Metode AMT dalam Eksplorasi Geofisika
Metode AMT dalam Eksplorasi Geofisika
2
BAB I
AMT
1. PENDAHULUAN
Survey geofisika dimaksudkan untuk memperoleh distribusi parameter-parameter
fisik yang ada di bawah permukaan bumi, seperti kecepatan gelombang elastik, gravitasi,
kemagnetan, kelistrikan dan lain lain. Metode Audio Magnetotelluric (AMT) merupakan
salah satu metode eksplorasi geofisika pasif yang memanfaatkan medan elektromagnetik
(EM) alam untuk mengetahui parameter fisik yaitu konduktifitas atau resistivitas bawah
permukaan. Metode AMT mengukur induksi medan elektromagnetik (medan listrik dan
medan magnetik) alami pada bumi karena variasi geomagnet bumi dan interaksi solar wind
(Simpson dan Bahr, 2005).
Perbedaan AMT dengan MT adalah metode AMT memiliki rentang frekuensi audio
yaitu 1kHz - 5 kHz, sedangkan rentang frekuensi MT adalah 0.1 - 10 Hz. Sehingga metode
AMT akan relatif menggambarkan struktur bawah permukaan yang lebih dangkal
dibandingkan dengan MT. Keterkaitan fenomena listrik - magnet terhadap sifat kelistrikan
terutama konduktivitas medium (bumi) dapat dimanfaatkan untuk keperluan survey metode
AMT. Metode ini dapat digunakan dalam eksplorasi sumber daya alam seperti mineral,
minyak dan gas bumi, geothermal serta untuk studi permasalahan lingkungan. Hal ini
dilakukan dengan mengukur variasi medan listrik () dan medan magnet () sebagai fungsi
waktu. Informasi mengenai konduktivitas/resistivitas medium dari data AMT dapat
diperoleh dari penyelesaian persamaan Maxwell (Grandis, 2002).
2. DASAR TEORI
2.1 Hukum maxwell
Perambatan gelombang elektromagnetik dapat dijelaskan dengan Persamaan
Maxwell. Hukum Maxwell merupakan gabungan dari beberapa hukum kelistrikan dan
kemagnetan yang telah ada sebelumnya. Berikut merupakan keempat hukum maxwell:
1.1
𝛻⋅𝐵 =0
1.2
𝛻⋅𝐷 =𝜌
1.3
𝜕𝐵
𝛻×𝐸 =− 1.4
𝜕𝑡
𝜕𝐷
𝛻×𝐻 =𝐽+
𝜕𝑡
B = induksi magnetik E = medan listrik
D = perpindahan medan listrik H = medan magnet
𝜌 = rapat arus muatan listrik J = rapat arus listrik
𝜕𝐵
= perubahan induksi magnetik terhadap waktu
𝜕𝑡
𝜕𝐷
𝜕𝑡
= perubahan medan listrik terhadap waktu
3
Persamaan (1.1) adalah hukum Gauss untuk medan magnet yang menjelaskan
bahwa muatan magnetik bebas tidak ada. Persamaan (1.2) adalah hukum gauss untuk
medan listrik yang menjelaskan bahwa medan magnet timbul akibat fluks total arus listrik
yang disebabkan oleh arus konduksi dan arus perpindahan. Persamaan (1.3) merupakan
hukum faraday yang menjelaskan medan listrik dihasilkan oleh induksi magnetik yang
berubah tiap waktu. Hukum ampere dijelaskan oleh persamaan (1.4) bahwa medan
magnet dihasilkan oleh aliran arus listrik dan perubahan medan listrik terhadap waktu.
Transverse electric (TE) dimana medan listrik sejajar dengan strike, secara
matematis dapat dituliskan sebagai:
|𝐸𝑥|2 1.7
𝜌𝑥𝑦 = 0.2𝑇
|𝐻𝑦|2
𝐸 = 𝑧𝐻 1.8
𝐸 1.9
𝑧=
𝐻
4
Impedansi mempunyai satuan Ohm (Ω). Impedansi berupa bilangan kompleks
(mempunyai komponen riil dan imajiner) yang bergantung pada frekuensi sudut sinyal
elektromagnetik. Masing-masing komponen tensor impedansi Z dapat ditulis dalam
bentuk :
5
● 1 buah cangkul untuk mengubur sensor - sensor magnetik
● Kabel daya monitor
● Kabel VGA
● Monitor
● SD card untuk mengcopy data hasil pengukuran
● Toolkit
3.2 Skema akuisisi
6
3.3 Cara mengoperasikan alat
3.3.1 Saat titik pertama
Gambar 1. 2 Stratagem
7
5. Kemudian untuk masuk ke dalam folder tersebut, ketik “cd KL2022”, maka
directory akan beralih ke dalam folder “KL2022”. Buat folder “Hari.1” apabila
desain survey pengukuran hari tidak hanya 1 line.
6. Lalu, mulai program stratagem dengan mengetik “gdz_he.bat” maka program
akan berjalan dan semua data akan tersimpan di folder “KL2022”.
8. Program akan meminta beberapai input sebagai berikut.
a) “Enter Power Line Frequency (50 or 60) :”, Isikan “50”.
b) “Enter Starting file count (1 to 900) :”, Isikan “1”.
c) “Enter survey name (Max 7 Character):, masukkan nama pengukuran
misalnya “Field”.
d) Untuk dipole length merupakan panjang bentangan x dan y sebagai default
program yang dijalankan nanti, misalnya kita isikan “30 30” untuk panjang
bentangan masing-masing 30 meter.
e) Tunggu program hingga selesai set up, muncul “Set up Low frequency
mode acquisition” ketik “y” (proses akuisisi kita bermaksud
menggunakan low frequency sensor (BF-IM10) dan elektroda (BE-LF)),
Enter, maka akan muncul tampilan seperti pada gambar di bawah ini.
8
Gambar 1. 4 Tampilan menu options
11. Setelah itu tekan “Esc” untuk kembali ke menu utama. Kemudian masuk ke
menu “GAIN SETTING”. Pada menu gain setting “Automatic Gain Control”
pilih “n”.
9
Kemudian masukkan nilai koordinat lokal yang digunakan “x y z” (titik pertama
koordinat lokalnya, misal “0 0 100(elevasi GPS)” dengan “0 0” adalah
koordinat lokal (x y) dan “100” adalah elevasi GPS (z). Titik selanjutnya diubah
sesuai jarak antar titik yang digunakan). Kemudian akan kembali tampil pop
menu sebagai berikut:
10
Gambar 1. 9 Tampilan hasil pengukuran
14. Jika sudah didapatkan data, silahkan lakukan quality control apakah data layak
disimpan atau tidak. Untuk menyimpan data hasil pengukuran dengan menekan
“0” lalu tekan ENTER. 14. Kita dapat melihat data pengukuran kita sebelumnya
dengan cara memilih “Data Analisis” pada option lalu isikan titik pengukuran
kita (1, 2, 3, dst), maka akan muncul nilai Resistivity, Phase, Coherency, dan
Frequency. Untuk melihat hasil 1- D Analisis pilih menu “1-D Analysis” lalu
ketikkan titik pengukuran kita (1, 2, 3, dst)
15. Jika sudah didapatkan data, silahkan lakukan quality control apakah data layak
disimpan atau tidak. Untuk menyimpan data hasil pengukuran dengan menekan
“0” lalu tekan ENTER.
16. Kita dapat melihat data pengukuran kita sebelumnya dengan cara memilih
“Data Analisis” pada option lalu isikan titik pengukuran kita (1, 2, 3, dst), maka
akan muncul nilai Resistivity, Phase, Coherency, dan Frequency. Untuk melihat
hasil 1- D Analisis pilih menu “1-D Analysis” lalu ketikkan titik pengukuran
kita (1, 2, 3, dst).
11
5. Setelah itu tampilan pada layar akan menunjukkan direktori dengan urutan
sebagai berikut: “C:\KL2022” kemudian ketik “gdz_he.bat” lalu ENTER
untuk kembali masuk ke program stratagem, set up akan mengikuti yang
sebelumnya. Ketika proses pengukuran pada titik kedua selesai dan berlanjut
ke titik selanjutnya (ketiga) maka langkah pengoperasian stratagem sama
seperti yang telah dijelaskan.
12
● Noise daerah sekitar (jaringan listrik, pemancar radio, alat listrik)
● Noise dari peralatan pengukuran
2. Kendala
Pengukuran MT memerlukan rentang frekuensi yang rendah agar penetrasi
gelombang EM cukup dalam, sehingga diperlukan waktu perekaman yang
cukup lama. Namun, perekaman yang cukup lama memerlukan daya baterai
yang cukup besar.
4. PENGOLAHAN
1. Buka jupyterlab
2. import stratatools
13
8. Plotting data sesuai kebutuhan. Atur range secara bebas.
14
Gambar 1. 19 Tampilan hasil pengolahan dengan IP2WIN MT
Kita dapat melakukan tahap yang sama untuk tiap titik data lainnya.
14. Setelah mendapatkan forward model dari tiap titik data, kita dapat melakukan inverse
modelling dengan cara meng-klik ikon Inversion by Rho. Sehingga, didapat penampang
seperti gambar di bawah :
15
BAB II
GROUND PENETRATING RADAR (GPR)
1. PENDAHULUAN
Ground Penetrating Radar (GPR) atau juga biasa disebut dengan georadar merupakan
salah satu metode aktif geofisika yang menggunakan sumber gelombang elektromagnetik
(EM) berupa radar (radio detection and ranging) pada frekuensi 10 MHz sampai 1 GHz,
sehingga dapat melakukan pencitraan kondisi bawah permukaan dengan resolusi tinggi,
tetapi hanya terbatas pada kedalaman beberapa puluh meter saja (Knight, 2001). Pada
dasarnya, prinsip kerja GPR menggunakan sistem Electromagnetic Subsurface Profiling
(ESP) yaitu dengan cara melakukan penembakan gelombang elektromagnetik (pada interval
gelombang radar) dengan menggunakan pemancar gelombang (transmitter), kemudian
intensitas gelombang radar yang berhasil dipantulkan kembali ke permukaan akan diterima
oleh perekam (receiver) (Quan dan Haris, 1997). Meskipun menggunakan gelombang radar,
metode GPR bersifat non-destruktif. Karena hasil resolusinya yang tinggi, metode ini
banyak digunakan untuk keperluan geoteknik, geologi, maupun arkeologi.
16
Maxwell menerangkan bahwa medan magnet disebabkan oleh medan listrik yang dapat
dikuantifikasikan melalui persamaan berikut (Baker dkk, 2007).
𝛻∙𝐷 =𝑞 Dimana
𝐸 = Kuat medan listrik (V/m)
𝛻∙𝐵 =0
𝐵 = Induksi magnetik (Wb/m2 atau Tesla)
𝜕𝐵 𝐻 = Kuat medan magnet (A/m)
𝛻×𝐸 = −
𝜕𝑡 𝐽 = Rapat arus konduksi (A/m2)
𝜕𝐷 𝑞 = Rapat muatan listrik (C/m3)
𝛻×𝐻 =𝐽+
𝜕𝑡
17
Penjalaran gelombang elektromagnetik pada lapisan tanah hampir mirip dengan
penjalaran gelombang seismik. Berdasarkan Hukum Snellius, ketika suatu gelombang
menjalar pada suatu medium lalu melalui batas perlapisan, maka sebagian gelombang
akan dipantulkan, dibiaskan, dan/atau diteruskan. Keadaan ini dipengaruhi oleh sifat
fisis medium serta sudut datang gelombang. Dalam hal ini, ketika gelombang menjalar
pada suatu medium, gelombang akan mengalami perubahan energi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi berkurangnya energi gelombang saat melalui suatu medium antara
lain sebagai berikut (Sismanto, 2006).
1. Faktor Transmisi
Gelombang elektromagnetik mengalami penyerapan energi akibat
konduktivitas, permeabilitas, dan dielektrik lapisan yang dilalui oleh gelombang.
Koefisien transmisi dapat dikuantifikasikan melalui persamaan berikut.
𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑡𝑡𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 2√𝜀2
𝑇= =
𝐼𝑛𝑐𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀1 + √𝜀2
2. Faktor Pemantulan
Koefisien refleksi antara dua jenis batuan dan banyaknya perlapisan
mempengaruhi pemantulan gelombang pada batas perlapisan. Apabila sudut datang
gelombang diasumsikan tegak lurus terhadap batas perlapisan, maka koefisien
refleksi dapat kuantifikasikan melalui persamaan berikut.
𝑅𝑒𝑓𝑙𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀2 + √𝜀1
𝑅= =
𝐼𝑛𝑐𝑖𝑑𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑢𝑑𝑒 √𝜀2 − √𝜀1
3. Efek Divergensi
Gelombang elektromagnetik akan menyebar ke segala arah dan terdistribusi
ke seluruh luasan dengan berbentuk bola. Semakin bertambahnya jarak dan waktu,
maka energi gelombang akan juga semakin kecil.
2.2 Polarisasi Antena
Pada umumnya, terdapat dua jenis polarisasi yang dibahas pada survei geofisika
di dekat permukaan, yaitu polarisasi listrik dan polarisasi gelombang. Metode GPR
menggunakan prinsip polarisasi gelombang di mana terdapat tiga konsep penting yang
terkadang dapat menimbulkan kebingungan, yaitu (1) polarisasi karena konstruksi
antena, (2) polarisasi karena orientasi antena, dan (3) depolarisasi (perubahan polarisasi)
karena orientasi target (Baker dkk, 2007).
1. Polarisasi Karena Konstruksi Antena
Antena GPR dapat berupa antena monostatik (antena tunggal sebagai
transmitter dan receiver) maupun bistatik (antena transmitter dan receiver yang
terpisah). Sinyal yang dipancarkan oleh antena berpengaruh pada efek amplitude
respon material yang diamati. Pancaran sinyal dari antena yang terpolarisasi dan
tertangkap oleh receiver dipengaruhi oleh sifat hamburan material di bawah
permukaan. Terdapat tiga jenis gelombang terpolarisasi yang terjadi yaitu, polarisasi
linear, elips, dan melingkar. Pada polarisasi melingkar maupun elips, terjadi
perputaran medan E mengikuti pola melingkar maupun elips terhadap variasi waktu.
Sedangkan, pada polarisasi linear medan E dan H terkandung dalam bidang ekuifase
18
terhadap variasi waktu. Variasi linear menjadi unik karena karena medan E tidak
berputar terhadap variasi waktu dan cara mengubahnya menjadi isotropik adalah
dengan mengarahkan ulang antena transmitter dan receiver. Oleh karena itu,
orientasi antena sangat penting sebagai penentu jenis polarisasi gelombang.
2. Polarisasi Karena Orientasi Antena
Fungsi utama orientasi antena adalah menghasilkan dan merekam polarisasi
medan listrik horizontal (EH) dan vertikal (EV). Berikut merupakan gambaran
orientasi antena dalam merekam gelombang polarisasi EH, EV, maupun campuran
(EH dan EV).
19
3. AKUISISI DATA LAPANGAN
3.1 Desain Survei
Dalam melakukan perancangan desain survei, perlu diperhatikan beberapa aspek
penting termasuk konfigurasi akuisisi data dan sifat-sifat antena, seperti frekuensi, spasi
(jarak), pemisahan, dan orientasi. Terdapat tiga konfigurasi akuisisi data dengan metode
GPR antara lain sebagai berikut (Baker dkk, 2007).
1. Common Midpoint (CMP)
Common Midpoint (CMP) atau bisa disebut sebagai wide-angle reflection
velocity sounding merupakan konfigurasi yang menggunakan antena bistatik di
mana letak transmitter dan receiver terpisah pada jarak tertentu dan berdampingan
di atas permukaan tanah. Kemudian, pengukuran dilakukan secara bertahap dengan
memindahkan transmitter dan receiver menuju jarak yang lebih jauh relatif
terhadap lokasi tetap yaitu titik tengah. Konfigurasi ini sering digunakan untuk
memperkirakan struktur dielektrik bawah permukaan dan kecepatan gelombang, di
mana kecepatan gelombang dapat dihitung dengan menggunakan kemiringan
gelombang yang terpantul (refleksi) dari jarak offset antena dan waktu tempuh dua
arah. Estimasi kecepatan yang diperoleh dapat membantu mengetahui kedalaman
bidang pantul (reflektor) dengan bantuan waktu tiba gelombang.
20
Gambar 2.6. Konfigurasi Common Offset (CO) dan Kedatangan Gelombang
3. Transillumination
Transillumination atau biasa disebut dengan radar lubang bor merupakan
konfigurasi yang menggunakan dua buah lubang bor di mana lubang yang satu
digunakan untuk memasukkan transmitter dan lubang lainnya untuk receiver.
Kemudian, pengukuran dilakukan dengan menggerakan antena relatif terhadap
yang lain untuk menggambarkan struktur bawah permukaan di antara kedua
lubang. Berbeda dengan dua konfigurasi sebelumnya, konfigurasi
transillumination tidak memanfaatkan pantulan (refleksi) gelombang melainkan
cukup dengan transmisi gelombang.
21
3.2 Instrumentasi
22
❖ Bagian Atas – tempat koneksi perangkat keras
23
❖ Bagian Depan – keypad dan monitor
24
- Antena 100 Hz
General Setting: berisi pengaturan umum seperti bahasa, unit pengukuran, dan
tema. Terletak pada bagian bawah layar.
Antena: pilihan ini hanya ada jika menggunakan bukan antena bawaan.
GPS: pilihan ini digunakan jika menggunakan GPS eksternal.
New Project: pilih New Project dan inputkan nama folder kemudian sistem akan
otomatis membuat folder yang digunakan untuk menyimpan data akuisisi.
Kemudian pilih Apply dan layar akan berganti ke Collect setup Screen.
26
● Step 2 - Expert Mode Setup
Pada setup menu terdapat empat main menu yaitu Radar, Process, Output, dan
System. Keempat main menu tersebut harus harus di cek dan diatur terlebih
dahulu sebelum memulai pengukuran.
27
❖ RADAR MENU
1. Collect Mode: atur ke Distance mode
2. Depth/Time Range:
a. Full Range: digunakan untuk akuisisi tanpa target yang telah
diketahui lokasinya. Pengaturan dilakukan dengan mengatur nilai
depth atau time range hingga 25% dari scan trace (rekomendasi)
berisi noise. Rasio signal to noise yang tepat merepresentasikan
kualitas dari sinyal.
b. Target Specific: ketika sistem telah berada pada Collect Setup
Mode, arahkan antena hingga menemukan target yang ingin
dicitrakan. Jika belum tampak maka ubah nilai depth atau time
range-nya hingga target tampak.
3. Scans/Unit: rule of thumb-nya 10 dibagi dengan kedalaman minimum
objek yang akan dicari. Misal targetnya 1 meter maka scans/unit-nya
10/1 = 10 scans/meter
❖ PROCESS MENU
1. Gain Mode and Edit Gain Curve: mode gain digunakan untuk
treatment sinyal agar perubahan amplitudo dari atas ke bawah
seimbang. Pengaturan gain dilakukan dengan melihat bagian O-Scope
window dimana garis merah mengindikasikan gain yang digunakan.
Titik tengah dari garis bernilai nol, semakin ke kiri maka semakin
negatif (decreasing gain) dan ke kanan semakin positif (increasing
gain). Gain diterapkan dalam unit decibels (dB) dengan fungsi
eksponensial tertentu.
● Select Auto Gain Mode: jika mode ini sudah dipilih kemudian
tekan Init control button pada bagian bawah layar untuk
menerapkan gain. Gerakkan antena hingga terlihat tiap-tiap trace
tidak clipping.
● Manual Gain: dapat digunakan jika mengetahui nilai gain yang
tepat untuk akuisisi.
● Edit Gain Curve: jika dengan menggunakan auto gain proporsi
sinyal yang terkena gain kurang tepat maka dapat mengatur gain
point. Gain point umumnya tersebar merata di tiap trace namun
dengan menambahkan atau mengurangkan gain point maka
besarnya amplifikasi pada tiap bagian trace dapat diatur.
○ Pilih edit gain curve.
○ Tambahkan atau hapus point untuk memodifikasi gain curve.
○ Simpan dan keluar untuk kembali ke layar Collect Setup.
❖ OUTPUT MENU
1. Scale and units: pastikan skala vertikal, unit vertikal, dan unit
horizontal tepat.
2. Colormap, Color Stretch, and Color Slide: untuk mengatur skala
warna yang digunakan.
28
❖ SYSTEM MENU
1. AutoSave: untuk menyimpan data akuisisi secara otomatis.
2. Save Setup: untuk menyimpan pengaturan agar dapat digunakan untuk
akuisisi di lokasi dan waktu yang berbeda.
3. Survey Wheel Calibration: kalibrasi ini dibutuhkan agar pengukuran
pada mode jarak akurat. Untuk kalibrasi manual maka diperlukan garis
ukur pada lintasan sebagai indikator jarak.
a. Pilih survey wheel mode: Quadrature.
b. Pilih jarak kalibrasi: default (10 meter) namun bisa diubah sesuai
dengan garis ukur nya.
c. Posisikan antena pada titik Start.
d. Tekan tombol Start.
e. Pindahkan antena pada titik Stop yang berjarak sesuai jarak
kalibrasi dari titik Start.
f. Tekan tombol Stop.
Setelah kalibrasi berhasil dilakukan, selanjutnya pilih Apply sehingga
nilai kalibrasi tersimpan dan menu Calibrate SW akan tertutup.
● Step 3 - Data Collection
1. Untuk memulai pengukuran tekan tombol Start dan mulai akuisisi
2. Tekan tombol Stop untuk menghentikan pengukuran
29
5. PENGOLAHAN DATA
❖ Easy Processing
Opsi ini digunakan untuk pengolahan sesuai default software. Langkah pengolahan yang
digunakan adalah Time Zero, Background Removal, dan Migration
1. Buka Software RADAN 7 lalu buka file dengan cara klik GSSI Button → klik open
→ ubah format file yang akan dibuka → klik file → klik open.
2. Pada bagian Ribbon pilih Easy Processing.
a. Step 1 - Time Zero
1. Klik ikon Time Zero kemudian akan tertampil layar
pemrosesan Time Zero.
2. Koreksi posisi: terdapat enam metode yang dapat digunakan
untuk koreksi Time Zero, tiga diantaranya antara lain:
● Manual - users estimate peaks: posisikan first break
positif pertama ke nilai 0.0 dengan cara klik kiri, tahan,
dan geser gelombang ke titik 0.0.
● Automatic: RADAN 7 akan memposisikan first break
positif pada gelombang langsung ke titik 0 secara
otomatis.
● Scan by Scan: mengoreksi air wave pada masing-masing
scan.
3. Klik Apply untuk menerapkan filter Time Zero.
4. Klik Ok jika dirasa sudah cukup.
30
c. Step 3 - Test/Apply Filters
31
BAB III
METODE GPS
1. PENDAHULUAN
Metode pengambilan data GPS ada beberapa macam antara lain statik, faststatic,
dan kinematik. Dalam modul ini hanya akan diketengahkan mengenai metode faststatic
yang sebenarnya hampir sama dengan metode yang lain. Hal ini dikarenakan sebagian
besar survey yang dilakukan di Geofisika UGM menggunakan metode ini.
Pemetaan stasiun pengamatan yang biasanya dilakukan pada survei medan
gravitasi dan magnetik biasanya merupakan survei differensial GPS sehingga dibutuhkan
minimal 2 penerima, satu dipasang sebagai base station dan satunya sebagai rover yang
mengukur di tiap-tiap stasiun pengamatan. Metode pengukuran yang biasa digunakan
adalah metode faststatik yang akurasinya sedang dan produktivitas sedang. Waktu
pengamatan sekitar 5 sampai 20 menit, lama pengamatan ini tergantung pada panjang
baseline, jumlah satelit dan geometri satelit. Metode pengolahan data yang dilakukan
yaitu metode post processing yaitu hasil didapatkan setelah dilakukan pengolahan data.
Komponen tinggi dari 3 dimensi yang diberikan oleh GPS adalah tinggi yang mengacu
ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid GRS (Geodetic Reference System). Semua data
mengacu pada datum WGS 84 (World Geodetic System) yaitu sistem koordinat kartesian
terikat bumi dengan pusat sistem koordinat berimpit dengan pusat massa bumi
(geocenter).
2. DASAR TEORI
Cara Kerja Alat Sistem GPS ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di
orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat
penerima. Ada tiga bagian penting dari sistem ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa,
dan bagian pengguna.
A. Bagian Kontrol
Bagian kontrol merupakan bagian yang digunkan untuk mengontrol dan menerima
sinyal dari satelit. Setiap satelit dapat berada sedikit diluar orbit, sehingga bagian
ini melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian, dan kecepatan. Sinyal-sinyal dari satelit
diterima oleh bagian kontrol, dikoreksi, dan dikirimkan kembali ke satelit. Koreksi
data lokasi yang tepat dari satelit ini disebut dengan data ephemeris, yang nantinya
akan di kirimkan kepada alat navigasi kita.
B. Bagian Angkasa
Bagian angkasa merupakan bagian dari GPS yakni terdiri dari kumpulan
satelit-satelit yang berada di orbit bumi, sekitar 12.000 mil diatas permukaan bumi.
Kumpulan satelit-satelit ini diatur sedemikian rupa sehingga alat navigasi setiap
saat dapat menerima paling sedikit sinyal dari empat buah satelit. Sinyal satelit ini
dapat melewati awan, kaca, atau plastik, tetapi tidak dapat melewati gedung atau
gunung. Satelit mempunyai jam atom, dan juga akan memancarkan informasi
‘waktu/jam’ ini. Data ini dipancarkan dengan kode ‘pseudo-random’. Masing-
masing satelit memiliki kodenya sendiri-sendiri. Nomor kode ini biasanya akan
ditampilkan di alat navigasi, maka kita bisa melakukan identifikasi sinyal satelit
32
yang sedang diterima alat tersebut. Data ini berguna bagi alat navigasi untuk
mengukur jarak antara alat navigasi dengan satelit, yang akan digunakan untuk
mengukur koordinat lokasi. Kekuatan sinyal satelit juga akan membantu alat dalam
penghitungan. Kekuatan sinyal ini lebih dipengaruhi oleh lokasi satelit, sebuah alat
akan menerima sinyal lebih kuat dari satelit yang berada tepat diatasnya (bayangkan
lokasi satelit seperti posisi matahari ketika jam 12 siang) dibandingkan dengan
satelit yang berada di garis cakrawala (bayangkan lokasi satelit seperti posisi
matahari terbenam/terbit). Ada dua jenis gelombang yang saat ini dipakai untuk alat
navigasi berbasis satelit pada umumnya, yang pertama lebih dikenal dengan
sebutan L1 pada 1575.42 mHz. Sinyal L1 ini yang akan diterima oleh alat navigasi.
Satelit juga mengeluarkan gelombang L2 pada frekuensi 1227.6 mHz. Gelombang
L2 ini digunakan untuk tujuan militer dan bukan untuk umum.
C. Bagian Pengguna
Bagian Pengguna terdiri dari alat navigasi yang digunakan. Satelit akan
memancarkan data almanak dan ephemeris yang akan diterima oleh alat navigasi
secara teratur. Data almanak berisikan perkiraan lokasi (approximate location)
satelit yang dipancarkan terus menerus oleh satelit. Data ephemeris dipancarkan
oleh satelit, dan valid untuk sekitar 4-6 jam. Untuk menunjukkan koordinat sebuah
titik (dua dimensi), alat navigasi93 memerlukan paling sedikit sinyal dari 3 buah
satelit. Untuk menunjukkan data ketinggian sebuah titik (tiga dimensi), diperlukan
tambahan sinyal dari 1 buah satelit lagi. Dari sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh
kumpulan satelit tersebut, alat navigasi akan melakukan perhitungan-perhitungan,
dan hasil akhirnya adalah koordinat posisi alat tersebut. Makin banyak jumlah
sinyal satelit yang diterima oleh sebuah alat, akan membuat alat tersebut
menghitung koordinat posisinya dengan lebih tepat.
3. Akuisisi Data Lapangan
A. Luas Daerah Survey
Luas daerah survey disesuaikan dengan target yang diinginkan. Bila target
anomaly berukuran lokal (cukup kecil), maka daerah survey tidak perlu terlalu luas,
diperkirakan sekitar 5 x 5 𝑘𝑚2 dengan spasi antar titik amat yang cukup rapat
(sekitar 200 meter). Bila target merupakan struktur geologi yang cukup besar, maka
daerah pengamatan dapat diperluas menjadi sekitar 10 x 10 𝑘𝑚2 s/d 20 x 20 𝑘𝑚2
atau lebih luas lagi. Pengamatan pada lokasi yang diperkirakan merupakan lokasi
anomali dibuat lebih rapat. Peta lapangan yang digunakan disesuaikan dengan luas
daerah pengamatan, namun hendaknya tidak lebih kecil dari 1 : 25000.
B. Penentuan Lokasi
Pengukuran Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi
pengukuran adalah penyediaan peta topografi dan peta geologi. Untuk keperluan
orientasi medan digunakan peta topografi skala terkecil yang tersedia. Setelah
tersedia peta yang sesuai kemudian ditentukan lintasan pengukuran dan base
stasiun yang harga percepatan gravitasinya diketahui (diikatkan dengan titik yang
telah diketahui percepatan gravitasinya). Penentuan lintasan, titk ikat dan base
stasiun diusahakan sedemikianrupa sehingga pelaksanaan pengukuran efektif dan
memenuhi sasaran. Pengambilan data posisi dan pengukuran medan gravitasi
33
dilakukan secara bersama-sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan titik pengukuran yaitu:
1. Letak titik pengukuran harus jelas dan mudah dikenal, sehingga apabila
dikemudian hari dilakukan pengukuran ulang akan mudah untuk
mendapatkannya.
2. Lokasi titik pengukuran harus dapat dibaca dalam peta.
3. Lokasi titik pengukuran harus bersifat permanen dan mudah dijangkau oleh
peneliti, serta bebas dari gangguan kendaraan bermotor, mesin dan lainlain.
4. Lokasi titik pengukuran harus terbuka sehingga GPS mampu menerima sinyal
dari satelit dengan baik tanpa ada penghalang. Pada umumnya ruang pandang
langit yang bebas ke segala arah di atas elevasi adalah 100 atau 150.
Disamping itu titik pengukuran diusahakan jauh dari obyek-obyek reflektif
yang mudah memantulkan sinyal GPS, untuk meminimalkan atau mencegah
terjadinya multipath.
C. Instrumen
Peralatan yang digunakan dalam survey adalah:
1. 2 GPS Trimble (1 base receiver dan 1 rover receiver)
2. Tripod
3. Bipod
4. Tribrach
5. TSC 1 controller
6. Aki/Power Supply (Base Receiver)
7. Baterai secukupnya (rover receiver)
8. Kabel-kabel konektor yang digunakan saat pemindahan data ke PC.
D. Akurasi Alat
Akurasi alat ketika menggunakan metode faststatic:
Modes : Quick-Start, L1 Fast Static Accuracy
Horizontal : ±5 mm + 1 ppm (²10 km)
Vertikal : ±10 mm + 2 ppm (²10 km)
Azimuth : ±1 arc second + 5/baseline length in km.
E. Akuisisi
1. Langkah-langkah akuisisi data di Base Receiver :
a. Pasang dan lakukan leveling pada tripod sehingga horizontal/datar.
Pemasangan Base Receiver ini biasanya dilakukan dekat basecamp.
Tetapi untuk Base Receiver ini biasanya menggunakan tripod dengan
tinggi tertentu (2 m).
b. Pasangkan GPS Trimble Base Receiver pada tripod tersebut.
c. UHF Radio Antenna dipasangkan pada alat, masukkan SIM dan SD
card pada alat pada SIM & SD Card Compartment.
d. Sambungkan Receiver dengan power supply/aki.
e. Ukur ketinggian Base Receiver.
f. Tekan tombol Power On/Off untuk menghidupkan atau mematikan
receiver. Tekan dan tahan sekitar 2 detik untuk menghidupkan receiver.
LED status Indicators lainnya ditampilkan oleh gambar 12 dan 13.
34
g. Lampu LED merah akan menyala saat alat melacak satelit.
h. Setting GPS menggunakan controller untuk mengunduh data dari
satelit.
i. GPS yang telah terkoneksi dengan satelit ditandai dengan lampu LED
berwarna biru Jangan lupa menutupi alat untuk melindungi alat dari
bahaya (cuaca atau gangguan lain).
j. Pengukuran di base ini dilakukan terus-menerus hingga pengukuran
pada GPS Rover selesai.
k. Langkah terakhir ketika akan mematikan GPS Altus pada Base harus
melalui controllernya. Jangan mematikan GPS Altus melalui tombol
power pada alat secara langsung.
2. Langkah-langkah akuisisi data di Rover Receiver :
a. Pasang bipod di tempat terbuka, tidak rimbun, karena dapat
mempengaruhi sinyal. Posisi GPS untuk survei metode gravitasi
memiliki elevasi yang sama dengan posisi gravitymeter.
b. GPS Trimble Rover dipasang pada bipod tersebut.
c. UHF Radio Antenna dipasangkan pada alat, masukkan SIM dan SD
card pada alat pada SIM & SD Card Compartment.
d. Lakukan leveling pada bipod sehingga GPS Trimble dalam posisi datar
dan horizontal.
e. Ukur ketinggian GPS Trimble dari bidang alas (tanah).
f. Tekan dan tahan sekitar 2 detik tombol Power On/Off hingga semua
lampu indikator menyala. Lampu indikator merah akan menyala ketika
alat melacak satelit. LED status Indicators lainnya ditampilkan oleh
gambar 12 dan 13.
g. Lampu LED merah akan menyala saat alat melacak satelit.
h. Setting GPS menggunakan controller untuk menngunduh data dari
satelit.
i. GPS yang telah terkoneksi dengan satelit ditandai dengan lampu LED
berwarna biru Jangan lupa menutupi alat untuk melindungi alat dari
bahaya (cuaca atau gangguan lain).
j. Pengukuran di pada GPS rover minimal selama 10 menit atau sesuai
dengan lama survey pengukuran gravity (rover).
k. Langkah terakhir ketika akan mematikan GPS Altus pada Rover harus
melalui controllernya. Jangan mematikan GPS Altus melalui tombol
power pada alat secara langsung.
35
Gambar 3.1. penyesuaian tripod pemasangan GPS Altus
Gambar 3.3. tampak salah satu sisi lain dari GPS Altus
36
4. PENGOLAHAN DATA GPS
A. Diagram Alir Pengolahan
Gambar 3.6. Proses SBF File(s) Selection untuk Konversi Data Base
b. Pilih symbol open atau folder berwarna kuning, kemudian pilih file
Base untuk pengolahan H1 :
37
Gambar 3.8. Tampilan Utama dan Pengaturan SBF Converter
d. Klik options di sisi kanan checkbox RINEX, dan pada tab RINEX
Options dapat diatur seperti pengaturan berikut :
38
Gambar 3.10. Pengaturan pada Observation Options
f. Kemudian pada RINEX Conversion Options, pilih tab File Naming
dan pastikan sudah sesuai dengan pengaturan di gambar berikut :
Gambar 3.12. Pengaturan untuk Penyimpanan File Hasil Konversi Data Base
h. Selanjutnya, klik convert pada main tab
40
Gambar 3.18. Pengaturan RINEX Option untuk Konversi Data Rover
n. Pilih tab Observation Options, aturlah checkbox file observasi yang
akan digunakan untuk pengolahan data. Lalu klik OK setelah
pengaturan mengikuti gambar berikut :
41
Gambar 3.21. Pengaturan Penyimpanan File Hasil Konversi Data Rover
q. Selanjutnya, klik convert pada main tab
42
Gambar 3.24. Hasil Konversi Data Base pada Perangkat Komputer
Data Rover H1 :
43
Gambar 3.27. Logo Project Settings
44
e. Pada Datum Transformation, pilih WGS 1984 dan klik next
45
Gambar 3.32. Pengaturan Coodinate Units
h. Ubahlah Latitude / Longitude format menjadi Decimal Degrees
46
Gambar 3.35. Pengaturan Local Coordinate pada Points Spreadsheet View
k. Lalu klik OK, Main Interface Trimble kemudian akan kembali
terbuka. Pada menubar Home, pilih Import di sisi kiri atas layar
47
Gambar 3.37. Proses Import Data Base SBF (1)
m. Lalu, klik tombol shift pada keyboard dan klik file awal dan akhir.
49
r. Pada BASEH1, expand kembali BASEH1 dan double click Global
(Base1.21o). Akan tampil tab properties sebagai berikut :
Gambar 3.45. Tampilan Plan View Trimble setelah Data Titik Fix Base Diinput
50
u. Kemudian, pilih menubar survey dan di sub-menu GNSS, pilih fitur
Process Baseline
51
kuning atau merah, dapat dilakukan expand pada footer Trimble.
Akan disampaikan arti dari tiap warna bendera
Gambar 3.49. Tampilan Flag Pane pada Trimble (Keterangan tiap Flag)
Dapat dilihat bahwa bendera kuning dan merah menunjukkan adanya
pergeseran secara vertikal atau horizontal. Data gravity sangatlah
sensitif terhadap perubahan secara vertikal. Maka dari itu, bendera
merah dan kuning (jika pergeserannya vertikal) haruslah dikoreksi.
Dalam akuisisi data, sangat dibutuhkan catatan kondisi lapangan
(kehadiran pohon, cuaca, dll).
52
Gambar 3.51. Tampilan Awal Window Session Editor
53
z. Kemudian klik OK, Setelah proses muting, yang dapat dilakukan
oleh praktikan adalah melakukan processing Baseline ulang pada
menubar survey
Gambar 3.59. Tampilan Pengaturan Height Sesuai Nilai Pergeseran di Flag Pane
ee. Klik enter setelah mengganti nilai Height. Perlu diketahui bahwa
praktikan mengurangkan initial value dari data Height dengan angka
17. Selanjutnya, lakukan kembali tahap Process Baselines
55
Gambar 3.60. Tahapan Processing Baseline Terakhir
ff. Kemudian, klik Save Di plan view, dapat dilihat bahwa bendera merah
sudah tidak ada. Di Flag Pane, keterangan bendera merah yang
menunjukkan nilai pergeseran vertikal juga sudah tidak tampak
56
Gambar 3.63. Hasil Baseline Processing Report
hh. Kemudian pada Project Explorer di bagian Points ➔ Select ➔ Klik
Kanan dan pilih New Point Spreadsheet
57
Gambar 3.65. Proses Menampilkan New Point Spreadsheet (2)
Di akhir, akan diperoleh tampilan Point Spreadsheet. Klik baris paling
kiri di Point Spreadheet, lalu CTRL + A ➔ CTRL + C.
58
BAB IV
METODE GRAVITASI
I. PENDAHULUAN
Batuan yang ada di bumi ini memiliki beberapa sifat fisis, antara lain massa jenis,
berat jenis, kadar air, derajat kejenuhan, porositas dan juga angka pori. Dari sekian sifat
fisis batuan, terdapat sifat fisis yang dapat membedakan jenis suatu batuan, yaitu massa
jenis atau densitas. Variasi batuan yang banyak tersebar di muka bumi ini menunjukkan
bahwa adanya distribusi massa jenis yang tidak merata yang juga akan memberikan
variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi yang kemudian dikenal sebagai
anomali gravitasi. Metode geofisika yang mampu melihat adanya variasi medan gravitasi
akibat perbedaan densitas tersebut merupakan Metode Gravity.
Distribusi massa jenis yang tidak seragam ini dipengaruhi oleh semua benda yang
berada di sekitar bumi, termasuk struktur geologi maupun intrusi batuan beku. Walaupun
kontribusinya terhadap variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi sangat kecil
dibandingkan dengan nilai absolutnya, tetapi dengan peralatan yang baik variasi medan
gravitasi di permukaan bumi dapat diukur dari titik ke titik sehingga dapat dipetakan.
Selanjutnya dari peta tersebut dapat dilakukan interpretasi bentuk atau struktur bawah
permukaan. Variasi harga medan gravitasi di permukaan bumi tidak hanya disebabkan
oleh distribusi massa jenis yang tidak merata, tetapi juga oleh posisi titik amat di
permukaan bumi. Hal ini disebabkan oleh adanya bentuk bumi yang tidak bulat sempurna
dan relief bumi yang beragam. Untuk itu diperlukan metode-metode tertentu untuk
mereduksi pengaruh selain karena distribusi massa jenis.
Metode Gravity ini merupakan metode geofisika yang memanfaatkan sifat daya
tarik antar benda yang didapat dari densitasnya, jadi prinsip eksplorasi dengan metode
gravity ini yaitu mencari anomali gravity pada subsurface. Metode Gravity dilakukan
untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan berdasarkan perbedaan rapat massa
mineral dari daerah sekeliling (rho = gram/cm3). Metode ini adalah metode geofisika
yang sensitive terhadap perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini dipakai untuk
mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai purba, lubang
di dalam massa batuan, shaff terpendam dan lain-lain. Eksplorasi biasanya dilakukan
dalam bentuk kisi atau lintasan penampang. Perpisahan anomali akibat rapat massa dari
kedalaman berbeda dilakukan dengan menggunakan filter matematis atau filter geofisika.
Di pasaran sekarang didapat alat gravimeter dengan ketelitian sangat tinggi (mgal),
dengan demikian anomali kecil dapat dianalisa. Hanya saja metode pengukuran data,
harus dilakukan dengan sangat teliti untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Pengukuran metode ini dapat dilakukan di permukaan bumi, di kapal maupun di
udara. Dalam metode ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi akibat variasi
rapat massa batuan di bawah permukaan, sehingga dalam pelaksanaanya yang diselidiki
adalah perbedaan medan gravitasi dari satu titik observasi terhadap titik observasi
lainnya. Karena perbedaan medan gravitasi ini relatif kecil maka alat yang digunakan
harus mempunyai ketelitian yang tinggi.
59
II. DASAR TEORI
Metode gravitasi atau gaya berat bekerja berdasarkan Hukum Gravitasi Newton
yang menyatakan bahwa gaya antara dua benda bermassa m yang dipisahkan pada jarak
r akan berbanding lurus dengan perkalian massa dua benda tersebut dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak dari kedua pusat massa dari kedua benda tersebut. Secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
dimana 𝐹 → (𝑟 → ) adalah gaya yang bekerja pada m karena adanya 𝑚0 , dan berlawanan
dengan |𝑟0 → − 𝑟 → | yang berarah dari 𝑚0 ke 𝑚. Sedangkan 𝐺 adalah konstanta gravitasi
universal yang besarnya 6,672 𝑥 10 − 11 𝑁𝑚²/𝑘𝑔².
jika diasumsikan bumi bersifat homogen, berbentuk sferis, dan tidak berotasi. Maka
besaran medan gravitasi di permukaan bumi adalah :
dengan 𝑀𝑒 adalah massa bumi dan 𝑅𝑒 adalah jari jari bumi. Medan gravitasi 𝑔 sering
disebut percepatan gravitasi atau percepatan gerak jatuh bebas.
Satuan 𝑔 dalam cgs adalah gal ( 1 𝑔𝑎𝑙 = 1 𝑐𝑚/𝑑𝑡 2 ) dan bersifat konservatif
dengan arah selalu menuju pusat bumi. Bersifat konservatif, dimana usaha yang
60
dilakukan untuk memindahkan suatu massa pada medan gravitasi tidak bergantung
kepada lintasan tetapi hanya bergantung pada posisi awal dan posisi akhirnya (Telford et
al, 1990). Medan gravitasi dapat diturunkan dari fungsi potensial skalar yaitu:
dengan 𝜌(𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah densitas dan 𝑟 2 = 𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 , maka besar potensial pada total
massa 𝑚 adalah
Karena g adalah percepatan gravitasi pada arah z (positif terhadap pusat bumi) dan
dengan asumsi ρ konstan, maka
61
III. AKUISISI DATA LAPANGAN
A. Luas Daerah Survei
Luas daerah survey disesuaikan dengan target yang diinginkan. Bila target
anomaly berukuran lokal (cukup kecil), maka daerah survey tidak perlu terlalu luas,
diperkirakan sekitar 5 x 5 km² dengan spasi titik amat yang cukup rapat (sekitar 200
meter). Bila target merupakan struktur geologi yang cukup besar, maka daerah
pengamatan dapat diperluas menjadi sekitar 10 x 10 km² s/d 20 x 20 km² atau lebih luas
lagi. Pengamatan pada lokasi yang diperkirakan merupakan lokasi anomali dibuat lebih
rapat. Peta lapangan yang digunakan disesuaikan dengan luas daerah pengamatan, namun
hendaknya tidak lebih kecil dari 1 : 25000.
B. Penentuan Lokasi Pengukuran
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi pengukuran adalah
penyediaan peta topografi dan peta geologi. Untuk keperluan orientasi medan digunakan
peta topografi skala terkecil yang tersedia. Setelah tersedia peta yang sesuai kemudian
ditentukan lintasan pengukuran dan base stasiun yang harga percepatan gravitasinya
diketahui (diikatkan dengan titik yang telah diketahui percepatan gravitasinya).
Penentuan lintasan, titik ikat dan base stasiun diusahakan sedemikian rupa sehingga
pelaksanaan pengukuran efektif dan memenuhi sasaran.
Pengambilan data posisi dan pengukuran medan gravitasi dilakukan secara
bersama-sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan titik pengukuran
yaitu:
1. Letak titik pengukuran harus jelas dan mudah dikenal, sehingga apabila
dikemudian hari dilakukan pengukuran ulang akan mudah untuk
mendapatkannya.
2. Lokasi titik pengukuran harus dapat dibaca dalam peta.
3. Lokasi titik pengukuran harus bersifat permanen dan mudah dijangkau oleh
peneliti, serta bebas dari gangguan kendaraan bermotor, mesin dan lain-lain.
C. Pembuatan Base Station (Titik Ikat)
Pengukuran Medan Gravitasi Besarnya harga medan gravitasi pada suatu base stasiun
(titik ikat) pengukuran adalah :
dengan :
62
𝑔𝑟𝑒𝑙𝐵𝑆 = nilai pembacaan gravitasi relatif di titik ikat
D. Instrumen
Peralatan yang digunakan dalam survey adalah :
1. Gravitymeter LaCoste & Romberg Model G-1118 MVR Feedback System yang
mempunyai ketelitian 0.005 mgal dan atau Scintrex CG-5 AutoGrav.
2. GPS, 2 buah GPS Altus dan perlengkapannya, atau sejenisnya.
3. Alat-alat bantu berupa penunjuk waktu (jam tangan), kompas, pelindung
peralatan (payung) dan Handy Talky.
E. Format Data Lapangan
Data yang diperoleh dari lapangan hendaknya dicatat didalam buku lapangan,
tidak dalam lembaran kertas yang mudah hilang dan sebaiknya ditulis menggunakan
pensil agar tidak mudah luntur. Format data disesuaikan dengan data yang diamati, yaitu
memuat semua data yang perlu dicatat. Data tersebut antara lain :
a. Hari dan tanggal pengamatan, cuaca, operator, dll.
b. Nama stasiun (titik amat), misalkan L01-01, dimana L menyatakan lintasan, 01
adalah nomor lintasan dan 01 berikutnya adalah nomor titik amat.
c. Pembacaan skala gravitymeter.
d. Pembacaan feedback.
e. Tinggi alat ukur terhadap titik amat.
f. Besar pasang surut teoritis (berupa tabel yang telah disiapkan lebih dulu).
g. Data lainnya berupa keterangan saat pengamatan atau dapat diisi dengan session
pengukuran GPS pada titik tersebut.
Pengamatan tersebut dapat dibuat tabel dalam bentuk contoh sebagai berikut :
64
gravitymeter terhindar dari kemungkinan kejatuhan barang-barang
tersebut.
6) Ambillah sikap serelaks mungkin pada saat mulai pengamatan. Jangan
membuat banyak gerakan pada saat melakukan pengamatan.
7) Sediakan bantalan bila daerah pengamatan berada pada area yang
berbatu dan berkerikil.
66
1118 adalah 3.0). Pada contoh gambar diatas reading linenya
adalah 2.3.
3. Amati dan gerakkan benang bacaan dengan memutar sekrup
pembacaan (nulling dial) secara perlahan searah atau berlawanan
jarum jam. Bila benang bacaan terletak di sebelah kiri putar sekrup
pembacaan searah jarum jam dan sebaliknya. Hentikan putaran
saat benang bacaan berimpit dengan garis baca.
4. Untuk mendapatkan harga pembacaan yang baik, putaran sekrup
pembacaan disarankan dari arah yang sama yaitu arah kiri ke
kanan (searah jarum jam). Langkah ini dapat langsung
dilaksanakan bila benang bacaan terletak di sebelah kiri garis
baca. Bila benang bacaan terletak di sebelah kanan garis baca,
putar sekrup pembacaan berlawanan jarum jam hingga benang
bacaan bergeser ke sebelah kiri garis baca. Baru kemudian
lakukan putaran balik (searah jarum jam) sampai benang bacaan
berimpit dengan garis baca. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pembacaan semu (backlash) akibat putaran sekrup pembacaan
yang tidak seragam. Kekenduran pada roda gigi adalah
penyebabnya.
Catatan : Posisi garis baca yang benar adalah keadaan dimana
batas bawah (bagian kiri) dari benang bacaan berimpit dengan
garis baca (lihat gambar).
5. Periksa level memanjang dan melintang, bila level berubah
lakukan pembetulan level untuk mendapatkan posisi tegak
sempurna. Periksa kembali posisi benang bacaan, apakah masih
berimpit dengan garis baca atau berubah. Bila berubah putar
sekrup pembacaan lagi sampai mendapatkan posisi benang
pembacaan yang benar (Ingat aturan putaran dari kiri ke kanan).
6. Matikan lampu gravitymeter secara perlahan, jangan membuat
gerakan yang mengejut.
7. Putar sekrup pengunci searah jam sampai habis untuk mengunci
pegas.
8. Baca hasil pengukuran pada skala pembacaan.
Catatan :
Jangan lupa untuk selalu melakukan pengecekan terhadap battery
dan suhu alat, yaitu dengan memutar switch MVR Internal Feedback
ke pilihan A untuk battery dan B untuk suhu. Bila battery sudah
mendekati angka 10, segera ganti dengan battery yang penuh. Untuk
praktisnya, lakukan penggantian battery tiap 6 atau 7 jam selama
pengukuran di lapangan. Ingat pengukuran medan gravitasi
merupakan pengukuran relatif dan hasil bacaan masih dalam satuan
skala baca. Untuk mendapatkan harga dalam mgal perlu dikonversi
dengan menggunakan tabel kalibrasi. Hasil pembacaan merupakan
67
hasil dari pengamatan pada titik amat tersebut. Untuk tiap titik amat
dilakukan prosedur yang sama. Langkah-langkah ini merupakan
prosedur bila pengamatan dilakukan tidak dengan menggunakan
MVR feedback. Prosedur pengamatan dengan menggunakan MVR
feedback agak sedikit lain.
(2) Dengan Menggunakan MVR Feedback
1. Pada titik amat yang ditentukan lakukan langkah 1 s/d 5
sebagaimana bila tanpa MVR feedback
2. Hidupkan MVR feedback dengan memindahkan switchnya ke
pilihan yang ditentukan (30 V atau 10 V). Lihat keterangannya
pada bagian MVR feedback.
3. Amati besar pembacaan feedback pada DVM (Digital Volt
Meter), pada bagian yang bertuliskan MVR Internal Feedback,
dengan memindah switchnya ke pilihan D (bila digunakan 10 V)
atau E (bila 30 V). Pembacaan feedback dilakukan setelah angka
tidak menunjukkan perubahan (sudah konstan atau stabil) atau
paling tidak sudah lambat perubahannya. Usahakan pembacaan
feedback mendekati angka nol, kecuali digunakan prosedur
pengukuran di lapangan dengan memanfaatkan feedback tanpa
mengubah skala pembacaan.
4. Lakukan langkah 7 dan 8 sebagaimana pembacaan dengan tanpa
feedback.
68
Gambar 4.5. Penampang vertikal Gravitymeter LaCoste & Romberg
69
bukan nilai gravitasi mutlak pada titik tersebut. Nilai ini ditampilkan
dalam display digital dalam gravitymeter.
𝐹 = 𝑘𝑠(3 − 1)
dengan k adalah konstanta pegas dan s adalah jarak antara titik pegas
dengan titik dimana gaya bekerja. LaCoste & Romberg merancang zero-
length springs seperti pada gambar 5, untuk mendapatkan suatu peralatan
yang secara teoritis mempunyai periode tak berhingga. Dari gambar 6,
momen torka dari beban M adalah :
70
Gambar 4.6. Gambaran gerakan zero – length springs dalam gravitymeter
72
f) Monitoring Pasang Surut Gravitasi
73
(2) Survey Microgravity < 2 miligal
Untuk pengukuran gravitasi standar dari titik ke titik sistem
MVR diatur pada tegangan masukan sebesar 30 volts. Yang perlu
diingat adalah bahwa ketika menggunakan sistem MVR feedback,
beam selalu dikenai gaya untuk menggesernya ke reading line.
Memutar nulling dial akan membuat feedback mengatur gaya yang
dibutuhkan agar beam berada pada reading line.
4. Petunjuk Pemakaian Gravitymeter La Coste & Romberg G - 111
Tahapan akuisisi data menggunakan instrumen Scintrex CG-5 AutoGrav
Gravitymeter yaitu :
1. Memasangkan leveling tripod di titik pengukuran dan memastikan
bahwa leveling tripod berada di permukaan yang rata dan tidak
bergerak akibat pijakan.
74
Gambar 4.10. Foto Instrumen yang sudah dipasangkan dengan
GPS Antenna
76
Gambar 4.14. Tampilan DEFINE THE OPTIONS
77
Gambar 4.16. Tampilan STATION DESIGNATION
79
Gambar 4.20. Diagram Alir Pengolahan Metode Gravity
B. Anomali Gravitasi
Medan gravitasi bumi g adalah medan yang selalu berarah menuju ke
pusat bumi. Benda atau massa yang berada di bawah permukaan bumi
mengakibatkan adanya medan anomali gravitasi yang memiliki arah yang variatif
terhadap sumbu vertikal bergantung pada kedudukan terhadap benda/massa
tersebut.
Di permukaan bumi, perubahan medan gravitasi diukur melalui
pengukuran medan gravitasi g. Perubahan medan gravitasi bumi yang disebabkan
benda anomali lokal ini disebut Anomali Gravitasi. Anomali tersebut yang
dilambangkan dengan Δg ini bila dibandingkan dengan medan gravitasi bumi
bernilai sangat kecil (Δg << g). Anomali gravitasi hanya dapat diukur bersamaan
dengan medan gravitasi bumi pada arah yang sama. Anomali gravitasi dimanapun
pada bidang horizontal di titik (x, y) dapat dinyatakan dengan persamaan :
80
distribusi massa dibawah z = 0 akan mempunyai nilai yang sama jika massa
tersebut digantikan dengan densitas permukaan. Model densitas ini disebut
dengan equivalent stratum.
Gambar 4.21. Ilustrasi Model Equivalent Stratum (dimodifikasi dari Grant &
West, 1965)
C. Gravitasi Observasi
Gravitasi observasi adalah nilai medan gravitasi yang terukur di suatu titik
topografi (𝑥, 𝑦, 𝑧). Beberapa koreksi perlu dilakukan terhadap nilai medan
gravitasi terukur untuk menghilangkan pengaruh faktor ketinggian alat
gravitimeter terhadap permukaan topografi, efek pasang surut air laut, dan efek
dari kelelahan alat gravitimeter.
Medan gravitasi observasi dapat diperoleh dengan persamaan berikut :
dengan:
𝑔𝑚𝑇𝐴 (𝑥, 𝑦, (𝑧 − ℎ𝑇𝐴 ))= nilai medan gravitasi dalam satuan miligal
𝑆𝐵𝑟𝑟 = konversi dari skala bacaan bagian ribuan dan ratusan yang didapat
𝐹𝐵 = nilai feedback
82
dengan 𝑔𝑚 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah nilai medan gravitasi terkoreksi tinggi alat
(mGal) dan ℎ𝑇𝐴 merupakan tinggi alat gravitimeter (meter).
𝐺𝑀𝐵 𝑟 3𝐺𝑀𝐵 𝑟 2
𝑔 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) + (5𝑐𝑜𝑠 2 𝜃
𝑃𝑆
𝐷𝐵 3 2 𝐷𝐵 4
𝐺𝑀𝑀 𝑟
− 3𝑐𝑜𝑠𝜃) + 3 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 − 1)
𝐷𝑀
dengan 𝑟 adalah jarak titik amat ke pusat bumi, 𝑀𝐵 adalah massa bulan,
𝐷𝐵 adalah jarak bulan ke bumi, 𝐷𝑀 adalah jarak matahari ke bumi, 𝜃
adalah sudut zenith dari bulan, 𝜑 adalah sudut zenith dari matahari. Sudut
zenith adalah parameter yang bergantung dari posisi lintang, tanggal, dan
waktu saat pengukuran dilakukan (Dermawan, 2010).
● Koreksi Drift
Alat gravitimeter sangat sensitive terhadap faktor kelelahan alat
(apungan) yang diakibatkan dari adanya perubahan mekanika di dalam
alat tersebut. Faktor tersebut berupa pegas yang semakin meregang
terhadap waktu dan suhu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan
pembacaan nilai gravitasi di stasiun yang sama atau berikutnya pada
waktu yang berbeda, akibat adanya guncangan atau pergeseran pegas
pada alat gravitymeter.
Pengaruh suhu dapat diatasi dengan pemasangan thermostat
sehingga alat bekerja pada suhu yang konstan. Sedangkan untuk pengaruh
83
waktu, dapat diasumsikan bersifat linier terhadap perubahan nilai bacaan
medan gravitasi. Sehingga untuk menghilangkan efek tersebut akuisisi
data gravitasi didesain dalam suatu rangkaian tertutup (loop). Selisih nilai
pengukuran waktu awal dan akhir di titik base adalah besar gradien
perubahan nilai tiap waktu pengukuran selama waktu looping. Konsep
dari perhitungan koreksi drift dapat diilustrasikan pada gambar berikut.
Gambar 4.24. Ilustrasi proses looping pada akuisisi data untuk koreksi
drift.
Sehingga, persamaan koreksi drift dapat dituliskan sebagai berikut :
𝑡𝑛 − 𝑡𝐵
𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) = (𝑔 ′ − 𝑔𝐵 )
𝑡𝐵′ − 𝑡𝐵 𝐵
dengan 𝑔𝑑 (𝑥, 𝑦, 𝑧) adalah koreksi drift pada titik ke–n, 𝑡𝑛 adalah waktu
pembacaan pada titik ke-n, 𝑡𝐵 adalah waktu pembacaan di titik ikat akhir
looping, 𝑔𝐵 adalah nilai pembacaan di titik ikat pada awal looping, dan
𝑔𝐵′ adalah nilai pembacaan di titik ikat pada akhir looping
84
dengan 𝑔𝑜𝑏𝑠 adalah nilai gravitasi mutlak di titik amat, 𝑔𝑡𝑖 adalah nilai
gravitasi mutlak di titik ikat, 𝑔𝑑 adalah nilai gravitasi terkoreksi drift di
titik amat, dan 𝑔𝑑𝑡𝑖 adalah nilai gravitasi terkoreksi drift di titik ikat.
D. Gravitasi Teoritis
Nilai medan gravitasi teoritis dapat diketahui dengan melakukan beberapa
tahapan, yang pertama dilakukan adalah mencari nilai medan gravitasi normal.
Langkah selanjutnya adalah koreksi free-air, hal ini dilakukan karena nilai medan
gravitasi observasi secara fisis berada pada posisi (bidang) topografi. Kemudian,
dilakukan koreksi topografi yang meliputi koreksi Bouguer dan koreksi medan
(terrain). Secara matematis, nilai gravitasi teoritis dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
𝑔𝑛 (𝑥, 𝑦, 0)1894
1 + 0.00193185265241 𝑠𝑖𝑛2 𝜑
= 978032.753359 ( )
√1 − 0.00669437999041 𝑠𝑖𝑛2 𝜑
dengan 𝑔𝑛 (𝑥, 𝑦, 0)1894 adalah nilai medan gravitasi normal pada referensi
sferoida, dan 𝜑 adalah posisi lintang titik pengukuran.
● Koreksi Atmosfer
85
Dalam medan gravitasi teoritis, massa total atmosfer dilibatkan
dalam massa bumi ellipsoid. Koreksi ini dikurangkan terhadap nilai
medan gravitasi normal karena tarikan massa atmosfer berlawanan
dengan medan gravitasi bumi.
Koreksi atmosfer dapat dihitung melalui persamaan Wenzel
(1985) dalam Hinze dkk (2013) yang menghitung efek gravitasi massa
atmosfer sampai ketinggian 10 km dari referensi sferoida sebagai berikut
:
dengan 𝑔𝐹𝐴 adalah nilai koreksi Free Air dan h adalah ketinggian titik
ukur (meter)
● Koreksi Topografi
Pada koreksi udara bebas, tidak diperhitungkan massa yang
terletak di antara referensi sferoida dan permukaan topografi. Massa
tersebut sejatinya sangat mempengaruhi harga anomali medan gravitasi.
Jika massa tersebut diperhitungkan maka koreksi terhadap medan
gravitasi normal menjadi lengkap. Koreksi ini disebut sebagai koreksi
topografi atau koreksi Bouguer lengkap.
Anomali medan gravitasi Bouguer lengkap merefleksikan adanya
variasi densitas dalam kerak, dimana koreksi Bouguer dan curvature
adalah fungsi dari ketinggian dan densitas topografi. Sedangkan koreksi
medan (terrain) merupakan fungsi dari topografi sekitar. Koreksi Bouguer
lengkap tidak menghilangkan anomali massa yang terdapat di atas
referensi sferoida. Hal ini disebabkan karena densitas massa yang
digunakan dalam perhitungan Bouguer lengkap adalah densitas rata-rata
dengan menganggap massa topografi bersifat homogen. Seperti halnya
koreksi udara bebas, dengan dilakukan koreksi Bouguer lengkap tidak
berarti secara fisis memindahkan titik-titik observasi ke referensi sferoida.
a. Koreksi Bouguer
Koreksi Bouguer dilakukan untuk mengoreksi pengaruh
massa yang terletak di antara bidang referensi dan ketinggian
topografi. Hal ini dikarenakan pada koreksi udara bebas tidak
memperhitungkan massa tersebut. Ketika variasi ketinggian
disebabkan oleh variasi topografi, sebagai contoh kasus, adanya
tambahan massa bukit diatas bidang datum atau adanya
kekurangan massa akibat adanya lembah di bawah bidang datum.
Sehingga nilai terukur harus dikurangi dengan besarnya gaya
tarikan tersebut.
Koreksi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
berupa benda slab datar yang tak berhingga dengan ketebalan dan
densitas yang seragam. Koreksi ini juga dilakukan tanpa
87
memperhitungkan adanya kelengkungan pada permukaan bumi.
Model koreksi ini dikenal dengan model slab horizontal tak hingga
dengan ketebalan h relatif dari referensi sferoida ke bidang
Bouguer letak titik amat.
𝑔𝐴𝐵𝑆 = 2𝜋𝜌𝐺ℎ
𝑔1 − 𝑔2 = 0.3086ℎ − 4𝐺𝜌ℎ
c) Metode Parasnis
90
d) Metode Nettleton
Densitas batuan rata-rata diukur dengan membuat
lintasan survei gravitasi yang memotong sebuah fitur
topografi. Kemudian melakukan koreksi bouguer dengan
memvariasikan nilai densitas yang dipakai dalam koreksi
bouguer tersebut. Densitas bouguer yang terukur
merupakan densitas pada koreksi bouguer tersebut yang
menghasilkan anomali yang memiliki korelasi paling
minimum dengan fitur topografinya. Nilai densitas yang
didapat merupakan nilai densitas rata-rata batuan dari
seluruh batuan yang berada pada lintasan survei tersebut.
Fitur topografi yang dipilih haruslah fitur topografi
yang mengalami pembalikan ketinggian contohnya bukit
atau lembah. Sebuah lereng sederhana tidak dapat
digunakan. Karena efek terrain disarankan menggunakan
fitur topografi yang landai namun memiliki perbedaan
ketinggian yang signifikan. Bukit atau lembah yang dipilih
tidak boleh berasosiasi dengan fitur geologi dan lintasan
survey berada pada sepanjang strike struktur dan
menghindari penyimpangan terhadap struktur. Nilai
gravitasi dan topografi pada lintasan tersebut harus terukur
secara akurat.
91
Gambar 4.30. Syarat lintasan pada metode Parasnis dan
Nettleton
e) Metode Langsung
Metode langsung mengukur densitas dari sampel
batuan menggunakan timbangan dan volume.
Kekurangannya distribusinya tidak homogen di area
survey, sehingga densitas batuannya tidak
menggambarkan densitas area survei.
b. Koreksi Terrain
Koreksi Bouguer mencakup massa berbentuk lempeng
(slab) horizontal tak hingga. Dalam koreksi Bouguer ini tidak
diperhitungkan atau diabaikannya suatu massa yang hilang di atas
bidang Bouguer yakni keberadaan bukit serta massa di bawah
bidang Bouguer yakni keberadaan lembah. Oleh karena itu harga
koreksi Bouguer selalu lebih besar dari seharusnya. Koreksi ini
diperlukan karena setiap stasiun pengukuran gravitasi memiliki
permukaan yang tidak datar atau memiliki undulasi. Jika titik amat
berada dekat dengan bukit, maka akan terdapat gaya ke atas yang
menarik pegas pada alat pengukuran, sehingga akan mengurangi
nilai medan gravitasi yang terukur, sedangkan jika titik amat
berada dekat dengan lembah, maka akan ada gaya ke bawah yang
hilang sehingga pegas pada alat pengukuran akan tertarik ke atas,
hal ini turut mengurangi nilai medan gravitasi yang terukur.
92
Gambar 4.31. Ilustrasi koreksi terrain terhadap lembah dan
bukit (Reynolds, 1997)
Hammer Chart
94
Reduksi ke bidang datar adalah proses yang digunakan pada data gravitasi
untuk membawa data di topografi ke suatu bidang dengan ketinggian yang sama.
Reduksi ke bidang datar bertujuan untuk mempermudah pemrosesan, interpretasi
dan pemodelan anomali gravitasi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mereduksi data ke bidang datar adalah metode titik massa Dampney, yaitu metode
yang membawa benda anomali gravitasi kedalam suatu bidang titik massa
sehingga dari bidang titik massa tersebut dapat diperoleh data anomali gravitasi
di suatu bidang datar dengan ketinggian yang sama (Cahyo, 2014).
Persamaan anomali gravitasi di suatu titik yang disebabkan oleh bidang
titik massa adalah
95
Gambar 4.33. Anomali lokal dan regional (Muttaqin, 2007)
96
Gambar 4.34. Upward Continuation (Blakely, 1996)
2. Moving Average
Moving Average dilakukan dengan cara merata-ratakan nilai
anomalinya. Hasil dari perata-rataan ini merupakan anomali regionalnya.
Sedangkan anomali residualnya didapatkan dengan mengurangkan data hasil
pengukuran gravitasi dengan anomali regionalnya. Secara matematis
persamaan moving average untuk 1 dimensi adalah sebagai berikut :
𝑁−1
di mana 𝑛 = dan N harus bilangan ganjil. Setelah didapatkan 𝛥𝑇𝑟𝑒𝑔 ,
2
maka harga Δ𝑇 residual dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :
𝛥𝑇𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢𝑎𝑙 = 𝛥𝑇 − 𝛥𝑇𝑟𝑒𝑔
dimana
Persamaan diatas merupakan dasar dari metode ini, dari persamaan tersebut
akan dapat dihitung nilai anomali regional pada sebuah titik penelitian.
Dimana nilai anomali regional pada sebuah titik penelitian, sangat tergantung
pada nilai anomali yang terdapat di sekitar titik penelitian. Sehingga nilai
anomali regional pada sebuah titik merupakan hasil rata-rata dari nilai
anomali-anomali di sekitar daerah penelitian (Suwarno, 2014).
97
V. INTERPRETASI DATA
Dalam menentukan sebuah besaran tertentu dari anomali Bouguer yang telah
diperoleh, perlu adanya proses lanjutan yaitu interpretasi terhadap data tersebut.
Interpretasi gaya berat secara umum dibedakan menjadi dua yaitu interpretasi kualitatif
dan kuantitatif.
A. Interpretasi Kualitatif
Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali medan
gravitasi yang bersumber dari distribusi massa bawah permukaan bumi.
Selanjutnya pola anomali medan gravitasi yang dihasilkan ditafsirkan
berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk distribusi massa atau
struktur geologi, yang dijadikan dasar interpretasi terhadap keadaan geologi yang
sebenarnya.
B. Interpretasi Kuantitatif
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model
dan kedalaman benda anomali atau struktur geologi melalui pemodelan
matematis. Dalam melakukan interpretasi kuantitatif dapat dilakukan dengan
beberapa cara namun tergantung pada bentuk anomali yang diperoleh, sasaran
yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran. Beberapa pemodelan yang biasa
digunakan yaitu pemodelan 2 dimensi, pemodelan 2.5 dimensi dan pemodelan 3
dimensi.
Pemodelan Talwani 2,5 D
Pemodelan Talwani 2,5D adalah pemodelan anomali gravitasi dengan
menggunakan bentuk anomali 2,5D yaitu model 2D dengan penampang
berhingga yang sama pada arah tegak lurus dengan bidang 2Dnya. Model 2,5D
adalah model yang dihasilkan dari pendekatan respon anomali model dengan data
respon anomali lapangan atau yang disebut sebagai pemodelan maju (Forward
Modeling). Sayatan respon anomali dari data lapangan digunakan sebagai acuan
respon anomali model. Dalam pemodelan ini diperlukan penentuan nilai kontras
densitas batuan, panjang strike dari model serta bentuk dari model itu sendiri yang
digunakan untuk mendekati respon anomali lapangan.
Pemodelan 2D ini dibuat berdasarkan prinsip Talwani. Dalam model 2D
yang dikembangkan oleh Talwani, bentuk dari model Talwani dapat diwakili oleh
suatu poligon bersisi n. Pemodelan ke depan untuk menghitung anomali gravitasi
yang dinyatakan sebagai integral garis sepanjang sisi-sisi poligon dinyatakan
Talwani dalam rumusan :
Integral garis tertutup tersebut dapat pula dinyatakan sebagai jumlah integral tiap
garis tiap sisinya, sehingga dapat ditulis sebagai :
98
Model benda anomali sembarang oleh Talwani didekati dengan poligon - poligon
dalam sistem koordinat kartesian
dengan,
99
VI. PENGGUNAAN SOFTWARE DALAM PENGOLAHAN DATA
A. [Link]
1) Buka [Link], sehingga muncul jendela
100
B. Koreksi Terrain
1) Buka Global Mapper, dan akan muncul jendela seperti di bawah ini
2) Kemudian load data DEM yang mencakup area survey dengan klik Open
Data Files. Jika belum tersedia data DEM yang diperlukan, maka dapat
mendownload pada link berikut
[Link]
Akan muncul dialog Select Projection. Data DEM yang didapat dari web
DEMNAS dalam format projection Geographic (Latitude/Longitude)
dan menggunakan datum WGS84. Centang kotak Use Selected
Projection for All Selected Files agar menggunakan pengaturan yang
sama pada semua data DEM yang di impor, dan klik OK.
101
3) Dalam pengolahan ini, sistem koordinat yang akan digunakan untuk
sistem proyeksi peta yaitu UTM, sehingga perlu mengubah koordinat dari
data DEM yang sudah di import dengan menu Tools – Coordinate
Convertor.
102
Akan muncul dialog Configuration – Projection. Pilih kolom
Projection = UTM, Zone = 49 South, dan Datum = WGS84, untuk
mengubah proyeksi menjadi UTM. Klik OK.
5) Kemudian lakukan proses ekspor data DEM, Lokal (inner zone) dan
Regional (outer zone). Pilih File – Export – Export Elevation Grid
Format
Akan muncul dialog Select Export Format, pilih ekspor format Geosoft
Grid File.
6) Pada dialog Geosoft Grid Export Options, pilih tab Export Bounds,
kemudian pilih Current Projection (UTM - meters). Pada batas barat,
utara, timur dan selatan diisi dengan luasan berjarak 5 km dari tepi area
survei untuk Local DEM, sedangkan Regional DEM berjarak 50 km.
*Nilai jarak bersifat tentatif.
103
7) Setelah batas-batas diisi, save potongan Local DEM dan Regional DEM.
Tunggu beberapa saat dalam proses pemotongan dan ekspor data DEM.
8) Buka Oasis Montaj, dan akan muncul jendela seperti di bawah ini.
9) Membuat project baru dengan klik File - Project – New, simpan project
tersebut dengan format .gpf
104
10) Kemudian impor data yang dibutuhkan dalam koreksi Terrain (Titik,
Easting, Northing, Latitude, Longitude, dan Elevasi) dalam format .txt
(Tab Delimited). Pilih Data – Import – Ascii…
11) Pilih data .txt yang akan di import, lalu klik Wizard.
12) Pada dialog Data Import Wizard, pilih tipe data Floating Point untuk
semua data, kecuali String untuk nama Titik
Akan muncul dialog Set current X,Y channels, isi kolom pada kotak
dialog. Current X (Easting) = Easting, Current Y (Northing) =
Northing, dan Current Z (Elevation) = Elevasi. Klik OK.
106
15) Isi kolom pada kotak dialog. Regional DEM dan Local DEM diisi oleh
data potongan DEM yang telah dibuat. Buat file Output (terrain
correction) grid, isi nilai Terrain Density g/cc dengan nilai yang logis,
dan klik Scan XY untuk mengisi Survey minimum dan maksimum XY.
Tunggu beberapa saat.
Akan muncul dialog Terrain correction, isi kolom pada kotak dialog. X
Channel = Easting, Y Channel = Northing, Elevation Channel =
Elevasi, Output Terrain Correction Channel = Terrain, Regional
Correction Grid = “file output Regional Correction Grid”, dan Local
DEM Grid= [Link].
107
17) Nilai koreksi Terrain akan muncul seperti pada gambar di bawah
berikut.
18) Selesai
108
Muncul jendela program “TO PLANE TRANSFORM” seperti pada
gambar berikut.
2) Buka file berformat .txt yang berisikan data easting, northing, elevasi
dan anomali Bouguer lengkap dengan pilih menu Open
3) Pada kolom Grid Size, X spacing diisi nilai spasi antara titik ukur relatif
terhadap sumbu, sedangkan Y spacing diisi spasi antar titik pada sumbu.
Kemudian klik Calculate agar program menghitung nilai equivalent
depth (h) sesuai dengan syarat pada persamaan Dampney dan nilai height
of plane (z) lebih dari titik ukur paling tinggi.
109
Kemudian muncul dua plot yakni anomali Bouguer lengkap dan hasil
reduksi ke bidang datar.
6) Selesai
D. Kontinuasi ke Atas
1) Buka Oasis Montaj dan buat New Project. Kemudian impor data hasil
reduksi ke bidang datar.
110
Akan muncul jendela seperti berikut ini.
3) Kemudian pilih channel untuk di-grid yakni nilai anomali. Namai file
keluaran hasil gridding
111
4) Sebelum proses kontinuasi ke atas, dibuat file preprocessed melalui menu
Interactive Filtering – Prepare Grid. Kita tinggal memilih file masukan
dan mengisi nama file keluaran pada Output Grid File, biarkan parameter
lain sesuai default.
112
6) Kemudian dilakukan proses Radial Average Spectrum dengan memilih
menu Interactive Filtering – Radial Average Spectrum. File masukan
berupa file hasil preprocessed sebelumnya.
8) Akan muncul jendela seperti gambar di bawah ini. Pilih Filter Number
= 1st Filter, Filter Name = Upward Continuation Filter. Lakukan
variasi continuation distance hingga didapat grid hasil ditapis menjadi
lebih smooth agar didapatkan target anomaly residual yang diinginkan.
113
10) Berikut adalah hasil dari proses kontinuasi ke atas.
11) Selesai.
E. Pemisahan Anomali
Pilih menu Grid – Expressions – Substract Grid. First input grid =
“anomali di bidang datar” dan Second input grid to subtract from first =
“hasil kontinuasi ke atas”. Berikut merupakan hasil anomali lokal yang akan
diinterpretasi maupun diolah lebih lanjut.
114
F. Pemodelan
Sebelum melakukan tahap ini ada beberapa data yang perlu disiapkan yakni:
● Peta dan informasi geologi regional, disarankan menggunakan skala
lokal (peta khusus daerah penelitian) sehingga diketahui informasi yang
lebih detail
● Grid Residual (hasil grid proses Upward Continuation pada Oasis
Montaj)
1) Buka file peta residual pada aplikasi Oasis Montaj.
2) Tampilkan menu Gm Sys dengan pilih menu Gx – Load menu –
Gm [Link].
115
3) Buat sayatan dengan pilih menu GM-SYS – New model – From
map profile.
4) Siapkan notepad berisi data Easting (x), Northing (y), dan Elevasi
(z) (sertakan header). Kemudian pilih menu Data - import - ascii
- file notepad (.txt) - OK. Lakukan proses gridding seperti pada
proses sebelumnya untuk didapatkan grid elevasi.
5) Keluar dialog sebagai berikut. Lakukan pengisian data Model
name : nama model yang akan di save, usahakan file oasis 1 folder
dengan file modelnya, Gravity grid : hasil grid anomali , dan
Topography grid* : hasil grid elevasi. *tentatif apabila ingin
menambahkan data elevasi pada model. Proses gridding sebisa
mungkin dilakukan pada software Oasis Montaj.
116
Kemudian akan muncul dialog jendela modelling, tidak perlu
mengisi deklinasi (khusus metode magnetic), lanjut klik OK.
117
dengan kedalaman anomali. Kedalaman anomali dapat diketahui
melalui analisis spectral maupun sayatan geologi daerah survey.
10) Pada kolom atas, grafik hitam merupakan grafik perhitungan dan
grafik merah merupakan grafik model. Dalam proses pemodelan
ini dapat mengacu pada korelasi grafik merah dengan grafik hitam
yang kurang lebih harus serupa. Buat lapisan infinite pada menu
view – infinity.
11) Tampilan model dapat di set menjadi full view maupun infinity.
Tampilan di set infinity terlebih dahulu. Untuk menetapkan skala
dapat dilakukan dengan cara view – edit view - klik edit - isi
model z dengan interval minimal maximal yang sesuai.
13) Buat titik acuan sebagai ujung garis batas lapisan. Klik tanda (+)
pada toolbar action untuk menambahkan titik. Titik hanya
bisa di plot sepanjang garis vertikal model (lingkaran hijau).
Berikut hasil plot titik tersebut.
14) Hubungkan antar titik sehingga terbentuk blok baru. Klik split
blok – klik 1x di titik awal – drag – klik 1x di titik akhir –
accept new blok.
119
16) Pemodelan dilakukan hingga menyentuh bidang lapisan
topografi permukaan (lingkaran merah).
17) Pembuatan titik dilakukan pada bidang infinite yang telah dibuat
sebelumnya seperti yang ditunjukkan lingkaran merah.
18) Titik dapat diubah arah polanya sesuai dengan geometri yang ada
dengan men-drag titik menuju letak yang diinginkan. Pada toolbar
action, klik move point – diatur sedemikian hingga membentuk
pola yang diinginkan. Sebagai contoh pola seperti pada gambar
dibawah ini.
120
19) Untuk membuat lapisan/blok baru dapat dilakukan dengan split
point seperti pada step sebelumnya. Klik split blok – klik 1x di
titik awal – drag – klik 1x di titik akhir – accept new blok.
121
BAB V
METODE IP
1. PENDAHULUAN
Metode IP (induced polarization) merupakan pengembangan metode geolistrik
resistivitas. Metode ini mendeteksi kemampuan batuan untuk menyimpan tegangan listrik akibat
terjadinya fenomena polarisasi atau pengkutuban yang terjadi di mineral logam dan lempung.
Metode IP merupakan metode aktif, dengan menginjeksikan arus listrik ke bawah
permukaan bumi. Ketika arus diinjeksikan terus menerus, secara teori tegangan yang terukur
akan cenderung konstan dan ketika arus dimatikan, idealnya tegangan langsung berubah
menjadi nol atau hilang. Tapi pada medium medium tertentu, tegangan dapat tersimpan, dan
akan dilepaskan kembali. Jadi walaupun arus sudah dimatikan, tetapi beda tegangan akan
meluruh terlebih dahulu terhadap waktu dan secara bertahap menghilang. Efek inilah yang
dinamakan efek Polarisasi IP. Polarisasi ini dapat terjadi karena adanya beberapa sumber yang
memberikan pengaruh IP, yang berupa polarisasi membran dan polarisasi elektroda.
Pengukuran metode IP pada umumnya memiliki konfigurasi yang sama dengan metode
resistivitas, yaitu menggunakan konfigurasi dipole - dipole. Sehingga pada proses
pengukurannya dilakukan secara bersamaan. Metode resistivitas akan menghasilkan data
resistivitas, sedangkan metode IP akan menghasilkan data chargeabilitas.
Pada kegiatan Kuliah Lapangan Non – Seismik 2022, metode IP dipilih karena di wilayah
Kecamatan Kasihan, Kabupaten Pacitan, terdapat potensi mineralisasi. Sehingga diharapkan
praktikan dapat belajar mengenai metode IP yang dapat mendeteksi adanya mineralisasi di suatu
daerah yang letaknya tersebar dan tak teratur.
2. DASAR TEORI
I. Resistivity
A. Hukum Ohm
Konsep dasar dari metode resistivitas adalah Hukum Ohm. Hukum Ohm
menyatakan hubungan antara tegangan (V) pada penghantar dan arus (I) yang melalui
penghantar tersebut. Parameter hubungan itu disebut dengan Resistansi, yang
didefinisikan sebagai hasil bagi tegangan (V) dan arus (I), yang dituliskan :
𝑉
𝑅 = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑉 = 𝐼𝑅 (1)
𝐼
Dengan R adalah resistansi bahan (Ohm), I adalah kuat arus (ampere) dan V adalah
besar tegangan (volt).
R merupakan konstanta (tetapan). Dengan mengasumsikan arus listrik mengalir
pada bangun silinder sederhana (Gambar 2.1).
122
Hukum Ohm menyatakan bahwa beda potensial antara ujung ujung silinder sama
dengan hasil kali resistansi dan kuat arus. Nilai R (resistansi) dapat didefinisikan
sebagai tahanan jenis atau resistivitas (ρ), dengan persamaan :
𝐿
𝑅 = 𝜌 (2)
𝐴
Dengan ρ adalah panjang tahanan jenis (Ohm.m), L adalah panjang resistansi (m),
dan A adalah luasan dari resistansi (m^2).
123
Gambar 5.2. Penjalaran arus listrik pada bumi homogen dan isotrop (Telford et. Al,
1990)
𝐿
𝑉 =𝐼𝜌 (3)
𝐴
Dengan V (volt) dan I (ampere) adalah potensial dan arus yang diinjeksikan
elektroda, ρ (Ohm.m) adalah resistivitas material. Kemudian karena arus menjalar
menyebar ke segala arah membentuk permukaan ekuipotensial berupa bola, L (m)
didefinisikan sebagai jari jari dari bola ekuipotensial, dan A (m^2) adalah luasan bola
ekuipotensial. Pada saat pengukuran di lapangan, elektroda yang menginjeksikan
arus ke dalam bumi terletak di permukaan bumi, dapat diasumsikan bagian diatas
permukaan bumi (udara) memiliki nilai konduktivitas nol, sehingga arus listrik hanya
akan menjalar ke dalam bumi, seperti pada Gambar 5.2. Dari hal itu dapat
didefinisikan A adalah luasan setengah bola, yaitu :
𝐴 = 2𝜋𝑟 2 (4)
Dengan r (m) adalah jari jari bola ekuipotensialnya. Merujuk pada persamaan 1 dan
persamaan 2, kemudian dengan mengganti L sebagai r yaitu jari jari bola
ekuipotensial, maka :
1
𝑉 = 𝐼 𝜌𝑎 (5)
2𝜋𝑟
Dengan r (m) adalah jarak titik arus dengan titik yang akan diukur besar potensialnya
dan ρa merupakan resistivitas semu. Resistivitas semu tidak secara langsung
menunjukkan nilai resistivitas dari suatu medium, namun mencerminkan distribusi
nilai resistivitas pada medium tersebut. Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya
124
bumi merupakan medium yang tidak homogen dan terdiri dari banyak lapisan dengan
resistivitas yang berbeda beda.
D. Konfigurasi Dipole-dipole
Konfigurasi Dipole-dipole adalah salah satu konfigurasi yang digunakan dalam
survei geolistrik. Metode ini menggunakan empat buah elektroda, dua buah elektroda
arus dan dua buah elektroda beda potensial. Arus akan diinjeksikan melalui elektroda
arus (C1 dan C2) sedangkan pengukuran tegangan diukur melalui elektroda potensial
(P1 dan P2), dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Arus pada kedua elektroda (C1 dan C2) memiliki besar yang sama tetapi arahnya
berlawanan. Merujuk pada persamaan 5, tegangan yang terukur pada potensial P1
dan P2 berturut turut adalah :
𝐼𝜌𝑎 1 1
𝑉𝑝1 = (𝑟 − 𝑟 ) (6)
2𝜋 1 2
𝐼𝜌𝑎 1 1
𝑉𝑝2 = (𝑟 − 𝑟 ) (7)
2𝜋 3 4
Berdasarkan gambar 4, dapat diketahui jarak dari r1, r2, r3, dan r4 yang terdiri dari
variabel n dan a, sehingga persamaan 6 dan persamaan 7 dapat diubah menjadi
sebagai berikut :
𝐼𝜌𝑎 1 1 𝐼𝜌𝑎 𝑎
𝑉𝑝1 = (𝑛𝑎 − 𝑎 + 𝑛𝑎) = (𝑛𝑎(𝑎 + 𝑛𝑎)) (8)
2𝜋 2𝜋
𝐼𝜌𝑎 1 1 𝐼𝜌𝑎 𝑎
𝑉𝑝2 = (𝑎 + 𝑛𝑎 − 2𝑎 + 𝑛𝑎) = ((𝑎 + 𝑛𝑎)(2𝑎 + 𝑛𝑎)) (9)
2𝜋 2𝜋
𝐼𝜌𝑎 𝑎 𝑎
𝛥𝑉 = 𝑉𝑝1 − 𝑉𝑝2 = (𝑛𝑎(𝑎 + 𝑛𝑎) − (𝑎 + 𝑛𝑎)(2𝑎 + 𝑛𝑎)) (10)
2𝜋
𝐼𝜌𝑎 2
𝛥𝑉 = (
2𝜋 𝑛𝑎(1 + 𝑛)(2 + 𝑛)
) (11)
125
Pada saat akuisisi data, yang terukur secara langsung adalah nilai beda potensial(∆V)
dan arus yang menjalar pada bumi (I), sedangkan yang dicari adalah resistivitas semu
(ρa), sehingga persamaan 11 bentuknya dapat dirubah menjadi :
𝛥𝑉
𝜌𝑎 = 𝜋𝑛(1 + 𝑛)(2 + 𝑛)𝑎 (12)
𝐼
Gambar 5.4. Ilustrasi kedalaman data yang didapat pada akuisisi dipole-dipole
(Abdila, 2018)
126
E. Kedalaman Penetrasi
Kedalaman maksimum titik pengukuran pada metode geolistrik dengan konfigurasi
dipole-dipole dipengaruhi oleh besarnya nilai a (jarak spasi antar elektroda arus dan
elektroda potensial), dan n (bilangan pengali atau rasio jarak elekroda arus dan
elektroda potensial yang paling dekat). Semakin banyak n yang digunakan maka
kedalaman maksimum yang dicapai akan semakin dalam. nilai n berefek langsung
terhadap lapisan titik pengukuran yang dapat dicapai (gambar 5). Kemudian, semakin
besar a maka semakin dalam juga kedalaman maksimum yang bisa dicapai, namun
semakin besar nilai a, akan memperburuk resolusi data yang didapatkan. Untuk
mengetahui kedalaman maksimumnya dapat ditentukan dengan cara berikut :
● Cara Kondisi Ideal Sederhana
Pada kondisi material yang Ideal, yaitu homogen dan isotrop. Titik kedalaman
dapat dicari dengan rumus Z pada Gambar 5.5. Dengan X adalah spasi antar
elektroda (a) dan n adalah faktor pengali. Jika ingin mencari kedalaman
maksimum, masukkan nilai n maksimum pada desain survey.
128
● Konduktivitas Dielektrik
Konduksi pada batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran listrik,
artinya batuan atau mineral memiliki elektron bebas yang sedikit, bahkan tidak
ada sama sekali, tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar maka
elektron dalam bahan berpindah dan berkumpul terpisah dari inti, sehingga
terjadi polarisasi.
129
Gambar 5.6. Ilustrasi Polarisasi Elektroda (Telford, 1990)
● Polarisasi Membran
Polarisasi membran terjadi pada batuan sedimen yang tidak memiliki
kandungan logam. Pada proses polarisasi membran ini akan terjadi reaksi kimia
antara arus listrik injeksi dan mineral sedimen. Polarisasi membran dapat
disebabkan oleh pori-pori batuan yang menyempit, dan keberadaan mineral
lempung (clay). Pada pori yang sempit, ion positif akan terkumpul mendominasi
pori tersebut, karena batuan disekitarnya adalah mineral sedimen yang biasanya
bermuatan negatif. Keberadaan ion positif dalam pori ini akan menghalangi
jalannya arus. Polarisasi akan terjadi pada pori sempit ini dimana ion negatif akan
terkutub di pori sempit batuan, dan terukur. Ketika arus dimatikan,
ketidakseimbangan muatan ini akan kembali normal, pada Gambar 5.7.
130
Gambar 5.7. Ilustrasi polarisasi pori sempit batuan
Selain itu, efek polarisasi juga dapat terjadi pada pori-pori batuan yang
mengandung mineral lempung yang mengalami kontak dengan larutan (fluida).
Karena mineral lempung mengandung muatannya negatif, mineral lempung akan
mampu menarik ion-ion positif di sekitar permukaannya dan meluas pada
elektrolit (Fluida yang berada di dalam pori). Penumpukan muatan ini akan
menghambat jalannya arus listrik yang melaluinya sehingga terjadilah hambatan
di sepanjang pori-pori batuan yang mengandung mineral lempung. Dengan
terbentuknya hambatan-hambatan berupa membran membran,maka mobilitas ion
akan berkurang sehingga terbentuklah gradien konsentrasi ion-ion yang
menentang arus listrik yang melaluinya. Gejala ini menunjukkan adanya
polarisasi. Pengurangan mobilitas ion ini akan terlihat jika mengalirkan arus
dalam frekuensi rendah. Hal ini yang kemudian mendasari perhitungan beda
tegangan dalam domain frekuensi.
Gambar 5.9. Grafik peluruhan tegangan terhadap waktu ketika arus dimatikan
(Telford, 1990)
Oleh karena itu, chargeabilitas juga dapat ditinjau dengan menerapkan konsep
integral terhadap nilai tegangan setelah arus dimatikan. Akan didapat
chargeabilitas semu (apparent chargeability) dalam orde waktu milisekon.
1 𝑡2 𝐴
𝑚 = ∫𝑡1 𝑉𝑠 (𝑡) 𝑑𝑡 = (15)
𝑉𝑝 𝑉𝑝
Dengan Vs adalah potensial terukur setelah arus dimatikan pada waktu t1 hingga
t2 sedangkan Vp adalah potensial awal ketika arus diinjeksikan. Nilai
chargeabilitas akan menunjukkan lama tidaknya efek polarisasi untuk
menghilang sesaat setelah arus dimatikan. Sehingga jika nilai chargeabilitas
besar, maka waktu meluruhnya lama, dan mengindikasikan keberadaan mineral
konduktif.
132
● Metode Domain Frekuensi
Prinsip teknik pengukuran kawasan frekuensi memanfaatkan arus bolak balik
dengan dua frekuensi yang berbeda atau lebih pada waktu tertentu (rendah dan
tinggi, biasanya digunakan 0.1 dan 5 Hz, atau 0.3 Hz dan 2.5 Hz). Kemudian
dilihat bagaimana respon yang diberikan oleh batuannya, dengan
mentransformasi fourier nilai IP domain waktu menjadi nilai IP dalam domain
frekuensi. Tegangan yang dihasilkan dari peristiwa ini menggambarkan sifat
polarisasi suatu medium. Jika pada batuan tidak terdapat mineral konduktif, maka
nilai resistivitas akan sama pada setiap frekuensi. Namun jika terdapat mineral
konduktif, maka nilai resistivitas yang terukur pada frekuensi tinggi akan lebih
rendah dibanding frekuensi rendah. Beberapa parameter yang diukur adalah
sebagai berikut :
➔ Frequency Effect (FE)
Frequency Effect adalah respon keberadaan mineral yang terdapat pada pori-
pori batuan. Diperoleh dari perbandingan selisih tegangan frekuensi rendah
dan tinggi terhadap tegangan terdeteksi pada dua elektroda potensial dan
diekspresikan sebagai :
Dimana V_low dan V_high adalah tegangan pada frekuensi rendah dan
tinggi, sedangkan ρ_low dan ρ_high adalah resistivitas semu pada frekuensi
rendah dan tinggi. Dapat dicari nilai presentasenya yaitu :
(𝑃𝐹𝐸)
𝑀𝐹 = 2𝜋103 (18)
𝜌𝑙𝑜𝑤
133
D. Sumber Noise
● Potensial Diri (Self Potential)
Efek polarisasi disebabkan elektroda yang digunakan, terutama jika elektroda
adalah besi. Sebaiknya dihindari penggunaan elektroda besi dan diganti dengan
porous pot, atau dengan mengganti arus DC menjadi arus AC. Efek ini dapat
dihilangkan dengan SP Kompensator atau dengan mengurangi nilai beda
potensial terukur dengan nilai sp terukur pertama kali.
● Capacitive Couple
Karena adanya kebocoran arus antara elektroda dan kabel potensial, atau antara
kabel arus dan kabel potensial. Dilakukan pengecekan peralatan dahulu guna
mengantisipasi hal tersebut.
● Electromagnetic Couple
Karena induksi antara arus dan kabel potensial. Hal ini beresiko pada bentangan
survei dengan kabel yang panjang.
● Tanah Kering
Keringnya tanah mampu menghambat proses penghantaran arus dan proses
elektrolisis.
● Power Line
Jaringan Pipa dan struktur bangunan yang akan menghasilkan anomali IP baru
dan menghilangkan nilai arus sebenarnya.
● Syscal jr ● Multimeter
● Aki 12 V ● Larutan CuSo4
● Elektroda minimal 2 buah ● Parang
● Porous Pot minimal 9 buah ● Palu
● Kabel ● Cangkul
● Konektor (capit buaya) ● Meteran
● Peta (RBI, topografi, geologi) ● Kompas
● Logsheet ● Ponco
● Klinometer
● Buku Manual
134
Spesifikasi Umum
II. Informasi Instrumen
· Berat : 13,8 kg
· Dimensi : 31 x 23 x38 cm
· Operating temperature: -20 to +70 °C
Spesifikasi arus keluaran :
· Automatic Ranging ( dikontrol sebuah
mikroprosesor)
· Intensitas. : sampai dengan 1250 mA
· Tegangan : hingga 400 V (800 V puncak
Gambar [Link] Jr dan ke puncak)
spesifikasinya · Daya : hingga 200 W
· Waktu siklus dipilih dari : 0.25, 0.5, 1, 2,
· Kompensasi SP melalui koreksi
4, atau 8 s
penyimpangan (drift) secara linear
· Reduksi noise : stacking kontinyu terpilih
· Power supply : two internal rechargable
dari 1 hingga 255 stacks
12 V/ 7.2 Ah batteries
135
III. Flowchart Pengolahan
136
IV. Langkah Kerja
P1 : H (Hitam)
P2 : M (Merah)
P3 : K (Kuning)
P4 : B (Biru)
P6 : B (Biru)
P7 : K (Kuning)
P8 : M (Merah)
P9 : H (Hitam)
137
P5 atau yang dekat dengan operator hanya perlu disambung dengan kabel
penghubung yang pendek (capit buaya).
3. Pastikan elektroda, porous pot, dan kabel sudah terpasang dengan benar.
Lakukan pengecekan sambungan kabel. Bisa dengan menggunakan
fungsi RS CHECK untuk mengecek sambungan elektroda arus dan
MONITOR untuk mengecek sambungan porous pot pada instrumen
Syscal. Pengecekan juga dapat dilakukan menggunakan multimeter.
4. Apabila alat sudah terpasang semua dan tersambung dengan baik, lakukan
pengukuran resistivitas dan chargeabilitas sesuai konfigurasi.
5. Untuk memindahkan porous pot sesuai konfigurasi, hanya perlu
mengganti warna kabel yang masuk ke alat sesuai dengan warna yang
tersambung dengan porous pot.
6. Apabila pengukuran sudah selesai hingga n=8, semua kabel dan alat
ditarik ke arah pergeseran lintasan sejauh a dan dilakukan pengukuran
lagi.
138
B. Prosedur Pengukuran Beda Tinggi Menggunakan Klinometer
Klinometer merupakan alat sederhana yang digunakan untuk mengukur sudut
elevasi yang dibentuk antara garis datar dengan sebuah garis yang menghubungkan
sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung) suatu objek. Pada
terapannya, alat ini dapat digunakan pada pekerjaan pengukuran tinggi (atau
panjang) suatu objek dengan memanfaatkan sudut elevasi.
Penggunaan klinometer dilakukan dengan 2 orang mengikuti langkah sebagai
berikut :
1. Lakukan kalibrasi bidikan klinometer dengan pasangan anda. Kalibrasi
ini dilakukan dengan cara anda dan teman anda berdiri pada satu
permukaan datar dan bidik klinometer pada 0 derajat. Amati letak
jatuhnya garis bidikan klinometer pada pasangan yang anda bidik. Jika
anda dan pasangan anda memiliki tinggi badan yang sama, garis bidikan
klinometer seharusnya jatuh pada mata pasangan anda, jika tidak maka
dapat menyesuaikan.
2. Berdirilah di titik yang akan dilakukan pengukuran, yaitu mulai dari titik
elektroda arus pertama (C1). Catat nilai elevasi titik C1 yang didapatkan
dari GPS Handheld sebagai acuan titik pertama.
3. Arahkan pandangan satu mata anda ke mata teman anda yang berdiri pada
titik selanjutnya (C2), atau ke bagian lainnya yang dirasa sejajar
ketinggiannya dengan mata anda lalu baca angka di sebelah kiri di dalam
klinometer dengan satu mata lainnya.
4. Membidik teman anda dilakukan agar bidikan anda sejajar dengan
permukaan tanah. Apabila anda membidik permukaan tanah langsung
saat topografi naik maka hasil bidikan anda akan lebih landai atau apabila
139
5. saat topografi turun, bidikan anda akan lebih curam. Sehingga tidak
menggambarkan sudut elevasi sebenarnya.
6. Apabila untuk membidik titik selanjutnya terhalang topografi tinggi atau
bentukan bukit, maka anda diperbolehkan membidik dahulu bagian atas
bukit tersebut, kemudian dari atas bukit baru diteruskan membidik titik
anda sebenarnya.
7. Catat nilai yang terbaca pada klinometer. Nilai positif untuk topografi
naik dan nilai negatif untuk topografi turun.
8. Ulangi pengukuran beda tinggi untuk setiap posisi elektroda selanjutnya
atau setiap jarak a.
1. BATT
Tombol ini berfungsi untuk menampilkan voltase baterai (aki) yang kita
miliki. Pengecekkan baterai aki dilakukan berulang untuk selalu
mengetahui [Link] Syscal apabila menekan tombol Batt akan
menunjukan tampilan sebagai berikut :
Tampilan tersebut menunjukan kapasitas Aki yang kita miliki masih Full.
Apabila terdapat tampilan berikut
140
Voltase Aki kita terlampau sedikit sehingga harus menggantikan dengan
Aki yang lain untuk syscal, voltase aki yang dapat digunakan adalah 12,7
V – 100 % dan apabila voltase aki sebesar 10 V – 0 % maka aki tidak
dapat digunakan
2. RS CHECK
Kegunaan dari tombol RS CHECK adalah untuk melakukan pengecekan
antara elektroda arus dengan kontak tanah, apabila elektroda arus dengan
kontak tanah terdapat pembacaan 1 kohm maka sambungan/kontak
dengan ground tidak terlalu baik. pembacaan bagus berkisar kurang dari
0,3 kohm.
3. MODE
Pada pilihan mode, anda dapat mengatur pilihan mode pengukuran yang
dapat dilakukan, terdapat 3 mode dalam pemilihan syscal ini yaitu Rho,
RHO IP, Multi Electrode.
4. E. ARRAY
Tombol E. ARRAY memiliki kegunaan yaitu memilih konfigurasi yang
akan kita gunakan. Pada syscal konfigurasi yang tersedia adalah
5. SPACING
Apabila dalam penggunaan syscal memilih electrode array, maka
selanjutnya adalah menentukan geometri parameter yang
digunakan. Berikut merupakan parameter geometri di setiap
konfigurasi :
141
Dipole-dipole
Keterangan :
XC = jarak dari 0 sampai
electrode B
XP = jarak dari 0 sampai
electrode M
D = Spasi yang digunakan
6. MONITOR
Kegunaan dari tombol Monitor adalah untuk melakukan
pengecekan elektroda potential terhadap noise. Dimana
pengecekan ini bertujuan untuk melihat nilai potensial yang
terbaca pada saat sebelum diinjeksikan arus. Pada syscal setelah
menekan tombol Monitor akan muncul tampilan:
Keterangan :
v = voltase yang terbaca
dalam mV
i = arus yang terukur dalam
mA
143
Apabila ditekan tombol ENTER lagi akan muncul tampilan :
3. PENGOLAHAN DATA
I. Software Digunakan
Pengolahan data IP dapat dilakukan dengan banyak software, namun dalam
bahasan kali ini akan lebih difokuskan pada empat software saja yaitu Ms Excel,
Res2Dinv, Surfer, dan Geosoft Oasis Montaj. Software Ms Excel digunakan untuk
menghitung beberapa parameter yang tertera di logsheet. Setelah itu hasil hitungan Ms
Excel akan diinput ke dalam software Res2dinv untuk menampilkan pseudosection
resistivitas dan chargeabilitas dari data masing-masing lintasan akuisisi. Agar lebih
146
mudah dalam proses interpretasi maka dibutuhkan software Surfer dan Geosoft Oasis
Montaj untuk menampilkan cross-section hasil pengolahan masing-masing data lintasan
akuisisi pada software Res2dinv. Geosoft Oasis Montaj digunakan untuk memodelkan
penampang secara 3 Dimensi dari nilai resistivitas dan chargeabilitas dari beberapa
lintasan akuisisi.
B. Pengolahan Excel
Tabel 4.2. Tabel Pengolahan Data
147
E. Format Notepad
Tabel 5. Format penulisan data di Notepad
Pada gambar di atas dilakukan 5 kali iterasi. Terdapat tiga model, model yang
paling atas adalah Measured Model atau model yang terukur di lapangan, di
148
bawah nya ada calculated model yaitu model yang terhitung, kemudian model
yang paling bawah adalah model resistivitas nya.
3. Melihat hasil inversi dengan cara klik pada menu display - > show inversion
result. Menu ini akan menampilkan beberapa informasi data kita seperti nama
lintasan, spasi, jumlah data, RMS Error, dll. Kemudian untuk menampilkan hasil
inversi pilih menu display sections -> choose resistivity or IP display. Kemudian
akan muncul tiga pilihan, yaitu untuk menampilkan hasil resistivity saja,hasil IP
saja, atau hasil kedua nya. Untuk menampilkan hasil kedua nya (resistivity dan
IP) klik menu display resistivity dan IP models lalu OK. Kemudian klik display
sections -> display data and model section. Akan muncul kolom jumlah iterasi,
diisi sesuai kebutuhan (misalnya 5 kali iterasi) OK, lalu muncul kolom Select
Type of Contour Intervals untuk nilai resistivity, pilih logarithmic, OK, lalu
kolom yang sama untuk IP dan pilih linear lalu OK. Maka akan muncul tampilan
seperti berikut :
Gambar 4.6. Model hasil inversi dengan lima kali iterasi, ada dua model.
Model yang di atas adalah model resistivitas dengan interval kontur nya secara
logaritmik, yang dibawah adalah model IP dengan tipe interval kontur nya secara
linear.
149
Gambar 4.7. Pengaturan Parameter Damping Factor
Setelah itu pilih optimise damping factor. Bisa juga mengatur vertical/horizontal
flatness filter ratio untuk mempertajam arah anomaly, apabila anomali
memanjang vertikal maka rationya dapat ditingkatkan dan juga sebaliknya.
150
6. Mengatur jumlah iterasi akan berpengaruh pada RMS error. Nilai RMS error
yang semakin kecil menandakan model yang didapatkan semakin sesuai dengan
model di lapangan. Merubah jumlah iterasi akan merubah nilai RMS error juga,
dalam beberapa kasus jika jumlah iterasi diubah, nilai RMS error akan semakin
membesar. Kemudian apabila iterasi sudah diatur jumlah nya sedemikian rupa
tetapi RMS error masih menunjukkan angka yang besar, maka bisa dilakukan
langkah menghapus bad datum yaitu pilih menu edit -> exterminate bad datums
maka akan muncul seperti berikut :
Datum yang dihapus adalah yang nilai nya jauh berbeda dari data di sekitarnya
(kiri,kanan,atas,bawah). Cara menghapus nya adalah cukup dengan mengklik
datum yang ingin dihapus kemudian datum tersebut akan berwarna merah.
Setelah selesai, klik exit dan save data dalam format .dat kemudian data yang
telah diedit tadi ditampilkan lagi. Tetapi perlu diingat, langkah ini dilakukan jika
hanya benar benar dibutuhkan, karena data yang dihapus tadi nilai nya aka benar
benar hilang, sehingga interpolasi data nya akan semakin besar.
7. Menampilkan data sesuai topografi, yaitu pada menu Display Sections -> Include
Topography in model display. Hasil nya seperti berikut :
151
Gambar 4.9. Gambar tampilan model resistivitas dan IP yang telah sesuai
topografi
Jika skala yang digunakan terlalu besar, sehingga kedua model tidak muat di
layar, langkah yang dilakukan adalah mengedit skala vertikal nya pada menu
change display setting -> vertical display scaling factor kemudian angka nya
dikecilkan sampai kedua model penampang bisa ditampilkan di layar.
4. INTERPRETASI DATA
Interpretasi adalah deduksi teoritis dari suatu hasil setelah menjalani pengolahan data.
Interpretasi dimaksudkan untuk memperoleh indikasi adanya kepentingan di bawah permukaan
yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada metode IP ini interpretasi dilakukan dengan
memeriksa karakteristik atau tren nilai resistivitas dan kapasitas pengisian atau efek IP dari hasil
pemodelan bawah permukaan. Model ini diperoleh dengan cara membalik nilai data
geoelektronika yang telah diolah oleh software sehingga model ini akan menggambarkan kondisi
bawah permukaan sesuai dengan nilai getaility (domain) time) atau persentase efek frekuensi
(frequency domain). Model penampang ini akan mewakili litologi di daerah tersebut yang
kemudian akan dikorelasikan dengan nilai referensi. Nilai referensi meliputi nilai resistivitas
dan elektrokimia untuk aturan dan mineral secara umum berdasarkan penelitian para ahli.
Selain itu data pendukung seperti peta geologi juga digunakan untuk memperkuat
pertimangan interpretatif. Penentuan kontinuitas dan persistensi minat dapat ditunjukkan pada
profil anomali dan grafik kedalaman semu yang diperoleh selama pemrosesan. Kemudian perlu
diperhatikan ahwa nilai resistivitas dapat dipengaruhi oleh material aturan terhadap arus
permeabilitas dan porositas. Sementara itu nilai kapasitas muatan dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut:
1. Partikel yang tersebar (disseminated) - berpengaruh lebih besar terhadap IP effect karena
mineral yang tersebar lebih mudah terpolarisasi akibat arus yang melewatinya
152
2. Komposisi mineral logam dari matriks batuan - Batuan yang memiliki mineral logam
lebih banyak akan memiliki chargeabilitas yang lebih tinggi akibat perpindahan elektron
yang terjadi di dalam tubuh batuan.
3. Porositas - IP effect akan meningkat seiring dengan berkurangnya porositas.
4. Kandungan Air - Ketika kandungan air dalam struktur pori menurun, maka IP effect akan
meningkat.
5. Kandungan clay - Clay akan menghasilkan chargeabilitas yang tinggi.
Tabel 5.1. Nilai Resistivitas mineral dan batuan (Telford et al, 1976)
Material Resistivity (Ωm)
Argillites 10 - 800
Limestones 50 – 107
Marls 3 - 70
Clays 1 - 100
Tabel 5.2. Nilai Chargeabilias mineral dan batuan (Telford et al, 1990)
Material Chargeability (msec)
Shale 50 - 100
Granite, Granodiorite 10 - 50
153
Limestone, Dolomite 10 - 20
Ground water 0
Alluvium 1-4
Gravels 3-9
154
BAB VI
METODE MAGNETIK
A. PENDAHULUAN
Setiap benda bermassa di alam semesta disusun oleh atom-atom. Masing- masing
atom memiliki elektron-elektron yang bergerak mengelilingi inti yang berupa proton dan
dapat menghasilkan sifat kemagnetan. Ketika gerakan sepasang elektron mengelilingi (atau
spin) inti saling bertolak belakang, maka akan didapatkan sifat diamagnetik, di mana
kemagnetan saling menghilangkan. Namun ketika elektron- elektron memiliki
kecenderungan spin lebih besar ke satu arah, dapat timbul sifat kemagnetan pada benda
sehingga benda dapat bersifat paramagnetik atau feromagnetik.
Konsep kemagnetan dapat dimanfaatkan dalam bidang ilmu geofisika. Hal ini
berkaitan dengan sifat fisis objek geofisika, salah satunya adalah batuan. Batuan
tersusun dari mineral-mineral dengan karakter fisis yang beragam, dalam hal ini
kemagnetan menjadi salah satunya. Inilah yang dimanfaatkan untuk mengetahui
keberadaan kontras kemagnetan batuan di suatu wilayah dengan cara mengukurintensitas
magnetisasi. Dalam geofisika, kegiatan ini disebut sebagai metode magnetik. Metode
magnetik seringkali digunakan dalam studi pendahuluan eksplorasi sumber daya alam.
Sebab, metode magnetik bersifat non-destruktif, murah, dan dinilai baik untuk
mengidentifikasi anomali kemagnetan secara regional maupun lokal sebagai
dasar perencanaan eksplorasi lanjutan.
Kuliah Lapangan Nonseismik 2023 yang diadakan oleh Program Studi Geofisika
UGM mengangkat tema yaitu “Drawing Perfection Geophysics Exploration in Pacitan,
East Java” dengan metode magnetik sebagai salah satu metode yang digunakan untuk
mengetahui potensi mineral di wilayah Pacitan. Harapannya, para peserta dapat belajar
lebih dalam tentang geofisika melalui akuisisi maupun pengolahan berbagai metode
sekaligus berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, khususnya potensi mineral dan
kebencanaan di daerah Pacitan.
Gambar 6.1 Ilustrasi gaya tarik menarik dan tolak menolak yang dihasilkan antara
dua kutub magnet menurut hukum Coulomb.
Gaya magnetik merupakan gaya yang timbul dari hubungan antara dua kutub
magnetik pada jarak tertentu. Gaya tarik menarik terjadi antara kutub magnet yang
155
berlawanan dan gaya tolak menolak terjadi pada kutub yang sejenis. Gaya tersebut
sebanding dengan hasil kali muatan kutub dan berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak antar kutub (Hinze dkk, 2013). Hubungan antara gaya dan kutub magnet
pertama kali diteliti secara eksperimental oleh Coulomb pada akhir abad kedelapan
belas.
(6.1)
dengan FM adalah gaya pada p1 dan p2 dalam satuan newton (N), p1 dan p2 adalah
kutub magnet dengan muatan sebesar p dalam satuan ampere meter (Am), 𝒓 adalah
jarak antara kedua kutub dalam satuan meter (m), dan 𝜇0 adalah permeabilitas
magnetik padaruang hampa dalam satuan newton per meter kuadrat (Nm-2).
(6.2)
dengan H adalah kuat medan magnetik dalam satuan ampere per meter (Am-
1
). FM adalah gaya magnet pada p1 dan p2 dalam satuan newton (N). p1 dan
p2 adalah kutub magnet dalam satuan ampere meter (Am), 𝒓 adalah jarak
antara kedua kutub dalam satuan meter (m), dan 𝜇0 adalah permeabilitas
magnetik pada ruang hampa dalam satuan newton per meter kuadrat (Nm-2).
Medan magnet dapat direpresentasikan secara visual oleh garis imajiner yang
ditarik di sekitar magnet atau objek yang dimagnetisasi. Garis-garis ini dikenal
sebagai garis medan magnet atau garis gaya magnet.
156
Gambar 6.2 Ilustrasi garis gaya magnet pada magnet batang
Gambar 6.3 (a) Keadaan awal sampel tidak memiliki medan magnet. Tidak
ada medan luar. (b) Momen magnetik berorientasi secara acak. (c) Ketika ada
medan magnet luar H, momen magnetik akan sejajar dengannya. (d)
Keadaan akhir sampelyaitu sampel memiliki medan magnet (medan magnet
sekunder).
Suatu benda magnet yang berada pada medan magnet luar (H) akan
termagnetisasi dikarenakan adanya proses induksi magnet (Telford dkk,
1990). Ketika tidak ada medan magnet luar, momen magnetik dalam suatu
volume umumnya tidak teratur sehingga tidak menghasilkan medan magnet.
Namun, ketika material dikenai medan magnet luar, momen magnetik akan
mencoba untuk kembali mengorientasikandiri di sepanjang arah medan. Hal
tersebut mengakibatkan terjadinya magnetisasi yang menghasilkan medan
magnet sekunder.
(6.3)
dengan M adalah intensitas magnet dalam satuan ampere per meter
157
(Am-1), H adalah kuat medan magnet dalam satuan ampere per meter (Am-1),
dan k adalah nilai suseptibilitas.
158
d. Induksi Magnetik (B)
Induksi magnetik adalah medan magnet total yang dihasilkan dari
penjumlahan antara medan magnetik benda (M) dan medan magnetik utama
(H) (Telford dkk, 1990).Induksi magnetik dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut:
(6.4)
dengan B adalah induksi magnetik dengan satuan Newton per Ampere
meter(NA-1m-1), 𝜇0 adalah permeabilitas magnetik pada ruang hampa dalam
satuan Newton per meter kuadrat (Nm-2) , M adalah intensitas magnet dalam
satuan ampere per meter (Am-1), dan H adalah kuat medan magnetik dalam
satuan ampere per meter (Am-1).
Gambar 6.5 Ilustrasi medan magnet terinduksi di ekuator magnetik (kiri) dan
di belahan selatan magnetik (kanan). Tampak variasi TMI (Total Magnetic
Intensity) yangdiakibatkan karena perbedaan resultan vektor medan magnet
bumi dan induksi magnetik
e. Kurva Histeresis
Kurva Histeresis Magnetik adalah kurva yang menggambarkan hubungan
antara medan magnet luar (H) dengan intensitas medan magnet setelah
terinduksi (J) pada material ferromagnetik dan ferrimagnetik yang berkaitan
dengan momen magnetik penyusunnya. Dari kurva histeresis, kita dapat
menentukan sejumlah sifat magnetik tentang suatu material seperti
retentivitas, magnetisme residual (atau fluks residual), gaya koersif,
permeabilitas, dan reluktansi.
159
Gambar 6.6 Tipe Sifat Magnetik dan Suseptibilitasnya.
Pada gambar 6.6 terdapat grafik/kurva yang menyatakan hubungan
antara intensitas magnetisasi M dan medan magnet yang menginduksi H.
Diamagnetik relatif tidak terinduksi, paramagnetik dan antiferromagnetik
menghasilkan garis linear, sementara ferromagnetik dan ferrimagnetik
membentuk kurva non-linear setelah mencapai titik saturasi tertentu. Apabila
tidak terdapat medan magnet luar yang menginduksi (H), maka tidak akan ada
komponen medan magnet terinduksi pada suatumaterial, kecuali bila material
tersebut memiliki medan magnet sisa/remanen. Medan magnet terinduksi J
tergantung pada nilai suseptibilitas material k, dengan rumus :
(6.5)
dengan, Jind adalah intensitas medan magnet terinduksi, k adalah nilai
suseptibilitas, dan H adalah medan magnet luar yang menginduksi. (Hinze,
2013). Kurva Hysteresis menunjukkan bahwa nilai H berbanding lurus dengan
nilai J. Seperti pada Gambar 6.7 (a) nilai H dan J akan terus meningkat nilai J
mencapai suatu titik dimana material sudahtermagnetisasi seutuhnya (saturasi).
Dari awal peningkatan nilai H hingga titik saturasi, nilai J yang dihasilkan
disebut dengan Jsaturasi. Jika sudah mencapai titik tersebut, J akan bernilai
konstan walaupun nilai H terus meningkat. Namun, nilai H akan dihilangkan
seutuhnya setelah mencapai titik saturasi yang menyebabkan menurunnya
nilai H dan J. Kurva penurunan tidak melewati jalur yang sama seperti
kurva peningkatan.
Perubahan kelengkungan dua kurva ini disebut dengan histeresis (Luthfi,
2017). Jika Hsudah bernilai 0 dan masih terdapat nilai J pada material tersebut
maka disebut medan magnet sisa/remanen. Setelah nilai H menjadi 0, akan
terjadi pembalikan arah medan magnet yang menginduksi yang menyebabkan
nilai H minus. Sementara itu, nilai J terusmenurun hingga mencapai 0 seiring
dengan peningkatan nilai H yang berlawanan [Link] H bernilai 0 hingga
160
nilai J menjadi 0, J yang ada disebut dengan Jremanen.
161
2. Medan Magnet Utama
Medan magnet utama merupakan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka
waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 1 juta km2,
bersumber dari dalam dan luar bumi serta berubah terhadap waktu. Untuk
menyeragamkan nilai- nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang
disebut sebagai International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang
diperbaharui setiap 5 tahun sekali.
162
Gambar 6.9 Komponen Medan Magnet Bumi (Hinze dkk,2013)
Medan magnet bumi berarah vertikal pada bagian kutub dan berarah
horizontal pada bagian ekuator. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara
geografis bumi (north-seeking), hal tersebut menunjukkan bahwa kutub utara
geografis bumimerupakan kutub selatan (kutub negatif) medan magnet bumi dan
sebaliknya. Garis gaya magnet bumi akan masuk pada bagian kutub utara geografis
bumi dan akan keluar pada kutub selatan geografis bumi. Medan magnet bumi
memiliki komponen medan magnet yang berbeda satu sama lain. Komponen
medan magnet bumi yang pertama adalah medan magnet utama bumi 𝐻0.
Komponen medan magnet utama ini terbagi menjadi inklinasi, deklinasi, vektor
horizontal atau 𝐻h𝑜𝑟 (menuju Magnetic Meridian) dan medan magnet H yang
mempunyai arah barat-timur (𝐻𝑦), utara-selatan (𝐻𝑥) serta (𝐻𝑧) yang mempunyai
arah vertikal (Whitham, 1960). Medan magnet total atau medan magnet utama
bumi (𝐻0) dirumuskan sebagai :
2 2 2 2 2
𝐻0 = √𝐻ℎ𝑜𝑟 + 𝐻𝑧 = √𝐻𝑥 + 𝐻𝑦 + 𝐻𝑧 (6.6)
Untuk komponen horizontal :
2 2
𝐻ℎ𝑜𝑟 = 𝐻0 cos 𝐼 = √𝐻𝑥 + 𝐻𝑦 (6.7)
Untuk komponen vertikal :
𝐻𝑧 = 𝐻0 sin 𝐼 = 𝐻ℎ𝑜𝑟 tan 𝐼 (6.8)
163
3. Inklinasi dan Deklinasi
Inklinasi dan deklinasi adalah komponen-komponen medan magnet utama
bumibersama dengan vektor horizontal (menuju utara magnetik) dan besar medan
magnet H(terdiri dari tiga komponen Hx, Hy, Hz) (Whitham, 1960). Sudut yang
dibentuk oleh kutubutara jarum kompas dengan arah utara-selatan geografis atau
sudut yang dibentuk antara kutub medan magnetik bumi dengan utara geografis
bumi disebut deklinasi. Sudut yang dibentuk oleh kutub utara jarum kompas dengan
bidang datar atau sudut yang dibentuk antara medan magnetik horizontal dengan
medan magnet utama bumi disebut inklinasi. Penyimpangan arah mendatar terjadi
karena garis-garis gaya magnetbumi tidak sejajar dengan permukaan bumi (bidang
horizontal). Nilai inklinasi dan deklinasi dapat dihitung dengan kedua persamaan
berikut (Blakely, 1995).
𝐻𝑧 𝐻𝑦
𝐼 = arctan ( 2 2
) 𝐷 = arcsin ( 2 2
) (6.9 dan 6.10)
√𝐻𝑥 +𝐻𝑦 √𝐻𝑥 +𝐻𝑦
di mana Hx, Hy, dan Hz adalah komponen nilai medan magnet utama bumi
H pada sumbux, y, dan z. Nilai inklinasi dan deklinasi bergantung pada arah medan
magnet utama bumi di lokasi tersebut. Arah medan magnet utama bumi keluar dari
kutub selatan bumi(disebut kutub utara magnetik bumi) menuju kutub utara bumi
(disebut kutub selatan magnetik bumi). Sementara itu, letak kutub magnetik bumi
dengan kutub geografis bumi tidaklah sama, melainkan sedikit bergeser sekitar
11,5°. Sudut inklinasi di area atas ekuator bernilai positif dan menunjam permukaan
tanah, sementara di area bawah ekuator bernilai negatif dan keluar dari permukaan
tanah. Pada ekuator, sudut inklinasimagnetiknya bernilai 0°.
164
4. Variasi Spasial Medan Magnet Bumi
Selain berasal dari medan magnet utama bumi, hasil pengukuran magnetik
di lapangan juga berasal dari interior bumi. Komponen medan magnet yang paling
menarikberasal dari variasi horizontal yang berasal dari magnetisasi pada litosfer
(kerak bumi).Variasi horizontal sebagian besar berasal dari kerak bumi, dikarenakan
batuan pada mantel memiliki kandungan mineral magnetik yang lemah yang
disebabkan oleh salah satu faktor yang mengontrol magnetisasi, yaitu suhu.
Semakin dalam dari permukaan bumi maka suhu akan meningkat, sedangkan suatu
batuan akan kehilangan sifat kemagnetannya apabila berada pada suhu di atas suhu
curie. Suhu curie merupakan suhu dimana suatu material magnetik kehilangan sifat
kemagnetannya. Suhu yang memungkinkan batuan masih memiliki sifat
kemagnetannya adalah <600° celcius padakeadaan normal (Hinze dkk., 2013). Hal
inilah yang menyebabkan variasi horizontal sebagian besar berasal dari kerak bumi.
Medan magnet bumi diganggu oleh material yang berada di kerak bumi yang
memiliki kemampuan untuk termagnetisasi. Adanya batuan yang termagnetisasi
menyebabkan medan magnet bumi mempunyai variasi spasial yang nilainya
dipengaruhi oleh besarnya medan yang dihasilkan dari proses magnetisasi batuan
tersebut (Lillie, 1999).
165
C. AKUISISI DATA
a. Daerah Penelitian
Kuliah Lapangan Nonseismik 2023 yang diadakan oleh Program Studi
Geofisika UGM mengangkat tema yaitu “Drawing Perfection Geophysics Exploration
in Pacitan, East Java” dengan daerah penelitian di Pacitan, Jawa Timur.
b. Desain Survei Magnetik
Setelah mengetahui cakupan daerah penelitian, langkah selanjutnya adalah
membuat desain survei sesuai dengan target yang dikehendaki. Untuk itu, dibutuhkan
beberapa sumber informasi dan alat berupa :
i. Peta Geologi
ii. Peta Kontur
iii. Peta Rupa Bumi
iv. Software pengolah data spasial
Penentuan desain survei sangat penting sebagai acuan pelaksanaan akuisisi.
Berbekal desain survei, target yang diinginkan, lokasi titik akuisisi, perkiraan respon
target dapat diketahui. Dalam pembuatan desain survei, hal-hal yang perlu
diperhatikanantara lain :
v. Dimensi target pengukuran, agar penentuan lokasi dan spasi antar titik
sesuai. Hal ini juga akan berkaitan dengan resolusi data. Oleh karenanya,
peran dari Peta Geologi daerah penelitian sangat signifikan.
vi. Kontur yang dimiliki area survei, sehingga akuisisi dapat berjalan dengan
lebih aman dan efektif. Dalam hal ini peran Peta Kontur sangat diperlukan.
vii. Estimasi waktu akuisisi yang dimiliki, sehingga jumlah titik dapat
disesuaikan dengan target harian yang dapat dicapai.
viii. Wilayah yang aman dari sumber derau, misalnya menghindari pemukiman
warga yang pada umumnya mengandung unsur-unsur derau seperti tiang dan
kabel listrik, dan sebagainya.
Secara umum, desain survei biasanya dibuat dalam bentuk persegi empat (atau
persegi panjang) yang sejajar dengan sumbu horizontal dan vertikal sesuai koordinat
(Utara-Selatan). Hal ini bertujuan agar proses pengolahan lebih mudah dilakukan
karena titik satu dan lainnya memiliki interval jarak sesuai selisih koordinatnya.
c. Instrumentasi
Instrumen yang digunakan dalam akuisisi magnetik Kuliah Lapangan
Nonseismik 2023 Seperti namanya, magnetometer tipe PPM memanfaatkan gerak
presesi proton, yaitu gerakan berputarnya massa yang membawamuatan positif dalam
atom. Gerakan berputar ini menghasilkan momen magnetik dan momentum angular
sesuai arah sumbu putarnya. Medan magnet bumi akan menyearahkan momen
magnetik proton yang kemudian dilawan oleh momentum angular proton. Akibatnya,
proton akan berpresisi dengan sumbu yang membentuk
kerucut, menunjukkan arah medan magnet di sekitarnya. Gerakan presesi ini
memiliki frekuensi sebesar frekuensi Larmor (fL). Frekuensi Larmor dinyatakan
166
dengan :
𝑀𝐻
𝑓𝐿 = (6.11)
2𝜋𝐿
Jika rasio momen magnetik proton (M) dan momen angular proton (L) dinyatakan
sebagai G, maka rumus fL menjadi :
𝐺𝐻
𝑓𝐿 = (6.12)
2𝜋
𝑀 2𝜋
Di mana besar G untuk nucleus hydrogen 𝐺 = = = 0,2675153/gamma.s
𝐿 23.4868
= 2,6 x 108 /Tesla.
167
Tabel 6.1 Spesifikasi PPM Geotron G-5
Parameter Keterangan
Resolusi Pengukuran 0.1 nT
Rentang Pengukuran 20 - 100 kilogamma
Akurasi absolut < 1 nT
Suhu -10 s/d 50°C
Sensor Segala arah dengan toleransi 4000 nT/m
Tuning Otomatis atau manual
Pengulangan Otomatis 4 detik hingga 30 menit
Papan Kontrol 15 tombol untuk pengoperasian.
Soket 6 pin untuk sensor dan kabel
data, terhubung langsung dengan
saklar on/off.
Tampilan 2 baris (@40 karakter)
Menampilkan tanggal, waktu,
nomor pembacaan, kekuatan
sinyal, pembacaan, nomor stasiun
dan baris, nama file notepad,
baterai, selisih pembacaan sebelum
dan berikutnya.
Jam Real-time clock dengan baterai cadangan
Memori Memory Non-volatile CMOS
Menyimpan angka bacaan, angka lintasan,
angka station, Julian day, jam, menit, detik,
pembacaan, kuat sinyal, dan catatan indeks
elektronik.
Kapasitas minimum 7500 kali pembacaan
Keluaran Serial RS-232C menghubungkan untuk
keluaran data pada PC atau jenis perangkat lain
pada9600 baud.
Tersedia Dumpcable. Software koreksi diurnal.
Perangkat Sensor medan total, ransel, perangkat sensor
dan instrument harness, tongkat sensor
alumunium, kabelkeluaran, software.
Sumber daya 3 x 6 volt 3AH,
Asam TimahBaterai
168
dapat diisi ulang
Sensor
Diameter
: 75 mm
Panjang :
160mm
Massa :
1.2 kg
Tongkat sensor
Diameter : 25 mm
Panjang:400 mm x 6 buah
Massa : 0.25 kg x 6 buah
169
Tampilan Konsol Magnetometer Geotron
G5
e. Langkah Kerja
a. Pengukuran Base
1. Tentukan tempat (titik) BASE bersama tim. Dan pastikan jauh dari
noisemagnetik.
2. Potongan tiang penyangga magnetometer dihubungkan hingga
panjangnya melebihi 1 meter.
3. Sensor dipasang pada ujung tiang penyangga.
4. Tutupi sensor dengan plastik agar tidak kehujanan atau kepanasan.
5. Tiang beserta sensor ditegakkan, bertumpu pada permukaan tanah. Jaga
agar semua kabel tidak menyentuh tanah.
6. Agar stabil, tiang ditahan dengan tali ke pepohonan sekitar base atau
bisajuga dihubungkan dengan besi penahan yang ditancapkan di tanah.
7. Bongkah batu dipepetkan di kaki tiang agar lebih kokoh.
8. Siapkan kursi atau tempat datar untuk meletakkan konsol magnetometer
9. Masukkan konsol ke dalam tas kosong yang ditaruh tepat di bawah sensor.
10. Tancapkan kabel dari sensor ke lubang yang tersedia di konsol, lalu kunci
dengan memutar cincin pada ujung sambungan.
11. Carilah nilai medan magnet bumi (IGRF) dimana nilai IGRF di semua
tempat bernilai sama menggunakan aplikasi telepon genggam
‘CrowdMag’. Caranya adalah dengan menghidupkan GPSpada telepon
genggam, lalu aktifkan aplikasi ‘CrowdMag’. Setelah masuk aplikasi,
klik WMM → Calculate → Table. Baca baris F(nT) pada kolom Values,
yang merupakan medan magnet bumi (IGRF) di BASE.
12. Masukkan nilai IGRF untuk setting pada konsol dengan cara klik
TUNE=2 →manual=0 → masukkan nilai medan magnet bumi.
13. Atur MODE=7 → auto=2 → akan muncul “Time interval: Minutes=1
Seconds=2”. Pilih interval waktu ‘Minutes=1’ → masukkan interval
waktu pengukuran yang diinginkan.
14. Selanjutnya atur waktu dengan klik SET CLOCK=8 → masukkan waktu
sesuai pada saat melakukan pengukuran dengan memasukkan tahun →
bulan → hari → jam → menit.
15. Tekan 1 → READ untuk mulai melakukan pengukuran.
16. Cek apakah konsol sudah mulai mengukur secara otomatis. Jangan
memencet apapun pada konsol ketika pengukuran otomatis terlaksana.
170
17. Jika pengukuran otomatis sudah terlaksana, tutupi konsol dalam tas
dengan jas hujan agar tetap sejuk dan terlindung dari matahari ataupun
hujan.
18. Setelah selesai melakukan pengukuran, tekan STORE untuk
menyimpandata.
19. Pindah data (dumping data) pengukuran base ke laptop pengolahan.
20. Hapus data hari tersebut dengan menekan ERASE=6 → Yes=9 → Yes=9
21. Rapikan PPM dengan memasukkan bagian-bagiannya ke dalam kotak
pelindung. Sesampainya di barak, bersihkan alat.
b. Pengukuran Rover
1. Pastikan posisi koordinat titik ukur telah dimasukkan pada memori GPS
genggam. Atau dapat menggunakan aplikasi Avenza pada gawai sebagai
acuan.
2. Tempatkan konsol Geotron G-5 pada tas yang memadai. Disarankan
menggunakan daypack agar lebih nyaman saat membawa konsol.
3. Cari titik yang diukur dengan GPS genggam atau gawai.
4. Persiapkan buku catatan lapangan
5. Setelah sampai di titik yang dituju, tandai titik tersebut dengan GPS
genggam. Catat pula koordinat dan nama titik.
6. Gunakan aplikasi “CrowdMag” untuk mengetahui nilai medan magnet di
titiktersebut.
7. Catat nilai medan magnet bumi dari “CrowdMag” dalam buku, di dalam
kolomIGRF/ WMM.
8. Hubungkan potongan-potongan tiang hingga tingginya melebihi 1 m
(sekitar4 hingga 5 potongan).
9. Pasang sensor PPM pada ujung tiang. Tabung sensor dipasang vertikal.
Jikadiperlukan tutup sensor dengan tas sensor atau plastik.
10. Hubungkan kabel dari sensor ke konsol untuk menghidupkan.
11. Selanjutnya atur waktu dengan klik SET CLOCK=8 → masukkan waktu
sesuai pada saat melakukan pengukuran dengan memasukkan tahun →
bulan → hari → jam → menit.
12. Mode pengukuran diatur dengan cara Atur MODE=7 → manual=1, lalu
tekanREAD (enter).
13. Masukkan nilai IGRF untuk setting pada konsol dengan cara klik
TUNE=2 →manual=0 → masukkan nilai medan magnet bumi.
14. Tim Rover lalu dibagi yaitu menjadi operator, pencatat, dan pencari titik
(navigator). Operator maksimal dua orang, pencatat satu orang, dan
sisanyamencari titik selanjutnya.
15. Semua anggota tim mulai bekerja. Usahakan operator jauh dari noise
yang dapat mengganggu proses pengambilan data. Jauhkan benda- benda
171
yang menimbulkan noise dari operator seperti benda-benda yang
mengandung besi atau magnet.
16. Saat akan mengukur, tiang sensor ditegakkan. Operator alat harus tegak
dantidak boleh bergoyang agar tidak mengganggu cairan dalam sensor.
17. Pastikan tampilan layar konsol Geotron G-5 sudah berada di menu utama.
Jika belum, tekan tombol MENU.
18. Tekan tombol 1 → READ untuk memerintahkan PPM mengukur medan
magnet lokal di titik pengukuran. Lalu akan muncul medan magnet
lokal
dengan satuan nanoTesla. Jika medan lokal bernilai 45990.5 nanoTesla,
maka pada layar notasinya “nT = 45990.5”.
19. Operator alat wajib menyebutkan waktu dan medan magnet pada setiap
pembacaan. Lalu pencatat akan menuliskan data pengukuran pada kolom
“waktu” dan “pembacaan PPM”.
20. Tekan tombol MENU pada konsol untuk kembali ke menu utama.
21. Pindahkan sensor sejauh maksimal 1 meter dari titik semula
22. Ulangi langkah 17 hingga 20 sampai didapatkan minimal 5 data.
Antarpengukuran diberi jeda 40 detik.
23. Setelah didapatkan 5 data, cari nilai yang sama atau hampir sama. Jika
tidak ada, maka pengukuran diulang hingga mendapatkan nilai sesuai
kriteria.
24. Cabut kabel konsol, agar PPM mati.
25. Selanjutnya para pencari titik diharapkan menunjukkan anggota tim
lainposisi titik pengukuran selanjutnya.
26. Di titik yang baru, isi data koordinat dari GPS genggam, data medan
magnetbumi dari aplikasi “CrowdMag”. Ulangi langkah 17 hingga 24.
27. Lalu tim bekerja sesuai posisi masing-masing.
28. Saat tim Rover telah selesai mengukur dan kembali ke basecamp,
pengukuran BASE harus dihentikan.
172
D. PENGOLAHAN DATA
a. Software
Software yang digunakan dalam pengolahan data magnetik, yaitu
1. G5 Dump
2. Microsoft Excel
3. Oasis Montaj
4. Surfer
b. Pengolahan Data
i. Diagram Alir Pengolahan Harian - Reduce to Pole
173
ii. Dumping Data Pengukuran Base
174
4. Tekan tombol ‘5’ kemudian tombol ‘READ’ pada Geotron G5
5. Posisikan kursor pada tombol ‘start’ G5 Dump
6. Pilih format 1 atau 2 pada Geotron G5
7. Tekan tombol ‘read’ pada Geotron G5 dan tombol ‘start’ G5 Dump
secarabersamaan atau tidak lebih dari interval 2 detik
8. Kemudian tunggu hingga semua data base berhasil dipindahkan
9. Setelah semua data base telah berhasil dipindahkan, tekan menu save
pada G5 dump kemudian pilih dimana data base akan disimpan. Data
yangdidapat dapat disimpan dalam format .dat atau .csv
Tabel 6.2 Format Data 1
Data yang di-dumping menggunakan format 1 akan muncul seperti pada Tabel
4.1 diatas. Tanggal Julian adalah jumlah hari yang terlewat sejak tanggal 1
Januari. Waktu pengukuran diberikan dalam format JJMMDD, J adalah jam,
M adalah Menit, D adalah detik. Nilai medan magnet diperoleh dalam satuan
nanoTesla, dengan satu bilangan desimal dibelakang koma.
175
Gambar 6.16 Data variasi harian base
176
➢ Cara membuat trendline polynomial dalam penentuan baseline dan variasi
harian:
1. Menentukan nilai Hobs yang didapatkan dari rata rata variasi pembacaan
PPM.
2. Selanjutnya untuk menentukan nilai base akan dilakukan proses
smoothing yaitu dengan cara membuat grafik antara waktu vs pembacaan
PPM (Hobs) sesuai pada gambar 4.4. sehingga didapatkan grafik sebagai
berikut
H Obs Random
45745
45740
45735
45730
45725
45720
45715
45705
0:00:00 2:24:00 4:48:00 7:12:00 9:36:00 12:00:00 14:24:00 16:48:00 19:12:00
177
H Obs Smooth
45740.00
45735.00
45730.00
45725.00
45720.00
45715.00
45710.00
45705.00
0:00:00 2:24:00 4:48:00 7:12:00 9:36:0012:00:0014:24:0016:48:0019:12:00
dengan,
Nilai Hgeo dan Hvarhan masing-masing maksimal hanya 2% dan 0,2% dari
[Link] Hgeo dan Hvarhan jauh lebih kecil dari HG, maka anggapan berikut :
178
Hgeo = HT − HG − Hvarhan (6.14)
179
‘VLOOKUP’
4. Cari nilai baseline dari pengukuran PPM Base. Nilai baseline didapat dari nilai
pengukuran pertama PPM Base.
5. Hitung nilai variasi harian (varhan) dengan cara mengurangkan nilai base dengan
nilai baseline.
6. Koreksi pengukuran rover dengan varhan untuk mendapatkan medan magnet
terkoreksi varhan.
7. Untuk mencari nilai anomali medan magnet total kita memerlukan nilai [Link]
nilai IGRF lewat website [Link] dengan memasukan nilai latitude dan
longitude daerah pengukuran.
8. Nilai anomali medan magnet total didapat dengan nilai pengukuran rover
dikurangi nilai varhan dan IGRF
9. Sebelum masuk ke Oasis Montaj, buat database yang terdiri dari nama titik,x, y,
z, dan nilai anomali medan magnet total. Untuk membuat sheet database ini,
nilainya jangan di-copy dari sheet pengolahan tetapi gunakan rumus ‘=’ agar
apabila terdapat perubahan pada sheet pengolahan maka akan otomatis berubah
pada sheet database
10. Copy sheet database pada excel ke notepad. Simpan dengan format file .txt
180
1. Buka Oasis Montaj, kemudian masukan file yang telah diseleksi dan
koreksipada Notepad dengan cara klik Data → Import → Ascii.
181
2. Maka akan muncul tampilan seperti ini.
182
5. Untuk mempermudah interpretasi, dilakukan RTP dengan cara GX → Load
Menu → [Link]
183
7. Maka diperoleh peta hasil prepare grid
9. Selanjutnya melakukan Define Filter → Tentukan control file nya → Pilih filter
Reduce to Magnetic Pole → isi deklinasi, inklinasi, dll → OK
184
10. Selanjutnya Apply Filter. Maka akan diperoleh peta RTP-nya
185
vii. Diagram Alir Pengolahan Lanjutan - Pemisahan Anomali dan Pemodelan
186
Pemisahan anomali lokal dan regional merupakan proses penapisan
yang akan menghasilkan peta anomali residual dan peta anomali regional.
Pemilihan peta yang akan diinterpretasi tergantung pada target yang ingin
dicapai.
1. Anomali regional dihasilkan oleh benda yang berada pada kedalaman yang
cukup dalam dan berukuran besar (frekuensi rendah), sehingga
menghasilkankontur anomali yang besar.
2. Anomali lokal dibentuk oleh benda yang terletak pada posisi yang dangkal
dan berukuran lebih kecil sehingga akan menghasilkan ukuran kontur
anomali yanglebih kecil (berfrekuensi tinggi)
Digunakan metode kontinuasi untuk memisahkan anomali regional dengan
residual. Kontinuasi ke atas dilakukan dengan mentransformasi medan
potensial yang akan diukur di permukaan tertentu ke medan potensial pada
permukaan lainnya yang lebih jauh dari sumber.
1. Pada tab MAGMAP, klik MAGMAP 1-Step Filtering → Masukan file RTP
→ Tentukan file outputnya → Klik Filter
187
2. Pilih Upward continuation filter → Tentukan jarak yang akan dinaikkan →Klik
OK → Klik OK
3. Maka akan diperoleh hasil dari upward continuation atau bisa disebut
jugasebagai anomali regional
4. Pada tab Grid and Image, klik Grid Math → Masukan rumus G0 =
x-y →Tentukan file outputnya → Tentukan x nya menjadi file hasil
RTP → Tentukan y nya menjadi file anomali regional → Klik OK
188
5. Maka akan didapat anomali lokalnya
189
viii. Forward Modelling dengan Oasis Montaj
Tentukan target yang ingin dimodelkan. Selanjutnya dalam melakukan
forward modelling, digunakan menu GM-SYS pada Oasis Montaj. Berikut
adalah langkah-langkahnya :
a. Klik Load Menu > [Link] > Open
190
c. Input informasi yang dibutuhkan, di antaranya :
- Model name : Nama dari model yang akan dibuat
- Magnetik grid : Input peta/grid magnetik yang telah dibuat
- Magnetik elevation grid : Input peta/grid magnetik jika titik pengukuran
magnetik tidak berada di permukaan bumi (survey aeromagnetik), input
grid topografi bila berada di permukaan.
- Constant magnetic elevation: sama dengan sebelumnya, namun yang
diinput ketinggian pengukurannya dan disamakan setiap titik (ketinggian
rata-rata pesawatnya)
- Topography grid : input berupa peta/grid dari topografi, input ini cukup
penting karena ketinggian di setiap pengukuran berpengaruh cukup besar
pada proses modelling.
- Setelah selesai, klik Finish.
d. Selanjutnya muncul peta yang akan disayat sesuai input peta/grid. Buatsayatan
di lokasi yang diinginkan, lalu klik Done. Sesuaikan garis yang dibuat paling
representatif dengan target perkiraan.
191
c. Declination, FD : Nilai deklinasi, jika peta yang digunakan adalah
petasetelah RTP, maka deklinasi diisi 0o
Klik OK
f. Muncul jendela baru untuk pembuatan model dengan beberapa kolom, yaitu
● Kolom Plan View depth : menggambarkan litologi dan bentuk hasil
pemodelan pada sebuah di kedalaman tertentu yang diatur pada garis
sayat berwarna merah di kolom depth. Untuk merubah kedalaman
Plan View Depth, atur pada menu View > Plan View Depth
● Kolom nT : merupakan kolom yang menggambarkan grafik nilai
magnetik sesuai sayatan yang dibuat. Berikut keterangannya :
- Titik titik hitam merupakan bentuk grafik yang ingin disesuaikan
- Garis hitam merupakan garis hasil perhitungan pemodelan, semakin
mirip garis hitam dengan bentuk titik-titik hitam, semakin sesuai
model dengan perhitungan
- Garis biru merupakan garis koreksi error
- Garis merah merupakan garis hasil perhitungan yangmenggambarkan
nilai error, semakin dekat garis merah dan garisbiru, maka semakin
kecil error yang dihasilkan
● Kolom mGals : merupakan kolom data gravitasi
● Kolom Time Seconds : merupakan kolom jika terdapat data seismik
yang diinputkan.
Karena hanya data magnetik yang tersedia, kolom selain nT dan
Depthlebih baik ditutup dengan di-drag ke atas atau bawah.
192
Selain itu terdapat jendela Action dengan keterangan sebagai berikut :
1) Kiri : Menggerakan sebuah titik yang telah
dibuat sebelumnya
Kanan : Menggerakan suatu
kelompok titikyang dipilih
2) Kiri : Menambah titik
Kanan : Menghapus titik
3) Kiri : Menyambungkan titik dengan titik
lainnya(membuat blok/lapisan)
Kanan : Menghapus blok/lapisan sebelumnya
4) Kiri : Mengatur nilai dan warna
lapisan/blok
Kanan : Mengatur zoom yang diinginkan
5) Kiri : Zoom in
Kanan : Zoom
out
g. Buat lapisan/blok dengan panjang yang mendekati tak hingga (Infinite slab)
dengan view-infinite. Untuk menyesuaikan bentuk grafik, digunakanview-full
view. Jika benar, maka tampilan akan sebagai berikut:
193
h. Langkah selanjutnya adalah membuat lapisan yang diperkirakan. Klik Add
point pada jendela action. Lalu klik di kedua sisi garis, kemudian menggunakan
opsi Split block dengan menyambungkan titik dengan titik lain diseberangnya.
Kedalaman dari lapisan juga harus dipertimbangkan secara geologi maupun
perhitungan fisika, jika berhasilmaka akan sebagai berikut (contoh 3 lapisan) :
j. Pada proses pemodelan, nilai error dan garis hitam di kolom nT belum berubah.
Hal ini karena tiap lapisan belum ditentukan suseptibilitasnya. Lakukan input
nilai suseptibilitas sekaligus memberi warna dan
194
k. Setelah nilai suseptibilitas tiap lapisan/blok ditentukan, nilai error yang muncul
mungkin akan sangat besar (ribuan-puluhan ribu). Gerakkan titiksauh yang
telah dibuat sebelumnya untuk memperkirakan model geologiyang sesuai
sehingga nilai error mengecil.
Semakin besar suseptibilitas lapisan maka pengaruh terhadap grafik
akan semakin besar pula.
l. Perhatikan nilai ERR di pojok kiri bawah kurva. Semakin kecil nilainya,
berarti model yang dibuat semakin mendekati data observasi. Berikut adalah
contoh model geologi yang telah selesai dibuat :
E. Interpretasi
i. Interpretasi Kualitatif
Dalam interpretasi kualitatif, interpretasi ini dapat dilakukan dengan
menganalisis peta anomali, baik itu peta nilai anomali magnetik total, regional,
sisa, maupun hasil reduksi ke kutub. Peta yang digunakan dalam interpretasi
tergantung pada tujuan dari pengukuran di lapangan.
Hasil akhir interpretasi kualitatif adalah perkiraan lokasi benda penyebab
anomali seperti intrusi batuan beku, struktur geologi, ataupun zona
[Link] benda penyebab anomali ditandai oleh keberadaan kontur
tertutup yangperubahan nilainya cukup drastis (Puspita, 2021)
ii. Interpretasi Kuantitatif
Dalam interpretasi kuantitatif, interpretasi ini dilakukan dengan
pembuatan model dari kontur anomali medan magnet total. Pada kontur ini,
dibuat sayatan yang melewati daerah yang diperkirakan berisi benda
penyebabanomali. Pemilihan posisi sayatan ini berdasarkan hasil interpretasi
secarakualitatif (Puspita, 2021).
Pada tahap pemodelan ini, digunakan metode pemodelan maju (forward
modeling) dan pemodelan mundur (inverse modeling). Sayatan respon
anomalidari data lapangan digunakan sebagai acuan dalam membuat model
fisis. Modelfisis tersebut digunakan sebagai referensi dalam proses inversi.
Parameter dalam pemodelan ini adalah nilai kontras suseptibilitas, panjang
strike, bentuk dan posisi.
Model geologi dibuat menggunakan dasar metode Talwani, dengan
programGeosoft Oasis Montaj.
195
Dalam pembuatan model geologi, asumsi-asumsi berikut ini berlaku:
• Sumber anomali magnetisme dianggap hanya berasal dari batuan,
• Suseptibilitas batuan dianggap tetap,
• Batuan dianggap hanya memiliki magnetisasi induksi selama kita
tidakmengetahui hal-hal terkait magnetisasi sisa di dalamnya,
• Komposisi batuan dianggap homogen, sehingga magnetisasi dalam
batuan dianggap sama di semua bagian.
Lampiran
196
BAB VII
MIKROSEISMIK
I. PENDAHULUAN
Metode mikroseismik merupakan salah satu metode Geofisika pasif yang dimanfaatkan
untuk eksplorasi minyak dan gas bumi, studi kegunungapian, penentuan struktur dalam bumi
serta mitigasi kebencanaan.
B. Transformasi Fourier
Analisis fourier merupakan metode untuk mendekomposisi sebuah gelombang
seismik menjadi beberapa gelombang harmonik sinusoidal dengan masing-masing
frekuensi tertentu. Sedangkan kumpulan dari gelombang harmonik sinusoidal dikenal
sebagai Deret Fourier. Transformasi Fourier digunakan untuk merepresentasikan fungsi
waktu transien ke domain frekuensi seperti pada persamaan berikut :
∞
𝐹(𝜔) = ∫ 𝑓(𝑡)−𝑖𝜔𝑡 𝑑𝑡
∞
197
dengan F(t) adalah transformasi dari f (ω) yang masih berada dalam kawasan
waktu. Pada komputasi digital, transformasi ini dapat dihitung lebih cepat menggunakan
Fast Fourier Transform (FFT). Salah satu metode FFT yang digunakan adalah algoritma
Cooley Tukey.
C. Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR)
Metode HVSR merupakan metode perbandingan antara spektrum horizontal
dengan spektrum vertikal dari getaran permukaan yang mencerminkan kondisi geologi
permukaan. Terdapat dua parameter penting hasil pengolahan metode ini, yaitu
frekuensi natural (f0) dan amplifikasi (A) Metode HVSR berguna untuk identifikasi
respon resonansi pada suatu cekungan berisi material sedimen berdasarkan pengukuran
pada stasiun pengamatan tunggal (Nakamura, 1989). Analisa HVSR dilakukan dengan
melakukan pemotongan ambient noise dari data time series komponen N-S, E-W, dan
vertikal, melakukan transformasi fourier dan smoothing jika diperlukan, dan membagi
rata-rata nilai 2 spektrum horizontal dengan spektrum vertikalnya. Hasilnya adalah
spektrum mikrotremor dengan puncak spektrum (A) pada frekuensi resonansinya (f0).
198
vertikal didapatkan dari perbandingan antara spektrum vertikal pada lapisan sedimen
dan lapisan batuan dasar. Sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut.
𝐻𝑠 𝑉𝑠
𝐴ℎ = , 𝐴𝑣 =
𝐻𝑏 𝑉𝑏
Nakamura mengasumsikan bahwa nilai Vb/Hb mendekati 1, maka didapatkan
persamaan berikut
𝑉𝑏
≈1
𝐻𝑏
D. Frekuensi Dominan
Frekuensi dominan merupakan frekuensi alami dari daerah pengukuran. Semakin
rendah frekuensi alami suatu daerah maka semakin besar potensi terjadinya resonansi
terhadap getaran atau gempa bumi yang mempengaruhi amplifikasi gelombang seismik.
Nilai frekuensi alami dipengaruhi oleh ketebalan lapisan lapuk dan kecepatan rambat
gelombang seismik di bawah permukaan. Semakin kecil nilai f0 maka menunjukkan
semakin tebal lapisan sedimen di bawah permukaan. (Mucciarelli, 2008).
𝑉𝑠
𝑓0 =
4𝐻
E. Amplifikasi
Amplifikasi disebabkan karena frekuensi dari gelombang seismik yang merambat ke
permukaan memiliki nilai yang hampir sama dengan nilai frekuensi permukaan tanah.
Nilai amplifikasi tanah memiliki korelasi dengan perbandingan kontras impedansi
lapisan permukaan dengan lapisan yang berada di bawahnya (Nakamura, 2002). Jika
perbandingan kontras impedansi kedua lapisan bernilai tinggi, maka amplifikasi akan
bernilai tinggi pula. Persamaan amplifikasi sebagai suatu fungsi perbandingan nilai
kontras impedansi dapat dituliskan sebagai berikut:
𝜌𝑏 × 𝑉𝑏
𝐴0 =
𝜌𝑠 × 𝑉𝑠
Dimana, 𝐴0 adalah perbandingan nilai kontras impedansi, 𝜌𝑏 adalah densitas batuan
dasar (gr/ml), 𝜌𝑠 adalah rapat massa dari batuan lunak, 𝑉𝑏 adalah kecepatan rambat
gelombang di batuan dasar (m/dt), dan 𝑉𝑠 adalah kecepatan rambat gelombang di batuan
lunak (m/dt). Dalam pengolahan HVSR dengan software Geopsy, nilai amplifikasi
didapatkan dari sumbu horizontal puncak kurva H/V.
199
𝐴02
𝐾𝑔 =
𝑓0
Dengan Ao dan fo adalah amplitudo (faktor amplifikasi) dan frekuensi HVSR.
Nilai Kg yang tinggi umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan sedimen
yang lunak. Nilai yang tinggi ini menggambarkan bahwa daerah tersebut rentan terhadap
gempa dan jika terjadi gempa dapat mengalami guncangan yang kuat. Sebaliknya, nilai
Kg yang kecil umumnya ditemukan pada tanah dengan litologi batuan penyusun yang
kokoh sehingga tanah daerah tersebut lebih resisten terhadap guncangan gempa.
Dimana
𝛼 = Peak ground acceleration
𝛼1 =5
𝑇𝑔 = Periode dominan tanah (s)
𝑅 = Jarak dari hiposenter (km)
𝛼2 = 0,61
𝑀 = Magnitudo gempa bumi (skala Richter)
P = 1,66 + 3,6 𝑅
Q = 0,16 − 1,83 𝑅
200
buah garis lurus. Konsep dasar shear strain dapat digunakan dalam menganalisis
deformasi suatu lapisan permukaan tanah. (Ishihara, 1978 dalam Nakamura, 1997).
Dengan menggunakan parameter frekuensi dominan dan amplifikasi, secara teoritis nilai
shear strain dapat ditentukan (Nakamura, 1997) melalui persamaan berikut.
𝛾 = 𝐾𝑔 × 10−6 × 𝛼
Dimana
𝛾 = GSS
𝐾𝑔 = Indeks kerentanan seismik
𝛼 = PGA
201
9. PC yang didalamnya terdapat perangkat lunak seperti berikut ini :
- Windaq/Dataq
- Microsoft Windows
- Geopsy
- Surfer
10. Peralatan penunjang lainnya, antara lain:
- GPS Handheld
- Pelindung peralatan (payung atau jas hujan)
- Peta desain survei
- Buku catatan (log book)
- Kompas dan alat tulis
- Paving blok
C. Parameter Akuisisi
Untuk memperoleh data yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut
merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran mikroseismik:
a. Parameter Rekaman
• Penentuan gain (pembesaran) semaksimal mungkin tanpa terjadi saturasi.
Penentuan gain yang terlalu besar akan mengakibatkan sinyal tersaturasi. Pastikan
pula semua komponen di-setting dalam gain yang sama besar.
• Penentuan frekuensi pencuplikan yang terlalu kecil akan mengakibatkan efek
aliasing. Gunakan frekuensi pencuplikan minimal empat kali lebih besar dari
frekuensi maksimal yang terkandung dalam sinyal seismik. Semakin besar frekuensi
sampling akan semakin baik tetapi akan membutuhkan memori penyimpanan yang
besar. Frekuensi pencuplikan juga harus disesuaikan dengan instrumen yang
digunakan.
• Durasi rekaman harus memenuhi kriteria pada tabel di bawah.
Tabel 7.1. Kriteria durasi rekaman
202
• Minimal gunakan tiga titik pengukuran untuk melakukan analisa di suatu tempat.
c. Kopling Tanah-Sensor
• Untuk mendapatkan kopling yang baik antara tanah dan sensor, sebaiknya di pasang
langsung pada tanah.
• Hindari pengukuran pada tanah lunak, misalnya daerah berlumpur, rawa.
• Hindari pengukuran pada tempat yang jenuh air misalnya setelah hujan deras.
• Untuk memperoleh kopling yang bagus dapat digunakan lempeng yang keras misalnya
keramik atau paving sebagai alas sensor dan dipasang pada lubang sedalam ±30 cm.
d. Efek Struktur Lokal
• Sebisa mungkin hindari pengukuran di dekat struktur yang besar, misalnya gedung
dan pohon. Pergerakan struktur tersebut akibat angin akan menimbulkan low
frequency noise. Tidak ada jarak minimal yang disarankan karena hal tersebut
dipengaruhi banyak faktor seperti kecepatan angin, tipe tanah dll.
• Hindari pengukuran di atas infrastruktur bawah tanah (sumber noise), misal jaringan
pipa air. Pengukuran di atasnya akan memengaruhi rekaman seismiknya khususnya
komponen vertikal.
e. Kondisi Cuaca
• Angin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil rekaman. Tidak
disarankan untuk melakukan pengukuran saat cuaca berangin.
• Hindari pengukuran saat hujan deras. Saat hujan ringan masih bisa dilakukan tetapi
harus diperhatikan peralatan yang tidak tahan air harus dilindungi.
f. Noise
Selain faktor di atas yang dapat mempengaruhi hasil rekaman adalah gangguan
lokal, misal langkah kaki, kendaraan yang lewat, derau mesin. Walaupun gangguan lokal
ini bisa dihindari saat melakukan prosesing data dengan melakukan windowing tetapi
sangat dianjurkan untuk menghindari hal tersebut dengan menentukan titik ukur di
tempat yang bebas noise.
203
Gambar 7.2. Sensor Seismometer Lennartz Electronic tipe LE-3D/20s
204
7. Buka software Dataq kemudian akan muncul seperti berikut ini :
205
Gambar 7.7. Jendela Channel Selection
Klik Edit > Gain, untuk menentukan gain yang akan digunakan pada masing masing
channel seperti berikut:
206
Gambar 7.9. Respon gelombang mikroseismik
11. Untuk memulai perekaman klik File > Record dan atur waktu pengambilan data agar
sesuai.\
207
- Frekuensi natural harus lebih besar dari 10 dibagi panjang window (𝑙𝑤 )
(𝑓0 > 10/𝑙𝑤 )
- Jumlah 𝑛𝑐 harus lebih besar dari 200 (𝑛𝑐 > 200). Nilai 𝑛𝑐 didapatkan dari hasil
perkalian antara panjang window, frekuensi natural (𝑓0 ), dan jumlah window yang
dipilih untuk mencari kurva rata-rata HVSR antara 20-50 detik (𝑛𝑤 ).
- Nilai standar deviasi (σA) harus lebih kecil dari 2 (untuk 𝑓0 > 0,5 Hz) dan σA lebih
kecil dari 3 (untuk 𝑓0 < 0,5 Hz) dalam batas frekuensi 0,5𝑓0 sampai 2𝑓0 .
208
Gambar 7.12. Diagram Alir Penelitian
A. Pengolahan Manual
Dalam pengolahan secara manual akan dipisahkan atau dipilah data yang tidak
diinginkan dalam pengolahan secara manual dengan memotongnya atau
membuangnya. Dalam pengolahan HVSR pada Geopsy, pembuangan data yang tidak
kita inginkan akan berupa tampilan sinyal gelombang yang berjendela-jendela
(window) yang nantinya jendela tersebut akan dipilih untuk dibuang atau dipakai dalam
proses pengolahan HVSR. Yang perlu diperhatikan adalah terdapat ketentuan dalam
pemilihan panjang jendela (length window) dalam proses pengolahan. Panjang jendela
ini harus disesuaikan dengan kebutuhan target frekuensi terendah yang ingin dicapai.
Tabel di bawah ini akan menjelaskan kriteria untuk menentukan nilai panjang jendela
(length window) :
209
Tabel 7.2. Penentuan panjang jendela (Sumber : JSESAME)
Minimum
Minimum Recommended
useful
Minimum number of Minimum minimum
F0 value for lw significant signal
number of duration record duration
(HZ) cycles (nc) windows (min)
(s) (s)
2 5 200 10 100 5’
5 5 200 10 40 3’
10 5 200 10 20 2’
Dimana,
Nc = lw . nw . f0
nw = Number of window
Pada dasarnya penentuan panjang jendela dapat ditentukan dengan melihat
hubungannya dengan frekuensi seperti pada persamaan berikut,
210
dengan mengeklik “Open” dan pilih database hasil pengukuran mikroseismik
yang dimiliki.
2. Setelah anda memasukan database data hasil pengukuran langkah selanjutnya
adalah memasukkan data pengukuran yang akan diolah kedalam “table” lalu
memasukkan besaran nilai “sample rate”, identitas channel (North, East, atau
Vertical). Sebelum melakukan pengisian data pengukuran/identitas data, klik
“Edit”>>”Lock table edition”
211
5. Setelah langkah 1 sampai 4 sudah dilakukan barulah data dapat dilakukan
spectral analisis H/V. Spectral analisis H/V dilakukan dengan cara klik toolbar
Tools >> H/V.
212
Gambar 7.11. Setting Secara Manual
8. Pada H/V toolbox, tab processing berguna untuk menentukan proses pengolahan
yang kita butuhkan. Smoothing yang umum digunakan adalah mengacu pada
algoritma Konno Omachi.
213
Gambar 7.17. Smoothing
9. Tab output dapat kita gunakan untuk menentukan parameter parameter keluaran
yang kita inginkan.
214
Gambar 7.19. Hasil Kurva H/V
11. Arahkan kursor kearah gambar spektrum tersebut maka akan muncul besaran
nilai f0 dan A0.
V. INTERPRETASI
A. Frekuensi dominan (f0)
Frekuensi dominan adalah nilai frekuensi yang kerap muncul dan diakui sebagai nilai
frekuensi dari lapisan batuan di suatu wilayah, sehingga nilai frekuensi dapat
menunjukkan jenis karakteristik batuan tersebut. Menurut Bard, nilai f0 berasosiasi
dengan kedalaman bedrock. Nilai f0 yang lebih rendah menunjukkan keberadaan
bedrock yang lebih dalam. Sementara itu menurut Daryono dkk., nilai f0 yang lebih besar
merupakan cerminan dari material batuan yang lebih masif, sedangkan daerah dengan
nilai f0 yang kecil menunjukkan bahwa material batuan di daerah tersebut berupa
material yang lapuk yang rentan terhadap gempa.
Tabel 7.3. Klasifikasi tanah berdasarkan nilai frekuensi dominan oleh Kanai (Dikutip
dari Buletin Meteorologi dan Geofisika No.4, 1998)
Klasifikasi Frekuensi Klasifikasi
No. Deskripsi
Tipe Jenis (Hz) Kanai
Batuan tersier Ketebalan
atau lebih tua, sedimen
Tipe terdiri dari permukaannya
1. Jenis I 6.667 - 20
IV batuan hard sangat tipis,
sandy, gravel, didominasi oleh
dll. batuan keras.
215
Batuan alluvial Ketebalan
dengan sedimen
kedalaman 5 m, permukaannya
Tipe Jenis
2. 10 - 4 terdiri dari masuk dalam
IV II
sandy-gravel, kategori
sandy hard menengah 5 – 10
clay, loam, dll. m.
Batuan alluvial Ketebalan
dengan sedimen
ketebalan > 5 permukaan
Tipe Jenis
3. 2.5 - 4 m, terdiri dari masuk dalam
III III
sandy-gravel, kategori tebal,
sandy hard sekitar 10 - 30
clay, loam, dll. m.
Batuan alluvial
yang terbentuk
dari Ketebalan
Tipe
Jenis sedimentasi sedimen
4. II < 2.5
IV delta, top soil, permukaannya
dan I
lumpur, dengan sangat tebal.
kedalaman 30
m atau lebih.
216
Batuan alluvial,
hampir sama
Jenis dengan jenis II,
3. Jenis B 0.25 - Lunak
III hanya dibedakan
oleh adanya formasi
bluff.
Batuan alluvial
yang terbentuk dari
Jenis Lebih dari sedimentasi delta, Sangat
4. Jenis C
IV 0.25 top soil, lumpur, dll, lunak
dengan kedalaman
30 m atau lebih.
C. Amplifikasi (A0)
Amplifikasi adalah rasio impedansi lapisan sedimen terhadap batuan dasar (bedrock).
Amplifikasi menggambarkan perubahan nilai percepatan getaran gelombang tanah dari
batuan dasar menuju ke permukaan yang disebabkan karena terdapat perbedaan
kecepatan gelombang geser (Vs) di batuan dasar dan lapisan sedimen. Nilai kecepatan
gelombang geser (Vs) yang mengecil menyebabkan nilai modulus geser dan faktor
redaman semakin mengecil, sehingga percepatan getaran gelombang tanah membesar.
Bila perbandingan kontras impedansi kedua lapisan tersebut tinggi maka nilai faktor
amplifikasi juga tinggi, begitu pula sebaliknya.
Marjiyono (2010) menyatakan bahwa, amplifikasi berbanding lurus dengan nilai
perbandingan spektral horizontal dan vertikalnya (H/V). Nilai amplifikasi bisa
bertambah, jika batuan telah mengalami deformasi (pelapukan, pelipatan atau
pensesaran) yang mengubah sifat fisik batuan. Pada batuan yang sama, nilai amplifikasi
dapat bervariasi sesuai dengan tingkat deformasi dan pelapukan pada tubuh batuan
tersebut.
218
H. Kurva H/V
a. Clear peak
b. Sharp peak
219
Gambar 7.22. Kurva Unclear Low Frequency
Pada umumnya bentuk kurva ini disebabkan oleh :
- Daerah tersenut memiliki dominan yang rendah dan kontras impedansi yang
rendah (<4-5)
- Terdapat velocity gradient
- Pengaruh angin saat pengukuran
- Gangguan metrologi saat pengukuran
- Soil-Sensor Coupling yang buruk
- Contoh: pengukuran di tanah yang lunak (akibat hujan), di atas rumput, tatakan
dari sensor yang buruk
- Sumber ambient noise (truk, mesin) berada pada jarak yang dekat (beberapa
ratus meter
- Kurang tepatnya parameter dalam melakukan smoothing
- Kurang tepatnya penggunaan sensor dengan sensitivitas yang rendah pada
frekuensi rendah
Untuk memastikan hasil yang didapatkan, dapat dilakukan dengan meninjau
kondisi geologi pengukuran. Apabila pengukuran dilakukan pada batuan keras, maka
dapat diperkirakan bahwa frekuensi tersebut dihasilkan oleh artefact. Apabila
pengukuran dilakukan pada deposit sedimen, frekuensi tersebut dihasilkan karena
adanya deposit sedimen yang kaku dan cukup tebal. Namun langkap paling aman yang
dapat dilakukan jika didapatkan bentuk kurva H/V unclear low frequency peak adalah
pengukuran ulang atau interpretasi secara kuantitatif terhadap titik pengukuran lain.
220
d. Broad peak and multiple peak
221
f. Flat peak
222
BAB VIII
Metode Refraksi MASW
I. PENDAHULUAN
Bencana tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia
khususnya pada area dataran tinggi seperti halnya pada daerah Pacitan. Metode refraksi
MASW digunakan untuk mengetahui sifat dan struktur bawah permukaan. Sehingga
selanjutnya dapat dilakukan identifikasi area yang memiliki ancaman bahaya tanah longsor.
Kedua metode ini memiliki perbedaan pada jenis gelombang yang dianalisa namun akan
saling mendukung. Metode ini ditujukan untuk mengetahui ketebalan lapisan lapuk serta
nilai kecepatan gelombang P (Vp) dan kecepatan gelombang geser (Vs) untuk menganalisis
kerawanan tanah longsor pada wilayah penelitian.
223
Asas Fermat didefinisikan sebagai gelombang yang menjalar dari satu titik ke
titik yang lain akan merambat di lintasan dengan waktu tempuh paling cepat. Pada saat
merambat, sebagian gelombang akan langsung merambat dari source ke geophone,
gelombang ini disebut dengan gelombang langsung (direct wave). Gelombang yang
merambat di bawah permukaan akan dibiaskan ketika menemui lapisan baru yang
memiliki perbedaan massa jenis, gelombang yang terbiaskan pada kondisi kritis dengan
sudut kritis ic akan menjalar di sepanjang bidang batas kemudian merambat ke arah
permukaan dan terekam di geophone seperti gambar berikut.
224
Gelombang Rayleigh terbentuk akibat dari kombinasi antara gelombang badan P
dan S Vertikal (SV) dimana bentuk gerakan partikelnya berupa retrograde ellips.
225
Adanya fenomena dispersi ini mengakibatkan munculnya kecepatan grup.
Kecepatan grup adalah kecepatan yang muncul dari interferensi beberapa
gelombang dengan frekuensi yang berbeda dan menjalar dalam medium dengan
kecepatan fase berbeda pula. Hubungan kecepatan fase dengan kecepatan grup (U)
menurut Shearer (2009) dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:
𝑑𝑤 𝑑𝑐 𝑑𝑐 1
𝑈= =𝐶+𝑘 = 𝐶 (1 − 𝑘 )
𝑑𝑘 𝑑𝑘 𝑑𝑤
Gambar 4. Kecepatan Fase dan Grup Gelombang Rayleigh pada Dua Frekuensi
Berbeda (Mahandani, 2017)
Dari persamaan kecepatan fase paa gambar di atas diketahui bahwa semakin
kecil frekuensinya maka panjang gelombang semakin besar sehingga penetrasi
kedalaman semakin dalam dan kecepatan fasenya semakin besar. Hubungan antara
kecepatan fase dengan frekuensi disebut sebagai kurva dispersi. Pada kurva dispersi
sendiri terdapat informasi parameter- parameter yang mempengaruhi kecepatan
gelombang Rayleigh.
• Inversi Gelombang Rayleigh
Profil kecepatan gelombang S dapat diketahui dengan inversi iterative
menggunakan data dispersi gelombang Rayleigh dan perkiraan massa jenis serta
poisson’s ratio. Model awal yang dibutuhkan untuk proses inversi adalah nilai 20
dari Vp, Vs, ρ dan h dengan Vs adalah nilai yang paling berpengaruh dalam
algoritma inversi (Park, dkk, 1998). Proses inversigelombang Rayleigh dilakukan
untuk mendapatkan nilai Vs dari kecepatan fase gelombang Rayleigh. Kecepatan
gelombang Rayleigh merupakan fungsi dari beberapa parameter:
𝐹(𝑓𝑗, 𝐶𝑅𝐽, 𝑉𝑠, 𝑉𝑝, 𝜌, ℎ) = 0𝑗 = (1,2, … , 𝑚)
dengan fj adalah frekuensi, CRj adalah kecepatan fase gelombang Rayleighpada
frekuensi 𝑓𝑗, ℎ = (ℎ1, ℎ2, … , ℎ𝑛) 𝑇 adalah vektor ketebalan h pada lapisan ℎ𝑖, 𝜌
= (𝜌1, 𝜌2, … , 𝜌𝑛) 𝑇 adalah vektor massa jenis pada lapisan 𝑖, 𝑉𝑠 = (𝑉𝑠1, 𝑉𝑠,
… , 𝑉𝑠𝑛) 𝑇 adalah vektor kecepatan gelombang pada lapisan i dan 𝑉𝑝 = (𝑉𝑝1,
𝑉𝑝, … , 𝑉𝑝𝑛) 𝑇 sehingga jika diketahui parameter model berupa Vs, Vp, ρ dan h
pada sebuah frekuensi fj akar persamaan diatas adalah kecepatan fase (Xia, dkk,
1999). Persamaan di atas merupakanpersamaan simultan non linier dengan bentuk
matriksnya adalah:
226
sebenarnya (true model). Menurut Xia, dkk (1999) menjelaskan bahwa parameter
CR lebih besar pengaruhnya dalam analisis ketebalan lapisan dibandingkan Vp
dan densitas. Selain itu penentuan jumlah lapisan di bawahpermukaan bumi dapat
terus berubah tergantung dari interpretasi maka parameter h juga dapat
dihilangkan dari proses inversi sehingga parameter yang paling berpengaruh
terhadap kecepatan fase gelombang Rayleigh adalah Vs. Cara lain untuk
menyelesaikan inversi gelombang Rayleigh adalah melinierkan persamaan
simultan non linier dengan deret Taylor ordesatu sehingga proses inversi dapat
dilakukan dengan persamaan matriks:
𝐽∆𝑥 = ∆𝐵
Dengan ∆B adalah selisih antara CR di frekuensi j dengan CR di awal (CR0).
∆B merupakan perbedaan antara data terukur dan respon model awal. Dimana CR0
X A B 21 adalah respon model awal Vs. ∆x adalah perubahandari perkiraan model
awal Vs dan J adalah matriks jacobian dari turunan parsial orde satu kecepatan fase
gelombang Rayleigh terhadap kecepatan gelombang geser (Vs). Karena data
kecepatan fase pada kurva dispersi lebih banyak dari data Vs, maka persamaan di
atas dioptimasi menjadi:
𝜙 = ‖𝐽∆𝑥 − ∆𝐶𝑅‖2 𝑊‖𝐽∆𝑥 − ∆𝐶𝑅‖2 + 𝛼‖∆𝑥‖22
Keterangan:
‖ ‖2 = Panjang Euclidean
W = Pembobotan matriks
α = damping factor
Berdasarkan Xia, dkk (1990) matriks Jacobian (J) dapat membandingkan
rata-rata perubahan kecepatan fase gelombang Rayleigh terhadap nilai Vs di
masing-masing lapisan pada frekuensi yang berbeda. Pembobotan matriks W untuk
inversi berdasarkan perbedaan kecepatan fase gelombang Rayleigh terhadap
frekuensi. Sementara damping factor mengatur arah ∆x dan kecepatan konvergen
serta pengaturbentuk model.
• Pengaruh Topografi terhadap Kurva Dispersi
Topografi mempunyai pengaruh penting dalam kualitas data gelombang
permukaan dan juga mempengaruhi kurva dispersinya (Ólafsdóttir, 2016). Pada
permukaan dengan kemiringan topografi 10º, error dari picking mencapai 4%
sedangkan untuk kemiringan diatas 10º direkomendasikan untuk dilakukan koreksi
statik (Zeng, dkk, 2012). Lebih lanjut Zeng, dkk menyatakan bahwa koreksi statik
dapat dilakukan dengan membuat model permukaan bebas yang memiliki
perbedaan topografi dan seismogram sintetiknya dengan menggunakan Finite
Difference Method (FDM). Setelahitu kurva dispersi dibuat dengan menggunakan
metode Linear Random Transform (LRT). Cara selanjutnya adalah dengan
mengasumsikan model permukaan bebas adalah datar dan kurva dispersi teoritis
dihitung dengan menggunakan metode Knopoff. Langkah terakhir adalah kurva
dispersi hasildari perhitungan metode Knopoff di overlay dengan kurva dispersi
hasil dari metode LRT untuk melihat perbedaannya. Dari sini bisa diketahui
pengaruh topografi terhadap data gelombang permukaan yang terukur.
227
3. Tanah Longsor
Tanah longsor merupakan pergerakan kebawah dari tanah, batu dan material
lainnya akibat dari pengaruh gravitasi (Highland and Bobrowsky, 2008).Tanah longsor
biasa terjadi di daerah dengan kemiringan topografi terjal atau pada daerah dimana
material permukaan buminya tersaturasi oleh air yang menyebabkan berkurangnya
massa material (Gity, 2010). Kemiringan topografi ini menyebabkan komponen berat
tanah yang sejajar dengan kemiringan lerengbergerak ke arah bawah apabila komponen
gravitasi terlalu besar sehingga perlawanan terhadap geseran yang mampu dilakukan
oleh tanah terlampaui (Prastyo dan Hambali, 2014). Secara umum kerawanan tanah
longsor dapat diidentifikasi dari kondisi topografi suatu wilayah, dimana bentuk
kemiringan lereng yang rawan longsor dikontrol oleh kondisi litologi dan hidrologinya.
Kondisi-kondisi dapat mempengaruhi sudut kemiringan lereng, tingkat kekasarannya,
tipe tanah atau batuan pada lereng dan jumlah limpasan dari proses pergerakan masa di
lereng tersebut (Soty, dkk., 2009).
• Geometri Tanah Longsor
Dalam memahami tanah longsor, dibuat beberapa istilah untuk
mempermudah penelitian tanah longsor. Bagian-bagian tanah longsor seperti
dijelaskan oleh De Blasio (2011) meliputi:
228
Berdasarkan tipe pergerakannya, jenis-jenis tanah longsor terdiri dari fall,
topple, slide, spread dan flow. Fall adalah pergerakan kebawah dari batuan atau
tanah atau kedua-duanya yang lepas dari lereng curam atau jurang. Topple
merupakan runtuhnya bongkahan besar tanah atau batuan secara rotasi dari suatu
lereng. Slides merupakan pergerakan dari massa batuan atau tanah pada bidang
gelincir tanah lerengnya. Slide dibagi menjadi 2 yaitu rotational landslide jika
pergerakan massa batuan atau tanahnya berbentuk cekung dan translational
landslide jika pergerakan massa batuan atau tanahnya berbentuk rata. Spreads
biasanya terjadi pada lereng yang landai atau bahkan daerah yang datar.
Runtuhnya massa batuan atau tanah diakibatkan oleh proses likuifaksi yang
mengakibatkan sedimen yang tersaturasi berubah dari bentuk padat ke bentuk cair.
Jika lapisan diatas daerah likuifaksi lebih koheren maka lapisan tersebut akan bisa
runtuh. Flows terjadi ketika massa material tanah longsor bercampur dengan air.
Peristiwa ini diakibatkan oleh material lereng yang berupa sedimen fine-grained
tersaturasi oleh air sehingga terjadi likuifaksi. Menurut Karnawati (2007),
perbedaan jenis longsor terjadi karena perbedaan faktor pengontrol.
Tabel 1. Faktor Pengontrol Gerakan Massa Tanah atau batuan (Karnawati, 2007)
229
Gambar 6. Diagram Bebas Pada Lapisan Lapuk (Mahandani, 2017)
230
Laptop + Software Meteran
DoReMi
Trigger Sensor Headphone
24 Channel Geophone GPS Handheld
Analog to Digital Kompas
Converter (ADC)
Inverter Klinometer
Kabel Perpanjngan Trigger HT
Gambar 7. Tabel Parameter Akuisisi Data untuk Metode MASW Aktif (dalam
meter)
b. Desain Akuisisi
231
menggunakan kompas.
3. Set alat sesuai dengan desain akuisisi.
4. Jika pemasangan alat sudah sesuai dengan desain akuisisi, mulai
koneksikan semua perangkat.
5. Buka software DoReMi pada laptop. Pastikan software dan hardware sudah
terkoneksi dengan tanda terdeteksinya level baterai pada software. Jika
belum terdeteksi, lakukan langkah sebagai berikut
a. Cek IP laptop yang digunakan. Buka command prompt, kemudian
operasikan operator “ipconfig”.
b. Buka Software DoReMi, Klik Setup -> instrument -> setup
c. Pada Opsi Comm Port, Pilihlah opsi TCP/IP, kemudian masukkanIP
laptop pada kotak dialog TCP/IP setting dibawahnya pada form
Remote host. Langkah ini digunakan untuk membantu software
DoReMi mengidentifikasi laptop.
d. Setelah itu, kembali lagi pada opsi Comm Port, lalu coba satu persatu
comm yang ada, comm ini sendiri merupakan nama untukhardware
input dari laptop anda, karena input melalui USB dan jumlah port
USB dari setiap komputer berbeda maka variasi commini sendiri juga
banyak, Coba satu persatu -> Klik Ok, Coba sampai connect!
6. Setelah software dengan hardware dipastikan terkoneksi dengan baik, atur
lokasi penyimpanan data dengan cara klik Change Folder, kemudian pilih
lokasi penyimpanan, dan simpan (save).
7. Pilih metode yang digunakan, dalam hal ini metode Refraction.
8. Atur konfigurasi. Konfigurasi bisa disimpan untuk pengukuran selanjutnya.
Cara menyimpan konfigurasi adalah dengan klik New Configuration,
kemudian beri nama konfigurasi, lalu simpan (klik Ok).
9. Pada Sampling Setup, atur recording time, sampling rate, dan
sampling interval sesuai kebutuhan.
10. Atur Channel setup, sesuai dengan kondisi di lapangan
11. Periksa ekstensi file terekam sudah sesuai, yaitu pada pengaturan Setup,
SEG2 file *.dat sedangkan SEGY file *.sgy.
12. Mulai akuisisi dengan klik F1-Start.
13. Atur penamaan file dengan format sesuai kesepakatan, biarkan file bertipe
*drm, kemudian klik OK
14. Software akan menunjukkan noise monitor. Noise monitor dapat digunakan
untuk acuan menentukan kapan shot dimulai. Idealnya, shot dimulai saat
noise rendah.
15. Ketika noise dirasa rendah, klik Shot. Kemudian akan terdengar suara
“beep, beep, beep” dari software yang menandakan software siap melakukan
akuisisi. Disaat inilah, operator memberi aba-aba kepada pemukul untuk
melakukan shooting.
232
16. Setelah proses shooting dilakukan, software akan melakukan analisis gain.
Pada software doremi ini shot pertama merupakan shot yangditujukan untuk
mencari gain yang cocok untuk tiap geophone (AutomaticGain).
17. Kemudian software akan memberikan pilihan, yaitu apakah akan tetap
menggunakan automatic gain atau tidak, hal ini tentunya tergantung pilihan
pengguna.
18. Setelah akan muncul hasilnya berupa trace. Pada mode Refraction, makatrace
yang dihasilkan berupa seluruh gelombang baik itu gelombang direct,
refraction, reflection, dan Rayleigh.
d. Langkah Kerja Akuisisi Data MASW
Berikut merupakan langkah kerja akuisisi data MASW. Langkah kerja
berikutdimulai ketika tim pengukur sudah sampai lokasi pengukuran.
1. Siapkan seluruh peralatan akuisisi.
2. Tandai koordinat titik awal, kemudian tentukan arah lintasan dengan
menggunakan kompas.
3. Set alat sesuai dengan desain akuisisi.
4. Jika pemasangan alat sudah sesuai dengan desain akuisisi, mulai koneksikan
semua perangkat.
5. Buka software DoReMi pada laptop. Pastikan software dan hardware sudah
terkoneksi dengan tanda terdeteksinya level baterai pada software. Jika
belum terdeteksi, lakukan langkah sebagai berikut
a. Cek IP laptop yang digunakan. Buka command prompt, kemudian
operasikan operator “ipconfig”.
b. Buka Software DoReMi, Klik Setup -> instrument -> setup
c. Pada Opsi Comm Port, Pilihlah opsi TCP/IP, kemudian masukkanIP
laptop pada kotak dialog TCP/IP setting dibawahnya pada form
Remote host. Langkah ini digunakan untuk membantu software
DoReMi mengidentifikasi laptop.
d. Setelah itu, kembali lagi pada opsi Comm Port, lalu coba satu persatu
comm yang ada, comm ini sendiri merupakan nama untukhardware
input dari laptop anda, karena input melalui USB dan jumlah port
USB dari setiap komputer berbeda maka variasi commini sendiri juga
banyak, Coba satu persatu -> Klik Ok, Coba sampai connect!
6. Setelah software dengan hardware dipastikan terkoneksi dengan baik, atur
lokasi penyimpanan data dengan cara klik Change Folder, kemudian pilih
lokasi penyimpanan, dan simpan (save).
7. Pilih metode yang digunakan, dalam hal ini metode MASW.
8. Atur konfigurasi. Konfigurasi bisa disimpan untuk pengukuran selanjutnya.
Cara menyimpan konfigurasi adalah dengan klik New Configuration,
kemudian beri nama konfigurasi, lalu simpan (klik Ok).
9. Pada Sampling Setup, atur recording time, sampling rate, dan
sampling interval sesuai kebutuhan.
10. Atur Channel setup, sesuai dengan kondisi di lapangan.
233
11. Periksa ekstensi file terekam sudah sesuai, yaitu pada pengaturan Setup,
SEG2 file *.dat sedangkan SEGY file *.sgy.
12. Mulai akuisisi dengan klik F1-Start.
13. Atur penamaan file dengan format sesuai kesepakatan, biarkan file bertipe
*drm, kemudian klik OK.
14. Software akan menunjukkan noise monitor. Noise monitor dapat
digunakan untuk acuan menentukan kapan shot dimulai. Idealnya, shot
dimulai saat noise rendah.
15. Ketika noise dirasa rendah, klik Shot. Kemudian akan terdengar suara
“beep, beep, beep” dari software yang menandakan software siap
melakukan akuisisi. Disaat inilah, operator memberi aba-aba kepada
pemukul untuk melakukan shooting.
16. Setelah proses shooting dilakukan, software akan melakukan analisis gain.
Pada software doremi ini shot pertama merupakan shot yang ditujukan
untuk mencari gain yang cocok untuk tiap geophone (AutomaticGain).
17. Kemudian software akan memberikan pilihan, yaitu apakah akan tetap
menggunakan automatic gain atau tidak, hal ini tentunya tergantung pilihan
pengguna .
18. Setelah akan muncul hasilnya berupa trace. Pada mode MASW, trace yang
dihasilkan hanya berupa Gelombang Rayleigh.
IV. Quality Control (QC)
a. QC Akuisisi Metode Seismik Refraksi
1. First break harus tampak jelas, maka pemilihan waktu yang tepat pada saat shot
diambil ketika noise sangat kecil atau tidak ada noise.
2. Terdapat trend lapisan yang dapat diidentifikasi.
3. Trend lapisan pertama dari shot forward dan shot reverse harus sama (asumsi
lapisan pertama homogen).
• Apabila kurva T Vs X shot forward dan reverse simetris, maka
kemungkinan prediksi lapisan dibawahnya datar.
• Apabila kurva T Vs X shot forward dan reverse tidak simetris, maka
kemungkinan lapisan di bawahnya miring. Hal ini dapat diprediksi dari
topografi lintasan seismik.
4. Apabila lintasan seismik berada pada lintasan seismik dibelakang nya, grafik
dari trend data seismik hampir sama.
b. QC Akuisisi Data MASW
1. Amplitudo gelombang Rayleigh tidak boleh mengalami clipping (amplitude
melebihi batas maksimum pada software), maka sebab itu harus dilakukan
pengaturan gain agar tidak terjadi clipping.
2. Semakin jauh dari shot point, maka waktu tempuh gelombang Rayleigh harus
semakin lama.
V. Pengolahan Data
234
1. Diagram Alir
235
1. Diagram Alir Pengolahan Data Seismik Refraksi Harian
236
Pengolahan data seismik refraksi harian dimulai dengan
mengumpulkan data shot gather dan data elevasi tiap geofon yang
digunakan yang diakuisisi harian. Data elevasi kemudian disimpan ke
dalam format text document dengan judul “nomor line_nomor hari”
yang digunakan untuk edit geometri. Pada data shot gather kemudian
dilakukan picking first break untuk menentukan waktu tibadirect wave
dan refracted wave dengan perangkat lunak SeisImager-PickWin yang
kemudian di quality control pada perangkat lunak SeisImager-PlotRefa
dengan produk akhir kurva time vs distance.
Pada data kurva ditentukan jumlah perlapisan didasari trend
yang kemudian dimodelkan kecepatannya dengan metode pemodelan
inversi time-term inversion. Dalam prosesnya digunakan data elevasi
yang sebelumnya disimpan untuk edit geometri elevasi model sehingga
diperoleh hasil akhir berupa model perlapisan kecepatan gelombang
P(Vp) untuk identifikasi ketebalan lapisan lapuk.
2. Diagram Alir Pengolahan Data Seismik Refraksi Lanjutan
237
Pengolahan data seismik refraksi lanjutan dilakukan dengan menginterpretasi jenis
batuan penyusun lapisan lapuk didasari informasi geologi daerah penelitiansehingga
diperoleh model geologi lapisan lapuk daerah penelitian.
3. Langkah Pengolahan Seismik Refraksi
a. Picking First Break
1. Setelah software selesai diinstall, buka software Pickwin untuk
melakukanprosespicking first break.
2. Sebelum melakukan input data, jangan lupa menonaktifkan tipe
menusimple dengan cara Option > etc > Menu Type > Uncheck
Simple.
3. Langkah selanjutnya, input data lapangan (shot gather) melalui File >
Open Waveform File. Langkah ini dilakukan untuk membuka data
shot gather satu persatu.
4. Setelah shot gather diinput, atur geometri melalui Edit/Display > Edit
source/receiver locations, etc. atau Ctrl + K. Isi lokasi shot dan titik
geophonepertama hingga terakhir.
5. Simpan data yang sudah diatur geometrinya dengan klik File > SEG2
File >SaveSEG2 File. Atur nama file. Lakukan untuk semua data pada
shot yangberbeda.
6. Buka semua data yang sudah diatur geometrinya melalui Group (File
List)
> Make File List. Pilih semua data yang sudah diatur geometri dan
klik
Open. Check Source position dan Receiver position.
238
7. Lakukan picking first break melalui Picking first arrivals > Pick first
arrival timemanually.
8. Picking dapat dimulai dengan klik kiri di tiap trace atau mendrag kursor
sesuai first break. Manfaatkan tanda panah pada toolbar untuk
membesarkan atau mengecilkan amplitudo dan tanda segitiga untuk
melihat data lainnya.'
9. setelah picking selesai dilakukan, simpan data hasil picking melalui File
> Savepick file. Atur nama file. Format yang akan tersimpan akan
muncul dalam format *.vs.
239
b. Inversi
1. Buka software Plotrefa untuk melakukan proses inversi.
2. Selanjutnya, file hasil picking data sebelumnya dibuka melalui File
> Openplotrefa file. Saat file dibuka, muncul kurva waktu jalar
darilintasan (Kurva T-X).
240
3. Lakukan QC melalui kurva waktu jalar. Waktu dari forward dan reverse
darisetiappasangan shot tidak boleh berbeda terlalu jauh.
4. Klik Reciprocal method > Layer assignment > 2nd layer atau 3rd
layer (sesuai perlapisan yang terlihat pada kurva). Selanjutnya,
tentukan titik yang menunjukkan batas perlapisan berdasarkan
perubahan trend dengan klik kiri titikbatas perubahan trend pada
forward maupun reverse.
241
5. Lakukan inversi melalui Reciprocal method > Time-term inversion
> Open elevation data file (apabila ada data topografi). Data topografi
yang dapat diinput adalah file *.txt berisikan 2 kolom berupa posisi
masing- masing geophonedan elevasi.
242
6. Pada cell size, klik Manual dan isi Start, End, dan Receiver
Interval sebagai posisi awal dan terakhir geophone serta interval
geophone.
7. Plotrefa akan melakukan inversi dan selanjutnya lakukan QC hasil dari
nilaiRMSyang didapatkan.
8. Model dihasilkan dan lakukan interpretasi.
243
4. Diagram Alis Pengolahan Data MASW
2. Input data melalui File > Open SEG2 File atau klik Enter dan
pilihdata yangakan diolah.
244
3. Atur konfigurasi dengan Edit/Display > Edit source/receiver
locations, etc. Isiposisi shot (Shot Coordinate), satuan (Units), interval
geophone (Group interval),dan posisi geophone pertama (First
geophone coordinate)lalu klik Set > OK.
245
6. Setelah itu, muncul kurva Frequency vs Phase Velocity hasil FFT
2Ddalam hitamputih. Untuk mengubah warna kurva, manfaatkan
tandaperlapisan pada toolbar.
246
7. Lakukan picking kecepatan fase untuk membentuk kurva dispersi
melaluiSurface waves analysis > Pick phase velocity. Isi parameter
Minimum Frequency sebagai frekuensi minimum yang dimiliki oleh
alat. Software akan melakukan picking secara otomatis.
247
8. Langkah selanjutnya, lakukan QC terhadap hasil picking pada kurva
frekuensi vskecepatan fase. Apabila hasil picking otomatis masih
kurang tepat, koreksi hasil picking secara manual dengan klik kiri
puncakan (semblance). Garis berwarna biru pada kurva merupakan
batas data yang reliable, sehingga lakukan picking di dalam batas.
9. Lakukan QC ulang melalui software dengan klik Surface waves
analysis
> Show phase velocity curve (1D).
248
b. Membuat Initial Model Vs
1. Pada software WaveEq, klik MASW (1D) > Initial model. Atur
parameter- parameternya dan pilih model yang diinginkan. Detail dari
keempat model yang dapat dipilih antara lain:
• Linear model : menghasilkan model yang memiliki perubahan
kecepatanlapisan yang linear, dimana nilai kecepatan akan
semakin besar seiring dengan bertambahnya kedalaman
• Homogenous model : menghasilkan model dengan nilai
kecepatan yangsama di seluruh lapisan
• Based on depth : menghasilkan model berupa forward modelling
berdasarkan nilai kedalam an hasil konversi, dimana
Vs=1.1*phase velocity dan d=1/3 panjang gelombang
• Use N-value : hanya digunakan ketika kita memiliki data densitas
Ketikahendak membuat initial model tipe forward modelling,
maka mode yang dipilih adalah Based on depth con vertion, pada
Layer thickness dipilih Variable dengan asumsi bahwa lapisan-
lapisan yangkita miliki sepanjang 30 meter di bawah permukaan
memiliki ketebalan yang berbeda-beda.
249
2. Kemudian klik OK dan akan muncul hasil initial model yang kita miliki
berdasarkan data lapangan.
c. Inversi
1. Lakukan proses inversi melalui MASW (1D) > Inversion.
2. Parameter dibiarkan saja sesuai dengan default program tersebut
karena bertujuan untuk menstabilkan pengolahan yang kita
lakukan. Tekan OK untuk melakukan inversi dan dihasilkan
model inversi.
250
3. Nilai RMS error hasil dari inversi yang telah dilakukan akan
tersimpandalam .txt di folder yang sama dengan data olahan.
251
II. Interpretasi
252
3. Metode Pengolahan
Pengolahan hasil akuisisi metode Refraksi dan MASW dilakukan pada
software Geogiga Seismic ProTM 9.3 Front End Express dan Excel. Prinsip utama
metode seismik refraksi adalah penerapan waktu tiba pertama (first arrival time)
dari gelombang seismik. Jika diketahui waktu tiba pertama dari gelombang seismik
refraksi menjalar di lapisan bumi, maka kita akan mendapatkan kurva waktu tempuh
(travel time) gelombang seismik tersebut. Dengan menganalisis kurva waktu
tempuh ini, akan diperoleh informasi mengenai kecepatan dan waktu tunda
gelombang seismik pada setiap lapisan sehingga dapat digunakan untuk
menentukan ketebalan lapisan.
Salah satu metode perhitungan waktu tiba gelombang seismik untuk
mencerminkan lapisan bawah permukaan adalah metode Hagiwara. Metode ini
merupakan metode waktu tunda yang berdasarkan asumsi bahwa undulasi bawah
permukaan tidak terlalu besar. Kelebihan dari metode Hagiwara adalah lapisan
bawah permukaan dapat ditampilkan mengikuti kontur bawah permukaan. Berbeda
dengan metode intercept time, yang menganggap bahwa lapisan di bawah
permukaan adalah berupa bidang/flat. Metode Hagiwara adalah metode paling
utama untuk lapisan bawah permukaan yang detail.
Perhitungan dengan metode Hagiwara dikembangkan untuk struktur bawah
permukaan yang terdiri dari 2 lapisan, yang mana batas bidang 2 lapisan ini dapat
diperlihatkan dari hasil perhitungan rata-rata kedalaman yang memiliki kerapatan
yang berbeda. Bila kerapatan berbeda, maka kecepatan gelombang seismiknya akan
berbeda, sehingga arah penjalaran gelmbang seismik akan mengalami pembiasan
atau refraksi. Menurut Refrizon (2009), metode Hagiwara merupakan metode yang
menggunakan asumsi struktur bawah permukan yang terdiri dari dua lapisan dengan
undulasi yang tidak terlalu besar dan memiliki keunggulan dapat mencerminkan
kontur dari lapisan bawah permukaan.
Gambar 10. Lintasan Perambatan Gelombang Seismik (untuk kasus dua lapisan
yang digunakan dalam metode Hagiwara)
Metode Hagiwara memiliki analisa perhitugan sudut kritis yang diungkapkan dalam
Hukum Snellius pada batas antara 2 medium. Hukum Snellius digunakan untuk
menjelaskan sinar seismik yang mengalami pemantulan dan pembiasan saat
menjalar melalui lapisan-lapisan batuan di bawah permukaan bumi. Hukum Snellius
dapat ditulis dengan persamaan:
𝑉
sin 𝑖 = 𝑉1 … (1)
2
Kemudian persamaan (1) digunakan untuk substitusi V1 pada persamaan (2)
253
dibawah, perambatan gelombang dari titik P ke P” melalui lintasan PR dan RP”
sebagai berikut :
𝑃𝑃" 𝑃𝑅 𝑅𝑃”
= + … (2)
𝑉1 𝑉1 𝑉1
𝑅𝑃" 𝑅𝑅" 𝑃′𝑃”
=𝑉 = … (3)
𝑉1 2 sin 𝑖 𝑉2
𝑃𝑃" ℎ𝑝 cos 𝑖 𝑃′𝑃"
= + … (4)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
Persamaan (4) dapat digunakan untuk mencari persamaan rambat gelombang dari
berbagai sumber pada shot point (A dan B) dan reciever (P) diperoleh persamaan
berikut :
𝑃𝑃′" ℎ𝑝 cos 𝑖 𝑃′𝑃′"
= + … (5)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐴𝐴" ℎ𝐴 cos 𝑖 𝐴′𝐴′”
= + … (6)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐵𝐵" ℎ𝐵 cos 𝑖 𝐵′𝐵′"
= + … (7)
𝑉1 𝑉1 𝑉2
Dari persamaan (5), (6) dan (7) tersebut, didapatkan persamaan travel time :
𝐴𝐴" 𝐴"𝑃" 𝑃"𝑃 ℎ𝐴 cos 𝑖 ℎ𝑃 cos 𝑖 𝐴′𝑃′
𝑇𝐴𝑃 = + + = + + … (8)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐵𝐵" 𝐵"𝑃′′′ 𝑃′′′𝑃 ℎ𝐵 cos 𝑖 ℎ𝑃 cos 𝑖 𝐵′𝑃′
𝑇𝐵𝑃 = + + = + + … (9)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
𝐴𝐴" 𝐴"𝐵" 𝐵"𝑃 ℎ𝐴 cos 𝑖 ℎ𝐵 cos 𝑖 𝐴′𝐵′
𝑇𝐴𝐵 = + + = + + … (10)
𝑉1 𝑉2 𝑉1 𝑉1 𝑉1 𝑉2
Dari persamaan TAP, TBP, dan TAB maka diperoleh persamaan perambatan
gelombang source to source melalui AP dan BP yaitu :
2ℎ𝑝 cos 𝑖
𝑇𝐴𝑃 + 𝑇𝐵𝑃 = + 𝑇𝐴𝐵 … (11)
𝑉1
Kemudian dapat peroleh persamaan untuk menghitung ketebalan (Hp) dari
persamaan (11) :
1 𝑉
ℎ𝑝 = 2 cos (𝑇 + 𝑇𝐵𝑃 − 𝑇𝐴𝐵 ) … (12)
𝑖 𝐴𝑃
Untuk memperoleh nilai V1, harus diplot terlebih dahulu grafik penjalaran
gelombang langsungyang merupakan hubungan antara travel time dengan offset
(Grafik T vs X). Hubungan antaragradien grafik T vs X dengan nilai kecepatan
gelombang adalah sebagai berikut :
1
𝑉 = 𝑚 … (13)
𝑉1𝑓 +𝑉1𝑟
𝑉1 = … (14)
2
Nilai V2 didapatkan dengan cara mengeplot grafik T’AP vs jarak (x) dimana
hubungan antara gradien grafik dan nilai V2 sesuai dengan persaman berikut :
′ 𝑇𝐴𝑃 +𝑇𝐵𝑃 −𝑇𝐴𝐵
𝑇𝐴𝑃 = 𝑇𝐴𝑃 − ( ) … (15)
2
TAP, TBP, dan TAB pada persamaan (15) disusbtitusi dengan persamaan (11)
sehingga diperoleh persamaan :
′
ℎ𝐴 cos 𝑖 𝐴′𝑃′
𝑇𝐴𝑃 = +
𝑉1 𝑉2
1
𝑉2 =
𝑚
254
keterangan pada persamaan-persamaan tersebut diatas:
255
4. Pengolahan pada Front End Express
1. Pertama aplikasi Front End Express dibuka, maka akan muncul tampilan seperti
dibawah.
2. Kemudian buka folder yang berisikan data hasil akuisisi dengan cara klik icon
folder di kiri atas.
3. Kemudian pilih file yang ingin dipicking first break, dengan cara klik file yang
berada di bawah “Name”.
4. Jika dirasa data masih banyak noise sehingga sulit untuk picking first break,
noise dapat dikurangi dengan mengatur display gain dan scale type pada menu
display yang bertujuan untuk mengatur amplitudo getaran agar mudah terlihat
dan memudahkan proses picking. Scale type yang digunakan biasanya Trace
RMS.
256
5. Dapat juga dilakukan filtering dengan cara klik tab Edit > Filter, pilih filter yang
sesuai dan atur kurva hijau sehingga melingkupi kurba abu-abu.
6. Kemudian dilakukan picking first break dengan cara klik tab Misc. lalu centang
Pick. Picking dilakukan dengan cara klik kiri pada daerah yang ingin dipick, jika
ingin menghapus pick, klik kiri di sekitar garis pick.
257
7. Hasil picking disimpan dengan cara klik “Save…” di sebelah kanan centang
“Pick”. Hasil disimpan dalam bentuk .txt.
258
Loading Data
Geofon X posisi (m) SP1 (s) SP3 (s) SP4 (s)
1 0 0.013033 0.037322 0.05198
2 2 0.017773 0.035545 0.049505
3 4 0.023697 0.03436 0.047855
4 6 0.028436 0.03436 0.046205
5 8 0.033768 0.032583 0.044554
6 10 0.036137 0.027251 0.042904
7 12 0.039692 0.026066 0.041254
8 14 0.041469 0.022512 0.039604
9 16 0.042062 0.017773 0.037954
10 18 0.043246 0.013626 0.037129
11 20 0.043839 0.008294 0.035479
12 22 0.044431 0.004147 0.033828
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.032178
14 26 0.046801 0.005924 0.030528
15 28 0.049171 0.008886 0.028878
16 30 0.049763 0.018957 0.027228
17 32 0.050948 0.020735 0.024752
18 34 0.049763 0.021919 0.021452
19 36 0.050355 0.023104 0.019802
20 38 0.05154 0.023104 0.017327
21 40 0.052133 0.025474 0.014026
22 42 0.053318 0.027844 0.009901
23 44 0.057464 0.030806 0.004125
24 46 0.059242 0.033175 0
SP4 46 0
2. Selanjutnya dibuat kurva penjalaran gelombang, atau kurva T vs X shot dengan
waktu jalar sebagai sumbu y dan jarak antar geofon adalah sumbu x.
3. Kemudian dilakukan analisa pada grafik waktu jalar untuk menentukan titik
dimana diterimanya direct wave (DW) yang ditandakan dengan titik merah dan
refracted wave (RW) yang ditandakan dengan titik biru. Hal yang menjadi
pertimbangan untuk menentukan jenis gelombang tersebut diantaranya adalah
DW cenderung tiba lebih dulu daripada RW sehingga posisi DW lebih dekat
dengan shot. Direct dan refracted masing-masing dibagi menjadi 2, reverse (kiri)
dan forward (kanan).
4. Ditampilkan trendline dan persamaan garisnya untuk setiap slope baik yang ke
kanan dan juga kiri.
259
Equation
y m c
Direct Forward 0.0026 0.0129
Refracted Forward 0.0005 0.0324
Direct Reverse -0.002 0.0491
Refracted Reverse -0.0005 0.037
6. Selanjutnya dapat dicari kecepatan lapisan 1, menggunakan persamaan 𝑣𝑛 = 1
𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒 , untuk V1 forward menggunakan gradien dari direct forward dan untuk
V1 reverse menggunakan gradien dari direct reverse. Kemudian dicari nilai rata-
rata dari kecepatan tersebut maka diperoleh nilai V1.
Velocity
V1 Foward (m/s) 384.6153846
V1 Reverse (m/s) 500
V1 (m/s) 442.3076923
7. Kemudian dicari nilai source-to-source time (sts) forward dan reverse, dengan
persamaan 𝑚𝑥 + 𝑐. Untuk mencari sts ini digunakan dua persamaan garis
refracted pada kurva t-x yang saling berpotongan. Untuk sts forward digunakan
persamaan refracted forward dan refracted reverse untuk sts reverse. Nilai x
(letak titik shot) yang digunakan pada kedua persamaan ditukar. Misalnya ketika
refracted forward berada pada SP1, maka nilai x yang digunakan untuk mencari
sts forward adalah nilai x SP2, begitu sebaliknya. Kemudian dicari rata-rata dari
kedua sts dan diperoleh nilai source-to-source time.
Source to Source
FORWARD 0.0439
REVERSE 0.04
AVERAGE(tab) 0.04195
8. Dibuat tabel dengan header seperti dibawah ini.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp) cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
SP1 SP3 tab tp t'ap V1 V2
bagian 1 bagian 2
bagian 2
t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
t'ap V1 V2
9. Kemudian “geo” diisi geofon ke-, “x-loc” diisi posisi geofon, dan “waktu” diisi
waktu tiba gelombang.
260
Waktu (s)
Geofon X-Loc (m)
SP1 SP3
1 0 0.013033 0.037322
2 2 0.017773 0.035545
3 4 0.023697 0.03436
4 6 0.028436 0.03436
5 8 0.033768 0.032583
6 10 0.036137 0.027251
7 12 0.039692 0.026066
8 14 0.041469 0.022512
9 16 0.042062 0.017773
10 18 0.043246 0.013626
11 20 0.043839 0.008294
12 22 0.044431 0.004147
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777
14 26 0.046801 0.005924
15 28 0.049171 0.008886
16 30 0.049763 0.018957
17 32 0.050948 0.020735
18 34 0.049763 0.021919
19 36 0.050355 0.023104
20 38 0.05154 0.023104
21 40 0.052133 0.025474
22 42 0.053318 0.027844
23 44 0.057464 0.030806
24 46 0.059242 0.033175
SP4 46 0
10. Selanjutnya mencari waktu refracted forward (Tap) dan reverse (Tbp). Untuk
mendapatkan waktu rambat refracted forward pada titik waktu rambat yang
bukan refracted forward, digunakan prinsip phantom arrival dengan menentukan
farshot nya terlebih dahulu.
11. Pada gambar diatas, far shot direct dan far shot reverse berada pada lingkaran
kuning. Kemudian catat nilai x posisi far shotnya, waktu tiba gelombang reverse
atau forward shotnya, dan waktu tiba gelombang far shotnya.
12. Kemudian dicari nilai DT dengan cara mengurangi nilai waktu riba gelombang
reverse atau forward shot dengan waktu tiba gelombang far shot (keduanya pada
data x posisi yang paling awal).
13. Kemudian dicari nilai phantom arrival atau waktu refracted forward dan reverse
yang akan digunakan pada perhitungan, dengan persamaan waktu tiba far shot
dikurangi DT.
Panthom Arrival DT 0.01565
Phanto
X posisi Reverse
Far shot m
(m) shot
Arrival
10 0.02725 0.0429 0.02725
12 0.02607 0.04125 0.0256
14 0.02251 0.0396 0.02395
16 0.01777 0.03795 0.0223
18 0.01363 0.03713 0.02148
20 0.00829 0.03548 0.01983
22 0.00415 0.03383 0.01818
24 0.00178 0.03218 0.01653
261
14. Apabila tidak ada farshot gunakan persamaan refracted forward dengan
persamaan 𝑚𝑥 + 𝑐 dimana nilai x adalah nilai x posisinya. Begitu juga pada
refracted reverse sehingga tabel pada langkah 8 dapat diisi.
Waktu (s)
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp)
SP1 SP3
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175
SP4 46 0 0
15. Kemudian dicari nilai TAB (dari langkah 7), TP (Tap + Tbp - Tab), dan T’AP
(Tap - (Tp/2)) dan juga disalin nilai v1.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp)
SP1 SP3 tab tp t'ap V1
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322 0.04195 0.027772 0.018514 442.3076923
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545 0.04195 0.026995 0.0199025 442.3076923
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436 0.04195 0.02681 0.020995 442.3076923
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436 0.04195 0.02781 0.021495 442.3076923
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583 0.04195 0.024401 0.0215675 442.3076923
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251 0.04195 0.021438 0.025418 442.3076923
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601 0.04195 0.023343 0.0280205 442.3076923
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951 0.04195 0.02347 0.029734 442.3076923
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301 0.04195 0.022413 0.0308555 442.3076923
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476 0.04195 0.022772 0.03186 442.3076923
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826 0.04195 0.021715 0.0329815 442.3076923
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826 0.04195 0.022307 0.0332775 442.3076923
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525 0.04195 0.020191 0.0355205 442.3076923
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924 0.04195 0.010775 0.0414135 442.3076923
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886 0.04195 0.016107 0.0411175 442.3076923
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957 0.04195 0.02677 0.036378 442.3076923
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735 0.04195 0.029733 0.0360815 442.3076923
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919 0.04195 0.029732 0.034897 442.3076923
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104 0.04195 0.031509 0.0346005 442.3076923
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104 0.04195 0.032694 0.035193 442.3076923
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474 0.04195 0.035657 0.0343045 442.3076923
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844 0.04195 0.039212 0.033712 442.3076923
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806 0.04195 0.04632 0.034304 442.3076923
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175 0.04195 0.050467 0.0340085 442.3076923
SP4 46 0 0
16. Selanjutnya dibuat kurva T’AP vs x dan diperoleh persamaan garisnya, dengan
T’AP sebagai sumbu y dan x sebagai sumbu x. Persamaan garisnya dicatat.
Equation
y m c
Direct Forward 0.0026 0.0129
Refracted Forward 0.0005 0.0324
Direct Reverse -0.002 0.0491
Refracted Reverse -0.0005 0.037
T'AP vs X-Loc 0.0008 0.0179
262
17. Dari persamaan garis pada kurva T’AP vs x diperoleh gradiennya yang
1
digunakan untuk mencari nilai V2 dengan persamaan 𝑉𝑛 = 𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒.
𝑉 2
18. Kemudian dicari nilai cos i dengan persamaan √1 − (𝑉1 ) dan bisa dicari nilai
2
1 𝑉
kedalaman lapisan 1 (hp) menggunakan persamaan ℎ𝑝 = 2 cos (𝑇 + 𝑇𝐵𝑃 −
𝑖 𝐴𝑃
𝑇𝐴𝐵 ). Selanjutnya diasumsikan nilai kedalaman total (h total) untuk batasan
kedalaman pada model lapisan. Misalkan H total yang dipilih sebesar 15 m.
Kemudian dicari nilai kedalaman lapisan 2 (h2) yaitu (–h total) – (hp). Inputkan
pula data topografi.
Waktu (s) rata2 source to source tp = tap + tbp - tab t'ap = tap - (tp/2) V1 average 1/gradien t'ap vs x-loc
Geofon X-Loc (m) Forward (tap) Reverse (tbp) cos(i) hp (m) h2 (m) Topo
SP1 SP3 tab tp t'ap V1 V2
1 0 0.013033 0.037322 0.0324 0.037322 0.04195 0.027772 0.018514 442.3076923 1250 0.93530 -6.566728014 -23.43327199 346
2 2 0.017773 0.035545 0.0334 0.035545 0.04195 0.026995 0.0199025 442.3076923 1250 0.93530 -6.383005283 -23.61699472 345.1865267
3 4 0.023697 0.03436 0.0344 0.03436 0.04195 0.02681 0.020995 442.3076923 1250 0.93530 -6.339261776 -23.66073822 344.3097844
4 6 0.028436 0.03436 0.0354 0.03436 0.04195 0.02781 0.021495 442.3076923 1250 0.93530 -6.575713166 -23.42428683 344.2399854
5 8 0.033768 0.032583 0.033768 0.032583 0.04195 0.024401 0.0215675 442.3076923 1250 0.93530 -5.769650377 -24.23034962 343.2399854
6 10 0.036137 0.027251 0.036137 0.027251 0.04195 0.021438 0.025418 442.3076923 1250 0.93530 -5.069044907 -24.93095509 342.3632431
7 12 0.039692 0.026066 0.039692 0.025601 0.04195 0.023343 0.0280205 442.3076923 1250 0.93530 -5.519484806 -24.48051519 342.1541862
8 14 0.041469 0.022512 0.041469 0.023951 0.04195 0.02347 0.029734 442.3076923 1250 0.93530 -5.549514132 -24.45048587 341.184567
9 16 0.042062 0.017773 0.042062 0.022301 0.04195 0.022413 0.0308555 442.3076923 1250 0.93530 -5.299585013 -24.70041499 340.566533
10 18 0.043246 0.013626 0.043246 0.021476 0.04195 0.022772 0.03186 442.3076923 1250 0.93530 -5.384471062 -24.61552894 340.0152583
11 20 0.043839 0.008294 0.043839 0.019826 0.04195 0.021715 0.0329815 442.3076923 1250 0.93530 -5.134541942 -24.86545806 339.2660451
12 22 0.044431 0.004147 0.044431 0.019826 0.04195 0.022307 0.0332775 442.3076923 1250 0.93530 -5.274521165 -24.72547883 338.4845828
SP3 23 0
13 24 0.045616 0.001777 0.045616 0.016525 0.04195 0.020191 0.0355205 442.3076923 1250 0.93530 -4.774190023 -25.22580998 337.8334465
14 26 0.046801 0.005924 0.046801 0.005924 0.04195 0.010775 0.0414135 442.3076923 1250 0.93530 -2.547763731 -27.45223627 337.2487031
15 28 0.049171 0.008886 0.049171 0.008886 0.04195 0.016107 0.0411175 442.3076923 1250 0.93530 -3.808522545 -26.19147746 336.6306691
16 30 0.049763 0.018957 0.049763 0.018957 0.04195 0.02677 0.036378 442.3076923 1250 0.93530 -6.32980372 -23.67019628 336.2833728
17 32 0.050948 0.020735 0.050948 0.020735 0.04195 0.029733 0.0360815 442.3076923 1250 0.93530 -7.03040919 -22.96959081 335.799529
18 34 0.049763 0.021919 0.049763 0.021919 0.04195 0.029732 0.034897 442.3076923 1250 0.93530 -7.030172739 -22.96982726 335.3837056
19 36 0.050355 0.023104 0.050355 0.023104 0.04195 0.031509 0.0346005 442.3076923 1250 0.93530 -7.450346859 -22.54965314 335.0020876
20 38 0.05154 0.023104 0.05154 0.023104 0.04195 0.032694 0.035193 442.3076923 1250 0.93530 -7.730541757 -22.26945824 334.6892187
21 40 0.052133 0.025474 0.052133 0.025474 0.04195 0.035657 0.0343045 442.3076923 1250 0.93530 -8.431147227 -21.56885277 334.3763497
22 42 0.053318 0.027844 0.053318 0.027844 0.04195 0.039212 0.033712 442.3076923 1250 0.93530 -9.271731919 -20.72826808 333.9605264
23 44 0.057464 0.030806 0.057464 0.030806 0.04195 0.04632 0.034304 442.3076923 1250 0.93530 -10.9524284 -19.0475716 333.7514694
24 46 0.059242 0.033175 0.059242 0.033175 0.04195 0.050467 0.0340085 442.3076923 1250 0.93530 -11.93299232 -18.06700768 333.6467975
SP4 46 0 0
19. Kemudian dilakukan pemodelan lapisan, dengan chart type Stacked Area.
V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s
V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s
263
VI. Interpretasi
V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s
264
V1=442.307 m/s
V2=1250 m/s
Gambar 13. Tabel P-Wave Velocity of Various Earth Material (m/s) (Xayavong et al., 2020)
265
Gambar 14. Tabel S-wave velocities and bedrock depth in different rock units (Sundararajan
dan Seshunarayana, 2010)
Gambar 15. Tabel S-wave velocities properties of the materials in the model (Dimitrios,
Kyriazis dan Konstantia, 2002)
Gambar 16. Definition of National Earthquake Hazard Reduction Program soil and rock
classes from NBCC, 2005 (Hunter et al., 2010)
266
BAB IX
VES
1. PENDAHULUAN
Metode Vertical Electrical Sounding (VES) adalah salah satu metode geolistrik dengan
menggunakan konfigurasi Schlumberger. Metode geolistrik sendiri adalah salah satu metode
aktif geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis di bawah permukaan tanah dengan
mempelajari sifat-sifat kelistrikan di bawah permukaan bumi. Pengukuran geolistrik dapat
dilakukan untuk berbagai tujuan, misalnya penentuan airtanah, struktur gelologi, litologi dan
penyelidikan mineral-mineral logam, maupun untuk keperluan geoteknik.
Berdasarkan tujuannya, metode geolistrik dapat dibedakan menjadi 2, yakni metode
geolistrik mapping dan metode geolistrik sounding. Metode geolistrik mapping adalah
metode geolistrik untuk melihat perbedaan resistivitas bawah permukaan secara lateral,
sedangkan metode sounding adalah metode geofisika untuk melihat perbedaan resistivitas
secara vertikal ke bawah. Untuk tujuan mapping biasanya menggunakan konfigurasi Dipole
- dipole, sedangkan untuk sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger (VES).
Dalam pengukuran metode VES biasanya menggunakan 4 elektroda dimana 2 elektroda
berfungsi sebagai elektroda arus (C1, C2) dan 2 elektroda lainnya berfungsi sebagai
elektroda potensial (P1, P2). Prinsip dari metode ini adalah menginjeksikan arus DC melalui
elektroda arus (C1, C2) ke bawah permukaan bumi sehingga akan mengakibatkan beda
potensial yang dapat diukur melalui elektroda arus (P1, P2). Parameter yang didapat dari
pengukuran VES ini berupa resistivitas atau nilai tahanan jenis. Nilai resistivitas tersebut
menggambarkan karakteristik dari suatu batuan.
2. DASAR TEORI
2.1 Arus listrik
Arus listrik (I) didefinisikan sebagai kecepatan a;iran muatan listrik positif, atau
𝑑𝑞
𝐼= = −𝑛𝑒𝑣 𝐴
𝑑𝑡 (9.1)
dengan :
n = jumlah muatan listrik negayif atau jumlah elektron bebas per satuan volume
e = muatan elektron = -1,602 × 10-19C
v = kecepatan aliran muatan = kecepatan perpindahan (drift velocity) (m/s)
A = luas penampang aliran (m2)
267
2.3 Rapat Arus
Dinyatakan sebagai arus per satuan luas penampang aliran
𝐼
𝐽=
𝐴 (9.3)
Kemudian dengan substitusi persamaan (9.3) dengan (9.1) didapatkan:
𝐼 𝑛𝑒𝑣 𝐴
𝐽= =− = 𝜌𝑒𝑣
𝐴 𝐴
𝐽 = −𝑛𝑒𝑣
Substitusi persamaan (9.4) dengan (9.2) (9.4)
𝐽 = −𝑛𝑒(−𝜇𝑒 𝐸)
𝐽 = −𝜌𝜇𝑒 𝐸
Kemudian diketahui nilai konduktivitas 𝜎 = −𝜌𝑒 𝜇𝑒 sehingga didapat (9.5)
𝐽 = 𝜎𝐸
(9.6)
Substitusi persamaan (9.6) dengan (9.3)
𝐼 = 𝜎𝐸𝐴
𝑉
𝐼=𝜎 𝐴 (9.7)
𝑙
Nilai hambatan R dinaytakan sebagai resistivitas persatuan panjang, dimana resistivitas
1
𝜌 = 𝜎 sehingga
𝑙
𝑅=𝜌
𝑎 (9.8)
Substitusi persamaan (9.7) dengan (9.8)
𝐴 𝑉
𝐼=𝜎 𝑉= (9.9)
𝑙 𝑅
Yang merupakan persamaan Hukum Ohm
268
Berdasarkan persamaan (9.3) dan (9.6) diperoleh hubungan medan listrik dan
resistivitas
𝑙 1
= 𝜎𝐸 = 𝐸
𝐴 𝜌
sehingga didapat nilai intensitas medan listrik sebesar
𝐼𝜌
𝐸= (9.10)
𝐴
2.6 Aliran Listrik di Dalam Bumi
1. Sumber Arus Tunggal
Seperti yang telah disebutkan pada kaidah-kaidah pengukuran geolistrik
sebelumnya, pendekatan yang digunakan pada medium aliran listrik dalam bumi
merupakan medium homogen isotropik dengan luas area penjalaran arus berupa
setengah bola. Kemudian asumsi permukaan isopotensial, dimana besarnya arus pada
tiap titik di permukaan bola adalah sama, sehingga nilai potensial pada daerah
permukaan tersebut sama pula, dengan arah aliran arus tegak lurus terhadap kontur
ekuipotensial tersebut.
Gambar 9.2 Sumber arus tunggal dan eektroda potensial tunggal pada medium
homogen
2. Dua Sumber Arus dan Dua Potensial di Permukaan
269
𝐼𝜌 1 1
𝑉1 + 𝑉2 = ( − )
2𝜋 𝑟1 𝑟2
Dengan memasukkan P2, kita bisa menghitung perbedaan potensial antara P1 dan
P2 :
𝐼𝜌 1 1 1 1
∆𝑉 = {( − ) − ( − )} (9.11)
2𝜋 𝑟1 𝑟2 𝑟3 𝑟4
3. Faktor Geometri Konfigurasi Schlumberger
270
4. Tahanan Jenis Semu
Dalam eksplorasi geolistrik, persamaan resisitivitas yang digunakan merupakan
turunan dari arus listrik pada medium homogen setengah tak berhingga. Karena jarak
elektroda jauh lebih kecil dari pada jejari bumi, maka bumi dapat dianggap sebagai
medium setengah tak berhingga. Akan tetapi karena sifat bumi yang pada umumnya
berlapis (terutama di dekat permukaan), perandaian bahwa mediumnya adalah
homogen tidak dipenuhi. Oleh karena adanya perbedaan hasil pengukuran dengan
nilai resistivitas teoritis inilah menyebabkan nilai resistivitas terukur bukan
merupakan harga resistivitas yang sebenarnya, yang biasa dikenal sebagai resistivitas
semu atau apparent resistivity, dituliskan dengan simbol ρa.
Untuk menghitung resistivitas semu batuan, digunakan persamaan sebagai
berikut :
∆𝑉
𝜌𝑎 = 𝐾
𝐼
Dengan
Δ𝑉=𝑏𝑒𝑑𝑎 𝑝𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑎𝑙
𝐼=𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛
𝐾=𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑔𝑒𝑜𝑚𝑒𝑡𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑓𝑖𝑔𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖
5. Penetrasi Kedalaman
Merupakan kedalaman dimana suatu lapisan tipis horizontal (paralel dengan
permukaan bumi) memberikan jumlah kontribusi maksimum terhadap total sinyal
yang terukur pada permukaan (Evjen, 1938). Pada keadaan sebenarnya, nilai tahanan
jenis semu terukur adalah kontribusi dari seluruh kedalaman. Sedangkan kedalaman
penetrasi meliputi kedalaman yang memberikan kontribusi maksimum terhadap
besar nilai tahanan jenis terukur dengan spasi elektroda arus L tertentu.
Avjen menemukan bahwa kedalaman penyelidikan absolut pada susunan
elektroda Wenner adalah L/9, berbeda dengan Roy dan Apparao yaitu L/3. Solusi
persamaan Roy dan Apparao didapat dengan menurunkan fungsi Frechet Derivative
terhadap x dan y, didapat
2 𝑧
𝐹𝐼𝐷 (𝑧) =
𝜋 (𝑎 + 4𝑧)15
2
Roy dan Apparao telah menemukan beberapa nilai maksimum dari fungsi
sensitivitas untuk beberapa susunan elektroda. Berikut merupakan tabel
perbandingan penetrasi kedalaman terhadap spasi elektroda arus
271
Tabel 1. Tabel Perbandingan Penetrasi Kedalaman terhdap Spasi Elektroda (Roy
and Apparao).
272
Gambar 9.6 Konstruksi kurva depth-sounding Schlumberger lengkap (garis putus-
putus) dari segmen yang overlapping diperoleh dengan menggunakan pemisahan
elektroda bagian dalam yang berbeda.
Pada prinsipnya konfigurasi Schlumberger diperluas dengan menggerakkan
elektroda luar saja, tetapi tegangan pada akhirnya akan menjadi terlalu kecil untuk diukur
secara akurat kecuali elektroda dalam juga dipindahkan lebih jauh. Dengan demikian,
sounding curve akan terdiri dari sejumlah segmen yang terpisah (Gambar 6).
3. AKUISISI DATA LAPANGAN
3.1 Diagram Alir
273
3.2 Desain Survey
Desain survei merupakan perencanaan pelaksanaan survei yang berisikan titik-titik
pengukuran untuk memenuhi target yang ingin dicapai. Proses pembuatan desain survei
metode geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger sebagai berikut:
1. Siapkan peta geologi, RBI, dan topografi dalam bentuk format yang mendukung
untuk software.
2. Tentukan daerah dan target pengukuran menggunakan peta geologi.
3. Tentukan jarak antar titik pengukuran dan panjang lintasan pengukuran sesuai
dengan kedalaman target yang diinginkan.
4. Plot titik dimana akan dilakukan pengambilan data yang merupakan daearah target.
Persebaran titik survei dianjurkan dalam bentuk line atau grid agar lebih mudah
dalam korelasi hasil interpretasi. Namun, ada juga dengan bentuk random karena daerah
survei yang memungkinkan untuk bentuk line atau grid.
274
➢ Resolusi : 1 μV
➢ Perbandingan : S/N 90 dB (dengan 50/60 Hz)
➢ Perlakuan stack : 1, 4, 16, 64
➢ Waktu sekali pengukuran : 3,7 detik
• Memori data
➢ Jumlah file maksimum : 128
➢ Jumlah data maksimum : 2000
➢ Jumlah data maksimum tiap file : 110
➢ Soket penghubung ke computer : RS-232C
➢ Panjang data :8
➢ Parity : non
➢ Bit stop :2
➢ Parameter X : non
➢ Laju Baud : 100, 300, 600, 1200, 4800, 9600
➢ Catu Daya DC : 12 V(Accu)
➢ Jangkauan suhu : 0-500C
➢ Ukuran : (206 x 281 x 200) mm
➢ Berat : +- 9 kg(termasuk batere)
275
Gambar 7. Tampak depan OYO Model 2115 McOHM.
276
277
278
279
3.5 Penentuan Lokasi
1. Kemiringan lintasan hendaknya kurang dari 10o karena bila melebihi nilai tersebut
dapat menyebabkan kesalahan koreksi kedalaman sekitar 2-3 meter.
2. Penentuan titik desain survey yang didasarkan dengan asumsi pada metode geolistrik
berupa lapisan yang homogen sehingga dianjurkan untuk titik berada di suatu litologi
dimana arah bentangan pada saat pengukuran berada dalam satu litologi yang sama.
3. Topografi daerah pengukuran juga perlu diperhatikan mengingat asumsi bahwa
metode geolistrik dilakukan di daerah lapisan yang datar.
4. Bentangan dibuat selurus mungkin dengan jarak A dan B sama besar.
5. Diusahakan arah bentangan searah dengan strike, karena ketidakhomogenan lateral
tang cukup besar apabila arah strike berbeda dengan arah bentangan.
280
1) Nilai rho apparent yang didapat diplot ke dalam grafik skala log rho apparent
vs jarak (AB/2).
2) Untuk QC data titik pertama dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran
berulang sehingga apabila nilainya sama atau mendekati berarti nilai rho
apparent yang didapat valid.
3) Untuk QC data berikutnya dilihat dari grafik bilog, nilai rho apparent tidak
berubah secara drastis namun perlahan. Apabila data yang diperoleh lebih
besar dengan data sebelumnya sehingga trendnya naik dengan beda lebih dari
45˚ maka data yang diperoleh kurang valid sehingga harus diulangi
pengambilan datanya dengan lebih memperdalam elektrodanya atau
menggeser sedikit titik elektrodanya. Untuk data yang diperoleh lebih kecil
dibanding dengan data sebelumnya dan trendnya turun dengan beda <90o data
masih dapat dipercaya.
281
namun bentangan elektroda arusnya tetap, kemudian diukur nilai rho apparentnya.
Untuk mematikan resistivity meter, kutub positif (+) dulu baru kutub negatif (-) yang
dicabut.
4. PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengolahan Data
1. Mapping
Data resistivitas yang diperoleh di lapangan diplot di dalam peta sesuai dengan
lokasi pengukurannya. Berdasarkan data yang di plot di peta tersebut dibuat kontur
yang menghubungkan nilai resistivitas yang sama (isoapparent resistivity).
Interpretasi dilakukan secara langsung dari pola kontur resistivitas yang ada.
2. Sounding
Ada dua cara untuk mengolah data sounding, yaitu dengan teknik curve matching
dan teknik inversi (menggunakan program komputer).
a) Curve Matching Pada dasarnya tahanan jenis semu untuk struktur berlapis
(tahanan jenis dan ketebalan perlapisan diketahui) dapat dihitung secara teoritis
(penyelesaian problem maju) dengan cara menyelesaikan persamaan Laplace
untuk potensial listrik dalam koordinat silinder dan pertimbangan syarat – syarat
batas. Karena penyelesaian sukar dan panjang dengan melibatkan fungsi Bessel
dan syarat– syarat batas maka interpretasi dapat dilakukan dengan teknik Curve
Matching. Teknik Curve Matching adalah mencocokkan kurva tahanan jenis
semu hasil pengukuran lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung
secara VES | 140 teoritis. Struktur berlapis mempunyai tahanan jenis dan
ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya, sehingga kita perlu kurva
tahanan jenis semu teoritis (standar atau baku) struktur berlapis yang mempunyai
variasi yang sangat banyak juga. Pemilihan kurva bantu yang paling cocok
dengan kurva tahanan jenis yang diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang
lama karena variasi kurva baku yang banyak tersebut. Dua hal itulah yang
merupakan kendala – kendala dalam penggunaan Curve Matching. Untuk
menghindari kendala – kendala tersebut, digunakan teknik Curve Matching
struktur medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku dan 4 kurva bantu. Hal ini dapat
dilakukan karena struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai struktur 2 lapis
yang setiap lapisannya dapat diwakili oleh 1 atau kombinasi banyak lapis.
Adapun langkah – langkah interpretasi dengan curve matching konfigurasi
Schlumberger adalah (Waluyo, 2004) :
• Plot data lapangan pada kertas transparan dengan skala log – log dengan absis
AB/2 (setengah jarak elektroda arus) dan ordinat ρa (tahanan jenis semu).
• Cocokkan lengkung data lapangan dengan lengkung baku. Cari lengkung
baku yang paling cocok ( ρ2/ρ1 ).
• Plot titik silang P1 ( titik potong garis ρa /ρ1 =1 dan AB/2 =1 ) pada kertas
data lapangan. Titik P1 mempunyai arti yang penting karena ordinatnya
adalah harga tahanan jenis lapisan pertama dan absisnya adalah kedalaman
lapisan pertama.
282
• Tentukan tahanan jenis lapisan kedua yaitu ρ2 = ρ1 x ρ2/ρ1.
• Pilih lengkung bantu yang cocok dengan pola lengkung data. Lalu letakkan
pusat lengkung bantu berhimpit dengan titik silang P1 lalu pilih harga sama
dengan ρ2/ρ1.
• Plot lengkung bantu diatas lembar data lapangan dengan garis putus – putus.
• Ganti lengkung bantu dengan lengkung baku. Telusurkan pusat lengkung
baku diatas garis putus – putus yang telah dibuat sampai match dengan data
di belakang data yang telah diinterpretasi.
• Setelah cocok catat harga ρ3/ρ2, plot titik kedua P2 pada kertas data (letak
pusat lengkung baku ).
• Koordinat titik P2 memberikan harga kedalaman lapisan kedua (absis) dan
tahanan jenis ρ2’ (ordinat).
• Tentukan tahanan jenis lapisan ketiga ρ3 = ρ2’ x ρ3/ρ2.
• Bila masih ada data yang belum diinterpretasi, langkah selanjutnya sama
seperti 10 poin diatas. Diteruskan hingga data terakhir yang merupakan
kedalaman lapisan terakhir (dasar).
• Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung bantu yang ada,
lengkung bantu tipe H merupakan lengkung bantu yang paling mudah
penggunaannya, karena harga h2/h1 dapat diperoleh langsung dengan
menarik garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h tidak perlu dikoreksi.
Sedangkan tipe A, K dan Q memerlukan koreksi untuk menentukan
ketebalannya. Harga ketebalan merupakan harga h dikalikan dengan faktor
koreksi.
b) Inversi/Forward Modelling Teknik ini menggunakan komputer untuk mencari
kurva tahanan jenis semu yang nantinya akan diketahui urutan lapisan. Hal – hal
yang harus diketahui interpreter adalah (Sharma, 1997) :
• Keakuratan nilai perhitungan tahanan jenis ditunjukkan dengan adanya
pengindikasi kesalahan.
• Terampil menerka (dengan berdasar pada konsep geologi) parameter tiap
lapisan, untuk dijadikan sebagai masukan awal.
• Kurva tahanan jenis semu hasil masukan dari poin 2, dihitung atau diolah
dengan menggunakan program perhitungan maju (forward calculation
program).
Dilakukan minimalisasi kesalahan dari parameter tiap lapisan, hingga didapatkan
kurva teoritis yang sama atau mendekati kurva lapangan.
4.2 Pengolahan Menggunakan Ms. Excel
Data yang diperoleh selama akuisisi lapangan yaitu nilai AB/2 (m), MN/2 (m), V
(mV) & I (mA) terukur, R (ohm) terhitung (baik dari alat maupun manual). Setelah
dilakukan akuisisi lapangan, data yang didapat kemudian diolah menggunakan beberapa
software. Sebelum dilakukan prosesing, dilakukan proses QC data menggunakan
microsoft excel. Berikut tahapan pengolahan data lapangan geolistrik sounding :
283
1. Input data kedalam tabel kemudian lakukan perhitungan untuk menentukan nilai K
dan Rho apparent (ohm.m)
2. Kemudian dari hasil pengolahan tersebut diplot data ke dalam grafik bilog rho
apparent vs jarak.
284
3. Dari grafik diatas kemudian dilakukan proses shifting agar menghasilkan model yang
smooth dan tidak saling tumpang tindih.
285
286
4. Dari hasil shifting tersebut kemudian diplot kembali kedalam grafik bilog Rho App
vs Jarak AB/2. Nilai ini yang kemudian akan diolah kedalam software Progress.
287
2. Copy data AB/2 dan Rhoapp ke dalam notepad. Kemudian, atur data tersebut dengan
urutan jumlah data yang dimasukkan pada baris pertama, nilai AB/2 pertama data
pada baris kedua, nilai Rhoapp pertama pada baris ketiga,nilai AB/2 data kedua, nilai
Rhoapp data kedua, begitu seterusnya. Jangan sampai ada spasi setelah data!
3. Kemudian simpan data tersebut dengan ekstensi file IND atau tambahkan ( .IND)
pada akhir nama file.
4. Buka software Progress v3.0. Kemudian langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan input data. Pilih file -> open atau dengan menekan CTRL+O. Lalu pilih
data yang sudah kita simpan tadi, maka secara otomatis data akan terisi pada tabel
yang tersedia.
288
5. Setelah data terbuka, cek kembali data dan pastikan tidak ada spasi setelah data di
tiap barisnya. Kemudian pilih jenis konfigurasi yang kita gunakan saat pengambilan
data. Karena yang kita gunakan konfigurasi maka pilih Sc pada tab jenis konfigurasi.
6. Langkah selanjutnya adalah melakukan forward modelling. Pilih tab forward
modelling. Maka akan muncul diagram antara AB/2 vs Rhoapp dengan titik-titik biru
merupakan data yang kita input. Pada tabel Depth dan Resistivity isikan kedalaman
dan nilai resistivitas yang sesuai. Akan muncul garis kuning sebagai acuan kita
melakukan isian data kedalaman dan resistivitas. Bentuk garis kuning tersebut agar
trendnya mengikuti titik-titik biru. Usahakan nilai Root Mean Square (RMS)
seminimal mungkin. Kita bisa menghapus data yang kita anggap “merusak” dengan
kembali pada tab Observed Data dan menghapus data tersebut. *ini tidak akan
menghapus data pengukuran di lapangan kita.
7. Setelah trend dari garis kuning tersebut dirasa sudah cukup, selanjutnya kita
melakukan invers dari data yang telah kita dapat. Pilih tab Invers Modelling. Pada
saat melakukan inversmodelling nilai RMS akan semakin kecil karena Progress akan
melakukan membuat model yang paling mendekati data. Ketika nilai RMS. Pada saat
forward modelling sudah menunjukkan nilai yang kecil, iterasi yang dibutuhkan tidak
289
perlu terlalu banyak. Secara default akan muncul angka 10 pada kolom iterasi. Jika
nilai RMS kita dibawah 10% ganti nilai iterasi dengan angka yang lebih kecil, (ex: 2
atau 5).
5. INTERPRETASI DATA
Untuk memudahkan interpretasi penyusun satuan geologi, data tahanan jenis dilakukan
inversi dengan program Progress untuk memudahkan interpretasi lapisan geologi dengan
menampilkan gambar borlog persumur dari analiais tahanan jenis yang sebenarnya. Progres
3.0 merupakan program interpretasi tahanan jenis menggunakan metode optimasi non– linier
yang secara otomatis menentukan model inversi tahanan jenis dan interpretasi data untuk
struktur bawah permukaan dari data observasi titik sounding hasil survey geolistrik. Dasar
290
teori yang mendasari pembuatan program komputer Progress 3.0 adalah teori pencocokan
kurva atau Curve Matching.
Progress 3.0 membutuhkan masukan berupa nilai tahanan jenis semu (ρa) dan nilai AB/2
atau setengah jarak elektroda arus. Hasil masukan kedua variabel ini akan menampilkan
sebuah kurva lapangan tahanan jenis semu (ρa) vs setengah jarak elektroda arus (AB/2).
Untuk pengolahan kurva lapangan menggunakan forward modelling dan inverse modelling
membutuhkan masukan model parameter berupa lapisan (layer), kedalaman (depth), dan
nilai tahanan jenis semu (ρa).
Dari gambar interpretasi di bawah ini, dapat disimpulkan bahwa lapisan akuifer air
terdapat pada kedalaman sekitar 60 meter. Untuk mementukan jenis batuan yang ada
diperlukan data geologi setempat daerah tersebut. Bila terdapat banyak titik sounding yang
diketahui posisi dan ketinggiannya, maka dapat dibuat peta akuifer air.
Setelah mengindikasi litologi batuan penyusun tiap lapisan, selanjutnya yaitu
memperkirakan model keberadaan air tanah dimana kemungkinan terdapat disetiap sumur.
Teknik yang dilakukan dengan melakukan korelasi tiap titik amat, sehingga dapat diduga
kontinyuitas dari tiap-tiap lapisan penyusun tersebut dan dapat mengetahui arah aliran air
tanah jika didapatkan formasi penyusunnya.
291
292
Gambar 8. Rentang harga resistivitas dan konduktivitas berbagai batuan dan material
(modifikasi dari Palacky,1987)
293
BAB X
Metode Very Low Frequency (VLF)
I. Pendahuluan
Penggunaan dari Very Low Frequency (VLF) telah dikenal lebih dari 40 tahun
karenamudahnya penggunaan dengan cakupan yang luas setelah data diolah (McNeill&
Labson, 1991). Pada dasarnya, VLF bekerja dengan memanfaatkan pemancar radio atau
disebuttransmitter yang tersebar di beberapa negara pada berbagai belahan dunia. Metode
Very LowFrequency (VLF) memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari
transmitter dengan spektrum frekuensi sangat rendah (15-30 kHz) yang menjalar melalui
permukaan bumidan ionosfer. Dua pemancar radio yang terdekat dengan Indonesia berada
di Yosami, Jepang dan Northwest Cape, Australia. Efek yang diberikan oleh pemancar
akan mempengaruhi perlapisan pada area yang diamati. Sehingga, perlapisan tersebut akan
terinduksi akibat adanya penjalaran gelombang elektromagnetik yang ketika melalui
perlapisan tertentu akan menimbulkan medan elektromagnetik sekunder dalam bentuk
gangguan terhadap medan magnetik alamiah bumi (Hiskiawan, 2009).
Metode ini digunakan untuk target survei berdasarkan sifat konduktivitas dan
resistivitas batuan (sesuai dengan mode yang digunakan). Metode VLF dapat
diinterpretasikansecara kualitatif dengan kedalaman tidak pasti (estimasi) berkisar 5-50
meter. Pada dasarnya metode ini digunakan untuk ekspolorasi mineral, pemetaan geologi,
groundwater exploration,overburden mapping, identifikasi limbah, dan identifikasi zona
panas bumi. Hasil pengukuran yang diperoleh berdasarkan survei VLF dengan
memanfaatkan komponen tersebut dapat digunakan untuk mengetahui perkiraan
resistivitas batuan yang diinduksi oleh gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh
pemancar. Metode VLF dapat menggunakan pemancaryang ada di seluruh dunia apabila
siinyalnya masih terjangkau. Sinyal-sinyal pemancar memiliki waktu optimal dalam
rentang pagi-siang hari.
294
II. Dasar Teori
a. Metode Elektromagnetik Very Low Frequency (VLF)
Metode ini dilakukan berdasarkan prinsip gelombang EM, dimana medan EM primer
yang dipancarkan dari pemancar akan berinteraksi dengan medium yang mempunyai nilai
konduktivitas listrik berbeda dengan host, sehingga memunculkan medan EM sekunder.
Medan listrik E dan medan magnet H yang direkam, setelah diproses dapat menghasilkan
konduktivitas medium. Terdapat dua cara dalam mengkaji sifat gelombang EM untuk
metode ini, yaitu cara tilt angle mode dan cara resistivity mode. Tiltangle mode mengukur
medan H pada 3 komponen, kemudian menganalisis nilai tilt dan elliptisitasnya. Mode
resistivity mengukur medan E dan H yang bersesuaian,sehingga dapat diperoleh nilai
resistivitas semu dan fasenya. Data dalam masing-masing mode dipergunakan untuk
menganalisis dan memodelkan konduktivitas listrik medium di bawahpermukaan.
Metode elektromagnetik VLF ini bertujuan untuk mengukur harga daya
konduktivitas batuan berdasarkan pengukuran gelombang elektromagnetik sekunder.
Pemanfaatan gelombang hasil induksi elektromagnetik yang berfrekuensi sangat rendah
dari transmitter, maka akan terjadi arus induksi dari dalam medium batuan. Arus induksi
tersebut yang menimbulkan medan sekunder yang dapat ditangkap di permukaan bumi.
dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik sekunder maka dapat mendeteksi daya
hantar listrik batuan di bawahnya. Hal ini karena besar kuat medan elektromagnetik
sekunder sebanding dengan besarnya daya hantar listrik batuan. Metode VLF tergolong
metode Geofisika pasif. Pada kerjanya metode ini hanya menangkap sinyal-sinyal
frekuensi dari stasiun-stasiun yang ada di seluruh dunia. Dalam pelaksanaanya, metode ini
menggunakan sinyal dari dua frekuensi saat akusisi dan menggunakan satu frekuensi dalam
pengolahannya (hasil akuisisi yang baik, single frequency).
b. Perambatan Medan Elektromagnetik
Medan elektromagnetik dinyatakan dalam 4 vektor medan. Yaitu: E = intensitas medan
listrik (V/m), H = intensitas medan magnetisasi (A/m), B = induksi magnetik, ataurapat fluks
(Wb/m2 atau tesla) dan D = pergeseran listrik(C/m2). Keempat persamaan tersebut dikaitkan
dalam 4 persamaan maxwell berikut.
Hukum Gauss untuk medan listrik:
Hukum Ampere-Maxwell:
Hukum Faraday:
Gambar 10.2. Hubungan Amplitudo dan Fase Gelombang Sekunder (S) dan Primer (P)
296
Andaikan 𝑍 (= 𝑅 + 𝑖𝜔𝐿) adalah impedansi efektif sebuah konduktor dengan tahanan
𝑅 dan induktans 𝐿, maka arus induksi (eddy), 𝐼𝑠 (= 𝑒𝑠/𝑍) akan menjalar dalam medium dan
menghasilkan medan sekunder S. Medan S tersebut memiliki fase tertinggalsebesar ∅ yang
besarnya tergantung dari sifat kelistrikan medium. Besarnya ∅ ditentukan dari persamaan
tan ∅ = 𝜔𝐿/𝑅.Total beda fase antara medan P dan S akan menjadi 90°+ 𝑡𝑎𝑛−1(𝜔𝐿/𝑅).
Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa, jika terdapat medium yang sangat
konduktif (R→0), maka beda fasenya mendekati 180°, dan jika medium sangat resistif (R→
∞) maka beda fasenya mendekati 90°. Persamaan di bawah ini menunjukkan bahwasemakin
besar perbandingan Re/Im (semakin besar pula sudut fasenya), maka konduktor semakin
baik, dan semakinkecil maka konduktor semakin buruk.
1. Mode Tilt-Angle
Mode tilt-angle digunakan untuk mengetahui struktur konduktif dan kontak
geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. Dalam mode ini, arah strike
target memiliki sudut ±45° dengan lokasi pemancar. Pada konfigurasi pengukuran
semacam ini, medan primer akan memberikan fluks yang maksimum jika memotong
struktur, sehingga memberikan kemungkinan anomali yang paling besar. Dalam
pengukuran, instrumen T-VLF akan menghitung parameter sudut tilt (yaitu sudut
utama polarisasi ellips dari horizontal (dalam derajat atau persen)) dan eliptisitas (ε)
(yaitu perbandingan antara sumbu kecil terhadap sumbu besarnya (dalampersen)) dari
pengukuran komponen in phase dan out of phase medan magnet vertikal terhadap
komponen horizontalnya. Besar sudut tilt (%) akan sama dengan perbandingan
Hz/Hx dari komponenin-phase-nya, sedang besar eliptisitas ε (%) sama dengan
perbandingan komponen kuadraturnya. Dari peristiwa ini dihasikan 2 parameter,
yaitu sudut tilt dan elliptisitas.
297
2. Mode Resistivty
ρa = resistivitas semu
μ = permeabilitas magneti
ω = frekuensi sudut (fasa)
298
o Rambatan Gelombang Elektromagnetik
Pada elektromagnetik VLF dengan frekuensi < 100 KHz, arus pergeseran
akanlebih kecil dari arus konduksi karena permitivitas dieletrik batuan rata-rata
cukup kecil dan konduktivitas target biasanya >10-2 S/m. Hal ini menunjukkan
efek medan akibat arus konduksi memegang peranan penting Ketika terjadi
perubahan konduktivitas batuan.
o Pelemahan (Atenuasi) Medan
Pelemahan medan ini mempengaruhi kedalaman. Kedalaman pada saat
amplitudo menjadi 1/e (kira-kira 37%) dikenal sebagai skin depth atau
kedalaman kulit. Kedalaman ini dalam metode elektromagnetik disebut sebagai
kedalaman penetrasi gelombang, yaitu
Keterangan:
ρ = resistivitas (Ohm.m)
f = frekuensi (Hz)
o Rapat Arus Ekuivalen
Rapat arus ekuivalen terdiri dari arus yang menginduksi konduktordan arus
yang terkonsentrasi dalam konduktor dari daerah sekelilingnya yang kurang
konduktif. Asumsi untuk menentukan rapat arus yang menghasilkan medan
magnetik yang identik dengan medan magnetik yang diukur. Secara teori,
kedalaman semu rapat arus ekuivalen memberikan gambaran indikasi tiap-tiap
kedalaman variasi konsentrasi arus.
o Penggunaan dan Penerapan Metode VLF
Dalam metode Very Low Frequency (VLF), medan primer yang dipancarkan
dengan frekuensi sangat rendah (15-30 kHz) ketika mengenai benda konduktif
akanmembangkitkan medan sekunder, resultan dari medan primer dan medan
sekunder iniyang diterima oleh alat VLF, dan besarnya resultan ini tergantung
dari medan sekunder.
Identifikasi adanya pencemaran dilokasi TPA ditandai tingginya harga
Daya Hantar Listrik (DHL) dan Padatan Terlarut Total (TDS), dan rendahnya
harga resistivitas semu. Very Low Frequency sangat baik untuk penyelidikan
kualitas air pada mediumberpori (Benson et al., 1997). Benson et al. (1997) yang
menunjukan bahwa air yang tercemar hidrokarbon akan memiliki nilai resistivitas
tinggi, tetapi akan memiliki resistivitas yang rendah untuk air yang tercemar
material inorganik.
f. Alterasi dan Mineralisasi
Larutan hidrotermal adalah cairan bertemperatur tinggi dengan rentang suhu
sekitar 100°–500°C. Larutan hidrotermal merupakan larutan sisa magma yang
299
mampu merubah dan membentuk mineral -mineral tertentu. Secara umumcairan sisa
kristalisasimagma tersebut bersifat silika yang kaya alumina, alkali dan alkali tanah,
terdapat air dan unsur-unsur volatil (Bateman, 1981). Larutan hidrotermal terbentuk
pada fase akhir dari siklus pembekuan magma dan umumnya terakumulasi pada
litologi dengan permeabilitas tinggi atau pada zonalemah. Interaksi antara fluida
hidrotermal dengan batuan yang dilaluinya (wall rock) akan menyebabkan
terubahnya mineral primer menjadi sekunder (alteration minerals). Menurut Lowell
dan Guilbert (1970; dalam Garwin, 2002), klasifikasi alterasi hidrotermal pada
endapan tembaga porfiri ada empat tipe yaitu:
o Zona Potasik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti K –feldspar,
biotit, sedikit serisit dan anhidrit.
o Zona Filik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti kuarsa,serisit,
klorit dan pirit.
o Zona Argilik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti kalsit, pirit,
dan mineral lempung berupa illit, smektit, kaolin montmorrilonit.
o Zona Propilitik, yang dicirikan oleh komposisi mineral sekunder seperti klorit-
kalsit-epidot, lempung, pirit.
Mineralisasi adalah proses pergantian unsur-unsur tertentu dari mineral yang
adapada batuan dinding digantikan oleh unsur lain yang berasal dari larutan sehingga
menjadi lebih stabil. Proses ini berlangsung dengan carapertukaran ion.
300
Unit sensor adalah penerima gelombang radio dengan jangkauan frekuensi
10 hingga 30 kHz yang dilengkapi dengan automatic gain dan digital filtering.
Pengukuran dilakukan secara otomatis dan dikontrol oleh microprocessor. Pada
unitsensor terdapat tiga sensor magnetik X, Y dan Z yang saling tegak lurus satu
sama lain. Terdapat dua inklinometer pada sensor X dan sensor Y untuk mengoreksi
posisi miring dan memungkinkan sensor untuk memperoleh data yang
direferensikan padabidang horizontal nyata dan bidang vertikal nyata. Unit sensor
ini mampu mengukurduafrekuensi secara bersamaan. Unit sensor ini mendukung
dua mode pengukuran:
a. Mode Tilt angle — tiga sensor magnetik dengan dua inclinometer (+ / -45°)
2. Console/T-Unit
3. Connector
Connector digunakan untuk menghubungkan Sensor Unit dengan console.
302
Gambar 10.8. Elektroda
5. Pengisi Daya
a) Baterai
Pengisi daya berupa baterai yang dipasang di bagian bawah Unit Sensor
menggunakan 6 buah baterai D dengan kapasitas 1,5 Volt. Pengukuran
menggunakan baterai terbilang cukup boros karena dalam 1 hari pengukuran
seringkali membutuhkan 2 set baterai atau 12 buah baterai.
• Parameter Pengukuran
Pengukuran menggunakan alat T-VLF memungkinkan untuk mengkarakterisasi
medan magnet dengan tiga komponennya, amplitudo, dan fase.
▪ Langkah pertama, medan magnet ditinjau pada bid
▪ ang horisontal. Polarisasi ellips pada bidang horisontal dikarakterisasi dengan
setengah sumbu mayornya (nilai medan magnet horisontal, dalam μA/m) dan
sudut yang dibentuk antara sumbu mayor dengan sensor X (faktanya, tangen sudut
ini, diberikan dalam %), arah tegak lurus sumbu dengan transmitter ketika tidak
ada anomali yang kuat sert elliptisitasnya (dalam %).
▪ Langkah kedua medan magnet ditinjau pada bidang vertikal yangmelewati sumbu
304
mayor pada polarisasi ellips horisontal sebelumnya. Polarisasi ellips vertikal
dikarakterisasi dengan tilt pada sumbu mayor dengan bidang horisontal (faktanya,
tangen dari sudut, dalam %) dan elliptisitasnya (dalam %).
▪ Untuk menentukan karakteristik ellips dari pengukuran komponenmedan
magnetik, digunakan persamaan dibawah ini:
dengan :
𝑠 = 𝑘 sin 𝜑
𝜌𝑎 = apparent resistivity
C. Desain Survei
a) Target Survei
Dalam penentuan desain survei hal yang pertama harus dilakukan adalah
menentukan target survei. Adapun untuk metode VLF terdapat beberapa target survei
305
yaitu berupa penyelidikan prospek mineral konduktif (McNeill dan Labson, 1987;
Paal, 1965), memetakan patahan dan pemetaan kontaminasi air tanahdikombinasikan
dengan metoda resistivitas (Benson dkk., 1997), studi kebencanaan dan lingkungan
(Jeng dkk., 2004), pemetaan sistem rekahan di bawah permukaan untuk studi zona
mineralisasi emas (Tijani dkk., 2009), studi pasca pondasi (Ofomola dkk., 2009),
sedangkan interpretasi VLF-EM dengan memanfaatkan struktur anomali 3D dengan
menggunakan teknik filter linierdiperkenalkan oleh (Djeddi dkk., 1998). Bosch &
Müller (2001) mensintesakan penggunaan metoda VLF-EM untuk berbagai
keperluan, diantaranya: memetakan pencemaran, eksplorasi air bawah tanah yang
dikombinasikan dengan metode VES (Nandakumar dkk., 1983), delineasi zona
sedimentasi (Oskooi, dan Pedersen,1995), dan lain sebagainya.
b) Spasi antar Titik dan Lintasan Pengukuran
• EM (Tilt Angle)
• R (Resistivity)
Mode ini digunakan untuk mengetahui dike resistif dan di sisi lain untuk
membatasi satuan geologi melalui pemetaan tahanan jenisnya. Mode ini sangat
baik jika arah pemancar tegak lurus strike geologinya (±45°) seperti terlihat pada
gambar di atas. Alat akan langsung mengukurbesarnya tahanan jenis medium
dan besarnya sudut fase medium. Letakanomali secara kasar berada di bawah
puncak anomali tahanan jenis. Sedangkan harga fase > 45° menunjukkan tahanan
306
jenis semakin dalam semakin kecil, dan fase < 45° menunjukkan tahanan jenis
semakin dalammakin besar.
d) Transmitter
Transmitter yang memancarkan gelombang elektromagnetik dengan
frekuensi sangat rendah merupakan sumber dari pengukuran menggunakan metode
VLF ini. Karena Indonesia tidak memiliki transmitter sendiri maka dalam akuisisi
VLF memanfaatkan transmitter milik negara-negara lain yang tersebar di seluruh
dunia. Pemilihan transmitter saat akuisisi ditentukan dengan mempertimbangkan
beberapa hal berikut:
Gambar 10.15. Transmitter VLF ditandai dengan Titik Biru (Marshall, 2009)Tabel
2. Daftar Transmitter Dunia
307
Tabel 10.2. Daftar Transmitter Dunia
3) Kompensasi topografi
4) Operator alat
5) Notulen
2. Pengoperasian Instrumen
Sebelum memulai pengukuran menggunakan instrumen, posisi operator
dalam membawa sensor diusahakan tegak dan tenang saat pengukuran. Operator
menghadap arah lintasan dalam setiap titiknya agar nilai pengukuran yang
didapatkan optimum.
1. Sebelum melakukan pengukuran, alat T-unit dan unit sensor telah
dihubungkanserta diberi sumber tegangan. Tombol [ON/OFF] pada T- unit
ditekan untuk menyalakan alat ukur.
4. Pilih mode pengukuran tilt dengan menekan tombol [1] lalu [ENTER]
5. Kemudian akan tampil pilihan frekuensi, T-VLF menyediakan tiga pilihan
yakni menggunakan frekuensi yang terdapat pada daftar di unit T-VLF,
memasukkan paramater frekuensi sendiri atau menggunakan frekuensi yang
terakhir digunakan. Tekan tombol sesuai pilihan frekuensi yang akan
309
digunakan.
6. Apabila menu Other Frequencies dipilih maka akan muncul tampilan untuk
memasukkan frekuensi. Masukkan besaran frekuensi dari pemancar yang
akandigunakan. Tekan [START] untuk memulai pengukuran.
310
10. Untuk mendapatkan hasil pengukuran dari F2 makan tekan tombol [F2]
pada T-unit.
11. Tekan tombol [Tilt] sekali lagi untuk melihat nilai kuat medan dari F2
12. Apabila tidak yakin terhadap data yang terukur pada titik tersebut,
pengukurandapat diulang kembali dengan menekan tombol [START] pada
T-unit. Besaran yang didapat dari stacking pengukuran ulang akan dirata
ratakan dengan stacking pengukuran sebelumnya. Untuk meresetstacking
pengukuran, tekan tombol [backspace] dan tekan tombol [START] kembali.
E. Kompensasi Topografi
Spasi antar titik yang digunakan dalam akuisisi metode VLF adalah
jarakdatar peta. Sehingga jika daerah akuisisi memiliki medan yang berundulasi
maka perlu dilakukan kompensasi topografi. Pada saat akuisisi di lapangan
dibutuhkan meteran untuk mengukur jarak spasi dan jarak kompensasi,
sertadiperlukan tabel kompensasi topografi untuk semua sudut. Sudut tersebut
didapatkan dari pengukuran menggunakan klinometer.
.
Gambar 10.16. Ilustrasi Kompensasi Topografi
311
Gambar 10.17. Tabel Kompensasi Topografi
G. Noise
Noise atau gangguan yang dapat mempengaruhi kualitas data saatakuisisi
metode VLF adalah sebagai berikut:
312
IV. Pengolahan Data
Pengolahan metode VLF didasarkan pada nilai tilt dan ellips hasil dari data akuisisi
dilapangan. Parameter lain yang menjadi quality control terhadap data tilt dan ellips yaitu:
medan horizontal dan medan vertikal (H Hor dan H Ver), arah datangnya medan
elektromagnetik, keadaan selama pengukuran di lapangan, dan quality bar padaunit T
console. Pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan peta rapat arus ekuivalen (peta
RAE). Pengolahan data VLF dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan
Microsoft Excel dan Surfer maupun secara langsung dengan menggunakan software khusus
pengolahan seperti WinVLF. Pengolahan data VLF dengan menggunakan software
WinVLF sama seperti pengolahan data yang dilakukansecara manual dengan menggunakan
Microsoft Excel dan Surfer dimanasoftware tersebut membutuhkan data input berupa data
tilt selama pengukuran sehingga akan diperoleh output berupa peta rapat arus ekuivalen
(peta RAE).
Pada pengolahan data VLF diperlukan koreksi topografi terlebih dahulu sebelum
melakukan filter Moving Average. Adapun filter Moving Average bertujuan untuk
menghilangkan noise-noise yang ada. Kemudian dilakukan Fraser filter yang bertujuan
untukmenentukan posisi dari target anomali dan juga dilakukan filter Karous Hjelt. Adapun
diagramalir untuk tahapan pengolahan data VLF adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan dR
314
c. Perhitungan Tilt Topografi
315
berfrekuensi rendah. Data yang berfrekuensi rendah diasumsikan sebagai sinyal,
sedangkan data berfrekuensi tinggi diasumsikan sebagai gangguan (noise) sekaligus
anomali lokal.
Pemilihan orde pada moving average dipilih sesuai kebutuhan dan
kecocokan data, pada umumnya data yang tersaturasi banyak noise spike maka
menggunakan orde yang lebih besar. Efek dari filter Moving Average adalah
memperhalus data serta menghilangkan anomali yang merupakanberasal dari noise
eksternal atau bersifat lokal.
Adapun cara kerja filter movingaverage yaitu merata-ratakan nilai pada beberapa
titikuntuk menghasilkan nilaipada satu titik. Rumus filter moving average sebagai
berikut:
b. Perhitungan Tilt MA
316
c. Perhitungan Elips MA
d. Perhitungan Elevasi MA
(Fraser, 1969)
Keterangan:
𝑀(𝑖) = data ke i
317
a. Perhitungan Jarak Fraser
Untuk Dz = 1x spacing
318
Untuk Dz = 2x spacing
d. Perhitungan RAE
319
6. Melakukan Normalisasi Data
Setelah filter Karous Hjelt selesai, tahap selanjutnya yaitu menyalin data hasil
filter tersebut dan melakukan normalisasi data. Normalisasi data digunakan
untuk korelasi antar lintasan. Adapun rumus normalisasi sebagai berikut:
Keterangan :
a = nilai RAE tertinggi data
b = nilai RAE terendah data
320
B. Pengolahan Data VLF-EM pada Surfer
Pengolahan menggunakan software surfer ini bertujuan untuk menampilkan
penampang dari rapat arus ekuivalen (RAE) pada lintasan sehingga akan
mempermudah dalam melakukan interpretasi.
1. Di Excel, nilai x, y, RAE, RAE Normalisasi, Elevasi, dan Plot Elev diurutkan dalam
table.
2. Surfer dibuka dan dibuat worksheet baru, kemudian salin tabel pada langkah 1 ke
dalamworksheet di surfer, lalu simpan worksheet dalam bentuk dat
3. Selanjutnya buat plot baru, klik menu Grids > Grid Data. Pada window Grid Data-
Select Data pilih Krigging lalu pilih file dat yang sebelumnya tersimpan. Lalu klik
skipto end. Pada window ini centang Assign No DataOutside Convex hull of Data.
Klik Finish
321
4. Kemudian akan muncul plot baru. Klik pada penampang RAE, pada window
propertiesklik levels lalu centang color scale, fill contours dan pilih rainbow
pada fill colors
322
7. Selanjutnya normalisasi di plot dengan langkah yang sama seperti plot RAE.
Namun yang membedakan adalah klik pada penampang RAE, pada window
properties pilih levels, atur minimum contour menjadi -1 danmaximum contour
menjadi 1. Simpan hasilplot.
8. Buat worksheet baru dengan kolom pertama adalah x dan kolom kedua adalah nilai
plotelev. Untuk kolom pertama bagian atas diisi dengan jumlah data, lalu untuk klom
keduabagian atas ditulis angka 1.
323
9. Kemudian dilakukan plot untuk RAE normalisasi dengan undulasi. Dimana
dilakukandengan klik hasil RAE normalisasi kemudian digitasi untuk bagian ujung
kanan dan kiri bawah. Didapat nilai digitasi lalu inputkan pada langkah 8.
324
10. Kemudian save dalam bentuk file .bin.
11. Tampilkan hasil anomali dengan undulasi dengan cara klik grid, lalu inputkan data
seperti gambar di bawah ini. Klik skip to end dan inputkan file bin yang sudah dibuat
tadi. Kemudian, atur spacing untuk x dan y direction menjadi 0.5, serta ceklis assign
nodata outside lalu klik nodata outside dan finish.
325
12. Berikut hasil plot undulasi pada lintasan.
13. Selanjutnya lakukan fence untuk setiap lintasan dan hubungkan kemenerusannya
sesuai anomali yang terbentuk.
326
Gambar 10.20. Fence setiap lintasan (Sumber: Data VLF GE 2022)
V. Interpretasi Data
1. Interpretasi Perkiraan Langsung
Pada metode VLF terdapat cara quick look untuk memperkirakan baik/buruknya
benda konduktif dengan melihat pola grafik tilt and ellips.
1. Konduktor buruk, lapisan penutup resistif : pola tilt dan ellips sama,bertanda sama.
2. Konduktor baik, lapisan penutup resistif : ada anomali klasik tilt, namunellips rendah.
327
4. Konduktor baik, lapisan penutup konduktif : ada nilai antara tilt dan ellips,kedua
nilaicukup tinggi.
Gambar 10.21. Korelasi Data yang telah dilakukan Filter dengan Anomali
yangdidapat (Sumber: Data VLF GE 2022)
328
menggunakan grafik fraser, posisi anomali berada tepat dibawah puncakan grafik.
Dimensi dari anomali dapat diperkirakan darilebar puncakan.
Gambar 10.22. Contoh grafik data lapangan (tilt), data lapangan yang telah
dilakukan filtermoving average (smoothing tilt), data yang telah dilakukan filter
Fraser, dan hubungan data sebelum dan sesudah dilakukannya filter pasif
Gambar 10.23. Contoh grafik data lapangan (tilt), data yang telah dilakukan filter fraser
(fraser), dan data yang telah dilakukan filter Karous-Hjelt.
329
Gambar 10.24. Contouring hasil filter Karous Hjelt. Area konduktif diwakili oleh warna
merahdan area resistif diwakili oleh warna biru.
330
REFERENSI
Authors, (2019). Guide Book of Field Camp 2019, Yogyakarta: Prodi Geofisika,
Departemen Fisika, Universitas Gadjah Mada
Geophysical Survey Systems. (2014). SIR 4000 Manual. Unites States America.
Hinze, W. J., dkk, (2013). The magnetic method. Gravity and Magnetic Exploration, 215– 234.
doi:10.1017/cbo9780511843129.009
Ivan S. Oliveira, Tito J. Bonagamba, Roberto S. Sarthour, Jair C.C. Freitas, Eduardo R.
deAzevedo. (2007). 2 - Basic Concepts on Nuclear Magnetic Resonance, NMR Quantum
Information Processing. p 33-91.
Knight, R. (2001). Ground Penetrating Radar for Environment Application. Annu. Rev. Earth Planet.
Sci, Vol. 29, pp. 229-55.
Luthfi, A.N., 2017. Pemodelan bawah permukaan maar gunung api berdasarkan analisisdata
magnetik: Studi kasus di daerah Ranu Segaran Merah, Desa Andungsari, Kecamatan
Tiris, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur (Doctoral dissertation, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Musset, Alan E., dan Khan, M. Aftab. Looking Into the Earth. Cambridge University Press. New
York. pp. 227-230.
Panjaitan, Melda, 2015, Penerapan Metode Magnetik dalam Menentukan Jenis Batuan dan
Mineral, Jurnal Riset Komputer (JURIKOM). Vol.2 No.6, hlm. 69-72.
331
Pratiwi, F. D. (n.d). Pengolahan Data Magnetik Menggunakan Oasis Montaj. Yogyakarta :
Universitas Gadjah Mada
Puspita, Mayang Bunga. 2021. Metode Magnetik [Powerpoint Slides]. Universitas Brawijaya
Quan, dkk. (1997). Seismic attenuation tomography using the frequency shift method. Geophysics 62,
pp. 895–905.
Reeve, W., 2010, Magnetism Tutorial, USA: Reeve Observatory Anchorage Alaska. Science
Facts. (2021). Magnetic Field Lines: Definition, Direction, & Properties. [online]
Tim Guidebook Field Camp. 2022. Guidebook Field Camp 2022. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada
Tim Guidebook KL Non Seismik. 2021. Buku Panduan Kuliah Lapangan Non-seismik 2021.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Whitham, K., Loomer, E.I. and Niblett, E.R., 1960. The latitudinal distribution of magnetic
activity in Canada. Journal of Geophysical Research, 65(12), pp.3961-3974.
332