BAB II
LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Pembelajaran dengan Metode Drill
Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar
mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun
kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai oleh setiap anak
dalam periode tertentu. Hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran
yang dilakukan secara berkesinambungan dari mulai tes formatif, tes sub
sumatif dan tes sumatif akan mencerminkan perubahan siswa sesuai
kompetensi yang dicapai. Berbagai tes yang diberikan pada siswa baik
tes tertulis, lisan, unjuk karya, performa, unjuk kerja semuanya bertujuan
untuk mencapai hasil prestasi atau hasil belajar siswa yang diharapkan
sesuai dengan tujuan pembelajaran.4
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Menurut Tabrani Rusyan, prestasi belajar yang dicapai seseorang
individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhi baik dari diri (faktor internal) maupun dari luar diri
(faktor eksternal) individu.5
Yang tergolong faktor internal adalah :
a. Faktor jasmaniyah (fisiolofis), baik yang ber-sifat bawaan maupun
yang diperoleh.
b. Faktor psikologis terdiri atas :
1) Faktor intelektif yang meliputi :
a) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
b) Faktor kecakapan nyata prestasi yang dimiliki.
4
Sutrinah Tirtonegoro, Anak Super Normal dan Program Pendidikanya.( Jakarta :
Gramedia, 1989 ), hlm. 43
5
Thabrani Rusyan, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, ( Bandung :
Rosda Karya, 1989 ) hlm. 81-81
7
2) Faktor non intelektif adalah unsur-unsur kepribadian tertentu
seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan
lain-lain.
c. Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Yang tergolong faktor eksternal adalah :
a. Faktor sosial yang terdiri atas :
1) Lingkungan kelurga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
4) Lingkungan kelompok
[Link] budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan
kesenian.
c. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan
iklim.
d. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendah pretasi belajar
adalah faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar, yaitu
sebagai berikut :6
a). Faktor dari luar
1) Faktor lingkungan
Lingkungan yang berwujud alam dan sosial. Lingkungan
alam seperti keadaan udara, suhu, kelembaban. Belajar
dengan udara yang segar akan lebih baik hasilnya, bila
dibandingkan dengan keadaan udara yang panas dan pengap.
Sedangkan lingkungan sosial merupkan hubungan antar
individu dengan keluarga, pola asuh maupun masyarakat.
2) Faktor instrumental
Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaanya dan
penggunaannya sudah direncanakan sesuai dengan hasil
6
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Rosda Karya, 1997 ), hlm.
73
8
belajar yang diharapkan. Seperti : gedung, perlengkapan
belajar dan administrasi kelas atau sekolah. Faktor ini
diharapkan dapat membawa hasil belajar yang baik.
b). Faktor dari dalam
1) Faktor fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya, seperti kesehatan jasmani
akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Jasmani yang
sehat, segar akan mudah menerima informasi dari guru. Lain
halnya bagi siswa yang lesu dan mengantuk. Keadaan panca
indra siswa, terutama penglihatan dan pendengaran apabila
terganggu, maka hasil belajar juga kurang baik.
2) Faktor psikologis
Setiap manusia pada dasarnya memiliki kondisi psikologi
yang berbeda-beda, karena perbedaan itu juga mempengaruhi
hasil belajar. Faktor psikologis yang dianggap utama dalam
pengaruhnya terhadap hasil belajar adalah : bakat, minat,
kecerdasan, motivasi atau perhatian dan kemampuan kognitif.
Dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil
belajar tersebut, jelaslah bahwa faktor dari dalam dan dari
luar diri siswa kedudukanya sangat penting.
3. Teori Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar sering dikaitkan sehingga keduanya sulit
dipisahkan. Seorang guru harus mengetahui esensi dari belajar mengajar,
sehingga dapat menggunakan metode yang sesuai dalam proses belajar
mengajar. Hakikatnya belajar mengajar terjadi apabila subyek didik
secara interaktif, berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh
guru. Proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan
9
media atau teknologi yang tetap, materi pengajaran serta penyampaian
selalu berkembang.7
4. Teori Menghafal
a. Kenali gaya belajar
Gaya belajar menjadi salah satu hal pokok yang harus dikenali.
Setiap manusia memiliki kecocokan sendiri dari segi gaya belajar,
mungkin si A lebih cocok dengan belajar sambil mendengarkan
musik, tetapi berbeda dengan si B yang lebih nyaman belajar di
tempat yang sepi dan hening. Jadi gaya belajar sangat penting untuk
diketahui.8
b. Pilih waktu belajar yang tepat
Waktu belajar juga menjadi salah satu faktor penting agar
mampu menghafal materi dengan baik dan cepat. Disaat kondisi badan
capek atau ngantuk, maka sulit untuk bisa menghafal materi dengan
benar. Jadi pilih waktu menghafal yang tepat.
c. Belajar dengan Sistem MURDER
Apakah system MURDER itu? System murder adalah system
belajar dengan mengutamakan 6 hal yaitu: Mood, Understand, Recall,
Digest, Expand, dan Review. Dengan system Murder akan lebih
mudah dalam belajar dan menghapal.
Setelah mengetahui poin-poin diatas, maka selanjutnya adalah
menjalankan teoari menghafal cepat dengan cara berikut ini :
1) Buatlah semacam singkatan
Jika susah menghafal kalimat yang panjang, maka bisa
menyiasatinya dengan membuat singkatan kalimat panjang itu
menjadi satu kata saja. Bentuknya terserah bisa mengambil awalan
kata atau ahiran kata dari kaimat panjang tersebut.
7
Moch Uzer Usman, Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar, ( Bandung: Rosda
Karya, 1993), hlm. 14
8
[Link]
10
2) Buat materi panjang menjadi catatan kecil atau risume
Dengan membuat catatan kecil atau risume, maka kalian akan
lebih mudah menghafal dan hemat energi.
3) Mengubah materi pelajaran menjadi lirik lagu kesukaan
Jika menghafal lagu favorit akan lebih mudah dibanding
dengan menghafal materi pelajaran. Kenapa? Karena menghafal
lagu didasari dengan rasa suka dan merupakan hiburan yang
digemari. Namun berbeda dengan materi pelajaran yang sering
anggap sebagai tugas dan beban. Itulah mengapa menghafal lagu
lebih cepat dibanding menghafal pelajaran.
4) Buat gambar atau bagan
Coba membuat sebuah gambar atau bagan dari materi
pelajaran yang ingin kalian hafalkan dan hubungkan dengan
sesuatu yang gampang kita ingat. Misalnya hukum Archimides kita
dihafal dengan menggambar gelas besar berisi air, dengan telur di
dalamnya dalam posisi tenggelam, mengambang atau terapung.
Jadi kalian akan mudah ingat bahwa air punya daya tolak.
5) Membaca materi pelajaran seperti membaca buku cerita
Siswa lebih suka membaca buku cerita dibanding membaca
materi di buku pelajaran sekolah. Membaca buku cerita akan terasa
lebih asik karena disitu memuat cerita yang membuat penasaran.
Dan tentu setelah membaca buku cerita akan selalu ingat jalannya
cerita tersebut.
5. Karakteristik Metode Drill
a. Pengertian Metode Drill
Ditinjau dari segi etimologis (bahasa), metode berasal dari
bahasa Yunani, yaitu ”methodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata,
yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati, dan “hodos” yang
11
berarti jalan atau cara. Maka metode memiliki arti suatu jalan yang
dilalui untuk mencapai tujuan.9
Dalam bahasa Arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai
kata seperti Al-Thoriqoh yang berarti jalan, al-manhaj berarti sistem
dan al-wasilah yang berarti mediator atau perantara, dengan demikian,
kalimat dalam bahasa Arab yang paling dekat dengan metode adalah
al-thoriqoh.10
Dalam bahasa Inggris, metode sering disebut way atau method. Dalam
bahasa Indonesia, dua kata ini sering diterjemahkan dengan cara, tapi
yang sebenarnya lebih tepat lagi adalah way (cara) bukan method. Jadi
metode ialah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan
pengertian” cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien) dalam
melakukan sesuatu.11
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, metode “cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai
apa yang telah ditentukan”.12
Sedangkan secara terminologis, banyak ahli pendidikan yang
mendefinisikan tentang metode. Mahmud Yunus sebagaimana dikutip
oleh Armai Arief mendefinisikan metode adalah “jalan yang hendak
ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik
dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kupasan ilmu
pengetahuan dan lainnya”.13 Dari pembahasan metode di atas, bila
dikaitkan dengan pembelajaran, dapat digarisbawahi bahwa metode
pembelajaran adalah suatu jalan atau cara yang ditempuh yang sesuai
9
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 61.
10
Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang:
Rasail Media Group, 2008), hlm. 7.
11
John. M. Echols dan Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta:
Gramedia, 2002), hlm. 976
12
W.J.S Poerwardaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2009), hlm. 652.
13
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta:
Ciputat Pers, 2002), hlm. 87.
12
dan serasi untuk menyajikan suatu hal, sehingga tercipta suatu tujuan
pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai yang diharapkan.
Zuhairini mendefinisikan metode drill adalah suatu metode
dalam pengajaran dengan jalan melatih anak didik terhadap bahan
pelajaran yang sudah diberikan.14
Menurut Roestiyah NK, metode drill adalah suatu teknik yang
dapat diartikan dengan suatu cara mengajar dimana siswa
melaksanakan latihan-latihan agar memiliki ketangkasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.15
Latihan dan ulangan adalah dua kata yang berbeda dimaksudkan agar
mengetahui dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik peserta didik
dan dikuasai sepenuhnya. Sedangkan ulangan adalah sekedar untuk
mengukur sejauh mana peserta didik bisa menyerap pelajaran
tersebut.16
Jadi metode drill adalah suatu metode yang menggunakan
latihan secara terus-menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan
yang diharapkan. Metode drill atau latihan, merupakan salah satu
bentuk dari berbagai metode yang banyak digunakan oleh para
pendidik dalam proses belajar mengajar dengan harapan tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
Metode drill lebih menitikberatkan pada keterampilan siswa, seperti;
kecakapan, menilai asosiasi yang dibuat dan lain sebagainya.
b. Tujuan Metode Drill
Metode drill atau latihan ini biasanya digunakan untuk tujuan agar
anak didik bisa memiliki kemampuan antara lain :
1) Memiliki keterampilan motoris atau gerak seperti : mengucapkan
kata-kata (mufradat) baru, menulis dan mempergunakan alat-alat
14
Zuhairini, dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya : Biro Ilmiah
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1991), hlm. 106
15
Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm.
125
16
Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama, (Jakarta: Bumi Aksara,
1995), hlm. 302
13
peraga, serta bisa mendemonstrasikan materi-materi khiwar dan
melakukan tanya jawab dengan mufradat.
2) Mengembangkan kecakapan intelek seperti: melafalkan bahan-
bahan qiraah dengan intonasi yang baik dan benar, bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang disediakan dengan baik dan benar.
3) Memiliki kemampuan menghubungkan antara suatu kalimat
dengan kalimat lain sesuai dengan kedudukan kalimat atau struktur
kalimat dan mampu membedakan hubungan antara huruf dan bunyi
NG – NY, dan antar huruf سdan ص,dan sebagainya.
4) Pengetahuan anak didik akan bertambah dalam berbagai segi, dan
anak didik tersebut akan bisa memperoleh pemahaman yang lebih
baik dan lebih mendalam.
5) Dapat menggunakan daya pikirnya yang makin lama makin
bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak
didik akan lebih teratur dan lebih teliti dalam mendorong daya
ingat anak tersebut.17
c. Syarat-Syarat Metode Drill
Agar penggunaan metode Drill dapat efektif. Maka harus memiliki
persyaratan sebagai berikut :
1) Sebelum pelajaran dimulai, hendaknya dimulai terlebih dahulu
dengan memberikan pengertian dasar seperti cara membaca dengan
benar.
2) Metode ini dipakai hanya untuk bahan pelajaran dan kecekatan
yang bersifat rutin seperti hafalan.
3) Diusahakan hendaknya masa latihan hafalan dilakukan secara
kontinyu, hal ini dimungkinkan agar tidak membosankan siswa.
17
Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama, hlm. 302
14
4) Latihan diatur sedemikian rupa sehingga bersifat menarik dan dapat
menumbuhkan motivasi menghafal siswa.18
d. Langkah-Langkah Metode Drill
Untuk mendapatkan kecakapan-kecakapan dengan metode drill ada 2
fase yang perlu diketahui :
Pertama; Fase Integratif, yang mana antara persepsi dan proses
dikembangkan, dalam fase belajar kecakapan dikembangkan menurut
praktek yang berarti sering melakukan hubungan fungsional dan
aktivitas penyelidikan.
Kedua; fase penyempurnaan, adalah fase penyelesaian yang mana
yang perlu dikembangkan adalah ketelitiannya. Variasi praktek
ditujukan untuk mendalami arti bukan ketangkasan. Sedangkan
praktek yang sering ditujukan adalah untuk mempertinggi efisiensi,
bukan untuk mendalami arti. Menimbulkan pengetahuan verbalisme,
yang mana untuk pengajaran yang bersifat menghafal dimana siswa
dilatih untuk dapat menguasai bahan pelajaran secara hafalan.19
Metode latihan banyak digunakan agar murid-murid cepat dan
cermat dalam mengerjakan soal-soal. Metode latihan secara tulis dapat
diberikan di kelas dan sebagai tugas pekerjaan rumah, soal-soal
latihan untuk di rumah hendaknya meliputi soal yang mudah
(berjenjang) sehingga tiap siswa dapat membuatnya, jika soal sukar
semuanya dapat menimbulkan keengganan siswa untuk
mengerjakannya.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan
langkah-langkah metode drill diantaranya :
1) Metode drill hanya digunakan untuk bahan atau tindakan yang
bersifat otomatis.
2) Latihan harus memiliki arti dalam rangka yang lebih luas.
18
Tim Dedaktif, Metode Kurikulum IKIP, (Surabaya: Usaha Nasional, 1996), hlm.
45
19
Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat
Press, 2002), hlm. 57
15
a) Sebelum diadakan latihan, anak didik perlu lebih mengetahui
terlebih dahulu arti latihan itu sendiri.
b) Siswa perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk
kehidupan mereka selanjutnya.
c) Siswa harus mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu
diperlukan untuk melengkapi belajar.
3) Latihan-latihan itu pertama harus dilakukan diagnose :
a) Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul.
b) Respon yang benar artinya harus dikuasai oleh siswa, sedangkan
respon yang salah harus diperbaiki.
c) Siswa memerlukan untuk mewarisi latihan, perkembangan, arti
dan control.
d) Di dalam latihan-latihan pertama-tama ketepatan, kemudian
kecepatan dan pada akhirnya kedua-duanya harus tercapai.
4) Masa latihan harus relatif singkat, tetapi harus sering dilakukan
pada waktu lain.
5) Masa latihan harus menarik, gembira dan menyenangkan :
a) Agar hasil latihan memuaskan, minat intrinsik.
b) Setiap kemajuan siswa harus jelas.
c) Hasil latihan terbaik, dengan menggunakan sedikit emosi.
6) Pada waktu latihan memerlukan waktu yang esensial.
7) Proses latihan dan kebutuhan harus disesuaikan dengan perasaan
individu :
a) Tingkat kecakapan yang diterima suatu saat tidak harus sama.
b) Latihan perseorangan sangat perlu dilakukan untuk menambah
latihan kelompok.20
6. Penilaian atau Pemeriksaan dalam Metode Drill
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa materi pelajaran
ada dua macam, yaitu secara teori dan praktek. Sementara pemeriksaan
20
Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, hlm. 58-59
16
dan penilaian kedua-duanya adalah bisa dengan menggunakan metode
drill yang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
a. Secara klasikal, yaitu murid menukar pelajarannya dengan pekerjaan
teman-temannya yang lain.
b. Secara individual, yaitu guna membuat jawaban yang benar
selanjutnya anak didik mencocokkannya dengan latihan mereka
masing-masing.
c. Anak didik mencocokkan dengan kunci jawaban yang telah tersedia
terlebih dahulu.21
Sedangkan manfaat adanya penilaian atau pemeriksaan ini dilakukan
terhadap guru dan anak didik, antara lain :
a. Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk
memperbaiki proses belajar mengajar.
b. Untuk menentukan angka kemajuan/hasil belajar masing-masing
peserta didik.
c. Untuk menempatkan peserta didik dalam situasi belajar mengajar
yang tepat.
Untuk mengenal latar belakang (psikologi, fisik dan lingkungan)
anak didik yang menghadapi kesulitan dalam belajar, maka hal-hal diatas
dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan tersebut.
7. Kelebihan dan Kekurangan Metode Drill
Semua metode pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, demikian
halnya dengan metode drill. Di sini diketahui peran seorang pendidik
agar dapat mengimbanginya dengan sebaik mungkin, dengan
memperhatikan syarat-syarat, langkah-langkah dan penilaian metode drill
tersebut.
Adapun kelebihan dan kelemahan metode drill adalah sebagai berikut :
21
Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama, hlm. 303
17
a. Kelebihan
1) Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam
melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.
2) Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa siswa yang berhasil
dalam belajarnya telah memiliki suatu ketrampilan khusus yang
berguna kelak dikemudian hari.
3) Guru lebih muda mengontrol dan dapat membedakan mana siswa
yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan
memperhatikan tindakan dan perbuatan siswa disaat
berlangsungnya pengajaran.
b. Kelemahan
1) Dapat menghambat inisiatif siswa, dimana inisiatif dan minat siswa
yang berbeda dengan petunjuk guru dianggap suatu penyimpangan
dan pelanggaran dalam pengajaran yang diberikannya.
2) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan dalam
kondisi belajar ini. Pertimbangan inisiatif siswa selalu disorot dan
diberikan keleluasaan. Siswa menyelesaikan tugas secara statis
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh guru.
3) Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah-olah siswa
melakukan sesuatu secara mekanis, dan dalam memberikan
stimulus siswa dibiasakan bertindak secara otomatis.
4) Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat
menghafal dimana siswa dilatih untuk dapat menguasai bahan
pelajaran secara hafalan dan secara otomatis mengingatkannya bila
ada pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan hafalan tersebut
tanpa status proses berfikir secara logis.22
Demikianlah kekurangan dan kelebihan metode drill, oleh
karenanya peran seorang guru harus siap terlebih dahulu sebelum
memberikan latihan, baik secara teori maupun praktek. Dan latihan
22
Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, hlm. 57-58
18
tersebut sebaiknya tidak dilakukan secara spontanitas sehingga dapat
melihat kemajuan setiap anak baik dari segi daya tangkap, ketrampilan,
maupun ketepatan berfikirnya.
B. Kajian Pustaka
Untuk menghindari duplikasi atau pengulangan penulisan, penulis
menyertakan telaah pustaka yakni beberapa skripsi yang berkaitan dengan
penelitian yang penulis susun. Masing-masing menunjukkan perbedaan dari
segi pembahasannya dengan skripsi yang akan penulis susun. Skripsi-skripsi
yang dimaksud adalah :
1. Skripsi saudara Sriyono NIM. 11410147 Peningkatan Kemampuan
Membaca al-Qur’an Melalui Metode Drill Pada Siswa Kelas V Sekolah
Dasar Negeri Karang Kajen Kecamatan Secang Kabupaten Magelang
Tahun 2012, skripsi Fakultas Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam,
STAIN Salatiga 2012. Dalam skripsi ini hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa metode Drill dapat meningkatkan prestasi belajar pada materi
hukum mad pada siswa Sekolah Dasar Negeri Secang 3 Kecamatan
Secang Kabupaten Magelang tahun 2012. Peningkatan prestasi belajar
siswa pada siklus I dengan ketuntasan 74 % dengan rata-rata nilai 68,6,
siklus II dengan ketuntasan 93 % dengan rata-rata nilai 80, dan siklus III
dengan ketuntasan 100 % dengan rata-rata nilai 85.
2. Skripsi saudara Mukh. Azif NIM. 12415333 Upaya Meningkatakan
partisipasi dan Prestasi Hafalan surat Pendek Pilihan Pada Siswa Kelas
IV SD Siluk Imogiri Bantul Melalui Metode Pembelajaran Card Sort,
Skripsi Fakultas Ilmu tarbiyah dan Keguruan, UIN Yogyakarta 2014.
Dalam skripsi ini hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hasil
pengamatan pembelajaran dengan strategi Card Sort dilaksanakan dengan
anak mendiskusikan kelompok ayat dengan memilih dan memilah,
mengkategorikan ayat, mendemonstrasikan bacaan. Guru menyebutkan
nama surat, memberikan kesimpulan.
19
3. Skripsi saudara Sugiyarti 093111312 Upaya Meningkatkan Hafalan
Surat-surat Pendek dalam Pembelajaran Pengembangan Agama Islam
Melalui Metode Drill (Studi Tindakan Pada Siswa Kelompok B RA
Maslakul Falah Arumanis Jaken Pati Tahun Ajaran 2010/2011), Skripsi
Jurusan Pendidikan Agama Islam, IAIN Walisongo Semarang 2011.
Dalam skripsi ini hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Penerapan
metode drill pada pembelajaran Pengembangan Agama Islam materi
menghafal surat-surat pendek siswa kelompok B RA Maslakul Falah
Arumanis Jaken Pati dilakukan dengan berbagai siklus yang terdiri dari
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi, perencanaan dilakukan
peneliti yaitu peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
merancang pembentukan kelompok pasangan, dan menggunakan media,
peneliti menyiapkan lembar observasi dan pendokumentasian, Sedang
pada tahap tindakan ini merupakan proses pembelajaran yang dilakukan
yang dimulai dari persiapan dengan do’a dan absensi sementara itu
setting kelas dengan setting biasa, huruf U, selain itu juga menggunakan
beberapa media untuk memperjelas materi yang disampaikan seperti
gambar dan Audio Visual, kemudian pada tahap pelaksanaan
pembelajaran dengan guru membaca surat al-Fatihah secara keseluruhan
maupun per ayat dengan pelan-pelan, pembagian kelompok pasangan,
setiap individu atau kelompok pasangan maju ke depan untuk menghafal
dan dikomentari siswa lain, tindakan di akhiri dengan tes menghafal
secara sorogan dan diteruskan dengan do’a bersama. Ada peningkatan
hafalan surat-surat pendek dalam pembelajaran Pengembangan Agama
Islam siswa-siswa kelompok B RA Maslakul Falah Arumanis Jaken Pati
setelah menggunakan metode drill. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan
hasil belajar per siklus dimana pada pra siklus tingkat ketuntasannya 17
siswa atau 56,7% naik pada siklus I menjadi 23 siswa atau 76,7%, diakhir
siklus II sudah menjadi 27 siswa atau 90%. Sedangkan proses keaktifan
siswa juga mengalami kenaikan dimana pada siklus I siswa yang
20
sempurna mencapai 21 siswa atau 70% dan pada siklus II sudah
mencapai 25 siswa atau 83,3%.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka yang telah diuraikan diatas, maka dapat
ditarik kesimpulan sementara (hipotesis) sebagai berikut : bahwa dengan
melalui metode Drill pada materi menghafal surat-surat pendek dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas I semester 2 MI Darussalam Demak
Tahun 2014/2015.
21