ALTERNATIF MENGATASI KENAKALAN PESERTA DIDIK DENGAN TEKNIK
MODELING DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 1
BABAKANCIKAO
(Studi Deskriptif di SMPN 1 Babakancikao Kabupaten Purwakarta)
Disusun sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Program Studi : S1 - Pendidikan Agama Islam
Oleh :
Hana Ihzan Nazillah
NIM. 0101.1901.139
PROGRAM SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
DR. KHEZ. MUTTAQIEN PURWAKARTA
2023 M/ 1444 H
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di sekolah, guru tidak hanya sekedar mentransferkan sejumlah ilmu pengetahuan
kepada peserta didiknya, akan tetapi lebih dari itu terutama dalam membina sikap moral
dan karakter mereka. Pembinaan sikap peserta didik di sekolah sekian banyak guru bidang
studi, guru bidang studi Agama lah yang sangat menentukan, sebab pendidikan Agama
sangat menentukan dalam hal pembinaan sikap dan karakter tanggung jawab maupun
karakter yang lain pada peserta didik. Karena bidang studi Agama banyak membahas
tentang pembinaan sikap yang substansinya mengenai aqidah dan akhlakul karimah.
Untuk itu, upaya guru PAI yang dilakukan dalam proses pembelajaran tidak terbatas
pada memberikan informasi kepada peserta didiknya, namun tugasnya lebih komprehensif.
Selain mengajar dan membekali peserta didik dengan pengetahuan, guru PAI juga harus
menyiapkan mereka agar memiliki keperibadian yang baik dan memberdayakan bakat
peserta didik pada bidang disiplin atau bidang ilmu, mendisiplinkan moral mereka,
membimbing hasrat dan menanamkan kebaikan dalam jiwa mereka, agar mereka tidak
melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran Agama Islam (N. Nasrullah, 2015)
Guru pendidikan agama Islam harus mengetahui banyak pengetahuan dan mampu
berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah.
Guru diharapkan bisa menjadi pemimpin dan agen perubahan, yang mampu
mempersiapkan peserta didik untuk siap menghadapi tantangan global di luar sekolah.
Guru digambarkan sebagai sosok manusia yang berakhlak mulia, arif, bijaksana,
berkepribadian stabil, disiplin, santun, jujur, obyektif, bertanggung jawab, menarik,
empatik, berwibawa dan patut diteladani.
Lalu menghayati Tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan
Islam sebagai pandangan hidup. Kenakalan siswa bisa diartikan sebagai suatu kelalaian
tingkah laku, perbuatan atau tindakan yang bersifat asosial yang melanggar norma-norma
dalam masyarakat. Ditinjau dari segi agama, jelas sudah bahwa apa yang dilarang dan apa
yang disuruh oleh agama. Semua yang dianggap oleh umum sebagai perbuatan nakal
adalah hal-hal yang dilarang agama. Kenakalan adalah suatu penyimpangan tingkah laku
yang dilakukan hingga mengganggu ketentraman diri sendiri dan orang lain. Kenakalan
siswa adalah ungkapan dari ketegangan perasaan, kegelisahan dan kecemasan atau tekanan
batin sebagai respon terhadap pengaruh dari lingkungan sekitar. (Ghafur dan Rohmawan,
2015)
Melihat keadaan sekarang kenakalan remaja saat ini, khususnya anak-anak SMP hal
itu bukanlah perkara yang dapat dilakukan dengan mudah. Dengan itu untuk
mempersiapkan generasi muda yang tangguh, berwawasan dan berpengetahuan luas serta
mempunyai keunggulan budi pekerti akhlak yang mulia, sehingga menjadi warga negara
yang baik dan bertanggung jawab. Melalui proses membingbing dan mengarahkan
generasi muda yang tangguh secara intelektual saja tidak cukup, oleh karena nya harus di
imbangi dengan penanaman nilai spiritual. Agar tercipta generasi muda yang siap menjadi
penerus bangsa.
Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 3
menyatakan, sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter peserta didik
berlandaskan ketuhanan Yang Maha Esa, Cerdas, dan bermartabat. Tanggung jawab ini
menuntut sekolah untuk lebih memperhatikan masalah kenakalan remaja yang terus
terjadi.
Berdasarkan hasil wawancara observasi yang telah di laksanakan peneliti di SMPN 1
Babakancikao dimana tempat lokasi penelitian tersebut di jalan kopi ciwareng, kecamatan
Babakancikao, kabupaten Purwakarta. Setelah peneliti melaksanakan observasi, bahwa
sekolah tersebut memiliki akreditasi A dengan visi misi yaitu, menciptakan peserta didik
yang berakhlakul karimah, berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik,
didukung dengan lingkungan yang asri. Memiliki jumlah siswa terbanyak di kecamatan
Babakancikao, dimana banyak siswa yang menjadikan sekolah ini pilihan mereka untuk
melanjutkan pendidikan menegah pertama. Dilihat dari segi potensi peserta didiknya
banyak prestasi yang di peroleh, meskipun lokasinya terdapat di perdesaan tak kalah saing
dengan SMP yang ada di perkotaan, sehingga SMPN 1 Babakancikao menjadi sekolah
unggul di kecamatan Babakancikao.
Berbagai macam karakteristik dan latar belakang peserta didik SMPN 1 Babakanciako
yang berbeda, dimana sekolah menjadi tempat berinteraksinya setiap hari dengan teman,
menimbulkan pergaulan yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku peserta didik, hal
ini sering kali banyak permasalahan kenakalan peserta didik di sekolah. Menurut E
Suthedan kenakalan terdapat dari lingkungannya dan tidak diwarisi sebab remaja meniru
perilaku-perilaku yang menyimpang. Dalam hasil wawancara obervasi yang dilaksankan,
peneliti menemukan beberapa kenakalan peserta didik diantaranya : kurangnya tatakrama
atau sopan santun rasa hormat yang cenderung mengabaikan nilai moral etika terhadap
teman sebaya, guru dan staf sekolah, dimana siswa sering acuh tak acuh terhadap
keberadaannya, sering berkelahi, membolos, berpakaian tidak rapi, membawa kendaran ke
sekolah bahkan merokok pada saat jam istirahat. Sehingga aturan dan tata tertib yang
berlaku di sekolah tersebut tidak lagi dipatuhi. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti
mengambil judul : Alternatif Mengatasi Kenakalan Peserta Didik Dengan Teknik
Modeling Dalam Pendidikan Agama Islam Di SMPN 1 Babakancikao.
B. Identifikasi Masalah
kurangnya tatakrama atau sopan santun rasa hormat yang cenderung mengabaikan nilai
moral etika terhadap teman sebaya, guru dan staf sekolah, dimana siswa sering acuh tak
acuh terhadap keberadaan guru dan staf disekolah, sering berkelahi, membolos, berpakaian
tidak rapi, membawa kendaran ke sekolah bahkan merokok pada saat jam istiraha.
C. Batasan Masalah
Agar lebih spesifik dan tidak terlalu meluas apa yang diteliti. Maka peneliti membatasi
pembahasan mengenai Alternatif Mengatasi Kenakalan Peserta Didik Dengan Teknik
Modeling Dalam Pendidikan Agama Islam Di SMPN 1 Babakancikao.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka di rumuskan beberapa pokok permasalahan
yang akan di uji lebih lanjut yaitu :
1. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan peserta didik di
SMPN 1 Babakancikao?
2. Bagaimana Teknik Modeling dalam Pendidikan Agama Islam dapat
mengatasi kenakalan peserta didik di SMPN 1 Babakancikao?
E. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian dan pembahasan adalah
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan
peserta didik di SMPN 1 Babakancikao.
2. Untuk mengidentifikasi bagaimana Teknik Modeling dalam Pendidikan Agama
Islam dapat mengatasi kenakalan peserta didik di SMPN 1 Babakancikao.
F. Kegunaan Penelitian
Sebagai bahan pertimbangan dalam mengatasi adanya kenakalan peserta didik. Adapun
harapan dari penulis semoga penelitian ini berguna
1. Secara Teoritis
Penelitian ini merupakan pengalaman yang berharga, hasil penelitian ini diharapkan
menjadi Sumbangsih ilmiah dalam meningkatkan pendidikan islam. Teknik Modeling
dalam Pendidikan Agama Islam dapat mengatasi kenakalan Peserta Didik di SMPN 1
Babakancikao.
2. Secara Praktis
a. Bagi lembaga Pendidikan, sebagai bahan pertimbangan mengambil
kebijakan dalam mengantisipasi adanya kenakalan peserta didik.
b. Bagi penulis/peneliti dan peneliti selanjutnya kegunaan penelitian ini dapat
bermanfaat sebagai bahan referensi peneliti yang ingin sesuai dengan judul
peneliti, memperluas cakrawala berpikir ilmiah, sehingga penelitian dapat
tanggapan terhadap keadaan yang dihadapi serta bagi peneliti selanjutnya untuk
menyusun karya ilmiah.
G. Metodelogi Penelitian
1. Pendekatan dan Metode Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan
metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian deskriptif
kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan deskriptif kualitatif adalah
pendekatan yang informasinya atau data yang terkumpul, terbentuk dari kata-kata,
gambar bukan angka-angka.(Sugiyono,2017)
Melalui metode ini diharapkan dapat membedah fenomena yang diteliti.
Penelitian kualitatif ini sifatnya hanya menggambarkan serta menjabarkan temuan
di lapangan tanpa memerlukan hipotesis. Pendekatannya diarahkan pada latar dan
individu secara utuh. Peneliti juga menganggap metode ini tepat untuk
mendeskripsikan proses Alternatif Mengatasi Kenakalan Peserta Didik Dengan
Teknik Modeling Dalam Pendidikan Agama Islam Di SMPN 1 Babakancikao,
supaya hasilnya dapat dikaji lebih lanjut untuk mengenali kekurangan dan
kelebihan serta menemukan upaya penyempurnaannya. Dalam penelitian ini,
penulis akan melakukan pengumpulan data, analisis data, interpretasi data, serta
mengakhirinya dangan kesimpulan yang didasarkan pada analisis data.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Babakancikao yang beralamat Jl. Kopi
Ciwareng Purwakarta.
b. Waktu Penelitian
Perencanaan penelitian ini akan di lakukan mulai pada tanggal 20 Mei hingga
10 Juni 2022
3. Responden
a. Kepala Sekolah SMPN 1 Babakancikao
b. Guru Bidang Studi PAI SMPN 1 Babakancikao
c. Guru BK SMPN 1 Babakancikao
d. Peserta didik SMPN 1 Babakancikao
4. Jenis dan Sumer Data
Dalam penelitian ini data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Sumber
data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Sugiyono,
2017)
a. Data Primer
Dilihat dari jenis data yang diperlukan, maka penelitian ini menggunakan
pendekatan penelitian primer. Menurut Sugiyono sumber data primer adalah
sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sumber
data primer dari penelitian ini yaitu Kepala Sekolah, Guru bidang studi PAI,
Guru BK dan peserta didik SMPN 1 Babakancikao.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data. Adapun data sekunder dalam penelitian ini
adalah bahan tertulis atau kepustakaan, yakni buku-buku, arsip, jurnal ilmiah,
ensiklopedi, data lembaga pendidikan/ sekolah, data mengenai guru, dan data
lain yang relevan dengan penelitian ini yang membahas masalah-masalah yang
relevan dengan penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling penting dalam penelitian,
karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui
teknik pengumpulan, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi
standar data yang ditetapkan. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam
penelitian ini penelitan ini menggunakana observasi, wawancara, dokumentasi
dan Triangulasi.
Triangulasi Teknik
Observasi Partisipatif
Sumber data
sama
Wawancara
Dokumentasi
6. Observasi Partisipatif
Observasi (pengamatan). Sutrino Hadi mengemukakan bahwa, observasi
merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
berbagai proses biologis dan psikologis. Proses pelaksanaan pengumpulan data
pada penelitian ini menggunakan proses participant observation (observasi
berperan serta). Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-
hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data
penelitian. Yang akan di observasi dalam penelitian ini adalah seluruh.
a. Wawancara
Esterberg mendefinisikan wawancara adalah pertemuan dua orang untuk
bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan
makna dalam suatu topik [Link] digunakan sebagai teknik
pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk
menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Disini Peneliti akan
melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah, Guru bidang studi PAI, Guru
BK dan peserta didik SMPN 1 Babakancikao.
b. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Teknik
pengumpulan data ini dipilih oleh peneliti untuk melengkapi pengumpulan data
seperti foto-foto dan data-data lainnya. Dalam penelitian ini yang akan
didokumentasikan yaitu peneliti akan mengambil gambar pada kegiatan-
kegiatan yang dilakukan.
7. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen dalam penelitian ini
adalah alat bantu berupa handphone (recorder dan camera), lembar observasi
dan pedoman wawancara.
H. Teknik Analsis Data
Menurut Sugiyono analisis data adalah proses dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun kedalam pola memilih mana yang penting dan yang
akan dipelajari, dan membuat kesimpulan, sehingga mudah dipahami oleh diri
sendiri maupun orang lain.
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang telah terkumpul dari
pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dari berbagai sumber,
dari wawancara dengan responden, dokumentasi, observasi yang kemudian
dideskripsikan dan interpretasikan dari jawaban yang diperoleh.
a. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak
perlu.
b. Penyajian data
Menurut Miles dan Hubermen bahwa Penyajian data adalah sekumpulan
informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.
Langkah ini dilakukan dengan menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun
yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data
dilakukan untuk dapat melihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian
tertentu dari gambaran keseluruhan.
c. Kesimpulan atau verifikasi
Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir dalam proses analisa data. Pada
bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data-data yang telah
diperoleh. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan
kesesuaian pernyataan dari subyek penelitian dengan makna yang terkandung
dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut
I. Pengujian Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, keabsahan data yang telah terkumpul dapat diuji dengan
menggunakan teknik trianggulasi data. menurut Lexy J. Moeleong triangulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data
itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Triangulasi tersebut dapat dicapai dengan jalan:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakannya pada orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat
dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan
menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintah dan sebagainya.
J. Studi Kepustakaan
Di samping menggunakan buku-buku atau referensi yang relevan, peneliti juga
melihat hasil penelitian terdahulu agar nantinya dapat dilihat persamaan dan
perbedaannya. Dalam telaah penelitian terdahulu ini peneliti menemukan bahwa :
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Citra Bunga Lestari, Mahasiswi jurusan PAI
fakultas ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo,
berjudul :"Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan Peserta
Didik Di SMAN 2 Luwu ".
Berdasarkan hasil penelitian tentang pelaksanaan Upaya Guru Pendidikan
Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan Peserta Didik Di SMAN 2 Luwu, dapat di
simpulkan antara lain : Upaya guru yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama
Islam terhadap permasalahan kenakalan peserta didik di SMA Negeri 2 Luwu adalah
sebagai berikut: Pertama, memberikan pemahaman dan pengertian tentang pendidikan
agama Islam kepada peserta didik baik di dalam maupun di luar kelas. Kedua,
mengadakan pendekatan secara pribadi kepada peserta didik yang melakukan
kenakalan, menasehati dan memberi teguran. Ketiga, lebih aktif dalam kegiatan-
kegiatan keagamaan seperti merayakan hari-hari besar keagamaan di sekolah.
Keempat, memberikan sansi atau hukuman kepada peserta didik yang terus- menerus
melakukan kenakalan.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Adapun persamaan
penelitian pertama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sama-
sama menggunakan peran guru. Sedangkan untuk perbedaanya terletak pada cara
mengatasinya, untuk penelitian ini yang digunakan yaitu pertama memberikan
pemahaman, kedua mengadakan pendekatan secara pribadi, ketiga mengadakan
kegiatan-kegiatan keagamaan dan keemapat memberikan sanksi, sedangkan yang
akan peneliti bahas ini tentang mengatasi kenakalan peserta didik dengan teknik
modeling.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Abdul Afif Sagala, berjudul:
“Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanggulangi Perilaku Kenakalan
Siswa di SMP Muhammadiyah 2 Kota Batu”. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa Upaya guru PAI dalam menanggulangi perilaku kenakalan siswa di SMP
Muhammadiyah 2 Kota Batu adalah dengan melakukan Penanggulangan melalui
upaya preventif (guru menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri siswa dengan
melakukan pengajian sebelum pembelajaran dimulai dan pengajian yang
dilaksanakan pada hari sabtu setiap 1 bulan sekali atau 2 minggu sekali di rumah
siswa.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Adapun persamaan
penelitian pertama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sama-
sama menggunakan peran guru. Sedangkan untuk perbedaanya terletak pada cara
mengatasinya, untuk penelitian ini yang digunakan yaitu melalui upaya preventif,
sedangkan yang akan peneliti bahas ini tentang mengatasi kenakalan peserta didik
dengan teknik modeling.
K. Kerangka Pemikiran
Kerangka pikir dalam penelitian ini digunakan sebagai acuan dalam menganalisis
teori, memberikan gambaran sederhana terkait penelitian yang dilakukan dan
mengarahkan peneliti menemukan data dan informasi serta kemudian
menganalisisnya, yang pada akhirnya dapat ditarik sebuah kesimpulan pada penelitian
ini mencoba untuk mengetahui bagaimana teknik modeling dalam Pendidikan Agama
Islam.
L. Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam proposal penelitian ini disusun dalam lima bab :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari : Latar belakang masalah, identifikasi masalah, fokus
penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, metode
penelitian, dan sistematika penulisan
BAB II : Landasan teori secara umum, bab ini memuat pengertian alternatif,
kenakalan peserta didik, teknik modeling, dan guru Pendidikan Agama Islam.
BAB III : Metode Penelitian terdiri dari : Pendekatan dan jenis penelitian, lokasi
penelitian, subjek penelitian, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan
keabsahan data, dan tahapan-tahapan penelitian.
BAB IV : Pembahasan yang menjelaskan tentang Alternatif Mengatasi Kenakalan
Peserta Didik Dengan Teknik Modeling Dalam Pendidikan Agama Islam Di SMPN 1
Babakancikao.
BAB V : Kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.
Moelong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
N. Nasrullah.2015. Upaya Guru PAI dalam Membentuk Karakter Siswa.
Undang-Undang. sisdiknas, Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003. sistem
pendidikan Nasional. Jakarta : Sinar Grafika. 2006