0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
315 tayangan332 halaman

Metode AMT dalam Eksplorasi Geofisika

Metode Audio Magnetotelluric (AMT) adalah metode geofisika pasif yang mengukur variasi medan listrik dan magnetik alami untuk menentukan konduktivitas bawah permukaan. AMT menggunakan frekuensi audio 1-5 kHz sehingga lebih menggambarkan struktur dangkal. Data AMT dikumpulkan dengan menempatkan elektroda dan kumparan di lapangan, lalu diolah menggunakan tensor impedansi untuk menentukan konduktivitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
315 tayangan332 halaman

Metode AMT dalam Eksplorasi Geofisika

Metode Audio Magnetotelluric (AMT) adalah metode geofisika pasif yang mengukur variasi medan listrik dan magnetik alami untuk menentukan konduktivitas bawah permukaan. AMT menggunakan frekuensi audio 1-5 kHz sehingga lebih menggambarkan struktur dangkal. Data AMT dikumpulkan dengan menempatkan elektroda dan kumparan di lapangan, lalu diolah menggunakan tensor impedansi untuk menentukan konduktivitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Daftar Isi

BAB I AMT ...................................................................................................................................................... 3

BAB II GPR .................................................................................................................................................... 16

BAB III GPS ................................................................................................................................................... 32

BAB IV GRAVITY ........................................................................................................................................ 59

BAB V IP ...................................................................................................................................................... 122

BAB VI MAGNETIK ................................................................................................................................... 155

BAB VII MIKROSEISMIK.......................................................................................................................... 197

BAB VIII REFRAKSI DAN MASW ........................................................................................................... 223

BAB IX VES................................................................................................................................................. 267

BAB X VLF .................................................................................................................................................. 294

2
BAB I
AMT
1. PENDAHULUAN
Survey geofisika dimaksudkan untuk memperoleh distribusi parameter-parameter
fisik yang ada di bawah permukaan bumi, seperti kecepatan gelombang elastik, gravitasi,
kemagnetan, kelistrikan dan lain lain. Metode Audio Magnetotelluric (AMT) merupakan
salah satu metode eksplorasi geofisika pasif yang memanfaatkan medan elektromagnetik
(EM) alam untuk mengetahui parameter fisik yaitu konduktifitas atau resistivitas bawah
permukaan. Metode AMT mengukur induksi medan elektromagnetik (medan listrik dan
medan magnetik) alami pada bumi karena variasi geomagnet bumi dan interaksi solar wind
(Simpson dan Bahr, 2005).
Perbedaan AMT dengan MT adalah metode AMT memiliki rentang frekuensi audio
yaitu 1kHz - 5 kHz, sedangkan rentang frekuensi MT adalah 0.1 - 10 Hz. Sehingga metode
AMT akan relatif menggambarkan struktur bawah permukaan yang lebih dangkal
dibandingkan dengan MT. Keterkaitan fenomena listrik - magnet terhadap sifat kelistrikan
terutama konduktivitas medium (bumi) dapat dimanfaatkan untuk keperluan survey metode
AMT. Metode ini dapat digunakan dalam eksplorasi sumber daya alam seperti mineral,
minyak dan gas bumi, geothermal serta untuk studi permasalahan lingkungan. Hal ini
dilakukan dengan mengukur variasi medan listrik () dan medan magnet () sebagai fungsi
waktu. Informasi mengenai konduktivitas/resistivitas medium dari data AMT dapat
diperoleh dari penyelesaian persamaan Maxwell (Grandis, 2002).

2. DASAR TEORI
2.1 Hukum maxwell
Perambatan gelombang elektromagnetik dapat dijelaskan dengan Persamaan
Maxwell. Hukum Maxwell merupakan gabungan dari beberapa hukum kelistrikan dan
kemagnetan yang telah ada sebelumnya. Berikut merupakan keempat hukum maxwell:
1.1
𝛻⋅𝐵 =0
1.2
𝛻⋅𝐷 =𝜌
1.3
𝜕𝐵
𝛻×𝐸 =− 1.4
𝜕𝑡
𝜕𝐷
𝛻×𝐻 =𝐽+
𝜕𝑡
B = induksi magnetik E = medan listrik
D = perpindahan medan listrik H = medan magnet
𝜌 = rapat arus muatan listrik J = rapat arus listrik

𝜕𝐵
= perubahan induksi magnetik terhadap waktu
𝜕𝑡
𝜕𝐷
𝜕𝑡
= perubahan medan listrik terhadap waktu

3
Persamaan (1.1) adalah hukum Gauss untuk medan magnet yang menjelaskan
bahwa muatan magnetik bebas tidak ada. Persamaan (1.2) adalah hukum gauss untuk
medan listrik yang menjelaskan bahwa medan magnet timbul akibat fluks total arus listrik
yang disebabkan oleh arus konduksi dan arus perpindahan. Persamaan (1.3) merupakan
hukum faraday yang menjelaskan medan listrik dihasilkan oleh induksi magnetik yang
berubah tiap waktu. Hukum ampere dijelaskan oleh persamaan (1.4) bahwa medan
magnet dihasilkan oleh aliran arus listrik dan perubahan medan listrik terhadap waktu.

2.2 Skin depth


Skin Depth adalah kedalaman maksimal yang dicapai gelombang
elektromagnetik dengan frekuensi tertentu. Besarnya skin depth pada medium
bergantung dengan permeabilitas, resistivitas, dan frekuensi gelombang elektromagnetik
yang melewatinya.
𝜌
𝛿 = 503√ = 503√𝜌𝑇 1.5
𝑓
𝛿 = skin depth
𝜌 = resistivitas
𝑓= frekuensi
Dari persamaan (1.5) terlihat bahwa gelombang dengan periode yang lebih besar
(T2) akan mengalami pelemahan yang lebih lambat (mempunyai daya tembus yang lebih
dalam) dibandingkan yang periodenya kecil (T1)

2.3 Tensor Impedansi


Jika sumbu y sejajar dengan strike struktur konduktivitas, maka analisis 1-D dapat
dilakukan. Dua resistivitas semu dapat dihitung, yaitu untuk modus transverse magnetic
(TM) dimana medan magnetik paralel terhadap strike, dirumuskan sebagai:
|𝐸𝑥|2 1.6
𝜌𝑥𝑦 = 0.2𝑇
|𝐻𝑦|2

Transverse electric (TE) dimana medan listrik sejajar dengan strike, secara
matematis dapat dituliskan sebagai:
|𝐸𝑥|2 1.7
𝜌𝑥𝑦 = 0.2𝑇
|𝐻𝑦|2

2.4 Tensor Impedansi


Impedansi magnetotellurik adalah perbandingan antara medan magnet dan medan
listrik yang diukur di permukaan(Thiel, 2008).

𝐸 = 𝑧𝐻 1.8

𝐸 1.9
𝑧=
𝐻

4
Impedansi mempunyai satuan Ohm (Ω). Impedansi berupa bilangan kompleks
(mempunyai komponen riil dan imajiner) yang bergantung pada frekuensi sudut sinyal
elektromagnetik. Masing-masing komponen tensor impedansi Z dapat ditulis dalam
bentuk :

3. AKUISISI DATA LAPANGAN


3.1 Instrumen
1. Satu buah stratagem versi 26716-01 REV.D
2. Peralatan
● 4 batang pancangan elektroda stainless steel
● 2 batang pancangan system ground dan kabel ground
● 4 buah sambungan elektroda dengan kabel - kabel telluric 2 m
● 1 buah model analog front end (AFE)
● 2 buah kumparan medan magnetic (model BF6)
● 2 buah kabel penghubung kumparan/AFE standar
● 1 buah console pemproses sinyal stratagem
● 1 buah keyboard IBM kompatibel
● 1 buah kabel komunikasi console/AFE
● 1 buah kabel daya console
● 1 buah manual operation
● 1 buah baterai 12 volt deep-cycle
3. Perlengkapan tambahan
● 1 buah kompas brunton untuk mengarahkan elektroda dan coil
● 1 buah GPS handheld
● 1 buah torpedo level (water pass) untuk melevelkan coil magnetic
● 1 buah meteran dengan panjang minimal 30 m
● 1 buah palu geologi
● 1 buah buku catatan lapangan

5
● 1 buah cangkul untuk mengubur sensor - sensor magnetik
● Kabel daya monitor
● Kabel VGA
● Monitor
● SD card untuk mengcopy data hasil pengukuran
● Toolkit
3.2 Skema akuisisi

Gambar 1. 1 Skema akuisisi


Pemasangan alat metode AMT perlu dilakukan Quality Control (QC) dengan
memperhatikan hal-hal berikut ini :
● Instrumen :

− Bentangan kabel tidak boleh saling bertumpuk/tergulung


− Letak pemasangan koil utara-selatan dan barat-timur berada pada jarak yang
berjauhan serta kuadran berbeda
− Gerakan koil induksi atau kabel
− kabel penghubung sensor/elektroda
− Efek panas pada koil
− Jarak elektroda dengan sensor box minimal 10 x10 m
− Kedalaman koil minimal 20 cm
● Noise dari luar :

− Powerline / jaringan listrik


− Benda - benda logam (kendaraan, alat listrik)
− Pemancar radio

6
3.3 Cara mengoperasikan alat
3.3.1 Saat titik pertama

Gambar 1. 2 Stratagem

Stratagem 26716 Rev D menggunakan program imagem yang berbasis pada


[Link] (Disk Operating System), sehingga diperlukan command - command
tertentu untuk mengoperasikannya.
1. Ctrl + C : untuk memasukkan command. Misal : Ctrl + C “CLS”.
2. CLS (Clear Screen) : untuk keluar dari program imagem / menutup aplikasi
IMAGEM
3. MD (Make Directory) : untuk membuat perintah pembuatan folder atau
directory baru. Misal MD “KL2022”
4. CD (Change Directory) : untuk masuk atau berganti directory yang baru / telah
dibuat sebelumnya. Misal CD “KL2022”.
5. Dir : Untuk menampilkan seluruh direktori yang telah disimpan sebelumnya
pada satu drive/direktori Misal C\: dir
6. Del (Delete) : Untuk menghapus direktori atau data yang sudah pernah di save
sebelumnya. Misal Del “KL2022”.
7. Copy: Untuk mengkopi file dari stratagem ke disket. Misal Copy
“KL2022.001” A:

3.3.2 Panduan Stratagem untuk Survei Hari Pertama


1. Tekan tombol power pada stratagem
2. Ketika stratagem sudah menyala, tunggu beberapa sampai perintah “Press F1
to Continue” pada layar stratagem. Kemudian tekan “F1” untuk melanjutkan
perintah.
3. Tunggu beberapa saat kemudian ketik “gdz_he.bat” untuk masuk kedalam
program stratagem.
4. Tunggu beberapa saat, kemudian buat folder baru untuk fieldcamp dengan ketik
“md KL2022”.

7
5. Kemudian untuk masuk ke dalam folder tersebut, ketik “cd KL2022”, maka
directory akan beralih ke dalam folder “KL2022”. Buat folder “Hari.1” apabila
desain survey pengukuran hari tidak hanya 1 line.
6. Lalu, mulai program stratagem dengan mengetik “gdz_he.bat” maka program
akan berjalan dan semua data akan tersimpan di folder “KL2022”.
8. Program akan meminta beberapai input sebagai berikut.
a) “Enter Power Line Frequency (50 or 60) :”, Isikan “50”.
b) “Enter Starting file count (1 to 900) :”, Isikan “1”.
c) “Enter survey name (Max 7 Character):, masukkan nama pengukuran
misalnya “Field”.
d) Untuk dipole length merupakan panjang bentangan x dan y sebagai default
program yang dijalankan nanti, misalnya kita isikan “30 30” untuk panjang
bentangan masing-masing 30 meter.
e) Tunggu program hingga selesai set up, muncul “Set up Low frequency
mode acquisition” ketik “y” (proses akuisisi kita bermaksud
menggunakan low frequency sensor (BF-IM10) dan elektroda (BE-LF)),
Enter, maka akan muncul tampilan seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. 3. Tampilan menu utama stratagem


9. Pada tampilan utama stratagem, 4 line atas adalah header stratagem, line 5
adalah nama titik pengukuran kita (akan terisikan “Field.001” pada pengukuran
pertama) dan frekuensi power line kita.
10. Kemudian masuk ke menu “OPTIONS” lalu pilih submenu
“SCALAR/TENSOR” pilih “SCALAR” untuk mode pengukuran 1D. Setelah
itu pilih submeny “COHERENCY LIMIT” masukkan batas koherensi yang
digunakan dalam pengukuran sebesar “0.5 – 1” (masukkan tanpa tanda “-“
cukum dipisahkan dengan spasi).

8
Gambar 1. 4 Tampilan menu options

11. Setelah itu tekan “Esc” untuk kembali ke menu utama. Kemudian masuk ke
menu “GAIN SETTING”. Pada menu gain setting “Automatic Gain Control”
pilih “n”.

Gambar 1. 5 Pop up menu gain setting


Setelah itu sesuaikan pengaturan gain pada tiap mode (Highpass gain, Lowpass
gain, dan Bandpass gain) sehingga tidak ada yang clipping. JIka pengaturan
gain sudah sesuai pada tiap modenya tekan ENTER.
12. Setelah itu masuk ke menu “ACQUISITION” . Setelah itu akan muncul pop
up menu :

Gambar 1. 6 Pop up menu koordinat pengukuran

9
Kemudian masukkan nilai koordinat lokal yang digunakan “x y z” (titik pertama
koordinat lokalnya, misal “0 0 100(elevasi GPS)” dengan “0 0” adalah
koordinat lokal (x y) dan “100” adalah elevasi GPS (z). Titik selanjutnya diubah
sesuai jarak antar titik yang digunakan). Kemudian akan kembali tampil pop
menu sebagai berikut:

Gambar 1. 7. Pop up menu panjang dipol pengukuran


Kemudian masukkan panjang bentangan dipole yang digunakan dalam proses
akuisisi (akan terisi default sesuai pengaturan awal tadi) misal “30 30”. Setelah
itu akan tampil pop up menu untuk memasukkan band frekuensi yang
digunakan selama pengukuran :

Gambar 1. 8 Pop up menu band frequency


Silahkan pilih tiap band frekuensi yang ingin digunakan pada saat pengukuran,
missal “1 1” (angka 1 sebelah kiri menunjukkan band yang digunakan
sedangkan angka 1 disebelahnya menunjukkan banyaknya stacking data) lalu
tekan ENTER.
13. Tunggu beberapa saat sampai layar stratagem menampilkan hasil pengukuran
seperti pada gambar 9. Kemudian catat nilai Resistivity, Phase, Coherency, dan
Frequency serta catat pula True Resistivity dan Depthnya. dari tiap hasil
pengukuran. Ulangi pengukuran untuk band 4 dan 7 dengan stacking 1.

10
Gambar 1. 9 Tampilan hasil pengukuran
14. Jika sudah didapatkan data, silahkan lakukan quality control apakah data layak
disimpan atau tidak. Untuk menyimpan data hasil pengukuran dengan menekan
“0” lalu tekan ENTER. 14. Kita dapat melihat data pengukuran kita sebelumnya
dengan cara memilih “Data Analisis” pada option lalu isikan titik pengukuran
kita (1, 2, 3, dst), maka akan muncul nilai Resistivity, Phase, Coherency, dan
Frequency. Untuk melihat hasil 1- D Analisis pilih menu “1-D Analysis” lalu
ketikkan titik pengukuran kita (1, 2, 3, dst)
15. Jika sudah didapatkan data, silahkan lakukan quality control apakah data layak
disimpan atau tidak. Untuk menyimpan data hasil pengukuran dengan menekan
“0” lalu tekan ENTER.
16. Kita dapat melihat data pengukuran kita sebelumnya dengan cara memilih
“Data Analisis” pada option lalu isikan titik pengukuran kita (1, 2, 3, dst), maka
akan muncul nilai Resistivity, Phase, Coherency, dan Frequency. Untuk melihat
hasil 1- D Analisis pilih menu “1-D Analysis” lalu ketikkan titik pengukuran
kita (1, 2, 3, dst).

3.3.3 Panduan Penggunaan Stratagem Untuk Survei Titik Selanjutnya


Setelah proses akuisisi pada titik pertama telah selesai dan melanjutkan pada titik
selanjutnya secara umum langkah – langkah yang digunakan sama.
1. Tekan tombol power pada stratagem
2. Ketika stratagem sudah menyala, tunggu beberapa sampai perintah “Press F1
to Continue” pada layar stratagem. Kemudian tekan “F1” untuk melanjutkan
perintah.
3. Selanjutnya masuk ke direktori KL2022 dengan cara ketik “CD (spasi)
KL2022”, lalu tekan ENTER.
4. Setelah itu ketik “CD (spasi) Hari.1”

11
5. Setelah itu tampilan pada layar akan menunjukkan direktori dengan urutan
sebagai berikut: “C:\KL2022” kemudian ketik “gdz_he.bat” lalu ENTER
untuk kembali masuk ke program stratagem, set up akan mengikuti yang
sebelumnya. Ketika proses pengukuran pada titik kedua selesai dan berlanjut
ke titik selanjutnya (ketiga) maka langkah pengoperasian stratagem sama
seperti yang telah dijelaskan.

3.3.4 Panduan Pengoperasian Stratagem untuk Survei Hari Selanjutnya


Dalam melakukan akuisisi data hari selanjutnya langkah pengoperasian yang
digunakan adalah sama seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Hanya saja perlu dilakukan pembuatan sub direktori baru “Hari.2” apabila line
pengukuran berbeda, apabila sama, maka kita hanya perlu masuk ke folder
“Hari.1”. Misal kita mengukur pada line yang berbeda, maka langkah
pengoperasiannya adalah:
1. Tekan tombol power pada stratagem
2. Ketika stratagem sudah menyala, tunggu beberapa sampai perintah “Press F1
to Continue” pada layar stratagem. Kemudian tekan “F1” untuk melanjutkan
perintah.
3. Selanjutnya masuk ke direktori KL22 dengan cara ketik “CD (spasi) KL22”,
lalu tekan ENTER.
4. Setelah itu ketik “CD (spasi) Hari.2” untuk masuk ke dalam sub direktori
Hari.1 pada direktori KL22.
5. Setelah itu tampilan pada layar akan menunjukkan direktori dengan urutan
sebagai berikut: “C:\KL22\Hari.2” kemudian ketik “gdz_he.bat” lalu ENTER
untuk kembali masuk ke program stratagem, set up dilakukan seperti
pengaturan pada hari pertama. Lalu lakukan pengukuran seperti langkah hari
pertama. Lanjutkan pengukuran pada titik-titik berikutnya sesuai dengan
langkah-langkah sebelumnya.
[Note : SETELAH MASUK KE MENU UTAMA, LINE 5 AKAN MENJADI
NAMA PENGUKURAN TERSIMPAN TERAKHIR KITA (PENTING).
SIMPAN DATA SETELAH DIRASA BAIK, JANGAN MENGULANGI
PENGUKURAN PADA TITIK YANG SAMA PADA PENYIMPANAN]
3.3.5 Panduan Mengcopy Data dari Stratagem ke PC
1. Buka Stratagem dalam keadaan MATI, ambil SD card disana.
3. Sambungkan SD card ke PC, cari folder pengukuran kita.
Misal*:\KL22\Hari.1
4. Salin file dengan nama “Field.***”. (* : 1, 2, 3… 999)
3.3.6 Perekaman Data
1. Noise atau derau Noise yang sering terekam selama pengukuran MT antara lain
dapat disebabkan oleh:
● Gerakan koil induksi atau kabel – kabel penghubung sensor/elektroda
● Efek panas pada koil

12
● Noise daerah sekitar (jaringan listrik, pemancar radio, alat listrik)
● Noise dari peralatan pengukuran
2. Kendala
Pengukuran MT memerlukan rentang frekuensi yang rendah agar penetrasi
gelombang EM cukup dalam, sehingga diperlukan waktu perekaman yang
cukup lama. Namun, perekaman yang cukup lama memerlukan daya baterai
yang cukup besar.
4. PENGOLAHAN
1. Buka jupyterlab
2. import stratatools

Gambar 1. 10 import modul stratatools


3. kemudian import fungsi tatayul dari stratatools

Gambar 1. 11 Import fungsi tatayul


4. Ketik dir(Tatayul) untuk memunculkan command yang bisa digunakan untuk
pengolahan selanjutnya

Gambar 1. 12 ketik dir tatayul


5. Definisikan data yang diinput menjadi variabel, misal titik 1

Gambar 1. 13 command mengaktifkan program

Gambar 1. 14 command memanggil stratagem


6. Ketika muncul select folder, pilih data yang akan diolah
7. Dapat dilakukan pemunculan statistik data melalui command

Gambar 1. 15 command menampilkan statistic

13
8. Plotting data sesuai kebutuhan. Atur range secara bebas.

Gambar 1. 16 command plot data

9. Export data ke excel dengan

Gambar 1. 17 command export ke excel


10. Lakukan filtering data sesuai analisa yang dilakukan
11. Pindahkan data ke notepad untuk diinput ke IP2WIN MT
Keterangan :
Line 1 : Header (tempat dan tanggal akuisisi)
Line 2 : Mode kotak / mode wajik
Line 3 : Default
Line 4 : Banyaknya titik
Line 5 : Nama titik
Line 6 : Z X (Elevasi, koordinat lokal)
Line 7 : Jumlah data

Gambar 1. 18 contoh format input IP2WIN MT


12. simpan data dalam bentuk .mt dan input data ke IP2WIN MT
13. Setelah data muncul, sesuaikan grafik kalkulasi dengan grafik observasi untuk
melakukan forward modelling
• Memperkirakan jumlah lapisan model Apabila berdasarkan kurva, kita
memperkirakan jumlah lapisan adalah 3 maka, kita harus membagi garis biru
menjadi 3 bagian seperti gambar 1.19 Garis biru merupakan garis model
resistivitas, oleh karenanya merepresentasikan perkiraan model yang akan kita
buat, dimana garis tersebut dapat kita geser ke kanan-kiri & atas-bawah, serta kita
”split” (Ctrl +N) untuk membagi lapisan dan ”join” (Ctrl+Y) untuk menyambung
lapisan.
• Membuat garis merah dan hitam berhimpit - Ditunjukkan oleh nilai error yang
kecil (± < 10%). - Garis merah menunjukkan kurva calculated model - Garis
hitam menunjukkan kurva data observasi kita - Kedua kurva tersebut harus
berhimpit agar calculated model kita sama dengan data observasi.

14
Gambar 1. 19 Tampilan hasil pengolahan dengan IP2WIN MT

Kita dapat melakukan tahap yang sama untuk tiap titik data lainnya.
14. Setelah mendapatkan forward model dari tiap titik data, kita dapat melakukan inverse
modelling dengan cara meng-klik ikon Inversion by Rho. Sehingga, didapat penampang
seperti gambar di bawah :

Gambar 1. 20 Tampilan hasil pengolahan dengan IP2WIN MT

Kita dapat mengubah rentang nilai kedalamannya dengan cara berikut :

15
BAB II
GROUND PENETRATING RADAR (GPR)
1. PENDAHULUAN
Ground Penetrating Radar (GPR) atau juga biasa disebut dengan georadar merupakan
salah satu metode aktif geofisika yang menggunakan sumber gelombang elektromagnetik
(EM) berupa radar (radio detection and ranging) pada frekuensi 10 MHz sampai 1 GHz,
sehingga dapat melakukan pencitraan kondisi bawah permukaan dengan resolusi tinggi,
tetapi hanya terbatas pada kedalaman beberapa puluh meter saja (Knight, 2001). Pada
dasarnya, prinsip kerja GPR menggunakan sistem Electromagnetic Subsurface Profiling
(ESP) yaitu dengan cara melakukan penembakan gelombang elektromagnetik (pada interval
gelombang radar) dengan menggunakan pemancar gelombang (transmitter), kemudian
intensitas gelombang radar yang berhasil dipantulkan kembali ke permukaan akan diterima
oleh perekam (receiver) (Quan dan Haris, 1997). Meskipun menggunakan gelombang radar,
metode GPR bersifat non-destruktif. Karena hasil resolusinya yang tinggi, metode ini
banyak digunakan untuk keperluan geoteknik, geologi, maupun arkeologi.

Gambar 2.1. Prinsip Kerja Ground Penetrating Radar (GPR)


2. DASAR TEORI
2.1 Prinsip Elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat tanpa
medium perambatan. Pada dasarnya, gelombang elektromagnetik merupakan
perpaduan gelombang magnet dan gelombang listrik yang saling tegak lurus satu sama
lain dan tegak lurus terhadap arah propagasi kedua gelombang.

Gambar 2.2 Penjalaran Gelombang Elektromagnetik


Persamaan Maxwell menjadi dasar penting dalam memahami prinsip kerja GPR
karena dapat diketahui hubungan antara sifat fisis material dengan penjalaran gelombang
elektromagnetik. Penjalaran gelombang elektromagnetik yang dijelaskan pada Hukum

16
Maxwell menerangkan bahwa medan magnet disebabkan oleh medan listrik yang dapat
dikuantifikasikan melalui persamaan berikut (Baker dkk, 2007).
𝛻∙𝐷 =𝑞 Dimana
𝐸 = Kuat medan listrik (V/m)
𝛻∙𝐵 =0
𝐵 = Induksi magnetik (Wb/m2 atau Tesla)
𝜕𝐵 𝐻 = Kuat medan magnet (A/m)
𝛻×𝐸 = −
𝜕𝑡 𝐽 = Rapat arus konduksi (A/m2)
𝜕𝐷 𝑞 = Rapat muatan listrik (C/m3)
𝛻×𝐻 =𝐽+
𝜕𝑡

Melalui penjalaran gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ke bawah


permukaan tanah, akan diketahui sifat fisis material yang mempengaruhi penjalaran
gelombang, seperti permitivitas listrik (𝜀), konduktivitas listrik (𝜎) dan permeabilitas
magnetik (𝜇). Sehingga, hubungan penjalaran gelombang dengan sifat fisis dapat
dikuantifikasikan melalui persamaan berikut (Supriyanto, 2007).
𝜌 Dimana
𝛻∙𝐸 =
𝜀 𝐸 = Kuat medan listrik (V/m)
𝛻∙𝐵 =0
𝐵 = Induksi magnetik (Wb/m2 atau Tesla)
𝜕𝐵
𝛻×𝐸 = − 𝜇 = Permeabilitas magnetik (H/m)
𝜕𝑡
𝜕𝐸 𝜎 = Konduktivitas listrik (mS/M)
𝛻 × 𝐵 = 𝜇𝜎𝐸 + 𝜀𝜇
𝜕𝑡 𝜀 = Permitivitas listrik (F/m)

Permitivitas listrik (𝜀) merupakan kemampuan suatu material untuk


mempolarisasi medan listrik eksternal. Konduktivitas listrik (𝜎) merupakan
kemampuan pergerakan muatan (elektron) bebas dari suatu material akibat pengaruh
medan listrik. Permeabilitas magnetik (𝜇) merupakan kemampuan suatu material untuk
dialiri oleh fluks magnet.
Di mana persamaan kecepatan propagasi gelombang elektromagnetik pada suatu
medium dihitung dengan (Musset dan Khan,1993):
𝑐 Dimana
𝑣𝑚 =
√𝜀𝑟 𝜀 = Permitivitas listrik relatif (F/m)
𝑟

Sedangkan kecepatan propagasi gelombang elektromagnetik pada ruang hampa adalah:


Dimana

1 𝑐 = Kecepatan cahaya (3x108 m/s)


𝑐=
√𝜇0 𝜀0 𝜀0 = Permitivitas listrik ruang hampa (8.84×10-12 F/m)

𝜇0 = Permeabilitas magnetik ruang hampa (1.26×10-6 H/m)

17
Penjalaran gelombang elektromagnetik pada lapisan tanah hampir mirip dengan
penjalaran gelombang seismik. Berdasarkan Hukum Snellius, ketika suatu gelombang
menjalar pada suatu medium lalu melalui batas perlapisan, maka sebagian gelombang
akan dipantulkan, dibiaskan, dan/atau diteruskan. Keadaan ini dipengaruhi oleh sifat
fisis medium serta sudut datang gelombang. Dalam hal ini, ketika gelombang menjalar
pada suatu medium, gelombang akan mengalami perubahan energi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi berkurangnya energi gelombang saat melalui suatu medium antara
lain sebagai berikut (Sismanto, 2006).
1. Faktor Transmisi
Gelombang elektromagnetik mengalami penyerapan energi akibat
konduktivitas, permeabilitas, dan dielektrik lapisan yang dilalui oleh gelombang.
Koefisien transmisi dapat dikuantifikasikan melalui persamaan berikut.
𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑡𝑡𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 2√𝜀2
𝑇= =
𝐼𝑛𝑐𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀1 + √𝜀2
2. Faktor Pemantulan
Koefisien refleksi antara dua jenis batuan dan banyaknya perlapisan
mempengaruhi pemantulan gelombang pada batas perlapisan. Apabila sudut datang
gelombang diasumsikan tegak lurus terhadap batas perlapisan, maka koefisien
refleksi dapat kuantifikasikan melalui persamaan berikut.
𝑅𝑒𝑓𝑙𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀2 + √𝜀1
𝑅= =
𝐼𝑛𝑐𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀2 − √𝜀1
3. Efek Divergensi
Gelombang elektromagnetik akan menyebar ke segala arah dan terdistribusi
ke seluruh luasan dengan berbentuk bola. Semakin bertambahnya jarak dan waktu,
maka energi gelombang akan juga semakin kecil.
2.2 Polarisasi Antena
Pada umumnya, terdapat dua jenis polarisasi yang dibahas pada survei geofisika
di dekat permukaan, yaitu polarisasi listrik dan polarisasi gelombang. Metode GPR
menggunakan prinsip polarisasi gelombang di mana terdapat tiga konsep penting yang
terkadang dapat menimbulkan kebingungan, yaitu (1) polarisasi karena konstruksi
antena, (2) polarisasi karena orientasi antena, dan (3) depolarisasi (perubahan polarisasi)
karena orientasi target (Baker dkk, 2007).
1. Polarisasi Karena Konstruksi Antena
Antena GPR dapat berupa antena monostatik (antena tunggal sebagai
transmitter dan receiver) maupun bistatik (antena transmitter dan receiver yang
terpisah). Sinyal yang dipancarkan oleh antena berpengaruh pada efek amplitude
respon material yang diamati. Pancaran sinyal dari antena yang terpolarisasi dan
tertangkap oleh receiver dipengaruhi oleh sifat hamburan material di bawah
permukaan. Terdapat tiga jenis gelombang terpolarisasi yang terjadi yaitu, polarisasi
linear, elips, dan melingkar. Pada polarisasi melingkar maupun elips, terjadi
perputaran medan E mengikuti pola melingkar maupun elips terhadap variasi waktu.
Sedangkan, pada polarisasi linear medan E dan H terkandung dalam bidang ekuifase
18
terhadap variasi waktu. Variasi linear menjadi unik karena karena medan E tidak
berputar terhadap variasi waktu dan cara mengubahnya menjadi isotropik adalah
dengan mengarahkan ulang antena transmitter dan receiver. Oleh karena itu,
orientasi antena sangat penting sebagai penentu jenis polarisasi gelombang.
2. Polarisasi Karena Orientasi Antena
Fungsi utama orientasi antena adalah menghasilkan dan merekam polarisasi
medan listrik horizontal (EH) dan vertikal (EV). Berikut merupakan gambaran
orientasi antena dalam merekam gelombang polarisasi EH, EV, maupun campuran
(EH dan EV).

Gambar 2.3. Orientasi Antena untuk Merekam Polarisasi Gelombang


Namun, orientasi antena ini tidak hanya berdasarkan pada posisi antena
relatif terhadap antena lain, tetapi juga posisi antena relatif terhadap arah lintasan
survei. Berikut merupakan gambaran orientasi antena yang relatif` terhadap arah
lintasan survei.

Gambar 2.4. Orientasi Antena terhadap Arah Lintasan Survei

19
3. AKUISISI DATA LAPANGAN
3.1 Desain Survei
Dalam melakukan perancangan desain survei, perlu diperhatikan beberapa aspek
penting termasuk konfigurasi akuisisi data dan sifat-sifat antena, seperti frekuensi, spasi
(jarak), pemisahan, dan orientasi. Terdapat tiga konfigurasi akuisisi data dengan metode
GPR antara lain sebagai berikut (Baker dkk, 2007).
1. Common Midpoint (CMP)
Common Midpoint (CMP) atau bisa disebut sebagai wide-angle reflection
velocity sounding merupakan konfigurasi yang menggunakan antena bistatik di
mana letak transmitter dan receiver terpisah pada jarak tertentu dan berdampingan
di atas permukaan tanah. Kemudian, pengukuran dilakukan secara bertahap dengan
memindahkan transmitter dan receiver menuju jarak yang lebih jauh relatif
terhadap lokasi tetap yaitu titik tengah. Konfigurasi ini sering digunakan untuk
memperkirakan struktur dielektrik bawah permukaan dan kecepatan gelombang, di
mana kecepatan gelombang dapat dihitung dengan menggunakan kemiringan
gelombang yang terpantul (refleksi) dari jarak offset antena dan waktu tempuh dua
arah. Estimasi kecepatan yang diperoleh dapat membantu mengetahui kedalaman
bidang pantul (reflektor) dengan bantuan waktu tiba gelombang.

Gambar 2.5. Konfigurasi Common Midpoint (CMP) dan Kedatangan Gelombang


2. Common Offset (CO)
Sama halnya dengan konfigurasi Common Midpoint (CMP), Common
Offset (CO) juga merupakan konfigurasi yang menggunakan antena bistatik
sehingga letak transmitter dan receiver terpisah pada jarak tertentu. Namun, pada
konfigurasi Common Offset (CO), pengukuran dilakukan dengan memindahkan
transmitter dan receiver secara bertahap sepanjang lintasan survei. Konfigurasi ini
digunakan untuk pemetaan refleksi yang dapat menggambarkan adanya objek dan
struktur di bawah permukaan melalui kontras sifat elektromagnetik di sepanjang
lintasan survei.

20
Gambar 2.6. Konfigurasi Common Offset (CO) dan Kedatangan Gelombang
3. Transillumination
Transillumination atau biasa disebut dengan radar lubang bor merupakan
konfigurasi yang menggunakan dua buah lubang bor di mana lubang yang satu
digunakan untuk memasukkan transmitter dan lubang lainnya untuk receiver.
Kemudian, pengukuran dilakukan dengan menggerakan antena relatif terhadap
yang lain untuk menggambarkan struktur bawah permukaan di antara kedua
lubang. Berbeda dengan dua konfigurasi sebelumnya, konfigurasi
transillumination tidak memanfaatkan pantulan (refleksi) gelombang melainkan
cukup dengan transmisi gelombang.

Gambar 2.7. Konfigurasi Transillumination

21
3.2 Instrumentasi

Gambar 2.8. Sistem Komponen Metode Ground Penetrating Radar (GPR)


Sistem komponen yang digunakan dalam akuisisi metode Ground Penetrating
Radar (GPR) terdiri atas tiga jenis yaitu, unit control (bisa disebut console), transmitter,
dan antena. Lebih detailnya, jenis GPR yang digunakan adalah GSSI SIR 4000 (biasa
disebut dengan SIR 4000). Satu sistem SIR 4000 ini terdiri atas beberapa komponen
antara lain:
- 1 buah Digital Control Unit (DC-4000)
- 1 buah Transit Case
- 2 buah baterai (10,8 V Lithium-Ion)
- 1 buah pengisi daya (charger)
- 1 buah penutup layer (sunshade)
- 1 buah Operation Manual
- 1 buah GSSI Manual CD
- 1 buah USB Drive
- 1 buah Universal Mounting Bracket
Dalam melakukan akuisisi menggunakan metode GPR, Digital Control Unit
menjadi bagian penting dalam mengatur display saat pengambilan data. Beberapa hal
yang terdapat pada Digital Control Unit antara lain dapat dilihat pada gambar-gambar
berikut.

22
❖ Bagian Atas – tempat koneksi perangkat keras

Gambar 2.9. Tampilan Bagian Atas Digital Control Unit


❖ Bagian Kiri – tempat memasukkan baterai

Gambar 2.10. Tampilan Bagian Kiri Digital Control Unit


❖ Bagian Kanan – tempat koneksi perangkat keras

Gambar 2.11. Tampilan Bagian Kanan Digital Control Unit

23
❖ Bagian Depan – keypad dan monitor

Gambar 2.12. Tampilan Bagian Depan Digital Control Unit


Selain Digital Control Unit (console), antena menjadi hal yang tidak kalah
penting, pasalnya tanpa antena, proses akuisisi data tidak akan mendapatkan hasil karena
antena berfungsi sebagai transmitter dan receiver gelombang. Pada SIR 4000, terdapat
beberapa jenis frekuensi antena yang dapat digunakan, tetapi kali ini hanya akan dibahas
dua jenis antena dari SIR 4000 yaitu antena 400 Hz dan 100 Hz.
- Antena 400 Hz

Gambar 2.13. Sensor Antena 400 Hz


Spesifikasi
Frekuensi tengah : 400 MHz
Durasi pulsa : 2.5 ns
Kedalaman penetrasi : 0-16 ft (bergantung pada permitivtas dielektrik)
Ukuran sensor : 12×12×6.5 inches (30×30×17cm)
Berat sensor : 14 lbs (6.4 kg)

24
- Antena 100 Hz

Gambar 2.14. Sensor Antena 100 Hz


Spesifikasi :
Frekuensi tengah : 100 MHz
Durasi pulsa : 10 ns
Ukuran sensor 3207 : 37.5×22×10.5 inches (95.25×55.75×26.5 cm)
Berat sensor 3207 AP : 35 lbs. (16 kg)
Berat sensor 3207 P : 70 lbs. (32 kg)
3.3 Langkah Akuisisi
3.3.1 Line Setup
1. Pilih lokasi akuisisi usahakan pada lintasan yang lurus dengan minim undulasi
yang terjal.
2. Buat lintasan dengan membentangkan tali rafia atau meteran kemudian ditandai
jaraknya (misal per 10 meter) pastikan lintasan lurus dan tandai tiap ujung
lintasan.
3. Bersihkan area lintasan dari batu kerikil ataupun benda-benda yang menghalangi
proses akuisisi
4. Lintasan siap digunakan.
3.3.2 Hardware Setup (Antena 400 MHz)
1. Persiapkan alat yang akan digunakan meliputi wheel cart, console, dan antena.
2. Rakit wheel cart dan pasang antena dengan menaruhnya di plastic tub yang ada
pada wheel cart.
3. Letakkan antena dengan posisi anak panah mengarah ke depan wheel cart.
4. Pastikan wheel cart dan antena terpasang sempurna dengan mengecek pengunci
roda dan secure pin pada wheel cart dan plastic tub.
5. Hubungkan kabel encoder ke port SURVEY dan kabel control ke port
CONTROL pada antena dan pastikan terpasang dengan erat.
6. Pasang control SIR 4000 pada mounting plate yang terletak di bagian atas wheel
cart dengan cara memasukkan baut yang ada pada control ke lubang mounting
plate dan eratkan dengan memutar baut (hand-tightening).
7. Atur posisi control dengan menarik baut leveling yang ada pada sisi samping
mounting plate.
8. Setelah itu, pasang kabel control male pada port ANALOG di digital control
SIR 4000 dan eratkan pemasangan (hand-tightening).
9. Selanjutnya pasang baterai pada sisi kiri digital control SIR 4000
25
10. Perlu di ingat:
a. Pemasangan baterai dilakukan setelah kabel encoder terpasang di antena dan
kabel control telah terhubung ke antena dan digital control.
b. Baterai dilepas sebelum kabel control dilepas dari antena dan digital control.
3.3.3 Hardware Setup (Antena 100 MHz)
1. Siapkan survei wheel, antena 100 MHz, dan digital control.
2. Hubungkan survei wheel pada bagian belakang antena 100 MHz dan pastikan
secure pin terpasang dengan benar.
3. Hubungkan kabel encoder pada port SURVEY dan kabel control female pada
port CONTROL di antena.
4. Selanjutnya pegang digital control dan hubungkan kabel control male ke port
ANALOG pada control SIR 4000.
5. Pasang baterai pada digital control.
3.3.4 Setting Up SIR 4000 (Expert Mode - Distance Mode)
● Step 1 - Introduction Screen
Tekan tombol power berwarna hijau dan tunggu beberapa saat hingga layar
control menyala
Expert mode: digunakan untuk akuisisi data 2D atau tipe lintasan dengan antena
analog. Pilih Expert Mode dengan memutar control knob atau menekan
directional keypad pada list bagian atas

General Setting: berisi pengaturan umum seperti bahasa, unit pengukuran, dan
tema. Terletak pada bagian bawah layar.

Antena: pilihan ini hanya ada jika menggunakan bukan antena bawaan.
GPS: pilihan ini digunakan jika menggunakan GPS eksternal.
New Project: pilih New Project dan inputkan nama folder kemudian sistem akan
otomatis membuat folder yang digunakan untuk menyimpan data akuisisi.
Kemudian pilih Apply dan layar akan berganti ke Collect setup Screen.

26
● Step 2 - Expert Mode Setup
Pada setup menu terdapat empat main menu yaitu Radar, Process, Output, dan
System. Keempat main menu tersebut harus harus di cek dan diatur terlebih
dahulu sebelum memulai pengukuran.

27
❖ RADAR MENU
1. Collect Mode: atur ke Distance mode
2. Depth/Time Range:
a. Full Range: digunakan untuk akuisisi tanpa target yang telah
diketahui lokasinya. Pengaturan dilakukan dengan mengatur nilai
depth atau time range hingga 25% dari scan trace (rekomendasi)
berisi noise. Rasio signal to noise yang tepat merepresentasikan
kualitas dari sinyal.
b. Target Specific: ketika sistem telah berada pada Collect Setup
Mode, arahkan antena hingga menemukan target yang ingin
dicitrakan. Jika belum tampak maka ubah nilai depth atau time
range-nya hingga target tampak.
3. Scans/Unit: rule of thumb-nya 10 dibagi dengan kedalaman minimum
objek yang akan dicari. Misal targetnya 1 meter maka scans/unit-nya
10/1 = 10 scans/meter
❖ PROCESS MENU
1. Gain Mode and Edit Gain Curve: mode gain digunakan untuk
treatment sinyal agar perubahan amplitudo dari atas ke bawah
seimbang. Pengaturan gain dilakukan dengan melihat bagian O-Scope
window dimana garis merah mengindikasikan gain yang digunakan.
Titik tengah dari garis bernilai nol, semakin ke kiri maka semakin
negatif (decreasing gain) dan ke kanan semakin positif (increasing
gain). Gain diterapkan dalam unit decibels (dB) dengan fungsi
eksponensial tertentu.
● Select Auto Gain Mode: jika mode ini sudah dipilih kemudian
tekan Init control button pada bagian bawah layar untuk
menerapkan gain. Gerakkan antena hingga terlihat tiap-tiap trace
tidak clipping.
● Manual Gain: dapat digunakan jika mengetahui nilai gain yang
tepat untuk akuisisi.
● Edit Gain Curve: jika dengan menggunakan auto gain proporsi
sinyal yang terkena gain kurang tepat maka dapat mengatur gain
point. Gain point umumnya tersebar merata di tiap trace namun
dengan menambahkan atau mengurangkan gain point maka
besarnya amplifikasi pada tiap bagian trace dapat diatur.
○ Pilih edit gain curve.
○ Tambahkan atau hapus point untuk memodifikasi gain curve.
○ Simpan dan keluar untuk kembali ke layar Collect Setup.
❖ OUTPUT MENU
1. Scale and units: pastikan skala vertikal, unit vertikal, dan unit
horizontal tepat.
2. Colormap, Color Stretch, and Color Slide: untuk mengatur skala
warna yang digunakan.

28
❖ SYSTEM MENU
1. AutoSave: untuk menyimpan data akuisisi secara otomatis.
2. Save Setup: untuk menyimpan pengaturan agar dapat digunakan untuk
akuisisi di lokasi dan waktu yang berbeda.
3. Survey Wheel Calibration: kalibrasi ini dibutuhkan agar pengukuran
pada mode jarak akurat. Untuk kalibrasi manual maka diperlukan garis
ukur pada lintasan sebagai indikator jarak.
a. Pilih survey wheel mode: Quadrature.
b. Pilih jarak kalibrasi: default (10 meter) namun bisa diubah sesuai
dengan garis ukur nya.
c. Posisikan antena pada titik Start.
d. Tekan tombol Start.
e. Pindahkan antena pada titik Stop yang berjarak sesuai jarak
kalibrasi dari titik Start.
f. Tekan tombol Stop.
Setelah kalibrasi berhasil dilakukan, selanjutnya pilih Apply sehingga
nilai kalibrasi tersimpan dan menu Calibrate SW akan tertutup.
● Step 3 - Data Collection
1. Untuk memulai pengukuran tekan tombol Start dan mulai akuisisi
2. Tekan tombol Stop untuk menghentikan pengukuran

4. QUICK LOOK RADAN 7 SOFTWARE


1. Menus
a. Open: untuk membuka data yang akan diolah. Format data yang akan diolah meliputi:
➔ .dzt: RADAN file
➔ .bzx: batch file, kumpulan file RADAN yang akan ditampilkan dan diolah
bersamaan
➔ .sgy: format file SEGY
➔ .s3d: super 3D project file
➔ .m3d, .b3d: file 3D
b. Assemble Data File: berisi beberapa opsi salah satunya Append Files yang
berfungsi untuk menambahkan file untuk memperpanjang profil data.
2. Panes and Tables
3. My Files: berisi list My Data, My Recent Data, dan GSSI Example
Data
4. Processes: berisi pemrosesan data yang dilakukan
5. Proc. List

29
5. PENGOLAHAN DATA
❖ Easy Processing
Opsi ini digunakan untuk pengolahan sesuai default software. Langkah pengolahan yang
digunakan adalah Time Zero, Background Removal, dan Migration

1. Buka Software RADAN 7 lalu buka file dengan cara klik GSSI Button → klik open
→ ubah format file yang akan dibuka → klik file → klik open.
2. Pada bagian Ribbon pilih Easy Processing.
a. Step 1 - Time Zero
1. Klik ikon Time Zero kemudian akan tertampil layar
pemrosesan Time Zero.
2. Koreksi posisi: terdapat enam metode yang dapat digunakan
untuk koreksi Time Zero, tiga diantaranya antara lain:
● Manual - users estimate peaks: posisikan first break
positif pertama ke nilai 0.0 dengan cara klik kiri, tahan,
dan geser gelombang ke titik 0.0.
● Automatic: RADAN 7 akan memposisikan first break
positif pada gelombang langsung ke titik 0 secara
otomatis.
● Scan by Scan: mengoreksi air wave pada masing-masing
scan.
3. Klik Apply untuk menerapkan filter Time Zero.
4. Klik Ok jika dirasa sudah cukup.

b. Step 2 - Background Removal


Filter ini digunakan untuk menghilangkan noise horizontal yang dapat
diakibatkan oleh reflektor horizontal ataupun oleh noise dengan frekuensi
rendah seperti antenna ringing.
1. Klik pada ikon Background Removal hingga tertampil Background
Removal Process Bar di bagian kiri layar.
2. Pilih tipe BR yang akan digunakan.
a. Full Pass: memfilter seluruh trace berdasarkan trace acuan.
b. Scan Range: filter ini bekerja di sebagian trace bergantung pada nilai
start scan dan stop scan.
c. Adaptive BR: panjang dari filter ini diatur otomatis.
3. Klik Appy dan OK.

30
c. Step 3 - Test/Apply Filters

➢ Filter FIR (Finite Impulse Response):


○ Boxcar Filter
○ Triangular Filter
○ Custom Filter
➢ Filter Horizontal atau Vertikal
○ Background removal horizontal filter
○ Stacking horizontal filter
○ Vertical low pass filter
○ Vertical high pass filter
1. Klik ikon Test/Apply Filters hingga tertampil display filter di Process Bar.
2. Atur filter yang akan digunakan beserta parameter nilainya.
3. Samples: masukkan parameter awal dan akhir sampel yang akan dikenai
filter.
4. Klik Apply kemudian OK jika hasil sudah memuaskan.
d. Step 4 - Migration
Migrasi ini digunakan untuk memindahkan reflektor ke posisi sebenarnya dan
menghilangkan difraksi dari efek hiperbola. Metode migrasi yang ada pada
RADAN 7 meliputi Hyperbolic Summation dan Kirchoff Migration.
1. Klik ikon Migration pada processes bar.
2. Pilih metode migrasi yakni Kirchhoff Migration (default) atau Hyperbolic
Summation.
3. Hyperbola Fitting: digunakan untuk menyamakan ghost hyperbola dengan
hyperbola di data.
4. Process Pane: digunakan untuk menyesuaikan bentuk ghost hyperbola.
5. Linescan: digunakan untuk mengubah bentuk ghost hyperbola sesuai
dengan hiperbola sebenarnya.
6. Klik Apply kemudian OK.

31
BAB III
METODE GPS
1. PENDAHULUAN
Metode pengambilan data GPS ada beberapa macam antara lain statik, faststatic,
dan kinematik. Dalam modul ini hanya akan diketengahkan mengenai metode faststatic
yang sebenarnya hampir sama dengan metode yang lain. Hal ini dikarenakan sebagian
besar survey yang dilakukan di Geofisika UGM menggunakan metode ini.
Pemetaan stasiun pengamatan yang biasanya dilakukan pada survei medan
gravitasi dan magnetik biasanya merupakan survei differensial GPS sehingga dibutuhkan
minimal 2 penerima, satu dipasang sebagai base station dan satunya sebagai rover yang
mengukur di tiap-tiap stasiun pengamatan. Metode pengukuran yang biasa digunakan
adalah metode faststatik yang akurasinya sedang dan produktivitas sedang. Waktu
pengamatan sekitar 5 sampai 20 menit, lama pengamatan ini tergantung pada panjang
baseline, jumlah satelit dan geometri satelit. Metode pengolahan data yang dilakukan
yaitu metode post processing yaitu hasil didapatkan setelah dilakukan pengolahan data.
Komponen tinggi dari 3 dimensi yang diberikan oleh GPS adalah tinggi yang mengacu
ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid GRS (Geodetic Reference System). Semua data
mengacu pada datum WGS 84 (World Geodetic System) yaitu sistem koordinat kartesian
terikat bumi dengan pusat sistem koordinat berimpit dengan pusat massa bumi
(geocenter).

2. DASAR TEORI
Cara Kerja Alat Sistem GPS ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di
orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat
penerima. Ada tiga bagian penting dari sistem ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa,
dan bagian pengguna.
A. Bagian Kontrol
Bagian kontrol merupakan bagian yang digunkan untuk mengontrol dan menerima
sinyal dari satelit. Setiap satelit dapat berada sedikit diluar orbit, sehingga bagian
ini melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian, dan kecepatan. Sinyal-sinyal dari satelit
diterima oleh bagian kontrol, dikoreksi, dan dikirimkan kembali ke satelit. Koreksi
data lokasi yang tepat dari satelit ini disebut dengan data ephemeris, yang nantinya
akan di kirimkan kepada alat navigasi kita.
B. Bagian Angkasa
Bagian angkasa merupakan bagian dari GPS yakni terdiri dari kumpulan
satelit-satelit yang berada di orbit bumi, sekitar 12.000 mil diatas permukaan bumi.
Kumpulan satelit-satelit ini diatur sedemikian rupa sehingga alat navigasi setiap
saat dapat menerima paling sedikit sinyal dari empat buah satelit. Sinyal satelit ini
dapat melewati awan, kaca, atau plastik, tetapi tidak dapat melewati gedung atau
gunung. Satelit mempunyai jam atom, dan juga akan memancarkan informasi
‘waktu/jam’ ini. Data ini dipancarkan dengan kode ‘pseudo-random’. Masing-
masing satelit memiliki kodenya sendiri-sendiri. Nomor kode ini biasanya akan
ditampilkan di alat navigasi, maka kita bisa melakukan identifikasi sinyal satelit

32
yang sedang diterima alat tersebut. Data ini berguna bagi alat navigasi untuk
mengukur jarak antara alat navigasi dengan satelit, yang akan digunakan untuk
mengukur koordinat lokasi. Kekuatan sinyal satelit juga akan membantu alat dalam
penghitungan. Kekuatan sinyal ini lebih dipengaruhi oleh lokasi satelit, sebuah alat
akan menerima sinyal lebih kuat dari satelit yang berada tepat diatasnya (bayangkan
lokasi satelit seperti posisi matahari ketika jam 12 siang) dibandingkan dengan
satelit yang berada di garis cakrawala (bayangkan lokasi satelit seperti posisi
matahari terbenam/terbit). Ada dua jenis gelombang yang saat ini dipakai untuk alat
navigasi berbasis satelit pada umumnya, yang pertama lebih dikenal dengan
sebutan L1 pada 1575.42 mHz. Sinyal L1 ini yang akan diterima oleh alat navigasi.
Satelit juga mengeluarkan gelombang L2 pada frekuensi 1227.6 mHz. Gelombang
L2 ini digunakan untuk tujuan militer dan bukan untuk umum.
C. Bagian Pengguna
Bagian Pengguna terdiri dari alat navigasi yang digunakan. Satelit akan
memancarkan data almanak dan ephemeris yang akan diterima oleh alat navigasi
secara teratur. Data almanak berisikan perkiraan lokasi (approximate location)
satelit yang dipancarkan terus menerus oleh satelit. Data ephemeris dipancarkan
oleh satelit, dan valid untuk sekitar 4-6 jam. Untuk menunjukkan koordinat sebuah
titik (dua dimensi), alat navigasi93 memerlukan paling sedikit sinyal dari 3 buah
satelit. Untuk menunjukkan data ketinggian sebuah titik (tiga dimensi), diperlukan
tambahan sinyal dari 1 buah satelit lagi. Dari sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh
kumpulan satelit tersebut, alat navigasi akan melakukan perhitungan-perhitungan,
dan hasil akhirnya adalah koordinat posisi alat tersebut. Makin banyak jumlah
sinyal satelit yang diterima oleh sebuah alat, akan membuat alat tersebut
menghitung koordinat posisinya dengan lebih tepat.
3. Akuisisi Data Lapangan
A. Luas Daerah Survey
Luas daerah survey disesuaikan dengan target yang diinginkan. Bila target
anomaly berukuran lokal (cukup kecil), maka daerah survey tidak perlu terlalu luas,
diperkirakan sekitar 5 x 5 𝑘𝑚2 dengan spasi antar titik amat yang cukup rapat
(sekitar 200 meter). Bila target merupakan struktur geologi yang cukup besar, maka
daerah pengamatan dapat diperluas menjadi sekitar 10 x 10 𝑘𝑚2 s/d 20 x 20 𝑘𝑚2
atau lebih luas lagi. Pengamatan pada lokasi yang diperkirakan merupakan lokasi
anomali dibuat lebih rapat. Peta lapangan yang digunakan disesuaikan dengan luas
daerah pengamatan, namun hendaknya tidak lebih kecil dari 1 : 25000.
B. Penentuan Lokasi
Pengukuran Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi
pengukuran adalah penyediaan peta topografi dan peta geologi. Untuk keperluan
orientasi medan digunakan peta topografi skala terkecil yang tersedia. Setelah
tersedia peta yang sesuai kemudian ditentukan lintasan pengukuran dan base
stasiun yang harga percepatan gravitasinya diketahui (diikatkan dengan titik yang
telah diketahui percepatan gravitasinya). Penentuan lintasan, titk ikat dan base
stasiun diusahakan sedemikianrupa sehingga pelaksanaan pengukuran efektif dan
memenuhi sasaran. Pengambilan data posisi dan pengukuran medan gravitasi
33
dilakukan secara bersama-sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan titik pengukuran yaitu:
1. Letak titik pengukuran harus jelas dan mudah dikenal, sehingga apabila
dikemudian hari dilakukan pengukuran ulang akan mudah untuk
mendapatkannya.
2. Lokasi titik pengukuran harus dapat dibaca dalam peta.
3. Lokasi titik pengukuran harus bersifat permanen dan mudah dijangkau oleh
peneliti, serta bebas dari gangguan kendaraan bermotor, mesin dan lainlain.
4. Lokasi titik pengukuran harus terbuka sehingga GPS mampu menerima sinyal
dari satelit dengan baik tanpa ada penghalang. Pada umumnya ruang pandang
langit yang bebas ke segala arah di atas elevasi adalah 100 atau 150.
Disamping itu titik pengukuran diusahakan jauh dari obyek-obyek reflektif
yang mudah memantulkan sinyal GPS, untuk meminimalkan atau mencegah
terjadinya multipath.
C. Instrumen
Peralatan yang digunakan dalam survey adalah:
1. 2 GPS Trimble (1 base receiver dan 1 rover receiver)
2. Tripod
3. Bipod
4. Tribrach
5. TSC 1 controller
6. Aki/Power Supply (Base Receiver)
7. Baterai secukupnya (rover receiver)
8. Kabel-kabel konektor yang digunakan saat pemindahan data ke PC.
D. Akurasi Alat
Akurasi alat ketika menggunakan metode faststatic:
Modes : Quick-Start, L1 Fast Static Accuracy
Horizontal : ±5 mm + 1 ppm (²10 km)
Vertikal : ±10 mm + 2 ppm (²10 km)
Azimuth : ±1 arc second + 5/baseline length in km.
E. Akuisisi
1. Langkah-langkah akuisisi data di Base Receiver :
a. Pasang dan lakukan leveling pada tripod sehingga horizontal/datar.
Pemasangan Base Receiver ini biasanya dilakukan dekat basecamp.
Tetapi untuk Base Receiver ini biasanya menggunakan tripod dengan
tinggi tertentu (2 m).
b. Pasangkan GPS Trimble Base Receiver pada tripod tersebut.
c. UHF Radio Antenna dipasangkan pada alat, masukkan SIM dan SD
card pada alat pada SIM & SD Card Compartment.
d. Sambungkan Receiver dengan power supply/aki.
e. Ukur ketinggian Base Receiver.
f. Tekan tombol Power On/Off untuk menghidupkan atau mematikan
receiver. Tekan dan tahan sekitar 2 detik untuk menghidupkan receiver.
LED status Indicators lainnya ditampilkan oleh gambar 12 dan 13.
34
g. Lampu LED merah akan menyala saat alat melacak satelit.
h. Setting GPS menggunakan controller untuk mengunduh data dari
satelit.
i. GPS yang telah terkoneksi dengan satelit ditandai dengan lampu LED
berwarna biru Jangan lupa menutupi alat untuk melindungi alat dari
bahaya (cuaca atau gangguan lain).
j. Pengukuran di base ini dilakukan terus-menerus hingga pengukuran
pada GPS Rover selesai.
k. Langkah terakhir ketika akan mematikan GPS Altus pada Base harus
melalui controllernya. Jangan mematikan GPS Altus melalui tombol
power pada alat secara langsung.
2. Langkah-langkah akuisisi data di Rover Receiver :
a. Pasang bipod di tempat terbuka, tidak rimbun, karena dapat
mempengaruhi sinyal. Posisi GPS untuk survei metode gravitasi
memiliki elevasi yang sama dengan posisi gravitymeter.
b. GPS Trimble Rover dipasang pada bipod tersebut.
c. UHF Radio Antenna dipasangkan pada alat, masukkan SIM dan SD
card pada alat pada SIM & SD Card Compartment.
d. Lakukan leveling pada bipod sehingga GPS Trimble dalam posisi datar
dan horizontal.
e. Ukur ketinggian GPS Trimble dari bidang alas (tanah).
f. Tekan dan tahan sekitar 2 detik tombol Power On/Off hingga semua
lampu indikator menyala. Lampu indikator merah akan menyala ketika
alat melacak satelit. LED status Indicators lainnya ditampilkan oleh
gambar 12 dan 13.
g. Lampu LED merah akan menyala saat alat melacak satelit.
h. Setting GPS menggunakan controller untuk menngunduh data dari
satelit.
i. GPS yang telah terkoneksi dengan satelit ditandai dengan lampu LED
berwarna biru Jangan lupa menutupi alat untuk melindungi alat dari
bahaya (cuaca atau gangguan lain).
j. Pengukuran di pada GPS rover minimal selama 10 menit atau sesuai
dengan lama survey pengukuran gravity (rover).
k. Langkah terakhir ketika akan mematikan GPS Altus pada Rover harus
melalui controllernya. Jangan mematikan GPS Altus melalui tombol
power pada alat secara langsung.

35
Gambar 3.1. penyesuaian tripod pemasangan GPS Altus

Gambar 3.2. tampak salah satu sisi GPS Altus

Gambar 3.3. tampak salah satu sisi lain dari GPS Altus

Gambar 3.4. LED Status Indicators GPS Altus

36
4. PENGOLAHAN DATA GPS
A. Diagram Alir Pengolahan

Gambar 3.5. Diagram Alir Pengolahan


B. Pengolahan Data GPS dengan Software
1. Langkah Pengolahan Data GPS Menggunakan Software SBF
a. Buka SBF Converter, pada SBD File(s) Selection pilih single file :

Gambar 3.6. Proses SBF File(s) Selection untuk Konversi Data Base
b. Pilih symbol open atau folder berwarna kuning, kemudian pilih file
Base untuk pengolahan H1 :

Gambar 3.7. Pemilihan File yang Akan Dikonversi


c. Pada option Convert to, pilih RINEX. Untuk option Time Window,
tidak perlu ada yang dichecklist

37
Gambar 3.8. Tampilan Utama dan Pengaturan SBF Converter
d. Klik options di sisi kanan checkbox RINEX, dan pada tab RINEX
Options dapat diatur seperti pengaturan berikut :

Gambar 3.9. Pengaturan pada RINEX Options


e. Pilih tab Observation Options, aturlah checkbox file observasi yang
akan digunakan untuk pengolahan data. Lalu klik OK setelah
pengaturan mengikuti gambar berikut :

38
Gambar 3.10. Pengaturan pada Observation Options
f. Kemudian pada RINEX Conversion Options, pilih tab File Naming
dan pastikan sudah sesuai dengan pengaturan di gambar berikut :

Gambar 3.11. Pengaturan pada File Naming


g. Pilih tab Destination Folder. Pilih Manual Directory Selection dan
klik symbol folder berwarna kuning. Berikan penamaan
BASEH1_SBF. Simpan file pada directory yang tepat atau berdekatan
dengan initial filenya

Gambar 3.12. Pengaturan untuk Penyimpanan File Hasil Konversi Data Base
h. Selanjutnya, klik convert pada main tab

Gambar 3.13. Pengaturan Penyimpanan File Hasil Konversi Data Base


i. Dan akan diperoleh tampilan konversi sebagai berikut :

Gambar 3.14. Hasil Konversi dari Data Base


j. Proses konversi dari data Base sudah selesai dilakukan dan sudah
tersimpan di directory yang sudah diatur. Selanjutya, akan dilakukan
39
konversi data Rover untuk pengolahan hari pertama (H1). Lakukan
loading data dengan memilih Multiple Files pada window utama SBF
File

Gambar 3.15. Opsi Awal untuk Konversi Data Rover


k. Pilih Add SBF File :

Gambar 3.16. Pemilihan SBF File untuk Konversi Data Rover


l. Pilih file data Rover hari pertama dari folder H1. Klik Add SBF
File(s)

Gambar 3.17. Tampilan Pasca-Loading Data Rover


m. Klik options di sisi kanan checkbox RINEX, dan pada tab RINEX
Options dapat diatur seperti pengaturan berikut :

40
Gambar 3.18. Pengaturan RINEX Option untuk Konversi Data Rover
n. Pilih tab Observation Options, aturlah checkbox file observasi yang
akan digunakan untuk pengolahan data. Lalu klik OK setelah
pengaturan mengikuti gambar berikut :

Gambar 3.19. Pengaturan Observation Options pada Konversi Data Rover


o. Kemudian pada RINEX Conversion Options, pilih tab File Naming
dan pastikan sudah sesuai dengan pengaturan di gambar berikut :

Gambar 3.20. Pengaturan untuk File Naming Konversi Data Rover


p. Pilih tab Destination Folder. Pilih Manual Directory Selection dan
klik symbol folder berwarna kuning. Berikan penamaan
BASEH1_SBF. Simpan file pada directory yang tepat atau berdekatan
dengan initial filenya

41
Gambar 3.21. Pengaturan Penyimpanan File Hasil Konversi Data Rover
q. Selanjutnya, klik convert pada main tab

Gambar 3.22. Pengaturan Penyimpanan File Hasil Konversi Data Rover


r. Dan akan diperoleh tampilan konversi sebagai berikut :

Gambar 3.23. Hasil Konversi Data Rover ke Format SBF


s. Tahapan berikutnya adalah memastikan file hasil konversi sudah
tersimpan di perangkat komputer dengan baik. Berikut tampilan file
setelah konversi dengan SBF Converter dilakukan :
Data Base H1 :

42
Gambar 3.24. Hasil Konversi Data Base pada Perangkat Komputer

Data Rover H1 :

Gambar 3.25 Hasil Konversi Data Rover pada Perangkat Komputer


2. Langkah Pengolahan Data GPS Menggunakan Software Trimble
a. Kemudian setelah konversi dilakukan, selanjutnya software Trimble
dapat dibuka. Setelah window terbuka, pilih New ➔ aturlah checkbox
bagian Metrix pada kolom default tercentang

Gambar 3.26. Tampilan Awal Trimble serta Pengaturan Checkbox


b. Setelah checkbox default untuk Metric dichecklist, klik OK.
Kemudian pada Trimble, akan tampil interface berupa blank page.
Arahkan kursor ke logo gir atau pada logo di header Trimble untuk
Project Settings. Project Settings berada di atas menubar GIS pada
Trimble

43
Gambar 3.27. Logo Project Settings

c. Klik Project Settings ➔ Coordinate ➔ Projections ➔ Change. Akan


tampil window baru. Pilih Coordinate System and Zone

Gambar 3.28. Pengaturan Coordinate System Zone (1)


d. Pada Coordinate System Group, pilih UTM. Kemudian pada Zone
pilihlah 49 South. Hal ini dikarenakan Pacitan (lokasi akuisisi data
H1, H2, dan H3) berada di zona 49 South. Lalu, klik Next

Gambar 3.29. Pengaturan Coordinate System Zone (1)

44
e. Pada Datum Transformation, pilih WGS 1984 dan klik next

Gambar 3.30. Pengaturan Coordinate System Zone (3)


f. Pilihlah pengaturan No Geoid Model

Gambar 3.31. Pengaturan Coordinate System Zone (4)


g. Di akhir, klik Finish, Kembali pada Project Settings, pilihlah Units
➔ Coordinate ➔ expand opsi Latitude / Longitude seperti pada
gambar berikut :

45
Gambar 3.32. Pengaturan Coodinate Units
h. Ubahlah Latitude / Longitude format menjadi Decimal Degrees

Gambar 3.33. Pengaturan Format Latitude dan


Longitude menjadi Decimal Degrees
i. Klik OK, Pilih Project Settings ➔ View ➔ Plan View, Points
Spreadsheet

Gambar 3.34. Pengaturan Points Spreadsheet untuk Tampilan Akhir


j. Pada opsi Local Coordinate, ubah pengaturan Latitude, Longitude,
dan Height menjadi Show dari yang semula Hide

46
Gambar 3.35. Pengaturan Local Coordinate pada Points Spreadsheet View
k. Lalu klik OK, Main Interface Trimble kemudian akan kembali
terbuka. Pada menubar Home, pilih Import di sisi kiri atas layar

Gambar 3.36. Tampilan Main Interface dari Trimble


l. Lakukan proses import Base SBF dengan load file Base hasil konversi
di directory yang sudah diatur sebelumnya

47
Gambar 3.37. Proses Import Data Base SBF (1)
m. Lalu, klik tombol shift pada keyboard dan klik file awal dan akhir.

Gambar 3.38. Proses Import Data Base SBF (2)


n. Kemudian, klik Import ➔ tunggu proses upload file ➔ OK. Setelah
proses import dilakukan, diperoleh hasil plot Base H1 sebagai
berikut :

Gambar 3.39. Tampilan Hasil Plot Base H1


o. Berikutnya, lakukan proses import data Rover H1 hasil konversi. Klik
Import di menubar Home, lalu pilih file Rover SBF H1 di directory
tempat penyimpanan hasil konversi. Kemudian klik shift dan pilih file
pertama dan terakhir di Data Rover H1. Selanjutnya, Import ➔
48
Tunggu proses upload file ➔ Klik Import ➔ OK seperti pada gambar
berikut :

Gambar 3.40. Tampilan Proses Import Data Rover (1)


p. Berikut merupakan hasil output data Rover dari Base H1

Gambar 3.41. Tampilan Proses Import Data Rover (2)


q. Kemudian pada sisi kiri interface Trimble, lihat bagian Project
Explorer. Klik Points dan expand opsi Point dengan klik segitiga di
kiri tab. Akan tampil data titik – titik yang sudah diimport

Gambar 3.42. Tampilan Window Project Explorer

49
r. Pada BASEH1, expand kembali BASEH1 dan double click Global
(Base1.21o). Akan tampil tab properties sebagai berikut :

Gambar 3.43. Tampilan Pengaturan Titik Fix Base


s. Pada proses ini, titik fix Base akan dijadikan sebagai pengikat Rover
karena titik belum diikat. Koordinat tiap titik sudah ada. Maka,
koordinat dari Base akan diubah menjadi titik kordinat absolut. Untuk
data H1, H2, dan H3, berikut titik fix Base yang digunakan :

Gambar 3.44. Data Fix Base yang Digunakan


t. Pada opsi global coordinate, atur latitude, longitude, dan height agar
sesuai dengan titik fix Base yang ada. Klik enter setiap melakukan
pengubahan nilai titik fix Base. Selanjutnya kembali pada plan view
atau interface utama dari Trimble. Drag atau sorot semua bagian plan
view atau semua titik hingga garis penghubung titik Base dan Rover
berwarna kuning. Artinya, seluruh titik terseleksi

Gambar 3.45. Tampilan Plan View Trimble setelah Data Titik Fix Base Diinput

50
u. Kemudian, pilih menubar survey dan di sub-menu GNSS, pilih fitur
Process Baseline

Gambar 3.46. Lokasi Fitur Process Baseline


Klik Process Baseline, dan akan tampil window berikut :

Gambar 3.47. Tampilan Tahapan Process Baseline


v. Selanjutnya, klik save. Setelah klik save, akan tampil bendera kuning
dan merah pada pengolahan data H1 di Plan View.

Gambar 3.48. Tampilan Plan View setelah Process Baseline


Setiap bendera dengan warna tertentu ini tentunya memiliki arti
tertentu pula. Hal ini mengindikasikan adanya noise atau penghalang
ketika akuisisi data dikakukan. Untuk mengetahui arti dari bendera

51
kuning atau merah, dapat dilakukan expand pada footer Trimble.
Akan disampaikan arti dari tiap warna bendera

Gambar 3.49. Tampilan Flag Pane pada Trimble (Keterangan tiap Flag)
Dapat dilihat bahwa bendera kuning dan merah menunjukkan adanya
pergeseran secara vertikal atau horizontal. Data gravity sangatlah
sensitif terhadap perubahan secara vertikal. Maka dari itu, bendera
merah dan kuning (jika pergeserannya vertikal) haruslah dikoreksi.
Dalam akuisisi data, sangat dibutuhkan catatan kondisi lapangan
(kehadiran pohon, cuaca, dll).

w. Untuk mengetahui batasan nilai yang menyebabkan adanya red dan


yellow flag, pilih kembali Project Settings ➔ Baseline Processing ➔
Quality

Gambar 3.50. Tampilan Window yang Menunjukkan


Batasan Nilai untuk Setiap Bendera
Dari data di atas, bendera kuning dan bendera merah menunjukkan
nilai batasannya masing – masing. Untuk bendera merah di data H1,
pergeseran vertikal terjadi. Maka, pergeseran area vertikal harus
dikoreksi karena data GPS untuk pengolahan data Gravity akan sangat
sensitive terhadap perubahan vertikal.
x. Untuk meminimalisir yellow flag atau red flag dengan pergeseran
vertikal, klik kanan bagian bendera merah atau red flag, lalu pilih
select. Klik kanan kembali pada line yang sudah berubah warna
menjadi kuning, dan pilih session editor. Akan tampil window session
editor. Dalam hal ini, yang akan dilakukan adalah proses
menghilangkan bendera merah pada plan view

52
Gambar 3.51. Tampilan Awal Window Session Editor

Gambar 3.52. Proses Editing pada Window Session Editor


y. Pada tab session editor, akan tampil sinyal yang diterima altus. Sinyal
biru dan hijau haruslah berpasangan sebagai indikasi data yang baik.
Jika tidak berpasangan, mute datanya dengan klik bagian kolom
paling kiri (yang berisi kode satelit). Untuk data yang berpasangan
tidak sepenuhnya (garis putus – putus dan lainnya), block atau drag
sinyal di bagian yang ingin dimute.

Gambar 3.53. Proses Muting pada Window Session Editor

53
z. Kemudian klik OK, Setelah proses muting, yang dapat dilakukan
oleh praktikan adalah melakukan processing Baseline ulang pada
menubar survey

Gambar 3.54. Processing Baseline setelah Muting Dilakukan


aa. Di akhir, klik Save. Selanjutnya karena bendera merah tetap ada,
pengaturan pada tab Project Explorer di sisi kiri main interface
Trimble dapat dilakukan. Klik BASEH1 ➔ Office Entered (Global)

Gambar 3.55. Pengaturan Control Quality (1)


Pada opsi Global Coordinate, ubah klik logo tanda tanya dan klik
control quality hingga menunjukkan logo seperti segitiga berikut :

Gambar 3.56. Pengaturan Control Quality (2)


bb. Berikutnya, lakukan Process Baseline kembali pada menubar Survey
54
Gambar 3.57. Processing Baseline setelah Pengaturan Control Quality
cc. Kemudian, klik Save. Dapat dilihat bahwa keterangan di Flag Plan
hanya menyisakan satu bendera kuning (dari yang semula dua) dan
satu bendera merah. Selain itu, terdapat penurunan nilai error dari
bendera merah (di nilai pergeseran vertikalnya)

Gambar 3.58. Tampilan Flag Pane setelah Control Quality Settings


dd. Bendera merah diketahui berada di titik GS06. Kemudian, klik titik
GS06 pada tab Properties. Atur nilai Height pada Global Coordinate
dengan mengurangkan atau menjumlahkan initial value dengan nilai
17 (sesuai nilai pergeseran vertikal di Flag Pane untuk bendera merah)

Gambar 3.59. Tampilan Pengaturan Height Sesuai Nilai Pergeseran di Flag Pane
ee. Klik enter setelah mengganti nilai Height. Perlu diketahui bahwa
praktikan mengurangkan initial value dari data Height dengan angka
17. Selanjutnya, lakukan kembali tahap Process Baselines

55
Gambar 3.60. Tahapan Processing Baseline Terakhir
ff. Kemudian, klik Save Di plan view, dapat dilihat bahwa bendera merah
sudah tidak ada. Di Flag Pane, keterangan bendera merah yang
menunjukkan nilai pergeseran vertikal juga sudah tidak tampak

Gambar 3.61. Tampilan Plan View Akhir


gg. Hasil pengolahan dari data H1 dapat dikatakan sudah selesai.
Selanjutnya, yang dapat. Dilakukan adalah membuat report. Pada
logo di header Trimble, pilih logo report di atas Menubar
Construction Data.

Gambar 3.62. Lokasi Logo Report


Pilih Baseline Processing Report ➔ tunggu hingga diperoleh
tampilan berikut :

56
Gambar 3.63. Hasil Baseline Processing Report
hh. Kemudian pada Project Explorer di bagian Points ➔ Select ➔ Klik
Kanan dan pilih New Point Spreadsheet

Gambar 3.64. Proses Menampilkan New Point Spreadsheet (1)

57
Gambar 3.65. Proses Menampilkan New Point Spreadsheet (2)
Di akhir, akan diperoleh tampilan Point Spreadsheet. Klik baris paling
kiri di Point Spreadheet, lalu CTRL + A ➔ CTRL + C.

58
BAB IV
METODE GRAVITASI
I. PENDAHULUAN
Batuan yang ada di bumi ini memiliki beberapa sifat fisis, antara lain massa jenis,
berat jenis, kadar air, derajat kejenuhan, porositas dan juga angka pori. Dari sekian sifat
fisis batuan, terdapat sifat fisis yang dapat membedakan jenis suatu batuan, yaitu massa
jenis atau densitas. Variasi batuan yang banyak tersebar di muka bumi ini menunjukkan
bahwa adanya distribusi massa jenis yang tidak merata yang juga akan memberikan
variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi yang kemudian dikenal sebagai
anomali gravitasi. Metode geofisika yang mampu melihat adanya variasi medan gravitasi
akibat perbedaan densitas tersebut merupakan Metode Gravity.
Distribusi massa jenis yang tidak seragam ini dipengaruhi oleh semua benda yang
berada di sekitar bumi, termasuk struktur geologi maupun intrusi batuan beku. Walaupun
kontribusinya terhadap variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi sangat kecil
dibandingkan dengan nilai absolutnya, tetapi dengan peralatan yang baik variasi medan
gravitasi di permukaan bumi dapat diukur dari titik ke titik sehingga dapat dipetakan.
Selanjutnya dari peta tersebut dapat dilakukan interpretasi bentuk atau struktur bawah
permukaan. Variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi tidak hanya disebabkan
oleh distribusi massa jenis yang tidak merata, tetapi juga oleh posisi titik amat di
permukaan bumi. Hal ini disebabkan oleh adanya bentuk bumi yang tidak bulat sempurna
dan relief bumi yang beragam. Untuk itu diperlukan metode-metode tertentu untuk
mereduksi pengaruh selain karena distribusi massa jenis.
Metode Gravity ini merupakan metode geofisika yang memanfaatkan sifat daya
tarik antar benda yang didapat dari densitasnya, jadi prinsip eksplorasi dengan metode
gravity ini yaitu mencari anomali gravity pada subsurface. Metode Gravity dilakukan
untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan berdasarkan perbedaan rapat massa
mineral dari daerah sekeliling (rho = gram/cm3). Metode ini adalah metode geofisika
yang sensitive terhadap perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini dipakai untuk
mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai purba, lubang
di dalam massa batuan, shaff terpendam dan lain-lain. Eksplorasi biasanya dilakukan
dalam bentuk kisi atau lintasan penampang. Perpisahan anomali akibat rapat massa dari
kedalaman berbeda dilakukan dengan menggunakan filter matematis atau filter geofisika.
Di pasaran sekarang didapat alat gravimeter dengan ketelitian sangat tinggi (mgal),
dengan demikian anomali kecil dapat dianalisa. Hanya saja metode pengukuran data,
harus dilakukan dengan sangat teliti untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Pengukuran metode ini dapat dilakukan di permukaan bumi, di kapal maupun di
udara. Dalam metode ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi akibat variasi
rapat massa batuan di bawah permukaan, sehingga dalam pelaksanaanya yang diselidiki
adalah perbedaan medan gravitasi dari satu titik observasi terhadap titik observasi
lainnya. Karena perbedaan medan gravitasi ini relatif kecil maka alat yang digunakan
harus mempunyai ketelitian yang tinggi.

59
II. DASAR TEORI
Metode gravitasi atau gaya berat bekerja berdasarkan Hukum Gravitasi Newton
yang menyatakan bahwa gaya antara dua benda bermassa m yang dipisahkan pada jarak
r akan berbanding lurus dengan perkalian massa dua benda tersebut dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak dari kedua pusat massa dari kedua benda tersebut. Secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

dimana 𝐹 → (𝑟 → ) adalah gaya yang bekerja pada m karena adanya 𝑚0 , dan berlawanan
dengan |𝑟0 → − 𝑟 → | yang berarah dari 𝑚0 ke 𝑚. Sedangkan 𝐺 adalah konstanta gravitasi
universal yang besarnya 6,672 𝑥 10 − 11 𝑁𝑚²/𝑘𝑔².

Gambar 4.1. Ilustrasi gaya tarik menarik antar massa partikel


pada metode gravitasi, besaran yang diukur merupakan medan gravitasi. Pada partikel
𝑚0 medan gravitasinya adalah gaya per satuan massa pada titik sejauh |𝑟0 → − 𝑟 → | dari 𝑚
yang dijabarkan sebagai :

jika diasumsikan bumi bersifat homogen, berbentuk sferis, dan tidak berotasi. Maka
besaran medan gravitasi di permukaan bumi adalah :

dengan 𝑀𝑒 adalah massa bumi dan 𝑅𝑒 adalah jari jari bumi. Medan gravitasi 𝑔 sering
disebut percepatan gravitasi atau percepatan gerak jatuh bebas.
Satuan 𝑔 dalam cgs adalah gal ( 1 𝑔𝑎𝑙 = 1 𝑐𝑚/𝑑𝑡 2 ) dan bersifat konservatif
dengan arah selalu menuju pusat bumi. Bersifat konservatif, dimana usaha yang
60
dilakukan untuk memindahkan suatu massa pada medan gravitasi tidak bergantung
kepada lintasan tetapi hanya bergantung pada posisi awal dan posisi akhirnya (Telford et
al, 1990). Medan gravitasi dapat diturunkan dari fungsi potensial skalar yaitu:

Dimana 𝑈(𝑟 → ) adalah potensial gravitasi dari massa 𝑚0 , sehingga

Gambar 4.2. Potensi massa 3 dimensi (Telford, 1990)


Dengan mempertimbangkan massa tiga dimensi seperti pada gambar diatas,
potensial dan percepatan gravitasi pada titik di luar massa dapat dicari dengan membagi
massa menjadi elemen elemen kecil massa kemudian mengintegralkannya sehingga
didapatkan pengaruh totalnya. Potensial terhadap elemen massa dm pada titik (x, y, z)
yang berjarak r dari titik (0,0,0) adalah

dengan 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah densitas dan 𝑟 2 = 𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 , maka besar potensial pada total
massa 𝑚 adalah

Karena g adalah percepatan gravitasi pada arah z (positif terhadap pusat bumi) dan
dengan asumsi ρ konstan, maka

61
III. AKUISISI DATA LAPANGAN
A. Luas Daerah Survei
Luas daerah survey disesuaikan dengan target yang diinginkan. Bila target
anomaly berukuran lokal (cukup kecil), maka daerah survey tidak perlu terlalu luas,
diperkirakan sekitar 5 x 5 km² dengan spasi titik amat yang cukup rapat (sekitar 200
meter). Bila target merupakan struktur geologi yang cukup besar, maka daerah
pengamatan dapat diperluas menjadi sekitar 10 x 10 km² s/d 20 x 20 km² atau lebih luas
lagi. Pengamatan pada lokasi yang diperkirakan merupakan lokasi anomali dibuat lebih
rapat. Peta lapangan yang digunakan disesuaikan dengan luas daerah pengamatan, namun
hendaknya tidak lebih kecil dari 1 : 25000.
B. Penentuan Lokasi Pengukuran
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi pengukuran adalah
penyediaan peta topografi dan peta geologi. Untuk keperluan orientasi medan digunakan
peta topografi skala terkecil yang tersedia. Setelah tersedia peta yang sesuai kemudian
ditentukan lintasan pengukuran dan base stasiun yang harga percepatan gravitasinya
diketahui (diikatkan dengan titik yang telah diketahui percepatan gravitasinya).
Penentuan lintasan, titik ikat dan base stasiun diusahakan sedemikian rupa sehingga
pelaksanaan pengukuran efektif dan memenuhi sasaran.
Pengambilan data posisi dan pengukuran medan gravitasi dilakukan secara
bersama-sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan titik pengukuran
yaitu:
1. Letak titik pengukuran harus jelas dan mudah dikenal, sehingga apabila
dikemudian hari dilakukan pengukuran ulang akan mudah untuk
mendapatkannya.
2. Lokasi titik pengukuran harus dapat dibaca dalam peta.
3. Lokasi titik pengukuran harus bersifat permanen dan mudah dijangkau oleh
peneliti, serta bebas dari gangguan kendaraan bermotor, mesin dan lain-lain.
C. Pembuatan Base Station (Titik Ikat)
Pengukuran Medan Gravitasi Besarnya harga medan gravitasi pada suatu base stasiun
(titik ikat) pengukuran adalah :

dengan :

𝑔𝐵𝑆 = nilai medan gravitasi Base Station survei (titik ikat)

𝑔𝑟𝑒𝑓 = nilai medan gravitasi mutlak di titik referensi

62
𝑔𝑟𝑒𝑙𝐵𝑆 = nilai pembacaan gravitasi relatif di titik ikat

𝑔𝑟𝑒𝑙𝑅𝑒𝑓 = nilai pembacaan gravitasi relatif di titik referensi

D. Instrumen
Peralatan yang digunakan dalam survey adalah :
1. Gravitymeter LaCoste & Romberg Model G-1118 MVR Feedback System yang
mempunyai ketelitian 0.005 mgal dan atau Scintrex CG-5 AutoGrav.
2. GPS, 2 buah GPS Altus dan perlengkapannya, atau sejenisnya.
3. Alat-alat bantu berupa penunjuk waktu (jam tangan), kompas, pelindung
peralatan (payung) dan Handy Talky.
E. Format Data Lapangan
Data yang diperoleh dari lapangan hendaknya dicatat didalam buku lapangan,
tidak dalam lembaran kertas yang mudah hilang dan sebaiknya ditulis menggunakan
pensil agar tidak mudah luntur. Format data disesuaikan dengan data yang diamati, yaitu
memuat semua data yang perlu dicatat. Data tersebut antara lain :
a. Hari dan tanggal pengamatan, cuaca, operator, dll.
b. Nama stasiun (titik amat), misalkan L01-01, dimana L menyatakan lintasan, 01
adalah nomor lintasan dan 01 berikutnya adalah nomor titik amat.
c. Pembacaan skala gravitymeter.
d. Pembacaan feedback.
e. Tinggi alat ukur terhadap titik amat.
f. Besar pasang surut teoritis (berupa tabel yang telah disiapkan lebih dulu).
g. Data lainnya berupa keterangan saat pengamatan atau dapat diisi dengan session
pengukuran GPS pada titik tersebut.
Pengamatan tersebut dapat dibuat tabel dalam bentuk contoh sebagai berikut :

No. Nama Skala Bacaan Waktu Tinggi Alat Keterangan


Titik

F. Petunjuk Pemakaian Gravity meter La Coste & Romberg G - 111


1. Pendahuluan
Kebutuhan dan harapan pada suatu kegiatan pengukuran di lapangan ialah
dapat diperolehnya data yang tepat, benar dan akurat, karena data sangat
mempengaruhi hasil akhir yang didapat. Untuk mengoperasikan gravitymeter
dengan baik diperlukan seorang operator yang cermat, terutama dalam hal
pengaturan dan pengamatan untuk memperoleh data medan gravitasi yang akurat,
baik di lapangan maupun di laboratorium. Pengetahuan yang baik tentang alat
63
yang digunakan sangat membantu memperoleh prosedur yang benar dalam
memperoleh data yang akurat.
Gravitymeter LaCoste & Romberg terdiri dari dua model, yaitu model G
dan model D. Model G mempunyai jangkauan skala yang lebar (sekitar 7000
skala, setara dengan 7000 mgal), sehingga dalam pengoperasiannya tidak perlu
diset ulang. Model D mempunyai ketelitian satu orde lebih tinggi dari model G,
tetapi jangkau skala hanya sekitar 200 mgal. Ini berarti bila digunakan untuk
pengukuran yang mempunyai variasi medan gravitasi lebih dari 200 mgal,
gravitymeter perlu diset ulang pada salah satu titik amat di lapangan. Dalam
bagian berikutnya hanya dibahas untuk gravitymeter LaCoste & Romberg model
G.
Setiap gravitymeter LaCoste & Romberg dalam pengukurannya
menggunakan sistem pengukuran secara relatif. Data yang terbaca dari
gravitymeter tidak langsung dalam satuan mgal, tetapi dalam satuan skala
pembacaan, yang dapat dikonversi ke satuan mgal dengan menggunakan tabel
kalibrasi. Sistem pengungkit (lever) dan sekrup (screw) pada gravitymeter ini
dikalibrasi secara teliti pada semua jangkauan pembacaan. Faktor kalibrasi (yaitu
tabel kalibrasi) hanya bergantung pada sistem pengungkit dan sekrup pengukur,
tidak pada pegas lemah sebagaimana pada alat yang lain. Dengan alasan ini,
faktor kalibrasi pada gravitymeter LaCoste & Romberg tidak berubah terhadap
waktu secara jelas. Untuk mengeliminasi perubahan, pengecekan terhadap faktor
kalibrasi dapat dilakukan secara berkala.
2. Menjalankan Gravitymeter
a) Posisi Pengamat terhadap Gravitymeter
Untuk mendapatkan harga pembacaan yang teliti dan cepat, di
samping kondisi gravitymeter yang baik, peranan pengamat dalam
melakukan pengamatan amat besar. Untuk itu sangat dianjurkan :
1) Letakkan piringan pada titik amat yang ditentukan. Apabila titik amat
tidak mungkin ditempati piringan (tanah labil, miring, banyak akar
pohon, dll), disarankan titik amat dipindah, atau letakkan piringan di
tempat yang memungkinkan sedekat mungkin dengan titik amat.
2) Letakkan kotak pembawa gravitymeter di depan titik amat.
3) Usahakan berdiri menghadap alat dengan membelakangi matahari,
dengan harapan sinar matahari tidak mengenai gravitymeter. Apabila
tidak memungkinkan, gunakan payung untuk melindungi
gravitymeter. Demikian pula pada waktu hujan, dianjurkan untuk
berhenti mengukur. Bila tetap harus dilanjutkan, lindungi
gravitymeter dari air.
4) Perhatikan arah angin (terutama bila bertiup kencang) agar tidak
mengganggu pergerakan benang bacaan.
5) Hindarkan alat-alat berat (kunci, koin, kacamata dalam saku, dsb.)
berada di dekat gravitymeter pada saat mengukur. Dengan demikian

64
gravitymeter terhindar dari kemungkinan kejatuhan barang-barang
tersebut.
6) Ambillah sikap serelaks mungkin pada saat mulai pengamatan. Jangan
membuat banyak gerakan pada saat melakukan pengamatan.
7) Sediakan bantalan bila daerah pengamatan berada pada area yang
berbatu dan berkerikil.

Gambar 4.3. Skema Tampak Atas Gravitymeter LaCoste &


Romberg
b) Menegakkan Gravitymeter
Teknik menegakkan gravitymeter dilakukan dengan cara
mengatur level memanjang dan melintang. Bila terdapat 2 tipe level (yaitu
water bubble dan elektronik), gunakan level elektronik. Lakukan langkah-
langkah berikut untuk membantu menegakkan gravitymeter secara
sempurna dalam waktu singkat.
1. Letakkan piringan dan tekan sisi-sisinya pada permukaan tanah
sehingga ketiga kakinya tertanam pada tanah secara mantap.
2. Jika pengamatan dilakukan pada tanah yang lunak, letakkan sekeping
papan, atau sesuatu yang lain sebagai landasan diantara piringan dan
permukaan tanah. Letakkan piringan di atas papan tersebut sehingga
mendapatkan kedudukan yang mantap. Tanpa alas papan (atau
lainnya).
3. Buka penutup kotak pembawa dan periksa temperatur gravitymeter.
Untuk LaCoste & Romberg G-1118, temperatur minimumnya adalah
55.70 C. Kabel penghubung baterai sebaiknya dalam keadaan bebas.
4. Keluaran gravitymeter dengan cara mengangkat pada bagian sekrup
penegak dengan menggunakan ibu jari dan jari lainnya menekan
badan gravitymeter. Letakkan gravitymeter di atas piringan secara
hati-hati. Hindarkan gravitymeter dari goncangan dan benturan
dengan benda-benda keras.
5. Nyalakan lampu gravitymeter. Saklarnya terletak di sebelah kanan
black lid. Jangan biarkan lampu menyala dalam waktu
65
berkepanjangan khususnya pada suhu yang tinggi jika pembacaan
yang akurat diinginkan.
6. Geser gravitymeter secara perlahan untuk mendapatkan perkiraan
posisi tegak dengan cara sedikit mengangkatnya. Lakukan dengan
kedua telapak tangan dan ibu jari menempel pada bagian kiri dan
kanan badan gravitymeter, sedang jari lainnya menyangga pada
bagian bawah gravitymeter. Bila level (elektronik atau gelembung)
telah mendekati posisi tengah (seimbang), hentikan pergeseran
tersebut.
7. Gunakan sekrup penegak untuk mendapatkan posisi tegak sempurna.
Pengaturan level ini dengan menggunakan sekrup-sekrup penegak
yang berjumlah 3 buah yaitu 2 sekrup penegak tegak disebelah kiri
(Cross Level Adjustment) dan 1 sekerup penegak melintang (Long
Level Adjustment) di sebelah kanan. Agar lebih efisien lakukan
pengaturan level pada cross level (nivo tegak) menggunakan 2
sekerup penegak tegak di sebelah kiri (Cross Level Adjustment)
terlebih dahulu kemudian long level (nivo melintang) menggunakan 1
sekerup penegak melintang (Long Level Adjustment) di sebelah
kanan.
c) Pembacaan Gravitymeter
(1) Tanpa MVR Feedback
Setelah gravitymeter dalam posisi tegak sempurna,
pembacaan gravitymeter dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Putar sekrup pengunci (clamp) berlawanan jarum jam sampai
habis.

Gambar 4.4. Reading Line

2. Amati posisi benang bacaan pada lensa pengamatan. Perhatikan


posisinya setelah berhenti bergerak, apakah terletak di sebelah kiri
atau kanan garis baca (reading line, untuk LaCoste & Romberg G-

66
1118 adalah 3.0). Pada contoh gambar diatas reading linenya
adalah 2.3.
3. Amati dan gerakkan benang bacaan dengan memutar sekrup
pembacaan (nulling dial) secara perlahan searah atau berlawanan
jarum jam. Bila benang bacaan terletak di sebelah kiri putar sekrup
pembacaan searah jarum jam dan sebaliknya. Hentikan putaran
saat benang bacaan berimpit dengan garis baca.
4. Untuk mendapatkan harga pembacaan yang baik, putaran sekrup
pembacaan disarankan dari arah yang sama yaitu arah kiri ke
kanan (searah jarum jam). Langkah ini dapat langsung
dilaksanakan bila benang bacaan terletak di sebelah kiri garis
baca. Bila benang bacaan terletak di sebelah kanan garis baca,
putar sekrup pembacaan berlawanan jarum jam hingga benang
bacaan bergeser ke sebelah kiri garis baca. Baru kemudian
lakukan putaran balik (searah jarum jam) sampai benang bacaan
berimpit dengan garis baca. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pembacaan semu (backlash) akibat putaran sekrup pembacaan
yang tidak seragam. Kekenduran pada roda gigi adalah
penyebabnya.
Catatan : Posisi garis baca yang benar adalah keadaan dimana
batas bawah (bagian kiri) dari benang bacaan berimpit dengan
garis baca (lihat gambar).
5. Periksa level memanjang dan melintang, bila level berubah
lakukan pembetulan level untuk mendapatkan posisi tegak
sempurna. Periksa kembali posisi benang bacaan, apakah masih
berimpit dengan garis baca atau berubah. Bila berubah putar
sekrup pembacaan lagi sampai mendapatkan posisi benang
pembacaan yang benar (Ingat aturan putaran dari kiri ke kanan).
6. Matikan lampu gravitymeter secara perlahan, jangan membuat
gerakan yang mengejut.
7. Putar sekrup pengunci searah jam sampai habis untuk mengunci
pegas.
8. Baca hasil pengukuran pada skala pembacaan.
Catatan :
Jangan lupa untuk selalu melakukan pengecekan terhadap battery
dan suhu alat, yaitu dengan memutar switch MVR Internal Feedback
ke pilihan A untuk battery dan B untuk suhu. Bila battery sudah
mendekati angka 10, segera ganti dengan battery yang penuh. Untuk
praktisnya, lakukan penggantian battery tiap 6 atau 7 jam selama
pengukuran di lapangan. Ingat pengukuran medan gravitasi
merupakan pengukuran relatif dan hasil bacaan masih dalam satuan
skala baca. Untuk mendapatkan harga dalam mgal perlu dikonversi
dengan menggunakan tabel kalibrasi. Hasil pembacaan merupakan
67
hasil dari pengamatan pada titik amat tersebut. Untuk tiap titik amat
dilakukan prosedur yang sama. Langkah-langkah ini merupakan
prosedur bila pengamatan dilakukan tidak dengan menggunakan
MVR feedback. Prosedur pengamatan dengan menggunakan MVR
feedback agak sedikit lain.
(2) Dengan Menggunakan MVR Feedback
1. Pada titik amat yang ditentukan lakukan langkah 1 s/d 5
sebagaimana bila tanpa MVR feedback
2. Hidupkan MVR feedback dengan memindahkan switchnya ke
pilihan yang ditentukan (30 V atau 10 V). Lihat keterangannya
pada bagian MVR feedback.
3. Amati besar pembacaan feedback pada DVM (Digital Volt
Meter), pada bagian yang bertuliskan MVR Internal Feedback,
dengan memindah switchnya ke pilihan D (bila digunakan 10 V)
atau E (bila 30 V). Pembacaan feedback dilakukan setelah angka
tidak menunjukkan perubahan (sudah konstan atau stabil) atau
paling tidak sudah lambat perubahannya. Usahakan pembacaan
feedback mendekati angka nol, kecuali digunakan prosedur
pengukuran di lapangan dengan memanfaatkan feedback tanpa
mengubah skala pembacaan.
4. Lakukan langkah 7 dan 8 sebagaimana pembacaan dengan tanpa
feedback.

3. Prinsip Kerja Alat


a) Gravitymeter LaCoste & Romberg G – 1118
Gravitymeter LaCoste & Romberg G-1118 terbuat dari bahan
metal. Terdapat dua jenis gravitymeter LaCoste & Romberg yaitu model
D dan model G. Model G mempunyai range pengukuran sampai 7000
milligal, sedangkan model D memiliki range pengukuran 200 milligal dan
harus di-setting sesuai dengan tempat pengukurannya. Model D lebih
sensitif dibandingkan dengan model G.

68
Gambar 4.5. Penampang vertikal Gravitymeter LaCoste & Romberg

Bagian-bagian pokok dari gravitymeter LaCoste & Romberg ini adalah


(gambar 5):
1) Zero-length springs adalah pegas yang dipergunakan untuk
menahan massa. Zero-length springs ini dipakai pada keadaan
dimana gaya pegas berbanding langsung dengan jarak antar titik
ikat pegas dan titik tempat gaya bekerja.
2) Massa dan beam, berlaku sebagai massa yang berpengaruh atau
berubah posisi jika terjadi variasi medan gravitasi.
3) Hinge atau engsel berlaku sebagai per atau pegas peredam
guncangan.
4) Micrometer digunakan untuk mengembalikan posisi massa ke
posisi semula setelah massa terpengaruh oleh medan gravitasi.
Micrometer ini terbuat dari ulir-ulir dan pemutarannya dapat
diatur dari nulling dial melalui gear box.
5) Long and short lever yaitu tuas untuk menghubungkan micrometer
dengan zero-length springs.

Sistem gravitymeter ini akan mempunyai tanggapan terhadap


medan gravitasi yang akan menyebabkan berubahnya posisi massa dan
beam. Perubahan posisi massa akibat tarikan gaya gravitasi ini kemudian
diseimbangkan atau dikembalikan pada posisi semula dengan memutar
nulling dial yang akan menggerakkan micrometer kemudian ke long and
short lever dan akhirnya ke zero-length springs. Gaya yang diperlukan
untuk mengembalikan posisi massa dan beam ke posisi semula (dengan
memutar nulling dial) diubah menjadi nilai gravitasi, namun masih relatif

69
bukan nilai gravitasi mutlak pada titik tersebut. Nilai ini ditampilkan
dalam display digital dalam gravitymeter.

Apabila keadaan zero-length sempurna, maka berlaku persamaan :

𝐹 = 𝑘𝑠(3 − 1)
dengan k adalah konstanta pegas dan s adalah jarak antara titik pegas
dengan titik dimana gaya bekerja. LaCoste & Romberg merancang zero-
length springs seperti pada gambar 5, untuk mendapatkan suatu peralatan
yang secara teoritis mempunyai periode tak berhingga. Dari gambar 6,
momen torka dari beban M adalah :

ketika g meningkat sebesar δg, springs length bertambah sebesar δs


dimana :

Berdasarkan persamaan di atas terlihat bahwa pada peralatan ini tidak


tergantung pada sudut θ, β dan α, sehingga jika terjadi penyimpangan
sudut yang kecil dari titik kesetimbangan maka gaya pada sistem ini tidak
dapat kembali lagi dan secara teorirtis dapat diatur mempunyai periode
tak berhingga.

70
Gambar 4.6. Gambaran gerakan zero – length springs dalam gravitymeter

b) Sistem MVR Feedback (Maximum Voltage Retroaction)


(1) Deskripsi Sistem
MVR (Maximum Voltage Retroaction) Feedback System
didesain pada tahun 1989 oleh Dr. Michel Van Ruymbeke. MVR
Feedback system merupakan fitur pilihan yang ada pada semua
gravitimeter Lacoste & Romberg Model G dan D. Sistem
feedback ini dibutuhkan untuk pengukuran gaya pasang surut di
bumi dengan akurat. Sistem feedback ini memberikan dan
mengatur gaya untuk menyeimbangkan efek perubahan gravitasi
bumi akibat pasang surut dengan menjaga beam dari gravitimeter
pada benang bacaan. Gravitasi pasang surut tersebut proporsional
dengan gaya yang diberikan system feedback ini. Sistem feedback
ini juga sangat berguna untuk survey gravitasi dari titik ke titik.
Jika pembacaan gravitimeter dapat dilakukan tanpa memutar
sekrup efek backlash dapat dihilangkan. Hal ini membutuhkan
posisi beam yang terukur secara elektronik dan gaya yang
diberikan pada beam mampu mendorong beam ke posisi benang
bacaan.
(2) Pengoperasian
Untuk menggunakan MVR Feedback system, pertama
posisikan benang bacaan gravitimeter pada posisi benang bacaan
dengan Feedback dalam keadaan mati (off). Kemudian nyalakan
saklar MVR pada posisi ON ke 10-Volt dan perhatikan posisi
beam pada eyepiece. Posisi benang bacaan pada eyepiece akan
terus berada pada reading line ketika nulling dial diputar satu
putaran keatas maupun kebawah. Memutar nulling dial lebih jauh
akan melampaui jangkauan dari system feedback 10 Volt dan
mengakibatkan benang bacaan bergeser naik maupun turun.
71
(3) Saklar MVR dan Jangkauan Gaya
Jangkauan dari system MVR Feedback bergantung dari
tegangan DC yang diberikan. Saklar MVR memungkinkan
pengguna untuk memilih antara OFF, 10 dan 30 volt DC untuk
tegangan yang diberikan pada kartu MVR. Power supply yang
diatur pada tegangan 10 volts akan memberikan jangkauan sekitar
2 miligal. Pengaturan ini paling cocok digunakan untuk
monitoring pasang surut dan survey mikrogravitasi. Feedback
power supply yang diatur pada posisi 30 volt mampu memberikan
jangkauan sekitar 20-25 miligal. Pengaturan ini biasanya
digunakan pada survey gravitasi dari titik ke titik stasiun dimana
terdapat perubahan yang lebih besar pada nilai gravitasi observasi
antar titik pengukuran. Ketika saklar MVR dalam posisi off maka
kartu MVR tidak memberikan efek apapun pada gravitimeter.
Pada pengaturan ini pengukuran dilakukan dengan menggeser
benang bacaan pada posisi bacaan menggunakan nulling dial.
c) Power Supply
Gravitimeter ini beroperasi pada tegangan 12 Volt DC. Power DC
ini umumnya diberikan oleh baterai atau AC-to-DC power supply. 10 volt
dan 30 volt yang diberikan pada kartu MVR Feedback merupakan hasil
dari konversi DC-to-DC dan regulator tegangan presisi yang terhubung
pada tegangan 12 Volt.
Namun, tidak ada regulator tegangan yang sempurna sehingga
kestabilan dari supply tegangan eksternal sangat penting. Perubahan
tegangan yang besar dapat menyebabkan perubahan tegangan keluaran
dari MVR Feedback system. Gunakan saklar hitam untuk mengetahui
perubahan suplai tegangan. Perubahan dalam orde satu per sepuluh volt
biasanya dapat diterima namun perubahan sekitar 1 atau 2 volt
mengindikasikan power supply tidak memadai.
d) Osilasi Beam
Ketika mengamati beam pada eyepiece, osilasi kecil pada beam
disekitar reading line dapat terjadi dan hal ini normal terjadi dan
merupakan hasil dari histerisis akibat gaya pembalik yang diberikan oleh
MVR Feedback system.
e) Pengunci Nulling Dial
Penggunaan pengunci nulling dial disarankan untuk beberapa
penggunaan khususnya survey microgravity dan monitoring pasang surut.
Pengunci nulling dial akan menjamin nulling dial tidak akan bergeser
selama survey atau monitoring pasang surut.

72
f) Monitoring Pasang Surut Gravitasi

Gambar 4.7. Aplikasi [Link]


Untuk melakukan monitoring pasang surut gravitasi aplikasi
LaCoste & Romberg [Link] data acquisition system atau data
logger lainnya dapat digunakan. Tegangan keluaran analog dari sistem
feedback tersedia pada Analog Output Connector (“Recorder Jack”) pada
sisi gravitimeter. Digitasi dengan sistem logging input diferensial
disarankan untuk menghindari permasalahan loop.
g) Pengaturan Ulang Nulling Dial
Setelah beberapa lama gravitimeter akan mengalami drift menuju
ujung jangkauan MVR Feedback sistem. Pada saat tersebut nulling dial
harus diatur ulang. Drift pada kebanyakan alat bernilai positif dan
kecepatan drift biasanya kurang dari satu miligal perbulan setelah
gravitimeter dipanaskan secara terus menerus. Laju drift akan lebih besar
pada gravitimeter baru atau jika gravitimeter tidak dipanasi untuk
beberapa alasan. Karena sistem feedback beroperasi pada jangkauan 2
miligal saat diatur pada posisi 10 volts, nulling dial perlu diatur ulang
setiap satu atau dua bulan.
h) Survei Gravitasi
(1) Survei Microgravity < 2 miligal
Jika akan dilakukan survey microgravity dalam jangkauan 2
miligal maka MVR diatur pada MVR 10 volt. Nulling dial dapat
dikunci kemudian rekam pembacaan tegangan keluaran feedback
pada setiap stasiun. Untuk mengubah perbedaan tegangan keluaran
feedback tiap titik menjadi perbedaan gravitasi maka digunakan factor
kalibrasi. Keuntungan dari survey dengan cara ini adalah tidak perlu
memutar nulling dial sehingga mengeliminasi kesalahan akibat
backlash ketika melakukan pengukuran gravitasi.

73
(2) Survey Microgravity < 2 miligal
Untuk pengukuran gravitasi standar dari titik ke titik sistem
MVR diatur pada tegangan masukan sebesar 30 volts. Yang perlu
diingat adalah bahwa ketika menggunakan sistem MVR feedback,
beam selalu dikenai gaya untuk menggesernya ke reading line.
Memutar nulling dial akan membuat feedback mengatur gaya yang
dibutuhkan agar beam berada pada reading line.
4. Petunjuk Pemakaian Gravitymeter La Coste & Romberg G - 111
Tahapan akuisisi data menggunakan instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav
Gravitymeter yaitu :
1. Memasangkan leveling tripod di titik pengukuran dan memastikan
bahwa leveling tripod berada di permukaan yang rata dan tidak
bergerak akibat pijakan.

Gambar 4.8. Foto Leveling Tripod


2. Menaruh instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav Gravitymeter diatas
leveling tripod.

Gambar 4.9. Foto instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav


Gravitymeter
3. Memasangkan GPS antenna ke instrumen Scintrex CG-5
AutoGrav Gravitymeter.

74
Gambar 4.10. Foto Instrumen yang sudah dipasangkan dengan
GPS Antenna

4. Menekan tombol ON/OFF pada instrumen Scintrex CG-5


AutoGrav Gravitymeter.
5. Menekan tombol angka 6 (DISPLAY) untuk mengatur tingkat
brightness screen dari instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav
Gravitymeter sehingga mempermudah pembacaan alat.
6. Menekan tombol F4 (READ GPS) untuk memastikan bahwa GPS
sudah terbaca oleh instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav
Gravitymeter.
7. Menekan tombol 4 (setup) mengatur penamaan dari kegiatan
survey dan akan muncul tampilan SETUP MENU dan pilih menu
SURVEY.

Gambar [Link] SETUP MENU

8. Akan muncul tampilan SURVEY HEADER lalu tekan tombol F3


(FUNC/EDIT) untuk melakukan penamaan pada kegiatan survey
ini. Setelah penamaan selesai kemudian tekan kembali tombol F3
dan tombol F5 untuk kembali ke SETUP MENU.
75
Gambar [Link] SURVEY HEADER

9. Setelah kembali ke SETUP MENU kemudian pilih AUTOGRAV,


kemudian akan muncul AUTOGRAV SETUP untuk melakukan
pemilihan koreksi data dan parameter yang akan digunakan dalam
kegiatan akuisisi. Untuk melakukan pemilihan tekan tombol F3
(FUNC/EDIT) kemudian pilih koreksi dan parameter yang akan
digunakan, lalu tekan kembali tombol F3 (FUNC/EDIT) saat
selesai memilih parameter.

Gambar 4.13. Tampilan AUTOGRAV SETUP

10. Kembali ke SETUP MENU, kemudian pilih menu OPTIONS.


Akan tampil menu DEFINE THE OPTIONS untuk mengatur
waktu pembacaan, waktu delay pembacaan dan jumlah
pembacaan nilai bacaan. Untuk mengaturnya tekan tombol F3
(FUNC/EDIT) kemudian atur waktu pembacaan, waktu delay dan
jumlah pembacaan data. Setelah itu tekan kembali tombol F3
(FUNC/EDIT).

76
Gambar 4.14. Tampilan DEFINE THE OPTIONS

11. Kemudian kembali ke SETUP MENU dan pilih menu CLOCK


untuk mengatur waktu dan tanggal akuisisi data. Perbedaan zona
waktu di setiap daerah pengukuran dapat diatur dalam menu ini.
Untuk mengubah jam dan tanggal tekan tombol F3 (FUNC/EDIT)
dan tekan kembali tombol F3 (FUNC/EDIT) untuk mengunci
perubahan data.

Gambar 4.15. Tampilan Pengaturan Jam

12. Setelah beberapa pengaturan sudah diubah, selanjutnya yaitu


tahapan pembacaan nilai oleh alat. Tekan tombol
MEASURE/CLR dan akan tampak tampilan STATION
DESIGNATION. Kemudian untuk mengatur koordinat, elevasi
serta nama titik tekan tombol F3 (FUNC/EDIT). Setelah
pengaturan selesai tekan kembali tombol F3 (FUNC/EDIT) untuk
mengunci perubahan pengaturan.

77
Gambar 4.16. Tampilan STATION DESIGNATION

13. Kemudian tekan tombol F5 (LEVEL) untuk melakukan leveling


instrumen. Leveling dilakukan dengan memutar putaran pada
bagian tripod. Untuk mempermudah leveling instrumen, atur
terlebih dahulu sumbu Y sehingga garis berada di pusat lingkaran,
kemudian atur sumbu X sehingga garis keduanya berada di pusat
lingkaran. Ketika kedua garis sudah berpotongan di pusat
lingkaran maka akan muncul emoticon smiley pada lingkaran
yang menandakan bahwa alat sudah berada pada kondisi datar.

Gambar 4.17. Tampilan saat Leveling Instrumen

14. Tekan tombol F5 (READ GRAV) untuk melakukan pembacaan


nilai dari instrumen. Setelah menekan tombol F5, perlahan
menjauh dari alat agar tidak terjadi noise dikarenakan pergerakan
dari operator. Saat instrument mulai membaca nilai gravitasi maka
pada bagian samping alat akan hidup lampu berwarna biru.
15. Setelah instrumen selesai melakukan pembacaan, maka lampu
akan mati dan tampil menu AUTOGRAV FINAL DATA yang
berisi data hasil pengukuran. Kemudian tekan tombol F5 untuk
melakukan record data.
78
Gambar 4.18. Tampilan Data yang didapatkan

16. Setelah data tersimpan di dalam memori instrumen, tekan tombol


ON/OFF untuk mematikan instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav
Gravitymeter, lepas GPS Antenna dan masukan kembali
instrumen ke dalam tas. Lalu berpindah ke titik pengukuran
selanjutnya.
17. Setelah pengukuran selesai pada setiap harinya, dilakukan proses
DUMPING DATA menggunakan kabel RS-232C dan software
SCTUTIL (Scintrex Utilities).

Gambar 4.19.. Tampilan Dumping Data

IV. PENGOLAHAN DATA


A. Diagram Alir Pengolahan

79
Gambar 4.20. Diagram Alir Pengolahan Metode Gravity
B. Anomali Gravitasi
Medan gravitasi bumi g adalah medan yang selalu berarah menuju ke
pusat bumi. Benda atau massa yang berada di bawah permukaan bumi
mengakibatkan adanya medan anomali gravitasi yang memiliki arah yang variatif
terhadap sumbu vertikal bergantung pada kedudukan terhadap benda/massa
tersebut.
Di permukaan bumi, perubahan medan gravitasi diukur melalui
pengukuran medan gravitasi g. Perubahan medan gravitasi bumi yang disebabkan
benda anomali lokal ini disebut Anomali Gravitasi. Anomali tersebut yang
dilambangkan dengan Δg ini bila dibandingkan dengan medan gravitasi bumi
bernilai sangat kecil (Δg << g). Anomali gravitasi hanya dapat diukur bersamaan
dengan medan gravitasi bumi pada arah yang sama. Anomali gravitasi dimanapun
pada bidang horizontal di titik (x, y) dapat dinyatakan dengan persamaan :

𝛥𝑔 (𝑥, 𝑦) = 2𝜋𝐺𝜎 (𝑥, 𝑦)

Anomali gravitasi Δ(𝑥, 𝑦) pada bidang horizontal z = 0 yang diakibatkan


oleh distribusi massa yang tidak diketahui dan terletak di bawah bidang z = 0.
Apapun bentuk massa, efek yang ditimbulkan di titik manapun pada bidang z ≤ 0
sama dengan apabila massa tersebut diganti oleh distribusi permukaan pada z =
0. Hal ini juga dapat diartikan bahwa anomali gravitasi Δ(𝑥, 𝑦) pada z = 0 akibat

80
distribusi massa dibawah z = 0 akan mempunyai nilai yang sama jika massa
tersebut digantikan dengan densitas permukaan. Model densitas ini disebut
dengan equivalent stratum.

Gambar 4.21. Ilustrasi Model Equivalent Stratum (dimodifikasi dari Grant &
West, 1965)
C. Gravitasi Observasi
Gravitasi observasi adalah nilai medan gravitasi yang terukur di suatu titik
topografi (𝑥, 𝑦, 𝑧). Beberapa koreksi perlu dilakukan terhadap nilai medan
gravitasi terukur untuk menghilangkan pengaruh faktor ketinggian alat
gravitimeter terhadap permukaan topografi, efek pasang surut air laut, dan efek
dari kelelahan alat gravitimeter.
Medan gravitasi observasi dapat diperoleh dengan persamaan berikut :

𝑔𝑜𝑏𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) + (𝑔𝑃𝑆 (𝑥, 𝑦, 𝑧) − 𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧))

dengan:

𝑔𝑜𝑏𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = nilai medan gravitasi observasi di permukaan topografi

𝑔𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = nilai medan gravitasi terkoreksi tinggi alat

𝑔𝑃𝑆 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = nilai koreksi pasang surut

𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = nilai koreksi drift

Berikut merupakan langkah-langkah awal dalam pengolahan nilai


gravitasi yang didapatkan dari pengukuran lapangan :
● Konversi Skala Bacaan
Konversi skala bacaan dilakukan untuk mendapatkan nilai medan gravitasi
terukur dalam mgal, karena yang tertera pada skala bacaan merupakan nilai
berdasarkan skala alat. Data yang diperoleh dari lapangan berupa skala bacaan
dan feedback. Feedback adalah skala nonius dari skala bacaan yang berfungsi
menjaga beam gravitymeter tetap pada reading line. Nilai konversi skala bacaan
untuk instrumen LaCoste & Romberg-1118 dengan MVR 10 mV, dapat diperoleh
dari perhitungan berikut :
81
𝐹𝐵
𝑔𝑚𝑇𝐴 (𝑥, 𝑦, (𝑧 − ℎ𝑇𝐴 )) = 𝑆𝐵𝑟𝑟 + (𝑆𝐵𝑃𝑆 + ) × 𝐹𝐹𝐼
1099
dengan:

𝑔𝑚𝑇𝐴 (𝑥, 𝑦, (𝑧 − ℎ𝑇𝐴 ))= nilai medan gravitasi dalam satuan miligal

𝑆𝐵𝑟𝑟 = konversi dari skala bacaan bagian ribuan dan ratusan yang didapat

dari tabel kalibrasi alat

𝑆𝐵𝑃𝑆 = bagian puluhan dan satuan pada skala bacaan

𝐹𝐵 = nilai feedback

𝐹𝐹𝐼 = nilai factor for interval


Sebagai contoh, jika skala bacaan pada gravimeter menunjukkan angka 2135,
maka 𝑆𝐵𝑟𝑟 = 2100 dan 𝑆𝐵𝑃𝑆 = 35, sehingga berdasarkan Tabel Kalibrasi
Gravimeter Lacoste & Romberg Tipe G-1118 MVR nilai 𝑆𝐵𝑃𝑆 * = 2144,04 dan
𝐹𝐹𝐼 = 1,02144 . sedangkan nilai 𝑆𝐵𝑃𝑆 dikalikan dengan pembacaan 𝐹𝐵 dibagi
konstanta 1099.

Gambar 4.22. Tabel Konversi Satuan Skala Bacaan ke dalam miliGal


● Koreksi Tinggi Alat
Nilai gravitasi yang diinginkan merupakan nilai gravitasi pada
permukaan topografi, sehingga diperlukan koreksi tinggi alat untuk
membawa nilai pengukuran sesuai dengan ketinggian topografi. Hal ini
dilakukan agar pembacaan gravitasi di setiap titik pengukuran
mempunyai posisi ketinggian yang sama dengan titik pengukuran dari
hasil data GPS (Global Positioning System). Beda ketinggian antara
posisi gravimeter dengan GPS mempengaruhi nilai gravitasi sebesar :

𝑔𝑇𝐴 = 0.3085672 × ℎ𝑇𝐴


sehingga nilai terkoreksi tinggi alat adalah

𝑔𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑚𝑇𝐴 (𝑥, 𝑦, (𝑧 − ℎ𝑇𝐴 )) + 0.3085672 ℎ𝑇𝐴

82
dengan 𝑔𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah nilai medan gravitasi terkoreksi tinggi alat
(mGal) dan ℎ𝑇𝐴 merupakan tinggi alat gravitimeter (meter).

Gambar 4.23. Tinggi Alat (h) saat akuisisi lapangan


● Koreksi Pasang Surut
Pasang surut bulan dan matahari memberikan pengaruh signifikan
ke perubahan nilai gravitasi di bumi secara periodik. Gabungan dari kedua
pasang surut tersebut dapat mempengaruhi nilai gravitasi hingga 3,0 mgal.
Nilai perubahan tersebut tergantung dari lokasi (posisi lintang), tanggal,
dan waktu pengukuran. Nilai ini selalu ditambahkan pada nilai gravitasi
pengukuran sehingga dihasilkan nilai gravitasi terkoreksi pasang surut.

Nilai gravitasi pasang surut 𝑔𝑝𝑠 (𝑥,𝑦,𝑧) dapat dihitung


berdasarkan persamaan Longman (1959), yaitu :

𝐺𝑀𝐵 𝑟 3𝐺𝑀𝐵 𝑟 2
𝑔 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) + (5𝑐𝑜𝑠 2 𝜃
𝑃𝑆
𝐷𝐵 3 2 𝐷𝐵 4
𝐺𝑀𝑀 𝑟
− 3𝑐𝑜𝑠𝜃) + 3 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 − 1)
𝐷𝑀
dengan 𝑟 adalah jarak titik amat ke pusat bumi, 𝑀𝐵 adalah massa bulan,
𝐷𝐵 adalah jarak bulan ke bumi, 𝐷𝑀 adalah jarak matahari ke bumi, 𝜃
adalah sudut zenith dari bulan, 𝜑 adalah sudut zenith dari matahari. Sudut
zenith adalah parameter yang bergantung dari posisi lintang, tanggal, dan
waktu saat pengukuran dilakukan (Dermawan, 2010).
● Koreksi Drift
Alat gravitimeter sangat sensitive terhadap faktor kelelahan alat
(apungan) yang diakibatkan dari adanya perubahan mekanika di dalam
alat tersebut. Faktor tersebut berupa pegas yang semakin meregang
terhadap waktu dan suhu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan
pembacaan nilai gravitasi di stasiun yang sama atau berikutnya pada
waktu yang berbeda, akibat adanya guncangan atau pergeseran pegas
pada alat gravitymeter.
Pengaruh suhu dapat diatasi dengan pemasangan thermostat
sehingga alat bekerja pada suhu yang konstan. Sedangkan untuk pengaruh
83
waktu, dapat diasumsikan bersifat linier terhadap perubahan nilai bacaan
medan gravitasi. Sehingga untuk menghilangkan efek tersebut akuisisi
data gravitasi didesain dalam suatu rangkaian tertutup (loop). Selisih nilai
pengukuran waktu awal dan akhir di titik base adalah besar gradien
perubahan nilai tiap waktu pengukuran selama waktu looping. Konsep
dari perhitungan koreksi drift dapat diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar 4.24. Ilustrasi proses looping pada akuisisi data untuk koreksi
drift.
Sehingga, persamaan koreksi drift dapat dituliskan sebagai berikut :
𝑡𝑛 − 𝑡𝐵
𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = (𝑔 ′ − 𝑔𝐵 )
𝑡𝐵′ − 𝑡𝐵 𝐵
dengan 𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah koreksi drift pada titik ke–n, 𝑡𝑛 adalah waktu
pembacaan pada titik ke-n, 𝑡𝐵 adalah waktu pembacaan di titik ikat akhir
looping, 𝑔𝐵 adalah nilai pembacaan di titik ikat pada awal looping, dan
𝑔𝐵′ adalah nilai pembacaan di titik ikat pada akhir looping

● Nilai Gravitasi Mutlak


Nilai gravitasi yang terukur di titik amat adalah nilai gravitasi
relatif. Disebut nilai gravitasi relatif karena nilai yang terukur adalah
perbedaan nilai gravitasi dari satu titik terhadap titik lainnya.
Nilai gravitasi mutlak didefinisikan sebagai nilai gravitasi yang
sebenarnya di titik pengukuran. Untuk mendapatkan nilai gravitasi
mutlak, maka nilai gravitasi relatif perlu diikatkan ke suatu titik yang
dinamakan titik ikat gravitasi. Titik ikat adalah titik yang sudah diketahui
nilai gravitasi mutlaknya. Nilai gravitasi di titik ikat inilah yang akan
ditambahkan ke nilai gravitasi relatif di titik amat untuk mendapatkan
nilai gravitasi mutlak di titik amat.

Rumus untuk menentukan nilai gravitasi mutlak (Arafin, 2004), yaitu :

𝑔𝑜𝑏𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑡𝑖 (𝑥, 𝑦, 𝑧) + (𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) − 𝑔𝑑𝑡𝑖 (𝑥, 𝑦, 𝑧))

84
dengan 𝑔𝑜𝑏𝑠 adalah nilai gravitasi mutlak di titik amat, 𝑔𝑡𝑖 adalah nilai
gravitasi mutlak di titik ikat, 𝑔𝑑 adalah nilai gravitasi terkoreksi drift di
titik amat, dan 𝑔𝑑𝑡𝑖 adalah nilai gravitasi terkoreksi drift di titik ikat.
D. Gravitasi Teoritis
Nilai medan gravitasi teoritis dapat diketahui dengan melakukan beberapa
tahapan, yang pertama dilakukan adalah mencari nilai medan gravitasi normal.
Langkah selanjutnya adalah koreksi free-air, hal ini dilakukan karena nilai medan
gravitasi observasi secara fisis berada pada posisi (bidang) topografi. Kemudian,
dilakukan koreksi topografi yang meliputi koreksi Bouguer dan koreksi medan
(terrain). Secara matematis, nilai gravitasi teoritis dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :

𝑔𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑁 (𝑥, 𝑦, 0) + 𝑔𝐹𝐴 (𝑥, 𝑦, 𝑧) + 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑜𝑝𝑜𝑔𝑟𝑎𝑓𝑖


dimana,

𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑜𝑝𝑜𝑔𝑟𝑎𝑓𝑖 = 𝑔𝑏𝑜𝑢𝑔𝑢𝑒𝑟 (𝑥, 𝑦, 𝑧) − 𝑔𝑡𝑒𝑟𝑟𝑎𝑖𝑛 (𝑥, 𝑦, 𝑧)

dengan 𝑔𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah nilai gravitasi teoritis di topografi, 𝑔𝑁 (𝑥, 𝑦, 0)


adalah nilai gravitasi normal, 𝑔𝐹𝐴 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah koreksi free-air,
𝑔𝑏𝑜𝑢𝑔𝑢𝑒𝑟 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah koreksi bouguer, 𝑔𝑡𝑒𝑟𝑟𝑎𝑖𝑛 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah koreksi medan
(terrain).
● Perhitungan Medan Gravitasi Normal atau Koreksi Lintang
Gravitasi normal merupakan nilai gravitasi yang diperoleh atau
diketahui dari bentuk bumi secara teoritis. Nilai gravitasi normal
bergantung pada posisi lintang, yang artinya akan bernilai rendah pada
daerah ekuator dan bernilai tinggi di daerah kutub. Sehingga nilai
gravitasi normal diperoleh dari bentuk bumi teoritis yang berbentuk
sferoida. Koreksi ini juga dilakukan untuk menghilangkan nilai gravitasi
bumi yang dominan yang dipengaruhi oleh posisi lintang titik pengukuran
pada referensi sferoida (x, y, 0).
Koreksi lintang dilakukan untuk mengetahui nilai medan gravitasi
pada referensi sferoida di lintang tertentu, dan dapat dihitung melalui
persamaan WGS 1984 sebagai berikut :

𝑔𝑛 (𝑥, 𝑦, 0)1894
1 + 0.00193185265241 𝑠𝑖𝑛2 𝜑
= 978032.753359 ( )
√1 − 0.00669437999041 𝑠𝑖𝑛2 𝜑

dengan 𝑔𝑛 (𝑥, 𝑦, 0)1894 adalah nilai medan gravitasi normal pada referensi
sferoida, dan 𝜑 adalah posisi lintang titik pengukuran.

● Koreksi Atmosfer

85
Dalam medan gravitasi teoritis, massa total atmosfer dilibatkan
dalam massa bumi ellipsoid. Koreksi ini dikurangkan terhadap nilai
medan gravitasi normal karena tarikan massa atmosfer berlawanan
dengan medan gravitasi bumi.
Koreksi atmosfer dapat dihitung melalui persamaan Wenzel
(1985) dalam Hinze dkk (2013) yang menghitung efek gravitasi massa
atmosfer sampai ketinggian 10 km dari referensi sferoida sebagai berikut
:

𝑔𝑎𝑡𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 0.874 − 9.9 × 10−5 ℎ + 3.56 × 10−5 ℎ2


dengan h adalah ketinggian titik amat dalam meter.
● Koreksi Free-Air
Nilai gravitasi normal yang diperoleh dari perhitungan lintang
sebelumnya merupakan nilai medan gravitasi pada bidang referensi.
Koreksi udara bebas (free-air) dilakukan untuk mengoreksi nilai tersebut
sehingga sesuai dengan ketinggian topografi pada saat pengukuran.
Koreksi ini tidak memperhitungkan massa batuan yang terdapat antara
titik pengukuran dan bidang datum.

Gambar 4.25. Koreksi udara bebas menghitung perubahan nilai medan


gravitasi berdasarkan elevasi
Koreksi udara bebas merupakan proses pemindahan medan
gravitasi normal di referensi sferoida (z = 0) menjadi medan gravitasi
normal di permukaan topografi. Menurut (Li dan Gotze, 2001) rumus dari
koreksi udara bebas orde satu adalah

𝑔𝐹𝐴 = −(0.3.867691 − 0.0004398 𝑠𝑖𝑛2 𝜙)ℎ 𝑚𝑔𝑎𝑙

untuk 𝜙 = 45∘ akan diperoleh

𝑔𝐹𝐴 = −(0.3085672) ℎ 𝑚𝑔𝑎𝑙

dengan 𝑔𝐹𝐴 adalah nilai koreksi Free Air dan h adalah ketinggian titik
ukur (meter)

Asumsi yang digunakan pada koreksi ini adalah hanya


memperhitungkan elevasi antara permukaan topografi dengan referensi
86
sferoida, massa yang terletak antara topografi dan referensi sferoida
diabaikan (Dermawan, 2010).
Menggunakan koreksi udara bebas akan diperoleh anomali medan
gravitasi udara bebas di topografi yang secara matematis dirumuskan
sebagai berikut :

𝛥𝑔𝐹𝐴 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑜𝑏𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) − (𝑔𝑁 (𝑥, 𝑦, 0) + 𝑔𝐹𝐴 )


atau

𝛥𝑔𝐹𝐴 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 𝑔𝑜𝑏𝑠 (𝑥, 𝑦, 𝑧) − 𝑔𝑁 (𝑥, 𝑦, 𝑧)

● Koreksi Topografi
Pada koreksi udara bebas, tidak diperhitungkan massa yang
terletak di antara referensi sferoida dan permukaan topografi. Massa
tersebut sejatinya sangat mempengaruhi harga anomali medan gravitasi.
Jika massa tersebut diperhitungkan maka koreksi terhadap medan
gravitasi normal menjadi lengkap. Koreksi ini disebut sebagai koreksi
topografi atau koreksi Bouguer lengkap.
Anomali medan gravitasi Bouguer lengkap merefleksikan adanya
variasi densitas dalam kerak, dimana koreksi Bouguer dan curvature
adalah fungsi dari ketinggian dan densitas topografi. Sedangkan koreksi
medan (terrain) merupakan fungsi dari topografi sekitar. Koreksi Bouguer
lengkap tidak menghilangkan anomali massa yang terdapat di atas
referensi sferoida. Hal ini disebabkan karena densitas massa yang
digunakan dalam perhitungan Bouguer lengkap adalah densitas rata-rata
dengan menganggap massa topografi bersifat homogen. Seperti halnya
koreksi udara bebas, dengan dilakukan koreksi Bouguer lengkap tidak
berarti secara fisis memindahkan titik-titik observasi ke referensi sferoida.
a. Koreksi Bouguer
Koreksi Bouguer dilakukan untuk mengoreksi pengaruh
massa yang terletak di antara bidang referensi dan ketinggian
topografi. Hal ini dikarenakan pada koreksi udara bebas tidak
memperhitungkan massa tersebut. Ketika variasi ketinggian
disebabkan oleh variasi topografi, sebagai contoh kasus, adanya
tambahan massa bukit diatas bidang datum atau adanya
kekurangan massa akibat adanya lembah di bawah bidang datum.
Sehingga nilai terukur harus dikurangi dengan besarnya gaya
tarikan tersebut.
Koreksi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
berupa benda slab datar yang tak berhingga dengan ketebalan dan
densitas yang seragam. Koreksi ini juga dilakukan tanpa
87
memperhitungkan adanya kelengkungan pada permukaan bumi.
Model koreksi ini dikenal dengan model slab horizontal tak hingga
dengan ketebalan h relatif dari referensi sferoida ke bidang
Bouguer letak titik amat.

Berikut adalah persamaan koreksi anomali Bouguer Sederhana :

𝑔𝐴𝐵𝑆 = 2𝜋𝜌𝐺ℎ

dengan 𝑔𝐴𝐵𝑆 adalah nilai koreksi anomali Bouguer sederhana, 𝜌


adalah nilai densitas batuan, 𝐺 adalah nilai tetapan gravitasi, dan
ℎ adalah ketinggian titik ukur.
Kekurangan koreksi ini adalah secara geometris
mengasumsikan permukaan topografi yang datar dan masih
terdapat massa kosong yang turut masuk dalam perhitungan.
Secara geometris semakin sempit daerah penelitian maka semakin
rendah derajat kelengkungan atau mendekati bentuk datar.
- Penentuan Densitas Batuan Rata-Rata
Densitas batuan yang biasa disebut densitas
Bouguer atau densitas topografi merupakan densitas rata –
rata dari seluruh massa di bawah permukaan. Densitas
batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti rapat
massa butir pembentuknya, porositas, kandungan fluida
yang mengisi pori – porinya, serta pemadatan akibat
tekanan dan pelapukan yang dialami batuan tersebut
(Safani, 2000).

- Penentuan Densitas Langsung


Pengukuran densitas pada suatu daerah survey
dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel batuan.
Sampel sampel ini dianggap merepresentasikan seluruh
batuan yang ada pada lokasi survey sehingga semakin
banyak sampel semakin merepresentasikan sifat fisis
batuan pada daerah survey. Sampel tersebut kemudian
diukur densitasnya dalam keadaan kering dan dalam
keadaan tersaturasi air.
Kesulitan dari cara ini adalah sulitnya mendapat
sampel batuan yang segar dan belum mengalami
pelapukan karena umumnya pengambilan sampel
dilakukan di permukaan yang memiliki tingkat pelapukan
yang tinggi yang mampu merubah densitas batuan aslinya.
88
a) Pengukuran Gravitasi pada Lubang Bor

Gambar 4.26. Pengukuran gravitasi pada lubang bor

Pengukuran ini dapat dilakukan dengan


memasukan gravitimeter pada lubang bor dan melakukan
pengukuran gravitasi dalam fungsi kedalaman atau
ketinggian. Jika pengukuran dilakukan pada lubang bor
maka nilai densitas bouguernya dirumuskan sebagai
berikut :

𝑔1 − 𝑔2 = 0.3086ℎ − 4𝐺𝜌ℎ

Dua kali bouguer digunakan karena lapisan batuan


antara dua titik pengukuran menarik ke bawah stasiun
pengukuran yang ada diatas dan menarik keatas stasiun
pengukuran yang ada di bawah, sehingga :
0.3086ℎ − 𝛥𝑔
𝜌 =
4𝜋𝐺ℎ

b) Log Densitas pada Lubang Bor


Cara ini hanya mampu dilakukan jika pada lokasi
pengukuran memiliki lubang bor. Densitas batuan diukur
dalam fungsi kedalaman pada lubang bor. Pengukuran
dilakukan dengan memasukan instrument yang
melepaskan radiasi sinar gamma dan Geiger counter (alat
pengukur radiasi).
Besarnya radiasi akibat pantulan sinar gamma yang
dipancarkan oleh instrumen bergantung pada konsentrasi
elektron pada atom-atom penyusun batuan yang
proporsional dengan densitas batuan tersebut.
89
Gambar 4.27. Density Logging

c) Metode Parasnis

Gambar 4.28. Contoh grafik Metode Parasnis

Metode parasnis dilakukan sama halnya seperti


metode nettleton yaitu dengan melakukan pengukuran di
sejumlah titik yang memiliki perbedaan ketinggian secara
signifikan. Kemudian dengan melakukan perumusan
sederhana dibuatlah analisis regresi linier sederhana untuk
menentukan densitas yang merepresentasikan seluruh
batuan yang ada di bawah permukaan.
𝛥𝑇𝐶
𝛥𝐹𝐴𝐴 = [𝑘2 𝛥ℎ − ] 𝜌 + 𝛥𝐵𝐴
𝜌0
𝛥𝑇𝐶
dengan 𝛥𝐹𝐴𝐴 sebagai sumbu y dan [𝑘2 𝛥ℎ − ] sebagai
𝜌0
sumbu x kemudian gradien dari grafik yang telah di plot
merupakan hasil pengukuran densitas bouguer.

90
d) Metode Nettleton
Densitas batuan rata-rata diukur dengan membuat
lintasan survei gravitasi yang memotong sebuah fitur
topografi. Kemudian melakukan koreksi bouguer dengan
memvariasikan nilai densitas yang dipakai dalam koreksi
bouguer tersebut. Densitas bouguer yang terukur
merupakan densitas pada koreksi bouguer tersebut yang
menghasilkan anomali yang memiliki korelasi paling
minimum dengan fitur topografinya. Nilai densitas yang
didapat merupakan nilai densitas rata-rata batuan dari
seluruh batuan yang berada pada lintasan survei tersebut.
Fitur topografi yang dipilih haruslah fitur topografi
yang mengalami pembalikan ketinggian contohnya bukit
atau lembah. Sebuah lereng sederhana tidak dapat
digunakan. Karena efek terrain disarankan menggunakan
fitur topografi yang landai namun memiliki perbedaan
ketinggian yang signifikan. Bukit atau lembah yang dipilih
tidak boleh berasosiasi dengan fitur geologi dan lintasan
survey berada pada sepanjang strike struktur dan
menghindari penyimpangan terhadap struktur. Nilai
gravitasi dan topografi pada lintasan tersebut harus terukur
secara akurat.

Gambar 4.29. Contoh grafik metode Nettleton

91
Gambar 4.30. Syarat lintasan pada metode Parasnis dan
Nettleton

e) Metode Langsung
Metode langsung mengukur densitas dari sampel
batuan menggunakan timbangan dan volume.
Kekurangannya distribusinya tidak homogen di area
survey, sehingga densitas batuannya tidak
menggambarkan densitas area survei.

b. Koreksi Terrain
Koreksi Bouguer mencakup massa berbentuk lempeng
(slab) horizontal tak hingga. Dalam koreksi Bouguer ini tidak
diperhitungkan atau diabaikannya suatu massa yang hilang di atas
bidang Bouguer yakni keberadaan bukit serta massa di bawah
bidang Bouguer yakni keberadaan lembah. Oleh karena itu harga
koreksi Bouguer selalu lebih besar dari seharusnya. Koreksi ini
diperlukan karena setiap stasiun pengukuran gravitasi memiliki
permukaan yang tidak datar atau memiliki undulasi. Jika titik amat
berada dekat dengan bukit, maka akan terdapat gaya ke atas yang
menarik pegas pada alat pengukuran, sehingga akan mengurangi
nilai medan gravitasi yang terukur, sedangkan jika titik amat
berada dekat dengan lembah, maka akan ada gaya ke bawah yang
hilang sehingga pegas pada alat pengukuran akan tertarik ke atas,
hal ini turut mengurangi nilai medan gravitasi yang terukur.

92
Gambar 4.31. Ilustrasi koreksi terrain terhadap lembah dan
bukit (Reynolds, 1997)

Akibat dari efek massa ini disebut efek medan (terrain


effect) dan untuk mengatasinya dilakukan koreksi medan (terrain
correction). Salah satu metode yang digunakan dalam koreksi
medan (terrain) adalah metode Hammer (1939).

Hammer Chart

Hammer Chart dikelompokkan berdasarkan radius dari


titik pengukuran, yaitu:
(a) Inner Zone
93
Memiliki radius yang tidak terlalu besar sehingga
bisa didapatkan dari pengamatan langsung di lapangan,
dibagi dalam beberapa zona :
● Zona B : radius 6,56 feet dibagi menjadi 4
kompartemen.
● Zona C : radius 54,6 feet dibagi menjadi 6
kompartemen.
(b) Outer Zone
Memiliki radius yang cukup jauh, sehingga diperlukan
peta kontur untuk menganalisa perbedaan ketinggian
terhadap titik pengukuran, dibagi dalam beberapa zona :
● Zona D : radius 175 feet dibagi menjadi 6
kompartemen.
● Zona E : radius 558 feet dibagi menjadi 8
kompartemen.
● Zona F : radius 1280 feet dibagi menjadi 8
kompartemen.
● Zona G : radius 2936 feet dibagi menjadi 12
kompartemen.
● Zona H : radius 5018 feet dibagi menjadi 12
kompartemen.
● Zona I : radius 8575 feet dibagi menjadi 12
kompartemen.
● Zona J : radius 14612 feet dibagi menjadi 12
kompartemen.
● Zona K - M masing masing dibagi menjadi 12
kompartemen.
Perhitungan nilai koreksi medan untuk setiap sektor dalam
tabel tersebut diatas diperoleh berdasarkan rumus untuk
menghitung gaya tarik gravitasi dari sebuah silinder
kosong vertikal sebagai berikut

𝑔𝑇 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = 2𝜋𝐺𝜌 [𝑟2 − 𝑟1 + √𝑟1 2 + ℎ2


− √𝑟2 2 + ℎ2 ]

di mana 𝐺 adalah konstanta gravitasi universal, ρ


merupakan densitas dari massa, 𝑟1 merupakan jari – jari
dalam dari zona tertentu, 𝑟2 merupakan jari – jari luar dari
zona tertentu dan ℎ adalah tinggi dari silinder (rata – rata
beda elevasi untuk setiap kompartemen) (Suwarno, 2014).
E. Reduksi Bidang Datar

94
Reduksi ke bidang datar adalah proses yang digunakan pada data gravitasi
untuk membawa data di topografi ke suatu bidang dengan ketinggian yang sama.
Reduksi ke bidang datar bertujuan untuk mempermudah pemrosesan, interpretasi
dan pemodelan anomali gravitasi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mereduksi data ke bidang datar adalah metode titik massa Dampney, yaitu metode
yang membawa benda anomali gravitasi kedalam suatu bidang titik massa
sehingga dari bidang titik massa tersebut dapat diperoleh data anomali gravitasi
di suatu bidang datar dengan ketinggian yang sama (Cahyo, 2014).
Persamaan anomali gravitasi di suatu titik yang disebabkan oleh bidang
titik massa adalah

Gambar 4.32. Proses perhitungan Dampney 1969

F. Pemisahan Anomali Lokal Regional


Anomali gravitasi yang terukur di permukaan merupakan penjumlahan
dari semua kemungkinan sumber anomali yang berada di bawah permukaan
dimana salah satunya merupakan target dalam survey gravitasi di suatu daerah.
Target tersebut merupakan anomali residual dari sebuah survei yang dilakukan,
maka data yang telah diukur tersebut perlu dipisahkan dari event lainnya yaitu
dengan anomali regional dan noise (gangguan).

95
Gambar 4.33. Anomali lokal dan regional (Muttaqin, 2007)

Gangguan tersebut akan mempunyai lebar anomali yang lebih kecil


dibandingkan dengan anomali residual. Sedangkan untuk anomali regional, lebar
anomalinya lebih besar dibandingkan dengan anomali residualnya. Salah satu
metode yang digunakan untuk melakukan pemisahan anomali tersebut adalah
metode kontinuasi ke atas dan moving average.
1. Kontinuasi Ke Atas
Kontinuasi ke atas adalah proses untuk melihat suatu respon anomali
dari suatu bidang dengan ketinggian yang berbeda dari bidang awal yang telah
diketahui respon anomalinya. Prinsip dasar dari kontinuasi adalah potensial
gravitasi di hemisphere . Jika z = 0 adalah bidang yang memisahkan antara
udara bebas dengan area yang memiliki massa, P adalah titik di udara bebas
dan Q adalah titik di dalam massa terpisahkan sejauh R dan 𝑈𝑃 adalah
potensial di titik P dan 𝑈𝑄 adalah potensial di titik Q .
Persamaan yang digunakan untuk kontinuasi dinyatakan sebagai :

dengan 𝑈𝑃(𝑥, 𝑦, 𝑧0)adalah harga potensial pada bidang hasil kontinuasi, Δz


adalah ketinggian pengangkatan, 𝑈𝑆(𝑥’, 𝑦’, 𝑧0)adalah harga potensial pada
bidang observasi sebenarnya.

96
Gambar 4.34. Upward Continuation (Blakely, 1996)
2. Moving Average
Moving Average dilakukan dengan cara merata-ratakan nilai
anomalinya. Hasil dari perata-rataan ini merupakan anomali regionalnya.
Sedangkan anomali residualnya didapatkan dengan mengurangkan data hasil
pengukuran gravitasi dengan anomali regionalnya. Secara matematis
persamaan moving average untuk 1 dimensi adalah sebagai berikut :

𝑁−1
di mana 𝑛 = dan N harus bilangan ganjil. Setelah didapatkan 𝛥𝑇𝑟𝑒𝑔 ,
2
maka harga Δ𝑇 residual dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :

𝛥𝑇𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢𝑎𝑙 = 𝛥𝑇 − 𝛥𝑇𝑟𝑒𝑔

dimana

𝛥𝑇𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢𝑎𝑙 = besarnya anomali residual

𝛥𝑇 = besarnya anomali bouguer

𝛥𝑇𝑟𝑒𝑔 = besarnya anomali regional

Persamaan diatas merupakan dasar dari metode ini, dari persamaan tersebut
akan dapat dihitung nilai anomali regional pada sebuah titik penelitian.
Dimana nilai anomali regional pada sebuah titik penelitian, sangat tergantung
pada nilai anomali yang terdapat di sekitar titik penelitian. Sehingga nilai
anomali regional pada sebuah titik merupakan hasil rata-rata dari nilai
anomali-anomali di sekitar daerah penelitian (Suwarno, 2014).

97
V. INTERPRETASI DATA
Dalam menentukan sebuah besaran tertentu dari anomali Bouguer yang telah
diperoleh, perlu adanya proses lanjutan yaitu interpretasi terhadap data tersebut.
Interpretasi gaya berat secara umum dibedakan menjadi dua yaitu interpretasi kualitatif
dan kuantitatif.
A. Interpretasi Kualitatif
Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali medan
gravitasi yang bersumber dari distribusi massa bawah permukaan bumi.
Selanjutnya pola anomali medan gravitasi yang dihasilkan ditafsirkan
berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk distribusi massa atau
struktur geologi, yang dijadikan dasar interpretasi terhadap keadaan geologi yang
sebenarnya.
B. Interpretasi Kuantitatif
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model
dan kedalaman benda anomali atau struktur geologi melalui pemodelan
matematis. Dalam melakukan interpretasi kuantitatif dapat dilakukan dengan
beberapa cara namun tergantung pada bentuk anomali yang diperoleh, sasaran
yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran. Beberapa pemodelan yang biasa
digunakan yaitu pemodelan 2 dimensi, pemodelan 2.5 dimensi dan pemodelan 3
dimensi.
Pemodelan Talwani 2,5 D
Pemodelan Talwani 2,5D adalah pemodelan anomali gravitasi dengan
menggunakan bentuk anomali 2,5D yaitu model 2D dengan penampang
berhingga yang sama pada arah tegak lurus dengan bidang 2Dnya. Model 2,5D
adalah model yang dihasilkan dari pendekatan respon anomali model dengan data
respon anomali lapangan atau yang disebut sebagai pemodelan maju (Forward
Modeling). Sayatan respon anomali dari data lapangan digunakan sebagai acuan
respon anomali model. Dalam pemodelan ini diperlukan penentuan nilai kontras
densitas batuan, panjang strike dari model serta bentuk dari model itu sendiri yang
digunakan untuk mendekati respon anomali lapangan.
Pemodelan 2D ini dibuat berdasarkan prinsip Talwani. Dalam model 2D
yang dikembangkan oleh Talwani, bentuk dari model Talwani dapat diwakili oleh
suatu poligon bersisi n. Pemodelan ke depan untuk menghitung anomali gravitasi
yang dinyatakan sebagai integral garis sepanjang sisi-sisi poligon dinyatakan
Talwani dalam rumusan :

Integral garis tertutup tersebut dapat pula dinyatakan sebagai jumlah integral tiap
garis tiap sisinya, sehingga dapat ditulis sebagai :

98
Model benda anomali sembarang oleh Talwani didekati dengan poligon - poligon
dalam sistem koordinat kartesian

Gambar 4.35. Poligon model Talwani (Blakely, 1996)

dengan,

99
VI. PENGGUNAAN SOFTWARE DALAM PENGOLAHAN DATA
A. [Link]
1) Buka [Link], sehingga muncul jendela

2) Edit location, time, dan Tekan Generate

3) Copy hasil ke excel

100
B. Koreksi Terrain
1) Buka Global Mapper, dan akan muncul jendela seperti di bawah ini

2) Kemudian load data DEM yang mencakup area survey dengan klik Open
Data Files. Jika belum tersedia data DEM yang diperlukan, maka dapat
mendownload pada link berikut
[Link]

Akan muncul dialog Select Projection. Data DEM yang didapat dari web
DEMNAS dalam format projection Geographic (Latitude/Longitude)
dan menggunakan datum WGS84. Centang kotak Use Selected
Projection for All Selected Files agar menggunakan pengaturan yang
sama pada semua data DEM yang di impor, dan klik OK.

101
3) Dalam pengolahan ini, sistem koordinat yang akan digunakan untuk
sistem proyeksi peta yaitu UTM, sehingga perlu mengubah koordinat dari
data DEM yang sudah di import dengan menu Tools – Coordinate
Convertor.

Akan muncul dialog Coordinate Convertor, atur Output Coordinate


System yang diinginkan yaitu UTM dengan zona 49S karena area survei
berada pada zona tersebut. Klik Close.

4) Pilih menu Tools – Configure untuk melakukan ekspor data DEM.

102
Akan muncul dialog Configuration – Projection. Pilih kolom
Projection = UTM, Zone = 49 South, dan Datum = WGS84, untuk
mengubah proyeksi menjadi UTM. Klik OK.

5) Kemudian lakukan proses ekspor data DEM, Lokal (inner zone) dan
Regional (outer zone). Pilih File – Export – Export Elevation Grid
Format

Akan muncul dialog Select Export Format, pilih ekspor format Geosoft
Grid File.

6) Pada dialog Geosoft Grid Export Options, pilih tab Export Bounds,
kemudian pilih Current Projection (UTM - meters). Pada batas barat,
utara, timur dan selatan diisi dengan luasan berjarak 5 km dari tepi area
survei untuk Local DEM, sedangkan Regional DEM berjarak 50 km.
*Nilai jarak bersifat tentatif.
103
7) Setelah batas-batas diisi, save potongan Local DEM dan Regional DEM.
Tunggu beberapa saat dalam proses pemotongan dan ekspor data DEM.

8) Buka Oasis Montaj, dan akan muncul jendela seperti di bawah ini.

9) Membuat project baru dengan klik File - Project – New, simpan project
tersebut dengan format .gpf

104
10) Kemudian impor data yang dibutuhkan dalam koreksi Terrain (Titik,
Easting, Northing, Latitude, Longitude, dan Elevasi) dalam format .txt
(Tab Delimited). Pilih Data – Import – Ascii…

11) Pilih data .txt yang akan di import, lalu klik Wizard.

12) Pada dialog Data Import Wizard, pilih tipe data Floating Point untuk
semua data, kecuali String untuk nama Titik

Akan muncul tampilan seperti gambar di bawah berikut.


105
13) Lakukan define koordinat untuk mempercepat proses koreksi Terrain
dengan menu Coordinate – Change X,Y Coordinates.

Akan muncul dialog Set current X,Y channels, isi kolom pada kotak
dialog. Current X (Easting) = Easting, Current Y (Northing) =
Northing, dan Current Z (Elevation) = Elevasi. Klik OK.

14) Load menu [Link] melalui menu GX - Load OMN -


[Link]. Buat Regional Terrain Correction melalui menu
Gravity - Terrain Correction - Create Regional Correction Grid

106
15) Isi kolom pada kotak dialog. Regional DEM dan Local DEM diisi oleh
data potongan DEM yang telah dibuat. Buat file Output (terrain
correction) grid, isi nilai Terrain Density g/cc dengan nilai yang logis,
dan klik Scan XY untuk mengisi Survey minimum dan maksimum XY.
Tunggu beberapa saat.

16) Koreksi Terrain dibuat melalui menu

Akan muncul dialog Terrain correction, isi kolom pada kotak dialog. X
Channel = Easting, Y Channel = Northing, Elevation Channel =
Elevasi, Output Terrain Correction Channel = Terrain, Regional
Correction Grid = “file output Regional Correction Grid”, dan Local
DEM Grid= [Link].

107
17) Nilai koreksi Terrain akan muncul seperti pada gambar di bawah
berikut.

18) Selesai

C. Reduksi ke Bidang Datar


1) Buka software Matlab, atur direktori untuk membuka program bidtar.m
atau langsung pilih Open – bidtar.m. Akan muncul jendela editor
berisikan skrip perumusan reduksi ke bidang datar. Kemudian jalankan
program dengan klik Run.

108
Muncul jendela program “TO PLANE TRANSFORM” seperti pada
gambar berikut.

2) Buka file berformat .txt yang berisikan data easting, northing, elevasi
dan anomali Bouguer lengkap dengan pilih menu Open

3) Pada kolom Grid Size, X spacing diisi nilai spasi antara titik ukur relatif
terhadap sumbu, sedangkan Y spacing diisi spasi antar titik pada sumbu.
Kemudian klik Calculate agar program menghitung nilai equivalent
depth (h) sesuai dengan syarat pada persamaan Dampney dan nilai height
of plane (z) lebih dari titik ukur paling tinggi.

4) Pada kolom Transformation Parameter diisi berdasarkan Boundary


Condition yang telah dihitung. Sertakan tanda minus (-) pada isian
height of plane dan juga toleransi perhitungan serta jumlah iterasi
maksimum. Pilih Transform.

109
Kemudian muncul dua plot yakni anomali Bouguer lengkap dan hasil
reduksi ke bidang datar.

5) Hasil reduksi ke bidang datar disimpan dengan memilih menu Save.

6) Selesai

D. Kontinuasi ke Atas
1) Buka Oasis Montaj dan buat New Project. Kemudian impor data hasil
reduksi ke bidang datar.

110
Akan muncul jendela seperti berikut ini.

2) Pilih menu GX – Load Menu – [Link], dalam rangka untuk


melakukan kontinuasi. Lalu Grid data yang telah diimpor dengan memilih
menu Grid – Gridding – Krigging – Dialog Controls.

3) Kemudian pilih channel untuk di-grid yakni nilai anomali. Namai file
keluaran hasil gridding

Akan ditampilkan hasil seperti berikut ini.

111
4) Sebelum proses kontinuasi ke atas, dibuat file preprocessed melalui menu
Interactive Filtering – Prepare Grid. Kita tinggal memilih file masukan
dan mengisi nama file keluaran pada Output Grid File, biarkan parameter
lain sesuai default.

5) Berikutnya dilakukan proses FFT dengan input file hasl preprocessed


sebelumnya. Pilih menu Interactive Filtering – Forward FFT

112
6) Kemudian dilakukan proses Radial Average Spectrum dengan memilih
menu Interactive Filtering – Radial Average Spectrum. File masukan
berupa file hasil preprocessed sebelumnya.

7) Proses berikutnya dilakukan dengan memilih menu Interactive Filtering


– Interactive Spectrum Filters dengan file masukan berupa file hasil
Radial Average Spectrum

8) Akan muncul jendela seperti gambar di bawah ini. Pilih Filter Number
= 1st Filter, Filter Name = Upward Continuation Filter. Lakukan
variasi continuation distance hingga didapat grid hasil ditapis menjadi
lebih smooth agar didapatkan target anomaly residual yang diinginkan.

9) Terapkan hasil proses filtering. Pilih menu Interactive Filtering -


Apply Filter. Beri nama file keluaran.

113
10) Berikut adalah hasil dari proses kontinuasi ke atas.

11) Selesai.

E. Pemisahan Anomali
Pilih menu Grid – Expressions – Substract Grid. First input grid =
“anomali di bidang datar” dan Second input grid to subtract from first =
“hasil kontinuasi ke atas”. Berikut merupakan hasil anomali lokal yang akan
diinterpretasi maupun diolah lebih lanjut.

114
F. Pemodelan
Sebelum melakukan tahap ini ada beberapa data yang perlu disiapkan yakni:
● Peta dan informasi geologi regional, disarankan menggunakan skala
lokal (peta khusus daerah penelitian) sehingga diketahui informasi yang
lebih detail
● Grid Residual (hasil grid proses Upward Continuation pada Oasis
Montaj)
1) Buka file peta residual pada aplikasi Oasis Montaj.
2) Tampilkan menu Gm Sys dengan pilih menu Gx – Load menu –
Gm [Link].

115
3) Buat sayatan dengan pilih menu GM-SYS – New model – From
map profile.

4) Siapkan notepad berisi data Easting (x), Northing (y), dan Elevasi
(z) (sertakan header). Kemudian pilih menu Data - import - ascii
- file notepad (.txt) - OK. Lakukan proses gridding seperti pada
proses sebelumnya untuk didapatkan grid elevasi.
5) Keluar dialog sebagai berikut. Lakukan pengisian data Model
name : nama model yang akan di save, usahakan file oasis 1 folder
dengan file modelnya, Gravity grid : hasil grid anomali , dan
Topography grid* : hasil grid elevasi. *tentatif apabila ingin
menambahkan data elevasi pada model. Proses gridding sebisa
mungkin dilakukan pada software Oasis Montaj.

6) Selanjutnya pembuatan sayatan. Klik 1 kali di titik awal - drag


kearah titik akhir - klik 1 kali di titik akhir - klik kanan - done.

116
Kemudian akan muncul dialog jendela modelling, tidak perlu
mengisi deklinasi (khusus metode magnetic), lanjut klik OK.

7) Muncul tampilan window modelling. Bagian gradient grav


(lingkaran merah) dapat di hide dengan cara, klik kanan -
uncheck seluruh gzx seperti pada tampilan dibawah ini.

8) Sedangkan untuk time second dan plan view (lingkaran hijau)


dapat dihilangkan dengan cara, arahkan kursor pada garis
hingga muncul panah atas bawah - drag keatas/kebawah
sampai hilang, sehingga didapat tampilan seperti ini.

9) Untuk mengatur skala (fungsi kedalaman) pada lingkaran merah


dapat dilakukan dengan, klik kanan - change range - atur
minimum maximum. Usahakan skala elevasi telah mencakup
interval elevasi data yang kita miliki dan skala kedalaman sesuai

117
dengan kedalaman anomali. Kedalaman anomali dapat diketahui
melalui analisis spectral maupun sayatan geologi daerah survey.
10) Pada kolom atas, grafik hitam merupakan grafik perhitungan dan
grafik merah merupakan grafik model. Dalam proses pemodelan
ini dapat mengacu pada korelasi grafik merah dengan grafik hitam
yang kurang lebih harus serupa. Buat lapisan infinite pada menu
view – infinity.

11) Tampilan model dapat di set menjadi full view maupun infinity.
Tampilan di set infinity terlebih dahulu. Untuk menetapkan skala
dapat dilakukan dengan cara view – edit view - klik edit - isi
model z dengan interval minimal maximal yang sesuai.

12) Sebelum membuat lapisan perlu diketahui kolom stratigrafi


maupun geologi regional daerah survey. Sebagai contoh terdapat
118
4 lapisan yang merepresentasi 4 jenis batuan yang ada, sehingga
dibuat 4 lapisan infinite dengan melakukan pengaturan pada menu
toolbar action (lingkaran merah).

13) Buat titik acuan sebagai ujung garis batas lapisan. Klik tanda (+)
pada toolbar action untuk menambahkan titik. Titik hanya
bisa di plot sepanjang garis vertikal model (lingkaran hijau).
Berikut hasil plot titik tersebut.

14) Hubungkan antar titik sehingga terbentuk blok baru. Klik split
blok – klik 1x di titik awal – drag – klik 1x di titik akhir –
accept new blok.

15) Setelah terbentuk 4 blok sebagai 4 lapisan batuan, tampilan di set


kembali menjadi full view. Pilih menu View – Full View.

119
16) Pemodelan dilakukan hingga menyentuh bidang lapisan
topografi permukaan (lingkaran merah).

17) Pembuatan titik dilakukan pada bidang infinite yang telah dibuat
sebelumnya seperti yang ditunjukkan lingkaran merah.

18) Titik dapat diubah arah polanya sesuai dengan geometri yang ada
dengan men-drag titik menuju letak yang diinginkan. Pada toolbar
action, klik move point – diatur sedemikian hingga membentuk
pola yang diinginkan. Sebagai contoh pola seperti pada gambar
dibawah ini.

120
19) Untuk membuat lapisan/blok baru dapat dilakukan dengan split
point seperti pada step sebelumnya. Klik split blok – klik 1x di
titik awal – drag – klik 1x di titik akhir – accept new blok.

20) Untuk geometri sesar dapat dilakukan editing pada titik-titik


terkait seperti pada proses sebelumnya. Step berikutnya yakni
model telah terbentuk - input parameter (warna dan densitas)
- Klik Examine (gambar mata) - klik blok yg akan di add
densitasnya - atur - OK. *Data densitas dapat dilihat dari berbagi
sumber literatur.

21) Perhatikan nilai error (lingkaran merah). Dalam tahap pemodelan


usahakan nilai error sekecil mungkin dengan mengatur parameter
model maupun geometri model. Semakin kecil eror maka semakin
baik model yang telah dibuat. Nilai error berkisar mendekati
angka 0.
22) Selesai.

121
BAB V
METODE IP
1. PENDAHULUAN
Metode IP (induced polarization) merupakan pengembangan metode geolistrik
resistivitas. Metode ini mendeteksi kemampuan batuan untuk menyimpan tegangan listrik akibat
terjadinya fenomena polarisasi atau pengkutuban yang terjadi di mineral logam dan lempung.
Metode IP merupakan metode aktif, dengan menginjeksikan arus listrik ke bawah
permukaan bumi. Ketika arus diinjeksikan terus menerus, secara teori tegangan yang terukur
akan cenderung konstan dan ketika arus dimatikan, idealnya tegangan langsung berubah
menjadi nol atau hilang. Tapi pada medium medium tertentu, tegangan dapat tersimpan, dan
akan dilepaskan kembali. Jadi walaupun arus sudah dimatikan, tetapi beda tegangan akan
meluruh terlebih dahulu terhadap waktu dan secara bertahap menghilang. Efek inilah yang
dinamakan efek Polarisasi IP. Polarisasi ini dapat terjadi karena adanya beberapa sumber yang
memberikan pengaruh IP, yang berupa polarisasi membran dan polarisasi elektroda.
Pengukuran metode IP pada umumnya memiliki konfigurasi yang sama dengan metode
resistivitas, yaitu menggunakan konfigurasi dipole - dipole. Sehingga pada proses
pengukurannya dilakukan secara bersamaan. Metode resistivitas akan menghasilkan data
resistivitas, sedangkan metode IP akan menghasilkan data chargeabilitas.
Pada kegiatan Kuliah Lapangan Non – Seismik 2022, metode IP dipilih karena di wilayah
Kecamatan Kasihan, Kabupaten Pacitan, terdapat potensi mineralisasi. Sehingga diharapkan
praktikan dapat belajar mengenai metode IP yang dapat mendeteksi adanya mineralisasi di suatu
daerah yang letaknya tersebar dan tak teratur.

2. DASAR TEORI
I. Resistivity
A. Hukum Ohm
Konsep dasar dari metode resistivitas adalah Hukum Ohm. Hukum Ohm
menyatakan hubungan antara tegangan (V) pada penghantar dan arus (I) yang melalui
penghantar tersebut. Parameter hubungan itu disebut dengan Resistansi, yang
didefinisikan sebagai hasil bagi tegangan (V) dan arus (I), yang dituliskan :

𝑉
𝑅 = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑉 = 𝐼𝑅 (1)
𝐼

Dengan R adalah resistansi bahan (Ohm), I adalah kuat arus (ampere) dan V adalah
besar tegangan (volt).
R merupakan konstanta (tetapan). Dengan mengasumsikan arus listrik mengalir
pada bangun silinder sederhana (Gambar 2.1).

Gambar 5.1. Ilustrasi arus mengalir pada sebuah bangun silinder

122
Hukum Ohm menyatakan bahwa beda potensial antara ujung ujung silinder sama
dengan hasil kali resistansi dan kuat arus. Nilai R (resistansi) dapat didefinisikan
sebagai tahanan jenis atau resistivitas (ρ), dengan persamaan :

𝐿
𝑅 = 𝜌 (2)
𝐴

Dengan ρ adalah panjang tahanan jenis (Ohm.m), L adalah panjang resistansi (m),
dan A adalah luasan dari resistansi (m^2).

B. Metode Geolistrik Resistivitas


Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari tentang sifat
aliran listrik di dalam bumi yang dimanfaatkan untuk eksplorasi sumber daya alam
bawah permukaan bumi. Metode ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan
elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun akibat injeksi arus ke
dalam bumi (Wahyono dkk, 2008). Metode geolistrik merupakan metode yang
menggunakan prinsip aliran arus listrik DC (Direct Current) dengan tegangan yang
tinggi ke dalam tanah untuk menyelidiki struktur bawah permukaan bumi. Aliran arus
listrik mengalir di dalam tanah melalui batuan-batuan dan sangat dipengaruhi adanya
air tanah dan garam yang terkandung di dalam batuan serta hadirnya mineral logam
maupun panas yang tinggi.
Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu jenis metode geolistrik aktif.
Metode ini mempelajari sifat resistivitas dari lapisan batuan di dalam bumi. Variasi
nilai resistivitas dari masing masing lapisan di bawah titik pengukuran dapat
ditentukan dari beda potensial yang terukur. Hasilnya akan membawa suatu informasi
tentang struktur dan mineral yang dilewatinya (Reynolds, 1997).

C. Aliran Arus Listrik di Dalam Bumi


Untuk mengkaji aliran arus listrik di dalam bumi secara teoritis, awalnya adalah
mengasumsikan bumi sebagai medium yang homogen dan isotrop. Homogen artinya
setiap lapisan memiliki resistivitas yang sama, sedangkan isotrop adalah daya hantar
listrik (konduktivitas) bernilai sama ke segala arah dari aliran arus listrik. Sehingga
jika arus diinjeksikan ke dalam bumi yang homogen dan isotrop, maka arus akan
menjalar menyebar ke segala arah dan membentuk permukaan ekuipotensial berupa
permukaan bola, seperti gambar dibawah ini :

123
Gambar 5.2. Penjalaran arus listrik pada bumi homogen dan isotrop (Telford et. Al,
1990)

Dengan menggunakan persamaan 1 dan 2, dapat dilakukan pendekatan intuitif


untuk mendapatkan rumusan Hukum Ohm yang menggunakan parameter geometri.
Didapatkan rumusan berikut :

𝐿
𝑉 =𝐼𝜌 (3)
𝐴

Dengan V (volt) dan I (ampere) adalah potensial dan arus yang diinjeksikan
elektroda, ρ (Ohm.m) adalah resistivitas material. Kemudian karena arus menjalar
menyebar ke segala arah membentuk permukaan ekuipotensial berupa bola, L (m)
didefinisikan sebagai jari jari dari bola ekuipotensial, dan A (m^2) adalah luasan bola
ekuipotensial. Pada saat pengukuran di lapangan, elektroda yang menginjeksikan
arus ke dalam bumi terletak di permukaan bumi, dapat diasumsikan bagian diatas
permukaan bumi (udara) memiliki nilai konduktivitas nol, sehingga arus listrik hanya
akan menjalar ke dalam bumi, seperti pada Gambar 5.2. Dari hal itu dapat
didefinisikan A adalah luasan setengah bola, yaitu :

𝐴 = 2𝜋𝑟 2 (4)

Dengan r (m) adalah jari jari bola ekuipotensialnya. Merujuk pada persamaan 1 dan
persamaan 2, kemudian dengan mengganti L sebagai r yaitu jari jari bola
ekuipotensial, maka :

1
𝑉 = 𝐼 𝜌𝑎 (5)
2𝜋𝑟

Dengan r (m) adalah jarak titik arus dengan titik yang akan diukur besar potensialnya
dan ρa merupakan resistivitas semu. Resistivitas semu tidak secara langsung
menunjukkan nilai resistivitas dari suatu medium, namun mencerminkan distribusi
nilai resistivitas pada medium tersebut. Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya

124
bumi merupakan medium yang tidak homogen dan terdiri dari banyak lapisan dengan
resistivitas yang berbeda beda.

D. Konfigurasi Dipole-dipole
Konfigurasi Dipole-dipole adalah salah satu konfigurasi yang digunakan dalam
survei geolistrik. Metode ini menggunakan empat buah elektroda, dua buah elektroda
arus dan dua buah elektroda beda potensial. Arus akan diinjeksikan melalui elektroda
arus (C1 dan C2) sedangkan pengukuran tegangan diukur melalui elektroda potensial
(P1 dan P2), dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 5.3. Konfigurasi Dipole-dipole (Rohmana dkk, 2015)

Arus pada kedua elektroda (C1 dan C2) memiliki besar yang sama tetapi arahnya
berlawanan. Merujuk pada persamaan 5, tegangan yang terukur pada potensial P1
dan P2 berturut turut adalah :

𝐼𝜌𝑎 1 1
𝑉𝑝1 = (𝑟 − 𝑟 ) (6)
2𝜋 1 2

𝐼𝜌𝑎 1 1
𝑉𝑝2 = (𝑟 − 𝑟 ) (7)
2𝜋 3 4

Berdasarkan gambar 4, dapat diketahui jarak dari r1, r2, r3, dan r4 yang terdiri dari
variabel n dan a, sehingga persamaan 6 dan persamaan 7 dapat diubah menjadi
sebagai berikut :

𝐼𝜌𝑎 1 1 𝐼𝜌𝑎 𝑎
𝑉𝑝1 = (𝑛𝑎 − 𝑎 + 𝑛𝑎) = (𝑛𝑎(𝑎 + 𝑛𝑎)) (8)
2𝜋 2𝜋

𝐼𝜌𝑎 1 1 𝐼𝜌𝑎 𝑎
𝑉𝑝2 = (𝑎 + 𝑛𝑎 − 2𝑎 + 𝑛𝑎) = ((𝑎 + 𝑛𝑎)(2𝑎 + 𝑛𝑎)) (9)
2𝜋 2𝜋

Sehingga beda potensial antara titik P1 dan P2 adalah :

𝐼𝜌𝑎 𝑎 𝑎
𝛥𝑉 = 𝑉𝑝1 − 𝑉𝑝2 = (𝑛𝑎(𝑎 + 𝑛𝑎) − (𝑎 + 𝑛𝑎)(2𝑎 + 𝑛𝑎)) (10)
2𝜋

𝐼𝜌𝑎 2
𝛥𝑉 = (
2𝜋 𝑛𝑎(1 + 𝑛)(2 + 𝑛)
) (11)
125
Pada saat akuisisi data, yang terukur secara langsung adalah nilai beda potensial(∆V)
dan arus yang menjalar pada bumi (I), sedangkan yang dicari adalah resistivitas semu
(ρa), sehingga persamaan 11 bentuknya dapat dirubah menjadi :

𝛥𝑉
𝜌𝑎 = 𝜋𝑛(1 + 𝑛)(2 + 𝑛)𝑎 (12)
𝐼

𝐾 = 𝜋𝑛(1 + 𝑛)(2 + 𝑛)𝑎 (13)

Nilai K adalah konstanta konfigurasi dari konfigurasi Dipole-dipole, n adalah


bilangan pengali atau rasio jarak antara C1 dan P1 pada Gambar 5.3. Nilai n adalah
faktor perulangan, semakin besar n maka semakin dalam penetrasi kedalaman nilai
resistivitas yang dihasilkan, sedangkan a adalah spasi antar elektroda (antar elektroda
arus dan antar elektroda potensial). Dalam proses pengukurannya elektroda yang
akan berpindah dalam konfigurasi dipole-dipole adalah elektroda potensial, dimana
elektroda arus akan tetap. Pengukuran pertama dilakukan dengan n=1, sehingga akan
didapat jarak yang sama antar semua elektroda. Pengukuran kedua, dilakukan dengan
n=2, dimana elektroda potensial akan digeser; elektroda C1 berjarak 2a dari elektroda
P1 dan elektroda P1 tetap pada jarak a dari elektroda P2. Begitu seterusnya untuk
n=3, n=4, dst., dimana jarak elektroda P1 adalah na dari elektroda C1. Dalam
praktiknya di lapangan, biasanya elektroda arus (elektroda C1 dan C2) dan jumlah
keseluruhan elektroda potensial dipasang sesuai n yang ditetapkan sebelumnya. Hal
ini dilakukan guna efektifitas waktu, namun pengukuran tetap dilakukan antara 2
elektroda arus dan 2 elektroda potensial.

Gambar 5.4. Ilustrasi kedalaman data yang didapat pada akuisisi dipole-dipole
(Abdila, 2018)

Konfigurasi ini lebih banyak digunakan untuk eksplorasi mineral-mineral sulfida


dan bahan-bahan tambang dengan kedalaman yang relatif dangkal.

126
E. Kedalaman Penetrasi
Kedalaman maksimum titik pengukuran pada metode geolistrik dengan konfigurasi
dipole-dipole dipengaruhi oleh besarnya nilai a (jarak spasi antar elektroda arus dan
elektroda potensial), dan n (bilangan pengali atau rasio jarak elekroda arus dan
elektroda potensial yang paling dekat). Semakin banyak n yang digunakan maka
kedalaman maksimum yang dicapai akan semakin dalam. nilai n berefek langsung
terhadap lapisan titik pengukuran yang dapat dicapai (gambar 5). Kemudian, semakin
besar a maka semakin dalam juga kedalaman maksimum yang bisa dicapai, namun
semakin besar nilai a, akan memperburuk resolusi data yang didapatkan. Untuk
mengetahui kedalaman maksimumnya dapat ditentukan dengan cara berikut :
● Cara Kondisi Ideal Sederhana
Pada kondisi material yang Ideal, yaitu homogen dan isotrop. Titik kedalaman
dapat dicari dengan rumus Z pada Gambar 5.5. Dengan X adalah spasi antar
elektroda (a) dan n adalah faktor pengali. Jika ingin mencari kedalaman
maksimum, masukkan nilai n maksimum pada desain survey.

Gambar 5.5. Titik kedalaman pengukuran

● Menggunakan Tabel Edward.


Tabel Edward ini digunakan untuk mempermudah mencari kedalaman
maksimum dari suatu konfigurasi dan desain survey. Caranya ialah mengalikan
nilai spasi elektroda maksimum (a) atau panjang bentangan maksimum (L)
dengan faktor kedalaman yang sesuai dengan tabel 1. Misalkan Untuk konfigurasi
Wenner Alpha, spasi elektroda maksimumnya (a) adalah 50 m (atau panjang
bentangannya 150 m). Maka kedalaman maksimumnya adalah mengalikan a = 50
m dengan faktor pengali wenner alpha pada kolom ze/a (50 x 0,519 = 25,95 m),
atau mengalikan 150 m dengan faktor pengali pada kolom ze/L (150 x 0,173 =
25,95 m). Sedangkan untuk konfigurasi dipole-dipole, pole-dipole dan wenner-
schlumberger faktor nilai n juga masuk dalam perhitungan. Pada konfigurasi yang
menggunakan 4 elektroda (wenner, wenner-schlumberger dan dipole-dipole),
akan lebih mudah menggunakan panjang bentangan maksimum L. Misalkan,
konfigurasi yang digunakan dipole-dipole dengan a = 20 m, dan n = 8. Maka nilai
L = 200 m. Didapatkan kedalaman maksimumnya dengan mengalika L = 200 m
dengan faktor pengali dipole dipole n = 8 pada kolom ze/L (200 x 0,224 = 44,8
m).
127
Tabel 2.1. Tabel Kedalaman Investigasi untuk berbagai konfigurasi (Loke,
1996)

F. Sifat Kelistrikan Batuan.


Sifat kelistrikan batuan adalah karakteristik dari batuan dalam menghantarkan
arus listrik. Batuan dapat dianggap sebagai medium listrik seperti pada kawat
penghantar listrik, sehingga mempunyai tahanan jenis (resistivitas). Resistivitas
batuan adalah hambatan dari batuan terhadap aliran listrik. Resistivitas batuan
dipengaruhi oleh porositas, kadar air dan, mineral. Menurut Telford aliran arus listrik
di dalam batuan dan mineral dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu konduksi
secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi secara dielektrik.
● Konduksi secara Elektronik (Ohmik)
Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai banyak elektron bebas
sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan atau mineral oleh elektron-elektron
bebas.
● Konduksi secara Elektrolitik
Sebagian besar batuan memiliki resistivitas yang tinggi, kemudian batuan yang
bersifat porus dan memiliki pori-pori yang terisi fluida dapat menjadi penghantar
elektrolitik, di mana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik dalam
fluida. Besarnya resistivitas akan bergantung seberapa banyak pori-pori yang
ada pada batuan tersebut, kandungan fluida di dalamnya, dan jenis fluida.

128
● Konduktivitas Dielektrik
Konduksi pada batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran listrik,
artinya batuan atau mineral memiliki elektron bebas yang sedikit, bahkan tidak
ada sama sekali, tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar maka
elektron dalam bahan berpindah dan berkumpul terpisah dari inti, sehingga
terjadi polarisasi.

II. IP (Induced polarization)


A. Prinsip Dasar Pengukuran
Metode IP (Induced Polarization) merupakan pengembangan dari metode
resistivitas. Pengukuran metode geolistrik IP berbarengan dengan metode geolistrik
resistivitas. Sehingga konfigurasi yang digunakan sama, pada penelitian ini yaitu
dipole-dipole. Prinsipnya, Arus dialirkan melalui elektroda arus. Kemudian diukur
beda potensial (∆V) yang timbul di elektroda potensial, beda potensial ini dicatat
yang nantinya akan menjadi data geolistrik resistivitas. Jika arus dinyalakan terus
menerus beda potensial secara teori akan konstan, kemudian ketika dimatikan beda
potensial ini akan langsung hilang atau menjadi nol. Namun pada beberapa material,
beda potensial yang terukur tidak langsung nol dan menurun secara perlahan. Hal ini
disebut dengan Overvoltage Effect atau Chargeability. Yaitu kemampuan dari
material yang bisa menyimpan elektron. Dalam sebuah rangkaian listrik sifatnya
seperti sebuah kapasitor. Fenomena inilah yang akan diukur pada geolistrik IP. Ada
4 macam metode pengukuran pada geolistrik IP yaitu pengukuran dalam domain
waktu, domain frekuensi, pengukuran sudut fasa dan Magnetic Induced Polarization
(MIP).

B. Sumber Pengaruh Polarisasi Terinduksi


Terbentuknya fenomena polarisasi pada batuan dipengaruhi oleh 2 penyebab, yaitu :
● Polarisasi Elektroda
Polarisasi elektroda terjadi jika suatu medium mengandung mineral logam
pada porinya. Keberadaan mineral logam akan berpengaruh ketika arus
diinjeksikan pada medium dimana arus akan mengalir dengan 2 cara yaitu secara
elektronik (melewati mineral logam tersebut) dan secara elektrolit (melalui fluida
dalam pori). Reaksi kimia akan terjadi pada bidang batas antara mineral logam
dan fluida ketika arus diinjeksikan. Reaksi ini mungkin terjadi akibat perbedaan
fase padat pada mineral dan fase cair pada fluida. Fase padat akan menghalangi
pergerakan elektron yang berasal dari arus injeksi sehingga elektron akan
terkumpul pada bidang batas antara mineral logam dan fluida cair di dalam pori
batuan (Gambar 5.6). Polarisasi atau pengkutuban akan terjadi pada bidang batas
tersebut dan menghasilkan beda potensial, beda potensial ini disebut overvoltage.
Oleh karena itu, polarisasi ini juga sering disebut sebagai polarisasi overpotensial.

129
Gambar 5.6. Ilustrasi Polarisasi Elektroda (Telford, 1990)

Batuan dengan kandungan mineral ini, akan menyimpan muatan (sebagai


kapasitor) sehingga ketika arus listrik berhenti diinjeksikan, tegangan sisa tidak
langsung hilang, melainkan berangsur-angsur meluruh. Ikatan ion di antara
bidang batas makin melemah, sehingga energi ion yang menumpuk pada bidang
batas partikel akan melemah, dan akhirnya terlepas secara meluruh terhadap
waktu. Penghitungan tegangan yang meluruh terhadap waktu ini mendasari
pengukuran tegangan dalam domain waktu (time domain) inilah yang
menjelaskan efek peluruhan ketika arus listrik dihilangkan.

● Polarisasi Membran
Polarisasi membran terjadi pada batuan sedimen yang tidak memiliki
kandungan logam. Pada proses polarisasi membran ini akan terjadi reaksi kimia
antara arus listrik injeksi dan mineral sedimen. Polarisasi membran dapat
disebabkan oleh pori-pori batuan yang menyempit, dan keberadaan mineral
lempung (clay). Pada pori yang sempit, ion positif akan terkumpul mendominasi
pori tersebut, karena batuan disekitarnya adalah mineral sedimen yang biasanya
bermuatan negatif. Keberadaan ion positif dalam pori ini akan menghalangi
jalannya arus. Polarisasi akan terjadi pada pori sempit ini dimana ion negatif akan
terkutub di pori sempit batuan, dan terukur. Ketika arus dimatikan,
ketidakseimbangan muatan ini akan kembali normal, pada Gambar 5.7.

130
Gambar 5.7. Ilustrasi polarisasi pori sempit batuan

Selain itu, efek polarisasi juga dapat terjadi pada pori-pori batuan yang
mengandung mineral lempung yang mengalami kontak dengan larutan (fluida).
Karena mineral lempung mengandung muatannya negatif, mineral lempung akan
mampu menarik ion-ion positif di sekitar permukaannya dan meluas pada
elektrolit (Fluida yang berada di dalam pori). Penumpukan muatan ini akan
menghambat jalannya arus listrik yang melaluinya sehingga terjadilah hambatan
di sepanjang pori-pori batuan yang mengandung mineral lempung. Dengan
terbentuknya hambatan-hambatan berupa membran membran,maka mobilitas ion
akan berkurang sehingga terbentuklah gradien konsentrasi ion-ion yang
menentang arus listrik yang melaluinya. Gejala ini menunjukkan adanya
polarisasi. Pengurangan mobilitas ion ini akan terlihat jika mengalirkan arus
dalam frekuensi rendah. Hal ini yang kemudian mendasari perhitungan beda
tegangan dalam domain frekuensi.

Gambar 5.8. Ilustrasi polarisasi membran pada mineral lempung

C. Metode Pengukuran Polarisasi Terinduksi


● Metode Domain Waktu
Prinsip pengukuran dengan domain waktu yaitu dengan membandingkan nilai
potensial terpolarisasi (nilai tegangan akhir) terhadap potensial awal yang
diinjeksikan (nilai tegangan awal). Pada saat arus diberhentikan, maka penurunan
beda potensial dapat diukur sebagai fungsi waktu. sehingga akan diperoleh
parameter nilai chargeabilitas (kemampuan batuan untuk menyimpan tegangan
131
listrik). Besarnya chargeabilitas bergantung pada jenis bahan dan selang waktu
pengaliran arus. Respon dari waktu peluruhan yang relatif lebih lama akan
mengindikasikan keberadaan mineral konduktif, dan waktu peluruhan lebih cepat
mengindikasikan tidak terdapat mineral konduktif. Nilai m (chargeabilitas) dapat
dituliskan sebagai berikut :
𝑉𝑠
𝑚 = (14)
𝑉𝑝
Dengan m adalah chargeabilitas, Vp adalah potensial terukur ketika arus
diinjeksikan dan Vs adalah potensial terukur ketika arus dimatikan. Secara
instrumen, menghitung potensial Vs adalah hal yang sulit dilakukan ketika arus
dimatikan, karena efek elektromagnetik alat, dan kecilnya nilai tersebut. Maka
dari itu, dilakukan perhitungan matematis untuk mengetahui besarnya nilai
potensial hasil polarisasi. Dari respon grafik polarisasi (Gambar 5.9) didapatkan
bahwa nilai Vs adalah hasil peluruhan tegangan terhadap waktu, dan
menghasilkan suatu daerah luasan dibawah kurva peluruhan potensial (Gambar
5.9).

Gambar 5.9. Grafik peluruhan tegangan terhadap waktu ketika arus dimatikan
(Telford, 1990)

Oleh karena itu, chargeabilitas juga dapat ditinjau dengan menerapkan konsep
integral terhadap nilai tegangan setelah arus dimatikan. Akan didapat
chargeabilitas semu (apparent chargeability) dalam orde waktu milisekon.

1 𝑡2 𝐴
𝑚 = ∫𝑡1 𝑉𝑠 (𝑡) 𝑑𝑡 = (15)
𝑉𝑝 𝑉𝑝

Dengan Vs adalah potensial terukur setelah arus dimatikan pada waktu t1 hingga
t2 sedangkan Vp adalah potensial awal ketika arus diinjeksikan. Nilai
chargeabilitas akan menunjukkan lama tidaknya efek polarisasi untuk
menghilang sesaat setelah arus dimatikan. Sehingga jika nilai chargeabilitas
besar, maka waktu meluruhnya lama, dan mengindikasikan keberadaan mineral
konduktif.

132
● Metode Domain Frekuensi
Prinsip teknik pengukuran kawasan frekuensi memanfaatkan arus bolak balik
dengan dua frekuensi yang berbeda atau lebih pada waktu tertentu (rendah dan
tinggi, biasanya digunakan 0.1 dan 5 Hz, atau 0.3 Hz dan 2.5 Hz). Kemudian
dilihat bagaimana respon yang diberikan oleh batuannya, dengan
mentransformasi fourier nilai IP domain waktu menjadi nilai IP dalam domain
frekuensi. Tegangan yang dihasilkan dari peristiwa ini menggambarkan sifat
polarisasi suatu medium. Jika pada batuan tidak terdapat mineral konduktif, maka
nilai resistivitas akan sama pada setiap frekuensi. Namun jika terdapat mineral
konduktif, maka nilai resistivitas yang terukur pada frekuensi tinggi akan lebih
rendah dibanding frekuensi rendah. Beberapa parameter yang diukur adalah
sebagai berikut :
➔ Frequency Effect (FE)
Frequency Effect adalah respon keberadaan mineral yang terdapat pada pori-
pori batuan. Diperoleh dari perbandingan selisih tegangan frekuensi rendah
dan tinggi terhadap tegangan terdeteksi pada dua elektroda potensial dan
diekspresikan sebagai :

𝑉𝑙𝑜𝑤 − 𝑉ℎ𝑖𝑔ℎ 𝜌𝑙𝑜𝑤 − 𝜌ℎ𝑖𝑔ℎ


𝐹𝐸 = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐹𝐸 = (16)
𝑉ℎ𝑖𝑔ℎ 𝜌ℎ𝑖𝑔ℎ

Dimana V_low dan V_high adalah tegangan pada frekuensi rendah dan
tinggi, sedangkan ρ_low dan ρ_high adalah resistivitas semu pada frekuensi
rendah dan tinggi. Dapat dicari nilai presentasenya yaitu :

𝑃𝐹𝐸 = 𝐹𝐸 × 100 % (17)

➔ Metal Factor (MF)


Metal Factor merupakan PFE yang dinormalisasikan (dibagi) oleh
resitivitas
terukur pada frekuensi yang rendah. Nilai ini dihitung dari nilai FE untuk
mengimbangi variasi dalam resistivitas batuan induk termasuk perubahan
elektrolitik, suhu, ukuran pori, yang tidak berhubungan dengan efek
kapasitor dari material logam (Telford, et al., 1976). Metal Factor (MF)
ditunjukkan dalam rumus di bawah ini :

(𝑃𝐹𝐸)
𝑀𝐹 = 2𝜋103 (18)
𝜌𝑙𝑜𝑤

Dengan MF memiliki satuan siemens/meter

133
D. Sumber Noise
● Potensial Diri (Self Potential)
Efek polarisasi disebabkan elektroda yang digunakan, terutama jika elektroda
adalah besi. Sebaiknya dihindari penggunaan elektroda besi dan diganti dengan
porous pot, atau dengan mengganti arus DC menjadi arus AC. Efek ini dapat
dihilangkan dengan SP Kompensator atau dengan mengurangi nilai beda
potensial terukur dengan nilai sp terukur pertama kali.
● Capacitive Couple
Karena adanya kebocoran arus antara elektroda dan kabel potensial, atau antara
kabel arus dan kabel potensial. Dilakukan pengecekan peralatan dahulu guna
mengantisipasi hal tersebut.
● Electromagnetic Couple
Karena induksi antara arus dan kabel potensial. Hal ini beresiko pada bentangan
survei dengan kabel yang panjang.
● Tanah Kering
Keringnya tanah mampu menghambat proses penghantaran arus dan proses
elektrolisis.
● Power Line
Jaringan Pipa dan struktur bangunan yang akan menghasilkan anomali IP baru
dan menghilangkan nilai arus sebenarnya.

AKUISISI DATA LAPANGAN

I. Alat dan Bahan

● Syscal jr ● Multimeter
● Aki 12 V ● Larutan CuSo4
● Elektroda minimal 2 buah ● Parang
● Porous Pot minimal 9 buah ● Palu
● Kabel ● Cangkul
● Konektor (capit buaya) ● Meteran
● Peta (RBI, topografi, geologi) ● Kompas
● Logsheet ● Ponco
● Klinometer
● Buku Manual

134
Spesifikasi Umum
II. Informasi Instrumen
· Berat : 13,8 kg
· Dimensi : 31 x 23 x38 cm
· Operating temperature: -20 to +70 °C
Spesifikasi arus keluaran :
· Automatic Ranging ( dikontrol sebuah
mikroprosesor)
· Intensitas. : sampai dengan 1250 mA
· Tegangan : hingga 400 V (800 V puncak
Gambar [Link] Jr dan ke puncak)
spesifikasinya · Daya : hingga 200 W
· Waktu siklus dipilih dari : 0.25, 0.5, 1, 2,
· Kompensasi SP melalui koreksi
4, atau 8 s
penyimpangan (drift) secara linear
· Reduksi noise : stacking kontinyu terpilih
· Power supply : two internal rechargable
dari 1 hingga 255 stacks
12 V/ 7.2 Ah batteries

135
III. Flowchart Pengolahan

Gambar 3.2. Flowchart Pengolahan Data

136
IV. Langkah Kerja

A. Prosedur Pengukuran Metode IP


Konfigurasi yang digunakan adalah konfigurasi Dipole-Dipole.

Gambar 3.3. Skema konfigurasi Dipole-Dipole


Keterangan :
A dan B = elektroda arus
M dan N = elektroda potensial
a = spasi antar elektroda (meter)
n = faktor pengali (n bernilai 1, 2, 3, dst.)

Elektroda potensial M dan N di geser ke kiri dengan jarak na sebanyak n kali


sesuai dengan skema pengaturan alat yang digunakan. Dalam survei lapangan, untuk
memudahkan pengukuran dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini :
1. Tancapkan elektroda arus (C) dan tanam elektroda potensial (porous pot)
seperti pada skema dibawah ini dengan nilai spasi antar elektroda (a) yang
sudah ditentukan. Skema ini dibuat untuk nilai n=8.

Gambar 3.4. Skema pengukuran IP di lapangan


2. Elektroda yang sudah menancap dengan baik di tanah, disambungkan
dengan kabel roll elektroda. Porous pot yang sudah ditanam sedalam leher
porous pot, disambungkan dengan kabel potensial 4 warna untuk P1-P4
dan kabel potensial 4 warna untuk P6-P9, dengan pengaturan warna :

P1 : H (Hitam)
P2 : M (Merah)
P3 : K (Kuning)
P4 : B (Biru)
P6 : B (Biru)
P7 : K (Kuning)
P8 : M (Merah)
P9 : H (Hitam)

137
P5 atau yang dekat dengan operator hanya perlu disambung dengan kabel
penghubung yang pendek (capit buaya).
3. Pastikan elektroda, porous pot, dan kabel sudah terpasang dengan benar.
Lakukan pengecekan sambungan kabel. Bisa dengan menggunakan
fungsi RS CHECK untuk mengecek sambungan elektroda arus dan
MONITOR untuk mengecek sambungan porous pot pada instrumen
Syscal. Pengecekan juga dapat dilakukan menggunakan multimeter.
4. Apabila alat sudah terpasang semua dan tersambung dengan baik, lakukan
pengukuran resistivitas dan chargeabilitas sesuai konfigurasi.
5. Untuk memindahkan porous pot sesuai konfigurasi, hanya perlu
mengganti warna kabel yang masuk ke alat sesuai dengan warna yang
tersambung dengan porous pot.
6. Apabila pengukuran sudah selesai hingga n=8, semua kabel dan alat
ditarik ke arah pergeseran lintasan sejauh a dan dilakukan pengukuran
lagi.

138
B. Prosedur Pengukuran Beda Tinggi Menggunakan Klinometer
Klinometer merupakan alat sederhana yang digunakan untuk mengukur sudut
elevasi yang dibentuk antara garis datar dengan sebuah garis yang menghubungkan
sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung) suatu objek. Pada
terapannya, alat ini dapat digunakan pada pekerjaan pengukuran tinggi (atau
panjang) suatu objek dengan memanfaatkan sudut elevasi.
Penggunaan klinometer dilakukan dengan 2 orang mengikuti langkah sebagai
berikut :
1. Lakukan kalibrasi bidikan klinometer dengan pasangan anda. Kalibrasi
ini dilakukan dengan cara anda dan teman anda berdiri pada satu
permukaan datar dan bidik klinometer pada 0 derajat. Amati letak
jatuhnya garis bidikan klinometer pada pasangan yang anda bidik. Jika
anda dan pasangan anda memiliki tinggi badan yang sama, garis bidikan
klinometer seharusnya jatuh pada mata pasangan anda, jika tidak maka
dapat menyesuaikan.
2. Berdirilah di titik yang akan dilakukan pengukuran, yaitu mulai dari titik
elektroda arus pertama (C1). Catat nilai elevasi titik C1 yang didapatkan
dari GPS Handheld sebagai acuan titik pertama.
3. Arahkan pandangan satu mata anda ke mata teman anda yang berdiri pada
titik selanjutnya (C2), atau ke bagian lainnya yang dirasa sejajar
ketinggiannya dengan mata anda lalu baca angka di sebelah kiri di dalam
klinometer dengan satu mata lainnya.
4. Membidik teman anda dilakukan agar bidikan anda sejajar dengan
permukaan tanah. Apabila anda membidik permukaan tanah langsung
saat topografi naik maka hasil bidikan anda akan lebih landai atau apabila

139
5. saat topografi turun, bidikan anda akan lebih curam. Sehingga tidak
menggambarkan sudut elevasi sebenarnya.
6. Apabila untuk membidik titik selanjutnya terhalang topografi tinggi atau
bentukan bukit, maka anda diperbolehkan membidik dahulu bagian atas
bukit tersebut, kemudian dari atas bukit baru diteruskan membidik titik
anda sebenarnya.
7. Catat nilai yang terbaca pada klinometer. Nilai positif untuk topografi
naik dan nilai negatif untuk topografi turun.
8. Ulangi pengukuran beda tinggi untuk setiap posisi elektroda selanjutnya
atau setiap jarak a.

Gambar 3.5. Skema pengukuran sudut elevasi menggunakan klinometer

C. Prosedur Pengoperasian Alat (Syscal Jr)


● General Set Up

1. BATT
Tombol ini berfungsi untuk menampilkan voltase baterai (aki) yang kita
miliki. Pengecekkan baterai aki dilakukan berulang untuk selalu
mengetahui [Link] Syscal apabila menekan tombol Batt akan
menunjukan tampilan sebagai berikut :

Tampilan tersebut menunjukan kapasitas Aki yang kita miliki masih Full.
Apabila terdapat tampilan berikut

140
Voltase Aki kita terlampau sedikit sehingga harus menggantikan dengan
Aki yang lain untuk syscal, voltase aki yang dapat digunakan adalah 12,7
V – 100 % dan apabila voltase aki sebesar 10 V – 0 % maka aki tidak
dapat digunakan

2. RS CHECK
Kegunaan dari tombol RS CHECK adalah untuk melakukan pengecekan
antara elektroda arus dengan kontak tanah, apabila elektroda arus dengan
kontak tanah terdapat pembacaan 1 kohm maka sambungan/kontak
dengan ground tidak terlalu baik. pembacaan bagus berkisar kurang dari
0,3 kohm.

3. MODE
Pada pilihan mode, anda dapat mengatur pilihan mode pengukuran yang
dapat dilakukan, terdapat 3 mode dalam pemilihan syscal ini yaitu Rho,
RHO IP, Multi Electrode.

4. E. ARRAY
Tombol E. ARRAY memiliki kegunaan yaitu memilih konfigurasi yang
akan kita gunakan. Pada syscal konfigurasi yang tersedia adalah

5. SPACING
Apabila dalam penggunaan syscal memilih electrode array, maka
selanjutnya adalah menentukan geometri parameter yang
digunakan. Berikut merupakan parameter geometri di setiap
konfigurasi :

141
Dipole-dipole

Keterangan :
XC = jarak dari 0 sampai
electrode B
XP = jarak dari 0 sampai
electrode M
D = Spasi yang digunakan

6. MONITOR
Kegunaan dari tombol Monitor adalah untuk melakukan
pengecekan elektroda potential terhadap noise. Dimana
pengecekan ini bertujuan untuk melihat nilai potensial yang
terbaca pada saat sebelum diinjeksikan arus. Pada syscal setelah
menekan tombol Monitor akan muncul tampilan:

Dan apabila menekan tombol ENTER maka akan muncul


tampilan sebagai berikut

Pada tampilan tersebut merupakan selisih nilai yang terbaca antara


potential observasi dengan potential referensi.
142
7. START
Tombol start berfungsi untuk memulai menginjeksikan arus, dimana pada
saat melakukan injeksi arus dilayar akan terbaca

SP = potential yang terbaca sebelum diinjeksikan arus


HV = high voltage yang disuplai (Vab). Garis putus menunjukan arus
transmisi yang diinjeksikan

Keterangan :
v = voltase yang terbaca
dalam mV
i = arus yang terukur dalam
mA

m = Global chargeability mV/V


q = standard deviasi dari V/I ratio atau apparent resistivity

# = angka stack yang dijalankan


Setelah selesai injeksi dapat dilihat hasilnya dengan menekan tombol
RESULT dan akan menampilkan tampilan :

V = rata-rata voltase yang terukur Vmn pada mV


I = rata-rata arus yang dikeluarkan pada AB mA
Sp = Potential yang terukur sebelum diinjeksikan arus
Apabila ditekan tombol ENTER akan muncul
tampilan :

143
Apabila ditekan tombol ENTER lagi akan muncul tampilan :

Nilai M tersebut merupakan nilai yang terbaca pada Syscal, karena


chargeability merupakan peluruhan secara eksponensial dan
dalam alat sendiri pembacaan berupa diskrit maka hasil
chargeability yang digunakan merupakan “windowing” dari setiap
peluruhan tersebut. Dari pembacaan tersebut dapat dijadikan QC
dimana M yang terbaca semakin mengecil.

● Prosedur Penggunaan Alat


1. Lakukan pengecekkan tegangan aki dengan menekan menu “BATT”.
Pastikan tegangan aki menunjukkan angka diatas 12 Volt
2. Tekan Menu “MODE”. Untuk pengukuran IP pilih “RHO IP”
3. Pilih konfigurasi yang digunakan dengan menekan “[Link]”.
Pilih konfigurasi other tanpa memasukkan parameter apapun (Nilai
yang didapat adalah R raw, yang belum dikalikan konstanta
konfigurasi)
4. Pastikan elektroda arus, porous pot dan kabel sudah terhubung. Tekan
menu berikut :
● RS CHECK (Digunakan untuk mengecek kontak elektroda arus
dengan tanah. Pembacaan yang bagus seharusnya bernilai kecil,
idelanya 0 kohm dengan batas maksimal nilai 3 kohm)
● MONITOR (Digunakan untuk melakukan pengecekkan SP, yang
merupakan ambient noise untuk IP. Apabila nilai telah stabil
pengukuran dapat dilakukan)
144
5. Jika semua telah terhubung dan terpasang dengan baik, lakukan
pengukuran dengan menekan “START”. Tunggu proses
pengukurannya.
6. Tekan “RESULT” untuk memunculkan hasil pengukuran berupa
tegangan (V), arus (I), hambatan (R) dan chargeability (M) di layar
syscal. Semua hasil tersebut tidak ditampilkan secara keseluruhan
langsung, tekan “ENTER”, untuk mengakses hasil selanjutnya. Catat
semua nilai tersebut.

V. HSE (Kejadian Luar Biasa)


1. Kasus: Keterdapatan kabel terlilit saat akuisisi.
Solusi: Bentangkan kabel dengan cara diulur seperti mengulur benang layang-
[Link] mengulur kabel dengan cara ditarik.
2. Kasus: Keterdapatan tembaga tidak tersambung dengan elektroda.
Solusi: Potong ujung tembaga yang tidak tersambung dengan elektroda lalu
sambung
Bagian tembaga yang tidak terpotong ke elektroda lalu lilit dengan lakban.
3. Kasus: Keterdapatan porous pot yang pecah.
Solusi: Sediakan porous pot sebanyak mungkin untuk mengantisipasi adanya
kerusa-
Kan saat di lapangan.
4. Kasus: Keterdapatan sungai, sawah, tumbuhan warga di lokasi porous pot.
Solusi: Geser lokasi porous pot maju atau mundur tidak jauh dari desain survei,
dan tetap berada pada garis lintasan.
5. Kasus: Keterdapatan overheat pada instrumen pengukuran
Solusi: Matikan instrumen pengukuran hingga suhu instrumen turun, usahakan
instrumen tidak terkena sinar matahari langsung
6. Kasus: Hujan terjadi saat akuisisi data
Solusi: Segera lindungi alat dari tetesan air menggunakan plastik, payung, dan
bawa ke tempat yang teduh seperti rumah warga, masjid, atau pos ronda.
7. Kasus: Lokasi akuisisi terdapat banyak genangan air
Solusi: Hindarkan alat dari air terutama ujung-ujung kabel dan instrumen
pengukuran
8. Kasus: Keterdapatan keraguan dalam memasang dan melepas kabel di aki
Solusi: Pastikan saat menancapkan kabel ke aki, kabel negatif (hitam) tertancap
lebih dahulu baru kabel positif (merah). Pada saat melepas, pastikan kabel positif
(merah) tercabut dahulu lalu kabel negatif (hitam). Konsep: jangan biarkan kabel
positif (merah) tertancap sendirian tanpa kabel negatif (hitam) tertancap di aki.
9. Kasus: Aki habis saat akuisisi data.
Solusi : Pastikan membawa aki yang cukup dan sudah terisi penuh sebelum
akuisisi dilakukan.
10. Kasus: Pembacaan instrumen tidak sesuai dengan kondisi teoritis lapangan.
Solusi: Amplas tembaga pada porous pot yang berkarat, pastikan semua kabel
terhubung, dan larutan CuSO4 dalam porous pot terisi penuh.
145
11. Kasus: Keterdapatan ancaman dari binatang buas
Solusi: Amankan alat agar tidak kontak dengan binatang buas dengan cara
membawa ke tempat yang lebih aman (pemukiman warga).
12. Kasus: Keterdapatan bencana alam saat akuisisi data (gempa bumi dan tanah
longsor).
Solusi: Amankan instrumen pengukuran dari getaran dan timbunan tanah dan
bawa ke tempat yang lapang.
13. Kasus: Keterdapatan personil akuisisi dalam keadaan sakit (tidak memungkinkan
untuk akuisisi).
Solusi: Hubungi panitia P3K dan istirahatkan personil yang sakit di tempat yang
aman(pemukiman) dan personil lain merangkap tugas personil yang sakit
tersebut.

VI. Kontrol Data


Kontrol data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diambil saat proses
akuisisi memiliki kualitas yang baik. Kontrol data dalam metode IP yang dapat dilakukan
di lapangan saat melakukan akuisisi dengan cara melakukan checking pada 3 parameter
yang terdapat pada instrumen Syscal Jr adalah :
a. Nilai Potensial (V)
Dalam satu set pengukuran (dari n ke 1 hingga ke i), nilai potensial harus mengecil,
dengan catatan arus yang diinjeksikan hampir sama. Hal ini sesuai dengan persamaan
v = I rho/2 phi r. dimana v dan r berbanding terbalik.
b. Nilai Q (Standar deviasi)
Merupakan standar deviasi yang dihitung oleh alat. Data yang bagus memiliki Q
bernilai kecil.
c. NIlai M
Dalam satu kali pengukuran dan pembacaan nilai M, untuk M1 hingga M4, nilainya
semakin menurun dengan asumsi grafik peluruhan potensial menurun secara
eksponensial. Namun dalam kenyataan di lapangan, nilai M1 hingga M4 tidak selalu
menurun, terkadang bernilai sama dan dalam beberapa kasus terjadi kenaikan nilai
M. Jika hal ini terjadi, tetap lanjutkan pengukuran dengan catatan nilai M tidak terlalu
besar kenaikannya dan cek pada logsheet anda apakah pengukuran pada n yang sama
sebelumnya memiliki ciri kenaikan nilai M atau tidak. Apabila M yang terbaca -99.99
berarti terjadi error pengukuran, dan perlu diulangi kembali dengan memastikan
semua sambungan kabel dan kontak elektroda sudah benar.

3. PENGOLAHAN DATA
I. Software Digunakan
Pengolahan data IP dapat dilakukan dengan banyak software, namun dalam
bahasan kali ini akan lebih difokuskan pada empat software saja yaitu Ms Excel,
Res2Dinv, Surfer, dan Geosoft Oasis Montaj. Software Ms Excel digunakan untuk
menghitung beberapa parameter yang tertera di logsheet. Setelah itu hasil hitungan Ms
Excel akan diinput ke dalam software Res2dinv untuk menampilkan pseudosection
resistivitas dan chargeabilitas dari data masing-masing lintasan akuisisi. Agar lebih
146
mudah dalam proses interpretasi maka dibutuhkan software Surfer dan Geosoft Oasis
Montaj untuk menampilkan cross-section hasil pengolahan masing-masing data lintasan
akuisisi pada software Res2dinv. Geosoft Oasis Montaj digunakan untuk memodelkan
penampang secara 3 Dimensi dari nilai resistivitas dan chargeabilitas dari beberapa
lintasan akuisisi.

II. Pengolahan Data di Excel


A. Log Sheet
Tabel 4.1. Tabel Log Sheet

B. Pengolahan Excel
Tabel 4.2. Tabel Pengolahan Data

C. Log Sheet Sudut Elevasi


Tabel 4.3. Tabel Log sheet Sudut Elevasi

D. Pengolahan Sudut Elevasi


Tabel 4.4. Tabel Pengolahan sudut elevasi

147
E. Format Notepad
Tabel 5. Format penulisan data di Notepad

III. Pengolahan Data di Res2DInv


1. Setelah disimpan dalam format .dat, buka res2Dinv lalu buka file .dat
sebelumnya dengan klik file->read data file.
2. Langkah selanjutnya yaitu pilih menu inversion kemudian kita pilih Least
square inversion kemudian simpan dalam format .inv. Res2Dinv akan
melakukan proses beberapa kali iterasi(sesuai pengaturan) kemudian akan
muncul tampilan seperti berikut :

Gambar 4.5. Hasil inversi oleh perangkat lunak Res2Dinv.

Pada gambar di atas dilakukan 5 kali iterasi. Terdapat tiga model, model yang
paling atas adalah Measured Model atau model yang terukur di lapangan, di

148
bawah nya ada calculated model yaitu model yang terhitung, kemudian model
yang paling bawah adalah model resistivitas nya.

3. Melihat hasil inversi dengan cara klik pada menu display - > show inversion
result. Menu ini akan menampilkan beberapa informasi data kita seperti nama
lintasan, spasi, jumlah data, RMS Error, dll. Kemudian untuk menampilkan hasil
inversi pilih menu display sections -> choose resistivity or IP display. Kemudian
akan muncul tiga pilihan, yaitu untuk menampilkan hasil resistivity saja,hasil IP
saja, atau hasil kedua nya. Untuk menampilkan hasil kedua nya (resistivity dan
IP) klik menu display resistivity dan IP models lalu OK. Kemudian klik display
sections -> display data and model section. Akan muncul kolom jumlah iterasi,
diisi sesuai kebutuhan (misalnya 5 kali iterasi) OK, lalu muncul kolom Select
Type of Contour Intervals untuk nilai resistivity, pilih logarithmic, OK, lalu
kolom yang sama untuk IP dan pilih linear lalu OK. Maka akan muncul tampilan
seperti berikut :

Gambar 4.6. Model hasil inversi dengan lima kali iterasi, ada dua model.

Model yang di atas adalah model resistivitas dengan interval kontur nya secara
logaritmik, yang dibawah adalah model IP dengan tipe interval kontur nya secara
linear.

4. Pengurangan Noise dengan Damping Factor Untuk mengurangi error tersebut


kita bisa merubah beberapa pengaturan misal pilih menu change settings akan
terdapat beberapa menu. Misal pilih inversion damping parameters->damping
factors. Untuk data yang banyak noise harus diberi damping factor yang lebih
besar. contoh pengisian seperti pada gambar :

149
Gambar 4.7. Pengaturan Parameter Damping Factor

Setelah itu pilih optimise damping factor. Bisa juga mengatur vertical/horizontal
flatness filter ratio untuk mempertajam arah anomaly, apabila anomali
memanjang vertikal maka rationya dapat ditingkatkan dan juga sebaliknya.

5. Selanjutnya Pengaturan Jumlah Iterasi, iterasi sangat penting untuk diatur,karena


semakin banyak dilakukan iterasi maka model yang dibuat akan semakin berubah
dan akan semakin menjauhi model asli nya. Rata-rata iterasi yang biasa dilakukan
adalah sebanyak lima kali. Namun pada saat keadaan tertentu dibutuhkan iterasi
yang lebih banyak ataupun lebih sedikit, cara untuk mengubah jumlah iterasi nya
adalah pada menu change setting -> Inversion Progress Setting -> Number of
Iteration

150
6. Mengatur jumlah iterasi akan berpengaruh pada RMS error. Nilai RMS error
yang semakin kecil menandakan model yang didapatkan semakin sesuai dengan
model di lapangan. Merubah jumlah iterasi akan merubah nilai RMS error juga,
dalam beberapa kasus jika jumlah iterasi diubah, nilai RMS error akan semakin
membesar. Kemudian apabila iterasi sudah diatur jumlah nya sedemikian rupa
tetapi RMS error masih menunjukkan angka yang besar, maka bisa dilakukan
langkah menghapus bad datum yaitu pilih menu edit -> exterminate bad datums
maka akan muncul seperti berikut :

Gambar 4.8. Hasil tampilan datum

Datum yang dihapus adalah yang nilai nya jauh berbeda dari data di sekitarnya
(kiri,kanan,atas,bawah). Cara menghapus nya adalah cukup dengan mengklik
datum yang ingin dihapus kemudian datum tersebut akan berwarna merah.
Setelah selesai, klik exit dan save data dalam format .dat kemudian data yang
telah diedit tadi ditampilkan lagi. Tetapi perlu diingat, langkah ini dilakukan jika
hanya benar benar dibutuhkan, karena data yang dihapus tadi nilai nya aka benar
benar hilang, sehingga interpolasi data nya akan semakin besar.

7. Menampilkan data sesuai topografi, yaitu pada menu Display Sections -> Include
Topography in model display. Hasil nya seperti berikut :

151
Gambar 4.9. Gambar tampilan model resistivitas dan IP yang telah sesuai
topografi

Jika skala yang digunakan terlalu besar, sehingga kedua model tidak muat di
layar, langkah yang dilakukan adalah mengedit skala vertikal nya pada menu
change display setting -> vertical display scaling factor kemudian angka nya
dikecilkan sampai kedua model penampang bisa ditampilkan di layar.

4. INTERPRETASI DATA

Interpretasi adalah deduksi teoritis dari suatu hasil setelah menjalani pengolahan data.
Interpretasi dimaksudkan untuk memperoleh indikasi adanya kepentingan di bawah permukaan
yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada metode IP ini interpretasi dilakukan dengan
memeriksa karakteristik atau tren nilai resistivitas dan kapasitas pengisian atau efek IP dari hasil
pemodelan bawah permukaan. Model ini diperoleh dengan cara membalik nilai data
geoelektronika yang telah diolah oleh software sehingga model ini akan menggambarkan kondisi
bawah permukaan sesuai dengan nilai getaility (domain) time) atau persentase efek frekuensi
(frequency domain). Model penampang ini akan mewakili litologi di daerah tersebut yang
kemudian akan dikorelasikan dengan nilai referensi. Nilai referensi meliputi nilai resistivitas
dan elektrokimia untuk aturan dan mineral secara umum berdasarkan penelitian para ahli.
Selain itu data pendukung seperti peta geologi juga digunakan untuk memperkuat
pertimangan interpretatif. Penentuan kontinuitas dan persistensi minat dapat ditunjukkan pada
profil anomali dan grafik kedalaman semu yang diperoleh selama pemrosesan. Kemudian perlu
diperhatikan ahwa nilai resistivitas dapat dipengaruhi oleh material aturan terhadap arus
permeabilitas dan porositas. Sementara itu nilai kapasitas muatan dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut:

1. Partikel yang tersebar (disseminated) - berpengaruh lebih besar terhadap IP effect karena
mineral yang tersebar lebih mudah terpolarisasi akibat arus yang melewatinya

152
2. Komposisi mineral logam dari matriks batuan - Batuan yang memiliki mineral logam
lebih banyak akan memiliki chargeabilitas yang lebih tinggi akibat perpindahan elektron
yang terjadi di dalam tubuh batuan.
3. Porositas - IP effect akan meningkat seiring dengan berkurangnya porositas.
4. Kandungan Air - Ketika kandungan air dalam struktur pori menurun, maka IP effect akan
meningkat.
5. Kandungan clay - Clay akan menghasilkan chargeabilitas yang tinggi.

Tabel 5.1. Nilai Resistivitas mineral dan batuan (Telford et al, 1976)
Material Resistivity (Ωm)

Consolidated shales 20 - 2000

Argillites 10 - 800

Conglomerates 2 x 103 – 104

Sandstones 1 - 6.4 x 108

Limestones 50 – 107

Marls 3 - 70

Clays 1 - 100

Alluvium and sands 10 - 800

Oil sands 4 - 800

Tabel 5.2. Nilai Chargeabilias mineral dan batuan (Telford et al, 1990)
Material Chargeability (msec)

20% Sulphides 2000 - 3000

8-20% Sulphides 1000 - 2000

2-8% Sulphides 500 - 1000

Sandstones, siltstones 100 - 500

Dense volcanic rock 100 - 500

Shale 50 - 100

Granite, Granodiorite 10 - 50

153
Limestone, Dolomite 10 - 20

Ground water 0

Alluvium 1-4

Gravels 3-9

154
BAB VI
METODE MAGNETIK
A. PENDAHULUAN
Setiap benda bermassa di alam semesta disusun oleh atom-atom. Masing- masing
atom memiliki elektron-elektron yang bergerak mengelilingi inti yang berupa proton dan
dapat menghasilkan sifat kemagnetan. Ketika gerakan sepasang elektron mengelilingi (atau
spin) inti saling bertolak belakang, maka akan didapatkan sifat diamagnetik, di mana
kemagnetan saling menghilangkan. Namun ketika elektron- elektron memiliki
kecenderungan spin lebih besar ke satu arah, dapat timbul sifat kemagnetan pada benda
sehingga benda dapat bersifat paramagnetik atau feromagnetik.
Konsep kemagnetan dapat dimanfaatkan dalam bidang ilmu geofisika. Hal ini
berkaitan dengan sifat fisis objek geofisika, salah satunya adalah batuan. Batuan
tersusun dari mineral-mineral dengan karakter fisis yang beragam, dalam hal ini
kemagnetan menjadi salah satunya. Inilah yang dimanfaatkan untuk mengetahui
keberadaan kontras kemagnetan batuan di suatu wilayah dengan cara mengukurintensitas
magnetisasi. Dalam geofisika, kegiatan ini disebut sebagai metode magnetik. Metode
magnetik seringkali digunakan dalam studi pendahuluan eksplorasi sumber daya alam.
Sebab, metode magnetik bersifat non-destruktif, murah, dan dinilai baik untuk
mengidentifikasi anomali kemagnetan secara regional maupun lokal sebagai
dasar perencanaan eksplorasi lanjutan.
Kuliah Lapangan Nonseismik 2023 yang diadakan oleh Program Studi Geofisika
UGM mengangkat tema yaitu “Drawing Perfection Geophysics Exploration in Pacitan,
East Java” dengan metode magnetik sebagai salah satu metode yang digunakan untuk
mengetahui potensi mineral di wilayah Pacitan. Harapannya, para peserta dapat belajar
lebih dalam tentang geofisika melalui akuisisi maupun pengolahan berbagai metode
sekaligus berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, khususnya potensi mineral dan
kebencanaan di daerah Pacitan.

B. TEORI DAN KONSEP


1. Gaya Magnetik

Gambar 6.1 Ilustrasi gaya tarik menarik dan tolak menolak yang dihasilkan antara
dua kutub magnet menurut hukum Coulomb.
Gaya magnetik merupakan gaya yang timbul dari hubungan antara dua kutub
magnetik pada jarak tertentu. Gaya tarik menarik terjadi antara kutub magnet yang
155
berlawanan dan gaya tolak menolak terjadi pada kutub yang sejenis. Gaya tersebut
sebanding dengan hasil kali muatan kutub dan berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak antar kutub (Hinze dkk, 2013). Hubungan antara gaya dan kutub magnet
pertama kali diteliti secara eksperimental oleh Coulomb pada akhir abad kedelapan
belas.

(6.1)

dengan FM adalah gaya pada p1 dan p2 dalam satuan newton (N), p1 dan p2 adalah
kutub magnet dengan muatan sebesar p dalam satuan ampere meter (Am), 𝒓 adalah
jarak antara kedua kutub dalam satuan meter (m), dan 𝜇0 adalah permeabilitas
magnetik padaruang hampa dalam satuan newton per meter kuadrat (Nm-2).

a. Kuat Medan Magnetik (H)


Medan magnet adalah daerah di sekitar magnet yang masih
dipengaruhi oleh magnet. Kuat medan magnet (H) adalah besar medan magnet
pada suatu titik dalam ruang yang muncul karena sebuah kutub magnet yang
berada sejauh 𝑟 dari titik tersebut. Menurut Telford dkk (1990), kuat medan
magnet diartikan sebagai gaya magnetik persatuan kutub magnet. Pernyataan
tersebut dapat dituliskan dalam persamaan berikut :

(6.2)
dengan H adalah kuat medan magnetik dalam satuan ampere per meter (Am-
1
). FM adalah gaya magnet pada p1 dan p2 dalam satuan newton (N). p1 dan
p2 adalah kutub magnet dalam satuan ampere meter (Am), 𝒓 adalah jarak
antara kedua kutub dalam satuan meter (m), dan 𝜇0 adalah permeabilitas
magnetik pada ruang hampa dalam satuan newton per meter kuadrat (Nm-2).
Medan magnet dapat direpresentasikan secara visual oleh garis imajiner yang
ditarik di sekitar magnet atau objek yang dimagnetisasi. Garis-garis ini dikenal
sebagai garis medan magnet atau garis gaya magnet.

156
Gambar 6.2 Ilustrasi garis gaya magnet pada magnet batang

b. Intensitas Magnetik (M)

Gambar 6.3 (a) Keadaan awal sampel tidak memiliki medan magnet. Tidak
ada medan luar. (b) Momen magnetik berorientasi secara acak. (c) Ketika ada
medan magnet luar H, momen magnetik akan sejajar dengannya. (d)
Keadaan akhir sampelyaitu sampel memiliki medan magnet (medan magnet
sekunder).

Suatu benda magnet yang berada pada medan magnet luar (H) akan
termagnetisasi dikarenakan adanya proses induksi magnet (Telford dkk,
1990). Ketika tidak ada medan magnet luar, momen magnetik dalam suatu
volume umumnya tidak teratur sehingga tidak menghasilkan medan magnet.
Namun, ketika material dikenai medan magnet luar, momen magnetik akan
mencoba untuk kembali mengorientasikandiri di sepanjang arah medan. Hal
tersebut mengakibatkan terjadinya magnetisasi yang menghasilkan medan
magnet sekunder.

Pada umumnya kemampuan penyelarasan momen magnetik


meningkat secaralinier dengan kekuatan medan yang diterapkan. Oleh karena
itu, suseptibilitas magnetik digunakan untuk mendefinisikan konstanta
proporsionalitas. Besar magnetisasi diukur oleh polarisasi magnetik atau biasa
disebut sebagai intensitas magnetik (dipole momentper unit volume). Besarnya
intensitas magnetik ada dapat dituliskan oleh persamaan berikut :

(6.3)
dengan M adalah intensitas magnet dalam satuan ampere per meter
157
(Am-1), H adalah kuat medan magnet dalam satuan ampere per meter (Am-1),
dan k adalah nilai suseptibilitas.

c. Suseptibilitas Magnetik (k)


Suseptibilitas magnetik adalah derajat kemagnetan suatu benda.
Suseptibilitas magnetik merupakan besaran yang tidak berdimensi. Nilai
suseptibilitas magnetik pada batuan akan semakin besar ketika batuan tersebut
semakin banyak dijumpai mineral- mineral yang bersifat magnetik. Contohnya
pada grafik berikut, ditunjukkan hubungan antara suseptibilitas dan kandungan
mineral magnetit yang berbanding lurus.

Gambar 6.4 Grafik hubungan suseptibilitas magnetik dan


kandungan mineral magnetit(U.S. EPA, 2016).

158
d. Induksi Magnetik (B)
Induksi magnetik adalah medan magnet total yang dihasilkan dari
penjumlahan antara medan magnetik benda (M) dan medan magnetik utama
(H) (Telford dkk, 1990).Induksi magnetik dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut:

(6.4)
dengan B adalah induksi magnetik dengan satuan Newton per Ampere
meter(NA-1m-1), 𝜇0 adalah permeabilitas magnetik pada ruang hampa dalam
satuan Newton per meter kuadrat (Nm-2) , M adalah intensitas magnet dalam
satuan ampere per meter (Am-1), dan H adalah kuat medan magnetik dalam
satuan ampere per meter (Am-1).

Gambar 6.5 Ilustrasi medan magnet terinduksi di ekuator magnetik (kiri) dan
di belahan selatan magnetik (kanan). Tampak variasi TMI (Total Magnetic
Intensity) yangdiakibatkan karena perbedaan resultan vektor medan magnet
bumi dan induksi magnetik

e. Kurva Histeresis
Kurva Histeresis Magnetik adalah kurva yang menggambarkan hubungan
antara medan magnet luar (H) dengan intensitas medan magnet setelah
terinduksi (J) pada material ferromagnetik dan ferrimagnetik yang berkaitan
dengan momen magnetik penyusunnya. Dari kurva histeresis, kita dapat
menentukan sejumlah sifat magnetik tentang suatu material seperti
retentivitas, magnetisme residual (atau fluks residual), gaya koersif,
permeabilitas, dan reluktansi.

159
Gambar 6.6 Tipe Sifat Magnetik dan Suseptibilitasnya.
Pada gambar 6.6 terdapat grafik/kurva yang menyatakan hubungan
antara intensitas magnetisasi M dan medan magnet yang menginduksi H.
Diamagnetik relatif tidak terinduksi, paramagnetik dan antiferromagnetik
menghasilkan garis linear, sementara ferromagnetik dan ferrimagnetik
membentuk kurva non-linear setelah mencapai titik saturasi tertentu. Apabila
tidak terdapat medan magnet luar yang menginduksi (H), maka tidak akan ada
komponen medan magnet terinduksi pada suatumaterial, kecuali bila material
tersebut memiliki medan magnet sisa/remanen. Medan magnet terinduksi J
tergantung pada nilai suseptibilitas material k, dengan rumus :
(6.5)
dengan, Jind adalah intensitas medan magnet terinduksi, k adalah nilai
suseptibilitas, dan H adalah medan magnet luar yang menginduksi. (Hinze,
2013). Kurva Hysteresis menunjukkan bahwa nilai H berbanding lurus dengan
nilai J. Seperti pada Gambar 6.7 (a) nilai H dan J akan terus meningkat nilai J
mencapai suatu titik dimana material sudahtermagnetisasi seutuhnya (saturasi).
Dari awal peningkatan nilai H hingga titik saturasi, nilai J yang dihasilkan
disebut dengan Jsaturasi. Jika sudah mencapai titik tersebut, J akan bernilai
konstan walaupun nilai H terus meningkat. Namun, nilai H akan dihilangkan
seutuhnya setelah mencapai titik saturasi yang menyebabkan menurunnya
nilai H dan J. Kurva penurunan tidak melewati jalur yang sama seperti
kurva peningkatan.
Perubahan kelengkungan dua kurva ini disebut dengan histeresis (Luthfi,
2017). Jika Hsudah bernilai 0 dan masih terdapat nilai J pada material tersebut
maka disebut medan magnet sisa/remanen. Setelah nilai H menjadi 0, akan
terjadi pembalikan arah medan magnet yang menginduksi yang menyebabkan
nilai H minus. Sementara itu, nilai J terusmenurun hingga mencapai 0 seiring
dengan peningkatan nilai H yang berlawanan [Link] H bernilai 0 hingga

160
nilai J menjadi 0, J yang ada disebut dengan Jremanen.

Gambar 6.7 Kurva Histeresis Magnetik Material Ferromagnetik


Setelah mencapai nilai 0, nilai J dan H mengalami peningkatan hingga
mencapai titik saturasi kembali yang bersifat antipodal terhadap titik saturasi
positif (Hinze, 2013). Grafik yang terbentuk pada empat kuadran
menunjukkan hubungan antara kerapatan fluks magnet induksi B dan gaya
magnetisasi H dan dikenal sebagai kurva hysteresis. Sementara itu, kurva pada
Gambar 6.7 (b) menunjukkan hubungan antara H dan J apabila peningkatan
H tidak mencapai titik saturasi, sehingga tidak membentuk kurva hysteresis
seperti pada kurva besar.

161
2. Medan Magnet Utama
Medan magnet utama merupakan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka
waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 1 juta km2,
bersumber dari dalam dan luar bumi serta berubah terhadap waktu. Untuk
menyeragamkan nilai- nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang
disebut sebagai International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang
diperbaharui setiap 5 tahun sekali.

Gambar 6.8 Medan Magnet Utama Bumi

Medan magnet utama bumi dihasilkan dari arus elektromagnetik yang


berada pada bagian inti luar bumi dan menyumbang sekitar 98% dari total medan
magnet [Link] luar bumi yang berada lebih dekat dengan inti dalam yang lebih
panas, menyebabkanmagma yang lebih panas naik ke atas dan mendorong magma
yang lebih dingin menujuke bawah. Hal ini terjadi terus menerus dan menghasilkan
pergerakan yang disebut sebagai arus konveksi. Adanya arus konveksi dan
pengaruh dari rotasi bumi, maka akan timbul arus elektromagnetik yang
menghasilkan medan magnet. Proses terjadinya medan magnet akibat dari arus
konveksi dan rotasi bumi ini disebut sebagai proses geodinamo. Proses ini
menghasilkan medan magnet utama paling besar di bumi sedangkan sisanya
merupakan medan magnet luar dan medan magnet anomali.
Apabila diilustrasikan, bumi dianggap sebagai dinamo raksasa yang dapat
menghasilkan medan magnet secara terus menerus. Bumi diibaratkan seperti model
dinamo yang tersusun dari piringan tembaga yang berotasi pada suatu poros
induksi. Selama piringan berputar, maka arus listrik akan terus mengalir dan medan
magnet jugaakan terus terbentuk. Keseluruhan dari model dinamo tersebut disebut
sebagai self- exciting dynamo. Sistem dari model dinamo ini mirip dengan sistem
yang terjadi pada bumi yaitu interaksi antara besi-nikel pada bagian inti luar yang
mengalami arus konveksi dan juga pergerakan rotasi bumi yang akan menghasilkan
arus listrik dan medan magnet.

162
Gambar 6.9 Komponen Medan Magnet Bumi (Hinze dkk,2013)
Medan magnet bumi berarah vertikal pada bagian kutub dan berarah
horizontal pada bagian ekuator. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara
geografis bumi (north-seeking), hal tersebut menunjukkan bahwa kutub utara
geografis bumimerupakan kutub selatan (kutub negatif) medan magnet bumi dan
sebaliknya. Garis gaya magnet bumi akan masuk pada bagian kutub utara geografis
bumi dan akan keluar pada kutub selatan geografis bumi. Medan magnet bumi
memiliki komponen medan magnet yang berbeda satu sama lain. Komponen
medan magnet bumi yang pertama adalah medan magnet utama bumi 𝐻0.
Komponen medan magnet utama ini terbagi menjadi inklinasi, deklinasi, vektor
horizontal atau 𝐻h𝑜𝑟 (menuju Magnetic Meridian) dan medan magnet H yang
mempunyai arah barat-timur (𝐻𝑦), utara-selatan (𝐻𝑥) serta (𝐻𝑧) yang mempunyai
arah vertikal (Whitham, 1960). Medan magnet total atau medan magnet utama
bumi (𝐻0) dirumuskan sebagai :
2 2 2 2 2
𝐻0 = √𝐻ℎ𝑜𝑟 + 𝐻𝑧 = √𝐻𝑥 + 𝐻𝑦 + 𝐻𝑧 (6.6)
Untuk komponen horizontal :
2 2
𝐻ℎ𝑜𝑟 = 𝐻0 cos 𝐼 = √𝐻𝑥 + 𝐻𝑦 (6.7)
Untuk komponen vertikal :
𝐻𝑧 = 𝐻0 sin 𝐼 = 𝐻ℎ𝑜𝑟 tan 𝐼 (6.8)

163
3. Inklinasi dan Deklinasi
Inklinasi dan deklinasi adalah komponen-komponen medan magnet utama
bumibersama dengan vektor horizontal (menuju utara magnetik) dan besar medan
magnet H(terdiri dari tiga komponen Hx, Hy, Hz) (Whitham, 1960). Sudut yang
dibentuk oleh kutubutara jarum kompas dengan arah utara-selatan geografis atau
sudut yang dibentuk antara kutub medan magnetik bumi dengan utara geografis
bumi disebut deklinasi. Sudut yang dibentuk oleh kutub utara jarum kompas dengan
bidang datar atau sudut yang dibentuk antara medan magnetik horizontal dengan
medan magnet utama bumi disebut inklinasi. Penyimpangan arah mendatar terjadi
karena garis-garis gaya magnetbumi tidak sejajar dengan permukaan bumi (bidang
horizontal). Nilai inklinasi dan deklinasi dapat dihitung dengan kedua persamaan
berikut (Blakely, 1995).

𝐻𝑧 𝐻𝑦
𝐼 = arctan ( 2 2
) 𝐷 = arcsin ( 2 2
) (6.9 dan 6.10)
√𝐻𝑥 +𝐻𝑦 √𝐻𝑥 +𝐻𝑦

di mana Hx, Hy, dan Hz adalah komponen nilai medan magnet utama bumi
H pada sumbux, y, dan z. Nilai inklinasi dan deklinasi bergantung pada arah medan
magnet utama bumi di lokasi tersebut. Arah medan magnet utama bumi keluar dari
kutub selatan bumi(disebut kutub utara magnetik bumi) menuju kutub utara bumi
(disebut kutub selatan magnetik bumi). Sementara itu, letak kutub magnetik bumi
dengan kutub geografis bumi tidaklah sama, melainkan sedikit bergeser sekitar
11,5°. Sudut inklinasi di area atas ekuator bernilai positif dan menunjam permukaan
tanah, sementara di area bawah ekuator bernilai negatif dan keluar dari permukaan
tanah. Pada ekuator, sudut inklinasimagnetiknya bernilai 0°.

Gambar 6.10 Variasi nilai inklinasi di berbagai belahan bumi

164
4. Variasi Spasial Medan Magnet Bumi
Selain berasal dari medan magnet utama bumi, hasil pengukuran magnetik
di lapangan juga berasal dari interior bumi. Komponen medan magnet yang paling
menarikberasal dari variasi horizontal yang berasal dari magnetisasi pada litosfer
(kerak bumi).Variasi horizontal sebagian besar berasal dari kerak bumi, dikarenakan
batuan pada mantel memiliki kandungan mineral magnetik yang lemah yang
disebabkan oleh salah satu faktor yang mengontrol magnetisasi, yaitu suhu.
Semakin dalam dari permukaan bumi maka suhu akan meningkat, sedangkan suatu
batuan akan kehilangan sifat kemagnetannya apabila berada pada suhu di atas suhu
curie. Suhu curie merupakan suhu dimana suatu material magnetik kehilangan sifat
kemagnetannya. Suhu yang memungkinkan batuan masih memiliki sifat
kemagnetannya adalah <600° celcius padakeadaan normal (Hinze dkk., 2013). Hal
inilah yang menyebabkan variasi horizontal sebagian besar berasal dari kerak bumi.
Medan magnet bumi diganggu oleh material yang berada di kerak bumi yang
memiliki kemampuan untuk termagnetisasi. Adanya batuan yang termagnetisasi
menyebabkan medan magnet bumi mempunyai variasi spasial yang nilainya
dipengaruhi oleh besarnya medan yang dihasilkan dari proses magnetisasi batuan
tersebut (Lillie, 1999).

5. Variasi Temporal Medan Magnet Bumi


Medan magnet bumi juga memiliki variasi temporal yang dipengaruhi oleh
aktivitas dari medan luar dan aktivitas medan magnet utama bumi itu sendiri. Nilai
dari medan magnet bumi tidaklah sama melainkan mengalami perubahan dari waktu
ke waktu. Akan tetapi perubahan nilai tersebut berlangsung dalam waktu yang lama.
Untukmengetahui nilai dari medan magnet utama bumi maka ditetapkanlah nilai
IGRF (International Geomagnetic Reference Field). Nilai dari IGRF merupakan
nilai dari medan magnet utama bumi yang diubah setiap 5 tahun sekali. Selain itu,
aktivitas matahari yaitu solar heating juga mempengaruhi medan magnet bumi
ketika terjadi peningkatan aktivitas dan menjadi badai matahari. Karena medan
magnet bumi mempunyai variasi temporal yang berhubungan dengan waktu, maka
setiap kali pengukuran magnetik harus diukur juga nilai variasi harian dari medan
magnet sehinggaapabila terjadi badai matahari bisa diketahui.

165
C. AKUISISI DATA
a. Daerah Penelitian
Kuliah Lapangan Nonseismik 2023 yang diadakan oleh Program Studi
Geofisika UGM mengangkat tema yaitu “Drawing Perfection Geophysics Exploration
in Pacitan, East Java” dengan daerah penelitian di Pacitan, Jawa Timur.
b. Desain Survei Magnetik
Setelah mengetahui cakupan daerah penelitian, langkah selanjutnya adalah
membuat desain survei sesuai dengan target yang dikehendaki. Untuk itu, dibutuhkan
beberapa sumber informasi dan alat berupa :
i. Peta Geologi
ii. Peta Kontur
iii. Peta Rupa Bumi
iv. Software pengolah data spasial
Penentuan desain survei sangat penting sebagai acuan pelaksanaan akuisisi.
Berbekal desain survei, target yang diinginkan, lokasi titik akuisisi, perkiraan respon
target dapat diketahui. Dalam pembuatan desain survei, hal-hal yang perlu
diperhatikanantara lain :
v. Dimensi target pengukuran, agar penentuan lokasi dan spasi antar titik
sesuai. Hal ini juga akan berkaitan dengan resolusi data. Oleh karenanya,
peran dari Peta Geologi daerah penelitian sangat signifikan.
vi. Kontur yang dimiliki area survei, sehingga akuisisi dapat berjalan dengan
lebih aman dan efektif. Dalam hal ini peran Peta Kontur sangat diperlukan.
vii. Estimasi waktu akuisisi yang dimiliki, sehingga jumlah titik dapat
disesuaikan dengan target harian yang dapat dicapai.
viii. Wilayah yang aman dari sumber derau, misalnya menghindari pemukiman
warga yang pada umumnya mengandung unsur-unsur derau seperti tiang dan
kabel listrik, dan sebagainya.
Secara umum, desain survei biasanya dibuat dalam bentuk persegi empat (atau
persegi panjang) yang sejajar dengan sumbu horizontal dan vertikal sesuai koordinat
(Utara-Selatan). Hal ini bertujuan agar proses pengolahan lebih mudah dilakukan
karena titik satu dan lainnya memiliki interval jarak sesuai selisih koordinatnya.
c. Instrumentasi
Instrumen yang digunakan dalam akuisisi magnetik Kuliah Lapangan
Nonseismik 2023 Seperti namanya, magnetometer tipe PPM memanfaatkan gerak
presesi proton, yaitu gerakan berputarnya massa yang membawamuatan positif dalam
atom. Gerakan berputar ini menghasilkan momen magnetik dan momentum angular
sesuai arah sumbu putarnya. Medan magnet bumi akan menyearahkan momen
magnetik proton yang kemudian dilawan oleh momentum angular proton. Akibatnya,
proton akan berpresisi dengan sumbu yang membentuk
kerucut, menunjukkan arah medan magnet di sekitarnya. Gerakan presesi ini
memiliki frekuensi sebesar frekuensi Larmor (fL). Frekuensi Larmor dinyatakan

166
dengan :

𝑀𝐻
𝑓𝐿 = (6.11)
2𝜋𝐿

Jika rasio momen magnetik proton (M) dan momen angular proton (L) dinyatakan
sebagai G, maka rumus fL menjadi :

𝐺𝐻
𝑓𝐿 = (6.12)
2𝜋

𝑀 2𝜋
Di mana besar G untuk nucleus hydrogen 𝐺 = = = 0,2675153/gamma.s
𝐿 23.4868
= 2,6 x 108 /Tesla.

Gambar 6.11 Gerakan presesi proton (Oliviera et al, 2007)


d. Spesifikasi Alat

Gambar 6.12 Magnetometer PPM Geotron G-5

167
Tabel 6.1 Spesifikasi PPM Geotron G-5

Parameter Keterangan
Resolusi Pengukuran 0.1 nT
Rentang Pengukuran 20 - 100 kilogamma
Akurasi absolut < 1 nT
Suhu -10 s/d 50°C
Sensor Segala arah dengan toleransi 4000 nT/m
Tuning Otomatis atau manual
Pengulangan Otomatis 4 detik hingga 30 menit
Papan Kontrol 15 tombol untuk pengoperasian.
Soket 6 pin untuk sensor dan kabel
data, terhubung langsung dengan
saklar on/off.
Tampilan 2 baris (@40 karakter)
Menampilkan tanggal, waktu,
nomor pembacaan, kekuatan
sinyal, pembacaan, nomor stasiun
dan baris, nama file notepad,
baterai, selisih pembacaan sebelum
dan berikutnya.
Jam Real-time clock dengan baterai cadangan
Memori Memory Non-volatile CMOS
Menyimpan angka bacaan, angka lintasan,
angka station, Julian day, jam, menit, detik,
pembacaan, kuat sinyal, dan catatan indeks
elektronik.
Kapasitas minimum 7500 kali pembacaan
Keluaran Serial RS-232C menghubungkan untuk
keluaran data pada PC atau jenis perangkat lain
pada9600 baud.
Tersedia Dumpcable. Software koreksi diurnal.
Perangkat Sensor medan total, ransel, perangkat sensor
dan instrument harness, tongkat sensor
alumunium, kabelkeluaran, software.
Sumber daya 3 x 6 volt 3AH,
Asam TimahBaterai

168
dapat diisi ulang

Dimensi Instrumen : 220 x 230 x


110 mm Massa : 4 kg
(termasuk baterai)

Sensor
Diameter
: 75 mm
Panjang :
160mm
Massa :
1.2 kg
Tongkat sensor
Diameter : 25 mm
Panjang:400 mm x 6 buah
Massa : 0.25 kg x 6 buah

Lain-Lain Saat pengukuran sensor tidak


perlu diarahkan ke utara, namun
harus tegak.
Garansi satu tahun setelah
barang diantar ke
pembeli.

169
Tampilan Konsol Magnetometer Geotron
G5

e. Langkah Kerja
a. Pengukuran Base
1. Tentukan tempat (titik) BASE bersama tim. Dan pastikan jauh dari
noisemagnetik.
2. Potongan tiang penyangga magnetometer dihubungkan hingga
panjangnya melebihi 1 meter.
3. Sensor dipasang pada ujung tiang penyangga.
4. Tutupi sensor dengan plastik agar tidak kehujanan atau kepanasan.
5. Tiang beserta sensor ditegakkan, bertumpu pada permukaan tanah. Jaga
agar semua kabel tidak menyentuh tanah.
6. Agar stabil, tiang ditahan dengan tali ke pepohonan sekitar base atau
bisajuga dihubungkan dengan besi penahan yang ditancapkan di tanah.
7. Bongkah batu dipepetkan di kaki tiang agar lebih kokoh.
8. Siapkan kursi atau tempat datar untuk meletakkan konsol magnetometer
9. Masukkan konsol ke dalam tas kosong yang ditaruh tepat di bawah sensor.
10. Tancapkan kabel dari sensor ke lubang yang tersedia di konsol, lalu kunci
dengan memutar cincin pada ujung sambungan.
11. Carilah nilai medan magnet bumi (IGRF) dimana nilai IGRF di semua
tempat bernilai sama menggunakan aplikasi telepon genggam
‘CrowdMag’. Caranya adalah dengan menghidupkan GPSpada telepon
genggam, lalu aktifkan aplikasi ‘CrowdMag’. Setelah masuk aplikasi,
klik WMM → Calculate → Table. Baca baris F(nT) pada kolom Values,
yang merupakan medan magnet bumi (IGRF) di BASE.
12. Masukkan nilai IGRF untuk setting pada konsol dengan cara klik
TUNE=2 →manual=0 → masukkan nilai medan magnet bumi.
13. Atur MODE=7 → auto=2 → akan muncul “Time interval: Minutes=1
Seconds=2”. Pilih interval waktu ‘Minutes=1’ → masukkan interval
waktu pengukuran yang diinginkan.
14. Selanjutnya atur waktu dengan klik SET CLOCK=8 → masukkan waktu
sesuai pada saat melakukan pengukuran dengan memasukkan tahun →
bulan → hari → jam → menit.
15. Tekan 1 → READ untuk mulai melakukan pengukuran.
16. Cek apakah konsol sudah mulai mengukur secara otomatis. Jangan
memencet apapun pada konsol ketika pengukuran otomatis terlaksana.

170
17. Jika pengukuran otomatis sudah terlaksana, tutupi konsol dalam tas
dengan jas hujan agar tetap sejuk dan terlindung dari matahari ataupun
hujan.
18. Setelah selesai melakukan pengukuran, tekan STORE untuk
menyimpandata.
19. Pindah data (dumping data) pengukuran base ke laptop pengolahan.
20. Hapus data hari tersebut dengan menekan ERASE=6 → Yes=9 → Yes=9
21. Rapikan PPM dengan memasukkan bagian-bagiannya ke dalam kotak
pelindung. Sesampainya di barak, bersihkan alat.

b. Pengukuran Rover
1. Pastikan posisi koordinat titik ukur telah dimasukkan pada memori GPS
genggam. Atau dapat menggunakan aplikasi Avenza pada gawai sebagai
acuan.
2. Tempatkan konsol Geotron G-5 pada tas yang memadai. Disarankan
menggunakan daypack agar lebih nyaman saat membawa konsol.
3. Cari titik yang diukur dengan GPS genggam atau gawai.
4. Persiapkan buku catatan lapangan
5. Setelah sampai di titik yang dituju, tandai titik tersebut dengan GPS
genggam. Catat pula koordinat dan nama titik.
6. Gunakan aplikasi “CrowdMag” untuk mengetahui nilai medan magnet di
titiktersebut.
7. Catat nilai medan magnet bumi dari “CrowdMag” dalam buku, di dalam
kolomIGRF/ WMM.
8. Hubungkan potongan-potongan tiang hingga tingginya melebihi 1 m
(sekitar4 hingga 5 potongan).
9. Pasang sensor PPM pada ujung tiang. Tabung sensor dipasang vertikal.
Jikadiperlukan tutup sensor dengan tas sensor atau plastik.
10. Hubungkan kabel dari sensor ke konsol untuk menghidupkan.
11. Selanjutnya atur waktu dengan klik SET CLOCK=8 → masukkan waktu
sesuai pada saat melakukan pengukuran dengan memasukkan tahun →
bulan → hari → jam → menit.
12. Mode pengukuran diatur dengan cara Atur MODE=7 → manual=1, lalu
tekanREAD (enter).
13. Masukkan nilai IGRF untuk setting pada konsol dengan cara klik
TUNE=2 →manual=0 → masukkan nilai medan magnet bumi.
14. Tim Rover lalu dibagi yaitu menjadi operator, pencatat, dan pencari titik
(navigator). Operator maksimal dua orang, pencatat satu orang, dan
sisanyamencari titik selanjutnya.
15. Semua anggota tim mulai bekerja. Usahakan operator jauh dari noise
yang dapat mengganggu proses pengambilan data. Jauhkan benda- benda

171
yang menimbulkan noise dari operator seperti benda-benda yang
mengandung besi atau magnet.
16. Saat akan mengukur, tiang sensor ditegakkan. Operator alat harus tegak
dantidak boleh bergoyang agar tidak mengganggu cairan dalam sensor.
17. Pastikan tampilan layar konsol Geotron G-5 sudah berada di menu utama.
Jika belum, tekan tombol MENU.
18. Tekan tombol 1 → READ untuk memerintahkan PPM mengukur medan
magnet lokal di titik pengukuran. Lalu akan muncul medan magnet
lokal
dengan satuan nanoTesla. Jika medan lokal bernilai 45990.5 nanoTesla,
maka pada layar notasinya “nT = 45990.5”.
19. Operator alat wajib menyebutkan waktu dan medan magnet pada setiap
pembacaan. Lalu pencatat akan menuliskan data pengukuran pada kolom
“waktu” dan “pembacaan PPM”.
20. Tekan tombol MENU pada konsol untuk kembali ke menu utama.
21. Pindahkan sensor sejauh maksimal 1 meter dari titik semula
22. Ulangi langkah 17 hingga 20 sampai didapatkan minimal 5 data.
Antarpengukuran diberi jeda 40 detik.
23. Setelah didapatkan 5 data, cari nilai yang sama atau hampir sama. Jika
tidak ada, maka pengukuran diulang hingga mendapatkan nilai sesuai
kriteria.
24. Cabut kabel konsol, agar PPM mati.
25. Selanjutnya para pencari titik diharapkan menunjukkan anggota tim
lainposisi titik pengukuran selanjutnya.
26. Di titik yang baru, isi data koordinat dari GPS genggam, data medan
magnetbumi dari aplikasi “CrowdMag”. Ulangi langkah 17 hingga 24.
27. Lalu tim bekerja sesuai posisi masing-masing.
28. Saat tim Rover telah selesai mengukur dan kembali ke basecamp,
pengukuran BASE harus dihentikan.

f. Kontrol Kualitas Data


i. Saat akuisisi di satu titik dilakukan minimal 5 kali pengukuran, dengan posisi
depan, belakang, samping kanan, dan kiri dari titik target sejarak 2-3 meter.
ii. Cari 3 nilai hasil pengukuran yang sama atau hampir sama.
iii. Suatu nilai pengukuran di satu titik dapat diterima bila perbedaan nilai
tersebut 1nanoTesla. Perbedaan nilai 2 nanoTesla baru dapat diterima bila
pengukuran telah dilakukan lebih dari 10 kali.

172
D. PENGOLAHAN DATA
a. Software
Software yang digunakan dalam pengolahan data magnetik, yaitu
1. G5 Dump
2. Microsoft Excel
3. Oasis Montaj
4. Surfer
b. Pengolahan Data
i. Diagram Alir Pengolahan Harian - Reduce to Pole

Gambar 6.13 Diagram Alir Pengolahan Harian

173
ii. Dumping Data Pengukuran Base

Untuk mendapatkan data base kita dapat menggunakan software G5


Dump,dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Sambungkan Magnetometer Geotron G5 ke komputer/laptop


menggunakanport RS-232
2. Tekan pilihan dump pada menu G5 Dump

Gambar 6.14 Tampilan Software G5 Dump


3. Pilih Communication port (COM1 terpilih sebagai default)

Gambar 6.15 Tampilan G5 Dump setelah dipilih menu dump

174
4. Tekan tombol ‘5’ kemudian tombol ‘READ’ pada Geotron G5
5. Posisikan kursor pada tombol ‘start’ G5 Dump
6. Pilih format 1 atau 2 pada Geotron G5
7. Tekan tombol ‘read’ pada Geotron G5 dan tombol ‘start’ G5 Dump
secarabersamaan atau tidak lebih dari interval 2 detik
8. Kemudian tunggu hingga semua data base berhasil dipindahkan
9. Setelah semua data base telah berhasil dipindahkan, tekan menu save
pada G5 dump kemudian pilih dimana data base akan disimpan. Data
yangdidapat dapat disimpan dalam format .dat atau .csv
Tabel 6.2 Format Data 1

Nomor Nomor Tanggal Waktu Nilai Kekuatan Kode


stasiun baris Julian pengukuran sinyal notepad
medan
magnet total

Data yang di-dumping menggunakan format 1 akan muncul seperti pada Tabel
4.1 diatas. Tanggal Julian adalah jumlah hari yang terlewat sejak tanggal 1
Januari. Waktu pengukuran diberikan dalam format JJMMDD, J adalah jam,
M adalah Menit, D adalah detik. Nilai medan magnet diperoleh dalam satuan
nanoTesla, dengan satu bilangan desimal dibelakang koma.

iii. Pengolahan Data Pengukuran Base


Data ditampilkan dalam bentuk grafik kuat medan magnet (H) vs waktu.
Data tersebut kemudian diinterpolasi, dapat secara manual, maupun otomatis.
Data yang digunakan selanjutnya adalah data pengukuran medan magnet base
hasil interpolasi. Kemudian, buat baseline nilai medan magnet yang akan
digunakan secara konsisten selama pengukuran berlangsung. Jadi nilai baseline
harus sama dari hari pertama hingga hari terakhir pengukuran. Nilai ini dianggap
sebagai nilai medan magnet yang tidak terpengaruh oleh medan magnet luar. Kuat
medan magnet hasil interpolasi dikurangkan dengan besar medan magnet
baseline. Hasilnya adalah nilai koreksi medan magnet luar.

175
Gambar 6.16 Data variasi harian base

Gambar 6.17 Penentuan baseline dan plot variasi harian


Berdasarkan grafik diatas selanjutnya dibuat trendline polynomial untuk
mendapatkan nilai baseline dan variasi harian.

176
➢ Cara membuat trendline polynomial dalam penentuan baseline dan variasi
harian:
1. Menentukan nilai Hobs yang didapatkan dari rata rata variasi pembacaan
PPM.
2. Selanjutnya untuk menentukan nilai base akan dilakukan proses
smoothing yaitu dengan cara membuat grafik antara waktu vs pembacaan
PPM (Hobs) sesuai pada gambar 4.4. sehingga didapatkan grafik sebagai
berikut

H Obs Random
45745

45740

45735

45730

45725

45720

45715

45710 y = 643.05x4 + 1179x3 - 2988x2 + 1652.7x + 45461

45705
0:00:00 2:24:00 4:48:00 7:12:00 9:36:00 12:00:00 14:24:00 16:48:00 19:12:00

Gambar 6.18 Hasil Plot Hobs Random.


3. Didapat grafik random seperti gambar 4.6. sehingga perlu dilakukan
smoothing dengan cara membuat trendline polynomial dengan orde yang
disesuaikan agar tidak terlalu datar, pada gambar 4.6. digunakan orde 3.
4. Selanjutnya diperoleh persamaan polynomial yang berasal dari grafik
yaitu y = 643.05x4 + 1179x3 - 2988x2 + 1652.7x + 45461 dan ganti nilai
x dengan waktu sehingga diperoleh nilai smooth.
5. Plot grafik antara waktu vs smooth sehingga diperoleh grafik sebagai
berikut:

177
H Obs Smooth
45740.00
45735.00
45730.00
45725.00
45720.00
45715.00
45710.00
45705.00
0:00:00 2:24:00 4:48:00 7:12:00 9:36:0012:00:0014:24:0016:48:0019:12:00

Gambar 6.19 Penentuan baseline dan plot variasi harian


Dari grafik diperoleh nilai variasi harian dan nilai base.
iv. Data Pengukuran Rover
Data PPM rover merupakan data yang diperoleh dari pengukuran di
lapangan. Terdiri dari nama titik, waktu pengukuran, dan nilai pengukuran
medan magnet dalam nanoTesla (nT). Data tersebut kemudian diolah
menggunakan Ms. Excel. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah
memilih hasil pengukuran PPM Rover yang mewakili nilai medan magnet
total di titik pengukuran. Nilai tersebut tersebut diperoleh dari modus hasil
pengukuran. Untuk mencari modus, digunakan kontrol kualitas berupa sinyal.
Tujuan akhir dari pengolahan data PPM Rover adalah untuk mendapatkan
anomali magnetiktotal dari batuan atau benda-benda yang berada di bawah
permukaan bumi, Hgeo. Hgeo dapat dihitung menggunakan persamaan
berikut:
Hgeo = HT − HG – Hvarhan (6.13)

dengan,

Hgeo = anomali medan magnet total


HT = medan magnet total hasil pengukuran
HG = medan magnet bumi
Hvarhan = medan magnet variasi harian

Nilai Hgeo dan Hvarhan masing-masing maksimal hanya 2% dan 0,2% dari
[Link] Hgeo dan Hvarhan jauh lebih kecil dari HG, maka anggapan berikut :

HT = HG + Hgeo + Hvarhan ≈ HG + Hgeo + Hvarhan = HT

berubah menjadi operasi aljabar biasa

178
Hgeo = HT − HG − Hvarhan (6.14)

Pada pengolahan menggunakan Microsoft Excel, anomali medan


magnet total diperoleh dengan mengurangkan nilai HT dengan Hgeo yang
diambil dari IGRF atau WMM. Kemudian hasil pengurangan tersebut
dikurangi dengan Hvarhan yang didapat dari pengolahan data di base. Untuk
memudahkan, kolom HT, Hgeo, HG, dan Hvarhan diletakkan bersebelahan.
Anomali IGRF diperoleh dari kolom pembacaan PPM dikurangi kolom IGRF.
Nilai variasi harian diperoleh dari mencocokkan waktu pembacaan pada rover dengan
waktu pada grafik base secara manual agar lebih akurat. Sedangkan nilai anomali total
diperoleh dengan mengurangkan kolom anomali IGRF dengan kolom variasi harian

Gambar 6.20 Pengolahan data menggunakan excel

v. Pengolahan Menggunakan Microsoft Excel


1. Memilih hasil pengukuran PPM Rover. Dari hasil pengukuran kita mencari nilai
yang paling sering muncul (modus). Eliminasi data yang kurang baik (nilainya
berbeda jauh dari pembacaan yang lain/sinyalnya jelek pada titik tersebut).
Hitung rata-rata hasil pengukuran yang tersisa.
2. Buat grafik perbandingan antara waktu dan hasil pengukuran PPM Base. Apabila
muncul spike/sebuah bacaan yang nilainya menyimpang jauh dari bacaan
sebelum dan setelahnya, maka bacaan tersebut dapat dihilangkan
3. Masukkan nilai base dari sheet base ke sheet pengolahan menggunakan rumus

179
‘VLOOKUP’
4. Cari nilai baseline dari pengukuran PPM Base. Nilai baseline didapat dari nilai
pengukuran pertama PPM Base.
5. Hitung nilai variasi harian (varhan) dengan cara mengurangkan nilai base dengan
nilai baseline.
6. Koreksi pengukuran rover dengan varhan untuk mendapatkan medan magnet
terkoreksi varhan.
7. Untuk mencari nilai anomali medan magnet total kita memerlukan nilai [Link]
nilai IGRF lewat website [Link] dengan memasukan nilai latitude dan
longitude daerah pengukuran.
8. Nilai anomali medan magnet total didapat dengan nilai pengukuran rover
dikurangi nilai varhan dan IGRF
9. Sebelum masuk ke Oasis Montaj, buat database yang terdiri dari nama titik,x, y,
z, dan nilai anomali medan magnet total. Untuk membuat sheet database ini,
nilainya jangan di-copy dari sheet pengolahan tetapi gunakan rumus ‘=’ agar
apabila terdapat perubahan pada sheet pengolahan maka akan otomatis berubah
pada sheet database
10. Copy sheet database pada excel ke notepad. Simpan dengan format file .txt

vi. Pengolahan Menggunakan Oasis Montaj - Reduce to Pole


Reduce to Pole adalah suatu proses yang dilakukan untuk
mempermudah dalam menginterpretasi hasil pengukuran data magnetik.
Reduksi ke kutub mengasumsikan seolah-olah data yang diperoleh berada
padakutub magnetik. Proses ini dilakukan dengan membuat sudut inklinasi
benda menjadi 90 derajat dan deklinasinya 0 derajat. Karena pada kutub
magnetik arah medan magnet bumi ke bawah dan arah dari induksi
magnetisasinya ke bawahjuga.

Gambar 6.21 Anomali Magnetik dan Hasil Reduksi ke Kutub (Blakely,1995)

180
1. Buka Oasis Montaj, kemudian masukan file yang telah diseleksi dan
koreksipada Notepad dengan cara klik Data → Import → Ascii.

181
2. Maka akan muncul tampilan seperti ini.

3. Lalu Pilih Grid and Image → Gridding → Minimum Curvature → Isi


Channel to Grid dan Output → OK

4. Akan muncul peta anomali total nya

182
5. Untuk mempermudah interpretasi, dilakukan RTP dengan cara GX → Load
Menu → [Link]

6. Pada tab MAGMAP, klik Step-by-Step Filtering → Prepare Grid→Masukkan


file anomali total → Tentukan file Output → Isi juga parameter-parameter
lainnya

183
7. Maka diperoleh peta hasil prepare grid

8. Lalu dilanjutkan ke Forward FFT (gunakan hasil yang telah dilakukanprepare


grid)

9. Selanjutnya melakukan Define Filter → Tentukan control file nya → Pilih filter
Reduce to Magnetic Pole → isi deklinasi, inklinasi, dll → OK

184
10. Selanjutnya Apply Filter. Maka akan diperoleh peta RTP-nya

185
vii. Diagram Alir Pengolahan Lanjutan - Pemisahan Anomali dan Pemodelan

Gambar 6.22 Diagram Alir Pengolahan Lanjutan

186
Pemisahan anomali lokal dan regional merupakan proses penapisan
yang akan menghasilkan peta anomali residual dan peta anomali regional.
Pemilihan peta yang akan diinterpretasi tergantung pada target yang ingin
dicapai.
1. Anomali regional dihasilkan oleh benda yang berada pada kedalaman yang
cukup dalam dan berukuran besar (frekuensi rendah), sehingga
menghasilkankontur anomali yang besar.
2. Anomali lokal dibentuk oleh benda yang terletak pada posisi yang dangkal
dan berukuran lebih kecil sehingga akan menghasilkan ukuran kontur
anomali yanglebih kecil (berfrekuensi tinggi)
Digunakan metode kontinuasi untuk memisahkan anomali regional dengan
residual. Kontinuasi ke atas dilakukan dengan mentransformasi medan
potensial yang akan diukur di permukaan tertentu ke medan potensial pada
permukaan lainnya yang lebih jauh dari sumber.

Untuk mencari anomali regional digunakan filter upward continuation.

1. Pada tab MAGMAP, klik MAGMAP 1-Step Filtering → Masukan file RTP
→ Tentukan file outputnya → Klik Filter

187
2. Pilih Upward continuation filter → Tentukan jarak yang akan dinaikkan →Klik
OK → Klik OK

3. Maka akan diperoleh hasil dari upward continuation atau bisa disebut
jugasebagai anomali regional

Untuk mencari anomali lokal, kurangkan hasil RTP dengan


anomaliregional.

4. Pada tab Grid and Image, klik Grid Math → Masukan rumus G0 =
x-y →Tentukan file outputnya → Tentukan x nya menjadi file hasil
RTP → Tentukan y nya menjadi file anomali regional → Klik OK

188
5. Maka akan didapat anomali lokalnya

189
viii. Forward Modelling dengan Oasis Montaj
Tentukan target yang ingin dimodelkan. Selanjutnya dalam melakukan
forward modelling, digunakan menu GM-SYS pada Oasis Montaj. Berikut
adalah langkah-langkahnya :
a. Klik Load Menu > [Link] > Open

b. Pilih GM-SYS > New Model > From map profile.

Maka akan muncul jendela baru sebagai berikut :

190
c. Input informasi yang dibutuhkan, di antaranya :
- Model name : Nama dari model yang akan dibuat
- Magnetik grid : Input peta/grid magnetik yang telah dibuat
- Magnetik elevation grid : Input peta/grid magnetik jika titik pengukuran
magnetik tidak berada di permukaan bumi (survey aeromagnetik), input
grid topografi bila berada di permukaan.
- Constant magnetic elevation: sama dengan sebelumnya, namun yang
diinput ketinggian pengukurannya dan disamakan setiap titik (ketinggian
rata-rata pesawatnya)
- Topography grid : input berupa peta/grid dari topografi, input ini cukup
penting karena ketinggian di setiap pengukuran berpengaruh cukup besar
pada proses modelling.
- Setelah selesai, klik Finish.
d. Selanjutnya muncul peta yang akan disayat sesuai input peta/grid. Buatsayatan
di lokasi yang diinginkan, lalu klik Done. Sesuaikan garis yang dibuat paling
representatif dengan target perkiraan.

Selanjutnya akan muncul jendela Earth’s Magnetic Field

e. Isi kolom yang tersedia dengan :


a. Magnitude, H : Nilai IGRF daerah tersebut
b. Inclination, FI : Nilai inklinasi, jika peta yang digunakan adalah
petasetelah RTP, maka inklinasi diisi 90o

191
c. Declination, FD : Nilai deklinasi, jika peta yang digunakan adalah
petasetelah RTP, maka deklinasi diisi 0o
Klik OK
f. Muncul jendela baru untuk pembuatan model dengan beberapa kolom, yaitu
● Kolom Plan View depth : menggambarkan litologi dan bentuk hasil
pemodelan pada sebuah di kedalaman tertentu yang diatur pada garis
sayat berwarna merah di kolom depth. Untuk merubah kedalaman
Plan View Depth, atur pada menu View > Plan View Depth
● Kolom nT : merupakan kolom yang menggambarkan grafik nilai
magnetik sesuai sayatan yang dibuat. Berikut keterangannya :
- Titik titik hitam merupakan bentuk grafik yang ingin disesuaikan
- Garis hitam merupakan garis hasil perhitungan pemodelan, semakin
mirip garis hitam dengan bentuk titik-titik hitam, semakin sesuai
model dengan perhitungan
- Garis biru merupakan garis koreksi error
- Garis merah merupakan garis hasil perhitungan yangmenggambarkan
nilai error, semakin dekat garis merah dan garisbiru, maka semakin
kecil error yang dihasilkan
● Kolom mGals : merupakan kolom data gravitasi
● Kolom Time Seconds : merupakan kolom jika terdapat data seismik
yang diinputkan.
Karena hanya data magnetik yang tersedia, kolom selain nT dan
Depthlebih baik ditutup dengan di-drag ke atas atau bawah.

192
Selain itu terdapat jendela Action dengan keterangan sebagai berikut :
1) Kiri : Menggerakan sebuah titik yang telah
dibuat sebelumnya
Kanan : Menggerakan suatu
kelompok titikyang dipilih
2) Kiri : Menambah titik
Kanan : Menghapus titik
3) Kiri : Menyambungkan titik dengan titik
lainnya(membuat blok/lapisan)
Kanan : Menghapus blok/lapisan sebelumnya
4) Kiri : Mengatur nilai dan warna
lapisan/blok
Kanan : Mengatur zoom yang diinginkan
5) Kiri : Zoom in
Kanan : Zoom
out

g. Buat lapisan/blok dengan panjang yang mendekati tak hingga (Infinite slab)
dengan view-infinite. Untuk menyesuaikan bentuk grafik, digunakanview-full
view. Jika benar, maka tampilan akan sebagai berikut:

193
h. Langkah selanjutnya adalah membuat lapisan yang diperkirakan. Klik Add
point pada jendela action. Lalu klik di kedua sisi garis, kemudian menggunakan
opsi Split block dengan menyambungkan titik dengan titik lain diseberangnya.
Kedalaman dari lapisan juga harus dipertimbangkan secara geologi maupun
perhitungan fisika, jika berhasilmaka akan sebagai berikut (contoh 3 lapisan) :

i. Buat pemodelan bawah permukaan sesuai yang diperkirakan dengan


menggerakkan titik sauh pada garis hijau. Jika ingin menambah titik, klikAdd
point sesuai kebutuhan.

j. Pada proses pemodelan, nilai error dan garis hitam di kolom nT belum berubah.
Hal ini karena tiap lapisan belum ditentukan suseptibilitasnya. Lakukan input
nilai suseptibilitas sekaligus memberi warna dan

keterangan tiap lapisan/block dengan tombol Examine di jendela


Action. Lalu akan muncul jendela berikut :

194
k. Setelah nilai suseptibilitas tiap lapisan/blok ditentukan, nilai error yang muncul
mungkin akan sangat besar (ribuan-puluhan ribu). Gerakkan titiksauh yang
telah dibuat sebelumnya untuk memperkirakan model geologiyang sesuai
sehingga nilai error mengecil.
Semakin besar suseptibilitas lapisan maka pengaruh terhadap grafik
akan semakin besar pula.
l. Perhatikan nilai ERR di pojok kiri bawah kurva. Semakin kecil nilainya,
berarti model yang dibuat semakin mendekati data observasi. Berikut adalah
contoh model geologi yang telah selesai dibuat :

E. Interpretasi
i. Interpretasi Kualitatif
Dalam interpretasi kualitatif, interpretasi ini dapat dilakukan dengan
menganalisis peta anomali, baik itu peta nilai anomali magnetik total, regional,
sisa, maupun hasil reduksi ke kutub. Peta yang digunakan dalam interpretasi
tergantung pada tujuan dari pengukuran di lapangan.
Hasil akhir interpretasi kualitatif adalah perkiraan lokasi benda penyebab
anomali seperti intrusi batuan beku, struktur geologi, ataupun zona
[Link] benda penyebab anomali ditandai oleh keberadaan kontur
tertutup yangperubahan nilainya cukup drastis (Puspita, 2021)
ii. Interpretasi Kuantitatif
Dalam interpretasi kuantitatif, interpretasi ini dilakukan dengan
pembuatan model dari kontur anomali medan magnet total. Pada kontur ini,
dibuat sayatan yang melewati daerah yang diperkirakan berisi benda
penyebabanomali. Pemilihan posisi sayatan ini berdasarkan hasil interpretasi
secarakualitatif (Puspita, 2021).
Pada tahap pemodelan ini, digunakan metode pemodelan maju (forward
modeling) dan pemodelan mundur (inverse modeling). Sayatan respon
anomalidari data lapangan digunakan sebagai acuan dalam membuat model
fisis. Modelfisis tersebut digunakan sebagai referensi dalam proses inversi.
Parameter dalam pemodelan ini adalah nilai kontras suseptibilitas, panjang
strike, bentuk dan posisi.
Model geologi dibuat menggunakan dasar metode Talwani, dengan
programGeosoft Oasis Montaj.

195
Dalam pembuatan model geologi, asumsi-asumsi berikut ini berlaku:
• Sumber anomali magnetisme dianggap hanya berasal dari batuan,
• Suseptibilitas batuan dianggap tetap,
• Batuan dianggap hanya memiliki magnetisasi induksi selama kita
tidakmengetahui hal-hal terkait magnetisasi sisa di dalamnya,
• Komposisi batuan dianggap homogen, sehingga magnetisasi dalam
batuan dianggap sama di semua bagian.

Lampiran

Gambar A.1 Suseptibilitas Batuan

196
BAB VII
MIKROSEISMIK
I. PENDAHULUAN
Metode mikroseismik merupakan salah satu metode Geofisika pasif yang dimanfaatkan
untuk eksplorasi minyak dan gas bumi, studi kegunungapian, penentuan struktur dalam bumi
serta mitigasi kebencanaan.

II. DASAR TEORI


A. Gelombang Mikroseismik
Mikroseismik atau gempa mikro adalah gelombang seismik yang memiliki
magnitudo yang relatif kecil, biasanya kurang dari 3 skala Richter. Mikroseismik dapat
berasal dari bermacam-macam sumber, seperti mikroseismik laut yang sumbernya dari
gelombang laut, angin, dan berbagai sumber yang berasal dari aktivitas di permukaan
maupun di bawah permukaan bumi. Mikrotremor atau biasa disebut dengan ambient
noise merupakan getaran tanah yang sangat kecil dan terus menerus yang bersumber dari
faktor alam ataupun faktor manusia. Peristiwa alam dapat berupa angin, guncangan
tanah, gerakan tanah, gempabumi, gelombang laut, sedangkan faktor manusia dapat
berupa aktivitas manusia seperti aktivitas industri, bangunan, kendaraan dan lain-lain.
Karakteristik mikrotremor erat kaitannya dengan kondisi struktur tanah wilayah daerah
penelitian untuk mengetahui keadaan bawah permukaan tanah. Dari pengukuran
mikrotremor dapat diketahui sifat getaran dalam lapisan dibawah permukaan tanah
(Nakamura, 2000).
Berdasarkan pengertian tersebut, gelombang mikroseismik atau mikrotremor
menurut Nakamura (2000) secara umum merupakan gelombang Rayleigh dengan
karakteristik puncak frekuensi berupa gelombang SH insiden vertikal. Amplitudo
gelombang ini cukup kecil pada 10−4 hingga 10−2 mm. Gelombang mikroseismik
dihasilkan oleh getaran pada permukaan bumi yang konstan akibat aktivitas manusia
sehari-hari dan fenomena alam seperti angin, variasi tekanan atmosfer, aliran sungai, dan
gelombang laut. Hal ini membuat gelombang mikroseismik tidak bisa dikategorikan
sebagai fenomena alam dikarenakan adanya faktor aktivitas manusia sebagai salah satu
sumbernya namun bukan noise yang mengganggu pula.

B. Transformasi Fourier
Analisis fourier merupakan metode untuk mendekomposisi sebuah gelombang
seismik menjadi beberapa gelombang harmonik sinusoidal dengan masing-masing
frekuensi tertentu. Sedangkan kumpulan dari gelombang harmonik sinusoidal dikenal
sebagai Deret Fourier. Transformasi Fourier digunakan untuk merepresentasikan fungsi
waktu transien ke domain frekuensi seperti pada persamaan berikut :

𝐹(𝜔) = ∫ 𝑓(𝑡)−𝑖𝜔𝑡 𝑑𝑡

197
dengan F(t) adalah transformasi dari f (ω) yang masih berada dalam kawasan
waktu. Pada komputasi digital, transformasi ini dapat dihitung lebih cepat menggunakan
Fast Fourier Transform (FFT). Salah satu metode FFT yang digunakan adalah algoritma
Cooley Tukey.
C. Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR)
Metode HVSR merupakan metode perbandingan antara spektrum horizontal
dengan spektrum vertikal dari getaran permukaan yang mencerminkan kondisi geologi
permukaan. Terdapat dua parameter penting hasil pengolahan metode ini, yaitu
frekuensi natural (f0) dan amplifikasi (A) Metode HVSR berguna untuk identifikasi
respon resonansi pada suatu cekungan berisi material sedimen berdasarkan pengukuran
pada stasiun pengamatan tunggal (Nakamura, 1989). Analisa HVSR dilakukan dengan
melakukan pemotongan ambient noise dari data time series komponen N-S, E-W, dan
vertikal, melakukan transformasi fourier dan smoothing jika diperlukan, dan membagi
rata-rata nilai 2 spektrum horizontal dengan spektrum vertikalnya. Hasilnya adalah
spektrum mikrotremor dengan puncak spektrum (A) pada frekuensi resonansinya (f0).

Gambar 7.1. Skema penggambaran metode HVSR


Keterangan :
Hs : Spektrum horizontal pada lapisan sedimen
Vs : Spektrum vertikal pada lapisan sedimen
Hb : Spektrum horizontal pada lapisan batuan dasar
Vb : Spektrum vertikal pada lapisan batuan dasar
Ah : Faktor amplifikasi horizontal
Av : Faktor amplifikasi vertical
A site : Amplifikasi tanah
Faktor amplifikasi horizontal didapatkan dari perbandingan antara spektrum
horizontal pada lapisan sedimen dan lapisan batuan dasar. Sedangkan faktor amplifikasi

198
vertikal didapatkan dari perbandingan antara spektrum vertikal pada lapisan sedimen
dan lapisan batuan dasar. Sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut.
𝐻𝑠 𝑉𝑠
𝐴ℎ = , 𝐴𝑣 =
𝐻𝑏 𝑉𝑏
Nakamura mengasumsikan bahwa nilai Vb/Hb mendekati 1, maka didapatkan
persamaan berikut
𝑉𝑏
≈1
𝐻𝑏

D. Frekuensi Dominan
Frekuensi dominan merupakan frekuensi alami dari daerah pengukuran. Semakin
rendah frekuensi alami suatu daerah maka semakin besar potensi terjadinya resonansi
terhadap getaran atau gempa bumi yang mempengaruhi amplifikasi gelombang seismik.
Nilai frekuensi alami dipengaruhi oleh ketebalan lapisan lapuk dan kecepatan rambat
gelombang seismik di bawah permukaan. Semakin kecil nilai f0 maka menunjukkan
semakin tebal lapisan sedimen di bawah permukaan. (Mucciarelli, 2008).
𝑉𝑠
𝑓0 =
4𝐻
E. Amplifikasi
Amplifikasi disebabkan karena frekuensi dari gelombang seismik yang merambat ke
permukaan memiliki nilai yang hampir sama dengan nilai frekuensi permukaan tanah.
Nilai amplifikasi tanah memiliki korelasi dengan perbandingan kontras impedansi
lapisan permukaan dengan lapisan yang berada di bawahnya (Nakamura, 2002). Jika
perbandingan kontras impedansi kedua lapisan bernilai tinggi, maka amplifikasi akan
bernilai tinggi pula. Persamaan amplifikasi sebagai suatu fungsi perbandingan nilai
kontras impedansi dapat dituliskan sebagai berikut:
𝜌𝑏 × 𝑉𝑏
𝐴0 =
𝜌𝑠 × 𝑉𝑠
Dimana, 𝐴0 adalah perbandingan nilai kontras impedansi, 𝜌𝑏 adalah densitas batuan
dasar (gr/ml), 𝜌𝑠 adalah rapat massa dari batuan lunak, 𝑉𝑏 adalah kecepatan rambat
gelombang di batuan dasar (m/dt), dan 𝑉𝑠 adalah kecepatan rambat gelombang di batuan
lunak (m/dt). Dalam pengolahan HVSR dengan software Geopsy, nilai amplifikasi
didapatkan dari sumbu horizontal puncak kurva H/V.

F. Nilai Kerentanan (Kg)


Nakamura (1998) dan Huang dan Tseng (2002) menyatakan bahwa Indeks
Kerentanan Seismik (Kg) mengidentifikasi tingkat kerentanan suatu lapisan tanah yang
mengalami deformasi akibat gempa bumi dengan persamaan sebagai berikut:

199
𝐴02
𝐾𝑔 =
𝑓0
Dengan Ao dan fo adalah amplitudo (faktor amplifikasi) dan frekuensi HVSR.
Nilai Kg yang tinggi umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan sedimen
yang lunak. Nilai yang tinggi ini menggambarkan bahwa daerah tersebut rentan terhadap
gempa dan jika terjadi gempa dapat mengalami guncangan yang kuat. Sebaliknya, nilai
Kg yang kecil umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan penyusun yang
kokoh sehingga tanah daerah tersebut lebih resisten terhadap guncangan gempa.

G. Peak Ground Acceleration (PGA)


Percepatan tanah adalah percepatan gelombang yang sampai ke permukaan bumi
dan dapat diukur dengan alat yang disebut accelerograph. Peak Ground Acceleration
(PGA) adalah percepatan getaran tanah maksimum yang terjadi pada suatu titik pada
posisi tertentu dalam suatu kawasan yang dihitung dari akibat semua gempa bumi yang
terjadi pada kurun waktu tertentu dengan memperhatikan besar magnitudo dan jarak
hiposenternya, serta periode dominan tanah di mana titik tersebut berada. Semakin vital
suatu bangunan maka harus di bangun dengan daya tahan terhadap PGA yang tinggi, ini
juga berarti harus memperhitungkan kejadian gempa bumi dengan magnitudo yang
besar dan terjadi dalam kurun waktu yang lama. Hal tersebut dikarenakan semakin lama
kurun waktu terjadinya gempa maka nilai PGA akan semakin tinggi.
Penghitungan PGA menggunakan rumus empiris dari Kanai (1996) dalam Doughlas
(2004).

Dimana
𝛼 = Peak ground acceleration
𝛼1 =5
𝑇𝑔 = Periode dominan tanah (s)
𝑅 = Jarak dari hiposenter (km)
𝛼2 = 0,61
𝑀 = Magnitudo gempa bumi (skala Richter)
P = 1,66 + 3,6 𝑅
Q = 0,16 − 1,83 𝑅

H. Ground Shear Strain (GSS)


Ground Shear Strain (GSS) merupakan estimasi potensi lapisan tanah untuk bergeser
dan bergerak karena terkena dampak gempa bumi. Tanah dengan nilai GSS tinggi
memiliki kemungkinan untuk terdeformasi parah ketika terjadi gempa. Strain merupakan
parameter yang membandingkan perubahan bentuk suatu benda dengan bentuk mula-
mula benda tersebut. Strain dibagi menjadi dua yaitu normal strain dan shear strain. Shear
strain sendiri merupakan perubahan sudut dari sudut yang dibentuk oleh perpotongan dua

200
buah garis lurus. Konsep dasar shear strain dapat digunakan dalam menganalisis
deformasi suatu lapisan permukaan tanah. (Ishihara, 1978 dalam Nakamura, 1997).
Dengan menggunakan parameter frekuensi dominan dan amplifikasi, secara teoritis nilai
shear strain dapat ditentukan (Nakamura, 1997) melalui persamaan berikut.
𝛾 = 𝐾𝑔 × 10−6 × 𝛼
Dimana
𝛾 = GSS
𝐾𝑔 = Indeks kerentanan seismik
𝛼 = PGA

III. AKUISISI DATA LAPANGAN


Sebelum dilakukan pengambilan data mikroseismik di lapangan, terlebih dahulu
dilakukan survei awal dan orientasi medan yang bertujuan untuk mempelajari distribusi
titik-titik yang akan diukur. Pengambilan posisi data mikrozonasi berdasarkan GPS Garmin
mengacu pada titik-titik ukur yang telah ditentukan sebelumnya pada peta rupa bumi.
Ploting titik ukur dilakukan secara otomatis menggunakan software Arc View 3.2 dan
Surfer 8.0.
A. Penentuan Lokasi Titik Ukur
Bentuk titik pengukuran dibuat dalam grid dan umumnya digunakan spasi titik
pengukuran 500 meter. Pengukuran data mikrozonasi dilakukan dengan mencari titik-
titik ukur yang telah ditentukan sebelumnya. Lokasi titik ukur dipilih pada tempat yang
tidak banyak gangguan (noise) sehingga mempermudah pengambilan data dan
memaksimalkan keakuratan data. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat
penentuan titik ukur adalah :
a. Letak titik ukur diusahakan berada tepat pada titik yang telah ditentukan sebelumnya
pada peta rupa bumi.
b. Apabila pada lapangan titik ukur tidak dapat dijangkau, maka pengukuran
dipindahkan pada titik sekitarnya.
c. Lokasi titik ukur relatif terbuka. Hal ini dikarenakan data logger yang digunakan
memiliki konektivitas dengan GPS-based time untuk penentuan waktu pada data.
d. Titik ukur diusahakan pada daerah yang tanahnya stabil.

B. Peralatan Akuisisi Data


1. Seismometer Lennartz Electronic tipe LE-3D/20s dengan 3 komponen (vertical,
utara-selatan, dan barat-timur). Frekuensi natural yang dimiliki oleh sensor ini adalah
0,05 Hz, sementara upper frequency-nya adalah 50 Hz.
2. Data logger.
3. Accu.
4. Kabel penghubung antara seismometer dengan data logger.
5. Kabel LAN (penghubung antara alat dengan PC).
6. Kabel accu ke data logger.
7. MicroSD (jika dibutuhkan).
8. Peta RBI wilayah pengamatan.

201
9. PC yang didalamnya terdapat perangkat lunak seperti berikut ini :
- Windaq/Dataq
- Microsoft Windows
- Geopsy
- Surfer
10. Peralatan penunjang lainnya, antara lain:
- GPS Handheld
- Pelindung peralatan (payung atau jas hujan)
- Peta desain survei
- Buku catatan (log book)
- Kompas dan alat tulis
- Paving blok

C. Parameter Akuisisi
Untuk memperoleh data yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut
merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran mikroseismik:
a. Parameter Rekaman
• Penentuan gain (pembesaran) semaksimal mungkin tanpa terjadi saturasi.
Penentuan gain yang terlalu besar akan mengakibatkan sinyal tersaturasi. Pastikan
pula semua komponen di-setting dalam gain yang sama besar.
• Penentuan frekuensi pencuplikan yang terlalu kecil akan mengakibatkan efek
aliasing. Gunakan frekuensi pencuplikan minimal empat kali lebih besar dari
frekuensi maksimal yang terkandung dalam sinyal seismik. Semakin besar frekuensi
sampling akan semakin baik tetapi akan membutuhkan memori penyimpanan yang
besar. Frekuensi pencuplikan juga harus disesuaikan dengan instrumen yang
digunakan.
• Durasi rekaman harus memenuhi kriteria pada tabel di bawah.
Tabel 7.1. Kriteria durasi rekaman

• Pastikan sensor dalam keadaan stabil sebelum dilakukan pengukuran.


b. Spasi Pengukuran
• Spasi antar titik disesuaikan dengan luas area yang akan diukur. Untuk daerah yang
luas bisa digunakan spasi 500m. Agar data yang diperoleh lebih rapat bisa
menggunakan spasi 250 m, tetapi akan berakibat jumlah titik yang akan diukur
semakin banyak. Hal ini harus disesuaikan dengan waktu yang dimiliki untuk
pengukuran.

202
• Minimal gunakan tiga titik pengukuran untuk melakukan analisa di suatu tempat.
c. Kopling Tanah-Sensor
• Untuk mendapatkan kopling yang baik antara tanah dan sensor, sebaiknya di pasang
langsung pada tanah.
• Hindari pengukuran pada tanah lunak, misalnya daerah berlumpur, rawa.
• Hindari pengukuran pada tempat yang jenuh air misalnya setelah hujan deras.
• Untuk memperoleh kopling yang bagus dapat digunakan lempeng yang keras misalnya
keramik atau paving sebagai alas sensor dan dipasang pada lubang sedalam ±30 cm.
d. Efek Struktur Lokal
• Sebisa mungkin hindari pengukuran di dekat struktur yang besar, misalnya gedung
dan pohon. Pergerakan struktur tersebut akibat angin akan menimbulkan low
frequency noise. Tidak ada jarak minimal yang disarankan karena hal tersebut
dipengaruhi banyak faktor seperti kecepatan angin, tipe tanah dll.
• Hindari pengukuran di atas infrastruktur bawah tanah (sumber noise), misal jaringan
pipa air. Pengukuran di atasnya akan memengaruhi rekaman seismiknya khususnya
komponen vertikal.
e. Kondisi Cuaca
• Angin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil rekaman. Tidak
disarankan untuk melakukan pengukuran saat cuaca berangin.
• Hindari pengukuran saat hujan deras. Saat hujan ringan masih bisa dilakukan tetapi
harus diperhatikan peralatan yang tidak tahan air harus dilindungi.
f. Noise
Selain faktor di atas yang dapat mempengaruhi hasil rekaman adalah gangguan
lokal, misal langkah kaki, kendaraan yang lewat, derau mesin. Walaupun gangguan lokal
ini bisa dihindari saat melakukan prosesing data dengan melakukan windowing tetapi
sangat dianjurkan untuk menghindari hal tersebut dengan menentukan titik ukur di
tempat yang bebas noise.

D. Langkah Akuisisi Data untuk Seismometer Lennartz Electronic tipe LE-3D/20s


1. Tentukan titik pengamatan kemudian gali lubang untuk menempatkan seismometer.
2. Letakkan paving blok di dalam lubang sebagai alas untuk seismometer.
3. Letakkan seismometer dengan hati-hati pada titik pengukuran tersebut dan arahkan
seismometer menuju arah utara. NB: Seismometer sangat sensitif terhadap
guncangan.

4. Hubungkan seismometer dengan data logger menggunakan kabel penghubung.


NB: Seismometer dengan data logger harus terhubung terlebih dahulu agar
memudahkan proses berikutnya yaitu leveling.

203
Gambar 7.2. Sensor Seismometer Lennartz Electronic tipe LE-3D/20s

5. Lakukan leveling pada seismometer dengan cara menempatkan gelembung di dalam


nivo di bagian tengah. Gelembung tersebut dapat diatur dengan menggunakan 3
buah kaki penyangga.
NB: Kaki penyangga yang dapat berfungsi dengan baik hanya satu, 2 kaki
penyangga yang lain agak sulit digunakan.
6. Hubungkan data logger dengan PC menggunakan kabel penghubung.
Ulur semua kabel yang tergulung untuk menghindari coupling yang dapat
menyebabkan gangguan terhadap tegangan dan arus.

Gambar 7.3. Data Logger


Terdapat lampu penanda pada data logger, jika lampu berwarna hijau menandakan
alat standby, jika lampu berwarna merah menandakan sedang dalam proses
perekaman(record).

204
7. Buka software Dataq kemudian akan muncul seperti berikut ini :

Gambar 7.4. Tampilan software Dataq


Klik Update List dan tunggu hingga status yang tertera pada layar Available.
Kemudian setelah Available klik Start Windaq (untuk mengatur beberapa
karakteristik yang diinginkan).

8. Software Windaq akan muncul seperti berikut ini :

Gambar 7.5. Gelombang mikroseismik pada software Dataq


Klik Edit > Sampling rate, untuk menentukan nilai sampling rate yang diinginkan
seperti berikut :

Gambar 7.6. Penentuan nilai Sampling Rate


Klik Edit > Channel Selection dan isi kolom 1, 2 dan 3 menggunakan tanda + karena
tanda + mengartikan bahwa yang digunakan adalah differential.

205
Gambar 7.7. Jendela Channel Selection
Klik Edit > Gain, untuk menentukan gain yang akan digunakan pada masing masing
channel seperti berikut:

Gambar 7.8. Pengaturan gain


Setelah menentukan gain untuk channel 1 kemudian pilih Next untuk menentukan
gain hingga channel 3, selanjutnya pilih OK.
9. Pengaturan sebelumnya dapat disimpan dengan cara klik File > Save Default Setup
10. Kemudian lihat respon gelombang pada layar Windaq, jika respon gelombang yang
ditunjukkan sama antara ketiga komponen baru dapat memulai proses perekaman.

206
Gambar 7.9. Respon gelombang mikroseismik

11. Untuk memulai perekaman klik File > Record dan atur waktu pengambilan data agar
sesuai.\

Gambar 7.10. Proses penyimpanan data pada Software Dataq


12. Setelah perekaman
13. Selesai klik File > Stop

IV. PENGOLAHAN DATA MIKROSEISMIK


Dalam pengolahan data mikroseismik untuk mendapatkan besaran nilai frekuensi
dominan (f0) dan amplifikasi (A0) dalam metode HVSR dapat digunakan pengolahan data
menggunakan software Geopsy. Dari Geopsy tersebut akan didapatkan rasio spektrum
horizontal terhadap vertikal (H/V) dari semua jenis sinyal getaran. Dalam melakukan
pengolahan HVSR pada Geopsy perlu diperhatikan data yang harus tersedia, yaitu :
• Data mentah yang berupa 3 komponen sinyal
• Sampel data yang cukup untuk bisa diolah
• Memenuhi kriteria reliable kurva HVSR (SESAME, 2004)
Untuk mendapatkan hasil kurva HVSR yang reliable, diperlukan quality control
berdasarkan standar SESAME 2004. Terdapat 3 kriteria reliable kurva HVSR, di antaranya:

207
- Frekuensi natural harus lebih besar dari 10 dibagi panjang window (𝑙𝑤 )
(𝑓0 > 10/𝑙𝑤 )
- Jumlah 𝑛𝑐 harus lebih besar dari 200 (𝑛𝑐 > 200). Nilai 𝑛𝑐 didapatkan dari hasil
perkalian antara panjang window, frekuensi natural (𝑓0 ), dan jumlah window yang
dipilih untuk mencari kurva rata-rata HVSR antara 20-50 detik (𝑛𝑤 ).
- Nilai standar deviasi (σA) harus lebih kecil dari 2 (untuk 𝑓0 > 0,5 Hz) dan σA lebih
kecil dari 3 (untuk 𝑓0 < 0,5 Hz) dalam batas frekuensi 0,5𝑓0 sampai 2𝑓0 .

Gambar 7.11. Kriteria Reliability


Setelah ketersediaan data diatas terpenuhi barulah kita dapat melakukan pengolahan
HVSR pada Geopsy. Sebagai referensi dalam pengolahan pada Geopsy ini dapat digunakan
referensi dari tutorial JSESAME.
Terdapat beberapa cara dalam melakukan pengolahan HVSR pada Geopsy, antara
lain yaitu manual dan auto. Pengolahan secara manual disini merupakan pemilahan data
secara manual terhadap data pengukuran, sedangkan pengolahan secara auto merupakan
pemilahan data secara otomatis dengan memasukkan kriteria-kriteria tertentu pada program.
Baik dari pengolahan secara manual maupun secara auto terdapat ketentuan yang perlu
diperhatikan lagi menurut tutorial JSESAME.

208
Gambar 7.12. Diagram Alir Penelitian
A. Pengolahan Manual
Dalam pengolahan secara manual akan dipisahkan atau dipilah data yang tidak
diinginkan dalam pengolahan secara manual dengan memotongnya atau
membuangnya. Dalam pengolahan HVSR pada Geopsy, pembuangan data yang tidak
kita inginkan akan berupa tampilan sinyal gelombang yang berjendela-jendela
(window) yang nantinya jendela tersebut akan dipilih untuk dibuang atau dipakai dalam
proses pengolahan HVSR. Yang perlu diperhatikan adalah terdapat ketentuan dalam
pemilihan panjang jendela (length window) dalam proses pengolahan. Panjang jendela
ini harus disesuaikan dengan kebutuhan target frekuensi terendah yang ingin dicapai.
Tabel di bawah ini akan menjelaskan kriteria untuk menentukan nilai panjang jendela
(length window) :

209
Tabel 7.2. Penentuan panjang jendela (Sumber : JSESAME)
Minimum
Minimum Recommended
useful
Minimum number of Minimum minimum
F0 value for lw significant signal
number of duration record duration
(HZ) cycles (nc) windows (min)
(s) (s)

0,2 50 200 10 1000 30’

0,5 20 200 10 400 20’

1 10 200 10 200 10’

2 5 200 10 100 5’

5 5 200 10 40 3’

10 5 200 10 20 2’

Dimana,
Nc = lw . nw . f0
nw = Number of window
Pada dasarnya penentuan panjang jendela dapat ditentukan dengan melihat
hubungannya dengan frekuensi seperti pada persamaan berikut,

Dari persamaan di atas menjelaskan bahwa dalam penentuan panjang jendela


bergantung pada kebutuhan target frekuensi terendah yang ingin dicapai. Jika
menggunakan panjang jendela 10 maka batas frekuensi terendah yang dapat dipercaya
adalah 1 Hz. Namun juga perlu diperhatikan dari spesifikasi alat yang kita gunakan.
B. Pengolahan Auto
Berdasarkan pada Sesame : Guidelines For The Implementation of The H/V Spectral
Ratio Technique on Ambient Vibration, untuk pengolahan secara otomatis hal yang perlu
diperhatikan adalah :
a. STA (Short Term Average) : Rata rata nilai amplitudo dalam rentang waktu
yang sempit (umumnya 0,5 – 2s)
b. LTA (Long Term Average) : Rata nilai amplitudo dalam rentang waktu yang
lama (umumnya beberapa puluh detik)
c. Rentang nilai STA/LTA : batas minimum dan maksimum dari nilai ini
digunakan komputer sebagai parameter pemilahan sinyal ambient dalam data
rekaman (umumnya 1,5 – 2).
Setelah kita mengetahui tentang pengolahan manual dan auto beserta syarat
syaratnya, berikut merupakan langkah atau tata cara dalam pengolahan HVSR pada
software Geopsy:
1. Tahap pertama adalah membuka software Geopsy dan melakukan pembukaan
data hasil pengukuran mikroseismik yang dimiliki. Adapun caranya adalah

210
dengan mengeklik “Open” dan pilih database hasil pengukuran mikroseismik
yang dimiliki.
2. Setelah anda memasukan database data hasil pengukuran langkah selanjutnya
adalah memasukkan data pengukuran yang akan diolah kedalam “table” lalu
memasukkan besaran nilai “sample rate”, identitas channel (North, East, atau
Vertical). Sebelum melakukan pengisian data pengukuran/identitas data, klik
“Edit”>>”Lock table edition”

Gambar 7.13. Memasukkan Data Pengukuran


3. Data yang terdapat pada table tersebut berikutnya didrag kedalam icon
“Graphic” dan akan muncul tampilan seperti berikut,

Gambar 7.14. Drag kedalam Icon Graphic


4. Data seismogram berikutnya dibawa ke baseline dengan cara mengklik toolbar
Waveform >> Subtract, kemudian pilih Value (bernilai 0) >> OK.

211
5. Setelah langkah 1 sampai 4 sudah dilakukan barulah data dapat dilakukan
spectral analisis H/V. Spectral analisis H/V dilakukan dengan cara klik toolbar
Tools >> H/V.

Gambar 7.15. Melakukan Analisis H/V

6. Proses selanjutnya adalah windowing atau pemilihan jendela untuk melakukan


pemilahan data yang akan dilakukan proses spectral analisis H/V (HVSR).
Pemilihan jendela (window) ini dapat dilakukan secara manual ataupun
otomatis.
7. Untuk pemilihan secara manual, tampilkan data dalam bentuk graphic. Setelah
itu klik tool lalu pilih H/V. Akan muncul H/V toolbox. Pada tab windowing kita
pilih add untuk menambahkan window lalu pilih langsung pada graphic window
yang kita inginkan. Begitu selanjutnya sampai semua window terpilih. Yang
perlu diingat adalah yang akan kita analisis adalah data mikrotremor sehingga
semua event transient yang berupa gelombang akibat noise seperti mobil, orang
jalan, atau yang lainnya harus kita buang.

212
Gambar 7.11. Setting Secara Manual

Gambar 7.16. Windowing

8. Pada H/V toolbox, tab processing berguna untuk menentukan proses pengolahan
yang kita butuhkan. Smoothing yang umum digunakan adalah mengacu pada
algoritma Konno Omachi.

213
Gambar 7.17. Smoothing
9. Tab output dapat kita gunakan untuk menentukan parameter parameter keluaran
yang kita inginkan.

Gambar 7.18. Menentukan Parameter Output


10. Setelah semua proses pemilihan window dan pengaturan parameter selesai kita
lakukan selanjutnya klik tombol “start” dan akan muncul tampilan seperti di
bawah ini,

214
Gambar 7.19. Hasil Kurva H/V
11. Arahkan kursor kearah gambar spektrum tersebut maka akan muncul besaran
nilai f0 dan A0.

V. INTERPRETASI
A. Frekuensi dominan (f0)
Frekuensi dominan adalah nilai frekuensi yang kerap muncul dan diakui sebagai nilai
frekuensi dari lapisan batuan di suatu wilayah, sehingga nilai frekuensi dapat
menunjukkan jenis karakteristik batuan tersebut. Menurut Bard, nilai f0 berasosiasi
dengan kedalaman bedrock. Nilai f0 yang lebih rendah menunjukkan keberadaan
bedrock yang lebih dalam. Sementara itu menurut Daryono dkk., nilai f0 yang lebih besar
merupakan cerminan dari material batuan yang lebih masif, sedangkan daerah dengan
nilai f0 yang kecil menunjukkan bahwa material batuan di daerah tersebut berupa
material yang lapuk yang rentan terhadap gempa.
Tabel 7.3. Klasifikasi tanah berdasarkan nilai frekuensi dominan oleh Kanai (Dikutip
dari Buletin Meteorologi dan Geofisika No.4, 1998)
Klasifikasi Frekuensi Klasifikasi
No. Deskripsi
Tipe Jenis (Hz) Kanai
Batuan tersier Ketebalan
atau lebih tua, sedimen
Tipe terdiri dari permukaannya
1. Jenis I 6.667 - 20
IV batuan hard sangat tipis,
sandy, gravel, didominasi oleh
dll. batuan keras.

215
Batuan alluvial Ketebalan
dengan sedimen
kedalaman 5 m, permukaannya
Tipe Jenis
2. 10 - 4 terdiri dari masuk dalam
IV II
sandy-gravel, kategori
sandy hard menengah 5 – 10
clay, loam, dll. m.
Batuan alluvial Ketebalan
dengan sedimen
ketebalan > 5 permukaan
Tipe Jenis
3. 2.5 - 4 m, terdiri dari masuk dalam
III III
sandy-gravel, kategori tebal,
sandy hard sekitar 10 - 30
clay, loam, dll. m.
Batuan alluvial
yang terbentuk
dari Ketebalan
Tipe
Jenis sedimentasi sedimen
4. II < 2.5
IV delta, top soil, permukaannya
dan I
lumpur, dengan sangat tebal.
kedalaman 30
m atau lebih.

B. Periode Dominan (T0)


Nilai periode dominan merupakan waktu yang dibutuhkan gelombang
mikroseismik untuk merambat melewati lapisan endapan sedimen permukaan atau
mengalami satu kali pemantulan terhadap bidang pantulnya ke permukaan. Nilai periode
dominan juga mengindikasikan karakter lapisan batuan yang ada di suatu wilayah.
Tabel 7.4. Klasifikasi tanah Kanai-Omote-Nakajima (Dikutip dari Buletin Meteorologi
dan Geofisika No.4, 1998)
Klasifikasi Periode
No. Keterangan Karakter
Tanah (s)
Batuan tersier atau
0.05 – lebih tua, terdiri
1. Jenis I Jenis A Keras
0.15 dari batuan hard
sandy, gravel, dll.
Batuan alluvial
dengan ketebalan
2. Jenis II 0.10 - 5m, terdiri dari Sedang
sandy-gravel, sandy
hard clay, loam, dll.

216
Batuan alluvial,
hampir sama
Jenis dengan jenis II,
3. Jenis B 0.25 - Lunak
III hanya dibedakan
oleh adanya formasi
bluff.
Batuan alluvial
yang terbentuk dari
Jenis Lebih dari sedimentasi delta, Sangat
4. Jenis C
IV 0.25 top soil, lumpur, dll, lunak
dengan kedalaman
30 m atau lebih.

C. Amplifikasi (A0)
Amplifikasi adalah rasio impedansi lapisan sedimen terhadap batuan dasar (bedrock).
Amplifikasi menggambarkan perubahan nilai percepatan getaran gelombang tanah dari
batuan dasar menuju ke permukaan yang disebabkan karena terdapat perbedaan
kecepatan gelombang geser (Vs) di batuan dasar dan lapisan sedimen. Nilai kecepatan
gelombang geser (Vs) yang mengecil menyebabkan nilai modulus geser dan faktor
redaman semakin mengecil, sehingga percepatan getaran gelombang tanah membesar.
Bila perbandingan kontras impedansi kedua lapisan tersebut tinggi maka nilai faktor
amplifikasi juga tinggi, begitu pula sebaliknya.
Marjiyono (2010) menyatakan bahwa, amplifikasi berbanding lurus dengan nilai
perbandingan spektral horizontal dan vertikalnya (H/V). Nilai amplifikasi bisa
bertambah, jika batuan telah mengalami deformasi (pelapukan, pelipatan atau
pensesaran) yang mengubah sifat fisik batuan. Pada batuan yang sama, nilai amplifikasi
dapat bervariasi sesuai dengan tingkat deformasi dan pelapukan pada tubuh batuan
tersebut.

D. Ketebalan lapisan lapuk (H)


Hubungan antara frekuensi dominan terhadap batuan dasar, yaitu bahwa semakin
kecil frekuensi dominan pada pengukuran mikroseismik maka batuan dasar semakin
dalam dan lapisan sedimen lunak permukaan semakin tebal. Sebaliknya, semakin besar
frekuensi dominan yang diperoleh pada pengukuran mikroseismik maka batuan dasar
kedalaman dangkal dan lapisan sedimen lunak permukaan semakin tipis.
E. Indeks kerentanan seismik (Kg)
Indeks kerentanan seismik (Kg) merupakan indeks yang merepresentasikan tingkat
kerentanan lapisan tanah permukaan terhadap deformasi saat terjadi gempa bumi. Tinggi
rendahnya indeks kerentanan seismik dipengaruhi oleh faktor amplifikasi dan frekuensi
dominan. Nilai Kg yang tinggi umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan
sedimen yang lunak. Nilai yang tinggi ini menggambarkan bahwa daerah tersebut rentan
terhadap gempa dan jika terjadi gempa dapat mengalami guncangan yang kuat.
Sebaliknya, nilai Kg yang kecil umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan
217
penyusun yang kokoh sehingga saat terjadi gempa tidak mengalami banyak guncangan
(Damsiar, 2015).
F. Peak Ground Acceleration (PGA)
Peak Ground Acceleration atau percepatan getaran tanah maksimum merupakan
suatu parameter yang merepresentasikan nilai percepatan getaran tanah terbesar yang
terjadi di suatu daerah akibat gempa.
Tabel 7.5. Tingkat risiko gempa (Fauzi et al., 2005 dalam Purwanti, 2016)
Percepatan Intensitas
No. Tingkat Risiko
(gal) (MMI)
1. Risiko sangat kecil < 25 < VI
2. Risiko kecil 25 – 50 VI – VII
3. Risiko sedang satu 50 – 75 VII – VIII
4. Risiko sedang dua 75 – 100 VII – VIII
5. Risiko sedang tiga 100 -125 VII –VIII
6. Risiko besar satu 125 - 150 VIII – IX
7. Risiko besar dua 150 – 200 VIII- IX
8. Risiko besar tiga 200 – 300 VIII – IX
Risiko sangat besar
9. 300 – 600 IX – X
satu
Risiko sangat besar
10. > 600 >X
dua

G. Ground Shear Strain (GSS)


Ground shear strain adalah kemampuan tanah suatu daerah untuk saling merenggang
dan bergeser saat terjadinya gempa. Semakin besar nilai GSS maka daerah tersebut
memiliki nilai indeks kerentanan seismik dan PGA yang besar pula
Tabel 7.6. Hubungan antara ϓ dengan sifat dinamik tanah (Nakamura,2008)
Ukuran
10-6 - 10-5 10-4 - 10-3 10-2 - 10-1
Strain
Rekahan,
Getaran, Longsor, pemadatan
Fenomena penurunan
gelombang tanah , likuefaksi
tanah
Efek yang berulang,
Elasto-
Sifat dinamis Elastisitas efek kecepatan dari
plastisitas
pembebanan

218
H. Kurva H/V
a. Clear peak

Gambar 7.20. Kurva Clear Peak


Jika titik pengukuran jauh dari kegiatan industri yang menghasilkan ambient noise,
maka f0 merupakan frekuensi dominan daerah tersebut. Kurva H/V yang
menunjukkan clear peak pada frekuensi tinggi biasanya diakibatkan karena adanya
pelapukan di permukaan.

b. Sharp peak

Gambar 7.20. Kurva Sharp Peak


Jika data pengukuran dipengaruhi ambient noise, peak yang dihasilkan tajam dan
95% data tersebut terpengaruh aktivitas industri. Untuk melihat pengaruh dari
aktivitas industri dapat digunakan smoothing saat pengolahan kurva H/V. Semakin
besar smoothing yang digunakan, kurva sharp peak semakin jelas.
c. Unclear low frequency (< 1 Hz)

219
Gambar 7.22. Kurva Unclear Low Frequency
Pada umumnya bentuk kurva ini disebabkan oleh :
- Daerah tersenut memiliki dominan yang rendah dan kontras impedansi yang
rendah (<4-5)
- Terdapat velocity gradient
- Pengaruh angin saat pengukuran
- Gangguan metrologi saat pengukuran
- Soil-Sensor Coupling yang buruk
- Contoh: pengukuran di tanah yang lunak (akibat hujan), di atas rumput, tatakan
dari sensor yang buruk
- Sumber ambient noise (truk, mesin) berada pada jarak yang dekat (beberapa
ratus meter
- Kurang tepatnya parameter dalam melakukan smoothing
- Kurang tepatnya penggunaan sensor dengan sensitivitas yang rendah pada
frekuensi rendah
Untuk memastikan hasil yang didapatkan, dapat dilakukan dengan meninjau
kondisi geologi pengukuran. Apabila pengukuran dilakukan pada batuan keras, maka
dapat diperkirakan bahwa frekuensi tersebut dihasilkan oleh artefact. Apabila
pengukuran dilakukan pada deposit sedimen, frekuensi tersebut dihasilkan karena
adanya deposit sedimen yang kaku dan cukup tebal. Namun langkap paling aman yang
dapat dilakukan jika didapatkan bentuk kurva H/V unclear low frequency peak adalah
pengukuran ulang atau interpretasi secara kuantitatif terhadap titik pengukuran lain.

220
d. Broad peak and multiple peak

Gambar 7.23. Kurva Broad Peak dan Multi Peak


Bentuk kurva ini disebabkan oleh adanya slope antara lapisan lunak dengan
lapisan yang lebih keras di bawah permukaan. Hasil kurva H/V seperti ini biasa
dihasilkan apabila pengukuran dilakukan di sisi lembah.
Apabila terdapat kasus seperti ini dapat dilakukan smoothing ulang. Ketika
terdapat broad peak maka harus menurunkan bandwidth smoothing. Namun ketika
terdapat multiple peak maka harus menaikkan bandwidth smoothing.

e. Two peak (f0 < f1)

Gambar 7.24. Kurva Two Peak


Pada umumnya bentuk kurva ini disebabkan oleh:
- Surface velocity yang rendah
- Bedrock yang keras dan dalam
- Kontras impedansi yang besar antara dua lapisan (> 4-5)
- Salah satu peak nya merupakan pengaruh dari aktivitas industri

221
f. Flat peak

Gambar 7.25. Kurva Flat Peak


Kurva H/V yang menghasilkan flat peak ketika dilakukan pengukuran pada
sedimen disebabkan oleh struktur bawah tanah yang tidak memiliki kontras
impedansi. Sementara ketika pengukuran dilakukan pada batuan, kurva ini dapat
diinterpretasikan sebagai daerah yang baik dan belum mengalami pelapukan,
sehingga terbebas dari amplifikasi walaupun pada frekuensi yang tinggi.

222
BAB VIII
Metode Refraksi MASW
I. PENDAHULUAN
Bencana tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia
khususnya pada area dataran tinggi seperti halnya pada daerah Pacitan. Metode refraksi
MASW digunakan untuk mengetahui sifat dan struktur bawah permukaan. Sehingga
selanjutnya dapat dilakukan identifikasi area yang memiliki ancaman bahaya tanah longsor.
Kedua metode ini memiliki perbedaan pada jenis gelombang yang dianalisa namun akan
saling mendukung. Metode ini ditujukan untuk mengetahui ketebalan lapisan lapuk serta
nilai kecepatan gelombang P (Vp) dan kecepatan gelombang geser (Vs) untuk menganalisis
kerawanan tanah longsor pada wilayah penelitian.

II. DASAR TEORI


1. Refraksi
Gelombang seismik adalah getaran yang merambat akibat terbentuk dari aktivitas
endogen seperti patahan atau pergeseran kerak bumi. Getaran tersebut bergerak dan
merambat ke segala arah melewati lapisan-lapisan bumi hingga mencapai permukaan dan
terekam oleh seismometer. Kecepatan gelombang seismik tergantung pada rigiditas atau
kekuatan medium yang dilaluinya, sehingga gelombang seismik akan merambat lebih
cepat pada medium yang lebih masif atau padat dibandingkan dengan medium cair.
Dalam seismologi, gelombang seismik dibagi menjadi dua jenis yaitu, gelombang badan
dan gelombang permukaan. Yang digunakan pada metode refraksi adalah gelombang
permukaan atau gelombang P. Gelombang P merupakan gelombang longitudinal dengan
pergerakan partikel yang searah arah rambat gelombang.
Pada seismik refraksi komponen yang dianalisis adalah waktu tiba gelombang bias
(Everest, 2013). Pembiasan gelombang pada gelombang seismik menurut pada hukum
snellius, hukum Huygens, dan asas fermat. Hukum snellius menjelaskan tentang
hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya dan gelombang jika melewati
batas antara dua medium yang berbeda kerapatan massa jenisnya.
𝑠𝑖𝑛 𝛼 𝑉1
=
𝑠𝑖𝑛 𝛽 𝑉2
Prinsip Huygens menyatakan bahwa selama perambatan, titik-titik yang dilewati akan
meembentuk gelombang baru sesuai ilustrasi berikut

Gambra 1. Ilustrasi Pembentukan Gelombang Baru didasari Prinsip Huygens


(Mahandani, 2017).

223
Asas Fermat didefinisikan sebagai gelombang yang menjalar dari satu titik ke
titik yang lain akan merambat di lintasan dengan waktu tempuh paling cepat. Pada saat
merambat, sebagian gelombang akan langsung merambat dari source ke geophone,
gelombang ini disebut dengan gelombang langsung (direct wave). Gelombang yang
merambat di bawah permukaan akan dibiaskan ketika menemui lapisan baru yang
memiliki perbedaan massa jenis, gelombang yang terbiaskan pada kondisi kritis dengan
sudut kritis ic akan menjalar di sepanjang bidang batas kemudian merambat ke arah
permukaan dan terekam di geophone seperti gambar berikut.

Gambar 5. Ilustrasi Penjalaran Direct Wave dan Head Wave


Gelombang yang membias ketika Perhitungan nilai t2 pada kurva travel time vs jarak
diatas dapat diketahui dengan menggunakan Hukum Snellius:
sin 𝛼 sin 𝜃𝑐2
=
𝑉1 𝑉2
Dimana Ɵ𝑐2 adalah sudut kritis refraksi pada batas antara lapisan 2 dan 3. Rumus ini
kemudian digunakan sebagai acuan dalam mencari t pada lapisan ke-n. Sehingga secara
matematis dapat ditulis:

2. MASW (Multi-channel Analysis of Surface Waves)


Metode ini memanfaatkan frekuensi-frekuensi pada perambatan gelombang
Rayleigh untuk analisis kondisi bawah permukaan bumi pada kedalaman dangkal (Park,
dkk, 1998). Gelombang Rayleigh sendiri merupakan gelombang dengan energi paling
besar yang dihasilkan oleh suatu sumber kompresi di permukaan yang elastis dan
seragam (Grant dan West, 1965). Pada metode ini kurva antara frekuensi vs kecepatan
fase gelombang Rayleigh dibuat terlebih dulu setelah itu baru diinversi untuk
mendapatkan profil kedalaman gelombang shear. Kecepatan fase 17 ground roll sebagai
fungsi dari frekuensi dapat diketahui jika medan gelombang (wavefields) ditampilkan
dalam format swept-frequency.
• Gelombang Rayleigh

224
Gelombang Rayleigh terbentuk akibat dari kombinasi antara gelombang badan P
dan S Vertikal (SV) dimana bentuk gerakan partikelnya berupa retrograde ellips.

Gambar 3. Ilustrasi Penjalaran Gelombang Rahleigh (Lowrie, 2007)


Gelombang seismik merambat secara mekanik ke dalam medium yang
penjalarannya berupa gelombang elastis atau mekanik elastis. Gelombang seismik
itu sendiri terbagi kedalam dua bagian berdasarkan sistem, yakni ada gelombang
badan dan gelombang permukaan. Energi gelombang seismik 67 % beru-pa energi
gelombang permukaan (Xia, 2006). Gelombang permukaan ini diperuntukkan
untuk estimasi kecepatan gelombang geser (Vs). Nilai kecepatan gelombang geser
(Vs) sebagai pembanding terhadap kedalaman. Selain itu, untuk mengetahui
parameter-parameter seperti sifat porositas, densitas, saturasi air, dan jenis
batuan/material pada litologi bawah permukaan.

• Dispersi Gelombang Rayleigh


Pada kasus dimana mediumnya heterogen, kecepatan gelombang Rayleigh
dipengaruhi oleh modulus elastisitas setiap lapisan. Modulus elastisitas dipengaruhi
dengan kecepatan gelombang S (Vs) dan massa jenis (ρ), sehingga jika gelombang
Rayleigh merambat pada medium heterogen yang memiliki variasi nilai modulus
elastisitas, kecepatan gelombang seismiknya berbeda-beda dan frekuensi yang
terkandung dalam ground roll memiliki kecepatan yang berbeda-beda disebut
kecepatan fase. Efek dari masing-masing frekuensi merambat dengan kecepatan
yang berbeda-beda mengakibatkan terjadinya dispersi.
Dengan menggunakan analisis Fourier, paket gelombang yang terdispersi
ini dapat didekomposisi setiap frekuensinya. Setiap komponen frekuensi dari
gelombang yang menjalar memiliki kecepatan fase sendiri-sendiri. Kurva antara
frekuensi versus kecepatan fase ini biasa disebut dengan kurva dispersi (Everest,
2011). Kecepatan fase gelombang Rayleigh dipengaruhi oleh 4 parameter tanah
yaitu kecepatan gelombang P, kecepatan gelombang S, massa jenis (ρ) dan
ketebalan (h) (Xia, dkk., 1999). Kecepatan fase (C) umumnya sama dengan
kecepatan gelombang yaitu jarak tempuh (⋋) dibagi dengan frekuensi (f) tertentu
yang secara matematis dapat ditulis:
𝜆
𝐶=
𝑓

225
Adanya fenomena dispersi ini mengakibatkan munculnya kecepatan grup.
Kecepatan grup adalah kecepatan yang muncul dari interferensi beberapa
gelombang dengan frekuensi yang berbeda dan menjalar dalam medium dengan
kecepatan fase berbeda pula. Hubungan kecepatan fase dengan kecepatan grup (U)
menurut Shearer (2009) dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:
𝑑𝑤 𝑑𝑐 𝑑𝑐 1
𝑈= =𝐶+𝑘 = 𝐶 (1 − 𝑘 )
𝑑𝑘 𝑑𝑘 𝑑𝑤

Gambar 4. Kecepatan Fase dan Grup Gelombang Rayleigh pada Dua Frekuensi
Berbeda (Mahandani, 2017)
Dari persamaan kecepatan fase paa gambar di atas diketahui bahwa semakin
kecil frekuensinya maka panjang gelombang semakin besar sehingga penetrasi
kedalaman semakin dalam dan kecepatan fasenya semakin besar. Hubungan antara
kecepatan fase dengan frekuensi disebut sebagai kurva dispersi. Pada kurva dispersi
sendiri terdapat informasi parameter- parameter yang mempengaruhi kecepatan
gelombang Rayleigh.
• Inversi Gelombang Rayleigh
Profil kecepatan gelombang S dapat diketahui dengan inversi iterative
menggunakan data dispersi gelombang Rayleigh dan perkiraan massa jenis serta
poisson’s ratio. Model awal yang dibutuhkan untuk proses inversi adalah nilai 20
dari Vp, Vs, ρ dan h dengan Vs adalah nilai yang paling berpengaruh dalam
algoritma inversi (Park, dkk, 1998). Proses inversigelombang Rayleigh dilakukan
untuk mendapatkan nilai Vs dari kecepatan fase gelombang Rayleigh. Kecepatan
gelombang Rayleigh merupakan fungsi dari beberapa parameter:
𝐹(𝑓𝑗, 𝐶𝑅𝐽, 𝑉𝑠, 𝑉𝑝, 𝜌, ℎ) = 0𝑗 = (1,2, … , 𝑚)
dengan fj adalah frekuensi, CRj adalah kecepatan fase gelombang Rayleighpada
frekuensi 𝑓𝑗, ℎ = (ℎ1, ℎ2, … , ℎ𝑛) 𝑇 adalah vektor ketebalan h pada lapisan ℎ𝑖, 𝜌
= (𝜌1, 𝜌2, … , 𝜌𝑛) 𝑇 adalah vektor massa jenis pada lapisan 𝑖, 𝑉𝑠 = (𝑉𝑠1, 𝑉𝑠,
… , 𝑉𝑠𝑛) 𝑇 adalah vektor kecepatan gelombang pada lapisan i dan 𝑉𝑝 = (𝑉𝑝1,
𝑉𝑝, … , 𝑉𝑝𝑛) 𝑇 sehingga jika diketahui parameter model berupa Vs, Vp, ρ dan h
pada sebuah frekuensi fj akar persamaan diatas adalah kecepatan fase (Xia, dkk,
1999). Persamaan di atas merupakanpersamaan simultan non linier dengan bentuk
matriksnya adalah:

Dengan matriks A adalah jumlah data dan matriks B adalah model

226
sebenarnya (true model). Menurut Xia, dkk (1999) menjelaskan bahwa parameter
CR lebih besar pengaruhnya dalam analisis ketebalan lapisan dibandingkan Vp
dan densitas. Selain itu penentuan jumlah lapisan di bawahpermukaan bumi dapat
terus berubah tergantung dari interpretasi maka parameter h juga dapat
dihilangkan dari proses inversi sehingga parameter yang paling berpengaruh
terhadap kecepatan fase gelombang Rayleigh adalah Vs. Cara lain untuk
menyelesaikan inversi gelombang Rayleigh adalah melinierkan persamaan
simultan non linier dengan deret Taylor ordesatu sehingga proses inversi dapat
dilakukan dengan persamaan matriks:
𝐽∆𝑥 = ∆𝐵
Dengan ∆B adalah selisih antara CR di frekuensi j dengan CR di awal (CR0).
∆B merupakan perbedaan antara data terukur dan respon model awal. Dimana CR0
X A B 21 adalah respon model awal Vs. ∆x adalah perubahandari perkiraan model
awal Vs dan J adalah matriks jacobian dari turunan parsial orde satu kecepatan fase
gelombang Rayleigh terhadap kecepatan gelombang geser (Vs). Karena data
kecepatan fase pada kurva dispersi lebih banyak dari data Vs, maka persamaan di
atas dioptimasi menjadi:
𝜙 = ‖𝐽∆𝑥 − ∆𝐶𝑅‖2 𝑊‖𝐽∆𝑥 − ∆𝐶𝑅‖2 + 𝛼‖∆𝑥‖22
Keterangan:
‖ ‖2 = Panjang Euclidean
W = Pembobotan matriks
α = damping factor
Berdasarkan Xia, dkk (1990) matriks Jacobian (J) dapat membandingkan
rata-rata perubahan kecepatan fase gelombang Rayleigh terhadap nilai Vs di
masing-masing lapisan pada frekuensi yang berbeda. Pembobotan matriks W untuk
inversi berdasarkan perbedaan kecepatan fase gelombang Rayleigh terhadap
frekuensi. Sementara damping factor mengatur arah ∆x dan kecepatan konvergen
serta pengaturbentuk model.
• Pengaruh Topografi terhadap Kurva Dispersi
Topografi mempunyai pengaruh penting dalam kualitas data gelombang
permukaan dan juga mempengaruhi kurva dispersinya (Ólafsdóttir, 2016). Pada
permukaan dengan kemiringan topografi 10º, error dari picking mencapai 4%
sedangkan untuk kemiringan diatas 10º direkomendasikan untuk dilakukan koreksi
statik (Zeng, dkk, 2012). Lebih lanjut Zeng, dkk menyatakan bahwa koreksi statik
dapat dilakukan dengan membuat model permukaan bebas yang memiliki
perbedaan topografi dan seismogram sintetiknya dengan menggunakan Finite
Difference Method (FDM). Setelahitu kurva dispersi dibuat dengan menggunakan
metode Linear Random Transform (LRT). Cara selanjutnya adalah dengan
mengasumsikan model permukaan bebas adalah datar dan kurva dispersi teoritis
dihitung dengan menggunakan metode Knopoff. Langkah terakhir adalah kurva
dispersi hasildari perhitungan metode Knopoff di overlay dengan kurva dispersi
hasil dari metode LRT untuk melihat perbedaannya. Dari sini bisa diketahui
pengaruh topografi terhadap data gelombang permukaan yang terukur.

227
3. Tanah Longsor
Tanah longsor merupakan pergerakan kebawah dari tanah, batu dan material
lainnya akibat dari pengaruh gravitasi (Highland and Bobrowsky, 2008).Tanah longsor
biasa terjadi di daerah dengan kemiringan topografi terjal atau pada daerah dimana
material permukaan buminya tersaturasi oleh air yang menyebabkan berkurangnya
massa material (Gity, 2010). Kemiringan topografi ini menyebabkan komponen berat
tanah yang sejajar dengan kemiringan lerengbergerak ke arah bawah apabila komponen
gravitasi terlalu besar sehingga perlawanan terhadap geseran yang mampu dilakukan
oleh tanah terlampaui (Prastyo dan Hambali, 2014). Secara umum kerawanan tanah
longsor dapat diidentifikasi dari kondisi topografi suatu wilayah, dimana bentuk
kemiringan lereng yang rawan longsor dikontrol oleh kondisi litologi dan hidrologinya.
Kondisi-kondisi dapat mempengaruhi sudut kemiringan lereng, tingkat kekasarannya,
tipe tanah atau batuan pada lereng dan jumlah limpasan dari proses pergerakan masa di
lereng tersebut (Soty, dkk., 2009).
• Geometri Tanah Longsor
Dalam memahami tanah longsor, dibuat beberapa istilah untuk
mempermudah penelitian tanah longsor. Bagian-bagian tanah longsor seperti
dijelaskan oleh De Blasio (2011) meliputi:

Gambar 5. Geometri Tanah Longsor


Crown merupakan daerah yang berdekatan dengan titik topografi tertinggi dari
massa material yang terbawa longsor. Scrap adalah permukaan tidak rata (surface
23 of rupture) yang curam antara material yang hilang dan terrain. Footadalah
material yang terkumpul di zona akumulasi yang berada di luar surface ofrupture.
Deposit tanah longsor akan berakhir di toe yang merupakan garis batas antara
material terakumulasi dengan terrain yang tidak terkena tanah longsor. Tip adalah
letak deposit tanah longsor terjauh dari crown.
• Jenis Tanah Longsor
Jenis – jenis tanah longsor dibagi berdasarkan tipe pergerakan dan tipe
material yang dibawa oleh tanah longsor. Material yang dibawa oleh tanah longsor
dapat berupa batuan, tanah atau kedua - duanya. Pembagian berdasarkan jenis
materialnya ada 2 tipe yaitu tipe earth jika material tanah longsor merupakan
partikel-partikel yang halus dan debris jika materialnya terdiri dari fragment –
fragment kasar.

228
Berdasarkan tipe pergerakannya, jenis-jenis tanah longsor terdiri dari fall,
topple, slide, spread dan flow. Fall adalah pergerakan kebawah dari batuan atau
tanah atau kedua-duanya yang lepas dari lereng curam atau jurang. Topple
merupakan runtuhnya bongkahan besar tanah atau batuan secara rotasi dari suatu
lereng. Slides merupakan pergerakan dari massa batuan atau tanah pada bidang
gelincir tanah lerengnya. Slide dibagi menjadi 2 yaitu rotational landslide jika
pergerakan massa batuan atau tanahnya berbentuk cekung dan translational
landslide jika pergerakan massa batuan atau tanahnya berbentuk rata. Spreads
biasanya terjadi pada lereng yang landai atau bahkan daerah yang datar.
Runtuhnya massa batuan atau tanah diakibatkan oleh proses likuifaksi yang
mengakibatkan sedimen yang tersaturasi berubah dari bentuk padat ke bentuk cair.
Jika lapisan diatas daerah likuifaksi lebih koheren maka lapisan tersebut akan bisa
runtuh. Flows terjadi ketika massa material tanah longsor bercampur dengan air.
Peristiwa ini diakibatkan oleh material lereng yang berupa sedimen fine-grained
tersaturasi oleh air sehingga terjadi likuifaksi. Menurut Karnawati (2007),
perbedaan jenis longsor terjadi karena perbedaan faktor pengontrol.
Tabel 1. Faktor Pengontrol Gerakan Massa Tanah atau batuan (Karnawati, 2007)

• Fisika Tanah Longsor


Dalam Analisis tanah longsor, lapisan tanah atau batuan yang longsor
disebut sebagai lapisan lapuk yang terletak pada sebuah bidang miring yang
disebut lapisan bedrock dengan sudut ϴ. Jika diasumsikan lapisan lapuk tidak
mengalami deformasi, maka berdasarkan hukum newton, nilai gaya gravitasi
harus sama dengan nilai gaya reaksi yang dihasilkan oleh bedrock. Gayagravitasi
dapat didekomposisi menjadi komponen gaya normal Fn dan komponensejajar Fs
terhadap bidang miring.

229
Gambar 6. Diagram Bebas Pada Lapisan Lapuk (Mahandani, 2017)

Dengan menggambarkan arah-arah gaya pada bidang miring seperti gambar di


atas maka persamaan untuk Fn dan Fs dapat ditulis sebagai berikut.
𝐹𝑛 = 𝑚𝑔 𝑐𝑜𝑠𝜃
𝐹𝑠 = 𝑚𝑔 𝑐𝑜𝑠𝜃
Faktor lain yang mempengaruhi kerawanan longsor adalah gaya gesek (fg). Gaya
gesek sendiri dapat dirumuskan dengan:
𝑓𝑔 = 𝜇𝑚𝑔 𝑐𝑜𝑠𝜃
Keterangan:
m = massa pada lapisan lapuk
g = gaya gravitasi
𝜇 = koefisien gaya gesek (stabil, fg > Fs)
• Kohesi
Jika sebuah gaya shear diterapkan ke lapisan lapuk pada tekanan normal
nol, hasil dari deformasi dipengaruhi oleh gaya penahan yang terukur (De Blassio,
2011). Gaya penahan per satuan luas disebut kohesi dan diukur dalam satuan
pascal (Pa). Besar kekuatan geser (shear strength) dari sebuah tanah di permukaan
bumi sama dengan penjumlahan gaya gesek dan kohesi. Sifatkohesif suatu lapisan
lapuk Fn Fs dipengaruhi oleh partikel penyusunya. Jika jarak antar partikel rapat
maka lapisan lapuk tersebut semakin kompak dan kohesinya semakin besar.
• Identifikasi Material Tanah Longsor
Semua benda yang berupa material padat dan cair di bumi ini dipengaruhi
oleh gaya gravitasi. Massa dari tanah atau batuan akan stabil jika besar gaya
gravitasisama dengan gaya reaksi dari material tersebut dan terrain di sekitarnya
(De Blassio, 2011). Pada daerah dimana disana ada dua permukaan tanah yang
berbeda ketinggiannya maka ada dua gaya yang bekerja yaitu gaya pendorong
yang menyebabkan tanah yang lebih tinggi akan cenderung bergerak ke bawahdan
ada juga gaya dalam tanah yang bekerja untuk menahan sehingga kedudukan
tanah tetap stabil. Massa dari tanah atau batuan dapat diperkirakan menggunakan
data pendukung seperti klasifikasi nilai kecepatan gelombang geser yang dibuat
oleh Instansi atau peneliti sebelumnya.
III. Akuisisi Data
1. Alat Akuisisi
SARA DoReMi Console Aki
Palu Plat Besi

230
Laptop + Software Meteran
DoReMi
Trigger Sensor Headphone
24 Channel Geophone GPS Handheld
Analog to Digital Kompas
Converter (ADC)
Inverter Klinometer
Kabel Perpanjngan Trigger HT

2. Desain Survei Seismik Refraksi dan MASW (Multi-channel Analysis of Surface


Wave)
a. Desain Lintasan
Pelaksanaan survei pada pengukuran metode MASW perludisesuaikan
dengan desain survei yang telah direncanakan. Menurut Park dkk (2002),
terdapat standar desain pengukuran yang direkomendasikan sehingga
didapatkan hasil target yang optimal. Berikut tabel parameter akuisisi data untuk
metode MASW aktif yang perlu diperhatikan.

Gambar 7. Tabel Parameter Akuisisi Data untuk Metode MASW Aktif (dalam
meter)
b. Desain Akuisisi

Gambar 8. Desain Akuisisi Metode Seismik Refraksi dan MASW


c. Langkah Kerja Akuisisi Data Seismik Refraksi
Berikut merupakan langkah kerja akuisisi data Seismik Refraksi.
Langkah kerja berikut dimulai ketika tim pengukur sudah sampai lokasi
pengukuran.
1. Siapkan seluruh peralatan akuisisi.
2. Tandai koordinat titik awal, kemudian tentukan arah lintasan dengan

231
menggunakan kompas.
3. Set alat sesuai dengan desain akuisisi.
4. Jika pemasangan alat sudah sesuai dengan desain akuisisi, mulai
koneksikan semua perangkat.
5. Buka software DoReMi pada laptop. Pastikan software dan hardware sudah
terkoneksi dengan tanda terdeteksinya level baterai pada software. Jika
belum terdeteksi, lakukan langkah sebagai berikut
a. Cek IP laptop yang digunakan. Buka command prompt, kemudian
operasikan operator “ipconfig”.
b. Buka Software DoReMi, Klik Setup -> instrument -> setup
c. Pada Opsi Comm Port, Pilihlah opsi TCP/IP, kemudian masukkanIP
laptop pada kotak dialog TCP/IP setting dibawahnya pada form
Remote host. Langkah ini digunakan untuk membantu software
DoReMi mengidentifikasi laptop.
d. Setelah itu, kembali lagi pada opsi Comm Port, lalu coba satu persatu
comm yang ada, comm ini sendiri merupakan nama untukhardware
input dari laptop anda, karena input melalui USB dan jumlah port
USB dari setiap komputer berbeda maka variasi commini sendiri juga
banyak, Coba satu persatu -> Klik Ok, Coba sampai connect!
6. Setelah software dengan hardware dipastikan terkoneksi dengan baik, atur
lokasi penyimpanan data dengan cara klik Change Folder, kemudian pilih
lokasi penyimpanan, dan simpan (save).
7. Pilih metode yang digunakan, dalam hal ini metode Refraction.
8. Atur konfigurasi. Konfigurasi bisa disimpan untuk pengukuran selanjutnya.
Cara menyimpan konfigurasi adalah dengan klik New Configuration,
kemudian beri nama konfigurasi, lalu simpan (klik Ok).
9. Pada Sampling Setup, atur recording time, sampling rate, dan
sampling interval sesuai kebutuhan.
10. Atur Channel setup, sesuai dengan kondisi di lapangan
11. Periksa ekstensi file terekam sudah sesuai, yaitu pada pengaturan Setup,
SEG2 file *.dat sedangkan SEGY file *.sgy.
12. Mulai akuisisi dengan klik F1-Start.
13. Atur penamaan file dengan format sesuai kesepakatan, biarkan file bertipe
*drm, kemudian klik OK
14. Software akan menunjukkan noise monitor. Noise monitor dapat digunakan
untuk acuan menentukan kapan shot dimulai. Idealnya, shot dimulai saat
noise rendah.
15. Ketika noise dirasa rendah, klik Shot. Kemudian akan terdengar suara
“beep, beep, beep” dari software yang menandakan software siap melakukan
akuisisi. Disaat inilah, operator memberi aba-aba kepada pemukul untuk
melakukan shooting.

232
16. Setelah proses shooting dilakukan, software akan melakukan analisis gain.
Pada software doremi ini shot pertama merupakan shot yangditujukan untuk
mencari gain yang cocok untuk tiap geophone (AutomaticGain).
17. Kemudian software akan memberikan pilihan, yaitu apakah akan tetap
menggunakan automatic gain atau tidak, hal ini tentunya tergantung pilihan
pengguna.
18. Setelah akan muncul hasilnya berupa trace. Pada mode Refraction, makatrace
yang dihasilkan berupa seluruh gelombang baik itu gelombang direct,
refraction, reflection, dan Rayleigh.
d. Langkah Kerja Akuisisi Data MASW
Berikut merupakan langkah kerja akuisisi data MASW. Langkah kerja
berikutdimulai ketika tim pengukur sudah sampai lokasi pengukuran.
1. Siapkan seluruh peralatan akuisisi.
2. Tandai koordinat titik awal, kemudian tentukan arah lintasan dengan
menggunakan kompas.
3. Set alat sesuai dengan desain akuisisi.
4. Jika pemasangan alat sudah sesuai dengan desain akuisisi, mulai koneksikan
semua perangkat.
5. Buka software DoReMi pada laptop. Pastikan software dan hardware sudah
terkoneksi dengan tanda terdeteksinya level baterai pada software. Jika
belum terdeteksi, lakukan langkah sebagai berikut
a. Cek IP laptop yang digunakan. Buka command prompt, kemudian
operasikan operator “ipconfig”.
b. Buka Software DoReMi, Klik Setup -> instrument -> setup
c. Pada Opsi Comm Port, Pilihlah opsi TCP/IP, kemudian masukkanIP
laptop pada kotak dialog TCP/IP setting dibawahnya pada form
Remote host. Langkah ini digunakan untuk membantu software
DoReMi mengidentifikasi laptop.
d. Setelah itu, kembali lagi pada opsi Comm Port, lalu coba satu persatu
comm yang ada, comm ini sendiri merupakan nama untukhardware
input dari laptop anda, karena input melalui USB dan jumlah port
USB dari setiap komputer berbeda maka variasi commini sendiri juga
banyak, Coba satu persatu -> Klik Ok, Coba sampai connect!
6. Setelah software dengan hardware dipastikan terkoneksi dengan baik, atur
lokasi penyimpanan data dengan cara klik Change Folder, kemudian pilih
lokasi penyimpanan, dan simpan (save).
7. Pilih metode yang digunakan, dalam hal ini metode MASW.
8. Atur konfigurasi. Konfigurasi bisa disimpan untuk pengukuran selanjutnya.
Cara menyimpan konfigurasi adalah dengan klik New Configuration,
kemudian beri nama konfigurasi, lalu simpan (klik Ok).
9. Pada Sampling Setup, atur recording time, sampling rate, dan
sampling interval sesuai kebutuhan.
10. Atur Channel setup, sesuai dengan kondisi di lapangan.

233
11. Periksa ekstensi file terekam sudah sesuai, yaitu pada pengaturan Setup,
SEG2 file *.dat sedangkan SEGY file *.sgy.
12. Mulai akuisisi dengan klik F1-Start.
13. Atur penamaan file dengan format sesuai kesepakatan, biarkan file bertipe
*drm, kemudian klik OK.
14. Software akan menunjukkan noise monitor. Noise monitor dapat
digunakan untuk acuan menentukan kapan shot dimulai. Idealnya, shot
dimulai saat noise rendah.
15. Ketika noise dirasa rendah, klik Shot. Kemudian akan terdengar suara
“beep, beep, beep” dari software yang menandakan software siap
melakukan akuisisi. Disaat inilah, operator memberi aba-aba kepada
pemukul untuk melakukan shooting.
16. Setelah proses shooting dilakukan, software akan melakukan analisis gain.
Pada software doremi ini shot pertama merupakan shot yang ditujukan
untuk mencari gain yang cocok untuk tiap geophone (AutomaticGain).
17. Kemudian software akan memberikan pilihan, yaitu apakah akan tetap
menggunakan automatic gain atau tidak, hal ini tentunya tergantung pilihan
pengguna .
18. Setelah akan muncul hasilnya berupa trace. Pada mode MASW, trace yang
dihasilkan hanya berupa Gelombang Rayleigh.
IV. Quality Control (QC)
a. QC Akuisisi Metode Seismik Refraksi
1. First break harus tampak jelas, maka pemilihan waktu yang tepat pada saat shot
diambil ketika noise sangat kecil atau tidak ada noise.
2. Terdapat trend lapisan yang dapat diidentifikasi.
3. Trend lapisan pertama dari shot forward dan shot reverse harus sama (asumsi
lapisan pertama homogen).
• Apabila kurva T Vs X shot forward dan reverse simetris, maka
kemungkinan prediksi lapisan dibawahnya datar.
• Apabila kurva T Vs X shot forward dan reverse tidak simetris, maka
kemungkinan lapisan di bawahnya miring. Hal ini dapat diprediksi dari
topografi lintasan seismik.
4. Apabila lintasan seismik berada pada lintasan seismik dibelakang nya, grafik
dari trend data seismik hampir sama.
b. QC Akuisisi Data MASW
1. Amplitudo gelombang Rayleigh tidak boleh mengalami clipping (amplitude
melebihi batas maksimum pada software), maka sebab itu harus dilakukan
pengaturan gain agar tidak terjadi clipping.
2. Semakin jauh dari shot point, maka waktu tempuh gelombang Rayleigh harus
semakin lama.

V. Pengolahan Data

234
1. Diagram Alir

Gambar 9. Diagram Alir Metode Refraksi dan MASW


2. Perangkat Lunak
Pengolahan data harian Refraksi dan MASW menggunakan software
SeisImager yaitu Pickwin (Pick First Breaks or Dispersion Curves) dan
Plotrefa (Refraction Analysis) untuk Refraksi, sementara MASW
menggunakan Surface Wave Analysis Wizard dan WaveEq (Surface Wave
Analysis.
Tabel 3. Perangkat Pengolahan Refraksi dan MASW

235
1. Diagram Alir Pengolahan Data Seismik Refraksi Harian

Gambar 10. Diagram Alir Pengolahan Harian Refraksi

236
Pengolahan data seismik refraksi harian dimulai dengan
mengumpulkan data shot gather dan data elevasi tiap geofon yang
digunakan yang diakuisisi harian. Data elevasi kemudian disimpan ke
dalam format text document dengan judul “nomor line_nomor hari”
yang digunakan untuk edit geometri. Pada data shot gather kemudian
dilakukan picking first break untuk menentukan waktu tibadirect wave
dan refracted wave dengan perangkat lunak SeisImager-PickWin yang
kemudian di quality control pada perangkat lunak SeisImager-PlotRefa
dengan produk akhir kurva time vs distance.
Pada data kurva ditentukan jumlah perlapisan didasari trend
yang kemudian dimodelkan kecepatannya dengan metode pemodelan
inversi time-term inversion. Dalam prosesnya digunakan data elevasi
yang sebelumnya disimpan untuk edit geometri elevasi model sehingga
diperoleh hasil akhir berupa model perlapisan kecepatan gelombang
P(Vp) untuk identifikasi ketebalan lapisan lapuk.
2. Diagram Alir Pengolahan Data Seismik Refraksi Lanjutan

Gambar 11. Diagram Alir Pengolahan Lanjutan Metode Refraksi

237
Pengolahan data seismik refraksi lanjutan dilakukan dengan menginterpretasi jenis
batuan penyusun lapisan lapuk didasari informasi geologi daerah penelitiansehingga
diperoleh model geologi lapisan lapuk daerah penelitian.
3. Langkah Pengolahan Seismik Refraksi
a. Picking First Break
1. Setelah software selesai diinstall, buka software Pickwin untuk
melakukanprosespicking first break.
2. Sebelum melakukan input data, jangan lupa menonaktifkan tipe
menusimple dengan cara Option > etc > Menu Type > Uncheck
Simple.

3. Langkah selanjutnya, input data lapangan (shot gather) melalui File >
Open Waveform File. Langkah ini dilakukan untuk membuka data
shot gather satu persatu.
4. Setelah shot gather diinput, atur geometri melalui Edit/Display > Edit
source/receiver locations, etc. atau Ctrl + K. Isi lokasi shot dan titik
geophonepertama hingga terakhir.

5. Simpan data yang sudah diatur geometrinya dengan klik File > SEG2
File >SaveSEG2 File. Atur nama file. Lakukan untuk semua data pada
shot yangberbeda.
6. Buka semua data yang sudah diatur geometrinya melalui Group (File
List)
> Make File List. Pilih semua data yang sudah diatur geometri dan
klik
Open. Check Source position dan Receiver position.

238
7. Lakukan picking first break melalui Picking first arrivals > Pick first
arrival timemanually.
8. Picking dapat dimulai dengan klik kiri di tiap trace atau mendrag kursor
sesuai first break. Manfaatkan tanda panah pada toolbar untuk
membesarkan atau mengecilkan amplitudo dan tanda segitiga untuk
melihat data lainnya.'
9. setelah picking selesai dilakukan, simpan data hasil picking melalui File
> Savepick file. Atur nama file. Format yang akan tersimpan akan
muncul dalam format *.vs.

239
b. Inversi
1. Buka software Plotrefa untuk melakukan proses inversi.
2. Selanjutnya, file hasil picking data sebelumnya dibuka melalui File
> Openplotrefa file. Saat file dibuka, muncul kurva waktu jalar
darilintasan (Kurva T-X).

240
3. Lakukan QC melalui kurva waktu jalar. Waktu dari forward dan reverse
darisetiappasangan shot tidak boleh berbeda terlalu jauh.

4. Klik Reciprocal method > Layer assignment > 2nd layer atau 3rd
layer (sesuai perlapisan yang terlihat pada kurva). Selanjutnya,
tentukan titik yang menunjukkan batas perlapisan berdasarkan
perubahan trend dengan klik kiri titikbatas perubahan trend pada
forward maupun reverse.

241
5. Lakukan inversi melalui Reciprocal method > Time-term inversion
> Open elevation data file (apabila ada data topografi). Data topografi
yang dapat diinput adalah file *.txt berisikan 2 kolom berupa posisi
masing- masing geophonedan elevasi.

242
6. Pada cell size, klik Manual dan isi Start, End, dan Receiver
Interval sebagai posisi awal dan terakhir geophone serta interval
geophone.
7. Plotrefa akan melakukan inversi dan selanjutnya lakukan QC hasil dari
nilaiRMSyang didapatkan.
8. Model dihasilkan dan lakukan interpretasi.

243
4. Diagram Alis Pengolahan Data MASW

Gambar 12. Diagram Alir Pengolahan Metode MASW

5. Langkah Pengolahan MASW


a. Picking Kurva Dispersi
1. Buka software Surface Wave Analysis Wizard, kemudian pilih mode
yang digunakan (Active Source 1D MASW). Maka akan muncul
Pickwin padalayar.

2. Input data melalui File > Open SEG2 File atau klik Enter dan
pilihdata yangakan diolah.

244
3. Atur konfigurasi dengan Edit/Display > Edit source/receiver
locations, etc. Isiposisi shot (Shot Coordinate), satuan (Units), interval
geophone (Group interval),dan posisi geophone pertama (First
geophone coordinate)lalu klik Set > OK.

4. Tampilan pada shot gather dapat diatur dengan memanfaatkan tanda


panah pada toolbar. Sedangkan untuk mengatur sumbu data yang
ditampilkan dapat dilakukan melalui View > Axis configuration.
5. Langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan kecepatan fase.
Klik Surface-wave analysis > Phase velocity-frequency
transformation. Aturparameter-parameternya sesuai dengan
ketentuan berikut:
• Phase velocity: Estimasi kecepatan fase berdasarkan
litologi (bisadefault)
• Frequency: Estimasi frekuensi berdasarkan litologi (bisa
default)
• Mode: Shot gather untuk 1D, CMP untuk 2D
• Direction: Forward/Backward
• Frequency: Resolusi (bisa default)
• Method: Phase shift (Active MASW), SPAC
(Spatial AutoCorrelation /microtremor / passive
MASW)

245
6. Setelah itu, muncul kurva Frequency vs Phase Velocity hasil FFT
2Ddalam hitamputih. Untuk mengubah warna kurva, manfaatkan
tandaperlapisan pada toolbar.

246
7. Lakukan picking kecepatan fase untuk membentuk kurva dispersi
melaluiSurface waves analysis > Pick phase velocity. Isi parameter
Minimum Frequency sebagai frekuensi minimum yang dimiliki oleh
alat. Software akan melakukan picking secara otomatis.

247
8. Langkah selanjutnya, lakukan QC terhadap hasil picking pada kurva
frekuensi vskecepatan fase. Apabila hasil picking otomatis masih
kurang tepat, koreksi hasil picking secara manual dengan klik kiri
puncakan (semblance). Garis berwarna biru pada kurva merupakan
batas data yang reliable, sehingga lakukan picking di dalam batas.
9. Lakukan QC ulang melalui software dengan klik Surface waves
analysis
> Show phase velocity curve (1D).

10. Buka WaveEq pada direktori software WaveEq terinstall. Software


WaveEq akanterbuka dan muncul quality curve yang dapat digunakan
untuk QC hasil [Link] atau salahnya hasil picking dapat
ditinjau melalui trend dari quality [Link] meningkat, tanpa
terjadi lonjakanmenurun drastis maka hasil picking kitasudah cukup
benar. Jika belum maka picking harus diulangi. Kemudian kurva
dispersi dilakukan proses smoothing dengan memilih menu Dispersion
curves dan pilih Smoothing individual curves.

248
b. Membuat Initial Model Vs
1. Pada software WaveEq, klik MASW (1D) > Initial model. Atur
parameter- parameternya dan pilih model yang diinginkan. Detail dari
keempat model yang dapat dipilih antara lain:
• Linear model : menghasilkan model yang memiliki perubahan
kecepatanlapisan yang linear, dimana nilai kecepatan akan
semakin besar seiring dengan bertambahnya kedalaman
• Homogenous model : menghasilkan model dengan nilai
kecepatan yangsama di seluruh lapisan
• Based on depth : menghasilkan model berupa forward modelling
berdasarkan nilai kedalam an hasil konversi, dimana
Vs=1.1*phase velocity dan d=1/3 panjang gelombang
• Use N-value : hanya digunakan ketika kita memiliki data densitas
Ketikahendak membuat initial model tipe forward modelling,
maka mode yang dipilih adalah Based on depth con vertion, pada
Layer thickness dipilih Variable dengan asumsi bahwa lapisan-
lapisan yangkita miliki sepanjang 30 meter di bawah permukaan
memiliki ketebalan yang berbeda-beda.

249
2. Kemudian klik OK dan akan muncul hasil initial model yang kita miliki
berdasarkan data lapangan.

c. Inversi
1. Lakukan proses inversi melalui MASW (1D) > Inversion.
2. Parameter dibiarkan saja sesuai dengan default program tersebut
karena bertujuan untuk menstabilkan pengolahan yang kita
lakukan. Tekan OK untuk melakukan inversi dan dihasilkan
model inversi.

250
3. Nilai RMS error hasil dari inversi yang telah dilakukan akan
tersimpandalam .txt di folder yang sama dengan data olahan.

4. Profil Vs dihasilkan dan lakukan interpretas.


5. Atur sumbu model dengan klik View > Axis configuration.
6. Simpan hasil inversi akhir tersebut melalui File > Save 1D
phasevelocity curvefile (.rst).

251
II. Interpretasi

Dari model di atas didapatkan dua lapisan bawah permukaan yang


ditentukan melalui perbedaan nilai kecepatan yang berbeda, dimana nilai
kecepatan lapisan bawahlebih besar dari nilai kecepatan lapisan diatasnya
(lapisan permukaan). Modelkecepatandi atas juga memiliki informasi ketebalan
lapisan, dari informasi ketebalan lapisan tersebut dapat diinterpretasikan untuk
analisa mitigasi bencana tanah [Link] ketebalan lapisan, nilai kemiringan
lereng lapisan pertama dan kedua juga menjadi datayang penting untuk analisis
tanah longsor (penentuan bidang gelincir).

Nilai kecepatan Vp dapat digunakan sebagai penentuan litologi batuan


secara sederhana. Dimana penentuan litologi batuan tidak bisa ditentukan mutlak
dari modelVp (Gelombang Primer), melainkan dibutuhkan informasi geologi dan
referensi nilaikecepatan Vp dari penelitian lainnya untuk mendapatkan litologi
yang tepat.

Dari model di atas diperoleh model kecepatan gelombang geser (Vs)


terhadapfungsi kedalaman dari pengolahan data MASW 1D. Nilai kecepatan Vs
dapat
digunakan sebagai penentuan litologi batuan secara sederhana dengan didasari
informasi geologidan referensi nilai kecepatan Vs dari penelitian lainnya.
Litologi batuan dari gelombang geser digunakan untuk menginterpretasi lapisan
permukaan daerah penelitian berkecepatan rendah yang diasumsikan berupa
material jenuh yanglebih rawan mengalami longsor.

252
3. Metode Pengolahan
Pengolahan hasil akuisisi metode Refraksi dan MASW dilakukan pada
software Geogiga Seismic ProTM 9.3 Front End Express dan Excel. Prinsip utama
metode seismik refraksi adalah penerapan waktu tiba pertama (first arrival time)
dari gelombang seismik. Jika diketahui waktu tiba pertama dari gelombang seismik
refraksi menjalar di lapisan bumi, maka kita akan mendapatkan kurva waktu tempuh
(travel time) gelombang seismik tersebut. Dengan menganalisis kurva waktu
tempuh ini, akan diperoleh informasi mengenai kecepatan dan waktu tunda
gelombang seismik pada setiap lapisan sehingga dapat digunakan untuk
menentukan ketebalan lapisan.
Salah satu metode perhitungan waktu tiba gelombang seismik untuk
mencerminkan lapisan bawah permukaan adalah metode Hagiwara. Metode ini
merupakan metode waktu tunda yang berdasarkan asumsi bahwa undulasi bawah
permukaan tidak terlalu besar. Kelebihan dari metode Hagiwara adalah lapisan
bawah permukaan dapat ditampilkan mengikuti kontur bawah permukaan. Berbeda
dengan metode intercept time, yang menganggap bahwa lapisan di bawah
permukaan adalah berupa bidang/flat. Metode Hagiwara adalah metode paling
utama untuk lapisan bawah permukaan yang detail.
Perhitungan dengan metode Hagiwara dikembangkan untuk struktur bawah
permukaan yang terdiri dari 2 lapisan, yang mana batas bidang 2 lapisan ini dapat
diperlihatkan dari hasil perhitungan rata-rata kedalaman yang memiliki kerapatan
yang berbeda. Bila kerapatan berbeda, maka kecepatan gelombang seismiknya akan
berbeda, sehingga arah penjalaran gelmbang seismik akan mengalami pembiasan
atau refraksi. Menurut Refrizon (2009), metode Hagiwara merupakan metode yang
menggunakan asumsi struktur bawah permukan yang terdiri dari dua lapisan dengan
undulasi yang tidak terlalu besar dan memiliki keunggulan dapat mencerminkan
kontur dari lapisan bawah permukaan.

Gambar 10. Lintasan Perambatan Gelombang Seismik (untuk kasus dua lapisan
yang digunakan dalam metode Hagiwara)

Metode Hagiwara memiliki analisa perhitugan sudut kritis yang diungkapkan dalam
Hukum Snellius pada batas antara 2 medium. Hukum Snellius digunakan untuk
menjelaskan sinar seismik yang mengalami pemantulan dan pembiasan saat
menjalar melalui lapisan-lapisan batuan di bawah permukaan bumi. Hukum Snellius
dapat ditulis dengan persamaan:
𝑉
sin 𝑖 = 𝑉1 … (1)
2
Kemudian persamaan (1) digunakan untuk substitusi V1 pada persamaan (2)

253
dibawah, perambatan gelombang dari titik P ke P” melalui lintasan PR dan RP”
sebagai berikut :
𝑃𝑃" 𝑃𝑅 𝑅𝑃”
= + … (2)
𝑉1 𝑉1 𝑉1
𝑅𝑃" 𝑅𝑅" 𝑃′𝑃”
=𝑉 = … (3)
𝑉1 2 sin 𝑖 𝑉2
𝑃𝑃" ℎ𝑝 cos 𝑖 𝑃′𝑃"
= + … (4)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
Persamaan (4) dapat digunakan untuk mencari persamaan rambat gelombang dari
berbagai sumber pada shot point (A dan B) dan reciever (P) diperoleh persamaan
berikut :
𝑃𝑃′" ℎ𝑝 cos 𝑖 𝑃′𝑃′"
= + … (5)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐴𝐴" ℎ𝐴 cos 𝑖 𝐴′𝐴′”
= + … (6)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐵𝐵" ℎ𝐵 cos 𝑖 𝐵′𝐵′"
= + … (7)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
Dari persamaan (5), (6) dan (7) tersebut, didapatkan persamaan travel time :
𝐴𝐴" 𝐴"𝑃" 𝑃"𝑃 ℎ𝐴 cos 𝑖 ℎ𝑃 cos 𝑖 𝐴′𝑃′
𝑇𝐴𝑃 = + + = + + … (8)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐵𝐵" 𝐵"𝑃′′′ 𝑃′′′𝑃 ℎ𝐵 cos 𝑖 ℎ𝑃 cos 𝑖 𝐵′𝑃′
𝑇𝐵𝑃 = + + = + + … (9)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐴𝐴" 𝐴"𝐵" 𝐵"𝑃 ℎ𝐴 cos 𝑖 ℎ𝐵 cos 𝑖 𝐴′𝐵′
𝑇𝐴𝐵 = + + = + + … (10)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
Dari persamaan TAP, TBP, dan TAB maka diperoleh persamaan perambatan
gelombang source to source melalui AP dan BP yaitu :
2ℎ𝑝 cos 𝑖
𝑇𝐴𝑃 + 𝑇𝐵𝑃 = + 𝑇𝐴𝐵 … (11)
𝑉1
Kemudian dapat peroleh persamaan untuk menghitung ketebalan (Hp) dari
persamaan (11) :
1 𝑉
ℎ𝑝 = 2 cos (𝑇 + 𝑇𝐵𝑃 − 𝑇𝐴𝐵 ) … (12)
𝑖 𝐴𝑃
Untuk memperoleh nilai V1, harus diplot terlebih dahulu grafik penjalaran
gelombang langsungyang merupakan hubungan antara travel time dengan offset
(Grafik T vs X). Hubungan antaragradien grafik T vs X dengan nilai kecepatan
gelombang adalah sebagai berikut :
1
𝑉 = 𝑚 … (13)
𝑉1𝑓 +𝑉1𝑟
𝑉1 = … (14)
2
Nilai V2 didapatkan dengan cara mengeplot grafik T’AP vs jarak (x) dimana
hubungan antara gradien grafik dan nilai V2 sesuai dengan persaman berikut :
′ 𝑇𝐴𝑃 +𝑇𝐵𝑃 −𝑇𝐴𝐵
𝑇𝐴𝑃 = 𝑇𝐴𝑃 − ( ) … (15)
2
TAP, TBP, dan TAB pada persamaan (15) disusbtitusi dengan persamaan (11)
sehingga diperoleh persamaan :

ℎ𝐴 cos 𝑖 𝐴′𝑃′
𝑇𝐴𝑃 = +
𝑉1 𝑉2
1
𝑉2 =
𝑚
254
keterangan pada persamaan-persamaan tersebut diatas:

Setelah perhitungan selesai dilakukan dengan menggunakan persamaan-


persamaan tersebut diatas, dapat dibuat model perlapisan batuan bawah permukaan
dengan menggunakan hp (nilai ketebalan lapisan lapuk). Untuk multiple layer
hingga terdapat 3 trend data (3 lapisan), sehingga langkah pertama harus
menentukan kecepatan lapisan ketiga berdasarkan gradien trend data gelombang
refraksi pada lapisan ketiga. Ketebalan lapisan kedua dapat dicari menggunakan
rumus sebagai berikut:

255
4. Pengolahan pada Front End Express
1. Pertama aplikasi Front End Express dibuka, maka akan muncul tampilan seperti
dibawah.

2. Kemudian buka folder yang berisikan data hasil akuisisi dengan cara klik icon
folder di kiri atas.

3. Kemudian pilih file yang ingin dipicking first break, dengan cara klik file yang
berada di bawah “Name”.

4. Jika dirasa data masih banyak noise sehingga sulit untuk picking first break,
noise dapat dikurangi dengan mengatur display gain dan scale type pada menu
display yang bertujuan untuk mengatur amplitudo getaran agar mudah terlihat
dan memudahkan proses picking. Scale type yang digunakan biasanya Trace
RMS.

256
5. Dapat juga dilakukan filtering dengan cara klik tab Edit > Filter, pilih filter yang
sesuai dan atur kurva hijau sehingga melingkupi kurba abu-abu.

6. Kemudian dilakukan picking first break dengan cara klik tab Misc. lalu centang
Pick. Picking dilakukan dengan cara klik kiri pada daerah yang ingin dipick, jika
ingin menghapus pick, klik kiri di sekitar garis pick.

257
7. Hasil picking disimpan dengan cara klik “Save…” di sebelah kanan centang
“Pick”. Hasil disimpan dalam bentuk .txt.

5. Pengolahan Pada Excel – Metode Hagiwara


1. Buka Ms. Excel, kemudian salin data posisi geofon dan waktu tiba gelombang
ke dalam tabel seperti contoh dibawah, dengan highlight pink merupakan posisi
shot.

258
Loading Data
Geofon X posisi (m) SP1 (s) SP3 (s) SP4 (s)
1 0 0.013033 0.037322 0.05198
2 2 0.017773 0.035545 0.049505
3 4 0.023697 0.03436 0.047855
4 6 0.028436 0.03436 0.046205
5 8 0.033768 0.032583 0.044554
6 10 0.036137 0.027251 0.042904
7 12 0.039692 0.026066 0.041254
8 14 0.041469 0.022512 0.039604
9 16 0.042062 0.017773 0.037954
10 18 0.043246 0.013626 0.037129
11 20 0.043839 0.008294 0.035479
12 22 0.044431 0.004147 0.033828
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.032178
14 26 0.046801 0.005924 0.030528
15 28 0.049171 0.008886 0.028878
16 30 0.049763 0.018957 0.027228
17 32 0.050948 0.020735 0.024752
18 34 0.049763 0.021919 0.021452
19 36 0.050355 0.023104 0.019802
20 38 0.05154 0.023104 0.017327
21 40 0.052133 0.025474 0.014026
22 42 0.053318 0.027844 0.009901
23 44 0.057464 0.030806 0.004125
24 46 0.059242 0.033175 0
SP4 46 0
2. Selanjutnya dibuat kurva penjalaran gelombang, atau kurva T vs X shot dengan
waktu jalar sebagai sumbu y dan jarak antar geofon adalah sumbu x.
3. Kemudian dilakukan analisa pada grafik waktu jalar untuk menentukan titik
dimana diterimanya direct wave (DW) yang ditandakan dengan titik merah dan
refracted wave (RW) yang ditandakan dengan titik biru. Hal yang menjadi
pertimbangan untuk menentukan jenis gelombang tersebut diantaranya adalah
DW cenderung tiba lebih dulu daripada RW sehingga posisi DW lebih dekat
dengan shot. Direct dan refracted masing-masing dibagi menjadi 2, reverse (kiri)
dan forward (kanan).
4. Ditampilkan trendline dan persamaan garisnya untuk setiap slope baik yang ke
kanan dan juga kiri.

5. Persamaan garis gelombang direct forward, direct reverse, refracted forward,


dan refracted reverse diperoleh dan disajikan kedalam tabel.

259
Equation
y m c
Direct Forward 0.0026 0.0129
Refracted Forward 0.0005 0.0324
Direct Reverse -0.002 0.0491
Refracted Reverse -0.0005 0.037
6. Selanjutnya dapat dicari kecepatan lapisan 1, menggunakan persamaan 𝑣𝑛 = 1
𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒 , untuk V1 forward menggunakan gradien dari direct forward dan untuk
V1 reverse menggunakan gradien dari direct reverse. Kemudian dicari nilai rata-
rata dari kecepatan tersebut maka diperoleh nilai V1.
Velocity
V1 Foward (m/s) 384.6153846
V1 Reverse (m/s) 500
V1 (m/s) 442.3076923
7. Kemudian dicari nilai source-to-source time (sts) forward dan reverse, dengan
persamaan 𝑚𝑥 + 𝑐. Untuk mencari sts ini digunakan dua persamaan garis
refracted pada kurva t-x yang saling berpotongan. Untuk sts forward digunakan
persamaan refracted forward dan refracted reverse untuk sts reverse. Nilai x
(letak titik shot) yang digunakan pada kedua persamaan ditukar. Misalnya ketika
refracted forward berada pada SP1, maka nilai x yang digunakan untuk mencari
sts forward adalah nilai x SP2, begitu sebaliknya. Kemudian dicari rata-rata dari
kedua sts dan diperoleh nilai source-to-source time.
Source to Source
FORWARD 0.0439
REVERSE 0.04
AVERAGE(tab) 0.04195
8. Dibuat tabel dengan header seperti dibawah ini.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp) cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
SP1 SP3 tab tp t'ap V1 V2

bagian 1 bagian 2

atau untuk lebih jelasnya:


bagian 1
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp)
SP1 SP3 tab tp

bagian 2
t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
t'ap V1 V2

9. Kemudian “geo” diisi geofon ke-, “x-loc” diisi posisi geofon, dan “waktu” diisi
waktu tiba gelombang.

260
Waktu (s)
Geofon X-Loc (m)
SP1 SP3
1 0 0.013033 0.037322
2 2 0.017773 0.035545
3 4 0.023697 0.03436
4 6 0.028436 0.03436
5 8 0.033768 0.032583
6 10 0.036137 0.027251
7 12 0.039692 0.026066
8 14 0.041469 0.022512
9 16 0.042062 0.017773
10 18 0.043246 0.013626
11 20 0.043839 0.008294
12 22 0.044431 0.004147
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777
14 26 0.046801 0.005924
15 28 0.049171 0.008886
16 30 0.049763 0.018957
17 32 0.050948 0.020735
18 34 0.049763 0.021919
19 36 0.050355 0.023104
20 38 0.05154 0.023104
21 40 0.052133 0.025474
22 42 0.053318 0.027844
23 44 0.057464 0.030806
24 46 0.059242 0.033175
SP4 46 0

10. Selanjutnya mencari waktu refracted forward (Tap) dan reverse (Tbp). Untuk
mendapatkan waktu rambat refracted forward pada titik waktu rambat yang
bukan refracted forward, digunakan prinsip phantom arrival dengan menentukan
farshot nya terlebih dahulu.

11. Pada gambar diatas, far shot direct dan far shot reverse berada pada lingkaran
kuning. Kemudian catat nilai x posisi far shotnya, waktu tiba gelombang reverse
atau forward shotnya, dan waktu tiba gelombang far shotnya.
12. Kemudian dicari nilai DT dengan cara mengurangi nilai waktu riba gelombang
reverse atau forward shot dengan waktu tiba gelombang far shot (keduanya pada
data x posisi yang paling awal).
13. Kemudian dicari nilai phantom arrival atau waktu refracted forward dan reverse
yang akan digunakan pada perhitungan, dengan persamaan waktu tiba far shot
dikurangi DT.
Panthom Arrival DT 0.01565
Phanto
X posisi Reverse
Far shot m
(m) shot
Arrival
10 0.02725 0.0429 0.02725
12 0.02607 0.04125 0.0256
14 0.02251 0.0396 0.02395
16 0.01777 0.03795 0.0223
18 0.01363 0.03713 0.02148
20 0.00829 0.03548 0.01983
22 0.00415 0.03383 0.01818
24 0.00178 0.03218 0.01653

261
14. Apabila tidak ada farshot gunakan persamaan refracted forward dengan
persamaan 𝑚𝑥 + 𝑐 dimana nilai x adalah nilai x posisinya. Begitu juga pada
refracted reverse sehingga tabel pada langkah 8 dapat diisi.
Waktu (s)
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp)
SP1 SP3
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175
SP4 46 0 0

15. Kemudian dicari nilai TAB (dari langkah 7), TP (Tap + Tbp - Tab), dan T’AP
(Tap - (Tp/2)) dan juga disalin nilai v1.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp)
SP1 SP3 tab tp t'ap V1
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322 0.04195 0.027772 0.018514 442.3076923
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545 0.04195 0.026995 0.0199025 442.3076923
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436 0.04195 0.02681 0.020995 442.3076923
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436 0.04195 0.02781 0.021495 442.3076923
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583 0.04195 0.024401 0.0215675 442.3076923
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251 0.04195 0.021438 0.025418 442.3076923
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601 0.04195 0.023343 0.0280205 442.3076923
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951 0.04195 0.02347 0.029734 442.3076923
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301 0.04195 0.022413 0.0308555 442.3076923
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476 0.04195 0.022772 0.03186 442.3076923
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826 0.04195 0.021715 0.0329815 442.3076923
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826 0.04195 0.022307 0.0332775 442.3076923
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525 0.04195 0.020191 0.0355205 442.3076923
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924 0.04195 0.010775 0.0414135 442.3076923
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886 0.04195 0.016107 0.0411175 442.3076923
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957 0.04195 0.02677 0.036378 442.3076923
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735 0.04195 0.029733 0.0360815 442.3076923
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919 0.04195 0.029732 0.034897 442.3076923
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104 0.04195 0.031509 0.0346005 442.3076923
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104 0.04195 0.032694 0.035193 442.3076923
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474 0.04195 0.035657 0.0343045 442.3076923
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844 0.04195 0.039212 0.033712 442.3076923
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806 0.04195 0.04632 0.034304 442.3076923
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175 0.04195 0.050467 0.0340085 442.3076923
SP4 46 0 0

16. Selanjutnya dibuat kurva T’AP vs x dan diperoleh persamaan garisnya, dengan
T’AP sebagai sumbu y dan x sebagai sumbu x. Persamaan garisnya dicatat.

Equation
y m c
Direct Forward 0.0026 0.0129
Refracted Forward 0.0005 0.0324
Direct Reverse -0.002 0.0491
Refracted Reverse -0.0005 0.037
T'AP vs X-Loc 0.0008 0.0179

262
17. Dari persamaan garis pada kurva T’AP vs x diperoleh gradiennya yang
1
digunakan untuk mencari nilai V2 dengan persamaan 𝑉𝑛 = 𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒.

𝑉 2
18. Kemudian dicari nilai cos i dengan persamaan √1 − (𝑉1 ) dan bisa dicari nilai
2
1 𝑉
kedalaman lapisan 1 (hp) menggunakan persamaan ℎ𝑝 = 2 cos (𝑇 + 𝑇𝐵𝑃 −
𝑖 𝐴𝑃
𝑇𝐴𝐵 ). Selanjutnya diasumsikan nilai kedalaman total (h total) untuk batasan
kedalaman pada model lapisan. Misalkan H total yang dipilih sebesar 15 m.
Kemudian dicari nilai kedalaman lapisan 2 (h2) yaitu (–h total) – (hp). Inputkan
pula data topografi.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp) cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
SP1 SP3 tab tp t'ap V1 V2
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322 0.04195 0.027772 0.018514 442.3076923 1250 0.93530 -6.566728014 -23.43327199 346
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545 0.04195 0.026995 0.0199025 442.3076923 1250 0.93530 -6.383005283 -23.61699472 345.1865267
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436 0.04195 0.02681 0.020995 442.3076923 1250 0.93530 -6.339261776 -23.66073822 344.3097844
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436 0.04195 0.02781 0.021495 442.3076923 1250 0.93530 -6.575713166 -23.42428683 344.2399854
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583 0.04195 0.024401 0.0215675 442.3076923 1250 0.93530 -5.769650377 -24.23034962 343.2399854
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251 0.04195 0.021438 0.025418 442.3076923 1250 0.93530 -5.069044907 -24.93095509 342.3632431
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601 0.04195 0.023343 0.0280205 442.3076923 1250 0.93530 -5.519484806 -24.48051519 342.1541862
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951 0.04195 0.02347 0.029734 442.3076923 1250 0.93530 -5.549514132 -24.45048587 341.184567
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301 0.04195 0.022413 0.0308555 442.3076923 1250 0.93530 -5.299585013 -24.70041499 340.566533
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476 0.04195 0.022772 0.03186 442.3076923 1250 0.93530 -5.384471062 -24.61552894 340.0152583
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826 0.04195 0.021715 0.0329815 442.3076923 1250 0.93530 -5.134541942 -24.86545806 339.2660451
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826 0.04195 0.022307 0.0332775 442.3076923 1250 0.93530 -5.274521165 -24.72547883 338.4845828
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525 0.04195 0.020191 0.0355205 442.3076923 1250 0.93530 -4.774190023 -25.22580998 337.8334465
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924 0.04195 0.010775 0.0414135 442.3076923 1250 0.93530 -2.547763731 -27.45223627 337.2487031
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886 0.04195 0.016107 0.0411175 442.3076923 1250 0.93530 -3.808522545 -26.19147746 336.6306691
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957 0.04195 0.02677 0.036378 442.3076923 1250 0.93530 -6.32980372 -23.67019628 336.2833728
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735 0.04195 0.029733 0.0360815 442.3076923 1250 0.93530 -7.03040919 -22.96959081 335.799529
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919 0.04195 0.029732 0.034897 442.3076923 1250 0.93530 -7.030172739 -22.96982726 335.3837056
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104 0.04195 0.031509 0.0346005 442.3076923 1250 0.93530 -7.450346859 -22.54965314 335.0020876
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104 0.04195 0.032694 0.035193 442.3076923 1250 0.93530 -7.730541757 -22.26945824 334.6892187
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474 0.04195 0.035657 0.0343045 442.3076923 1250 0.93530 -8.431147227 -21.56885277 334.3763497
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844 0.04195 0.039212 0.033712 442.3076923 1250 0.93530 -9.271731919 -20.72826808 333.9605264
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806 0.04195 0.04632 0.034304 442.3076923 1250 0.93530 -10.9524284 -19.0475716 333.7514694
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175 0.04195 0.050467 0.0340085 442.3076923 1250 0.93530 -11.93299232 -18.06700768 333.6467975
SP4 46 0 0

19. Kemudian dilakukan pemodelan lapisan, dengan chart type Stacked Area.

V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s

20. Buat juga untuk pemodelan menggunakan topografi.

V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s

21. Langkah 1-20 diulangi untuk pasangan SP lainnya.


22. Dilakukan korelasi model semua SP seperti gambar berikut.

263
VI. Interpretasi

V1=442.307 m/s

V2=1250 m/s

Gambar 11. Model Lapisan 1 dan 2 tanpa Topografi

264
V1=442.307 m/s

V2=1250 m/s

Gambar 12. Model Lapisan 1 dan 2 dengan Topografi


Dari model diatas didapatkan dua lapisan bawah permukaan yang ditentukan melalui
perbedaan nilai kecepatan yang berbeda ,dimana kecepatan lapisan bawah akan lebih besar
nilainya dibanding kecepatan lapisan pertama yakni lapisan permukaan. Model kecepatan
diatas juga memiliki informasi ketebalan lapisan, dari informasi ketebalan lapisan tersebut
dapat di interpretasikan untuk keperluan geoteknik maupun untuk analisa mitigasi bencana
seperti tanah longsor. Selain ketebalan lapisan, besarnya kemiringan /slope lapisan pertama
dan kedua juga menjadi data yang penting untuk Geoteknik ataupun upaya antisipasi tanah
longsor ( penentuan bidang gelincir).
Nilai kecepatan Vp dapat digunakan sebagai penentuan litologi batuan secara
sederhana. Dimana penentuan litologi batuan tidak bisa ditentukan mutlak dari model Vp
(Gelombang Primer) melainkan dibutuhkan data geologi dan data pendukung lainya untuk
mendapatkan litologi yang tepat. Nilai kecepatan Vp juga dapat diinterpretasikan untuk
mengetahui kerapatan medium dibawah permukaan tanah. Bahwa diketahui kecepatan
Gelombang Vp akan tinggi apabila melewati medium yang rapat dan sebaliknya. Dari
pengukuran beberapa titik atau lintasan seismic refraksi, nilai Vp dapat dipetakan menjadi
peta pesebaran nilai Vp yang dapat diaplikasikan di bidang geoteknik maupun mitigasi
bencana salah satunya penentuan zona rawan longsor didaerah tersebut.
VII. Tambahan untuk Vp dan Vs pada litologi batuan:

Gambar 13. Tabel P-Wave Velocity of Various Earth Material (m/s) (Xayavong et al., 2020)

265
Gambar 14. Tabel S-wave velocities and bedrock depth in different rock units (Sundararajan
dan Seshunarayana, 2010)

Gambar 15. Tabel S-wave velocities properties of the materials in the model (Dimitrios,
Kyriazis dan Konstantia, 2002)

Gambar 16. Definition of National Earthquake Hazard Reduction Program soil and rock
classes from NBCC, 2005 (Hunter et al., 2010)

266
BAB IX
VES
1. PENDAHULUAN
Metode Vertical Electrical Sounding (VES) adalah salah satu metode geolistrik dengan
menggunakan konfigurasi Schlumberger. Metode geolistrik sendiri adalah salah satu metode
aktif geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis di bawah permukaan tanah dengan
mempelajari sifat-sifat kelistrikan di bawah permukaan bumi. Pengukuran geolistrik dapat
dilakukan untuk berbagai tujuan, misalnya penentuan airtanah, struktur gelologi, litologi dan
penyelidikan mineral-mineral logam, maupun untuk keperluan geoteknik.
Berdasarkan tujuannya, metode geolistrik dapat dibedakan menjadi 2, yakni metode
geolistrik mapping dan metode geolistrik sounding. Metode geolistrik mapping adalah
metode geolistrik untuk melihat perbedaan resistivitas bawah permukaan secara lateral,
sedangkan metode sounding adalah metode geofisika untuk melihat perbedaan resistivitas
secara vertikal ke bawah. Untuk tujuan mapping biasanya menggunakan konfigurasi Dipole
- dipole, sedangkan untuk sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger (VES).
Dalam pengukuran metode VES biasanya menggunakan 4 elektroda dimana 2 elektroda
berfungsi sebagai elektroda arus (C1, C2) dan 2 elektroda lainnya berfungsi sebagai
elektroda potensial (P1, P2). Prinsip dari metode ini adalah menginjeksikan arus DC melalui
elektroda arus (C1, C2) ke bawah permukaan bumi sehingga akan mengakibatkan beda
potensial yang dapat diukur melalui elektroda arus (P1, P2). Parameter yang didapat dari
pengukuran VES ini berupa resistivitas atau nilai tahanan jenis. Nilai resistivitas tersebut
menggambarkan karakteristik dari suatu batuan.

2. DASAR TEORI
2.1 Arus listrik
Arus listrik (I) didefinisikan sebagai kecepatan a;iran muatan listrik positif, atau
𝑑𝑞
𝐼= = −𝑛𝑒𝑣 𝐴
𝑑𝑡 (9.1)
dengan :
n = jumlah muatan listrik negayif atau jumlah elektron bebas per satuan volume
e = muatan elektron = -1,602 × 10-19C
v = kecepatan aliran muatan = kecepatan perpindahan (drift velocity) (m/s)
A = luas penampang aliran (m2)

2.2 Kecepatan Perpindahan Elektron


Kecepatan perpindahan v (atau vd) arahnya berlawanan dengan arah verktor
intensitas medan listrik E. Hubungan antara kecepatan perpinahan v dengan intensitas
medan listrik E adalah
𝑣 = −𝜇𝑒 𝐸 𝑚/𝑠
dengan : (9.2)
2
𝜇𝑒 = mobilitas muatan elektron dinyatakan dalam satuan m /Vs
E = intensitas medan listrik dinyakatan dalam satuan V/m

267
2.3 Rapat Arus
Dinyatakan sebagai arus per satuan luas penampang aliran
𝐼
𝐽=
𝐴 (9.3)
Kemudian dengan substitusi persamaan (9.3) dengan (9.1) didapatkan:
𝐼 𝑛𝑒𝑣 𝐴
𝐽= =− = 𝜌𝑒𝑣
𝐴 𝐴
𝐽 = −𝑛𝑒𝑣
Substitusi persamaan (9.4) dengan (9.2) (9.4)
𝐽 = −𝑛𝑒(−𝜇𝑒 𝐸)
𝐽 = −𝜌𝜇𝑒 𝐸
Kemudian diketahui nilai konduktivitas 𝜎 = −𝜌𝑒 𝜇𝑒 sehingga didapat (9.5)
𝐽 = 𝜎𝐸
(9.6)
Substitusi persamaan (9.6) dengan (9.3)
𝐼 = 𝜎𝐸𝐴
𝑉
𝐼=𝜎 𝐴 (9.7)
𝑙
Nilai hambatan R dinaytakan sebagai resistivitas persatuan panjang, dimana resistivitas
1
𝜌 = 𝜎 sehingga
𝑙
𝑅=𝜌
𝑎 (9.8)
Substitusi persamaan (9.7) dengan (9.8)
𝐴 𝑉
𝐼=𝜎 𝑉= (9.9)
𝑙 𝑅
Yang merupakan persamaan Hukum Ohm

2.4 Hambatan dan Hambatan Jenis


Dinyatakan hambatan jenis, atau resistivitas ρ (Ohmmeter), adalah hambatan R
(Ohm) pada tiap satuan panjang (meter).

Gambar 9.1 Hubungan habatan (R) dengan hambatan jenis (ρ)

2.5 Intensitas Medan Listrik

268
Berdasarkan persamaan (9.3) dan (9.6) diperoleh hubungan medan listrik dan
resistivitas
𝑙 1
= 𝜎𝐸 = 𝐸
𝐴 𝜌
sehingga didapat nilai intensitas medan listrik sebesar
𝐼𝜌
𝐸= (9.10)
𝐴
2.6 Aliran Listrik di Dalam Bumi
1. Sumber Arus Tunggal
Seperti yang telah disebutkan pada kaidah-kaidah pengukuran geolistrik
sebelumnya, pendekatan yang digunakan pada medium aliran listrik dalam bumi
merupakan medium homogen isotropik dengan luas area penjalaran arus berupa
setengah bola. Kemudian asumsi permukaan isopotensial, dimana besarnya arus pada
tiap titik di permukaan bola adalah sama, sehingga nilai potensial pada daerah
permukaan tersebut sama pula, dengan arah aliran arus tegak lurus terhadap kontur
ekuipotensial tersebut.

Gambar 9.2 Sumber arus tunggal dan eektroda potensial tunggal pada medium
homogen
2. Dua Sumber Arus dan Dua Potensial di Permukaan

Gambar 9.3 Dua elektroda arus dan potensialdi permukaan


Beda potensial yang terukur adalah beda potensial yang terjadi antara elektroda
potensial yang dipasang di tengah-tengah dua elektroda arus. dengan nilai potensial
di P1 akibat C1 adalah :
𝐴1 𝐼𝜌
𝑉1 = − 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝐴1 = −
𝑟1 2𝜋
dan nilai potensial di P2 akibat C3 adalah :
𝐴2 𝐼𝜌
𝑉2 = − 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝐴2 = = −𝐴1
𝑟2 2𝜋
Sehingga didapat :

269
𝐼𝜌 1 1
𝑉1 + 𝑉2 = ( − )
2𝜋 𝑟1 𝑟2
Dengan memasukkan P2, kita bisa menghitung perbedaan potensial antara P1 dan
P2 :
𝐼𝜌 1 1 1 1
∆𝑉 = {( − ) − ( − )} (9.11)
2𝜋 𝑟1 𝑟2 𝑟3 𝑟4
3. Faktor Geometri Konfigurasi Schlumberger

Gambar 9.4 Konfigurasi Schlumberger dengan nilai AO = OB = AB/2 = r dan MO


= ON = MN/2 = m.

Nilai K dinyatakan dengan persamaan :


(𝑟 2 − 𝑚2 )
𝐾𝑠 = 𝜋 (9.12)
2𝑚

Berikut beberapa faktor geometri untuk beberapa konfigurasi

Gambar 9.5 Faktor geometri untuk beberapa susunan elektroda.

270
4. Tahanan Jenis Semu
Dalam eksplorasi geolistrik, persamaan resisitivitas yang digunakan merupakan
turunan dari arus listrik pada medium homogen setengah tak berhingga. Karena jarak
elektroda jauh lebih kecil dari pada jejari bumi, maka bumi dapat dianggap sebagai
medium setengah tak berhingga. Akan tetapi karena sifat bumi yang pada umumnya
berlapis (terutama di dekat permukaan), perandaian bahwa mediumnya adalah
homogen tidak dipenuhi. Oleh karena adanya perbedaan hasil pengukuran dengan
nilai resistivitas teoritis inilah menyebabkan nilai resistivitas terukur bukan
merupakan harga resistivitas yang sebenarnya, yang biasa dikenal sebagai resistivitas
semu atau apparent resistivity, dituliskan dengan simbol ρa.
Untuk menghitung resistivitas semu batuan, digunakan persamaan sebagai
berikut :
∆𝑉
𝜌𝑎 = 𝐾
𝐼
Dengan
Δ𝑉=𝑏𝑒𝑑𝑎 𝑝𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑎𝑙
𝐼=𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛
𝐾=𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑔𝑒𝑜𝑚𝑒𝑡𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑓𝑖𝑔𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖
5. Penetrasi Kedalaman
Merupakan kedalaman dimana suatu lapisan tipis horizontal (paralel dengan
permukaan bumi) memberikan jumlah kontribusi maksimum terhadap total sinyal
yang terukur pada permukaan (Evjen, 1938). Pada keadaan sebenarnya, nilai tahanan
jenis semu terukur adalah kontribusi dari seluruh kedalaman. Sedangkan kedalaman
penetrasi meliputi kedalaman yang memberikan kontribusi maksimum terhadap
besar nilai tahanan jenis terukur dengan spasi elektroda arus L tertentu.
Avjen menemukan bahwa kedalaman penyelidikan absolut pada susunan
elektroda Wenner adalah L/9, berbeda dengan Roy dan Apparao yaitu L/3. Solusi
persamaan Roy dan Apparao didapat dengan menurunkan fungsi Frechet Derivative
terhadap x dan y, didapat
2 𝑧
𝐹𝐼𝐷 (𝑧) =
𝜋 (𝑎 + 4𝑧)15
2

Roy dan Apparao telah menemukan beberapa nilai maksimum dari fungsi
sensitivitas untuk beberapa susunan elektroda. Berikut merupakan tabel
perbandingan penetrasi kedalaman terhadap spasi elektroda arus

271
Tabel 1. Tabel Perbandingan Penetrasi Kedalaman terhdap Spasi Elektroda (Roy
and Apparao).

2.7 Noise pada survey elektrik


Elektroda pada prinsipnya dapat ditempatkan di permukaan tanah dengan tingkat
akurasi yang diinginkan (walaupun kesalahan selalu mungkin terjadi dan menjadi lebih
mungkin terjadi saat spasi meningkat). Noise dapat memasuki nilai resistivitas semu
melalui pengukuran tegangan, batas akhir ditentukan oleh sensitivitas voltmeter.
Dimungkinkan juga ada noise karena induksi pada kabel dan juga tegangan alami yang
dapat bervariasi dengan waktu sehingga tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dengan
membalik aliran arus dan merata-ratakan.
Metode yang paling efektif untuk meningkatkan rasio sinyal/noise adalah dengan
meningkatkan kekuatan sinyal. Instrumen modern sering memberi pengamat
pembacaan langsung V/I, diukur dalam ohm, dan cenderung menyembunyikan besaran
tegangan. Nilai ohm kecil menunjukkan voltase kecil tetapi level arus juga harus
diperhitungkan. Ada batasan fisik untuk jumlah arus yang dapat disuplai oleh instrumen
apa pun ke tanah dan mungkin perlu untuk memilih susunan yang memberikan tegangan
besar untuk aliran arus tertentu, seperti yang ditentukan oleh faktor geometris.
Untuk arus masukan tertentu, voltase yang diukur menggunakan konfigurasi
Schlumberger selalu lebih kecil daripada konfigurasi Wenner dengan panjang
keseluruhan yang sama, karena pemisahan antara elektroda voltase selalu lebih kecil.

2.8 Pengunaan Konfigurasi Schlumberger


Pemilihan lokasi, sangat penting dalam konfigurasi Schlumberger, yang sangat
sensitif terhadap kondisi di sekitar elektroda bagian dalam yang berjarak dekat.
Resistivitas semu untuk susunan Schlumberger hanya berlaku jika elektroda bagian
dalam membentuk dipol ideal dengan panjang yang dapat diabaikan.

272
Gambar 9.6 Konstruksi kurva depth-sounding Schlumberger lengkap (garis putus-
putus) dari segmen yang overlapping diperoleh dengan menggunakan pemisahan
elektroda bagian dalam yang berbeda.
Pada prinsipnya konfigurasi Schlumberger diperluas dengan menggerakkan
elektroda luar saja, tetapi tegangan pada akhirnya akan menjadi terlalu kecil untuk diukur
secara akurat kecuali elektroda dalam juga dipindahkan lebih jauh. Dengan demikian,
sounding curve akan terdiri dari sejumlah segmen yang terpisah (Gambar 6).
3. AKUISISI DATA LAPANGAN
3.1 Diagram Alir

Gambar 6. Diagram alir metode VES-Schlumberger

273
3.2 Desain Survey
Desain survei merupakan perencanaan pelaksanaan survei yang berisikan titik-titik
pengukuran untuk memenuhi target yang ingin dicapai. Proses pembuatan desain survei
metode geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger sebagai berikut:
1. Siapkan peta geologi, RBI, dan topografi dalam bentuk format yang mendukung
untuk software.
2. Tentukan daerah dan target pengukuran menggunakan peta geologi.
3. Tentukan jarak antar titik pengukuran dan panjang lintasan pengukuran sesuai
dengan kedalaman target yang diinginkan.
4. Plot titik dimana akan dilakukan pengambilan data yang merupakan daearah target.
Persebaran titik survei dianjurkan dalam bentuk line atau grid agar lebih mudah
dalam korelasi hasil interpretasi. Namun, ada juga dengan bentuk random karena daerah
survei yang memungkinkan untuk bentuk line atau grid.

3.3 Peralatan Survey


1. Resistivitymeter McOhm
2. Roll kabel (4 buah)
3. Elektroda (4 buah)
4. Meteran (2 buah)
5. Aki 12 volt
6. Kabel power
7. Palu (4 buah)
8. Charger Aki
9. Kompas
10. Multimeter
11. Toolkit
12. HT 5 buah
13. Matras
14. Kalkulator
15. Peta desain survei pada peta Topografi
16. Peta desain survei pada peta geologi

3.4 Pengenalan Alat


Alat yang digunakan : OYO Model 2115 McOHM
Spesifikasi alat :
• Pemancar Arus
➢ Tegangan keluaran :400 Vpp Maksimum
➢ Arus keluaran :1, 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200 mA (arus tetap)
➢ Tegangan pemakaian :12 V DC
• Penerima potensial
➢ Impedansi masukan : 10 M Ω
➢ Potensial pengukuran : ±25 mV, ±250 mV, ±2500 mV (auto range)

274
➢ Resolusi : 1 μV
➢ Perbandingan : S/N 90 dB (dengan 50/60 Hz)
➢ Perlakuan stack : 1, 4, 16, 64
➢ Waktu sekali pengukuran : 3,7 detik
• Memori data
➢ Jumlah file maksimum : 128
➢ Jumlah data maksimum : 2000
➢ Jumlah data maksimum tiap file : 110
➢ Soket penghubung ke computer : RS-232C
➢ Panjang data :8
➢ Parity : non
➢ Bit stop :2
➢ Parameter X : non
➢ Laju Baud : 100, 300, 600, 1200, 4800, 9600
➢ Catu Daya DC : 12 V(Accu)
➢ Jangkauan suhu : 0-500C
➢ Ukuran : (206 x 281 x 200) mm
➢ Berat : +- 9 kg(termasuk batere)

Catatan : Kalibrasi Resistivitymeter


Sebelum melakukan pengukuran di lapangan, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi
alat. Kalibrasi dilakukan sesuai dengan prosedur sebagai berikut ;
a) TEST RESISTOR dimasukkan ke saluran arus dan potensial (C1, C2, P3,P4 ) dengan
ketentuan ;soket bertanda “C” pada saluran arus C1 dan C2 ,dan soket bertanda “P”
pada saluaran P1,P2 jangan terbalik.
b) Lakukan pengukuran dengan mode “R” stack 1 dan arus 1 mA.
c) Setelah selesai, hambatan yang terbaca harusnya adalah 1Ω ± 1%. Apabila hambatan
yang terbaca berkisar harga tersebut, maka kalibrasi selesai dan alat siap digunakan.

275
Gambar 7. Tampak depan OYO Model 2115 McOHM.

276
277
278
279
3.5 Penentuan Lokasi
1. Kemiringan lintasan hendaknya kurang dari 10o karena bila melebihi nilai tersebut
dapat menyebabkan kesalahan koreksi kedalaman sekitar 2-3 meter.
2. Penentuan titik desain survey yang didasarkan dengan asumsi pada metode geolistrik
berupa lapisan yang homogen sehingga dianjurkan untuk titik berada di suatu litologi
dimana arah bentangan pada saat pengukuran berada dalam satu litologi yang sama.
3. Topografi daerah pengukuran juga perlu diperhatikan mengingat asumsi bahwa
metode geolistrik dilakukan di daerah lapisan yang datar.
4. Bentangan dibuat selurus mungkin dengan jarak A dan B sama besar.
5. Diusahakan arah bentangan searah dengan strike, karena ketidakhomogenan lateral
tang cukup besar apabila arah strike berbeda dengan arah bentangan.

3.6 Akuisisi Lapangan


1. Pembagian Tugas
a) 1 orang operator alat
b) 1 orang pencatat data
c) 2 orang sebagai penjaga elektroda arus (C1 & C2)
d) 2 orang sebagai penjaga electrode potensial (P1 & P2)
e) 2 orang navigator

2. Langkah-langkah akuisisi data lapangan


a) Langkah pertama yang dilakukan saat berada di titik pengukuran, yakni
menentukan titik tengah pengukuran dan dapat ditandai dengan elektroda atau
alat lainnya. Resistivitymeter diletakkan di dekat titik tengah tersebut.
b) Arus dan potensial ditancapkan pada bentangan terpendek yang direncanakan
(tergantung eksentrisitas yang dipakai).
c) Sambungkan Elektroda dengan Resistivitymeter dengan menggunakan kabel :
1) Resistivitymeter dihubungkan dengan sumber energy (aki). Cara pemasangan
aki terlebih dahulu menghubungkan kutub negatif (-) baru kemudian kutub
positif (+).
2) Hidupkan Resistivitymeter dan diatur pengaturan alatnya. Dalam penggunaan
Resistivitymeter Oyo Model 2115 McOHM terdapat pengaturan :
• Mode : tombol untuk mengatur mode pengukuran, dipilih R = Resistivity
untuk VES.
• Stack : mengatur banyaknya proses stacking data, semakin banyak proses
stacking semakin valid data yang diambil namun akan semakin lama dan
penggunaan aki akan boros.
• Current monitor : pengaturan besarnya arus yang diinjeksikan.
d) Setelah pengaturan selesai, klik tombol MEASURE untuk melakukan
pengukuran.
e) Pada monitor akan muncul nilai V dan I, kemudian hitung nilai Rho apparent.
Data Rho apparent / resistivitas semu yang didapat tidak langsung dicatat dalam
log book namun perlu dilakukan QC data. Prosedur QC data VES adalah sbb :

280
1) Nilai rho apparent yang didapat diplot ke dalam grafik skala log rho apparent
vs jarak (AB/2).
2) Untuk QC data titik pertama dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran
berulang sehingga apabila nilainya sama atau mendekati berarti nilai rho
apparent yang didapat valid.
3) Untuk QC data berikutnya dilihat dari grafik bilog, nilai rho apparent tidak
berubah secara drastis namun perlahan. Apabila data yang diperoleh lebih
besar dengan data sebelumnya sehingga trendnya naik dengan beda lebih dari
45˚ maka data yang diperoleh kurang valid sehingga harus diulangi
pengambilan datanya dengan lebih memperdalam elektrodanya atau
menggeser sedikit titik elektrodanya. Untuk data yang diperoleh lebih kecil
dibanding dengan data sebelumnya dan trendnya turun dengan beda <90o data
masih dapat dipercaya.

f) Bila muncul CURRENT ERROR pada display resistivitymeter, maka:


1) Nilai rho apparent yang didapat diplot ke dalam grafik skala log rho apparent
vs jarak (AB/2).
2) kabel konektor resistivitymeter ke kabel roll ke elektroda C belum terpasang.
VES | 139
3) masukan arus (i) terlalu besar, sehingga arus keluaran pada resistivitymeter
perlu diturunkan, atau tanah terlalu kering, sehingga perlu elektroda C perlu
diberi air, agar arus dapat masuk ke tanah.
4) masalah pada a dan b dapat dicek dengan multimeter.
g) Bila nilai DV yang terbaca pada resistivitymeter selalu berubah-ubah :
1) capit buaya pada elektroda P belum terpasang, atau kabel P putus. kabel
konektor resistivitymeter ke kabel roll ke elektroda P belum terpasang.
2) Kedua masalah di atas dapat dicek dengan multimeter.
h) Setelah QC data selesai, data yang diperoleh dicatat dalam log book. Kemudian
tancapkan elektroda arus ke titik berikutnya. Ulangi langkah 5 – 9 dalam
pengukuran berikutnya.
Ketika nilai eksentrisitasnya lebih kurang dari yang ditentukan (1/3 atau 1/5) atau
beda potensial (V) yang diperoleh kurang dari 0,02 mV maka perlu dilakukan
shifting. Shifting dilakukan dengan cara memperlebar bentangan elektroda potensial

281
namun bentangan elektroda arusnya tetap, kemudian diukur nilai rho apparentnya.
Untuk mematikan resistivity meter, kutub positif (+) dulu baru kutub negatif (-) yang
dicabut.

4. PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengolahan Data
1. Mapping
Data resistivitas yang diperoleh di lapangan diplot di dalam peta sesuai dengan
lokasi pengukurannya. Berdasarkan data yang di plot di peta tersebut dibuat kontur
yang menghubungkan nilai resistivitas yang sama (isoapparent resistivity).
Interpretasi dilakukan secara langsung dari pola kontur resistivitas yang ada.
2. Sounding
Ada dua cara untuk mengolah data sounding, yaitu dengan teknik curve matching
dan teknik inversi (menggunakan program komputer).
a) Curve Matching Pada dasarnya tahanan jenis semu untuk struktur berlapis
(tahanan jenis dan ketebalan perlapisan diketahui) dapat dihitung secara teoritis
(penyelesaian problem maju) dengan cara menyelesaikan persamaan Laplace
untuk potensial listrik dalam koordinat silinder dan pertimbangan syarat – syarat
batas. Karena penyelesaian sukar dan panjang dengan melibatkan fungsi Bessel
dan syarat– syarat batas maka interpretasi dapat dilakukan dengan teknik Curve
Matching. Teknik Curve Matching adalah mencocokkan kurva tahanan jenis
semu hasil pengukuran lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung
secara VES | 140 teoritis. Struktur berlapis mempunyai tahanan jenis dan
ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya, sehingga kita perlu kurva
tahanan jenis semu teoritis (standar atau baku) struktur berlapis yang mempunyai
variasi yang sangat banyak juga. Pemilihan kurva bantu yang paling cocok
dengan kurva tahanan jenis yang diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang
lama karena variasi kurva baku yang banyak tersebut. Dua hal itulah yang
merupakan kendala – kendala dalam penggunaan Curve Matching. Untuk
menghindari kendala – kendala tersebut, digunakan teknik Curve Matching
struktur medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku dan 4 kurva bantu. Hal ini dapat
dilakukan karena struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai struktur 2 lapis
yang setiap lapisannya dapat diwakili oleh 1 atau kombinasi banyak lapis.
Adapun langkah – langkah interpretasi dengan curve matching konfigurasi
Schlumberger adalah (Waluyo, 2004) :
• Plot data lapangan pada kertas transparan dengan skala log – log dengan absis
AB/2 (setengah jarak elektroda arus) dan ordinat ρa (tahanan jenis semu).
• Cocokkan lengkung data lapangan dengan lengkung baku. Cari lengkung
baku yang paling cocok ( ρ2/ρ1 ).
• Plot titik silang P1 ( titik potong garis ρa /ρ1 =1 dan AB/2 =1 ) pada kertas
data lapangan. Titik P1 mempunyai arti yang penting karena ordinatnya
adalah harga tahanan jenis lapisan pertama dan absisnya adalah kedalaman
lapisan pertama.

282
• Tentukan tahanan jenis lapisan kedua yaitu ρ2 = ρ1 x ρ2/ρ1.
• Pilih lengkung bantu yang cocok dengan pola lengkung data. Lalu letakkan
pusat lengkung bantu berhimpit dengan titik silang P1 lalu pilih harga sama
dengan ρ2/ρ1.
• Plot lengkung bantu diatas lembar data lapangan dengan garis putus – putus.
• Ganti lengkung bantu dengan lengkung baku. Telusurkan pusat lengkung
baku diatas garis putus – putus yang telah dibuat sampai match dengan data
di belakang data yang telah diinterpretasi.
• Setelah cocok catat harga ρ3/ρ2, plot titik kedua P2 pada kertas data (letak
pusat lengkung baku ).
• Koordinat titik P2 memberikan harga kedalaman lapisan kedua (absis) dan
tahanan jenis ρ2’ (ordinat).
• Tentukan tahanan jenis lapisan ketiga ρ3 = ρ2’ x ρ3/ρ2.
• Bila masih ada data yang belum diinterpretasi, langkah selanjutnya sama
seperti 10 poin diatas. Diteruskan hingga data terakhir yang merupakan
kedalaman lapisan terakhir (dasar).
• Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung bantu yang ada,
lengkung bantu tipe H merupakan lengkung bantu yang paling mudah
penggunaannya, karena harga h2/h1 dapat diperoleh langsung dengan
menarik garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h tidak perlu dikoreksi.
Sedangkan tipe A, K dan Q memerlukan koreksi untuk menentukan
ketebalannya. Harga ketebalan merupakan harga h dikalikan dengan faktor
koreksi.
b) Inversi/Forward Modelling Teknik ini menggunakan komputer untuk mencari
kurva tahanan jenis semu yang nantinya akan diketahui urutan lapisan. Hal – hal
yang harus diketahui interpreter adalah (Sharma, 1997) :
• Keakuratan nilai perhitungan tahanan jenis ditunjukkan dengan adanya
pengindikasi kesalahan.
• Terampil menerka (dengan berdasar pada konsep geologi) parameter tiap
lapisan, untuk dijadikan sebagai masukan awal.
• Kurva tahanan jenis semu hasil masukan dari poin 2, dihitung atau diolah
dengan menggunakan program perhitungan maju (forward calculation
program).
Dilakukan minimalisasi kesalahan dari parameter tiap lapisan, hingga didapatkan
kurva teoritis yang sama atau mendekati kurva lapangan.
4.2 Pengolahan Menggunakan Ms. Excel
Data yang diperoleh selama akuisisi lapangan yaitu nilai AB/2 (m), MN/2 (m), V
(mV) & I (mA) terukur, R (ohm) terhitung (baik dari alat maupun manual). Setelah
dilakukan akuisisi lapangan, data yang didapat kemudian diolah menggunakan beberapa
software. Sebelum dilakukan prosesing, dilakukan proses QC data menggunakan
microsoft excel. Berikut tahapan pengolahan data lapangan geolistrik sounding :

283
1. Input data kedalam tabel kemudian lakukan perhitungan untuk menentukan nilai K
dan Rho apparent (ohm.m)

2. Kemudian dari hasil pengolahan tersebut diplot data ke dalam grafik bilog rho
apparent vs jarak.

284
3. Dari grafik diatas kemudian dilakukan proses shifting agar menghasilkan model yang
smooth dan tidak saling tumpang tindih.

285
286
4. Dari hasil shifting tersebut kemudian diplot kembali kedalam grafik bilog Rho App
vs Jarak AB/2. Nilai ini yang kemudian akan diolah kedalam software Progress.

4.3 Pengolahan Menggunakan PROGRESS


Setelah kita melakukan pengambilan data di lapangan selanjutnya dilakukan
processing data dengan software Progress. Untuk processing kali ini digunakan software
Progress versi 3.0. Software ini digunakan untuk melakukan pengolahan data sekaligus
interpretasi secara 1D. Dalam melakukan pengolahan data dengan software ini cukup
mudah, langkah- langkahnya yaitu :
1. Terlebih dahulu kita siapkan data yang akan kita proses. Dari data lapangan yang
telah kita dapat, terlebih dahulu kita hitung nilai Rho app.

287
2. Copy data AB/2 dan Rhoapp ke dalam notepad. Kemudian, atur data tersebut dengan
urutan jumlah data yang dimasukkan pada baris pertama, nilai AB/2 pertama data
pada baris kedua, nilai Rhoapp pertama pada baris ketiga,nilai AB/2 data kedua, nilai
Rhoapp data kedua, begitu seterusnya. Jangan sampai ada spasi setelah data!

3. Kemudian simpan data tersebut dengan ekstensi file IND atau tambahkan ( .IND)
pada akhir nama file.
4. Buka software Progress v3.0. Kemudian langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan input data. Pilih file -> open atau dengan menekan CTRL+O. Lalu pilih
data yang sudah kita simpan tadi, maka secara otomatis data akan terisi pada tabel
yang tersedia.

288
5. Setelah data terbuka, cek kembali data dan pastikan tidak ada spasi setelah data di
tiap barisnya. Kemudian pilih jenis konfigurasi yang kita gunakan saat pengambilan
data. Karena yang kita gunakan konfigurasi maka pilih Sc pada tab jenis konfigurasi.
6. Langkah selanjutnya adalah melakukan forward modelling. Pilih tab forward
modelling. Maka akan muncul diagram antara AB/2 vs Rhoapp dengan titik-titik biru
merupakan data yang kita input. Pada tabel Depth dan Resistivity isikan kedalaman
dan nilai resistivitas yang sesuai. Akan muncul garis kuning sebagai acuan kita
melakukan isian data kedalaman dan resistivitas. Bentuk garis kuning tersebut agar
trendnya mengikuti titik-titik biru. Usahakan nilai Root Mean Square (RMS)
seminimal mungkin. Kita bisa menghapus data yang kita anggap “merusak” dengan
kembali pada tab Observed Data dan menghapus data tersebut. *ini tidak akan
menghapus data pengukuran di lapangan kita.

7. Setelah trend dari garis kuning tersebut dirasa sudah cukup, selanjutnya kita
melakukan invers dari data yang telah kita dapat. Pilih tab Invers Modelling. Pada
saat melakukan inversmodelling nilai RMS akan semakin kecil karena Progress akan
melakukan membuat model yang paling mendekati data. Ketika nilai RMS. Pada saat
forward modelling sudah menunjukkan nilai yang kecil, iterasi yang dibutuhkan tidak

289
perlu terlalu banyak. Secara default akan muncul angka 10 pada kolom iterasi. Jika
nilai RMS kita dibawah 10% ganti nilai iterasi dengan angka yang lebih kecil, (ex: 2
atau 5).

8. Setelah kita melakukan inverse modelling langkah terakhir adalah melakukan


interpretasi data. Caranya pilih tab Interpreted Data. Maka akan muncul hasil
pengolahan kita. Hasil yang didapat berupa 1D.

5. INTERPRETASI DATA
Untuk memudahkan interpretasi penyusun satuan geologi, data tahanan jenis dilakukan
inversi dengan program Progress untuk memudahkan interpretasi lapisan geologi dengan
menampilkan gambar borlog persumur dari analiais tahanan jenis yang sebenarnya. Progres
3.0 merupakan program interpretasi tahanan jenis menggunakan metode optimasi non– linier
yang secara otomatis menentukan model inversi tahanan jenis dan interpretasi data untuk
struktur bawah permukaan dari data observasi titik sounding hasil survey geolistrik. Dasar

290
teori yang mendasari pembuatan program komputer Progress 3.0 adalah teori pencocokan
kurva atau Curve Matching.
Progress 3.0 membutuhkan masukan berupa nilai tahanan jenis semu (ρa) dan nilai AB/2
atau setengah jarak elektroda arus. Hasil masukan kedua variabel ini akan menampilkan
sebuah kurva lapangan tahanan jenis semu (ρa) vs setengah jarak elektroda arus (AB/2).
Untuk pengolahan kurva lapangan menggunakan forward modelling dan inverse modelling
membutuhkan masukan model parameter berupa lapisan (layer), kedalaman (depth), dan
nilai tahanan jenis semu (ρa).
Dari gambar interpretasi di bawah ini, dapat disimpulkan bahwa lapisan akuifer air
terdapat pada kedalaman sekitar 60 meter. Untuk mementukan jenis batuan yang ada
diperlukan data geologi setempat daerah tersebut. Bila terdapat banyak titik sounding yang
diketahui posisi dan ketinggiannya, maka dapat dibuat peta akuifer air.
Setelah mengindikasi litologi batuan penyusun tiap lapisan, selanjutnya yaitu
memperkirakan model keberadaan air tanah dimana kemungkinan terdapat disetiap sumur.
Teknik yang dilakukan dengan melakukan korelasi tiap titik amat, sehingga dapat diduga
kontinyuitas dari tiap-tiap lapisan penyusun tersebut dan dapat mengetahui arah aliran air
tanah jika didapatkan formasi penyusunnya.

291
292
Gambar 8. Rentang harga resistivitas dan konduktivitas berbagai batuan dan material
(modifikasi dari Palacky,1987)

293
BAB X
Metode Very Low Frequency (VLF)
I. Pendahuluan
Penggunaan dari Very Low Frequency (VLF) telah dikenal lebih dari 40 tahun
karenamudahnya penggunaan dengan cakupan yang luas setelah data diolah (McNeill&
Labson, 1991). Pada dasarnya, VLF bekerja dengan memanfaatkan pemancar radio atau
disebuttransmitter yang tersebar di beberapa negara pada berbagai belahan dunia. Metode
Very LowFrequency (VLF) memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari
transmitter dengan spektrum frekuensi sangat rendah (15-30 kHz) yang menjalar melalui
permukaan bumidan ionosfer. Dua pemancar radio yang terdekat dengan Indonesia berada
di Yosami, Jepang dan Northwest Cape, Australia. Efek yang diberikan oleh pemancar
akan mempengaruhi perlapisan pada area yang diamati. Sehingga, perlapisan tersebut akan
terinduksi akibat adanya penjalaran gelombang elektromagnetik yang ketika melalui
perlapisan tertentu akan menimbulkan medan elektromagnetik sekunder dalam bentuk
gangguan terhadap medan magnetik alamiah bumi (Hiskiawan, 2009).
Metode ini digunakan untuk target survei berdasarkan sifat konduktivitas dan
resistivitas batuan (sesuai dengan mode yang digunakan). Metode VLF dapat
diinterpretasikansecara kualitatif dengan kedalaman tidak pasti (estimasi) berkisar 5-50
meter. Pada dasarnya metode ini digunakan untuk ekspolorasi mineral, pemetaan geologi,
groundwater exploration,overburden mapping, identifikasi limbah, dan identifikasi zona
panas bumi. Hasil pengukuran yang diperoleh berdasarkan survei VLF dengan
memanfaatkan komponen tersebut dapat digunakan untuk mengetahui perkiraan
resistivitas batuan yang diinduksi oleh gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh
pemancar. Metode VLF dapat menggunakan pemancaryang ada di seluruh dunia apabila
siinyalnya masih terjangkau. Sinyal-sinyal pemancar memiliki waktu optimal dalam
rentang pagi-siang hari.

Gambar 10.1. Ilustrasi Penjalaran Gelombang VLF dari Pemancar

294
II. Dasar Teori
a. Metode Elektromagnetik Very Low Frequency (VLF)
Metode ini dilakukan berdasarkan prinsip gelombang EM, dimana medan EM primer
yang dipancarkan dari pemancar akan berinteraksi dengan medium yang mempunyai nilai
konduktivitas listrik berbeda dengan host, sehingga memunculkan medan EM sekunder.
Medan listrik E dan medan magnet H yang direkam, setelah diproses dapat menghasilkan
konduktivitas medium. Terdapat dua cara dalam mengkaji sifat gelombang EM untuk
metode ini, yaitu cara tilt angle mode dan cara resistivity mode. Tiltangle mode mengukur
medan H pada 3 komponen, kemudian menganalisis nilai tilt dan elliptisitasnya. Mode
resistivity mengukur medan E dan H yang bersesuaian,sehingga dapat diperoleh nilai
resistivitas semu dan fasenya. Data dalam masing-masing mode dipergunakan untuk
menganalisis dan memodelkan konduktivitas listrik medium di bawahpermukaan.
Metode elektromagnetik VLF ini bertujuan untuk mengukur harga daya
konduktivitas batuan berdasarkan pengukuran gelombang elektromagnetik sekunder.
Pemanfaatan gelombang hasil induksi elektromagnetik yang berfrekuensi sangat rendah
dari transmitter, maka akan terjadi arus induksi dari dalam medium batuan. Arus induksi
tersebut yang menimbulkan medan sekunder yang dapat ditangkap di permukaan bumi.
dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik sekunder maka dapat mendeteksi daya
hantar listrik batuan di bawahnya. Hal ini karena besar kuat medan elektromagnetik
sekunder sebanding dengan besarnya daya hantar listrik batuan. Metode VLF tergolong
metode Geofisika pasif. Pada kerjanya metode ini hanya menangkap sinyal-sinyal
frekuensi dari stasiun-stasiun yang ada di seluruh dunia. Dalam pelaksanaanya, metode ini
menggunakan sinyal dari dua frekuensi saat akusisi dan menggunakan satu frekuensi dalam
pengolahannya (hasil akuisisi yang baik, single frequency).
b. Perambatan Medan Elektromagnetik
Medan elektromagnetik dinyatakan dalam 4 vektor medan. Yaitu: E = intensitas medan
listrik (V/m), H = intensitas medan magnetisasi (A/m), B = induksi magnetik, ataurapat fluks
(Wb/m2 atau tesla) dan D = pergeseran listrik(C/m2). Keempat persamaan tersebut dikaitkan
dalam 4 persamaan maxwell berikut.
Hukum Gauss untuk medan listrik:

Hukum Gauss untuk medan magnet:

Hukum Ampere-Maxwell:

Hukum Faraday:

Persamaan tersebut dapat direduksi dengan menggunakan hubungan- hubungan tensor


tambahan sehingga diperoleh persamaan yang hanya berkait dengan medan E dan H saja
(Grant and West, 1965. p496). Apabila diasumsikanmedan E dan H tersebut hanyasebagai
295
fungsi waktu eksponensial, akan diperoleh persamaan vektorial sebagai:
∇2𝐸 = 𝑖𝜔𝜇𝜎𝐸 − 𝜀𝜇𝜔2𝐸
∇2𝐻 = 𝑖𝜔𝜇𝜎𝐻 − 𝜀𝜇𝜔2𝐻
Dengan 𝜀 = permitivitas dielektrik (F/m), 𝜇 = permeabilitas magnetik (H/m), dan 𝜎 =
konduktivitas listrik (S/m). Bagian kiri pada sisi kanan persamaan tersebut menunjukkan
arus konduksi, sedangkan bagian kanannya menunjukkan sumbangan arus
pergeserannya.
Di dalam VLF (pada frekuensi < 100 KHz), arus pergeseran akan lebih kecil dari
pada arus konduksi karena permitivitas dielektrik batuan rata-rata cukup kecil (sekitar
10 𝜀0 dengan 𝜀0 sebesar 9×10-12 F/m) dan konduktivitas target VLF biasanya ≥ 10-2 S/m.
Hal ini menunjukkan bahwa efek medan akibat arus konduksi memegang peranan penting
ketika terjadi perubahan konduktivitas medium (Sharma, 1997).
c. Fase dan Polarisasi Elips
Pada saat gelombang primer masuk ke dalam medium, gaya gerak listrik (ggl)
induksi akan muncul dengan frekuensi yang sama, tetapi fasenya tertinggal 90°. Gambar
berikut menunjukkan diagram vektor antara medan primer P dan ggl induksinya.

Gambar 10.2. Hubungan Amplitudo dan Fase Gelombang Sekunder (S) dan Primer (P)

296
Andaikan 𝑍 (= 𝑅 + 𝑖𝜔𝐿) adalah impedansi efektif sebuah konduktor dengan tahanan
𝑅 dan induktans 𝐿, maka arus induksi (eddy), 𝐼𝑠 (= 𝑒𝑠/𝑍) akan menjalar dalam medium dan
menghasilkan medan sekunder S. Medan S tersebut memiliki fase tertinggalsebesar ∅ yang
besarnya tergantung dari sifat kelistrikan medium. Besarnya ∅ ditentukan dari persamaan
tan ∅ = 𝜔𝐿/𝑅.Total beda fase antara medan P dan S akan menjadi 90°+ 𝑡𝑎𝑛−1(𝜔𝐿/𝑅).
Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa, jika terdapat medium yang sangat
konduktif (R→0), maka beda fasenya mendekati 180°, dan jika medium sangat resistif (R→
∞) maka beda fasenya mendekati 90°. Persamaan di bawah ini menunjukkan bahwasemakin
besar perbandingan Re/Im (semakin besar pula sudut fasenya), maka konduktor semakin
baik, dan semakinkecil maka konduktor semakin buruk.

d. Prinsip Pengukuran Metode VLF


Terdapat dua jenis pengukuran Metode VLF, yaitu Mode Tilt-angle dan Mode
Resistivity. Mode Tilt-angle mengukur polarisasi komponen medan magnet, sedangkan
Mode Resistivity mengukur polarisasi komponen medan magnet dan medan listrik.

1. Mode Tilt-Angle
Mode tilt-angle digunakan untuk mengetahui struktur konduktif dan kontak
geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. Dalam mode ini, arah strike
target memiliki sudut ±45° dengan lokasi pemancar. Pada konfigurasi pengukuran
semacam ini, medan primer akan memberikan fluks yang maksimum jika memotong
struktur, sehingga memberikan kemungkinan anomali yang paling besar. Dalam
pengukuran, instrumen T-VLF akan menghitung parameter sudut tilt (yaitu sudut
utama polarisasi ellips dari horizontal (dalam derajat atau persen)) dan eliptisitas (ε)
(yaitu perbandingan antara sumbu kecil terhadap sumbu besarnya (dalampersen)) dari
pengukuran komponen in phase dan out of phase medan magnet vertikal terhadap
komponen horizontalnya. Besar sudut tilt (%) akan sama dengan perbandingan
Hz/Hx dari komponenin-phase-nya, sedang besar eliptisitas ε (%) sama dengan
perbandingan komponen kuadraturnya. Dari peristiwa ini dihasikan 2 parameter,
yaitu sudut tilt dan elliptisitas.

Gambar 10.3. Skema Ellips

297
2. Mode Resistivty

Mode Resistivity digunakan untuk mengetahui dike resistif dan di sisi


lainuntuk membatasi satuan geologi melalui pemetaan tahanan jenisnya. Mode ini
sangat baik jika arah pemancar tegak lurus strike geologinya (±45°). Alat akan
langsung mengukur besarnya tahanan jenis medium dan besarnya sudut fase
medium.
Letak anomali secara kasar berada di bawah puncak anomali tahanan jenis.
Sedangkan harga fase > 45° menunjukkan tahanan jenis semakin kecil, dan fase < 45°
menunjukkan tahanan jenis semakin dalam semakin besar. Untuk dapat
memperkirakan harga resistivitas dan fasanya, maka harus diketahui hubungan dari
medan listrik Ex dan medan magnetik Hy dan resistivitas semu ρa. Hubungan ini biasa
dituliskan dalam bentuk dibawah ini (Cardiard, 1953 dalam Gharibi, 1999).

ρa = resistivitas semu
μ = permeabilitas magneti
ω = frekuensi sudut (fasa)

e. Parameter Elektromagnetik VLF


o Pemancar
Pemancar ini mulai dibangun sejak Perang Dunia I, digunakan untuk
komunikasi jarak jauh karena kemampuannya untuk komunikasi gelombang
dengan pelemahan yang sangat kecil pada gelombang bumiionosfer.
Penetrasinya cukup efektif hinggadapat menembus laut dalam.
o Pengaruh Atmosfer
Sumber noise yang utama adalah radiasi medan elektromagnetikakibat
kilat atmosfer baik di tempat dekat atau jauh dari lokasi pengukuran. Pada
frekuensi VLF, radiasi medan ini cukup dapat melemahkan sinyal yang
dipancarkan oleh pemancar.

298
o Rambatan Gelombang Elektromagnetik
Pada elektromagnetik VLF dengan frekuensi < 100 KHz, arus pergeseran
akanlebih kecil dari arus konduksi karena permitivitas dieletrik batuan rata-rata
cukup kecil dan konduktivitas target biasanya >10-2 S/m. Hal ini menunjukkan
efek medan akibat arus konduksi memegang peranan penting Ketika terjadi
perubahan konduktivitas batuan.
o Pelemahan (Atenuasi) Medan
Pelemahan medan ini mempengaruhi kedalaman. Kedalaman pada saat
amplitudo menjadi 1/e (kira-kira 37%) dikenal sebagai skin depth atau
kedalaman kulit. Kedalaman ini dalam metode elektromagnetik disebut sebagai
kedalaman penetrasi gelombang, yaitu
Keterangan:

ρ = resistivitas (Ohm.m)
f = frekuensi (Hz)
o Rapat Arus Ekuivalen
Rapat arus ekuivalen terdiri dari arus yang menginduksi konduktordan arus
yang terkonsentrasi dalam konduktor dari daerah sekelilingnya yang kurang
konduktif. Asumsi untuk menentukan rapat arus yang menghasilkan medan
magnetik yang identik dengan medan magnetik yang diukur. Secara teori,
kedalaman semu rapat arus ekuivalen memberikan gambaran indikasi tiap-tiap
kedalaman variasi konsentrasi arus.
o Penggunaan dan Penerapan Metode VLF
Dalam metode Very Low Frequency (VLF), medan primer yang dipancarkan
dengan frekuensi sangat rendah (15-30 kHz) ketika mengenai benda konduktif
akanmembangkitkan medan sekunder, resultan dari medan primer dan medan
sekunder iniyang diterima oleh alat VLF, dan besarnya resultan ini tergantung
dari medan sekunder.
Identifikasi adanya pencemaran dilokasi TPA ditandai tingginya harga
Daya Hantar Listrik (DHL) dan Padatan Terlarut Total (TDS), dan rendahnya
harga resistivitas semu. Very Low Frequency sangat baik untuk penyelidikan
kualitas air pada mediumberpori (Benson et al., 1997). Benson et al. (1997) yang
menunjukan bahwa air yang tercemar hidrokarbon akan memiliki nilai resistivitas
tinggi, tetapi akan memiliki resistivitas yang rendah untuk air yang tercemar
material inorganik.
f. Alterasi dan Mineralisasi
Larutan hidrotermal adalah cairan bertemperatur tinggi dengan rentang suhu
sekitar 100°–500°C. Larutan hidrotermal merupakan larutan sisa magma yang
299
mampu merubah dan membentuk mineral -mineral tertentu. Secara umumcairan sisa
kristalisasimagma tersebut bersifat silika yang kaya alumina, alkali dan alkali tanah,
terdapat air dan unsur-unsur volatil (Bateman, 1981). Larutan hidrotermal terbentuk
pada fase akhir dari siklus pembekuan magma dan umumnya terakumulasi pada
litologi dengan permeabilitas tinggi atau pada zonalemah. Interaksi antara fluida
hidrotermal dengan batuan yang dilaluinya (wall rock) akan menyebabkan
terubahnya mineral primer menjadi sekunder (alteration minerals). Menurut Lowell
dan Guilbert (1970; dalam Garwin, 2002), klasifikasi alterasi hidrotermal pada
endapan tembaga porfiri ada empat tipe yaitu:
o Zona Potasik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti K –feldspar,
biotit, sedikit serisit dan anhidrit.
o Zona Filik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti kuarsa,serisit,
klorit dan pirit.
o Zona Argilik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti kalsit, pirit,
dan mineral lempung berupa illit, smektit, kaolin montmorrilonit.
o Zona Propilitik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti klorit-
kalsit-epidot, lempung, pirit.
Mineralisasi adalah proses pergantian unsur-unsur tertentu dari mineral yang
adapada batuan dinding digantikan oleh unsur lain yang berasal dari larutan sehingga
menjadi lebih stabil. Proses ini berlangsung dengan carapertukaran ion.

III. Akuisisi Data Lapangan


A. Instrumentasi
Instrumentasi yang digunakan pada kegiatan ini adalah T–VLF BRGM yang
diproduksi oleh IRIS Instrument, dengan rincian sebagai berikut.
1. Unit Sensor

Gambar 10.4. Unit Sensor

300
Unit sensor adalah penerima gelombang radio dengan jangkauan frekuensi
10 hingga 30 kHz yang dilengkapi dengan automatic gain dan digital filtering.
Pengukuran dilakukan secara otomatis dan dikontrol oleh microprocessor. Pada
unitsensor terdapat tiga sensor magnetik X, Y dan Z yang saling tegak lurus satu
sama lain. Terdapat dua inklinometer pada sensor X dan sensor Y untuk mengoreksi
posisi miring dan memungkinkan sensor untuk memperoleh data yang
direferensikan padabidang horizontal nyata dan bidang vertikal nyata. Unit sensor
ini mampu mengukurduafrekuensi secara bersamaan. Unit sensor ini mendukung
dua mode pengukuran:
a. Mode Tilt angle — tiga sensor magnetik dengan dua inclinometer (+ / -45°)

b. Mode Resistivity — satu sensor magnetik dengan satu kanal elektrik.

2. Console/T-Unit

Gambar 10.5. Console


Console atau T-Unit merupakan bagian dari set alat T–VLF BGRM yang
digunakan untuk pengoperasian unit sensor. Console dilengkapi dengan fitur18 tombol
perintah dan data pendahuluan (line dan station numbers), serta display grafik yang
lebar (240 x 64 titik) untuk menampilkan menu, angka, dan hasil grafik. Console ini
memiliki kapasitas penyimpanan data yang dapatmenyimpan 4000 pembacaan data
untuk pemakaian satu frekuensi, serta 2000 pembacaan data untuk pemakaian dua
frekuensi.

Gambar 10.6. Tombol pada Console


301
Tabel 10.1. Kegunaan pada Tombol Console
Tombol Kegunaan
ON/OFF Menghidupkan dan mematikan T-Unit
SETUP Konfigurasi lintasan
STORE Menyimpan pengukuran ke dalam T-Unit
START Memulai/mengurangi nilai input
Menghapus input, kebali ke menu sebeum atau mereset hasil
+/-
stacking
Menghapus input, kembali ke menu sebelum atau mereset hasil
Backspace stacking

NEXT Melanjutkan ke titik pengukuran selanjutnya


Tombo inpu angka, beberapa angka mempunyai fungsi lain
0-9 seperti F1, F2, TILT, SCREEN

ENTER Tombol untuk konfigurasi perintah

3. Connector
Connector digunakan untuk menghubungkan Sensor Unit dengan console.

Gambar 10.7. Konektor


4. Elektroda
Elektroda yang digunakan berjumlah 2 buah. Elektroda ini hanya
digunakan saat menggunakan mode Resistivity. Dengan menginjeksi elektroda di
titik pengukuranakan didapat nilai rho apparent sehingga hasil akhir pengukurannya
berupa kuantitatif(nilai resistivity).

302
Gambar 10.8. Elektroda
5. Pengisi Daya
a) Baterai
Pengisi daya berupa baterai yang dipasang di bagian bawah Unit Sensor
menggunakan 6 buah baterai D dengan kapasitas 1,5 Volt. Pengukuran
menggunakan baterai terbilang cukup boros karena dalam 1 hari pengukuran
seringkali membutuhkan 2 set baterai atau 12 buah baterai.

Gambar 10.9. Baterai D


b) Aki
Pengisi daya dapat dimodifikasi menggunakan aki motor. Hal ini bertujuan
untuk menghemat biaya karena aki dapat digunakan dalam sehari pengukuran
tanpa harusganti (aki dalam keadaan full). Selain itu aki juga dapat diisi ulang
dayanya setiap habis daya. Kekurangannya adalah menambah beban operator
karena harus menggendong aki tersebut.

Gambar 10.10. Aki Motor


303
6. Klinometer
Sebuah alat untuk mengukur kemiringan lereng, biasanya sudut antara
tanah atau pengamat dan sebuah obyek yang tinggi. Dimana terdapat dua satuan
dalam derajat dan persen. Dalam metode VLF yang digunakan adalah satuan derajat
untuk menambah jarak saat akuisisi dengan perbedaan ketinggian tertentu.

Gambar 10.11. Klinometer


7. Kompas Geologi

Gambar 10.12. Kompas Geologi

B. Cara Kerja Instrumen


• Prinsip Pengukuran
T-VLF adalah penerima gelombang radio yang dilengkapi automatic gain dan
digital filtering. Pengukuran didasarkan pada komputasi Transformasi Fourier, auto
spectra dan cross spectra. Koherensi diantara komponen- komponen yang ada diukur
dan pengukuran difokuskan pada koefisien dibandingkan koherensi. Stacking data
yang selektif memungkinkan optimasi durasi pengukuran dengan kualitas data
maksimal: ketika noise ditangkap selamapengukuran lemah, koherensi kuat; ketika
noise yang ditangkap kuat, koherensi lemah, koefisien kualitas data mendekati dan
bobot yang diberikan lemah.

• Parameter Pengukuran
Pengukuran menggunakan alat T-VLF memungkinkan untuk mengkarakterisasi
medan magnet dengan tiga komponennya, amplitudo, dan fase.
▪ Langkah pertama, medan magnet ditinjau pada bid
▪ ang horisontal. Polarisasi ellips pada bidang horisontal dikarakterisasi dengan
setengah sumbu mayornya (nilai medan magnet horisontal, dalam μA/m) dan
sudut yang dibentuk antara sumbu mayor dengan sensor X (faktanya, tangen sudut
ini, diberikan dalam %), arah tegak lurus sumbu dengan transmitter ketika tidak
ada anomali yang kuat sert elliptisitasnya (dalam %).
▪ Langkah kedua medan magnet ditinjau pada bidang vertikal yangmelewati sumbu
304
mayor pada polarisasi ellips horisontal sebelumnya. Polarisasi ellips vertikal
dikarakterisasi dengan tilt pada sumbu mayor dengan bidang horisontal (faktanya,
tangen dari sudut, dalam %) dan elliptisitasnya (dalam %).
▪ Untuk menentukan karakteristik ellips dari pengukuran komponenmedan
magnetik, digunakan persamaan dibawah ini:
dengan :

𝑘 = ratio dari kedua komponen (Hz/Hx)

𝛼 = sudut tilt dari sumbu mayor dengan Hx

𝜑 = beda fase dari kedua komponen

𝜀 = elliptisitas (sumbu minor/sumbu mayor)

▪ Ketika komponen vertikal lemah dibandingkan dengan komponenhorizontal,


persamaan umum diatas dapat digantikan denganpersamaan berikut:
tan 𝛼 = 𝑘 cos 𝜑

(komponen inphase dari komponen vertikal terhadap komponen horizontal)

𝑠 = 𝑘 sin 𝜑

(komponen out of phase dari komponen vertikal terhadap komponen horizontal)


▪ Apparent resistivity yang diukur pada mode resistivity dihitung sepertihalnya
pada metode magnetotellurik dengan formula:

𝜌𝑎 = apparent resistivity

𝜔 = 2𝜋𝑓, f adalah frekuensi

𝜇 = permeabilitas ruang hampa (4𝜋. 107)

𝐸 = elliptisitas (sumbu minor/sumbu mayor)

𝐻 = elliptisitas (sumbu minor/sumbu mayor)

C. Desain Survei

a) Target Survei

Dalam penentuan desain survei hal yang pertama harus dilakukan adalah
menentukan target survei. Adapun untuk metode VLF terdapat beberapa target survei
305
yaitu berupa penyelidikan prospek mineral konduktif (McNeill dan Labson, 1987;
Paal, 1965), memetakan patahan dan pemetaan kontaminasi air tanahdikombinasikan
dengan metoda resistivitas (Benson dkk., 1997), studi kebencanaan dan lingkungan
(Jeng dkk., 2004), pemetaan sistem rekahan di bawah permukaan untuk studi zona
mineralisasi emas (Tijani dkk., 2009), studi pasca pondasi (Ofomola dkk., 2009),
sedangkan interpretasi VLF-EM dengan memanfaatkan struktur anomali 3D dengan
menggunakan teknik filter linierdiperkenalkan oleh (Djeddi dkk., 1998). Bosch &
Müller (2001) mensintesakan penggunaan metoda VLF-EM untuk berbagai
keperluan, diantaranya: memetakan pencemaran, eksplorasi air bawah tanah yang
dikombinasikan dengan metode VES (Nandakumar dkk., 1983), delineasi zona
sedimentasi (Oskooi, dan Pedersen,1995), dan lain sebagainya.
b) Spasi antar Titik dan Lintasan Pengukuran

Lintasan pengukuran harus diorientasikan tegak lurus terhadap dugaan arah


strike dari target. Pada penelitian oleh Baker dan Mayers jarak spasi antar titik di
antara 10-50 meter, kemudian studi model yang dilakukan pada tahun 1980
menunjukkan spasi yang optimum adalah 20 meter namun spasi tersebut dapat
dikurangi menjadi hingga 10 m untuk keperluan test-profile atau menyesuaikan lebar
dari target. Jarak spasi antar titik harus dijaga agar mempunyai spasi yang tetap.
c) Mode Pengukuran

• EM (Tilt Angle)

Mode tilt angle digunakan untuk mengetahui struktur konduktif dan


kontak geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. Dalam modeini,
arah strike target memiliki sudut ±45° dengan lokasi pemancar. Pada konfigurasi
pengukuran semacam ini, medan primer akan memberikan fluks yang
maksimum jika memotong struktur, sehingga memberikan kemungkinananomali
yang paling besar.

Gambar 10.13. Desain Survei untuk Mode Resistivity

• R (Resistivity)

Mode ini digunakan untuk mengetahui dike resistif dan di sisi lain untuk
membatasi satuan geologi melalui pemetaan tahanan jenisnya. Mode ini sangat
baik jika arah pemancar tegak lurus strike geologinya (±45°) seperti terlihat pada
gambar di atas. Alat akan langsung mengukurbesarnya tahanan jenis medium
dan besarnya sudut fase medium. Letakanomali secara kasar berada di bawah
puncak anomali tahanan jenis. Sedangkan harga fase > 45° menunjukkan tahanan

306
jenis semakin dalam semakin kecil, dan fase < 45° menunjukkan tahanan jenis
semakin dalammakin besar.

Gambar 10.14. Desain Survei untuk Mode Resistivity

d) Transmitter
Transmitter yang memancarkan gelombang elektromagnetik dengan
frekuensi sangat rendah merupakan sumber dari pengukuran menggunakan metode
VLF ini. Karena Indonesia tidak memiliki transmitter sendiri maka dalam akuisisi
VLF memanfaatkan transmitter milik negara-negara lain yang tersebar di seluruh
dunia. Pemilihan transmitter saat akuisisi ditentukan dengan mempertimbangkan
beberapa hal berikut:

1) Sesuaikan dengan mode pengukuran

2) Pilih transmitter terdekat

3) Pilih transmitter dengan power besar

Gambar 10.15. Transmitter VLF ditandai dengan Titik Biru (Marshall, 2009)Tabel
2. Daftar Transmitter Dunia

307
Tabel 10.2. Daftar Transmitter Dunia

Stasiun Lokasi Frekuensi (Hz) Power (kW)


VTX1 South Vijayanarayana,
16300
India
JXN Novik, Norway 16400 ~150
VTX2 South Vijayanarayana, India 17000
SAQ 17200 ~200
VTX3 South Vijayanarayana, India 18200
VTX4 South Vijayanarayana, India 19200
GBZ Anthorn, UK 19580
NWC Harold E. Holt, Northwest
Cape, Exmouth, Australia 19800 1000

ICV Isola di Tavola, Italy 20270 50


FTA Sainte-Assise, France 16800 ~50
HWU Rosnay, France 18300 200/400
NPM Perl Harbour, Laulauhei, HI 20900 600
GQD Skelton, UK 22100 100/500
NDT Ebino, Japan 22200
DHO38 Rhauderfehn, Germany 23400 300/500
NAA Cutler, ME 24000 1000
NLK Oso Wash, Jim Creek, WA 24800 250
Unid25 Makpo, South Korea 25000 250
NML La Moure, ND 25200 200

D. Prosedur Akuisisi Lapangan


1. Tim Survei
Tim survei metode VLF idealnya terdiri atas minimal 5 orang dengan
pembagian tugas 3 orang di depan dan 2 orang di belakang
1) Membuka jalan
308
2) Membuat lintasan

3) Kompensasi topografi

4) Operator alat
5) Notulen

2. Pengoperasian Instrumen
Sebelum memulai pengukuran menggunakan instrumen, posisi operator
dalam membawa sensor diusahakan tegak dan tenang saat pengukuran. Operator
menghadap arah lintasan dalam setiap titiknya agar nilai pengukuran yang
didapatkan optimum.
1. Sebelum melakukan pengukuran, alat T-unit dan unit sensor telah
dihubungkanserta diberi sumber tegangan. Tombol [ON/OFF] pada T- unit
ditekan untuk menyalakan alat ukur.

2. Tampilan setelah menekan [SET UP], apabila memulai pengukuran


baru,tekan [1], apabila melanjutkan pengukuran sebelumnya, tekan [2],
kemudian tekan [ENTER]

3. Tampilan setelah memilih nomor [1]. Masukkan parameter stasiun,


jarakspasi antar titik, dan panjang lintasan. Tekan [ENTER] untuk
mengkonfirmasi parameter lintasan.

4. Pilih mode pengukuran tilt dengan menekan tombol [1] lalu [ENTER]
5. Kemudian akan tampil pilihan frekuensi, T-VLF menyediakan tiga pilihan
yakni menggunakan frekuensi yang terdapat pada daftar di unit T-VLF,
memasukkan paramater frekuensi sendiri atau menggunakan frekuensi yang
terakhir digunakan. Tekan tombol sesuai pilihan frekuensi yang akan

309
digunakan.

6. Apabila menu Other Frequencies dipilih maka akan muncul tampilan untuk
memasukkan frekuensi. Masukkan besaran frekuensi dari pemancar yang
akandigunakan. Tekan [START] untuk memulai pengukuran.

7. Tampilan saat melakukan pengukuran. Pojok kiri atas F1/F2 menunjukkan


frekuensi mana yang sedang ditampilkan. STATION menunjukkan stasiun
yang sedang diukur dan LINE menunjukkan nomorlintasan yang sedar
[Link] dengan garis menunjukkan arah datang nya gelombang
pemancar. Kotak kecil diatas layer menunjukkan kapasitas sumber tegangan
yang digunakan.

8. Untuk menghentikan stacking data (pengambilan data) tekan [START]


kembali, maka tampilan huruf ACQ pada layar akan digantikan dengan
END yang menandakan pengukuran dihentikan.

9. Dengan menekan tombol [TILT] pada T-unit maka tampilan berubah


menjadi seperti gambar dibawah.

310
10. Untuk mendapatkan hasil pengukuran dari F2 makan tekan tombol [F2]
pada T-unit.

11. Tekan tombol [Tilt] sekali lagi untuk melihat nilai kuat medan dari F2
12. Apabila tidak yakin terhadap data yang terukur pada titik tersebut,
pengukurandapat diulang kembali dengan menekan tombol [START] pada
T-unit. Besaran yang didapat dari stacking pengukuran ulang akan dirata
ratakan dengan stacking pengukuran sebelumnya. Untuk meresetstacking
pengukuran, tekan tombol [backspace] dan tekan tombol [START] kembali.
E. Kompensasi Topografi

Spasi antar titik yang digunakan dalam akuisisi metode VLF adalah
jarakdatar peta. Sehingga jika daerah akuisisi memiliki medan yang berundulasi
maka perlu dilakukan kompensasi topografi. Pada saat akuisisi di lapangan
dibutuhkan meteran untuk mengukur jarak spasi dan jarak kompensasi,
sertadiperlukan tabel kompensasi topografi untuk semua sudut. Sudut tersebut
didapatkan dari pengukuran menggunakan klinometer.

.
Gambar 10.16. Ilustrasi Kompensasi Topografi

311
Gambar 10.17. Tabel Kompensasi Topografi

F. Quality Control Data


Kontrol terhadap kualitas data sangat diperlukan karena agar
diketahuiapakah data yang diperoleh baik atau tidak. Beberapa parameter QC
datayaitu:
• Jarum kompas, menunjukkan arah datangnya sinyal/arah transmiter. Data yang
diambil harus menampilkan arah jarum yang menunjuk kearah transmitter
yang digunakan.
• Nilai Q (%) pada Q bar. Nilai Q menunjukkan kekuatan sinyal atau kualitas
data (S/N Ratio). Data yang diambil minimal memiliki Q bar60%.
• Noise (SH/SE/SHE), menunjukkan bahwa sinyal tersaturasi oleh
medanmagnet selain dari transmiter. Data yang diambil harus bebas dari
indikator noise (SH/SE/SHE).

G. Noise
Noise atau gangguan yang dapat mempengaruhi kualitas data saatakuisisi
metode VLF adalah sebagai berikut:

• Sumber listrik atau power line


• Awan mendung dan petir
• Mengukur di antara tebing
• Handphone

312
IV. Pengolahan Data
Pengolahan metode VLF didasarkan pada nilai tilt dan ellips hasil dari data akuisisi
dilapangan. Parameter lain yang menjadi quality control terhadap data tilt dan ellips yaitu:
medan horizontal dan medan vertikal (H Hor dan H Ver), arah datangnya medan
elektromagnetik, keadaan selama pengukuran di lapangan, dan quality bar padaunit T
console. Pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan peta rapat arus ekuivalen (peta
RAE). Pengolahan data VLF dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan
Microsoft Excel dan Surfer maupun secara langsung dengan menggunakan software khusus
pengolahan seperti WinVLF. Pengolahan data VLF dengan menggunakan software
WinVLF sama seperti pengolahan data yang dilakukansecara manual dengan menggunakan
Microsoft Excel dan Surfer dimanasoftware tersebut membutuhkan data input berupa data
tilt selama pengukuran sehingga akan diperoleh output berupa peta rapat arus ekuivalen
(peta RAE).
Pada pengolahan data VLF diperlukan koreksi topografi terlebih dahulu sebelum
melakukan filter Moving Average. Adapun filter Moving Average bertujuan untuk
menghilangkan noise-noise yang ada. Kemudian dilakukan Fraser filter yang bertujuan
untukmenentukan posisi dari target anomali dan juga dilakukan filter Karous Hjelt. Adapun
diagramalir untuk tahapan pengolahan data VLF adalah sebagai berikut:

Gambar 10.18. Diagram Alir Pengolahan Metode VLF-EM


313
A. Pengolahan Data VLF-EM pada Software Microsoft Excel
1. Input data VLF-EM
2. Melakukan koreksi topografi
Topografi yang tidak rata dapat mempengaruhi data VLF, oleh karena
itudiperlukankoreksi topografi menggunakan cara Baker dan Myers (1980).

Gambar 10.19. Koreksi Topografi (Baker & Myer, 1978)

a. Perhitungan dR

b. Perhitungan Jarak Topografi


Jarak topografi dihitung dari rata-rata jarak tersebut dengan jarak setelahnya.

314
c. Perhitungan Tilt Topografi

d. Perhitungan Ellips Topografi

3. Melakukan Filter Moving Average


Pengukuran menggunakan metode VLF-EM memanfaatkan gelombang
dengan frekuensi rendah sebagai medan primer sehingga data yang diterima
haruslah berada pada frekuensi rendah. Apabila pada data lapangan terdapat noise
eksternal yangmempengaruhi pengukuran sehingga membuat data yangmasuk tidak
mutlak memiliki frekuensi rendah maka perlu dilakukan filterMoving Average.
Filter Moving Average bertujuan untuk menghilangkan noise yang memiliki
frekuensi tinggi dengan cara memisahkan data berfrekuensi tinggi dan data

315
berfrekuensi rendah. Data yang berfrekuensi rendah diasumsikan sebagai sinyal,
sedangkan data berfrekuensi tinggi diasumsikan sebagai gangguan (noise) sekaligus
anomali lokal.
Pemilihan orde pada moving average dipilih sesuai kebutuhan dan
kecocokan data, pada umumnya data yang tersaturasi banyak noise spike maka
menggunakan orde yang lebih besar. Efek dari filter Moving Average adalah
memperhalus data serta menghilangkan anomali yang merupakanberasal dari noise
eksternal atau bersifat lokal.

Adapun cara kerja filter movingaverage yaitu merata-ratakan nilai pada beberapa
titikuntuk menghasilkan nilaipada satu titik. Rumus filter moving average sebagai
berikut:

𝑦[𝑖] = sinyal output hasil moving average


𝑀 = orde yang digunakan
𝑥[𝑖 + 𝑗] = sinyal input

a. Perhitungan Jarak MA Tilt

b. Perhitungan Tilt MA

316
c. Perhitungan Elips MA

d. Perhitungan Elevasi MA

4. Melakukan Filter Fraser


Filter fraser digunakan untuk memperjelas letak anomali dengan
menunjukkan benda konduktif dari anomali dengan cara menginterpretasikan titik-
titikdimana nilai tilt mengalami persilangan dengan ellips sehingga titik potong dari
anomali menjadi lebih optimal atau mencapai puncaknya dan membuat proses
analisismenjadi lebih mudah.
Filter fraser mampu mengubah cross-over antara data tilt dan ellips yang
menandakan posisi dari anomali. Interpretasi menggunakan data sebelumdilakukan
proses filter fraser akan sulit ketika menentukan titik perubahan yangtidak terfokus
padasatu titik yang berada diantara puncakan dan lembahan. Hasil dari filter fraser
ini akan membuat anomali terlihat dengan lebih jelas. Adapun rumus dari filter
Fraser yaitu:

(Fraser, 1969)

Keterangan:
𝑀(𝑖) = data ke i
317
a. Perhitungan Jarak Fraser

b. Perhiungan Tilt Fraser

5. Melakukan Filter Karous Hjelt


Filter Karous Hjelt digunakan untuk menggambarkan nilai distribusi
rapat arus pada berbagai kedalaman atau disebut dengan nilai rapat arus ekuivalen
(RAE) yang merupakan aliran muatan untuk luasan tertentu pada satu titik medium.
Sehinggafilter Karous Hjelt juga berguna untuk melakukan interpretasi kualitatif
VLF-EM. Penerapan hasil filter ini berupa distribusi kerapatan arus yang dapat
memberi informasi mengenai daerah konduktif.
Filter Karous Hjelt menggunakan apparent depth dan rapat arus Ho yang
berasal dari turunan magnitudo komponen vertikal dan medan magnetik pada lokasi
tertentu. Kedalaman ditentukan dari jarak spasi yang digunakan dalam perhitungan.
Adapun rumus filter Karous Hjelt sebagai berikut:

Untuk Dz = 1x spacing

318
Untuk Dz = 2x spacing

c. Perhitungan Jarak RAE

d. Perhitungan RAE

319
6. Melakukan Normalisasi Data
Setelah filter Karous Hjelt selesai, tahap selanjutnya yaitu menyalin data hasil
filter tersebut dan melakukan normalisasi data. Normalisasi data digunakan
untuk korelasi antar lintasan. Adapun rumus normalisasi sebagai berikut:

Keterangan :
a = nilai RAE tertinggi data
b = nilai RAE terendah data

7. Perhitungan Elevasi, dengan perintah

320
B. Pengolahan Data VLF-EM pada Surfer
Pengolahan menggunakan software surfer ini bertujuan untuk menampilkan
penampang dari rapat arus ekuivalen (RAE) pada lintasan sehingga akan
mempermudah dalam melakukan interpretasi.
1. Di Excel, nilai x, y, RAE, RAE Normalisasi, Elevasi, dan Plot Elev diurutkan dalam
table.
2. Surfer dibuka dan dibuat worksheet baru, kemudian salin tabel pada langkah 1 ke
dalamworksheet di surfer, lalu simpan worksheet dalam bentuk dat

3. Selanjutnya buat plot baru, klik menu Grids > Grid Data. Pada window Grid Data-
Select Data pilih Krigging lalu pilih file dat yang sebelumnya tersimpan. Lalu klik
skipto end. Pada window ini centang Assign No DataOutside Convex hull of Data.
Klik Finish

321
4. Kemudian akan muncul plot baru. Klik pada penampang RAE, pada window
propertiesklik levels lalu centang color scale, fill contours dan pilih rainbow
pada fill colors

5. Simpan hasil plot


6. Selanjutnya dilakukan plot RAE normalisasi. Di Excel dibuat tabel yang berisi
jarak, kedalaman, dan nilai RAE normalisasi

322
7. Selanjutnya normalisasi di plot dengan langkah yang sama seperti plot RAE.
Namun yang membedakan adalah klik pada penampang RAE, pada window
properties pilih levels, atur minimum contour menjadi -1 danmaximum contour
menjadi 1. Simpan hasilplot.

8. Buat worksheet baru dengan kolom pertama adalah x dan kolom kedua adalah nilai
plotelev. Untuk kolom pertama bagian atas diisi dengan jumlah data, lalu untuk klom
keduabagian atas ditulis angka 1.

323
9. Kemudian dilakukan plot untuk RAE normalisasi dengan undulasi. Dimana
dilakukandengan klik hasil RAE normalisasi kemudian digitasi untuk bagian ujung
kanan dan kiri bawah. Didapat nilai digitasi lalu inputkan pada langkah 8.

324
10. Kemudian save dalam bentuk file .bin.

11. Tampilkan hasil anomali dengan undulasi dengan cara klik grid, lalu inputkan data
seperti gambar di bawah ini. Klik skip to end dan inputkan file bin yang sudah dibuat
tadi. Kemudian, atur spacing untuk x dan y direction menjadi 0.5, serta ceklis assign
nodata outside lalu klik nodata outside dan finish.

325
12. Berikut hasil plot undulasi pada lintasan.

13. Selanjutnya lakukan fence untuk setiap lintasan dan hubungkan kemenerusannya
sesuai anomali yang terbentuk.

326
Gambar 10.20. Fence setiap lintasan (Sumber: Data VLF GE 2022)
V. Interpretasi Data
1. Interpretasi Perkiraan Langsung
Pada metode VLF terdapat cara quick look untuk memperkirakan baik/buruknya
benda konduktif dengan melihat pola grafik tilt and ellips.
1. Konduktor buruk, lapisan penutup resistif : pola tilt dan ellips sama,bertanda sama.
2. Konduktor baik, lapisan penutup resistif : ada anomali klasik tilt, namunellips rendah.

3. Konduktor buruk, lapisan penutup konduktif : ada anomali klasik tilt,


namunellipsrendah.

327
4. Konduktor baik, lapisan penutup konduktif : ada nilai antara tilt dan ellips,kedua
nilaicukup tinggi.

Gambar 10.21. Korelasi Data yang telah dilakukan Filter dengan Anomali
yangdidapat (Sumber: Data VLF GE 2022)

2. Interpretasi dengan Grafik Fraser Derivatif


Filter fraser bertujuan memudahkan interpretasi karena filter fraser
mengubahpola anomali cross over pada data tilt menjadi puncakan. Dalam
menginterpretasi

328
menggunakan grafik fraser, posisi anomali berada tepat dibawah puncakan grafik.
Dimensi dari anomali dapat diperkirakan darilebar puncakan.

Gambar 10.22. Contoh grafik data lapangan (tilt), data lapangan yang telah
dilakukan filtermoving average (smoothing tilt), data yang telah dilakukan filter
Fraser, dan hubungan data sebelum dan sesudah dilakukannya filter pasif

3. Interpretasi dengan Rapat Arus Ekuivalen


Data yang terfilter menggunakan filter Karous Hjelt dapat dianggap mewakili arus
sekunder yang timbul di batuan. Harap diperhatikan untuk tanda pada RAE merupakan
perjanjian, artinya boleh dibalik. Pada umumnya area dengan nilai RAE positif (+)
diasosiasikan dengan zona konduktif sedangkan area dengan nilai negatif(-) diasosiasikan
dengan zona yang lebih resistif.

Gambar 10.23. Contoh grafik data lapangan (tilt), data yang telah dilakukan filter fraser
(fraser), dan data yang telah dilakukan filter Karous-Hjelt.
329
Gambar 10.24. Contouring hasil filter Karous Hjelt. Area konduktif diwakili oleh warna
merahdan area resistif diwakili oleh warna biru.

330
REFERENSI
Authors, (2019). Guide Book of Field Camp 2019, Yogyakarta: Prodi Geofisika,
Departemen Fisika, Universitas Gadjah Mada

Available at: [Link] [Accessed 10

Blakely, R. J. (1995) Potential Theory in Gravity and Magnetic Applications. Cambridge:


Cambridge University Press. doi: 10.1017/CBO9780511549816. Available at:
[Link] in_Gravity_and_Magnetic_
Applications_Richard_J_Blakely Feb. 2022]

Geophysical Survey Systems. (2009). Antennas Manual. Unites States America.

Geophysical Survey Systems. (2014). Radan 7. Unites States America.

Geophysical Survey Systems. (2014). SIR 4000 Manual. Unites States America.

[Link] Developers (2017). Susceptibility — GPG 0.0.1 documentation. [online]


[Link]. Available at:
[Link]
[Link] [Accessed 10 Feb. 2022].

Hinze, W. J., dkk, (2013). The magnetic method. Gravity and Magnetic Exploration, 215– 234.
doi:10.1017/cbo9780511843129.009

Ivan S. Oliveira, Tito J. Bonagamba, Roberto S. Sarthour, Jair C.C. Freitas, Eduardo R.
deAzevedo. (2007). 2 - Basic Concepts on Nuclear Magnetic Resonance, NMR Quantum
Information Processing. p 33-91.

Knight, R. (2001). Ground Penetrating Radar for Environment Application. Annu. Rev. Earth Planet.
Sci, Vol. 29, pp. 229-55.

Luthfi, A.N., 2017. Pemodelan bawah permukaan maar gunung api berdasarkan analisisdata
magnetik: Studi kasus di daerah Ranu Segaran Merah, Desa Andungsari, Kecamatan
Tiris, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur (Doctoral dissertation, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

Maryadi Maryadi (2020). Metode Magnetik Ch. Basic of Geomagnetism. YouTube.


Available at: [Link] [Accessed 10 Feb.
2022].

Musset, Alan E., dan Khan, M. Aftab. Looking Into the Earth. Cambridge University Press. New
York. pp. 227-230.

Panjaitan, Melda, 2015, Penerapan Metode Magnetik dalam Menentukan Jenis Batuan dan
Mineral, Jurnal Riset Komputer (JURIKOM). Vol.2 No.6, hlm. 69-72.

331
Pratiwi, F. D. (n.d). Pengolahan Data Magnetik Menggunakan Oasis Montaj. Yogyakarta :
Universitas Gadjah Mada

Puspita, Mayang Bunga. 2021. Metode Magnetik [Powerpoint Slides]. Universitas Brawijaya

Quan, dkk. (1997). Seismic attenuation tomography using the frequency shift method. Geophysics 62,
pp. 895–905.

Reeve, W., 2010, Magnetism Tutorial, USA: Reeve Observatory Anchorage Alaska. Science
Facts. (2021). Magnetic Field Lines: Definition, Direction, & Properties. [online]

Supriyanto. (2007). Perambatan Gelombang Elektromagnetik Edisi I. Departemen Fisika, FMIPA,


Universitas Indonesia, Depok.

Tim Guidebook Field Camp. 2022. Guidebook Field Camp 2022. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada

Tim Guidebook KL Non Seismik. 2021. Buku Panduan Kuliah Lapangan Non-seismik 2021.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada

W. M. Telford, L.P Geldart, R. E Sheriff, 1990, Applied Geophysics: Magnetic Method,


Cambridge: Cambridge University Press.

Whitham, K., Loomer, E.I. and Niblett, E.R., 1960. The latitudinal distribution of magnetic
activity in Canada. Journal of Geophysical Research, 65(12), pp.3961-3974.

332

Anda mungkin juga menyukai