BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengambilan Keputusan
1. Pengertian Pengambilan Keputusan
Menurut Bowo (2008) pengambilan keputusan adalah proses
menemukan satu pilihan dari beragamanya alternatif pilihan terbaik yang
dilakukan secara rasional. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan ini
merupakan suatu proses, yang tidak mungkin terjadi begitu saja dalam waktu
singkat. Böhm dan Brun (2008) mendefinisikan proses pengambilan keputusan
sebagai suatu proses melakukan evaluasi terhadap dua atau lebih dari pilihan
yang ada, dalam rangka meraih atau menentukan kemungkinan hasil yang
terbaik.
Hal senada juga diungkapkan Hamblemitoglu dan Yildirim (2008) yang
mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan adalah proses melakukan
generalisasi dan evaluasi dari berbagai macam alternatif pandangan dan
pendapat yang ada sehingga proses pengambilan keputusan didefinisikan
sebagai proses memilih dari berbagai alternatif pilihan. Menurut Suharso
(2003) pengambilan keputusan merupakan suatu proses pengorganisasian dari
berbagai pendapat individu, yang tentunya lebih penting dan di atas segala
kepentingan individu, menjadi satu keputusan yang disetujui oleh semua pihak
karena akan berdampak terhadap tujuan.
Solso, Maclin & Maclin (2008) lebih menyoroti pengertian
pengambilan keputusan dari sisi individu, disebutkan bahwa pengambilan
14
15
keputusan merupakan proses penemuan individu untuk memberi solusi yang
memuaskan semua pihak secara optimis dan menunjukkan secara terbuka
segala kemungkinan bias dan praduga yang mungkin muncul dalam suatu
keputusan yang diambil. Memecahkan berbagai macam permasalahan yang ada
dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan demikian perlu
dilakukan suatu proses pengambilan keputusan.
Tversky (dalam Solso., Maclim & Maclin, 2008) menyatakan bahwa
pengambilan keputusan merupakan proses memilih alternatif dengan cara
mengeliminasi pilihan yang kurang menarik secara bertahap berdasarkan
evaluasi dari atribut atau aspek dari alternatif-alternatif yang ada. Jika beberapa
alternatif tidak memiliki standar minimum maka alternatif itu dieliminasi dari
kumpulan pilihan.
Berdasarkan berbagai definisi yang dikemukana para ahli tentang
proses pengambilan keputusan dapat disimpulkan bahwa proses pengambilan
keputusan merupakan suatu tindakan dan sikap yang dipilih dan diambil demi
kepentingan sipelaku keputusan. Proses pengambilan keputusan ini dilakukan
setelah melalui proses pemilihan secara rasional dari beberapa alternatif pilihan
yang sudah dibuat sebelumnya.
2. Aspek-aspek Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan merupakan fungsi dari berbagai aspek
dalam diri seseorang. Disadari atau tidak ketika seseorang ingin mengambil
suatu keputusan, pengalaman-pengalaman masa lalunya berperan aktif dan
bahkan kadang kala menjadi sumber rujukan dan keyakinan baginya dalam
16
mengambil keputusan. Seseorang yang terlahir ditengah dinamika keluarga
yang birokratik, maka dapat dipastikan bahwa cara dia mengambil keputusan
pun tidak jauh berbeda, yaitu pengambilan keputusan secara birokratik pula.
Hal ini wajar karena pendekatan-pendekatan birokratiklah yang pernah
diperoleh selama dibawah asuhan keluarga (Böhm dan Brun, 2008).
Siagian (dalam Bowo, 2008) membagi atas dua aspek proses
pengambilan keputusan:
a) Internal
Faktor ini dibagi lagi atas dua, yaitu: aspek pengetahuan yang diperolehnya
selama dibawah kepemiminan pendahulunya serta aspek kepribadian yang
wujudnya tidak nampak oleh mata namun prosesnya terus berlangsung
sejak terlahir.
b) Eksternal
Sama halnya dengan internal, faktor eksternal pun terdiri atas dua aspek,
yaitu: aspek kultur yang dianut oleh individu di lingkungan tempat dimana
ia bertumbuh dan berkembang. Aspek yang kedua adalah orang lain yang
ada di sekitarnya menjadi contoh dan tokoh yang diteladani karena hidup
bersama setiap hari.
Siagian (dalam Bowo, 2008) menguraikan aspek ini secara umum.
Walau demikian, tidak menghilangkan tahapan yang diajukannya karena secara
terperinci dijelaskannya dalam setiap aspeknya. Disamping aspek internal dan
eksternal, Kamaluddin (dalam Syafrina dan Nu’man, 2010) menambahkan satu
aspek lagi dari proses pengambilan keputusan yaitu unsur ketersediaan
17
informasi yang dibutuhkan. Informasi yang dimaksud dapat berasal dari dalam
maupun luar organisasi.
Secara lebih rinci, Gibson, Solso., Maclin & Maclin (dalam Syafrina
dan Nu’man, 2010) membagi proses pengambilan keputusan pemimpin atas
tujuh aspek. Mereka menjelaskan secara lengkap dan terperinci, keenam aspek
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Membuat tujuan yang spesifik dan objektif.
Agar dapat memperoleh hasil yang efektif dari suatu keputusan yang
diambil, setiap individu harus mampu membuat prioritas tujuan secara
spesifik dan objektif yang berorientasi pada solusi atas masalah-masalah
yang dihadapi.
2. Menentukan permasalahan.
Menentukan permasalahan dalam proses pengambilan keputusan adalah
proses menyeleksi masalah-masalah utama yang membutuhkan prioritas
untuk diselesaikan
3. Membuat alternatif pilihan.
Membuat alternatif pilihan dalam proses pengambilan keputusan adalah
mengidentifikasi berbagai kemungkinan cara yang secara potensial dapat
dilakukan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
4. Mengevaluasi alternatif pilihan.
Mengevaluasi alternatif pilihan dalam proses pengambilan keputusan
adalah menimbang berbagai pilihan terbaik dari berbagai alternatif pilihan
18
yang paling mungkin untuk dilaksanakan dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi.
5. Memilih alternatif.
Memilih alternatif dalam proses pengambilan keputusan adalah
menentukan pilihan terbaik dari banyaknya alternatif pilihan berdasarkan
berbagai pertimbangan yang telah dilakukan.
6. Melaksanakan keputusan.
Melaksanakan keputusan berdasarkan pilihan terbaik yang telah ditentukan
dari berbagai alternatif pilihan yang diasumsikan efektif dalam mencapai
tujuan
7. Kontrol dan evaluasi
Kontrol dan evaluasi dalam proses pengambilan keputusan adalah
mengontrol konsekuensi dari keputusan yang diambil dan melakukan
evaluasi sejauhmana keputusan tersebut efektif dalam mengatasi masalah.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek
pengambilan keputusan adalah internal, eksternal, membuat tujuan yang
spesifik dan objektif, menentukan permasalahan, membuat alternatif pilihan,
mengevaluasi alternatif pilihan, memilih alternatif, melaksanakan keputusan,
kontrol dan evaluasi
3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan.
Menurut Santosa (dalam Suharso, 2003) kemampuan pengambilan
keputusan dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu:
19
a. Faktor Kebudayaan,
Berhubungan dengan pengaruh teknologi, pola berfikir, sosial sub budaya
dan kelas sosial.
b. Faktor Sosial,
Berhubungan dengan pengaruh kelompok, referensi, keluarga, peranan dan
status.
c. Faktor Perorangan,
Sangat erat hubungannya dengan usia, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya
hidup dan kepribadian seseorang dalam melakukan tindakan pengambilan
keputusan.
d. Faktor Psikologi,
Berhubungan dengan motivasi, persepsi, proses belajar, kepercayaan dan
sikap.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor - faktor
yang mempengaruhi tindakan pengambilan keputusan terdiri dari faktor
eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal mencakup faktor kebudayaan
dan faktor sosial sedangkan faktor internal mencakup faktor perorangan dan
faktor psikologi.
B. Konsep Diri Akademik
1. Pengertian Konsep Diri Akademik
Baron dan Byrne (2003) mendefinisikan konsep diri akademik sebagai
sebuah skema dasar yang terdiri dari kumpulan yang terorganisasi mengenai
kepercayaan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri secara
20
akademik. Menurut Bacchini dan Magliulo (2003), konsep diri akademik
merupakan kekuatan, kemampuan, kecenderungan, dan atribut pribadi yang
dipercayai seseorang ada pada dirinya, dan adanya atau ketiadaan atribut-
atribut itu membedakan dirinya dari orang lain dalam vidang akademik. Atribut
yang dimaksud dalam konsep diri akademik mencakup performansi kognitif,
perilaku, peran-peran, hubungan sosial, sifat dan kecenderungan kepribadian,
serta kompetensi, kelebihan, dan kekurangan yang ia miliki (Santrock, 2007).
Menurut McCoach dan Siegle (2003), konsep diri akademik adalah
persepsi seseorang mengenai kekuatan dan kelemahannya. McCoach dan
Siegle (2003) dalam hal ini melihat konsep diri akademik sebagai pemaknaan
kognitif terhadap kompetensi, sosial, dan akademik seseorang. Berdasarkan
pendapat tersebut konsep diri merupakan aspek deskriptif atau kognitif dari
persepsi diri. Mitchell (2005) mendefenisikan konsep diri akademik sebagai
aspek kognitif - afektif - perilaku serta merefleksikan aspek deskriptif dan
evaluatif diri yang saling berkaitan.
Penjabaran yang lebih lengkap diungkapkan oleh Mboya (1989)
mengenai pengertian konsep diri akademik yaitu kesadaran terhadap diri
sendiri yang mencakup citra diri (self-image) dan harga diri (self-esteem). Citra
diri dalam hal ini merupakan komponen deskriptif dari konsep diri akademik,
yaitu bagaimana individu secara konsisten menggambarkan dirinya dalam hal-
hal yang berkaitan dengan kompetensi akademik. Citra diri mencakup atribut,
peran, status, atau kepemilikan seseorang, dan bisa bersifat subyektif maupun
obyektif. Di sisi lain, harga diri merupakan komponen evaluatif dari konsep
21
diri, yaitu bagaimana individu memberi interpretasi atau nilai terhadap citra
dirinya. Komponen ini banyak dibentuk oleh perbandingan intra atau antar
kelompok serta harapan dan tuntutan dari lingkungan. Pemahaman semacam
ini sejalan dengan pengertian yang diberikan ahli-ahli lain
Baron dan Byrne (2003) mengartikan konsep diri akademik sebagai
pandangan komposit mengenai diri sendiri yang dibentuk oleh pengalaman
langsung dan evaluasi dari orang-orang terdekat (significant others). Shavelson
(dalam Marsh, Craven dan Debus, 1999) menjelaskan bahwa konsep diri
akademik adalah pengalaman performansi yang dibentuk melalui pengalaman
dan interpretasi terhadap lingkungannya, juga dipengaruhi oleh evaluasi dari
orang-orang terdekat dan penguatan (reinforcement) oleh lingkungan. Strein
(dalam Baron dan Byrne, 2003) mengemukakan bahwa konsep diri akademik
harus memiliki dua karakteristik penting, yaitu adanya unsur deskriptif dan
evaluatif, serta penekanan pada kompetensi skolastik.
Berdasarkan berbagai pengertian yang telah disebutkan, peneliti
merumuskan pengertian konsep diri akademik yang akan dipakai dalam
penelitian ini, yaitu kepercayaan, persepsi, dan perasaan seseorang mengenai
kompetensi dirinya dalam bidang akademik, yang bersifat deskriptif dan
evaluatif, serta dibentuk melalui pengalamannya dengan lingkungan.
2. Aspek-aspek Konsep Diri Akademik
Frey dan Carlock (dalam McCoach dan Siegle, 2003) mengungkapkan
bahwa aspek-aspek konsep diri akademik, yaitu adanya pengetahuan, harapan,
dan penilaian individu mengenai kemampuan akademis yang dimiliki. Ketiga
22
aspek tersebut dijelaskan sebagai berikut.
a. Pengetahuan
Pengetahuan dalam hal ini adalah meliputi apa yang dipikirkan individu
tentang diri sendiri secara akademis, seperti pelajaran yang dikuasai, nilai,
dan sebagainya. Identifikasi kemampuan dalam upaya membandingkan
dirinya dengan orang lain dimana hasilnya menjadi bagian potret diri
mentalnya.
b. Harapan
Harapan tentang kemungkinan akan menjadi seperti apa dirinya di masa
depan. Harapan mengenai perkembangan kemampuan akademisnya, dan
harapan yang menjadi kekuatan untuk mendorong dirinya mengembangkan
kemampuannya akademisnya.
c. Penilaian individu
Penilaian individu dalam hal ini adalah evaluasi tentang siapa dan
bagaimana dirinya secara akademis, misalnya saya lamban, cerdas, dan
sebagainya. Penilaian individu juga menyangkut seberapa besar individu
menyukai kemampuan akademisnya.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek
konsep diri akademik adalah pengetahuan dalam hal ini adalah meliputi apa
yang dipikirkan individu tentang diri sendiri secara akademis, harapan tentang
kemungkinan akan menjadi seperti apa dirinya di masa depan, penilaian
individu dalam hal ini adalah evaluasi tentang siapa dan bagaimana dirinya
secara akademis
23
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Akademik
Menurut Marsh, Craven dan Debus (1999) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi konsep diri akademik, yaitu:
a. Faktor eksternal, yang meliputi:
a) Lingkungan keluarga; terdapat kaitan yang positif antara keyakinan
orangtua dan keyakinan anak terhadap kemampuannya. Hubungan ini
meningkat selama masa sekolah dasar.
b) Iklim kelas; konsep diri akademis yang positif lebih ditemukan pada
siswa-siswa yang menekankan kerjasama dan saling tergantung di
antara mereka dibandingkan dengan siswa-siswa dalam kelas yang
menekankan kompetisi.
c) Guru; Dorongan dari guru dan pemberian otonomi yang lebih besar
terhadap siswa berhubungan dengan konsep diri akademis yang lebih
positif.
d) Teman sebaya; Pandangan individu mengenai kemampuannya juga
didapat dari pengaruh teman sebaya.
e) Kurikulum; Kurikulum pendidikan yang mendukung eksplorasi
potensi akademik juga dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri
akademik
b. Faktor internal
Faktor internal meliputi keyakinan, kompetensi personal, dan
keberhasilan personal. Penelitian Gans, Kenny dan Ghany (2003) ditemukan
bahwa prestasi yang baik akan menumbuhkan keyakinan pada individu akan
24
kemampuan yang dimiliki, sehingga dapat meningkatkan konsep diri akademis.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi konsep diri akademik adalah faktor eksternal, yang
meliputi lingkungan keluarga, iklim kelas, guru, teman sebaya, kurikulum, dan
faktor internal meliputi keyakinan, kompetensi personal, dan keberhasilan
personal.
C. Hubungan Konsep Diri Akademik Dengan Keputusan Melanjutkan
Pendidikan Ke Perguruan Tinggi
Konsep diri merupakan unsur kepribadian yang mendasari beberapa
kecenderungan perilaku seseorang karena seseorang cenderung bertindak
sejalan dengan konsep diri yang ia miliki, sementara hasil dari tindakannya
juga akan semakin megaskan konsep diri orang tersebut (Shavelson dalam
Marsh, Craven dan Debus, 1999).
Bahasan konteks pengambilan keputusan melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi bisa dilihat dari keyakinan, persepsi, atau perasaan tertentu
yang dimiliki remaja akhir mengenai dirinya sendiri dalam ranah akademik.
Sebaliknya, kecenderungan menyerahkan pada orang lain keputusan tentang
drinya pada orang lain merupakan indikasi orang yang memiliki konsep diri
akademik yang rendah. Penelitian Mitchell (2005) menemukan umumnya
kelompok subyek yang konsep dirinya negatif cenderung memiliki locus of
control eksternal.
Camgoz, Tektas dan Metin (2008) menyatakan secara tegas bahwa
salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengandalkan orang lain dalam
25
pengambilan keputusan adalah konsep diri yang cenderung negatif. Asumsi ini
menjelaskan bahwa membiarkan orang lain membuat keputusan bagi dirinya
sendiri karena susah mengambil keputusan, ketergantungan dan selalu
membutuhkan bantuan, keputusan diri yang rendah, malas, kurang asertif,
ketakutan untuk sukses, susah mengatur waktu, kurang adanya kontrol, dimana
kecenderungan arah perilaku ini disebabkan fungsi konsep diri yang negatif.
Kandemir (2014) menyatakan salah satu tipe seseorang yang memiliki
konsep diri negatif adalah pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-
benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri.
Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan
kelemahannya. Ditambahkan Fitts (dalam Putri, 2014) dalam bahasan dimensi
konsep diri negatif menyatakan bahwa seseorang dianggap memiliki konsep
diri yang negatif apabila individu tersebut kurang memiliki kontrol terhadap
dirinya sendiri
Pendapat senada, menurut Mboya (1989) individu yang memiliki
konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak
berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak
menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu akan
cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang
dihadapinya. Tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih
sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah
menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan
menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
26
Pendapat diatas ketika ditarik benang merah sebagai fungsi
hubungannya adalah, ketika seseorang memandang dirinya lemah, tidak
berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang,
cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang
dihadapinya, tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai
halangan dan mudah menyerah, pandangan tentang dirinya sendiri tidak
teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri, tidak tahu siapa
dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kurang memiliki kontrol terhadap
dirinya sendiri maka akan tampak dalam perilaku susah mengambil keputusan,
ketergantungan dan selalu membutuhkan bantuan
Berdasarkan berbagai fungsi hubungan yang telah dibahas, peneliti
menduga bahwa konsep diri akademik dan pengambilan keputusan di ranah
akademik memiliki suatu bentuk hubungan. Dalam hubungan tersebut, diduga
konsep diri akademik yang negatif merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan seseorang lebih cenderung menerima keputusan yang dibuat
orang lain pada dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Shavelson (dalam
Marsh, Craven dan Debus, 1999) mengenai perilaku seseorang yang cenderung
searah dengan persepsi mereka mengenai dirinya sendiri.
Penelitian ini akan dilakukan pada siswa sekolah menengah atas,
mengingat tuntutan akan kemandirian dan tanggung jawab pribadi dalam
menjalani setiap aktivitas akademik nantinya di universitas yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, diharapkan keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan
tinggi merupakan pilihan bebas mereka yang lebih mencerminkan konsep diri
27
akademiknya.
Gibson, Solso., Maclin & Maclin (dalam Syafrina & Nu’man, 2010)
juga menyatakan bahwa aspek kepribadian individu yang mempengaruhi
proses pengambilan keputusan untuk melanjutkan pendidikan, yaitu kualitas
kepribadian. Dalam konteks ini kualitas kepribadian yang mempengaruhi
pengambilan keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah
konsep diri akademik, faktor kualitas kepribadian inilah salah satu faktor
penting dan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
D. Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri akademik dengan
keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Semakin tinggi konsep
diri akademik semakin tinggi kemampuan pengambilan keputusan melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi. Sebaliknya semakin rendah konsep diri
akademik semakin rendah kemampuan pengambilan keputusan.