Inkuiri Terbimbing Tingkatkan Literasi Sains
Inkuiri Terbimbing Tingkatkan Literasi Sains
SKRIPSI
OLEH
RITA TRI MAHARANI
NIM : 19108830005
1
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP
LITERASI SAINS DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA
PADA PELAJARAN BIOLOGI KELAS XI SMA
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada
Universitas Islam Balitar
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Sarjana
OLEH
RITA TRI MAHARANI
NIM : 19108830005
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufik, serta
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh
Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Literasi Sains dan Kemampuan
Pemecahan Masalah di Kelas XI SMA, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Selanjutnya semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasul-Nya
Muhammad SWT.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa dukungan, bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tinginya kepada semua
pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan dan bantuan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih yang tak
terhingga kepada ibu Marinda Sari Sofiyana S. Si., M. Pd selaku pembimbing I dan Ibu
Mar’atus Sholihah, M. Pd selaku dosen pembimbing II yang telah dengan penuh
perhatian dan kesabaran membimbing serta memberikan dorongan kepada penulis
dalam penyelesaikan penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan
kebaikan dan kekuatan kepada beliau berdua.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Program
Sarjana Pendidikan Biologi. Kelancaran skripsi ini berkat bantuan, inspirasi, motivasi,
dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih
kepada.
1. Bapak Dr. Soebiantoro, M. Si, selaku Rektor Universitas Islam Balitar yang telah
memberikan kesempatan untuk belajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi Pendidikan Biologi.
2. Ibu Devita Sulistianan, S. Si. [Link] selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan yang telah banyak memberikan bantuan, inspirasi, motivasi dan
pengarah dalam menyusun skripsi ini.
iii
3. Ibu Eva Nurul Malahayati, [Link] selaku Kaprodi Pendidikan Biologi yang telah
memfasilitasi dan memberikan motivasi untuk menyelesaikan penyusunan skripsi
ini.
4. Ibu Marinda Sari Sofiyana, S. Si., M. Pd selaku Dosen Pembimbing I dan
penasehat utama yang senantiasa dengan sabar memberikan bimbingan, motivasi
dan arahan yang bearti dalam penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Mar’atus Sholihah, M. Pd selaku Dosen Pembimbing II dan penasehat utama
yang senantiasa dengan sabar memberikan bimbingan, motivasi dan arahan yang
bearti dalam penyusunan skripsi ini.
6. Segenap Bapak Ibu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Prodi
Pendidikan Biologi Universtitas Islam Balitar yang telah memberikan ilmunya
kepada peneliti selama menempuh pendidikan dibangku perkuliahan.
7. Kedua orang tua, kakak ku tercinta, sahabatku, serta teman-teman mahasiswa
Pendidikan Biologi 2019 Univeritas Islam Balitar yang telah mendukung peneliti
dari awal perkuliahan hingga akhir.
Terimakasih atas bantuan hingga penulisan lemar demi lembar skripsi ini
berakhir. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam
penyusunan skripsiini, oleh karena itu penulis sangan mengharapkan saran dan kritikan
guna menghasilkan karya yang lebih baik lagi.
Blitar,………………
Peneliti
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................6
1.3 Tujuan Penelitian..................................................................................6
1.4 Hipotesis Penelitian..............................................................................
1.5 Manfaat Penelitian................................................................................6
1.6 Asumsi dan Batasan Penelitian.............................................................7
v
3.7 Prosedur Penelitian..................................................................................26
3.8 Teknik Analisis Data...............................................................................28
Daftar Pustaka................................................................................................30
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1
Pembelajaran abad 21, setiap orang harus memiliki ketrampilan berpikir kritis,
pengetahuan dan kemampuan, literasi digital, literasi informasi, literasi media, literasi
sains dan menguasi teknologi informasi dan komunikasi. Untuk menunjang dalam
keberhasilan ketrampilan pembelajaran bagi peserta didik, tertuang pada profil
pendidikan abad 21 yaitu pengetahuan, ketrampilan dan prilaku yang terakhir proses
pengukuran hasil belajar (Rayinda, 2019). (Fydenberg & And one, 2011). Ketrampilan
pembelajaran harus dikuasi oleh seseorang, sehingga diharapkan mampu menguasi
ketrampilan agar menjadi pribadi yang sukses dalam hidup.
Ketrampilan abad 21 secara singkat memiliki prinsip pokok bahwa, pembelajaran
harus berpusat pada siswa, bersifat kolaboratif, kontekstual dan terintegrasi dengan
masyarakat. Peserta didik ditantang untuk mampu memecahkan masalah, berpikir kritis,
berpikir kreatif, berkolaborasi dan berinovasi (Trilling & Fadel 2009). Disamping itu
kompetensi guru abad 21 terdiri dari kompetensi digital age literacy, inventive
thingking, effective communication, dan high productivity (Yulianisa, Fahmi, Oktaviani
& Rijal, 2018). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan
pengaruh, dalam berbagai aspek kehidupan termasuk, diantaranya dalam bidang
pendidikan (Wiyono, 2013).
Keterampilan abad 21 manjadi fokus utama dalam dunia pendidikan, khususnya
pada pendidikan IPA (Nina Nisrina et al., 2020). Salah satu keterampilan yang sangat
penting dan mengaplikasikan sains dengan tepat yaitu literasi sains (Suryani, A.I. et al.,
2017). Literasi sains terfokus pada empat aspek yaitu pengetahuan, konteks, kompetensi
dan sikap. Literasi sains merupakan kemampuan menerapkan pengetahuan, memberikan
penjelasan, mengambil kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah (OECD, 2019). Untuk
Indonesia tahun 2018 bidang literasi, matematika dan juga sains kepada Mentri
Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menetapkan Indonesia berada pada
urutan ke 70 dari 78 negara ([Link], 2019). Hampir 20 tahun terakhir PISA,
merilis hasil kemampuan literasi sains peserta didik di seluruh dunia, termasuk negara
Indonesia berada diurutan terbawah. Hal ini menunjukan bahwa kualitas pembelajaran
sains di Indonesia jauh di bawah Negara-negara anggota OECD (Setiadi, 2014).
Kemampuan literasi sains untuk peserta didik SMA di Indonesia skor 393 berada
diurutan ke-38 dari 41 negara, dan tes PISA tahun 2003 mencapai skor 395 urutan ke-38
8
dari 41 negara (Setiadi, 2014). Pada tahun 2006 peserta didik di Indonesia mencapai
skor 393 berada pada urutan 50 dari 70 (OECD, 2007) dan skor sains pada tes PISA
tahun 2009 adalah 383 ranking 57 dari 65 negara peserta. Serta pada tahun 2012 tes
sains yang, sama meraih skor 382 urutan ke 64 dari 65 peserta (OECD, 2013). pada
PISA 2015 skor literasi sains peseta didik mengalami sedikit peningkatan, dari 382
tahun 2012 menjadi 403 tahun 2015 sekaligus menampatkan Indonesia pada urutan 62
dari 72 negara peseta (Kemendikbud, 2016). Sedangkan pada PISA tahun 2018 kembali
skor literasi sains peserta didik menurun menjadi 396 urutan ke-70 dai 78 negara
peserta ([Link], 2019)
Rendahnya litrasi sains peserta didik disebabkan, pembelajaran IPA yang masih
bersifat konvensional, serta mengabaikan pentingya kemampuan membaca dan menulis
sains sebagai, kompetensi yang harus dimiliki peserta didik (Norris & Pillips, 2003).
Rendahnya kemampuan literasi sains, peserta didik di Indonesia disebabkan oleh
beberapa faktor. Hayat & Yusuf (2006) menyatakan bahwa lingkungan, iklim belajar
sekolah, mempengaruhi literasi peserta didik. Upaya yang dilakukan pemerintah sebagai
solusi meningkatkan literasi sains yaitu (1) gerakan literasi sekolah (GLS), (2)
memberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS), (3) transformasi kepemimpinan
sekolah, (4) meningkatkan kompetensi guru, (5) memperbaiki kurikulum, (6)
memperbaiki buku ajar, (7) mengadakan asesmen kompetensi minimum, (8)
penggunaan platform digital.
Literasi sains merupakan, ketrampilan untuk menghadapi abad 21 dimana secara
ilmiah, merupakan landasan dalam kehidupan sehari-hari (Pratiwi et., al 2019). Dengan
demikian, literasi sains akan dapat memicu kemampuan pemecahan masalah peserta
didik yang hanya bukan, membaca dan menghafal rumus tapi, bisa menemukan yang
dapat dihubungkan dengan konsep yang sudah ada. Kemampuan pemecahan masalah
merupakan, kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah, sehingga peserta
didik dapat memahami masalah yang kompleks, serta menyusun rencana sehingga,
peserta didik dapat menentukan solusi dari permasalah tersebut (Rambe & Lisa, 2020).
Oleh karena itu, kemampuan pemacahan masalah harus dimiliki oleh peserta didik,
kerena merupakan dasar yang sangat penting (Mariam et al., 2019).
9
PISA memberikan asesmen untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ada di
Indonesia, berfokus pada kemampuan membaca, matematika, sains, pemecahan
masalah. Indonesia mengikuti PISA pada tahun 2001, namun Indonesia masih berada
pada urutan ke 72 dari 77 negara, dengan skor kemampuan pemecahan masalah sebesar
379, skor ini dibawah skor rata-rata yaitu 489 (OECD, 2019). Fakta ini menunjukan
bahwa, kemampuan pemecahan masalah yang ada di Indonesia, masih tergolong rendah
dibanding negara-negara lain. Salah satu indikator dari masalah PISA adalah
pemecahan masalah, dapat dipandang sebagai usaha untuk mencari jalan keluar dari
kesulitan, yang tidak begitu saja dapat diperoleh (Polya 2004), jadi seseorang dengan
menggunakan pemecahan masalah merupakan, proses seseorang dengan menggunakan
pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman yang dimilikinya untuk menemukan solusi
dari permasalahan yang diberikan (Murdiyani, dkk. 2013)
Kemampuan pemecahan masalah peserta didik di Indoensia perlu ditingkat, salah
satunya memberikan latihan masalah dari persoalan (Lestari & Sofyan, 2014; Nalurita,
dkk., 2019). Disamping memberikan pemecahan masalah, guru harus memantau
perkembangan peserta didik dalam kemampuan pemecahan masalah, dan bagian
manakah yang perlu ditingkatkan. Solusi untuk mengatasi kesulitan pemecahan masalah
pada peserta didik yaitu, guru harus berani menerapkan model pembelajaran untuk
memperbaiki pembelajaran yang belum maksimal, yang tentunya disesuaikan dengan
kondisi peserta didik agar peserta didik dapat belajar dengan baik.
Model merupakan rancangan khusus dengan menggunakan langkah-langkah yang,
sistematis untuk diterapkan dan dilaksanakan dalam suatu kegiatan. Model
pembelajaran dapat diartikan dengan pola yang dapat, digunakan untuk membentuk
kurikulum, merancang pembelajaran dan membimbing pelajaran dikelas (Zubaedi,
2012). Artinya guru memilih model pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik
untuk mencapai tujuan pembelajaran dikelas. Joyce dan Weil (1980;1992) dalam
bukunya Models of Teaching menggolongkan model pembelajaran ke dalam empat
rumpun yaitu (1) model pembelajaran pemrosesan informasi (2) model pembelajaran
personal (3) model pembelajaran social (4) model pembelajaran perilaku.
Salah satu model yang memberikan kesempatan peserta didik untuk, terlibat aktif
dalam penemuan pemecahan masalah adalah model inkuiri. Model inkuiri suatu
10
rangkaian belajar yang, melibatkan seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari
masalah, menyelidiki dan merumuskan sendiri penemuan dengan percaya diri (Trianto,
2015). Trianto, 2015 menyatakan bahwa inkuiri merupakan, pembelajaran yang berbasis
konseptual, pengetahuan dan ketrampilan yang diharapkan bukan hasil mengingat fakta,
melainka hasil dari menumukan sendiri. inkuiri terbimbing adalah sebuah pendekatan
yang, menggunakan berbagai sumber informasi dan gagasan yang meningkatkan
pemahaman tentang masalah (Khulthau, 2007) Adapun langkah-langkah pembelajaran
inkuiri terbimbing (1) identifikasi masalah (2) merumuskan hipotesis (3) merancang
percobaan (4) melakukan percobaan (5) menganalisis data (6) membuat kesimpulan (7)
penyampaian hasil percobaan (Fahyuni, 2016). Adapun Siklus inkuiri terdiri dari (1)
observasi (2) bertanya (3) mengajukan dugaan (4) mengumpulkan data (5)
penyimpulan.
Morwoto, dkk (2009 :97) menyatakan guru bertugas untuk, mengoptimalkan
kemampuan peserta didik agar berkembang secara efektif. Guru harus menjadi
fasilitator peserta didik, agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dan kebosonan
dalam pembelajaran. Model inkuiri terbimbing merupakan salah satu solusinya, model
inkuiri terbimbing peserta didik dituntut untuk aktif, dalam pembahasan dan peserta
didik didorong untuk dapat menyimpulkan dari hasil penemuanya. Hasil dari peneliti
terdahulu yang di lakukan oleh Yuni Erdani, Lukman Hakim, Linda Lia (2020)
menyimpulkan model pembelajaran inkuiri terbimbing telah meningkatkan literasi sains
dan kemampuan pemecahan masalah terhadap peserta didik.
Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil penelitian Asyhari dan Putri (2017), yang
menyatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing efektik dalam kemampuan
literasi sains, (Suwandari dan Kurnia et al., 2018) penerapan pembelajaran inkuiri
terbimbing melibatkan peserta didik, untuk lebih efektif dalam pemacahan masalah
yang disediakan. Dengan menerapakan model inqury terbimbing, diharapkan mampu
menciptakan suasana belajar yang bermakna, dan melatih literasi sains dan kemampuan
pemecahan masalah peserta didik sehingga, dapat mengembangkan tingkat kognitif
peserta didik. Berdasarkan permasalahan yang ada, literasi sains dan kemampuan
pemecahan masalah, dapat berpotensi meningkatkan kreativitas peserta didik dan
kemampuan pemecahan masalah, maka peneliti mengambil judul penelitian
11
“Pengaruh Model Pembelajaran Inqury Terbimbing Terhadap Literasi
Sains dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa di Kelas XI SMA”
12
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagi siswa
a. Dapat memberdayakan literasi sains siswa pada pembelajaran biologi.
b. Dapat memberdayakan kemampuan pemecahan masalah siswa pada
pembelajaaran biologi.
2. Bagi guru
a. Membantu guru menemukan masalah-masalah dalam pembelejaran di kelas yang
menyebabkan rendahnya literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah.
b. Memberikan masukan untuk guru menggunaka model pembelajaran inkuiri
terbimbing guna meningkatkan literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah.
3. Bagi sekolah
a. Dapat menjadi evaluasi sekolah untuk memperbaiki masalah-masalah dalam
pembelajaran di kelas yang menyebabkan rendahnya literasi sains dan
kemampuan pemecahan masalah.
b. Dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembelajaran guna meningkatkan
literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan model
inkuiri terbimbing.
4. Bagi peneliti
a. Mendapatkan pengalaman dan wawasan dalam menganalisis masalah-masalah
dan dapat dijadikan bekal jika sudah terjun langsung dalam dunia pendidikan
sehingga dapat menjadikan pendidik yang berkompeten.
b. Sebagai informasi dan bahan refereni peneliti selanjutnya agar bisa lebih
dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
13
1.6 Asumsi Penelitian dan Batasan Penelitian
Asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai beikut :
1. Suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) tidak mempengaruhi hasil
penelitian.
2. siswa mengisi lembar jawaban dengan jujur.
a. Peneliti dibatasi pada pokok meteri sistem eksresi
b. Model pembelajaran yang digunakan adalah model inkuiri terbimbing
14
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Literasi Sains
Literasi sains dapat menjadi salah satu, indikor kualitas pendidikan di Indonesia.
Literasi sains kemampuan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, menarik
kesimpulan yang berdasarkan bukti yang membantu dalam, membuat keputusan serta
perubahan yang dilakukan terhadap melalui aktivitas manusia (OECD, 2003).
Kemampuan literasi sains, kemampuan berpikir dalam menggunakan pengetahuan
ilmiah untuk mengembangkan ketrampilan membuat keputusan (Gultape dan Kilic,
2015). Literasi sains merupakan kemampuan seseorang, yang menggunakan konsep
sains untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menjelaskan
fenomena berdasarkan bukti-bukti ilmiah (Bybee et al., 2009). Literasi sains
memfokuskan pada pengetahuan siswa dalam menggunakan konsep sains secara
bermakna, berfikir kristis dan membuat keputusan dari permasalahan yang relevansi
dalam kehidupan siswa.
Pembelajaran bagian terpenting dalam menentukan tercapaian penguasaan literasi
sains, Permendiknas RI No. 41 (2007) menjelaskan bahwa proses pembelajaran pada
setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa dan berpartisipasi aktif serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. (Yuliati 2017).
Indikator literasi sains Gormally (2012) antara lain, mengidentifikasi pendapat
ilmiah yang valid, melakukan penelusuran literatur yang efektif, memahami elemen-
elemen desain penelitian dan bagaimana dampaknya terhadap temuan/kesimpulan,
membuat grafik secara tepat dari data, memecahkan masalah menggunakan
keterampilan kuantitatif, termasuk statistik dasar, memahami dan menginterpretasikan
statistik dasar, dan melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan kesimpulan
berdasarkan data kuantitatif. Dalam mengkatagorikan kemampuan peserta didik dalam
literasi sains digunakan tujuh indikator dalam menentukan literasi sains (Rahmadani et
al. 2018). Dipilih indikator Gormally (2012) karena sangat sederhana, mudah
15
diimplementasikan dalam kehidupan sehari –hari, dan telah mencerminkan dari
kemampuan literasi sains. Selain itu, ketiga indikator tersebut termuat dalam tiga
kompetensi ilmiah yang, diukur dalam literasi sains. Mengidentifikasi isu-isu (masalah)
ilmiah ada pada indikator 1, menjelaskan fenemone ilmiah ada pada indikator 2 sampai
6 dan menggunakan bukti ilmiah ada pada indikator 7. Adapun gambaran umum atau
kategori kemampuan literasi sain yang di susun seperti tabel 1.
Tabel 1. Indikator Literasi Sains
N Kopetensi ilmiah yang
Indikator
o diukur dalan literasi sains
1 Mengidentifikasi isu-isu a. Mengidentifikasi pendapat ilmiah yang valid (misalnya
(masalah ilmiah ) pendapat/teori untuk mendukung hipotesis)
2 Menjelaskan fenomena b. Melakukan penelusuran literature yang efektif (misalnya
ilmiah mengevaluasi validitas sumber dan membedakan diantara tipe
sumber-sumber tersebut)
c. Memahami elemen-elemen dalam desain penelitian
d. Membuat grafik secara tepat dari data
e. Memecahkan masalah menggunakan ketrampilan kuantitatif,
termasuk statistika dasar (misalnya menghitung rata-rata
probabilitas, persentasi, frekuensi)
f. Memahami dan menginterprestasikan statistic dasar
(menginterprestasi keselahan, memahami kebutuhan untuk
analisis statistik)
3 Menggunakan bukti ilmiah g. Melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan kesimpulan
berdasarkan data kuantitatif
16
Secara umum literasi sains memiliki beberapa komponen, komponen tersebut
adalah:
1. mampu membedakan mana konteks sains dan mana yang bukan konteks sains
2. mengerti bagian-bagian dari sains dan memiliki pemahaman secara umum
aplikasi sains
3. memiliki kemampuan untuk menerapkan pengetahuan sains dalam pemecahan
masalah
4. mengerti karakteristik dari sains dan mengerti kaitannya dengan budaya
5. mengetahui manfaat dan resiko yang ditimbulkan oleh sains
Komponen-komponen diatas merupakan dasar pengembangan dari indikator yang
akan disusun untuk meneliti lebih lanjut literasi sains. Gormally (2012) dalam
(Mamat,2016) indikator literasi sains antara lain :
a. mengidentifikasi pendapat ilmiah yang valid
b. melakukan penelusuran literatur yang efektif
c. memahami elemen-elemen desain penelitian dan bagaimana dampaknya
terhadap temuan/ kesimpulan
d. membuat grafik secara tepat dari data;
e. memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk
statistik dasar;
f. memahami dan menginterpretasikan statistik dasar;
g. melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan data
kuantitatif.
17
memecahkan masalah yang sering dijumpai peserta didik di kehidupan nyata (Tomo
dkk., 2016).
Pemecahan masalah, yaitu kemampuan berpikir individu untuk memecahkan
masalah dengan mengumpulkan fakta, menganalisis informasi, mengembangkan
alternatif solusi dan memilih solusi yang paling efektif (Makrufi dkk., 2016).
Keterampilan pemecahan masalah mensyaratkan setiap siswa memiliki, keterampilan
dan kemampuan khusus yang mungkin berbeda dalam pemecahan masalah siswa
(Rahmat dkk., (2014). Pemecahan masalah bukan sebagai keterampilan generik,
meliankan suatu kegiatan manusia yang menggabungkan konsep dan aturan yang
sebelumnya telah di peroleh (Rojabiyah & Setiawan, 2019).
Pernyataan tersebut mengandung bahwa, seseorang mampu menyelesaikan suatu
masalah, maka seseorang memiliki suatu kemampuan yang baru. Pemecahan masalah
dipandang untuk, menemukan kombinasi dari suatu aturan yang dapat, diterapkan dalam
mengatasi situasi yang baru. Pemecahan masalah bukan hanya sekedar sebagai, bentuk
kemampuan menerapkan, melainkan lebih dari itu, bagaimana proses untuk
mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi (Gagne dalam Wena
(1985 52)). Pemecahan masalah Polya (1973) menyatakan bahwa memecahkan masalah
merupakan latihan keterampilan praktik dengan, meniru artinya mencoba memecahkan
masalah harus mengamati, serta meniru apa yang dilakukan orang yang sedang
memecahkan masalah, dan akhirnya bisa melakukan penyelesaian masalah, dengan cara
melakukannya atau praktik secara langsung. (Christina 2021)
18
menyelesaikan masalah, tergantung pada pengalama peserta didik dalam menyelasaikan
masalah (Dewi dan Sumantri, 2014), semakin bervariasi pengalaman meraka maka,
peserta didik lebih kreatif dalam menyusun rencana yang dianggap paling tepat (Hadi
dan Riyadatul, 2014). Langkah terakhir yaitu melakukan pengecekan kembali, atas apa
yang telah dilaksanakan mulai dari fase pertama sampai fase terakhir (Hadi dan
Riyadatul, 2014).
b. Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan
model pembelajaran yang sudah ada. Beberapa model pembelajaran telah
dikembangkan untuk memfasilitasi pemecahan masalah pembelajaran dan untuk
mengorganisir peserta didik sehingga terjadi proses kerja secara bersama-sama dalam
pembelajaran. Tetapi pembelajaran berbasis masalah bukan hanya tentang betapa
mudahnya siswa belajar, tetapi bagaimana siswa mengalami masalah nyata, mengetahui
solusi yang tepat, dan dapat menerapkannya untuk memecahkan masalah.
d. Kelebihan
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami
isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
19
d. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir
kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru.
e. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
e. Kekurangan
a. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari dapat dipecahkan, maka
mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
20
b.1.3 Inqury Terbimbing
Pembelajaran inkuiri yaitu heuristic yang berasal dari bahasa Yunani heurisken
yang berarti saya menemukan. Pembelajaran berbasis inkuiri menekankan pada proses
berpikir kritis dan analitis dalam, mencari dan menemukan jawaban atas masalah yang
dihadapi. Abdul Majid (2013). Pembelajaran inkuiri adalah bagaimana menemukan
kebenaran pengetahuan atau informasi melalui pertanyaan. Proses ini dimulai dengan
mengumpulkan informasi melalui hubungan manusia, melihat, mendengar, mengalami,
merasakan dan memberikan umpan balik Sujarwo (2011).
Inkuiri merupakan penekananan pada proses berpikir kritis dan analisis untuk,
menemukan jawaban atau suatu masalah Sanjaya (2008), merupakan proses
pembelajaran siswa diberi tugas dan siswa berusaha memecahkan masalah secara
mandiri di bawah bimbingan guru. Berdasarkan pernyataan di atas, dikatakan bahwa
penelitian lebih menekankan pada proses pembelajaran. Proses yang relevan adalah
upaya untuk, memecahkan masalah yang diidentifikasi. Memecahkan masalah ini
membutuhkan pemikiran kritis dan analisis. Masalah yang muncul dapat diselesaikan
dengan memperoleh informasi, memberikan jawaban, dan baru kemudian memberikan
solusi.
a. Prinsip-prinsip Pembelajaran Inkuiri
Prinsip pembelajaran inkuiri menyatakan Wina Sanjaya (2008, 199) yaitu: (1)
berorientasi pada pengembangan intelektual, (2) prinsip interaksi, (3) prinsip bertanya,
(4) prinsip belajar untuk berpikir, dan (5) prinsip keterbukaan. Sependapat dengan hal
itu Marera (dalam Sujarwo, 2011) mengemukakan bahwa pembelajaran inkuiri dapat,
membantu siswa menganalisis materi pembelajaran dengan menciptakan lingkungan
belajar yang bervariasi sehingga, siswa termotivasi untuk belajar secara optimal dan
meningkatkan rasa ingin tahu. Sementara Made Wena (2010, 76) menjelaskan bahwa
secara umum prinsip inkuiri adalah sebagai berikut:
a. Siswa ditanya apakah mereka menemui masalah yang membingungkan atau tidak
jelas.
b. Siswa dapat memahami dan belajar menganalisis strategi berpikir mereka.
21
c. Strategi berpikir baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan pada apa
yang sudah ada.
d. Studi kelompok dapat memperkaya pikiran-tubuh dan membantu siswa belajar
tentang sifat sementara dari pengetahuan dan menghargai pendapat orang lain.
Dari pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat prinsip interaksi dalam
survei tersebut, baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru.
Inkuiri juga merupakan proses meminta informasi langsung dari orang lain, rasa ingin
tahu siswa tumbuh, mendukung kebebasan siswa untuk mengembangkan logika dan
penalarannya sendiri.
22
merata, (3) pembelajaran eksploratif membutuhkan banyak waktu, dan (4 ) pengetahuan
diperoleh dalam jangka waktu yang lama.
Tabel 3 Sintaks Pembelajaran Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
23
lulusan merupakan kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan.
Standar kompetensi lulusan dikembangkan menjadi standar lulusan satuan pendidikan
yaitu SKL SD, SMP, SMA,SMK. Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan
berisikan tiga kompetensi sebagai berikut : kemampuan konten, proses dan ruang
lingkup penerapan komponen proses dan konten. Lulusan SMA atau MA memiliki
sikap , pengetahuan, ketrampilan sebagai berikut. SKL tingkat SMA dapat dilihat dari
tabel 1
Ketrampilan Memiliki kemampuan piker dan tindak yang efektif dan kreatif
dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang dipelajari
disekolah dan sumber lain sejenis.
24
Tabel 2 KI, KD dan Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Sistem Eksresi
Kompetensi Inti Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun
organ pada sistem ekskresi dalam kaitannya dengan
bioproses dan gangguan fungsi yang dapat terjadi pada
sistem ekskresi manusia
Kompetensi Dasar Menyajikan hasil analisis pengaruh pola hidup terhadap
kelainan pada struktur dan fungsi organ yang meyebabkan
gangguan pada sistem ekskresi serta kaitannya dengan
teknologi
a. Kompetensi Dasar
3.9 Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada system
ekskresi dalam kaitannya dengan bioproses dan gangguan fungsi yang dapat
terjadi pada sistem ekskresi manusia.
4.9 Menyajikan hasil analisis pengaruh pola hidup terhadap kelainan pada struktur
dan fungsi organ yang menyebabkan gangguan pada sistem ekskresi serta
kaitannya dengan teknologi.
b. Tujuan Pembelajaran
1. Membandingkan struktur dan fungsi organ pada sistem ekskresi pada manusia
2. Menganalisis proses ekskresi pada manusia
3. Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi produksi urine
4. Menjelaskan kelainan dan penyakit yang berhubungan dengan sistem eksresi
5. Menjelaskan teknologi yang berkaitan dengan kesehatan sistem ekskresi
25
6. hasil analisis pengaruh pola hidup terhadap kelainan pada struktur dan fungsi
organ yang meyebabkan gangguan pada sistem ekskresi.
26
pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis meteri pemecahan terhadap kemampuan
pemecahan masalah siswa.
3. Hasil penelitian yang dilakukan Indra Dharma Putra, tahun 2020 dengan judul
penelitianya “pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap
kemampuan literasi sains siswa di SMP Negeri 35 Palembang” menunjukan ada
pengaruh model Terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing
terhadap literasi sains
27
Perubahan dari era 4.0 ke 5.0 sebagai peserta
didik masih belum siap menghadapi era 5.0, Pengaruh inkuiri terbimbing terhadap
kurangnya sikap kepedulian terhadap literasi sains dan kemampuan
teknologi, rendahnya literasi sains dan
pemecahan masalah menciptakan
kemampuan pemecahan masalah peserta
didik suasana belajar yang bermakna, dan
melatih literasi sains dan kemampuan
pemecahan masalah peserta didik
sehingga, dapat mengembangkan
tingkat kognitif peserta didik Asyhari
dan Putri (2017
28
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitaif dengan jenis penelitian quesi
eksperimen (eksperimen semu). Penelitian ini menggunakan desain pretes-posttest
Desain ini menggunakan dua kelompok, satu kelompok diantaranya diberikan
perlakuan eksperimen dan lainnya sebagai kelompok kontrol. Desain penelitian
digambarkan pada table 3.1.
Table 3.1 Desain Penelitian
Desain Subjek Pretest perlakuan posttest
E P1 X P2
K P2 X P2
Keterangan :
P1 : Test awal (pretest) soal literasi sains dan kemapuan pemecahan masalah
P2 : Tes akhir (posttest) soal literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah
X : Pembelajaran inqury terbimbing
(-) : Menggunakan metode konvensional ceramah dan penugasan
29
Table 3.2 Jumlah Siswa Kelas XI IPA SMAN
Kelas Laki – laki Perempuan Jumlah
XI IPA 1
XI IPA 2
XI IPA 3
XI IPA 4
XI IPA 5
Dalam penelitian kuantitaif, Sampel adalah bagian dari jumlah atau karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah ….
Dengan rincian …… teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling yaitu
teknik pengambilan sampling dengan suatu pertimbangan tertentu (Sugiyono 2018).
Pertimbangan yang digunakan adalah selisih jumlah siswa yang tidak terpaut jauh (tidak
melebihi 10 %), pertimbangan kedua adalah hasil materi sebelumnya.
30
sains dan kemampuan pemecahan masalah, Lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran.
1. Tes Literasi Sains dan Kemampuan Pemecahan Masalah
Instrument penelitian untuk tes literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah
mengguanakn tes pilihan ganda berbasis wacana mengenai materi pada sistem
gerak. Berdasarkan aspek penilaian kemampuan pemecahan masalah dan literasi
sains, adapun aspek penilaian yaitu :
31
1. Tahapan konseptual (merumuskan dan mengidentifikasi masalah, meninjau
kepustakaan yang relevan, mendefinisikan kerangka teoritis, merumuaskan
hipotesis)
2. Tahapan Perancanagan dan Perencanaan (memilih rancangan penelitian,
mengidentifikasi populasi yang diteliti, mengkhussukan metode untuk mengukur
variabel penelitian, merancang rencana sampling untuk penelitan dan instrument
penelitian)
3. Pemilihan Lapangan Penelitian
Merupakan fase menentukan lokasi penelitian yang disesuaikan dengan objek
peneltan
4. Mengurus perizinan untuk melakukan penelitian di tempat yang telah ditentukan
5. Memilih dan memanfaatkan informasi untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
Informasi dapat diperoleh dari wali kelas atau dari guru mata pelajaran terkait
sampel yang akan diteliti
6. Menyiapkan perangkat penelitian guna memudahkan proses penelitian
32
3. Tahap ketiga dilakukan setelah pemberian pembelajaran masing-masing kelas
sudah dilaksanakan kemudian diadakan posttest untuk mengukur literasi sains dan
kemampuan pemecahan masalah.
C. Fase Analisis Data
1. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mengola dan menganalis data hasil
penelitian. Data yang telah dikumpulkan dari lapangan diolah dan dianalisis untuk
mendapatkan kesimpulan-kesimpulan yang diantaranya kesimpulan dari hasil
pengujian hipotesis penelitian.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas adalah suatu prosedur uji stastik yang dilakukan untuk
mengetahui apakah data dalam variabel X dan Y bersifat homogen atau tidak
(Abdullah,2015). Untuk mempermudahkan perhitungan homogenitas data,
33
peneliti menggunakan program SPSS 25 for windows dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05 maka data tersebut mempunyai variasi
tidak sama / tidak homogen
b. Jika nilai [Link] (2-tailed ) >0,05 maka data tersebut mempunyai variasi
sama / homogen
3. Uji Hipotesis
Penelitian ini, peneliti menggunakan t-test menguji signifikan beda rata-rata dari
satu kelompok. Pada tes ini digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel
rata-rata pretest dan posttest (Ilyas dkk.,2015). Uji t-test ini bertujuan untuk
mengetahui apakah ada pengaruh pada model pembelajaran inqury terbimbing
terhadap literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian ini
menggunakan uji hipotesis yang menggunakan SPSS 25 for windows dengan uji
paired sample T-Test. Adapun dasar pengambilian keputusn pada uji paired
sample T-Test yaitu nilai signifikasi (2-teiled) < 0,05 maka Ha diterima dan HO
ditolak.
34
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, R. (2013). Pengaruh manajemen strategik dan biaya pendidikan terhadap daya
saing sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Mangkubumi Kota
Tasikmalaya. Administrasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana,
187-192.
Judiani. (2011). Kreativitas dan Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan, 56-69.
Judiani, S. (2011). Kreativitas dan Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan, 56-69.
[Link]. (2019). Literasi Baca Indonesia Rendah. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra
Bakti.
Lase, D. (2019). Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 . Sundermann: Jurnal Ilmiah
Teknologi, Pendidikan, Sains, Humaniora Dan Kebudayaan,, 28-43.
35
Murdiyani, N. M. (2013). Developing a Model to Support Students in Solving
Subtraction. Journal on Mathematics Education, 95-112.
OECD. (2018). What Students Know and Can Do, PISA, OECD Publishing, Paris,.
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan.
OECD. (2019). What Students Know and Can do. Jurnal Elemen.
Polya, G. (2014). How to solve it. New Jersey: Princeton University Press. . Jurnal
Elemen.
36
Suryani, A. I. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran 5E Terintegritas Pendekatan
Saintifik Terhadap Kemampuan Literasi Sains Siswa SMPN 1 Kuripan Ajaran
2016/107. Jurnal Pijar Mipa, 12 (1).
37