REVIEW JURNAL
Judul Penanaman Karakter Melalui Peran Pendidik Dalam
Menghadapi Tantangan Di Era Globalisasi
Nama jurnal Jurnal PGSD
Volume dan Halaman Vol. 5, No 2 dan 25-36
Tahun 2019
Penulis Fikriyah, Aiman Faiz
Reviews Rosita Aini
Tanggal Reviews 03 Desember 2022
Latar Belakang Globalisasi dewasa ini membawa perubahan bagi kehidupan
manusia, di era ini juga manusia seakan-akan memberi
ruang sebebas-bebasnya derasnya gelombang arus
globalisasi yang masuk melalui teknologi informasi yang
kian mudah. Seperti yang diungkapkan Profesor Tilaar
bahwa era globalisasi bisa terlihat dari komunikasi yang
semakin cepat dan mudah, kendati kita berada di belahan
bumi manapun kita bisa mengetahui informasi tersebut.
Perkembangan situasi global yang pesat saat ini telah
mempengaruhi negara-negara maju dan berkembang.
Menyikapi akselerasi global yang sangat cepat, tentunya
bangsa siap mematangkan kualitas agar tidak larut
gelombang perubahan global dan menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Namun yang terjadi saat ini, penanaman karakter
disekolah belum memenuhi harapan sebagaimana tercantum
dalam Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban Bangsa yang bermartabat. Hilangnya ilmu
pendidikan dalam dunia pendidikan bukan hal yang bisa
dianggap remeh seperti halnya diungkapkan Uyoh Sadulloh
seorang ahli dibidang pendidikan yang segala kegiatan
berkaitan dengan mendidik bukanlah perbuatan yang
sembarangan mendidik menyangkut kehidupan dan nasib
anak manusia. Banyaknya tantangan atau sering disebut
challange di media sosial yang tidak berfaedah telah turut
serta dalam membawa karakter siswa ke arah yang negatif.
Tujuan Penelitian Tujuannya untuk melakukan pengamatan yang cermat
terhadap fenomena sosial tertentu yang kemudian di
eksplore dan di interpretasikan sesuai fenomena yang terjadi
di lapangan yang kaitannya dengan peran guru di era
globalisasi yang semakin mendapat banyak tantangan nilai
dan karakter.
Permasalahan Arus globalisasi yang terus berkembang semakin
mengikiskan nilai jati diri Bangsa Indonesia dikalangan
remaja atau siswa yang masuk melalui agen budaya luar
sekolah terutama media massa.
Metode penelitian Metode pendeketan penelitian yang digunakan adalah
pendekatan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.
Suharsimi (2005: 134) menyatakan bahwa penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengumpulkan informasi mengenai status atau gejala yang
ada, yaitu gejala menurut apa adanya pada saat penelitian
dilakukan. Dalam penelitian ini, pendekatan deskriptif
kualitatif bertujuan untuk melakukan pengakmatan yang
cermat terhadap fenomena sosial tertentu yang kemudian di
eksplore dan di interpretasikan sesuai fenomena yang terjadi
di lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti mengeksplorasi
dan memberikan argumen mengenai pendidikan karakter
satuan tingkat Sekolah Dasar di Indonesia. Model argumen
yang digunakan yaitu argumen eksplanatori, yakni argumen
yang menggunakan satu atau lebih pembenaran atau
dukungan yang mengacu pada validitas suatu teori dengan
menyatakan suatu pernyataan didasarkan pada teori yang
benar secara nalar (Nugroho, 2014a:163).
Hasil dan Pembahasan Di sadari atau tidak bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang
terpuruk, terpuruknya Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya
disebabkan oleh faktor ekonomi saja, melainkan disebabkan
oleh krisis moral dan akhlak (karakter). Jika diperhatikan,
terjadinya keterpurukan saat ini salah satunya adalah proses
pembelajaran yang terlihat di sekolah-sekolah saat ini lebih
banyak berupa hapalan teori saja, dan paling tinggi sampai
pada learning to do (belajar melakukan) sedangkan belajar
menjadi atau learning to be masih belum bisa tercapai.
Proses pembelajaran yang seperti ini baru sampai pada
pembelajaran yang hanya berupa surface learning
sedangkan pembelajaran yang diikuti pemahaman,
pengertian yang mendalam dan aplikasi atau pembelajaran
yang penyampaian materi secara deep Learning masih
belum tercapai ketika siswa dihadapkan dengan situasi dan
masalah baru dalam kehidupannya. Proses pembelajaran
yang terjadi selama ini masih berfokus kepada guru sebagai
sumber ilmu pengetahuan. Pembelajaran seperti itu
kebanyakan hanya transfer keilmuan atau knowledge
semata dalam proses pembelajarannya sedangkan transform
of value dan transform of atittude masih belum bisa
tercapai. (Ristekdikti, 2018). Dan peran guru di era
globalisasi saat ini menjadi sangat sentral terutama dalam
mengantisipasi budaya yang mungkin saja masuk melalui
kemajuan teknologi Namun, tidak hanya menjadi fasilitator
dan motivator, peran guru juga harus mampu menanamkan
nilai-nilai karakter agar peserta didik atau siswa tidak
terbawa arus globalisasi yang kian deras Jika ditelaah,
nuansa pendidikan karakter sebenarnya sudah termasuk
kedalam tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun
2003 pasal 3. Dengan melihat tujuan UU Sisdiknas tersebut
sebenarnya nilai moral dan karakter senantiasa melekat
dalam cita-cita pendidikan Nasional Kritik tentang kualitas
guru di Indonesia saat ini masih menjadi sorotan oleh para
pemangku kebijakan, bahkan akhirakhir ini sering terdengar
istilah pendidikan tanpa ilmu pendidikan, atau disebut
praktik PENTIP dalam dunia pendidikan Isi dari peraturan
tersebut guru harus memiliki macam-macam kompetensi
yang harus dimiliki antara lain;
1) kompetensi pedagogik, kompetensi pedagogik meliputi
pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengembangkan dan
mengaktualisasikan berbagai potensi sesuai dengan minat
dan bakat yang dimilikinya;
2) kompetensi kepribadian, kompetensi kepribadian
merupakan kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia;
3) kompetensi sosial, kompetensi sosial merupakan
kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat
sekitar;
4) kompetensi profesional, kompetensi profesional
merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam, yang mencakup penguasaan materi kukurikulum
mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang
menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan
metodologi keilmuannya.
Proses pembelajaran yang terjadi selama ini masih berfokus
kepada sebagai sumber ilmu pengetahuan. Pelajar sebagai
calon penerus bangsa harus mendapatkan penanaman nilai
yang baik, karena memperbaiki pelajar seyogyanya
memperbaiki juga kualitas bangsa. Sementara Heraclitus
dalam buku Ratna Megawangi (2016) memberikan
argumentasinya bahwa “kejayaan sebuah Bangsa terletak
pada karakter
masyarakatnya”. Hal tersebut yang terlihat dalam makna
filosofis pada lagu Indonesia Raya yang pertama harus
dibangun adalah Jiwanya baru industri berbagai
tantangannya. Sehingga apa yang diperoleh siswa dapat di
aplikasikan nyata pemahaman konsep yang diperoleh siswa
tidak abstrak namun lebih konkret lagi melalui peran guru
sehingga proses lebih mengisaratkan teraplikasinya materi
dan nilai-nilai yang terkandung dalam proses pembelajaran
kepada kehidupan nyata siswa. Corak pendidikan karakter
menurut Ristekdikti “bahwa pendidikan nilai dan karakter
merupakan sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang lunak,
yang bercorak inter, multi dan transdisiplin”. Banyak
keahlian yang oleh menanamkan nilai-nilai luhur dan
karakter mulia dan membiasakannya sehari-hari.
“Pendidikan tentang nilai dan pendidikan karakter adalah
pendidikan sepanjang hidup. Nilai dan karakter adalah inti
dari proses kehidupan, dan inti kemanusiaan itu sendiri”.
Nah itulah inti dari pendidikan kemanusiaan. Hal lain, moral
dan karakter bisa terjalin dengan baik dan efektif jika
dilakukan secara komprehensif, peran orang tua dan
masyarakat sangat membantu dalam membangun moral dan
karakter. Sinergitas antara pihak sekolah dan orang tua akan
memberikan pemahaman kepada sekolah terkait latar
belakang pelajar, hal tersebut dibutuhkan untuk
mengembangkan pendidikan karakter bagi para pelajar.
Disisi lain peran masyarakat ikut andil dalam pembentukan
karakter siswa, kondisi sekitar sekolah tentu akan ikut
mempengaruhi kebiasaan para pelajar. Oleh karenanya,
komunikasi antara masyarakat dan pihak sekolah akan
sangat membantu dalam membentuk karakter siswa. Sifat
siswa pada dasarnya seperti spons yang menyerap apa saja
yang di serap dari sekitarnya, tentunya peran guru harus
lebih baik di bandingkan dengan pewaris nilai lainnya.
Selain menjadi model atau teladan, intervensi seorang guru
sangat berperan dalam membangun situasi moral. Situasi
dan komunitas moral melalui intervensi guru disekolah
menjadi sangat penting, tentunya intervensi yang dilakukan
harus secara berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan bagi
siswa. Kebiasaan itulah yang akan menjadi bibit terciptanya
karakter siswa yang baik sebagai upaya menghadapi
tantangan globalisasi dan era revolusi industri yang penuh
kemajuan berlandaskan karakter yang baik.
Kelemahan Bahasa yang digunakan tidak terlalu cepat di mengerti
karena banyaknya kata atau kalimat yang memakai bahasa
asing dan bahasa-bahasa istilah.
Penulisan dari penelitian ini juga masih banyak yang tidak
relevan dan penulisan EYD nya masih banyak yang keliru.
Kelebihan Pemodelan yang terdapat di penelitian ini sangat membantu
untuk mengetahui bagaimana cara para pendidik
menanamkan karakter atau moral yang unggul dan lebih
efektif kepada para siswa/siswi nya.
Kesimpulan