BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Teori Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
1. Pengertian
Antenatal care ( ANC ) adalah suatu program yang terencana
berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk
memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan
memuaskan. Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh
pelayanan kesehatan oleh tenaga professional (dokter spesialis kebidanan,
dokter umum, bidan, perawat) untuk ibu selama masa kehamilannya,
sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal. (Elizabeth:2013)
Pelayanan atau asuhan merupakan cara untuk memonitor dan
mendukung kesehatan ibu hamil dan mendeteksi ibu dengan kehamilan
normal.(Prawirohardjo,2011).
2. Fisiologi Kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan
yang terdiri dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi
dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi (implantasi) pada uterus,
pembentukan plasenta, tumbuh kembang hasil konsepsi di aterm di dalam
uterus yang berlangsung selama lebih kurang 40 minggu (Maritalia dkk,
2012).
8
9
3. Tujuan Antenatal Care
Tujuan utama dari pelayanan Antenatal Care (ANC) yaitu
memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan
fisik, mental ibu dan bayi, mengenali secara dini adanya ketidak normalan
atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat
penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan
persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu dan bayinya
dengan trauma semaksimal mungkin, serta mempersiapkan ibu agar masa
nifas berjalan normal dan pemberian ASI Ekslusif.
Tujuan pelayanan antenatal (Maritalia dkk ,2012) antara lain :
a. Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi
dengan memberikan pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses
kelahiran bayi.
b. Mendeteksi dan menatalaksana komplikasi medis, bedah ataupun
obstetri selama kehamilan
c. Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan
menghadapi komplikasi
d. Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses,
menjalankan puerperium normal, dan merawat anak secara fisik,
psikologis dan sosial secara normal.
10
4. Standar Antenatal Care
Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada sepuluh
standar pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan
yang dikenal dengan dengan 10 T.
Pelayanan atau asuhan standar minimal 10 T adalah sebagai
berikut (Midwifery Update, 2016) :
a. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
Menurut teori Salsabila (2008) bahwa berat badan wanita hamil
akan naik kira kira diantara 6,5-16,5 kg atau rata rata 12,5 kg.
BB sebelum hamil
Perhitungan IMT pada ibu , yang termasuk kategori
TB(dalam m)❑2
gemuk/ lebih dari normal. Hal ini masih termasuk normal sesuai
dengan teori Prawirohardjo 2008) yang menyatakan bahwa yang dapat
berpengaruh tidak baik pada kehamilan adalah kategori berat badan di
bawah normal yaitu kurang dari 20 yang sering dihubungkan dengan
abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah, dan berat badan
overweight yaitu lebih dari 30 yang dapat meningkatkan resiko atau
komplikasi kehamilan seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi
kesulitan dalam persalinan.
b. Pemeriksaan tekanan darah
c. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
d. Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri)
11
Tabel 2.1 Tinggi Fundus Uteri Berdasarkan Usia Kehamilan
Umur Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
12 minggu 1/3 di atas simpisis
16 minggu 1/2 simpisis-pusat
20 minggu 2/3 di atas simpisis
24 minggu Setinggi pusat
28 minggu 1/3 di atas pusat
34 minggu 1/2 pusat-prosessus xifoideus
36 minggu Setinggi prosessus xifoideus
40 minggu 2 jari di bawah prosessus xifoideus
e. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
f. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) .
Tabel 2.2 Imunisasi TT
% Masa
TT Interval
Perlindungan Perlindungan
TT 1 - 0% -
TT 2 4 minggu setelah TT 1 80% 3 tahun
TT 3 6 bulan setelah TT 2 95% 5 tahun
TT 4 1 tahun setelah TT 3 99% 10 tahun
TT 5 1 tahun setelah TT 4 99% Seumur hidup
12
g. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
h. Test laboratorium (rutin dan khusus)
i. Tatalaksana kasus
j. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan.
5. Jadwal kunjungan antenatal care
Frekuensi Pelayanan Antenatal oleh WHO ditetapkan 4 kali
kunjungan ibu hamil dalam pelayanan Antenatal, selama kehamilan
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. 1 x kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)
b. 1 x kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28)
c. 2 x kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan
sesudah minggu ke 36).
Bila ibu hamil mengalami masalah, tanda bahaya atau jika merasa
khawatir dapat sewaktu-waktu melakukan kunjungan ulang. Pengawasan
antenatal memberi manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang
menyertai kehamilan secara dini sehingga dapat diperhitungkan dan
dipersiapkan langkah-langkah pertolongan persalinannya. (Elizabeth,
2013)
6. Ketidaknyamanan pada trimester 1
a. Ketidaknyamanan Payudara, nyeri, rasa penuh atau tegang,
pengeluaran colostrums (susu jolong), dan hiperpigmentasi
(penghitaman kulit)
13
a. Penyebab
1) Stimulasi hormonal yang menyebabkan pigmentasi
2) Adanya peningkatan pembentukan pembuluh darah
(vaskularisasi)
3) Peningkatan hormon progesterone, estrogen, somatomamotropin,
prolaktin dan melano stimulating hormone.
b. Cara mengatasi
1) Gunakan bra yang menyangga besar dan berat payudara
2) Pakai nipple pad (bantalan) yang dapat menyerap pengeluaran
kolostrum.
3) Ganti segera bra jika kotor, payudara dibersihkan dengan air
hangat dan jaga agar tetap kering.
b. Pusing/Sakit kepala
c. Penyebab
1) Akibat kontraksi otot/spasme otot (leher, bahu dan penegangan
pada kepala), serta keletihan.
2) Tegangan mata sekunder terhadap perubahan okuler, dinamika
cairan syaraf yang berubah.
d. Cara mengatasi
1) Teknik relaksasi
2) Memassase leher dan otot bahu
3) Penggunaan kompres panas atau es pada leher
4) Istirahat
14
5) Mandi air hangat
6) Terapi : Tylenol / paracetamol. Hindari aspirin, ibuprofen,
narcotics, sedative//hipnotik.
c. Rasa lemah dan mudah lelah
e. Penyebab
1) Anemia
2) Aliran darah yang lebih lambat
3) Sesak nafas
f. Cara mengatasi
1) Istirahat sesuai kebutuhan. Konsumsi menu seimbang untuk
mencegah anemia
2) Konsumsi suplemen zat besi
3) Berbaring dengan kaki terangkat lebih tinggi dari jantung selama
15 menit
4) Hindari obat-obatan yang tidak disarankan oleh dokter atau bidan.
5) Hindari asupan kafein yang berlebihan.
d. Mual dan muntah (morning sickness)
g. Penyebab
1) Respon emosional ibu terhadap kehamilan
2) Peningkatan hormone HCG
3) Menurunnya tekanan darah yang tiba-tiba
4) Mengkonsumsi banyak makanan berminyak atau mencium bau
menyengat.
15
5) Kebutuhan protein yang meningkat untuk pertumbuhan janin.
Jika ibu kurang makan, maka gula darah dalam tubuh akan
rendah, sehingga akan terasa mual, sakit kepala, dan lelah.
h. Cara mengatasi
1) Hindari perut kosong atau penuh
2) Hindari merokok atau asap rokok
3) Makan makanan tinggi karbohidrat: biscuit,
4) Makan dengan porsi sedikit tapi sering
5) Istirahat di tempat tidur sampai gejala mereda
6) Segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan / bidan setempat
bila mual, muntah terus menerus.
7) Hirup udara segar, pastikan cukup udara didalam rumah.
e. Pengeluaran air ludah berlebihan (ptyalism)
i. Penyebab
1) Meningkatnya keasaman mulut oleh asupan pati yang akhirnya
menstimulasi kelenjar salivary untuk meningkatkan sekresi.
2) Ptyalism sering juga menimbulkan mual, sehingga ibu hamil
sering menghindari makan.
j. Cara mengatasi
Menguyah atau menghisap permen karet untuk memberikan
kenyamanan.
f. Keputihan
16
k. Penyebab
1) Peningkatan pelepasan epitel vagina akibat peningkatan
pembetukan sel-sel
2) Peningkatan produksi lendir akibat stimulasi hormonal pada leher
rahim
l. Cara mengatasi
1) Jangan membilas bagian dalam vagina
2) Kenakan pembalut wanita
3) Jaga kebersihan alat kelamin
4) Segera laporkan ke tenaga kesehatan jika terjadi gatal, bau busuk
atau perubahan sifat dan warna.
7. Ketidaknyamanan pada trimester 2
Haemorroida
a. Penyebab
1) Sering terjadi karena konstipasi
2) Tekanan yang meningkat dari uterus gravid terhadap vena
haemorroida
3) Progesterone menyebabkan relaksasi dinding vena dan usus besar
4) Pembesaran uterus dapat meningkatkan tekanan-tekanan spesifik
pada vena haemorroid, tekanan mengganggu sirkulasi vanous dan
menyebabkan kongesti pada vena pelvic.
17
b. Cara mengatasi
1) Mandi air hangat/kompres hangat, air panas tidak hanya
memberikan kenyamanan tapi juga meningkatkan sirkulasi.
2) Kompres es/garam Epsom
3) Istirahat ditempat tidur dengan panggul diturunkan dan dinaikkan
Konstipasi
a. Penyebab
1) Peningkatan kadar progesterone menyebabkan peristaltic usus
menjadi lambat
2) Penurunan motilitas sebagai akibat dari relaksasi otot-otot polos
usus besar penyerapan air dari kolon meningkat
3) Efek samping dari penggunaan suplemen zat besi
b. Cara mengatasi
1) Tingkatkan intake cairan serat didalam diet seperti buah/jus prem,
minum cairan dingin/panas (terutama ketika perut kosong)
2) Istirahat cukup
3) Senam/exersice
4) Membiasakan BAB secara teratur
5) BAB segera setelah ada dorongan
6) Terapi sesuai petunjuk dokter atau bidan.
18
Insomnia
a. Penyebab
1) Perasaan gelisah, kuatir, ataupun bahagia
2) Ketidaknyamanan fisik seperti membesarnya uterus, pergerakan
janin, bangun ditengah malam karena nocturia, dispnea, heartburn,
sakit otot, stress dan cemas.
b. Cara mengatasi
1) Gunakan teknik relaksasi
2) Mandi air hangat
3) Minum minuman hangat (susu, teh dengan susu), sebelum pergi
tidur
4) Melakukan aktifitas yang tidak menstimulasi sebelum tidur
5) Hindari obat-obatan tidur (dapat emlitasi sawat plasenta)
Heart Burn
a. Penyebab
1) Keadaan sesak dalam perut dan meningkatnya keasaman perut
karena perubahan hormone
2) Menurunnya motilitas saluran cerna dihasilkan dari relaksasi otot
polos, yang kemungkinan meningkatnya progesterone dan tekanan
uterus.
3) Kehilangan ruang fungsi lambung karena tempatnya digantikan dan
ditekan oleh pembesaran uterus.
19
b. Cara mengatasi
1) Makan sedikit tapi sering
2) Hindari makanan berlemak terlalu banyak, makanan yang
digoreng/makanan yang berbumbu merangsang.
3) Hindari rokok, kopi, alcohol, coklat ( mengiritasi gastric )
4) Hindari berbaring setelah makan
5) Hindari minuman selain air putih saat makan
6) Tidur dengan kaki ditinggikan, sikap tubuh yang baik
7) Lakukan posisi lutut-dada, peregangan lengan super-dooper.
8) Hindari obat antacid yang terbuat dari bahan lain selain kalsium
8. Ketidaknyamanan pada trimester 3
a. Konstipasi atau Sembelit
Konstipasi atau Sembelit selama kehamilan terjadi karena:
Peningkatan hormone progesterone yang menyebabkan relaksasi otot
sehingga usus kurang efisien, konstipasi juga dipengaruhi karena
perubahan uterus yang semakin membesar, sehingga uterus menekan
daerah perut, dan penyebab lain konstipasi atau sembelit adalah
karena tablet besi (iron) yang diberikan oleh dokter/ bidan pada ibu
hamil biasanya menyebabkan konstipasi juga, selain itu tablet besi
juga menyebabkan warna feses (tinja) ibu hamil berwarna kehitam-
hitaman tetapi tidak perlu dikhawatirkan oleh ibu hamil karena
perubahan warna feses karena pengaruh zat besi ini adalah normal.
20
Cara mengatasi konstipasi atau sembelit adalah:
1) Minum air putih yang cukup minimal 6-8 gelas/ hari.
2) Makanlah makanan yang berserat tinggi seerti sayuran dan buah-
buahan.
3) Lakukanlah olahraga ringan secara teratur seperti berjalan
(Jogging).
4) Segera konsultasikan ke dokter/ bidan apabila konstipasi atau
sembelit tetap terjadi.
b. Edema atau pembengkakan
Edema pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena dan
peningkatan tekanan vena pada ekstremitas bagian bawah. Gangguan
sirkulasi ini disebabkan oleh tekanan uterus yang membesar pada
vena-vena panggul saat wanita tersebut duduk atau berdiri pada vena
kava inferior saat ia berada dalam posisi terlentang. Pakaian ketat
yang menghambat aliran balik vena dari ekstremitas bagian bawah
juga memperburuk masalah. Edema akibat kaki yang menggantung
secara umum terlihat pada area pergelangan kaki dan hal ini harus
dibedakan dengan perbedaan edema karena preeklamsia/eklamsia
Adapun cara penangaannya adalah sebagi berikut:
1) Hindari menggunakan pakaian ketat
2) Elevasi kaki secara teratur sepanjang hari
3) Posisi menghadap kesamping saat berbaring
21
4) Penggunaan penyokong atau korset pada abdomen maternal yang
dapat melonggarkan vena-vena panggul.
c. Nyeri punggung bawah (Nyeri Pinggang)
Nyeri punggung bawah (Nyeri pinggang) merupakan nyeri
punggung yang terjadi pada area lumbosakral. Nyeri punggung
bawah biasanya akan meningkat intensitasnya seiring pertambahan
usia kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat pergeseran pusat
gravitasi wanita tersebut dan postur tubuhnya.
Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh berat uterus yang
membesar. Jika wanita tersebut tidak memberi perhatian penuh
terhadap postur tubuhnya maka ia akan berjalan dengan ayunan tubuh
kebelakang akibat peningkatan lordosis. Lengkung ini kemudian akan
meregangkan otot punggung dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.
Masalah memburuk apabila wanita hamil memiliki struktur otot
abdomen yang lemah sehingga gagal menopang berat rahim yang
membesar. Tanpa sokongan, uterus akan mengendur. Kondisi yang
membuat lengkung punggung semakin memanjang. Kelemahan otot
abdomen lebih sering terjadi pada wanta grande multipara yang tidak
pernah melakukan latihan untuk memperoleh kembali struktur otot
abdomen normal. Nyeri punggung juga bisa disebabkan karena
membungkuk yang berlebihan, berjalan tanpa istirahat, angkat beban,
hal ini diperparah apabila dilakukan dalam kondisi wanita hamil
sedang lelah. Mekanika tubuh yang tepat saat mengangkat beban
22
sangat penting diterapkan untuk menghindari peregangan otot tipe
ini.
Berikut ini adalah dua prinsip penting yang sebaiknya dilakukan
oleh ibu hamil:
1) Tekuk kaki daripada membungkuk ketika mengambil atau
mengangkat apapun dari bawah
2) Lebarkan kedua kaki dan tempatkan satu kaki sedikit didepan
kaki yang lain saat menekukan kaki sehingga terdapat jarak yang
cukup saat bangkit dari proses setengah jongkok.
Cara untuk mengatasi ketidaknyamanan ini antara lain:
1) Postur tubuh yang baik
2) Mekanik tubuh yang tepat saat mengangkat beban
3) Hindari membungkuk berlebihan, mengangkat beban, dan
berjalan tanpa istirahat
4) Gunakan sepatu bertumit rendah; sepatu tumit tinggi tidak stabil
dan memperberat masalah pada pusat gravitasi dan lordosis
5) Jika masalah bertambah parah, pergunakan penyokong
penyokong abdomen eksternal dianjurkan (contoh korset maternal
atau belly band yang elastic)
6) Kompres hangat (jangan terlalu panas) pada punggung (contoh
bantalan pemanas, mandi air hangat, duduk di bawah siraman air
hangat)
7) Kompres es pada punggung
23
8) Pijatan/ usapan pada punggung
9) Untuk istirahat atau tidur; gunakan kasur yang menyokong atau
gunakan bantal dibawah punggung untuk meluruskan punggung
dan meringankan tarikan dan regangan.
d. Sering Buang Air Kecil
Peningkatan frekuensi berkemih atau sering buang air kecil
disebabkan oleh tekanan uterus karena turunnya bagian bawah
janin sehingga kandung kemih tertekan dan mengakibatkan
frekuensi berkemih meningkat karena kapasitas kandung kemih
berkurang. Sebab lain adalah karena nocturia yang terjadinya
aliran balik vena dari ekstremitas difasilitasi saat wanita sedang
berbaring pada saat tidur malam hari. Akibatnya adalah pola
diurnal kebalikannya sehingga terjadi peningkatan pengeluaran
urin pada saat hamil tua.
Cara mengurangi ketidaknyamanan ini adalah:
1) Ibu perlu penjelasan tentang kondisi yang dialaminya
mencangkup sebab terjadinya
2) Kosongkan saat ada dorongan untuk kencing
3) Mengurangi asupan cairan pada sore hari dan memperbanyak
minum saat siang hari
4) Jangan kurangi minum untuk mencegah nokturia, kecuali jika
nokturia sangat mengganggu tidur pada malam hari
5) Batasi minum kopi, teh atau soda
24
6) Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan menjaga
posisi tidur, yaitu berbaring miring ke kiri dan kaki ditinggikan
untuk mencegah diuresis.
B. Konsep Dasar Teori Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran janin, plasenta dan
ketuban beserta selaputnya dari dalam uterus ke luar uterus (Maritalia
dkk, 2012).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi
pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
adanya penyulit. Persalinan di mulai sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap (Rukiyah dkk, 2011).
2. Pembagian Persalinan
a. Persalinan Berdasarkan Teknik (Rukiyah dkk, 2011)
1) Persalinan Spontan, adalah persalinan yang berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
2) Persalinan buatan, adalah persalinan dengan tenaga dari luar
dengan ekstaksi forceps, ekstrasi vakum dan sectio sesaria.
3) Persalinan anjuran, adalah persalinan yang tidak dimulai dengan
sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban,
pemberian pitocin aprostaglandin
25
b. Persalinan berdasarkan Umur Kehamilan (Maritalia dkk, 2012).
1) Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin
dapat hidup (viable), berat janin ± 500 gram, usia kehamilan
dibawah 22 minggu.
2) Partus Immaturus adalah penghentian kehamilan sebelum janin
viable atau berat janin antara 500 – 1000 gram dan usia kehamilan
antara 22 sampai dengan 28 minggu.
3) Persalinan Prematurus adalah persalinan dari konsepsi pada
kehamilan 26 – 36 minggu, janin hidup tetapi premature, berat
janin antara 1000 – 2500 gram.
4) Persalinan Mature atau aterm (cukup bulan) adalah persalinan pada
kehamilan 37 – 40 minggu, janin mature, berat badan diatas 2500
gram.
5) Persalinan postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2
minggu atau lebih dari waktu persalinan yang ditafsirkan.
6) Persalinan Presipitatus adalah persalinan yang berlangsung cepat
yang bisa terjadi di kamar mandi, di atas becak dan sebagainya.
7) Persalinan Percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan
untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya Chepalo Pelvic
Disproportion (CPD).
26
3. Sebab – Sebab Mulainya Persalinan (Maritalia dkk, 2012).
a. Penurunan kadar progesteron
Menurunnya kadar progesteron pada akhir kehamilan memicu
timbulnya his dan menyebabkan membukannya servik uteri. Blood
show yang keluar akibat dilatasi cervik ini merupakan tanda kala I
persalinan.
b. Teori oksitosin
Kadar oksitosin bertambah pada akhir kehamilan juga dapat
merangsang timbulnya kontaksi uterus.
c. Keregangan otot – otot rahim
Pada akhir kehamilan otot – otot rahim semakin meregang karena diisi
oleh janin yang berat dan ukurannya semakin bertambah. Analog bila
kandung kemih dan lambung, bila dindingnya teregang karena isinya
penuh, maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
d. Pengaruh janin
Kelenjar suprarenal dan hipofise janin memegang peran terhadap
timbulnya persalinan. Pada janin anencephalus kehamilan sering lebih
lama karena janin tidak mempunyai hipofise.
e. Teori prostaglandin
Terjadinya peninngkatan prostaglandin pada akhir kehamilan dan
pada saat inpartu. Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua dapat
menimbulkan kontraksi myometrium.
27
f. Berkurangnya nutrisi pada janin
Pada akhir kehamilan plasenta mulai menjadi tua dan mengalami
degenerasi. Hal ini akan menggangu sirkulasi utero plasenta sehingga
janin akan kekurangan suplai nutrisi. Bila nutrisi pada janin berkurang
maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.
g. Tekanan pada ganglion servikalis
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus frankenhauser yang
terletak dibelakang servik oleh kepala janin akan memicu timbulnya
kontaksi uterus.
4. Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Persalinan (Maritalia dkk,
2012).
Menurut Manuaba (2010 : 169) faktor-faktor yang berperan dalam
persalinan meliputi : Power (His/kontraksi otot rahim, kontraksi otot
dinding perut, kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan,
keregangan dan kontraksi ligamentum rotundum), passenger (janin dan
plasenta), passage (jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang), psikis ibu
bersalin, penolong.
5. Tahapan Persalinan (Maritalia dkk, 2012).
a. Kala I (Kala pembukaan )
Kala I disebut juga kala pembukaan karena pada kala ini terjadi
pembukaan serviks dari 1 sampai 10 cm (pembukaan lengkap). Proses
pembukaan serviks dari 0 sampai dengan 10 cm dibagi ke dalam 2
fase yaitu :
28
1) Fase Laten : pembukaan terjadi sangat lambat yaitu dari 0 sampai
3 cm dan berlangsung sekitar 8 jam.
2) Fase Aktif : berlangsung sekitar 6 jam, pembukaan serviks dari 4
sampai dengan 10 cm. Fase aktif dibagi menjadi 3 fase lagi yaitu :
a) Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 3 cm
menjadi 4 cm.
b) Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 4
cm menjadi 9 cm.
c) Fase deselerasi, berlangsung selama 2 jam, pembukaan
kembali melambat dari 9 cm menjadi 10 cm atau pembukaan
lengkap.
Pengisian partograf dimulai ketika memasuki fase aktif yaitu dari
pembukaan 4 cm. Kala I berakhir bila pembukaan serviks sudah
lengkap atau 10 cm.
b. Kala II (Kala pengeluaran)
Kala II dimulai dari pembukaan lengkap dan berakhir sampai
dengan lahirnya bayi.
c. Kala III (Kala uri)
Kala III dimulai setelah lahirnya bayi sampai dengan lahirnya
plasenta. Pelepasan plasenta biasanya berlangsung selama 6 sampai
dengan 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan
tekanan pada fundus uteri.
29
d. Kala IV (Kala pengawasan)
Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta sampai dengan 2 jam post
partum. Kala IV disebut kala pengawasan karena pada kala ini ibu
post partum perlu diawasi tekanan darahnya, suhu tubuh dan jumlah
pendarahan yang keluar melalui vagina.
6. Mekanisme Persalinan Normal (Maritalia dkk, 2012).
Mekanisme persalinan normal (Sarwono, 2011) terdiri dari:
a. Penurunan Kepala, terjadi selama proses persalinan karena daya
dorong dari kontraksi uterus yang efektif, posisi, serta kekuatan
meneran dari pasien.
b. Engagement (penguncian), tahap penurunan pada waktu diameter
biparietal dari kepala janin telah melalui PAP.
c. Fleksi, fleksi menjadi hal terpenting karena diameter kepala janin
terkecil dapat bergerak masuk panggul sampai ke dasar panggul.
d. Putaran paksi dalam, putaran internal dari kepala janin akan membuat
diameter anteroposterior dari kepala janin menyesuaikan diri dengan
anteroposterior dari panggul.
e. Lahirnya kepala dengan ekstensi, bagian leher belakang di bawah
oksiput akan bergeser kebawah simphisis pubis dan bekerja sebagai
titik poros (hipomoklion). Uterus yang berkontraksi kemudian
memberikan tekanan tambahan di kepala yang menyebabkannya
ekstensi lebih lanjut saat lubang vulva. Vagina membuka lebar
30
f. Restitusi adalah perputaran kepala sebesar 45° baik ke kanan atau ke
kiri, bergantung kepada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju
posisi oksiput anterior
g. Putaran paksi luar, putaran ini terjadi bersamaan dg putaran internal
dari bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul, bahu akan
mengalami perputaran dalam arah yang sama dg kepala janin.
h. Lahirnya bahu & seluruh anggota badan bayi, bahu posterior akan
menggembungkan perineum dan kemudian dilahirkan dg cara fleksi
lateralis. Setelah bahu dilahirkan, seluruh tubuh janin lainnya akan
dilahirkan.
7. Asuhan Persalinan Normal (Maritalia dkk, 2012).
Untuk menilai dan mengetahui apakah proses persalinan normal
serta tidak ada komplikasi pada saat setelah proses persalinan,
penatalaksanaan persalinan harus dilaksanakan seperti APN 60 langkah.
C. Konsep Dasar Teori Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas
1. Pengertian
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran
bayi,plasenta,serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali
organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6
minggu (Saleeha, 2009).
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
31
hamil dimulai sejak 2 jam setealh lahirnya plasenta sampai dengan 6
minggu (42 hari) setelah itu (Vivian Nanny & Sunarsih, 2011).
Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan
mencakup enam minggun berikutnya.(Astuti, Judistiani, Rahmiati, &
Susanti, 2015).
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
a. Mendeteksi adanya pendarahan masa nifas.
b. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya.
c. Melaksanakan skrining secara komprehensif.
d. Memberikan Pendidikan Kesehatan Diri (Anggraini, 2010).
3. Tahapan Masa Nifas
Masa Nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu purperium dini, purperium
intermedial, dan remote purperium.
Beberapa tahapan masa nifas adalah sebagai berikut :
a. Purperium dini
Purperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Purperium Intermedial
Purperium intermedial yaitu suatu kepulihan menyeluruh alat-alat
genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
c. Purperium Remote
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
32
Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu-
minggu, bulanan bahkan tahunan (Sulistyawati, 2009).
4. Kunjungan Nifas
a. Kunjungan Nifas 1 (6 jam- 3 hari)
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila
perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4) Pemberian ASI pada masa awal menjadi ibu.
5) Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir.
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
b. Kunjungan Nifas II (4 hari-28 hari)
1) Memastikan involusi uteri berjalan normal : uterus berkontraksi,
fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal dan
tidak ada bau.
2) Menilai adannya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca
melahirkan.
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperhatikan
tanda-tanda penyulit.
33
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara
merawat tali pusat, dan bagaimana menjaga bayi tetap hangat.
c. Kunjungan Nifas III (29 hari-42 hari)
1) Menanyakan kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi
alami.
2. Memberi konselilng untuk KB secara dini.
5. Perubahan Anatomi Fisiologis Pada Masa Nifas
Beberapa perubahan terjadi pada organ tubuh vital yang terjadi
segera setelah pengosongan rahim akibat lahirnya janin dan plasenta perlu
dipahami dengan baik agar kondisi patologis dapat segera dikenali dan
mendapatkan pengeloalan yang semestinya
a. Perubahan Sistem Reproduksi
Selama masa nifas alat-alat interna maupun eksterna berangsur-
angsur kembali keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat
genitalia ini disebut involusi.
1) Uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses
dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
a) Iskemia Miometrium
b) Atrofi jaringan
c) Autolysi
d) Efek Oksitosin
34
Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil.
Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum adalah
sebagai berikut:
Tabel 2.3 Perubahan Normal pada Uterus Selama Postpartum
No. Involusi Uteri Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
1. Bayi Lahir Setinggi pusat 1000 gram
2. Plasenta lahir Dua jari bawah pusat 750 gram
3. 1 Minggu Peretengahan pusat- 500 gram
simfisis
4. 2 Minggu Tidak teraba diatas 350 gram
simfisis
5. 6 Minggu Bertambah kecil 50 gram
6. 8 minggu Sebesar normal 30 gram
Involusi ligament uterus berangsur-angsur, pada awalnya
cenderung miring ke belakang. Kembali normal antefleksi dan posisi
anteverted pada akhir minggu keenam (Rukiyah, Yulianti, & Liana,
2010)
2) Afterpain
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada
umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering
dialami multipara dan biasa menimbulkan nyeri yang bertahan
sepanjang masa awal puerperium. Rasa nyeri setelah melahirkan ini
lebih nyata setelah ibu melahirkan, di tempat uterus terlalu teregang
35
(misalnya, pada bayi besar, dan kembar). Menyusui dan oksitosin
tambahan biasanya mening katkan nyeri ini karena keduanya
merangsang kontraksi uterus.
Afterpains penyebab yang paling sering menyebabkan nyeri
pascapersalinan dialami saat involusi uteri dan otot panggul kembali
normal. Semua wanita mengalami nyeri ini dalam beberapa derajat
dari ketidaknyamanan ringan sampai nyeri yang setara dengan nyeri
persalinan sedang. Nyeri tersebut disebabkan oleh pelepasan oksitosin
hingga menyebabkan kontraksi uteri dan retraksi memburuk pada ibu
menyusui, sebagai respon terhadap pengisapan dan respon let down
(Medforth, Battersby, Evans, Marsh, & Walker, 2012).
3) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang
lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.
Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat sebagai berikut:
a) Lochea rubra
Muncul pada hari pertama sampai hari kedua post partum,
warnanya merah mengandung darah dari luka pada plasenta dan
serabut dari decidua dan chorion.
b) Lochea Sanguilenta
Berwarna merah kuning, berisi darah lendir, hari ke 3-7 paska
persalinan.
36
c) Lochea Serosa
Muncul pada hari ke 7-14, berwarna kecoklatan mengandung lebih
banyak serum, lebih sedikit darah juga leukosit dan laserasi
plasenta.
d) Lochea Alba
Sejak 2 -6 minggu setelah persalinan, warnanya putih kekuningan
mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan
yang mati (Walyani & Purwoastuti, 2015).
4) Perineum, Vagina,Vulva, Anus
Berkurangnya sirkulasi progesteron membantu pemulihan otot
panggul, perineum, vagina, dan vulva kearah elastisitas dari
ligamentum otot rahim. Merupakan proses yang bertahap akan berguna
jika ibu melakukan ambulasi dini, dan senam nifas.
Involusi cerviks terjadi bersamaan dengan uterus kira-kira 2-3
minggu, cervik menjadi seperti celah. Ostium eksternum dapat dilalui
oleh 2 jari, pingirannya tidak rata, tetapi retak-retak karena robekan
dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama dilalui oleh satu jari.
Karena hyperplasia dan retraksi dari serviks, robekan serviks menjadi
sembuh.
Pada awal masa nifas, vagina dan muara vagina membentuk suatu
lorong luas berdinding licin yang berangsur-angsur mengecil
ukurannya tapi jarang kembali ke bentuk nulipara. Rugae mulai
tampak pada minggu ketiga. Himen muncul kembali sebagai kepingan-
37
kepingan kecil jaringan, yang setelah mengalami sikatrisasi akan
berubah menjadi caruncule mirtiformis. Estrogen pascapartum yang
munurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya
rugae.
Mukosa vagina tetap atrofi pada wanita yang menyusui sekurang-
kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali. Penebalan mukosa
vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. Kekurangan estrogen
menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan
mukosa vagina. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus
(dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan
menstruasi dimulai lagi. Mukosa vagina memakan waktu 2-3 minggu
untuk sembuh tetapi pemulihan luka sub-mukosa lebih lama yaitu 4-6
minngu. Beberapa laserasi superficial yang dapat terjadi akan sembuh
relatif lebih cepat. Laserasi perineum sembuh pada hari ke-7 dan otot
perineum akan pulih pada hari ke5-6.
Pada anus umumnya terlihat hemoroid (varises anus), dengan
ditambah gejala seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan
berwarna merah terang pada waktu defekasi. Ukuran hemoroid
biasanya mengecil beberapa minggu postpartum (Vivian Nanny &
Sunarsih, 2011).
b. Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini
disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat
38
tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan
yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan,
hemoroid, laserasi jalan lahir (Ambarwati & Wulandari, 2008).
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Terjadi diuresis yang sangat banyak dalam hari-hari pertama
puerperium. Diuresis yang banyak mulai segera setelah persalinan sampai
5 hari postpartum. 40% ibu postpartum tidak mempunyai proteinuri yang
patologi dari segera setelah lahir sampai hari kedua postpartum, kecuali
ada gejala infeksi dan preeklamsi (Sujiyatni, Nurjanah, & Kurniati, 2010)
d. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Sistem Moskuluskeletal pada ibu selama pemulihan post partum
termasuk penyebab relaksasi dan kemudian hipermobilitas sendi serta
pusat gravitasi. Adaptasi system muskuluskeletal ibu yang terjadi
mencakup hal-hal yang dapat mem bantu relaksasi dan hipermobilitas
sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran uterus. Stabilisasi
sendi lengkap akan terjadi pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita
melahirkan (Rukiyah et al., 2010)
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh-
pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan
terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah placenta
dilahirkan (Jannah, 2011).
Ligament-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang
pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih
39
kembali sehingga tak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi
retrofleksi karena ligamentum retundum menjadi kendor. Tidak jarang
pula wanita setelah melahirkan ligament, fasia, jaringan penunjang alat
genitalia menjadi kendor. Mobilitas sendi berkurang dan posisi lordosis
kembali secara perlahan-lahan (Jannah, 2011).
Sebagai akibat putusnya serat-serat plastic kulit dan distensi yang
belangsung lama akibat besarnya uterus pada waktu hamil, dinding
abdomen masih agak lunak dan kendor untuk sementara waktu. Untuk
memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia, serta otot-
otot dinding perut dan dasar panggul, di anjurkan untuk melakukan
latihan-latihan tertentu salah satunya senam nifas (Maryunani & Sukaryati,
2011).
e. Perubahan Sistem Endokrin
1) Hormon placenta
Hormon placenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG
(Human Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan menetap
sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai
omset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum.
2) Hormone pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak
menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH
akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler ( minggu ke-3) dan LH
tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
40
3) Hypotalamik pituitary ovarium
Lamanya seorang wanita mendapatkan menstruasi juga di pengaruhi
oleh faktor menyusui. Sering kali menstruasi pertama ini bersifat
anovulasi karena rendahnya kadar estrogen dan progesteron.
4) Kadar estrogen
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang bermakna
sehingga aktifitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat
mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI (Jannah,
2011).
f. Perubahan Tanda-tanda Vital
1) Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celsius. Sesudah
partus dapat naik kurang lebih 0,5 derajat celcius dari keadaan normal,
namun tidak akan melebihi 8 derajat celcius. Sesudah 2 jam pertama
melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih
dari 38 derajat celcius, mungkin terjadi infeksi pada klien.
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca
melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat.
Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada
kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum.
3) Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri
ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia.
41
Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg
dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal,
tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah
menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh
perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum
merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun
demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.
4) Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per
menit (Anggraini, 2010).
g. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Setelah persalinan, suhu akan hilang dengan tiba-tiba. Volume
darah ibu relative akan bertambah. Keadaan ini akan menyebabkan beban
pada jantung dan akan menimbulkan decompensatio cordis pada pasien
dengan vitum cardio. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme
kompensasi dengan tumbuhnya haemokonsentrasi sehingga volume darah
kembali seperti sedia kala. Umumnya, ini akan terjadi pada 3-5 hari post
partum (Ambarwati & Wulandari, 2008)
h. Perubahan Sistem Hematologi
Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan
eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume
plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini
dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika
42
hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 persen
atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien
dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen
kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah (Astuti et al.,
2015).
D. Konsep Dasar Teori Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
1. Pengertian
Bayi baru lahir (BBL) atau neonatus adalah janin yang lahir
melalui proses persalinan dan telah mampu hidup diluar kandungan
dengan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Muslihatun,
2009)
Bayi adalah individu baru yang lahir di dunia. Dalam keadaannya
yang terbatas, maka individu baru ini sangatlah membutuhkan perawatan
dari orang [Link] yang lahir melalui proses persalinan dan telah mampu
hidup di luar kandungan.
2. Adaptasi bayi baru lahir
Adaptasi bayi baru lahir adalah proses penyesuaian fungsional
BBL dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan da luar uterus. (Saputra,
2014).
43
Tabel 2.4 Adaptasi Bayi Baru Lahir
Sistem Intrauterin Ekstrauterin
Respirasi / Sirkulasi
Pernafasan volunter Belum berfungsi Berfungsi
Alveoli Kolaps Berkembang
Vaskularisasi paru Belum aktif Aktif
Resistensi paru Tinggi Rendah
Intake oksigen Dari plasenta ibu Dari paru bayi sendiri
Pengeluaran CO2 Di plasenta Di paru
Sirkulasi paru Tidak berkembang Berkembang banyak
Sirkulasi sistemik Resistensi perifer Resistensi perifer
Denyut jantung Rendah, lebih cepat Tinggi, lebih lambat
Saluran cerna
Absorbsi nutrien Belum aktif Aktif
Kolonisasi kuman Belum Segera
Feses Mekonium >hari ke- 4, feses biasa
Enzim pencernaan Belum aktif Aktif
3. Tanda-tanda bayi baru lahir normal (Saifuddin, 2008)
a. Kriteria fisik BBL normal
1) Cukup bulan : Usia kehamilan 37 - 42 minggu.
2) Berat badan lahir : 2500 - 4000 gr (sesuai masa kehamilan)
3) Panjang badan : 44 - 53 cm
4) Lingkar kepala : 31- 36 cm
44
5) Skort Apgar : 7 – 10 (Format APGAR skor terlampir)
6) Tanpa kelainan kongenital atau trauma persalinan
b. Kriteria neorologik BBL normal
1) Frog position (fleksi ekstremitas atas dan bawah)
2) Refleks moro / kejutan (+)
3) Refleks hisap (+) pada sentuhan palatum molle
4) Refleks menggenggam (+)
5) Refleks roting (+)
4. Tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir (Saifuddin, 2008)
a. Pernafasan sulit atau lebih dari 60 kali per menit
b. Kehangatan tubuh (> 380C atau terlalu dingin < 360C)
c. Warna kulit, kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat,
memar
d. Pemberian makanan, hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak
muntah, tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah
e. Infeksi, suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau
busuk, pernafasan sulit
f. Tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua,ada lendir
atau darah pada tinja
g. Aktivitas menggigil , atau nangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung,
lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bisa
tenang, menangis terus menerus.
45
5. Penatalaksanaan bayi baru lahir (Saifuddin, 2008)
a. Klem dan potong tali pusat
1) Klemlah tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3
cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem
tersebut).
2) Potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari
gunting dengan tangan kiri anda.
3) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali [Link] sarung
tangan anda jika bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya
dengan pisau atau gunting yang steril atau Disinfeksi Tingkat Tinggi
(DTT).
4) Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan,
lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat.
5) Jangan mengoleskan salep apa pun, atau zat lain ke tampuk tali pusat.
Hindari pembungkusan tali pusat. Tampuk tali pusat yang tidak
tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi
yang lebih sedikit.
b. Jagalah bayi agar tetap hangat
1) Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi
dengan kulit ibu.
2) Gantilah handuk/kain yang basah, dan bungkus bayi tersebut dengan
selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung
dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
46
3) Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15
menit
4) Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi
5) Apabila suhu bayi kurang dari 36,5°C, segera hangatkan bayi tersebut.
c. Kontak dini dengan ibu
1) Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin. Kontak dini antara ibu
dan bayi penting untuk:
a) Kehangatan – mempertahankan panas yang benar pada bayi baru
lahir.
b) Ikatan batin dan pemberian ASI.
2) Doronglah ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah “siap”
(dengan menunjukkan refleks rooting). Jangan paksakan bayi untuk
menyusu.
3) Bila memungkinkan, jangan pisahkan ibu dengan bayi, dan biarkan
bayi bersama ibunya paling sedikit satu jam setelah persalinan.
d. Pernafasan
Sebagian besar bayi akan bernafas secara spontan. Pernapasan bayi
sebaiknya diperiksa secara teratur untuk mengetahui adanya masalah.
1) Periksa pernapasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit.
2) Jika bayi tidak segera bernapas, lakukan hal-hal berikut:
a) Keringkan bayi dengan selimut atau handuk yang hangat
b) Gosoklah punggung bayi dengan lembut.
47
3) Jika bayi masih belum mulai bernapas setelah 60 detik mulai
resusitasi.
4) Apabila bayi sianosis (kulit biru) atau sukar bernapas (frekuensi
pernapasan kurang dari 30 atau lebih dari 60 x/menit), berilah oksigen
kepada bayi dengan kateter nasal.
e. Perawatan Mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. Yang
lazim dipakai adalah larutan Perak Nitrat atau Neosporin dan langsung
diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir. Jangan tinggalkan ibu dan
bayi kapan pun.
Dalam waktu 24 jam, bila bayi tidak mengalami masalah apapun,
berikanlah asuhan berikut:
1) Lanjutkan pengamatan pernapasan, warna, dan aktivitasnya.
2) Pertahankan suhu tubuh bayi
3) Lakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap.
4) Berikan Vitamin K untuk mencegah terjadinya perdarahan, suntik
(I.M) Vitamin K 0,5 mg
5) Identifikasi Bayi, alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada
setiap bayi baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi
dipulangkan.
48
6) Perawatan lain-lain :
a) Lakukan perawatan tali pusat
b) Dalam waktu 24 jam dan sebelum ibu dan bayi dipulangkan ke
rumah, berikan imunisasi hepatitis B.
c) Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua dan beritahu pada
orang tua agar merujuk bayi segera untuk perawatan lebih lanjut,
jika ditemui tanda-tanda tersebut.
d) Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi mereka dan perawatan
harian untuk bayi baru lahir:
1) Beri ASI sesuai dengan kebutuhan setiap 2-3 jam mulai dari hari
pertama.
2) Pertahankan agar bayi selalu bersama ibu.
3) Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering, dengan
mengganti popok dan selimut sesuai keperluan. Pastikan bayi
tidak terlalu panas dan terlalu dingin (dapat menyebabkan
iritasi). Apa saja yang dimasukkan ke dalam mulut bayi harus
bersih.
4) Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering.
5) Peganglah, sayangilah dan nikmati kehidupan bersama bayi.
6) Awasi masalah dan kesulitan pada bayi dan minta bantuan jika
perlu.
7) Ukur suhu tubuh bayi jika tampak sakit atau menyusui kurang
baik
49
f. Imunisasi
1) Pengertian Imunisasi
Menurut (IGN, Ranuh,, 2008), imunisasi adalah memberikan
kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin kedalam
tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap suatu
penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk
merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh
melalui suntikan, seperti vaksin, BCG,DPT, campak dan melalui
mulut seperti vaksin polio.
2) Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit
tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada
sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan
penyakit tertentu dari dunia seperti pada imuniasi cacar variola.
Keadaan yang terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit
yang hanya dapat ditularkan manusia, penyakit difteria (Matondang,
C.S & Siregar, S.P, 2008, hlm 10)
50
3) Jadwal pemberian imuniasi
2.5 Tabel jadwal pemberian imunisasi
USIA VAKSIN DOSIS DAN
CARA PEMBERIAN
0-7 hari HB-O 0,5 cc / IM
1 Bulan BCG, Polio 1 0,05 cc/IC dan 2 tetes
2 Bulan DPT/HB Combo 1, Polio 2 0,5 cc/IM dan 2 tetes
3 Bulan DPT/HB Combo 2, Polio 3 0,5 cc/IM dan 2 tetes
4 Bulan DPT/ HB Combo 3, Polio 4, IPV 0,5 cc/IM, 2 tetes, dan 0,5 cc/IM
atau SC
9 Bulan Campak 0,5 cc/SC
Sumber : Buku KIA (2016)
6. Kunjungan Bayi Baru Lahir
Jadwal kunjungan bayi baru lahir dan neonatus yaitu :
a. 6 – 48 jam setelah pulang awal
1) Timbang berat badan bayi. Bandingkan berat badan dengan berat
badan lahir dan berat badan pada saat pulang.
2) Jaga selalu kehangatan bayi
3) Komunikasikan kepada orangtua bayi bagaimana caranya merawat tali
pusat.
b. 3 – 7 hari setelah pulang
1) Timbang berat badan bayi. Bandingkan dengan berat badan saat ini
dengan berat badan saat bayi lahir. Catat penurunan dan penambahan
ulang BB bayi.
51
2) Perhatikan intake dan output bayi baru lahir.
3) Lihat keadaan suhu tubuh bayi
4) Kaji keadekuaatan suplai ASI
c. 8 – 28 hari setelah kelahiran
1) Ukur tinggi dan berat badan bayi dan bandingkan dengan pengukuran
pada kelahiran dan pada usia 6 minggu.
2) Perhatikan intake dan output bayi baru lahir.
3) Perhatikan nutrisi bayi
4) Perhatikan keadaan penyakit pada bayi