“PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI OLAHRAGA
PADA KASUS TOTAL HIP REPLACEMENT DENGAN
MODALITAS IR DAN TERAPI LATIHAN”
Dosen Pengampu :
Adi Saputa Junaidi [Link], [Link]
Di Susun Oleh
Meta Imarsela 202051006
Ayu Wulandari 202051007
Dian Oscar 202051008
Esti Ardhiyani 202051009
Florensia Gladies 202051010
PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM
JAMBI 2022
i
KATA PENGANTAR
Assalamu‘alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan karunia-
Nya lah kami dapat menyesaikan penulisan Makalah “Penatalaksanaan fisioterapi
olahraga pada kasus total hip replacement dengan modalitas terapi latihan”yang
penulis susun untuk memenuhi salah satu tugas mata fisioterapi olahraga. Tak lupa
shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada Nabi akhir zaman Muhammad SAW,
kepada keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya.
Penulis mengakui dalam makalah ini mungkin masih banyak terjadi kekurangan
sehingga hasilnya jauh dari kesempurnaan. Penulis sangat berharap kepada semua
pihak kiranya memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Besar harapan penulis dengan terselesaikannya makalah ini dapat menjadi bahan
tambahan bagi penilaian dosen bidang studi fisioterapi olahraga dan mudah-mudahan
isi dari makalah penulis ini dapat di ambil manfaatnya oleh semua pihak yang
membaca makalah ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini
terselesaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan. Sekian Dan Terima Kasih,Wassalam’ualakum Wr. Wb
ii
DAFTAR ISI
iii
iv
v
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Total Hip Replacement merupakan penggantian kedua permukaan sendi
pinggul yang mengalami degenerasi. Hal ini berarti pada bagian bulatan sendi
diganti (konvensional) atau dipangkas dan ditutupi tutup logam (resurfacing).
Bagian dari sendi diganti dengan cangkang semi spherical (setengah bulatan)
(Holzwarth & Cotogno, 2012 dalam Khairunissa & Prasetyo, 2020). Etiologi dari
operasi Total Hip Replacement tidak hanya osteoarthritis saja, akan tetapi bisa
disebabkan oleh karena rheumatoid arthritis, avascular necrosis, ankylosing
spondilitis, dan tonus otot abnormal yang disebabkan oleh cerebral palsy (Maxey &
Magnusson, 2013 dalam Khairunissa & Prasetyo, 2020).
Gejala yang menyertai post operasi Total Hip Replacement antara lain adanya
nyeri, keterbatasan gerak dan mobilisasi, perbedaan panjang tungkai dan
keterbatasan kemampuan fungsional. Problematika yang ditemui pada kondisi Total
Hip Replacement menimbulkan berbagai gangguan di tingkat impairment, diability,
dan functional limitation. Impairment yang muncul pada kondisi post operasi Total
Hip Replacement antara lain :
1) adanya nyeri diam, nyeri tekan, dan nyeri gerak,
2) adanya spasme otot M. Quadriceps dan M. Hamstring,
3) adanya perbedaan panjang tungkai,
4) adanya keterbatasan lingkup gerak sendi hip,
5) adanya penurunan kekuatan otot pada hip. Disability pada post operasi
Total Hip Replacement adalah pasien belum mampu melakukan gerakan
pada hip joint secara maksimal. Functional limitation berupa penurunan
kemampuan fungsional karena pasien kesulitan melakukan aktivitas yang
berhubungan dengan tungkai yang sakit.
Terapi Latihan atau exercise therapy merupakan aktivitas fisik yang sistematis
dan bertujuan untuk memperbaiki atau mencegah gangguan fungsi tubuh,
1
2
memperbaiki kecacatan, mencegah atau mengurangi faktor resiko gangguan
kesehatan dan mengoptimalkan status kesehatan dan kebugaran (Kisner & Colby,
2013 dalam Khairunissa & Prasetyo, 2020). Terapi Latihan dapat bermanfaat
dalam mengurangi rasa nyeri, dapat memelihara atau menambah lingkup gerak
sendi, meningkatkan kekuatan otot serta meningkatkan aktivitas kemampuan
fungsional sehingga diharapkan pasien dapat beraktivitas seperti semula (Kisner &
Colby, 2013 dalam Khairunissa & Prasetyo, 2020)
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud total hit replacement?
2. Apa yang terjadi setelah post operasi total hit replacement?
3. Apa penatalaksanaan dari total hit replacement?
4. Apa yang dimaksud dengan terapi latihan untuk total hit replacement?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas, maka dapat dikemukakan tujuan dari makalah ini
ialah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud total hit replacement.
2. Untuk mengetahui apa yang terjadi setelah post operasi total hit replacement.
3. Untuk mengetahui apa penatalaksanaan dari total hit replacement.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan terapi latihan untuk total hit
replacement.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Kasus
2.1.1 Definisi Total Hip Replacement ( THR )
Penggantian sendi panggul total (Total Hip Replacement ) adalah
penggantian sendi panggul pada acetabulum dan kepala femur dengan
menggunakan implan buatan yang telah dirancang khusus. Total Hip
Replacement ( THR) dapat digunakan dengan indikasi kerusakan sendi hip
yang berhubungan dengan rheumatoid arthritis, Avascular necrosis, hip
bawaan displasia, cidera sendi traumatis. (Khairunissa and Prasetyo 2020)
THR di gunakan untuk menghindari terjadinya kondisi non union dan
nekrosis avascular yang biasanya terjadi akbibat adanya fraktur neck
merupakan penggantian kedua permukaan sendi pinggul yang mengalami
degenerasi. Hal ini berarti pada bagian bulatan sendi diganti (konvensional)
atau dipangkas dan ditutupi tutup logam (resurfacing). Mengganti tulang
rawan dan tulang yang rusak dengan komponen prostetik yang trbuat dari
metal, cobalt, dan titanium. (Mustiko and Pristianto 2021)
Penggantian pinggul secara total (juga disebut artroplasti panggul total),
tulang dan tulang rawan yang rusak dihilangkan dan diganti dengan
komponen prostetik. Pada penggantian pinggul, ahli bedah mengangkat
tulang rawan dan tulang yang memburuk dari sendi panggul dan
menggantinya dengan prostetik. Penggantian pinggul dapat menghilangkan
rasa sakit, membantu persendian pinggul bekerja lebih baik, dan
mengembalikan berjalan normal dan gerakan lainnya.
Menurut (Bontrager, 2018) untuk melihat keberhasilan dan mengevaluasi
kondisi pasca operasi alat ortopedi termasuk pada Total Hip Replacement
yaitu menggunakan proyeksi AP Unilateral Hip. Pada proyeksi ini
menunjukkan acetabullum, caput femoralis, femoral neck dan trochanter yang
lebih besar.
3
4
2.1.2 Etiologi
Fraktur neck femur dapat disebabkan oleh hal-hal seperti berikut :
1) Trauma
a) Trauma Langsung : Biasanya penderita jatuh dengan posisi miring
dimana daerah trochanter major langsung terbentur dengan benda
keras.
b) Trauma tidak langsung : disebabkan gerakan eksorotasi yang
mendadak dari tungkai bawah. Karena caput femoris terikat kuat
dengan ligament didalam asetabulum oleh liigament iliofemoral dan
capsul sendi, mengakibatkan fraktur didareah collum femur.
2) Fraktur Patologis
Fraktur disebabkan karena proses penyakit degenerasi
a) Arthritis
b) Osteoporosis
c) Osteoarthritis
3) Nekrosis Avascular
Nekrosis Avascular caput femur merupakan komplikasi lanjut dari
fislokasi sendi panggul. Caput femur adalah tempat yang paling sering
mengalami nekrosis aavaskuler terutama karena pasokan darahnya yang
khas yang membuatnya mudah mengalami ischemia karena terputusnya
nyeri
2.1.3 Patofisiologi
ketika beberapa kondisi menyebabkan nyeri yang berat dan
menyebabkan kehilangan fungsi serta pergerakan, prosedur THR sangat perlu
dilakukan. Beberapa kondisi yang membuat seseorang melakukan pergantian
sendi panggul yaitu nyeri pada panggul yang membatasi kegiatan sehari hari
maupun malam hari, lalu kaku pada panggul sehingga mengalami kesulitan
saat mengangkat dan menggerakan tungkai, serta rasa nyeri yang sama sekali
tidak berkurang walaupun sudah diberi obat nyeri, melakukan terapi pada
fisioterapi maupun dengan alat berjalan.
5
Terjadinya kondisi tersebut akan menyebabkan tulang- tulang sendi
saling bergesekan tanpa bantalannya, yang menyebabkan rasa sakit dan
kekakuan pinggul. Dengan demikian dilakukan oprasi pergantian sendi
panggul karena kerusakan sendi panggul yang sudah parah sehingga tidak ada
lagi cara untuk memperbaikinya kecuali dengan menggantikan sendi panggul.
2.1.4 Manifestasi Klinis
Pada pasien kondisi post THR, sering timbul tanda dan gejala sebagai berikut:
1) Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan
perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit
atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau
pengobatan.(Sudaryanto and Nashrah 2020)
a) Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya mulainya tiba- tiba dan umumnya
berkaitan dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan
bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi. Jika kerusakan tidak
lama terjadi dan tidak ada penyakit sistematik, nyeri akut
biasanya menurun sejalan dengan terjadi penyembuhan; nyeri ini
umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang
dari satu bulan. Untuk tujuan definisi, nyeri akut dapat dijelaskan
sebagai nyeri yang berlangsung dari beberapa detik hingga enam
bulan.
b) Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang
menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung di
luar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak
dapat dikaitkan dengan penyebab atau cedera spesifik. Meski
nyeri akut dapat menjadi signal yang sangat penting bahwa
6
sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, nyeri kronis
biasanya menjadi masalah dengan sendirinya.
2) Oedem ( bengkak)
Bengkak terjadi karena pecahnya pembuluh darah arteri terjadi saat
pelaksanaan operasi, sehingga aliran darah menuju jantung menjadi
tidak lancar, serta menimbulkan incisi.
3) Eritma
Adanya warna kemerahan pada kulit daerah infeksi yang disebabkan
adanya pembengkakan ( odema ).
4) Peningkatan Suhu local
Peningkatan suhu atau panas tubuh ini terjadi bersama adanya
kecerahan, biasanya kaki pada daerah yang ada fiksasi atau bekas
oprasi menjadi lebih panas dari suhu tubuh normal yang berkisar
36,50C-37,50C. Hal ini terjadi karena adanya odema yang memiccu
adanya reaksi peradangan sehingga suhu menjadi meningkat.
5) Keterbatasan gerak dan fungsi
Keterbatasan gerak dan fungsi diakibatkan karena adanya gejala atau
tanda diatas, adanya nyeri, odema ( bengkak), eretma dan peningkatan
suhu.
6) Aktifitas Yang Menurun
Aktifitas yang menurun karena adanya keterbatasan gerak dan fungsi
tubuh yang disebabkan karena adanya nyeri, odema ( bengkak),
eritema dan peningkatan suhu.
Gejala yang menyertai post operasi Total Hip Replacement antara lain
adanya nyeri, keterbatasan gerak dan mobilisasi, perbedaan panjang tungkai
dan keterbatasan kemampuan fungsional Problematika yang ditemui pada
kondisi Total Hip Replacement menimbulkan berbagai gangguan di tingkat
impairment, diability, dan functional limitation. Impairment yang muncul
pada kondisi post operasi Total Hip Replacement antara lain.
7
2.1.6 Anatomi dan Fisiologi
1) Sendi Panggul
Sendi panggul merupakan jenis persendian enarthrosis yang dibentuk
oleh caput ossis femoris dan acetabulum dari os coxae.
Gambar 1. Sendi panggul
2) Caput Ossis Femoris
Caput ossis femoris terletak tepat di inferior dari 1/3 tengah
ligamentum inguinale. Pertengahan dari dua caput ossis femoris pada
dewasa rata-rata adalah 17,5 cm dari masing-masing caput ossis femoris.
Caput ossis femoris berbentuk 2/3 dari sebuah bola. Terdapat suatu
cekungan yang prominen terletak sedikit posterior dari pertengahan caput
ossis femoris yang disebut fovea capitis. Seluruh permukaan dari caput
ossis femoris ditutupi oleh cartilago articularis, kecuali daerah fovea
capitis.
8
Gambar 2. Caput ossis femoris
3) Acetabulum
Acetabulum (dari bahasa Latin, yang berarti “cangkir cuka”) adalah
socket/cekungan yang dalam dan berbentuk cangkir setengahbulat.
Sekitar 60°-70° dari tepi acetabulum, tidak melingkar lengkap di dekat
inferiornya, terbentuk incisura acetabuli.
Gambar 3. Acetabulum
4) Labrum Acetabulare
Labrum acetabulare adalah suatu fibrocartilago utama dan berbentuk
cincin yang tidak lengkap mengelilingi tepi luar acetabulum. Di dekat
incisura acetabuli, labrum acetabulare melebar saat berubah menjadi
ligamentum transversum acetabuli. Labrum acetabular hampir tampak
segitiga pada potongan melintang, dengan apex mengarah ke luar sekitar
5 mm dari caput ossis femoris. Basis dari labrum acetabulare melekat di
sepanjang permukaan dalam dan permukaan luar dari tepi acetabulum.
Gambar [Link] synovialis dari sendi panggul
9
5) Capsula Articuaris dan ligamenta panggul
Membrana synovialis melapisi permukaan dalam dari capsula
articularis panggul. Membrana synovialis melekat pada tepi dari
permukaan sendi pada femur dan acetabulum, membentuk suatu
pembungkus tubuler di sekitar ligamentum capitis femoris, dan
membatasi membrana fibrosum sendi. Mulai dari tempat perlekatannya
sampai pada tepi dari caput ossis femoris, membrana synovialis
membungkus collum ossis femoris sebelum berefleksi menuju membrana
fibrosum.
Membrana fibrosum yang menutupi sendi coxae kuat dan pada
umumnya tebal. Ke arah medial, membrana fibrosum melekat pada tepi
dari acetabulum, ligamentum transversum acetabuli, dan tepi dari
foramen obturatum di dekatnya. Ke arah lateral, membrana fibrosum
melekat pada linea intertrochanterica pada aspectus anterior femur dan
pada collum ossis femoris tepat di proximal terhadap crista
intertrochanterica pada permukaan posterior.
Ligamentum iliofemorale (ligamentum Y) adalah suatu lembaran
jaringan ikat yang tebal dan kuat, yang menyerupai huruf Y terbalik. Di
proksimal, ligamentum iliofemorale melekat dekat dengan spina iliaca
anterior inferior (SIAI) dan di sepanjang tepi acetabulum yang
berdekatan. Sabut-sabut membentuk fasciculus medialis dan fasciculus
lateralis yang berbeda, masing-masing melekat pada kedua ujung dari
linea intertrochanterica dari os femur.
Ligamentum pubofemorale melekat di sepanjang tepi anterior dan
inferior dari acetabulum dan bagian-bagian ramus superior ossis pubis
dan membrana obturatoria yang berdekatan (Gambar 5). Sabut-sabut
tersebut menyatu dengan fasciculus medialis dari ligamentum
iliofemorale, menjadi tegang pada abduksi dan ekstensi panggul dan,
pada derajat yang lebih kecil, rotasi eksternal.
10
Gambar 5. Fibrosa dan ligamenta dari sendi panggul [Link] fibrosa
dari capsula articularis tampak anterior. B. Ligamentum iliofemorale
tampak anterior. C. Ligamentum Ischiofemorale tampak posterior.
2.1.2 Otot-otot Fleksor Panggul
1) Musculus Iliopsoas
Musculus iliopsoas adalah otot flexor panggul yang potent dari
perspektif femoral-on-pelvic dan [Link] posisi anatomis,
musculus iliopsoas bukan merupakan suatu otot rotator yang efektif,
meskipun, dengan panggul diabduksikan, musculus iliopsoas membantu
dengan gerakan rotasi eksternal. Musculus psoas major menyediakan
stabilitas verticalis yang baik pada processus spinosus lumbalis,
khususnya pada ekstensi panggul penuh, di mana tegangan pasif terbesar
pada otot.
2) Musculus Sartorius
Musculus sartorius adalah musculus terpanjang pada tubuh,
berorigo di spina iliaca anterior superior (SIAS). Musculus ini berjalan ke
distal dan ke medial melintasi regio femoralis untuk melekat pada
permukaan medial dari proksimal tibia (Tabel 1). Musculus sartorius
merupakan otot yang memiliki aksi kombinasi antara lain fleksi panggul,
rotasi eksternal dan abduksi.
3) Musculus Tensor Fascia Latae
11
Dari posisi anatomis, musculus tensor faciae latae merupakan otot
fleksor dan abduktor dari panggul. Otot tersebut juga merupakan rotator
internal sekunder. Musculus tensor fasciae latae meningkatkan tegangan
fascia lata. Tegangan berjalan ke inferior melalui tractus iliotibialis dapat
membantu menstabilkan lutut yang diekstensikan.
2.1.3 Otot-otot Adduktor Panggul
1) Kelompok otot-otot adduktor menempati kuadran medial dari
regio femoralis. Otot-otot adductor tersusun dari tiga lapisan otot,
yaitu:
a) Lapisan superficial, meliputi musculus pectineus, musculus adductor
longus, dan musculus gracilis. Musculus pectineus berfungsi untuk
fleksi dan adduksi panggul. Musculus adductor longus dan musculus
gracilis berfungsi untuk adduksi panggul.
b) Lapisan media, meliputi musculus adductor brevis dan berfungsi
untuk adduksi panggul.
c) Lapisan profundus, meliputi musculus adductor magnus dan berfungsi
untuk adduksi panggul.
4) Musculus Rectus Femoris
Musculus rectus femoris berorigo pada spina iliaca anterior inferior
dan di sepanjang dari tepi superior acetabulum dan pada capsula
articularisnya. Musculus rectus femoris berinsersio pada tuberositas
tibiae (Tabel 1). Musculus rectus femoris bertanggung jawab untuk
sekitar 1/3 dari kontraksi isometrik total, torsi fleksi di panggul. Selain
itu musculus rectus femoris merupakan otot ekstensor lutut primer.
12
2.1.4 Otot-otot rotator Internal panggul
Beberapa otot-otot rotator internal panggul sekunder meliputi sabut-sabut
anterior dari musculus gluteus minimus dan musculus gluteus medius,
musculus tensor fasciae latae, musculus adductor longus, musculus adductor
brevis, dan musculus pectineus. Anatomi masing-masing musculus dijelaskan
pada kelompok otot lain.
2.1.5 Otot-otot Ekstensor panggul
Otot-otot ekstensor panggul primer meliputi musculus gluteus maximus,
otot-otot hamstring, caput posterior/pars ekstensores musculus adductor
magnus. membantu gerakan ekstensi panggul. Musculus gluteus maximus
merupakan otot ekstensor dan rotator eksternal primer pada panggul. Otot
hamstring terdiri dari caput longum musculus biceps femoris, musculus
semitendinosus, dan musculus semimembranosus. Otot tersebut berfungsi
untuk ekstensi panggul dan fleksi lutut.
2.1.6 Otot-otot Abduktor panggul
1) Musculus gluteus medius
Musculus gluteus medius merupakan otot abduktor terbesar,menempati
sekitar 60% dari potongan melintang dari seluruh otot abduktor panggul.
Musculus gluteus medius berorigo pada permukaan eksternal dari ilium di
atas linea glutealis anterior. Musculus gluteus medius berinsersio pada
aspectus lateral dari trochanter major.
2) Musculus gluteus minumus
Musculus gluteus minimus terletak di profundus dan sedikit di anterior
dari musculus gluteus medius. Musculus tersebut berorigo pada lateral
ilium dan berinsersio pada aspectus anterior-lateral dari trochanter major.
13
3) Musculus tensor fascia latae
Musculus tensor fasciae latae merupakan otot abduktor panggul yang
terkecil dari ketiganya, menempati sekitar 11% dari otot abduktor total
pada potongan melintang. Semua otot abduktor panggul memiliki aksi
baik rotator internal maupun rotasi eksternal.
2.1.7 Otot-otot rotator eksternal panggul
Otot-otot rotator eksternal panggul primer meliputi musculus gluteus
maximus dan lima dari enam musculus rotator eksternal yang pendek. Pada
posisi anatomis, otot-otot rotator eksternal panggul sekunder adalah sabut-
sabut posterior dari musculus gluteus medius dan musculus gluteus minimus,
musculus obturator internus, musculus sartorius, dan caput longum musculus
biceps femoris. Musculus obturator externus dianggap sebagai rotator
sekunder karena pada posisi anatomis garis gayanya terletak hanya beberapa
milimeter di posterior dari rotasi sumbu longitudinal.
1) Musculus Piriformis
Musculus piriformis berorigo pada permukaan anterior dari sacrum,
di antara foramina sacralia anteriora dan berinsersio pada aspectus
superior dari trochanter major. Selain berfungsi sebagai rotator eksternal
panggul, musculus piriformis merupakan abduktor sekunder panggul.
2) Musculus Obturator Internus
Musculus obturator internus berorigo pada sisi internal dari
membrana obturatoria dan dari ilium yang berdekatan. Sabut-sabut
musculus obturator internus menyatu untuk membentuk suatu tendon,
yang membelok 90° di sekitar ischium di antar spina ischiadica dan tuber
ischiadicum, dan berjalan melewati foramen ischiadicum minus untuk
mencapai permukan medial dari trochanter major. Otot tersebut terfiksasi
kuat pada femur selama berdiri, kontraksi yang kuat dari otot tersebut
merotasikan panggul relatif terhadap caput ossis femoris. Selain itu, gaya
yang dihasilkan oleh otot tersebut menekan permukaan dari sendi
14
panggul, sehingga menyediakan suatu element stabilitas dinamik untuk
sendi panggul.
3) Musculus gemellus superior dan musculus gemellus inferior
Musculus gemellus superior dan musculus gemellus inferior
merupakan otot yang berukuran kecil dan berorigo pada incisura
ischiadica minor pada kedua sisi. Masing-masing otot menyatu dengan
tendon dari musculus obturator internus menuju permukaan medial dari
trochanter major.
4) Musculus quadratus femoris
Musculus quadratus femoris terletak tepat di bawah musculus
gemellus inferior. Musculus quadratus femoris berorigo pada sisi
eksternal dari tuber ischiadicum dan berinsersio pada sisi posterior dari
bagian proksimal os femur.
5) Musculus obturator externus
Musculus obturator externus berorigo pada sisi ekternal dari
membarna obturatoria dan ilium yang berdekatan dan berinsersio pada
fossa [Link] yang potensial dari otot rotator eksternal
adalah selama rotasi pelvic-on-femoral. Dengan ekstremitas inferior
kanan kontak erat dengan inguinal, kontraksi dari otot-otot rotator
eksternal kanan mempercepat sisi anterior panggul dan melekatkan tubuh
ke kiri (kontralateral dari femur yang terfiksasi).
15
2.2 Objek yang dibahas
2.2.1 Teknologi Intervensi Fisioterapi
[Link] Infra Red (IR)
1) Defenisi
Infra red atau yang biasa kita kenal dengan infra merah
adalah radiasi elektromagnetik yang memiliki panjang gelombang
antara 700nm hingga 1mm itu artinya, gelombang ini lebih
panjang daripada gelombang cahaya dan lebih pendek daripada
gelombang radio. gelombang ini dapat digunakan sebagai media
transmisi jarak dekat karena sifatnya yang tidak bisa menembus
bangunan dan rentan terhadap gelombang elektromagnetik lain.
Infra red berada pada frekuensi 300GHZ hingga 400THz.(Salim
and Saputra 2021)
2) Manfaat Infra Red (IR)
Rasa panas yang dihasilkan oleh lampu infra red,
diharapkan mampu melebarkan pembuluh darah sehingga aliran
darah menjadi lancar dan proses penyembuhan luka atau
peradangan di tubuh semakin cepat. Rasa panas dari lampu terapi
infrared ini juga dapat mengurangi nyeri pada sendi-sendi atau
otot. Lampu terapi infra red dapat menghasilkan panas membuat
tubuh kehilangan cairan yang lebih banyak, maka dari itu saat
terapi, penderita harus minum yang cukup. Jika terjadi alergi, rasa
terbakar di kulit, kulit memerah, dan bengkak, segera hentikan
pemakaian lampu terapi infra red. Jangan lupa untuk mengobati
penyebab penyakit yang ada, karena fungsi lampu terapi infra red
hanya untuk membatu, bukan untuk mengobati penyakit secara
langsung.
3) Indikasi dan Kontra Indikasi
a. Indikasi Infra Red
a) Nyeri otot, sendi dan jaringan lunak sekitar sendi
16
b) kekakuan sendi atau keterbatasan gerak sendi karena
berbagai sebab.
c) ketegangan otot atau spasme otot
d) peradangan kronik yang disertai dengan pembengkakan
e) penyembuhan luka kulit
b. Kontraindikasi Infra Red
Terapi Infra Red merupakan salah satu jenis terapi yang aman
dalam bidang ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi. Meskipun
demikian ada beberapa kontraindikasi untuk mendapatkan trapi
ini dan sebaiknya seseorang yang mempunyai kontraindikasi di
bawah ini memberitahu terlebih dahulu kepada dokter atau
fisioterapi sebelum mendapatkan terapi ini. Kontra indikasi
absolut ( yang mutlak tidak boleh ) meliputi
a) kelainan peerdarahan
b) kelainan pembuludarah vena atau peradangan
pembuluh darah, seperti thrombophlebitis
c) gangguan sensoris berupa rasa raba maupun terhadap
suhu
d) gangguan mental
e) tumor ganas aatau kanker
f) penggunaan infrared pada mata
Kontra indikasi relatif boleh diberikaan terapi dengan
pengawasan ketat dari dokter maupun terapis yang
memberikan, meliputi :
1) trauma atau peradangan akut
2) kehamilan
3) gangguan sirkulasi darah
4) gangguan regulaasi suhu tubuh
5) bengkak atau udema
6) kelainan jantung
17
7) adanya mental di dalam tubuh
8) luka bakar
9) penyakit kulit yang boleh di olesi obat-obat
topikal atau obat gosok.
4. Efek Samping Infra Red
1) luka bakar derajat ringan
2) Bertambahnya peradangan.
3) nyeri yang bertaambah.
4) alergi kulit, terutama pada penderita yang mempunyai riwayat
alergi terhadap suhu panas.
5) perdarahan yang bertambah pada luka terbuka.
6) pingan
[Link] Terapi Latihan
Terapi Latihan atau exercise therapy merupakan aktivitas fisik
yang sistematis dan bertujuan untuk memperbaiki atau mencegah
gangguan fungsi tubuh, memperbaiki kecacatan, mencegah atau
mengurangi faktor resiko gangguan kesehatan dan mengoptimalkan
status kesehatan dan kebugaran.
Terapi Latihan dapat bermanfaat dalam mengurangi rasa nyeri,
dapat memelihara atau menambah lingkup gerak sendi,
meningkatkan kekuatan otot serta meningkatkan aktivitas
kemampuan fungsional sehingga diharapkan pasien dapat
beraktivitas seperti semula.
Dalam penelitian Akhmad Alfajri Amin, Suci Amanati, dan
Tedi Siswanto tahun 2018 yang berjudul “Pengaruh Terapi Latihan
Pada Post Total Hip Replacement Et Causa Neglected Close Fracture
Neck Femur” membuktikan bahwa pemberian terapi latihan dapat
meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional dan penurunan
derajat nyeri yang signifikan (Amin, et al., 2018).
18
Program yang dilakukan pada latihan ini adalah program
stabilisasi pelvicdengan teknik single leg bridging, latihan ini
cocok terhadap fungsi mempertahankan fungsi dan kekuatan pada
regio pelvicdan hip yang akan mengarah pada pola gerak yang
salah. Masalah pada punggung bawah, hip, knee, dan ankle dapat
berdampak pada inefisiensi stabilitas pelvicdan/atau hip. Teknik
yang diberikan ini diharapkan mampu mempertahankan kekuatan
pada otot regio pelvicserta hipkhususnya di sisi yang sehat, guna
mempersiapkan dan memaksimalkan fungsi tungkai yang sehat
untuk berjalan dan beraktivitas selama pasien melalui fase
penyembuhan. Selain itu pergerakan persendian pada hipyang
sakit selama proses latihan diharapkan mampu mempertahankan
Range Of Motion (ROM).
Single leg bridgingadalah posisi dan gerakan latihan
yangsama seperti double leg bridging, tetapi hanya satu kaki
yang menumpu yaitu dengan kaki yang sehat. Kemudian
angkat bokong dengan kaki yang menumpu semampunya.
Lakukan gerakkan tersebut sebanyak 8-10 kali [Link]
proses peningkatan penguatan dan daya tahan, pasien
dianjurkan untuk tidak inaktif dan tetap melakukan aktifitas
seperti biasanya seperti berjalan dan naik turun tangga. dengan
Menggunakan teknik pola jalan two point gait dibantu
menggunakan walkeratau Kruk.
19
BAB III
PROSES FISIOTERAPI
3.1 Pengkajian Fisioterapi
Proses pemecahan masalah yang harus dihadapi oleh fisioterapi pada kasus
total hip replacement pengkajian fisioterapi, tujuan dan rencana fisioterapi,
pelaksanaan fisioterapi, dan evaluasi terhadap hasil terapi.
3.1.1 Anamnesis umum
Anamnesis adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan tanya
jawab kepada pasien untuk memperoleh keterangan sebanyak-banyaknya
mengenai keadaan penyakit pasien. Dalam anamnesis diperoleh informasi
yang penting untuk menentukan diagnosa. Pada kondisi ini, anamnesis
dilakukan dengan auto anamnesis yaitu tanya jawab yang diperoleh secara
langsung kepada pasien sendiri. Data-data yang diperoleh dari auto anamnesis
meliputi :
Kondisi / kasus : FTE
Nama : Tn. A
Umur : 21 Tahun
No reg :-
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Telanai pura kota jambi
3.1.2 Data-Data Medis Rumah Sakit
a. Diagnosa medis : Total hip replacment
b. Catatan Klinis,
a) Riwayat tindakan medis, dll : Tidak ada
b) Medicamentosa :
c. Data pendukung
a) Hasil lab : Tidak dilakukan
b) Foto rotgen : Tidak dilakukan
20
d. Rujukan Fisioterapi : pasien datang dengan keluarganya
3.1.3 Segi Fisioterapi
[Link] Pemeriksaan subyektif(Anamnesis)
a. Keluhan utama
Pasien merasakan sakit pada bagian panggul
b. Lokasi keluhan
c. . Riwayat pribadi
Pasien mempunyai hobby berolahraga seperti sepak bola,berenang
,gym dan olahraga jenis lain nya
[Link] Pemeriksaan Obyektif
1. Pemeriksaan Tanda Vital
a) Tekanan darah : 120/80 mmHg
b) Denyut nadi : 60 X permenit
c) Pernapasan : 21 X permenit
d) Temperatur : 36 C
e) Tinggi badan : 170 Cm
f) Berat badan : 66 Kg
21
2. Inspeks
a) statis
1) Luka sisi lateral hip dextra
2) Perbedaan tinggi sias
3) Pasien datang menggunakan alat bantu
b).dinamis
1) Ekspresi pasien tampak menahan nyeri dan ragu serta takut
untuk
2) menggerakkan tungkai kanan secara bebas Pasien
menggunakan alat bantu/pegangan pada saat gerakan dari
duduk ke berdiri
3. Palpasi(spasme, nyeri tekan dimana, tonus, oedema, suhu, dll) :
1) Terdapat perbedaan elastisitas pada kuliy antara tungkai
kanan dan kiri pasien
2) Suhu tungkai kanan lebih hangat dari pada bagian kiri
4. Tes Orientasi ( Menentukan Lokasi Keluhan)
Pasien diminta untuk melakukan gerakan fleksi hip
Pemeriksaan Gerak Dasar
[Link] Pemeriksaan Gerak Dasar
a) gerak aktif
Regio Gerakan ROM Nyeri
Fleksi Tidak full ROM +
Hip Ekstensi Tidak full ROM +
Abduksi Full ROM +
Adduksi Full ROM +
b) Gerak Pasif (keterbatasan gerak, stabilitas, nyeri, end feel, pola
kapsuler / non kapsuler dll) :
Regio Gerakan ROM Nyeri
Fleksi Tidak full ROM +
22
Hip Ekstensi Tidak full ROM +
Abduksi Full ROM +
Adduksi Full ROM +
c) Gerak Isometrik Melawan Tahanan (nyeri, lokasi, mampu / tidak
melakukan) :
Regio Gerakan Nyeri Mampu/tidak
mampu
Fleksi + Tidak mampu
Hip Ekstensi + Tidak mampu
Abduksi + Mampu
Adduksi + Mampu
[Link] Pemeriksaan Kemampuan Fungsional (transfer/ambulasi, ADL,Gait n
Balance Analysis, Alat bantu/tidak)
1) Pasien menggunakan alat bantu ketika ingin buang air besar
maupun buang air kecil
2) Pasien kesulitan melakukan aktifitas sehari hari yang
menggunakan panggul
3) Pasien mampu mengendalikan rangsangan ingin berkemih.
[Link] Pemeriksaan Spesifik (MMT, ROM, VAS/VDS, Antropometri, SLR,
Mc Murray, Varus, Spady test, indeks Kats, indeks Jette dll)
1) Nyeri menggunakan VDS
a) Nyeri diam: ringan
b) Nyeri gerak: sedang
c) Nyeri tekan :sedang
Fleksi 4+
Ekstensi 4
Abd hip 3
Add hip 3
23
[Link] Impairment
1) Nyeri gerak pada saat duduk ke berdiri
2) Keterbatasan gerak fleksi ekstensi sendi hip pasien
3) Penurunan kekuatan otot
4) Perbedaan tinggi sias
[Link] Fungsional Limitation
1) Keterbatasan ambulssi dari duduk ke berdiri karena nyari pada hip
kanan
2) Keterbatasan gerakan karena berpengaruh pada aktivitas pasien
[Link] Disability
Secara umum pasien masih mampu berkumpul dengan teman maupun
keluarga dan yang lain nya ,namun Pasien membutuhkan
peganggan/alat bantu pada saat dari posisi duduk ke berdiri
[Link] Tujuan Fisioterapi
a). jangka pendek
1) mengurangi nyeri gerak
2) ambulasi sedini mungkin
3) stabilitas otot panggul
b). jangka panjang
1) optimalkan ADL
[Link] Teknologi Intervensi
2) IR
3) TENS
4) TERAPI LATIHAN
[Link] Evaluasi
1).Subyektif : Pasien merasakan panggul terasa ngilu dan nyeri
2).Obyektif : Adanya perbedaan suhu antara kedua tungkai pasien
Adanya keterbatasan gerak
3).Action : Pasien diberikan terapi latihan seperti breathing
exercise,stabilitas otot panggul
24
4).Planning : Pasien di anjurkan untuk melakukan fisioterapi rutin
dua kali seminggu
25
DAFTAR PUSTAKA
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penggantian sendi panggul total (Total Hip Replacement ) adalah penggantian
sendi panggul pada acetabulum dan kepala femur dengan menggunakan implan
buatan yang telah dirancang khusus. Total Hip Replacement ( THR) dapat
digunakan dengan indikasi kerusakan sendi hip yang berhubungan dengan
rheumatoid arthritis, Avascular necrosis, hip bawaan displasia, cidera sendi
traumatis.
26
DAFTAR PUSTAKA
Khairunissa, Anna Maulidia, and Eko Budi Prasetyo. 2020. “Penatalaksanaan
Fisioterapi Pada Kondisi ‘Total Hip Replacement’ Dengan Modal Infra Merah Dan
Terapi Latihan Di Rs Orthopedi Dr. R. Soeharso Surakarta.” Pena Jurnal Ilmu
Pengetahuan Dan Teknologi 34 (2): 40.
[Link]
Mustiko, P L, and A Pristianto. 2021. “Program Exercise Therapy Dan Edukasi Pada
Pasien Post Hip Arthroplasty Di Ruang Rawat Inap RS Ortopedi Prof. Dr. R.
Soeharso: A Case Report.” Physio Journal. [Link]
[Link]/[Link]/PHYSIO/article/view/799%0A[Link]
[Link]/[Link]/PHYSIO/article/download/799/352.
Salim, Aflah Tasya, and Andrew Wijaya Saputra. 2021. “Efektivitas Penggunaan
Intervensi Fisioterapi Terapi Latihan Dan Infrared Pada Kasus Dislokasi Sendi
Bahu.” Indonesian Journal of Health Science 1 (1): 20–30.
[Link]