0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan152 halaman

Pengaruh Seledri pada Tekanan Darah Hipertensi

Skripsi ini membahas pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap tekanan darah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air rebusan seledri dalam menurunkan tekanan darah pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan desain one group pre-post test terhadap 28 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

Diunggah oleh

INDAH BUDIARTI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan152 halaman

Pengaruh Seledri pada Tekanan Darah Hipertensi

Skripsi ini membahas pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap tekanan darah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air rebusan seledri dalam menurunkan tekanan darah pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan desain one group pre-post test terhadap 28 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

Diunggah oleh

INDAH BUDIARTI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Skripsi

PENGARUH AIR REBUSAN SELEDRI TERHADAP


TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI
DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS
NAGASWIDAK PALEMBANG

FEBI TRY MENTARI


21120010P

INSTITUSI ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI


MUHAMMADIYAH PALEMBANG FAKULTAS
ILMU KESEHATAN, PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2021
Skripsi

PENGARUH AIR REBUSAN SELEDRI TERHADAP


TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI
DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS
NAGASWIDAK PALEMBANG

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Sarjana Keperawatan

FEBI TRY MENTARI


21120010P

INSTITUSI ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI


MUHAMMADIYAH PALEMBANG FAKULTAS
ILMU KESEHATAN, PROGRAM STUDI
ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2021
iii
iv
v
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas Penulis
Nama : Febi Try Mentari
Tempat/tanggal lahir : Kayuagung, 21 Februari 2000
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Anak ke dari : Ke-3 dari 4 Bersaudara
Orang tua
Ayah : Jauhari Bustomi
Ibu : Sa’adah
Telepon : 082184843868
E-mail : febitrimentari@[Link]
Alamat : Jl. Lintas Timur Desa Serinati Kec. Pedamaran [Link]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Pertiwi Kayuagung 2005
2. SD Negeri 02 Serinanti 2011
3. SMP Negeri 03 Kayuagung 2014
4. SMA Negeri 02 Kayuangung 2017
5. D3 Kep STIKes Muhammadiyah Palembang 2020

vii
ABSTRAK

Nama : FEBI TRY MENTARI


NIM : 21120010P
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul : Pengaruh Air Rebusan Seledri Terhadap Tekanan Darah Pasien
Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang

Latar Belakang : Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan
abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari
jantung dan memompa keseluruh jaringan dan organ tubuh. Pasien dengan hipertensi
dapat mengalami beberapa tanda dan gejala seperti perubahan pada retina, sakit
kepala, pusing,penyakit jantung, gagal ginjal dan sulit bernafas. Salah satu
penatalaksanaan nonfarmakologis untuk menurunkan tekanan darah pasien hipertensi
yaitu terapi air rebusan seledri, yang mengandung flavonoid, pthalides dan magnsium
yang baik untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri
danmembantu menormalkan penyempitan pembulu darah sehingga dipercaya dapat
menurunkan tekanan darah tanpa efek samping. Tujuan Penelitian : Untuk
mengetahui pengaruh pengaruh air rebusan seledri terhadap tekanan darah denagn
pasien hpertensi diwilayah kerja puskesmas nagaswidak palembang. Metode
Penelitian : Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kuantitatif menggunakan
design Pre-eksperiment dengan rancangan one-group pre-post test. Uji analisa yang
di gunakan yaitu Wilcoxon Rank Test dengan jumlah sampel 28 responden dilakukan
intervensi air rebusan seledri terhadap tekanan darah hipertensi yang di lakukan setiap
hari selama 5 hari diwaktu sore hari 200gr perhari. Hasil Penelitian : dari hasil
penelitian dengan uji wilcoxon di dapatkan nilai P Value = 0,000 ( P Value ≤ 0,05)
yang artinya ada pengaruh signifikan terhadap tekanan darah sebelum dan sesudah di
berikan air rebusan seledri. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian air rebusan
seledri terhadap tekanan darah dengan pasien hipertensi diwilayah kerja puskesmas
nagaswidak palembang. Dalam hal ini air rebusan seledri dapat dijadikan salah satu
terapi komplementer dalam menurunkan tekanan darah selain itu air rebusan seledri
dapat menjadi terapi non formakologi sehingga penderita hipertensi tidak bergantung
pada obat dalam menurunkan tekanan darah tinggi.

Kata Kunci : Tekanan Darah, Seledri


Daftar Pustaka: 57 (2012-2021)

viii
ix
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya
dapat menyelesaikan Proposal ini. Penulisan Proposal ini dilakukan dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan di Institusi Ilmu Kesehatan dan
teknologi Muhammadiyah Palembang. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan Proposal ini, sangatlah
sulit bagi saya untuk menyelesaikan Proposal ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima
kasih kepada:

1. Bapak Heri Shatriadi CP, [Link] Selaku Ketua IKest Muhammadiyah Palembang.
2. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Ibu Maya Fadlilah, [Link]
3. Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Bapak Yudi Abdul Majid, [Link]
4. Dosen pembimbing I Bapak Joko Tri Wahyudi [Link]., [Link] dan Ibu
Suratun,[Link].,Ns.,[Link] Dosen Pembimbing II Dalam Penyusunan Proposal
5. Bapak Agus Suryaman [Link]. Ns., [Link] Selaku Dosen Penguji I dan Bapak Yulius
Tiranda,[Link].D Dosen Penguji II
6. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Dan Program Studi Lainnya beserta
Staf dan jajaran IKest Muhammadiyah Palembang
7. Kedua Orang Tuaku Bapak Jauhari Bustomi dan Ibu Sa’adah tersayang. Terimakasih
atas segala doa, pengorbanan, dukungan dan ketenangan disetiap langkahku selama ini
sudah berusaha mencukupi segala keperluan dan kebutuhanku. Semoga Allah
memberkahi usia ayahanda dan ibunda dan selalu diberikan kebahagiaan dunia dan
akhirat.
8. Terimakasih kepada saudari dan saudara ku Kakak Putri Sri Rahayau, Abangku Angga
Wahyu Ramadhan dan Adikku Rafli Haji Noer Hakim, yang selalu memberikan
semangat dan dukungan disetiap langkah perjuanganku, dan lupa juga pastinya untuk
diriku sendiri terimakasih sudah sangat sabar, kuat sejauh ini lue sangat luar biasa.
9. Juga kepada Sahabat-sahabat seperjuanganku dari D3 hingga S1 ini yang selalu
mendengarkan keluh kesah, memberikan dukungan dan semangat dalam pembuatan
skripsi ini. Sisilia, Indah, Herli, seluruh departemen kmb dan teman-teman satu
angkatan psik reg b tahun 2020.

Saya menyadari didalam pembuatan proposal ini masih banyak terdapat kesalahan yang
belum kami ketahui. Oleh karna itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan
demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata, saya berharap Allah SWT, berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat
bagi pengembangan ilmu.

Palembang, 18 Juli 2022

Penulis

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN. ........................................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN. .......................................................................................... iv
HALAMAN PERYATAAN ORISINALITAS. .............................................................. v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................... vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP. ........................................................................................ vii
ABSTRAK ......................................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... x
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR. ........................................................................................................ xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................................. xiv
DAFTAR BAGAN ............................................................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN. .................................................................................................... Xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 6
C. Tujun Penelitian ......................................................................................................... 6
1. Tujuan Umum. ........................................................................................................ 6
2. Tujuan Khusus......................................................................................................... 6
D. Ruang Lingkup .......................................................................................................... 7
E. Manfaat Penelitian ..................................................................................................... 7
1. Secara Teoritis. ........................................................................................................ 7
2. Secara Praktis. ......................................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Tekanan Darah.............................................................................................. 9


1. Definisi ................................................................................................................... 9
2. Fisiologi .................................................................................................................. 9
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Tekanan Darah ................................................ 10
4. Cara Mengukur Tekanan Darah .............................................................................. 13
B. Konsep Hipertensi . ................................................................................................... 16
1. Definisi ................................................................................................................... 16
2. Anatomi Jantung. .................................................................................................... 17
3. Etiologi ................................................................................................................... 20
4. Tanda dan Gejala ..................................................................................................... 21
5. Faktor Risiko ........................................................................................................... 22
6. Klasifikasi ............................................................................................................... 23
7. Patofisiologi ........................................................................................................... 26
8. Manifestasi Klinis ................................................................................................... 27
9. Komplikasi ............................................................................................................. 28

xi
10. Pemeriksaan Penunjang .......................................................................................... 29
C. Konsep Seledri. .......................................................................................................... 33
1. Definisi Seledri ........................................................................................................ 33
2. Kandungan Seledri ................................................................................................. 34
3. Seledri dalam Hubungan Penurunan Tekanan Darah.............................................. 34
4. Cara Mengelola Daun Seledri ................................................................................ 35
D. Mekanisme Penurunan Pengaruh Seledri Terhadap Tekanan Darah ........................ 36
E. Kerangka Teori .......................................................................................................... 37

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN


HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep....................................................................................................... 39
B. Definisi Operasional .................................................................................................. 39
C. Hipotesis .................................................................................................................... 42

BAB IV METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian ....................................................................................................... 43


B. Populasi dan Sampel .................................................................................................. 43
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................................... 45
D. Teknik Pengumpulan Data. ....................................................................................... 45
E. Prosedur Pengumpulan Data ..................................................................................... 48
F. Instrumen Pengumpulan Data.................................................................................... 48
G. Pengolahan dan Analisis Data ................................................................................... 52
H. Etika Penelitian .......................................................................................................... 52

BAB V HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Umum Puskesmas Nagaswidak Palembang. ........................................... 53
B. Hasil penelitian .......................................................................................................... 58

BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisis Univariat ...................................................................................................... 63
B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................................. 75

BAB VII PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................................. 77
B. Saran ........................................................................................................................ 77

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Fisiologi ........................................................................................... 17


Gambar 2.2 Letak Jantung ................................................................................................. 18
Gambar 2.3 Katu Jantung.................................................................................................... 19
Gambar 2.4 Seledri.............................................................................................................. 33

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Batasan Hipertensi ............................................................................................. 27


Tabel 2.2 Kategori Tekanan Darah ..................................................................................... 27
Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Variabel Peneliti ......................................................... 41
Tabel 4.1 Skema Rancangan Penelitian ............................................................................. 43
Tabel 5.1 Kerangka Pimpinan Puskesmas Nagaswidak Palembang ................................... 54
Tabel 5.2 Luas Wilayah Kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang ................................. 54
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia ............................................................... 58
Tebal 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin ............................................... 59
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidkan ..................................................... 59
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan ...................................................... 59
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Merokok ......................................... 59
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Konsumsi Alkohol ........................................ 59
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Keluarga ......................................... 59
Tabel 5.5 Skor Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik Pre-Test ............................................... 60
Tabel 5.6 Skor Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik Post-Test ............................................. 60
Tabel 5.7 Skor Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik Pre-Test ............................................ 61
Tabel 5.8 Skor Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik Post-Test ........................................... 61
Tabel 5.9 Perbedaan Nilai Rata-Rata Tekanan Darah Pre-Post Sistolik............................ 62
Tabel 5.10 Perbedaan Nilai Rata-Rata Tekanan Darah Pre-Post diastolik ........................ 62

xiv
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Mekanisme Penurunan Pengaruh Seledri Terhadap Tekanan Darah ................. 37
Bagan 2.2 Kerangka Teori .................................................................................................. 38
Bagan 3.1 Kerangka Konsep .............................................................................................. 39

xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pengajuan Judul Skripsi
Lampiran 2 Lembar Permohoman Jadi Responden
Lampiran 3 Lembar Informend Consend
Lampiran 4 Lembar Data Demograsi Responden
Lampiran 5 Lembar Observasi Responden
Lampiran 6 Lembar Tabel Kepatuhan Minum Air Rebusan Seledri
Lampiran 7 Lembar SOP Teknik Pembuatan Air Rebusan Seledri
Lampiran 8 Lembar SOP Pengukuran Tekann Darah Digital
Lampiran 9 Lembar SOP Pengukuran Tekann Darah Manual
Lampiran 10 Lembar SOP Jika Tekanan Darah Responden Drop
Lampiran 11 Lembar Bimbingan
Lampiran 12 Izin Studi Pendahuluan
Lampiran 13 Izin Pendahulua BANKPOL
Lampiran 14 Izin Pengambilan Data DinKes
Lampiran 15 Izin Penelitian
Lampiran 16 Izin Penelitan BANKPOL
Lampiran 17 Izin Penelitian DinKes
Lampiran 18 Lembar Keterangan Selesai Pengambilan Data dan Penelitian
PUSKESMAS
Lampiran 19 Output SPSS
Lampiran 20 Dokumentasi

xvi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi ialah Penyakit Tidak Menular (PTM)
dan salah satu penyebab utama kematian di dunia. World Health Organization
(WHO) memperkirakan bahwa prevalensi global saat ini hipertensi 22% dari
keseluruhan populasi dunia. Hipertensi dianggap sebagai penyakit yang serius
karena dampak yang ditimbulkan sangat luas, meningkatkan risiko jantung,
otak, ginjal bahkan dapat berakhir pada kematian (Kemenkes, 2020).
Hipertensi merupakan suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam
pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung dan memompa
keseluruh jaringan organ tubuh secara terus menerus lebih dari suatu periode
(Indah,2019). Secara umum, seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila
tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90mmHg. Hipertensi juga sering
diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari
120mmHg dan diastolik 80mmHg. Tekanan darah yang selalu tinggi
merupakan salah satu risiko utama penyebab stroke, serangan jantunga, gagal
jantung kronis dan aneurisma arterial (Anies, 2018).
Hipertensi menjadi berbahaya karena memiliki banyak komplikasi seperti
stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal yang merupakan penyakit-
penyakit katastropik. Artinya penyakit ini merupakan penyakit berbiaya tinggi
dan secara komplikasi dapat membahayakan jiwa penderitanya. Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukan biaya penyakit
hipertensi sebesar 9,7 triliun terbesar diantara penyakit lainnya (Indah,2019).
Hipertensi disebut juga sebagai the silent disease dikarenakan pengidap
penyakit hipertensi rata-rata kurang memahami tanda dan gejala sebelum
diperiksa (Ariyanto et al., 2020).
WHO (2021) di Afrika memiliki prevalensi hipertensi tertinggi (27%)
sedangkan di Amerika memiliki prevalensi hipertensi terendah (18%). Jumlah
orang dewasa dengan hipertensi meningkat dari 594 juta pada tahun 1975
menjadi 1,13 miliar pada tahun 2015, dengan peningkatan yang sebagian besar

1
2

terlihat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Peningkatan ini


terutama disebabkan oleh peningkatan faktor risiko hipertensi pada populasi.
Di Indonesia prevalesi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada
penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan
(44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%). Estimasi jumlah kasus
hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di
Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Hipertensi terjadi pada
kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64
tahun (55,2%) (Riskesdas Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Data Dinas Kesehatan Kota Palembang, angka kejadian penyakit
hipertensi mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Pada tahun 2018 jumlah
kasus kejadian hipertensi sebanyak 53.455 (22,5%), pada tahun 2019 sebanyak
54.2% dan pada tahun 2020 sebanyak 146.220 orang (57,2%) yang
mendapatkan pelayanan kesehatan tekanan darah tinggi (hipertensi) sesuai
standar (Dinkes Sumsel, 2020). Sedangkan Estimasi penderita hipertensi di
Puskesmas Nagaswidak Palembang berdasarkan hasil pengukuran penduduk
usia 15 tahun keatas pada tahun 2019 sebanyak 2924 (30,4%), pada tahun 2020
sebanyak 8610 (30,4%), dan bulan Januari sampai Oktober tahun 2021
sebanyak 9092 (31,2%).
Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Nagaswidak pada tanggal
21 Desember 2021 didapatkan bahwa tiga bulan terakhir penderita hipertensi
sebanyak 109 jiwa dan hasil wawancara dengan pasien hipertensi yang
berkunjung di Puskesmas Nagaswidak Palembang tersebut didapatkan data
jumlah penderita hipertensi.
Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan bahwa angka penderita
penyakit hipertensi masih terus meningkat setiap tahun. Hal ini dapat
mengakibatkan munculnya komplikasi. Salah satu komplikasi yang muncul
adalah gangguan fungsi jantung koroner, pembulu darah, stroke serta penyakit
kardiovaskuler seperti aneurisma arteri, jantung kronis, obesitas, kolestrol dan
bisa menjadi pencetus gagal ginjal kronik bahkan kematian (Marliyana, 2021).
Hipertensi juga dapat disebabkan oleh stress serta konsumsi makanan
yang memiliki kandungan garam berlebihan. Faktor resiko pada kejadian
3

hipertensi meliputi riwayat keluarga, gaya hidup, pola makan yang buruk,
merokok, jenis kelamin, ras dan juga usia. Untuk mencegah agar hipertensi
tidak menyebabkan komplikasi dan dapat diminimalkan dengan
penatalaksanaan menggunakan farmakologi yaitu dengan minum obat secara
teratur atau menggunakan non farmakologis, langkah awal pengobatan
hipertensi non farmakologis adalah dengn menjalani pola hidup sehat, salah
satunya dengan terapi komplementer yang menggunakan bahan-bahan alami
yang ada disekitar kita, seperti relaksasi otot progresif, terapi nutrisi, meditasi,
terapi tawa, akupuntur, akupresur, aromaterapi, terapi bach flower remedy, dan
refleksologi (Istiqomah, 2017).
Terapi ini menggunakan tanaman yang telah terbukti secara medis
memiliki kandungan obat herbal antihipertensi dan sudah banyak digunakan
oleh masyarakat dalam menangani penyakit hipertensi dikarenakan memiliki
efek samping yang sedikit. Jenis obat yang digunakan dalam terapi herbal yaitu
selederi atau celery (Apium graveolens), bawang putih atau garlic (Allium
Sativum), bawang merah atau onion (Allium cepa), mentimun (Cucumis Sativus
L), tomat (Lyocopercison lycopersicum), semangka (Citrullus vulgaris)
(Melizza et al., 2020).
Seledri atau Apium graveolens merupakan salah satu pengobatan herbal
untuk mengatasi hipertensi. Seledri mengandung apigenin yang sangat
bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah
tinggi. Selain itu, seledri juga mengandung pthalides dan magnesium yang baik
untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan
membantu menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Pthalides dapat
mereduksi hormon stres yang dapat meningkatkan darah dikutip dari Pratiwi et
al (2019). Selain mengandung apigenin dan pthalides seledri juga mengandung
gizi yang tinggi, vitamin A,B1, B2, B6 dan juga vitamin C. Seledri juga kaya
pasokan kalium, asam folic, kalsium, magnesium, zat besi, fosfor, sodium dan
banyak mengandung asam amino esensial. Selain itu untuk mendapatkan
seledri ini tidak terlalu sulit dan sangat terjangkau di masyarakat (Yosi et al.,
2021).
4

Sri dan Husnul (2018) yang meneliti tentang pengaruh pemberian air
rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi
yang dilakukan pada 15 responden, yang dilakukan selama 5 hari menggunakan
metode Quasi Experimen dengan uji paired t-test dengan 100 gram seledri
direbus dengan 300 cc air hingga menyusut menjadi 200 cc, diminum 2 kali
sehari pagi (100 cc) dan sore (100 cc).
Erni, et al (2020) yang meneliti tentang water boiling celery affects blood
pressure in elderly with hypertension Populasi seluruh lansia hipertensi di
Posyandu Lansia Bruno Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten
Nganjuk berjumlah 24 lansia. Diselenggarakan pada tanggal 2-8 Maret 2020.
Sampel sebanyak 24 responden dengan total sampling. Pemberian air rebusan
seledri, dan variabel terikat adalah tekanan darah menggunakan tensimeter.
Mengukur tekanan darah menggunakan sphygmomanometer (hari pertama).
Pemberian air rebusan seledri 2 x 100 cc (pagi ± 10.00 dan sore ± 16.00 jam)
selama 7 hari berturut-turut. Pada hari kedelapan, ukur tekanan darah
menggunakan tensimeter.
Mengutip pula dari penelitian Lisna Nurhayati (2011) yang dilakukan di
wilayah kerja puskesmas Cipelang Sukabumi sebnyak 26 orang responden
sesuai dengan kriteria inklusi yang ditentukan, menggunkan metode experimet
risearch dengan pendekatan quasi experiment. Dengan seledri sebanyak 16
batang atau setara 100 gram, direbus dengan air 400 ingga menyusut menjadi
300 cc dan diminum 2 kali sehari pagi (150 cc) dan sore (150 cc) Setelah di
berikan air rebusan seledri sebanyak 2 gelas atau setara dengan 300 cc perhari
selama 7 hari, hasil menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna tekanan
darah sebelum dan sesudah diberi air rebusan seledri perhari selama 7 hari pada
kelompok intervensi.
Penelitian Wicaksana (2019) membuktikan bahwa buah mentimun dapat
menurunkan tekanan darah karena kandungan kaliumnya yang menyebabkan
penghambatan pada Renin-Angiotensin System juga menyebabkan penurunan
sekresi aldosteron. Penelitian ini dilakukan di posyandu Demak dengan sampel
40 lansia selama seminggu dengan sehari 2 kali (pagi & sore) dan
menggunakan buah mentimun 200 gram(150ml) dan hasilnya p value sebesar
5

0,000 (p<0,05). Penelitian oleh Lovindy (2014) jus buah mentimun juga dapat
untuk menurunkan tekanan darah. Pada penelitian yang tersebut dilakukan di
semarang yang subyek penelitiannya dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok
kontrol dan perlakuan) yang dilakukan selama 7 hari dan menggunakan buah
mentimun sebanyak 100 gram (150ml). Hasil penelitiannya diketahui terdapat
penurunan tekanan sistolik 12% (p=0,000) dan 10,4% (p=0,000). Penelitian
dari Cerry (2015) juga membuktikan bahwa jus mentimun dapat digunakan
untuk menurunkan tekanan darah.
Mentimun dapat juga digunakan untuk detoksifikasi. Kandungan air yang
tinggi hingga 90% membuat mentimun memiliki efek memperlancar buang air
kecil, membantu menghilangkan dan menetralkan toksin (racun), serta
membantu menggelontorkan bakteri-bakteri disepanjang usus dan dinding
kandung kemih. Kandungan air dan mineral kalium dalam timun juga
mengeluarkan kelebihan asam urat dan sisa metabolisme melalui ginjal. Cara
penyajian yaitu dengan makan buah segar setiap hari kurang lebih 400 gr sehari
dua kali. Selain memakannya secara langsung juga dapat disajikan dalam
bentuk lain yaitu dengan cara dijuz atau diparut. Kemudian cuci mentimun dan
blender hingga halus, lalu tuang ke dalam gelas (200 cc), setelah itu minum
hingga habis. Minum dua kali sehari maksimal 1 minggu. Kemudian kontrol
dahulu tensinya, bila sudah normal hentikan sehari setelah itu minum lagi satu
kali sehari ½ gelas. Dengan demikian ingin diketahui sejauhmana efektifitas
pemberian jus mentimun tersebut terhadap tekanan darah tinggi (hipertensi).
Pemberian Jus Mentimun adalah Buah mentimun dicuci bersih lalu diblender;
Mentimun yang sudah diblender dituang kedalam gelas sejumlah 200 cc; Air
mentimun tersebut kemudian diminum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari
(Hermawan & Novariana,2018).
Terkait dengan penyakit-penyakit yang diderita manusia Allah SWT.
Berfirman:”Hai manusia, sesunggunya telah datang kepadamu pelajaran dari
tuhanmu dan penyembuhan bagi penyakit-penyakit didalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” Qs. Yunus:57. “ Dan apa saja
musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri, dan
Allah memeefkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Link]
6

Syuura: 30. “Dan kami turunkan Al-qur’an suatu yang jadi penawar
(penyembuhan) dan rahmat bagi orang-orang beriman,dan tidaklah menambah
kepada orang-orang yang zalim melaikan kerugian” [Link] Isra: 82.
Dalam penatalaksanaan hipertensi, perawat sebagai petugas kesehatan
memiliki peran dalam mengubah perilaku sakit yang diderita dalam rangka
menghindari suatu penyakit atau memperkecil resiko penyakit yang di derita.
Peran sebagai educator (pendidik), perawat membantu klien mengenal
kesehatan dan prosedur asuhan keperawatan yang perlu mereka lakukan guna
memulihkan atau memelihara kesehatannya. Dalam memberikan informasi
kesehatan, terkait dengan hipertensi tujuannya adalah meningkatkan
pengetahuan orang yang menderita hipertensi sehingga dapat meningkatkan
kesadaran akan pentingnya pencegahan penanganan hipertensi dan untuk
membentuk sikap yang positif agar dapat melakukan perawatan hipertensi
secara mandiri sehingga dapat mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi
(Sutrisno, 2013).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian
mengenai “Pengaruh Air Rebusan Seledri terhadap Tekanan Darah Pasien
Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan yang ingin
diteliti dan belum diketahuinya yaitu Pengaruh Air Rebusan Seledri terhadap
Tekanan Darah Pasien Hipertensi diwilayah Puskesmas Nagaswidak
Palembang.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh Air Rebusan Seledri terhadap Tekanan
Darah Pasien Hipertensi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tekanan darah pada pasien hipertensi sebelum
mengkonsumsi air rebusan seledri.
b. Mengidentifikasi tekanan darah pada pasien sesudah mengkonsumsi air
rebusan seledri
7

c. Untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap


perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi.

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini termasuk dalam area Keperawatan Medikal Bedah,
dilaksanakan untuk mengetahui Pengaruh Air Rebusan Seledri terhadap
Tekanan Darah Pasien Hipertensi. Penelitian ini menggunakan quasy
eksperimen dengan desain one group pre-test dan post-test yang bertujuan
untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap
tekanan darah pada penderinta hipertensi. Variabel dalam penelitian ini adalah
pengaruh air rebusan seledri sebagai variabel dependen sedangkan tekanan
darah sebagai variabel dependen. Responden dalam penelitian ini adalah
seluruh pasien yang menderita Hipertensi yang berkunjung atau berobat di
wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan Maret tahun 2022.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan total sampling.
Sampel dari penelitian ini berjumlah 28 orang penderita hipertensi. Analisis
pada penelitian mnggunakan analisis univariat untuk mengetahui rata-rata
tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi dengan air
rebusan seledri, kemudian analisa bivariat yang digunakan adalah uji t
dependen (uji parametrik) untuk mengetahui perbedaan rata-rata tekanan darah.

E. Manfaat Penulisan
1. Secara Teoritis
Bagi dunia ilmu keperawatan, agar dapat meningkatkan pengetahuan
mengenai pengaruh air rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah pada
pasien hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu bahan kajian
untuk memperkuat konsep teori atau ilmu yang terkait dengan terapi
komplementer pada penderita hipertensi.
8

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan informasi mengenai pemanfaatan Seledri
(Apium graveolens) terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi. dan
pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya dalam bidang
keperawatan medikal bedah, serta dapat di gunakan untuk melakukan
penelitian selanjutnya.
b. Bagi Insitusi Pendidikan
Penelitian dalam memberikan rekomendasi yang telah di teliti dan hasil
penelitian dapat di jadikan bahan mengajar dan sumber referensi dan riset
acuan untuk mahasiswa/i dibidang keperawatan medikal bedah khususnya
tentang pengaruh air rebusan seledri terhadap tekanan darah dalam penelitian
yang akan datang.
c. Bagi Lahan Penelitian
Sebagai bahan informasi, referensi dan perbandingan untuk lebih
memperluas serta mengembangkan penelitian ini dalam ruang lingkup yang
lebih kecil khususnya mahasiswa/i IKesT Muhammadiyah Palembang.
BAB II

TUJUAN PUSTAKA

A. Konsep Tekanan Darah


1. Definisi Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah terhadap dinding
pembuluh darah dan ditimbulkan oleh desakan darah terhadap dinding arteri
ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan (Hasnawati, 2021).
Tekanan darah adalah ukuran seberapa kuatnya jantung mempompa darah ke
seluruh tubuh agar kinerja tubuh maksimal. Umumnya, orang dewasa dengan
kondisi tubuh sehat memiliki tekanan darah di bawah atau setara 120/80 mm
Hg (Sumarna, 2019). Tekanan darah adalah tekanan pada pembuluh nadi dari
peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah dibedakan
menjadi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik (Sari, 2017).
Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah terhadap dinding
pembuluh darah dan ditimbulkan oleh desakan darah terhadap dinding arteri
ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Besar tekanan
bervariasi tergantung pada pembuluh darah dan denyut jantung. Tekanan darah
paling tinggi terjadi ketika ventrikel berkontraksi (tekanan sistolik) dan paling
rendah ketika ventrikel berelaksasi (tekanan diastolik), (Nuraini, 2015).

2. Fisiologi
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan resistensi pembuluh
darah perifer (tahanan perifer) curah jantung (cardiac output) adalah darah
yang dipompa oleh ventrikel ke dalam sirkulasi sistemik dalam waktu satu
menit, normalnya satu menit pada dewasa adalah 4-8 liter. Cardiac output
dipengaruhi oleh vena sekuncup (stroke perifer) pada pembuluh darah oleh jari
jari ateriol dan viskositas darah stroke volume atau volume sekuncup adalah
darah yang dipompa pada saat ventrikel berkontraksi normalnya pada orang
dewasa kurang lebih 70-75 ml atau dapat diartikan sebagai perbedaan volume
darah ventrikel pada akhir diastolik dan volume ventrikel pada akhir sistolik.
Heart rate atau dearajat denyut jantung adalah jumlah kontraksi ventrikel

9
10

permenit. Volume sekuncup dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu volume akhir


distolik ventrikel, beban akhir ventrikel (afterload), dan kontraktilitas jantung.
Tekanan darah gaya yang di timbulkan oleh darah terhadap dinding pembuluh.
Tekanan bergantung pada volume darah yang terkadang dalam pembuluh atau
distensibilitas pembuluh (seberapa mudah pembuluh tersebut direngangkan).
Darah mengalir dalam satu lingkungan tertutup antara jantung dan organ-
organ. Arteriol mengatur jumlah darah yaang mengalir ke masing masing
organ. Vena mengembalikan darah dari tingkat jaringan ke jantung. pengaturan
tekanan arteri rerata bergantung pada kontrol dua pintu utamanya ke jantung.
Pengaturan tekanan atri rerata bergantung pada dua pintu utamanya yaitu curah
jantung dan retensi perifer total. kontrol curah jantung sebaiknya bergantung
pada regulasi keepatan jantung dan isi sekuncup,sementara resistensi perifer
total terutama ditentukan oleh derajat vasokontriksi ateriol (Shewood, 2012).
Regulasi jangka pendek tekanan darah di tentukan oleh reflek
baroreseptor. Baroreseptor sinus karotis dan arteri aorta secara terus-menerus
memantau tekanan arteri rerata. Jika mendekati penyimpangan dari normal
maka kedua baroreseptor akan memberi sinyal ke pusat kardiovaskuler medula
yang berespon dengan menyesuaikan sinyal otonom ke jantung, dan pembuluh
darah untuk memulihkan tekanan darah kembali normal. Kontrol jangka
panjang tekanan darah menimbulkan pemeliharaan volume plasma yang sesuai
melalui kontrol ginjal atas keseimbangangaram dan air. Tekanan darah dapat
meningkat secara abnormal atau terlalu rendah (hipotensi) hipotensi yang berat
dan menetap yang meyebabkan kurang memadainya penyaluran darah secara
umum yang dikenal dengan syok sirkulasi (Shewood, 2012).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah

Faktor - faktor yang mempengaruhi tekanan darah tinggi menurut


(Arifin, 2012), yaitu yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.
Faktor yang dapat diubah yaitu diantaranya stress, berat badan, konsumsi
garam berlebih, dan kebiasaan merokok. Sedangkan faktor yang tidak dapat
diubah yaitu usia, jenis kelamin ,dan keturunan.
11

1) Usia
Faktor usia sangat berpengaruh karena dengan bertambahnya usia maka
semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Hal ini disebabkan oleh perubahan
perubahan alamiah di dalam tubuh yangmempengaruhi jantung, pembuluh
darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan
menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematu (Arifin,
2012).
2) Jenis Kelamin
Berdasarkan Journal of clinical Hypertension, Opari menyatakan bahwa
perubahan hormonal yang sering terjadi pada wanita menyebabkan wanita
lebih sering mengalami tekanan darah tinggi. Hal ini yang menjadikan wanita
lebih sering untuk terkena penyakit jantung (Shewood, 2012). Wanita diketahui
cenderung mempunyai tekanan darah tinggi dari pada laki-laki dengan usia
yang sama, hal ini sering dikaitkan dengan semakin berkurangnya hormon seks
wanita yang jumlahnya terus menurun setelah masa menopose dimana telah
diketahui hormon seks wanita seperti hormon esterogen bertanggung jawab
dalam mengurangi dan mencegah kekakuan arteri,endothelial dysfunction, dan
penumpukan lemak dalam darah (Arifin, 2012). Jenis kelamin sangat erat
kaitannya dengan tahap terjadinya hipertensi dimana pada masa muda dan
paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi pada laki-laki sedangkan pada
wanita lebih tinggi setelah umur 55 tahun, ketika seorang wanita mengalami
masa menopose (Medika, 20217).
3) Faktor Stres
Kondisi stress memnicu aktivitasi dari hipotalamus yang mengendalikan sistem
neuro endokrin, yaitu saraf simpatis korteksadrenal. Aktivitasi dari saraf
simpatis memicu peningkatan aktivasi berbagai organ dan otot polos salah
satunya meningkatkan kecepatan denyut jantung serta pelepasan epinefrin dan
nonepinefrin ke aliran darah oleh medula adrenal (Shewood, 2012). Stimulasi
aktivitas saraf simpatis akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer
dan curah jantung sehingga akan berdampak pada perubahan tekanan darah
yaitu peningkatan tekanan darah secara intermiten atau tidak menentu
(Sheewod, 2012) Hubungan antara stress diduga melalui aktivitas saraf
12

simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas.
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara
intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan dapat
mengakibatkan tekanan darah meningkat tinggi (Medika, 2017).
4) Kegemukan atau Kelebihan Berat Badan
Kegemukan merupakan ciri khas dari populasi hipertensi dan dibuktikan
bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan terjdinya hipertensi di
kemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan
hipertensi esensial, tetapi penyeledikan membuktikan bahwa daya pompa
jantung dan sirkulasi volume penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi
dibandingkan dengan penderita dengan memiliki berat badan normal. Terbukti
dengan adanya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderitaobesitas
dengan hipertensi lebih tinggi dari pada penderita hipertensi dengan berat
badan yang normal (Medika, 2017).
5) Merokok
Merokok merupakan aktivitas menghisap tembakau yang dibakar kedalam
tubuh lalu menghembuskan keluar. Merokok merupakan salah satu kebiasaan
hidup yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Rokok yang dihisap dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Hal tersebut dikarenakan, rokok
mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh darah
ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok setiap hari akan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah sitolik 10-20 mmHg dan
meningkatkan detak jantung 5-20 kali permenit (Wicaksana,2019).
6) Medikasi (obat-obatan)
Beberapa obat mempengaruhi tekanan darah secara lansung maupun tidak
langsung. Kelas obat yang mempengaruhi tekanan darah adalah analgesik
opioid yang dapat menurunkan tekanan darah. Vasokonstriksi dan asupan
cairan intravena yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah (Medika,
2017).
7) Etnik
Insiden hipertensi pada ras Afrika Amerika lebih tinggi dibandingkan
keturanan Eropa. Ras Afrika Amerika cenderung menderita hipertensi yang
13

lebih berat pada usia yang lebih muda dan memiliki resiko dua kali lebih besar
untuk menderita komplikasi seperti stroke dan serangan jantung. Faktor genetik
dan lingkungan merupakan faktor yang cukup besar mempengaruhi. Kematian
dengan hipertensi juga lebih tinggi pada ras Afrika Amerika (Wicaksana,2019).

4. Cara Mengukur Tekanan Darah


Prosedur pengukuran tekanan darah alat dan bahan ada tensimeter digital
atau tensimeter manual (air raksa) dan manset besar.
a. Cara Pengukuran menggunakan Tensi Meter Digital
1. Tekan tombol “STARS/STOP” untuk mengaktifkan alat.
2. Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden sebaiknya
menghindar kegiatan aktifitas fisik seperti olahraga, merokok, dan makan
minimal 30 menit sebelum pengukuran. Dan juga duduk beristirahat
setidaknya 5-15 menit sebelum pengukuran.
3. Hindari melakukan pengukuran dalam kondisi stres. Pastikan responden
duduk dengan posisi kaki menyilang tetapi kedua telapak kaki datar
menyentuh lantai. Letakan lengan kanan responden diatas meja sehingga
mancet yang sudah terpasang sejajar dengan jantung responden.
4. Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden dan
memintak untuk tetap duduk tanpa banyak gerak dan tidak berbicara
pada saat pengukuran. Apabila responden menggunakan baju berlengan
pajang, singsingkan lengan baju keatas tapi pastikan lipatan baju tidak
terlalu ketat sehingga tidak menghambat aliran darah di lengan.
5. Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan terbuka
ke atas pastikan tidak ada lekukan pada pipa manset.
6. Jika pengukuran selesai, manset akan mengempis kembali dan hasil
pengukuran akan muncul. Alat akan menyimpan hasil pengukuran secara
otomatis.
7. Tekan “START/STOP” untuk mematikan alat, jika anda lupa untuk
mematikan alat makan alat akan mati dengan sendirinya dalam 5 menit.
8. Prosedur penggunaan manset dengan memasukan ujung pipa manset
pada bagian alat.
14

9. Perhatikan arah masuknyaperekat manset, pakai manset perhatikan arah


selang dan patistikan selang sejajar dengan dengan jari tengah posisi
lengan terbuka keatas.
10. Jika manset sudah terpasang dengan benar, rekatkan manset sehingga
menghasilkan pengukuran yang akurat.
11. Pada formulir hasil pengukuran dan periksaan, pengukur dilakukan dua
kali jika jarak antara kedua pengukur sebaiknya antara 2menit dengan
melepaskan manset pada lengan.
12. Apabila hasil pengukuran satu dan kedua terdapat selisih > 10mmHg,
ulangi pengukuran ketiga setelah istirahat selama 10 menit dengan
melepaskan mancet pada lengan.
13. Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan
posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut dilembar catatan.

b. Cara Pengukuran menggunakan Tensi Meter Manual (Air Raksa)


Tekanan darah umumnya diukur dengan alat yang di sebut
sphygnomanometer atau biasa dikenal dengan tensimeter. Sphygmanometer
terdiri dari sebuah pompa, sebuah pengukuran tekanan, dan sebuah manset
karet. Alat ini mengukur tekanan darah dalam unit yang disebut milimeter air
raksa (mmHg). (Wicaksana,2019), pengukuran tekanan darah dapat dilakukan
dengan langkah langkah berikut ini:
1. Kaji tempat paling baik untuk melakukan pengukuran tekanan darah.
2. Siapkan sphygmomanometer dan stetoskop serta alat tulis.
3. Anjurkan pada pasien untuk menghindari kafein dan merokok 30 menit
sebelum pengukuran.
4. Bantu pasien mengabil posisi duduk atau berbaring.
5. Posisikan lengan atas setinggi jantung dan telapak tangan menghadap ke
atas.
6. Gulung lengan baju bagian atas.
7. Palpasi arteri brankialis dan letakan manset yang masih kempis, pasang
manset dengan rata dan pas di sekililing lengan atas.
15

8. Pastikan sphygmomanometer di posisikan secara vertikal sejajar dengan


mata pengamat dan pengamat tidak boleh lenih jauh dari 1 meter.
9. Letakan earpieces stetoskop pada telinga dan pastikan bunyi jelas, tidak
redup (muffled).
10. Ketahui letak arteri brakialis dan letakan belt atau diafragma chestpice
diatasnya serta jangan menyentuh manset atau baju pasien.
11. Tutup kuyup balon, tekan searah jarum jam sampai kencang.
12. Gembungkan manset 30 mmHg diatas tekanan sistolik yang dipalpasi
kemudian dengan perlahan lepaskan dan biasrkan air raksa turun dengan
kecepatan 2-3 mmHg per detik.
13. Catat titik pada manometer saat bunyi pertama jelas terdengar.
14. Lanjutkan mengempiskan manset, catat titik pada manometer sampai 2
mmHg terdekat atau saat bunyi tersebut hilang.
15. Kempeskan manset dengan cepat dan sempurna. Buka manset lengan
kecuali jika ada rencana untuk mengulang.
16. Bantu pasien kembali ke posisi yang nyaman dan rapikan kembali lengan
atas serta beritahu hasil pengukuran pada pasien.
Beberapa hal yang perli diketahui berkaitan dengan pengukuran tekanan
darah, yaitu bahwa hasil pengukuran tekanan darah bisa “tidak benar”akibat
minum kopi atau minum beralkohol akan meningkatkan tekanan darah dari
nilai sebenarnya. Demikian juga merokok, rasa cemas (tegang), terkejut, sress,
ingin kencing, karena kandung kemih penuh, juga dapat meningkatkan
tekanan darah. Oleh karena itu, sbelum melakukan pengukuran tekanan darah,
sebaiknya:
a) Buang air kecil terlebih dahulu (kosongkan kandung kemih)
b) Tidak minum kopi atau minuman beralkohol dan tidak merokok
c) Sebaiknya tenangkan pikiran dan perasaan, misalnya dengan duduk
santai selama lebih kurang limat menit. Duduklah dengan menapakan
kaki di lantai atau di injakan kaki dan sandarkanpunggung, injakan
kaki dan sadaran punggung akan membantu untuk rileks dan
memberikan hasil pengukuran tekanan darah yang lebih akurat agar
pengukuran tekanan darah yang dilakukan hasilnya valid, maka harus
16

diperhatikan validitas alat pengukuran tekanan darah, terutama alat


pengukuran tekanan darah dirumah (ATDR)
Sumber: Panduan Peringatan Hari Kesehatan Sedunia 7 April 2013

B. Konsep Hipertensi
1. Definisi Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal


tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari
jantung dan memompa keseluruh jaringan dan organ tubuh secara terus–
menerus lebih dari suatu periode. Secara umum, seseorang dianggap mengalami
hipertenti apa bila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90mmHg. Hipertensi
juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih
dari 120mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Tekanan darah yang
selalu tinggi merupakan salah stu risiko utama penyebab stroke, serangan
jantunga, gagal jantung kronis dan aneurisma arterial (Anies, 2018).

Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan
tekanan darah diastolik ≥90 mmHg setelah pemeriksaan berulang baik di klinik
maupun di rumah (Thomas et al., 2020). Secara umum hipertensi merupakan
penyakit tanpa gejala, namun apabila sudah progresif akan mengakibatkan
keadaan serius seperti kompikasi ginjal, jantung, mata dan organ vital lainnya
(Kurniawan & Sulaiman, 2019). Namun apabila terdapat gejala biasanya
hampir sama dengan penyakit lainnya, seperti sakit kepala, sepat lelah,
penglihatan kabur, telinga berdenging, rasa berat di tengkuk dan lainnya
(Nada,2020).

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah


meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung berkerja
lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi
tubuh. Jika di biarkan, penyakit ini dapat menganggu fungsi organ-organ lain,
terutama organ organ vital seperti jantung dan ginjal (Riskesdaas, 2013).
Dimana hipertensi dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung, stroke,
gagal ginjal kronik, kematian premature, dan kecacatan dalam (Indah, 2019).
17

2. Anatomi Jantung
a. Letak Jantung

Gambar 2.1 : Anatomi jantung

Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017

Jantung adalah organ berotot, berbentuk kerucut, dan puncaknya terletak


dibawah dan cendrung miring kesebelah kiri, memiliki berat sekitar 300 gr
yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, dan beratnya aktifitas
fisik. Jantung dewasa normal berdetak sekitar 60 sampai 80 kali per menit,
yang menyemburkan sekitar 70 ml darah dari kedua ventrikel per detakan, dan
keluaran totalnya sekitar 5 L/ menit (Smeltzer and Bare, 2012). Sedangkan
menurut (Syarifudin, 2006) menyatakan bahwa bentuk jantung menyerupai
jantung pisang, bagian atasnya tumpul yang disebut dengan basis kordis,
Ukurannya lebih kurang sebesar kepalan tangan dan memiliki berat sekitar
250- 300 gr.
18

Gambar 2.2 : Letak jantung

Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017

Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada (toraks),


diantara kedua paru. Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang
terdiri atas 2 lapisan, yaitu perikardium parietalis, merupakan lapisan luar yang
melekat pada tulang dada dan selaput paru. Dan perikardium viseralis yaitu
lapisan permukaan dari jantung itu sendiri yang juga disebut epikardium. Di
dalam lapisan jantung tersebut terdapat cairan perikardium, yang berfungsi
untuk mengurangi gesekan yang timbul akibat gerak jantung saat memompa.
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan luar yang disebut
perikardium, lapisan tengah atau miokardium merupakan lapisan berotot, dan
lapisan dalam disebut endokardium (Timurawan, 2017).

b. Lapisan Jantung
Jantung dilapisi oleh selaput yang kuat, dan dikelilingi oleh rongga
perikardium yang terdiri oleh 2 lapisan perikardum yang diantaranya
perikardium viseralis (epikardium) dan lapisan paritalis, bagian luar
perikardium terdapat pembuluh darah besar dan diletakkan oleh ligament
pada kolumna vertebralis, diafragma, dan bagian- bagian jaringan lain di
dalam rongga mediastinum (Yudha, 2017). Menurut (Aaronson, 2010)
Jantung memiliki tiga lapisan dan masing-masing lapisan memiliki
fungsi yang berbeda, diantaranya yaitu:
19

1) Perikardium, merupakan selaput-selaput yang mengitari jantung yang


terdiri atas dua lapisan, yaitu: Perikardium parietalis (lapisan luar
yang melekat pada tulang dada dan selaput paru).
Perikardium visceralis (lapisan permukaan dari jantung yang disebut
epikardium). Diantara kedua lapisan diatas, terdapat 50 cc cairan
perikardium yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak terjadinya
gesekan antara perikardium dan epikardium yang timbul akibat gerak
jantung saat memompa
2) Miokardium, merupakan lapisan tengah (lapisan inti) dari jantung dan
paling tebal serta terdiri dari otot-otot jantung. Fungsinya ialah
kontraksi jantung;
3) Endokardium, merupakan lapisan terluar yang terdiri dari jaringan
endotel
c. Katup-katup Jantung

Gambar 2.3 : Katup jantung


Sumber: Pusdik Sumber Daya Manusia Kesehatan,2017.

Jantung memiliki beberapa katup – katup yang sangat penting dalam susunan
peredaran darah dan pergerakan jantung :

1) Valvula Trikuspidalis, terdapat diantara atrium dekstra dengan


ventrikel dekstra yang terdiri dari 3 katup
2) Valvula Bikuspidalis, terletak diantara atrium sinistra dengan ventrikel
sinistra yang terdiri dari 2 katup
20

3) Valvula Semilunaris Arteri Pulmonalis, terletak antara ventrikel


dekstra dengan arteri pulmonalis , tempat darah mengalir keparu -
paru
4) Valvula Semilunaris Aorta, terletak antara ventrikel sinistra dengan
aorta tempat darah mengalir menuju ke seluruh tubuh (Syaifuddin,
2006).
d. Siklus Jantung Dan Peredaran Darah
Siklus jantung termasuk dalam bagian dari fisiologi jantung itu
sendiri. Jantung ketika bekerja secara berselang-seling berkontraksi
untuk mengosongkan isi jantung dan juga berelaksasi dalam rangka
mengisi darah kembali. siklus jantung terdiri atas periode sistol
(kontraksi dan pengosongan isi) dan juga periode diastol (relaksasi dan
pengisian jantung). Atrium dan ventrikel mengalami siklus sistol dan
diastol terpisah. Kontraksi terjadi akibat penyebaran eksitasi (mekanisme
listrik jantung) ke seluruh jantung. Sedangkan relaksasi timbul setelah
repolarisasi atau tahapan relaksasi dari otot jantung. Peredaran Darah
Jantung, Vena kava superior dan vena kava inferior mengalirkan darah ke
atrium dekstra yang datang dari seluruh tubuh. Arteri pulmonalis
membawa darah dari ventrikel dekstra masuk ke paru-paru (pulmo).
Antara ventrikel sinistra dan arteri pulmonalis terdapat katup valvula
semilunaris arteri pulmonalis. Vena pulmonalis membawa darah dari
paru-paru masuk ke atrium sinitra. Aorta (pembuluh darah terbesar)
membawa darah dari ventrikel sinistra dan aorta terdapat sebuah katup
valvula semilunaris aorta.
3. Fisiologi Jantung
Fungsi jantung adalah memompa darah ke paru-paru dan seluruh
tubuh untuk memberikan sari-sari makanan dan 𝑂2 hingga terjadi
metabolisme. Pembuluh arteri dan vena berfungsi sebagai pipa yaitu
bertugas menyalurkan darah dari jantung keseluruh jaringan tubuh,
perbedaan mendasar pada arteri dan vena terdapat pada susunan
histoanatomi yang menunjang fungsinya masing-masing (Yudha, 2017).
Menurut (Kadir, 2019) Pemisahan ini sangat penting karena separuh
21

jantung kanan menerima dan juga memompa darah yang mengandung


oksigen rendah sedangkan sisi jantung sebelah kiri adalah berfungsi
untuk memompa darah yang mengandung oksigen tinggi. Jantung terdiri
dari beberapa ruang jantung yaitu atrium dan ventrikel yang masing-
masing dari ruang jantung tersebut dibagi menjadi dua yaitu atrium
kanan dan kiri, serta ventrikel kiri dan kanan. Berikut fungsi dari bagian-
bagian jantung yaitu :
a. Atrium
Atrium kanan terletak dibagian superior kanan jantung, fungsinya
adalah menerima darah dari seluruh jaringan kecuali paru-paru. Vena
cava superior dan vena cava inferior membawa darah yang tidak
mengandung oksigen dari tubuh kembali ke jantung. Sinus koroner
membawa kembali darah dari dinding jantung itu sendiri. Sedangkan
atrium kiri terletak dibagian superior kiri jantung, berukuran lebih
kecil dari atrium kanan, tetapi dindingnya lebih tebal. Atrium kiri
menampung empat vena pulmonalis yang menggembalikan darah ter
oksigenisasi (darah yang kaya oksigen) dari paru-paru. Ventrikel
berdinding tebal dan bertugas mendorong darah keluar jalan menuju
arteri (Ardiansyah,2012)
b. Ventrikel
Ventrikel kanan terletak dibagian inferior kanan pada apeks jantung.
Darah meninggalkan ventrikel kanan melalui trunkus pulmonal dan
mengalir melewati jarak yang pendek menuju paru-paru. Sedangkan
ventrikel kiri terletak dibagian inferior kiri pada apeks jantung. Tebal
dindingnya tiga kali lebih tebal dari dinding ventrikel kanan. Darah
meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta dan mengalir keseluruh
bagian tubuh kecuali paru-paru (Ardiansyah,2012).
4. Etiologi
Menurut (Indah, 2019) penyebab hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu:
1). Hipertensi Esensial atau Primer
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi
esensial sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. Onset
22

hipertensi primer terjadi pada usia 30-50 tahun. Hipertensi primer adalah
suatu kondisi hipertensi dimana penyebab sekunder dari hipertensi tidak
ditemukan.

Genetik dan ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya


hipertensi primer, termasuk faktor lain yang diantaranya adalah faktor
stres, intake alkohol moderat, merokok, lingkungan, demografi dan gaya
hidup.

2). Hipertensi Sekunder


Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui,
antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tidoid
(hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme). Golongan
terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensi esensial, maka
penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditunjukan ke penderita
hipetensi esensial (Medika,2017).

5. Tanda dan Gejala


Menurut (Indah, 2019) tanda dan gejala, yaitu:
1). Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungakan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

2). Gejala yang lazim


Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kabanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu (Yanita,2017) :

a) Mengeluh Sakit Kepala, Pusing


b) Lemas, Kelelahan
c) Sesak Nafas
23

d) Kesadaran Menurun
e) Mual
f) Muntah
g) Epistaksis
h) Gelisah

6. Faktor Risiko

Pada kejadian hipertensi, faktor resiko dibagi menjadi dua kelompok


yaitu faktor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah
(Sari, 2017).
1). Faktor risiko yang tidak dapat diubah
a). Usia
Usia merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi yang tidak
dapat diubah. Pada umumnya, semakin bertambahnya usia maka semakin
besar pula resiko terjadinya hipertensi. Hal tersebut disebabkan oleh
perubahan struktur pembuluh darah seperti penyempitan lumen, serta
dinding pembuluh darah menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang
sehingga meningkatkan tekanan darah. Menurut beberapa penelitian,
terdapat kecenderuan bahwa pria dengan usia lebih dari 45 tahun lebih
rentan mengalami peningkatan tekanan darah, sedangkan wanita cenderung
mengalami peningkatan tekanan darah pada usia di atas 55 tahun
(Sari,2017).
b). Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi yang
tidak dapat diubah. Dalam hal ini, pria cenderung lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan dengan wanita. Hal tersebut terjadi karena adanya
dugaan bahwa pria memiliki gaya hidup yang kurang sehat jika
dibandingkan dengan wanita. Akan tetapi, prevalensi hipertensi pada wanita
mengalami peningkatan setelah memasuki usia menopause. Hal tersebut
disebabkan oleh adanya perubahan hormonal yang dialami wanita yang
telah menopause (Medika,2017).
24

c). Keturunan (Genetik)


Keturunan atau genetik juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya
hipertensi yang tidak dapat diubah. Risiko terkena hipertensi akan lebih
tinggi pada orang dengan keluarga dekat yang memiliki riwiyat hipertensi
(Triyanto,2014). Selain itu, faktor keturunan juga dapat berkaitan dengan
metabolisme pengaturan garam (Nacl) dan renin membran sel.
2) Faktor risiko yang dapat diubah
a) Obesitas
Obesitas merupakan suatu keadaan penumpukan lemak berlebih dalam
tubuh. Obesitas dapat diketahui dengan mengukur Indeks Massa Tubuh
(IMT). IMT adalah perbadingan antara berat badan dalam kilogram tinggi
badan dalam meter kuadrat. Pengukuran IMT biasanya dilakukan pada
orang dewasa usia 18 tahun ke atas. IMT dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut.
Indeks Massa Tubuh (IMT) = Berat badan (Kg)
Tinggi badan (m2)
Obesitas dapat memicu terjadinya hipertensi akibat terganggunya aliran
darah. Dalam hal ini, orang dengan obesitas biasanya mengalami
peningkatan kadar lemak dalam darah (hiperlipidemia) sehingga berpotensi
menimbulkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Penyempitan
terjadi akibat penumpukan palkateromosa yang berasal dari lemak.
Penyempitan tersebut memicu jantung untuk berkerja memompa darah lebih
kuat agar kebutuhan oksigen dan zat lain yang dibutuhkan oleh tubuh dapat
terpenuhi. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah meningkat
(Medika,2017).
Muhadi (2016) dalam JNC 8: Evidence-based Guide-Line Penanganan
Pasien Hipertensi Dewasa menyatakan bahwa penurunan berat badan dapat
mengurangi tekanan darah sistolik 5-20 mmHg/penurunan 10 kg. Untuk itu,
penting untuk penderita hipertensi untuk menghindari makanan berlemak,
menerapkan makanan tinggi serat, dan olahraga rutin (Sari,2017).
25

b) Merokok
Merokok juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya hipertensi.
Merokok dapat menyebabkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk
disuplai ke otot jantung mengalami peningkatan. Bagi penderita yang
memiliki aterosklerosis atau penumpukan lemak pada pembuluh darah,
merokok dapat memperparah kejadian hipertensi dam berpotensi pada
penyakit degeneratif lain seperti stroke dan penyakit jantung (Medika,2017).
c) Komsumsi Alkohol dan Kafein berlebihan
Alkohol juga diketahui menjadi salah satu faktor risiko terjadinya
hipertensi. Hal tersebut diduga akibat adanya peningkatan kadar kortisol,
peningkatan volume sel darah merah, dan kekentalan darah yang
mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Sementara itu, kafein diketahui
dapat membuat jantung berpacu lebih cepat sehingga mengalirkan darah
lebih banyak setiap detik. Akan tetapi, dalam hal ini, kafein memiliki reaksi
yang berbeda pada setiap orang (Medika,2017).
d) Konsumsi Garam Berlebih
Sudah banyak diketahui bahwa konsumsi garam berlebih dapat
menyebabkan hipertensi. Hal tersebut dikarenakan (Nacl) mengandung
natrium yang menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan sehingga
menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh. Hal inilah yang membuat
peningkatan volume dan tekanan darah (Medika, 2017).
e) Stress
Stress juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya hipertensi. Kejadian
hipertensi lebih besar terjadi pada individu yang memiliki kecenderungan
stres emosional. Keadaan seperti tertekan, murung, takut, dan rasa bersalah
dapat merangsang timbulnya hormon adrenalin dan memicu jantung
berdetak lebih kencang sehingga memicu peningkatan tekanan darah
(Medika,2017).
f) Keseimbangan hormonal
Keseimbangan hormonal antara estrogen dan progresteron dapat
mempengaruhi tekanan darah. Dalam hal ini, wanita memiliki estrogen yang
berfungsi mencegah terjadinya pengentalan darah dan menjaga dinding
26

pembuluh darah. Jika terjadi ketidakseimbangan maka dapat memicu


gangguan pada pembuluh darah. Gangguan tersebut berdampak pada
peningkatan tekanan darah. Gangguan keseimbangan hormonal dapat terjadi
pada penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti pil KB (Medika,2017).

7. Klasifikasi

Batas normal tekanan darah adalah tekanan darah sistolik kurang dari
120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang
yang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg
dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Berdasarkan The Joint National
Commite VIII (2019) tekanan darah dapat diklasifikasikan berdasarkan usia
dan penyakit tertentu. Diantaranya adalah:
Tabel 2.1
Batasan Hipertensi Berdasarkan The Joint National Commite VIII (Indah, 2019).
Batasan Tekanan Darah Kategori
≥150/90 mmHg Usia ≥60 tahun tanpa penyakit diabetes dan
cronic kidney disease
≥140/90 mmHg Usia 19-59 tahun tanpa penyakit penyerta
≥140/90 mmHg Usia ≥18 tahun dengan penyakit ginjal
≥140/90 mmHg Usia ≥18 tahun dengan penyakit diabetes
Sumber: The Joint National Commite VIII (2019).
American Heart Association (2019) menggolongkan hasil pengukuran tekanan darah
menjadi:

Tabel 2.2
Kategori Tekanan Darah Berdasarkan American Heart Association
Kategori tekanan darah Sistolik Diastolik
Normal <120 mmHg < 80 mmHg
Prehipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage 1 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Hipertensi stage 2 ≥ 160 mmHg ≥ 100 mmHg
Hipertensi stage 3 ≥ 180 mmHg ≥ 110 mmHg
(keadaan gawat)
Sumber: American Heart Assosiation (Indah, 2019).
27

8. Patofisiologi

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui


beberapa cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan
lebih banyak cairan pada setiap detiknya arteri besar kehilangan
kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang
pada saat jantung memompa darah melalui arteri tesebut. Darah pada setiap
denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit dari biasanya
dan menyebabkan naiknya tekanan.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat
terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara
waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume
darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaiknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri
mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkualsi, maka tekanan
darah akan menurun. Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut
dilaksanakan oleh perubahaan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otom
(bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara
otomatis). Perubahan fungsi ginjal, ginjal mengendalikan tekanan darah
melalui beberapa cara: jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah
pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume
darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembungan
garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah
kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan
menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pelepasan hormon
aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan
darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal dapat
menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri
yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan
28

hipertensi. Peradangan atau cidera pada salah satu atau kedua ginjal juga
bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom
yang untuk sementara waktu akan meningkatkan tekanan darah selama
respon (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar); meningkatkan
kecepatan dan kekuatan denyut jantung; dan juga mempersempit sebagian
besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya
otot rangka yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak);
mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan
meningkatkan volume darah dalam tubuh; melepaskan hormon epinefrin
(adrenalin) dan neropinefrin (nonadrenalin), yang merangsang jantung dan
pembuluh darah. Faktor stres merupakan satu faktor pencetus terjadinya
peningkatan tekanandarah dengan proses pelepasan hormon epinefrin dan
norepinefrin.

9. Manifestasi Klinis

Yanita (2017) menjelaskan gejala klinis yang di alami oleh para


penderita hipertensi biasanya berupa : pusing, mudah marah, telinga
berdengung, susah tidur, sesak napas, rasa berat pada tengkak, mudah lelah,
mata berkunang, dan mimisan (jarang dilaporkan). Individu yang menderita
hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun tahun. Gejala
muncul jika ada kerusakan vaskuler dengan manifestasi khas sesuai sistem
organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah yang bersangkutan.
Sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun
tahun berupa nyeri kepala, kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan intrakranial. Pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai
perubahan retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan),
penyempitan pembuluh darah, edema pupil (edema pada diskus peptikus).
Gejala lain umumnya terjadinya pada penderita hipertensi yaitu pusing,
muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk
pegal dan lain lain.
29

10. Komplikasi

Jika hipertensi tidak dikendalikan akan muncul dampak pada


timbulnya komplikasi penyakit lain diantaranya dapat menyebabkan
kerusakan pada ginjal, stroke, infark miokard, gagal jantung, dan gangguan
mata. Berikut adalah komplikasi yang dapat terjadi (Yanita, 2017) :
1. Ginjal
Kerusakan bagian dalam arteri atau pembekuan darah yang terjadi pada
ginjal akibat hipertensi dapat menyebabkan penurunan bahkan kegagalan
fungsi pada ginjal. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan
progresif pada kapiler dan glomelurus ginjal. Kerusakan yang terjadi
pada glomelurus mengakibatkan darah mengalir ke unit fungsional ginjal.
Hal tersebut menyebabkan terganggunya nefron dan terjadi hipoksia,
bahkan kematian ginjal (Yanita,2017).
2. Stroke
Stroke adalah kondisi ketika terjadi kematian sel pada suatu area di otak.
Hal ini dapat terjadi akibat terputusnya pasokan darah ke otak yang
disebabkan oleh penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah tersebut dapat disebabkan
oleh berbagai hal seperti aterosklerosis dan hipertensi yang tidak
terkontrol. Stroke biasanya terjadi secara mendadak dan dapat
menyebabkan kerusakan otak.
3. Penyakit Jantung
Jantung dapat bekerja dengan baik karena adanya suplai oksigen,
cadangan energi dan nutrisi, serta pembuangan produk yang berbahaya.
Jika salah satu dari ketida syarat tersebut terganggu maka jantung akan
kehilangan fungsinya untuk memompa darah secara efektif. Tekanan
darah tinggi dapat membuat otot jantung bekerja lebih keras untuk
memompa darah. Kerja keras tersebut menyebabkanpembesaran ukuran
jantung sehingga suplai oksigen tidak cukup memenuhinya. Hal tersebut
menyebabkan gangguan aliran oksigen dan terjadilah serangan jantung,
bahkan gagal jantung (Yanita,2017). Kekurangan oksigen tersebut juga
dapat terjadi akibat pemebekuan darah dan penumpukan lemak pada
30

dinding pembuluh darah sehingga pembuluh darah menjadi kaku dan


sempit (aterosklerosis). Selain itu, adanya aterosklerosis juga
menyebabkan penyempitan dan penyumbatan pada pembuluh darah,
sehingga jantung bekerja lebih keras dalam memompa darah
(Medika,2017).
4. Kerusakan Mata
Kerusakan mata hingga kebutaan juga dapat terjadi akibat hipertensi.
Dalam hal ini tekanan darah yang tinggi atau hipertensi yang
berkepanjangan dapat merusak bagian dalam arteri pada area mata dan
memungkinkan untuk terjadinya pembekuan darah. Jika hal ini terjadi
pada retina mata maka dapat meyebabkan kerusakan mata atau retinopati
hingga kebutaan.
5. Infark Miokard
Infak miokard dapat terjadi apabila ateri koroner yang arteriosklerosis
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokadium atau apabila
terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh
darah tersebut (Yanita,2017). Hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel,
maka kebutuhan oksigen di miokardium tidak dapat terpenuhi dan dapat
menyebabkan iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga
hipertrovi ventrikel dapat menimbulkan perubahan perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia
jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Medika,2017).

11. Pemeriksaan Penunjang

Menurut (Nurarif & Kusuma, 2015) pemeriksaan penunjang dari hipertensi


terdiri dari:
1). Pemeriksaan Laboratorim
a). Hb/Ht
Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas)
dan dapat mengidentifikasi faktor resiko seperti hipokoagulasitas, anemia.
b). BUN/kretinin
Memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
31

c). Glukosa
Hiperglikemia (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
pengeluaran kadarketokolamin.
d). Urinalisa
Darah, protein, glukosa, mengisaratkan difungsi ginjal dan ada DM.
2). CT scan
Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
3).EKG
Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P
adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
4).IUP
Mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti: batu ginjal, perbaikan ginjal.
5).Photo dada
Menunjukan destruksi kalfikasi pada area katup, pembesaran jantung.

12. Penatalaksanaan Hipertensi

Penanganan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1). Pengobatan Farmokologi


a). Diuretik (hidroklorotiazid)
Mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume cairan ditubuh berkurang
yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
b).Penghambat simpatetik (metildopa, klonidin dan reserpin)
Menghambat aktivitas saraf simpatis.
c).Vasodilator (prasosin, hidralasin)
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos
pembuluh darah.
d).Antagonis kalsium ( diltiasem dan verapamil)
Menghambat kontraksi jantung.
2). Penatalaksanaan Nonfarmakologi
Penatalaksanaan hipertensidengan nonfarmakologis terdiri dari berbagai
macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu:
32

a) Mempertahankan berat badan ideal


Mempertahankan berat badan ideal sesuai body mass index (BMI)
dengan rentang 18,5-24,9 kg/m2.
b) Kurangi asupan natrium
Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet rendah
garam yaitu tidak lebih dari 100 mmo/ hari (kira-kira 6 gr NaCl atau 2,4
gr garam/ hari.
c) Batasi konsumsi alkohol
Radmarssy mengatakan bahwa konsumsi alkohol harus dibatasi karena
komsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Para
peminum berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih
besar dari pada mereka yang tidak minum alkohol.
d) Makan K dan Ca cukup dari diet
Pertahankan asupan diet potassium (> 90 mmol (3500 mg)/ hari) dengan
cara konsumsin diet tinggi buah dan sayur dan diet rendah lemak dengan
cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak otal. Kalium dapat
menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah natrium yang
terbuang bersama air kencing.
e) Menghindari merokok
Merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan timbulnya
hipertensi, tetapi merokok dapat menimngkatkan resiko komplikasi pada
pasien hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke, maka perlu
dihindari mengkomsumsi tembakau (rokok) karena dapat memperberat
hipertensi.
f) Penurunan stress
Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun jika
episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan sementara
yang sangat tinggi.
g) Terapi massase
Pada prinsipnya pijat yang dilakukan pada penderita hipertensi adalah
untuk memperlancar aliran energi dalam tubuh sehingga gangguan
hipertensi dan komplikasinya dapat diminimalisir, ketika semua jalur
33

energy terbuka dan aliran energy tidak lagi terhalang oleh ketegangan
otot dan hambatan lain maka resiko hipertensi dapat ditekan.
h) Terapi Komplementer
Pengobatan tradisional atau komplementer alternatif telah menjadi salah
satu rencana strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010-2014 Keputusan
Menteri Kesehatan [Link]/03.01/160/2010 dengan harapan
meningkatnya pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan tradisional
atau komplementer alternatif. Selain itu, di dalam SK Menkes
[Link].02.02/MENKES/148/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan
Praktik Perawat disebutkan dalam pasal 8 ayat 3 (c) bahwa terapi
komplementer merupakan bagian dari praktik keperawatan (Kepmenkes,
2014).

C. Konsep Seledri
1. Definisi Seledri

Gambar Seledri 2.4

Sumber: (Indah, 2019).

Seledri (Apium graveolens L.) adalah sayuran daun dan tumbuhan


obat yang bisa digunakan sebagai bumbu masakan. Di Indonesia tumbuhan
ini diperkenalkan oleh penjajah Belanda dan digunakan daunnya untuk
menyedapkan sup atau sebagai lalap (Indah, 2019).
Seledri merupakan salah satu dari jenis terapi herbal untuk menangani
penyakit hipertensi. Masyarakat Cina tradisional sudah lama menggunakan
seledri untuk menurunkan tekanan darah. Seledri memiliki kandungan yang
lebih banyak untuk menurunkan tekanan darah dari pada tumbuhan lain
34

yang dapat juga digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. seledri
memiliki kandungan apigenin yang sangat bermanfaat untuk mencegah
penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Apigenin dalam
daun seledri berfungsi sebagai beta blocker yang dapat memperlambat detak
jantung dan menurunkan kekuatan kontraksi jantung sehingga aliran darah
yang terpompa lebih sedikit dan tekanan darah menjadi berkurang. Manitol
dan apiin, serta bersifat diuretik yaitu membantu ginjal mengeluarkan
kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga berkurangnya cairan
dalam darah akan menurunkan tekanan darah. (Maya Apriyanti, 2014).

2. Kandungan Seledri

Seledri mengandung mineral seperti kalsium, protein, karbohidrat,


natrium, tembaga, magnesium, besi, seng, serat, dan kalium. Tanaman ini
juga mengandung asam lemak dan vitamin termasuk vitamin A, C, D, B6,
B12 dan vitamin K. seledri juga kaya akan kandungan flavaniod, fitosterol,
apigenin, dan apiin (Yohana dan Yovita, 2013).

3. Seledri dalam Hubungan Penurunan Tekanan Darah

Unsur-unsur yang terdapat dalam seledri yang dapat menurunkan


tekanan darah adalah flavanoid, fitosterol, apigenin, apiin, vitamin k, dan
vitamin c yang dapat berperan pada efek diuretik dan mempertahankan
elastisitas pembuluh darah. Dengan demikian seldri memiliki peranan
mekanisme dalam penurunan tekanan darah (Yosi, et al.,2021).
1. Apigenin yang terdapat di seledri sangat bermanfaat untuk mencegah
penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi.
2. Flavoniod : flavonoid dapat menghalau penyakit degeneratif. Flavonoid
dapat bertindak sebagai quencer atau penstabil oksigen. Salah satu
flavonoid yang berkhasiat seperti itu adalah quercetin. Senyawa ini
beraktivitas sebagai antioksidan dengan melepaskan atau
menyumbangkan ion hidogen kepada radikal bebas peroksi agar menjadi
lebih stabil. Aktivitas tersebut menghalangi reaksi oksidasi kolesterol
35

jahat (LDL) yang menyebabkan darah mengental, sehingga mencegah


pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah (Yosi, et al.,2021).
3. Vitamin C dapat memperkuat otot jantung, vitamin C berperan penting
melalui proses metabolisme kolestrol, karena dalam proses metabolisme
kolesterol vitamin C dapat meningkat laju kolesterol yang dibuang dalam
bentuk asam empedu dan mengatur metabolisme kolesterol.
4. Fitosterol Adalah sterol yang terdapat dalam tanaman dan mempunyai
struktur mirip [Link] alami fitosterol dapat ditemukan di
dalam sayuran, kacang-kacangan, [Link] dapat membantu
menurunkan kadar kolesterol dengan cara menghambat penyerapan
kolesterol di usus sehingga membantu menurunkan jumlah kolesterol
yang memasuki aliran darah. Sehingga fitosterol dapat membantu untuk
menurunkan tekanan darah (Erni, et al. 2020).
5. Vitamin K Berfungsi membantu proses pembekuan [Link] K
berpotensi mencegah penyakit serius seperti jantung dan stroke karena
efeknya mengurangi pengerasan pembuluh darah oleh faktor-faktor
seperti timbunan plak kalsium (Yosi, et al.,2021).
6. Apiin bersifat diuretik yaitu membantu ginjal mengeluarkan kelebihan
cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam
darah karena akan menurunnya tekanan darah.

4. Cara Mengelola Daun Seledri

Pada 100 gram seledri terkandung 344 mg kalium dan 125 mg


natrium. Cara mengolah daun seledri dalam hal ini bisa dilakukan dengan
cara menyiapkan 100 gram atau dengan 8 batang daun seledri yang masih
segar, lengkap dengan batangnya, kemudian dicuci dengan bersih. Dipotong
seperlunya, siapkan 1 gelas dan air bersih sebanyak 300 ml, rebus air
ramuan daun seledri tersebut hingga menyusut menjadi 200 ml (selama 5
menit) dan kemudian biarkan dingin. Minum ramuan tersebut 1 kali setiap
sore hari sekitar jam 14.00 – 17.00 WIB selama 5 hari berturut-turut (Yosi,
et al 2021).
36

D. Mekanisme Penurunan Pengaruh Seledri Terhadap Tekanan Darah


Seledri berpengaruh menurunkan tekanan darah, pada dasarnya
seledri mengandung senyawa diuretik dan diduga mampu melebarkan
pembuluh darah, membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan
garam dari tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam darah akan
menurunkan tekanan darah dan sebagai beta blocker yang dapat
memperlambat detak jantung dan mengurangi kekuatan kontraksi jantung
sehingga tekanan darah berkurang (Fausi,2018). Hal ini dikarenakan seledri
mengandung flavonoid, saponin, tanin 1% minyak atsiri 0,033% rasa
glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin, zat pahit, vitamin (A,B,
dan C) dan alkaloid yang dapat menurunkan kadar hormon stres dalam
darah kita. Hal ini tentu saja memungkinkan perluasan pembuluh darah, dan
juga memberi darah lebih banyak ruang, sehingga mengurangi tekanan
darah. Seledri merupakan tanaman herbal yang terbukti dapat menurunkan
tekanan darah (Indarti, [Link], 2020).
Seledri juga mengandung phthalides berfungsi untuk membantu
melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan membantu
menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Sebuah penelitian dapat
mereduksi tekanan pembuluh darah hingga 12-14%. Hal ini didukung juga
dalam penelitian oleh ilmuan telah membuktikan bahwa dengan memakan
empat tangkai seledri setiap hari selama 1 minggu tekanan darahnya
menurun dari 158/96mmHg ke 118/82mmHg. Didapatkan keadaan pada
responden sesuai dengan teori yang ada bahwa seledri dapat menurunkan
tekanan darah serta dalam hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa ada
pengaruh rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi (Yosi et. al, 2021).
37

Seledri (Apium graveolens.L)

Flavonoid Tanin Apigenin (Apiin &


Manitol)
Menggangu fungsi
Antioksidan
dari
mikroorganisme / Menurunkan
virus kekuatan kontriksi
jantung

Memperlancar
peredaran darah
Mengeluarkan
kelebihan cairan
Aliran balik vena dan garam dari
ke jantung dalam tubuh yang
tidak diperlukan

Penurunan Tekanan Darah

Bagan 2.1 : Mekanisme Penurunan Pengaruh Seledri Terhadap Tekanan Darah


Sumber: (Indarti, [Link], 2020) (Yosi et. al, 2021).
38

E. Kerangka Teori
Hipertensi

Tekanan darah lebih


dari 140/90mmHg

Faktor yang mempengaruhi:

1. Usia 6. Obesitas
2. Genetik 7. Kurang olahraga
3. Jenis Kelamin 8. Stres
4. Suku/ ras [Link] hormon
5. Konsumsi garam 10. Merokok/ alkohol

PENATALAKSANA

Farmakologi Non Farmakologi


1. Diuretik (hidroklorotiazid) 1. Mempertahankan berat
2. Penghambat simpatik badan ideal
(metildopa, klonidin, dan 2. Kurangi asupan natrium
reserpin) 3. Batasi konsumsi alkohol
3. Vasodilator (parosin, dan 4. Makan K dan Ca cukup
hidralasin) dari diet
4. Antagonis kalsium 5. Menghindari merokok
(diltiasem, dan verapamil) 6. Penurunan stres
7. Terapi masase
8. Terapi komplementer
Air rebusan seledri

Manfaatnya sebagai diuretik dan


mempertahankan elastisitas
Penurunan tekanan darah pembuluh darah, yakni untuk
mengurangi tekanan dalam darah.

Bagan 2.6 Kerangka Teori Penelitian


Sumber : (Hart,dkk 2010) Indah,2019 Endang Trianto,2014 Zainatun Zahra,2016, Medika,2017.
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFENISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep dalam penelitian ini dikembangkan dari kerangka
teori yang dikemukakan oleh Prof. James Elliot yang menyatakan bahwa air
rebusan seledri berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada klien
hipertensi. (Kurniadi, dan Nurrahmani, 2015)
Dalam penelitan ini terdapat variabel-variabel yang ingin peneliti
ketahui dan teliti, yaitu variabel pemberian air rebusan seledri sebagai
variable bebas (Independen) dan tekanan darah sebagai variabel terikat
(dependen). Pada penelitian ini terdapat variabel penganggu (konfonding)
yang dianggap dapat mempengaruhi hasil penelitian ini, namun sudah
dikontrol dalam kriteria inklusi pada sampel. Tetapi untuk variabel
confounding tidak diteliti. Berikut ini bagan mengenai kerangka konsep yang
akan dilakukan oleh peneliti.

Variabel Independen Variabel Dependen


Pemberian Air Rebusan Tekanan Darah
Seledri
Gambar Bagan 3.1 Kerangka Konsep

B. Definisi Operasional
Definisi operasional penelitian adalah fenomena observasional yang
memungkinkan peneliti untuk mengujinya secara empiric, apakah outcame
yang diprediksi tersebut benar atau salah (Thomas et al., 2012).
Terjadinya hipertensi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab,
diantaranya yaitu toksin, obesitas, merokok, alkohol, kafein, narkoba, stress,
konsumsi garam berlebih, jenis kelamin, faktor genetik dan umur.
Penatalaksanaan hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu terapi farmakologi
dan non farmakologi. Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan penggunaan
bahan-bahan kimia seperti obat diuretik, ACE imhibitor, dan vasodilator.

39
40

Sedangkan terapi non farmakologi yang dapat digunakan dari bahan herbal
adalah dengan menggunakan terapi air rebusan seledri. Seledri mengandung
mineral seperti kalsium, natrium, tembaga, magnesium, besi, seng, dan kalium.
Tanaman ini juga mengandung asam lemak dan vitamin termasuk vitamin A,
C, D, B6,B12 dan vitamin K. seledri juga kaya akan kandungan flavaniod,
fitosterol, apigenin, dan apiin. (Yohana dan Yovita, 2013). Unsur-unsur yang
terdapat dalam seledri yang dapat menurunkan tekanan darah adalah flavanoid,
fitosterol, apigenin, apiin, vitamin k, dan vitamin c yang dapat berperan pada
efek diuretik dan mempertahankan elastisitas pembuluh darah. Dengan
demikian seldri memiliki peranan mekanisme dalam penurunan tekanan
darah(Yosi, et al 2021).
41

Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Variabel Penelitian

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur skala
Tekanan Tekanan yang terjadi Diukur dengan Sphygmomano Nilai Tekanan Interval
darah pada pembuluh darah menggunakan meter / digital, darah sistolik/
sebelum ketika darah dipompa pengukuran Steteskop dan tekanan darah
dilakukan oleh jantung untuk tekanan drah buku catatan diastolik
intervensi dialirkan ke seluruh dalam satuan
pemberian anggota tubuh. yang mmHg
air rebusan terdiri dari tekanan
seledri darah sistolik dan
diastolik yang diukur
dengan
Sphygmomanometer
sebelum dilakukan
intervensi pemberian air
rebusan seledri.

Tekanan Tekanan yang terjadi Diukur dengan Sphygmomano Nilai Tekanan Interval
darah pada pembuluh darah menggunakan meter / digital, darah sistolik/
sesudah ketika darah dipompa pengukuran Steteskop dan tekanan darah
dilakukan oleh jantung untuk tekanan darah buku catatan diastolik
intervensi dialirkan ke seluruh dalam satuan
pemberian anggota tubuh. yang mmHg
air rebusan terdiri dari tekanan
seledri. darah sistolik dan
diastolik yang diukur
dengan
Sphygmomanometer
sesudah dilakukan
Intervensi pemberian air
rebusan seledri.
42

C. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian yang
kebenarannya dibuktikan dalam penelitian setelah melalui pembuktian dari
hasil penelitian maka hipotesis dapat benar atau salah, dapat diterima atau
ditolak (Notoatmodjo, 2018)
Hipotesis dalam penelitian ini adalah : Ada Pengaruh pemberian air
rebus seledri terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi di
wilayah kerja puskesmas nagaswidak palembang tahun 2021.

Ho: Tidak ada pengaruh pemberian air rebus seledri terhadap tekanan darah
pada penderita hipertensi.

Ha: Ada pengaruh pemberian air rebus seledri terhadap tekanan darah pada
penderita hipertensi.
BAB IV
Metodologi Penelitian

A. Desain Penelitian
Desain dalam penelitian ini adalah menggunakan Pre experiment design
(one group pretest – postest). Pengukuran dilakukan pada dua kelompok
sebelum perlakuan 01 dan setelah perlakuan 02 (Notoatmodjo, 2018).
Penelitian ini menganalisis pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap
perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi.

Tabel 4.1 Skema rancangan penelitian tentang pengaruh pemberian air rebusan
seledri 200gr terhadap perubahan tekanan darah pada pasien
hipertensi.

Kelompok Pre Test Perlakuan Post Test


Kelompok A 01 X 02
Keterangan:

01 : Pengukuran awal sebelum dilakukan perlakuan

X : Perlakuan ( terapi air rebusan seledri 200gr)

02 : Pengukuran kedua setelah dilakukan perlakuan

B. Populasi dan Sampel


a. Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2016). Populasi dalam penelitian pada 3 bulan terakhir berjumlah 109 jiwa
yang menderita hipertensi.

43
44

b. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah yang di ambil dari keseluruhan objek
yang diteliti dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,
2018). Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan metode
purposive sampling yaitu pengambilan sampel sesuai keinginan peneliti
(Hidayat, 2017). Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan
rumus paired.

n = ²[zıα⁄₂+zıβ]²

(𝜇ı  𝜇₂)²

² = varians dari beda 2 rata-rata pasangan

zıα⁄₂= nilai z pada interval kepercayaan ıα⁄₂ uji hipotesis dilakukan dua
arah (two tailed)

zıβ = nilai z pada kekuatan uji (power) ıβ

𝜇ı = perkiraan rata-rata sebelum intervensi

𝜇₂ = perkiraan rata-rata sesudah intervensi (didapat dari penelitian


terdahulu atau penelitian awal)

n = ²[zıα⁄₂+zıβ]²

(𝜇ı  𝜇₂)²

n = (6,49)² [1,96 + 1,28]²

(133 - 129)²

n = (42,12) . (10,50)

(4)²

n = 442,16

16

n = 27,63

n =28
45

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah penderita hipertensi yang
ada disekitaran wilayah kerja puskesmas nagaswidak palembang sebagai
berikut.

Kriteria inklusi:
1. Masyarakat penderita hipertensi ( sistolik ≥140mmHg dan diastolik
≥90 mmHg).
2. Responden bersedia dan mengikuti penelitian selama selama 5 hari.
3. Responden tidak mempunyai riwayat alergi seledri.
4. Responden diwilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang.
Kriteria eksklusi:
1. Mengkonsumsi obat antihipertensi.
2. Penderita yang memiliki komplikasi penyakit penyerta.

C. Lokasi Dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Tahun 2022 di wilayah kerja
Puskesmas Nagaswidak Palembang.

D. Tehnik dan Prosedur Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan
proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu
penelitian (Nursalam, 2017).
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh sendiri oleh peneliti dari hasil
pengukuran, pengamatan, survey dan lain-lain (Sugiyono, 2017).
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, badan atau
instansi yang secara rutin mengumpulkan data (Sugiyono, 2017). Data
sekunder terdiri dari data yang diperoleh dari Puskesmas Nagaswidak
Palembang.
46

2. Prosedur Pengumpulan Data


Prosedur dalam pengumpulan data ini meliputi beberapa tahapan yaitu:
1. Tahap Persiapan
Pengajuan judul proposal penelitian yang kemudian disetujui oleh
pembimbing. Pengajuan surat izin pengambilan data awal atau studi
pendahuluan di IKesT Muhammadiyah Palembang. Peneliti
mendapatkan surat pengantar dari institusi pendidikan, kemudian
menyampaikan surat permohonan izin ke Badan Kesatuan Bangsa,
Politik dan Perlindungan Masyarakat, setelah itu menyampaikan surat
permohonan izin kepada Dinas Kesehatan, lalu menyampaikan izin ke
kepala Puskesmas Nagaswidak Palembang untuk mendapatkan
responden mengikuti penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Peneliti meminta izin kepada kepala puskesmas untuk melakukan
penelitian pada responden.
b. Puskesmas Nagaswidak Palembang memberikan izin kepada peneliti
untuk melakukan pengambilan data, studi pendahuluan serta
penelitian.
c. Setelah mendapatkan izin dari kepala puskesmas sebelum proses
penelitian dilakukan dengan mengikuti kegiatan Posbindu hal
pertama yang dilakukan peneliti adalah berkenalan dan menjalin
hubungan saling percaya dengan responden serta memberikan arahan
dan maksud peneliti melakukan penelitian tersebut.
d. Sebelum itu peneliti melakukan pengechekan tekanan darah.
Selanjutnya memberitahun apa saja manfaat dan kegunaan dari
mengonsumsi air rebusan seledri dan menjelaskan tujuan penelitian,
dan proses penelitian.
e. Setelah menjelaskan mengenai air rebusan seledri selanjutnya
peneliti melakukan penelitian dengan megambil responden sesuai
dengan jumlah serta kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti,
dengan memberikan lembar persetujuan (informed consent) untuk
47

ditanda tangani dengan arti responden bersedia mengikuti kegiatan


selama proses penelitian berlangsung.
f. Selanjutnya peneliti mengukur tekanan darah responden dibantu
3orang teman sebelum (pre-test) melakukan intervensi tersebut
dengan menggunakan sphygmamonometer dan stestoskop hingga di
peroleh hasil sistolik dan diastolik tekanan darah. Selanjutnya
peneliti mencatat hasil pengukuran tekanan darah dalam buku
catatan rekaputasi data responden dan dilakukan setiap melakukan
intervensi terhadap responden.
g. Ke-esokan harinya responden kembali berkumpul di rumah ibu rt
dengan bantuan ibu rt 12 ulu rt 12, yang sudah disiapkan oleh
peneliti alat dan bahan yang digunakan. air rebusan seledri diberika
selama 5 hari pada sore hari jam 14.00-17.00 WIB setelah makan.
Dan dilakukan pengamatan pemberian air rebusan seledri untuk
memastikan air rebusan seledri diminum dan langsung dihabiskan
oleh responden.
h. Peneliti memberikan air rebusan seledri terhadap responden dengan
cara menyiapkan air rebusan seledri sebanyak 1 gelas (200 cc).
Kemudian meminta responden meminum air rebusan seledri sampai
habis. Dan peneliti melakukan kembali pemberian air rebusan seledri
di hari selanjutnya selama 5 hari.
i. Di hari ke-5 peneliti dibantu oleh 3orang teman melakukan
pengukuran kembali tekanan darah responden setelah (pos-test)
diberi air rebusan seledri dengan menggunakan sphygmomanometer
dan stetoskop hingga di peroleh hasil sistolik dan diastolik tekanan
darah responden. Selanjutnya peneliti mencatat hasil pengukuran
tekanan darah responden kedalam buku catatan rekaputasi data
responden. Setelah itu peneliti mengumpulkan catatan dalam satu
berkas.
j. Kemudian tahap terakhir yaitu melakukan pengolahan data pre dan
post test yang didapatkan dari hasil observasi terkumpul peneliti
48

melakukan pengolahan data dengan menggunakan sistem


komputerisasi.

E. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tensimeter merek GEA/ digital , stetoskop untuk mengukur tekanan darah,
lembar observasi, SOP cara membuat rebusan air seledri Bahan dan alat
yang dibutuhkan meliputi:

1. Rebusan air seledri : cara menyiapkan 100 gram daun seledri yang
masih segar, lengkap dengan batang, dan akarnya, kemudian dicuci
dengan bersih. Dipotong seperlunya dan tambahakan air sebanyak 300
ml , rebus air ramuan daun seledri tersebut hingga menyusut menjadi
200 ml atau selama 5 menit dan kemudian biarkan dingin. Minum
ramuan tersebut 1 kali setiap sore hari sekitar jam 14.00 – 17.00 WIB
selama 5 hari berturut-turut (Yosi, et al 2021).

F. Pengelolahan dan Analisis Data


a. Pengolahan Data
Penelitian ini pengolahan data menggunakan softwere statistik.
Menurut Notoatmodjo (2018), pengolahan data meliputi :
1. Editing
Hasil data dari lapangan dilakukan penyuntingan (editing) terlebih
dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan
perbaikan penelitian. Apabila ada data data yangbelum lengkap, jika
memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang untuk
melengkapi data-data tersebut.
2. Coding
Peng ”kodean” atau “coding” , yakni mengubah bentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2018).
Data demografi jenis kelamin meliputi laki-laki dan perempuan,
pendidikan meliputi pendidikan dasar SD sampai dengan
SMP,pendidikan menengah SMK atau SLTA sederajat, Perguruan Tinggi
49

Diploma sampai dengan Sarjana, pekerjaan meliputi tidak bekerja, ibu


rumah tangga, wiraswasta, buruh tani, kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol.

3. Entry

Data dalam bentuk “kode”(angka atau huruf) dimasukkan ke dalam


program atau “software”computer. Dalam proses ini dituntut ketelitian
dari orang yang melakukan “data entry” ini.’ Apabila tidak maka terjadi
bias, meskipun hanya memasukkan data.

4. Tabulating

Yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau


yang diinginkan oleh peneliti.

5. Scoring
Merupakan tahap untuk menilai masing masing pernyataan tugas yang
dilakukan dan menjumlahkan hasil yang didapat dari semua pernyataan
tiap responden.
6. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai
dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-
kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidak lengkapan,dan
sebagaianya, kemudian dilakukan pembetulan atau korelasi
(Notoadmojo, 2018).

b. Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah


analisis statistik menggunakan program windows 2007, menurut Nursalam
(2016), analisis statistik inferensial bertujuan untuk mengetahui ada atau
tidaknya pengaruh, perbedaan, hubungan antara sempel yang diteliti pada
taraf signifikan tertentu. Peneliti menggunakan analisis inferensial untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh terapi rebusan air seledri terhadap
50

perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah puskesmas


Nagaswidak. Analisa data peneliti menggunakan dua tahap :

1. Analisis Univariat

Analisis univariat adalah analisis yang digunakan terhadap tiap


variabel dari hasil penelitian (Notoatmojo, 2018). Analisa ini digunakan
untuk mendeskripsikan antara terapi rebusan air seledri terhadap tekanan
darah pada pasien hipertensi. Dari data variabel dibagi atas dua macam
yaitu variabel dependent berupa skala interval, dan variabel independent
berupa skala interval. Pada penelitian ini peneliti menganalisa pengaruh
air rebusan seledri terhadap perubahan tekanan darah pada pasien
hipertensi, semua karakteristik responden dalam penelitian ini seperti :
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, merokok, dan pekerjaan
berbentuk kategori yang dianalisis.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis untuk menguji pengaruh dan


perbedaan antara dua variabel. Untuk mengetahui normalitas data perlu
dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk,
distribusi data dikatakan normal jika nilai ρ> 0,05 dan tidak normal jika
hasil nilai ρ< 0,05. Uji normalitas Shapiro-Wilk digunakan jika jumlah
sampel ≤ 50, pada penelitian ini jumlah sampel sebanyak 28 orang
sehingga cocok menggunakan uji Shapiro-Wilk. Dalam penelitian ini
analisa bivariat digunakan untuk menganalisis pengaruh air rebusan
seledri terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi di
wilayah kerja puskesmas Nagaswidak. Analisa yang dapat digunakan
untuk mengetahui pengaruh air rebusan seledri serta perbedaan tekanan
darah sebelum dan sesudah diberikan air rebusan seledri menggunakan
uji dependen t-test jika data berdistribusi normal, jika data tidak
berdistribusi normal menggunakan uji wilcoxon yang merupakan
nonparametric test. Untuk mengetahui pengaruh air rebusan seledri
dilihat nilai p-Value. Uji independen t-test untuk mengetahui pengaruh
51

menurunan tekanan darah air rebusan seledri melalui proses


komputerisasi dengan tingkat kemaknaan (α) = 0,05.

Pengambilan keputusan statistik dilakukan dengan membandingkan


nilai (p value) dengan nilai (α) = 0,05 dengan ketentuan:

1) Jika p value ≥ (0,05) berarti ada hubungan atau pengaruh antara


variabel independen dengan variabel dependen.
2) Jika p value ≤ (0,05) berarti tidak ada hubungan atau pengaruh
antara variabel independen dengan variabel dependen.

G. Etika Penelitian
Menurut (Notoatmodjo, 2018) prinsip dasar dan kaidah penelitian adalah:

1. Menghormati harkat dan martabat manusia


Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subyek penelitian untuk
mendapatkan informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian
tersebut. disamping itu, peneliti juga memberikan kebebasan kepada
subyek untuk memberikan informasi atau tidak memberikan
informasi (berpartisipasi). Peneliti mempersiapkan formulir
persetujuan subyek (inform consen) yang mencangkup:
1) Penjelasan manfaat penelitian
2) Penjelasan kemungkinan resiko dan ketidak nyamanan yang
ditimbulkan
3) Menjelaskan manfaat yang didaparkan
4) Jaminan kerahasiaan terhadap identitas
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian
(Respect for privacy and confidentialy)
Setiap orang mempunyai hak-hak dasar individu termasuk privasi
dan kebebasan individu dalam memberikan informasi. Oleh sebab itu
peneliti tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas dan
kerahasiaan identitas subyek.
52

3. Keadilan dan inklusivitas / keterbukaan (respect for justicean


inclusivess)
Keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran,
keterbukaan, dan kehati-hatian. Untuk itu, lingkungan penelitian
perlu dikondisikan sehingga memenuhi prinsip keterbukaan, yakni
dengan menjelaskan prosedur penelitian.
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan
(blacing harms and benefits
Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal
mungkin bagi subyek. Oleh sebab itu, pelaksanaan penelitian harus
dapat mencegah atau paling tidak mengurangi rasa sakit, cidera,
stress, maupun kematian subyek penelitian.
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Puskesmas Nagaswidak Palembang


Pukesmas Nagaswidak terletak di Kecamatan Seberang Ulu II tepatnya
Kelurahan 14 Ulu. Puskesmas ini terletak dijalan [Link] Lorong Gumay Gg.
Bangdes Rt. 22 Masyarakat yang ingin berobat dapat menjangkaunya dengan
berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor.
Puskesmas ini dahulunya adalah sebuah balai pengobatan yang
dikelola oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Tingkat II. Sesuai dengan
kebutuhan masyarakat, maka balai pengobatan ini kemudian dikembangkan
menjadi puskesmas.
1. Profil Puskesmas Nagaswidak Palembang
Puskesmas Nagaswidak terletak di Kecamatan Seberang Ulu II,
tepatnya di kelurahan 14 Ulu, Pukesmas ini terletak dijalan [Link] Lrg.
Gumay Gang Bangdes RT 22. Puskesmas Nagaswidak mempunyai
wilayah kerja seluas 301 Ha.
Puskesmas Nagaswidak ini berdiri pada tahun 1978 dan memulai
pembangunan gedung pada bulan Februari tahun 1980. Perubahan
atauperbaikan gedungnya dilakukan pada tahun 1987, yaitu perbaikan
ruangan atau kamar lainnya. Kemudian pada tahun 2004, diadakan
perbaikan dan penambahan ruangan. Pada tahun 2006-2007, melalui
peroyek yang didanai oleh Unit Eropa dan Departemen Kesehatan RI
dilakukan perbaikan gedung puskesmas kembali dan penambahan ruang,
yaitu ruangan pimpinan, perluasan ruang laboratorium dan ruangan
gudang obat. Pada Tahun 2016 dilakukan kembali renovasi gedung
bangunan Puskesmas pada bulan Juni sampai dengan Desember 2016
melalui proyek yang didanai oleh APBD Kota Palembang.
Puskesmas Nagaswidak merupakan Puskesmas Induk yang
mempunyai satu Puskesmas pembantu (pustu) yang dipimpin oleh seorang
pimpinan puskesmas. Sejak berdirinya pada tahun 1980, puskesmas ini
sudah mengalamibeberapa kali pergantian pimpinan, yaitu

53
54

Tabel 5.1
Pimpinan Puskesmas Nagaswidak Palembang
No Nama Masa Jabatan
1. dr. Agus Prawira Prapta 1980
2. dr. Rosmalia Supursa 1982-1983
3. dr. Yustina Tjandra 1984-1998
4. dr. Sito Ici Tatipata 1998-2002
5. dr. Hj. RA. Habibah 2002-Oktober 2009
6. drg. Kiki Ayu Marlina Novermber 2009-April 2013
7. dr. Dewi Handayani Mei 2010-Agustus 2013
8. drg. Kiki Ayu Marlina September 2013-Januari 2015
9. drg. Bencas Nainggolan Januari 2015-Sekarang

2. Letak Geografis
Puskesmas Nagaswidak terletak di Kecamatan Seberang Ulu II
tepatnya di kelurahan 14 Ulu. Puskesmas ini terletak dijalan [Link]
Lorong Gumay, Masyarakat yang ingin berobat dapat menjangkaunya
dengan kaki maupun mengggunakan kendaraan bermotor.
Wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak meliputi 4 kelurahan yaitu
Kelurahan 11 Ulu, 12 Ulu, 13 Ulu dan 14 Ulu, dengan luas wilayah
kerjanya ± 301 Ha.
Tabel 5.2
Luas Wilayah Kerja Puskesmas Nagaswidak
No Nama Kelurahan Luas Wilayah
1. 11 Ulu 30 Ha
2. 12 Ulu 20 Ha
3. 13 Ulu 120 Ha
4. 14 Ulu 131 Ha
Total 301 Ha

Wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak berbatasan dengan:


a. Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Musi
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Jendral [Link].
55

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan 10 Ulu


d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan 16 Ulu
Kondisi geografi wilayah kerjanya terdiri dari daratan rendah dan rawa-
rawa.
3. Letak Demografi
Wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak meliputi Kelurahan 11 Ulu,
Kelurahan 12 Ulu, Kelurahan 13 Ulu dan Kelurahan 14 Ulu dengan
jumlah penduduk 38.508 jiwa.
Berdasarkan keadaan sosial ekonominya, mata pencaharian
penduduk keempat kelurahan hampir sama, yaitu diantaranya:
a. Buruh Kasar
b. Pegawai Negeri
c. Pedagang
d. Pensienan
e. Pengrajin
f. Nelayan
g. Pemikul Barang
h. Tukan Becak
Pada umumnya mereka adalah tenaga kerja lepas pada sektor
informasi.
4. Visi Puskesmas Nagaswidak
Tercapainya masyarakat sehat di kecamatan SU II menuju
Palembang Sehat 2020.
Puskesmas Nagaswidak memiliki tata nilai sebagai berikut:
N : Nyaman menciptakan suasana lingkunganyang tenang.
A : Amanah bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas
G : Gesit cepat dalam bertindak
A : Akurat tepat dalam bertindak
S : Senyum keramahan dalam pelayanan
W : Wawasan pola pikir yang luas
I : Ikhlas tanpa pamrih
D : Disiplin kepatuhan dalam peraturan
56

A : Antusias semangat dalam berprestasi


K : Kekeluargaan menjalin kebersamaan

5. Misi Puskesmas Nagaswidak


a. Meningkatkan kualitas SDM yang profesional.
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan sesuai standar yang telah di
tetapkan .
c. Meningkatkan sarana dan prasarana yang bermutu
d. Meningkatkan kemitraan dengan semua pihak
e. Memberdayakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat

6. Motto dan Komitmen Puskesmas Nagaswidak


Motto : Kesehatan anda adalah kebahagiaan kami.
Komitmen : Kami seluruh karyawan Puskesmas Nagaswidak siap
mendukung dan melaksanakan standar akreditasi serta bangga
melakukan perubahan untuk meningkatkan mutu pelayanan di
Puskesmas.
7. Program yang Terlaksana di Puskesmas Nagaswidak
Program yang terlaksana di Puskesmas Nagaswidak terdiri dari:
a. Program pelayanan kesehatan masyarakat wajib
1) Promkes
2) Kesling
3) P2M/P2TM
4) KIA/KB
5) Gizi
6) Pengobatan
b. Program pelayanan kesehatan masyarakat pengembang
1) Puskesmas
2) Kesehatan lansia
3) Gigi mulut
4) Kesehatan laboratorium
57

8. Kegiatan Posyandu Lansia


Sejak awal berdirinya Puskesmas Nagaswidak palembang yang
sebelumnya adalah Pustu pada tahun 1978, kehiatan Posyandu Lansia
juga sudah berdiridan rutin dilakukan setiap bulannya. Posyandu Lansia
dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Nagaswidak Kec. Seberang
Ulu II Plaju Palembang. Puskesmas Nagaswidak memiliki 4 wilayah
kerja yaitu Kelurahan 12 Ulu Lr. Pedautan Barat RT 01, Kelurahan 14
Ulu RT 18, Kelurahan 11 Ulu Lr. Amal Setia dan Kelurahan 13 Ulu Lr.
Sederhana dan kegiatan Posyandu Lansia diadakan ditempat yang telah
disediakan Kelurahan tersebut. Tempatnya bisa dikantor lurah, rumah
ketua RT atau pun rumah warga yang bersedia untuk dijadikan tempat
kegiatan Posyandu Lansia tersebut. Program kerja Puskesmas
Nagaswidak antara lain senam lansia jurang berjalan dengan efektif,
karena keterbatasan tempat untuk dilaksanakannya kegiatan tersebut.
Kegiatan yang ada di Posyandu Lansia, tidak jauh beda dengan
Posyandu Balita yang dilakukan diwilayah kerja Puskesmas
Nagaswidak Palembang, hanya berbedanya di Posyandu Lansia tidak
dilakukan pemberian imunisasi seperti yang ada di Posyandu Balita.
Kegiatan yang ada di Posyandu Lansia Puskesmas Nagaswidak yang
pertama yaitu pendaftaran, pemeriksaan TD Lansia konsultasi dengan
dokter dan selanjutnya diberikan obat untuk lansia yang menderita
sakit. Jumlah lansia yang datang ke Posyandu Lansia tidak bisa
diprediksikan, hanya saja biasanya disetiap kelurahan, paling sedikit 20
orang lansia yang datang ke Posyandu tersebut. Kemudian yang
berperan dalam kegiatan Posyandu Lansia yakni kader lansia yang ada
di masing-masing kelurahan tersebut dan staff dari Puskesmas
Nagaswidak Palembang.

B. Hasil Penelitian
Penelitian yang berjudul “ pengaruh air rebusan seledri terhadap
tekanan darah pasien hipertensi diwilayah kerja puskesmas nagaswidak
palembang” ini dilakukan pada bulan maret-april 2022. Responden yang
58

didapatkan berdasarkan kriteria inklusi yaitu 28 responden. Penatalaksanaan


ini menggunakan tindakan penerapan pemberian air rebusan seledri yang
dilakukan terhadap masing-masing responden.

1. Analisa Univariat
Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk
menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian (Sujarweni, 2014). Analisa
ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari
tiap-tiap variabel. Data masing-masing ditampilkan pada tabel berikut.
a. Karakteristik responden
Tabel 5.3
Karakteristik responden berdasarkan usia pada pasien hipertensi di Wilayah
Kerja Puskesmas Nagaswidak Palembang

95% CI
Variabel N Mean Median SD Min-Maks
Low Up
Usia 28 58,92 62,00 9,525 37-79 55,23 62,62
Sumber: Data Primer,2022

Berdasarkan analisa data pada tabel 5.3 diatas menunjukkan bahwa dari 28
subjek penelitian yaitu nilai rata-rata subjek penelitian 58,92 tahun. Usia
minimum subjek penelitian 37 tahun dan usia maksimum subjek penelitian yaitu
79 tahun dengan standar deviasi 9,525.

Tabel 5.4
Distribusi frekuensi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, riwayat merokok, konsumsi alkohol dan riwayat
keluarga pada pasien penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Nagaswidak Palembang

Variabel Frekuensi Persentase%


Jenis Kelamin
Laki-laki 7 25,0
Perempuan 21 75,0
Pendidikan
Tidak Sekolah 5 17,9
SD 7 25,0
SMP 6 21,4
SMA 7 25,0
Perguruan Tinggi 3 10,7
59

Pekerjaan
Petani 1 3,6
Pedagang 5 17,9
PNS 1 3,6
Buruh 3 10,7
Pegawai Swasta 10 35,7
Lainnya 8 28,6
Riwayat Merokok
Iya 8 28,6
Tidak 20 71,4
Konsumsi Alkohol
Iya 0 0
Tidak 28 100,0
Riwayat Keluarga
Ada 11 39,3
Tidak Ada 17 60,7
Total 28 100%
Sumber: Data Primer,2022

Berdasarkan tabel 5,4 diatas dapat diketahui bahwa distribusi


frekuensi menurut jenis kelamin terbanyak dengan diagnosis hipertensi
yaitu perempuan dengan jumlah 21 responden (75,0%) dibandingkan laki-
laki. Sebagian besar tingkat pendidikan pasien yang mengalami hipertensi di
wilayah kerja puskesmas nagaswidak Palembang adalah sekolah dasar (SD)
sekolah menengah atas (SMA) dengan jumlah 7 responden (25,0%).
Pegawai swasta adalah profesi terbanyak yang dimiliki oleh para subjek
penelitian tersebut yaitu 10 responden (35,7%) sedangkan petani adalah
profesi paling sedikit yang dimiliki subjek penelitian dengan jumlah 1
responden (3,6%). Memiliki riwayat merokok sebanyak 8 responden
(28,6%). Mekonsumsi alkohol tidak ada. Berdasarkan riwayat keluarga
sebagian besar subjek penelitian memiliki status riwayat keluarga yaitu 11
responden (39,3%) dengan diagnosis hipertensi.

b. Air Rebusan Seledri


Responden dengan Hipertensi Sebelum dilakukan Air Rebusan Seledri
di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang pada tabel dibawah ini.
60

Tabel 5.5
Skor rata-rata Tekanan Darah Sistolik pre-test pada responden penderita
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang

95% CI
Variabel N Mean Median SD Min-Maks
Low Up
Tekanan darah 28 153,21 150,00 9,44 140-170 149,55 156,87
sistolik Pre

Sumber : Data Primer,2022

Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa skor rata-rata dari 28 responden
Tekanan darah sistolik sebelum intervensi penderita hipertensi di Wilayah
Puskesmas Nagaswidak Palembang didapatkan nilai mean 153,21, nilai median
150,00, SD 9,44, nilai min-maks 140-170.

Tabel 5.6
Skor Rata-rata Tekanan Darah Sistolik post-test pada responden penderita
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang.

Min- 95% CI
Variabel N Mean Median SD
Maks Low Up
Tekanan darah 28 131,78 130,00 10,55 100-150 127,69 135, 88
sistolik Post

Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa skor rata-rata dari 28 responden
Tekanan darah sistolik setelah intervensi penderita hipertensi di Wilayah
Puskesmas Nagaswidak Palembang didapatkan nilai mean 131,78 nilai median
130,00, SD 10,55 , nilai min-maks 100-150.

Tabel 5.7
Skor Rata-rata Tekanan Darah Diastolik pre-test pada responden penderita
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang.

Min- 95% CI
Variabel N Mean Median SD
Maks Low Up
Tekanan darah 28 95,00 95,00 5,09 90-100 93,02 96,97
diastolik
sebelum
intervensi
61

Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa skor rata-rata dari 28 responden
Tekanan darah diastolik sebelum intervensi penderita hipertensi di Wilayah
Puskesmas Nagaswidak Palembang didapatkan nilai mean 95’00 nilai median
95,00, SD 5,09 , nilai min-maks 90-100.

Tabel 5.8
Skor Rata-rata Tekanan Darah Diastolik post-test pada responden penderita
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang.

Min- 95% CI
Variabel N Mean Median SD
Maks Low Up
Tekanan darah 28 83,21 80,00 4,75 80-90 81,37 85,05
diastolik
setelah
intervensi

Berdasarkan tabel 5.8 dapat dilihat bahwa skor rata-rata dari 28


responden Tekanan darah diastolik setelah intervensi penderita hipertensi di
Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang didapatkan nilai mean 83,21 nilai
median 80,00, SD 4,75 , nilai min-maks 80-90.

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat untuk mengetahui pengaruh air rebusan seledri
terhadap tekanan darah dengan pasien hipertensi. Dalam penelitian ini data
tidak terdistribusi normal maka di lakukan uji alternative yaitu uji Wilcoxon
Rank Test dengan keputusan statistik yaitu bila nilai P value < α (0,005)
artinya ada pengaruh yang bermakna, tetapi jika nilai P value ≥ α maka tidak
ada pengaruh bermakna.
Tabel 5.9
Perbedaan Nilai Rata-rata tekanan darah pre-post sistolik pasien dengan
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang

P-
Variabel Kategori N Mean SD Min Max 95%CI
value
Tekanan Pre 153,21 9,44 140 170 149,55-156,87
Darah 28 0.000
Sistolik Post 131,78 10,55 100 150 127,69-135,88
Sumber: Data Primer, 2019
62

Tabel 5.9, menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sistolik pre-post


dengan pasien hipertensi. pre diperoleh mean 153,21 standar deviasi 9,44 nilai
minimum 140, nilai maximum 170. Post diperoleh mean 131,78 standar deviasi
10,55 nilai minimum 100, nilai maximum 150. Hasil uji wilcoxon didapatkan nilai
P value 0,000 (P value ≤ 0,05) artinya ada perbedaan yang signifikan rata-rata
tekanan darah sistolik pre-post intervensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Nagaswidak Palembang.

Tabel 5.10
Perbedaan Nilai Rata-rata tekanan darah pre-post diastolik pasien dengan
hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak Palembang

P-
Variabel Kategori N Mean SD Min Max 95%CI
value
Tekanan Pre 95,00 5,09 90 100 93,02-96,97
Darah 28 0.000
Diastolik Post 83,21 4,75 80 90 81,37-85,05

Sumber: Data Primer, 2019


Tabel 5.10, menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah diastolik pre-post
dengan pasien hipertensi. pre diperoleh mean 95,00 standar deviasi 5,09 nilai
minimum 90, nilai maximum 100. Post diperoleh mean 83,21 standar deviasi 4,75
nilai minimum 80, nilai maximum 90. Hasil uji wilcoxon didapatkan nilai P value
0,000 (P value ≤ 0,05) artinya ada perbedaan yang signifikan rata-rata tekanan
darah sistolik pre-post intervensi di Wilayah Kerja Puskesmas Nagaswidak
Palembang.
BAB VI

PEMBAHASAN

A. Analisa Univariat
1. Karakteristik Responden
a. Usia
Pada penelitian pengaruh air rebusan seledri terhadap tekanan
darah pasien hipertensi di wilayah puskesmas nagaswidak palembang
diperoleh sebanyak 28 responden sesuai dengan sampel yang
direncanakan. 28 responden yang diteliti adalah responden dengan
usia antara 37-79 tahun dan rata-rata usia 58,92 tahun yang
merupakan termasuk usia lansia awal dalam kategori usia menurut
Depkes RI (2011). Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian dari
Korneliani & Meida (2012) dengan usia responden 60-74 tahun
sebanyak (70,8%).
Hasil penelitian terkait lainnya yaitu hartanti &
mifbakhuddin,(2015) yang mengatakan bahwa tekanan darah tinggi
banyak terjadi pada usia dewasa tengah yaitu 45 tahun keatas, dengan
teori nya yang mengatakan bahwa semakin meningkat usia seseorang
maka resiko terkena hipertensi sangat besar, hal ini terjadi
dikarenakan pada usia tua arteri besar kehilangan kelenturan sehingga
darah yang dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang sempit dari
yang biasanya dan mengakibatkan naiknya tekanan darah (Hartanti &
mifbakhuddin,2015).
Hal ini Sejalan dengan penelitian Yusuf dkk, (2019) yang
memperoleh responden hipertensi dengan usia 42-51 tahun dan
penelitian Saleh (2014) yang memperoleh responden dengan usia 40-
60 tahun terdapat sebanyak 73,4% dari total 64 responden yang
menderita hipertensi. Sedangkan hasil penelitian Anggara pada tahun
2013 didapatkan penderita hipertensi paling tinggi ditemukan pada
kelompok usia >60 tahun. Sejalan dengan penelitian (Hafizah
Arifin,2016) dengan jumlah 48 responden dan kelompok usia antara

63
64

60-64 tahun. Dari penelitian diatas menjelaskan bahwa pertambahan


usia menyebabkan adanya perubahan fisiologis dalam tubuh seperti
adanya penebalan dinding uteri akibat penumpukan zat kolagen pada
lapisan otot, sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan
(Kaplan,2012). Semakin tua seseorang maka arteri akan kehilangan
elastisitasnya yang menyebabkan kemampuan memompa darah
berkurang sehingga tekanan darah meningkat. Hal tersebut terjadi
disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan
hormon ( Sutinah & Maulani,2017) sedangkan,
Subjek hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2019)
adalah responden dengan usia 30-40 tahun, dimana hipertensi yang
biasa dialami adalah hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya melainkan muncul akibat faktor genetik. Hal
ini selaras dengan hasil penelitian (Santi Martini,2018) didapatkan
usia responden yang mengalami hipertensi adalah di usai <35 tahun
dengan jumlah 27 responden. Didukung juga dengan penelitian
Kishore et al (2016) yaitu prevalensi hipertensi lebih besar pada
responden usia diatas 35 tahun sebesar (4,7%) dibandingkan dengan
usia dibawah 35 tahun yaitu sebesar (21,8%).
Pada umumnya, kejadian hipertensi banyak terjadi pada
penduduk berusia lanjut namun tidak menutup kemungkinan
penduduk usia remaja hingga dewasa juga dapat mengalami penyakit
yang sama dengan berbagai macam faktor tertentu. Dan dikudung
juga oleh penelitian (Junaidi,2014) yang mengatakan bahwa hipertensi
tidak terjadi pada lansia saja, tetapi sekarang juga terjadi pada usia
produktif dibawah 45 tahun, bahkan ada juga penderita hipertnsi yang
berusia dibawah 30 tahun.
Hal tersebut terjadi dikarenakan terdapat kenaikan tekanan darah
sistolik disertai penurunan tekanan darah diastolik yang disebabkan
adanya perubahan di dalam struktur pembuluh darah utama, yang
menjadi kurang elastis dan kaku. Kekakuan dinding pembuluh darah
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah
65

yang dialirkan ke jaringan dan organ-organ tubuh menjadi berkurang.


Akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik agar aliran darah
ke jaringan dan organ-organ tubuh tetap tercukupi (Kaplan,2012)
b. Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil analisa frekuensi dari total 28 responden yang
didapat menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin
perempuan yaitu dengan jumlah 21 responden (75,0%) di bandingkan
laki-laki 7 responden (25,0%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Kusumaningtiar & Ilmiyati (2017) dimana dari total 342 responden,
sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak
224 responden (65,5%) dan sebanyak 118 responden (35,5%) berjenis
kelamin laki-laki menderita hipertensi.
Penelitian terkait lainnya yaitu penelitian (Kusumawaty et al.,
2016) bahwa, perempuan cendrung lebih banyak menderita hipertensi
dari pada laki-laki. Pada penelitian tersebut sebanyak 2,5%
perempuan mengalami hipertensi, sedangkan untuk laki-laki hanya
sebesar 5,8%. Hasil tersebut juga sepakat dengan penelitian
(Arifin,Weta & Ratnawati,2016) yang menunjukkan bahwa jumlah
lansia yang mengalami hipertensi lebih banyak pada perempuan,
dengan jumlah keseluruhan responden 80 orang, diantaranya terdapat
48 orang perempuan (61,3) yang mengalami hipertensi. Sedangkan
dari 32 orang lansia berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20 orang
(62,5%) mengalami hipertensi.
Berdasarkan penelitian menurut eka oktavia dkk, (2017) yang
menunjukan perempuan beresiko terkena hipertensi dilihat dari jumlah
responden perempuan 29 orang (65,9%) sedangkan laki-laki sebanyak
15 orang (34,1%) dengan jumlah seluruh responden adalah 44 orang
yang menderita hipertensi.
Perempuan akan mengalami peningkatan resiko hipertensi
setelah menopause yaitu usia diatas 45 tahun. perempuan yang belum
menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam
meningkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein) sehingga kecil
66

resiko terjadinya hipertensi. Selain itu juga menjadi faktor pelindung


dan mampu mencegah terjadinya proses aterosklerosis yang dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi (Nur Hidayat,dkk 2017). Hal ini
sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Waliyo (2019) bahwa
setelah memasuki menopause perempuan mulai kehilangan sedikit
demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh
darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon
estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan usia perempuan
secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada perempuan usia 45-55
tahun sebelum lanjut usia. Pada usia lebih dari 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pria yang
diakibatkan oleh faktor hormonal.
Pada perempuan selain memiliki hubungan erat dengan
hipertensi yang disebabkan oleh hormonal, juga memiliki potensi
hipertensi yang disebabkan oleh kegemukan yang dapat
mengakibatkan hipertensi dengan persentase 24% pada perempuan
dewasa sedangkan laki-laki 14,9% (Harahap dkk,2014). Diperkuat
dengan penelitian Sartik & Zulkarnain (2017) menjelaskan bahwa
hipertensi pada kelompok heavy weigh lebih tinggi. Karna kegemukan
(obesitas) merupakan ciri khas dari populasi yang mengalami
hipertensi (Anggara & Prayitno,2013)
Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Prasetyaningrum (2014) yang mengatakan laki-laki lebih beresiko
mengalami hipertensi dibandingkan perempuan saat usia <45% tahun.
Tetapi saat usia >65 tahun, perempuan lebih beresiko mengalami
hipertensi dibanding laki-laki setelah wanita memasuki masa
menopause, prevalensi pada wanita akan semakin meningkat
dikarenakan faktor hormonal. Hasil yang sama ditemukan oleh Everet
& Zajacova (2015) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki tingkat
hipertensi yang lebih tinggi dari pada wanita namun laki-laki memiliki
tingkat kewaspadaan yang lebih rendah terhadap penyakit hipertensi
dari pada wanita. Sedangkan dalam hal menjaga kesehatan perempuan
67

lebih memperhatikan kesehatannya dibandingkan laki-laki. Perbedaan


pola perilaku sakit juga dipengaruhi oleh jenis kelamin yaitu
perempuan lebih mandiri dalam masalah pengobatan
(Purnamasari,2020)
c. Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa riwayat pendidikan responden penderita hipertensi sangat
beragam dimulai dari pendidikan terbanyak yaitu pendidikan SMA
(25,0%) sebanyak 7 responden dan SD (25,0%) sebanyak 7 responden
dengan usia 37-79 tahun. Sedangkan pendidikan yang paling sedikit
yaitu perguruan tinggi dengan jumlah 3 orang responden (10,7%). Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian (Aini,2019) yang memperoleh
responden dengan usia 41-60 tahun dengan tingkat pendidikan SMA
sebanyak 22 responden (38,6%).
Selain itu hasil penelitian (Savitri Triana,2019) terdapat pada
SMA/SMK untuk pendidikan terakhir responden dengan jumlah 85
responden (52,8%) dari 161 total keseluruhan. Dari hasil penelitian
diatas bahwa tingkat pendidikan responden termasuk dalam kategori
rendah, Resiko terserang hipertensi justru akan lebih tinggi pada
pendidikan yang rendah. Sama hal nya dengan pendapat yang
dikemukakan oleh (Amertha,2018) yaitu tingkat pendidikan rendah
berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang gaya hidup, perilaku
kesehatan yang dapat memicu terjadinya hipertensi.
Penelitian terkait lainnya adalah Anggara & Priyanto (2015)
juga menyebutkan bahwa resiko hipertensi dapat disebabkan karna
semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka pengetahuan yang
dimiliki juga rendah. Sehingga proses penerimaan informasi terkait
hipertensi yang diberikan oleh berbagai pihak lebih sulit diterima.
Sama hal nya dengan penelitian Maharani (2018) mengatakan bahwa
seseorang yang pendidikannya rendah akan memiliki pengetahuan
yang kurang juga terhadap kesehatan dan tentunya akan kesulitan dan
lambat menerima informasi contohnya penyuluhan tentang hipertensi
68

serta bahaya-bahaya dari hipertensi dan pencegahannya yang


diberikan oleh petugas kesehatan sehingga berdampak pada perilaku
kesehatan.
d. Pekerjaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenis
pekerjaan mayoritas responden paling banyak ditemui yaitu pegawai
swasta sebanyak 10 responden (35,7%), dan pekerjaan terbanyak
kedua adalah lainnya dengan jumlah responden yaitu 8 responden
(28,6%). Sama hal nya dengan hasil penelitian (waren,2018)
didapatkan responden terbanyak bekerja sebagai lainnya sebanyak 8
orang (28,6%) dari 28 responden.
Menurut (waren,2018) juga berpendapat bahwa perempuan yang
tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga beresiko lebih
tinggi menderita hipertensi dibandingkan dengan perempuan yang
bekerja. Hal ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas yang dilakukan
ibu rumah tangga, dimana kebanyakan hanya berdiam diri dirumah
dengan rutinitas yang berulang dan membuat suntuk. Berbeda dengan
ibu yang bekerja diluar rumah, justru lebih banyak aktivitasnya dan
lebih aktif.
Hasil penelitian (Mugi Wahidin,2019) responden yang
mempunyai pekerjaan sebagai pedagang sebanyak 25 responden dari
keseluruhan 40 responden, dari hasil tersebut juga mengungkapkan
bahwa beban kerja dapat menyebabkan reaksi stress secara fisiologi,
prilaku, emosional dan kognitif dengan konsekuensi jangka panjang
pada pekerja secara fisik dan fisiologi menyebabkan penyakit
hipertensi.
Selain itu, menurut analisis (Sarki AM,2015) mengungkapkan
bahwa status pekerjaan berhubungan dengan tingkat pendapatan,
semakin rendah pendapatan maka semakin beresiko mengalami
hipertensi dikarnakan, kebanyakan dari responden tersebut merupakan
masyarakat dengan tingkat ekonomi kebawah, yang lebih banyak
menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan pokok
69

seperti membayar sewa rumah, listrik, dan air dari pada


mengutamakan makanan sehat dan memeriksakan kesehatan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Raihan (2018) yang
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikat antara pekerjaan
dan peningkatan tekanan darah. Dalam penelitian tersebut menyatakan
bahwa responden paling banyak memiliki status pekerjaan sebagai
IRT, merupakan penyebab berkurangnya aktifitas fisik dan memicu
stress. Pernyataan tersebut didukung juga oleh penelitian Situmorang
(2020) yaitu stress diakibatkan terdapat banyak penekanan berupa
lingkungan sekitar yang pada akhirnya memiliki rangsangan terhadap
reaksi tubuh dan psikis serta memicu terjadinya tekanan darah
meningkat. Penelitian Hastuti (2019) juga mengungkakan bahwa
hormon adrenalin yang tinggi mampu memicu terjadinya pemompaan
jantung yang lebih cepat sehingga meningkatkan tekanan darah,
Berdasarkan pada penelitian sebelumnya juga mengemukakan
bahwa apabila IRT mengalami tingkat stress yang meluas maka
memungkinkan resiko hipertensi yang meningkat dan stress yang
memicu komplikasi jika tidak segera ditangani.
e. Riwayat Merokok
Berdasarkan analisa frekuensi dari total 28 responden yang didapat
menunjukkan bahwa responden hipertensi yang memiliki riwayat
merokok yaitu dengan jumlah 8 responden (28,6%). Hal ini berkaitan
dengan hasil penelitian (Eka Oktavia, 2017) yang memperoleh
sebanyak 315 responden (70,%) memiliki riwayat merokok dari total
keseluruhan 44 responden. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup
masyarakat zaman sekarang yang tidak sehat seperti makan makanan
yang tidak sehat, kebiasaan merokok, serta kurang aktivitas. Dari hasil
penelitian diatas menunjukkan bahwa hipertensi umumnya bisa terjadi
pada semua usia, semakin bertambah usia seseorang, resiko terserang
hipertensi semakin meningkat (Kowalski,2012).
70

f. Riwayat keluarga
Berdasarkan analisa frekuensi dari total 28 responden yang
didapat menunjukkan bahwa mayoritas responden hipertensi yang
memiliki riwayat keluarga yaitu dengan jumlah 11 responden
(39,3%). Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian (Meilinda,2017)
yang memperoleh sebanyak 57 responden (73%) memiliki riwayat
keluarga dari total keseluruhan 78 responden. Sejalan juga dengan
hasil penelitian (Raihan & Dewi, 2017) yaitu sebanyak 48 dari 65
responden mempunyai riwayat keturunan hipertensi. Sama hal nya
dengan hasil penelitian Woro Riyadina (2013) yang mendapatkan
sebanyak (78,9%) responden dengan riwayat keturunan yaitu lebih
tinggi dari pada anggota kelurga yang tidak mempunyai riwayat.
Hal ini sejalan dengan penelitian Rachman (2013) yaitu terdapat
sebanyak 30 responden yang semuanya memiliki riwayat keturunan
hipertensi. Penelitian (Avelia,2018) juga selaras dengan hasil diatas,
bahwa sebagian besar responden responden yang diteliti memiliki
riwayat hipertensi dalam keluarga yaitu 51 orang (57,3%).
Faktor genetik dengan riwayat hipertensi mempunyai resiko
lebih besar untuk menderita hipertensi dibanding dengan tanpa
riwayat keturunan. Jika kedua orang tua hipertensi maka angka
kejadian hipertensi meningkat 4 sampai 15 kali dibandingkan bila
kedua orangtuanya adalah normotensi. Sedangkan bila kedua orang
tua menderita hipertensi essensial, maka 44,8% anaknya akan
menderita hipertensi. Dan apabila hanya satu orangtua yang menderita
hipertensi, maka 12,8% keturunannya akan mengalami hipertensi
(Mahpola dkk,2017)
Berdasarkan ilmu genetika hal ini dapat terjadi karena adanya
faktor hereditas yang berperan dalam penyakit keturunan. Hereditas
adalah genotif yang diwariskan dari induk (orang tua) pada
keturunannya dan akan membuat keturunan memiliki karakter seperti
induknya, mulai dari warna kulit, tinggi badan hingga penyakit yang
diderita. Menurut hukum mendel, jika hanya salah satu orang tua
71

menderita hipertensi, maka kemungkinan anaknya untuk tidak


menderita hipertensi yaitu 50%.
Menurut situmorang (2014), dengan adanya riwayat keluarga
seperti pada ayah, ibu, kakek, nenek, saudara kandung, paman, bibi
yang mengalami hipertensi, maka memungkinkan seseorang
mengalami kejadian hipertensi juga, Hal ini sejalan dengan teori yang
mengatakan, bahwa hipertensi cendrung merupakan penyakit
keturunan, jika kedua orangtua kita mempunyai hipertensi maka ada
kemungkinan kita mendapatkan penyakit tersebut sebanyak 60%
(Depkes RI,2015). Berkaitan juga dengan penelitian Kartikasai (2019)
mengatakan bahwa hipertensi terjadi karna adanya pewarisan sifat
melalui gen yang memiliki peranan besar terhadap munculnya
hipertensi pada seseorang.

2. Perubahan Tekanan Darah Sebelum dan Sesudah diberikan Terapi


Air Rebusan Seledri pada Penderita Hipertensi
Hasil penelitian terhadap 28 responden sebelum dilakukan terapi
Air Rebusan Seledri didapatkan rata-rata tekanan darah sebesar
170,00/90,00 mmHg, apabila di ubah dalam klasifikasi tekanan darah
tinggi berada dalam hipertensi stadium 1 dan setelah diberikan terapi
rebusan daun seledri rata-rata tekanan darah menurun yaitu menjadi
150,00/80,00 mmHg, apabila di ubah dalam klasifikasi tekanan darah
tinggi terdapat penurunan tetapi masih pada klasifikasi tekanan darah
tinggi stadium 2 . Perubahan ini menunjukan bahwa pemberian air
rebusan seledri berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada
penderita hipertensi.
Pengaruh air rebusan seledri untuk menurunkan tekanan darah
sistol dan diastolik pada penderita hipertensi telah dilakukan uji
statistik Wilcoxon sebelum dan sesudah diberikan air rebusan seledri
responden yang mengalami penurunan tekanan darah terhadap 28
responden. Pada tingkat kemaknaan α (0,05) dengan nilai (p) yang
diperoleh 0,000. Dan untuk pengaruh terapi air rebusan seledri untuk
72

menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita


hipertensi dilakukan uji statistik Wilcoxon sebelum dan sesudah
diberikan air rebusan seledri responden yang mengalami penurunan
tekanan darah terhadap 28 responden. Pada tingkat kemaknaan α(0,05)
dengan nilai (p) yang diperoleh 0,000 karena nilai (p) lebih kecil dari
nilai (α), maka H0 ditolak H1 diterima, ada perubahan terapi air
rebusan seledri untuk menurunkan tekanan darah pada penderita
hipetensi. Kesimpulan dari statistik ini adalah ada pengaruh
pemberian air rebusan seledri untuk menurunkan tekanan darah pada
penderita hipertensi.

Seledri berpengaruh menurunkan tekanan darah, pada dasarnya


seledri mengandung senyawa diuretik dan diduga mampu melebarkan
pembuluh darah, membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan
garam dari tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam darah akan
menurunkan tekanan darah dan sebagai beta blocker yang dapat
memperlambat detak jantung dan mengurangi kekuatan kontraksi
jantung sehingga tekanan darah berkurang (Fausi,2018). Hal ini
dikarenakan seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin 1% minyak
atsiri 0,033% rasa glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin,
zat pahit, vitamin (A,B, dan C) dan alkaloid yang dapat menurunkan
kadar hormon stres dalam darah kita. Hal ini tentu saja
memungkinkan perluasan pembuluh darah, dan juga memberi darah
lebih banyak ruang, sehingga mengurangi tekanan darah. Seledri
merupakan tanaman herbal yang terbukti dapat menurunkan tekanan
darah (Indarti, [Link], 2020).
Seledri juga mengandung phthalides berfungsi untuk membantu
melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan membantu
menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Sebuah penelitian
dapat mereduksi tekanan pembuluh darah hingga 12-14%. Hal ini
didukung juga dalam penelitian oleh ilmuan telah membuktikan
bahwa dengan memakan empat tangkai seledri setiap hari selama 1
minggu tekanan darahnya menurun dari 158/96mmHg ke
73

118/82mmHg. Didapatkan keadaan pada responden sesuai dengan


teori yang ada bahwa seledri dapat menurunkan tekanan darah serta
dalam hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa ada pengaruh
rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi (Yosi et. al, 2021).
Apigenin yang terdapat pada seledri yang dapat mencegah
penyempitan pembuluh darah dan Phthalides yang dapat
mengendurkan otot-otot arteri atau merelaksasi pembuluh darah. Zat
tersebut yang mengatur aliran darah sehingga memungkinkan
pembuluh darah membesar dan mengurangi tekanan darah. Pada
pemberian air rebusan seledri dengan cara di rebus menunjukkan
penurunan tekanan darah. Apigenin dalam seledri berfungsi sebagai
beta blocker yang dapat memperlambat detak jantung dan
menurunkan kekuatan kontraksi jantung sehingga aliran darah yang
terpompa lebih sedikit dan tekanan darah menjadi berkurang. Manitol
dan apiin, bersifat diuretik yaitu membantu ginjal mengeluarkan
kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga berkurangnya
cairan dalam darah akan menurunkan tekanan darah. Flavonoid
berfungsi sebagai mengurangi fungsi organisme/ virus, dapat
memperlancar peredaran darah lalu aliran balik vena ke jantung dapat
menurunkan tekanan darah (Kowalksi, 2010).
Air Rebusan Seledri merupakan salah satu terapi yang tidak
membutuhkan dana yang cukup banyak karena hanya membutuhkan
seledri untuk direbus. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti
pada tanggal 12 Mei sampai dengan 18 Mei 2019 didapatkan hasil
bahwa terdapat perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah
diberikan air rebusan seledri. Peneliti menerapkan dengan cara
siapkan daun seledri 100 gram (8seledri) kemudian cuci daun seledri,
masukkan daun seledri dan tambahkan 300ml air, rebus ± 5 menit
menggunakan api sedang, rebus hingga seledri menjadi 200ml, lalu
minum air rebusan seledri setaip sore hari sekitar jam 14.00-17.00
WIB selama 5 hari berturut-turut. Hasil perbedaan tersebut diperoleh
74

dari hasil lembar observasi yang dilakukan pada responden kemudian


dianalisis dengan menggunakan uji statistik, sehingga terdapat hasil
perbedaan ekanan darah sebelum dan sesudah diberikan terapi air
rebusan seledri yaitu dengan nilai tekanan darah Pre Test
170,00/90,00mmHg dan nilai tekanan darah Post Test 140,00/80,00
mmHg.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Muzakar dan Nuryanto (2015) dengan memberikan rebusan seledri
pada penderita hipertensi selama 5 hari. Rata-rata penurunan tekanan
darah sistolik setelah diberikan air rebusan seledri adalah 20,32
mmHg dan rata-rata penurunan tekanan darah diastolik setelah
diberikan air rebusan seledri adalah 7,09 mmHg. Berdasarkan data
tersebut diperkirakan seledri bermanfaat dalam menurunkan tekanan
darah. Dilihat dari tabel frekuensi usia, diketahui bahwa dari 28
responden air rebusan seledri responden berusia 37-79 tahun dengan
jumlah 28 responden.
Pendapat Susetyowati (2018) menyatakan bahwa faktor usia
sangat berpengruh karena dengan bertambahnya usia maka semakin
tinggi mendapat resiko hipertensi. Hal ini disebabkan karena
perubahan alamiah tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh
darah dan hormon. Berdasarkan Opini peneliti diketahui bahwa
semakin bertambahnya usia pada seseorang maka akan lebih
berpotensi terkena darah tinggi (hipertensi) karena semakin
bertambahnya usia kepekan terhadap hipertensi akan meningkat hal
itu merupakan pengaruh degenerasi pada orang yang bertambah usia.
Semakin bertambahnya usia seseorang maka fungsi-fungsi organ
tubuhnya juga akan berubah dan menurun seperti fungsi jantung, dan
organ tubuh lainya.
Berdasarkan penelitian dan teori di atas didapatkan hasil yang
menjelaskan bahwa pemberian air rebusan seledri merupakan salah
satu terapi yang efektif digunakan untuk menurunkan tekanan darah
pada penderita hipertensi, hal ini disebabkan seledri memiliki
75

kandungan kalium, magnesium, pospor serta vitamin K yang dapat


menurunkan tekanan darah. Air rebusan seledri merupakan terapi yang
menggunakan bahan alami sehingga tidak langsung bekerja pada
tubuh dibandingkan dengan obat penurunan tekanan darah
farmakologi, sehingga membutuhkan waktu yang cukup untuk melihat
adanya perubahan tekanan darah tersebut. Dari hasil yang diperoleh
dapat dipertimbangkan bawasanya pengambilan data 5 hari telah
mendapatkan hasil yang signifikan untuk menurunkan tekanan darah
pada penderita hipertensi diwilayah kerja puskesmas nagaswidak
palembang. Pemberian air rebusan seledri sangat disarankan untuk
penderita hipertensi, hal ini disebabkan pemberian air rebusan seledri
ini tidak mengandung bahan-bahan dan zat kimia seperti kebanyakan
obat penurun tekanan darah yang dapat menyebabkan ketergantungan.
Selain itu air rebusan seledri menggunakan bahan yang alami dan
terjangkau sehingga dapat dengan aman dikonsumsi oleh penderita
hipertensi.

B. Keterbatasan Peneliti
Peneliti telah mengupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan
maksud dan tujuan penelitian. Tetapi peneliti mengakui bahwa jauh dari
kata sempurna dan tidak lepas dari keterbatasan dan kelemahan yang ada.
Dikarnakan terdapat beberapa keterbatasan yang dialami pada saat
dilakukannya penelitian yaitu pada saat penelitian ada beberapa subjek
penelitian yang tidak berkenan untuk diwawancara dikarnakan sudah
pernah beberapa kali diwawancarai oleh mahasiswa yang melakukan
penelitian di subjek penelitian yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut,
peneliti berusaha menjelaskan kembali berdasarkan penyakit dan teori
yang ada serta menyakinkan subjek penelitian bahwa selama melakukan
penelitian ini akan dilakukan sesuai dengan prosedur. Kemudian penelitian
ini hanya berdasarkan diagnosis awal, mengukur dengan menggunakan
tensi digital dan peneliti tidak mengkaji riwayat lansia menderita
hipertensi, peneliti tidak mengawasi faktor confonding yang dapat
76

mempengaruhi tekanan darah seperti, makan, dan minuman yang di


konsumsi, waktu istirahat serta kegiatan yang dilakukan oleh responden
dirumah setelah peneliti pulang.
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan serta diuraikan
pada pembahasan yang terpapar di bab sebelumnya, maka penelitian dapat
memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Diketahui nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik pada
penderita hipertensi sebelum pemberian terapi air rebusan seledri di
wilayah kerja puskesmas nagaswidak palembang, yaitu sistolik 170,00
mmHg dan distolik 90,00 mmhg.
2. Diketahui nilai rata-rata tekanan darah pada penderita hipertensi
sesudah pemberian terapi air rebusan seledri diwilayah kerja
puskesmas nagaswidak palembang, yaitu sistolik 150,00mmHg dan
diastolik 80,00mmHg.
3. Dari Uji Wilcoxon diketahui terdapat perbedaan tekanan rata-rata darah
sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah intervensi air rebusan
seledri, dimana dari uji tersebut diperoleh nilai tekanan darah dengan p
value sistolik dan diastolik. maka dari uji wilcoxon tersebut dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian air rebusan seledri
terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi diwilayah kerja
puskesmas nagaswidak palembang.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang peneliti dapatkan dari hasil penelitian maka
dapat disarankan anatara lain:
1. Bagi Responden
Untuk melanjutkan intervensi penurunan tekanan darah secara mandiri
sampai darah dalam rentan normal dan memperhatikan hal yang dapat
mempengaruhi tekanan darah seperti, berat badan ideal, makanan, dan
istirahat cukup.

77
78

2. Puskesmas
Diharapkan agar pihak puskesmas terkait untuk ikut memberikan
pemahaman atau bahkan intervensi terkait terapi komplementer air
rebusan seledri dalam pengemdalikan tekanan darah dimasyarakat.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber referensi oleh mahasiswa
dalam pembelajaran diperkuliahan terutama untuk keperawatan
komunitas dan gerintik serta sistem kardiovaskuler.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat di manfaatkan sebagai acuan peneliti agar
mampu di kembangkan dalam penelitian yang lebih bervariasi dengan
metode yang beragam seperti:
a. Dengan memperhatikan keterbatasan peneliti selanjutnya dapat
melanjutkan penelitian ini.
b. Melakukan penelitian perberian air rebusan seledri dengan 2 kali
sehari atau lebih.
c. Melihat hubungan riwayat hipertensi terhadap air rebusan seledri.
d. Melakukan perbandingan misalnya air rebusan seledri dengan juz
mentimun.
e. Melanjutkan penelitian dengan melakukan pengawasan terhadap
faktor terjadinya bias pada hasil pemeriksaan tekanan darah pada
saat penelitian untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

A.N.S., Thomas, 2012, Tanaman Obat Tradisional 1, Kanisius, Yogyakarta


Abdul Latief (2012). Obat tradisional. Jakarta: EGC
Anies, [Link] Ajar Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media
Ardiansyah,(2012) Medika Bedah untuk Mahasiswa Banguntapan. Jogjakarta
Bagun,A. V., dan Hakim,L. G., (2015) Pengaruh Kombinasi Perasan Air
Seledri(Apium Graveolens) dan Wortel (Daucus Carota L) Terhadap
Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi Derajat1 di Posbindu RW
09 dan RW21 Wilayah Kerja Puskesmas Padasuka Kota Cimahi. Jurnal
Ilmu Kesehatan, 2(9):523-535.
Benetos, A, Petrovic, M., & Strandberg, T. (2019). Compendium on the
pathophysiology and Frail Older Patients. 1045-1060.
[Link]
Cerry, [Link]. (2015). Pengaruh Pemberian Jus Mentimun Terhadap Tekanan
Darah Pada Penderita Hipertensi di Desa Tolombukan Kec. Pasan
[Link]
[Link]://[Link]/[Link]/jkp/article/view/8088
Diii, P., Kampus, K., & Poltekkes, S. (2013). CUCUMBER JUICE TO
DESCENDING BLOOD PRESSURE. VI(1), 28–32.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan. 2019. Profil Kesehatan Sumatera Selatan.
Palembang.
Hidayat, (2015). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat, A. A. (2017). Metodologi Penelitian Keperawatan dan Kesehatan (A.
Suslia & T. Utami, eds.). Penerbit Salemba Medika.
Huwae, G., Jotlely, H., & Nindatu, M. (2021). Pengaruh Pemberian Air Rebusan
Daun Seledri (Apium graveolens ) Terhadap Penurunan Tekanan Darah
Pada Penderita Hipertensi di wilayah Kerja Puskesmas Kairatu
Kabupaten Seram Bagian Barat. 2(2), 8–18.
Indah, 2019. Pengaruh Pemberian Air Seledri Terhadap Tekanan Darah Pada
Klien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Merdeka
Indarti, E. T., & Oktora, L. (2020). Water Boiling Celery Affects Blood Pressure
in Elderly with Hypertension. 4(1), 33–37.
[Link]
Journal, E. S., Keperawatan, S. I., & Masyarakat, I. K. (2020). PADA
PENDERITA HIPERTENSI Info Artikel Abstrak. 1(1), 26–32.
Kasron.(2016). Buku Ajar Keperawatan Sistem Kardiovaskular. Jakarta: CV

79
80

Trans Info Media.


Kementrian Kesehatan RI. 2019. Profil Kesehatan Indonesia. Kemenkes RI.
Jakarta: Kemenkes RI.
Kurnia, A. (2020). Self-Management HIPERTENSI. Surabaya: [Link] Media
Publishing.
Kurniadi, H & Nurrahmani, U. (2015). Stop! Gejala penyakit jantung koroner,
kolesterol tinggi, diabetes melitus, hipertensi. Yogyakarta: Istana Medis.
Lestari, S. (n.d.). Pengaruh pemberian jus mentimun terhadap penurunan tekanan
darah lansia hipertensi. 654–659.
Maret, R., Mei, A., & Juli, P. (2020). eISSN: 2655- 8688. 160–166.
Mubarak Wahit Iqbal, dkk (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar (Buku 1).
Jakarta: Salemba Medika
Muhadi (2016). Jnc 8 : Evidence-based guideline penanggulangan pasien
hipertensi dewasa. CDK-236, 43(1) : 54-59.
Muhith, A., dan Sitoyo, S., (2016). Pendidikan Keperawatan Gerontik.
Yogyakarta: Andi.
Notoatmodjo, S., (2018) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nuraini, B. (2015). Risk Factors of Hypertension. J Majority, 4(5), 10–19.


[Link]

Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis


Edisi.4. Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
(P. P. Lestari, Ed.) (4th ed.). Jakarta: Salemba Medika.
Peatch, Evelyn C. (2016). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: CV
Priama Grafika.
Pratiwi, DP, Sutadarma, IWG, & Surudarma, IW (2019). Hubungan Pola
Konsumsi Seledri (Apium Graveolens L) Terhadap Tekanan Darah
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. E-Jurnal Medika
Udayana.
Purwanto, S., Psikologi, F., & Muhammadiyah, U. (2016). Hubungan Antara
Intensitas Menjalankan Dzikir. 1(1), 32–38
Rahayu,S., (2017). Sehat Tapa Obat Dengan Seledri. Yogyakarta. Andi Offiset.
Ratnawati, E., (2017). Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Pustaka Baru.
Riskesdas, K. (2018). Hasil Utama Riset Kesehata Dasar (RISKESDAS). (Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Ed.) (Vol. 44). Jakarta:
81

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. [Link]


8113/44/8/085201
Sari, I. (2017). Berdamai Dengan Hipertensi. Jakarta: Bumi Medika.
Sefa, N., Hermawan, A., & Novariana, N. (2018). Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu
Kesehatan Terapi Herbal Sari Mentimun untuk Menurunkan Tekanan
Darah pada Penderita Hipertensi. 3(1), 1–8.
Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 6th ed. Jakarta: EGC; 2012.
Siantar, R. L., Simanjuntak, F. M., & Aritonang, T. R. (2021). Efectiveness of
Celery ( Apium Graveolens ) on Hppertension in The Elderly. 9(1), 360–
365.
Simanjuntak, E. Y., Sinaga, J., Amila, & Meylani. (2021). Hubungan Fungsi
Kognitif
Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi. Jurnal Ilmiah
Keperawatan
Imelda, 7(2), 104–109. [Link]
Sri & Husnul, 2018. Pengaruh Rebusan Daun Seledri Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
PANGKAJENE KABUPATEN SIDRAP.
Suddart, Brunner. 2016. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta: EGC.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
Suryarinilsih, Y., Fadriyanti, Y., & Padang, P. K. (2021). REBUSAN SELEDRI
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN CELERY
DECOCTION AGAINST DECREASE BLOOD PRESSURE OF. XV(02),
134–140.
Tim Bumi Medika. 2017. Berdamai dengan Hipertensi. Jakarta: Bumi Medika
Wicaksana,2019. Efektifitas Pemberian Jus Mentimun Terhadap Perubahan
Tekanan Darah pda Pasien Hipertensi diDesa Kersik Kecamatan Geneng
Kabupaten Ngawi.
Wijaya dan Yessie. (2014) Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha
Medika
Wreda, P., Ibu, H., & Kunci, K. (2020). The implementation of stew water
consumption in reducing head pain in patients hypertension in panti wreda
82

harapan ibu semarang. 4(2), 119–127.


World Health Organization (WHO). 2019. Data Penyakit Hipertensi 2019.
Yanita. 2017. Berdamailah dengan Hipertensi. Jakarta: Bumi Medika.
Yohana & Yovita. (2012) Khasiat bebagai tanaman untuk pengobatan. Jakarta
Yosi [Link], 2021. Rebusan Seledri Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien
Hipertensi.
Zainatun Zahra. [Link] Terapi Rendam Kaki Air Hangat Terhadap
Penurunan Tekanan darah Pada Penderita Hipertensi di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Program Studi
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran.
Zauhani Kusnul, Zainal Munir. Efek pemberian jus mentimun terhadap
penurunan tekanan darah di UPT PSLU (Unit Pelayanan Terpadu,
Pelayanan sosial lanjut Usia) Jombang.[diakses tanggal 23 Februari
2012]. Diunduh dari : [Link]
83

LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Dengan hormat

Saya sebagai mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Institut Ilmu


Kesehatan dan Teknologi Muhammadiyah Palembang.

Nama : Febi Try Mentari


Nim : 21120010P

Bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh Air Rebusan Seledri


Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Wilayah Puskesmas Nagaswidak
Palembang”. Sehubungan dengan ini, saya memohon kesediaan bapak/ ibu/
saudara/ saudari untuk menjadi responden dalam penelitian yang akan saya
lakukan. Kerahasiaan data bapak/ ibu/ saudara/ saudari akan sangat kami jaga dan
informasiyang kami dapatkan akan saya gunakan untuk kepentingan penelitian
ini.
Demikian permohonan saya gunakan untuk kepentingan dan kesediaan
saudara saya ucapkan terimakasi.

Palembang, 2022
Peneliti

Febi Try Mentari


Lampiran 3

FORMULIR PERSETUJUAN PENELITIAN


(INFORMEND CONSEND)
KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama (Inisial) :
Umur :
Alamat :
[Link] :

Dengan ini menyatakan bahwa saya bersedia untuk menjadi responden


dalam penelitian yang akan dilakukan oleh Febi Try Mentari selaku mahasiswa
Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan, dengan judul penelitian “Pengaruh
Air Rebusan Seledri Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi”.
Diwilayah puskesmas nagaswidak palembang tahun 2022
Maka dari itu saya memutuskan bersedia menjadi responden dan akan ikut
berpartisipasi dalam penelitian ini secara sukarela tidak ada unsur keterpaksaan
dari siapapun..

Palembang, 2022
Mengetahui,
Peneliti Responden

Febi Try Mentari (..……………….)


NIM: 21120010P
Lampiran 4

DATA DEMOGRAFI RESPONDEN DENGAN HIPERTENSI DI


WILAYAH PUSKESMAS NAGASWIDAK PALEMBANG TAHUN 2022

Tanggal Penelitian :

No. Responden :

A. Identitas Responden Hipertensi


Jawablah beberapa pertanyaan dengan beri tanda ceklist (√) ini
sebagai identitas diri anda, yaitu sebagai berikut ini:
1. Usia

Tahun

2. Jenis Kelamin
Laki-laki perempuan
3. Pendidikan Terakhir

Tidak Sekolah SD SMP

SMA Perguruan Tinggi

4. Pekerjaan

Petani PNS Pegawai Swasta

Pedagang Buruh Lainnya...

5. Merokok

Iya Tidak

6. Konsumsi Alkohol

Iya Tidak

7. Riwayat Keluarga
Ada Tidak Ada
Lampiran 5

LEMBAR OBSERVASI RESPONDEN AIR REBUSAN SELEDRI

No Nama Umur JK TD Sistolik TD Diastolik


Pre Post Pre Post
1 TN. T 63 L 150 130 100 80
2 TN. M 74 L 160 130 90 80
3 NY. S 63 P 140 130 100 80
4 NY. S 64 P 140 120 100 80
5 NY. J 67 P 140 120 100 90
6 NY. S 65 P 160 140 100 80
7 TN. D 67 L 170 130 100 90
8 TN. K 69 P 150 130 90 80
9 NY. N 79 P 160 140 100 80
10 NY. A 63 P 150 130 100 80
11 NY. C 63 P 160 150 90 80
12 NY.T 53 P 150 130 90 90
13 NY. S 52 P 150 130 100 80
14 NY. E 61 P 160 140 90 90
15 NY. S 54 P 170 150 90 90
16 NY. H 66 P 140 100 90 80
17 NY. P 65 P 150 130 100 80
18 NY. R 68 P 150 130 90 80
19 NY. M 37 P 160 140 100 90
20 NY. P 55 P 150 130 100 90
21 TN. A 50 L 140 120 90 80
22 NY. S 45 P 160 130 90 80
23 NY. K 49 P 150 130 90 80
24 TN. L 55 L 160 130 90 80
25 TN. M 50 L 150 140 90 80
26 NY. M 48 P 170 150 100 90
27 TN. O 55 L 160 140 100 90
28 NY. S 50 P 140 120 90 80
Lampiran 6

TABEL KEPATUHAN MINUM AIR REBUSAN SELEDRI

No Nama Hari Hari Hari Hari Hari Ket


Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5
1. Tn. T √ √ √ √ √ Diminum
2. Tn.M √ √ √ √ √ Diminum
3. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
4. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
5. Ny.J √ √ √ √ √ Diminum
6. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
7. Tn.D √ √ √ √ √ Diminum
8. Tn.K √ √ √ √ √ Diminum
9. Ny.N √ √ √ √ √ Diminum
10. Ny.A √ √ √ √ √ Diminum
11. Ny.C √ √ √ √ √ Diminum
12. Ny.T √ √ √ √ √ Diminum
13. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
14. Ny.E √ √ √ √ √ Diminum
15. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
16. Ny.H √ √ √ √ √ Diminum
17. Ny.P √ √ √ √ √ Diminum
18. Ny.R √ √ √ √ √ Diminum
19. Ny.M √ √ √ √ √ Diminum
20. Ny.P √ √ √ √ √ Diminum
21. Tn.A √ √ √ √ √ Diminum
22. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
23. Ny.K √ √ √ √ √ Diminum
24. Tn.L √ √ √ √ √ Diminum
25. Tn.M √ √ √ √ √ Diminum
26. Ny.M √ √ √ √ √ Diminum
27. Tn.O √ √ √ √ √ Diminum
28. Ny.S √ √ √ √ √ Diminum
Lampiran 7

SOP (Standar Operasional Prosedur)


TEKNIK PEMBUATAN AIR REBUSAN SELEDRI

Pengertian Merupakan salah satu dari jenis terapi herbal untuk


menangani penyakit hipertensi.
Tujuan Untuk menurukan/mengurangi tekanan darah pada
penderita hipertensi
Prosedur 1. Alat dan Bahan
Pelaksanaan a. Daun seledri sebanyak 100gram ± 8 seledri
b. ±300ml air
c. Panci
d. Kompor
e. Saringan dan Gelas
f. Pisau dan Sendok
2. Pelaksanaan Membuat Air Rebusan Seledri
a. Bersihkan seledri yang sudah disiapkan sebanyak
100gram dengan air bersih yang mengalir
b. Potong seledri dan masukan kedalam panci yang
berisi air 300ml
c. Rebus seledri sampai menyusut 200ml (±5 menit)
dengan menggunakan api yang sedang
d. Masukan air rebusan seledri kedalam gelas yang
sudah di sediakan dengan 200ml tunggu hingga
dingin.
3. Cara Pemakaiannya
a. Setelah sedikit dingin minum air rebusan seledri
200ml di sore hari atau di jam 14.00-17.00 wib
b. Minum air rebusan seledri 1 kali sehari di sore
hari selama 5 hari berturut-turut
Sumber Dikembangkan oleh teori Asdie (2016)
Lampiran 8

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

SOP (Standar Operasional Prosedur)


PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Pengertian Pengukuran tekanan darah adalah sesuatu pemeriksaan tekanan darah


diperoleh dari hasil sirkulasi arteri. Aliran darah dari pemompaan
jantung memunculkan gelombang yaitu gelombang tinggi dinamakan
tekanan systole dan gelombang rendah dinamakan tekanan diastole.
Satuan tekanan darah dinyatakan dalam milimeter (mmHg).
Tujuan Untuk mengetahui nilai tekanan darah
Alat dan Bahan  Tensimeter Digital
 Lembaran observasi dan alat tulis
Prosedur 1. Tekan tombol “STARS/STOP” untuk mengaktifkan alat.
Pelaksanaan 2. Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden
sebaiknya menghindar kegiatan aktifitas fisik seperti olahraga,
merokok, dan makan minimal 30 menit sebelum pengukuran.
Dan juga duduk beristirahat setidaknya 5-15 menit sebelum
pengukuran.
3. Hindari melakukan pengukuran dalam kondisi stres. Pastikan
responden duduk dengan posisi kaki menyilang tetapi kedua
telapak kaki datar menyentuh lantai. Letakan lengan kanan
responden diatas meja sehingga mancet yang sudah terpasang
sejajar dengan jantung responden.
4. Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden
dan memintak untuk tetap duduk tanpa banyak gerak dan tidak
berbicara pada saat pengukuran. Apabila responden
menggunakan baju berlengan pajang, singsingkan lengan baju
keatas tapi pastikan lipatan baju tidak terlalu ketat sehingga tidak
menghambat aliran darah di lengan.
5. Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan
terbuka ke atas pastikan tidak ada lekukan pada pipa manset.
6. Jika pengukuran selesai, manset akan mengempis kembali dan
hasil pengukuran akan muncul. Alat akan menyimpan hasil
pengukuran secara otomatis.
7. Tekan “START/STOP” untuk mematikan alat, jika anda lupa
untuk mematikan alat makan alat akan mati dengan sendirinya
dalam 5 menit.
8. Prosedur penggunaan manset dengan memasukan ujung pipa
manset pada bagian alat.
9. Perhatikan arah masuknyaperekat manset, pakai manset
perhatikan arah selang dan patistikan selang sejajar dengan
dengan jari tengah posisi lengan terbuka keatas.
10. Jika manset sudah terpasang dengan benar, rekatkan manset
sehingga menghasilkan pengukuran yang akurat.
11. Pada formulir hasil pengukuran dan periksaan, pengukur
dilakukan dua kali jika jarak antara kedua pengukur sebaiknya
antara 2menit dengan melepaskan manset pada lengan.
12. Apabila hasil pengukuran satu dan kedua terdapat selisih >
10mmHg, ulangi pengukuran ketiga setelah istirahat selama 10
menit dengan melepaskan mancet pada lengan.
13. Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat
dilakukan dengan posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut
dilembar catatan.
Sumber Panduan Peringantan Hari Kesehatan Sedunia 7 April 2013
Lampiran 9

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

SOP (Standar Operasional Prosedur)


PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Pengertian Pengukuran tekanan darah adalah sesuatu pemeriksaan


tekanan darah diperoleh dari hasil sirkulasi arteri. Aliran
darah dari pemompaan jantung memunculkan gelombang
yaitu gelombang tinggi dinamakan tekanan systole dan
gelombang rendah dinamakan tekanan diastole. Satuan
tekanan darah dinyatakan dalam milimeter (mmHg).
Tujuan Untuk mengetahui nilai tekanan darah
Alat dan Bahan  Tensimeter (Spinomanometer)
 Stetoskop
 Lembaran observasi dan alat tulis
Prosedur 1. Siapkan tensimeter dan stetoskop serta lembar
Pelaksanaan observasi
2. Pemeriksa memintak izin kepada pasien/ keluarga
untuk diperiksa
3. Pemeriksa disebelah pasien
4. Memberikan penjelasan sehubungan dengan
pemeriksaan yang akan dilakukan
5. Penderita dapat dalam keadaan duduk atau berbaring
6. Lengan dalam keadaan bebas dan relaks, bebaskan
dari tekanan oleh karena pakaian
7. Pasang manset sedemikian rupa sehingga melingkari
lengan atas secara rapi dan tidak terlalu ketat, kira-
kira 2,5-5cm diatas siku
8. Carilah arteri brachialis, biasanya terletak disebelah
medikal tendo biseps
9. Sekarang ambillah stetoskop, pasangkan corong bel
stetoskop pada arteri Brachialis,lalu kunci balon
tekan searah jarumjam.
10. Pompa manset, sampai kurang lebih 30mmHg di atas
tekanan sistolik
11. Secara perlahan turunkan tekanan manset. Perhatikan
saat dimana denyutan arteri brachialis terdengar
(tekanan systole)
12. Lanjutkanlah penurunan tekanan manset sampai
suara denyutan melemah dan kemudian menghilang.
Tekanan pada saat itu adalah tekanan diastolik
13. Dapat melaporkan tekanan darah sistolik dan
diastolik
14. Melepas manset dan mengembakikannya dan
disimpan selalu dalam keadaan tertutup
Sumber Wicaksana (2019)
Lampiran 10

SOP (Standar Operasional Prosedur)


JIKA TEKANAN DARAH RESPONDEN DROP

Pengertian Suatu keadaan atau tindakan yang dilakukan oleh peneliti


jika responden mengalami keadaan dimana tekanan
darahnya turun dibawah angka normal yaitu mencapai <
110/90mmHg.
Tujuan Suatu acuan dalam penatalaksanaan pada responden jika
terjadi hipotensi saat dilakukan penelitia air rebusan
seledri
Prosedur 1. Bantu pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-
Pelaksanaan tanda hipotensi (tekanan darah rendah)
a. Mengeluhkan keadaan sering pusing
b. Sering menguap
c. Penglihatan kurang jelas (berkunang-kunang)
terutama sehabis duduk lama lalu berjalan
d. Keringat dingin
e. Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga
f. Tampak pucat
g. Mengalami pingsan yang berulang
2. Hentikan pemeberian air rebusan seledri jika
responden atau keuarga melaporkan pada peneliti
penemuan tanda-tanda hipotensi seperti diatas
3. Anjurkan untuk minum air putih dalam jumlah yang
cukup banya antara 8 hingga10 gelas, sesekali minum
kopi agar memicu peningkatan degup jantung
sehingga tekanan darah meningkat dan juga makanan
yang tinggi natrium atau garam.
4. Peneliti segera melakukan pmeriksaan tekanan darah
pada responden
5. Jika tekanan darah tidak kunjung mengalami
kenaikan bawa responden ke pusat kesehatan terdekat
(puskesmas)
6. Drop Out responden dari sampel yang dijadikan
penelitian
7. Ambil atau gantikan responden tersebut dengan
responden lain
8. Lakukan terapi dari awal lagi pada responden yang
baru tersebut
9. Lakukan pemeriksaan tekanan darah series pada
responden yang baru tersebut untuk menghindari
hipotensi pada responden
Sumber Wicaksana (2019)
Lampiran 11
Lampiran 12
Lampiran 13
Lampiran 14
Lampiran 15
Lampiran 16
Lampiran 17
Lampiran 18
Lampiran 19

Output Data

Explore

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Usia Responden 28 100,0% 0 0,0% 28 100,0%


Tekanan Darah Sistolik
28 100,0% 0 0,0% 28 100,0%
Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Sistolik
28 100,0% 0 0,0% 28 100,0%
Setelah Intervensi
Tekanan Darah Diastolik
28 100,0% 0 0,0% 28 100,0%
Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Diastolik
28 100,0% 0 0,0% 28 100,0%
Setelah Intervensi

Descriptives

Statistic Std. Error

Usia Responden Mean 58,9286 1,80015

95% Confidence Interval for Lower Bound 55,2350


Mean Upper Bound 62,6222

5% Trimmed Mean 58,9841


Median 62,0000

Variance 90,735

Std. Deviation 9,52552

Minimum 37,00

Maximum 79,00

Range 42,00

Interquartile Range 15,25

Skewness -,137 ,441

Kurtosis -,200 ,858


Tekanan Darah Sistolik Mean 153,2143 1,78571
Sebelum Intervensi 95% Confidence Interval for Lower Bound 149,5503
Mean Upper Bound 156,8783
5% Trimmed Mean 153,0159
Median 150,0000
Variance 89,286
Std. Deviation 9,44911
Minimum 140,00
Maximum 170,00
Range 30,00
Interquartile Range 10,00
Skewness ,134 ,441
Kurtosis -,804 ,858
Tekanan Darah Sistolik Mean 131,7857 1,99560
Setelah Intervensi 95% Confidence Interval for Lower Bound 127,6911
Mean Upper Bound 135,8804
5% Trimmed Mean 132,2222
Median 130,0000
Variance 111,508
Std. Deviation 10,55973
Minimum 100,00
Maximum 150,00
Range 50,00
Interquartile Range 10,00
Skewness -,586 ,441
Kurtosis 2,052 ,858
Tekanan Darah Diastolik Mean 95,0000 ,96225
Sebelum Intervensi 95% Confidence Interval for Lower Bound 93,0256
Mean Upper Bound 96,9744
5% Trimmed Mean 95,0000
Median 95,0000
Variance 25,926
Std. Deviation 5,09175
Minimum 90,00
Maximum 100,00
Range 10,00
Interquartile Range 10,00
Skewness ,000 ,441
Kurtosis -2,160 ,858
Tekanan Darah Diastolik Mean 83,2143 ,89879
Setelah Intervensi 95% Confidence Interval for Lower Bound 81,3701
Mean Upper Bound 85,0585
5% Trimmed Mean 83,0159
Median 80,0000

Variance 22,619

Std. Deviation 4,75595

Minimum 80,00

Maximum 90,00

Range 10,00

Interquartile Range 10,00

Skewness ,809 ,441

Kurtosis -1,456 ,858

Normalitas:
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic df Sig.

Usia Responden ,165 28 ,048 ,971 28 ,603


Tekanan Darah Sistolik
,205 28 ,004 ,882 28 ,004
Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Sistolik
,254 28 ,000 ,871 28 ,003
Setelah Intervensi
Tekanan Darah Diastolik
,337 28 ,000 ,639 28 ,000
Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Diastolik
,429 28 ,000 ,591 28 ,000
Setelah Intervensi

a. Lilliefors Significance Correction


Tekanan Darah Sistolik Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Sistolik Setelah
Tekanan Darah Diastolik Sebelum Intervensi
Tekanan Darah Diastolik Setelah Intervensi
Paired t-test

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Tekanan Darah Sistolik


153,2143 28 9,44911 1,78571
Sebelum Intervensi

Tekanan Darah Sistolik


131,7857 28 10,55973 1,99560
Setelah Intervensi
Pair 2 Tekanan Darah Diastolik
95,0000 28 5,09175 ,96225
Sebelum Intervensi

Tekanan Darah Diastolik


83,2143 28 4,75595 ,89879
Setelah Intervensi

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 Tekanan Darah Sistolik


Sebelum Intervensi &
28 ,757 ,000
Tekanan Darah Sistolik
Setelah Intervensi
Pair 2 Tekanan Darah Diastolik
Sebelum Intervensi &
28 ,229 ,240
Tekanan Darah Diastolik
Setelah Intervensi

Paired Sampel test


Paired Samples Test

Paired Differences

95% Confidence

Std. Std. Interval of the

Deviatio Error Difference Sig. (2-


Mean n Mean Lower Upper t df tailed)

Pair Tekanan
1 Darah Sistolik
Sebelum
Intervensi -
21,42857 7,05234 1,33277 18,69396 24,16318 16,078 27 ,000
Tekanan
Darah Sistolik
Setelah
Intervensi
Pair Tekanan
2 Darah
Diastolik
Sebelum
Intervensi -
11,78571 6,11832 1,15625 9,41328 14,15815 10,193 27 ,000
Tekanan
Darah
Diastolik
Setelah
Intervensi

Uji Wilcoxon

Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks


a
Tekanan Darah Sistolik Negative Ranks 28 14,50 406,00
Setelah Intervensi - Tekanan Positive Ranks b
0 ,00 ,00
Darah Sistolik Sebelum Ties 0
c

Intervensi
Total 28
d
Tekanan Darah Diastolik Negative Ranks 25 13,00 325,00
Setelah Intervensi - Tekanan Positive Ranks e
0 ,00 ,00
f
Darah Diastolik Sebelum Ties 3
Intervensi Total 28

a. Tekanan Darah Sistolik Setelah Intervensi < Tekanan Darah Sistolik Sebelum Intervensi
b. Tekanan Darah Sistolik Setelah Intervensi > Tekanan Darah Sistolik Sebelum Intervensi
c. Tekanan Darah Sistolik Setelah Intervensi = Tekanan Darah Sistolik Sebelum Intervensi
d. Tekanan Darah Diastolik Setelah Intervensi < Tekanan Darah Diastolik Sebelum Intervensi
e. Tekanan Darah Diastolik Setelah Intervensi > Tekanan Darah Diastolik Sebelum Intervensi
f. Tekanan Darah Diastolik Setelah Intervensi = Tekanan Darah Diastolik Sebelum Intervensi

a
Test Statistics

Tekanan Darah
Tekanan Darah Diastolik
Sistolik Setelah Setelah
Intervensi - Intervensi -
Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistolik Diastolik
Sebelum Sebelum
Intervensi Intervensi
b b
Z -4,837 -4,562
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000 ,000

a. Wilcoxon Signed Ranks Test


b. Based on positive ranks.
Lampiran 20

DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai