LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
NAMA : ADE SELVIANA
PNIM : N202201008
CI LAHAN CI INSTITUSI
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
2023
LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM BERDARAH DENGUE
A. Konsep Medis
1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
febril akut yang disertai dengan gejala pusing, nyeri otot dan tulang atau sendi,
bercak-bercak merah dikulit dan leukopenia. DBD dapat dikenal dengan
munculnya 4 gejala spesifik yaitu demam tinggi, hemoragic, hepatomegaly dan
kasus yang paling parah ditandai dengan adanya kegagalan pernafasan. Kejadian
DBD terparah dapat menimbulkan kematian
Demam Dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri
otot, sendi, dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Demam
berdarah dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah demam dengue
yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Family Flaviviridae,
dengan genusnya adalah Flavivirus. Virus mempunyai empat serotipe yang dikenal
dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai
tingkatan manifestasi yang berbeda tergantung dari serotipe virus dengue.
Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara tropis dan sub tropis.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
2. Etiologi
Penyebab penyakit DBD ini adalah “Virus Dengue” termasuk group B
Arthropodborn Virus (Arbovirusses) dan sekarang dikenal sebagai genus flavinus,
family flaviridiae dan mempunyai 4 serotype, yaitu: DEN I, DEN II, DEN III, dan
DEN IV. Infeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur
hidup terhadap serotype yang bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotype yang lain (Demam Berdarah Dengue, FK UI, Hal 80).
3. Manifestasi
Infeksi oleh virus dengue menimbulkan variasi gejala mulai sindroma virus
nonspesifik sampai perdarahan yang fatal. Gejala demam dengue tergantung pada
umur penderita, pada balita dan anak-anak kecil biasanya berupa demam, disertai
ruam-ruam makulopapular. Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa
dimulai dengan demam ringan, atau demam tinggi (> 39 derajat C) yang tiba-tiba
dan berlangsung 2-7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri
sendi dan otot, mual-muntah, dan ruam-ruam.
Bintik-bintik pendarahan di kulit sering terjadi, kadangkadang disertai
bintik- bintik pendarahan dipharynx dan konjungtiva. Penderita juga sering
mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk kanan
(costae dexter), dan nyeri seluruh perut. Kadang-kadang demam mencapai 40-41
derajat C, dan terjadi kejang demam pada balita.
DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa
penderitanya, oleh :
1) Demam tinggi yang terjadi tiba-tiba
2) Manifestasi pendarahan
3) Nepatomegali atau pembesaran hati
4) Kadang-kadang terjadi shock manifestasi pendarahan pada DHF, dimulai dari
test torniquet positif dan bintik-bintik pendarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae
ini bisa terjadi di seluruh anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi, juga bisa
terjadi pendarahan hidung, gusi, dan pendarahan dari saluran cerna, dan
pendarahan dalam urine.
Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokan menjadi 4 tingkat :
1) Derajat I : Demam diikuti gejala spesifik, satu-satunya manifestasi pendarahan
adalah test Terniquet yang positif atau mudah memar
2) Derajat II : Gejala yang ada pada tingkat 1 ditambah dengan pendarahan
spontan, pendarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain.
3) Derajat III : Kegagalan sirkulasi ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan
lemah, hipotensi, suhu tubuh rendah, kulit lembab, dan penderita gelisah.
4) Derajat IV : Shock berat dengan nadi yang tidak teraba, dan tekanan darah tidak
dapat di periksa, fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam
Setelah demam 2-7 hari, penurunan suhu biasanya disertai dengan tanda-
tanda gangguan sirkulasi darah, penderita berkeringat, gelisah, tangan dan kakinya
dingin dan mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi. Pada kasus yang
tidak terlalu berat gejala-gejala ini hampir tidak terlihat, menandakan kebocoran
plasma yang ringan.
Gejala klinis DBD pada awalnya muncul menyerupai gejala flu dan tifus
(typhoid), oleh karenanya seringkali dokter dan tenaga kesehatan lainnya juga
keliru dalam penegakkan diagnosa. Virus ini dipindahkan oleh nyamuk yang
terinfeksi saat mengisap darah orang tersebut. Setelah masuk ke dalam tubuh,
lewat kapiler darah virus melakukan perjalanan ke berbagai organ tubuh dan
berkembang biak. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 8-10 hari sejak
seseorang terserang virus dengue, sampai timbul gejala gejala demam berdarah
seperti:
1) Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38-40 derajat Celsius).
2) Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya bintik-bintik perdarahan.
3) Adanya bentuk perdarahan di kelopak mata bagian dalam (konjungtiva),
mimisan (epitaksis), buang air besar dengan kotoran (feses) berupa lender
bercampur darah (melena), dan lain-lainnya,
4) Adanya pembesaran hati (hepatomegali),
5) Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok,
6) Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 - 7 terjadi penurunan
trombosit dibawah 100.000 /mm3 (trombositopeni), terjadi peningkatan nilai
hematokrit diatas 20% dari nilai normal (hemokonsentrasi),
7) Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah,
penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan
sakit kepala,
8) Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi,
9) Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada
persendian,
10) Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah
4. Pathway
5. Patofisiologi
Patogenesis dan Patofisiologi, patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami
namun terdapat 2 perubahan patofisiologi yang menyolok, yaitu meningkatnya
permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan
terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran
plasma kedalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi
singkat (24-28 jam).
Hemostatis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan
koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan. Aktivasi sistem
komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan
C3a dan C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum
diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD. Namun demikian
peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada
DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan
dengan DD dijelaskan adanya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag
oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi dengue sebelumnya. Namun
demikian terdapat bukti bahwa faktor virus serta responsimun cell-mediated
terlibat juga dalam patogenesis DBD
6. Prognosis
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan
DHF tidak ada yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang
berat, shock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang.
Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan
bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian terjadi pada kasus berat yaitu
pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf, kardiovaskuler, pernapasan,
darah, dan organ lain.
Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :
1) Keterlambatan diagnosis
2) Keterlambatan diagnosis shock
3) Keterlambatan penanganan shock
4) Shock yang tidak teratasi
5) Kelebihan cairan
6) Kebocoran yang hebat
7) Pendarahan massif
8) Kegagalan banyak organ
9) Ensefalopati
10) Sepsis
11) Kegawatan karena tindakan
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terdiri dari :
a. Pencegahan
Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk flavivirus demam
berdarah. Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau
mengurangi vektor nyamuk demam berdarah.
Cara pencegahan DBD :
1) Bersihkan tempat penyimpanan air (bak mandi, WC)
2) Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air.
3) Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas (kaleng bekas,
botol bekas).
4) Tutuplah lubang-lubang, pagar pada pagar bambu dengan tanah.
5) Lipatlah pakaian atau kain yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk
tidak hinggap di situ.
6) Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin untuk membunuh jintik-jintik
nyamuk (hal ini diulangi setiap 2 sampai 3 bulan sekali).
b. Pengobatan
Pengobatan penderita demam berdarah adalah dengan cara :
1) Pengantian cairan tubuh
2) Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter sampai 2 liter dalam 24 jam.
3) Gastroenteritis oral solution atau kristal diare yaitu garam elektrolid (oralit
kalau perlu 1 sendok makan setiap 3 sampai 5 menit).
4) Penderita sebaiknya dirawat di rumah sakit diperlukan untuk mencegah
terjadinya syok yang dapat terjadi secara tepat.
5) Pemasangan infus NaCl atau Ringer melihat keperluanya dapat
ditambahkan, Plasma atau Plasma expander atau preparate hemasel.
6) Antibiotik diberikan bila ada dugaan infeksi sekunder
B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Menurut Nursalam (2013) dan Suriadi (2010) dalam Jurnal (Haerani et
al., 2020) yang mengatakan bahwa pengkajian yang muncul pada pasien DBD
adalah identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan penyakit
yang pernah diderita, riwayat imunisasi dan gizi, bagaimana kondisi lingkunan,
pola kebiasaan, pemeriksaan fisik, system integument, dan pemeriksaan
diagnostic. Menurut Wijaya dan Putri (2013) dalam jurnal (Jannah et al., 2019),
asuhan keperawatan pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu:
a. Identitas
Terdiri dari nama, umur, alamat, diagnose medis, tanggal masuk , keluarga
yang dapat dihubungi dan rekam medik.
b. Keadaan Umum
Terjadinya peningkatan suhu tubuh / demam dan disertai ruam macula
popular.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Umumnya klien dengan DHF datang ke Rumah Sakit dengan keluhan
demam akut 2–7 hari, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, malaise,
mual, muntah, sakit kepala, sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati,
pendarahan spontan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Diantara penyakit yang pernah diderita yang dahulu dengan penyakit DHF
yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF penyakit
itu berulang.
e. Riwayat Penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain, yang tinggal
didalam satu rumah / beda rumah dengan jarak yang berdekatan sangat
menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk.
f. Riwayat Penyakit Lingkungan
DHF ditularkan oleh 2 nyamuk yaitu: Aedes aeyipry dan Aedes albopiehis,
hidup dan berkembang biak didalam rumah yaitu pada tempat penampungan
air bersih seperti kaleng bekas, bak mandi yang jarang dibersihkan.
g. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem pernafasan
Tidak ada gangguan dalam pernafasan.
b. Sistem persyarafan
Gangguan dalam sistem persyarafan adalah terdapat respon nyeri.
c. Sistem cardiofaskuler
Terjadi pendarahan dan kegagalan sirkulasi.
d. Sistem pencernaan
Terjadi anorexia, mual dan muntah.
e. Sistem otot dan integumen
Ditemukan peteckie, pegal-pegal pada seluruh tubuh.
f. Sistem eliminasi
Terjadi gangguan pada sistem eliminasi alvi yaitu terjadi konstipasi.
2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik
berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan kesehatan. Diagnosa keperawatan yang sering
muncul pada kasus DBD yaitu (Erdin 2018) (SDKI DPP PPNI 2017)
a. Hipertemia b.d proses penyakit
b. Hipovelemia b.d peningkatan permeabilitas kapiler
c. Nyeri akut b.d agen pencedera biologis
3. Intervensi
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh
perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai
luaran (outcome) yang diharapkan (SIKI DPP PPNI 2018) (SLKI DPP PPNI
2019)
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Hipertemia b.d Termoregulasi Manajemen Hipertermia
membaik,
proses dengan 1. Observasi
penyakit kriteria hasil: a. Identifikasi penyebab
a. Menggigil
hipertermia
menurun
b. Kulit merah ([Link], terpapar
menurun lingkungan panas,
c. Akrosianosia
penggunaan incubator)
menurun
d. Pucat menurun b. Monitor suhu tubuh
e. Takikardia c. Monitor kadar elektrolit
menurun
d. Monitor haluaran urine
f. Suhu tubuh
menurun e. Monitor komplikasi
g. Turgor kulit akibat hipertermia
membaik 2. Terapeutik
a. Sediakan lingkungan
yang nyaman
b. Longgarkan atau
lepaskan pakaian
c. Basahi dan kipasi
perrmukaan tubuh
d. Berikan cairan oral
e. Ganti linen setiap hari
atau lebih sering jika
mengalami hyperhidrosis
(keringat berlebih)
f. Lakukan pendinginan
eksternal (mis. Selimut
hipotermia atau kompres
dingin pada dahi, leher,
dada, abdomen, aksila)
g. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
h. Berikan Oksigen, jika
perlu
3. Edukasi
Anjurkan tirah baring
4. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
cairan elektrolit dan
intravena, jika perlu
2 Hipovelemia Status Cairan Manajemen Hipovolemia
b.d membaik dengan 1. Observasi
peningkatan kriteria hasil : a. Periksa tanda dan gejala
permeabilitas a. Turgor hypovolemia (mis.
frekuensi nadi
kapiler kulit meningkat
meningkat, nadi terasa
b. Perasaan lemah, tekanan darah
lemah menurun menurun, tekanan nadi
menyempit, turgor kulit
c. Frekuensi
menurun, membrane
nadi membaik mukosa kering, volume
d. Tekanan urin menurun,
hematokrit meningkat,
darah membaik
haus, lemah)
e. Membran b. Monitor intake dan
mukosa membaik output cairan
2. Terapeutik
a. Hitung kebutuhan cairan
b. Berikan posisi modified
Trendelenburg
c. Berikan asupan cairan
oral
3. Edukasi
a. Anjurkan
memperbanyak asupan
cairan oral
b. Anjurkan menghindari
perubahan posisi
mendadak
4. Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian
cairan IV isotonis(mis.
NaCL, RL)
b. Kolaborasi pemberian
cairan IV Hipotonis
(mis. glukosa 2,5%,
NaCl 0,4%
c. Kolaborasi pemberian
cairan koloid (mis.
albumin, plasmanate)
d. Kolaborasi pemberian
produk darah
3 Nyeri akut b.d Nyeri akut menurun Manajemen nyeri
agen 1. Observasi
pencedera a. Identifikasi tingkat,
biologis lokasi,
karakteristik,kualitas,
frekwensidan faktor
pencetus nyeri
b. Observasi isyarat
nonverbal
ketidaknyamanan
2. Terapeutik
a. Berikan tindakan
nyaman misalnya ubah
posisi yang membuat
pasien merasa nyaman
b. Berikan informasi
tentang nyeri seperti
penyebab nyeri dan
berapa lama akan
berlangsung
3. Edukasi
Ajarkan penggunaan
tekhnik nonfarmakologi
manajemen nyeri (misalnya
imajinasi terbimbing,
distraksi, kompres hangat
atau dingin dan massase
4. Kolaborasi
Pemberian analgetik
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian rencana tidnakan yang
telah perawat lakukan untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan
yaitu peningkatan status Kesehatan, mencegah penyakit membantu dalam
pemulihan Kesehatan serta memfasilitasi koping. Tahap implementasi dimulai
dengan penyusunan rencana tindakan lalu dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan dengan tujuan membantu klien mencapai (Haerani et al., 2020)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses pemberian asuhan
keperawatan yang meliputi aktivitas yang telah direncanakan, berkelanjutan
serta terarah. Evaluasi sangatlah penting dalam pemberian asuhan
keperawatan karena kesimpulan yang dari evalusi merupakan penentuan untuk
keberlanjutan dari perencanaan, apakah perlu dilakukan modifikasi, diakhiri
maupun perencanaan dilanjutkan (Leniwita et al., 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Christanti Effendy, 1995. Perawatan Pasien DHF. Penerbit buku Kedokteran EGC,
Jakarta
Doenges Marylinn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, penerbit buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
H.M. Sjaeffollah Noer, dkk., 1996. Buku Ajar Penyakit Dalam. Edisi ketiga, balai
penerbit FKUI, Jakarta.
Sri Reseki H. Hadinegoro, dkk., 1999. Demam Berdarah Dengue Naskah Lengkap.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.