SKRIPSI
GAMBARAN POLA MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI
DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
PALEMBANG
OLEH :
SISILIA ATAMI
21120024P
INSTITUSI ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI
MUHAMMADIYAH PALEMBANG FAKULTAS
ILMU KESEHATAN, PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2021
SKRIPSI
GAMBARAN POLA MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI
DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
PALEMBANG
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan
OLEH :
SISILIA ATAMI
21120024P
INSTITUSI ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI
MUHAMMADIYAH PALEMBANG FAKULTAS
ILMU KESEHATAN, PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2021
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini diajukan oleh :
Nama : Sisilia Atami
NIM : 21120024P
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Gambaran Pola Makan Pada Pasien Hipertensi di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang
Telah diperiksa dan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
disetujui untuk dilakukan proses ujian seminar hasil.
Palembang, Mei 2022
Pembimbing I Pembimbing II
Sukron, [Link] Yulius Tiranda, [Link].D
NBM : 1268645 NBM : 1085013
Disetujui
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Yudi Abdul Majid, [Link]
NBM : 1056216
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : Sisilia Atami
NIM : 21120024P
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Gambaran Pola Makan Pada Pasien Hipertensi di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang
Telah berhasil dipertahankan dihadapan dewan penguji dan di terima
sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar sarjana
keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehat
-an Institut Ilmu Kesehatan Dan Teknologi Muhammadiyah Palembang
DEWAN PENGUJI
Pembimbing 1 : Sukron,[Link] ( )
Pembimbing 2 : Yulius Tiranda,[Link].D ( )
Penguji1 : Joko Tri Wahyudi,[Link] ( )
Penguji 2 : Agus Suryaman,[Link] ( )
Ditetapkan di : Palembang
Tanggal : 2022
Ketua IKesT MP
Heri Shatriadi CP.,[Link]
NBM: 884664
iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISNILITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber yang dikutip maupun
dirujuk telah saya nyatakan dengan benar
Nama : Sisilia Atami
Nim : 21120024P
Tanda tangan :
Tanggal :
v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Insitut Ilmu Kesehatan dan Teknologi Muhammadiyah
Palembang, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : SISILIA ATAMI
NIM : 21120024P
Program Studi : S1 Ilmu Keperawatan
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada IkesT Muhammadiyah Palembang Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non
Exclusive Royalty – Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Gambaran Pola Makan Pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang, beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas
Royalti Nonekslusif ini IkesT Muhammadiyah Palembang berhak menyimpan,
mengalih media /format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data saya
sebagai penulis /pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya
Dibuat di : Palembang
Pada tanggal : 2022
Yang Menyatakan
(Sisilia Atami)
NIM : 21120024P
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Identitas Penulis :
Nama : SISILIA ATAMI
Tempat/tanggal lahir : Bandar Lampung, 04 Desember 1999
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Anak ke dari : Ke-3 dari 3 Bersaudara
Orang tua :
Ayah : Yulian
Ibu : Surmaleni
Telepon : 081271276747
E-mail : sisiliaatami0412@[Link]
Alamat : Tanjung Kemala [Link] [Link] Enim
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 1 Tanjung Kemala 2006-2011
2. SMP Negeri 8 Palembang 2011-2014
3. SMA Bina Warga 2 Palembang 2014-2017
4. STIKes Muhammadiyah Palembang 2017-2020
vii
ABSTRAK
Nama : SISILIA ATAMI
NIM : 21120024P
Program Stusi : S1 Ilmu Keperawatan
Judul : Gambaran Pola Makan Pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang
Latar Belakang : Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di beberapa
Negara maju dan berkembang. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi atau
tekanan darah tinggi jika pemeriksaan menunjukkan hasil di atas 140/90 mmhg
atau lebih. Pola makan adalah salah satu faktor penyebab terjadinya beberapa
penyakit seperti salah satunya adalah hipertensi. Kejadian hipertensi diseluruh
dunia mencapai lebih dari 1,5 milyar jiwa Tujuan penelitian : Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada pasien hipertensi di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode Penelitian : Desain yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode deskriptif, yang merupakan
survey yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk
melihat gambaran fenomena yang terjadi didalam suatu populasi tertentu, dengan
jumlah 68 responden yang menderita hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ke 68 responden
tersebut, terdapat 36 responden yang memiliki pola makan dengan kategori baik.
Simpulan : dapat disimpulkan bahwa dari 68 responden yang sudah diteliti
bahwa yang memiliki kategori pola makan baik berjumlah 36 responden akan
tetapi masih ada 32 responden yang mendapat kategori sedang. Hal ini
dipengaruhi oleh kesadaran, pengetahuan dan pemahaman yang kurang tentang
cara mengatur pola makan pada penderita hipertensi di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang. Saran : Diharapkan bagi para penderita hipertensi
dapat selalu menerapkan pola makan yang baik dengan cara menghindari
makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium, menghindari makanan
yang diawetkan, makanan siap saji, makanan berlemak jenuh tinggi serta
meningkatkan makanan yang tinggi serat seperti buah dan sayuran.
Kata Kunci : Hipertensi,Pola Makan
Daftar Pustaka : 29 (2011-2020)
viii
ABSTRACT
Name : SISILIA ATAMI
NIM : 21120024P
Study Program : S1 Nursing Science
Title : Description of Diet in Hypertension Patients at
Muhammadiyah Hospital Palembang
Background: Hypertension is still a health problem in several developed
and developing countries. A person is said to have hypertension or high blood
pressure if the examination shows results above 140/90 mmHg or more. Diet is
one of the factors that cause several diseases such as hypertension. The incidence
of hypertension worldwide reaches more than 1.5 billion people. Objective: This
study aims to describe the diet in hypertensive patients at Muhammadiyah
Hospital in Palembang. Research Methods: The design used in this study is
descriptive method, which is a survey conducted on a set of objects which usually
aims to see a picture of the phenomena that occur in a certain population, with a
total of 68 respondents suffering from hypertension at Muhammadiyah Hospital
Palembang. Results: The results showed that of the 68 respondents, there were 36
respondents who had good eating patterns. Conclusion: it can be concluded that
of the 68 respondents who have been studied, 36 respondents have a good eating
pattern category but there are still 32 respondents who get the moderate category.
This is influenced by the lack of awareness, knowledge and understanding of how
to regulate the diet of hypertension sufferers at the Palembang Muhammadiyah
Hospital. Suggestion: It is expected that people with hypertension can always
apply a good diet by avoiding foods that are processed using sodium salt, avoiding
preserved foods, fast food, high saturated fat foods and increasing foods high in
fiber such as fruits and vegetables.
Keywords : Hpertension,Dietary Habit
Biblography : 29 (2011-2020)
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan proposal ini. Yang berjudul “Gambaran
Pola Makan Pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang”
Penulisan proposal ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Keperawatan di Institut Ilmu Kesehatan dan Teknologi
Muhammadiyah Palembang. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan
proposal ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan proposal ini. Oleh
karena itu, saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Heri Shatriadi CP, [Link] selaku Rektor IkesT Muhammadiyah
Palembang.
2. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Ibu Maya Fadlilah, [Link]
3. Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Bapak Yudi Abdul Majid,
[Link]
4. Dosen pembimbing I Bapak Sukron,[Link]
5. Dosen pembimbing II Bapak Yulius Tiranda,[Link].D
6. Dosen Penguji I Bapak Joko Triwahyudi,[Link]
7. Dosen Penguji II Bapak Agus Suryaman,[Link]
8. Seluruh dosen Program Studi IkesT Muhammadiyah Palembang yang
senantiasa memberikan ilmunya dalam proses belajar mengajar.
9. Para dosen dan staff program studi Ilmu Keperawatan IkesT
Muhammadiyah Palembang
10. Pada kedua orang tuaku yang telah mendo’akan dan mendukung dalam
menyelesaikan proposal ini.
11. Juga kepada Sahabat-sahabat ku yang selalu memberikan dukungan dan
semangat dalam pembuatan proposal ini.
Saya menyadari di dalam pembuatan proposal ini masih banyak terdapat
kesalahan yang belum saya ketahui. Oleh karna itu, kritik dan saran yang
membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata saya
ucapkan terimakasih. Semoga ALLAH SWT membalas segala kebaikan semua
pihak yang telah membantu dan semoga proposal ini dapat membawa manfaat
bagi pengembangan ilmu.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .........................................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN .........................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI......................vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .........................................................................vii
ABSTRAK .........................................................................................................viii
ABSTRACT .......................................................................................................ix
KATA PENGANTAR .......................................................................................x
DAFTAR ISI ......................................................................................................xi
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xiii
DAFTAR TABEL .............................................................................................xiv
DAFTAR BAGAN.............................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................5
C. Tujuan Penelitian ....................................................................................5
1. Tujuan Umum ...................................................................................5
2. Tujuan Khusus ..................................................................................6
D. Manfaat Penelitian ..................................................................................6
1. Secara Teoritis ..................................................................................6
2. Secara Praktis ...................................................................................6
E. Ruang Lingkup penelitian .......................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hipertensi ...................................................................................8
1. Pengertian .........................................................................................8
2. Anatomi Jantung ..............................................................................9
3. Fisiologi ............................................................................................12
4. Etiologi .............................................................................................14
5. Manifestasi Klinis ............................................................................15
6. Komplikasi .......................................................................................15
7. Faktor Resiko ...................................................................................16
8. Penatalaksanaan ...............................................................................17
B. Konsep Pola Makan ................................................................................18
1. Pengertian .........................................................................................18
2. Komponen Pola Makan ....................................................................19
D. Kerangka Teori........................................................................................24
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep ....................................................................................25
B. Definisi Operasional ................................................................................26
xi
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian .....................................................................................27
B. Populasi Dan Sampel ..............................................................................27
1. Populasi Penelitian ...........................................................................27
2. Sampel Penelitian .............................................................................27
3. Tempat Dan Waktu Penelitian .........................................................29
4. Tehnik Pengumpulan Data ...............................................................29
5. Prosedur Pengumpulan Data ............................................................29
6. Instrument Pengumpulan Data .........................................................30
7. Uji Validitas dan Reliabilitas ...........................................................31
8. Pengolahan Dan Analisis Data .........................................................32
9. Etika Penelitian ................................................................................34
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang ................36
B. Hasil Penelitian .......................................................................................38
BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisis Univariat....................................................................................42
B. Keterbatasan Penelitian ...........................................................................52
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................54
B. Saran ........................................................................................................54
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................56
LAMPIRAN .......................................................................................................59
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Anatomi Jantung .............................................................................9
Gambar 2.2 Letak Jantung ..................................................................................10
Gambar 2.3 Katub Jantung..................................................................................11
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi ..........................................................................8
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi ..........................................................................9
Tabel 3.1 Definisi Operasional ...........................................................................26
Tabel 4.1 Coding Data ........................................................................................32
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Usia ....................................................................38
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin ....................................................39
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan .........................................................39
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan ...........................................................39
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Riwayat Keluarga ..............................................39
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pola Makan ........................................................40
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Jenis Makanan ...................................................40
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Makan ................................................................40
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Jumlah Makanan ................................................41
xiv
TABEL BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori ..................................................................................24
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ..............................................................25
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pengajuan Judul ACC
Lampiran 2 Lembar persetujuan responden
Lampiran 3 Lembar kuesioner
Lampiran 4 Surat studi pendahuluan
Lampiran 5 Surat selesai penelitian
Lampiran 6 Input SPSS
Lampiran 7 Output SPSS
Lampiran 8 Lembar konsultasi
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan penyakit yang dikategorikan sebagai the
silent disease atau the silent killer karena penderita tidak mengetahui
dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya
(Bambang,2016). Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana
peningkatan darah sistolik berada diatas batas normal yaitu lebih
dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90mmHg. Kondisi ini
menyebabkan pembuluh darah terus meningkatkan tekanan. Tekanan
darah normal berada pada nilai 120mmHg sistolik yaitu pada saat jantung
berdetak dan 80mmHg dan diastolik yaitu pada saat jantung berelaksasi.
Jika nilai tekanan melewati batas tersebut, maka bisa dikatakan bahwa
tekanan darah seseorang tinggi (World Health Organization,2019)
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dibagi
menjadi 2 kelompok besar yaitu faktor yang tidak dapat diubah meliputi
jenis kelamin, usia, genetik, sedangkan faktor yang dapat diubah yakni
pola makan, olahraga atau aktivitas fisik dan gaya hidup. Masalah
hipertensi sangat erat hubungannya dengan faktor gaya hidup dan pola
makan. Gaya hidup modern yang saat ini dianut oleh masyarakat cendrung
membuat manusia menyukai hal-hal yang instan. akibatnya mereka
cendrung malas beraktifitas dan gemar mengkonsumsi makanan yang juga
serba instan (Usman,2019).
Hal ini sangat berpengaruh pada bentuk perilaku atau kebiasaan
seseorang yang mempunyai pengaruh positif maupun negatif pada
kesehatan sedangkan perubahan pola makan erat kaitannya dengan
frekuensi makan, jenis makanan, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Frekuensi makanan yang berlebih akan mengakibatkan kegemukan yang
merupakan faktor pemicu timbulnya infeksi. Selain itu asupan garam yang
berlebih juga akan mengakibatkan seseorang beresiko mengalami
hipertensi (Suyono,2015).
1
2
Pentingnya menjaga kesehatan pasien hipertensi baik dengan cara
mengubah gaya hidup terutama pola makan yang sehat dengan
menghindari faktor pencetus timbulnya tanda dan gejala terjadinya
kekambuhan serta komplikasi pada penyakit lain (American Heart
Association,2017)
WHO tahun 2020 menunjukkan bahwa 1,3% miliar orang didunia
mengalami hipertensi, artinya 1 dari 3 orang didunia terdiagnosis
hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya,
WHO memprediksikan pada tahun 2025 angka tersebut akan meningkat
hingga 1,5% miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap
tahunnya 9,4 juta orang akan meninggal akibat hipertensi dan akan
beresiko terjadinya penyakit komplikasi jika tidak segera dilakukan upaya
penanggulangan. Sementara itu di Asia Tenggara, prevalensi hipertensi
adalah 24,7% dengan angka berdasarkan jenis kelamin lebih tinggi pada
laki-laki yaitu 25,3% dan perempuan 24,2% (Kemenkes RI,2019).
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2020
menjelaskan bahwa salah satu penyakit kardiovaskuler yaitu hipertensi
selalu meningkat setiap tahunnya. Dari 1.662.898 penduduk kota
Palembang, sekitar 225.449 jumlah estimasi penderita hipertensi yang
diukur tekanan darahnya dan sekitar 146.220 atau 52,2% penderita
hipertensi yang mendapatkan pelayanan. Sementara itu, berdasarkan
Jumlah kasus hipertensi (hipertensi esensial dan hipertensi lainnya) yang
dirawat inap dirumah sakit berdasarkan sistem informasi rumah sakit
(SIRS,2019), Sumatera Selatan mencapai urutan kedua terbanyak sebesar
± 10.000 dengan jumlah kasus hipertensi. Menurut data sistem informasi
rumah sakit (SIRS) tahun 2019 juga menyebutkan bahwa kasus hipertensi
lebih banyak pada perempuan (39.823 kasus) dibanding laki-laki (29.725).
Tekanan darah tinggi yang terus menerus mengakibatkan kerja
jantung ekstra keras, akhirnya kondisi ini berdampak terhadap terjadinya
komplikasi yang bisa menyebabkan gangguan organ seperti gangguan
fungsi jantung koroner, fungsi ginjal, serta gangguan fungsi
3
kognitif/stroke. Penyakit ini menjadi penyakit yang bisa beresiko
mengakibatkan kematian juga penurunan kualitas hidup (Inayati,2017).
Hipertensi memberikan dampak bagi kesehatan baik fisik maupun
psikologis, juga memberikan dampak secara ekonomi yaitu mahalnya
pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para penderita yang
akan berujung komplikasi serius bahkan kematian jika tidak segera
mendapatkan pengobatan secara rutin dan pengontrolan secara teratur. Di
negara berkembang dalam tingkat rumah tangga, anggota rumah tangga
yang menderita hipertensi dapat menghabiskan lebih dari 30% per
tahunnya dari pendapatan rumah tangga tersebut. Secara makro ekonomi,
hipertensi telah menempatkan masalah ekonomi khususnya pada
pendapatan perkapita rendah atau sedang (Kusmana,2017).
Hipertensi sangat erat kaitannya dengan pola makan, Pola makan
pada pasien hipertensi sangat berperan dan merupakan indikator yang
paling kuat memberikan dampak positif terhadap penurunan hipertensi.
Berdasarkan data-data dan fenomena diatas dapat diketahui dengan jelas
bahwa hipertensi perlu mendapatkan perhatian lebih dikarenakan tingginya
angka kematian yang disebabkan oleh hipertensi serta pola makan yang
sehat sangat penting karna dapat menimbulkan beberapa penyakit
komplikasi apabila tidak terkontrol dengan baik (Anisah et al., 2014)
Pola makan masyarakat saat ini cendrung kurang sehat, hal ini
dikarenakan gaya hidup masyarakat modern seperti mengkonsumsi
fastfood yang mengakibatkan kolesterol tinggi, lemak berlebih, stress
meningkat dan faktor lain yang dapat memicu komplikasi. Pola makan
yang tidak sehat tersebut dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler
salah-satunya hipertensi. Pasien dengan hipertensi tentu juga
membutuhkan asupan makanan yang seimbang berupa karbohidrat,
protein, dan lemak untuk menunjang segala aktifitas tubuh. Akan tetapi
jumlah yang dikonsumsi pun tidak berlebihan (Inayati,2017)
Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yakni
farmakologi menggunakan obat-obatan dan non farmakologi yakni dengan
modifikasi gaya hidup terutama pola makan (Ratnawati,2019).
4
Penatalaksanaan hipertensi akan lebih efektif apabila dilakukan dengan
memberikan penjelasan dan pengarahkan pada pasien hipertensi terkait
pola makan yang sehat dengan meliputi mengurangi konsumsi garam dan
lemak, diet rendah garam, memperbanyak mengkonsumsi sayur dan buah-
buahan, menghindari makanan yang berkuah santan kental, menghindari
kulit ayam serta memperbanyak konsumsi air putih (Kusmana,2017).
Dalam hal ini petugas kesehatan tentu memiliki peranan yang sangat besar
pada pasien hipertensi dengan memberikan edukasi terkait pencegahan
terhadap komplikasi yang berkelanjutan.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Suhaema dkk,2018) yang
menyatakan bahwa makanan yang asin dapat menyebabkan resiko
penyakit tekanan darah tinggi karena natrium (Na) mempunyai sifat
mengikat banyak air, maka semakin tinggi natrium dapat membuat volume
darah meningkat. Kurang mengkonsumsi sumber makanan yang
kandungannya kalium (K) atau kurang serat akan mengakibatkan
terjadinya jumlah natrium menumpuk dan akan terjadi peningkatan resiko
hipertensi karna ada tekanan yang terjadi pada detak jantung.
Sama hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh Sunni L.
Mumford, (2011) menjelaskan bahwa pasien dengan hipertensi dianjurkan
untuk meningkatkan konsumsi kalsium dan kalium pada kelompok
kombinasi diet DASH dengan prinsip diet memperbanyak konsumsi buah
dan sayuran, mengkonsumsi produk susu rendah lemak, serta
mengkonsumsi ikan secukupnya, Hal ini juga didukung oleh hasil analisis
yang dilakukan oleh (sutjiati,2018) bahwa, diet DASH bertujuan untuk
mengetahui pola diet terhadap tekanan darah dan membuktikan bahwa
kombinasi diet DASH dan diet rendah garam mempunyai pengaruh yang
sangat baik dalam penurunan tekanan darah, yaitu menurunkan tekanan
darah sistolik pada kelompok hipertensi sebesar 1,5 mmHg dan diastolik
sebesar 5mmHg.
Hasil studi awal yang dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang, didapatkan data dalam periode tahun 2018-2020 lalu yaitu 285
kasus dengan diagnosis hipertensi di ruang rawat inap poliklinik penyakit
5
dalam. Sedangkan data hipertensi rawat jalan dalam periode 2018-2020
yaitu 34.399 kasus diagnosis hipertensi.
Dalam penatalaksanaan hipertensi, perawat sebagai petugas
kesehatan memiliki peran dalam mengubah perilaku sakit yang diderita
dalam rangka menghindari suatu penyakit atau memperkecil resiko
penyakit yang diderita. Peran perawat sebagai pendidik dapat membantu
klien mengenal kesehatan dan prosedur asuhan keperawatan yang perlu
mereka lakukan guna untuk memulihkan atau memelihara kesehatannya.
Dalam memberikan informasi kesehatan, terkait hipertensi dan pola makan
yang harus dijaga dengan tujuan meningkatkan pengetahuan orang yang
menderita hipertensi sehingga dapat meningkatkan kesadaran akan
pentingnya pencegahan dan penanganan agar tetap menjalankan pola
makan sehat secara mandiri sehingga dapat mencegah kemungkinan
terjadinya komplikasi (Sutrisno,2013)
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian lebih lanjut tentang “Gambaran Pola Makan Pada Pasien
Hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang”.
A. Rumusan Masalah
Salah satu faktor utama yang memegang peranan penting dalam
penatalaksanaan hipertensi yaitu gaya hidup dan pengaturan pola makan.
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “Bagaimana gambaran pola makan pada pasien hipertensi di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang?”.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola
makan pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang
6
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui data demografi penderita hipertensi di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pola makan penderita
hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
c. Untuk mengetahui jenis makanan, frekuensi makan, dan jumlah
makanan yang dikonsumsi penderita hipertensi di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang
C. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
a. Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman,
memperluas wawasan, pengetahuan teori dan praktik keperawatan,
khususnya mengenai Gambaran Pola Makan Pada Pasien
Hipertensi
b. Klien
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi
pasien penderita hipertensi untuk mengetahui gambaran pola
makan pasien terkait hipertensi, sehingga dapat diterapkan
dikehidupan sehari-hari serta dapat meningkatkan motivasi untuk
terus memeriksakan diri dalam proses pengobatan.
2. Secara Praktis
a. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit untuk mengambil
kebijakan dan keputusan serta menjadikan bahan evaluasi terkait
Gambaran Pola Makan Pada Pasien Hipertensi.
b. Bagi institusi pendidikan
Sebagai sumber referensi dan riset serta acuan bagi mahasiswa
dibidang keperawatan medical bedah khususnya tentang Gambaran
Pola Makan Pada Pasien Hipertensi.
7
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan informasi, referensi dan perbandingan untuk lebih
memperluas serta mengembangkan penelitian ini dalam ruang
lingkup yang lebih kecil khususnya mahasiswa/i IKesT
Muhammadiyah Palembang.
d. Bagi peneliti
Penelitian ini berguna untuk memperluas dan menambah wawasan
serta pengetahuan peneliti dalam meyakinkan diri untuk melakukan
tindakan.
D. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membahas tentang gambaran pola makan pada pasien
hipertensi yang termasuk dalam area keperawatan medikal bedah.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan melalui pendekatan
secara Deskriptif. Sampel penelitian ini adalah pasien dengan hipertensi
yang menjalani rawat inap atau rawat jalan di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan
diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum,
seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya
lebih tinggi dari 140/90mmHg. Hipertensi juga sering diartikan
sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 120
mmhg dan tekanan diastolik lebih dari 80mmHg (Kemenkes RI,2016)
Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang
dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkan. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan
tanpa gejala, dimana tekanan darah yang tinggi dalam arteri
menyebabkan meningkatnnya resiko terhadap penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan kardiovaskuler seperti stroke, gagal ginjal, serang
jantung, dan kerusakan fungsi ginjal (widyaningrum,2015).
Hipertensi didefinisikan oleh joint national committee on
prevention detection, evaluation and treatment or high pressure
VII/JNC-VII,2003 sesuai dengan tingkat keparahannya :
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi
No Kategori TDS (mmHg) TDD (mmHg)
1 Normal <120 <80
2 Pra hipertensi 120-139 80-89
3 Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
4 Hipertensi tingkat 2 >160 >100
5 Hipertensi tingkat 3 >180 <110
Sumber : The Joint National Commite VII (2013)
8
9
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi
No Kategori TDS (mmHg) TDD (mmHg)
1 Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
2 Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
3 Stadium 1 140-159 mmHg 90-99 mmHg
(hipertensi ringan)
4 Stadium 2 160-179 mmHg 100-109 mmHg
(hipertensi sedang)
5 Stadium 3 180-209 mmHg 110-119 mmHg
(hipertensi berat)
6 Stadium 4 210 mmHg atau 120 mmHg atau
(hipertensi maligna) lebih lebih
Sumber : American Heart Association (Kusuma H,2016)
2. Anatomi Jantung
a. Letak Jantung
Gambar 2.1 : Anatomi jantung
Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017
Jantung adalah organ berotot, berbentuk kerucut, dan puncaknya terletak
dibawah dan cendrung miring kesebelah kiri, memiliki berat sekitar 300 gr yang
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, dan beratnya aktifitas fisik.
Jantung dewasa normal berdetak sekitar 60 sampai 80 kali per menit, yang
menyemburkan sekitar 70 ml darah dari kedua ventrikel per detakan, dan keluaran
totalnya sekitar 5 L/ menit (Smeltzer and Bare, 2012). Sedangkan menurut
(Syarifudin, 2006) menyatakan bahwa bentuk jantung menyerupai jantung pisang,
10
bagian atasnya tumpul yang disebut dengan basis kordis, Ukurannya lebih kurang
sebesar kepalan tangan dan memiliki berat sekitar 250- 300 gr.
Gambar 2.2 : Letak jantung
Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017
Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada (toraks),
diantara kedua paru. Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang
terdiri atas 2 lapisan, yaitu perikardium parietalis, merupakan lapisan luar yang
melekat pada tulang dada dan selaput paru. Dan perikardium viseralis yaitu
lapisan permukaan dari jantung itu sendiri yang juga disebut epikardium. Di
dalam lapisan jantung tersebut terdapat cairan perikardium, yang berfungsi untuk
mengurangi gesekan yang timbul akibat gerak jantung saat memompa. Dinding
jantung terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan luar yang disebut perikardium, lapisan
tengah atau miokardium merupakan lapisan berotot, dan lapisan dalam disebut
endokardium (Timurawan, 2017).
b. Lapisan Jantung
Jantung dilapisi oleh selaput yang kuat, dan dikelilingi oleh
rongga perikardium yang terdiri oleh 2 lapisan perikardum yang
diantaranya perikardium viseralis (epikardium) dan lapisan
paritalis, bagian luar perikardium terdapat pembuluh darah besar
dan diletakkan oleh ligament pada kolumna vertebralis, diafragma,
dan bagian- bagian jaringan lain di dalam rongga mediastinum
(Yudha, 2017). Menurut (Aaronson, 2010) Jantung memiliki tiga
11
lapisan dan masing-masing lapisan memiliki fungsi yang berbeda,
diantaranya yaitu:
1) Perikardium, merupakan selaput-selaput yang mengitari
jantung yang terdiri atas dua lapisan, yaitu: Perikardium
parietalis (lapisan luar yang melekat pada tulang dada dan
selaput paru).
Perikardium visceralis (lapisan permukaan dari jantung yang
disebut epikardium). Diantara kedua lapisan diatas, terdapat 50
cc cairan perikardium yang berfungsi sebagai pelumas agar
tidak terjadinya gesekan antara perikardium dan epikardium
yang timbul akibat gerak jantung saat memompa
2) Miokardium, merupakan lapisan tengah (lapisan inti) dari
jantung dan paling tebal serta terdiri dari otot-otot jantung.
Fungsinya ialah kontraksi jantung;
3) Endokardium, merupakan lapisan terluar yang terdiri dari
jaringan endotel
c. Katup-katup Jantung
Gambar 2.3 : Katup jantung
Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017
Jantung memiliki beberapa katup – katup yang sangat penting
dalam susunan peredaran darah dan pergerakan jantung :
1) Valvula Trikuspidalis, terdapat diantara atrium dekstra
dengan ventrikel dekstra yang terdiri dari 3 katup
12
2) Valvula Bikuspidalis, terletak diantara atrium sinistra
dengan ventrikel sinistra yang terdiri dari 2 katup
3) Valvula Semilunaris Arteri Pulmonalis, terletak antara
ventrikel dekstra dengan arteri pulmonalis , tempat darah
mengalir keparu - paru
4) Valvula Semilunaris Aorta, terletak antara ventrikel sinistra
dengan aorta tempat darah mengalir menuju ke seluruh
tubuh (Syaifuddin, 2006).
d. Siklus Jantung Dan Peredaran Darah
Siklus jantung termasuk dalam bagian dari fisiologi jantung
itu sendiri. Jantung ketika bekerja secara berselang-seling
berkontraksi untuk mengosongkan isi jantung dan juga berelaksasi
dalam rangka mengisi darah kembali. siklus jantung terdiri atas
periode sistol (kontraksi dan pengosongan isi) dan juga periode
diastol (relaksasi dan pengisian jantung). Atrium dan ventrikel
mengalami siklus sistol dan diastol terpisah. Kontraksi terjadi
akibat penyebaran eksitasi (mekanisme listrik jantung) ke seluruh
jantung. Sedangkan relaksasi timbul setelah repolarisasi atau
tahapan relaksasi dari otot jantung. Peredaran Darah Jantung, Vena
kava superior dan vena kava inferior mengalirkan darah ke atrium
dekstra yang datang dari seluruh tubuh. Arteri pulmonalis
membawa darah dari ventrikel dekstra masuk ke paru-paru
(pulmo). Antara ventrikel sinistra dan arteri pulmonalis terdapat
katup valvula semilunaris arteri pulmonalis. Vena pulmonalis
membawa darah dari paru-paru masuk ke atrium sinitra. Aorta
(pembuluh darah terbesar) membawa darah dari ventrikel sinistra
dan aorta terdapat sebuah katup valvula semilunaris aorta.
3. Fisiologi Jantung
Fungsi jantung adalah memompa darah ke paru-paru dan seluruh
tubuh untuk memberikan sari-sari makanan dan 𝑂2 hingga terjadi
metabolisme. Pembuluh arteri dan vena berfungsi sebagai pipa yaitu
bertugas menyalurkan darah dari jantung keseluruh jaringan tubuh,
13
perbedaan mendasar pada arteri dan vena terdapat pada susunan
histoanatomi yang menunjang fungsinya masing-masing (Yudha,
2017). Menurut (Kadir, 2019) Pemisahan ini sangat penting karena
separuh jantung kanan menerima dan juga memompa darah yang
mengandung oksigen rendah sedangkan sisi jantung sebelah kiri adalah
berfungsi untuk memompa darah yang mengandung oksigen tinggi.
Jantung terdiri dari beberapa ruang jantung yaitu atrium dan ventrikel
yang masing-masing dari ruang jantung tersebut dibagi menjadi dua
yaitu atrium kanan dan kiri, serta ventrikel kiri dan kanan. Berikut
fungsi dari bagian- bagian jantung yaitu :
a. Atrium
Atrium kanan terletak dibagian superior kanan jantung, fungsinya
adalah menerima darah dari seluruh jaringan kecuali paru-paru.
Vena cava superior dan vena cava inferior membawa darah yang
tidak mengandung oksigen dari tubuh kembali ke jantung. Sinus
koroner membawa kembali darah dari dinding jantung itu sendiri.
Sedangkan atrium kiri terletak dibagian superior kiri jantung,
berukuran lebih kecil dari atrium kanan, tetapi dindingnya lebih
tebal. Atrium kiri menampung empat vena pulmonalis yang
menggembalikan darah ter oksigenisasi (darah yang kaya oksigen)
dari paru-paru. Ventrikel berdinding tebal dan bertugas mendorong
darah keluar jalan menuju arteri (Ardiansyah,2012)
b. Ventrikel
Ventrikel kanan terletak dibagian inferior kanan pada apeks
jantung. Darah meninggalkan ventrikel kanan melalui trunkus
pulmonal dan mengalir melewati jarak yang pendek menuju paru-
paru. Sedangkan ventrikel kiri terletak dibagian inferior kiri pada
apeks jantung. Tebal dindingnya tiga kali lebih tebal dari dinding
ventrikel kanan. Darah meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta
dan mengalir keseluruh bagian tubuh kecuali paru-paru
(Ardiansyah,2012)
14
4. Etiologi
a. Hipertensi primer
Hipertensi primer adalah hipertensi essensial atau hipertensi yang
90% tidak diketahui penyebabnya. Beberapa faktor yang diduga
berkaitan dengan berkembangnya hipertensi essensial diantaranya:
1) Genetik : Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan
hipertensi, beresiko lebih tinggi untuk mendapatkan penyakit
ini ketimbang mereka yang tidak
2) Jenis kelamin dan usia : laki-laki berusia 35-50 tahun dan
wanita pasca menopause beresiko tinggi untuk mengalami
hipertensi
3) Diet : konsumsi diet tinggi garam atau kandungan lemak,
secara langsung dapat mengurangi berkembangnya penyakit
hipertensi
4) berat badan/obesitas : 25% lebih berat diatas berat badan ideal,
juga sering dikaitkan dengan faktor resiko terjadinya hipertensi
5) gaya hidup : merokok dan konsumsi alkohol dapat
meningkatkan tekanan darah, bila gaya hidup yang tidak sehat
tersebut tetap diterapkan
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang sudah diketahui
faktor penyebabnya atau akibat penyakit sebelumnya yang sudah
pernah dialami, Sekitar 5-10% penyebab dari penderita hipertensi
adalah penyakit ginjal. Hal ini terjadi karna ginjal menghasilkan
hormon yang mengatur tekanan darah (renin) (Ardiansyah,2012)
Bila terjadi penyakit ginjal, produksi hormon renin juga
akan terganggu, sehingga tekanan darah meningkat. Beberapa
contoh penyakit ginjal yang dapat menyebabkan hipertensi
sekunder adalah penyakit ginjal polikistik dan glomerulonefritis,
selain penyakit ginjal, gangguan pada kelenjar adrenal juga dapat
menyebabkan hipertensi dikarnakan kelenjar ini juga memproduksi
15
hormon yang membantu mengendalikan tekanan darah
(Ardiansyah,2012)
Beberapa jenis gangguan pada kelenjar adrenal antara lain
sindrom cushing, sindrom conn, pheochromocytoma. Sedangkan
gangguan pada kesehatan lain meliputi penyakit kelenjar tiroid dan
paratiroid, sleep apnea, dan koarktasio aorta, obesitas, konsumsi
obat-obatan seperti pil KB , antiinflamasi yang juga dapat memicu
terjadinya hipertensi sekunder (Aspiani,2014)
5. Manifestasi Klinis
Sebagian manifestasi klinis timbul setelah penderita mengalami
hipertensi selama bertahun-tahun, menurut (Yudha,2017) diantaranya :
1) Nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah
akibat peningkatan tekanan darah
2) Penglihatan kabur karena terjadi kerusakan pada retina sebagai
dampak dari hipertensi
3) Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan
perifer
4) Sering berkemih dimalam hari karna adanya peningkatan aliran
darah ginjal dan filtrasi glomelurus.
6. Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi,
dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan arteri didalam
tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu (Aspiani,
2014) :
1) Stroke
terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di
otak yang ditandai dengan keluarnya darah dari dalam maupun
luar akibat kerusakan dinding vaskula.
2) Infark Miokard
dapat terjadi bila arteri koroner yang menyebabkan arterosklerosis
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila
16
membentuk trombus yang bisa memperlambat aliran darah
melewati pembuluh darah. Kebutuhan oksigen miokardium tidak
dapat dipenuhi dan dapat terjadi pada iskemia jantung yang
menyebabkan infark.
3) Gagal Jantung
dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi pada penderita
hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan
mengendor dan berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi.
Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa, banyak cairan
tertahan di paru-paru yang dapat menyebabkan sesak nafas
(eudema) kondisi ini disebut gagal jantung.
7. Faktor Resiko
Pola makan yang tidak sehat adalah salah-satu faktor penyebab
terjadinya berbagai penyakit salah satunya adalah hipertensi. Salah
satu cara dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi adalah dengan
menjaga pola makan dengan baik yaitu mengurangi asupan lemak dan
asupan garam disamping itu perlu meningkatkan makanan sehat seperti
buah dan sayuran
Kelebihan asupan lemak mengakibatkan kadar lemak dalam tubuh
meningkat, terutama kolesterol yang menyebabkan kenaikan berat
badan sehingga volume darah mengalami peningkatan tekanan yang
lebih besar, sedangkan kelebihan asupan natrium akan meningkatkan
ekstraseluler yang menyebabkan volume darah berdampak pada
timbulnya hipertensi (sutanto,2010). Faktor resiko pada penderita
hipertensi yang tidak dapat diubah antara lain :
1) Usia
Usia mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya
usia resiko terkena hipertensi menjadi lebih besar. Menurut
riskesdas 2013 pada kelompok usia >55 tahun prevelensi hipertensi
mencapai >45%. Sedangkan pada usia lanjut, hipertensi ditemukan
hanya berupa kenaikan tekanan darah sistolik atau yang dikenal
dengan hipertensi sistolik terisolasi.
17
2) Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempunyai pengaruh pada terjadinya hipertensi. Pria
mempunyai resiko sekitar 2,3 kali lebih besar mengalami
peningkatan tekanan darah sistolik dibanding perempuan,
dikarenakan pria diduga mempunyai gaya hidup yang cendrung
meningkatkan tekanan darah. Akan tetapi pada saat memasuki fase
menopause, prevalensi hipertensi pada perempuan juga meningkat
akibat faktor hormonal sehingga kejadian hipertensi perempuan
lebih tinggi dari pria.
3) Riwayat keluarga/keturunan
Faktor keturunan juga dapat meningkatkan resiko hipertensi,
terutama hipertensi primer (essensial). Menurut penelitian
Davidson bila kedua orangtuanya mengalami hipertensi, maka
sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya, dan bila salah-satu orang
tuanya mengalami hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-
anaknya.
8. Penatalaksaan Hipertensi
Penatalaksaan hipertensi dapat diatasi dengan mengendalikan faktor
resikonya, kecuali faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan seperti
jenis kelamin, usia, faktor keturunan. Adapun faktor resiko yang dapat
dikendalikan diantaranya :
a. Pengobatan farmakologi
Tujuan pengobatan farmakologi pada pasien dengan hipertensi
adalah tercapainya penurunan maksimum resiko total morbiditas
dan mortalitas kardiovaskuler (muhaimin,2015)
b. Pengobatan non farmakologi
1) Mengontrol pola makan
Menurut American heart association (AHA),2012 penderita
hipertensi disarankan mengkonsumsi garam sebanyak satu
sendok per hari, sementara kebutuhan lemak yang dianjurkan
sangat kecil yaitu kurang dari 30% dari konsumsi kalori setiap
18
hari. Lemak tersebut dibutuhkan untuk menjaga organ tubuh
tetap bekerja dan berfungsi dengan baik.
2) Meningkatkan konsumsi potasium dan magnesium
Pola makan yang rendah potassium dan magnesium adalah
salah satu faktor pemicu terjadinya hipertensi, penderita lebih
disarankan untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur
segar yang merupakan sumber terbaik bagi kedua nutrisi
tersebut
3) Meningkatkan aktivitas fisik
Olahraga/aktivitas fisik yang dianjurkan untuk penderita
hipertensi adalah olahraga yang bersifat aerobik, jalan kaki,
jogging, bersepeda, berenang serta yoga, frekuensi yang
dianjurkan pun 5-7 kali setiap minggu dengan lama olahraga
lebih dari 30 menit
4) Berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebih
Merokok merupakan faktor resiko yang dapat meningkatkan
komplikasi penyakit hipertensi seperti penyakit jantung dan
stroke
B. Konsep Pola Makan
1. Definisi Pola Makan
Pola makan merupakan berbagai macam informasi yang
memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah makanan yang
dikonsumsi setiap hari oleh individu atau kelompok tertentu
(Mubarak,dkk.2015). Sedangkan menurut (Depkes,2010) menjelaskan
bahwa pola makan adalah suatu perilaku seseorang dalam memilih
bahan makanan untuk dikonsumsi setiap hari meliputi jenis makanan,
jumlah makanan, frekuensi makan dengan maksud untuk
mempertahankan kesehatan, status nutrisi, dan membantu kesembuhan
penderita hipertensi.
Pola makan yang sehat dan seimbang dapat meminimalisir dan
mencegah terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya.
19
Dengan memodifikasi pola makan dapat menghindari komplikasi dan
juga sebagai langkah pencegahan penyakit kardiovaskuler
(kemenkes,2014).
2. Komponen Pola Makan
Menurut Milne,2014 komponen pola makan terdiri dari jenis
makanan, frekuensi makan dan jumlah makanan yang dikonsumsi :
a. Jenis makanan
Jenis makanan adalah sejenis makanan pokok yang dimakan
setiap harinya yang terdiri dari karbohidrat, sumber protein
hewani, sumber protein nabati, buah dan sayuran.
Mengkonsumsi berbagai jenis makanan berbeda membantu
untuk mempertahankan pola makan yang sehat dan mampu
untuk menyediakan beragam nutrisi bagi tubuh, selain itu
mengkonsumsi berbagai jenis makanan juga membantu
meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko terjadinya
penyakit kardiovaskuler khususnya hipertensi. Menurut
penelitian (Widyaningrum, 2012) jenis makanan merupakan
variasi dari bahan makanan yang dimakan, dicerna maupun
diserap akan menghasilkan susunan menu makan yang baik,
sehat dan seimbang. Menyediakan variasi makanan dengan
bervariasi akan menghilangkan rasa bosan. Dalam penyusunan
hidangan yang baik, sehat dan seimbang memerlukan
keterampilan dan pengetahuan gizi dengan berorientasi pada
pedoman 4 sehat 5 sempurna yang terdiri dari bahan makanan
pokok seperti nasi, lauk pauk, sayuran, buah-buahan dan susu.
Makanan yang dianjurkan untuk menurunkan hipertensi
diantaranya :
1) Sayur-sayuran dan buah-buahan segar, keduanya banyak
mengandung serat dan vitamin C yang dipercaya dapat
menurunkan hipertensi.
2) Ikan termasuk makanan yang berasal dari hewani dan yang
paling menyehatkan diantara makanan hewani [Link]
20
mengandung tinggi protein,rendah lemak, dan kaya asam
lemak omega-3.
3) Sereal mempunyai fungsi untuk membantu menyerap
lemak. Adapun kandungan seratnya dapat membantu
dalam proses pencernaan makanan.
4) Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam
natrium,seperti beras, kentang, ubi, kacang-kacangan,dan
margarin tanpa garam.
Makanan yang harus dihindari atau dibatasi untuk menurunkan
hipertensi :
1) Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, paru,
minyak kelapa, gajih).
2) Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium
(biscuit, crackers, keripik dan makanan kering yang asin).
3) Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis,
korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft
drink).
4) Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah,
abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai
kacang).
5) Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti
durian, tape.
b. Frekuensi makanan
Frekuensi makanan adalah berapa kali makan dalam sehari
meliputi makan pagi, makan siang, makan malam, dan makan
selingan (Depkes, 2013). Frekuensi makan menjadi faktor
yang mempengaruhi proses masuk dan keluar energi yang
diproses oleh tubuh. Menurut penelitian (Widyaningrum,
2012) frekuensi makan merupakan jumlah makan berapa kali
dalam sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif, secara alamiah
makanan yang diolah didalam tubuh dan melalui alat-alat
pencernaan dari mulut sampai ke usus halus. Lamanya
21
makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan
tersebut. Jika dirata-rata kan, umumnya lambung kosong
antara 3-4 jam.
Penelitian Kim et al (2014) menjelaskan frekuensi makan
berpengaruh terhadap kejadian hipertensi, hal ini membuktikan
dari sekelompok yang memiliki frekuensi makan yang
berlebihan atau sering diperkirakan memiliki tingkat tekanan
darah sistolik yang lebih rendah sebesar 3 mmHg dan tekanan
darah diastolik sebesar 2 mmHg daripada yang memiliki
frekuensi makan jarang. Individu yang memiliki pola makan
teratur yaitu tiga kali sehari memiliki resiko mengalami
masalah metabolisme yang lebih rendah serta resistensi insulin
yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang memiliki
frekuensi makan satu atau dua kali per hari. Sensitivitas insulin
pada individu yang memiliki frekuensi makan yang berlebihan
ataupun tidak teratur menyebabkan respon insulin terhadap
makanan lebih tinggi. Efek dari ini menyebabkan terjadinya
resiko peningkatan tekanan darah.
c. Jumlah makanan
Jumlah makan yaitu banyaknya asupan makanan yang
dimakan dalam sehari hari, ukuran porsi makan merupakan
jumlah yang dimakan seseorang bergantung pada kebutuhan
(Anisah, 2014). Ukuran porsi diperkirakan mampu
menentukan informasi tentang jumlah makanan yang telah
dikonsumsi. Jumlah porsi yang akan dimakan mempengaruhi
pola makan setiap orang, dalam hal menjaga tekanan darah
individu.
Menurut National Heart Lung, and Blood Institute (2018)
pola makan Dietarry Approaches to Stop Hypertension atau
disingkat DASH, pola makan DASH kaya akan sayuran, buah-
buahan dan juga biji-bijian serta rendah lemak jenuh, garam
dan juga makanan manis. Pola makan DASH merupakan pola
22
makan gizi seimbang yang tinggi sereal utuh, sayuran, buah-
buahan, protein rendah lemak dalam jumlah sedang, gula, dan
natrium dalam jumlah sedikit. Pola makan DASH diet
mengandung komponen zat gizi yang mampu menurunkan
tekanan darah seperti protein, serat, dan mineral (Rahadiyanti,
2015).
Pola makan DASH beras dan gandum maksimal 6-8,
sayuran minimal 4-5 porsi/hari, buah-buahan minimal 4- 5
porsi/hari, daging ayam, dan ikan maksimal 2 porsi/hari,
kacang-kacangan dan biji-bijian maksimal 3-5 porsi/hari,
lemak dan minyak maksimal 2-3 porsi/hari, produk susu
rendah lemak maksimal 2-3 porsi/hari, makanan manis
maksimal 5 porsi/hari (Permanasari & Julianti, 2019)
1) 6–8 takaran saji biji-bijian (grains) per hari :
Contoh biji-bijian termasuk roti gandum atau gandum,
sereal, beras merah, quinoa, dan oatmeal. Satu takaran
saji biji-bijian dapat berupa:
1 potong roti gandum
1 oz (28 gram) sereal kering dari biji-bijian utuh
1/2 cangkir (64 gram) nasi, pasta, atau sereal
2) 4-5 takaran saji sayuran per hari :
Semua jenis sayuran umumnya diperbolehkan dalam
pengaturan diet DASH. Satu takaran saji sayuran dapat
berupa 1 cangkir (sekitar 128 gram) sayuran hijau
mentah seperti selada, atau 1/2 cangkir (sekitar 64
gram) irisan sayuran mentah atau matang seperti
brokoli dan wortel, atau ½ cangkir (230 ml) jus sayuran.
3) 4-5 takaran saji buah per hari :
Memperbanyak konsumsi buah-buahan merupakan
salah satu bagian yang dianjurkan dalam diet DASH.
Contoh beberapa jenis buah-buahan yang bisa
dikonsumsi adalah apel, pir, beri, nanas, mangga, dan
23
lain sebagainya. Buah segar dapat dikonsumsi secara
langsung maupun dalam bentuk kalengan, dibekukan,
atau jus. Hati-hati apabila produk tersebut mengandung
gula tambahan atau bahan pengawet. Satu takaran saji
buah dapat berupa 1 buah berukuran sedang, ¼ cangkir
(32 gram) buah kering, ½ cangkir (64 gram) buah
kalengan atau beku, atau ½ cangkir (230 ml) jus buah.
4) 2-3 takaran saji produk susu per hari :
Diet DASH merekomendasikan konsumsi produk
olahan susu setiap harinya, namun lebih dianjurkan
untuk memilih produk susu yang rendah lemak. Satu
takaran saji produk susu dapat berupa 1 cangkir (230
ml) susu atau yoghurt, atau 1½ oz (40 gram) keju.
5) Maksimal 6 takaran saji daging (termasuk ikan dan
daging unggas) :
Daging, ikan, serta unggas dapat menjadi sumber
protein yang baik, rasanya pun nikmat dan sering
menjadi menu kegemaran banyak orang. Namun,
porsinya tetap harus diperhatikan, ya! Tidak boleh lebih
dari 6 takaran saji per harinya dengan 1 takaran saji
setara dengan 1 butir telur atau 1 oz (28 gram) daging-
dagingan.
6) 2–3 takaran saji lemak atau minyak per hari :
Satu takaran saji minyak atau lemak setara dengan 1
sendok teh minyak nabati, 1 sendok teh margarin, atau
1 sendok makan salad dressing
7) Garam : 1 sendok teh garam per hari
8) Gula : 5 penukar/minggu diantaranya 1 sendok makan
gula pasir, 1 sendok makan jelly atau selai, ½ gelatin, 1
gelas lemonade
24
C. Kerangka Teori
Faktor Resiko Hipertensi :
1. Usia 5. Pola makan
2. Genetik 6. Aktivitas fisik
3. Jenis kelamin 7. Stress
4. Suku/ras 8. Merokok/alkohol
Hipertensi :
1. Pra hipertensi
2. Derajat 1
3. Derajat 2
PENATALAKSANAAN
Farmakologi Nonfarmakologi
Kolaborasi pemberian Modifikasi gaya hidup
obat antihipertensi meliputi :
tunggal maupun 1. Pola makan
kombinasi 2. Aktivitas fisik
3. Stress
4. Konsumsi
alkohol/merokok
Gambaran pola makan
Menghindari faktor resiko
1. Jenis makanan
terjadinya penyakit
2. Frekuensi makan
komplikasi
3. Jumlah makan
Bagan 2.1 Kerangka Teori
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi tentang
hubungan atau kaitan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang
akan diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan
(Notoatmodjo,2012)
Berdasarkan tinjauan teoritis diatas kerangka konsep serta variabel
penelitian ini akan membahas mengenai gambaran pola makan pada pasien
hipertensi dirumah sakit muhammadiyah Palembang. Maka kerangka
konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
KEJADIAN
POLA MAKAN
HIPERTENSI
25
26
B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala
operasional ukur
Pola Pola makan terdiri Wawancara Kuesioner Pola makan Ordinal
Makan dari jenis makanan, dengan penelitian pola dibagi menjadi
frekuensi makan masing-masing makan pada 2 kategori
dan jumlah responden pasien dengan nilai
makanan yang dengan hipertensi yaitu
dikonsumsi oleh menggunakan dengan jumlah 1. Kurang
penderita hipertensi kuesioner 30 pertanyaan baik = skor
( 16 positif dan < median
14 negatif ) (median 23)
menggunakan 2. Baik = skor
skala guttman ≥ median
dimana (median 24)
pernyataan
positif
Ya = 1
Tidak = 0,
Untuk
pernyataan
negatif
Ya = 0
Tidak = 1
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode
deskriptif, yang merupakan wawancara yang dilakukan terhadap
sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran
fenomena yang terjadi didalam suatu populasi tertentu
(Notoatmodjo,2014). Desain penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran pola makan pada pasien hipertensi di rumah sakit
muhammadiyah Palembang.
B. Populasi Dan Sampel
1. Populasi penelitian
Populasi merupakan wilayah yang ingin diteliti oleh peneliti.
Seperti menurut (Morissan,2012) Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien
dengan hipertensi baik rawat inap atau rawat jalan di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang.
2. Sampel penelitian
Sampel adalah sebagian atau sebagai wakil populasi yang akan
diteliti (Arikunto,2015)
a. Tehnik pengambilan sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara cross sectional
yaitu mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada dan
tersedia disuatu tempat sesuai dengan konteks penelitian.
Kriteria inklusi:
1) Pasien dengan diagnosis hipertensi
2) Pasien yang dirawat inap dan rawat jalan
3) Bersedia menjadi responden
27
28
Kriteria eksklusi
1) Pasien menolak menjadi responden
2) Pasien meninggal
b. Besaran sampel
Peneliti mengambil sampel penelitian menggunakan cross
sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu pasien dengan
hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang dipilih
untuk dijadikan sampel dalam penelitian sesuai dengan kriteria
inklusi dan eksklusi yang diharapkan. Sedangkan menurut
(Sugiyono 2010) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Untuk menentukan
sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus proporsi
binomunal, jika besar populasi (N) diketahui maka dicari dengan
rumus sebagai berikut :
Ket: N= jumlah populasi
n = Jumlah sampel minimal yang diperlukan
Z = score Z, berdasarkan nilai α yang diinginkan
d = toleransi kesalahan
p = proporsi kasus yang diteliti dalam populasi, jika p tidak
diketahui maka gunakan p terbesar yaitu p = 0,5
1-p=q, yaitu proporsi untuk terjadinya suatu kejadian. Jika
penelitian ini menggunakan p terbesar, maka q=1-p=1=0,5
Dari rumus tersebut perhitungan besar sampel dalam penelitian ini
adalah :
n= 1,962 (0,05).(1-0,05) 818
(0,05)2 (818-1) + 1,962 (0,05) (1-0,05)
n= (3,8416 x 0,05).(0,95 x 818)
29
(0,0025 x 817) + (3,8416 x 0,0475)
n= 149,26
2,04 + 0,18
n= 149,26
2,22
n = 67,2
n = 68 responden
3. Tempat Dan Waktu Penelitian
a. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di rumah sakit muhammadiyah
Palembang.
b. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa rangkaian kegiatan yang
dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2022.
4. Tehnik Pengumpulan Data
a. Data primer
Data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber aslinya yang berupa pengisian kuesioner,
wawancara jejak pendapat dari individu atau kelompok (Arikunto
2010).
b. Data sekunder
Data sekunder terdiri dari data yang didapat dari catatan medical
record rumah sakit muhammadiyah Palembang.
5. Prosedur pengumpulan data
Prosedur dalam pengumpulan data ini meliputi beberapa tahap yaitu :
a. Melakukan identifikasi masalah yang ingin diteliti dan mengajukan
judul kepada pembimbing
b. Menyusun proposal penelitian
c. Mengurus surat pengantar penelitian dari institusi ditujukan kepada
direktur rumah sakit muhammadiyah Palembang
d. Mengajukan izin dan pengambilan data awal penelitian kepada
direktur rumah sakit muhammadiyah Palembang
30
e. Melengkapi proposal penelitian sampai dengan pelaksanaan ujian
proposal penelitian
f. Peneliti mendapatkan surat pengantar dari institusi pendidikan,
kemudian menyampaikan surat permohonan izin kepada direktur
rumah sakit muhammadiyah palembang untuk melakukan
penelitian kepada beberapa responden di rumah sakit tersebut
g. Setelah mendapatkan izin dari direktur rumah sakit
muhammadiyah Palembang proses penelitian mulai dilakukan
h. Menjalin hubungan saling percaya dengan responden serta
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
i. Setelah memberikan pengetahuan terkait hipertensi dan pola makan
pada pasien hipertensi, peneliti meminta persetujuan responden
dengan memberikan lembar persetujuan yang ditanda tangani
dengan maksud bahwa responden bersedia mengikuti kegiatan
selama proses penelitian berlangsung
j. Membagikan kuesioner terkait pola makan yang dijalani pasien
hipertensi selama mengalami hipertensi
k. Mengumpulkan kuesioner untuk mengetahui pola makan yang
dikonsumsi pasien hipertensi meliputi jenis, frekuensi dan jumlah
makan yang biasa dikonsumsi sehari-hari
l. Setelah data terkumpul maka dilakukan pengumpulan data
kemudian melakukan pengolahan data serta melakukan analisis
data
m. Terakhir melakukan penyusunan laporan hasil penelitian
6. Instrument Pengumpulan Data
Instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan
oleh peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian terutama sebagai
pengukuran dan pengumpulan data sehingga data penelitian lebih
mudah diolah dan hasil lebih baik (sugiyono,2018)
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan kuesioner. Masing-masing anggota dilampiri formulir
kuesioner terkait jenis makanan, frekuensi makan dan jumlah makanan
31
yang biasa dikonsumsi dalam sehari-hari dengan menggunakan skala
guttman serta dilengkapi dengan data diri. (Notoatmodjo,2012)
a. Data demografi
Wawancara data demografis dalam penelitian ini berisi tentang
informasi nama inisial, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
riwayat keluarga
b. Kuesioner pola makan
Bagian kuesioner ini untuk mengetahui tentang jenis makanan,
frekuensi makan dan jumlah makan responden yang dikonsumsi
sehari-hari dengan mengisi 30 pernyataan yang terdiri dari 16
pernyataan positif dan 14 pernyataan negatif. Menggunakan skala
guttman jika pernyataan positif dijawab benar mendapatkan nilai 1
jika salah bernilai 0 dan pernyataan negatif dijawab benar
mendapat nilai 0, jika salah diberi nilai 1
7. Uji validitas dan Reliabilitas
a. Uji Validitas
Uji validitas merupakan persamaan data yang dilaporkan
oleh peneliti dengan data yang diperoleh langsung yang terjadi
pada subjek penelitian (Sugiyono,2018). Suatu kuesioner dikatakan
valid jika nilai r hasil > r tabel, Pada uji validitas dari seluruh
pernyataan yang diberikan diperoleh nilai yang lebih besar dari
0,361 yaitu pada rentang nilai 0,392-0,730 yang menunjukkan
bahwa semua butir pernyataan valid. terdapat 30 pernyataan yang
valid sehingga pernyataan yang valid tersebut digunakan untuk
kuesioner penelitian.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas ini digunakan dengan cara membandingkan
nilai alpha cronbach dengan nilai r tabel. Dengan ketentuan jika
nilai r alpha cronbach > r tabel maka pernyataan tersebut reliabel,
namun, jika nilai r alpha < r tabel maka pernyataan tersebut tidak
reliabel (Suhardjo,2016). Dari tiap kuesioner yang telah diuji di
dapatkan nilai alpha cronbach’s (0,889), dimana nilai ini lebih
32
besar dari 0,60 yang menunjukkan instrument kuesioner reliabel.
Dan dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam
instrument penelitian dinyatakan reliabel sehingga dapat digunakan
untuk melakukan penelitian.
8. Pengolahan Dan Analisis Data
a. Pengolahan data
pengolahan data pada penelitian ini menggunakan software
statistic. Menurut (Notoatmodjo,2018) pengolahan data meliputi :
1) Editing data (penyuntingan data)
Merupakan kegiatan memeriksa seluruh daftar pertanyaan
yang dikembalikan oleh responden. Semua data yang sudah
dikembalikan kemudian diperiksa kelengkapannya menjadi
data yang benar ,bersih, dan terisi secara lengkap
2) Coding data (pengkodean data)
Coding merupakan kegiatan mengklasifikaikan jawaban-
jawaban dari responden kedalam kategori tertentu. Klasifikasi
dilakukan dengan cara memberikan kode berbentuk angka pada
masing-masing jawaban. Dalam hal ini peneliti melakukan
coding untuk mempermudah dalam pengklasifikasian serta
dalam pengelolahan dan analisis data menggunakan komputer.
Tabel 4.1
Coding
Keterangan Coding
1. Laki-laki 1
Jenis kelamin
2. Perempuan 2
1. SD 1
2. SMP 2
Pendidikan 3. SMA 3
4. DI/DII/DIII 4
5. S1/S2/S3 5
Bagian A 1. Pelajar/mahasiswa 1
2. Pegawai negeri 2
3. Pegawai swasta 3
4. Buruh 4
Pekerjaan
5. Pedagang 5
6. Pensiun 6
7. Irt 7
8. Petani 8
33
1. Ada 1
Riwayat keluarga
2. Tidak ada 2
1. Kurang baik = 1
skor < median
Bagian B Pola makan (median 23)
2. Baik = skor ≥ 2
median (median 24)
3) Entry data (pemasukan data)
Peneliti memasukkan data dari hasil penelitian ke dalam tabel
“software” komputer sesuai kriteria masing-masing yang sudah
diberi kode atau nilai
4) Structure (Struktur data)
Pada saat pengembangan struktur data bagian masing-masing
variable perlu ditetapkan nama, skala, dan jumlah digit
termasuk jumlah desimal untuk data numberik.
5) Cleaning data (pembersihan data)
Cleaning dilakukan untuk mengecek kembali data yang telah
dimasukkan, untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan
kode, ketidak lengkapan dan sebagainya. Kemudian dilakukan
pembetulan atau koreksi.
b. Analisis data
Analisa data yang dilakukan adalah analisa univariat.
Terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dengan maksud untuk
mengetahui distribusi frekuensi dari pola makan pada kejadian
hipertensi. Penyajian data akan ditampilkan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi. Analisa univariat dilakukan pada tiap variabel
dari hasil penelitian yang menghasilkan distribusi dan persentase
dari tiap variabel. Tujuan analisis ini untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan pola makan dari masing-masing variabel yang
diteliti (notoatmodjo,2012)
Variabel yang dianalisa dengan menggunakan analisis
univariat adalah daftar demografi pasien dan pola makan pasien
hipertensi
34
9. Etika Penelitian
Etika penelitian menurut (notoatmodjo,2010) yaitu:
a. Prinsip Manfaat
1) Bebas dari penderitaan
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan
kepada subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus
2) Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek penelitian, harus dihindarkan dari keadaan
yang tidak menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa
partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang telah
deberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang bisa
merugikan subjek dalam bentuk apapun.
3) Resiko (benefits ratio)
Peneliti harus secara hati-hati mempertimbangkan resiko dan
keuntungan resiko serta keuntungan yang akan berakibat pada
subjek kepada setiap tindakan.
b. Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human Dignity)
1) Hak untuk ikut atau tidak menjadi responden (right to self-
determination)
Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek
mempunyai hak memutuskan apakah mereka bersedia menjadi
subjek atau tidak, tanpa adanya sanksi apapun atau akan
berakibat terhadap kesembuhannya, jika mereka seorang
pasien.
2) Hal untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan
(right to full disc lousure)
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci
serta bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi pada
subjek.
3) Informed consent
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentng
tujuan untuk penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai
35
hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi
responden. Pada informed consent juga perlu dicantumkan
bahwa data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk
mengembangan ilmu
c. Prinsip keadilan
1) Hal untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair
treatment)
Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum maupun
sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya
diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau
dropped out sebagai responden.
2) Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy)
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang
diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anonymity
(tanpa nama) dan confidentiality (rahasia)
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum
1. Profil Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Sejak tahun 1965 cita-cita Muhammadiyah yang ingin mendirikan
amal usaha dibidang kesehatan khususnya dalam bentuk rumah sakit yang
komprehensif telah menjadi obsesi tokoh-tokoh Muhammadiyah di
Sumatera Selatan. Wacana pendirian rumah sakit tersebut selanjutnya
diaktualisasikan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah diantaranya adalah
HM. Sidik Adiem, Djamain St. Marajo, KH. Masjhur Azhari, HM. Rasjid
Talib, H. Zamhari Abidin, SH, H. Anang Kirom, HM. Soeripto, A.
Sjarkowi Bakri, HM. Fauzi Shomad dan tokoh-tokoh lainnya yang
mendapat sambutan positif dan dukungan penuh dari Bapak H. Abu Jazid
Bustomi dan Bapak HM. Ali Amin, SH selaku Gubernur Kepala Daerah
Provinsi Sumatera Selatan pada saat itu. Akan tetapi karena situasi sosial
politik dan kondisi internal Muhammadiyah khususnya dalam bidang
finansial, akhirnya RSMP baru dapat diresmikan pendiriannya pada
tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H / 18 April 1997 M oleh Gubernur Sumatera
Selatan pada saat itu yakni Bapak H. Ramli Hasan Basri bersama Ketua
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Prof Dr. HM. Amien Rais, MA.
Keberadaan RSMP saat ini telah menunjukkan perkembangan yang
cukup menggembirakan dan dapat mensejajarkan diri dengan rumah sakit
lainnya di Kota Palembang. Kepercayaan dan dukungan masyarakat yang
tinggi dapat dilihat dari kunjungan pasien setiap hari hingga RSMP
dipercaya sebagai provider PT. ASKES sejak tahun 2005 dalam melayani
pasien ASKES PNS, Komersial, Jamkesmas dan Jamsoskes Sumsel
Semesta, bahkan saat ini juga telah dijalin kerjasama dengan banyak
instansi lain baik pemerintah maupun swasta di Sumatera Selatan
terutama dalam bidang pelayanan kesehatan.
36
37
2. Moto, Visi, Misi, Tujuan
a. Moto :
“Melayani sebagai Ibadah dan Dakwah”
b. Visi :
“Terwujudnya Rumah Sakit yang Professional dalam Pelayanan dan
Berkarakter Islami”
c. Misi :
1) Memberikan pelayanan, pendidikan dan penelitian kesehatan
secara professional, modern dan Islami
2) Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
3) Mewujudkan citra sebagai wahana ibadah dan pengemban
dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dalam bidang kesehatan
4) Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang
pelayanan, pendidikan dan penelitian kesehatan
d. Tujuan :
Meningkatkan derajat kesehatan yang optimal melalui pendekatan
preventif (pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan), kuratif
(pengobatan), dan rehabilitatif (pemulihan) bagi segenap warga
Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya sehingga terwujud
keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah sebagai bagian dari
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
3. Fasilitas dan layanan rumah sakit muhammadiyah Palembang
Rumah sakit muhammadiyah Palembang mempunyai fasilitas yang
lengkap yaitu rawat inap diantaranya ruang bedah ibnu rusyd yang
mempunyai 40 tempat tidur, ruang PDL ahmad dahlan berjumlah 63
tempat tidur, ruang kebidanan siti walidah berjumlah 39 tempat tidur,
ruang anak rasyid thalib berjumlah 29 tempat tidur, ruang VIP atas mas
mansyur berjumlah 9 tempat tidur, ruang VIP bawah ibnu sina berjumlah
9 tempat tidur, ruang AR. Fachrudin berjumlah 18 tempat tidur, ruang
38
ICU/ICCU berjumlah 5 tempat tidur, maka jumlah keseluruhan 212
tempat tidur .
Pelayanan Rawat Jalan Terdiri Dari Poliklinik Onkologi
Kebidanan & Kandungan, Poliklinik Gigi, Poliklinik Bedah Plastik,
Poliklinik Mata, Poliklinik Bedah Umum, Poliklinik Bedah Ortopedi,
Poliklinik Paru, Poliklinik Kebidanan & Kandungan, Poliklinik Tht,
Poliklinik Bedah Tumor, Poliklinik Bedah Digestiv, Poliklinik Kulit &
Kelamin, Poliklinik Syaraf, Poliklinik Anak, Poliklinik Jiwa, Poliklinik
Penyakit Dalam, Poliklinik Jantung
B. Hasil Penelitian
Penelitian yang berjudul “gambaran pola makan pada pasien hipertensi di
rumah sakit muhammadiyah Palembang” ini dilakukan pada bulan maret-
april 2022. Responden yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi yaitu 68
responden. Penatalaksanaan ini menggunakan lembar kuesioner yang
dilakukan terhadap masing-masing responden.
1. Analisa Univariat
Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk menganalisis tiap
variabel dari hasil penelitian (Sujarweni, 2014). Analisa ini dilakukan
untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari tiap-tiap
variabel. Data masing-masing ditampikan pada tabel berikut.
a. Karakteristik responden
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan usia pada pasien
hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Variabel N Mean Median SD Min-maks CI 95%
Usia 68 59,40 59,00 9,364 41-79 57,13-61,66
Sumber: Data Primer,2022
Berdasarkan analisa data pada tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa
dari 68 subjek penelitian yaitu nilai rata-rata subjek penelitian 59,26 tahun.
Usia minimum subjek penelitian 41 tahun dan usia maksimum subjek
penelitian yaitu 79 tahun dengan standar deviasi 9,364
39
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, dan riwayat keluarga pada pasien hipertensi di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Variabel Frekuensi Persentase%
Jenis Kelamin
Laki-laki 27 39,7
Perempuan 41 60,3
Pendidikan
SD 13 19,1
SMP 14 20,6
SMA 18 26,5
D1/D2/D3 7 10,3
S1/S2/S3 16 23,5
Pekerjaan
PNS 7 10,3
Pegawai Swasta 6 8,8
Buruh 7 10,3
Pedagang 12 17,6
Pensiun 12 17,6
IRT 20 29,4
Petani 4 5,9
Riwayat Keluarga
Ada 43 63,2
Tidak Ada 25 36,8
Total 68 100%
Sumber: Data Primer,2022
Berdasarkan tabel 5,2 diatas dapat diketahui bahwa distribusi
frekuensi menurut jenis kelamin terbanyak dengan diagnosis hipertensi
yaitu perempuan dengan jumlah 41 responden (60,3%) dibandingkan laki-
laki. Sebagian besar tingkat pendidikan pasien yang mengalami hipertensi di
rumah sakit muhammadiyah Palembang adalah sekolah menengah atas
(SMA) dengan jumlah 18 responden (26,5%). Ibu rumah tangga adalah
profesi terbanyak yang dimiliki oleh para subjek penelitian tersebut yaitu 20
responden (29,4%) sedangkan petani adalah profesi paling sedikit yang
dimiliki subjek penelitian dengan jumlah 4 responden (5,9%). Berdasarkan
riwayat keluarga sebagian besar subjek penelitian memiliki status riwayat
keluarga yaitu 43 responden (63,2%) dengan diagnosis hipertensi.
40
b. Pola Makan
Pola makan responden dengan hipertensi di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang pada tabel 5.3
Tabel 5.3
Distribusi frekuensi pola makan pada pasien hipertensi di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang
Variabel Kategori Frekuensi Persentase %
Baik 36 52,9%
Pola Makan
Kurang Baik 32 47,1%
Total 68 100%
Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari 68 responden penderita
hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang didapatkan nilai pola
makan terbanyak dengan kategori baik yaitu 36 responden (59,2%),
sedangkan kategori kurang baik yaitu 32 responden (47,1%).
Tabel 5.4
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan jenis makanan pada
pasien hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Kategori Frekuensi Persentase%
Kurang baik 31 45,6%
Baik 37 54,4%
Total 68 100%
Berdasarkan tabel 5.4 diatas menunjukkan bahwa kategori jenis
makanan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah Palembang
sebagian besar pasien dalam kategori baik dengan nilai 37 responden
(54,4%).
Tabel 5.5
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan frekuensi makan pada
pasien hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Kategori Frekuensi Persentase%
Kurang baik 6 8,8%
Baik 62 91,2%
Total 68 100%
41
Berdasarkan tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa kategori frekuensi
makan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah Palembang
memperoleh jumlah terbanyak yaitu 62 responden (91,2%) dengan kategori
baik.
Tabel 5.6
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan jumlah makanan pada
pasien hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Kategori Frekuensi Persentase%
Kurang baik 33 48,5%
Baik 35 51,5%
Total 68 100%
Berdasarkan tabel 5.6 diatas menunjukkan bahwa kategori jumlah
makanan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah Palembang
dengan nilai terbanyak yaitu 35 responden (51,5%) dengan kategori baik.
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Analisa Univariat
1. Karakteristik Responden
a. Usia
Pada penelitian gambaran pola makan pada pasien hipertensi di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang diperoleh sebanyak 68
responden sesuai dengan sampel yang direncanakan. 68 responden
yang diteliti adalah responden dengan usia antara 41-79 tahun dan
rata-rata usia 59,40 tahun yang merupakan termasuk usia lansia awal
dalam kategori usia menurut Depkes RI (2011). Hal ini berkaitan
dengan hasil penelitian dari Korneliani & Meida,2012 dengan usia
responden 60-74 tahun sebanyak (70,8%).
Hasil penelitian terkait lainnya yaitu hartanti &
mifbakhuddin,2015 yang mengatakan bahwa tekanan darah tinggi
banyak terjadi pada usia dewasa tengah yaitu 45 tahun keatas, dengan
teori nya yang mengatakan bahwa semakin meningkat usia seseorang
maka resiko terkena hipertensi sangat besar, hal ini terjadi
dikarenakan pada usia tua arteri besar kehilangan kelenturan sehingga
darah yang dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang sempit dari
yang biasanya dan mengakibatkan naiknya tekanan darah (Hartanti &
mifbakhuddin,2015).
Hal ini Sejalan dengan penelitian Yusuf dkk,2019 yang
memperoleh responden hipertensi dengan usia 42-51 tahun dan
penelitian Saleh (2014) yang memperoleh responden dengan usia 40-
60 tahun terdapat sebanyak 73,4% dari total 64 responden yang
menderita hipertensi. Sedangkan hasil penelitian Anggara pada tahun
2013 didapatkan penderita hipertensi paling tinggi ditemukan pada
kelompok usia >60 tahun. Sejalan dengan penelitian (Hafizah
Arifin,2016) dengan jumlah 48 responden dan kelompok usia antara
60-64 tahun. Dari penelitian diatas menjelaskan bahwa pertambahan
usia menyebabkan adanya perubahan fisiologis dalam tubuh seperti
42
43
adanya penebalan dinding uteri akibat penumpukan zat kolagen pada
lapisan otot, sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan
(Kaplan,2012). Semakin tua seseorang maka arteri akan kehilangan
elastisitasnya yang menyebabkan kemampuan memompa darah
berkurang sehingga tekanan darah meningkat. Hal tersebut terjadi
disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan
hormon ( Sutinah & Maulani,2017) sedangkan,
Subjek hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2019)
adalah responden dengan usia 30-40 tahun, dimana hipertensi yang
biasa dialami adalah hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya melainkan muncul akibat faktor genetik. Hal
ini selaras dengan hasil penelitian (Santi Martini,2018) didapatkan
usia responden yang mengalami hipertensi adalah di usai <35 tahun
dengan jumlah 27 responden. Didukung juga dengan penelitian
Kishore et al (2016) yaitu prevalensi hipertensi lebih besar pada
responden usia diatas 35 tahun sebesar (4,7%) dibandingkan dengan
usia dibawah 35 tahun yaitu sebesar (21,8%).
Pada umumnya, kejadian hipertensi banyak terjadi pada
penduduk berusia lanjut namun tidak menutup kemungkinan
penduduk usia remaja hingga dewasa juga dapat mengalami penyakit
yang sama dengan berbagai macam faktor tertentu. Dan dikudung
juga oleh penelitian (Junaidi,2014) yang mengatakan bahwa hipertensi
tidak terjadi pada lansia saja, tetapi sekarang juga terjadi pada usia
produktif dibawah 45 tahun, bahkan ada juga penderita hipertnsi yang
berusia dibawah 30 tahun.
Hal ini disebabkan oleh gaya hidup masyarakat zaman sekarang
yang tidak sehat seperti makan makanan yang tidak sehat, kebiasaan
merokok, serta kurang aktivitas. Dari hasil penelitian diatas
menunjukkan bahwa hipertensi umumnya bisa terjadi pada semua
usia, semakin bertambah usia seseorang, resiko terserang hipertensi
semakin meningkat (Kowalski,2012).
44
Hal tersebut terjadi dikarenakan terdapat kenaikan tekanan darah
sistolik disertai penurunan tekanan darah diastolik yang disebabkan
adanya perubahan di dalam struktur pembuluh darah utama, yang
menjadi kurang elastis dan kaku. Kekakuan dinding pembuluh darah
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah
yang dialirkan ke jaringan dan organ-organ tubuh menjadi berkurang.
Akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik agar aliran darah
ke jaringan dan organ-organ tubuh tetap tercukupi (Kaplan,2012)
b. Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil analisa frekuensi dari total 68 responden yang
didapat menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin
perempuan yaitu dengan jumlah 41 responden (60,3%) di bandingkan
laki-laki 27 responden (39,7%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Kusumaningtiar & Ilmiyati (2017) dimana dari total 342 responden,
sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak
224 responden (65,5%) dan sebanyak 118 responden (35,5%) berjenis
kelamin laki-laki menderita hipertensi.
Penelitian terkait lainnya yaitu penelitian (Kusumawaty et al.,
2016) bahwa, perempuan cendrung lebih banyak menderita hipertensi
dari pada laki-laki. Pada penelitian tersebut sebanyak 2,5%
perempuan mengalami hipertensi, sedangkan untuk laki-laki hanya
sebesar 5,8%. Hasil tersebut juga sepakat dengan penelitian
(Arifin,Weta & Ratnawati,2016) yang menunjukkan bahwa jumlah
lansia yang mengalami hipertensi lebih banyak pada perempuan,
dengan jumlah keseluruhan responden 80 orang, diantaranya terdapat
48 orang perempuan (61,3) yang mengalami hipertensi. Sedangkan
dari 32 orang lansia berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20 orang
(62,5%) mengalami hipertensi.
Perempuan akan mengalami peningkatan resiko hipertensi
setelah menopause yaitu usia diatas 45 tahun. perempuan yang belum
menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam
meningkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein) sehingga kecil
45
resiko terjadinya hipertensi. Selain itu juga menjadi faktor pelindung
dan mampu mencegah terjadinya proses aterosklerosis yang dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi (Nur Hidayat,dkk 2017). Hal ini
sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Waliyo (2019) bahwa
setelah memasuki menopause perempuan mulai kehilangan sedikit
demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh
darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon
estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan usia perempuan
secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada perempuan usia 45-55
tahun sebelum lanjut usia. Pada usia lebih dari 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pria yang
diakibatkan oleh faktor hormonal.
Pada perempuan selain memiliki hubungan erat dengan
hipertensi yang disebabkan oleh hormonal, juga memiliki potensi
hipertensi yang disebabkan oleh kegemukan yang dapat
mengakibatkan hipertensi dengan persentase 24% pada perempuan
dewasa sedangkan laki-laki 14,9% (Harahap dkk,2014). Diperkuat
dengan penelitian Sartik & Zulkarnain (2017) menjelaskan bahwa
hipertensi pada kelompok heavy weigh lebih tinggi. Karna kegemukan
(obesitas) merupakan ciri khas dari populasi yang mengalami
hipertensi (Anggara & Prayitno,2013)
Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Prasetyaningrum (2014) yang mengatakan laki-laki lebih beresiko
mengalami hipertensi dibandingkan perempuan saat usia <45% tahun.
Tetapi saat usia >65 tahun, perempuan lebih beresiko mengalami
hipertensi dibanding laki-laki setelah wanita memasuki masa
menopause, prevalensi pada wanita akan semakin meningkat
dikarenakan faktor hormonal. Hasil yang sama ditemukan oleh Everet
& Zajacova (2015) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki tingkat
hipertensi yang lebih tinggi dari pada wanita namun laki-laki memiliki
tingkat kewaspadaan yang lebih rendah terhadap penyakit hipertensi
dari pada wanita. Sedangkan dalam hal menjaga kesehatan perempuan
46
lebih memperhatikan kesehatannya dibandingkan laki-laki. Perbedaan
pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin yaitu
perempuan lebih mandiri dalam masalah pengobatan
(Purnamasari,2020)
c. Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa riwayat pendidikan responden penderita hipertensi sangat
beragam dimulai dari pendidikan terbanyak yaitu pendidikan
menengah atas atau SMA (26,5%) sebanyak 18 responden dengan
usia 41-79 tahun. Sedangkan pendidikan yang paling sedikit yaitu
D1/D2/D3 dengan jumlah 7 orang responden (10,3%). Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian (Aini,2019) yang memperoleh responden
dengan usia 41-60 tahun dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 22
responden (38,6%).
Selain itu hasil penelitian (Savitri Triana,2019) terdapat pada
SMA/SMK untuk pendidikan terakhir responden dengan jumlah 85
responden (52,8%) dari 161 total keseluruhan. Dari hasil penelitian
diatas bahwa tingkat pendidikan responden termasuk dalam kategori
rendah, Resiko terserang hipertensi justru akan lebih tinggi pada
pendidikan yang rendah. Sama hal nya dengan pendapat yang
dikemukakan oleh (Amertha,2018) yaitu tingkat pendidikan rendah
berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang gaya hidup, perilaku
kesehatan yang dapat memicu terjadinya hipertensi.
Penelitian terkait lainnya adalah Anggara & Priyanto (2015)
juga menyebutkan bahwa resiko hipertensi dapat disebabkan karna
semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka pengetahuan yang
dimiliki juga rendah. Sehingga proses penerimaan informasi terkait
hipertensi yang diberikan oleh berbagai pihak lebih sulit diterima.
Sama hal nya dengan penelitian Maharani (2018) mengatakan bahwa
seseorang yang pendidikannya rendah akan memiliki pengetahuan
yang kurang juga terhadap kesehatan dan tentunya akan kesulitan dan
lambat menerima informasi contohnya penyuluhan tentang hipertensi
47
serta bahaya-bahaya dari hipertensi dan pencegahannya yang
diberikan oleh petugas kesehatan sehingga berdampak pada perilaku
kesehatan.
d. Pekerjaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenis
pekerjaan mayoritas responden paling banyak ditemui yaitu ibu rumah
tangga (IRT) sebanyak 20 responden (29,4%), dan pekerjaan
terbanyak kedua adalah pedagang dan pensiun dengan jumlah
responden yang sama yaitu 12 responden (17,6%). Sama hal nya
dengan hasil penelitian (waren,2018) didapatkan responden terbanyak
bekerja sebagai IRT sebanyak 19 orang (31,7%) dari 26 responden.
Menurut (waren,2018) juga berpendapat bahwa perempuan yang
tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga beresiko lebih
tinggi menderita hipertensi dibandingkan dengan perempuan yang
bekerja. Hal ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas yang dilakukan
ibu rumah tangga, dimana kebanyakan hanya berdiam diri dirumah
dengan rutinitas yang berulang dan membuat suntuk. Berbeda dengan
ibu yang bekerja diluar rumah, justru lebih banyak aktivitasnya dan
lebih aktif.
Hasil penelitian (Mugi Wahidin,2019) responden yang
mempunyai pekerjaan sebagai pedagang sebanyak 25 responden dari
keseluruhan 40 responden, dari hasil tersebut juga mengungkapkan
bahwa beban kerja dapat menyebabkan reaksi stress secara fisiologi,
prilaku, emosional dan kognitif dengan konsekuensi jangka panjang
pada pekerja secara fisik dan fisiologi menyebabkan penyakit
hipertensi.
Selain itu, menurut analisis (Sarki AM,2015) mengungkapkan
bahwa status pekerjaan berhubungan dengan tingkat pendapatan,
semakin rendah pendapatan maka semakin beresiko mengalami
hipertensi dikarnakan, kebanyakan dari responden tersebut merupakan
masyarakat dengan tingkat ekonomi kebawah, yang lebih banyak
menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan pokok
48
seperti membayar sewa rumah, listrik, dan air dari pada
mengutamakan makanan sehat dan memeriksakan kesehatan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Raihan (2018) yang
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikat antara pekerjaan
dan peningkatan tekanan darah. Dalam penelitian tersebut menyatakan
bahwa responden paling banyak memiliki status pekerjaan sebagai
IRT, merupakan penyebab berkurangnya aktifitas fisik dan memicu
stress. Pernyataan tersebut didukung juga oleh penelitian Situmorang
(2020) yaitu stress diakibatkan terdapat banyak penekanan berupa
lingkungan sekitar yang pada akhirnya memiliki rangsangan terhadap
reaksi tubuh dan psikis serta memicu terjadinya tekanan darah
meningkat. Penelitian Hastuti (2019) juga mengungkakan bahwa
hormon adrenalin yang tinggi mampu memicu terjadinya pemompaan
jantung yang lebih cepat sehingga meningkatkan tekanan darah,
Berdasarkan pada penelitian sebelumnya juga mengemukakan
bahwa apabila IRT mengalami tingkat stress yang meluas maka
memungkinkan resiko hipertensi yang meningkat dan stress yang
memicu komplikasi jika tidak segera ditangani.
e. Riwayat keluarga
Berdasarkan analisa frekuensi dari total 68 responden yang
didapat menunjukkan bahwa mayoritas responden hipertensi yang
memiliki riwayat keluarga yaitu dengan jumlah 43 responden
(63,2%). Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian (Meilinda,2017)
yang memperoleh sebanyak 57 responden (73%) memiliki riwayat
keluarga dari total keseluruhan 78 responden. Sejalan juga dengan
hasil penelitian (Raihan & Dewi, 2017) yaitu sebanyak 48 dari 65
responden mempunyai riwayat keturunan hipertensi. Sama hal nya
dengan hasil penelitian Woro Riyadina (2013) yang mendapatkan
sebanyak (78,9%) responden dengan riwayat keturunan yaitu lebih
tinggi dari pada anggota kelurga yang tidak mempunyai riwayat,
Hal ini sejalan dengan penelitian Rachman (2013) yaitu terdapat
sebanyak 30 responden yang semuanya memiliki riwayat keturunan
49
hipertensi. Penelitian (Avelia,2018) juga selaras dengan hasil diatas,
bahwa sebagian besar responden responden yang diteliti memiliki
riwayat hipertensi dalam keluarga yaitu 51 orang (57,3%).
Faktor genetik dengan riwayat hipertensi mempunyai resiko
lebih besar untuk menderita hipertensi dibanding dengan tanpa
riwayat keturunan. Jika kedua orang tua hipertensi maka angka
kejadian hipertensi meningkat 4 sampai 15 kali dibandingkan bila
kedua orangtuanya adalah normotensi. Sedangkan bila kedua orang
tua menderita hipertensi essensial, maka 44,8% anaknya akan
menderita hipertensi. Dan apabila hanya satu orangtua yang menderita
hipertensi, maka 12,8% keturunannya akan mengalami hipertensi
(Mahpola dkk,2017)
Berdasarkan ilmu genetika hal ini dapat terjadi karena adanya
faktor hereditas yang berperan dalam penyakit keturunan. Hereditas
adalah genotif yang diwariskan dari induk (orang tua) pada
keturunannya dan akan membuat keturunan memiliki karakter seperti
induknya, mulai dari warna kulit, tinggi badan hingga penyakit yang
diderita. Menurut hukum mendel, jika hanya salah satu orang tua
menderita hipertensi, maka kemungkinan anaknya untuk tidak
menderita hipertensi yaitu 50%.
Menurut situmorang (2014), dengan adanya riwayat keluarga
seperti pada ayah, ibu, kakek, nenek, saudara kandung, paman, bibi
yang mengalami hipertensi, maka memungkinkan seseorang
mengalami kejadian hipertensi juga, Hal ini sejalan dengan teori yang
mengatakan, bahwa hipertensi cendrung merupakan penyakit
keturunan, jika kedua orangtua kita mempunyai hipertensi maka ada
kemungkinan kita mendapatkan penyakit tersebut sebanyak 60%
(Depkes RI,2015). Berkaitan juga dengan penelitian Kartikasai (2019)
mengatakan bahwa hipertensi terjadi karna adanya pewarisan sifat
melalui gen yang memiliki peranan besar terhadap munculnya
hipertensi pada seseorang.
50
2. Pola Makan
Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis,
frekuensi dan jumah makanan yang dikonsumsi seorang atau sekelompok
orang pada waktu tertentu berdasarkan pada faktor sosial dan budaya
tempat domisili (Baliwati,2017)
Dari hasil penelitian tentang gambaran pola makan dengan jumlah
68 responden penderita hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang didapatkan hasil pola makan baik sebanyak 36 responden
(52,9%) dan pola makan kurang baik sebanyak 32 responden (47,1%).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh mahopah,dkk
(2018) yaitu hasil penelitian dari 97 responden diketahui bahwa pola
makan baik 40 orang (41,2%), pola makan sedang 40 orang (41,2%) dan
pola makan kurang baik 17 orang (17,6%). Mayoritas masyarakat dikota
besar kini semakin bijak dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi,
seiring berkembangnya teknologi kini informasi mengenai pola makan
dari berbagai sumber mudah untuk didapatkan. (Mahpola dkk,2008).
Pola makan menjadi hal yang sangat penting dalam mengontrol
tekanan darah pada pasien hipertensi, pola makan seseorang dapat
dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan lingkungan tempat seseorang
berada, dimana jika seseorang tersebut dapat dikatakan serba
berkecukupan maka orang tersebut dapat membeli makanan apapun yang
diinginkan, demikian juga dengan contoh lingkungan seseorang yang
berada diperkotaan tentu banyak jajanan/makanan sehingga diperlukan
ketelitian dalam membeli dan mengkonsumsi makanan tersebut, hal ini
didukung dengan hasil penelitian Dewantari dan Ari (2011) yang
mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan gizi, tingkat ketersediaan,
lingkungan, sosial budaya yang mempengaruhi ketersediaan makanan.
Dari data hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa lebih banyak
responden yang memiliki pola makan baik. Pola makan yang baik
mencangkup beberapa hal yang berkaitan tentang jenis makanan yang
dikonsumsi yaitu pemenuhan karbohidrat seperti mengkonsumsi nasi
setiap hari, mengganti nasi dengan kentang atau roti. Pemenuhan protein
51
seperti mengkonsumsi ikan, tahu, tempe. Pemenuhan serat seperti
mengkonsumsi buah dan sayuran. Berdasarkan frekuensi makan yang
dikonsumsi yaitu pemenuhan makan pokok dalam 3 kali sehari atau
konsumsi cemilan. Berdasarkan jumlah makanan yang dikonsumsi yaitu
pemenuhan jumlah karbohidrat seperti 300-500 gr nasi dalam sehari,
pemenuhan protein seperti 2 potong ikan, daging atau ayam sebanyak 100
gr dalam sehari. Pemenuhan serat seperti 1-2 mangkuk sayuran dalam
sehari, 2-3 potong buah dalam sehari, kemudian pemenuhan air dan
mineral seperti mengkonsumsi 8 gelas air dalam sehari. Serta pemenuhan
jumlah porsi garam, gula dan lemak dalam sehari.
a. Jenis makanan
Di lihat dari hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan
jenis makanan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah
Palembang, didapatkan bahwa dari 68 responden yang diteliti, jumlah
responden yang jenis makanan yang baik berjumlah 37 responden
(54,4%) dan kurang baik sebanyak 31 responden (45,6%). Jadi,
mayoritas jenis atau ragam makan responden sebagian besar sudah
mematuhi makanan yang dianjurkan antara lain pemenuhan kebutuhan
karbohidrat, protein, serat
b. Frekuensi makan
Di lihat dari hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan
frekuesni makanan pada pasien hipertensi di rumah sakit
muhammadiyah Palembang, didapatkan bahwa dari 68 responden yang
diteliti, jumlah responden dengan frekuensi makan yang baik sebanyak
62 responden (91,2%) sedangkan frekuensi makanan kurang baik yaitu
6 responden (8,8%). Jadi, sebagian besar responden yaitu sudah
menerapkan makan setiap harinya 3 kali makan utama yaitu makan
pagi, makan siang, makan malam atau sore. Frekuensi makan ini
merupakan hal yang penting bagi pola makan pasien hipertensi.
Menurut Suhardjo (2016) frekuensi makan dikatakan baik
apabila frekuensi makan setiap hari 3 kali makanan utama atau 2 kali
makanan utama dengan 1 kali makanan selingan, dan dinilai kurang
52
baik apabila frekuensi makan setiap hari nya 2 kali makan utama atau
kurang sehingga beresiko kurangnya pemenuhan konsumsi makan
pada pola makan pasien hipertensi.
c. Jumlah makanan
Di lihat dari hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan
jumlah makanan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah
Palembang, didapatkan bahwa dari 68 responden yang diteliti, jumlah
responden dengan frekuensi makan yang baik sebanyak 35 responden
(51,5%) dan kurang baik sebanyak 33 responden (48,5%). Terdapat
perbedaan selisih yang sedikit pada jumlah makanan dengan kategori
baik dan kurang baik.
Menurut Baliwati (2017) dilihat dari jumlah makanan yang
dimakan setiap hari harus mengikuti pedoman umum gizi seimbang
yaitu hidangan tersusun atas makanan pokok (3-5 porsi/hari), lauk (2-3
porsi/hari), sayuran (2-3 porsi/hari), buah (3-5 porsi/hari), sedangkan
porsi makan pada pasien hipertensi di rumah sakit muhammadiyah
Palembang, dilihat dari jenis bahan makanan yang dimakan setiap hari
sudah mengikuti pedoman umum gizi seimbang.
Menurut asumsi peneliti, pola makan pasien hipertensi di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang sebagian besar baik, hal ini
dikarenakan mayoritas responden patuh terhadap pola makanan yang
dianjurkan.
B. Keterbatasan Peneliti
Peneliti telah mengupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan
maksud dan tujuan penelitian. Tetapi peneliti mengakui bahwa jauh dari
kata sempurna dan tidak lepas dari keterbatasan dan kelemahan yang ada.
Dikarnakan terdapat beberapa keterbatasan yang dialami pada saat
dilakukannya penelitian yaitu pada saat penelitian ada beberapa subjek
penelitian yang tidak berkenan untuk diwawancara dikarnakan sudah
pernah beberapa kali diwawancarai oleh mahasiswa yang melakukan
penelitian di subjek penelitian yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut,
53
peneliti berusaha menjelaskan kembali berdasarkan penyakit dan teori
yang ada serta menyakinkan subjek penelitian bahwa selama melakukan
penelitian ini akan dilakukan sesuai dengan prosedur. Kemudian penelitian
ini hanya berdasarkan diagnosis awal dan peneliti juga tidak melakukan
pemeriksaan kembali tekanan darah, dikarenakan kesalahan peneliti.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran pola makan pada pasien
hipertensi di Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Distribusi frekuensi karakteristik responden dari usia rata-rata 59,40
tahun, jenis kelamin paling banyak perempuan yaitu 41 responden
(60,3%), riwayat pendidikan SMA dengan 18 responden (26,5%),
pekerjaan ibu rumah tangga (IRT) dengan 20 responden (29,4%), dan
memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi sebanyak 43
responden dengan (63,2%).
2. Distribusi frekuensi gambaran pola makan pada pasien hipertensi
didapatkan pola makan baik sebanyak 36 responden (52,9%) dari
jumlah keseluruhan 68 responden, sedangkan pola makan kurang baik
sebanyak 32 responden (47,1%).
B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Memberikan informasi dan edukasi yang lebih luas kepada pasien
hipertensi dan keluarga mengenai pola makan pada pasien hipertensi
agar terpenuhi sesuai kebutuhan baik ketika pasien berada dirumah
sakit maupun ketika perawatan dirumah dengan dukungan keluarga,
agar kiranya penderita hipertensi dapat selalu dipantau dan diberikan
penanganan yang maksimal
2. Bagi Institusi
Bagi institusi pendidikan diharapkan penelitian ini dapat dijadikan
sebagai referensi dan bahan rujukan agar rumah sakit dapat
berkoordinasi dengan prodi gizi dalam pembuatan menu makanan
untuk pasien hipertensi, sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan
54
55
nya langsung terhadap masyarakat ketika melaksanakan kegiatan
promosi kesehatan terkait pola makan pada pasien hipertensi.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan dalam penelitian
khusus nya bidang keperawatan, sekaligus mengembangkan
kemampuan peneliti dalam menjadi media untuk menyampaikan
secara objektif mengenai penelitian ini
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dengan jumlah
sampel dan variabel yang lebih banyak dan luas, seperti status nutrisi,
kepatuhan minum obat serta pengaruh pola makan pada pasien
hipertensi atau variabel lainnya. Sehingga penelitian harus terus
dikembangkan agar kiranya dapat membantu memberikan pengetahuan
bagi para tenaga medis, pasien, dan keluarga mengenai hipertensi
DAFTAR PUSTAKA
Anisah et al. (2014). Gambaran Pola Makan Pada Penderita Hipertensi. Journal of
Health Sciences, 7, 1–18. umdatus@[Link]
Aristoteles.(2018).Korelasi umur dan jenis kelamin dengan penyakit hipertensi di
emergency center unit Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang
[Link] Jurnal Perawat, 3(1),9-16
Bertalina, B.,(2017). Hubungan Asupan Natrium, Gaya Hidup Dan Faktor
Genetik Dengan Tekanan Darah Pada Penderita Penyakit Jantung
Koroner. Jurnal Kesehatan. [Link]
Dapartement Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Laporan Nasional 2019
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2019: Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan.
Dinkes Provinsi Sumatera Selatan. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan
2020. Pusat Data Dan Informasi Kesehatan : Palembang 2020
Firmansyah, M.R.,& Rustam, R.(2017). Hubungan Merokok Dan Konsumsi Kopi
Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi. Jurnal Kesehatan.
[Link]
Fitriani, Dk.(2018). Gambaran Asupan Natrium, Lemak Dan Serat Pada Jurnal
Pangan,Gizi Dan Kesehatan Penderita Hipertensi Di Kelurahan Tanjung
Gading Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu. Jurnal Proteksi
Kesehatan, Vol.7. No 1
Herminingsih, A.(2014). Manfaat Serat Dalam Menu Makanan. (Jurnal Penelitian
FMA Universitas Mercu Buana)
Info Datin. (2013). Situasi Kesehaan Jantung: Pusat Data Dan Informasi
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kasron, (2016). Buku Ajar Keperawatan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta: Trans
Info Media.
Kartikawati.( 2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Hipertensi Di
Puskesmas Di Jakarta Utara. Depok: Skripsi FKM.2013
Kadir, S. (2019). POLA MAKAN DAN KEJADIAN HIPERTENSI EATING
PATTERNS AND EVPERTENSION EVENTS Sunarto Kadir. Jambura
Health and Sport Journal, 1(2), 56–60.
Kusumawaty, J., Hidayat, N., & Ginanjar, E. (2016). Hubungan Jenis Kelamin
dengan Intensitas Hipertensi pada Lansia di Wilayah Factors Related Events
Sex with Hypertension in Elderly Work Area Health District Lakbok Ciamis.
56
57
Jurnal Mutiara Medika, 16(2), 46–51.
Mahmudah, S., Maryusman, T., Arini, F.A Dan Malkan, I., (2017). Hubungan
Gaya Hidup Dan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di
Kelurahan Sawangan Baru Kota Depok Tahun 2015. Biomedika,8(2)
Naga, [Link]. (2012). Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam.
Yogyakarta: Diva Press.
Nursalam,(2015). Konsep Dan Penerapan Metodoogi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba Medika
Permanasari, Y., & Julianti, E. D. (2019). Pola Konsumsi Dan Gaya Hidup
Kaitannya Dengan Kejadian Penyakit Kardiovaskuler Di Indonesia.
Penelitian Gizi Dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food
Research), 41(2), 113–123. [Link]
Prayitno, N.& Anggara,F.H.(2012). Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan
Tekanan Darah Dipuskesmas Telaga Murni, Cikarang Barat Tahun 2012.
Pudiastuti, Ratna D.(2011) Penyakit Pemicu Stroke. Yogyakarta:Nuha Medika
Sirajuddin, Surmita, Astuti Trina. (2018). Survey Konsumsi Pangan, Badan
Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Sumarni, Nina Dan Rukmasari, Arum, Ema.(2018). Asupan Nutrisi Pada Pasien
Penyakit Jantung Koroner Di Poliklinik Kardiologi Rumah Sakit Dr. Slamet
Garut. Jurnal Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran.
Salam, Abdul. Suhaema, Dkk. (2018). Karakteristik Dan Pola Konsumsi Zat Gizi
Pasien Penyakit Jantung Koroner Rawat Jalan Di RSUD Kota Mataram.
Jurnal Gizi Prima, 3(1), 54-62
Sunni L. Mumford, Enrique F. Schisterman, Anna Maria Siege-Riz, Dkk, 62011.
Effect Of Dietary Fiber Intake On Lipoprotein Cholesterol Levels
Independent Of Estradiol In Healthy Premenopausal Woman. American
Journal Of Epidemiology. 2011
Sukri Y, Wibowo A, Wahyono. Pengaruh Pola Makan Terhadap Hipertensi Pada
Lansia. 2018:3(November):1-9
Susanti M. Hubungan Asupan Natrium Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Di
Kelurahan Pajang. Ilmu Kesehatan. 2017:3(1):1-21
WHO. (2020). Cardiovaskuler Diseases (CVDc). World Health Organization
Wirjadmadi, Bambang R. Dan Rahma, Huriyah, Hadiar. (2017). Hubungan
58
Asupan Zat Gizi Makro Dan Profil Lipid Dengan Kejadian Penyakit
Jantung Koroner Pada Paien Lansia Di Rs Islam Jemursari Surabaya,
Media Gizi Indonesia, 12(2), 129-133
Wijaya SA. Hubungan Pola Makan Dengan Tingkat Kejadian Hipertensi Pada
Lansia Di Dusun 14 Sungapan Tirtorahayu Galur Progo Yogyakarta.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Aisyiyah:2011
Zuhrina,Aidha,Dkk.(2018).Survey Hipertensi Dan Pencegahan Komplikasinya Di
Wilayah Pesisir Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2018. Jurnal Jumantik,
Vol.4.No1
59
LAMPIRAN
No Responden :
FORMULIR PERSETUJUAN PENELITIAN
(INFORMEND CONSEND)
PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah
mendapatkan penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang
akan dilakukan oleh Sisilia Atami selaku mahasiswa Program Studi Sarjana Ilmu
Keperawatan, dengan judul penelitian “Gambaran Pola Makan Pada Pasien
Hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang”.
Maka dari itu saya memutuskan bersedia menjadi responden dan akan ikut
berpartisipasi dalam penelitian ini secara sukarela tanpa paksaan.
Palembang, 2022
Mengetahui,
Peneliti Responden
(Sisilia Atami) (..……………….)
NIM: 21120024P
KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN POLA MAKAN PADA PASIEN HIPERTENSI
DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG
Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah petunjuk penelitian sebelum menjawab setiap pernyataan
2. Hari/tanggal penelitian diisi oleh peneliti
3. Pilih jawaban yang menurut bapak/ibu paling sesuai dengan kondisi yang
dialami dengan memberikan tanda checklist (√)
No. Responden:
A. Keterangan
1. Hari/Tanggal Penelitian :
B. Identitas Responden
1. Nama Inisial :
2. Umur : Tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
4. Pendidikan : SD D3/Diploma
SMP S1/S2/S3
SMA
5. Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa Pedagang
PNS Pensiun
Pegawai Swasta IRT
Buruh Petani
6. Riwayat Keluarga : Ada Tidak Ada
*coret yang tidak penting
C. Pola Makan
Penilaian
No Pernyataan
Ya Tidak
1 Saya mengkonsumsi nasi setiap hari
2 Saya mengganti makanan pokok nasi dengan kentang/ubi/roti
3 Saya mengkonsumsi makanan kaleng seperti sarden lebih dari
2X dalam seminggu
4 Saya mengkonsumsi abon, ikan asin, udang kering lebih dari 2X
dalam seminggu
5 Saya suka mengkonsumsi makanan siap saji yang diolah dengan
mentega, keju, susu
6 Saya mengkonsumsi makanan bersantan lebih dari 2X dalam
seminggu
7 Saya mengkonsumsi ikan lebih dari 2X dalam seminggu
8 Saya mengkonsumsi tahu dan tempe lebih dari 2X dalam
seminggu
9 Saya suka mengkonsumsi yogurt
10 Saya menggunakan minyak goreng bekas yang sudah dipakai ≥
3 kali
11 Saya mengkonsumsi gorengan dan makanan yang berminyak
lebih dari 3X dalam sehari
12 Saya lebih memilih ikan sarden kaleng dari pada ikan segar
13 Saya suka mengkonsumsi susu kental manis
14 Saya mengkonsumsi sayur-sayuran hijau setiap makan
15 Saya mengkonsumsi buah-buahan kaya serat seperti pisang dan
jeruk lebih dari 3X dalam seminggu
16 Saya makan 3X dalam sehari
17 Saya suka mengkonsumsi cemilan di jam makan sehingga tidak
lagi mengkonsumsi makanan pokok
18 Saya suka mengkonsumsi cemilan manis, asin atau junkfood
19 Saya dapat menghabiskan 3-5 piring nasi sebanyak 300-500 gr
dalam sehari
Saya dapat mengkonsumsi 2 potong ikan, daging atau ayam
20
sebanyak 100 gr dalam sehari
Saya lebih suka makanan yang digoreng dari pada yang
21
dikukus/direbus
Saya mengkonsumsi 1,5-2 mangkuk sayuran sebanyak 150-
22
200gr dalam sehari
Saya mengkonsumsi 2-3 potong buah-buahan sebanyak 150-
23
200gr dalam sehari
24 Saya mengkonsumsi 8 gelas air putih dalam sehari
25 Saya suka mengkonsumsi minuman soda atau beralkohol
26 Saya suka mengkonsumsi minuman kemasan yang manis
27 Saya mengkonsumsi < 5 sendok teh minyak per hari
28 Saya mengkonsumsi < 4 sendok makan gula per hari
29 Saya mengkonsumsi hanya 1 sendok teh garam per hari
Saya suka mengkonsumsi cemilan manis ataupun asin seperti
30 keripik, donat, kue kering dll