0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan28 halaman

Metode SPEOS untuk Lancarkan ASI

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya ASI eksklusif dan faktor yang mempengaruhinya. 2. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI adalah metode SPEOS yang meliputi pijatan endorfin, oksitosin, dan sugesti positif. 3. Dokumen juga menjelaskan langkah-langkah perawatan payudara untuk menjaga produksi dan kelancaran

Diunggah oleh

isjan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan28 halaman

Metode SPEOS untuk Lancarkan ASI

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya ASI eksklusif dan faktor yang mempengaruhinya. 2. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI adalah metode SPEOS yang meliputi pijatan endorfin, oksitosin, dan sugesti positif. 3. Dokumen juga menjelaskan langkah-langkah perawatan payudara untuk menjaga produksi dan kelancaran

Diunggah oleh

isjan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASI DAN

METODE SPEOS
A. PENDAHULUAN
Di Asia Tenggara capaian ASI eksklusif menunjukan angka
yang tidak banyak perbedaan. Sebagai perbandingan,
cakupan ASI eksklusif di India sudah mencapai 46%, di
Philippines 34%, di Vietnam 27% dan di Myanmar 24%.
(Widayanti, 2014). Sedangkan secara global dilaporkan
ASI ekslusif dibawah 40%, angka ASI ekslusif di
Indonesia lebih rendah dibandingkan angka global
(Kemenkes, 2014). Menurut Riskesdas, 2018 proporsi ASI
Eksklusif pada usia anak 0-5 bulan pada anak laki–laki
38,7% dan pada perempuan 35,9% (Riskesdas, 2018).
Rendahnya pengetahuan ibu menyusui tentang pentingnya
pemberian ASI Eksklusif di Indonesia khususnya di Jawa
Tengah masih tergolong rendah. Cakupan pemberian ASI
Eksklusif di Jawa Tengah pada tahun 2010 hanya sekitar
488.495 bayi hanya 181.600 bayi. Pemberian ASI eksklusif
di Kota Magelang tahun 2014 sebesar 52,01% atau
sebanyak 323 bayi dari seluruh bayi 0-6 bulan. Presentase
tahun 2014 mengalami penurunan dibanding presentase
tahun 2013 (Magelang, 2014).
Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik
bagi ibu maupun bayinya. Bagi bayi, menyusui mempunyai
peran penting bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan,
kesehatan, dan kelangsungan hidup bayi karena ASI kaya
dengan zat gizi, antibody dan dapat mengurangi mobiditas
dan mortalitas bayi. (Riskesdas, 2013).
ASI Eksklusif bertujuan untuk menjamin pemenuhan hak
bayi untuk mendapatkan ASI ekskluisf sejak lahir sampai
berusia 6 bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangannya, sehingga setiap ibu yang melahirkan
harus memberikan ASI ekslusif kepada bayi yang
dilahirkannya (PP No. 23 tahun 2012).
Metode SPEOS dapat digunakan untuk meningkatkan
produktivitas ASI pada ibu. Salah satu metode yang masih
jarang digunakan untuk merangsang produktivitas ASI
yaitu metode SPEOS.
B. ASI
1. Apa yang dimaksud dengan ASI?
Air Susu Ibu (ASI)
merupakan nutrisi yang
paling seimbang dan baik
untuk bayi. Proses
menyusui merupakan
metode yang tepat
pemberian makanan pada
bayi di hari-hari pertama kelahirannya.

(Khanal Cruz, Karkee& Lee, 2014).

2. Apa manfaat ASI?


a) Manfaat untuk Bayi
Menurut guidline CDC (2015), ASI memiliki
kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit.
Bayi memiliki resiko lebih rendah penyakit
asma, diabetes tipe 2, penyakit kulit, diare,
muntah, NEC untuk bayi premature dan
Kegemukan. ASI juga menurangi resiko
infeksi lambung, usus, sembelit, dan alergi.

b) Manfaat untuk Ibu


Manfaat Guidline CDC (2015), Hisapan bayi
membantu rahim menciut, mempercepat
kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-
kehamilan dan mengurangi risiko perdarahan.
Lemak di sekitar panggul dan paha yang
ditimbun pada masa kehamilan pindah ke
ASI.
c) Manfaat untuk Keluarga
Tidak perlu uang untuk membeli susu formula,
botol susu, kayu bakar atau minyak untuk merebus
air, susu atau peralatan dan bayi sehat berarti
keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat)
(Guidline CDC, 2015)
3. Faktor hormone yang mempengaruhi produksi ASI
a) Progesteron : mempengaruhi pertumbuhan dan
ukuran alveoli.
b) Estrogen : menstimulasi sistem saluran ASI untuk
membesar.
c) Prolaktin : berperan dalam membesarnya alveoli
dalam keha milan.
d) Oksitosin : mengencangkan otot halus dalam rahim
pada saat melahirkan dan setelahnya.
e) Human placental lactogen (HPL) : Sejak bulan
kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak
HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara,
puting, dan areola sebelum melahirkan. (Anik,
2014).
4. Faktor refleks dalam proses laktasi
a) Refleks prolactin
b) Refleks aliran (let down reflexs)
c) Refleks dalam mekanisme isapan
d) Reflex menangkap (Rooting Reflexs)
e) Reflex menghisap (Sucking Reflexs)
f) Refleks menelan (Swallowing Reflexs)
(American Academy of Pediatrics, 2015)

5. Kerugian tidak diberikan ASI


Jika seorang bayi tidak diberikan ASI dan diganti
dengan susu formula, maka bayi tidak akan
mendapatkan kekebalan tubuh, serta akan kekurangan
gizi (Pollard Maria, 2015).
C. METODE SPEOS
1. Apa yang dimaksud dengan SPEOS?
Metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin
dan Sugestif) ini dilakukan dengan mengkombinasikan
antara pijat endorphin, pijat oksitosin dan
sugestif/afirmasi positif (Widayanti, 2014).
2. Tujuan metode SPEOS
Membantu ibu nifas (menyusui) memperlancar
pengeluaran produksi ASI dengan cara menstimulasi
untuk merangsang pengeluaran hormone oksitosin.
3. Pijat Endorphin
Menurut Mogan M. (2019), Pijat Endorphin dapat
merangsang pengeluaran hormone endorphin dan dapat
merangsang munculnya reflek prolactin dan oksitosin,
sehingga meningkatkan pengeluaran produksi ASI.
4. Pijat Oksitosin
Menurut Kabir & Tasnim (2019) menjelaskan bahwa
pijat oksitosin dapat meningkatkan kemampuan bayi
dalam menghisap (neonate suck).

5. Pijat Sugestif
Menurut Widayanti W (2014), teknik sugestif dilakukan
untuk mempersiapkan ASI bisa mengalir dengan lancer
dan memenuhi kebutuhan bayi sejak hari pertama lahir.
6. Langkah-Langkah SPEOS
Menurut Wiwin W, (2014), Metode SPEOS yaitu
melakukan stimulasi untuk merangsang pengeluaran
hormone oksitosin melalui pijat oksitosin, memberikan
rasa nyaman dam menumbuhkan keyakinan pada ibu
bahwa ASI pasti keluar dan ibu bisa memberikan ASI
secara eksklusif dengan pijat Endorphin dan Sugestif.
Langkah-langkah metide ini adalah sebagai berikut :
Tahap Persiapan
Persiapan Alat
a) Kursi (jika da/tempat duduk dan tempat bersandar
b) Minyak aroma terapi sesuai keinginan pasien
c) Handuk
d) Foto bayi (jika ada) atau video
Persiapan Penolong
a) Menyiapkan alat dan mendekatkannya ke pasien
b) Mencuci tangan
Persiapan Lingkungan
a) Menutup gorden atau pintu
b) Pastikan privasi pasien terjaga
Pelaksanaan
1) Bantu ibu secara psikologis
a) Bangkitkan rasa percaya diri
b) Cobalah membantu mengurangi rasa sakit dan rasa
takut dengan teknik relaksasi
c) Bantu pasien agar mempunyai pikiran dan
perasaan baik tentang bayinya dengan
mengimajinasikan bahwa bayinya menanti ASI
dari ibunya dengan dekapan.
2) Bantu kenyamanan posisi ibu
Ibu duduk, bersandar kedepan, melipat lengan diatas
meja di depannya dan meletakkan kepalanya diatas
lengannya. Payudara tergantung lepas tanpa baju,
handuk dibentangkan diatas pangkuan pasien. Jika
kondisi tidak ada kursi dan termapt bersandar, ibu
bisa dalam posisi duduk.
3) Pada saat duduk minta ibu pusatkan pandangan atau
perhatian pada satu titik atau benda terus-menerus
hingga terasa kelopak mata semakin santai, mulai
berkedip perlahan untuk kemudian biarkan kedua
mata terpejam. Nikmati santainya raga dan jiwa.
Teknik ini disebut fiksasi mata.
4) Sambil proses mata relaksasi, penolong mulai
melakukan pijatan dimulai dari leher ke punggung
(kiri dan kanan) secara bersamaan dimulai dari atas
kemudian kebawah, keatas lagi ke samping lengan
dan tangan kiri dan kanan.
5) Lakukan berulang kurang lebih 3 – 4 kali sambil
terus memastikan ibu fokus dan relaks sebelum kita
memasukan sugesti positif. Bantu dengan kata – kata
“jika ada pikiran datang, sementara biarkan saja.
Suara apa pun yang ada tetap membuat diriku
semakin tenang/rileks”.
6) Ganti gerakan tangan petugas dengan
mengimajinasikan garis sepanjang tulang belakang
kemudian tarik garis imajiner ke kiri dan ke kanan
masing-masing kurang lebih 1 cm. mulai dari atas
(dibawah os servik) dengan menggunakan kedua ibu
jari yang diposisikan pada garis imajiner tadi,
lakukan pemijatan dengan arah memutar/sirkuler.
secara berkesinambungan dan sinergis sampai
pinggang. Kemudian pijat kearah atas dengan teknik
yang sama. Lakukan sebanyak 2 kali atau dirasa
cukup.
7) Sambil terus memberikan sugesti positif, Lakukan hal
yang sama dengan mengganti pijatan ibu jari dengan
menggunakan ruas buku jari telunjuk yang ke dua.
8) Terakhir lakukan dengan menggunakan kepalan
tangan dengan arah keatas dan kebawah secara
berlawanan antara tangan kiri dan kanan.
9) Amati respon ibu selama tindakan
Evaluasi
a) Evaluasi perasaan dan reaksi ibu, melalui lembar
observasi yang meliputi tingling sensation atau
gelenyar, ASI yang dirasa mengalir, dan adanya nyeri
yang berasal dari kontraksi Rahim.
b) Evaluasi pengeluaran ASI dengan teknik memerah.
c) Simpulkan hasil kegiatan, hasil kegiatan
diinformasikan pada ibu nifas dengan ketentuan :
 Jika ASI sudah keluar, maka metode SPEOS
dihentikan dan ibu dimotivasi untuk terus
memberikan ASI untuk mempertahankan
kelancaran pengeluaran ASI.
 Jika ASI belum keluar, maka dilanjutkan pada
tahap selanjutnya.
d) Lakukan kontrak kegiatan selanjutnya, sampai
maksimal hari ketiga
e) Akhiri kegiatan apabila ASI sudah jeluar atau
maksumal sampai hari ketiga
f) Cuci tangan dengan prosedur (Diah Eka, 2016).
D. PERAWATAN PAYUDARA
Perawatan payudara (Breast Care) adalah suatu cara
merawat payudara yang dilakukan pada saat hamil atau
masa nifas untuk produksi ASI.
Tujuan Perawatan Payudara :
1) Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga
terhindar dari infeksi
2) Untuk mengenyalkan putting susu agar tidak mudah
lecet
3) Untuk menonjolkan putting susu
4) Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
5) Untuk mencegah terjadinya penyumbatan
6) Untuk memperbanyak produksi ASI
7) Untuk mengetahui adanya kelainan
Manfaat Breast Massage :
1) Produksi supplay ASI
2) Membantu ibu untuk lebih rileks
3) Mencegah pembengkakan pada payudara dan
bendungan ASI
Pijat Payudara (Breast Massage) :
a) Pemanasan :
1) Hangatkan payudara dengan handuk hangat selama 2
menit, 4-5 kali.

2) Sebelum memijat payudara, cuci tangan dengan


sabun dibawah air mengalir terlebih dahulu.

b) Letakkan tangan pada payudara bawah bagian kiri


sedangkan tangan lainnya menekan pada payudara
bagian atas. Gerakkan secara maju mundur pelan dan
lembut. Jika tangan kiri bergerak maju maka tangan
lainnya gerakan mundur.

c) Posisikan kedua telapak tangan pada bagian depan


payudara kemudian gerakkan satu ke atas dan satu
kebawah. Ulangi sampai dengan 15-20 kali.

d) Buat gerakan melingkar di sekitar putting susu sekitar


15-20 kali.
e) Urut secara perlahan dan pelan mulai dari arah bawah
hingga mengerucut ke bagian putting.
f) Gunakan ujung ibu jari dan jari telunjuk untuk
memelintir pelan putting susu hingga beberapa kali.

Kompres Payudara :
1) Kompres putting susu dengan kapas yang telah diberi
minyak kelapa selama 3-5 menit.
2) Bersihkan dan tarik putting susu yang keluar.
3) Gunakan ujung-ujung jari untuk mengetuk-mengetuk
keliling putting susu.
4) Kedua tangan diberi minyak kelapa dan diletakan
diantara kedua payudara.
5) Pengurutan dimulai dari atas samping ke telapak tangan
kiri kea rah sisi kiri, telapak tangan kanan kea rah sisi
kanan.
6) Diteruskan ke bawah, kesamping, lalu melintang
telapak tangan mengurut ke depan kemudian dilepas
dari kedua payudara.
7) Telapak tangan kanan kiri menopang payudara, lalu
jari-jari tangan kanan sisi kelingking mengurut
payudara kea rah putting susu.
8) Telapak tangan kanan menopang payudara, dan tangan
lainnya memegang dan mengurut payudara dari arah
pangkal kea rah putting susu.

Kapan bisa dilakukan pijat payudara?


a) Waktu hamil di usia aterm lebih dari 37 minggu
b) Hari pertama setelah persalinan setelah bersih semua
c) Ibu-ibu yang pernah menyusui atau sempat berhenti
menyusui dulunya sempai terhenti karena beberapa
permasalahan bisa membantu menambah atau
meningkatkan produksi ASI lagi
Gambar Refleks Proses Laktasi
a) Gambar Prolaktin

b) Refleks Aliran (Let Down Reflex)


c) Refleks dalam mekanisme isapan

d) Refleks menangkap (Rooting Reflex)

e) Refleks menghisap (Sucking Reflex)


f) Refleks menelan (Swallowing Reflex)
DAFTAR ISI
Anik, Maryunani. (2012). Manajemen Laktasi. Jakarta: EGC.
Aprilina, H. D dan S. Suparti. (2016). Kombinasi Breast Care
dan Tehnik Marmet Terhadap Produksi ASI post Seksio
Caesarea di Ruang Flamboyan RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto. Jurnal Ilmiah Ilmu–Ilmu Kesehatan
Vol. 14., No 2, Agustus 2016, halaman 1-9.

Bobak I. M. (2010). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi


4. Jakart : EGC.

Cunningham, F. G. (2009). Obstetri Williams. Jakarta : EGC.

Evans, K. C., Evans, R. G., Royal, R., Esterman, A. J., & James,
S. L. (2003). Effect of caesarean section on breast milk
transfer to the normal term newborn over the first week of
life. Archives of Cisease in Childhood-Fetal and Neonatal
Edition, 88(5), F380-2.
[Link]
Fleeson, W., Jayawickreme, E., Jones, A. B. A. P., Brown, N.
A., Serfass, D. G., Sherman, R. A., Matyjek-, M. (2017).
No {Title}. Journal of Personality and Social Psychology,
1(1), 1188–1197.

Hesti, K. Y., Pramono, N., Wahyuni, S., Widyawati, M. N., &


Santoso, B. (2017). Effect of Combination of Breast Care
and Oxytocin Massage on Breast Milk Secretion in
Postpartum Mothers, 3(6), 784–790.
Ingram, J., Johnson, D., Copeland, M., Churchill, C., & Taylor,
H. (2015). The development of a new breast feeding
assessment tool and the relationship with breast feeding
self-efficacy. Midwifery, 31(1), 132–137.
[Link]
Jeongsung, C, dkk. (2012). Effect of Oketani Breast Massage on
Breast Pain, The Breast Milk Pph of mothers and the
sucking speed of Neonattus.
Johns, H. M., Forster, D. A., Amir, L. H., & McLachlan, H. L.
(2013). Prevalence and outcomes of breast milk expressing
in women with healthy term infants: A systematic review.
BMC Pregnancy and Childbirth, 13.
[Link] 13-212
Kemenkes RI. (2014). Situasi dan Analisis ASI Ekslusif.
Jakarta: Riskesdas.

Kent, J. C., Gardner, H., & Geddes, D. T. (2016). Breastmilk


production in the first 4 weeks after birth of term infants.
Nutrients, 8(12), 9–14. [Link]

Kusuma, Dharma Kelena. (2011). Metodologi Penelitian


Keperawatan (Pedoman Melaksanakan dan
Menerapkan Hasil Penelitian). Jakarta: Trans Info Media.
Lowdermilk, DL, & Jensen, M.D. (2010). Buku Ajar
Keperawatan Maternitas. (Maria A. Wijayanti &Peter
Anugrah Penerjemah). Jakarta: EGC.

Ministry of Health Republic of Indonesia. Indonesia Health


Profile Data 2011. (2012) Jakarta: Ministry Of Health.
Mongan, M. (2009). Hypnobrithing Metode melahirkan secara
aman, mudah, dan Nyaman. Jakarta: PT. Buana Ilmu
Populer.
Nugraheni, D. E., & Heryati, K. (2016). Metode SPEOS
(Stimulasi Pijat Endorphin , Oksitosin dan Sugestif) Dapat
Meningkatkan Produksi ASI dan Peningkatan Berat Badan
Bayi. Jurnal Kesehatan, VIII(1), 1–7.
[Link]
Oksitosin, D. A. N. (2008). Produksi asi ibu post seksio seserea
dengan pijat oketani dan oksitosin. Jurnal Ners, 9(1), 104–
110.

Pollard, Maria. (2015). ASI Asuhan Berbasis Bukti. (Elly


Wiriawan Penerjemah). Jakarta: EGC.
Qomar, U. L. (2018). Efektifitas Pijat Oketani Terhadap
Pencegahan Bendungan ASI Pada Ibu Postpartum.
University Research Colloqium, 271–277.

Queensland Clinical Guidelines. (2018). Maternity and Neonatal


Clinical Guideline Perineal Care. Queensland Government,
1–39.
Raras, N., Suwondo, A., Wahyuni, S., & Laska, Y. (2016).
Different Amount of Prolactin Hormone Before and After
Acupressure-aromatherapy Combination Technique in
Lactation: Epidemiological-clinic Study on Post Partum.
ASEAN/Asian Academic, 332–338. Retrieved from
[Link]

Rian, Adi P & Mayasari, Andi. (2017). Metodologi Riset


Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
Riskesdas. (2018). Kementrian Kesehatan RI Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes.

Roesli, U. &Yohwi E. (2009). Manajemen Laktasi. Jakarta:


IDAI.

Sari, D. P. (2017). Pengaruh Metode SPEOS Terhadap Produksi


Asi pada Ibu Post Seksio Sesarea di Rumah Sakit Umum
Daerah Tidar Kota Magelang Tahun 2017. Urecol, 183–
190.
Shukri, N. H. M., Wells, J., Mukhtar, F., Lee, M. H. S., &
Fewtrell, M. (2017). Study protocol: An investigation of
mother-infant signalling during breastfeeding using a
randomised trial to test the effectiveness of breastfeeding
relaxation therapy on maternal psychological state, breast
milk production and infant behaviour and growt.
International Breastfeeding Journal, 12(1), 1–14.
[Link]

Sulistyawati, A. (2009). Asuhan Kebidanan dan Ibu Nifas.


Jakarta: Salemba Medika.
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). (2012). Data
SDKI 2012 Kematian Ibu Melonjak. Di akses pada tanggal
30 September 2018 pukul 21.45 WIB dari
[Link] ta-sdki-
2012-angka-kematian-ibu-melonjak- 1380122625.

Sutadi, H., & Koestoer, R. A. (2016). Effects of Acupoint


Stimulation with Digital Massager of Oxytocin on the
Breast Milk Production of Working Mothers. Journal of
Nurse, 6(2), 91–100.

Widayanti, W. (2014). Efektivitas Metode “Speos” (Stimulasi


Pijat Endorphin, Oksitosin Dan Sugestif) Terhadap
Pengeluaran Asi Pada Ibu Nifas, 14–68.

Anda mungkin juga menyukai