0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan19 halaman

Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Dokumen ini membahas konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, model layanan pendidikan untuk anak tersebut, dan pengertian pendidikan inklusif. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Diunggah oleh

Tomi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan19 halaman

Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Dokumen ini membahas konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, model layanan pendidikan untuk anak tersebut, dan pengertian pendidikan inklusif. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Diunggah oleh

Tomi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Dosen Pengampu:

Drs. Purnomo, M. Pd.

Oleh :

Tomi Cahyono (1401418130 / 19)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Layanan pendidikan merupakan satu kajian penting untuk memenuhi kebutuhan
anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis
dan karakteristiknya, dan membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya.
Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan
pendidikan yang dibutuhkan. Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan
guru dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namun apabila guru
telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang
baik, maka akan dapat dilakukan secara optimal.
Berbagai model atau bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus yang mengalami kecacatan fisik, yaitu tunanetra, tunarungu/wicara, tuna daksa,
tunamental, tunalaras, dan anak berbakat.
Untuk mengenal lebih lanjut layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus terlebih dahulu akan diuraikan beberapa bentuk atau
jenis layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus secara umum dan khusus.
Pendidikan inklusif merupakan suatu sistem layanan pendidikan khusus yang
mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah
terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Hal ini berkenaan dengan
adanya hak setiap anak untu memperoleh pendidikan yang baik.

B. Rumusan Masalah
Ada pun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
2. Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
3. Apa yang di maksud dengan Pendidikan Inklusif

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan yang ingin di peroleh dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak
Berkebutuhan Khusus.
2. Untuk mengetahui bentuk atau Model Layanan Pendidikan Bagi Anak
Berkebutuhan Khusus.
3. Untuk mengetahui apa itu Pendidikan Inklusif.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus


1. Pengertian Layanan
Untuk memahami konsep dan makna layanan secara komprehensif, baik
secara umum maupun secara khusus, maka beberapa ilustrasi berikut ini dapat saudara
perhatikan dengan seksama
Ilustrasi 1
Bagus adalah seorang mahasiswa yang sering mengeluh terhadap tenaga administrasi
di kampusnya yang sering terlambat dalam memberikan layanan. Seharusnya sebagai
tenaga yang profesional dapat memberikan layanan yang memuaskan, agar aktivitas
studinya tidak terhambat.
Ilustrasi 2
Sebagai seorang pelayan supermarket, Rina senantiasa menyapa dan melayani
kebutuhan para pengunjung yang datang dengan ramah, agar dengan begitu
pengunjung dapat berbelanja dengan nyaman dan tenang. Aktivitas yang demikian
memang sudah menjadi kewajiban bagi seorang pelayan yang baik, yang dapat
memuaskan para pengunjung dan meningkatkan citra perusahaan.
Ilustrasi 3
Suatu hari, seorang ibu beserta seorang anak datang ke sebuah biro konsultasi
pendidikan yang mengeluhkan kondisi anaknya yang mengalami kelambanan dalam
berbicara, padahal anak sudah berusia 5 tahun dan mengharapkan adanya layanan
yang dapat mengatasi masalah anak tersebut. Seorang tenaga membantu memberikan
layanan untuk membina kemampuan berbicara, sampai perkembangan berbicara dan
berbahasa anak menjadi baik. Pada akhirnya orangtua merasa puas mendapat layanan
yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah anaknya.

Dari ketiga ilustrasi yang ditampilkan tersebut, dapat saudara cermati bahwa
konsep layanan memiliki arti yang sama meskipun dalam konteks kegiatan yang
berbeda, yaitu suatu jasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya. Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan
sebagai (1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan
memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual
beli jasa atau barang. Sebagaimana dalam ketiga ilustrasi di atas, bahwa masing-
masing saling membutuhkan dan memberi layanan. Bagus dan orangtua anak adalah
contoh orang membutuhkan layanan, sedang Rina dan tenaga biro merupakan contoh
orang yang memberikan jasa layanan. Dengan demikian, sesungguhnya dalam layanan
terdapat hubungan timbal-balik antara yang memberi layanan dan yang membutuhkan
layanan, jadi layanan diberikan berdasarkan kebutuhan.

2. Layanan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami keterbatasan
atau hambatan dalam segi fisik, mental-intelektual, maupun sosial emosional. Kondisi
yang demikian, baik secara langsung atau tidak berdampak pada berbagai aspek
kehidupan mereka. Untuk itu layanan sangat diperlukan bagi mereka, untuk dapat
menjalani kehidupannya secara wajar.
Secara umum kondisi anak-anak berkebutuhan khusus memang berbeda dengan
anak-anak pada umumnya. Namun keadaan yang demikian, bukan berarti layanan yang
diberikan selalu berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Mungkin saja anak-anak
berkebutuhan khusus secara umum memerlukan layanan sebagaimana anak-anak pada
umumnya (ini juga dapat lihat pada standar isi kurikulum 2005 yang terstandarkan
untuk anak tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunalaras), dan hanya pada beberapa
bidang yang memerlukan layanan atau pendampingan khusus.
Artinya, untuk beberapa jenis anak berkebutuhan tersebut sebagian besar dapat
mengikuti layanan pendidikan sebagaimana anak-anak normal pada umumnya.
Kendati demikian, tentu ada anak-anak berkebutuhan khusus yang memang
memerlukan layanan individual, karena kondisi dan keadaannya yang tidak
memungkinkan untuk mengikuti layanan sebagaimana anak-anak normal.
Dari segi waktu, pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga
sangat bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan
sepanjang hidupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat temporer. Anak-anak
mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa periode waktu. Contohnya:
anak-anak tunanetra membutuhkan layanan orientasi dan mobilitas hanya diperlukan
pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar. Demikian juga bina komunikasi untuk
anak tunarungu, bina diri dan gerak untuk anak tunadaksa, bina diri dan sosial untuk
anak tunalaras. Namun untuk anak-anak yang berklasifikasi berat, memerlukan
berbagai layanan yang lebih lama untuk menumbuhkan kemandirian mereka.
Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak
berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Namun secara
umum akan mencakup:
1) layanan medis dan fisiologis,
2) layanan sosial-psikologis, dan
3) layanan pedagogis/pendidikan.
Beberapa jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang kompeten pada
bidangnya masing-masing, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan anak.

B. Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus


Berbagai model atau bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang
mengalami kecacatan fisik, yaitu tunanetra, tunarungu/wicara, tuna daksa, tunamental,
tunalaras, dan anak berbakat.
Untuk mengenal lebih lanjut layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
terlebih dahulu akan diuraikan beberapa bentuk atau jenis layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus secara umum dan khusus.

C. Bentuk Layanan
Menurut Hallahan dan Kauffman (1991) bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus ada berbagai pilihan, yaitu:
1. Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa)
2. Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB)
3. Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung).
4. Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam
beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber).
5. Pusat Diagnostik-Prescriptif .
6. Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit,
yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa).
7. Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB)
8. Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)
9. Residential School (Sekolah luar biasa berasrama).
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:
1. Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi
Sistem layanan pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari
sistem pendidikan anak normal. Pendidikan anak berkebutuhan khusus melalui sistem
segregasi maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara
khusus, dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak normal. Dengan
kata lain anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga
pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus, seperti Sekolah Luar Biasa atau
Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menangah
Atas Luar Biasa. Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem pendidikan yang
paling tua. Pada awal pelaksanaan, sistem ini diselenggarakan karena adanya
kekhawatiran atau keraguan terhadap kemampuan anak berkebutuhan
khusus untuk belajar bersama dengan anak normal. Selain itu,
adanya kelainan fungsi tertentu pada anak berkebutuhan
khusus memerlukan layanan pendidikan dengan menggunakan metode yang
sesuai dengan kebutuhan khusus mereka.
Misalnya, untuk anak tunanetra, mereka memerlukan layanan khusus berupa braille,
orientasi mobilitas. Anak tunarungu memerlukan komunikasi total, bina persepsi
bunyi; anak tunadaksa memerlukan layanan mobilisasi dan aksesibilitas, dan layanan
terapi untuk mendukung fungsi fisiknya.
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:
1) Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk
SLB merupakan bentuk unit pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah mulai
dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu
unit sekolah dengan satu kepala sekolah.
Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit
ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja),
sehingga ada SLB untuk tunanetra (SLB-A), SLB untuk tunarungu (SLB-B),
SLB untuk tunagrahita (SLB-C), SLB untuk tunadaksa (SLB-D), dan SLB untuk
tunalaras (SLB-E). Di setiap SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar,
dan tingkat lanjut. Sistem pengajarannya lebih mengarah ke sistem individualisasi.
Selain, ada SLB yang hanya mendidik satu kelainan saja, ada pula SLB yang
mendidik lebih dari satu kelainan, sehingga muncul SLB-BC yaitu SLB untuk
anak tunarungu dan tunagrahita; SLB-ABCD, yaitu SLB untuk anak tunanetra,
tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang
ada di unit tersebut sedikit dan fasilitas sekolah terbatas.
2) Sekolah Luar Biasa Berasrama
Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang
dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama.
Pengelolaan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah,
sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut,
serta unit asrama. Bentuk satuan pendidikannyapun juga sama dengan bentuk SLB
di atas, sehingga ada SLB-A untuk anak tunanetra, SLB-B untuk anak tunarungu,
SLB-C untuk anak tunagrahita, SLB-D untuk anak tunadaksa, dan SLB-E untuk
anak tunalaras, serta SLB-AB untuk anak tunanetra dan tunarungu. Pada SLB
berasrama, terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada di
sekolah dengan di asrama, sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah
anak di sekolah. Selain itu, SLB berasrama merupakan pilihan sekolah yang
sesuai bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah, karena mereka terbatas
fasilitas antar jemput.
3) Kelas jauh/Kelas Kunjung
Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi
pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB
atau SDLB. Pengelenggaraan kelasjauh/kelas kunjung merupakan kebijaksanaan
pemerintah dalam rangka menuntaskan wajib belajar serta pemerataan kesempatan
belajar.
Anak berkebutuhan khusus tersebar di seluruh pelosok tanah air, sedangkan
sekolah-sekolah yang khusus mendidik mereka masih sangat terbatas
dikota/kabupaten. Oleh karena itu, dengan adanya kelas jauh/kelas kunjung ini
diharapkan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus semakin luas.
Dalam penyelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung menjadi tanggung jawab SLB
terdekatnya. Tenaga guru yang bertugas di kelas tersebut berasal dari guru SLB-
SLB di dekatnya. Mereka berfungsi sebagai guru kunjung (itenerant teacher).
Kegiatan administrasinya dilaksanakan di SLB terdekat tersebut.
4) Sekolah Dasar Luar Biasa
Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan
khusus, pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar Luar Biasa
(SDLB). Di SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan
yang dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, dan tunadaksa.
Tenaga kependidikan di SDLB terdiri dari kepala sekolah, guru untuk anak
tunanetra, guru untuk anak tunarungu, guru untuk anak tunagrahita, guru untuk anak
tunadaksa, guru agama, dan guru olahraga. Selain tenaga kependidikan, di SDLB
dilengkapai dengan tenaga ahli yang berkaitan dengan kelainan mereka antara lain
dokter umum, dokter spesialis, fisiotherapis, psikolog, speech therapist, audiolog.
Selain itu ada tenaga administrasi dan penjaga sekolah. Kurikulum yang
digunakan di SDLB adalah kurikulum yang digunakan di SLB untuk tingkat
dasar yang disesuikan dengan kekhususannya. Kegiatan belajar dilakukan secara
individual, kelompok, dan klasikal sesuai dengan ketunaan masing-masing.
Pendekatan yang dipakai juga lebih ke pendekatan individualisasi. Selain kegiatan
pembelajaran, dalam rangka rehabilitasi di SDLB juga diselenggarakan pelayanan
khusus sesuai dengan ketunaan anak. Anak tunanetra memperoleh latihan menulis
dan membaca braille dan orientasi mobilitas; anak tunarungu memperoleh latihan
membaca ujaran, komunikasi total, bina persepsi bunyi dan irama; anak tudagrahita
memperoleh layanan mengurus diri sendiri; dan anak tunadaksa memperoleh
layanan fisioterapi dan latihan koordinasi motorik.
Lama pendidikan di SDLB sama dengan lama pendidikan di SLB
konvensional untuk tingka dasar, yaitu anak tunanetra, tunagrahita, dan tunadaksa
selama 6 tahun, dan untuk anak tunarungu 8 tahun. Sejalan dengan perbaikan
sistem perundangan di RI, yaitu UU RI No. 2 tahun 1989 dan PP No. 72 tahun
1991, dalam pasal 4 PP No. 72 tahun 1991 satuan pendidikan luar biasa terdiri dari:
a. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dengan lama pendidikan minimal 6 tahun.
b. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) minimal 3 tahun.
c. Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) minimal 3 tahun.
Selain itu, pada pasal 6 PP No. 72 tahun 1991 juga dimungkinkan pengelenggaraan
Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB) dengan lama pendidikan 1-3 tahun.
2. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi
Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-
sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan demikian, melalui sistem
integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan anak normal belajar dalam
satu atap.
Sistem pendidikan integrasi disebut juga sistem pendidikan terpadu, yaitu
sistem pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana
keterpaduan dengan anak normal. Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh,
sebagaian, atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi.
Pada sistem keterpaduan secara penuh dan sebagaian, jumlah anak
berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10 % dari jumlah siswa keseluruhan.
Selain itu dalam satu kelas hanya ada satu jenis kelainan. Hal ini untuk menjaga agar
beban guru kelas tidak terlalu berat, dibanding jika guru harus melayani berbagai
macam kelainan.
Untuk membantu kesulitan yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus, di
sekolah terpadu disediakan Guru Pembimbing Khusus (GPK). GPK dapat
berfungi sebagai konsultan bagi guru kelas, kepala sekolah, atau anak berkebutuhan
khusus itu sendiri. Selain itu, GPK juga berfungsi sebagai pembimbing di ruang
bimbingan khusus atau guru kelas pada kelas khusus. Ada tiga bentuk
keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut
Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
1) Bentuk Kelas Biasa
Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa
secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. Oleh karena itu sangat
diharapkan adanya pelayanan dan bantuan guru kelas atau guru bidang
studi semaksimal mungkin dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk khusus
dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas biasa.
Bentuk keterpaduan ini sering juga disebut keterpaduan penuh. Dalam
keterpaduan ini guru pembimbing khusus hanya berfungsi sebagai konsultan bagi
kepala sekolah, guru kelas/guru bidang studi, atau orangtua anak berkebutuhan
khusus. Seagai konsultasn, guru pembimbing khusus berfungsi sebagai
penasehat mengenai kurikulum, maupun permasalahan dalam mengajar anak
berkebutuhan khusus. Oleh karena itu perlu disediakan ruang konsultasi untuk
guru pembimbing khusus. Pendekatan, metode, cara penilaian yang digunakan
pada kelas biasa ini tidak berbeda dengan yang digunakan pada sekolah umum.
Tetapi untuk beberapa mata pelajaran yang disesuaikan dengan ketunaan anak.
Misalnya, anak tunanetra untuk pelajaran menggambar, matematika, menulis,
membaca perlu disesuaikan dengan kondisi anak. Untuk anak tunarungu mata
pelajaran kesenian, bahasa asing/bahasa Indonesia (lisan) perlu
disesuaikan dengan kemampuan wicara anak.
2) Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus
Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan
menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata
pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama
dengan anak normal.
Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang bimbingan khusus oleh guru
pembimbing khusus (GPK), dengan menggunakan pendekatan individu dan
metode peragaan yang sesuai. Untuk keperluan tersebut, di ruang bimbingan
khusus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk memberikan latihan dan
bimbingan khusus. Misalnya untuk anak tunanetra, di ruang bimbingan
khusus disediakan alat tulis braille, peralatan orientasi mobilitas.
Keterpaduan pada tingkat ini sering disebut juga keterpaduan sebagian.
3) Bentuk Kelas Khusus
Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti
pendidikan sama dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada
sekolah umum yang melaksanakan program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini
disebut juga keterpaduan lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat
sosialisasi.
Pada tingkat keterpaduan ini, guru pembimbing khusus berfungsi
sebagai pelaksana program di kelas khusus. Pendekatan, metode, dan cara
penilaian yang digunakan adalah pendekatan, metode, dan cara penilaian yang
biasa digunakan di SLB. Keterpaduan pada tingkat ini hanya bersifat fisik dan
sosial, artinya anak berkebutuhan khusus dapat dipadukan untk kegiatan yang
bersifat non akademik, seperti olahraga, keterampilan, juga sosialisasi pada waktu
jam-jam istirahat atau acara lain yang diadakan oleh sekolah.

3. Pendidikan Inklusi
1. Pengertian Pendidikan Inklusif
konsep inklusif lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan
pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan inklusif menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil (1994/1995)
didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan
agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas
biasa bersama teman-teman seusianya. Untuk itu perlu adanya restrukturisasi di
sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan
khusus bagi setiap anak. Sejalan dengan konsep ini, Smith (2006:45)
mengemukakan, bahwa inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang
mengalami hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep
diri (visi-misi) sekolah. Gagasan utama mengenai pendidikan inklusif ini menurut
Johnsen 2003:181), adalah sebagai berikut:
 Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan
kelas dan kelompok reguler.
 Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang
kooperatif, individualisasi pendidikan dan fleksibilitas dalam pilihan materinya.
 Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi
pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum, khusus dan individual, dan
memiliki pengetahuan tentang cara menghargai tentang pluralitas perbedaan
individual dalam mengatur aktivitas kelas.

Pendidikan inklusif mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan


pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya, tanpa
memandang derajat, kondisi ekonomi, ataupun kelainannya. Penting bagi guru
untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan
bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki pandangan
pendidikan yang komprehensif , yang terpusat pada anak. Meskipun mungkin masih
memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan
di sekolah.
Kesadaran tersebut juga perlu dibangun, terutama berkenaan dengan
pengembangan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
anak secara individual. Ini didasari atas pertimbangan, bahwa anak memiliki hak
untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan potensi dan
kebutuhannya. Mereka juga memiliki hak untuk belajar bersama dengan teman-
teman sebayanya.
2. Implementasi Inklusif
Ada beberapa faktor yang harus dipertimbagkan dalam implementasi
pendidikan inklusif, beberapa faktor dimaksud menurut skjorten, Miriam D
(2003:52-58) adalah;
1) Kebijakan – hukum- undang-undang – ekonomi, yaitu perlunya ada undang-
undang khusus yang mengakomodasi kepentingan anak berkebutuhan khusus,
sertu dukungan dana dalam implementasinya;
2) Sikap – pengalaman- pengetahuan, yaitu berkenaan dengan pengakuan hak anak
serta kemampuan dan potensinya;
3) Kurikulum lokal, reginal, dan nasional;
4) Perubahan pendidikan yang potensial, inklusi harus didukung oleh reorientasi
di lapangan, dalam bidang pendidikan guru dan penelitian;
5) Kerjasama lintas sektoral;
6) Adaptasi lingkungan, dan
7) Penciptaan lapangan kerja.

Di Indonesia sendiri Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah didasarkan


pada beberapa landasan, filosofis dan yuridis-empiris. Secara
filosofis, implementasi inklusi mengacu pada beberapa hal, diantaranya, bahwa:
1) Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan
khusus.
2) Anak adalah pribadi yang unik yang memiliki karakteristik,
minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda.
3) Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang
tua masyarakat dan pemerintah.
4) Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak
5) Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang ada di lingkungan
sekitarnya

Sedangkan landasan yuridis-empirisnya mengacu pada:


1) UUSPN No 20 tahun 2003, Pasal 5 Ayat (1), (2)
2) UUD 1945 pasal 31 ayat (1) & (2). dan (3)
3) Permen No 22 dan 23 Tahun 2006
4) Deklarasi Hak Asasi Manusia, 1948
5) Konvensi Hak Anak, 1989
6) Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, 1990
7) Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang
8) Persamaan Kesempatan bagi Orang Berkelainan
9) Pernyataan Salamanca (1994) tentang Pendidikan Inklusi Komitmen Dakar
(2000) mengenai Pendidikan untuk Semua Deklarasi Bandung (2004) &
Rekomendasi Bukittinggi (2005) komitmen “pendidikan inklusif”.

Kendati demikian, selama ini masih ada beberapa persoalan prinsip yang
menyangkut pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah. Di satu sisi, sesuai dengan
perundangan yang ada pendidikan inklusif hanya berlaku bagi anak-anak
berkebutuhan khusus yang kemampuan intelektualnya tidak berada di bawah rata-
rata. Sedangkan secara konsep filosofis, sebenarnya inklusi adalah wadah semua
anak berkebutuhan khusus, termasuk diantaranya anak-anak yang kemampuan
intelektualnya berada di bawah rata-rata.
3. Sekolah Penyelenggara
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi harus menciptakan lingkungan yang
ramah terhadap pembelajaran, yang memungkinkan semua siswa dapat belajar
dengan nyaman dan menyenangkan. Berbagai metode, atau strategi belajar sangat
mungkin dikembangkan pada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi,
untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. Adanya
penghargaan terhadap diri anak, memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri
anak, dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik.
Ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki guru pendidikan inklusi,
sebagaimana dikemukakan Mirriam S (2005), yaitu :
1) Pengetahuan tentang perkembangan anak.
2) Pemahaman akan kebutuhan dan nilai interaksi komunikasi dan pentingnya
dialog di kelas.
3) Pemahaman akan pentingnya mendorong rasa penghargaan diri anak berkaitan
dengan perkembangan, motivasi dan belajar melalui suatu interaksi positif dan
berorientasikan sumber.
4) Pemahaman tentang ”Konvensi Hak Anak” dan implikasinya terhadap
implementasi pendidikan dan perkembangan semua anak.
5) Pemahaman tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang ramah
6) terhadap pembelajaran yang berkaitan dengan isi, hubungan sosial, pendekatan
dan metode dan bahan pembelajaran.
7) Pemahaman arti pentingnya belajar aktif dan pengembangan pemikiran kreatif
dan logis.
 Pemahaman pentingnya evaluasi dan asesmen berkesinambungan oleh
guru.
 Pemahaman konsep inklusi dan pengayaan serta cara pelaksanaan inklusi
dan pembelajaran yang berdeferensi.
 Pemahaman terhadap hambatan belajar termasuk yang disebabkan oleh
 kecacatan fisik atau mental.
 Pemahaman konsep pendidikan berkualitas dan kebutuhan akan
implementasi pendekatan dan metode baru.

Kurikulum yang diterapkan, dapat menggunakan kurikulum tingkat satuan


pendidikan (KTSP) dikembangkan sekolah sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh, modifikasi, atau secara khusus
dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak
berkebutuhan khusus. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping
khusus, yang bisa didatangkan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB)
sebagai sekolah basis, ataupun guru di sekolah umum yang telah memperoleh
pelatihan khusus sebagai guru pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus
di sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kami simpulkan bahwa Layanan pada kakikatnya
merupakan bentuk jasa yang diberikan oleh seseorang,institusi atau perusahaan kepada
orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dalam konteks anak berkebutuhan
khusus, layanan diberikan kepada anak-anak yang mengalami kelainan, baik dari segi fisik,
mental-intelektual, dan sosial-emosional sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang
diberikan. Selama ini pemerintah maupun swasta telah banyak memberiakan layanan
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dalam berbagai bentuk dan [Link] itu
dukungan fasilitas dan ketenagaan (SDM) yang tidak sedikit dalam upaya pembinaan dan
pelayanan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus selama ini
Bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat
dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:
1. Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:
a. Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk
SLB merupakan bentuk unit pendidikan.
b. Sekolah Luar Biasa Berasrama Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan
bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas asrama.
c. Kelas jauh/Kelas Kunjung
Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi
pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB
atau SDLB.
d. Sekolah Dasar Luar Biasa
SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang
dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, dan tunadaksa. Tenaga kependidikan di SDLB terdiri dari kepala
sekolah, guru untuk anak tunanetra, guru untuk anak tunarungu, guru untuk anak
tunagrahita, guru untuk anak tunadaksa, guru agama, dan guru olahraga.
2. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi
Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-
sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum.
Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus menurut Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
a. Bentuk Kelas Biasa
Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa
secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa.
b. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus Pada keterpaduan ini, anak
berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa
serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak dapat
diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal.
c. Bentuk Kelas Khusus
Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan
kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum yang melaksanakan
program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan lokal/bangunan
atau keterpaduan yang bersifat sosialisasi.
Pendidikan inklusif merupakan suatu sistem layanan pendidikan khusus yang
mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat
di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Hal ini berkenaan dengan adanya hak setiap
anak untu memperoleh pendidikan yang baik. Pendidikan inklusi mempercayai bahwa
semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau
perkembangannya, tanpa memandang derajat, kondisi ekonomi, ataupun
kelainannya. Penting bagi guru untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat
penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki
pandangan pendidikan yang komprehensif , yang terpusat pada anak.
Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus
yang akanditerapkan di sekolah. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi juga harus
menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, yang memungkinkan semua
siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Berbagai metode, atau strategi
belajar sangat mungkin dikembangkan pada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan
inklusi, untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. Adanya
penghargaan terhadap diri anak, memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak,
dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik Kurikulum, dapat menggunakan
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dikembangkan sekolah sesuai dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh, modifikasi, atau secara
khusus dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak
berkebutuhan khusus. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping khusus, yang
bisa didatangkan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB) sebagai sekolah
basis, ataupun guru di sekolah umum yang telah memperoleh pelatihan khusus sebagai guru
pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum penyelenggara
pendidikan inklusif.
DAFTAR PUSTAKA

Suparno. 2007. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Departemen Pendidikan nasional,


Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi

Karakteristik ABK
[Link]
20ABK%20%2BUNIT%[Link]?forcedownload=1 Di akses pada tanggal 7 April 2021

Layanan ABK di SD
[Link]
BK%20di%20SD%20%2BUNIT%[Link]?forcedownload=1 Di akses pada tanggal 7
April 2021

Layanan Pendidikan ABK


[Link]
ndidikan%20ABK%20%2BUNIT%[Link]?forcedownload=1 Di akses pada tanggal 7
April 2021

Anda mungkin juga menyukai