0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan36 halaman

Pipa Tersier dalam Sistem Distribusi Air

Bab ini membahas tentang definisi air bersih, kebutuhan air, sistem transmisi, dan persyaratan dalam penyediaan air bersih seperti kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Diunggah oleh

Widya Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan36 halaman

Pipa Tersier dalam Sistem Distribusi Air

Bab ini membahas tentang definisi air bersih, kebutuhan air, sistem transmisi, dan persyaratan dalam penyediaan air bersih seperti kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Diunggah oleh

Widya Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Definisi Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan

menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air

bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi system penyediaan air minum.

Adapun persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas fisik,

kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan

efek samping ketentuan umum permenkes No.416/ Menkes/PER/IX/1990.

2.2. Kebutuhan Air

Kebutuhan air adalah banyaknya jumlah air yang dibutuhkan untuk keperluan

rumah tangga, industri dan lain-lain. Prioritas kebutuhan air meliputi kebutuhan

air domestic, industry dan pelayanan umum. (Moegijantoro, 1996)

Kebutuhan air merupakan jumlah air yang diperlukan secara wajar untuk

keperluan pokok manusia (domestik) dan kegiatan lainnya yang memerlukkan air,

kebutuhan air menentukkan besaran system dan ditetapkan berdasarkan

pemakaian air. (PERPAMSI, 1994)

Untuk merumuskan penggunaan air oleh masing-masing komponen secara pasti

sulit dilakukan sehingga dalam perencanaan dan perhitungan digunakan asumsi-

asumsi atau pendekatan-pendekatan berdasarkan kategori kota seperti table 2.2.

Kebutuhan air dikategorikan dalam kebutuhan air domestic dan non domestic,

kebutuhan air domestic adalah kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan

rumah tangga yaitu untuk keperluan minum, memasak, mandi, mencuci pakaian

8
9

serta keperluan lainnya. Sedangkan kebutuhan air non domestic digunakan untuk

kebutuhan komersil seperti industry, perkantoran, maupun kegiatan social seperti

sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan niaga. Dalam evaluasi disesuaikan

dengan standard Ditjen Cipta Karya (DPU), 1996 pada table 2.1. dan juga sarana

Tabel 2.1. Kebutuhan Air Non Domestik


NO Fasilitas Standar Kebutuhan
1 Sekolah 10 L/murid/hari
2 Rumah Sakit 200 L/tt/hari
3 Puskesmas 2 m³/hari
4 Masjid sampai 2 m³/hari
5 Kantor 10 L/pegawai/hari
6 Pasar 12 m³/ha/hari
7 Hotel 150 L/tt/hari
8 Rumah Makan 100 L/td/hari
9 Komplek Militer 60 L/o/hari
10 Kawasan Industri 0,2 - 0,8 L/ha/detik
Sumber ; Dirjen Cipta Karya, PU, 1996

Tabel 2.2. Kebutuhan Air Domestik


KATEGORI KOTA BERDASARKAN JUMLAH
JIWA
500.000
100.000 20.000
NO URAIAN >1.000.0 S/D
S/D S/D <20.000
00 1.000.00
500.00 100.00
0
METRO BESAR SEDANG KECIL DESA
1 Konsumsi unit 190 170 130 100 80
sambungan
rumah (SR)
L/o/h
2 Konsumsi unit 30 30 30 30 30
hidran umum
(HU) l/o/h
3 Konsumsi unit 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30
non domestic
l/o/h (%)
4 Kehilangan air 20-30 20-30 20-30 20-30 20-30
(%)
5 Faktor hari 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
maksimum
6 Faktor jam 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
puncak
10

Sambungan tabel 2.2

KATEGORI KOTA BERDASARKAN JUMLAH


JIWA
500.000
100.000 20.000
NO URAIAN >1.000.0 S/D
S/D S/D <20.000
00 1.000.00
500.00 100.00
0
METRO BESAR SEDANG KECIL DESA
7 Jumlah jiwa 5 5 5 5 5
per SR
8 Jumlah jiwa per 100 100 100 100 100
HU
9 Sisa tekan di 10 10 10 10 10
penyediaan
distribusi (mka)
10 Jam operasi 24 24 24 24 24
11 Volume 20 20 20 20 20
reservoir (%
max day
demand)
12 SR/ 50:50 s/d 50:50 s/d 80:20 70:30 70:30
80:20 80:20
13 Cakupan 90 90 90 90 70
pelayanan (%)
Sumber ; Dirjen Cipta Karya, PU, 1996

2.3. Sistem Tranmisi

Sistem transmisi adalah suatu sistem yang berfungsi untuk menyalurkan air

bersih dari tempat pengambilan (intake) sampai tempat pengolahan atau dari

tempat pengolahan ke jaringan distribusi. Metode transmisi dapat dikelompokkan

menjadi :

- Sistem gravitasi

Sistem ini digunakan apabila kondisi persediaan berada pada elevasi yang lebih

tinggi dibandingkan dengan unit distribusi. (Babbitt, Harold E.1960)


11

- Sistem pompa

Prinsip sistem ini adalah dengan memberikan energi pada aliran air, sehingga

air dapat mencapai unit distribusi yang memiliki elevasi lebih tinggi dibandingkan

dengan sumber persediaan. (Babbitt, Harold E.1960)

Kombinasi antara kedua metode di atas dapat dipergunakan dalam sistem

transmisi bila keadaan di lapangan memungkinkan untuk memakai metode

tersebut. Dalam pentransmisian persediaan harus diperhatikan kelemahannya

seperti kebocoran, oleh karena itu jumlah persediaan maksimum harian harus

dijadikan standar dalam pengoperasiannya.

Pipa adalah saluran tertutup yang biasanya berpenampang lingkaran yang

digunakan untuk mengalirkan fluida dengan tampang aliran penuh (Triatmojo

1996 : 25). Fluida yang di alirkan melalui pipa bisa berupa zat cair atau gas dan

tekanan bisa lebih besar atau lebih kecil dari tekanan atmosfer.

Apabila zat cair di dalam pipa tidak penuh maka aliran termasuk dalam aliran

saluran terbuka atau karena tekanan di dalam pipa sama dengan tekanan atmosfer

(zat cair di dalam pipa tidak penuh), aliran temasuk dalam pengaliran terbuka.

Karena mempunyai permukaan bebas, maka fluida yang dialirkan adalah zat cair.

Tekanan dipermukaan zat cair disepanjang saluran terbuka adalah tekanan

atmosfer.

Perbedaan mendasar antara aliran pada saluran terbuka dan aliran pada pipa

adalah adanya permukaan yang bebas yang (hampir selalu) berupa udara pada

saluran terbuka. Jadi seandainya pada pipa alirannya tidak penuh sehingga masih

ada rongga yang berisi udara maka sifat dan karakteristik alirannya sama dengan
12

aliran pada saluran terbuka (Kodoatie, 2002: 215). Misalnya aliran air pada

gorong-gorong.

Pada kondisi saluran penuh air, desainnya harus mengikuti kaidah aliran pada

pipa, namun bila mana aliran air pada gorong- gorong didesain tidak penuh maka

sifat alirannya adalah sama dengan aliran pada saluran terbuka. Perbedaan yang

lainnya adalah saluran terbuka mempunyai kedalaman air (y), sedangkan pada

pipa kedalam air tersebut ditransformasikan berupa (P/y). Oleh karena itu konsep

analisis aliran pada pipa harus dalam kondisi pipa terisi penuh dengan air.

Zat cair riil didefinisikan sebagi zat yang mempunyai kekentalan, berbeda

dengan zat air ideal yang tidak mempunyai kekentalan. Kekentalan disebabkan

karena adanya sifat kohesi antara partikel zat cair. Karena adanya kekentalan zat

cair maka terjadi perbedaan kecepatan partikel dalam medan aliran. Partikel zat

cair yang berdampingan dengan dinding batas akan diam (kecepatan nol) sedang

yang terletak pada suatu jarak tertentu dari dinding akan bergerak. Perubahan

kecepatan tersebut merupakan fungsi jarak dari dinding batas. Aliran zat cair riil

disebut juga aliran viskos.

2.4. Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih

Persyaratan dalam penyediaan air bersih harus memenuhi beberapa

persyaratan utama. Persyaratan tersebut meliputi persyaratan kualitatif,

persyaratan kuantitatif dan persyaratan kontinuitas.

2.4.1 Persyaratan Kualitatif

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu dan kualitas dari air baku air

bersih. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, persyaratan kimia, persyaratan


13

biologis dan persyaratan radiologis. Syarat – syarat tersebut berdasarkan

Permenkes No.416/ Menkes/PER/IX/1990.

2.4.2 Persyaratan Kuantitatif

Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari

banyaknya air baku yang tersedia, artinya air baku tersebut dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah dan jumlah penduduk yang

akan dilayani.

Persyaratan kuantitas juga dapat ditinjau dari standard debit air bersir bersih yang

akan dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih.

2.4.3 Persyaratan Kontinuitas

Air baku untuk air bersih harus dapat di ambil terus menerus dengan fluktuasi

debit yang relatif tetap, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.

Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per hari

atau setiap saat diperlukkan, kebutuhan air tersedia. Akan teteapi kondisi ideal

tersebut hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah Indonesia, sehingga

untuk menentukkan tingkat kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan

cara pendekatan aktivitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air. Prioritas

pemakaian air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam – jam

aktivitas kehidupan yaitu pukul 06.00 – 18.00 WIB.

Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari dua aspek, pertama adalah

kebutuhan konsumen sebagian besar konsumen memerlukkan air untuk kehidupan

dan pekerjaannya dalam jumlah yang tidak ditentukkan. Karena itu diperlukkan
14

waktu yang tidak ditentukkan, karena itu diperlukkan reservoir pelayanan dan

fasilitas energi yang siap setiap saat.

2.5. Sistem Pemipaan

2.5.1 Pipa Hubungan Seri

Apabila suatu aliran pipa terdiri dari pipa-pipa dengan ukuran yang

berbeda, pipa tersebut adalah dalam hubungan pipa seri. Gambar 2.1.

menunjukkan suatu sistem tiga pipa dengan karakteristik berbeda yang

dihubungkan secara seri. Panjang, diameter dan koefisien gesekan masing-masing

pipa adalah L1, L2, L3; D1, D2, D3 dan f1, f2, f3.

Gambar 2.1. Pipa Hubungan Seri

Jika beda tinggi muka air kedua kolam diketahui, akan dicari besar debit

aliran Q dengan menggunakan persamaan kontinuitas dan energi (Bernoulli).

Kehilanagan tenaga masing-masing pipa adalah hf1, hf2 dan hf3. Dianggap bahwa

kehilangan tenaga sekunder kecil sehingga diabaikan.

2.6. Sistem Perpipaan Distribusi

Pada umumnya, macam-macam pipa yang ada dan digunakan dalam

perencanaan sistem distribusi air minum adalah sebagai berikut :


15

1. Pipa primer atau pipa induk (supply main pipe)

Pipa ini merupakan pipa yang berfungsi membawa air minum dari instalasi

pengolahan atau reservoir distribusi ke suatu daerah pelayanan. Pipa primer ini

memiliki diameter yang relatif besar.

2. Pipa sekunder (arterial main pipe)

Pipa sekunder merupakan pipa yang disambungkan langsung pada pipa primer

dan mempunyai diameter yang sama datau lebih kercil dari pipa primer.

3. Pipa tersier

Pipa ini berfungsi untuk melayani pipa servis karena pemasangan langsung

pada pipa servis pada pipa primer sangat tidak menguntungkan, mengingat dapat

terganggunya pengaliran air dalam pipa dan lalu lintas di daerah pemasangan.

Pipa tersier dapat disambungkan langsung pada pipa sekunder atau primer.

4. Pipa servis

Pipa servis merupakan pipa yang dihubungkan langsung pada pipa sekunder

atau tersier, yang kemudian dihubungkan pada sambungan rumah (konsumen).

Pipa ini memiliki diameter yang relatif kecil.

2.7. Karakteristik Pipa Transmisi

Adapun karakteristik pipa transmisi adalah sebagai berikut :

1. Durabilitas dan kondisi air yang dihantarkan,

2. Ketahanan terhadap erosi dan korosi,

3. Jenis sambungan yang diperlukan, kekuatannya dan kemudahan konstruksi.


16

Tabel 2.3 Kriteria Pipa Transmisi

No Uraian Notasi Kriteria


Debit Perencanaan Q puncak Kebutuhan air jam puncak Q
1
peak = F peak x Q rata-rata
2 Faktor jam puncak F puncak 1.15 – 3
Kecepatan aliran air
dalam pipa
a. Kecepatan minimum V min 0,3 – 0,6 m/detik
3 b. Kecepatan maksimum
Pipa PVC atau ACP V max 3,0 – 4,5 m/detik
Pipa baja atau DCIP V max 6,0 m detik
Tekanan air dalam pipa
a. Tekanan minimum h min (0,5 – 1,0) atm, pada titik
b. Tekanan maksimum jangkauan pelatanan terjauh
4 Pipa PVC atau ACP h max 6-8 atm
Pipa baja atau DCIP h max 10 atm
Pipa PE 100 h max 12,4 Mpa
Pipa PE 80
h max 9,0 Mpa
Sumber : (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007)

2.7.1 Jenis – Jenis Pipa

Pemilihan jenis pipa dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai

berikut :

 Ketentuan dan dayatahanterhadaptekanan yang terdiridari :

- Tekanan dari dalam, yaitu tekanan statik dan water hammer

- Tekanan dari luar pipa, yaitu tekanan tanah dan air tanah, serta

beban dari tanah permukaan, misalnya lalu lintas dan lain-lain.

 Diameter yang tersedia di pasaran

 Dayatahanterhadapkorosifdariluar dan dalam

 Kemudahan dan pengadaan, pengangkutan dan pemasangan di daerah yang

bersangkutan
17

Jenis pipa yang umum digunakan untuk pipa induk adalah ACP (Asbestos

cement Pipe), DCIP (Ductile Cast Iron Pipe), GIP (Galvanis Iron Pipe), PVC

(Poly Vynil Chloride) dan Steel Pipe.

a. Pipa ACP (Asbestos Cement Pipe)

Jenis pipa ini dibuat dari campuran semen dan asbes, diameter terkecilnya yaitu

130 cm dan daya tahan tekannya 3,5 kg/cm2 sampai 14 kg/cm2 tidak dipengaruhi

asam, asin dan tahan terhadap material yang bersifat korosif Akan tetapi

mempunyai kelemahan yakni mudah retak dan pecah selam perjalanan angkutan

serta tidak tahan terhadap beban luar.

b. DCIP (Ductile Cast Iron Pipe)

Jenis pipa yang terbuat dari besi tuang yang dilapisi oleh lapisan anti korosi

Jenis pipa ini sangat kuat, berat, tahan lama tetapi harganya mahal.

c. GIP (Galvanis Iron Pipe)

Jenis pipa ini dibuat dari baja atau besi tempa, umumnya tahan terhadap beban

luar maupun dalam dan umumnya digunakan pada saluran-saluran yang

memerlukan tiang penyangga di bawah jalan kereta api atau jalan raya serta pada

perlintasan sungai (jembatan pipa) Pipa ini tidak tahan terhadap material korosif

dan memerlukan banyak waktu untuk penyambungan serta mahal harganya.

d. PVC (Poly Vynil Chloride)

Pipa ini bersifat fleksibel, panjang pipa biasanya 6 meter. PVC anti karat dan

tahan terhadap zat kimia serta tidak mudah terbakar, sehingga dapat diterapkan

dalam pemasangan di rumah-rumah. Konstruksi pipa PVC ringan sehingga mudah

dalam transportasi dan biayanya lebih ekonomis, sering dipergunakan sebagai


18

pelindung kabel listrik dan telekomunikasi karena pipa ini mempunyai sifat non-

konduktifitas elektrik yaitu tidak menghantarkan arus listrik. Permukaannya licin

sehingga tidak menghambat aliran air dan dapat mengurangi timbulnya endapan.

2.8. Sistem Distribusi Air Bersih

Sistem Distribusi air bersih terbagi atas reservoir dan system perpipaan

distribusi yang dijelaskan selengkapnya pada pernytaaan dibawah ini:

a. Reservoir

Reservoir adalah tangki yang terletak pada permukaan tanah maupun diatas

permukaan tanah yang berupa tower air baik untuk system gravitasi ataupun

pemompaan yang memiliki tiga fungsi, yaitu :

1. Penyimpanan yang berfungsi untuk melayani fluktuasi pemakaian perjam,

cadangan air untuk pemadam kebakaran,pelayanan keadaan darurat yang

diakibatkan oleh terputusnya sumber pada transmisi ataupun terjadinya

kerusakan atau gangguan pada suatu pengolahan bangunan air.

2. Pemerataan aliran dan tekanan akibat variasi pemakaian didalam daerah

distribusi.

3. Sebagai distributor pusat atau sumber pelayanan daerah distribusi.

b. Sistem perpipaan distribusi

System yang mampu membagikan air pada setiap konsumen dengan berbagai

cara, baik dalam bentuk sambungan langsung rumah (house connection) atau

sambungan melalui kran (public tap). Pada zat cair yang biasanya mempunyai

kekentalan terjadinya gesekan antara zat cair dengan dinding pipa atau antara zat

cair itu sendiri, sehingga terjadi kehilangan tenanga . perpiaan distribusi


19

menyampaikan air kemasyarakat konsumen, ada berapa pola system jaringan

distribusi.

1. Sistem cabang (branch), merupakan system sirip cabang pohon. System

perpiaan ada akhirnya (bagian ujung), tapping untuk suplai bangunan dapat

diperoleh dari cabang utama kecil (sub mains) yang dihubungkan oleh pipa mains,

pipa mains dihubungkan kepipa utama, aliran dalam perpiaan selalu sama.

Keuntungan:

a) Pendistribusian sangat sederhana

b) Perencanaan pipa mudah

c) Ukuran pipa merupakan ukuran yang ekonomis

Kerugian:

a) Endapan dapat berkumpul karena aliran diam bila flushing tidak dilakukan,

sehingga dapat menimbulkan bau dan rasa.

b) Bila ada bagian yang diperbaiki, bagian bawahnya tidak akan mendapat air.

c) Tekanan berkurang bila area pelayanan bertambah.

Gambar 2.2. Sistem Cabang atau Branch


20

2. Sistem loop/grid, tidak ada ujungnya, air mengalir lebih dari satu arah, pada

sistem ini, jaringan pipa induk distribusi saling berhubungan satu dengan yang

lain membentuk lingkaran-lingkaran, sehingga pada pipa induk tidak ada titik

mati (dead end) dan air akan mengalir ke suatu titik yang dapat melalui beberapa

arah. Sistem ini biasa diterapkan pada :

a. Daerah dengan jaringan jalan yang saling berhubungan

b. Daerah yang perkembangan kotanya cenderung ke segala arah

c. Keadaan topografi yang relatif datar

Keuntungan:

a) Air mengalir dengan arah bebas, tidak ada aliran diam.

b) Perbaikan pipa tidak akan menyebabkan daerah lain tidak kebagian air, karena

ada aliran dari arah lain.

c) Pengaruh karena variasi/fluktuasi pemakaian air dapat dikurangi (minimal).

Kerugian:

a) Perhitungan perpipaan lebih kompleks

b) Diperlukan lebih banyak pipa dan perlengkapnnya (fittings).

Gambar 2.3. Sistem Loop


21

3. Sistem Jaringan Perpipaan Kombinasi

Sistem jaringan perpipaan kombinasi merupakan gabungan dari sistem

melingkar dan sistem bercabang. Sistem ini diterapkan untuk daerah pelayanan

dengan karakteristik :

a. Kota yang sedang berkembang.

b. Bentuk perluasan kota yang tidak teratur, demikian pula jaringan jalannya

tidak berhubungan satu sama lain pada bagian tertentu.

c. Terdapat daerah pelayanan yang terpencil dan elevasi tanah yang bervariasi.

Gambar 2.4. Sistem Kombinasi

Tekanan air dalam sistem jaringan distribusi dipengaruhi berapa faktor:

a. Kecepatan aliran

b. Diameter pipa

c. Perbedaan ketinggian pipa

d. Jenis dan umur pipa

e. Panjang pipa
22

Dalam pendistribusian air bersih tekanan air juga bias mengalami

penurunan,penyebab terjadinya penurunan tekanan adalah

a. Terjadinya gesekan antara aliran air dengan dinding pipa

b. Jangkauan pelayanan

c. Kebocoran pipa

d. Konsumen menggunakan mesin hisap (pompa)

2.9. Kehilangan Energi Aliran Melalui Pipa

Pada zat cair yang mengalir di dalam bidang tanpa batas (pipa, saluran

terbuka atau bidang datar) akan terjadi tegangan geser dan gradien kecepatan pada

seluruh medan aliran karena adanya kekentalan. Tegangan geser tersebut akan

menyebabkan terjadinya kehilangan energi selama pengaliran.

Dipandang suatu aliran turbulen dan mantap melalui pipa seperti yang

ditunjukkan dalan gambar (2.5.). Diameter pipa adalah D dan pipa miring dengan

sudut kemiringan α . Dianggap hanya terjadi kehilangan energi karena gesekan.

Gaya gaya yang bekerja adalah gaya tekanan, berat zat cair dan gaya geser.

Persamaan bernoulli untuk aliran antara titik 1dan titik 2 :

Gambar 2.5. Penurunan Rumus Darcy Weisbach


23

p1 V 1 p2 V 2
Z1 + + = Z2 + + + hf
γ 2g γ 2g

Apabila pipa mempunyai penampang konstan dapat ditulis, maka V1 = V2, dan

persamaan diatas dalam bentuk yang lebih sederhana untuk kehilangan energi

akibat gesekan.

p1 p2
hf = (Z1 + ) – (Z2 + )
γ γ

atau

∆p
hf = ∆ z +
γ

kehilangan energi sama dengan jumlah dari perubahan tekanan tinggi tempat.

Seperti terlihat pada gambar (2.5.) tampang lintang aliran melalui pipa adalah

konstan yaitu A, sehingga percepatan a = 0. Tekanan pada tampang 1 dan 2 adalah

p1 dan p2. Jarak antara tampang 1 dan 2 adalah ∆ L .

2.9.1 Pipa halus

Koefisien gesekan pipa tergantung pada parameter aliran (Triatmojo 1996 :

31), apabila pipa adalah hidrolis halus parameter tersebut adalah kecepatan aliran

diameter pipa dan kekentalan zat cair dalam bentuk angka reynolds.

2.9.2 Pipa Kasar

Tahanan pada pipa kasar lebih besar dari pada pipa halus, untuk pipa halus

nilai f hanya tergantung pada angka Reynolds. Untuk pipa kasar nilai f tidak

hanya tergantung angka Reynolds, tetapi juga pada sifat-sifat dinding pipa yaitu

kekasaran relatif k/D, atau ) / (Re, D k f φ = dengan k = kekasaran dinding pipa, D

= diameter pipa. Nikuradse (dalam Triatmojo 1996 :36) melakukan percobaan

tentang pengaruh kekasaran pipa. Percobaan tersebut meliputi daerah aliran


24

laminer dan turbulen sampai pada angka Reynolds Re = 6 10 , dan untuk enam

kali percobaan dengan nilai k/D (kekasaran relatif) yang bervariasi antara 0.0333

sampai 0.000985.

Gambar 2.6. Hasil Percobaan Nikuradse


a. Daerah I

Daerah I merupakan daerah aliran laminer dimana Re < 2000. Hubungan antara

f dan Re merupakan garis lurus (kemiringan 0 45 untuk skala harisontal dan

vertikal yang sama), dan tidak dipengaruhi oleh kekasaran pipa. Di daerah ini

koefisien gesekan diberikan oleh persamaan f = 64/Re.

b. Daerah II

Daerah ini terletak antara Re = 2000 dan Re = 4000, yang merupakan daerah

tidak stabil dimana aliran berubah dari laminer ke turbulen atau sebaliknya. Aliran

tidak banyak dipengaruhi oleh kekasaran pipa.

c. Daerah III

Daerah ini merupakan daerah aliran turbulen Re > 4000 dimana kekasaran

relatif pipa mulai berpengaruh pada koefisien gesekan f.


25

d. Sub daerah pipa halus

Daerah ini di tunjukan oleh garis paling bawah dari gambar 3, yang merupakan

aliran turbulen melalui pipa [Link] gesekan pipa f dapat dihitung dengan

rumus Blasius.

e. Sub daerah transisi

Di daerah sub transisi ini koefisien gesekan tergantung pada angka Reynolds dan

kekasaran pipa. Daerah ini terletak antara garis paling bawah dan garis terputus

dari gambar 3, kekasaran relatif k/D sangat berpengaruh terhadap nilai f .

f. Sub daerah pipa kasar

Sub daerah ini terletak di atas garis terputus. Apabila angka Reynolds di atas suatu

nilai tertentu, koefisien gesekan tidak lagi tergantung pada angka Reynolds, tetapi

hanya tergantung pada kekasaran [Link] suatu nilai k/D tertentu nilai f

adalah konstan dan sejajar dengan sumbu harisontal. Di daerah ini pengaliran

adalah turbulen sempurna.

Untuk pengaliran turbulen sempurna, dimana gesekan berbanding

langsung dengan 2V dan tidak tergantung pada angka Reynolds, nilai f dapat

ditentukan berdasarkan kekasaran [Link] umumnya masalah-masalah yang

ada pada pengaliran di dalam pipa berada pada daerah transisi dimana nilai f

ditentukan juga oleh angka [Link] apabila pipa mempunyai ukuran

dan kecepatan aliran tertentu, maka kehilangan tenaga akibat gesekan dapat

langsung [Link] jika diameter atau kecepatan tidak diketahui maka angka

Reynolds juga tidak [Link] perubahan nilai angka Reynolds yang

besar, perubahan nilai f sangat kecil. Sehingga perhitungan dapat diselesaikan

dengan menentukan secara sembarang nilai angka Reynolds atau f pada awal
26

hitungan dan dengan cara coba banding (trial and error) akhirnya dapat dapat

dihitung nilai f yang terakhir (yang benar). Oleh karena nilai f berkisar antara 0.01

dan 0.07, maka yang paling baik adalah menganggap nilai f , dan biasanya dengan

dua (2) atau tiga (3) kali percobaan akan dapat diperoleh nilai f yang benar.

2.10. Klasifikasi Pelanggan Kebutuhan Air Bersih

1. Klasifikasi Golongan Pelanggan PDAM Sungai Lilin.

Pengkategorian kebutuhan air bersih menurut buku panduan pelanggan PDAM

Sungai Lilin adalah sebagai berikut :

1. Kebutuhan sosial meliputi :

a. Sosial umum:

Seperti : kamar mandi / wc umum.

b. Sosial khusus:

Seperti : Tempat Ibadah, sekolah negeri dan swasta.

2. Non niaga meliputi :

a. Rumah Tangga A:

Seperti : Rumah dengan type 21 m2 yang berlokasi dipedesaan.

b. Rumah Tangga B:

Seperti : Rumah dengan type ≥ 21 m2 yang berlokasi diperkotaan.

c. Rumah Tangga C:

Seperti : Tempat tinggal dan usaha yang menguntungkan.

3. Niaga meliputi :

a. Niaga kecil:

Seperti : warung, penginapan/losmen.

b. Niaga besar:
27

Seperti : pasar swalyan dan pompa bensin.

4. Industri meliputi :

a. Industri kecil:

Seperti : usaha konveksi, kerajinan.

b. Industri besar :

Seperti : pabrik teh dan pabrik gula.

5. Sekolah meliputi :

Seperti : play group, TK, SD, SMP, SMA dll.

6. Industri pemerintahan :

Seperti : sarana instansi pemerintahan, kantor kantor pemerintahan.

2. Analisis Kebutuhan Air Bersih PDAM Sungai Lilin.

Dengan cara analisis data jumlah pelanggan dan realisasi penggunaan dapat

dirumuskan sebagai berikut:

Kebutuhan = Jumlah pelanggan x Realisasi penggunaan ..................................(2.1)

Dengan : Kebutuhan = Penggunaan (m3/Tahun)

Jumlah Pelanggan = Pemakain(orang)

Realisasi Penggunaan = Kebutuhan Realisasi (m3/plg/bulan)

Kebutuhan air bersih yang akan dating untuk PDAM Sungai Lilin dapat

diprediksikan dengan menggunakan analisis regresi linear. Rumus yang dipakai

adalah sebagai berikut (sudjana, 1992:06).

Y = A + ( B * x ) ................................................................................................

(2.2)

Dengan : Y = Kebutuhan air PDAM Sungai Lilin (m3 / Tahun)


28

∑Y −B ∑ Y
A=
n

n ∑ XY −∑ X .∑Y
B= 2
n ∑ X −¿ ¿

X = Tahun proyeksi

X = Tahun yang diketahui

Y = Kebutuhan menurut tahun yang ditinjau (m3 / Tahun)

Kebutuhan air bersih untuk tiap tiap kecamatan dapat dirumuskan sebagai berikut.

Yt = Yi + ( Yi + % Kehilangan air )………………………………………...…(2.3)

Dengan : Yt = Kebutuhan air bersih per Kecamatan (m3 / Tahun)

Yi = Kebutuhan kecamatan (m3 / Tahun)

% Kehilangan air diasumsikan 20 %

Kebutuhan air bersih tiap tiap pelanggan dapat dirumusan sebagai berikut.

Yt = Yi + ( Yi + % Kehilangan air )………………………………………...…(2.4)

Dengan : Yt = Kebutuhan air bersih menurut jenis pelanggan (m3 / Tahun)

Yi = Kebutuhan kecamatan (m3 / Tahun)

% Kehilangan air = Prosentase menurut jenis pelanggan (%)

2.11. Debit Aliran

Debit aliran air pada pengaliran dalam pipa dianggap konstan karena air

dianggap fluida yang tidak dimampatkan. Oleh sebab itu berlaku persamaan

kontiunitas :
29

Gambar 2.7. Debit Aliran Pipa

Q = A.V = Konstan

Q
V=
A

1
A= x π x D2
4

Q1 = Q2 = Q3 = Qn ................................................................................( 2.5.a )

Atau A1.V1 = A2.V2 =A3.V3 = [Link].................................................( 2.5.b )

Dimana : Q = debit aliran ( m3 / det )

A = luas penampang aliran atau pipa ( m2 )

V = kecepatan aliran ( m / det )

D = Diameter pipa (m)

2.11.1 Kehilangan Tekanan (Head loss)

Secara umum didalam suatu instalasi jaringan pipa dikenal dua macam

kehilangan energi :

a. Kehilangan Tinggi Tekan Mayor (major losses)

Ada beberapa teori dan formula untuk menghitung besarnya kehilangan tinggi

tekan mayor ini yaitu dari Hazen-Williams, Darcy-Weisbach, Manning, Chezy,

Colebrook-White dan Swamme-Jain. Dalam kajian ini digunakan persamaan

Darcy-Weisbach yaitu :
30

hf = k.Q2 ....................................................................................................(2.6)

Dimana :

Q
V= ....................................................................................................(2.7)
A

Q= A.V ....................................................................................................(2.8)

V .D
ℜ= ....................................................................................................(2.9)
µ

0,316
f= 0,25 ..................................................................................................(2.10)

8. f . L
k= 2 2 ..................................................................................................(2.11)
g. π . D

Dengan : Q = debit aliran pada pipa (m3/det)

V = Kecepatan aliran (m/det)

A = Luas penampang (m2)

Re = Angka reynold

f = Koefesien gesekan

g = Percepatan gravitasi (m/s2)

hf = Kehilangan tinggi akibat gesekan (m)

D = Diameter pipa (m)

k = Kekasaran pipa

L = Panjang pipa (m)

b. Kehilangan Tinggi Tekan Minor (monor Losses)

Ada berbagai macam kehilangan tinggi tekan minor adalah sebagai berikut :

1. Kehilangan tinggi minor karena pelebaran pipa

2. Kehilangan tinggi minor karena penyempitan mendadak pada pipa

3. Kehilangan tinggi minor karena mulut pipa


31

4. Kehilangan tinggi minor karena belokan pada pipa

5. Kehilangan tinggi minor karena sambungan dan katup pada pipa

2.11.2 Jaringan Pipa

Sistem jaringan merupakan bagian yang paling mahal dari suatu

perusahaan air minum, oleh karena itu harus dibuat perencanaan yang teliti untuk

mendapatkan system distribusi yang efisien. Jumlah atau debit air yang disediakan

tergantung pada jumlah penduduk dan macam industry yang dilayani. (Iwan

Rustanto, 2002).

Analisis jaringan pipa ini cukup rumit dan memerlukan perhitungan yang

besar, oleh karena itu penggunaan computer dalam analisis ini akan mengurangi

kesulitan. Untuk jaringan pipa kecil, pemakaian kalkulator untuk perhitungan

masih bisa dilakukan, untuk menyelesaikan perhitungan system jaringan pipa.

Pada penelitian ini menggunakan metode Hardy Cross dan bantuan program

computer. (Deki Susanto, 2007).

Gambar 2.8. Contoh Sistem Jaringan Pipa

Aliran keluar dari system biasanya dianggap terjadi pada awal titik-titik simpul,

metode Hardy Cross ini dilakukan secara iterasi. Pada awal hitungan ditetapkan

debit aliran melalui masing masing pipa secara sembarangan, kemudian dihitung
32

debit di semua pipa berdasarkan nilai awal tersebut. Prosedur hitungan diulangi

lagi sampai persamaan kontiunitas di setiap titik simpul dipenuhi, prinsip metode

Hardy Cross adalah bahwa debit air yang masuk harus sama dengan debit air

yang keluar.0

Adapun analisa perhitungan manual dengan menggunakan metode Hardy Cross

dengan persamaan Darcy-Weisbach dengan bantuan Microsoft Excel 2007,

Adapun prosedur perhitungannya adalah sebagai berikut :

1. Asumsikan pembagian debit aliran melalui tiap-tiap pipa Q0 hingga terpenuhi

syarat kontinuitas.

2. Hitung headloss (hf) pada tiap pipa dengan rumus hf = kQ2

3. Jaringan pipa dibagi menjadi sejumlah jaring tertutup sedemikian sehingga tiap

pipa termasuk dalam paling sedikit satu jaring.

4. Hitung jumlah kerugian tinggi tenaga sekeliling tiap-tiap jarring, yaitu ∑hf.

jika pengaliran seimbang, ∑hf =0.

5. Hitung nilai ∑│2kQ│untuk tiap jaring.

6. Pada tiap jaring diadakan koreksi debit Q supaya kehilangan tinggi energi

dalam jaring seimbang. Adapun koreksinya adalah sebagai berikut :

∑Hf
Q = ……………………………………………………………....
∑ {2 kQo }

(2.12)

7. Dengan debit yang telah dikoreksi sebesar Q = Q 0 + Q, prosedur dari no. 1

sampai no. 6 diulangi hingga akhir Q 0,dengan Q adalah debit sebenarnya

Q0 adalah debit dimisalkan dan Q adalah debit koreksi.

Penurunan rumus diatas adalah sebagai berikut :


33

Hf = kQ2 = k (Q0 + Q) 2

= kQ02+2k.Q0.Q+ kQ2 ………………………………………………….(2.11)

Untuk Q << Q0 maka Q2  0 sehingga :

Hf = kQ02 + 2k.Q0.Q………………………………………………………..(2.12)

Jumlah kehilangan tenaga dalam tiap jaringan adalah nol :

∑hf = 0

∑hf = ∑ k Q02= Q∑ 2kQ0 = 0

∑ kQ 02
Q =
∑ {2 kQo }

Hitungan jaringan pipa sederhana dilakukan dengan membuat table untuk setiap

jarring. Dalam setiap jarring tersebut jumlah aljabar kehilangan energy adalah nol

dengan catatan aliran searah jarum jam (ditinjau dari pusat jaringan) diberi tanda

positif sedangkan yang berlawanan arah jarum jam diberi tanda negatif, untuk

memudahkan hitungan dalam tiap jaringan selalu dimulai dengan aliran yang

searah jarum jam.

2.11.3 Mencari Kehilangan Energi Akibat Pengecilan Penampang


Dikarenakan pengecilan penampang terjadi secara mendadak, maka

persamaan kehilangan energi yaitu :


2
h e = 0,44 V 2
2g

Keterangan :
h e = Kehilangan energi akibat pengecilan penampang
V = Kecepatan aliran(m/dtk)
g = Gravitasi (m/dtk)
2.11.4 Mencari Kehilangan Energi Yang Terjadi Pada Belokan Pipa
34

Kehilangan energi yang terjadi pada belokan pipa tergantung pada sudut

belokan pipa. Persamaannya sebagai berikut :

V2
hb = kb
2g

Dengan kb adalah Koefisien Kehilangan energi pada belokan :

Tabel 2.4. Koefisien Kehilangan Energi Pada Belokan Pipa


α 200 400 600 800 900
KB 0,05 0,14 0,36 0,74 0,98
(Sumber : Hidrolika II Bambang Triadmodjo : 1996).

2.12. Konsep Indikator Kinerja Jaringan (Performance Indicator) dan

Tingkat Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)

Indikator Kinerja Jaringan meliputi tingkat efisiensi dan keefektifan dari

suatu jaringan air bersih yang diberikan kepada aspek khusus dari aktifitas

jaringan dan tujuan sistem (konsumen) (Deb dan Cesario, 1997 dalam Larry Bab

IX hal. 4). Efisiensi meliputi bagaimana suatu sistem penyediaan air bersih dapat

dengan optimal memberikan pelayanan, sedangkan efektifitas meliputi bagaimana

suatu target pelayanan dapat terpenuhi.

Secara umum, indikator kinerja jaringan meliputi beberapa persyaratan,

antara lain (Larry, 1999, Bab IX hal.5) :

a) Dapat memberikan seluruh aspek yang relevan dari seluruh aspek dalam sistem

penyediaan air bersih, berdasarkan kebutuhan konsumen pada umumnya.

b) Merupakan gambaran hasil dari manajemen yang baik

c) Terdiri hanya dari faktor-faktor indikator kinerja jaringan yang dapat dipenuhi

oleh target pelayanan, peralatan dan harga yang mahal harus dihindari
35

d) Harus merupakan hal yang mudah untuk dipahami oleh konsumen

e) Dapat menjadi aplikatif untuk semua sistem dengan karakteristik yang berbeda.

Secara garis besar untuk kebutuhan penelitian ini dapat diambil 3 indikator

kinerja jaringan meliputi:

1. Hydraulic Performance

Dititik beratkan pada tekanan dalam pipa (pressure head), dan variasi tekanan.

2. Water Quality Performance

Dititikberatkan pada konsentrasi baku mutu air yang didistribusikan ke

konsumen, dan waktu pengaliran (kontinuitas) agar dapat memenuhi kebutuhan

konsumen.

3. Reliability Performance

Dititikberatkan pada kemampuan sistem jaringan dalam memenuhi kebutuhan

konsumen.

Indikator Kinerja Jaringan akan memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan

konsumen akan air bersih, serta akan memberikan masukan yang baik bagi

pembangunan / pengembangan suatu sistem jaringan air bersih dari suatu kota /

kawasan (Larry, 1999, Bab IX hal.7). Sehingga dengan indikator kinerja jaringan

yang baik, maka akan dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan,

sehingga dapat mencapai suatu tingkat kepuasan pelanggan.

Indikator Kinerja meliputi (Larry, 1999, Bab IX hal.19)

a) Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)

Indikator kinerja merupakan gambaran (reflection) dari harapan konsumen dan

penilaian terhadap pelayanan penyediaan air bersih.


36

b) Kualitas (Quality)

Merupakan kualitas pelayanan dari suatu sistem penyediaan air bersih, sehingga

dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, dan mencapai tingkat kepuasan

pelanggan.

c) Tingkat ketersediaan (Availability)

Merupakan ketersediaan sarana dan prasarana sistem penyediaan air bersih,

termasuk di dalamnya ketersediaan suplai air yang dapat memenuhi kebutuhan

pelanggan.

2.12.1 Tolak Ukur Penilaian Kinerja Dalam Penyediaan Air Bersih

Ada tiga kegiatan yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian kinerja

secara efektif, yakni relevancy, reliability, dan discrimination. Dimana relevancy

menunjukkan tingkat kesesuaian antara kriteria dan tujuan kinerja. Reliability

menunjukkan tingkat makna kriteria yang menghasilkan hasil yang konsisten.

Sedangkan diskriminasi digunakan untuk mengukur tingkat dimana suatu kriteria

kinerja dapat memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam kinerja. Dengan

merujuk pada beberapa pengertian di atas, baik berkaitan dengan pengertian

kinerja serta kriteria penilaian, maupun berbagai pengertian efektifitas dan

efisiensi, penilaian kinerja dalam penyediaan air bersih ditentukan oleh :

a).Kinerja penyediaan air bersih sangat terkait dengan kualitas dan kuantitas air

yang dapat dinikmati oleh konsumen sebagai pengguna jasa pelayanan,

termasuk tingkat kepuasan yang dapat dicapai.

b). Kinerja penyediaan air bersih ditentukan oleh tingkat efektifitas dan efisiensi

dalam pengadaannya.
37

c) Berbagai kriteria teknis dan standar desain yang berlaku dalam perencanaan

sistem penyediaan air bersih, seperti kualitas air baku, sistem transmisi, sistem

distribusi, dan proses pengolahan air serta mengacu pada standar kualitas air

bersih yang telah ditetapkan pemerintah

d) Penilaian tingkat efisiensi ditentukan atas dasar perbandingan antara jumlah

biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan kualitas dan kuantitas air yang

dihasilkan, serta tingkat kepuasan yang ingin dicapai.

Kinerja pelayanan atau penyediaan air bersih di setiap daerah yang dilayani

oleh PDAM belum tentu kualitas dan kuantitasnya sama dengan daerah lainnya.

Karenanya dalam penelitian ini, penilaian kinerja pelayanan air bersih pada suatu

lokasi atau daerah tertentu akan digunakan acuan berupa kriteria teknis pelayanan

air bersih dengan sistem perpipaan, antara lain :

a. Air tersedia secara kontinyu 24 jam sehari

b. Tekanan air di ujung pipa minimal sebesar 1,5 – 2 atm

c. Kualitas air harus memenuhi standar yang ditetapkan

2.

2.9.

2.12.2 Tolak Ukur Kepuasan Dalam Penyediaan Air Bersih

Hal yang paling diharapkan oleh masyarakat sebagai pengguna pelayanan air

bersih (customer’s expectation) adalah tersedianya air, terutama setiap saat

dibutuhkan, serta jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan air bersih harian,

sehingga kuantitas dan kontinuitas aliran air bersih menjadi hal yang utama dalam

penentuan tingkat kepuasan bagi masyarakat pengguna jasa layanan.


38

Selain itu,kualitas air bersih yang didistribusikan ke pelanggan, yang

memenuhi standar baku mutu kualitas air bersih, serta tidak menimbulkan dampak

yang buruk bagi kesehatan manusia maupun lingkungan juga merupakan harapan

bagi setiap pengguna jasa layanan air bersih. Dengan adanya kualitas air bersih

yang memenuhi sntandar baku mutu, maka akan meningkatkan tingkat kepuasan

masyarakat pengguna jasa layanan.

Berdasarkan tolak ukur yang telah disebutkan sebelumnya, maka dapat

dilihat bahwa ada suatu hubungan keterkaitan yang erat antara Kinerja Pelayanan

penyedia layanan air bersih yang dalam hal ini adalah PDAM dan Tingkat

Kepuasan Pelanggan yang dalam hal ini adalah masyarakat pengguna layanan.

Jika PDAM sebagai penyedia layanan dapat meningkatkan kinerja sistem jaringan

distribusi air minum nya, maka secara otomatis akan juga meningkatkan Tingkat

Kepuasan Pelanggan terhadap layanan yang diberikan.

2.12.3 Dimensi Kualitas Jasa Pelayanan PDAM

Kualitas dapat diartikan sebagai kesesuaian dengan yang disyaratkan atau

[Link] bahwa setiap produk jasa / pelayanan dapat dikatakan

berkualitas bila memenuhi standar standar yang ditetapkan. Untuk itu biasanya

penyedia jasa telah membuat standar jasa yang akan dihasilkannya. Pengertian

lain tentang kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan

produk, manusia, proses dan tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi

harapan pelanggan atau konsumen. Dari pengertian ini terlihat bahwa selera dan

harapan konsumen bersifat dinamis atau selalu berubah, oleh karenanya kualitas

produk juga harus dapat menyesuaikannya. Dan hal ini merupakan tanggung
39

jawab penyedia jasa/layanan untuk menyesuaikan produk jasanya dengan harapan

konsumen yang dinamis tersebut.

Kualitas jasa pelayanan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu : “layanan

yang diharapkan” (expected service) dan “layanan yang dirasakan” (perceived

service). Apabila jasa yang dirasakan atau diterima oleh pelanggan sesuai dengan

yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa

yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan

sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah

daripada yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan buruk. Ini berarti

bahwa kualitas harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada

persepsi pelanggan.

Sebagaimana produk barang, kualitas produk jasapun dipengaruhi oleh

banyak faktor. Untuk menilai atau menentukan jasa berkualitas atau tidak maka

harus diidentifikasi faktor utama yang menentukan kualitas jasa. Menurut Fandy

Tjiptono (Prinsip-prinsip Total Quality Service,2001, hal 2) untuk produk jasa ada

lima dimensi pokok yang mempengaruhi, diantaranya yaitu :

1. Bukti langsung (tangible), yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik,

peralatan yang dipergunakan dan representasi dari jasa (misalnya untuk jasa

penanganan air bersih : air yang disuplai ke konsumen memenuhi standar air

bersih, yaitu tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau).

2. Keandalan (reliability), kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan

dengan segera, akurat dan memuaskan. Beranjak dari dimensi kualitas jasa,

tahap berikutnya yang juga harus dipahami oleh penyedia jasa adalah apakah

jasa yang dihasilkan dapat memuaskan pelanggan. Dalam jasa penanganan


40

penyediaan air bersih, bila pelanggan puas maka ia akan ikut berpartisipasi

aktif didalam kegiatan yang dilakukan, didalam hal ini pelanggan akan taat

membayar retribusi.

2.12.4. Konsep Kepuasan Pengguna Jasa Atau Pelanggan

Konsep kepuasan pelanggan itu sendiri banyak variasinya, oleh karenanya

ada beberapa definisi tentang kepuasan pelanggan, diantaranya (Fandy Tjiptono,

2001, hal.127-133) :

1. Kepuasan atau ketidakpuasan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi

ketidaksesuaian / diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya

(atau norma kinerja lainnya) dan kinerja actual produk yang dirasakan setelah

pemakaiannya. (Day, dalam Tse dan Wilton, 1988, “Models of Consumer

Satisfaction Formation : An Extension”).

2. Kepuasan pelanggan merupakan evaluasi pembeli dimana alternatif yang

dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau

melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil

yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan. (Engel, 1990, “Consumer

Behavior”).

3. Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah

membandingkan kinerja (hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan

harapannya. (Philip Kotler, 1994, et al).

Terdapat hubungan yang erat antara kualitas jasa dengan kepuasan pelanggan.

Permasalahannya apa dan bagaimana cara mengukurnya, sehingga dengan


41

mengetahui tingkat kepuasan pelanggan kita dapat mengambil langkahlangkah

yang diperlukan dalam memberikan pelayanan.

2.12.5 Pengukuran Kualitas Jasa Pelayanan Dalam Penyediaan Air Bersih

Konsep kepuasan pelanggan jasa sebenarnya bersifat abstrak, hal ini karena

sifat dari kualitas jasa itu sendiri juga bersifat abstrak yaitu menyangkut persepsi

pelanggan jasa. Berbeda dengan pelanggan produk barang, yang dapat dengan

mudah menilai kualitas barang dari aspek wujudnya, seperti warna, ukuran,

kualitas bahan, kualitas modal dan lain-lain. Demikian pula kepuasan pelanggan

jasa pelayanan penanganan sampah, jasa pelayanan pengadaan air bersih bersifat

abstrak yang tergantung dari persespsi masing-masing pelanggan.

Pada jasa, mengukur kualitas berarti menilai kinerja suatu jasa dengan

seperangkat standar yang telah ditetapkan, terutama yang menyangkut persepsi

pengguna jasa, sehingga hal ini tidak mudah dilakukan. Namun demikian

sebagaimana yang disampaikan oleh Garvin, secara teoritis kualitas jasa dapat

diukur. Pengukuran dari masing-masing dimensi dapat digunakan dengan

menggunakan skala “Likert”. Menurut Sugiyono (2001): “skala Likert digunakan

untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial”. Dengan skala Likert ini, dimensi kualitas pelayanan

yang pada dasarnya merupakan cerminan dari dimensi kepuasan (yang dalam tesis

ini merupakan variabel penelitian), dijabarkan menjadi sub variabel. Selanjutnya

dijabarkan lagi menjadi instrumen pertanyaan yang akan diberikan kepada

pengguna jasa / pelayanan. Jawaban dari setiap item pertanyaan menggunakan

gradasi, yaitu : sangat tidak setuju s/d setuju; sangat tidak puas s/d sangat puas
42

atau sangat jelek s/d sangat bagus. Masing-masing jawaban diberi skor penilaian

dari 1 sampai dengan 5.

No Nilai Keterangan

1 5 Sangat puas / baik

2 4 Puas / baik

3 3 Agak puas / sedang

4 2 Tidak puas / jelek

5 1 Sangat tidak puas / sangat jelek

Tabel 2.5. Skala Penilaian (Scoring) Tingkat Kepuasan Pelanggan


Sumber : Likert, Rensis (1932)
Selain kualitas yang memenuhi standar yang ada, ketersediaan air bersih

dengan kontinuitas aliran yang terjamin akan menjadi hal yang utama dalam

penentuan kepuasan bagi masyarakat pelanggan air bersih. Manfaat yang dapat

diambil dari pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap jasa penyediaan air

bersih antara lain adalah sebagai berikut :

1. Tingginya nilai kepuasan pelanggan akan meningkatkan jumlah pelanggan. Hal

ini dapat berarti menurunkan harga satuan per unit air bersih yang disediakan,

seiring dengan meningkatnya volume produksi dan permintaan.

2. Mempertahankan kepuasan pelanggan akan menggunakan biaya / cost yang

lebih kecil jika dibandingkan dengan menambah jumlah pelanggan.

3. Mempertahankan loyalitas pelanggan terhadap barang atau jasa tertentu selama

periode waktu yang lama akan dapat menghasilkan antusias yang lebih besar

dibandingkan pengguna jasa individual, yang berarti nilai komulatif dari

hubungan yang berkelanjutan.


43

4. Pelanggan dengan tingkat kepuasan yang tinggi akan merasakan kenyamanan

dengan sendirinya akan dapat merekomendasikan suatu produk ataupun jasa

yang digunakannya kepada orang lain, sehingga akan menjadikan semakin

luasnya daerah yang akan terlayani / menambah jumah pelanggan.

5. Kepuasan pelanggan relatif membutuhkan pembiayaan yang mahal dan tidak

memberikan keuntungan / laba dalam jangka pendek, akan tetapi akan

memberikan keuntungan pada jangka yang panjang.

Anda mungkin juga menyukai