktilitas.
2.1.8 Komplikasi
Menurut, Kasron (2016),ada beberapa komplikasi gagal jantung sebagai berikut:
a. Syok Kardigenik.
b. Episode Tromboemboli karena penbentukan bekuan vena
karena balance darah.
c. Efusi dan Tamponade Perikardium
d. Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis.
2.1.9 Penatalaksanaan
Menurut, (Kasron, 2016) Penatalaksanaan berdasarkan kelas NYHA:
a. Kelas 1 : Non Farmakologi, meliputi diet rendah garam, batasi cairan, menurunkan berat
badan, menghindari alkohol dan rokok, aktivitas fisik, manajemen strees.
b. Kelas II,III : Terapi pengobatan, meliputi : diuretic, vasodilator, expert inhibator, digitalis,
dopamineroik, oksigen.
c. Kelas IV : Kombinasi diuretic, digitalis, Pro inhibator, seumur hidup

Penatalaksanaan CHF meliputi :


a. Non Farmakologis
28
1. CHF kronik
a. Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan konsumsi
oksigen melalui istirahat atau pembatasan aktivitas.
b. Diet pembatasan natrium (< 4 gr/hari) untuk menurunkan edema.
c. Menghentikan obat-obatan yang memperparah seperti NSAIDs karena efek
prostaglandin pada ginjal menyebabkan retensi air dan natrium.
d. Pembatasan cairan (kurang lebih 1200-1500 cc/hari).
e. Olahraga secara teratur.
2. CHF Akut
a. Oksigenasi (Ventilasi mekanik)
b. Pembatasan cairan (< 1,5 liter/hari).
b. Farmakologis
Tujuan : untuk mengurangi afterload dan preload
1. First line druge; diuretic

Tujuan : mengurangi afterload pada disfungsi sistolik dan mengurang kongesti pulmonal
pada disfungsi diastolic.
Obatnya adalah thaizide diuretic untuk CHF sedang, circle diuretic, metolazon
(kombinasi dari circle diuretic untuk meningkatkan pengeluaran cairan), Kalium-Saving
diuretic.
2. Second Line druge; Expert inhibitor

Tujuan : membantu meningkatkan COP dan menurunkan kerja jantung. Obatnya adalah:
a. Digoxin; meningkatkan kontraktilitis. Ini tidak digunakan untuk kegagalan diastolic
yang mana dibutuhkan pengembangan ventrikel untuk relaksasi
b. Hidralazin; menurunkan afterload pada disfungsi sistolik.
c. Isobarbide dinitrat; mengurangi preload dan afterload untuk disfungsi sistolik,
hindari vasodilator pada disfungsi sistolik.
d. Calsium Channel Blocker; untuk kegagalan diastolik, meningkatkan relaksasi dan
pengisian dan pengisian ventrikel(jangan dipakai pada CHF kronik).
e. Beta Blocker; sering dikontraindikasikan karena menekan respon miokard,
Digunakan pada disfungsi diastolic untuk mengurangi HR, mencegah iskemi
miocard, menurunkan TD, hipertrofi ventrikel kiri.
3. Pendidkan kesehatan

29
a. Informasikan pada klien, keluarga dan pemberi perawatan tentang penyakit dan
penanganannya.
b. Informasi difokuskan pada : checking BB setiap hari dan admission natrium.
c. Diet yang sesuai untuk lansia CHF; pemberian makanan tambahan yang banyak
mengandung kalium seperti; pisang, jeruk dan lain-lain.
d. Teknik konservasi energi dan latihan aktivitas yang dapat ditoleransi dengan
bantuhan terapis.
2.3 konsep pola Nafas Tidak efektif
2.3.2. Definisi Pola Nafas Tidak Efektif
Pola nafas tidak efektif adalah suatu keadaan ketidakmampuan compositions
pernafasan inspirasi dan ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat (PPNI,
2017). Pola nafas tidak efektif adalah keadaan ketika seorang individu mengalami
kehilangan ventilasi yang aktual atau potensial yang berhubungan dengan perubahan
pola pernafasan (Carpenito Lynda juall, 2003).
2.3.3. Etiologi
Beberapa macam penyebab yang dapat menimbulkan munculnya masalah
keperawatan pola nafas tidak efektif antara lain (PPNI, 2017).depresi pusat pernafasan,
hambatan upaya nafas (misalnya : Nyeri pada saat bernafas, kelemahan otot
pernafasan), deformitas dinding dada, deformitas tulang dada, gangguan
neuromuscular, gangguan kejang), imturitas neurologis, penurunan energy, obsitas,
posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru, sindrom hipoventilasi, kerusakan inervasi
diagfragma (kerusakan syaraf C5 keatas), cedera pada medulla spinalis, efek agen
farmakologis, dan kecemasan.
2.3.4. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala yang tampak pada pola nafas tidak efektif secara city hall leader
adalah (PPNI, 2017) penggunaan otot bantu pernafasan, fase ekpsirasi yang
memanjang, dan pola napas unusual. Pola napas strange adalah keadaan dimana
terjadinya perubahan frekuensi napas, perubahan dalamnya inspirasi, perubahan irama
napas, rasiko antara durasi inspirasi dan durasi ekspirasi (Djojodibroto, 2014).
Sedangkan yang menjadi information minor pada pola nafas tidak efektif yaitu
pernafasan tightened lip, pernapasan cuping hidung, measurement thorak front back
meningkat, ventilasi semenit menurun, kapasitas essential menurun, tekanan ekspirasi
dan pinspirasi menurun dan ekskursi dada berubah. Adanya suara nafas yang tidak

30
ordinary juga menjadi salah satu tanda dan gejala dari pola nafas tidak efektif. Suara
nafas ordinary ditandai dengan:
a. Stridor

Suara yang terdengar kontinyu (tidak terputus putus ),bernada tinggi yang terjadi
baik pada waktu inspirasi maupun pada waktu ekspirasi, akan terdengar tanpa
menggunakan alat statoskop, biasanya bunyi ditemukan pada saluran nafas atas
(laring) atau trekea, disebabkan adanya penyempitan pada saluran nafas tersebut,
pada orang dewasa,kondisi ini mengarahkan pada dugaan adanya oedema laring,
growth laring, kelumpuhan pita suara, stenosis laring yang umumnya disebabkan
oleh tindakan trakheostomi atau dapat pula akibat endotrakeal.
b. Crackles

Bunyi yang berlainan, non kontinyu akibat penundaan pembukaan kembali jalan
nafas yang menutupi. Terdengar pada saat inspirasi. Terbagi menjadi dua yaitu:
1. Crackles halus

Terdengar sewaktu akhir inspirasi. Karakter suara menetup, terpatah patah.


Penyebabnya adalah udara yang melewati darah yang sangat lembab dialveoli
atau bronchioles (penutupan jalan nafas kecil), seperti suara rambut yang
digesekkan.
2. Crackles kasar

Terdengar pada saat melakukan ekspirasi. Karakter suara basah, lemah, kasar,
suara gesekan terpotong, penyebabnya adalah adanya cairan atau sekresi pada
jalan nafas. Biasa jadi akan berubah disaat pasien batuk.
3. Wheezing (mengi)

Bunyi seperti bersiul, kontinyu yang durasinya lebih lama daripada snaps.
Terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, secara klinik lebih jelas pada saat
melakukan ekspirasi. Penyebabnya adalah udara melewati jalan nafas yang
menyempit atau tersumbat sebagian. Bisa dihilangan dengan cara batuk. Dengan
karakter suara nyaring, suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran
udara melalui jalan nafas yang menyempit (seperti pada asma dan bronchitis
kronik). Wheezing dapat terjadi karena perubahan temperature, alergi latihan
jasmani dan iritasi pada bronkus.

31
4. Ronchi

Merupakan bunyi gaduh yang dalam (ngorok). Terdengar sewaktu ekspirasi,


penyebabnya adanya gerakan udara melewati jalan nafas yang menyempit akibat
terjadi obstruksi nafas akibat sekresi, growth atau oedem ronchi dibedahkan
menjadi dua yaitu:
1. Ronchi kering

Sebuah bunyi tambahan yang terdengar kontinyu tertentu disaat ekspirasi


disertai adanya secret pada bronkus.
2. Ronchi basah

Bunyi tambahan yang terdengar tidak kontinyu pada inspirasi seperti bunyi
blustering kering yang terbakar, disebabkan oleh sekret di dalam alveoli dan
bronkiolus, ronchi basah dapat halus, sedang dan kasar. Ronchi halus dan
sedang dapat disebabkan cairan di alveoli.
5. Pleural grating rub

Suara yang timbul akibat terjadinya peradangan pada pleura sehingga


permukaan pleura menjadi kasar. Karate suara kasar, berciut, disertai keluhan
nyeri pleura. Terdengar pada akhir inspirasi dan permulaan ekspirasi. Tidak dapat
dihilangkan dengan dibantukkan. Terdengar seperti bunyi gesekan jari tangan
dengan kuat dekat telinga. Bunyi ini dapat menghilang pada waktu nafas ditahan.
Sering didapatkan pada menghilang pada waktu nafas ditahan.

6. Garling

Suara seperti berkumur, keadaan ini terjadi akibat obstruksi yang disebabkan oleh
cairan,
2.3.5. Patofisiologi
Adanya agen pencetus yang menyebabkan munculnya secret yang mengakibatkan
obstruksi pada tracheobronchial, adanya penurunan dan ekspansi paru serta
compositions inflamasi maka akan menyebabkan adanya kesulitan pada saat bernafas
yang ditandai dengan perubahan kedalaman dan atau kecepatan pernafsan, gangguan
perkembangan pada rongga dada, bunyi nafas yang tidak typical dan adanya batuk
dengan atau tanpa adanya sputum.

32
2.3.6. Komplikasi
Menurut (Bararah dan Jauhar, 2013). Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pola
nafas tidak efektif antara lain
a. Hipoksemia

Keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (pa02) atau
saturasi 02 arteri (sa02) dibawah ordinary (typical pa02 85-100 mmHg, Sa02 95%). Keadaan
ini didebabkan oleh karena gangguan ventilasi, perfusi, difusi, pirau (shunt) atau berada pada
tepat yang kurang oksigen, pada keadaan hipoksemia, tubuh akan melakukan kompensasi
dengan cara meningkatkan pernafasan, meningkatnya stroke volume, vasodilatasi pembuluh
darah dan peningkatan nadi, Tanda dan gejala hipoksemia adalah sesak nafas, frekuensi
napas dapat mencapai 35 kali permenit, nadi cepat dan dangkal serta sianosis
b. Hipoksia

Merupakan keadaan kekurangan oksigen dijaringan atau tidak adekuatnya pemenuhan


kebutuhan oksigen seluler akibat defisiensi oksigen yang diinspirasi atau meningkatnya
penggunaan oksigen pada tingakat seluler. Hipoksia dapat terjadi setelah 4 sampai 6 menit
ventilasi berhenti spontan. Penyebab lain hipoksia antara lain. Menurutnya hemoglobin,
berkurangnya kensentrasi oksigen, ketidakmampuan jaringan mengikat oksigen, menurutnya
perfusi jaringan seperti pada syok, dan kerusakan atau gangguan ventilasi. Tanda-tanda
hipoksia diantaranya kelelahan, kecemasan, menurutnya kemampuan konsentrasi, nadi
meningkat, pernafasan cepat dan dalam, sianosis, sesak nafas serta jari rabuh (clubbing
finger).
c. Gagal napas

Keadaan dimana terjadi kegagalan tubuh memenuhi kebutuhan oksigen karena penderita
kehilangan kemampuan ventilasi secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas
karbondioksida dan oksigen. Gagal nafas ditandai oleh adanya peningkatan karbondioksida
dan penurunan oksigen dalam darah secara signifikan. Gagal nafas disebabkan oleh
gangguan framework syarat pusat yang mengontrol pernafasan, kelemahan neuromuscular,
keracunan obat, gangguan metabolisme, kelemahan otot pernafasan dan obstruksi jalan
napas.
d. Perubahan pola nafas

Pada keadaan ordinary frekuensi pernafasan pada orang dewasa adalah 16-20 x/menit.
Pernafasan ordinary disebut dengan eupneu, perubahan pola napas dapat berupa antara lain:

33
1. Dipsneu yaitu kesulitan bernafas
2. Apneu yaitu tidak bernafas atau berhenti bernafas
3. Takipneu yaitu pernafasan yang lebih cepat daripada pernafasan ordinary
4. Bradipneu yaitu pernafasan lebih lambat dari pada ordinary
5. Kusmaul yaitu pernafasan dengan panjang ekspirasi dan inspirasi sama, sehingga
pernafasan menjadi lambat dan dalam
6. Cheyne-stoke yaitu pernafasan cepat dan dalam kemudian berangsur angsur dangkal
dan diikuti periode apneu yang berulang secara teratur
7. Biot yaitu pernafasan dalam dan dangkal disertai masa apneu dengan periode yang tidak
teratur.

2.3.7. Klasifikasi sesak nafas

Tabel 2.3
Klasifikasi sesak nafas Gambran klinis

Sesak napas tingkat 1  Tidak ada pembatasan atau


hambatan dalam melakukan
kebiasaan sehari-hari

 Sesak nafas akan terjadi bila klien


melakukan aktivitas jasmani yang
lebih berat dari pada biasanya.

Sesak napas tingkat II  Mulai sesak nafas tiap melakukan


aktivitas biasa seperti naik tangga

Sesak napas tingkat III  Sesak napas saat mandi,


berpakaian, tetapi masih dapat
melakukan kegiatan tanpa
bantuan orang lain.

 Tidak timbul saat intirahat

Sesak napas tingkat IV  Bergantung pada orang lain ketika


melakukan kegiatan

 Sesak napas belum tampak saat

34
sedang beristirahat

Sesak napas tingkat V  Membatasi diri dalam segala hal,


bergantung pada orang lain

 Menghabiskan banyak waktu


ditempat tidur.

(Muttaqin, Arif,2008)

2.3.8 Pengkajian

Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan bahwa pasien berjenis kelamin perempuan


menderita sakit Congestive Heart Failure berusia 80 tahun seorang ibu rumah tangga dengan berat
badan 50 Kg dan tinggi badan 160 cm, beragama islam. Pengkajian merupakan proses pengumpulan
data yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan
fungsional klien pada waktu sekarang dan waktu sebelumnya disertai untuk menentukan pola respon
terhadap klien Potter dan Perry, 2009 dalam (Minannisa, 2020).Kegiatan yang meliputi tentang usaha
pengumpulan data tentang status pasien secara menyeluruh, singkat, sistematis, dan
berkesinambungan.
Komponen dari pengkajian meliputi anamnesis klien, keluarga, serta perawat, pemeriksaan
kesehatan, pengkajian, pemeriksaan diagnosis serta penatalaksanaan medis. Keahlian diperlukan
dalam melakukan pengkajian keperawatan untuk melakukan komunikasi wawancara observasi, dan 5
pemeriksaan fisik ( Muttaqin, 2008 ) Klien mengatakan sesak nafas. Sebelumnya saat dirumah klien
mengatakan sesak nafas sejak 3 hari disertai demam, lemas, mual, muntah, nyeri ulu hati dan kaki
tidak bisa dipakai untuk berjalan karena bengkak dan kaku.
Menurut ( A. Alto wiliam 2012) dispneu merupakan salah satu tanda dan gejala penyakit
Congestive Heart Failure dan pasien mengalami gejala [Link] nafas terjadi
karenapeningkatan cairan dan darah dalam paru meningkat sehingga kerja paru menjadi berat dan
supey oksigen dalam darah tidak adekuat (Aaronson, P.I & Ward, J.P.T, 2008
2.3.9 Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis terhadap respons manusia terhadap
gangguan kesehatan maupun proses kehidupan, kerentanan respons respons dari individu, kelompok,
maupun keluarga, atau komunitas. Diagnose keperawatan ada dua focus kunci pada diagnose dan
deskripton tau pengubah dalam diagnose (NANDA, 2015). Berdasarkan data focus yang didapatkan
penulis mengambil diagnose keperawatan ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan
otot pernafasan.
35
Penulis menegakkan diagnose keperawatan ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan
keletihan otot pernapasan. Hasil pengkajian data fokus pasien pasien mengatakan sesak nafas,
keadaan pasien lemah, terdapat tarikan dada saat bernafas, pernafasan pasien dangkal dapat
ditegakkan diagnose dengan ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot
pernafasan (Arifin et al., 2010).
Diagnosa tersebut diambil karena data focus pasien didapatkan pasien mengatakan sesak
nafas, keadaan pasien lemah, terdapat tarikan dada saat bernafas, pernafasan pasien dangkal, RR
30x/[Link] merupakan prosses menghirup udara yang mengandung oksigen dari luar ke
dalam tubuh serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida keluar tubuh ( Muttaqin,
2008). Adapun diagnosa lainya yaitu resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah
baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan , dan intoleransi aktifitas berhubungan dengan
tirah baring dan imobilitas.
Penulis menegakkan diagnosa pada pola nafas karena pernafasan sangat berperan penting
dalam tubuh. Pernafasan melibatkan oksigen saat respirasi dan karbondioksida saat ekspirasi,
oksigen mempunyai peran penting dalam tubuh, jika terjadi gangguan pada oksigenasi dan tidak
segera ditangani maka akan menyebabkan kematian (Asmadi, 2008).
2.3.10 Perencanaan keperawatan
Perencanaan merupakan langkah ketiga dalam melakukan proes keperawatan, untuk
menentukan tujuan dan hasil yang diharapkan dalam melakukan intervensi (Potter Dan Perry, 2009).
Intervensi yang dilakukan penulis untuk pasien diagnosa keperawatan yang diambil adalah
managemen jalan nafas, monitor pernafasan, dan memberikan posisi kepala lebih tinggi dari
kepala/semi fowler (Bulechek. et al., 2013). Dengan rasional pemberian kepala lebih tinggi dari tempat
tidurdapat mempermudah fungsi pernapasan dengan adanya gravitasi, peningkatan pemberian
oksigenasi. Monitor tanda-tanda vital klien
mempunyai rasional dapat memberikan gambaran lengkap tentang keterlibatan vascular
perbandingan dari tekanan. Pemberian obat analgetik untuk upaya farmakologi dengan rasional dapat
menurunkan dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan sesak napas. Dan setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan sesak nafas klien berkurang dengan kriteria hasil
pola napas klien kembali efektif dan sesak napas klien berkurang ( Kushariyadi, 2010).
2.3.11 Implementasi
Implementasi yang dilakukan sesuai intervensi diharapkan dapat mencapai tujuan yang ingin
dicapai (Potter Dan Perry, 2009). Pada pasien dengan gangguan system pernapasan pasien tidak
dapat memenuhi kebutuhan oksigen secara normal, oksigen sangat berperan dalam pernafasan,
oksigen berperan vital didalam tubuh dalam proses pembentukam metabolisme sel sehingga jika
36
kekurangan oksigen maka akan berdampak buruk bagi tubuh dan bisa mencapai kematian sehingga
diperlukan terapi tambahan untuk pasien yang mengalami gangguan oksigenasi (Bachtiar, 2015
2.3.12 Evaluasi
Evaluasi merupakan proses yang kontinu yang terjadi saat melakukan kontak dengan klien
setelah melakukan intervensi, mengumpulkan data subjektif dan data objektif dari klien dan keluarga.
Evaluasi yaitu membandingkan antara intervensi dan hasil dari implementasi yang dilakukan (Potter
Dan Perry, 2009).

2.4 Konsep posisi semi powler


2.4.1 Definisi Posisi Semi Fowler
Posisi semi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat
tidur lebih tinggi,atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan
memfasilitasi fungsi pernapasan pasien (Ananda, 2019).
2.4.2 Tujuan
a. Memberikan rasa nyaman pada pasien
b. Meningkatkan ekspansi dada sehingga meningkatkannya ekspansi dada dan ventilasi paru.
c. Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap.
d. Membantuh mengatasi masalah kesulitan pernafasan
2.4.3 Prosedur
a. Definisi
Mengatur posisi semi fowler adalah cara membaringkan pasien dengan posisi setengah
duduk (45°),
b. Tujuan/manfaat
Mengurangi sesak nafas, Membantu expositions pemeriksaan, Memberi rasa nyaman.
c. Persiapan kerja
Fase pre-interaksi
1. Persiapan perawat
a. Memahami dan mampu melakukan prosedue mengatur posisi semi fowler
b. Memeriksa intervensi yang akan dilakukan dengan perencanaan yang disusun
c. Mempersiapkan diri sebelum kepasien (pengetahuan dan keterampilan).
Fase Orentasi
c. Persiapan Alat
1. Functional Bed atau tempat tidur khusus
2. Selimut
37
3. Bantal
d. Persiapan pasien
1. Memberi salam dan memperkenalkan diri
2. Identifikasi nama pasien
3. Menjelaskan tujuan tindakan
4. Menjelaskan langkah/prosedur yang akan dilakukan
5. Menanyakan kesediaan pasien untuk dilakukan tindakan
6. Melakukan kontrak waktuPersiapan Lingkungan
a. Meminta pengunjung/keluarga untuk meninggalkan ruangan selama tindakan
b. Menjaga privasi pasien dengan memasang sampiran/menutup pintu
[Link] kerja(Fase Kerja)
Menurut (kusharyadi. 2019) ada beberapa tahap kerja
1. Cuci Tangan
2. Pasien di dudukan, sandarkan punggung atau kursi diletakkan dibawah atau diatas
kasur di bagian kepala diatur sampai setengah duduk dan dirapikan, bantal disusun
menurun kebutuhan. Pasien dibaringkan kembali dan pada ujung kakinya dipasng
penahan
3. Pada tempat tidur khusus (practical Bed) pasien dan tempat tidurnya langsung diatur
setengah duduk, di bawah lutut ditinggikan sesuai kebutuhkan, Kedua lengan ditompang
dengan bantal
4. Pasien dirapikan
5. Cuci tangan
[Link]
1. Evaluasi persiapan pasien
2. Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
3. Dokumentasikan prosedur dan hasil observasi

38
BAB III
METODE STUDY KASUS

2.5 Desain studi kasus


Karya tulis ilmiah ini menggunakan desain deskriftif dengan menggunakan metode studi kasus
untuk mengeskplorasi masalah penerapan posisi semi fowler untuk pola napas tidak efektif pada
pasien Congestive Heart Failure (CHF)

2.6Tempat dan waktu studi kasus


Penelitian di lakukan di rumah sakit TK II dr AK Gani palembang pada bulan maret
2.6.1 Subjek studi kasus/partisipan
Subjek study kasus yang di lakukan dalam penelitian karya tulis ilmiah ini kasus ini mengalami
masalah gagal jantung yang akan di berikan penerapan semi fowler, dimana memiliki kriteria
sebagai berikut:
2.6.2 Kriterian inklusi dalam penulisan ini:
a. Pasien dengan chf masalah sesak napas
b. Pasien kopratif
c. Pasien igd
2.6.3 Kriteria eklusi
a. pasien bukan gagal jantung atau chf
b. bukan pasien kopratif
c. bukan pasien igd
2.7Definisi operasional focus studi
Adapun definisi istilah pada studi kasus ini adalah:
A. Pola nafas tidak efektif adalah keadaan ketika seorang individu mengalami kehilangan ventilasi yang
aktual atau potensial yang berhubungan dengan perubahan pola pernafasan (Carpenito Lynda juall,
2003)
B. Posisi semi fowler adalah posisi setengah duduk, di mana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi
atau di naikan. Posisi ini di lakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan mempasilitasi fungsi
pernapasan pasien
C. Tujuan terapi semi fowler adalah memberikan rasa nyaman pada pasien, meningkatkan ekspansi
dada diagram sehingga meningkatnya ekspansi dada dan ventilasi paru dan dapat mengurangi
kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap dan membantu mengatasi kesulitan
bernapas
39
2.7.1 Metode pengumpulan data dan instrument penelitian
Metode pengumpulan data pada penelitian ini yang di gunakan adalah dengan observasi dan
penerapan langsung terhadap pasien yang mengalami Congestive Heart Failure sebelum dan
sesudah pemberian semi fowler untuk pola napas tidak efektif
2.7.2 Penyajian data
Bentuk penyajian data dalam studi kasus ini dalam bentuk penerapan posisi semi fowler untuk pola
napas tidak efejtif pada pasien Congestive Heart Failure berbentuk narasi

2.8 Etika studi kasus


Etika studi kasus ini pada penelitian ini antara lain adalah:
1. informed consent ( persetujuan menjadi responden ) dimana subjek harus mendapat informasi
secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan , mempunyai hak untuk bebas
berpartisipasi untuk menolak menjadi responden. Pada informed consent juga perlu di camntumkan
bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk mengembangkan ilmu,
2. anomity (tanpa nama)
dalam penelitian ini penelitian memberikan jaminan dalam pengguan subjek penelitian dengan cara
tidak memberikan atau mencamtumkan nama lengkap responden pada lembar pengumpulan data
atau hasil penilitian yang disajikan
3. confidentially (rahasia)
penelitian memberikan jaminan hasil penelitian baik informasi maupun masalah masalah lainnya
semua informasi yang telah dikumpulkan pada hari riset

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM LINGKUNGAN STUDY KASUS

1. Sejarah Berdirinya Rumah sakit Ak Gani Palembang


studi kasus dilakukan di Rs Tk II Dr Ak Gani Palembangyang terletak di jalan dr. Ak Gani
No. 01 kecamatan Ilir Barat I kelurahan 19 Ilir 30132. Rs Tk II Dr Ak Gani memiliki tuags pokok
memberikan bantuan Kesehatan berupa pelayanan Kesehatan terhadap anggota TNI AD, PNS
dan keluarganya, disamping memberikan pelayanan Kesehatan bagian komando atas dan
merupakan proses rujukan tertinggi bagi fasilitas Kesehatan TNI AD yang ada di jajaran Kodam
II/Sriwijaya. Fasilitas di Rs Tk Ii Dr Ak Gani diantaranya seperti poliklinik, ruang rawat inap, IGD,

40
labolatorium, ruang radiologi, ruang operasi,ruang hemodialisa, farmasi, medical check up,
ruang ICU dan ruang NICU.

Studi kasus dilakukan di instalasi gawat darurat (IGD) yang melakukan pelayanan medis
selama 24 jam dengan beberapa dokter umum dan perawat yang melayaninya. IGD Rs Ak
Gani melayani kasus-kasus khusus gawat darurat . bagi pasien yang tergolong emergency
(akut) akan langsung dilaukan Tindakan menyelamatkan jiwa (life saving). Bagi pasien yang
tergolong tidak akut dan gawat akan dilaukan pengobatan sesuai dengan kebutuhan dan kasus
masalahnya. Terdapat 7 kapasitas tempat tidur untuk ruang gawat darurat
2. StrukturOrganisasi
Kepala Rumah Sakit TK II dr. AK Gani Palembang adalah kolonel Ckm dr. Wiganda,
Sp.B. wakil Kepala Rumah sakit TK II dr. AK Gani Letkol Ckm drg. Muhammad Dhani saleh,
[Link].

3. LetakGeografis
Rumah sakit TK II dr. AK Gani adalah sebuah rumah sakit yang berada di kota Palembang,
Sumatra Selatan. Dengan menempati bangunan tua peninggalan colonial Belanda yang waktu itu
digunakan sebagai markas pertahanan Belanda untuk menghambat masuknya tantara Indonesia,
terutama serangan yang dating dari sungai Musi.

B. HASIL STUDI KASUS

Bagian ini akan menyajikan hasil dan pembahasan dalam studi kasus yang berjudul “Penerapan
posisi semi fowler untuk pola napas tidak efektif pada pasien chf Di Instalasi Gawat Darurat Rumah
Sakit TK II DR Ak Gani Palembang” yang dilasanakan pada tanggal 27 dan 28 mei 2022. Berikut
adalah sajian data yang dihasilkan dalam studi kasus ini.

a. Pada pasien 1

Tuan “T” berusia 50 tahun, beragama islam, berasal dari Palembang. Beliau adalah pekerja
pabrik , Pendidikan terakhirnya SMA. Status Tn “T” sudah menikah dengan dikaruniai 3 anak, 1 anak
perempuan dan 2 anak laki-laki, istrinya sudah lama meninggal. Ketiga anaknya sudah menikah dan
Tn”T” tinggal Bersama anak perempuannya. Walaupun tinggal terpisah, komunikasi dengan ketiga
anaknya tetap lancar. Saat ini Tn”T” tinggal di jln. Ki Gede suro.
41
Pertemuan dilakukan pada hari jumat 27 mei 2022 pukul 09.00-10.00 WIB di instalasi gawat
darurat Rs Tk II Dr Ak gani Palembang, menjelaskan tujuan studi kasus dan melakukan penerapan.
Setelah ada kesediaan dari Tn“T” dan keluarga, selanjutnya dilakukan penandatanganan inform
concent. Peneliti melakukan pengkajian dan observasi pada Tn”T” selama 5 menit. Dari hasil
pengkajian didapatkan hasil TD : 170/130 mmHg, P : 87x/menit, spo2 : 96, RR : 28x/menit, S : 36,10c.
Saat ini pasien mengatakan sesak nafas dan sulit melaukan aktivitas seperti biasa. Selama wawancara
dan Tindakan, sikap Tn”T” terbuka dan kooperatif.
Dengan posisi pasien yang mengalami sesak napas, penulis memberikan penerapan asuhan
keperawatan berupa memposisikan pasien dengan badan setengah duduk 45 (posisi semi fowler)
selama 10-20 menit posisi Pengaturan yang tepat dan nyaman pada pasien sangatlah penting
terutama pasien yang mengalami sesak nafas, dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Zahroh. R &
Susanto, (2017) menunjukkan bahwa posisi semi fowler lebih nyaman dan lebih mudah dipahami oleh
pasien akan tetapi posisi fowler lebih efektif untuk penurunan sesak nafas dan meningkatkan saturasi
oksigen dengan ditunjukkan rata-rata penurunan sesak nafas 4-5x/ menit dan peningkatan saturasi
oksigen sebesar 5-6%. Melihat dari data tersebut diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa posisi
fowler efektif digunakan(Pambudi & Widodo, 2020).
Setelah dilaukan penerapan selama 10-20 menit didapatkan hasil sesak nafas berkurang: TD :
170/120 mmHg, P : 80x/menit, SPO2 : 97, S : 360c, RR: 24x/menit, penggunaan otot bantu nafas
berkurang, pemanjangan fase ekpirasi berkurang. Pasien mengutarakan pernapasan sudah rilek dan

tenang kembali. Penelitian menurut Khasanah, (2019) menempatkan pasien dengan posisi fowler dapat
meningkatkan status pernafasan pasien, dalam hal ini RR dan SpO2 dapat menjadi lebih baik dibandingkan posisi
kepala yang lebih rendah. Dapat di simpulkan bahwa pada posisi tubuh yang semakin tegak status pernafasan
semakin baik. Pada posisi semi fowler aliran balik darah ke jantung lebih menurun dibandingkan head up pada

posisi fowler aliran balik darah, dan pada posisi semakin menurun dibandingkan pada posisi semi
fowler(Pambudi & Widodo, 2020)
b. pada pasien 2

Ny”A” berusia 47 tahun, beragama islam, berasal dari kota Palembang. Beliau adalah ibu rumah
tangga. Pendidikan terakhir SMA. Status Ny”A” sudah menikah dengan dikaruniai 2 anak perempuan
dan semua anaknya sudah berkeluarga. Ny”A” tinggal Bersama anak perempuan pertamanya di jln.
Slamet Riyadi. Pertemuan dilaukan pada hari sabtu 28 mei 2022 pukul 09.00-10.00 WIB di instalasi
gawat darurat Rs Tk II Dr Ak gani Palembang dalam rangka pengkajian, menjelaskan tujuan studi
kasus dan melakukan penerapan.
42
Setelah ada kesepakatan dan kesediaan dari Ny“A” dan keluarga, selanjutnya dilakukan
penandatanganan inform concent.

Hasil yang diperoleh setelah tindakan posisi semi fowler selama 15 menit menunjukkan
perubahan SpO2 dari 92% menjadi 99% dan tekanan darah 170/120 Respirasi Rate dari 28x/menit
menjadi 20x/menit sehingga dapat disimpulkan tindakan posisi semi fowler efektif diberikan pada
pasien gagal jantung dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi.

C. PEMBAHASAN
Dari hasil pengkajian dua pasien di ats memperoleh data yang di dapatkan pada pasien 1 ter
dapat gagal jantung dengan tekanan darah 170/130 mmHg dan pasien 2 tekanan darah
170/120mmHg kasus ini men unjukan bahwa adanya kenaikan tekanan darah sistolik di atas
140mmHg dan tekanan darah diastolik di atas 90mmHg bisa di sebut hipertensi dan terkena
serangan gagal jantung. Gejala yang sering timnul pada pasien CHF sesak napas nyeri dada
yang sering timbul secara mendadak penyebab nyeri dada ialah penurunan suplai oksigen ke
miokardium yang menyebabkan kematian sel jantung. Penelitian ini menurut Setiani (2014) di
dalam penelitian (Yuliana Susilowati, 2021)

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien Congestive Heart Failure yaitu dengan
penatalaksanaan medis dan keperawatan. Pengaturan posisi (positioning) merupakan tindakan
yang dilakukan secara sengaja untuk memberikan posisi tubuh dalam meningkatkan
kesejahteraan atau kenyamanan fisik dan psikologis. Posisi semifowler adalah posisi tidur
ditinggikan 30o – 45o . Pemberian posisi semifowler dapat menurunkan konsumsi oksigen dan
meningkatkan ekspansi paru yang maksimal, serta mengatasi kerusakan pertukaran gas yang
berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus (Iyonu, Zees & Kasim, 2014 dalam
jurnal Irofah, dkk. 2020).
peneliti Dimas Agung pambudi, Sri Widodo (2020) yang berjudul posisi fowler untuk
meningkatkan saturasi oksigen pada pasien congestive heart failure (CHF) yang mengalami sesak
[Link] peneliti ini yaitu untuk menganalisa pengaruh posisi fowler terhadap perubahan
saturasi oksigen pada pasien menggunakan desain studi kasus Deskriptif. Populasi dalam
43
penelitian ini adalah semua pasien Congestive Heart Failure (CHF) di IGD rumah sakit roemani
Muhammadiyah semarang. Jumlah responden sebanyak 2 responden. Studi kasus ini dilakukan
pada bulan Oktober 2019. Alat pengumpulan data dengan lembar asuhan keperawatan dan
oxymetri. Hasil studi menunjukkan bahwa pre test pasien CHF di IGD RS Roemani mengalami
sesak nafas. Pasien pertama dengan RR: 26x/menit dengan Spo2 94%. Pasien kedua mengalami
sesak nafas dengan RR: 28x/menit dan SpO2 95%. Hasil post test setelah memposisikan fowler
selama 15 menit mendapatkan hasil pada responden pertama RR: 22x/menit, SpO2 99%, pada
responden kedua hasil RR: 22x/menit, SpO2 98%. Tindakan memposisikan fowler pada pasien
dengan CHF berpengaruh dalam peningkatan saturasi oksigen bagi pasien.
Dapat disimpulkan bahwa pengaruh teknik posisi semi fowler untuk pola nafas tidak efektif
pada pasien congestive heart failure (CHF) dalam upaya menurunkan pola nafas tidak efektif
dengan hasil adanya frekuensi nafas.

44
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Hasil studi yang di dapatkan dan di susun penulis dengan judul “penerapan posisi semi fowler
untuk pola napas tidak efektif pada pasien chf” di ruangan Instalansi Gawat Darurat [Link] Gani
Palembang dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Setelah dilakukan studi kasus selama 3 jam dua pasien memperoleh data yang di dapatkan pada
pasien 1 ter dapat gagal jantung dengan tekanan darah 170/130 mmHg dan pasien 2 tekanan
darah 170/120mmHg kasus ini men unjukan bahwa adanya kenaikan tekanan darah sistolik di atas
140mmHg dan tekanan darah diastolik di atas 90mmHg bisa di sebut hipertensi dan terkena
serangan gagal jantung. Gejala yang sering timbul pada pasien CHF sesak napas nyeri dada yang
sering timbul secara mendadak penyebab nyeri dada ialah penurunan suplai oksigen ke
miokardium yang menyebabkan kematian sel jantung.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
1. Saran secara umum
Diharapkan bagi masyarakat khususnya keluarga agar turut serta dan selau memberi motivasi
kepada pasien dalam Tindakan semi fowler untuk memperbaiki pola nafas tidak efektif secara
optimal khususnya saat peneliti atau perawat telah selesai melakukan.
2. Saran secara Khusus
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi tolak ukur mahasiswa dalam
menerapkan asuhan keperawatan yang nantinya akan dijumpai dilahan praktik.
3. Bagi peneliti
Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneruskan penelitian tentang imajinasi terbimbing ,
diharapkan untuk memeperbanyak sampel dalam penelitian agar hasil yang didapatkan lebih
akurat.

45
DAFTAR PUSTAKA

Abdul majid. (2018). Gagal jantung adalah ketidak mampuan jantung untuk memompa
darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap
nutrien dan oksigen. Gagal Jantung, 7.

Ahmad marzuki. (n.d.). aktivitas intervensi keperawatan untuk pasien gagal jantung.
2020.

Ananda, A. D. (2019). Pengaruh Posisi Semi Fowler 45° Terhadap Kualitas Tidur Pada
Pasien Congestive Heart Failure Di Ruangan Intensive Coronary Care Unit (Iccu)
Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie.

Asromo, dalam handayani. (2020). Gagal jantung menjadi menjadi penyakit yang terus
meningkat terutama pada lansia.

Bararah dan Jauhar. (2013). Komplikasi yang terjadi pada pola napas tidak efektif,
Hipoksia, Hipoksemia, Gagal napas, Perubahan pola napas.

Brunner dan Suddarth 2002 dalam kasron. (n.d.). No Title.

Carpenito Lynda juall. (2003). Pola nafas tidak efektif.

Djojodibroto. (2014). Penatalaksanaan pada pola napas tidak efektif.

Kasron. (2016). Congestive Heart Failure.

Krisanty, P. (2016). Tujuan penanggulangan gawat darurat.

kusuma dan ahmad marzuki. (2020). CHF.

Melanie, dalam ahmat muzaki. (2020). Mengatur posisi semi fowler untuk menurunkan
oksigenasi.

Minannisa, C. (2020). DOKUMENTASI KEPERAWATAN dan HUBUNGAN PERILAKU


PERAWAT DALAM PENDOKUMENTASIAN KEPERAWATAN.
[Link]

Pambudi, D. A., & Widodo, S. (2020). Posisi Fowler Untuk Meningkatkan Saturasi
Oksigen Pada Pasien (CHF) Congestive Heart Failure Yang Mengalami Sesak
Nafas. Ners Muda, 1(3), 156. [Link]

Potter Dan Perry. (2009). Pengkajian merupakan proses pengumpulan data yang di
lakukan secara sistematis yang bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan
fungsional klien pada waktu sekarang dan waktu sebelumnya disertai untuk
menentukan pola respon terhadap klien.

46
PPNI. (2017). Pola nafas tidak efektif adalah suatu keadaan ketidak mampuan
compositions pernapasan inspirasi dan ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi
yang adekuat.

Sudoyo dalam M. Asikin. (2016). Asuhan keperawatan kardiovaskuler.

Yuliana Susilowati, A. P. N. (2021). dan terapi oksigen nasal kanul 4l/menit terhadap
sesak nafas pada pasien CHF. Kata Kunci : Congestive Heart Failure , Posisi
Semifowler, Pola napas tidak efektif. 1. 1–9.

47
48
49
50
51
1

52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
2

62
63
64
65
66
67
penerapan terapi semi fowler pada pasien CHF
ORIGINALITY REPORT

3 %
SIMILARITY INDEX
3%
INTERNET SOURCES
2%
PUBLICATIONS
1%
STUDENT PAPERS

PRIMARY SOURCES

1
[Link]
Internet Source 3%
[Link]
2 Internet Source 1%

Exclude quotes On Exclude matches Off


Exclude bibliography On

68
69

Anda mungkin juga menyukai