Penerapan Kebijakan Jalan Satu Arah di Puncak Saat Weekend
Kebijakan satu arah yang diberlakukan di Puncak biasanya dilakukan pada pagi hari
dan sore hari. Pada pagi hari, kebijakan ini dilakukan untuk memprioritaskan kendaraan dari
bawah atau Jakarta/Bogor menuju Puncak. Sebaliknya, pada sore hari, memprioritaskan
kendaraan dari atas atau Puncak mengarah ke Jakarta/Bogor. Kini, pemberlakuan sistem satu
arah akan dilakukan setiap weekend. Padahal, sebelumnya kebijakan ini hanya akan
diberlakukan jika jumlah kendaraan sudah di atas 50% dari kapasitas jalan.
Menurut saya, kebijakan ini cukup efektif hanya pada jangka pendek. Secara real-time,
arus lalu lintas terlihat lancar dan kendaraan dapat melewati jalan tersebut. Namun, dalam
jangka panjang, kebijakan ini justru akan memperparah keadaan. Pengendara atau secara
umum orang-orang yang ingin berlibur ke Puncak akan merasa difasilitasi. Orang-orang yang
awalnya tidak ingin ke Puncak pun akan menjadi tertarik dan akhirnya menambah demand lalu
lintas yang sudah melewati kapasitas. Dengan kata lain, kebijakan ini akan menarik lebih
banyak orang-orang untuk pergi ke Puncak.
Alur berpikir dengan menyediakan sarana dan prasarana transportasi berdasarkan
demand saja pada dasarnya kurang baik. Dalam hal ini, kebijakan oneway yang bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas jalan dilakukan untuk mengakomodasi demand arus yang tinggi saat
wwekend. Perancangan infrastruktur pada umumnya memang diawali dengan analisis beban
yang akan ditanggung oleh struktur. Kemudian desain dibuat untuk mengakomodasi beban
tersebut. Hal ini kurang tepat jika diaplikasikan dalam konteks transportasi, karena demand
lalu lintas merupakan hal yang dinamis.
Kapasitas jalan yang telah ditambah hanya mampu mengakomodasi demand eksisting,
belum memperhitungkan tambahan arus lalu lintas di masa yang akan datang. Tentu saja
demand arus akan terus bertambah dengan adanya kebijakan ini. Pengendara akan merasa
terfasilitasi dengan baik sehingga lebih banyak orang tertarik untuk berkunjung ke Puncak dan
pada akhirnya menambah demand. Pertambahan demand akan diikuti dengan semakin
parahnya kemacetan yang terjadi, sehingga diperlukan penambahan kapasitas jalan. Lagi-lagi,
kapasitas jalan harus ditambah yang tentunya akan menghasilkan tambahan arus lalu lintas
baru. Hal ini mengakibatkan lingkaran setan yang tak berujung. Penambahan kapasitas secara
tidak langsung akan meningkatkan demand yang tidak lagi mampu diakomodasi. Siklus ini
akan terus berulang jika tidak ada perubahan dalam pengambilan kebijakan.
Salah satu hal yang luput untuk dilakukan adalah pengaturan demand lalu lintas. Selama
ini, kebijakan yang diambil cenderung mengarah pada menyediakan kapasitas yang memadai
sesuai dengan demand yang ada saja. Padahal, pengaturan demand juga perlu dilakukan.
Seperti misalnya di Jakarta, kebijakan ganjil genap dilakukan untuk mengatur demand lalu
lintas pada rush hour. Perbaikan sistem transportasi umum juga dilakukan untuk memindahkan
orang-orang dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, sehingga kemacetan yang memang
didominasi kendaraan pribadi dapat dikurangi.
Dalam konteks wilayah Puncak, pengaturan demand lalu lintas dapat dimulai dengan
mengatur penggunaan lahan. Rencana tata guna lahan harus diimplementasikan dengan baik.
Sebagai daerah yang terletak di dataran tinggi, tentunya daerah Puncak berperan besar sebagai
daerah resapan air untuk dialirkan ke daerah yang lebih rendah di sekitarnya. Banyaknya alih
fungsi lahan dari daerah resapan menjadi daerah wisata ini bukan hanya meningkatkan demand
arus lalu lintas, tapi juga mengakibatkan dampak lingkungan yang serius. Sebagai kawasan
pegunungan, beberapa titik di daerah Puncak kini mengalami tanah longsor yang sebelumnya
belum pernah terjadi. Banjir yang terjadi di dataran rendah sekitarnya seperti Jakarta juga
bertambah parah.
Daerah resapan seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ditanami tanaman kini
beralih fungsi menjadi daerah hunian seperti vila. Ada juga yang diubah menjadi tempat wisata,
toko-toko, atau kios pinggir jalan. Beberapa masalah pun muncul seperti bertambahnya sampah
dan limbah yang seringkali tidak ditangani dengan baik, berkurangnya daerah resapan air
sehingga air hujan tidak bisa langsung menyerap ke dalam tanah, serta bertambahnya polusi
udara karena banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang di wilayah Puncak.
Dalam implementasinya, diperlukan komitmen dari para stakeholder dan pejabat.
Pengembalian fungsi lahan menjadi daerah resapan memang tidak menghasilkan hasil yang
instan. Dari sudut pandang pebisnis dan mungkin masyarakat setempat pun kebijakan ini
mungkin akan dianggap merugikan mereka. Namun, dalam jangka panjang, kebijakan ini tidak
hanya mengatasi permasalahan lalu lintas tapi juga permasalahan lingkungan.
REFERENSI
[1] [Link]
[2] [Link]
puncak-bogor