BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari “mengetahui”, yang terjadi setelah orang
mempersepsikan suatu objek. Persepsi objek terjadi melalui puncak tertinggi
indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Pengetahuan ini muncul pada saat persepsi dan sangat dipengaruhi oleh
kekuatan perhatian yang dirasakan terhadap objek. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,
2012 dalam Wawan dan Dewi, 2018).
Pengetahuan adalah proses menghafal dan mengenali objek yang dipelajari
dengan baik melalui domain indera tertentu (Lestari, 2015). Pengetahuan
adalah hasil kombinasi atau kerjasama antara subjek pengetahuan manusia
dan objek yang diketahui. Semua informasi yang diketahui tentang mata
pelajaran tertentu (Suria Sumantri dalam Nurroh 2017).
Pengetahuan atau kognisi merupakan area yang sangat penting dalam
membentuk perilaku seseorang (overt behavior). Penelitian Rogers (1974)
menunjukkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (new
behavior), terdapat proses berurutan dalam tubuh manusia yang disebut
AIETA, yaitu:
1. Kesadaran, seseorang sadar dalam arti bahwa suatu stimulus (objek)
diketahui terlebih dahulu.
2. Interest (merasa tertarik) Individu mulai memperhatikan dan menjadi
tertarik pada stimulus.
3. Evaluasi, individu akan mempertimbangkan pro dan kontra dari
rangsangan untuk dirinya sendiri, yang berarti sikap responden lebih
6 Universitas Faletehan
7
baik.
4. Eksperimen, dimana individu mulai mencoba perilaku baru
5. Adaptasi dan sikap terhadap rangsangan (Wawan, 2014).
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Sulaiman (2015), tingkat pengetahuan terdiri dari 4 macam yaitu
pengetahuan deskriptif, pengetahuan kausal, pengetahuan normatif dan
pengetahuan dasar. Pengetahuan deskriptif adalah pengetahuan yang
dibentuk secara objektif dengan cara ditransmisikan atau dijelaskan, tanpa
ada unsur subjektif. Pengetahuan kausal adalah pengetahuan yang
memberikan jawaban tentang sebab dan akibat. Pengetahuan normatif
adalah pengetahuan yang selalu berkaitan dengan metrik dan norma atau
aturan. Pengetahuan dasar adalah pengetahuan yang menjawab pertanyaan
tentang hakikat sesuatu dan telah dipelajari dalam bidang filsafat.
Menurut Notoatmodjo (2012), pengetahuan mempunyai enam tingkatan,
yaitu:
1. Tahu (Know)
Mengetahui diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Tingkat pengetahuan ini mencakup mengingat hal-hal
tertentu dari semua materi yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.
Oleh karena itu, mengetahui bahwa ini adalah tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.
3. Aplikasi (Application)
Universitas Faletehan
8
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di
sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum,
rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menggambarkan bahan atau objek
sebagai komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih
memiliki hubungan satu sama lain. Kemampuan analitis ini terlihat pada
penggunaan kata kerja, seperti mampu mendeskripsikan (membuat
diagram), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan lain-lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria – kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2012).
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan non ilmiah atau cara kuno, yaitu:
a. Cara coba-salah (Trial and Error)
Cara ini telah di pakai orang sebelum kebudayaan, bahkan sebelum
adanya peradaban. Jika seorang menghadapi persoalan atau
masalah,upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba saja. Bila
percobaan pertama gagal, dilakukan percobaan yang kedua dan
seterusnya sampai masalah tersebut terpecahkan.
b. Cara kekuasaan atau otoriter
Universitas Faletehan
9
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang
dilakukan orang tanpa mempertimbangkan apakah yang mereka lakukan
itu baik atau buruk. Kebiasaan ini biasanya diturunkan dari generasi ke
generasi. Sumber pengetahuan dapat berupa tokoh masyarakat formal
atau informal. Wewenang pada prinsipnya adalah penerimaan pendapat
yang diungkapkan oleh orang lain berdasarkan perasaannya sendiri tanpa
terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya.
c. Berdasarkan pengalaman pribadi
Menurut pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah ini
mengandung maksud bahwa pengalaman merupakan sumber
pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapi.
d. Cara modern atau ilmiah memperoleh pengetahuan
Cara baru atau dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih
sistematis, logis dan ilmiah atau lebih populer disebut metodologi
penelitian. Kemudian diadakan penggabungan antara proses berpikir
deduktif, induktif dan verifikasi, akhirnya lahir suatu cara melakukan
penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan metode penelitian ilmiah.
e. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Fitriani dalam Yuliana (2017), faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:
f. Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, dan semakin berpendidikan
seseorang, semakin mudah menerima informasi. Peningkatan
pengetahuan tidak mutlak diperoleh pada pendidikan formal, tetapi juga
dapat diperoleh pada pendidikan nonformal. pengetahuan seseorang
suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif.
Kedua aspek ini menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.
Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui akan
menumbuhkan sikap positif terhadap objek tersebut. Pendidikan tinggi
seseorang didapatkan informasi baik dari orang lain maupun media
Universitas Faletehan
10
massa. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak pula
pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.
g. Media massa/sumber informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengetahuan jangka pendek (immediatee
impact), sehingga menghasilkan perubahan dan peningkatan
pengetahuan. Kemajuan teknologi menyediakan bermacam-macam
media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang
informasi baru. Sarana komunikasi seperti televisi, radio, surat kabar,
majalah, penyuluhan, dan lain-lain yang mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.
h. Sosial budaya dan Ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan seseorang tanpa melalui penalaran
apakah yang dilakukan baik atau tidak. Status ekonomi seseorang juga
akan menentukan ketersediaan fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan
tertentu, sehingga status sosial ekonomi akan mempengaruhi
pengetahuan seseorang.
i. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh
terhadap proses masuknya pengetahuan ke individu yang berada pada
lingkungan tersebut. Hal tersebut terjadi karena adanya interaksi timbal
balik yang akan direspon sebagai pengetahuan.
j. Pengalaman
Pengetahuan ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dari kejadian
yang pernah dialami diri sendiri ataupun pengalaman dari yang telah
dialami oleh orang lain. Pengalaman ini juga merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran dari suatu pengetahuan.
k. Usia
Usia dapat mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Karena semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pola pikir
dan daya tangkap seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh akan
Universitas Faletehan
11
terus bertambah, dan pengetahuan yang dimiliki akan semakin banyak.
4. Kriteria Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan dikategorikan dengan skala
yang bersifat kualitatif, yaitu:
1. Pengetahuan Baik, jika persentase jawaban 76-100%
2. Pengetahuan Cukup, jika persentase jawaban 56-75%
3. Pengetahuan Kurang, jika persentase jawaban <56%
B. Konsep Dasar Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
WHO menetapkan batas normal hipertensi yakni tekanan sistolik sebesar
120-140 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 80-90 mmHg. Sehingga
seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila memiliki tekanan darah
sistolik ≥160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥95 mmHg. Tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastoliknya di
atas 90 mmHg disebut juga hipertensi (Dewi, 2013). Sedangkan menurut
lembaga-lembaga kesehatan nasional (The National Institutes of Health)
mendefinisikan hipertensi sebagai tekanan sistolik ≥140 mmHg dan tekanan
diastolik ≥90 mmHg. Pengaturan peningkatan tekanan darah terjadi
gantung pada kondisi fisiologis tubuh terutama pengaturan aktivitas saraf
autonom. Kemampuan untuk mengompensasi peningkatan tekanan darah
dapat juga gagal dan menimbulkan kondisi dekompensasi dan terjadilah
hipertensi (Sherwood, 2013).
Hipertensi adalah kondisi dimana seorang individu mengalami peningkatan
Universitas Faletehan
12
tekanan darah di atas normal dalam jangka waktu yang lama. Alat untuk
mengukur tekanan darah dapat dilakukan dengan menggunakan
sphygmomanometer. Dapat dikataan seseorang menderita 13 hipertensi
apabila tekanan sistoliknya ≥140 mmHg dan tekanan diastoliknya ≥90
mmHg. Hipertensi menunjukkan adanya tekanan darah yang tinggi pada
pembuluh darah arteri. Kenaikan tekanan darah dapat dialami oleh setiap
orang dengan bertambahnya usia. Kenaikan tekanan darah sistolik dapat
terus meningkat sampai di usia 55-60 tahun hingga usia 80 tahun,
sedangkan tekanan diastolik dapat terus meningkat lalu dapat berkurang
secara perlahan ataupun dapat menurun drastis. (Soenanto, 2009).
2. Klasifikasi Hipertensi
Joint National Comitee VIII (JNC VIII), mengklasifikasikan tekanan darah
menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Tanpa diabetes/CKD < 60 tahun 140/90 mmHg dengan rincian
(Widiana, 2017) : Klasifikasi Hipertensi berdasarkan ISH/ESC Kategori
TDS (mmHg) TDD (mmHg) Optimal < 120 < 80 Normal 120 - 129 80
- 84 Normal Tinggi 130 - 139 85 - 89 Stage 1 (ringan) 140 - 159 90 - 99
Stage 2 (sedang) 160 - 179 100 - 109 Stage 3 (berat) > 180 > 110
Sistolik Terisolasi > 140 < 90 Klasifikasi Hipertensi menurut World
Health Organization atau International Society of Hypertension
(WHO/ISH) mirip dengan kategori ISH/ESC 2003 namun, terdapat
tambahan kategori hipertensi perbatasan (borderline) (Widiana, 2017).
b. Hipertensi berdasarkan WHO/ISH Klasifikasi Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg) Optimal < 120 < 80 Normal 120-129 80-84 Normal
Tinggi 130-139 85-89 Hipertensi Derajat 1 140-159 90-99 Hipertensi
Derajat 2 160-179 100-109 Hipertensi Derajat 3 > 180 > 110
Hipertensi Sistolik Terisolasi > 140 <90 Kelompok Perbatasan 140-149
< 90 Sedangkan terdapat 2 jenis hipertensi ditinjau berdasarkan unsur
penyebabnya (Utami, 2009):
1) Hipertensi primer atau disebut juga hipertensi esensial atau
Universitas Faletehan
13
hiperensi idiopatik merupakan hipertensi yang penyebabnya tidak
diketahui dan sebanyak 95% kasus hipertensi masuk kedalam
kategori ini. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab
hipertensi primer seperti stress, bertamhnya usia, dan genetik.
2) Hipertensi sekunder Atau disebut juga hipertensi renal dan
sebanyak 5% kasus hipertensi termasuk dalam kategori ini.
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang dapat disebabkan
oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan
gangguan anak ginjal. Dengan derajat Hipertensi sebagai berikut:
1. Derajat 1 (ringan) 140-159/ 90-99
2. Derajat 2 (sedang) 160-179/ 100-109
3. Derajat 3 (berat) ≥ 180/ 110-119
3. Etiologi Hipertensi
a. Hipertensi primer
Secara fisiologis, tekanan darah manusia dapat diregulasi atau
dikompensasi agar tidak timbul kondisi hipertensi. Mekanisme
kompensasi dapat terganggu yang dapat menimbulkan kondisi yang
disebut hipertensi primer. 95% dari semua kasus hipertensi adalah
hipertensi primer (Bolivar, 2013). Dengan bertambahnya usia maka
peluang terjadinya hipertensi juga meningkat. Seseorang ketika masih
muda yang memiliki tekanan darah yang tingi berisiko menderita
hipertensi di usia lanjut (Longo et al., 2012). Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya hipertensi yakni faktor genetik, konsumsi
garam, dan lingkungan (Bolívar, 2013).
b. Hipertensi sekunder
Jika hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya, maka hipertensi
sekunder adalah hipertensi yang diketahui penyebabnya. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi sekunder yakni
penggunaan obat, tiroid, bahkan penyakit ginjal. Hipertensi sekunder
Universitas Faletehan
14
lebih mudah untuk kembali ke kondisi tekanan darah normal pada saat
faktor penyebabnya sudah tertangani (Charles et al., 2017). Stres,
obesitas, penyumbatan pembuluh darah, konsumsi garam berlebih, dan
kurang gerak badan merupakan kecenderungan genetik yang dapat
menyebabkan tidak dapat disembuhkannya kasus tekanan darah tinggi.
Seseorang yang memiliki sejarah hipertensi ringan pada keluarganya,
maka dengan memberi perhatian khusus pada faktor risiko tersebut dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya perkembangan hipertensi.
Sedangkan untuk kasus yang lebih berat, maka diperlukan pengobatan
untuk mengontrol tekanan darah.
4. Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme terjadinya kenaikan tekanan darah yang menimbulkan
hipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko mulai dari genetik, gaya
hidup, hingga penyakit sekunder. Timbulnya hipertensi dapat diakibatkan
oleh dekompensasi dari sistem fisiologis tubuh untuk mengatur nilai tekanan
darah (Sherwood, 2013).
Secara fisiologis, tubuh dapat mengkompensasi adanya kenaikan nilai
tekanan darah yang diakibatkan oleh faktor risiko di atas. Paparan secara
kronik dapat 17 mengganggu aktivitas kompensasi fisiologis tubuh dan
jatuh pada kondisi dekompensasi sehingga timbul hipertensi (Sherwood,
2013).
Mekanisme patofisiologis yang menyebabkan hipertensi bersifat kompleks
dan bekerja berdasarkan latar belakang genetik. Hipertensi primer
melibatkan berbagai jenis gen. Beberapa gen dikaitkan dengan peningkatan
risiko pengembangan hipertensi primer dan dalam hampir semua kasus
terkait dengan riwayat keluarga yang positif. Kecenderungan genetik ini,
bersamaan dengan sejumlah faktor lingkungan, seperti asupan Na+ yang
tinggi, kualitas tidur yang buruk atau gangguan tidur, asupan alkohol
Universitas Faletehan
15
berlebih dan stres tinggi, dapat berkontribusi pada perkembangan hipertensi.
Akhirnya, kemungkinan terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan
bertambahnya usia penuaan. Faktor imunologi juga dapat berperan besar,
terutama dengan latar belakang penyakit infeksi atau reumatologis seperti
rheumatoid arthritis (RA). Peningkatan nilai tekanan darah dapat
diinduksi oleh peningkatan resistensi perifer atau cardiac output.
Peningkatan resistensi perifer dan cardiac output dipengaruhi oleh auto
regulasi pada ginjal yang melibatkan gangguan keseimbangan natriuresis
dan mengakibatkan tekanan natrium meningkat sehingga kebiasaan
konsumsi garam yang berlebih juga dapat menjadi penyebab terjadinya
hipertensi. Kadar garam yang meningkat di cairan serebro-spinalis dapat
mengaktifkan saraf simpatik pada neuromodulator hipotalamus. Aktivasi
saraf simpatik ini 18 memicu kerja sistem renin-angiostensin-aldosteron
ginjal (SRAA) (Bolívar, 2013).
Peningkatan aktivitas sistem renin- angiostensin aldosteron dapat
menimbulkan gangguan pada keseimbangan natriuresis ginjal sehingga
terjadi peningkatan nilai tekanan darah (Sherwood, 2013).
5. Tanda dan Gejala Hipertensi
Hipertensi seringkali disebut sebagai “silent killer” karena pasien dengan
hipertensi biasanya tidak ada gejala (asimptomatik) sehingga tidak disadari
oleh penderita. Sering kali hal itu baru disadari oleh penderita secara tiba-
tiba seperti pada waktu mengadakan pemeriksaan kesehatan, atau pada saat
mengadakan pemeriksaan untuk asuransi jiwa. Biasanya tanda-tanda
tekanan darah tinggi yang digambarkan oleh pasien adalah sakit kepala,
pusing, gugup atau palpitasi (Sugiharto, 2007).
Tanda umum yang dirasakan adalah pada saat melakukan pekerjaan berat
maka akan merasa sesak nafas. Muculnya tanda sesak nafas memperlihatkan
bahwa tenaga penderita mulai menurun karena kerja dari otot jantung juga
Universitas Faletehan
16
ikut menurun. Kemudian pada pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan
perubahan pada retina, seperti eksudat (kumpulan cairan), penyempitan
pembuluh darah, perdarahan, dan pada kasus berat dapat terjadi penglihatan
kabur atau hanya ditemukan naiknya tekanan darah saja (Sugiharto, 2007).
Mayoritas orang menduga bahwa gejala seperti pusing, sakit kepala pada
pagi hari, berdebar-debar, dan berdengung ditelinga merupakan gejala 19
hipertensi. Gejala tersebut dapat muncul pada tekanan darah normal, bahkan
seringkali tekanan darah yang relatif tinggi tidak memiliki gejala tersebut.
Dengan mengukur tekanan darah merupakan cara yang tepat untuk
meyakinkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Tanda dan Gejala
Hipertensi menurut (Utami, 2009), antara lain :
1. Sakit pada bagian belakang kepala
2. Leher terasa kaku
3. Kelelahan
4. Mual
5. Sesak napas
6. Gelisah
7. Muntah
8. Suka tidur
9. Pandangan jadi kabur
Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Terdapat 2 jenis faktor risko pada
Hipertensi, yakni faktor yang dapat diubah dan yang tidak dapat. Berikut
deskripsi dari masing-masing jenis faktor risiko. Faktor risiko yang tidak
bisa diubah:
a. Usia Hipertensi dapat mengenai semua usia. Risiko terserang hipertensi
dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Pada
tahun 2016, Buford melakukan penelitian epidemiologi yang
menunjukkan peningkatan progresif tekanan darah sistolik hingga 140
mmHg pada usia lanjut. Seiring dengan bertambahnya usia maka kondisi
Universitas Faletehan
17
hemodinamika Mean Arterial Pressure (MAP), Tekanan Darah Sistolik
(TDS), dan Tekanan Darah Diastolik (TDD) juga cenderung meningkat
(Buford, 2016).
b. Genetik. Individu dengan latar belakang hipertensi akan berisiko
menurunkan cenderung menurunkan kondisi hipertensi kepada
keturunannya. Penelitian menyebutkan bahwa riwayat keluarga
memiliki prevalensi hubungan sebesar 60% dan lingkungan memiliki
prevalensi hubungan sebesar 40% (Saxena et al., 2018). Jika kedua orang
tuanya terjangkit hipertensi maka risiko terjadinya hipertensi pada
anaknya juga akan meningkatkan (Saxena et al., 2018).
c. Jenis kelamin. Dalam sebuah penelitian menjelaskan bahwa terdapat
prevalensi sebesar 69,1% laki-laki dan 58% pada perempuan yang
menderita hipertensi (Song et al., 2016). Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Choi et al (2017) menjelaskan bahwa tingginya angka
kejadian hipertensi pada kelompok usia.
C. Konsep Kepatuhan
1. Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan merupakan tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap
petunjuk atau intruksi yang diberikan kepada pasien dalam bentuk terapi
yang telah ditentukan, baik diit, latihan, pengobatan atau menepati janji
pertemuan dengan dokter kepada pasien (Darmayanti et al., 2016).
Kepatuhan adalah suatu perubahan perilaku dari yang tidak mentaati
peraturan ke perilku yang mentaati peraturan (Gilang et al., 2018).
Kepatuhan ini dibedakan menjadi dua yaitu kepatuhan penuh (total
compliance) dimana pada kondisi ini penderita penyakit hipertensi patuh
secara sungguh-sungguh terhadap minum obat antihipertensi, dan penderita
yang tidak patuh (non compliance) dimana pada keadaan ini penderita tidak
minum obat antihipertensi secara teratur (Claudia, 2017).
Universitas Faletehan
18
2. Tipe Kepatuhan
Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia PERKENI (2015), terdapat
lima tipe kepatuhan, yaitu:
a. Otoritarian: suatu kepatuhan tanpa reserve, kepatuhan yang
“ikutikutan”.
b. Conformist: tipe ini mempunyai 3 bentuk kepatuhan yaitu Conformist
yang directed, yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang
lain. Conformist hedonist, kepatuhan yang berorientasi pada “untung-
ruginya” bagi diri sendiri. Conformist integral, adalah kepatuhan yang
menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan
masyarakat.
c. Compulsive deviant: merupakan kepatuhan yang berarti tidak
konsisten, atau apa yang sering disebut “plinplan”
d. Hedonic psikopatic: kepatuhan pada kekayaan tanpa
memperhitungkan kepentingan orang lain.
e. Supra moralist: kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap
nilai-nilai moral.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Menurut Sukma et al.,
(2018), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah sebagai berikut:
1) Motivasi klien untuk sembuh
2) Tingkat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan
3) Persepsi keparahan masalah kesehatan
4) Nilai upaya mengurangi ancaman penyakit
5) Kesulitan memahami dan melakukan perilaku khusus
6) Tingkat gangguan penyakit atau rangkaian terapi
7) Keyakinan bahwa terapi yang diprogramkan akan membantu atau
tidak membantu
8) Kerumitan, efek samping yang diajukan
9) Warisan budaya tertentu yang membuat kepatuhan menjadi sulit
Universitas Faletehan
19
dilakukan
10) Tingkat kepuasan dan kualitas serta jenis hubungan dengan
penyediaan layanan Kesehatan
Sedangkan menurut Nies et al. (2019), beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi ketidak patuhan dapat dibagi menjadi empat bagian antara
lain:
1) Pemahaman tentang instruksi Seorang dapat mematuhi instruksi jika
salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya. Lebih dari
60% pasien yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter salah
mengerti tentang instruksi yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh
kegagalan professional kesehatan dalam memberikan informasi yang
lengkap, penggunaan istilah-istilah media dan memberikan banyak
instruksi yang harus diingat oleh pasien.
2) Kualitas interaksi petugas kesehatan dengan klien Kualitas interaksi
antara professional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang
penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Badirou et al. (2018),
mengamati 800 kunjungan orang tua dan anak-anaknya ke rumah sakit
anak di Los Angeles. Selama 14 hari mereka mewawancarai ibu-ibu
tersebut untuk memastikan apakah ibu-ibu tersebut melaksankan
nasihat yang diberikan dokter, mereka menemukan bahwa ada kaitan
yang erat antara kepuasaan ibu terhadap konsultasi dengan seberapa
jauh mereka mematuhi nasihat dokter, tidak ada kaitan antara lamanya
konsultasi dengan kepuasaan ibu. Jadi konsultasi yang pendek akan
menjadi produktif jika diberikan perhatian untuk meningkatkan
kualitas interaksi. Isolasi sosial dan keluarga Keluarga dapat menjadi
faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan
nilai kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang program
pengobatan yang dapat mereka terima. Wildani et al. (2020) telah
memperhatikan bahwa peran keluarga dalam pengembangan
kebiasaan kesehatan dan pengajaran terhadap anak-anak mereka.
Keluarga juga memberi dukungan terhadap penderita hipertensi.
Universitas Faletehan
20
3) Pendidikan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan klien dapat
meningkatkan kepatuhan, sepanjang bahwa pendidikan tersebut
merupakan pendidikan yang aktif (Siswanto et al., 2016).
4) Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, dari
pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan (Azzahri et al., 2019).
Menurut fungsinya pengetahuan merupakan dorongan dasar untuk ingin
tahu, untuk mencari penalaran, dan untuk menambah pengalamannya.
Adanya unsur pengalaman yang semula tidak konsisten dengan apa yang
diketahui oleh individu akan disusun, ditata kembali atau diubah sedemikian
rupa, sehingga tercapai suatu konsistensi. Semakin tinggi tingkat
pengetahuan, semakin baik pula tingkat kepatuhan (Mangendai et al., 2018).
3. Jenis-jenis Ketidak Patuhan
Beberapa jenis ketidakpatuhan menurut Darmayanti et al. (2016), sebagai
berikut:
1) Ketidak patuhan yang disengaja, meliputi:
a) Keterbatasan sarana dan prasarana
b) Sikap apatis pasien
c) Ketidak percayaan pasien atas instruksi yang diberikan oleh
petugas kesehatan.
2) Ketidak patuhan yang tidak disengaja, meliputi:
a) Pasien lupa akan instruksi yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Universitas Faletehan
21
b) Ketidak patuhan pasien atas apa yang dianjurkan oleh petugas
kesehatan.
c) Kesalah pahaman pasien atas instruksi yang telah diberikan.
D. Konsep Obat
1. Pengertian Obat
Obat merupakan suatu zat atau bahan-bahan yang berguna dalam
menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangi, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan fisik dan
rohani pada manusia atau hewan, termauk mempercantik tubuh atau bagian
tubuh manusia (Nuryati, 2017). Obat termasuk terapi primer yang memiliki
hubungan erat dengan proses penyembuhan sebuah penyakit (Potter &
Perry, 2011).
2. Cara Pemberian Obat
Nuryati (2017) menjelaskan ada beberapa cara dalam pemberian obat
didasarkan pada bentuk obat, efek yang dinginkan baik fisik maupun
mental antara lain:
1. Oral Pemberian obat melalui mulut merpakan cara termudah dan yang
sering digunakan. Obat yang digunakan biasanya memiliki onset yang
lama dan efek yang lama.
2. Parenteral Pemberian obat ini dilakukan dengan cara memasukan obat
melalui jaringan tubuh.
3. Topical Obat diberikan pada mukosa atau kulita. Jenis obat ini
biasanya memiliki efek lokal, obat dapat dioleskan pada area yang
diobati.
Universitas Faletehan
22
3. Prinsip Pemberian Obat
Prinsip enam benar dalam pemberian obat yang harus dipatuhi agar
efektifitas obat dapat bekerja dengan baik dan aman menurut Nuryati
(2017), yaitu:
a. Benar pasien
b. Benar obat
c. Benar dosis
d. Benar waktu pemberian
e. Benar cara pemberian
f. Benar dokumentasi
Universitas Faletehan
23
Universitas Faletehan