0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Strategi Penanggulangan Virus Rabies

Dokumen tersebut membahas tentang strategi pencegahan penyebaran virus rabies pada lingkungan masyarakat. Virus rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan atau luka terbuka, dengan gejala seperti demam dan kesemutan pada luka gigitan. Upaya pencegahannya meliputi vaksinasi hewan peliharaan, menjaga hewan di dalam kandang, menghindari kontak dengan hewan liar, serta melakukan vaksinasi

Diunggah oleh

Aulia Gaffar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Strategi Penanggulangan Virus Rabies

Dokumen tersebut membahas tentang strategi pencegahan penyebaran virus rabies pada lingkungan masyarakat. Virus rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan atau luka terbuka, dengan gejala seperti demam dan kesemutan pada luka gigitan. Upaya pencegahannya meliputi vaksinasi hewan peliharaan, menjaga hewan di dalam kandang, menghindari kontak dengan hewan liar, serta melakukan vaksinasi

Diunggah oleh

Aulia Gaffar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Aulia Marsabila

Asal Instansi : SMA NEGERI 1 BOLO

STRATEGI PENANGGULANGAN PENYEBARAN VIRUS


RABIES PADA LINGKUNGAN MASYARAKAT

Virus Rabies (penyakit anjing gila) dengan nama ilmiah yaitu Lyssavirus merupakan
penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan hewan
berdarah panas yang disebabkan oleh virus rabies, ditularkan melalui saliva (anjing, kucing,
kera) yang kena rabies dengan jalan gigitan atau melalui luka terbuka. Rabies atau lebih
dikenal dengan Penyakit Anjing Gila, merupakan penyakit zoonosis yang sangat ditakuti
nomor 1 di dunia. Virus ini terdapat pada air liur hewan dan dapat ditularkan ke manusia
melalui perlukaan dan gigitan hewan yang terinfeksi. Rabies perlu diwaspadai karena
merupakan salah satu penyakit hewan yang bersifat zoonosis (penyakit dapat menular dari
hewan ke manusia dan sebaliknya) dengan tingkat kematian hampir 100%.
Morfologi virus rabies, berbentuk peluru, mempunyai panjang 180 nm (nanometer), dan
lebar 75 nm.
Secara struktural virus rabies memiliki selubung yang melingkupi tubuh ovalnya dan materi
genetik yang berupa rantai tunggal. Semua Rahbdovirus memiliki dua komponen struktural
utama yakni: helical ribonucleoprotein core (RNP) dan envelop. Materi genetik dari virus ini
juga mengkode pembentukan nukleoprotein, fosfoprotein, matriks protein, glikoprotein, serta
polimerase RNA virus.

Didalam siklus hidupnya, virus rabies akan menempel atau menempel pada dinding sel inang,
kemudian secara endositosis dimasukkan ke dalam sel inang. Tahap penetrasi, virus masuk dan
melakukan penyatuan diri dengan sel inang, kemudian terjadi proses transkripsi dan
translasi. Kompartemen virus konstruksi sudah terbentuk, dilanjutkan dengan proses perakitan
dan menginfeksi virus dari sel inang untuk selanjutnya inang lainnya. Keseluruhan proses
dalam siklus hidup virus rabies ini berlangsung di dalam system.

*Sumber Penularan Dan Faktor Risiko Penyakit Rabies


Sumber penular dari penyakit rabies adalah anjing sebagai sumber penular utama,
disamping itu dapat juga ditularkan oleh kucing dan kera. Hal-hal yang menjadi faktor risiko
penularan penyakit rabies adalah sarana transportasi, khususnya pelabuhan yang tidak
resmi, hewan peliharaan yang tidak divaksinasi di daerah tertular, hewan pembohong di
daerah tertular, pekerja yang berisiko spt hewan, penangkap anjing, petugas laboratorium,
pemburu dll. Wisatawan ke daerah tertular tapi tidak diberi pra pajanan, tranplantasi
terutama kornea.

*Gejala dan Tanda Rabies

Gejala dan tanda rabies pada hewan ada 2 (dua) tipe yaitu : (1) Tipe ganas terdiri dari stadium
prodromal, eksitasi dan paralise dengan rincian : *Stadium prodromal ( 2 – 3 hari ), gejala :
malaise, tidak mau makan, agak « jinak », demam sub febris, refleks kornea menurun ;
*Stadium eksitasi ( 3 – 7 hari ), gejala : reaktif dengan menyerang, dan menggigit benda
bergerak, pica (memakan berbagai benda termasuk tinjanya sendiri), lupa pulang, strabismus,
ejakulasi spontan ; *Stadium paralisis, gejala : ekor jatuh, mandibula jatuh, lidah keluar, saliva
(ludah) berhamburan, kaki belakang terseret.

*Peristiwa Virus Rabies Pada Lingkungan Masyarakat

Gambar diatas merupakan kasus anjing rabies yang semula terjadi di Kabupaten Dompu,
Nusa Tenggara Barat (NTB), kini sudah meluas ke Kabupaten Bima, daerah yang berbatasan
langsung dengan Dompu. Akibat dari gigitan ini, korban mengalami luka yang cukup serius
seperti demam, kesemutan pada luka gigitan, nyeri, hilang kesadaran dan hipersalivasi.
Pencegahan Rabies
Meski berbahaya, rabies adalah penyakit yang dapat dihindari. Caranya adalah dengan
melakukan sejumlah upaya berikut:

• Melakukan vaksinasi pada hewan peliharaan, seperti anjing atau kucing


• Menjaga hewan peliharaan tetap di dalam kandang dan mengawasinya bila sedang di
luar kandang
• Menutup lubang atau celah di rumah yang bisa menjadi sarang hewan liar
• Menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang menunjukkan gejala rabies
• Melapor ke lembaga pengendalian hewan liar jika muncul hewan-hewan liar
• Menjalani vaksinasi rabies sebelum berkunjung ke wilayah yang sering terjadi
penularan rabies, dan sebelum melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan Anda
tertular virus rabies

Kesimpulan

Rabies adalah penyakit menular yang dapat dicegah dengan memberikan vaksin rabies
pada hewan peliharaan anda setiap 1 tahun sekali, segera melapor ke puskesmas / rumah sakit
terdekat bila digigit oleh hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies
(VAR).

Referensi

TANZIL, Kunadi. Penyakit rabies dan penatalaksanaannya. E-Journal WIDYA


Kesehatan Dan Lingkungan, 2014, 1.1. NUGROHO, DK, dkk. Analisa Data Surveilans
Rabies (2008-2011) di Propinsi Bali, Indonesia. J Outbreak, Surveillance and Investigation
Reports (OSIR), 2013, 6.2: 8-12.

Anda mungkin juga menyukai