LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR
(Rangkaian RLC)
(PERCOBAAN-LM-5)
Nama : Aditya Ilham Saputra
NIM : 205090807111026
Fak/Jurusan : MIPA/Instrumentasi
Kelompok :9
[Link] : 8 Maret 2021
Nama Asisten : Daniel Tohari
LABORATORIUM FISIKA DASAR
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2021
LEMBAR PENILAIAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR
(Rangkaian RLC)
Nama : Aditya Ilham Saputra
NIM : 205090807111026
Fak/Jurusan : MIPA/Instrumentasi
Kelompok :9
[Link] : 8 Maret 2021
Nama Asisten : Daniel Tohari
Catatan :
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Paraf Paraf Nilai
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk dapat dipahaminya resonansi
rangkaian listrik dan dapat diketahuinya resonansi rangkaian RLC seri oleh praktikan,
dari praktikum yang dilakukan.
1.2 Dasar Teori
Dalam sebbuah rangkaian RLC terdapat 3 komponen utama dalam rangkaiannya,
yaitu induktor, kapasitor, dan resistor. Komponen tersebut merupakan komponen pasif
dari suatu rangkaian, dalam proses kerjanya tidak memerlukan sumber tegangan
eksternal. Ketiga komponen ini memiliki fungsi masing-masing, resistor berguna untuk
menhambat atau membatasi aliran arus dalam rangkaian, induktor digunakan untuk
menyimpan arus listrik pada medan magnet. Kapasitor digunakan untuk menyimpan
muatan listrik masuk. Komponen lainnya yaitu induktor digunakan untuk menyimpan
arus listrik pada medan magnet. (Yohandri dan Asrizal. 2016)
Rangkaian RLC banyak digunakan pada rangkaian yang ada di rumah,
perkantoran dan pabrik-pabrik. Keuntungan besar yang didapat dari arus ini adalah
sebagai arus bergantian dan juga medan magnet terdapat mengelilingi konduktor. Hal
ini memungkinkan kita untuk menggunakan hukum faraday. Selain hal tersebut arus
bolak-balik lebih mudah beradaptasi dengan mesin yang berputar seperti halnya dalam
generator dan motor daripada arus searah (Jearl, dkk. 2018)
Rangkaian RLC Seri merupakan sebuah rangkaian yang terdiri dari resistor,
kapasitor dan induktor yang dihubungkan dengan sumber tegangan AC (bolak-balik),
dan dihubungkan secara seri. Ciri utama rangkaian ini adalah jumlah tegangan dibagi
sejumlah tahanan seri, dan besar nilai arus mengalir ke beban adalah sama. Hambatan
dari RLC kemudian akan menjadi arus, hambatan tersebut disebut dengan Impedansi.
Dengan nilai impedansinya,
𝑍 = √𝑅 2 + (𝑋𝐿 − 𝑋𝑐)2
Hambatan ini merupakan gabungan dari resistansi (resistor), reaktansi induktif
XL(induktor), dan kapsitif XC(kapasitor). Sedangkan, Rangkaian ini hampir sama
dengan rangkain RLC seri, yaitu sebuah rangkaian yang terjadi induktor, resistor, dan
kapasitor yang dihubungkan secara paralel, dengan dihubungkan pada sumber tegangan
AC. Pada rangkaian ini memiliki sifat yaitu memiliki 3 percabangan, antara lain arus
menuju resistor, arus menuju induktor, dan menuju kapsitor. Dengan nilai impedansi
1
𝑍= (Giancoli, 2015)
12 1 1
√ +( − )2
𝑅 𝑋𝐿 𝑋𝐶
BAB 2
METODOLOGI
2.1 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu amperemeter atau
multimeter, sumber tegangan arus bolak-balik, tahanan karbon, induktor, kapasitor, dan
kabel penghubung.
2.2 Tata laksana percobaan
Rangkaian LRC seri dibuat sesuai pada gambar seperti yang telah ditunjukkan
oleh asisten.
Amperemeter yang digunakan untuk dapat diukurnya arus rangkaian
dihubungkan seri dengan rangkaian. Sebelum ditentukannya range (skala)
arus yang akan diukur, besar aliran arus diperkirakan dahulu dengan
hitungan teori.
Frekuensi resonanasi ditentukan berdasarkan hitungan teori.
Sinyal generator dengan amplitodo kecil dihidupkan.
Arus rangkaian maksimum yang disebabkan oleh frekuensi dicari dan dicatat
sebagai frekuensi resonansi.
Frekuensi signal generator diubah-ubah disekitar frekuensi resonansi.
BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Hasil Percobaaan
R = 100 Ω
C = 50 nF
L = 0,00017 H
No Frekuensi (Hz) div (y) Volt/div
1 20000 2,6 5
2 30000 2,8 5
3 40000 3 5
4 50000 2,6 5
5 60000 2,8 5
6 70000 2,8 5
3.2 Perhitungan
No VPP VRMS XL XC IRMS
1 13 9,19238816 21,352 159,235668790 0,05396848
2 14 9,89949494 32,028 106,157112527 0,07952716
3 15 10,6066017 42,704 79,617834395 0,09950314
4 13 9,19238816 53,38 63,694267516 0,09143879
5 14 9,89949494 64,056 53,078556263 0,09840382
6 14 9,89949494 74,732 45,495905369 0,0950174
volt
𝑉𝑃𝑃 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div )
volt
𝑉𝑃𝑃 1 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 2,6 × 5 = 13 Volt
volt
𝑉𝑃𝑃 2 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 2,8 × 5 = 14 Volt
volt
𝑉𝑃𝑃 3 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 3 × 5 = 15 Volt
volt
𝑉𝑃𝑃 4 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 2,6 × 5 = 13 Volt
volt
𝑉𝑃𝑃 5 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 2,8 × 5 = 14 Volt
volt
𝑉𝑃𝑃 6 = 𝑑𝑖𝑣 (𝑦) × ( div ) = 2,8 × 5 = 14 Volt
VPP
𝑉RMS = ( )
√2
VPP 13
𝑉RMS 1 = ( ) = ( ) = 9,19238816 Volt
√2 √2
VPP 14
𝑉RMS 2 = ( ) = ( ) = 9,89949494 Volt
√2 √2
VPP 15
𝑉RMS 3 = ( ) = ( ) = 10,6066017 Volt
√2 √2
VPP 13
𝑉RMS 4 = ( ) = ( ) = 9,19238816 Volt
√2 √2
VPP 14
𝑉RMS 5 = ( ) = ( ) = 9,89949494 Volt
√2 √2
VPP 14
𝑉RMS 6 = ( ) = ( ) = 9,89949494 Volt
√2 √2
𝑋𝐿 = 2πfL
𝑋𝐿 1 = 2πfL = 2 × 3,14 × 20000 × 0,00017 = 21,352 Ω
𝑋𝐿 2 = 2πfL = 2 × 3,14 × 30000 × 0,00017 = 32,028 Ω
𝑋𝐿 3 = 2πfL = 2 × 3,14 × 40000 × 0,00017 = 42,704 Ω
𝑋𝐿 4 = 2πfL = 2 × 3,14 × 50000 × 0,00017 = 53,38 Ω
𝑋𝐿 5 = 2πfL = 2 × 3,14 × 60000 × 0,00017 = 64,056 Ω
𝑋𝐿 6 = 2πfL = 2 × 3,14 × 70000 × 0,00017 = 74,732 Ω
1
XC =
2πfC
1 1
XC 1 = = 2 × 3,14 × 20000 × 50 = 159,235668790 Ω
2πfC
1 1
XC 2 = = 2 × 3,14 × 30000 × 50 = 106,157112527 Ω
2πfC
1 1
XC 3 = = 2 × 3,14 × 40000 × 50 = 79,617834395 Ω
2πfC
1 1
XC 4 = = 2 × 3,14 × 50000 × 50 = 63,694267516 Ω
2πfC
1 1
XC5 = = 2 × 3,14 × 60000 × 50 = 53,078556263 Ω
2πfC
1 1
XC 6 =
2πfC
= 2 × 3,14 × 70000 × 50 = 45,495905369 Ω
VRMS VRMS
IRMS = =
𝑍
√𝑅 +(𝑋𝐿−𝑋𝐶)2
2
IRMS 1 = 0,05396848 A
IRMS 2 = 0,07952716 A
IRMS 3 = 0,09950314 A
IRMS 4 = 0,09143879 A
IRMS 5 = 0,09840382 A
IRMS 6 = 0,0950174 A
3.3 Grafik
Frekuensi
IRMS (mA)
(Hz)
53,9684845 20000
79,5271632 30000
99,5031447 40000
91,4387866 50000
98,4038208 60000
95,0173996 70000
Grafik
120
100
80
IRMS (mA)
60
40
20
0
20000 30000 40000 50000 60000 70000
f (Hz)
3.4 Analisa Prosedur
3.4.1 Fungsi Alat
Dari masing-masing alat yang digunakan dalam praktikum memiliki fungsi yang
berbeda-beda. Setiap alat mempunyai fungsi yang penting dalam terlaksannya praktikum.
Kabel penghubung digunakan untuk dapat dihubungkannya rangkaian seperti pada
contoh, yaitu resistor, induktor, tahanan karbon, sinyal generator, dan osiloskop.
Kapasitor digunakan untuk menyimpan muatan listrik masuk dengan diaturnya menjadi
50nF. Tahanan karbon digunakan untuk mengatur besarnya resistansi. Sinyal generator
digunakan untuk memberikan sinyal atau gelombang frekuensi yang akan diukur.
Osiloskop digunakan untuk dapat diamatinya gelombang yang terbentuk sehingga
didapatkannya nilai div dari amplitudonya. Induktor digunakan untuk menyimpan arus
listrik pada medan magnet. Komponen terakhir adalah resistor berfungsi untuk
menghambat atau membatasi aliran arus dalam rangkaian.
3.4.2 Fungsi Perlakuan
Langkah pertama, seluruh komponen disusun dengan digunakannya kabel
penghubung supaya arus listrik dapat mengalir. Kedua, diaturnya kapasitor menjadi 50nF
adalah untuk membatasi arus listrik yang masuk. Kemudian, resistansi ditetapkan sebesar
100 ohm untuk diberinya batasan terhadap arus yang mengalir atau ditentukannya jumlah
arus yang mengalir. Selanjutnya, Sinyal generator dihidupkan untuk dapat diberikannya
sinyal atau gelombang frekuensi pada rangkaian. Lalu, osiloskop dihidupkan untuk dapat
diamatinya gelombang yang terbentuk sehingga didapatkannya nilai div dari
amplitudonya, dimana 1 kotak diartikan sebagai 1 div.
3.5 Analisa Hasil
Dari data hasil praktikum diperoleh nilai div dari masing-masing frekuensi,
nilai div yang dihasilkan beragam dan tertinggi adalah nilai div dari frekuensi 40000 Hz.
Hal tersebut membuktikan bahwa pertambahan frekuensi tidak berbanding lurus dengan
div(y), karena nilai div tertinggi tidak dimiliki oleh frekuensi 70000. Hal itu dapat terjadi
kemungkinan karena faktor kesalahan dari praktikan dalam melakukan pengamatan atau
adanya faktor eror dari komponen yang dipakai. Dengan nilai R = 100Ω, C = 50nF, dan
L = 0,00017. Sehingga, setelah dilakukannya perhitungan dari data tersebut
didapatkannya nilai Vpp, VRMS, XL, dan XC, maka dari hasil tersebut diperoleh IRMS pada
masing-masing frekuensi seperti pada tabel perhitungan pada bab [Link], dibuatlah
grafik dari data yang diperoleh, besar IRMS tidak berubah dengan konstan sesuai dengan
perubahan frekuensi.
Setelah dilakukan perhitungan, selanjutnya dibuat grafik dari perhitungan hasil
praktikum. Grafik tersebut memuat IRMS sebagai sumbu y dan frekuensi sebagai sumbu x.
dari grafik tersebut dapat dilihat jika pertambahan atau perubahan dari nilai IRMS tidak
konstan berdasarkan perubahan frekuensinya. Hal tersebut dikarenakan nilai div yang
didapat saat pengukuran dari hasil yang ditunjukkan pada osiloskop juga tidak konstan
dengan div tertinggi ada pada frekuensi 40000 Hz, Hal itu dapat terjadi kemungkinan
karena faktor kesalahan dari praktikan dalam melakukan pengamatan atau adanya faktor
eror dari komponen yang dipakai dan merupakan titik tertinggi dari grafik yang dibuat.
Resonansi dapat terjadi apabila besar nilai reaktansi induktif (XL) sama dengan
reaktansi kapasitif (XC), atau XL = XC. Besar impedansinya akan bernilai sama dengan
resistor atau (Z = R) sehingga impedansi yang diperoleh akan maksimum. Dengan sudut
1
fase = 0 dengan demikian frekuensi resonansi dapat dihitung dengan rumus, fr = 2π√𝐿𝐶
Dalam rangkaian AC atau arus bolak balik, arus AC memiliki arah dan besar
yang selalu berubah-ubah. Rangkaian yang terdapat didalamnnya terdiri dari resistor,
induktor dan kapasitor yang dapat disusun secara seri maupun paralel. Pada rangkaian
RLC terdapat hambatan dari resistor (R), hambatan yang berasal dari reaktansu induktif
(XL), dan hambatan dari kapasitor (XC). Ketiga hambatan tersebut apabila digabungkan
akan menjadi Impedansi (Z). Rangkaian RLC yang dipasang secara seri, tegangan
resistor berada pada fasa yang sama dengan arus, tegangan kapasitor didahului arus
sejauh 90o, dan tegangan induktor mendahului arus sejauh 90o. Ciri utama rangkaian ini
adalah jumlah tegangan dibagi sejumlah tahanan seri, dan besar nilai arus mengalir ke
beban adalah sama. Hambatan dari RLC kemudian akan menjadi arus, hambatan
tersebut disebut dengan Impedansi. Hambatan ini merupakan gabungan dari resistansi
(resistor), reaktansi induktif XL(induktor), dan kapsitif XC(kapasitor). Ciri-ciri
rangkaian RLC yaitu Rangkaian RLC ini akan memunculkan 3 kemungkinan yaitu : XL
< XC, beda sudut fase 90˚ dan tegangan tertinggal terhadap arus (bersifat kapasitor),
XL > XC, beda sudut fase 90˚ dan tegangan mendahului arus (bersifat induktor), XL =
XC, besar impedansi dan nilai hambatannya sama. Kemudian rangkaian RLC paralel,
rangkaian ini hampir sama dengan rangkain RLC seri, yaitu sebuah rangkaian yang
terjadi induktor, resistor, dan kapasitor yang dihubungkan secara paralel, dengan
dihubungkan pada sumber tegangan AC. Pada rangkaian ini memiliki sifat yaitu
memiliki 3 percabangan, antara lain arus menuju resistor, arus menuju induktor, dan
menuju kapsitor. (Giancoli, 2015)
Aplikasi RLC pada bidang minat terdapat pada osilator rangkaian ini
menghasilkan sinyal listrik dan getaran secara periodik dengan amplitudo yang konstan,
macam-macam gelombang dapat terbentuk seperti gelombang kotak, gelombang gigi
gergaji, dan gelombang sinus. Prinsip kerja dari rangkaian osilator ini yaitu terdiri dari
dua bagian utama, penguat (amplifier) dan umpan balik. Konsep dasarnya osilator ini
menggunakan sinyal kecil yang asalnya adalah dari penguat itu sendiri, saat penguat
diberikan arus listrik maka akan memunculkan sinyal kecilyang kemudian akan
dibalikkan menuju penguat untuk dapat diperkuatnnya sinyal. Jika output penguat sefasa
dengan sinyal yang diumpanbalik (masukan) tersebut, maka Osilasi akan terjadi.
(Yohandri dan Asrizal. 2016)
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dari praktikum RLC yang telah dilakukan dan telah dilakukannya perhitungan
dari data yang didapat maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pertambahan frekuensi yang
konstan belom meningkatkan nilai div secara konstan pula, hal tersebut dapat dilihat pada
grafik. Kemudian pada rangkaian ini tidak terjadi peristiwa frekuensi resonansi karena
setelah dilakukannya perhitungan nilai Xc dan XL tidak sama bahkan terpaut cukup jauh,
sehingga syarat tersebut tidak terpenuhi untuk dapat dikatakan bahwa rangkaian tersebut
menghasilkan peristiwa frekuensi resonansi.
4.2 SARAN
Karena praktikum dilakukan secara online jadi praktikan lebih susah dalam
memahami sistematika saat praktikum, walaupun telah diberi video sebagai pengantar
praktikum namun penjelasan yang terdapat dalam video masih kurang lengkap dan
jelas. Jika ingin memahami praktikum yang dilakukan seorang praktikan, modul yang
telah diberikan harus dipahami. Namun waktu pembuatan laporan dengan berjalannya
topik selanjutnya hanya terpaut 1 minggu yang mungkin menyulitkan praktikan dalam
memahami materi selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Halliday J.R., Resnick, D., dan Walker, J. 2018. Fundamentals of Physics. Eleventh Edition.
John Wiley & Sons, Inc. Danvers.
Giancoli, D. C. 2015. PHYSICS PRINCIPLES with APPLICATIONS. Seventh Edition.
Pearson. California
Yohandri dan Asrizal. 2016. ELEKTRONIKA DASAR 1: Komponen, Rangkaian, dan
Aplikasi. Edisi Pertama. Kencana. Jakarta
LAMPIRAN
Yohandri dan Asrizal. 2016. ELEKTRONIKA DASAR 1: Komponen, Rangkaian, dam
Aplikasi. Edisi Pertama. Kencana. Jakarta
Halliday J.R., Resnick, D., dan Walker, J. 2018. Fundamentals of Physics. Eleventh Edition.
John Wiley & Sons, Inc. Danvers.
Giancoli, D. C. 2015. PHYSICS PRINCIPLES with APPLICATIONS. Seventh Edition.
Pearson. California
(Screenshot Posttest)
DHP
Tugas Pendahuluan
1. Buktikan bahwa beda fase tegangan dan arus dalam induktor, kapasitor dan resistor berturut-
turut adalah 90°, −90° dan 0°!
a) Induktor
Diketahui persamaan arus pada rangkaian dengan induktansi sebagai:
𝑉𝐿 (1.1)
𝑖𝐿 = ( ) sin(𝜔𝑑 𝑡 − 90°)
𝑋𝐿
Yang dapat ditulis kembali menjadi:
𝑖𝐿 = 𝐼𝐿 sin(𝜔𝑑 𝑡 − 𝜙) (2.2)
Dengan 𝐼𝐿 adalah amplitudo dari arus tersebut. Dari perbandingan persamaan 1.1 dan 1.2
maka dapat terlihat bahwa untuk beban induktif murni berarti konstanta fase 𝜙 untuk arus
adalah +90°
b) Kapasitor
Diketahui persamaan arus pada rangkaian dengan kapasitansi adalah:
𝑉𝐶 (3.3)
𝑖𝐿 = ( ) sin(𝜔𝑑 𝑡 + 90°)
𝑋𝐶
Yang dapat dijabarkan kembali menjadi:
𝑖𝐶 = 𝐼𝐶 sin(𝜔𝑑 𝑡 + 𝜙) (4.4)
Dimana 𝐼𝐶 merupakan amplitudo dari arus tersebut. Dari perbandingan persamaan 1.3 dan 1.4
maka dapat terlihat bahwa untuk beban kapasitif murni berarti konstanta fase 𝜙 untuk arus
haruslah −90°
c) Resistor
Diketahui untuk beda potensial pada rangkaian yang mengandung elemen resistansi,
𝑣𝑅 = 𝑉𝑅 sin 𝜔𝑑 𝑡 (5.5)
Dimana 𝑉𝑅 merupakan amplitudo dari beda potensial tersebut. Dari definisi 𝑅 = 𝑉⁄𝐼 maka arus
dalam resistansi dapat ditulis sebagai:
𝑉𝑅 (6.6)
𝑖𝑅 = sin 𝜔𝑑 𝑡
𝑅
Yang kemudian dapat ditulis kembali menjadi,
𝑖𝑅 = 𝐼𝑅 sin(𝜔𝑑 𝑡 − 𝜙) (7.7)
Dengan 𝐼𝑅 adalah amplitudo dari arus tersebut. Dengan membandingkan persamaan 1.6 dan 1.7
maka dapat dilihat bahwa untuk beban resistif murni berarti konstanta fase 𝜙 untuk arus harus
bernilai 0°
2. Jelaskan mengapa jika terjadi resonansi arus rangkaian menjadi maksimum!
Arus pada rangkaian dapat didefinisikan sebagai:
𝑉𝑅𝑀𝑆 𝑉𝑅𝑀𝑆 (2.1)
𝐼𝑅𝑀𝑆 = =
𝑍 √𝑅 2 + (𝑋𝐿 − 𝑋𝐶 )2
Yang dapat dilihat bahwa nilai arus atau 𝐼𝑅𝑀𝑆 menjadi maksimum ketika V, beda tegangan
dibesarkan atau ketika nilai Z, impedansinya kecil. Untuk mencapai besaran impedansi
minimum ketika:
𝑋𝐿 = 𝑋𝐶 (2.2)
Atau lebih tepatnya,
1 (2.3)
2𝜋𝑓𝐿 =
2𝜋𝑓𝐶
Ketika terjadi resonansi artinya besaran frekuensi resonan sama dengan frekuensi sumber
atau 𝑓 = 𝑓0 . Dimana frekuensi resonansi dapat dijabarkan dari rumus 2.3 tersebut yaitu
(2.4)
1 1
𝑓0 = √
2𝜋 𝐿𝐶
Sehingga jika terjadi resonansi dimana 𝑓 = 𝑓0 maka besaran impedansi akan minimum.
Dengan demikian, besaran arus yang didapatkan dari membagi besar tegangan dengan
impedansi akan bernilai maksimum.
(screenshot video youtube)