ISSN 2549-5607 The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching
PEMBELAJARAN LITERASI YANG BERKARAKTER
Sri Mulyanti
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Suryakancana Cianjur
email: srimulyanti41@[Link]
Abstrak
Akhir-akhir ini hal berkenaan dengan literasi hangat diperbincangkan seantero Indonesia. Gerakan
Literasi di Sekolah (GLS) sudah diterapkan di hampir seluruh sekolah. GLS ini mendukung
gerakan penumbuhan budi pekerti seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015.
Dalam Permen tersebut ditegaskan bahwa setiap hari siswa menggunakan 15 (lima belas) menit
sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku pelajaran. Kegiatan tersebut dilakukan
setiap hari agar menjadi sebuah kebiasan. Siswa diharapkan memiliki kebiasan membaca.
Kegiatan membaca ini diharapkan pula berdampak pada kompetensi menulis, berpikir kritis dan
mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulis serta memiliki karakter yang baik. Hal tersebut
tentu harus didukukng dengan pembelajaran literasi di kelas. Subandriah (2013) mengungkapkan
bahwa model pembelajaran literasi adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai
panduan untuk melaksanakan kegiatan di kelas atau pembelajaran tutorial untuk meningkatkan
keterampilan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir, berbicara, membaca, dan menulis untuk
membangun suatu kemampuan pada operasi kognitif tertentu dengan tulisan, perkataan, kalimat,
dan teks agar mampu berkomunikasi untuk melayani tuntutan masyarakat modern. Banyak
pendekatan, metode, dan strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran literasi.
Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan kemudahan kepada guru dalam pelaksanaan
pembelajaran literasi dengan menggunakan panduan pembelajaran yang disusun berdasarkan
gabungan beberapa metode dan teknik mengajar yang terintegrasi dengan pendidikan karakter.
Selain itu, panduan pembelajaran literasi ini juga menjadikan siswa belajar literasi dengan
gembira tanpa beban belajar yang berarti tetapi menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi
literasi yang unggul sehingga menjadi komunikator yang baik. Pengembangan Kurikulum 2013
menempatkan kemampuan berkomunikasi menduduki urutan pertama sebagai kompetensi masa
depan bagi para siswa. Ini berarti siswa dituntut untuk mahir berkomunikasi baik lisan maupun
tulis.
Kata Kunci: literasi, pembelajaran lieterasi, pendidikan karakter, kemampuan berkomunikasi.
Abstract
Recently, literacy warmly discussed throughout Indonesia. School Literacy Movement (Gerakan
Literasy Sekolah = GLS) has been implemented in almost all schools. GLS supports the growth
of the manners movement as stated in Permendikbud No. 23 of 2015. Based on minister
regulion affirmed that at least students are using fifteen (15) minutes before learning to read
books besides textbooks. This activities are carried out in order to become a habit. Students
are expected to have reading habits. This reading activity are also expected to have an impact
on the competence of writing, critical thinking, good communication both spoken and written
as well as having good character. It certainly should be supported by literacy learning in the
classroom. Subandriah (2013) confirmed that the literacy learning model is a conceptual
framework that is used as a guidance for carrying out activities in the classroom or instructional
tutorials to improve skills related to activities of thinking, speaking, reading, and writing to
build up a capability to the certain cognitive skills by writing, speaking, and text to be able to
communicate to serve the demands of modern society. There are lot of approaches, methods,
890
The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching ISSN 2549-5607
and strategies that can be used by teachers in teaching literacy. The purpose of this paper is
to provide convenience to the teachers in implementing literacy learning by using learning
guides arrangged based on a combination of several methods and techniques of teaching that
is integrated with educational character. In addition, the guidance of literacy learning also
makes students learn literacy happily without burdening of learning that means it still produce
students who have superior literacy competence in becoming a good communicator. The 2013
Curriculum Development puts the ability to communicate as the first ranked competence in the
future. This means that students are required to proficiently communicate both spoken and written.
Keywords: literacy, learning literacy, educational character, the ability to communicate.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini hal berkenaan dengan literasi hangat diperbincangkan seantero Indonesia.
Gerakan Literasi di Sekolah (GLS) sudah diterapkan di hampir seluruh sekolah. GLS ini
mendukung gerakan penumbuhan budi pekerti seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor
23 Tahun 2015. Dalam Permen tersebut ditegaskan bahwa setiap hari siswa menggunakan 15
(lima belas) menit sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku pelajaran. Kegiatan
tersebut dilakukan setiap hari agar menjadi sebuah kebiasan. Siswa diharapkan memiliki kebiasan
membaca. Kegiatan membaca ini diharapkan pula berdampak pada kompetensi menulis, berpikir
kritis dan mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulis serta memiliki karakter yang baik. Hal
tersebut tentu harus didukukng dengan pembelajaran literasi di kelas.
Hasil dialog dengan guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Cianjur baik di tingkat SMP maupun
SMA, para guru menginginkan adanya langkah-langkah pembelajaran bahasa Indonesia umumnya
dan pembelajaran literasi secara khusus yang lebih rinci sehingga memudahkan mereka dalam
mengimplementasikan pembelajaran tersebut di dalam kelas. Langkah-lankah pembelajaran yang
selama ini ada dalam Buku Guru menurut mereka sudah membantu, hanya akan lebih memudahkan
lagi kalau langkah-langkah pembelajaran tersebut disajikan secara lebih rinci .Masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana langkah-langkah pembelajaran literasi yang teritegrasi dengan
pendidikan karakter dalam pelaksanaan pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013. Penelitian ini
bertujuan memberi kemudahan kepada guru bahasa Indonesia dalam pelaksanaan pembelajaran
literasi berdasarkan kurikulum 2013 yang terintegrasi dengan pendidikan karakter. Penelitian ini
diharapkan memberi manfaat kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia dalam melaksanakan
pembelajaran bahasa Indonesia khususnya berkenaan dengan literasi yang terintegrasi dengan
pendidikan karakter dan berdasarkan kurikulum 2013.
Pengembangan kemampuan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia terfokus pada kompetensi
literasi (Puskur, 2007). Berdasar pada pernyataan tersebut, dalam penelitian ini yang dimaksud
dengan pembelajaran literasi adalah pembelajaran bahasa Indonesia. Pokok bahasan yang
dijadikan penelitian ini adalah menginterpretasi laporan hasil observasi. Lebih jauh dijelaskan
bahwa kompetensi literasi merupakan kemampuan menyelesaikan masalah atau mencapai
tujuan dalam dunia nyata dengan menggunakan teks sebagai alat utamanya. Seperti yang kita
ketahui bersama, pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks
merupakan satu kesatuan makna dan dipengaruhi oleh konteks situasi dan konteks budaya (Emilia,
2016:26). Dalam konteks pendidikan bahasa di Indonesia, konsep literasi lebih baik dikaitkan
bukan hanya dengan kompetensi komunikatif tulis, tetapi juga kompetensi komunikatif lisan
(Puskur, 7:2007). Pentingnya literasi salah satunya dikarenakan sebagian besar proses pendidikan
bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dengan baik
akan memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan dan mencapai
keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat (Kemdikbud, 2015:1).
Pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan membina dan mengembangkan pengetahuan dan
891
ISSN 2549-5607 The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching
keterampilan berkomunikasi yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh pendidikan dan di
dunia kerja. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia bisa dijadikan wahana penanaman nilai-
nilai budi pekerti atau karakter bangsa seperti yang diaparkan dalam permendikbud No. 23 Tahun
2015.
Pendidikan karakter merupakan sebuah upaya dan proses membentuk dan menanamkan nilai-
nilai karakter pada seseorang/siswa melalui pendidikan. Hasil pendidikan tersebut terlihat dalam
tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, kerja keras,
menghormati hak orang lain, dan sebagainya ,karena potensi yang ada dalam diri manusia harus
dikembangkan. Selain itu pendidikan karakter juga merupakan kinerja sebuah lembaga pendidikan
mencakup proses pembiasaan tentang perilaku yang baik (olah hati, olah pikir, olah raga dan
kinestetik,olah rasa dan karsa), bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
memberikan keputusan baik-buruk, memelihara hal-hal yang baik, dan mengimplementasikan
kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari tanpa paksaan atau dengan sepenuh hati (Mulyanti,
2012). Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kelanjutan gerakan nasional
pendidikan karakter bangsa tahun 2010. Salah satu implementasi gerakan PPK dengan cara
mengintegrasikan pada mata pelajaran. Pentingnya integrasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam
pembelajaran bahasa Indonesia dikarenakan hal ini merupakan bagian dukungan terhadap program
Nawacita yaitu Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan Revolusi Mental dalam Pendidikan.
Nilai-nilai utama dalam PPK yaitu religius (beriman bertakwa, bersih, toleransi,cinta lingkungan),
nasionalis (cinta tanah air, semangat kebangsaan, menghargai kebhinnekaan), mandiri (kerja keras,
kreatif, disiplin, mandiri, pembelajar), gotong royong (kerja sama, solidaritas, saling menolong,
kekeluargaan) dan integritas (kejujuran, keteladanan, kesantunan, cinta pada kebenaran)
(Kemdikbud, 2017) .Nilai-nilai tersebut akan diintegrasikan dalam pelaksanaan pembelajaran
bahasa Indonesia.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang berfokus pada upaya
memproduksi dan memvalidasi suatu model pendidikan yakni kegiatan pembelajaran khususnya
kegiatan guru berupa petunjuk untuk guru yang ada dalam Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas
X. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah pengembangan desain/langkah
langkah pembelajaran bahasa Indonesia terintegrasi pendidikan karakter. Desain pembelajaran ini
diharapkan mampu membantu sekaligus memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran
bahasa Indonesia sehingga hasil belajar bahasa Indonesia siswa meningkat dan memiliki karakter
yang baik.
Terdapat 10 (sepuluh) langkah penelitian pengembangan menurut Borg &Gall (1989:775) yaitu
research and information, planning, develop preliminary, preliminary form of product, main
product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing,
final product revision, dan disseminaton and implementation. Dari sepuluh langkah penelitian
pengembangan yang dikemukakan Borg & Gal tersebut, dalam penelitian ini hanya digunakan
tiga langkah yaitu research and information (penelitian dan pengumpulan Informasi), planning
(perencanaan) dan develop preliminary (pengembangan produk).
Pada tahap research and information (penelitian dan pengumpulan informasi), dilakukan
analisis kebutuhan di lapangan berupa wawancara kepada guru bahasa Indonesia kelas X
tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan peran Buku Guru Bahasa Indonesia khususnya
berkenaan dengan penjelasan kegiatan guru yang dipandu dalam kolom petunjuk untuk guru.
Melalui kegiatan ini akan diperoleh gambaran mengenai manfaat dan fungsi Buku Guru Bahasa
Indonesia khususnya berkenaan dengan penjelasan petunjuk untuk guru dalam pelaksanaan
kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Selanjutnya pada tahap planning (perencanan) kegiatan
yang dilakukan di antaranya merencanakan langkah-langkah pembelajaran Bahasa Indonesia
892
The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching ISSN 2549-5607
yang sesuai dengan kebutuhan guru dan sesuai dengan amanat dalam permendikbud no 23 tahun
2015 dan program Nawacita butir 8 tentang gerakan revolusi mental salah satunya dengan cara
pengembangan pendidikan karakter, yaitu dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan
karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Terakhir develop preliminary (pengembangan
produk), setetah referensi yang diperlukan terkumpul, dibuatlah langkah langkah pembelajaran
bahasa Indoensia yang terintegrasi dengan pendidikan karakter. Langkah-langkah pembelajaran
disesuaikan dengan Kurikulum 2013. Hasil akhir divalidasi oleh tiga orang ahlli/pakar yaitu Prof.
Dr. Iskandarwassid, [Link]. sebagai ahli pada bidang pembelajaran bahasa Indonesia, Dr. Hj. Siti
Maryam, [Link]. sebagai ahli pendidikan karakter, dan Ratna [Link], sebagai guru senior Bahasa
Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia diperoleh informasi bahwa kolom petunjuk untuk
guru dalam Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X cukup membantu guru dalam pelaksanaan
keguatan pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kolom tersebut sudah bermuatan pendidikan
karakter hanya guru masih bingung menjabarkan karakter tersebut. Menurut mereka, kolom
petunjuk guru lebih mudah diimplementasikan apabila dijabarkan lebih rinci demikian pula
muatan karakter yang ada dalam pembelajaran lebih baik tersurat secara jelas. Berdasarkan hasil
analisis terhadap kolom petunjuk untuk guru dalam Buku Guru Bahasa Indonesia, petunjuk
tersebut sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dalam Kurikulum 2013, hanya
kegiatan belum dirinci menjadi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Selain itu,
integrasi pendidikan karakter masih belum lengkap dan belum jelas secara tersurat. Berikut salah
satu contoh petunjuk untuk guru Bahasa Indonesia kelas X (Kemdikbud, 2015:9)
Petunjuk untuk Guru
Guru dapat memulai pembelajaran dengan menampilkan contoh sebuah paragraf kemudian
menugaskan siswa membuat ringkasannya. Langkah ini sangat bagus untuk mengetahui secara
pasti pemahaman siswa tentang ringkasan dan cara membuat ringkasan yang tepat. Tanpa
mengomentari benar salahnya hasil ringkasan yang dibuat siswa, guru kemudian mengajukan
pertanyaan, “Apakah ringkasan itu?”, “Bagaimana cara membuat ringkasan?”, dan “Apa manfaat
ringkasan?’ Sebuah ringkasan pada dasarnya merupakan rangkaian pokok-pokok pikiran
yang dirangkai menjadi satu dengan tetap memperhatikan urutan isi bagian demi bagian, dan
sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan. Untuk menyusun
sebuah ringkasan, hal yang pertama harus dilakukan adalah membaca pemahaman si teks,
kemudian menemukan pokok-pokok isi informasi di dalamnya. Pokok-pokok isi sebuah teks
dapat ditemukan dengan menemukan kalimat utamanya. Kalimat utama adalah kalimat yang di
dalamnya mengandung pokok fikiran atau gagasan utama yang menjadi dasar pengembangan
sebuah paragraf.
Dalam kolom petunjuk untuk guru tersebut, kegiatan dalam satu pertemuan utuh dari mulai
pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam hal ini
pembelajaran meringkas teks laporan hasil observasi belum tergambar
Pada buku guru kolom petunjuk untuk guru belum tampak pendidikan karakter yang harus
diintegrasikan, hal ini belum bisa dipahami oleh sebagian besar guru.
Pengembangan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia yang berupa kolom petunjuk untuk guru dalam Buku
893
ISSN 2549-5607 The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching
Guru Bahasa Indonesia Kelas X dikembangkan sesuai dengan kebutuhan guru. Berikut disajikan
contoh pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan pendidikan
karakter.
Petunjuk untuk Guru
Pendahuluan
6. Guru/pendidik masuk ke dalam kelas (kaki kanan dahulukan, Basmalah, Salam)
(Karakter:Religius/Beriman Bertakwa).
7. Guru menungaskan salah seorang peserta didik memimpin berdoa sesuai dengan agama
dan kepercayaan masing-masing (Karakter: Religius/Beriman Bertakwa)
8. Guru menanyakan peserta didik yang tidak hadir pada hari itu beserta alasannya kepada
ketua kelas/sekretaris kelas, jika ada yang sakit, guru dan para siswa medoakan agar siswa
yang sakit cepat sembuh (Karakter:Religius/Toleransi)
9. Guru mengajak siswa untuk senantiasa bersyukur atas kesehatan, cuaca/udara yang
dianugerahkan Allah SWT (Karakter:Religius/Beriman Bertakwa)
10. Guru mengajak siswa untuk mensyukuri bahasa Indonesia dan banyaknya bahasa daerah
yang ada di Indonesia dan mengajak untuk senantiasa bersikap positif pada bahasa
Indonesia dan melestarikan bahasa daerah (Karakter: Nasionalis/Cinta Tanah Air)
11. Guru bersama siswa memeriksa kebersihan kelas (Karakter: Religius/Cinta Lingkungan)
12. Guru menjelaskan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran dengan bahasa santun,
ekspresi wajah senang/bahagia dengan bahasa tubuh yang baik (Karakter:Integritas/
Kesantunan).
Kegiatan Inti
1. Siswa ditugasi membaca teks laporan hasil observasi. Guru dapat menayangkan video teks
laporan hasil observasi dari televisi, internet atau sumber lainnya. Namun, bila fasilitas
sekolah tidak memadai, guru dapat menggunakan teks contoh yang telah disediakan dalam
buku teks yaitu teks berjudul Wayang (Karakter: Mandiri/Pembelajar)
2. Tanya jawab guru dan siswa tentang teks laporan hasil observasi. Dalam kegiatan tanya
jawab, Guru mentolerir jawaban yang nyeleneh, menghargai setiap jawaban siswa.
(Karakter: Mandiri/Kreatif)
3. Seluruh siswa dibagi menjadi enam kelompok. Guru membagi kelompok dengan bijaksana
(Karakter: Gotong Royong/Kerja sama)
4. Siswa ditugasi meringkas teks laporan hasil observasi (Karakter: Mandiri/Kerja Keras)
5. Masing-masing kelompok melaporkan hasil ringkasan teks laporan hasil observasi (ke
depan kelas/presentasi dengan seksama kemudian menanyakan kelebihan dan kekurangan
hasil ringkasan (Karakter Integritas/Kejujuran)
6. Masing-masing kelompok mencoba menjawab kelebihan dan kekurangan ringkasan teks
laporan hasil observasi. Tanya jawab berjalan dengan tertib. Siswa menunggu giliran
untuk bertanya (Karakter:Integritas/Jujur;Mandiri/Disiplin)
Keterangan:
• Guru mengawasi jalannya diskusi kelompok, mengomentari penggunaan bahasa yang
digunakan siswa. Guru menegur langsung dan memperbaiki kesalahan berbahasa siswa
jika ada. Masing-masing kelompok mencoba membahas permasalahan berkenaan dengan
menyusun ringkasan teks hasil observasi. Dalam membahas permasalahan, siswa saling
mengahargai pendapat, mematuhi aturan-aturan dalam kelompok, dan berkomunikasi
dengan baik serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penuh kesantunan.
Guru menegur dan memperbaiki secara langsung bila ada siswa yang melakukan kesalahan
894
The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching ISSN 2549-5607
• Guru memberi tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar
(banyak/semua jawaban benar)
• Guru membimbing diskusi kelompok, memberikan arahan materi pembelajaran yang
harus dibahas di antaranya berkenaan teknik menyusun ringkasan
• Ketika siswa berdiskusi, guru tidak memainkan HP. Selama di kelas sebaiknya guru tidak
bermain HP.
7. Masing-masing kelompok mengembangkan susunan ringkasan isi laporan teks observasi.
Siswa menunjukkan penghargaan terhadap perbedaan pendapat dalam mengembangkan
ringkasan isi laporan teks observasi. Beberapa Siswa perwakilan kelompok tampil ke
depan kelas membacakan hasil pengembangan teks laporan hasil observasi (Karakter:
Mandiri/Kreatif; Religius/Toleransi)
Keterangan:
• Guru memberikan kesempatan yang sama baik kepada siswa laki-laki maupun perempuan
untuk mengemukakan pendapatnya/tampil ke depan kelas (agar tidak bias gender).
• Guru juga berterima kasih kepada siswa yang telah tampil ke depan, memberi pujian
sebagai motivasi bagi siswa yang telah aktif dalam kegiatan belajar. Selain itu, guru juga
memberikan motivasi kepada siswa yang masih pasif mengikuti pembelajaran.
8. Guru menanyakan kesulitan dalam menyusun ringkasan isi laporan teks observasi
(Karakter: Gotong Royong/Solidaritas )
9. Pendidik memberitahukan bahwa pada pertemuan berikutnya tugas menyusun ringkasan
teks hasil observasi harus selesai. (Karakter Mandiri/Kreatif/Disiplin)
Penutup
1. Siswa membuat rangkuman pembelajaran hari ini (Karakter: Mandiri/Kreatif)
2. Peserta didik dengan panduan guru melakukan refleksi. Misalnya menegaskan kembali
tentang hal-hal yang harus diperhatikan ketika menyusun ringkasan teks hasil observasi
(Karakter: Mandiri/Pembelajar)
3. Guru memberikan umpan balik kepada siswa dengan memberi penguatan dalam bentuk
lisan pada siswa yang telah menyelesaikan tugas menyusun ringkasan teks hasil observasi
(Karakter: Integritas/Keteladanan)
4. Guru meminta siswa mengungkapkan kembali tentang apa saja yang sudah diperoleh
dalam kegiatan pembelajaran hari ini, mengajak siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari, memberi konfirmasi pada hasil pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh siswa
melalui sumber buku lain (Karakter: Integritas/Kejujuran-Cinta pada kebenaran).
5. Guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman
belajar yang sudah dilakukan, memberikan motivasi kepada siswa yang kurang dan belum
bisa mengikuti dalam materi mengenai cara menyusun ringkasan isi laporan teks observasi
(Karakter: Integritas/Keteladanan).
6. Siswa menyimak penjelasan guru dengan seungguh-sungguh dan memperbaiki hasil
menulisnya. Siswa memperhatikan penjelasan dan komentar guru berkenaan menyusun
ringkasan isi laporan teks observasi (Karakter: Integritas/Kejujuran)
7. Siswa mencatat informasi tentang tugas untuk pertemuan berikutnya, yaitu menyelesaikan
tugas menyusun ringkasan isi laporan teks observasi (tugas kelompok) (Karakter: Mandiri/
Disiplin)
895
ISSN 2549-5607 The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching
8. Salah seorang peserta didik memimpin berdoa untuk mengakhiri pembelajaran
(Karakter:Religius/Beriman Bertakwa)
Keterangan:
• Guru menutup pembelajaran dengan kata-kata motivasi. Bersama siswa, guru mensyukuri
kegiatan belajar hari ini dengan harapan memiliki banyak manfaat.
• Guru dan siswa mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan membaca hamdallah.
• Guru mengingatkan siswa merapikan pakaiannya, tempat duduknya dan memperhatikan
kebersihan kelas sebelum beralih ke mata pelajaran berikutnya atau berakhirnya pelajaran.
• Guru menanamkan harapan kepada siswa agar memahami sebuah pencapaian positif dan
bermanfaat.
• Guru menyampaikan kata-kata motivasi terakhir sebelum keluar kelas misalnya kemalasan
adalam musuh kita semua.
Hasil pengembangan kegiatan pembelajaran tersebut di atas sudah sesuai dengan kurikulum 2013
dan merupakan salah satu alternatif kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan guru di kelas
agar hasil pembelajaran optimal. Langkah-lankah pembelajaran tersebut merupakan bagian dari
RPP (rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Guru dapat mengembangkan dan menganalogikan
lebih lanjut langkah-langkah pembelajaran tersebut.
Langkah-langkah pembelajaran bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan pendidikan karakter
tersebut di atas diharapkan berdampak lebih baik pada siswa. Selain memiliki kompetensi
mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis juga siswa memiliki karakter yang
baik. Intinya siswa memiliki kompetensi komunikasi yang baik dan berkarakter.
SIMPULAN
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan bagian dari pembelajaran literasi. Hal ini dikarenakan
pengembangan kemampuan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia terfokus pada kompetensi
literasi. Pembelajaran bahasa Indonesia sangat ideal jika dalam pelaksanaan pembelajarannya
diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter. Dalam praktik pembelajaran bahasa Indonesia,
selama ini guru dipandu menggunakan Buku Guru Bahasa Indonesia. Di dalam buku tersebut
terdapat kolom petunjuk untuk guru. Kolom tersebut memudahkan guru untuk melaksanakan
pembelajarannya. Akan tetapi, kolom tersebut menurut hasil wawancara dengan guru dan hasil
analisis, kurang terinci dan kurang bermuatan nilai-nilai karakter. Hal yang menyulitkan bagi
guru adalah mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pelaksanaan pembelajaran.
Hasil penelitian ini yang berupa pengembangan kolom petunjuk untuk guru disertai langkah-
langkah pembelajaran secara terinci dan bermuatan nilai-nilai karakter, diharapkan memudahkan
guru untuk melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dan memudahkan pula dalam menyusun
RPP. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pengembangan ini
diharapkan pula agar siswa memiliki kompetensi komunikasi yang baik dan berkarakter.
Penelitian ini tentunya akan lebih baik jika ditindaklanjuti dengan penelitian berikutnya. Hal
ini dikarenakan hasil penelitian ini belum diimplementasikan di dalam kelas artinya belum
diujicobakan oleh guru bahasa Indonesia. Penelitian ini hanya sebatas pengembangan kolom
petunjuk untuk guru yang ada di dalam Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X.
REFERENSI
Borg, R Walter dan Gall Meredith D. 1989. Educational Research An Introduction. Longman:
Fifth Edition.
Chaedar Alwasilah. (2005). “Kurikulum Berbasis Literasi”, dalam [Link]
896
The 1st International Conference on Language, Literature and Teaching ISSN 2549-5607
[Link]/2008/08/13/kurikulum-berbasis-literasi/ diakses 20 Februari 2017.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata
Pelajaran Bahasa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.
Emilia, Emi. 2016. Pendekatan Berbasis Teks dalam Pengajaran bahasa Inggris. Bandung:Kiblat.
Kemdikbud RI. 2017. Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter Tingkat Sekolah
Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Tersedia pada [Link]
[Link]. Diakses 20 Februari 2017.
Mulyanti, Sri. 2012. Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia Berorientasi
Pendidikan Karakter. Upi Bandung: Disertasi.
Priyatni, Endah Tri. 2015. Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Salinan Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Subadriyah, dkk (2013). Penerapan Model Pembelajaran Literasi Dalam Peningkatan Membaca
Kalimat Dengan Aksara Jawa Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Kenoyojayan Tahun
Ajaran 2012/2013. FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta
897