0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan50 halaman

Analisis Konsep Routing Jaringan

Dokumen tersebut membahas konsep routing dan jenis-jenisnya, termasuk routing statis dan dinamis. Routing statis mengharuskan administrator jaringan untuk secara manual mengkonfigurasi rute di setiap router, sedangkan routing dinamis memungkinkan router untuk belajar rute secara otomatis dari router lain menggunakan protokol routing. Dokumen tersebut juga menjelaskan cara mengkonfigurasi dan memverifikasi routing statis di router.

Diunggah oleh

syahid al
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan50 halaman

Analisis Konsep Routing Jaringan

Dokumen tersebut membahas konsep routing dan jenis-jenisnya, termasuk routing statis dan dinamis. Routing statis mengharuskan administrator jaringan untuk secara manual mengkonfigurasi rute di setiap router, sedangkan routing dinamis memungkinkan router untuk belajar rute secara otomatis dari router lain menggunakan protokol routing. Dokumen tersebut juga menjelaskan cara mengkonfigurasi dan memverifikasi routing statis di router.

Diunggah oleh

syahid al
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP ROUTING

dijelaskan tentang konsep Routing dan jenisnya serta jenis-jenis protokol routing untuk
komunikasi antar router di jaringan.

1.1. Pengertian Routing

Routing adalah suatu protokol yang digunakan untuk mendapatkan rute dari satu
jaringan ke jaringan yang lain. Rute ini, disebut dengan route dan informasi route secara
dinamis dapat diberikan ke router yang lain ataupun dapat diberikan secara statis ke router
lain.

Seorang administrator memilih suatu protokol routing dinamis berdasarkan keadaan


topologi jaringannya. Misalnya berapa ukuran dari jaringan, bandwidth yang tersedia, proses
power dalam router, merek dan model dari router, dan protokol yang digunakan dalam
jaringan.
Routing adalah proses dimana suatu router mem-forward paket ke jaringan yang dituju.
Suatu router membuat keputusan berdasarkan IP address yang dituju oleh paket. Semua router
menggunakan IP address tujuan untuk mengirim paket. Agar keputusan routing tersebut benar,
router harus belajar bagaimana untuk mencapai tujuan. Ketika router menggunakan routing
dinamis, informasi ini dipelajari dari router yang lain. Ketika menggunakan routing statis,
seorang network administrator mengkonfigurasi informasi tentang jaringan yang ingin dituju
secara manual.

Jika routing yang digunakan adalah statis, maka konfigurasinya harus dilakukan
secara manual, administrator jaringan harus memasukkan atau menghapus rute statis jika
terjadi perubahan topologi. Pada jaringan skala besar, jika tetap menggunakan routing statis,
maka akan sangat membuang waktu administrator jaringan untuk melakukan update table
routing. Karena itu routing statis hanya mungkin dilakukan untuk jaringan skala kecil.
Sedangkan routing dinamis bias diterapkan di jaringan skala besar dan membutuhkan
kemampuan lebih dari administrator.

Gambar 6.1 Tipe-tipe routing


1
Routing statik

Cara kerja routing statis dapat dibagi menjadi 3 bagian :

 Administrator jaringan yang mengkonfigurasi router


 Router melakukan routing berdasarkan informasi dalam tabel routing
 Routing statis digunakan untuk melewatkan paket data Seorang administrator harus
menggunakan perintah ip route secara manual untuk mengkonfiguras router dengan
routing statis.

Gambar 6.2 contoh perintah IP Route

Gambar 6.3 Menentukan outgoing interface

2
Gambar 6.4 Menentukan Next-hop IP Address

Pada gambar 6.3 dan 6.4 di atas, administrator jaringan dari router Hoboken harus
mengkonfigurasi routing statis ke jaringan [Link]/24 dan [Link]/24. Karena itu
administrator memasukkan 2 perintah ke router. Administrative distance adalah parameter
tambahan yang menunjukkan reliabilitas dari rute. Semakin kecil nilai administrative distance
semakin reliable rutenya. Oleh Karen itu rute dengan administrative distance yang lebih kecil
harus diberikan pertama kali sebelum administrative distance yang lebih besar diberikan.
Default administrative distance saat menggunakan routing statis adalah 1. ketika interface
luar dikonfigurasi sebagai gateway, routing statis akan ditunjukkan dalam tabel routing
sebagai informasi yang “directly connected”. Untuk melihat informasi administrative distance
digunakan perintah show ip route. Nilai dari administrative distance adalah antara 0 sampai
dengan 255 yang diberikan setelah next-hop atau outgoing interface. Contoh:

waycross(config)#ip route [Link] [Link] [Link] 130

Jika interface dari router down, rute tidak akan dimasukkan ke table routing. Kadang-
kadang routing statis digunakan untuk tujuan backup. Routing statis dapat dikonfigurasi
dalam router yang hanya akan digunakan ketika routing dinamis mengalami kegagalan.
Untuk menggunakan routing statis sebagai backup, harus dilakukan seting administrative
distance ke nilai yang lebih besar daripada protokol routing dinamis yang digunakan.

3
Konfigurasi routing statis

Langkah-langkah untuk melakukan konfigurtasi routing statis adalah sebagai


berikut :

 Langkah 1 – tentukan dahulu prefix jaringan, subnet mask dan address. Address bias
saja interface local atau next hop address yang menuju tujuan.
 Langkah 2 – masuk ke mode global configuration.
 Langkah 3 – ketik perintah ip route dengan prefix dam mask yang diikuti dengan
address seperti yang sudah ditentukan di langkah 1. Sedangkan untuk administrative
distance bersifat tambahan, boleh digunakan boleh [Link] 4 – ulangi langkah
3 untuk semua jaringan yang dituju yang telah ditentukan pada langkah 1.
 Langkah 5 – keluar dai mode global configuration.
 Langkah 6 – gunakan perintah copy running-config startup-config untuk
menyimpan konfigurasi yang sedang aktif ke NVRAM.

Contoh jaringan sederhana dengan 3 router seperti yang ditunjukkan oleh gambar 6.5 di
ini bawah
.

Gambar 6.5 Konfigurasi sederhana dengan 3


Router

Router Hoboken harus dikonfigurasi sehingga dapat mencapai jaringan 172.16.10 dan
jaringan [Link]. Kedua jaringan subnet masknya [Link].

Paket yang tujuannya ke jaringan [Link] harus dirutekan ke Sterling dan paket
yang ditujuan ke jaringan [Link] haus dirutekan ke Waycross. Dalam hal ini routing statis
bisa digunakan.

Kedua routing statis tersebut akan dikonfigurasi menggunakan interface local sebagai
gateway ke jaringan yang dituju. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.5.

4
Gambar 6.6 penggunaan interface local sebagai gateway

Dua routing statis yang sama juga dapat dikonfigurasi dengan next-hop address
sebagai gateway. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.6. Rute pertama ke jaringan
[Link] dengan gateway ke [Link]. Sedangkan rute kedua ke jaringan [Link]
dengan gateway ke [Link]. Administrative distance tidak digunakan, sehingga defaultnya
bernilai 1.

Gambar 6.7 Penggunaan Next-hop

5
Routing default

Default routing digunakan untuk merutekan paket dengan tujuan yang tidak sama
dengan
routing yang ada dalam table routing. Secara tipikal router dikonfigurasi dengan cara routing
default untuk trafik internet. Routing default secara actual menggunakan format:

ip route [Link] [Link] *next-hop-address | outgoing interface +

Mask [Link], secara logika jika kita AND-kan dengan IP address tujuan selalu
menunjuk ke jaringan [Link]. Jika paket tidak cocok dengan rute yang ada dalam table
routing, maka paket akan dirutekan ke jaringan [Link].

Di bawah ini adalah langkah-langkah untuk mengkonfigurasi routing default:

 Langkah 1 – masuk mode global configuration.


 Langkah 2 – ketik perintah ip route dengan [Link] sebagi prefix dan [Link] sebagai
mask. Alamat tambahan untuk routing default dapat berupa address dari local
interface yang terhubung langsung ke jaringan luar atau IP address dari next-hop
router.
 Langkah 3 – keluar dari mode global config.
 Langkah 4 – gunakan perintah copy running-config startup-config untuk menyimpan
konfigurasi yang sedang jalan ke NVRAM.

Pada halaman sebelumnya, routing statis yang dikonfigurasi dalam Hoboken akses ke
jaringan
[Link] pada Sterling dan [Link] pada Waycross. Sekarang seharusnya kemungkinan
rute paket ke dua jaringan tersebut dari Hoboken. Bagaimanapun, Sterling dan Waycross
tidak tahu bagaimana mengembalikan paket ke jaringan yang lain yang terhubung langsung.
Routing statis dapat dikonfigurasi pada Sterling dan Waycross untuk mencapai jaringan
tujuan.

Sterling terhubung ke semua jaringan yang tidak terhubung langsung melalui interface
serial
0. Waycross hanya satu koneksi ke semua jaringan yang tidak terhubung langsung melalui
interface serial 1. Routing default pada Sterling dan Waycross akan digunakan untuk rut eke
semua paket yang ditujukan untuk jaringan yang tidak terhubung langsung.

6
Gambar 6.8 Jaringan yang tidak terhubung langsung

7
Gambar 6.9 Jaringan yang tidak terhubung langsung

Setelah routing statis dikonfigurasi, langkah selanjutnya adalah hal yang sangat
penting untuk melakukan verifikasi apakah table routing dan proses routingnya bekerja
dengan baik. Perintah untuk melihat konfigurasi yang sedang aktif dan untuk mem-verifikasi
routing statis adalah show running- config dan show ip route.

Adapaun langkah-langkah untuk melakukan verifikasi konfigurasi routing statis


adalah:

 Berikan perintah show running-config dalam privileged mode untuk melihat


konfigurasi yang sedang aktif
 Verifikasi routing statis yang telah dimasukkan. Jika rute tidak benar, maka
diperlukan kembali lagi ke mode global config untuk menghapus routing statis yang
salah dan masukkan routing yang benar
 Berikan perintah show ip route
 Verifikasi lagi, apakah table routing yang dimasukkan sudah sesuai dengan tujuan
dari hasil perintah tersebut.

Troubleshooting konfigurasi routing statis

Pada sub bab ini diberikan contoh konfigurasi routing statis dalam Hoboken untuk
mengakses jaringan pada Sterling dan Waycross, seperti yang dilihat pada gambar di bawah
ini. Pada konfigurasi di router Sterling jaringan [Link] tidak dapat mencapai jaringan di
Waycross [Link].

8
Gambar 6.10 Jaringan yang tidak terhubung langsung

Gambar 6.11 Langkah troubleshooting dengan perintah show ip route

Dari mode privileged EXEC pada router Sterling, ping ke node pada jaringan
[Link]. Pada gambar di bawah ini menunjukkan perintah ping yang gagal, sekarang
gunakan perintah traceroute dari Sterling ke alamat yang digunakan pada perintah ping.

9
Gambar 6.12 Troubleshooting konfigurasi routing statik

Catatan dimana traceroute mengalami kegagalan. Traceroute menandakan bahwa


paket ICMP dikembalikan oleh Hoboken tapi tidak dari Waycross. Hal ini berarti masalah
terjadi pada Hoboken atau Waycross.

Lakukan telnet ke router Hoboken. Coba kembali ping ke node pada jaringan
[Link] yang terhubung ke router Waycross. Perintah ping ini seharusnya berhasil karena
Hoboken terhubung langsung ke Waycross.

Gambar 6.13 Troubleshooting konfigurasi routing statis

Routing Dinamis

Routing protocol adalah berbeda dengan routed protocol. Routing protocol adalah
komunikasi antara router-router. Routing protocol mengijinkan router-router untuk sharing
informasi tentang jaringan dan koneksi antar router. Router menggunakan informasi ini untuk
membangun dan memperbaiki table routingnya. Seperti pada gambar di bawah ini.

10
Gambar 6.14 Routed vs Routing Protokol

Contoh routing protokol:

 Routing Information Protocol (RIP)


 Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)
 Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)
 Open Shortest Path First (OSPF)

Routed protocol digunakan untuk trafik user langsung. Routed protocol menyediakan
informasi yang cukup dalam layer address jaringannya untuk melewatkan paket yang akan
diteruskan dari satu host ke host yang lain berdasarkan alamatnya.

Contoh routed protocol:

 Internet Protocol (IP)


 Internetwork Packet Exchange (IPX)

Autonomous System (AS)

AS adalah kumpulan dari jaringan-jaringan yang dalam satu administrasi yang


mempunyai strategi routing bersama. AS mungkin dijalankan oleh satu atau lebih operator
ketika AS digunakan pada routing ke dunia luar.

American Registry of Internet Numbers (ARIN) adalah suatu service provider atau
seorang administrator yang memberikan nomor identitas ke AS sebesar 16-bit. Routing
protokol seperti Cisco IGRP membutuhkan nomor AS (AS number) yang sifatnya unik.

11
Gambar 6.15 Autonomous System

Tujuan Routing protocol dan autonomous system

Tujuan utama dari routing protokol adalah untuk membangun dan memperbaiki table
routing. Dimana tabel ini berisi jaringan-jaringan dan interface yang berhubungan dengan
jaringan tersebut. Router menggunakan protokol routing ini untuk mengatur informasi yang
diterima dari router-router lain dan interfacenya masing-masing, sebagaimana yang terjadi di
konfigurasi routing secara manual.

Routing protokol mempelajari semua router yang ada, menempatkan rute yang terbaik
ke table routing, dan juga menghapus rute ketika rute tersebut sudah tidak valid lagi. Router
menggunakan informasi dalam table routing untuk melewatkan paket-paket routed prokol.

Algoritma routing adalah dasar dari routing dinamis. Kapanpun topologi jaringan
berubah karena perkembangan jaringan, konfigurasi ulang atau terdapat masalah di jaringan,
maka router akan mengetahui perubahan tersebut. Dasar pengetahuan ini dibutuhkan secara
akurat untuk melihat topologi yang baru.

Pada saat semua router dalam jaringan pengetahuannya sudah sama semua berarti
dapat dikatakan internetwork dalam keadaan konvergen (converged). Keadaan konvergen
yang cepat sangat diharapkan karena dapat menekan waktu pada saat router meneruskan
untuk mengambil keputusan routing yang tidak benar.

AS membagi internetwork global menjadi kecil-kecil menjadi banyak jaringan-


jaringan yang dapat diatur. Tiap-tiap AS mempunyai seting dan aturan sendiri-sendiri dan
nomor AS yang akan membedakannya dari AS yang lain.

12
Gambar 6.16 Prinsip kerja Autonomous System

Klasifikasi routing protokol

Sebagian besar algoritma routing dapat diklasifikasikan menjadi satu dari dua
kategori berikut :
 Distance vector
 Link-state

Routing distance vector bertujuan untuk menentukan arah atau vector dan jarak ke
link-link lain dalam suatu internetwork. Sedangkan link-state bertujuan untuk menciptakan
kembali topologi yang benar pada suatu internetwork.

Gambar 6.17 Klasifikasi routing protokol

13
Routing protokol distance vector

Algoritma routing distance vector secara periodik menyalin table routing dari router
ke router. Perubahan table routing ini di-update antar router yang saling berhubungan pada
saat terjadi perubahan topologi. Algoritma distance vector juga disebut dengan algoritma
Bellman-Ford.

Setiap router menerima table routing dari router tetangga yang terhubung langsung.
Pada gambar di bawah ini digambarkan konsep kerja dari distance vector.

Gambar 6.18 konsep distance vector

Router B menerima informasi dari Router A. Router B menambahkan nomor distance


vector, seperti jumlah hop. Jumlah ini menambahkan distance vector. Router B melewatkan
table routing baru ini ke router-router tetangganya yang lain, yaitu Router C. Proses ini akan
terus berlangsung untuk semua router.

Algoritma ini mengakumulasi jarak jaringan sehingga dapat digunakan untuk


memperbaiki database informasi mengenai topologi jaringan. Bagaimanapun, algoritma
distance vector tidak mengijinkan router untuk mengetahui secara pasti topologi internetwork
karena hanya melihat router-router tetangganya.

Setiap router yang menggunakan distance vector pertama kali mengidentifikasi router-
router tetangganya. Interface yang terhubung langsung ke router tetangganya mempunyai
distance 0. Router yang menerapkan distance vector dapat menentukan jalur terbaik untuk
menuju ke jaringan tujuan berdasarkan informasi yang diterima dari tetangganya. Router A
mempelajari jaringan lain berdasarkan informasi yang diterima dari router B. Masing-masing
router lain menambahkan dalam table routingnya yang mempunyai akumulasi distance vector
untuk melihat sejauh mana jaringan yang akan dituju. Seperti yang dijelakan oleh gambar
berikut ini:

14
Gambar 6.19 jaringan distance vector discovery

Update table routing terjadi ketika terjadi perubahan toplogi jaringan. Sama dengan
proses discovery, proses update perubahan topologi step-by-step dari router ke router.
Gambar 9.3 menunjukkan algoritma distance vector memanggil ke semua router untuk
mengirim ke isi table routingnya. Table routing berisi informasi tentang total path cost yang
ditentukan oleh metric dan alamat logic dari router pertama dalam jaringan yang ada di isi
table routing, sperti yang diterangkan oleh gambar 6.20 di bawah ini.

Gambar 6.20 perubahan topologi distance vector

15
Gambar 6.21 komponen-komponen routing metric

Analogi distance vector dapat digambarkan dengan jalan tol. Tanda yang
menunjukkan titik menuju ke tujuan dan menunjukkan jarak ke tujuan. Dengan adanya tanda-
tanda seperti itu pengendara dengan mudah mengetahui perkiraan jarak yang akan ditempuh
untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini jarak terpendek adalah rute yang terbaik.

Link-state

Algoritma link-state juga dikenal dengan algoritma Dijkstra atau algoritma shortest
path first (SPF). Algoritma ini memperbaiki informasi database dari informasi topologi.
Algoritma distance vector memiliki informasi yang tidak spesifik tentang distance network
dan tidak mengetahui jarak router. Sedangkan algortima link-state memperbaiki pengetahuan
dari jarak router dan bagaimana mereka inter-koneksi.

Fitur-fitur yang dimiliki oleh routing link-state adalah:

 Link-state advertisement (LSA) – adalah paket kecil dari informasi routing yang
dikirim antar router
 Topological database – adalah kumpulan informasi yang dari LSA-LSA
 SPF algorithm – adalah hasil perhitungan pada database sebagai hasil dari pohon SPF
 Routing table – adalah daftar rute dan interface

16
Gambar 6.22 konsep link-state

Proses discovery dari routing link-state

Ketika router melakukan pertukaran LSA, dimulai dengan jaringan yang terhubung
langsung tentang informasi yang mereka miliki. Masing-masing router membangun database
topologi yang berisi pertukaran informasi LSA.

Algoritma SPF menghitung jaringan yang dapat dicapai. Router membangun logical
topologi sebagai pohon (tree), dengan router sebagai root. Topologi ini berisi semua rute-rute
yang mungkin untuk mencapai jaringan dalam protokol link-state internetwork. Router
kemudian menggunakan SPF untuk memperpendek rute. Daftar rute-rute terbaik dan
interface ke jaringan yang dituju dalam table routing. Link-state juga memperbaiki database
topologi yang lain dari elemen-elemen topologi dan status secara detail.

17
Gambar 6.23 jaringan link-state discovery

Router pertama yang mempelajari perubahan topologi link-state melewatkan


informasi sehingga semua router dapat menggunakannya untuk proses update. Gambar 10.3
adalah informasi routing dikirim ke semua router dalam internetwork. Untuk mencapai
keadaan konvergen, setiap router mempelajari router-router tetangganya. Termasuk nama
dari router-router tetangganya, status interface dan cost dari link ke tetangganya. Router
membentuk paket LSA yang mendaftar informasi ini dari tetangga-tetangga baru,
perubahan cost link dan link-link yang tidak lagi valid. Paket LSA ini kemudian dikirim
keluar sehinggan semua router-router lain menerima itu.

18
Gambar 6.24 perubahan topologi link-state
Pada saat router menerima LSA, ia kemudian meng-update table routing dengan
sebagian besar informasi yang terbaru. Data hasil perhitungan digunakan untuk membuat peta
internetwork dan lagoritma SPF digunakan untuk menghitung jalur terpendek ke jaringan
lain. Setiap waktu paket LSA menyebabkan perubahan ke database link-state, kemudian SPF
melakukan perhitungan ulang untuk jalur terbaik dan meng-update table routing.

Ada beberapa titik berat yang berhubungan dengan protokol link-state:


 Processor overhead
 Kebutuhan memori
 Konsumsi bandwidth

Router-router yang menggunakan protokol link-state membutuhkan memori lebih dan


proses data yang lebih daripada router-router yang menggunakan protokol distance vector.
Router link-state membutuhkan memori yang cukup untuk menangani semua informasi dari
database, pohon topologi dan table routing. Gambar 10.4 menunjukkan inisialisasi paket
flooding link-state yang mengkonsumsi bandwidth. Pada proses inisial discovery, semua
router yang menggunakan protokol routing link-state mengirimkan paket LSA ke semua
router tetangganya. Peristiwa ini menyebabkan pengurangan bandwidth yang tersedia untuk
me-routing trafik yang membawa data user. Setelah inisial flooding ini, protokol routing link-
state secara umum membutuhkan bandwidth minimal untuk mengirim paket-paket LSA yang
menyebabkan perubahan topologi.

Gambar 6.25 link-state concern

Penentuan jalur

Router menggunakan dua fungsi dasar:


 Fungsi penentuan jalur

19
 Fungsi switching

Penentuan jalur terjadi pada layer network. Fungsi penentuan jalur menjadikan router
untuk mengevaluasi jalur ke tujuan dan membentuk jalan untuk menangani paket. Router
menggunakan

20
table routing untuk menentukan jalur terbaik dan kemudian fungsi switching untuk
melewatkan paket.
Konsep Link State

Dasar algoritma routing yang lain adalah algoritma link state. Algoritma link state
juga bias disebut sebagai algoritma Dijkstra atau algoritma shortest path first (SPF).

Konfigurasi Routing

Untuk menghidupkan protokol routing pada suatu router, membutuhkan seting


parameter global dan routing. Tugas global meliputi pemilihan protokol routing seperti RIP,
IGRP, EIGRP atau OSPF. Sedangkan tugas konfigurasi routing untuk menunjukkan jumlah
jaringan IP. Routing dinamis menggunakan broadcast dan multicast untuk berkomunikasi
dengan router-router lainnya.

Gambar 6.26 tugas konfigurasi routing IP

Perintah router memulai proses routing. Perintah network untuk meng-enable-kan


proses routing ke interface yang mengirim dan menerima update informasi routing.

21
Gambar 6.27 penggunaan perintah router dan network

Gambar 6.28 Perintah router

Gambar 6.29 Perintah

network Contoh konfigurasi routing seperti berikut:

GAD(config)#router rip
GAD(config-router)#network [Link]

Untuk RIP dan IGRP, jumlah jaringan didasarkan pada kelas dari alamat jaringan,
bukan alamat subnet atau alamat host.

Protokol Routing

Pada layer internet TCP/IP, router dapat menggunakan protokol routing untuk
membentuk routing melalui suatu algoritma yang meliputi:
 RIP – menggunakan protokol routing interior dengan algoritma distance vector
 IGRP – menggunakan protokol routing interior dengan algoritma Cisco distance vector
 OSPF – menggunakan protokol routing interior dengan algoritma link-state
 EIGRP – menggunakan protokol routing interior dengan algoritma advanced Cisco
distance vector
 BGP – menggunakan protokol routing eksterior dengan algoritma distance

vector Dasar RIP diterangkan dalam RFC 1058, dengan karakteristik sebagai

berikut:

22
 Routing protokol distance vector
 Metric berdasarkan jumlah lompatan (hop count) untuk pemilihan jalur
 Jika hop count lebih dari 15, paket dibuang
 Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik

IGRP adalah protokol routing yang dibangun oleh Cisco, dengan karakteristik sebagai
berikut :

 Protokol routing distance vector


 Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwidth, load, delay dan reliability
 Update routing dilakukan secara broadcast setiap 90 detik

OSPF menggunakan protokol routing link-state, dengan karakteristik sebagai berikut :

 Protokol routing link-state


 Merupakan open standard protokol routing yang dijelaskan di RFC 2328
 Menggunakan algoritma SPF untuk menghitung cost terendah
 Update routing dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan

EIGRP menggunakan protokol routing enhanced distance vector, dengan karakteristik


sebagai berikut :

 Menggunakan protokol routing enhanced distance vector


 Menggunakan cost load balancing yang tidak sama
 Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state
 Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek
 Update routing dilakukan secara multicast menggunakan alamat [Link] yang
diakibatkan oleh perubahan topologi jaringan

Border Gateway Protocol (BGP) merupakan routing protokol eksterior, dengan


karakteristik sebagai berikut :

 Menggunakan routing protokol distance vector


 Digunakan antara ISP dengan ISP dan client-client
 Digunakan untuk merutekan trafik internet antar autonomous system

23
Gambar 6.30 protokol-protokol routing IP

IGP vs EGP

Routing protokol interior didisain untuk jaringan yang dikontrol oleh suatu organisasi.
Kriteria disain untuk routing protokol interior untuk mencari jalur terbaik pada jaringan.
Dengan kata lain, metric dan bagaimana metric tersebut digunakan merupakan elemen yang
sangat penting dalam suatu protokol routing interior.

Sedangkan protokol routing eksterior didisain untuk penggunaan antara dua jaringan
yang berbeda yang dikontrol oleh dua organisasi yang berbeda. Umumnya digunakan antara
ISP dengan ISP atau antara ISP dengan perusahaan. Contoh, suatu perusahaan menjalankan
BGP sebagai protokol routing eksterior antar router perusahaan tersebut dengan router ISP.

24
IP protokol eksterior gateway membutuhkan 3 seting informasi berikut ini sebelum
router tersebut biasa digunakan :

 Daftar router-router tetangga untuk pertukaran informasi routing


 Daftar jaringan untuk advertise sebagai tanda jaringan dapat dicapai secara langsung
 Nomor autonomous system dari router local
Routing protokol eksterior harus mengisolasi autonomous system.

Ingat bahwa, autonomous system diatur oleh administrasi yang berbeda. Jaringan
harus mempunyai protokol untuk komunikasi antara sistem-sistem yang berbeda tadi.

Gambar 6.31 protokol routing interior/eksterior

25
Gambar 6.32 Autonomous system
Masing-masing AS harus memiliki nomor identitas 16-bit, yang dikeluarkan oleh
ARIN atau provider untuk menggunakan protokol routing seperti IGRP dan EIGRP.

Kesimpulan
 Routing adalah proses bagaimana router melewatkan paket ke jaringan yang dituju
 Routing protokol adalah komunikasi yang digunakan antar router-router
 Routing protokol mengijinkan satu router untuk sharing informasi dengan router-
router lain berdasarkan jaringan yang ia ketahui dan jalur terbaik ke jaringan tersebut
 Algoritma routing dapat diklasifikasikan sebagai satu dari dua kategori, distance
vector atau link-state
 Autonomous system (AS) adalak kumpulan dari jaringan-jaringan dalam satu
pengawasan administrasi

Pengertian Subnetting
Apa yang dimaksud subnetting? Menurut buku Pemrograman Jaringan dengan JAVA karangan
Ach. Khozaimi, [Link]., [Link]., subnetting adalah proses untuk memecahkan atau membagi
sebuah network menjadi beberapa network yang lebih kecil.
Lalu, bagaimana proses subnetting? Proses metode subnetting ini dapat dilakukan pada IP
Address kelas A, B, dan C saja. Menurut buku Pengantar Jaringan Komputer karangan Melwin
Syafrizal, IP Address dibagi menjadi beberapa jenis, yakni:
1. Private IP Address
Jenis IP Address ini digunakan pada perangkat untuk jaringan berskala lokal yaitu LAN. Maka
dari itu, jenis IP Address ini tidak dikenal pada jaringan internet global.
2. Public IP Address
Sementara itu, public IP Address bisa diakses dengan jaringan internet dan bisa dimiliki oleh
semua perangkat. Range IP Private, di antaranya:

26
Kelas A, [Link] - [Link]
Kelas B, [Link] - [Link]
Kelas C, [Link] - [Link]
Fungsi IP Address ini utamanya untuk menangani koneksi antar perangkat pengirim dan
penerima melalui sebuah jaringan. Dengan adanya IP Address, perangkat-perangkat tersebut
dapat menghubungkan situs web atau layanan lainnya di internet.
Lebih lanjut, dengan melakukan teknik subnetting, suatu network dapat menciptakan beberapa
network tambahan. Namun, kondisi tersebut bisa mengurangi jumlah maksimum host yang ada
di dalam setiap network.
Contoh Subnetting

Perbesar
Metode subnetting berpusat pada 4 hal, apa saja hal tersebut? Foto: Unsplash
Sebelum mengetahui cara untuk menghitung subnetting, perlu diketahui bahwa metode ini
berpusat pada 4 hal, yaitu jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan
broadcast yang valid. Menyadur laman resmi dari SMKN 1 Ketapang, berikut contoh
subnetting.
Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah network address [Link]/26?
Analisanya, [Link] berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti
11111111.11111111.11111111.11000000 ([Link]).

1. Jumlah subnet
2x, di mana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk
kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi jumlah subnet adalah 22 = 4 subnet.
2. Jumlah host per subnet
2y – 2, di mana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir
subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
3. Blok subnet
56 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128 dan
128 + 64 = 192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Hos dan broadcast yang valid
Mengetahui host dan broadcast yang valid memerlukan tabel dengan catatan host pertama
adalah 1 angka setelah subnet dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.

27
Perbesar
Tabel host dan broadcast yang valid. Foto: SMKN 1 Ketapang
Tujuan Subnetting
Menurut laman resmi Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Bengkulu, hadirnya
teknik subnetting dapat memudahkan seorang network administrator dalam mengamankan
jaringan.

Selain itu, ada beberapa tujuan lain dari teknik subnetting ini yang perlu untuk diketahui, yaitu:
Untuk mengefisienkan pengalamatan (misal untuk jaringan yang hanya mempunyai 10 host,
kalau kita menggunakan kelas C saja terdapat 254 – 10 = 244 alamat yang tidak terpakai).
Membagi satu kelas network atas sejumlah subnetwork dengan arti membagi suatu kelas
jaringan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Menempatkan suatu host, apakah berada dalam satu jaringan atau tidak.
Untuk mengatasi masalah perbedaan hardware dengan topologi fisik jaringan.
Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan
penggunaan IP Address.
Mengatasi masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan dalam suatu network,
karena router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang
berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam
suatu network.
Manfaat dan Fungsi Subnetting
Salah satu fungsi subnetting adalah mengefesienkan alamat IP. Foto: Unsplash
Setelah mengetahui tujuan dari subnetting, pahami juga berbagai manfaat dan fungsi subnetting.
Menyadur dari buku Jaringan Komputer karangan Muhammad Yasin Simargolang, berikut
informasinya.
1. Mengefesienkan alamat IP
Penghematan alamat IP dilakukan dengan mengalokasikan IP Address yang terbatas agar lebih
efisien. Jika internet terbatas oleh alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan

28
memiliki 254, 65.000, atau 16 juta IP Address untuk host devicenya.
Walaupun terdapat banyak network dengan jumlah host lebih dari 254, hanya sedikit network
yang memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Kemudian, network yang memiliki lebih dari
254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin akan menghamburkan percuma
sekitar 10 ribuan IP Address.
2. Mengurangi traffic jaringan
Subnetting memastikan bahwa traffic yang ditujukan untuk perangkat dalam subnet tetap berada
di subnet itu agar dapat mengurangi keleletan. Penempatan subnet yang strategis dapat
membantu mengurangi beban jaringan dan lalu lintas rute yang lebih efisien.
Jadi, apa yang terjadi pada jaringan besar tanpa subnet? Setiap komputer akan melihat paket
broadcast dari semua komputer dan server di jaringan, sehingga switch harus memindahkan
semua lalu lintas ke port yang sesuai. Hal ini menyebabkan peningkatan kelambatan, kinerja
jaringan berkurang, dan waktu respons yang lebih lambat.
Router digunakan untuk memindahkan lalu lintas antara hasil subnet tanpa lalu lintas siaran atau
informasi apa pun yang tidak perlu diarahkan atau dipindahkan ke subnet lain. Akibatnya,
jumlah lalu lintas dalam setiap subnet berkurang, kemudian kecepatan setiap subnet akan
meningkat, sehingga memudahkan kemacetan jaringan.
3. Meningkatkan keamanan jaringan
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meningkatkan keamanan jaringan dapat dilakukan
dengan melakukan teknik subnetting. Memisahkan jaringan menjadi subnet dapat mengontrol
aliran lalu lintas menggunakan ACL, Qos, atau peta rute.
Teknik subnetting juga memungkinkan seseorang untuk mengidentifikasi ancaman, titik tutup
dari masuk, dan targetkan tanggapan dengan lebih mudah. Jaringan IP Address pun dapat dibagi
menggunakan router untuk menghubungkan subnet melalui konfigurasi ACL pada router dan
switch.
4. Mengoptimalkan kinerja dan kecepatan jaringan
Teknik subnetting dapat mengoptimalisasi untuk kinerja jaringan walaupun sebuah organisasi
memiliki ribuan host device, mengoperasikan semua device tersebut di dalam network ID yang
sama akan memperlambat network.
Cara TCP/IP bekerja dengan mengatur agar komputer dengan network ID yang sama harus
berada physical network yang sama juga. Physical network memiliki domain broadcast yang
sama, artinya sebuah medium network harus membawa semua traffic untuk network.

29
apa itu FLSM? Dan apa itu VLSM?

 Fixed Length Subnet Mask, FLSM adalah teknik pembagian network yang mana setiap subnet
memiliki ukuran subnetmask yang sama.
 Variable Length Subnet Mask, VLSM adalah teknik pembagian network yang mana setiap
subnet memiliki ukuran subnetmask yang berbeda tergantung jumlah host yang ada di network
tersebut.

Belum ada gambaran? silakan teman-teman belajar Konsep dasar Subnetting terlebih dahulu,


karena materi yang sudah diulas di situ tidak akan dibahas lagi di sini.

Ini adalah topologi yang akan kita hitung pengalokasian IP-nya.

30
Subnetting Metode FLSM
Sekarang kita mulai menghitung pengalamatan IP untuk jaringan bagian kiri dari CORE-
ROUTER. Kita lihat spesifikasi yang diperlukan :
PERPUSTAKAAN = 11 hosts
LAB 1 = 38 hosts
LAB 1 = 38 hosts
LAB 1 = 38 hosts
Bonus Catatan:
*Jumlah komputer di dalam lab fixed 37 ditambah 1 ip untuk router, tidak ada rencana
penambahan komputer, kecuali bikin lab baru.
*Untuk perpustakaan ada rencana penambahan komputer.

Nah, itu kan jumlah hostnya rata-rata sama, bahkan bisa dibilang sama kecuali perpustakaan.
Kita lihat juga ada catatan bahwa jumlah komputer pada lab tidak ada rencana penambahan
komputer, artinya kita tidak perlu mengira-ngira lagi berapa jumlah tambahan komputernya,
fixed 38 hosts sudah termasuk 1 Host untuk gateway (IP Router). Soal penambahan lab baru,
kita bisa gunakan ip lain.

Nah, untuk perpustakaan kita bisa konfirmasi berapa yang akan ditambah, misal si kepala
sekolah atau project managernya bilang "tidak tahu, yang jelis tidak akan lebih dari 30". Nah
dari sini kita bisa menyimpulkan kita bisa menggunakan metode FLSM.

Host yang paling banyak yaitu 38 Hosts. Kemudian "Berapa Subnetmask yang jumlah host
sama dengan 38 atau yang lebih besar paling mendekati 38?". Kita harus hafal tabel berikut ini:

31
Subnetmask yang sama dengan 38 tidak ada. Sedangkan subnetmask yang lebih besar dan
paling mendekati 38 yaitu prefix /26 (subnetmask : [Link]), dengan 62 Hosts.

Bagaimana jika kita belum hafal subnetting, ada sih rumusnya begini, tapi sebenarnya sama saja
kita harus tahu perpangkatan 2 :

2^y - 2 >= 38
>= artinya lebih besar mendekati atau sama dengan.

Berapa nilai y? 6 kan, 2^6 - 2 = 62. Kalo belum hafal perpangkatan, ya hitung seperti ini:

2x2 = 4
2x2x2 = 8
2x2x2x2 = 16
2x2x2x2x2 = 32
2x2x2x2x2x2 = 64

Berhenti menghitung saat nilainya sudah melebihi atau sama dengan 38. Jumlah angka 2 itulah
nilai y.

Angka 6 tersebut bisa digunakan untuk menentukan subnetmasknya jika teman-teman belum
tahu berapa subnetmask host 62. Karena angka 6 menyatakan julah bit 0. Jadi jika ditulis:
11111111.11111111.11111111.11000000.
Konversi ke desimal jadi [Link].

Kita balik lagi ke spesifikasi jaringan yang akan dibuat yaitu 3 jarigan berukuran 38 Host dan 1
jaringan berukuran 11 host yang rencanaya akan ditambah, total ada 4 jaringan. Prefix /24
mempunyai 256 IP yan jika kita bagi hasil subnetting kita tadi yaitu 64 (62+2). Maka hasilnya 4

32
kan, pas untuk jumlah jaringan (yaitu 4) dan jumlah ip untuk host yang diperlukan (yaitu 62
untuk 38 host).

Jadi hasilnya begini:


PERPUSTAKAAN = [Link]/26
LAB 1 = [Link]/26
LAB 2 = [Link]/26
LAB 2 = [Link]/26

Kalo mau nambah lab yang isinya 37 komputer, bisa gunakan ip berikutnya [Link]/26.

Subnetting Metode VLSM

Nah sekarang kita akan menghitung jaringan di sebelah kanan CORE-ROUTER dan jaringan
yang terhubung ke Core Router, yaitu :
SERVER : 5 Hosts
GURU : 32 Host
TU : 14 Hosts
CORE-ROUTER -> RO-SISWA : 2 Hosts
CORE-ROUTER -> RO-STAF : 2 Hosts

Kita konfirmasi dulu bahwa apakah ada rencana penambahan? Jika jawabannya tidak ada. Kita
bisa langsung menghitung dari host yang paling besar, yaitu 32. Sekarang kita akan memberi
contoh perhitungan metode VLSM.

Kita gunakan tabel subnetting di atas, netmask yang hostsnya sama dengan atau lebih besar
mendekati 32 host adalah 64, prefix /26 dengan 62 hots. Maka network untuk GURU adalah
[Link]/26.

Kita hitung network yang terbesar setelah GURU, yaitu TU dengan 14 Host. Lagi-lagi teman-
teman harus hafal, "berapa netmask yang hostnya sama dengan atau lebih besar mendekati 14
hosts?" Jawabanya prefix /28 dengan 14 host. Maka network TU adalah [Link]/28.

Nah angka 64 itu dari mana? Kan tadi subnet pertama sudah diambil oleh GURU [Link]/26,
subnet berikutnya kan [Link]/26. Kalo benar-benar bingung silakan pahami definisi
Network ID atau IP Network dulu di Konsep dasar Subnetting.

Jika bingung cara menghitung ip network berikutnya. Tambahkan saja network sebelumnya
dengan jumlah hostnya + 2. Kenapa +2? Kan ada 2 ip untuk network dan broadcast yang tidak
dihitung sebagai host. Misal network sebelumnya kan [Link]/26 dengan jumlah host 62,
berarti angka penambahannya adalah 62+2 = 64, seperti ini.
[Link] + [Link] = [Link].

Lalu kenapa prefixnya 28? Karena kita sudah subnetting dan cuma butuh 14 host, prefix yang
lebih besar mendekati atau sama dengan 14 host adalah /28. Hitung naual seperti metode FLSM
jika belum hafal, hehe. :v

Lakukan hal serupa pada network berikutnya, ingat ya hitung dulu yang hostsnya lebih besar.

33
SERVER : 5 Host, prefix yang hostnya sama dengan atau lebih besar mendekati 5 adalah
prefix /29 dengan 6 host. Network SERVER adalah [Link]/29.

[Link] + [Link] = [Link]

CORE-ROUTER -> RO-SISWA : 2 Host, prefix yang hostnya sama dengan atau lebih besar
mendekati 2 adalah prefix /30 dengan 2 host. Network CORE-ROUTER -> RO-SISWA adalah
[Link]/30.

[Link] + [Link] = [Link]

CORE-ROUTER -> RO-STAF : 2 Host, prefix yang hostnya sama dengan atau lebih besar
mendekati 2 adalah prefix /30 dengan 2 host. Network SERVER adalah [Link]/30.

[Link] + [Link] = [Link]

Jadi hasilnya seperti ini:


SERVER : [Link]/26
GURU : [Link]/28
TU : [Link]/29
CORE-ROUTER -> RO-SISWA : [Link]/30
CORE-ROUTER -> RO-STAF : [Link]/30

34
Pengertian Alamat IP

IP adalah singkatan dari Internet Protocol, atau dalam bahasa Indonesia berarti Protokol


Internet. Jadi, IP address atau internet protocol address adalah alamat protokol internet
(alamat IP) yang mengidentifikasi segala perangkat yang terhubung ke jaringan, baik
jaringan internet pada umumnya maupun lokal.
Selanjutnya, setelah Anda tahu pengertian alamat IP, kami akan menjelaskan fungsi IP
address dan cara kerjanya.

Fungsi IP Address

Saat Anda mengunjungi sebuah website, perangkat yang Anda gunakan perlu menemukan
lokasi data website tersebut untuk kemudian mengambil datanya dan menyajikannya
kepada Anda.
Pernah menuliskan alamat rumah lengkap dengan nomornya untuk menerima paket
dari Ecommerce ? Yap, seperti itulah kira-kira fungsi alamat IP ini.
Jadi, apabila diibaratkan, IP address adalah nomor rumah yang berfungsi untuk memastikan
bahwa paket (data) dikirim ke rumah (perangkat) yang tepat. Dengan kata lain, fungsi IP
address adalah sebagai media komunikasi bagi suatu perangkat agar permintaan untuknya
diarahkan ke tujuan yang tepat melalui jaringan.

Cara Kerja IP Address

Berikut cara kerja IP address:


Pertama, komputer terhubung ke router jaringan yang biasanya disediakan oleh penyedia
layanan internet (ISP). Kemudian, router akan berkomunikasi dengan server tempat website
disimpan untuk mengakses file yang perlu dikirim kembali ke komputer Anda.
Komputer, router, dan server memiliki IP address tertentu yang bisa dikenali satu sama
lain. Oleh karena itu, dengan alamat inilah masing-masing perangkat bisa berkomunikasi,
mengambil data, dan mengirimkannya.

35
Jenis-Jenis IP Address

Versi IP address dibagi menjadi dua, yaitu IPv4 dan IPv6. Kemudian, IP address konsumen
juga dibagi ke dalam empat jenis, yaitu privat, publik, dinamis, dan statis.
Selain itu, ada juga dua jenis IP address website, yaitu shared (bersama) dan dedicated
(khusus). Di bawah ini, kami akan menjelaskan setiap jenis-jenis IP secara lebih mendetail.

IPv4

IPv4 adalah alamat IP yang paling umum digunakan, dengan panjang 32-bit dan empat
bagian (oktet) yang dipisahkan oleh titik. Nilai setiap oktet berkisar dari 0 – 255.
Kepanjangan IPv4 yaitu Internet Protocol version 4.
Dengan kemungkinan ini, bisa disimpulkan bahwa saat ini ada sekitar 4,3 miliar alamat
IPv4 yang berbeda di seluruh dunia.
Contoh IPv4 adalah seperti berikut:

 [Link]

 192.0. 2.146

 [Link]

Karena merupakan yang paling banyak digunakan, saat ini hampir semua sistem pasti bisa
menangani routing IPv4 tanpa masalah. Selain itu, alamat IPv4 mendukung
mayoritas topologi jaringan  karena prefiksnya yang sederhana. Data dalam address
packet IPv4 juga dienkripsi dengan baik untuk memastikan komunikasi yang aman antar
jaringan.

IPv6

IPv6 adalah versi IP address yang lebih baru dari IPv4, dimaksudkan untuk menggantikan
IPv4 karena variasi IPv4 yang kini mulai terbatas.
Kalau IPv4 memiliki panjang 32 bit, panjang IPv6 mencapai 128 bit. Artinya, ada sekitar
340 undecillion (angka di belakang digit pertamanya ada 66!) alamat IPv6 yang berbeda.
IPv6 ditulis dalam rangkaian digit heksadesimal 16 bit dan huruf, dipisahkan oleh titik dua.
Jadi, pada jenis IP address ini, Anda akan menjumpai huruf dari A sampai F.
Berikut adalah contoh IPv6:

36
 2001:3FFE:9D38:FE75:A95A:1C48:50DF:6AB8

 2001:0db8:85a3:0000:0000:8a2e:0370:7334

 2001:db8:3333:4444:CCCC:DDDD:EEEE:FFFF

Dengan IPv6, routing akan menjadi lebih efisien karena memungkinkan penyedia layanan
internet meminimalkan ukuran tabel routing. IPv6 juga menggunakan Internet Protocol
Security  (IPsec), jadi Anda tidak perlu cemas dengan autentikasi, kerahasiaan, dan
integritas data.
Terlebih lagi, IPv6 tidak memiliki IP checksum  sehingga pemrosesan packet menjadi lebih
efisien, dan mendukung multicast. Hasilnya, transmisi data pun bisa dikirim ke beberapa
tujuan sekaligus sehingga akan menghemat bandwidth jaringan.

Private IP

IP private adalah jenis IP address yang digunakan untuk berkomunikasi dalam jaringan


lokal, misalnya melalui Bluetooth atau LAN. Perangkat seperti laptop, handphone, atau
komputer yang dilengkapi Bluetooth dan bisa terhubung ke jaringan lokal memiliki IP
private sendiri.
Jadi, jenis IP address ini tidak bisa digunakan untuk jaringan internet. Versi IP ini tersedia
gratis untuk digunakan.

Public IP

IP public adalah jenis IP address publik yang digunakan untuk berkomunikasi di luar


jaringan lokal dan terhubung ke internet. Berkebalikan dengan private IP address, IP
address publik tidak tersedia gratis karena diberikan dan dikontrol oleh penyedia layanan
internet (ISP).

Alamat IP Dinamis

Dynamic IP atau Alamat IP dinamis adalah IP yang sifatnya berubah-ubah, yang diberikan


oleh penyedia layanan internet kepada pelanggannya. Alamat ini biasanya digunakan
karena alasan keamanan. Sifatnya yang berubah-ubah dimaksudkan untuk mempersulit para
hacker mengakses antarmuka jaringan.

37
IP dinamis selalu berganti setiap kali perangkat baru ditambahkan ke jaringan, saat
konfigurasi jaringan berubah, atau saat perangkat reboot. Jadi, kalau Anda menggunakan
layanan internet dari suatu penyedia, IP di rumah Anda pun tidak selalu sama.

Alamat IP Statis

Static IP atau Alamat IP statis adalah kebalikan dari jenis IP dinamis, dengan rangkaian


angka yang tetap dan tidak berganti-ganti. Jenis protokol ini akan tetap sama, kecuali ada
perubahan pada administrasi jaringan.
Pengguna akhir umumnya tidak memerlukan alamat ini. Namun, jenis IP ini diperlukan
untuk perangkat yang memerlukan akses tetap, atau jika Anda sering terhubung ke jaringan
pribadi.
Contohnya, perangkat seperti printer bersama harus memiliki static IP agar orang-orang di
kantor bisa terhubung dengan mudah untuk menggunakannya.
Selain itu, perusahaan web hosting memerlukan IP statis karena klien memerlukan akses
tetap ke web server dan email mereka. Jadi, ini akan mempermudah permintaan untuk
menuju IP address yang benar melalui Domain Name System  (DNS).

Shared IP Address

Shared IP address atau alamat IP bersama adalah IP address yang digunakan bersama-sama


di antara beberapa nama domain . Nah, alamat IP ini ditujukan bagi user yang menggunakan
resource jaringan dan hardware server bersama-sama dengan orang lain. 
Karena Anda bukanlah satu-satunya yang menggunakan IP address ini, akan lebih mudah
untuk mengatur trafik dan volume agar tetap konsisten. Tindakan ini juga akan membantu
menjaga reputasi alamat IP dengan ISP penerima. Keuntungan lain dari Shared IP adalah
biayanya yang relatif rendah.

Dedicated IP Address

Dedicated IP address atau alamat IP khusus berarti domain tersebut diberikan ke IP address


yang tidak digunakan bersama-sama dengan pemilik website lain. Keuntungannya adalah,
Anda bisa mendapatkan sertifikat SSL dengan lebih mudah menggunakan IP address ini.
Website Anda juga bisa diakses dengan IP address-nya saja, bukan hanya nama domain.
Selanjutnya, Anda bebas menjalankan server File Transfer Protocol (FTP) Anda.

38
Bagaimana Cara Alamat IP Didistribusikan?

Setiap perangkat diberi alamat IP yang berbeda-beda tergantung pada jaringan tempatnya
terhubung. Selain itu, cara penetapan IP address juga berbeda-beda menurut jenisnya. Di
bawah ini, kami menjelaskan proses penetapan IP menurut jenisnya.

Private IP Address
IP private ditetapkan ke perangkat oleh router melalui Dynamic Host Configuration
Protocol  (DHCP). Atau, IP address ini bisa diatur secara manual setelah perangkat
berkomunikasi satu sama lain melalui router.

Public IP Address
IP public ditetapkan ke perangkat oleh penyedia layanan internet (ISP). Aktivitas internet
akan melewati ISP, kemudian dialihkan kembali ke perangkat menggunakan public IP
address.

Alamat IP Dinamis
Di jaringan lokal, IP dinamis biasanya ditetapkan oleh router jaringan. Untuk jaringan yang
terhubung ke internet, ISP menetapkan IP address dinamis ke komputer kliennya.

Alamat IP Statis
Jika tidak ingin router menetapkan IP address yang berbeda setiap kali Anda terhubung ke
jaringan lokal, atur IP statis di perangkat Anda. Untuk melakukannya, Anda bisa membuka
pengaturan jaringan OS yang digunakan atau halaman konfigurasi router.

Ancaman Keamanan terkait Alamat IP

Satu hal yang perlu diingat, selalu lindungi IP address Anda dan jangan membagikannya
dengan siapa pun. Kalau alamat IP sampai diketahui hacker atau penjahat dunia maya,
Anda bisa berada dalam bahaya.
Meskipun tidak menampilkan informasi sensitif, IP address tetap berisiko dimanfaatkan
oleh penjahat untuk:

1. Melacak Lokasi dan Aktivitas Anda


IP address bisa menunjukkan geolokasi dan aktivitas internet Anda. Kota atau

39
bahkan alamat Anda dan aktivitas transaksi elektronik pun bisa dilacak dengan
alamat ini. Akibatnya, Anda bisa dibuntuti, dikerjai, atau bahkan berisiko menjadi
korban kejahatan.

2. Meretas Perangkat
Perangkat Anda terhubung ke internet melalui alamat IP dan port. Dengan
mengetahui IP address Anda, hacker bisa memaksa mengambil alih komputer Anda.
Lebih parahnya lagi, mereka bisa menginstal malware, lalu mencuri informasi
sensitif untuk melakukan tindakan kriminal.

3. Menggunakan Resource atau Melakukan Framing


Jika IP address Anda jatuh ke tangan penjahat, mereka bisa menyalahgunakannya
untuk menjebak Anda. Misalnya, mereka bisa mendownload atau mengupload
konten tidak senonoh melalui alamat IP Anda, yang mungkin melanggar syarat dan
ketentuan ISP. Akibatnya pun akhirnya bisa fatal.

40
Format IP Address
IP address dinyatakan dalam struktur bilangan biner yang terdiri atas 32 bit dengan bentuk
sebagai berikut:

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Misalnya

11000000000010100001111000000010

Agar kitamudahmembaca IP address,maka 32 bit bilanganitudibagike dalam 4 segmen yang


masing-masingberisii 8 bit. Kedelapan bit itu bisadisebut oktat.

Selanjutnya, setiapoktatditerjamahkankedalambilangan decimal. Misalnya :

11000000 = 192

00001010 = 10

00011110 = 30

00000010 = 2

Adapun nilai dari 8 bit adalah 11111111 atau sama dengan 225. Dengan demikian, jumlah IP
address seluruhnya adalah 225 x 225 x 225 x 225.

Struktur IP Address terdiri atas dua bagian yaitu bagian NetworkID dan hostID.


NetworkID menunjukkan ID alamat jaringan tempat host-host berada, sedangkan hostID adalah
bagian yang menunjukkan host itu berada. Sederhananya, NetworkID seperti nama jalan
sedangkan HostID adalah nomor rumah dijalan tersebut.

Kelas IP Address
Guna memudahkan dalam pembagiannya maka IP address dibagi-bagi ke dalam kelas-kelas
yang berbeda, yaitu sebagai berikut:

1) Kelas A

IP address kelasA terdiriatas 8 bit untuk network ID dan sisanya 24 bit digunakan untuk host
ID, sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host sangat besar.
Pada bit pertama diberikan angka 0 sampai dengan 127.

Karakteristik IP Kelas A

Format : [Link]

Bit pertama : 0

Network ID : 8 bit

41
Hos tID : 24 bit

Oktat pertama : 0 – 127

Jumlah network : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)

Rentang IP  : 1.x.x.x – 126.x.x.x

Jumlah IP address : 16.777.214

Contoh

IP address [Link] maka :

Network ID = 120

Host ID = 31.45.18

Jadi, IP diatas mempunyai host dengan nomor 31.45.18 pada jaringan 120.

2) Kelas B
IP address kelas B terdiriatas 16 bit untuk network ID dan sisanya 16 bit digunakan untuk host
ID, sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host tidakterlalubesar.
Pada 2 bit pertama, diberikanangka 10.

Karakteristik IP Kelas B
Format : 10NNNNNN. [Link]

Bit pertama : 10

Network ID : 16 bit

Host ID : 16 bit

Oktat pertama : 128 – 191

Jumlah network : 16.384

Rentang IP : 128.1.x.x – 191.255.x.x

Jumlah IP address : 65.534

Contoh
IP address [Link] maka :

 Network ID = 150.70

  HostID = 60.56

42
Jadi, IP diatas mempunyai host dengan nomor 60.56 pada jaringan 150.70

3) Kelas C

IP address kelas C terdiri atas 24 bit untuk network ID dan sisanya 8 bit digunaka nuntuk host
ID, sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan berukuran kecil. Kelas C biasanya
digunakan untuk jaringan Local Area Network atau LAN. Pada 3 bit pertama, diberikan angka
110.

Karakteristik IP Kelas C

Format : [Link]. [Link]

Bit pertama : 110

Network ID : 24 bit

HostID : 8 bit

Oktat pertama : 192 – 223

Jumlah network : 2.097.152

Rentang IP : 192.0.0.x – 223.255.225.x

Jumlah IP address : 254

Contoh
IP address [Link] maka :

Network ID = 192.168.1

Host ID = 1

Jadi, IP diatasmempunyai host dengannomor 1 padajaringan 192.168.1

Tabel : Jumlah network ID dan host ID

Jumlah Host
Kelas Antara Jumlahjaringan
Jaringan

A 1 s.d. 126 126 16.777.214

B 128 s.d. 191 16.384 65.534

43
C 192 s.d. 223 2.097.152 254

Tabel : Rentang IP address untuk setiap kelas

Kelas AlamatAwal AlamatAkhir

A XXX.0.0.1 XXX.255.255.255

B [Link].0.1 [Link].255.255

C [Link].1 [Link].255

4) Kelas D
IP address kelas D digunakan untuk keperluan IP multicasting. 4 bit pertama IP address kelas D
di set 1110. Bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan IP
address ini. Dalam multicasting tidak dikenal network bit dan host bit.

karakteristik
Format : [Link]

4 bit pertama : 1110

Bit multicast : 28 bit

Byte insial : 224-247

Deskripsi  : kelas D adalah ruang alamat multicast (RFC 1112)

5) Kelas E
IP address kelas E tidak digunakan untuk umum. 4 bit pertama IP address ini de set 1

Karakteristik
Format : [Link]

4 bit pertama : 1111

44
Bit cadangan : 28 bit

Byte inisial : 248-255

Deskripsi : kelas E adalah ruang alamat yang di cadangkan untuk keperluan

Eksperimenta
Selain network  ID, istilah lain yang digunakan untuk menyebut bagian IP address yang
menunjukkan jaringan ialah Network Prifix. Biasanya dalam menuliskan network prefix suatu
kelas  IP address digunakan tanda garis miring (slash) “I” yang diikuti dengan angka yang
menunjukkan panjang network prefix dalam bit.

Subnet Mask
Nilai subnet mask berfungsiuntukmemisahkan network ID dengan host ID. Subnet
maskdiperlukanoleh TCP/IP untukmenentukan, apakahjaringan yang
dimaksudadalahjaringanlokalataunonlokal. UntukjaringanNonlokalberarti TCP/IP
harusmengirimkanpaket data melaluisebuah [Link], diperlukan  address
mask untukmenyaring IP address danpaket data yang keluarmasukjaringantersebut.

Network ID dan host ID didalam IP address dibedakanolehpenggunaan subnet mask. Masing-


masing subnet mask menggunakanpolanomor 32-bit yang merupakan bit groups darisemuasatu
(1) yang menunjukkan network ID dansemuanol (0) menunjukkan host ID dariporsi IP address.

Sebagai contoh, alama tkelas B: [Link] bilangan binernya adalah:

10101010 11001011 01011101 00000101

Subnet mask default untukalamatkelas B adalah:

 11111111 11111111 00000000 00000000


 Bisa juga ditulis dalam notasi desimal:
 [Link]

Tabel : Subnet mask untuk internet address classes

Kelas Bit Subnet Subnet mask

A 11111111 00000000 00000000 00000000 [Link]

B 11111111 11111111 00000000 00000000 [Link]

45
C 11111111 11111111 11111111 00000000 [Link]

Jenis IP ADDRESS
Berdasarkan jenisnya IP address dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

1. IP Private
IP Private adalah suatu IP address yang digunakan oleh suatu organisasi yang diperuntukkan
untuk jaringan lokal. Sehingga organisasi lain dari luar organisasi tersebut tidak dapat
melakukan komunikasi dengan jaringan lokal tersebut. Contoh pemakaiannya adalah pada
jaringan intranet.

 Sedangkan Range IP Private adalah sebagai berikut :

 Kelas A : [Link] – [Link]


 Kelas B : [Link] – [Link]
 Kelas C : [Link] – [Link]

2. IP Public
IP Public adalah suatu IP address yang digunakan pada jaringan lokal oleh suatu organisasi dan
organisasi lain dari luar organisasi tersebut dapat melakukan komunikasi langsung dengan
jaringan lokal tersebut. Contoh pemakaiannya adalah pada jaringan internet.

Sedangkan range dari IP Public : range IP address yang tidak termasuk dalam IP Private.

Aturan Dasar Pemilihan Network ID dan Host ID


Terdapat beberapa aturan dasar dalam menentukan network ID dan host ID yang hendak
digunakan. Aturan tersebut ialah :

1. Network ID tidak boleh sama dengan 127

Network ID 127 tidak dapat digunakan karena ia secara default digunakan untuk keperluan
loopback. Loopback ialah IP address yang digunakan komputer untuk menunjuk dirinya sendiri.

2. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 255 (seluruh bit di set 1)Seluruh bit dari

46
network ID dan host ID tidak boleh semunya di set 1. Jika hal ini dilakukan, network ID atau
host ID tersebut akan diartikan sebagai alamat broadcast. ID broadcast merupakan alamat yang
mewakili seluruh anggota jaringan. Pengiriman paket ke alamat broadcast akan menyebabkan
paket ini didengarkan oleh seluruh anggota network ters

3. Network ID dan host ID tidak boleh 0 (nol)


Network ID dan host ID tidak boleh semua bitnya 0 (nol). IP address dengan host ID 0 diartikan
sebagai alamat network. Alamat network ialah alamat yang digunakan untuk menunjuk suatu
jaringan, dan tidak menunjukkan suatu host.

4. Host ID harus unik dalam satu network


Dalam satu network, tidak boleh ada dua host yang memiliki host ID yang sama.

Private Address
Private address adalah kelompok IP Address yang dapat dipakai tanpa harus melakukan
pendaftaran. IP Address ini hanya dapat digunakan untuk jaringan local (LAN) dan tidak
dikenalkan dan diabaikan oleh internet. Alamat ini adalah unik bagi jaringan global. Agar IP
private ini dapat terkoneksi ke internet, diperlukan peralatan Router dengan fasilitas Network
Address Traslatiaon (NAT).

Berikut adalah Alamat yang dicadangkan untuk jaringan private:

1. Private Address Kelas A


IP Address dari [Link] – [Link], setara dengan sebuah jaringan dengan 24 bit Host.
Atau sekitar 16.777.214 Host.

2. Private Address Kelas B


[Link] – [Link], setara dengan 16 jaringan yang masing-masing jaringan memiliki
host efektif sebanyak 65.534 host.

3. Private Address Kelas C


[Link] – [Link],setara dengan 256 jaringan yang masing-masing jaringan
memiliki host efektif sebanyak 254 host.

47
Jenis Address Khusus dalam Jaringan Komputer

Selain address yang sering kita gunakan dalam jaringan komputer digunakan untuk pengenal
host, ada
beberapa jenis address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan
untuk pengenal host. Address tersebut adalah:

1. Network Address
Network Address adalah Address yang digunakan untuk mengenali suatu network pada jaringan
Internet. Misalkan untuk host dengan IP Address kelas B [Link]. Tanpa memakai subnet
(akan diterangkan kemudian), networkaddress dari host ini adalah [Link]. Address ini
didapat dengan membuat seluruh bit host pada 2 segmen terakhir menjadi 0. Tujuannya adalah
untuk menyederhanakan informasi routing pada Internet.

Router cukup melihat network address (192.168) untuk menentukan ke router mana datagram
tersebut harus dikirimkan. Analoginya mirip dengan dalam proses pengantaran surat, petugas
penyortir pada kantor pos cukup melihat kota tujuan pada alamat surat (tidak perlu membaca
selutuh alamat) untuk menentukan jalur mana yang harus ditempuh surat tersebut.

2. Broadcast Address
Broadcast Address adalah Address ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang
harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu network. Seperti diketahui, setiap
datagram IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh
datagram tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses
datagram tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin
mengirim datagram kepada seluruh host yang ada pada networknya ? Tidak efisien jika ia harus
membuat replikasi datagram sebanyak jumlah host tujuan.
Pemakaian bandwidth akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi
datagram-datagram tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host
cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima
datagram tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada network yang samaharus memiliki

48
broadcast address yang sama dan address tersebut tidak boleh digunakan sebagai IP Address
untuk host tertentu. Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 address untuk menerima datagram :
pertama adalah IP Addressnya yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada
network tempat host tersebut berada. Broadcast address diperoleh dengan membuat bit-bit host
pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address [Link] atau
[Link], broadcastaddressnya adalah [Link] (2 segmen terakhir dari IP Address
tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis
informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing.

3. Multicast Address
Kelas address A, B dan C adalah address yang digunakan untuk komunikasi antar host, yang
menggunakan datagram datagram unicast. Artinya, datagram/paket memiliki address tujuan
berupa satu host tertentu. Hanya host yang memiliki IP address sama dengan destination address
pada datagram yang akan menerima datagram tersebut, sedangkan host lain akan
mengabaikannya. Jika datagram ditujukan untuk seluruh host pada suatu jaringan, maka field
address tujuan ini akan berisi alamat broadcast dari jaringan yang bersangkutan. Dari dua mode
pengiriman ini (unicast dan broadcast), muncul pula mode ke tiga.

Diperlukan suatu mode khusus jika suatu host ingin berkomunikasi dengan beberapa host
sekaligus (host group), dengan hanya mengirimkan satu datagram saja. Namun berbeda dengan
mode broadcast, hanya host-host yang tergabung dalam suatu group saja yang akan menerima
datagram ini, sedangkan host lain tidak akan terpengaruh. Oleh karena itu, dikenalkan konsep
multicast. Pada konsep ini, setiap group yang menjalankan aplikasi bersama mendapatkan satu
multicastaddress. Struktur kelas
multicastaddress dapat dilihat pada Gambar berikut.

Untuk keperluan multicast, sejumlah IP Address dialokasikan sebagai multicastaddress. Jika


struktur IP Address mengikuti bentuk [Link] (bentuk
desimal [Link] sampai [Link]), maka IP Address merupakan multicastaddress.
Alokasi ini ditujukan untuk keperluan group, bukan untuk host seperti pada kelas A, B dan C.

49
Anggota group adalah host-host yang ingin bergabung dalam group [Link] ini juga
tidak terbatas pada jaringan di satu subnet, namun bisa mencapai seluruh [Link]
menyerupai suatu backbone, maka jaringan muticast ini dikenal pula sebagai Multicast
Backbone (Mbone).

50

Anda mungkin juga menyukai