0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan9 halaman

Mengembangkan Budaya Santun Manusia

Teks tersebut membahas pentingnya mengembangkan budaya santun dan kemanusiaan. Manusia harus menjalankan kodratnya sebagai manusia dengan cara yang layak, bukan dengan meniru gaya hidup binatang. Seniman memiliki peran penting dalam mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya seni mereka. Namun, kemanusiaan sejati lebih dari sekadar kata-kata, tetapi perlu diwujudkan mel

Diunggah oleh

Ribut Achwandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan9 halaman

Mengembangkan Budaya Santun Manusia

Teks tersebut membahas pentingnya mengembangkan budaya santun dan kemanusiaan. Manusia harus menjalankan kodratnya sebagai manusia dengan cara yang layak, bukan dengan meniru gaya hidup binatang. Seniman memiliki peran penting dalam mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya seni mereka. Namun, kemanusiaan sejati lebih dari sekadar kata-kata, tetapi perlu diwujudkan mel

Diunggah oleh

Ribut Achwandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENGEMBANGKAN BUDAYA SANTUN

D. Zawawi Imron

Paling tak enak, konon, makhluk Tuhan yang disebut manusia. Pasalnya, kalau
makan harus cari yang halal, kalau mau berpasangan harus nikah, dalam hidup
keseharian pun harus memakai pakaian. Perhatikan kambing, kerbau, ular, kecoak
dan binatang lainnya, tidak memakai pakaian tidak apa-apa. Pendapat seperti itu
tentunya boleh-boleh saja, kita tidak boleh marah, karena marah tidak bisa
menyelesaikan masalah.
Pendapat yang demikian itu, mungkin karena ia merasa hidup ini terlalu
banyak rambu-rambu moral. Sehingga orang tidak bebas seenaknya seperti
binatang. Kemudian ia merasa iri terhadap binatang yang bisa bebas berbuat apa
saja. Harimau menerkam kancil tidak ada hukum yang akan
mempermasalahkannya, kijang memacari adik kandungnya sendiri tetap sempurna
sebagai kijang. Ayam suka bertarung dengan saudaranya sendiri, tidak akan pernah
ada yang memecatnya berhenti menjadi ayam. Sebab memang begitulah
sempurnanya peri kebinatangan. Sedangkan kalau menjadi manusia, dari kecil
sudah harus sekolah, harus pintar, harus jujur, harus sopan, harus mandi, harus
pakai sabun, harus bikin rumah, harus bikin kapal penyeberangan, harus bikin
pabrik, harus demokratis, harus cantik, harus ganteng, harus santun dan puluhan
ribu harus yang lain. Kayaknya hidup ini hanya untuk melakukan harus dan harus
saja.
Padahal harus yang positif itu tak lebih dari tuntutan kepentingan manusia itu
sendiri, agar hidup lebih nyaman dari pada bergaya semau gue yang tanpa
keharusan untuk bertanggung jawab terhadap kemanusiaan. Harus itu mungkin
semacam “perjanjian” manusia dengan kemanusiaannya sendiri agar manusia itu
mampu menemukan bahagia yang sejati. Yaitu hidup sebagaimana layaknya
manusia, tidak pinjam gaya yang telah umum dipakai oleh moyet dan [Link],
dengan menghindari diri dari berlagak dengan gaya binatang, sebenarnya seorang
manusia hanya menjalankan kodratnya sebagai manusia. Apa sulitnya seorang
manusia menjalankan kodratnya sebagai lazimnya manusia? Menjawab pertanyaan
itu mungkin mudah, tapi mungkin pula susah. Kata-kata bisa saja meluncur
memberi jawaban yang sementara bisa dianggap benar, tapi apa manfaatnya sebuah
jawaban dengan kata-kata, kalau perbuatan saya masih juga berbeda dengan yang
saya ucapkan. Itu bisa terjadi karena “lidah memang tidak bertulang. ”Berbicara
kefasihan, meskipun kefasihan konkret dalam bentuk perbuatan yang jelas
memuliakan manusia, dalam bidang kebudayaan kita tidak bisa meremehkan
kefasihan estetik. Yaitu kefasihan dalam bahasa keindahan yang menunjukkan
kemuliaan hati manusia, yaitu [Link] itu dimiliki oleh para seniman, yang
berangkat dari hatinya yang indah. Kefasihan estetik adalah hasil dari proses kreatif
para seniman untuk mengekpresikan dirinya (dalam hal ini pengalaman hidup lahir
batin) dalam karya-karya yang sesuai dengan bakat-bakat pribadinya.
Proses olah pikir dan olah rasa seniman dalam membawa suara kehidupan,
pada satu sisi adalah penghormatan dan rasa syukur sang seniman atas anugrah
yang berupa bakat dan talenta yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada awal olah
seni (proses kreatif) disadari atau tidak ada langkah yang ditempuh untuk
menempuh jalan syukur. Syukur itu bentuk terima kasih yang dimaknai
memanfaatkan rahmat Tuhan yang berada dalam diri. Tidak menghargainya, akan
mengurangi nilai kreatif dan sekaligus menolak untuk kreatif, dan itu sama dengan
menolak memihak [Link] itu mengembangkan diri secara kreatif, bagi
pribadi masing-masing seniman merupakan tanggung jawab kekhalifaan sebagai
makhluk mulia yang jauh lebih mulia dari makhluk Tuhan yang lain. Berbicara
tentang pribadi, kreatifitas itu sendiri menuntut seseorang untuk menemukan (yang
sesungguhnya mencari dengan kesungguhan) ekspresi yang merupakan
representasi dari dirinya sebagai pribadi yang hadir ke dunia. Perjuangan kreatif
memberi makna bagi hidup seperti ini penuh dengan aneka tantangan yang
kesakitan.
Domisili, sarana, rujukan, kawan dan lawan dialog kadang bisa menjadi
hambatan, tapi tidak mustahil juga bisa mendorong lajunya kreatifitas. Semua itu
akan menjadi romantika, bahwa sukses itu pada umumnya adalah milik orang yang
sungguh-sungguh dan tabah untuk naik dari satu jenjang ke jenjang berikutnya
sekaligus memberi harkat kepada umur dan kehadirannya. Ketika karya seni itu
berhadapan dengan masyarakat, sebuah karya kadang disalahfahami sehingga
berhadapan dengan pelarangan, pencekalan, dan bahkan pemasungan. Sebuah hasil
kreatif yang dipersembahkan kepada masyarakat dan kemanusiaan ternyata harus
dikuburkan. Namun, karya seni sebagai suara kebenaran estetik dan sebagai suara
kemanusiaan sebagian sulit untuk dikubur. Karya sastra yang dilarang justru lebih
banyak dibaca orang dengan digandakan memakai fotokopi. Sebuah karya sastra
yang dilarang semakin menarik dan menggoda untuk dibaca. Berbeda dengan
lukisan dan patung kalau dibakar dan dihancurkan bisa tamat riwayatnya. Sang
seniman tentu merasakan kepedihan. Tapi ada pula yang arif bisa menikamati
kekecewaan, karena sebagai manusia kreatif ia tidak mau memberhalakan
kesedihan.
Dari sini kekecewaan dan kepedihan bisa menjadi landasan kreatif untuk
menghasilkan karya-karya yang lebih baik. Kebebasan dan pemberian ruang yang
luas kepada karya-karya kreatif adalah penghargaan kepada kemanusiaan. Dalam
iklim berkeseniman yang sehat, biarlah sang seniman itu sendiri melakukan
pencekalan bagi dirinya, karena ia sendiri yang tahu untuk berbuat dan tidak
berbuat. Kearifan kemanusiaan serta kedekatan kalbu seorang seniman dengan
Tuhan yang berupa kecerdasan spiritual, akan melahirkan karya-karya yang bukan
hanya menyenangkan tetapi mencerdaskan dan mencerahkan.
Meskipun seniman itu manusia kreatif, tidak berarti di luar kesenimanan tidak
ada kemuliaan dan keindahan. Para penemu di bidang pendidikan, kedokteran,
teknologi, dan lain-lain, termasuk Pak Mudjair yang menemukan ikan laut yang bisa
diternakkan di darat, adalah kreator-kreator yang pantas dihormati. Semua sektor
dan semua profesi tentu mulia, asalkan bermanfaat bagi kemanusiaan. Penghargaan
kepada profesi lain seperti itu menunjukkan sikap dewasa, bahwa sang seniman
dapat membebaskan dirinya dari godaan arogansi. Dari sini diperlukan
kerendahatian para seniman, bahwa kesenimanan itu adalah salah satu sektor dari
pengabdian kepada kemanusiaan. Kerendahhatian seperti ini akan menghapus
kesalahfahaman antara seniman dengan masyarakat dan antara seniman yang satu
dengan seniman yang lainnya. Ketika nurani dikembangkan dalam keindahan rasa
kemanusiaan, musuh seorang terasa banyak, dan teman seribu terasa sangat sedikit.
Kemanusiaan akan terasa indah bila dalam merumuskannya tidak selalu dengan
kata-kata. Perbuatan-perbuatan santun yang membuat diri dan orang lain merasa
enak dan nyaman meskipun itu dilakukan seorang bisu, akan menjadi bahasa
kemanusiaan yang penuh kefasihan. Tindakan yang nyata dan bermakna bisa lebih
fasih dari sejuta untaian kata. Maka, tidak heran kalau pada zaman dahulu kala,
dikisahkan ada filsuf yang pergi mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain,
dari satu lembah ke lembah yang lain, dari satu kota ke kota yang lain, dengan obor
di tangan baik siang maupun malam. Setelah ada seseorang bertanya, apa yang ia
cari, ia lalu menjawab: “Saya sedang mencari manusia.”Orang yang bertanya jadi
tertunduk. Ia mulai introspeksi, pantaskah dirinya mengaku manusia?
Berdasarkan perilakunya sehari-hari, orang itu merasa malu mengaku, bahwa
dirinya manusia. Itu pada zaman dahulu kala. Pada zaman modern ini, setiap
manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri, manusiakah diriku ini? Kita
sekarang mencoba bertemu sekelompok besar manusia yang disebut rakyat.
Mereka kebanyakan hidup di pedesaan, dengan pikiran dan cara hidup yang
sederhana. Tidak mustahil kalau mereka banyak yang miskin. Merekalah yang kalau
ada peringatan hari kemerdekaan, ada panitia yang menanamkan pohon pinang
yang dianggap layak jadi [Link] pinang yang dilincinkan seperti betis Ken
Dedes serta diberi pelumas itu di puncaknya digantung dua buah kopiah, dua buah
sarung, empat kerudung wanita, dan entah berapa lembar kaos oblong serta kaos
singlet. Siapa pun boleh memanjat pohon itu, tapi yang paling banyak adalah orang
miskin yang ingin mendapatkan benda-benda yang disukainya. Karena sangat
licinnya, baru setengah meter naik sudah meluncur ke tanah lagi. Para penonton lalu
bersorak kegirangan. Untuk sampai ke puncak pohon pinang itu dibutuhkan
perjuangan berjam-jam, lalu kemudian orang-orang miskin itu meraih salah satu
barang yang [Link] kebiasaan di beberapa tempat di negeri kita
selama berpuluh tahun yang entah kapan dimulainya. Tapi itulah kira-kira
gambaran kesulitan orang miskin dalam meraih rejeki dan kesejahteraan yang
dikemas menjadi tontonan gratis. Nonton betapa sulitnya jadi rakyat
[Link] dengan disiplin ilmu model apa saja, kemiskinan itu memang tidak
merdu didengar, apalagi dialami sendiri. Artinya, orang yang sekadar melihat orang
miskin tidak akan sama pengalaman pahitnya dengan si miskin itu sendiri.
Meskipun kadangkala, seorang yang tidak miskin menyaksikan orang miskin
kalbunya tergetar oleh rasa terenyuh atau haru. Susah yang dirasakan orang miskin
bisa berlipat ganda, bayangkan kalau anak-anak dan istrinya sehari makan dan
sehari tidak, sementara orang menagih utang bergantian. Merekalah yang perutnya
sakit seperti penuh dengan pecahan gelas-gelas kaca. Usaha mendapatkan
penghasilan sudah diupayakan ke sana ke mari, tapi terganjal oleh sistem dan
struktur sosial yang [Link], betapa pentingnya kita mencerahkan kalbu agar
punya simpati dan empati terhadap kemiskinan.
Penghayatan jiwa kemanusiaan yang dalam, dilukiskan Sutardji Calzoum
Bachri, yang tertusuk padamu berdarah padaku. Penghayatan kemanusiaan bahwa
derita seorang anak manusia hakikatnya adalah kesakitan seluruh [Link]
terhadap kemiskinan itu, setiap saat bentuknya bisa berbeda. Perangkat-perangkat
afeksi, seperti kalbu dan syaraf-syaraf perasaan tentu harus dipasang baik-baik
sehingga terasa bahwa dalam bagian yang hakiki dari ruh ada kelenjar yang jatuh.
Yaitu kelenjar kemanusiaan atau kelenjar persaudaraan, bahwa antara diri dengan
orang lain baik yang miskin maupun yang kaya ada benang persaudaraan yang
menghubungkan keduanya. Itulah jiwa-jiwa yang terpadu dalam kemanusiaan yang
dicerahkan dengan percikan sinar Ilahi.
Pendekatan jiwa kepada kaum miskin itu perlu kelanjutan pendalaman
spiritualitas agar apa yang kita miliki menjadi siap untuk selalu membuat orang
miskin dan orang lain tersenyum, karena di dalam diri telah kental spirit seperti
yang dilukiskan ucapan penyair Al-Ma’ary: “Janganlah hujan membasahi ladangku
kalau tidak menyiram seluruh bumi.” Manusia yang sehat rohaninya akan berupaya
menjadi agen perpanjangan dari kasih sayang [Link] memandang
kemanusiaan itu ada ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang pantas untuk
direnungkan, “Tidak lapar orang miskin kecuali karena rakusnya orang kaya.”
Menurut pemahaman ini, sebenarnya rezeki dari Tuhan untuk manusia telah cukup.
Tapi kenapa ada orang miskin? Ialah karena ada orang-orang yang mengambil lebih
banyak sampai banyak orang lain tidak mendapat bagian rejeki; atau karena tidak
ada keadilan di bidang sosial dan ekonomi. Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 ayat
3 disebutkan: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Untuk itu
perbaikan nasib rakyat miskin atau menghormati rakyat miskin harus menjadi
agenda utama pemerintah dan harus mendapat dukungan yang tulus dari orang-
orang yang hidupnya lebih beruntung.
Dukungan tersebut tidak hanya dukungan moral, tetapi berupa berupa
tindakan-tindakan konkret yang benar-benar membuat orang miskin bisa
menolong dirinya sendiri. Tindakan menyantuni orang miskin itu pasti selaras
dengan substansi kepahlawanan. Feodalisme yang membagi manusia menjadi
“orang besar” dan “orang kecil” (wong cilik) jelas bertentangan dengan persamaan
hak dan melanggar kesantunan; kebiasaan terlambat hadir kalau ada pertemuan
dan undangan, serta berlonggar-longgar dalam menghargai waktu, jelas tidak sesuai
dengan prinsip efisiensi dan asas disiplin; kebiasaan makan-makan di tengah
keluarga miskin ketika hari duka ditinggal mati salah seorang anggota keluarganya
akan semakin menyengsarakan orang miskin; kado dan upeti yang dipersembahkan
kepada atasan bisa melestarikan budaya sogok, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Menyegarkan tradisi santun itu adalah bagian dari perjuangan [Link]
kata-kata juga bisa berupa dongeng atau cerita rakyat lainnya. Dongeng — kegiatan
sastra bertutur yang hidup di tengah-tengah masyarakat agraris — sinkron sekali
dengan alam pedesaan dengan angin yang mendesir. Di malam hari, tikar digelar di
halaman rumah bersamaan dengan munculnya bulan purnama. Kemudian nenek
atau kakek mendongeng yang dikelilingi cucu-cucunya yang tercinta. Pada saat itu
terjadilah proses rekatan kekerabatan yang sublim yang bisa semakin
menghaluskan perasaan dan rasa kasih sayang. Selain itu, dongeng sangat
membantu rasa sayang kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan bila dongengnya
berupa fabel yang mengisahkan kehidupan [Link] kemanusiaan saya jadi
sedih oleh dongeng “Si Kancil” binatang yang dianggap tokoh cendekia padahal ia
penipu yang tidak berjiwa. Banyak orang bersimpati pada kecerdikan Kancil, tapi
empati saya justru kepada binatang yang ditipu Kancil. Ternyata kecerdikan Kancil
bisa digunakan untuk mencelakakan sesama binatang. Anehnya, tipu daya seperti
itu sesekali dilakukan juga oleh cendekiawan manusia. Kenyataan telah bicara,
beberapa cendekiawan kita ada yang telah mengkhianati hati nuraninya sendiri
dengan berbuat merugikan negara dan [Link] wacana budaya, kalau kita
kreatif memahami tradisi, kearifan itu dapat mengingatkan kita pada kehidupan
masa kini kita. Dalam sebuah Lontara (kitab sastra Bugis-Makassar) terdapat dialog
antara penguasa dengan rakyat sebagai berikut:Karaeng Bajo: “Engkau telah angkat
kami sebagai rajamu. Kami bersabda dan engkau tunduk-patuh. Kami adalah angin
dan engkau adalah kayu. ”Paccalaya dan Kasuwiyang Salapanga menjawab: “Engkau
adalah angin dan kami adalah daun kayu. Akan tetapi, hanya daun kayu yang telah
menguning sajalah yang engkau turunkan. Engkau tidak akan mengambil ayam dari
kandang kami. Jika engkau menginginkan barang kepunyaan kami, engkau
membelinya dengan harga yang patut dibeli. ”Perhatikan kalimat,” hanya daun kayu
yang menguning sajalah yang engkau turunkan,” menunjukkan betapa manusia
dituntut santun walaupun terhadap tumbuh-tumbuhan. Sejalan dengan itu, agama
juga mengingatkan bahwa salah satu tugas manusia di dunia adalah menjadi
khalifah yang merawat bumi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang
berbunyi: “… Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi dan menugaskan kamu
sebagai pemakmurnya,…” (Q.S. Hud, 11 : 61).Secara teologis, memakmurkan bumi
bukan sekedar mencari makan. Hakikinya, tindakan itu adalah sebagai bentuk
persahabatan antara manusia dengan alam. Bahkan dalam budaya Minangkabau,
alam bukan hanya sahabat, tapi “alam terkembang jadi guru.”Kemakmuran akan
melahirkan konsekuensi logis berupa terpenuhinya kebutuhan pokok hidup
manusia.
Upaya memakmurkan bumi atau tanah air yang didasari dengan kesadaran
terdalam akan menjadi proses pendekatan antara manusia dengan Tuhannya. Soal
teknologi pacul dan bajak diganti dengan traktor di era teknologi ini menunjukkan
adanya hasil dialog yang menunjang kemajuan dan kebudayaan yang kreatif sebagai
jawaban atas tantangan zaman yang semakin modern. Dengan demikian, teknologi
bisa menjadi sarana untuk bersyukur dan bersujud kepada [Link]
berkesinambungan itu tentunya melibatkan berbagai sektor atau bahkan semua
sektor. Tidak kurang pentingnya adalah sektor pendidikan yang jelas arahnya.
Karena itu, dibutuhkan daya kreatif dengan membuka wacana-wacana baru yang
berorientasi ke masa depan. Orientasi ke masa lalu tanpa melihat ke depan bisa
membuat anak-anak kita tampil kadaluarsa sebagai aktor yang terlambat hadir dan
tidak [Link] sinilah diperlukan pendidikan untuk membawa anak cucu kita
kepada pemberdayaan dan keberdayaan baru. Adanya sekolah-sekolah yang
didirikan pemerintah penjajahan Belanda pada awal abad ke-20 terbukti telah
membawa bangsa kita kepada wawasan baru dan modern. Berdirinya Republik
Indonesia 17 Agustus 1945, pengelolaan serta penyelenggaraan negara kita
selanjutnya tidak lain adalah berkat adanya pendidikan modern [Link] tidak
ada desa yang tidak punya sekolah. Bahkan untuk satu desa sudah ada lebih lima
sekolah dasar atau yang setingkat. Lembaga pendidikan SMP, SMA, sekarang sudah
bisa ditemukan hampir di semua ibukota [Link] model pendidikan kita
agaknya masih juga kelanjutan dari sisa-sisa pendidikan kolonial yang telah direvisi
di sana-sini. Anak didik di pedesaan diajar seperti anak Jakarta. Jarang ada
keterampilan yang diajarkan sesuai dengan alam desa dan alam pesisir. Anak-anak
petani tidak ditanami penghayatan mendalam terhadap aroma lumpur sawah dan
tanah tegalan, serta anak-anak nelayan tidak diajar terampil menebar jala dan
mengembangkan layar. Akibatnya, sesudah tamat SMA sebagian mereka menjadi
anak yang gagap untuk bekerja di desanya sendiri. Yang anak petani enggan
memegang cangkul dan membajak, serta anak nelayan tidak ada gairah terjun ke
laut untuk menerjang ombak dan menentang angin. Sebagian dari mereka merantau
ke kota-kota besar seperti Jakarta, atau jadi TKI ke luar negeri yang siap dianiaya
atau dihina oleh majikan. Dalam kurikulum memang ada muatan lokal, tetapi
sampai sekarang pengajar yang kompeten di bidang itu sulit ditemukan.
Aneh yang lain ialah kenyataan hasil dari pendidikan kita. Pada sekitar zaman
kemerdekaan, menurut catatan Eka Budianta, jumlah sarjana masih sangat sedikit,
sekitar 45 orang. Tapi kita mampu menegakkan kedaulatan, mengusir penjajah,
mampu memenangkan diplomasi sehinggga menjadi bangsa yang terhormat. Zaman
itu memang tidak mulus, di sana-sini ada pertentangan sesama kita, antara lain
seperti “Peristiwa Madiun,” munculnya DI-TII dan lain-lain. Tetapi relatif bisa
[Link] kita sudah punya jutaan orang sarjana, yang sebenarnya harus bisa
mengatasi semua krisis yang melanda negara dan bangsa kita akhir-akhir ini, baik
dalam bidang ekonomi, politik, hukum, budaya, dan lain-lain. Tetapi pada
kenyataannya, di antara kita hanya pandai bertengkar dan saling-cakar sesama kita
sendiri, kerusuhan terjadi di mana-mana. Di samping itu, pembakaran hutan,
korupsi, penggundulan bukit yang menimbulkan banjir, semua itu dilakukan oleh
orang-orang yang terdidik.
Kenapa ada orang terdidik ternyata hanya pandai mendatangkan malapetaka?
Lalu apa guna sekolah-sekolah dan perguruan tinggi itu didirikan kalau kita hanya
pandai merusak, bertengkar, menghujat, mencacimaki pemimpin, dan berbuat
kekerasan? Padahal kalau hanya untuk saling-cakar dan bermusuhan saya kira
orang tidak perlu sekolah. Kenapa pada era banyak sarjana keberutalan dan
kekerasan makin marak?Hal itu menjadi pertanda, bahwa pendidikan untuk
membentuk manusia-manusia yang santun itu sangat penting. Kesantunan dan budi
pekerti itulah yang akan membuat atmosfer kehidupan terasa tenteram dan segar
dengan manusia-manusia yang adil dan beradab. Semua tindakan manusia itu
berasal dari kalbu. Kalau kalbunya keras, hati nuraninya dangkal dan rasa kasih
sayang kepada sesama sudah tidak ada, maka kekerasan tidak akan bisa
[Link] pembunuhan wartawan Udin, wafatnya Munir, tawuran antar-
pelajar dan kekerasan massal lainnya yang sering diberitakan di koran dan televisi,
semuanya itu membuktikan nyata bahwa kekerasan itu ada, dan manusia yang haus
darah saudaranya sendiri juga benar-benar ada. Itulah “disharmoni sosial” akibat
adanya benturan kepentingan yang melonjak menjadi konflik.
Ketegangan psikologis yang menyebabkan disorientasi mental dan hilangnya
rasa [Link]-akhir ini telah terjadi proses pendangkalan spiritual dan moral.
Kehidupan beragama, misalnya, memang tampak semarak dan berkibar. Sekarang
ada baju “takwa.” Bahkan, naik haji sudah diminati banyak birokrat dan artis. Di
kantor-kantor dan sekolah-sekolah ada mushalla. Dari sudut esktrinsik formal, yang
demikian itu sangat positif. Hanya saja, kalau hal ini tidak diimbangi dengan
penghayatan intrinsik yang ditandai dengan tunjamnya sujud jiwa kepada Sang
Pencipta, serta upaya membersihkan hati, semaraknya kegiatan agama itu belum
menyentuh esensi agama. Yang justru terjadi adalah pendangkalan ruhani. Dalam
kondisi seperti itu, agama dan Tuhan terkadang hanya dijadikan sebagai bendera
kebanggaan. Cara beragama yang cenderung ekstrinsik ini akan gagal mendapatkan
makna hidup yang hakiki. Karena itu semaraknya kehidupan beragama harus
disertai dengan penghayatan spiritual yang mendalam dan kedekatan kalbu dengan
[Link] yang menyerbu lewat aneka media — termasuk sebagian tayangan
televisi yang tidak bermutu — kepada manusia-manusia yang jiwanya tidak tegar
dan tidak punya daya tangkal, bisa membuat orang mengabaikan hati nuraninya
sendiri (Alexis Carrel). Tidak mustahil bahwa hal itu akan sangat mendongkrak
proses pendangkalan ruhani yang pada puncaknya menyebabkan manusia
kehilangan substansi kemanusiaannya. Materialisme, hedonisme, dan sadisme akan
sangat subur dalam masyarakat yang ruhaninya kering kerontang. Menyadari
pendangkalan itu sebagai “bahaya” barangkali sudah saatnya. Secara idealistik, kita
punya nilai-nilai luhur, akan tetapi, sebagian orang menguasainya hanya sebatas
omongan dan belum bergairah dalam melaksanakannya. Akhirnya, kemanusiaan
menjadi indah dalam ucapan, lukisan, dan nyanyian, dan jarang ada dalam
[Link] bahaya dan ketimpangan hidup seperti itu kita perlu kembali
merawat hati nurani dan akal budi untuk menata masa depan yang lebih indah.
Dengan akal budi itu kita memuliakan manusia dan kemanusiaan.
Manusia yang punya nurani dan akal sehat perlu mencermati terhadap siapa-
siapa yang memenuhi kebutuhan dirinya. Ketika kita makan nasi, pikiran jernih
akan menelusuri secara seksama, nasi itu berasal dari beras, dan beras itu ada
karena ada petani yang menanam padi. Ketika kita makan lauk ikan tongkol, kita
akan dituntun oleh akal sehat untuk berterimakasih kepada para nelayan yang
bertarung di atas perahunya melawan ganasnya gelombang di tengah laut. Ketika
kita memakai baju, pikiran jernih akan menggiringnya untuk mengakui jasa para
petani kapas dan tukang tenun atau orang yang bekerja di pabrik [Link] pikiran
jernih yang kita kembangkan di dalam otak dan kalbu, pastilah akan tumbuh
pengakuan dan penghargaan terhadap andil-andil orang-orang yang berjasa
terhadap diri kita. Nanti akan berkembang apresiasi yang menjurus kepada
ketajaman dan pendalaman spiritual, bahwa sebenarnya petani yang padinya jadi
nasi yang kita makan, nelayan yang ikan hasil tangkapannya jadi lauk-pauk di atas
hidangan kita, serta petani kapas, tukang tenun, dan buruh pabrik tekstil yang
karyanya menjadi pakaian yang melindungi tubuh kita, nurani kita pasti akan
mengakui bahwa mereka punya andil terhadap kesejahteraan hidup dan kehidupan
kita. Mereka adalah orang-orang yang berjasa. Atau katakanlah pahlawan dalam
narasi kecil. Tetapi kalau setiap hari kita mendapatkan jasa dari petani, nelayan,
tukang tenun, dan lain-lain, pada hakikatnya mereka adalah pahlawan dalam narasi
besar juga, yang jasanya tidak kalah dengan mereka yang jasadnya dikubur di taman
pahlawan. Bayangkan, kalau para petani mogok tidak bercocok tanam, semua orang
akan lapar, kalau nelayan tidak melaut, hidangan kita akan hambar. Kemudian para
pahlawan yang lain silakan terus pikirkan dan cari [Link] penghayatan rohani
yang menumbuhkan penghargaan dan penghormatan kepada orang-orang yang
berjasa kepada kita itu, menjadi semakin jelas, betapa tidak berdayanya diri
manusia ini tanpa bantuan manusia-manusia lain.
Maka sangat sehat kalau ada pendapat bahwa setiap manusia beriman itu
bersaudara. Bahkan Nabi Muhammad bersabda: “Tidak beriman seorang kamu
sehingga kamu mencintai saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiri”Dari
sinilah persaudaraan kemanusiaan perlu semakin dikembangkan, karena sesama
manusia bukan hanya berasal dari satu Bapak satu Ibu (Nabi Adam dan Ibu Hawa)
tetapi satu sama lain memang saling membutuhkan sehingga perlu saling
menghargai serta saling [Link] saling mengerti yang bisa dilanjutkan
menjadi saling-menghargai dan saling-menghormati terutama dalam pergumulan
politik menjadi kunci ketentraman dan keamanan negara kita ini. Berbuat sesuatu
yang menyenangkan orang lain adalah tindakan santun yang essensinya adalah
kepahlawanan. Tidak mungkin membangun kehidupan yang tenteram dengan
saling-mencurigai, saling-fitnah serta kebuasan seperti yang terdapat pada
kehidupan [Link] bernama manusia adalah makhluk yang punya
keterbatasan dan kelemahan. Kita harus mampu membaca dan mengerti kelemahan
orang lain. Tidak kalah pentingnya ialah mengerti kelemahan kita sendiri. Siapa tahu
yang mencekal dan memasung kita bukan orang lain, tapi keterbatasan dan
kemalasan yang tidak terasa telah lama berurat dan berakar dalam diri [Link]
pemahaman kemanusiaan, seorang yang berjiwa jernih tidak akan menyakiti orang
lain. Jiwa yang jernih dan akal yang sehat tidak akan memberi ruang bagi benih dan
virus-virus kejahatan untuk berkembang biak. Tugas kita sehari-hari ialah melawan
angan-angan dan keinginan untuk merugikan dan menyakiti orang lain. Ketika
kerusakan sedang merebak, tidak ikut latah berbuat onar sudah termasuk manusia
yang baik. Kita nyalakan obor nurani, kita cari manusia dalam diri kita, sehingga
tidak punya waktu untuk membenci sesama dan berbuat kezaliman. Sudah saatnya
kita kembali menjadi bangsa yang santun.

Kita lahir di Indonesia, minum air Indonesia


menjadi darah kita
Kita makan beras, sagu, dan buah-buahan Indonesia
menjadi daging kita
Kita mereguk udara Indonesia
menjadi nafas kita
Kita bersujud di atas bumi Indonesia
Bumi Indonesia adalah sajadah kita
Nanti bila tiba saatnya mati, kita akan dikubur
dalam pelukan bumi Indonesia
Daging kita yang meleleh
akan bersatu dengan bumi Indonesia
Tak ada alasan untuk tidak mencintai tanah air
Tak ada alasan untuk tidak menyantuni bangsa

Batang-batang, Madura, 23 Nopember 2007

D. Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang, ujung timur pulau Madura, mulai
terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman
Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982. Sejak tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan
sekolah dasar) dilanjutkan belajar di Pesantren Lambicabbi, Gapura,
[Link] sajaknya Bulan Tertusuk Lalang mengilhami Sutradara Garin
Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilallang. Kumpulan
sajaknya Nenekmoyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan
mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985. Pada 1990 kumpulan sajak
Celurit Emas dan Nenekmoyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi
Anteve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada [Link]
puisinya yang lain adalah Berlayar di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis
Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah
Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003). Beberapa sajaknya telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria. Saat ini menjadi
Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta)

Anda mungkin juga menyukai