WS Rendra - Tanda Silang
WS Rendra - Tanda Silang
Dramatic Personae
DARPO Anak Kapten
KAPTEN Ayah Darpo
NANI Adik Darpo
DOKTER
Kabin Kapten, sebuah kamar yang dibangun sebagai tempat peninjauan di puncak rumah
Kapten itu, yang terletak di tanah yang meninggi, di salah satu tempat di sebelah utara
pulau jawa. keadaan di dalam kamar ini diatur seperti di dalam sebuah cabin seorang
Kapten di sebuah perahu layar yang besar. di dinding kiri kedepan, terdapat sebuah
jendela kapal yang bundar. lebih ke belakang, terdapat tangga ke atas yang seolah-olah
jalan menuju dek. jauh ke belakang lagi, terdapat dua buah jendela bundar, di kiri
belakang terdapat ebuah buffet yang mukanya dari pualam dan di atas buffet terdapat
lentera kapal. di tengah belakang, di lantai, terdapat sebuah lubang pintu, di atas tangga
yang menuju ke ruang bawah. sebuah dipan rendah dan ringan membujur dari dinding
sampai ke kanan pintu itu. di atas dipan terdapat sebuah selimut, di dinding sebelah
kanan terdapat dua buah jendela bundar. persis di bawah jendela itu, terdapat bangku
kayu, dan di depannya terdapat sebuah meja panjang dengan kursi bersandaran lurus., ke
depan dan di kirinya permadani yang murah dan berwarna gelap terhampar di lantai. di
atas. di atap, tengah-tengah terdapat sebuah jendela yang membujur dari tempat lubang
pintu sampai ke sisi kiri meja. di sebelah kanan atap meja itu terdapat sebuah kompas
kapal, lampu tempat kompas menyinari tempat ini dari atas, sedang terus ke bawah ke
kamar, sambil membuat bayangan bundar yang kabur dari kompas itu di atas lantai.
Waktu itu adalah jam-jam permulaan dari sebuah malam terang dan berangin, di musim
kemarau cahaya bulan di saring oleh angin yang meratap membentur pojok rumah yang
kukuh. merambat pelan dengan lesu menembus kaca jendela-jendela bundar dan istirahat
seperti debu yang lelah, merupakan lingkaran-lingkaran terang di atas lantai dan meja.
bunyi pukulan ombak yang tetap, menyergap dan menjauh terbawa ke atas dari pantai di
bawah.
Sesudah layar dibuka, pintu di belakang terbuka pelan-pelan dan tampak muncul kepala
dan bahu Darpo. ia melemparkan pandang dengan cepat ke sekeliling kamar, dan setelah
tidak melihat siapapun di situ, ia terus naik dan masuk. ia memberikan tanda pada
seseorang di tempat gelap, di bawah “mari Dokter”. Dokter itu mengikuti ke atas, ke
kamar dan setelah menutupkan pintu ia berdiri, menengok ke sekeliling dengan penuh
perhatian. ia sedikit kurus dan tingginya sedang, tampangnya tampang orang pandai dan
umurnya kira-kira tiga puluh lima, Darpo sangat tinggi dan rusak. lengan kanannya telah
terpotong, hingga bahu dan lengan jaketnya yang tebal. tergantung lesu atau melambai-
lambai di samping badannya apabila ia bergerak. tampaknya ia lebih tua dari umur yang
sebenarnya, pundaknya luruh seolah-olah kecapaian mengangkat kepalanya yang berat
oleh beban rambut hitam yang kusut. mukanya panjang. bertulang. pucat dengan mata
hitam yang dalam, mulut lebar tipis dengan diteduhi oleh seberkas kumis tebal yang tak
terpelihara. suaranya rendah dan dalam, kosong dan merasuk seperti suara logam,
disamping itu ia memakai celana tebal dan kasar dengan bersepatu karet untu tenis.
DOKTER (dengan suara dibikin-bikin biasa dan menyembunyikan tak enak yang
dikandungnya).
Ya cukup terang, jangan susah. Bulan purnama sangat benderang.
DARPO
Untung juga, (berjalan pelan-pelan ke meja) Ia tidak suka terang akhir-akhir ini. Hanya
sinar dari tempat kompas itu.
DOKTER
Ia? Oh… maksud saudara ayah saudara?
DARPO (kasar)
Siapa lagi?
DARPO
Ya, seperti yang sudah saya peringatkan sebelumnya.
DOKTER (heran)
Diperingatkan? Mengapa diperingatkan? Saya kira rekaan ini tidak mengejutkan, malah
cukup menarik.
DOKTER
Dan ia tinggal di sini, seperti kata saudara, tidak pernah turun.
DARPO
Tidak, tidak pernah turun, sudah hampir tiga tahun. Adik perempuan saya yang
membawakan makanan ke atas. (ia duduk di kursi kiri meja) Ada lentera-lentera di atas
buffet itu dokter. Tolong bawakan ke sini dan silahkan duduk. Kita terangi saja kamar
ini. Saya minta maaf karena telah membawa tuan ke kamar di atap ini, tapi percayalah,
takkan seorangpun bisa mendengar kita di sini. Dan dengan melihat cara hidupnya yang
gila dengan mata kepala tuan sendiri, tuan akan mengerti bahwa saya ingin tuan tahu
hal yang sebenarnya, tidak lebih dari itu, kebenaran dan untuk itu lentera sangat
penting. Tanpa itu di kamar ini semua hanya menjadi impian-impian, Dokter.
DARPO
Ya, seperti yang sudah saya ceritakan pada tuan, seperti dek. Ada kemudi, kompas,
tempat kompas berlampu, tangga ke dek sana (ia menuding), jembatan yang bisa dibuat
jalan-jalan hilir mudik semalam suntuk. (dengan keras yang mendadak) Sudah saya
katakan bukan, kalau dia gila?
DARPO
Ya, hanya di malam hari. (penuh kebencian) Barang yang ingin dilihatnya tak bisa
dibayangkan siang hari-impian dan semacam itu.
DOKTER
Tapi apa yang ia coba untuk dilihatnya? Apa ada orang yang tahu?
DARPO (kasar)
Apa? Semua orang tahu apa yang dicari bapak, tuan. Tentu saja kapal.
DOKTER
Kapal apa?
DARPO
Kapal bapak, Marlini – yang diberi nama seperti nama ibu saya almarhum.
DOKTER
Tapi saya tidak mengerti, apa kapalnya terlambat pulang atau bagaimana?
DARPO
Tenggelam dalam badai di sekitar kepulauan Sampa dengan segala muatan dan
penumpangnya. Tiga tahun yang lalu.
DOKTER (terpesona)
Ah.. (sesudah berhenti sejenak) Tapi ayah saudara masih tetap meragukan?
DARPO
Seorang kapten kapal pencari mutiara melihat kapal bapak nungging, hancur
seluruhnya. Itu terjadi dua pekan sesudah badai. Mereka menghampirinya dengan
perahu untuk memastikan kapal siapa yang hancur itu.
DOKTER
Dan ayah saudara telah mendengarnya?
DOKTER
Dua puluh menit setelah saya meninggalkan tempat ini, saya akan balik lagi dengan
mobil. Saya janji itu.
DARPO
Dan tuan tahu jalan ke rumah kami bukan ?
DOKTER
Tentu saja saya tahu, tapi….
DARPO
Pintu depan akan dibiarkan terbuka untuk tuan, tuan harus langsung naik ke atas Adik
perempuan saya dan saya akan sudah berada di sini nanti. Dengan dia. Dan tuan tahu,
tak seorangpun diantara kita tahu menahu dalam soal ini. Maksud saya seolah-olah ini
bukan atas anjuran saya. Hal ini bukan kemauan saya, tapi kemauan orang lain. Ia sama
sekali jangan sampai tahu, bahwa…
DOKTER
Ya,,, ya,,,, Tapi saya masih belum tahu, apakah ia berhaya?
DARPO
Tidak, tidak… ia selalu sangat tenang, tapi mungkin ia berbuat sesuatu apa saja, bila ia
tahu bahwa…
DOKTER
Percayalah, saya takkan membuka mulut tentang itu, tapi saya akan membawa 2 orang
pembantu untuk menjaga kalau-kalau…. (ia merubah lagu suaranya dan kemudian
melanjutkan dengan terang-terangan). Dan saudara tahu kebenaran cerita ini, mudah-
mudahan saudara tidak keberatan menceritakannya.
DOKTER
Tapi bagaimana halnya dengan ketiga orang lainnya di pulau itu?
DARPO (ganas).
Kita berbicara tentang kebenaran Dokter. (tertawa). Dan ini ada beberapa kebenaran
lagi untuk tuan. Ayah membawa ketiga orang itu kemari, ke rumah ini ; Ilyas, Karto, dan
Kanaka. Kami hampir-hampir tak mengenal ayah lagi. Ia telah pergi ke neraka dimana
kami menyaksikannya. Rambutnya telah putih, tapi tuan akan segera melihatnya
sendiri, segera. Dan yang lain, mereka sedikit sinting juga, - - katakan saja edan. (tertawa
lagi). Kebenaran yang sangat terlalu, Dokter. Mereka meninggalkan tempat itu dan
impianpun dimulai.
DOKTER (bimbang).
Tampaknya, cukup sekian kebenaran cerita itu.
DARPO
Tunggu (dengan sengaja memulai lagi). Pada suatu hari ayah memanggil saya didepan
orang-orang itu menceritakan impiannya. Saya menjadi ahli waris dari rahasia itu. Pada
hari kedua mereka tinggal di pulau itu, katanya, mereka menemukan sebuah perahu
tersembunyi di dalam sebuah teluk, perahu itu kepunyaan bangsa bumi putra yang telah
hancur, rapuk dan penuh air. Sebuah perahu perang yang biasa digunakan oleh para
perompak. Tuhan juga yang tahu, berapa lama sudah perahu itu membusuk. Tuhan juga
yang tahu apakah anak buahnya telah musnah, karena di pulau itu tak ada tanda orang
pernah menginjaknya. Lalu Kanaka pergi ke perahu itu, ia sangat betah menyelam,
seperti orang telah tahu dan di dalam dua buah peti ia menemukan….. (ia menyandarkan
badannya ke kursi dan tersenyum dengan penuh ironi). Coba terka ; apa Dokter?
DARPO
Mereka lalu mulai gila, lapar, dahaga dan sebagainya, dan mereka mulai lupa. Mereka
telah melupakan banyak hal dan barang kali untung bagi mereka karena berlupa. Tapi,
ketika ayah insyaf akan apa yang terjadi pada mereka, begitu katanya ; bahwa selagi
mereka sadar sebaiknya mereka – terka lagi sekarang, Dokter. Hahahahaha….
DOKTER
Menanam harta itu?
DOKTER
Dan ini tanda tangan- tanda tangannya, o… begitu? Dan gambar ini?
DARPO
Tanda tangan Kanaka, ia tidak bisa menulis.
DOKTER
Dan yang terbawah ini tanda tangan saudara bukan?
DARPO
Ya, sebagai ahli waris dari rahasia. Kami semua menandatanganinya, pada pagi-pagi
hari, ketika kapal Marlini yang diperbaiki ayah dengan cara menggadaikan rumah ini.
Pergi berlayar untuk mengambil harta itu. Hahahaha….
DOKTER
Kapal yang masih dinantikannya, yang sudah tenggelam tiga tahun yang lalu?
DARPO
Ya, Marlini…. Ketiga orang lainnya itu ikut berlayar. Hanya ayah dan Ilyas yang tahu
agak tepat tentang perjalanan di pulau itu, dan juga saya sebagai ahli waris. Kira-kira….
(bimbang, lalu mengerutkan dahinya). Tak apa, saya akan menyimpan rahasia edan itu.
Ayah pada waktu itu ingin pergi bersama mereka, namun ibu sakit keras. Dan saya tak
berani pergi sendirian.
DOKTER
Jadi saudara ingin pergi? Kalau begitu saudara percaya akan adanya harta itu?
DARPO
DOKTER (memungutnya dengan rasa ingin tahu dan berkata seolah-olah pada dirinya
sendiri).
Permata tulen?
DARPO
Hahaha…. Tuan ingin percaya juga, bukan. Batu murah dan logamnya pun kuningan
perhiasan orang-orang Samoa.
DOKTER
Saudara sudah menelitinya?
DARPO
Yah, seperti orang tolol. (menyimpan kembali gelang, kemudian menggelangkan kepala
seolah hendak melemparkan sesuatu beban).sekarang tuan tahu, kenapa ia menjadi gila.
Ya, karena menunggu kapal itu. Dan kenapa pada akhirnya saya minta pada tuan untuk
membawanya pergi ke tempat yang aman baginya. Rumah ini, yang dulu digadikan
untuk memperbaiki kapal itu, sekarang sudah sampai pada batas waktunya. Kami harus
segera pindah. Adik perempuan saya dan saya. Kami tak bisa membawa ayah, adik
perempuan saya akan segera menikah. Mungkin dengan jauh dari pemandangan laut
ayah akan….
DARPO (muram)
Ia selalu tenang, terlalu tenang. Ia hanya berjalan hilir mudik saja menanti…
DOKTER
Nah, aya harus pergi. Apakah menurut pertimbangan saudara betul-betul tepat
mengambil ayah saudara malam ini juga?
DARPO (membujuk)
Ya, Dokter. Para tetangga itu, mereka memang jauh, tapi… demi kebaikan adik
perempuan saya, ah… Tuan tentu mengerti.
DOKTER
Saya mengerti. Tentu sangat berat bagi adik perempuan saudara. Hal macam begini…
Nach… (ia pergi ke pintu yang telah lebih dahulu dibukakan Darpo) Saya akansegera
kembali. (ia mulai turun keluar)
DARPO (sungguh-sungguh)
Jangan ampai gagal, Dokter, dan datanglah langsung ke atas ia akan ada di sini. (ia
menutup pintu dan bersijingkat denga hati-hati ke tangga dek. ia naik beberapa tapak
dan mendengarkan satu suara dari atas. lalu pergi ke meja. meredupkan lampu lentera
DARPO (membuang pandang dan kembali terbenam ke kursinya) Tidak apa-apa. Saya
tidak tahu, saya kira ada tamu di dalam kamarmu.
DARPO
Bukan. Ia ada di atas, menanti,seperti biasa kerjanya.
DARPO (menghindar)
Lelaki. Kenalan saya!
NANI
Lelaki bagaimana? Orang apa dia? Kau menyembunyikan sesuatu,katakan.
NANI (terkejut)
Ohh.. (dengan terkaan yang cepat) Kau bawa ke sini supaya saya tidak tahu.
DARPO(bersikeras)
Tidak. Saya bawa kemari supaya dapat melihat kebenaran, untuk saya tanyai sesuatu
tentang ayah.
NANI
Ini adalah…, adalah kengerian yang terakhir.
DARPO (menantang)
NANI (menyerang)
Tidak, kamu tidak percaya Darpo. Kau tahu bahwa ia akan mati jika tidak hidup di dekat
laut lagi.
DARPO (pahit)
Dan kau tahu Umar akan menuntut uangnya? Apa itu bukan apa-apa? Kita tak bisa
bayar. Ia kemarin datang dan berunding dengan saya, ia sadar bahwa rumah ini sudah
dapat disitanya,dari sudut apapun. Caranya bicara kita ini seakan-akan penyewa saja,
laknat dia itu. Dan dia bersumpah akan segera menyita rumah ini, kecuali kalau…
NANI (sedih)
Oh… Tapi mengapa, mengapa? Baginya ayah itu apa?
DARPO
Harga barang miliknya, rumah kita ini, yang sebenarnya sudah jadi milik umar. Para
tetangga takut, mereka balik ke perumahan mereka dari kota, melewati jalan itu di
waktu malam. Mereka melihat ayah di atas atap berjalan hilir mudik melambai-
lambaikan tangannya ke langit. Mereka takut, mereka mengeluh, mereka bilang, untuk
kebaikan ayah sendiri, ia harrus dibawa pergi. Bahkan mereka mulai berbisik kalau
rumah ini berhantu. Si Umar takut akan barang miliknya, rumahnya ini. Ia kawatir, ayah
akan membakar rumah ini, atau melakukan hal-hal yang membahayakan…
DARPO
Apa gunanya mengatakan, apabila mereka percaya, apabila mereka takut? (Nanti
menutup muka dengan tangannya, berhenti sejenak, Darpo bergumam dngan serak) Saya
sendiri juga takut, berulang kali takut…
NANI
Oh.. Darpo, takut apa?
DARPO (kejam)
Takut dia dan laut yang selalu diteriakinya. Takut pada laut yang laknat, yang selalu
dipaksakan kepadaku ketika aku masih bocah, laut yang merampas tanganku dan
menjadikan aku barang rusak tak berharga.
NANI (memohon)
Kau tidak bisa menyalahkan ayah atas nasibmu yang malang.
DARPO (pahit)
Lupa? Asal omong saja. Kalau Tomo sudah pulang dari berlayar kau akankawin dengan
dia dan meninggalkan kehidupanmu yang biasa. Lalu menjadi istri kapten seperti halnya
ibu kita. Saya harap saja kau bahagia.
NANI (memohon)
Dan kau akan tinggal bersama kami, Darpo dan ayah, lalu…
DARPO
Apa? Apa kau akan membebani suamimu yang muda itu dengan orang gila dan orang
buntung macam saya? (keras dan kejam) Tidak, saya tidak (penuh dendam) Dan ia juga
tidak (tiba-tiba ada maksud lain, berkata dengan sadar) Saya harus tinggal di sini.
Bukuku sudah tiga perempat jadi, buku yang akan membebaskan saya. Tapi saya tahu,
saya merasa seyakin saya hidup dan berdiri di depanmu ini, bahwa saya harus
menyelesaikannya di sini. Tak bisa kelihatan hidup bagiku di luar rumah ini, di mana
saya di lahirkan. (menatap adiknya dengan tajam) Jadi saya akan tetap di sinimenjauhi
neraka. (Nanti tersedu putus asa; sesudah diam sebentar Darpo meneruskan) Si umar,
mengatakan saya boleh tinggal di sini, menumpang tanpa membayar, sebagai penjaga
rumah, bila…
NANI
Darpo, jangan. Demi ibu kita almarhum.
DARPO (kacau)
Diamlah, diam… Ibu telah mati dan telah damai. Apakah nyawanya yang telah akan kau
panggil lagi padanya untuk diremuki dan dilukai?
NANI
Darpo…
NANI (menghina)
Dua puluh ribu? Itu kan malah jumlah yang lebih besar dari gadai rumah ini.
DARPO
Soalnya bukan perbandingan. Solanya, apa yang bisa saya dapat kontan, untuk bukuku,
untuk kemerdekaanku.
NANI
Jadi itulah sebabnya ia menginginkan ayah pergi? Bangsat dia… Ia tentu tahu surat
warisan ayah…
DARPO
Ya, bahwa rumah diwariskan pada saya. Ia tahu, saya ceritakan kepadanya.
NANI (sedih)
Betapa kejinya lelaki itu.
DARPO (membujuk)
Seandainya hal itu terjadi, seandainya… saya akan berikan separohnya buat kau, untuk
biaya kawinmu dan itu sudah cukup adil.
NANI (kalap)
Uang haram… Kau kira saya mau menyentuhnya?
DARPO (membujuk)
Itu kulakukan untuk adilnya, saya akan mau membaginya pada kau.
NANI
Ya, Allah, Darpo… Apa kau mencoba menyuap saya?
DARPO
Tidak. Itu bagianmu dengan segala kejujuran (dengan senyum yang aneh) Kau lupa
bahwa saya juga ahli waris dari harta yang terpendam itu dan saya akan cukup kaya
untuk bermurah hati. Ha.. ha..ha..
NANI (kuatir)
Darpo, kau ganjil, kau sakit, mas. Kau tak pernah bicara begitu jika sadar. Oh… kita harus
pergi dari sini, kau dan ayah juga saya. Biar Umar menyita rumah ini. Akan ada yang
lebih baik dari rumah ini dan kita akan pindah ke sebuah pondok kecil, di tepi laut,
supaya ayah bisa…
DARPO
Bisa bermain gila-gilaan dengan saya, membisikkan impian-impiannya pada saya,
memandangi laut dan mengejek seperti ini? (ia mengambil gelang dari sakunya, Nanti
memandangnya, membuat ia mundur ke sudut dan bicara ngeri) Tidak… Tidak… SUdah
NANI (memandangnya dan sadar apa yang ditakutinya selama ini, menjadi kenyataan, ia
mengeluh hampir pingsan)
Jadi kau telah melakukannya? Oh.. Darpo… terkutuklah kau… Kau telah menjual ayah.
DARPO
Ssstt. Apa katamu? Dia lebih baik lenyap dari laut.
NANI
Kau telah menjual dia.
DARPO
Tidak. Tidak (mengambil peta dari saku) Dengar kau, Nani. Demi Allah dengarkan saya.
Lihat peta pulau itu dan tanda silang di mana harta itu terpendam. Aku telah
membawanya bertahun-tahun. Tak ada gunanya. Kau tak mengerti, apa artinya. Peta ini
terbeber antara diriku dan buku-bukuku, antara diriku dengan kehidupan dan
menderaku menjadi gila. Ayah mengajariku untuk menunggu dan berharap, menunggu
dan berharap hari demi hari. Ayah membuatku ragu terhadap daya otakku dan menipu
mataku. Ketika harapan lenyap. Maka aku baru sadar bahwa segalanya itu Cuma mimpi.
Dan aku tak kuaa membunuhnya. Namun aku selalu tetap yakin kalau Tuhan
mengampuniku. Dan ini namanya gila-gila. Dengar kau?
NANI
Dan itu sebabnya kau membenci ayah?
DARPO
Bukan… Tidak begitu (gila) Ya… Memang aku membenci dia, yang telah mencuri otakku.
Akuharus membebakan diri dari kegilaannya.
NANI
Darpo, jangan. Kau bicara seolah-olah…
DARPO
Seolah-olah saya gila? Kau memang benar, tapi aku tidak mau gila lagi. Lihat (ia
membakar peta dan keduanya memandangi peta terbakar) lihatlah, bagaimana aku
membebaskan diri dan untuk fakta-fakta itu, seperti kata dokter. Dokter dari rumah
sakit jiwa. Lihat… betapa peta itu hangus terbakar, lenyap… Berkas terakhir peta itu dan
satu-satunya salinan dibawa oleh Ilyas di dasar laut. Musnah.. akhirnya aku bebas
darinya. Ya, aku telah jual dia untuk menyelamatkan jiwaku. Mereka telah berangkat
dari rumah sakit gila, kemari, untuk mengambil ayah. (tiba-tiba terdengar teriakan
“ahoyyyyyyy” di atas dan derap sepatu, terdengar pintu di tutup kembali dengan keras.
Nanti dan Darpo terkejut dan membantu Kapten menuruni tangga, menuju ruangan)
NANI
Yaa Allah dengarkah dia?
DARPO
Ssstttt. (Kapten masuk)
KAPTEN
Sedang berpikir bahwa saya gila,bukan? Berpikir bahwa selama tiga tahun ini kapal
“MARLINI” telah tenggelam?
KAPTEN
Jangan dusta. Engkau yang telah kuputuskan untuk menjadi ahli warisku, merencanakan
untuk menyingkirkan diriku. Merencanakan untuk menjebloskan ayahmu ke dalam
penjara.
NANI
Tidak ayah.
KAPTEN
Bukan engkau, anak manis. Engkau anak ibumu…
DARPO
Ayah berpikir bahwa saya…
KAPTEN
Ada dusta di matamu, aku baca di sana. Kukutuk kau…
NANI
Ayah jangan.
KAPTEN
Biarkan ayahmu, anak manis. Dia percaya bukan? Dan ayah tidak mau dia jadi
penghianat, mengejekku dan mengatakan bahwa semua ini hanya suatu kebohongan
belaka. Ia telah mengejek dirinya sendirinya, telah menganggap dirinya bodoh untuk
mempercayai bahwa semua ini Cuma impian.
DARPO
Ayah keliru, aku mempercayainya.
KAPTEN
Ya, sekarang kau akui. Siapa yang tidak mempercayai matanya sendiri?
DARPO
Mataku?
KAPTEN
Engkau tidak melihat kapal itu? Engkau tidak mendengar aku memanggilmu?
DARPO
Panggilan? Aku mendengar teriakan. Tapi panggilan apa? Melihat apa?
KAPTEN
Yah, kini hukumanmu pengkhianat. Kapal “MARLINI” telah kembali dari laut Jawa, kapal
itu kembali seperti pernah kujanjikan.
NANI
Ayah, tenanglah. Tidak terlihat apapun.
KAPTEN
Tidak mengenal kapalku sendiri? Kau sudah gila…
DARPO
Tapi pada suatu malam seorang kelasi telah…
KAPTEN
Tidak benar, kataku. Kapal “Marlini” jelas kulihat di malam terang bulan purnama
seperti sekaran. Dan perhatikan, masih ingatkah kau sinyal yang aku berikan kepada
Ilyas bila merapat pelabuhan di waktu malam?
DARPO (pelan-pelan)
Cahaya merah hijau di puncak layar…
KAPTEN (menang)
Kalau begitu, lihatlah keluar. Engkau dapat melihatnya dengan jelas dari sini. Kau sudah
mempercayai matamu sendiri? Lihatlah sendiri dan sebutlah bahwa saya gila. (Darpo
melihat dari jendela dan terhenyak-terkejut)
DARPO (pelan-pelan)
Cahaya merah dan hijau di puncak layar. Ya, amat jelas seperti siang hari.
NANI
Malam ini keadaan sangat buruk, Darpo. Kau harus menghiburnya, itulah obat yang
paling penting dan baik.
DARPO (liar)
Menghiburnya? Persetan apa yang kau maksudkan?
NANI
(menunjuk dari jendela) Tak tampak apa-apa di sana, Darpo. Tak ada kapal apapun di
pelabuhan sana.
DARPO
NANI
Tapi Darpo, tak ada apa-apa di sana (ke jendela) Tidak ada kapal di sana.
DARPO
Aku melihatnya. Aku melihat kapal itu. Dari atas sini semuanya kelihatan sangat jelas.
(Darpo duduk dan Nanti mengikutinya)
NANI
Darpo, kau tidak boleh membiarkan hal ini, kau berdua pada menggigil dan kesurupan,
Darpo. (Nanti meletakkan tangan di dahi Darpo, memeriksa panas badan)
DARPO (mengelak)
Kau si buta yang tolol (Kapten masuk, wajahnya telah kembali seperti telah mengalami
mimpi yang menjadi kenyataan)
KAPTEN
Mereka telah menemukan sekoci, Ilyas, Kanaka dan Karto. Mereka sedang berlabuh ke
pantai. Akumendengar desah dayung mereka. Dengar… (hening)
DARPO (gembira)
Aku mendengarnya.
KAPTEN (tiba-tiba)
Dengar. Mereka telah mendarat. Mereka telah kembali seperti aku janjikan, mereka akan
segera ke kamar ini… (Kapten berdiri tegang, Darpo berdiri dari kursi. suara angin dan
ombak laut tiba-tiba berhenti, cahaya hijau memasuki ruangan seolah-olah melukiskan
kedalaman laut)
KAPTEN
Mereka berjalan perlahan-lahan, sangat perlahan-lahan. Beban mereka berat dua peti.
Dengar mereka sudah ada di bawah, kalian dengar?
DARPO(beranjak ke pintu)
Ya, saya mendengarnya. Pintu telah saya biarkan terbuka.
KAPTEN
Untuk mereka.
NANI
Ssttt… (terdengar suara pintu dibanting di ruangan bawah)
NANI
Hanya hempasan angin Darpo….
KAPTEN
Mereka telah naik (berteriak) Naiklah anak-anak. Mereka keberatan membawa peti itu.
(terdengar kaki-kaki telanjang menaiki tangga)
DARPO
Sekarang kau dengr mereka?
NANI
Hanya tikus-tikus berlarian, tidak ada apa-apa Darpo…
DARPO
(menyongsong mereka) Lihat … (gila) selamat datang anak-anak.
NANI
Duduklah, Darpo… Tidak ada apa-apa. Tak seorangpun ada di sini. Ayah, duduklah.
DARPO (gila)
Tunggu … (bergerak menuju mereka, Nanti menariknya)
NANI
Darpo, jangan… ayah, kembalilah…
NANI
Ayah di atas sana.
DOKTER
Aku tidak melihat, di mana senterku… (Dokter menyenter wajah Nanti yang kena teror.
kemudian menyenter seluruh ruangan. cahaya hijau lenyap. suara angin dan laut
terdengar kembali. cahaya bulan mauk melalui lubang-lubang jendela-jendela bundar,
Darpo mengetuk-ngetuk daun pintu dia di atas tangga) Kesini Darpo… coba saya tolong.
NANI
Meninggal?
DOKTER (mengangguk)
Serangan jantung saya kira. Saya kira akan lebih baik…
NANI
Oh.. Darpo… Diamlah ayah telah meninggal (memohon kepada Dokter) Silahkan
meninggalkan kami, Dokter.
DOKTER
Apakah tidak ada yang dapat kubantu lagi…?
NANI
Maaf, Dokter. Silahkan, silahkan Dokter, meninggalkan kami Dokter…
DARPO
Tidakkah engkau melihat Ilyas memberikan sesuatu padanya?
NANI (menangis)
Darpo pergilah, pergi… Jangan kau sentuh ayah… Darpo. (Darpo tidak ambil peduli
matanya menatap tangan Kapten yang tergantung di samping tempat tidur, Darpo
SELESAI