0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Hubungan Pola Makan dan Diare Balita

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diare pada anak, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Diare merupakan penyakit yang sering ditemukan pada anak dan disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, alergi, keracunan, atau imunodefisiensi. Rumusan masalah yang diajukan adalah hubungan antara pola makan dengan kejadian diare pada anak. Tujuan penelitian ini adalah menget

Diunggah oleh

DERI COOL 01
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Hubungan Pola Makan dan Diare Balita

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diare pada anak, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Diare merupakan penyakit yang sering ditemukan pada anak dan disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, alergi, keracunan, atau imunodefisiensi. Rumusan masalah yang diajukan adalah hubungan antara pola makan dengan kejadian diare pada anak. Tujuan penelitian ini adalah menget

Diunggah oleh

DERI COOL 01
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Diare merupakan penyakit yang lazim ditemukan pada bayi maupun anak – anak. Menurut
WHO, diare merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih adari tiga kali dalam satu
hari, dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih ( Wijaya dan putri, 2013). Secara
klinis penyaebab diare dapat dikelompokan dalam golongan 6 besar yaitu
karena infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defesiensi, dan penyebab lain.
Adapun penyebab – penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai factor misalnya
keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan dan sebagainya ( Amirudin, 2007
dalam saraung 2014).
Menurut catatan badan kesehatan dunia ( WHO), diare membunuh 1,5 juta anak setiap
tahun. Sementara angka kejadian diare disebagian besar wilaya Indonesia hingga saat ini
masih tinggi. Menurut Depertemen Kesehatan RI (2003) insidensi diare di Indonesia pada
tahun 2000 adalah 301 per 1000 penduduk dan semua golongan umur 1,5 episode setiap
tahunnya untuk golongan umur balita. Dinegara yang sedang berkembang, insiden yang
tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar, kekurangan
protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh.
Menurut data United Nation Children’s (UNICEF) dan World Health Organization (WHO),
diare merupakan penyebab kedua dengan kematian anak dibawah 5 tahun di dunia dengan
presentase 16% kematian akibat diare pada balita. Sebanyak 1,7 miliar kasus diare terjadi
setiap tahunnya dan menyebabkan sekitar 760.000 anak meninggal dunia setiap tahunnya.
The Integrated Global Action Plan for the Prevention and Control of Pneumonia and
Diarrhoea (GAPPD) oleh WHO dan UNICEF menargetkan untuk mengurangi angka
kematian akibat diare menjadi kurang dari 1 per 1000 kelahiran hidup.
Di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor dua pada anak usia dibawah 5
tahun. Angka Kematian Balita (AKBA) merupakan salah satu indikator kesehatan yang
dinilai paling peka dan telah disepakati secara nasional sebagai ukuran derajat kesehatan
suatu wilayah. Secara nasional, target SDGs untuk menurunkan Angka Kematian Balita di
Indonesia dalam kurun waktu 2015-2030 menjadi 25 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun
2016, AKBA di Indonesia tercatat 26 per 1000 kelahiran hidup. Diare lebih sering terjadi
pada anak usia 2 tahun karena usus anak-anak sangat peka terutama pada tahun-tahun
pertama dan kedua. Berdasarkan karakteristik penduduk pada kelompok umur, data insiden
diare dan periode prevalensi diare yang paling tinggi adalah kelompok umur <1 tahun
dengan insiden 7 % periode prevalensi 11,2 % dan kelompok umur 1-4 tahun dengan
insiden 6,7% periode prevalensi 12,2 %. Kurang lebih 80% kematian terjadi pada balita
kurang dari 1 tahun dan resiko menurun dengan bertambahnya usia.
Kejadian diare yang dilaporkan fati rumah sakit Nirmala Suri adalah tahun 2018 sejumlah
17.196 (target 24.135) tercapai 71% dengan Angka Kesakitan 19,24/1.000 penduduk, tahun
2017 sejumlah 15.074, tahun 2016 sejumlah 18.941 dan tahun 2015 sejumlah 20.352.
Penyakit Diare berhubungan erat dengan kualitas sanitasi lingkungan individu dan perilaku
hidup bersih sehat. Cakupan penemuan kasus masih rendah terutama pada balita.
Demikian pula dengan pencatatan dan pelaporan kasus dari setiap institusi kesehatan
masih belum optimal, sehingga kasus terlaporkan belum dapat menggambarkan insidensi
yang sebenarnya di masyarakat.
Demi mencapai target WHO dan menurunkan angka prevalensi nasional dua permasalahan
tersebut, selama 10 tahun belakangan Indonesia telah bekerjasama dengan Australia dan
Kanada, bergabung dalam Nutrition International, demi menjangkau sekitar 211.000 ibu
hamil untuk diberikan suplemen Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung asam folat
dan zat besi.
Tak hanya itu, hingga saat ini sudah ada lebih dari 720.000 balita yang mendapatkan dua
kapsul vitamin A sesuai dosis, serta 64.000 anak di bawah usia lima tahun yang menderita
diare mendapatkan penanganan dengan pemberian tablet zinc dan oralit sesuai
tatalaksana.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dr.
Kirana Pritasri, MQIH, mengatakan langkahnya bukan asal pemberian obat, tapi juga ada
edukasi dari perawat yang bertugas di puskesmas agar obat yang diminum sesuai dengan
anjuran dan dosisnya.
Inilah yang dikejar oleh Nutrition International, dengan program yang dikenal sebagai
Micronutrient Supplementation for Reducing Mortality and Morbidity (MITRA) atau suplemen
zat gizi mikro untuk menurunkan tingkat kematian dan kesakitan. Program MITRA sendiri
sudah dilaksanakan sejak Agustus 2015 silam di 20 kabupaten Jawa Timur dan Nusa
Tenggara Timur.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan dari latar belakang diatas dapat disimpulkan rumusan masalah nya adalah "
Apakah ada hubungan pola makan dengan kejadian diare? "

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan umum
a. Mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian diare.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui kejadian diare pada balita.
b. Mengetahui pola makan pada balita dengan kejadian diare.

D. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya bukti empiris mengenai pola makan
yang mempengaruhi kejadian diare anak
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Kepala Puskesmas
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk
pengambilan keputusan di Puskesmas terutama dalam progam kesehatan
ibu dan anak dalam rangka upaya pencegahan diare pada anak
b. Bagi bidan
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan edukasi dalam
memberikan informasi pada ibu tentang pentingnya mengetahui pola makan
sebagai upaya penatalaksanaan preventif untuk menjaga kesehatan anaknya
c. Bagi Ibu
Informasi yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kesadaran Ibu
untuk mengetahui pola makan sebagai upaya preventif untuk mencegah
terjadinya berbagai masalah kesehatan tertutama diare.
d. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian
selanjutnya terhadap pola makan yang dapat menyebabkan kejadian diare
pada balita
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1) Konsep Diare
1. Pengertian Diare
Diare merupakan pengeluaran feses yang berbentuk tidak normal dan cair.
Bisa juga didefinisikan dengan buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair
dengan frekuensi BAB lebih dari biasanya. Bayi dapat dikatakan diare bila BAB
sudah lebih dari 3 kali sehari buang air besar, dan sedangkan neonatus dikatakan
diare jika sudah buang air besar sebanyak lebih dari 4 kali dalam sehari. (Lia dewi,
2014).
Diare adalah suatu kondisi buang air besar yang tidak normal dimana buang
air besar >3 kali dalam sehari dengan konsistensi feses yang encer/cair dapat
disertai atau tanpa disertai dengan darah atau lender yang merupakan akibat dari
terjadinya proses implamasi pada lambung atau usus (Wijayaningsih, 2013).
2. Penyebab Diare
Menurut Haroen N. S, Suraatmaja dan P. O Asnil dalam Wijayaningsiha (2013)
ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua
golongan yaitu sebagai berikut:
a. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
i. Infeksi virus, kuman-kuman pathogen dan apatogen seperti shigella,
salmonella, golongan vib-rio, E. Coli, clostridium perfarings, B.
Cereus, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang
disebabkan bahan-bahan kimia dari makanan (misalnya keracunan
makanan, makanan yang pedas, terlalu asam), gangguan psikis
(ketakuatan, gugup), gangguan saraf, alergi, hawa dingin dan
sebagainya.
ii. Defisiensi imun terutama SIGA (secretory imonolbulin A) yang
mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri atau flata usus
dan jamur terutama canalida.
b. Diare osmotik (osmotic diarrhea) disebabkan oleh:
i. Malabsorbsi makanan: karbohidrat, protein, lemak (LCT), vitamin dan
mineral.
ii. Kurang kalori protein.
iii. Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir
Sedangkan menurut Ngastiyah dalam (Wijayaningsih, 2013), penyebab dari diare dapat
dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
a. Faktor infeksi
i. Infeksi enternal
qMerupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri,
infeksi virus (enteovirus, poliomyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus,
rota virus, astrovirus, dan lain-lain, dan infeksi parasite: cacing (ascaris,
trichuris, oxyuris, strongxloides), protozoa (Entamoeba histolytica, giardia
lamblia, trichomonas humonis), jamur (canida albicous).
ii. Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti Otitis
Media Akut (OMA), Tonsillitis atau Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan
anak berumur di bawah dua tahun.
b. Faktor malabsorbsi
i. Karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa) dan
monosakarida (intoleransi glukkosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada anak
serta bayi yang paling berbahaya adalah intoleransi laktosa.
ii. Protein.
iii. Lemak.
c. Faktor makanan, misalnya makanan basi, beracun, serta alergi.
d. Faktor psikologis

3. Patofisiologis
Mekanisme dasar yang menyebabkan terjadinya diare ialah yang pertama gangguan
osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadinya pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misal toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan mortalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya
dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat timbul, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus
setelah berhasil melewati asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat dari toksin tersebut terjadi hipersekresi yang
selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal menurut Wijayaningsih (2013) sebagi
berikut:
a. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan
(output), merupakan penyebab terjadi kematian pada diare.
b. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja/feses.
Metabolismelemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun didalam tubuh,
terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk
metoabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh
ginjal (terjadi oliguria atau anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan
ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
c. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi dalam 2 sampai 3% anak yang menderita diare, lebih sering
pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya
gangguan penyimpanan atau penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan
absorbsi glukosa. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah
menurun hingga 40mg% pada bayi dan 50 persen pada anak-anak.
d. Gangguan gizi
Terjadi penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
i. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah
yang bertambah hebat.
ii. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu
yang encer ini diberikan terlalu lama.
iii. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan
baik karena adanya hiperperistaltik.
e. Gangguan sirkulasi
i. Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, sehingga
perfusi
ii. jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat
mengakibatkan perdarahan pada otak, kesadaran menurun dan bila tidak
segera diatasi pasien bisa meninggal.

4. Tanda dan Gejala


Menurut Lia dewi (2014), berikut ini adalah tanda dan gejala anak yang mengalami diare:
a. Cengeng, rewel.
b. Suhu meningkat.
c. Gelisah.
d. Nafsu makan menurun.
e. Feses cair dan berlendir, kadang juga disertai dengan darahnya. Kelamaan,
feses ini akan berwarna hijau dan asam.
f. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi penurunan volume dan
tekanan darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jantung, penurunan
kesadaran, dan diakhiri dengan syok.
g. Anus lecet.
h. Berat badan menurun.
i. Turgon kulit menurun.
j. Mata dan ubun-ubun cekung.
k. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering.

5. Manifestasi Klinis
Menurut Mardalena (2018) berikut ini merupakan manifestasi klinis dari diare, yaitu:
a. Nyeri perut (abdominal discomfort).
b. Mual, kadang-kadang sampai muntah.
c. Rasa perih di ulu hati.
d. Rasa lekas kenyang.
e. Nafsu makan berkurang.
f. Perut kembung, rasa panas di dada dan perut.
g. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).
h. Demam dan lemah.
i. Membrane mukosa mulut dan bibir kering.
j. Diare.
k. Pontanel cekung.

6. Komplikasi
Menurut Mardalena (2018) berikut ini merupakan komplikasi yang bisa terjadi pada diare:
a. Dehidrasi.
b. Renjatan hipovolemik.
c. Kejang.
d. Bakterimia.
e. Mal nutrisi.
f. Hipoglikemia.
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

7. Penatalaksanaan
Menurut Lia dewi (2014) prinsip perawatan diare adalah sebagai berikut:
a. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumatan).
b. Dietetik (pemberian makanan).
c. Obat-obatan.
i. Jumlah cairan yang diberikan adalah 100ml/kgBB/hari sebanyak 1 kali setiap
2 jam, jika diare tanpa dehidrasi. Sebanyak 50% cairan ini diberikan dalam 4
jam pertama dan sisanya adlibitum.
ii. Sesuaikan dengan umur anak:
1. < 2 tahun diberikan ½ gelas,
2. 2-6 tahun diberikan 1 gelas,
3. > 6 tahun diberikan 400 cc (2 gelas).
4. Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka diberikan
cairan 25-100ml/kg/BB dalam sehari atau setiap 2 jam sekali.
iii. Oralit diberikan sebanyak ±100ml/kgBB setiap 4-6 jam pada kasus dehidrasi
ringan sampai berat.
Beberapa cara untuk membuat cairan rumah tangga (cairan RT): 1) Larutan gula garam
(LGG): 1 sendok the gula pasir + ½ sendok teh garam dapur halus + 1 gelas air hangat atau
air the hangat, 2) Air tajin (2 liter + 5g garam).
a) Cara tradisional.
3 liter air + 100 g atau 6 sendok makan beras dimasak selama 45-60 menit.
b) Cara biasa.
c) 2 liter air + 100 g tepung beras + 5 g garam dimasak hingga mendidih.
b. Teruskan pemberian ASI karena bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak.

2) Konsep Pola Makan

1. Pengertian Pola Makan


Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan
dengan informasi gambaran dengan meliputi mempertahankan kesehatan, status nutrisi,
mencegah atau membantu kesembuhan penyakit (Depkes RI, 2009).
Pengertian pola makan menurut Handajani adalah tingkah laku manusia atau sekelompok
manusia dalam memenuhi makanan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pilihan
makanan, sedangkan menurut Suhardjo pola makan di artikan sebagai cara seseorang atau
sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsi makanan terhadap
pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial. Dan menurut seorang ahlimengatakan
bahwa pola makan di definisikan sebagai karateristik dari kegiatan yang berulang kali makan
individu atau setiap orang makan dalam memenuhi kebutuhan makanan. (Sulistyoningsih,
2011).
Secara umum pola makan memiliki 3 (tiga) komponen yang terdiri dari: jenis, frekuensi, dan
jumlah makanan.
a. Jenis makan
Jenis makan adalah sejenis makanan pokok yang dimakan setiap hari terdiri dari
makanan pokok, Lauk hewani,Lauk nabati, Sayuran ,dan Buah yang dikonsumsi
setiap hari Makanan pokok adalah sumber makanan utama di negara indonesia yang
dikonsumsi setiap orang atau sekelompok masyarakat yang terdiri dari beras,
jangung, sagu, umbi-umbian, dan tepung. (Sulistyoningsih,2011).
b. Frekuensi makan
Frekuensi makan adalah beberapa kali makan dalam sehari meliputi makan pagi,
makan siang, makan malam dan makan selingan (Depkes, 2013). sedangkan
menurut Suhardjo (2009) frekuensi makan merupakan berulang kali makan sehari
dengan jumlah tiga kali makan pagi, makan siang, dan makan malam.
c. Jumlah makan
Jumlah makan adalah banyaknya makanan yang dimakan dalam setiap orang atau
setiap individu dalam [Link] (2011)

2. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan


Pola makanyang terbentuk gambaran sama dengan kebiasaan makan seseorang. Secara
umum faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan adalah faktor ekonomi, sosial
budaya, agama, pendidikan, dan lingkungan (Sulistyoningsih, 2011).
a. Faktor ekonomi
Variabel ekonomi mencukup dalam peningkatan peluang untuk daya beli pangan
dengan kuantitas dan kualitas dalam pendapatan menurunan daya beli pangan
secara kualitas maupun kuantitas masyarakat. Pendapatan yang tinggi dapat
mencakup kurangnya daya beli denganh kurangnya pola makan masysrakat
sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih di dasarkan dalam pertimbangan
selera dibandingkan aspek gizi. Kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan
impor.(Sulistyoningsih, 2011).
b. Faktor Sosial Budaya
Pantangan dalam mengkonsumsi jenis makanan dapat dipengaruhi oleh faktor
budaya sosial dalam kepercayaan budaya adat daerah yang menjadi kebiasaan atau
adat. Kebudayaan di suatu masyarakat memiliki cara mengkonsumsi pola makan
dengan cara sendiri.
Dalam budaya mempunyai suatu cara bentuk macam pola makan seperti:dimakan,
bagaimana pengolahanya, persiapan dan penyajian, (Sulistyoningsih, 2011).
c. Agama
Dalam agama pola makan ialah suatu cara makan dengan diawali berdoa sebelum
makan dengan diawali makan mengunakan tangan kanan (Depkes RI, 2008).
d. Pendidikan
Dalam pendidikan pola makan iala salah satu pengetahuan, yang dipelajari dengan
berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan penentuan kebutuhan gizi
(Sulistyoningsih, 2011).
e. Lingkungan
Dalam lingkungan pola makan ialah berpengaruh terhadap pembentuk perilaku
makan berupa lingkungan keluarga melalui adanya promosi, media elektroni, dan
media cetak. (Sulistyoningsih, 2011).
f. Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ialah suatu cara seseorang yang mempunyai keterbiasaan makan
dalam jumlah tiga kali makan dengan frekuensi dan jenis makanan yang dimakan.
(Depkes,2009).
Menurut Willy (2011) mengatakan bahwa suatu penduduk mempunyai kebiasaan
makan dalam tiga kali sehari adalah kebiasaan makan dalam setiap waktu.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi
Kebutuhan gizi setiap golongan umur dapat dilihat pada angka kecukupan gizi yang di
anjurkan (AKG). Yang berdasarkan umur, pekerjaan, jenis kelamin, dan kondisi tempat
tinggal seperti yang disebutkan. (Sulistyoningsih, 2011).
a. Umur
Kebutuhan zat gizi pada orang dewasa berbeda dengan kebutuhan gizi pada usia
balita karena pada masa balita terjadi pertumbuhan dan perkembangan sangat
pesat. Semakin bertambah umur kebutuhan zat gizi seseorang lebih rendah untuk
tiap kilogram berat badan orang dewasa.
b. Aktifitas
Aktifitas dalam angka kecukupan gizi ialah suatu kegiatan seseorang yang
beraktifitas dalam menjalankan pekerjaan setiap hari.
c. Jenis Kelamin
Dalam angka kecukupan gizi pada jenis kalamin ialah untuk mengetahui identitas
seorang individu maupun sekelompok masyarakat.
d. Daerah Tempat Tinggal
Suatu penduduk yang bertinggal perkotaan atau pendesaan membutuhkan
pengetahuan tentang pola makan dengan cara yang benar dan baik dalam tempat
waktu makan teratur.

4. Pola Makan Seimbang


Pola makan seimbang adalah suatu cara pengaturan jumlah dan jenis makan dalam bentuk
susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi yang terdiri dari enam zat yaitu
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. dan keaneka ragam makanan.
Konsumsi pola makan seimbang merupakan susunan jumlah makanan yang dikonsumsi
dengan mengandung gizi seimbang dalam tubuh dan mengandung dua zat ialah: zat
pembagun dan zat pengatur.
Makan seimbang ialah makanan yang memiliki banyak kandungan gizi dan asupan gizi yang
terdapat pada makanan pokok, lauk hewani dan lauk nabati, sayur, dan buah. Jumlah dan
jenis Makanan sehari-hari ialah cara makan seseorang individu atau sekelompok orang
dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, sayuran,dan buah
frekuensi tiga kali sehari dengan makan selingan pagi dan [Link] mencapai gizi
tubuh yang cukup dan pola makan yang berlebihan dapat mengakibatkan kegemukan atau
obesitas pada tubuh.
Menu seimbang adalah makanan yang beraneka ragam yang memenuhi kebutuhan zat gizi
dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). (Depkes RI, 2006). Dalam bentuk penyajian
makanan dan bentuk hidangan makanan yang disajikan seprti hidangan pagi, hidangan
siang, dan hidangan malam dan menganung zat pembangun dan pengatur.
Bahan makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah
kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan dari hewani adalah telur, ikan, ayam, daging,
susu serta hasil olahan seperti keju. Zat pembangun berperan untuk perkembangan kualitas
tingkat kecerdasan seseorang.
Bahan makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur dan buah banyak mengandung
vitamin dan mineral yang berperan untuk melancarkan fungsi organ tubuh.
5. Konsumsi Makanan
Konsumsi makanan adalah susunan makanan yang merupakan suatu kebiasaan yang
dimakan seseorang dalam jenis dan jumlah bahan makanan setiap orang dalam hari yang
dikonsumsi atau dimakan dengan jangka waktu tertentu (Harap,VY. 2012).
Pengukuran Konsumsi Makanan Survey konsumsi makanan merupakan metode yang dapat
digunakan untuk menentukan status gizi perorangan atau kelompok. Tujuan survey
konsumsi makanan adalah untuk pengukuran jumlah makanan yang dikonsumsi pada
tingkat kelompok, rumah tangga dan perorangan,sehingga diketahui kebiasaan makan dan
dapat dinilai kecukupan makanan yang dikonsumsi seseorang.
a. Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan ialah seseorang atau suatu kebiasaan individu dalam keluarga
maupun dimasyarakat yang mempunyai cara makan dalam bentuk jenis makan,
jumlah nakan dan frekuensi makan meliputu: karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati,
sayur,dan buah yang dikonsumsi setiap hari. Menurut Sudirman (2010). Kebiasaan
sarapan pagi merupakan salah satu dasar dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang
(PUGS). Bahwa kebiasaan sarapan pagi suatu cara makan seseorang individu atau
sekelompok masyarakat yang baik karena sarapan pagi dapat menambah energi
yang cukup dan beraktifitas untuk meningkatkan produktifitas (Depkes RI, 2008).
b. Makanan Sehat
Makanan sehat adalah suatu makanan yang seimbang dengan beraneka
ragamdengan mengandung zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlahyang
cukup energi makan sehat dapat mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
berbagai jenis makanan yang mengandung banyak jumlah kalori. Hubungan
makanan dan kesehatan ialah salah satu jenis makanan yang banyak mengandung
zat yang dibutuhkan olehtubuh makanan merupakan suatu kebutuhan yang utama di
indonesia yang dikonsumsi sebagai makanan pokok mengandung zat gizi diantara
lain; lemak, Protein, mineral, vitamin, dan air.

B. Kerangka Teori
kiri
Pola makan :
Selalu
Sering
Kadang-kadang

Tengah
Variabel perancu
1. Faktor Makanan atau
Jajanan
2. Faktor Infeksi
3. Faktor Malabsorbsi
4. Faktor psikologis

Kanan
Diare

C. Kerangka Konsep

Kiri
Pola makan :
Selalu
Sering
Kadang-kadang

Kiri
Faktor –faktor
1. Faktor Makanan atau
Jajanan
2. Faktor Infeksi
3. Faktor Malabsorbsi
4. Faktor psikologis

Kanan
Diare

D.
Variabel dependen dan variabel independen

V.i : pola makan


V.d : diare
Hipotesa nol dan hipotesa alternatif

H.n : Tidak ada hubungan pola makan dengan kejadian diare


H.a : ada hubungan pola makan dengan kejadian diare

Variabel kategorik

No Variabel Skala Kriteria

1. Pola makan Ordinal Selalu, sring,


kadang kadang,
tidak pernah.

2. Diare Nominal Diare, tidak


diare.

Kerangka konsep

Definisi operasional

No Variabel Cara ukur Skala Hasil ukur

1. Pola makan Kuisioner Ordinal Selalu 1


Sering 2
Kadang-kadang 3

2. Diare Kuisioner Nominal Diare 1


Tidak diare 0

Anda mungkin juga menyukai