Modul Pembelajaran
Mata Pelajaran Sistem Kontrol Elektromekanik Dan Elektronik
Topik
PIRANTI KONTROL
SOLID STATE RELAY
1
DAFTAR ISI
Daftar Isi............................................................................................................2
Daftar Gambar...................................................................................................3
Kompetensi Dasar.............................................................................................4
A. Pendahuluan..............................................................................................5
Peta Konsep......................................................................................................6
Petunjuk Penggunaan Modul.............................................................................8
B. Uraian Materi............................................................................................8
1) Penggunaan Kontrol berbasis Rele di Industri............................................8
2) Relay Elektronik.........................................................................................9
3) Aplikasi SSR..............................................................................................10
4) Perangkat Pemutus dan Penghubung.......................................................12
5) Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Solid-State Relay.........................13
Keuntungan solid-state relay :.........................................................................14
Kerugian solid-state relay :..............................................................................15
C. Latihan.....................................................................................................26
D. Rangkuman..............................................................................................27
E. Tes Formatif.............................................................................................29
F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut................................................................33
G. Kunci Jawaban.........................................................................................35
H. Daftar Pustaka.........................................................................................36
I. GLOSARIUM...............................................................................................37
2
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Solid State Relay..................................................................................10
Gambar 2. Proses Kerja Solid State Relay.............................................................14
Gambar 3. Rangkaian Internal Solid State Relay..................................................16
3
KOMPETENSI DASAR
Kompetensi Dasar:
3.9. Menentukan kondisi operasi piranti kontrol solid state relay
Tujuan :
Setelah melaksanakan proses pembelajaran dan menggali informasi, peserta didik
dapat :
1. Menentukan fungsi dan prinsip kerja dari solid state relay dengan benar
dan percaya diri
2. Menentukan keuntungan dan kerugian dari penggunaan Solid State Rele
dengan benar dan percaya diri
4
A. PENDAHULUAN
Kita siapa…., Indonesia…. !!!!. selamat betemu kembali, semoga dalam keadaan
sehat dan nyaman dalam belajar.
Sam as eperti tubuh kita, jika punya keinginan menggerakkan benda, maka tangan
kita sebagai aktuator atas perintah otak untuk bergerak. Dari sinyal otak,
kemudian memerintah kan otot-otot untuk bereaksi mengendalikan benda.
Pengendalian tesebut tidak serta erta hanya menggunakan peran otak, namun juga
peran otot sebagai penggerak juga dibutuhkan
Sistem kendali mempunyai berbagai otak, daintarnaya yaitu mikroprosesor,
mikrokootroler, komputer, PLC dna lains ebagainya. Untuk mengendalikan lamu
menyala dna mati juga membutuhkan aktuator dimana menterjemhkan sinyal
“otak pengendali” ke dalam bentuk lain, yang dalam hal ini adalah sebagai bagian
untuk menghubungkan dan memutus arus.
Pada modul ini kita akan membahas piranti kontrol sebagai penghubung dan
pemutus aliran listri dengan operasi yang “senyap” tanpa suara.
Pada modul ini kita akan mempelajari piranti kontrol solid state relay dan bertujuan
untuk :
Peserta didik dapat menerapkan prosedur pemasangan komponen instalasi
penerangan 3 Fasa dengan percaya diri.
Peserta didik dapat memasang instalasi penerangan 3 Fasa bangunan
gedung dengan mandiri.
Pesserta didik dapat menentukan fungsi dan prinsip kerja dari solid state
relay dengan benar dan percaya diri
5
Pesserta didik dapat menentukan keuntungan dan kerugian dari
penggunaan Solid State Rele dengan benar dan percaya diri
Modul ini harus anda kuasai untuk dapat belajar pada modul selanjutya. Dan
modul ini sangat penting untuk anda pelajari karena pada pekerjaan sesungguhnya
di lapangan banyak pekerjaan yang berhbungan dengan piranti ini.
PETA KONSEP
Gambar peta konsep yang bisa kamu pelajari ditunjukkan sebagai berikut
Piranti Ko ntro l So lid State Re lay
Me nje las kan Cara
Me nje las kan SSR ke rja SSR
Me n e ntukan
Ko n dis i Ope ras i
Me m e riks a
Ko ns is i
6
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Untuk membantu anda dalam menguasai kemampuan di atas, materi dalam modul
ini dapat kamu cermati tahap demi tahap. Jangan memaksakan diri sebelum benar-
benar menguasai bagian demi bagian dalam modul ini, karena masing-masing
saling berkaitan. Pada akhir modul dilegkapi dengan latihan soal dan tes formatif.
Jika anda belum menguasai 75% dari setiap kegiatan, maka anda dapat
mengulangi untuk mempelajari materi yang tersedia dalam modul ini. Apabila
anda masih mengalami kesulitan memahami materi yang ada dalam modul ini,
silahkan diskusikan dengan teman atau guru anda.
Prasyarat:
Sebelum mempelajari modul ini, sebaiknya anda mempelajari modul sebelumnya
yang berhubungan dengan saklar manual dan relay elektromagnetik.
B. URAIAN MATERI
1) Penggunaan Kontrol berbasis Rele di Industri
Dalam dunia otomasi saat ini, Penggunaan relay/rele masih menjadi pilihan yang
tepat untuk mengendalikan beban arus tinggi. Mengingat kemampuannya yang
dapat mengendalikan dan mengontrol Rangkaian beban arus tinggi menggunakan
rangkaian pengendali arus rendah.
Pertanyaan : Apakah relay ini dapat dikatakan sebuah switch ?. apakah ada
perbedaan switching response timedari berbagai jenis/type relay, dan apakah
kecepatan proses switching akan mempengaruhi proses pengendalian terutama
pada system sequensial. Sehingga apakah perlu pemilihan spesifikasi relay yang
tepat untuk stabilitas dan kontinuitas system yang dibuat.
7
Kontrol berbasis relay masih banyak digunakan industry saat ini terutama pada
pengendalian beban dan proses produksi. Namun sebelum melangkah lebih jauh
kepada penerapannya alangkah lebih baik jika kita mengenal berbagai jenis dan
type relay berdasarkan cara kerja dan sumber daya yang digunakannya.
Berdasarkan cara kerjanya relay dapat dibedakan menjadi relay elektronik dan
relay elektromekanik. Apa sih perbedaan keduanya, bagaimana sisi
penggunaannya, seperti apa kekurangan dan kelebihan keduanya ?. Perhatikan
dengan seksama paparan informasi berikut ini.
2) Relay Elektronik
Yang dimaksud relay elektronik disini adalah Solid State Relay (SSR), merupakan
saklar elektronis yang tidak seperti relay elektromekanis, dimana SSR ini tidak
berisi bagian yang bergerak.
Jenis SSR adalah foto-coupled SSR, transformer-coupled SSR, dan hibrida SSR.
Sebuah foto-digabungkan SSR dan dikontrol oleh sinyal tegangan rendah yang
terisolasi secara optik dari beban. Sinyal kontrol dalam foto yang biasanya
digabungkan dengan SSR energi adalah sebuah LED yang mengaktifkan sebuah
foto-dioda sensitif. Dioda berputar pada back-to-back thyristor,silikon penyearah
terkendali, atau MOSFET transistor untuk mengaktifkan beban.
Gambar 1. Solid State Relay
8
SSR Ditetapkan sebagaimana kontrol ON-OFF di mana arus beban dilakukan oleh
satu atau lebih semikonduktor - misalnya, sebuah transistor daya, sebuah SCR,
atau TRIAC. SCR dan TRIAC sering disebut “thyristors” sebuah istilah yang
diperoleh dengan menggabungkan thyratron dan transistor, karena dipicu thyristor
semikonduktor switch“. (Sebagai referensi tolong dibaca kembali teori dasar
komponen semikonduktor dan elektronika daya pada mata pelajaran Dasar dan
Pengukuran Listrik 2 atau referensi lain).
Pada relay umumnya, SSR relatif rendah membutuhkan kontrol - sirkuit energi
untuk beralih keadaan menjadi keluaran dari OFF ke AKTIF, atau sebaliknya
Karena energi kontrol ini sangat jauh lebih rendah daripada daya keluaran yang
dikendalikan oleh relay pada beban penuh, "power gain" dalam SSR adalah
substansial - sering banyak lebih tinggi daripada di estafet elektromagnetik yang
sebanding. Dengan kata lain, sensitivitas dari SSR seringkali jauh lebih tinggi
daripada sebuah EMR (Elektromekanik Relai) dari output yang sebanding rating.
Solid State Relay (SSR) mampu melakukan banyak tugas yang sama sebagai relay
elektromekanis (EMR). Perbedaan utama adalah bahwa SSR tidak memiliki
bagian mekanik yang bergerak didalamnya. Pada dasarnya, ini adalah perangkat
elektronik yang bergantung pada listrik, magnetik, dan optic semi konduktor dan
sifat komponen listrik untuk mencapai isolasi dan fungsi switching Relay.
3) Aplikasi SSR
Sejak dulu, SSR telah banyak digunakan selain EMR (Elektromekanik Relay)
atau Kontaktor. SSR banyak digunakan dalam industri aplikasi kontrol proses,
terutama control suhu , motor, solenoida, katup dan transformer. SSR digunakan
secara luas.
Contoh Aplikasi SSR mencakup :
Otomasi Industri
Peralatan elektronik
Peralatan industry
9
Mesin kemasan
Tooling mesin
Peralatan Manufaktur
Peralatan makan
Sistem keamanan
Industry pencahayaan
Api dan sistem keamanan
Dispensing mesin
Peralatan produksi
On-board power control
Traffic control
Sistem instrumentasi
Mesin penjual
Uji sistem
Mesin kantor
Peralatan medis
Tampilan pencahayaan
kontrol lift
Metrologi peralatan
Hiburan pencahayaan
4) Perangkat Pemutus dan Penghubung
Yang paling banyak digunakan dari keluarga ini adalah logam oksida
semikonduktor transistor efek medan (MOSFET), silikon-dikontrol penyearah
(SCRs), TRIAC dan alternistor TRIAC. Dalam banyak aplikasi perangkat ini
melakukan fungsi-fungsi utama dan sangat penting bahwa satu mamahami
keuntungan mereka, serta kekurangan mereka, untuk melakukan kebenaran sistem
yang handal. Bila diterapkan dengan benar, thyristor dapat menjadi keuntungan
10
yang penting dalam pertemuan lingkungan, kecepatan dan kehandalan spesifikasi
elektromekanis rekan-rekan mereka tidak bisa memenuhi.
MOSFET
Adalah sebuah alat semikonduktor yang terdiri dari dua metaloxide
semikonduktor transistor efek medan (MOSFET)< satu jenis P-jenis, terpadu pada
satu chip silikon. MOSFET switching ideal untuk beban DC.
SCR
Silikon dikuasai penyearah (SCR) adalah empat lapisan perangkat solid state yang
mengontrol aliran arus. SCR bertindak sebagai switch, pelaksanaan ketika
menerima arus gerbang pulsa dan terus melakukan selama ini bias maju. SCR
sangat ideal untuk beralih ke semua jenis beban AC.
TRIACS
Adalah komponen elektronik yang kurang lebih setara dengan dua penyearah
silikon dikendalikan terbalik bergabung dalam parallel (sejajar tetapi dengan
polaritas terbalik) dan terhubung dengan gerbang mereka bersama-sama. Hal ini
menghasilkan dua arah saklar elektronik yang dapat melakukan arus di kedua
arah. TRIAC ideal untuk beralih AC ke beban resistif.
Alternistor TRIAC
Digunakan untuk beralih AC beban,yang alternistor telah dirancang khusus untuk
aplikasi yang beralih tinggi beban induktif. Chip khusus menawarkan kinerja
serupa sebagai dua SCRs, kabel parallel terbalik (back to back), menyediakan turn
off yang lebih baik dari pada standar perilaku TRIAC. Yang Alternistor TRIAC
adalah solusi ekonomis yang sangat ideal untuk beralih AC ke beban induktif.
5) Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Solid-State Relay
11
Penggunaan solid state relay mempunyai beberapa keuntungan yang
menyebabkan solid-state relay saat ini menarik untuk digunakan pada aplikasi-
aplikasi kontrol untuk beban AC daripada digunakannya relay mekanik
(Electromechanical Relay, EMR), walaupun biaya sebuah solid-state relay lebih
mahal daripada biaya sebuah relay mekanik biasa.
Gambar 2. Proses Kerja Solid State Relay
KEUNTUNGAN SOLID-STATE RELAY :
1. Pada solid-state relay tidak terdapat bagian yang bergerak seperti halnya pada
relay. Relay mempunyai sebuah bagian yang bergerak yang disebut kontaktor dan
bagian ini tidak ada pada solid-state relay. Sehingga tidak mungkin terjadi „no
contact‟ karena kontaktor tertutup debu bahkan karat.
2. Tidak terdapat „bounce‟, karena tidak terdapat kontaktor yang bergerak paka
pada solid-state relay tidak terjadi peristiwa „bounce‟ yaitu peristiwa terjadinya
pantulan kontaktor pada saat terjadi perpindahan keadaan.
Dengan kata lain dengan tidak adanya bounce maka tidak terjadi percikan bunga
api pada saat kontaktor berubah keadaan.
12
3. Proses perpindahan dari kondisi “off” ke kondisi “on” atau sebaliknya sangat
cepat hanya membutuhkan waktu sekitar 10us sehingga solid-state relay dapat
dengan mudah dioperasikan bersama-sama dengan zero-crossing detektor.
Dengan kata lain operasi kerja solid-state relay dapat disinkronkan dengan kondisi
zero crossing detektor.
4. Solid-State relay kebal terhadap getaran dan goncangan. Tidak seperti relay
mekanik biasa yang kontaktornya dapat dengan mudah berubah bila terkena
goncangan/getaran yang cukup kuat pada body relay tersebut.
5. Tidak menghasilkan suara “klik”, seperti relay pada saat kontaktor berubah
keadaan.
6. Kontaktor output pada solid-state relay secara otomatis „latch‟ sehingga energi
yang digunakan untuk aktivasi solid-state relay lebih sedikit jika dibandingkan
dengan energi yang digunakan untuk aktivasi sebuah relay. Kondisi ON sebuah
solid-state relay akan di-latc sampai solid-state relay mendapatkan tegangan
sangat rendah, yaitu mendekati nol volt.
7. Solid-State relay sangat sensitif sehingga dapat dioperasikan langsung dengan
menggunakan level tegangan CMOS bahkan level tegangan TTL. Rangkaian
kontrolnya menjadi sangat sederhana karena tidak memerlukan level konverter.
8. Masih terdapat couple kapasitansi antara input dan output tetapi sangat kecil
sehingga arus bocor antara input output sangat kecil. Kondisi diperlukan pada
peralatan medical yang memerlukan isolasi yang sangat baik.
Keuntungan solid-state relay begitu banyak sekali tetapi dibalik keuntungan
tersebut terdapat kerugian penggunaan solid-state relay yang perlu
dipertimbangkan dalam penggunaannya.
KERUGIAN SOLID-STATE RELAY :
1. Resistansi Tegangan transien. Tegangan yang diatur/dikontrol oleh solid-state
relay benar-benar tidak bersih. Dengan kata lain tidak murni tegangannya berupa
sinyal sinus dengan tegangan peak to peak 380 vpp tetapi terdapat spike-spike
yang dihasilkan oleh induksi motor atau peralatan listrik lainnya. Spike ini level
13
tegangannya bervariasi jika terlalu besar maka dapat merusakkan solid-state relay
tersebut. Selain itu sumber-sumber spike yang lain adalah sambaran petir, imbas
dari selenoid valve dan lain sebagainya.
2. Tegangan drop. Karena solid-state relay dibangun dari bahan silikon maka
terdapat tegangan jatuh antara tegangan input dan tegangan output. Tegangan
jatuh tersebut kira-kira sebesar 1 volt. Tegangan jatuh ini menyebabkan adanya
dissipasi daya yang besarnya tergantung dari besarnya arus yang lewat pada solid-
state relay ini.
3. Arus bocor-„Leakage current‟. Pada saat solid-state relay ini dalam keadaan off
atau keadaan open maka dalam kondisi yang idel seharusnya tidak ada arus yang
mengalir melewati solid-state relay tetapi tidak demikian pada komponen yang
sebenarnya. Besarnya arus bocor cukup besar untuk jika dibandingkan arus pada
level TTL yaitu sekitar 10mA rms.
4. Sukar dimplementasikan pada aplikasi multi fasa.
5. Lebih mudah rusak jika terkena radiasi nuklir.
Gambar 3. Rangkaian Internal Solid State Relay
Pada solid-state ralay, switching unit-nya biasanya menggunakan TRIAC
sehingga solid-state relay ini dapat mengalirkan arus baik arus positif maupun
arus negatif. Walaupun demikian untuk mengontrol TRIAC ini digunakan SCR
yang mempunyai karakteristik gate yang sangat sensitif. Kemudian untuk
mengatur trigger pada SCR sendiri diatur dengan menggunakan rangkaian
transistor. Rangkaian transistor ini menjadi penguat level tegangan yang didapat
14
dari optocoupler. Penggunaan SCR untuk mengatur gate TRIAC karena gate SCR
mempunyai karakteristik yang lebih sensitif daripada gate TRIAC.
Antara bagian input dan output dipisahkan dengan menggunakan optocoupler dan
dengan sinyal yang kecil, cukup untu menyalakan diode saja, maka cukup untuk
menggerakkan sebuah beban AC yang besar melalui solid-state relay.
Gambar 4. Daerah Pengaktifan sebuah SSR
Rangkaian kontrol merupakan rangkaian kontrol biasa, seperti pada umumnya.
Fungsi logika AND, pada blok diagram rangkaian internal SSR, dibangun dari
dua buah transistor Q1 dan Q2 yang bekerja untuk menghasilkan logika inverted
NOR. Q1 akan melakukan „clamps‟ jika optocoupler OC1 dalam keadaan off. Q2
akan melakukan „clamps‟ jika tegangan bagi antara R4 dan R5 cukup untuk
mengaktifkan transistor Q2. Sehingga Q2 akan melakukan clamp pada SCR jika
tegangan anode SCR lebih dari 5 volt.
Jika OC1 “ON” maka Q1 akan OFF sehingga Q1 tidak melakukan clamp pada
SCR. SCR akan aktif jika Q2 juga dalam kondisi OFF. Kondisi ini terjadi pada
saat terjadinya zero crossing. Penambahan kapasitor C2 bertujuan untuk
menghindari kemungkinan SCR di trigger berulang-ulang. C1 berguna untuk
menyediakan arus yang cukup untuk sumber tegangan sementara pada saat
terjadinya „firing‟ pada gate SCR, selain itu C1 juga berfungsi untuk menghindari
kondisi ditriggernya gate SCR berulang-ulang.
15
Penambahan C1 dan C2 akan menghindari trigger SCR pada saat tegangan anode
SCR turun (down slope), kondisi ini memang tidak diharapkan. Komponen D2
akan memperbolehkan gate SCR di-reverse bias untuk menghasilkan kekebalan
terhadap noise. D1 berfungsi untuk melindungi tegangan input yang berlebihan di
atas rating tegangan optocoupler OC1. Komponen SCR yang digunakan, jika
ingin membangun sebuah SSR sendiri, adalah SCR dengan tipe 2N5064, 2N6240.
TRIAC yang digunakan adalah 2N6343 dengan C11 sebesar 47nF dengan
tegangan disesuaikan dengan rating tegangan aplikasi TRIAC dan diode yang
mentrigger gate TRIAC ini harus 1N4004.
TRIAC merupakan komponen yang terdiri dari 2 buah SCR yang terpasang
paralel tetapi terbalik. Kondisi ini menyebabkan timbulnya masalah pada beban
induktif yaitu pada saat kondisi turn-off TRIAC. TRIAC harus mati pada saat
setiap cycle yaitu pada saat tegangan jala-jala PLN mendekati nol volt. TRIAC
harus melakukan bloking tegangan pada saat tegangan mulai mencapai 1-2 volt
dalam keadaan tegangan inverse. Kejadian ini terjadi sekitar 30us pada rate
frekuensi jala-jala 60Hz. Pada beban induktif TRIAC tidak sempat dalam kondisi
benar-benar OFF untuk dapat ditrigger kembali. Kejadian ini akan menyebabkan
TRIAC pada beban induktif tertentu akan menyebabkan TRAIC tidak dapat OFF
dan kontrol tidak akan berfungsi untuk mengontrol TRIAC ini kecuali dengan
jalan memutuskan aliran arus yang menuju terminal TRAIC ini secara manual.
Untuk menghindari kejadian seperti ini maka output sebuah solid-state relay harus
ditambahkan sebuah rangkaian snubber jika solid-state relay ini digunakan untuk
beban yang bersifat induktif.
Walaupun demikian dapat digunakan solid-state relay yang komponen output
unitnya berupa SCR. SCR lebih mudah digunakan dalam mengontrol beban
induktif, walaupun demikian untuk amannya sebuah sistem kontrol maka perlulah
dipertimbangkan untuk diberikannya sebuah rangkaian snubber pula untuk beban
induktif.
Walaupun solid-state relay dengan SCR maupun TRAIC- nya yang membuat
perlunya sedikit pertimbangan dalam pemberian rangkaian snubber pada beban
16
induktif, solid-state relay secara umum lebih baik pada penggunaanya terutama
untuk aplikasi yang membutuhkan isolasi antara input dan output yang baik.
Memang harga bolehlah mahal tetapi untuk kualitas yang baik maka komponen
ini bisa menjadi sebuah alternatif untuk menggantikan sebuah relay mekanik pada
aplikasi-aplikasi tertentu.
Gambar 5. Rangkkaian dengan Lampu
Gambar 6. Hybrid SSR
17
Gambar 7. Transfomer Coupled SSR
Gambar 8. Photo Coupled SSR
6) Pengujian SSR
SSR dapat diuji dalam kondisi baik atau tidak dengan menggunakan sumber DC
seperti baterai 9V dan sebuah beban AC. Gamber dibawha menunjukkan diagram
pengujiannya.
Gambar 9. Diagram engujian SSR Coupled SSR[3]
18
Gambar diatas menunjukan bahwa suber DC yang ebrasal dari baterai 9V dengan
kitub postif dihubungkan dengan terminal 3 kaki SSR dengan tanda “+”
sedangkan teminal “-” dihbungkan dengan seklar yang diseri dnegan kutub –
baterai. Dibagian sisi beban SSR, terdapat bagian terminal beban yang akan
dihubungkan dengan sumber listrk dan beban lampu AC dihubungkan dalam
rangkaian tertutup.
Saat saklar dihubungkan, maka seharusnya lampu listrrik akan menyala.
Sedangkan saat saklar dilepas, maka lampu akan mati. Jika pengujian enggunakan
saklar tersebut tidak dapat enyalakan lampu, maka keungkinan SSR dalam
keadaan rusak
7) Contoh Datasheet SSR
8)
19
20
21
22
23
C. LATIHAN
Carilah sebuah apllikasi penggunaan SSR pada rangkaian kendali di internet.
Gambarkanlah rangkaiannya dan bagaimanacara kerjanya pada isian di bawah ini.
Gambar Rangkaian:
Cara kerja rangkaian:
24
Petunjuk pengerjaan Latihan:
Bacalah modul ini secara sungguh-sungguh, pahami dan resapi materi pada modul
ini. Setelah itu, kerjakan latihan ini dengan menyamakan persepsi piranti
pengendali yang anda amati. Setelah itu kerjakan gambarnya pada halaman yang
telah disediakan di atas.
D. RANGKUMAN
1. Solid State Relay (SSR), merupakan saklar elektronis yang tidak seperti relay
elektromekanis, dimana SSR ini tidak berisi bagian yang bergerak.
2. Jenis SSR yaitu foto-coupled SSR, transformer-coupled SSR, dan hibrida
SSR.
3. SSR banyak digunakan dalam industri aplikasi kontrol proses, terutama
control suhu , motor, solenoida, katup dan transformer.
4. Komponen penyususun SSR diantaranya yaitu MOSFET, SCR, TRIAC dan
alternistor TRIAC.
5. Keuntungan solid-state relay :
a) Pada solid-state relay tidak terdapat bagian yang bergerak
b) Tidak terdapat „bounce‟
c) Proses perpindahan sangat cepat
d) Solid-State relay kebal terhadap getaran dan goncangan
e) Tidak menghasilkan suara saat berubah keadaan.
f) Kontaktor output pada SSR secara otomatis “latch‟ sehingga energi yang
digunakan untuk aktivasi SSR lebih sedikit.
g) Solid-State relay sangat sensitif
h) arus bocor antara input output sangat kecil.
6. Kerugian solid-state relay :
a) Tegangan yang diatur/dikontrol oleh solid-state relay benar-benar tidak
bersih. Dengan kata lain tidak murni tegangannya berupa sinyal sinus
dengan tegangan peak to peak 380 vpp tetapi terdapat spike-spike yang
dihasilkan oleh induksi motor atau peralatan listrik lainnya.
b) Terdapat tegangan jatuh antara tegangan input dan tegangan output.
c) Arus bocor pada SSR cukup besar untuk jika dibandingkan arus pada level
TTL yaitu sekitar 10mA rms.
d) Sukar dimplementasikan pada aplikasi multi fasa.
e) Lebih mudah rusak jika terkena radiasi nuklir.
25
26
E. TES FORMATIF
1. Yang bukan merupakan rangkaian yang dapat dikendalikan dengan SSR
adalah…
a. penyalaan motor pada mesin cuci manual dua tabung
b. Penyalaan pemanas pada mesin mengemas barang
c. Rangkaian Snubber
d. Rangkaian pengatur kecepatan motor dengan prinsip inverter
e. Rangkaian flasher
2. Jika sebuah pengendali suhu ruangan secara otomatis dikendalikan
mikrokontroler menggunakan driver yang akan menghidup-matikan
pemanas yang disuplay dengan sumber AC. Jika frkuensi hidup matinya
pemanas sangat cepat dan sering, maka tipe driver yang dipilih adalah … .
a. Kontaktor
b. Relay elektromagnetik
c. Driver transistor
d. Driver SSR
e. Saklar manual
3. Perhatikan gambar berikut:
27
Jika saat saklar dihubungkan dan lampu tidak menyala, maka dapat
disimpulkan …
a. SSR rusak
b. Sisi input SSR belum terhubung
c. Sisi output SSR belum terhubung
d. Sisi AC dan DC terbalik
e. Saklar Rusak
4. Berikut ini yang bukan merupakan–kekurangan SSR adalah … .
a. Tegangan yang diatur/dikontrol oleh solid-state relay benar-benar
tidak bersih.
b. Terdapat tegangan jatuh antara tegangan input dan tegangan
output.
c. Arus bocor pada SSR cukup besar untuk jika dibandingkan arus
pada level TTL yaitu sekitar 10mA rms.
d. Sukar dimplementasikan pada aplikasi multi fasa.
e. Proses perpindahan sangat cepat
5. apa yang terjadi jika SSR disuplai dengan sumber tegangan DC kurang
dari ketentuan karakteristik teangan input SSR?
a. Beban akan rusak
b. SSR mengalirkan arus beban aun beban tidak menyala
c. Beban Listrik AC menyala
d. SSR tidak menyala
e. SSR Rusak
6. Sumber Listrik ini yang tidak untuk mentrigger input SSR adalah … .
a. Baterai kotak 9V
b. Beterai Li-Po 3,7V
c. Baterai kering 1,5V
d. Aki Motor 12V
28
e. Tegangan dai Port USB 5V
7. Dibawah ini yang bukan keuntungan SSR adalah …
a. Proses perpindahan sangat cepat
b. Tidak menghasilkan suara saat berubah keadaan.
c. Solid-State relay sangat sensitif
d. arus bocor antara input output sangat kecil.
e. Terdapat tegangan jatuh antara tegangan input dan tegangan
output.
8. Dibawah ini yang merupakan diagram internal Hybrid SSR adalah …
a)
b)
c)
29
d)
e)
9. Dibawah ini yang bukan merupakan komponen penyususn SSR adalah …
a. MOSFET
b. SCR
c. Relay
d. TRIAC
e. Alternistor TRIAC.
10. Gambar dibawah ini yang bukan merupakan SSR adalah…
a) b)
30
c) d)
e)
F. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif pada akhir
modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah
ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap modul ini.
Rumus
81– 100% = baik sekali
71—80% = baik
61 –70% = cukup
41 – 60% = kurang
10 – 40% = gagal
31
G. KUNCI JAWABAN
1. A
2. D
3. A
4. E
5. D
6. C
7. B
8. A
9. C
10. E
32
H. DAFTAR PUSTAKA
[1] Sistem Kontrol Elektromekanik & Elektronik XI-2. Direktorat Pembinaan
SMK, 2014.
[2] Solid State Relay G3MB. Schaumburg: Omron.
[3] HOW TO TEST A SOLID STATE RELAY. 2011.
33
I. GLOSARIUM
Optocoupler : komponen elektronika yang berfungsi sebagai
penghubung berdasarkan cahaya optik. Pada dasarnya
Optocoupler terdiri dari 2 bagian utama yaitu
Transmitter yang berfungsi sebagai pengirim cahaya
optik dan Receiver yang berfungsi sebagai pendeteksi
sumber cahaya
Phototransistor : adalah sebuah transistor yang kaki basisnya (B)
terbuka dan terbuat dari komponen photoconductive
sehingga fungsi kaki basis dapat diatur berdasarkan
besarnya intensitas cahaya yang diterima pada bagian
photoconductive tersebut.
34