0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan12 halaman

Faktor Penyebab Diare pada Balita

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah diare pada balita di Indonesia khususnya di Provinsi Aceh dan Kabupaten Bireuen. Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan utama yang menyebabkan kematian pada balita. Beberapa faktor penyebab diare adalah lingkungan yang kurang bersih, perilaku hidup sehat masyarakat yang kurang memadai, serta pengetahuan dan sikap ibu balita yang kurang mendukung

Diunggah oleh

Evi Nursani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan12 halaman

Faktor Penyebab Diare pada Balita

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah diare pada balita di Indonesia khususnya di Provinsi Aceh dan Kabupaten Bireuen. Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan utama yang menyebabkan kematian pada balita. Beberapa faktor penyebab diare adalah lingkungan yang kurang bersih, perilaku hidup sehat masyarakat yang kurang memadai, serta pengetahuan dan sikap ibu balita yang kurang mendukung

Diunggah oleh

Evi Nursani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit berbasis lingkungan masih mendominasi masalah kesehatan di

negara berkembang. Penyakit berbasis lingkungan dapat terjadi karena hubungan

interaktif antara manusia dan perilakunya serta komponen lingkungan yang

memiliki potensi penyakit. Penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis pada

kesehatan lingkungan. Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan

konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seorang dikatakan

menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya (Meityn, 2018).

Kejadian diare balita pada dasarnya dapat dicegah dengan memperhatikan

faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya diare. Berdasarkan penelitian-

penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa banyak faktor yang

mempengaruhi kejadian diare pada balita. Menurut Kemenkes, ada beberapa

kegiatan pencegahan penyakit diare yang benar dan efektif yakni perilaku sehat

yang terdiri dari pemberian ASI yaitu perilaku untuk menyusui bayi secara penuh

sampai mereka berusia 6 (enam) bulan, pemberian makanan pendamping ASI

yaitu saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa,

menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan, menggunakan jamban,

membuang tinja bayi yang benar serta pemberian imunisasi campak yaitu

pemberian imunisasi campak segera setelah bayi berumur 9 bulan untuk

mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak, karena anak yang sakit

1
2

campak sering disertai diare sehingga pemberian imunisasi campak merupakan

salah satu cara mencegah diare. Kegiatan lain yang dapat mencegah kejadian diare

yakni penyehatan lingkungan yang terdiri dari penyediaan air bersih, pengelolaan

sampah serta pembuangan air limbah (Winanti, 2016).

Diare merupakan penyakit kedua yang menyebabkan kematian pada anak

anak balita (bawah lima tahun). Anak anak yang mengalami kekurangan gizi

atau sistem imun yang kurang baik sangat rentan terserang penyakit diare.

Menurut data WHO ada sekitar empat miliar kasus diare akut setiap tahun dengan

mortalitas 3-4 juta pertahun milliar kasus setiap tahunnya. Diare sering kali

dianggap sebagai masalah yang sepele, padahal di tingkat Global dan Nasional

fakta menunjukkan sebaliknya. Sebagian besar orang diare yang meninggal

dikarenakan terjadinya dehidrasi atau kehilangan cairan dalam jumlah yang besar.

Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dan terjadi hampir di

seluruh daerah Geografis di dunia. Menurut data WHO pada tahun 2018

menjelaskan setiap tahunnya ada sekitar 1,7 miliar kasus diare dengan kematian

760.000 anak dibawah 5 tahun. Data UNICEF dan WHO pada tahun 2017

menjelaskan secara Global terdapat dua juta anak meninggal dunia setiap

tahunnya karena diare. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap

tahunnya dibanding dinegara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3

kali setiap tahun (Profil kesehatan, 2018).

Di Indonesia diare masih mendominasi jumlah kematian balita. Hal ini

disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian

terutama pada bayi dan balita (0-5 tahun). Hingga saat ini penyakit diare masih
3

merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat

dengan meningkatnya angka kesakitan diare dari tahun ke tahun. Berdasarkan

prevalensi yang didapat dari berbagai sumber, salah satunya dari hasil Riset

Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) pada tahun 2017, penderita diare di

Indonesia berasal dari semua umur, namun prevalensi tertinggi penyakit diare

diderita oleh balita, terutama pada usia <1 tahun dan 1-4 tahun . Saat ini

Indonesia masih dihantui dengan permasalahan diare. Angka prevalensi nasional

untuk diare pada balita masih mencapai 27,67 persen, dan ini masih di bawah

standar ambang batas yang diminta WHO, yakni 20 persen. Sesuai dengan Target

cakupan pelayanan penderita Diare Balita yang datang ke sarana kesehatan

adalah 20% dari perkiraan jumlah penderita Diare Balita. Tahun 2018 jumlah

penderita diare Balita yang dilayani di sarana kesehatan sebanyak 1.637.708 atau

40,90% (Profil anak indonesia, 2019).

Berdasarkan data laporan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh (2019) Penyakit

jumlah penderita diare Balita yang dilayani sebanyak 24.690 atau 32% dari

perkiraan diare di sarana kesehatan. Cakupan penanganan diare pada

kabupaten/kota di Aceh belum maksimal, masih banyak terjadinya kasus diare

yang belum mendapatkan pelayanan yang memadai. Salah satu penyebab diare

pada masyarakat adalah perilaku hidup sehat yang belum baik, masih banyak

sampah yang dibuang bukan pada tempatnya dan kebiasaan minum air mentah

serta makan yang tidak di dahului dengan mencuci tangan terlebih dahulu (Profil

Kesehatan Aceh, 2019).


4

Kabupaten Bireuen merupakan prevalensi tertinggi penyakit diare pada

balita, terutama pada usia kurang 1 tahun 7 % dan 1-4 tahun 6,7 %. Cakupan

penanganan kasus diare tahun 2018 berjumlah 8.055 kasus dari target penemuan

kasus diare sebesar 9.881 kasus atau 81,5 %. Penanganan kasus diare di wilayah

Kabupaten Bireuen sudah belum baik, sehingga butuh kerja samanya untuk target

penemuan maupun penanganannya oleh tim penyuluhan Penanganan Penyakit

menular Dinas Kesehatan melalui Puskesmas di Kecamatan (Profil Kesehatan

Aceh, 2019).

Demi mencapai target WHO dan menurunkan angka prevalensi nasional

terhadap permasalahan tersebut, selama 10 tahun belakangan Indonesia telah

bekerjasama dengan Australia dan Kanada, bergabung dalam Nutrition

International, hingga anak di bawah usia lima tahun yang menderita diare

mendapatkan penanganan dengan pemberian tablet zinc dan oralit sesuai

tatalaksana. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia mengatakan langkahnya bukan asal pemberian obat, tapi juga

ada edukasi dari perawat yang bertugas di puskesmas agar obat yang diminum

sesuai dengan anjuran dan dosisnya (Rosa, 2020).

Diare juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan,

perilaku masyarakat dan personal hygiene. Menurut Notoatmodjo pengetahuan

dan sikap manusia adalah semua tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri

yang mempunyai bentangan yang sangat luas, baik yang dapat diamati langsung,

maupun yang tidak dapat diamati. Dari segi biologis, keduanya adalah suatu
5

kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup yang bersangkutan) (Winanti,

2016).

Pengetahuan dan sikap ibu sangat berpengaruh dalam terjadinya diare pada

balita. Bila pengetahuan ibu baik, ibu akan mengetahui cara merawat balita yang

menderita diare dirumah dan berobat atau merujuk ke sarana kesehatan.

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang

dan berpengaruh terhadap praktik, baik secara langsung maupun tidak langsung,

melalui perantara sikap. Praktik seseorang dibentuk oleh interaksi individu dengan

lingkungan, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap terhadap objek.

Dengan demikian, ibu yang kurang baik sikapnya dalam penatalaksanaan diare

tidak mendukung praktik ibu dalam penatalaksanaan diare. Selain itu, Keadaan

personal hygiene juga merupakan salah satu permasalahan dasar yang menjadi

penyebab terjadinya diare terutama pada lingkungan (Winanti, 2016).

Beberapa contoh faktor risiko yang dapat meningkatkan diare yaitu,

penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis, dan cara penyapihan

yang tidak baik. Penelitian di pedesaan Bangladesh menunjukkan bahwa mencuci

tangan sebelum menyiapkan makanan merupakan kesempatan yang penting untuk

mencegah diare anak, dan juga mencuci tangan dengan air saja dapat secara

signifikan mengurangi diare anak. Kebiasaan yang berhubungan dengan

kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah

mencuci tangan yang merupakan bagian dari personal hygiene. Mencuci tangan

dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak,

sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum


6

makan, mempunyai dampak menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%

(Winanti, 2016).

Ketertarikan penulis meneliti tentang diare pada balita karena diare

merupakan salah satu dari gangguan kesehatan yang lazim mempengaruhi banyak

orang khususnya pada anak-anak. Diare juga penyebab utama penyakit dan

kematian anak-anak di Negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit diare

merupakan masalah kesehatan pada masyarakat, beberapa faktor yang menjadi

penyebab timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman melalui kontaminasi

makanan atau minuman yang tercemar tinja ataupun diare secara langsung

mmmmBerdasarkan survei awal yang peneliti lakukan di Puskesmas Peusangan

Kabupaten Bireuen, didapatkan data jumlah balita yang menderita diare di desa Blang

Geulanggang pada bulan Mei 2020 sebanyak 34 orang. Berdasarkan hasil observasi dan

wawancara khususnya pada beberapa ibu balita di desa tersebut sebanyak 5 orang

diperoleh informasi bahwa balitanya sering terkena diare dimana ibu-ibu tersebut masih

menganggap anak yang sakit pertanda bisa cepat jalan atau merangkak serta masih ada

balita yang kebiasaan makannya masih dibantu atau dikunyahkan oleh ibunya yang belum

tentu bersih akibat dari perilaku cuci tangan yang tidak baik. Ibu memasak air kurang benar

untuk membuat susu pada balita dan mencuci peralatan makan dan botol susu hanya

memakai air saja tidak menggunakan sabun cuci. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu

yang memiliki anak balita mudah terjangkit penyakit diare karena kecerobohan ibu dalam

melakukan sesuatu terhadap anak balita.

Maka dari beberapa penjelasan diatas tentang diare pada balita, peneliti

merasa tertarik melakukan penelitian mengenai “Faktor yang Berhubungan


7

dengan Kejadian Diare Pada Balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan

Peusangan Kabupaten Bireuen”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah

dari penelitian ini adalah “Bagaimana faktor yang berhubungan dengan kejadian

diare pada balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten

Bireuen Tahun 2020”.

C. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk membuat peneliti fokus pada penulisan, maka penelitian ini dibatasi

ruang lingkupnya yaitu :

1. Ruang Lingkup Materi :

Materi dalam penelitian ini hanya membahas tentang “Faktor yang

berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Desa Blang Geulanggang

Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Tahun 2020”.

2. Ruang Lingkup Responden

Responden dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita pada

Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen.

3. Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli 2020 sampai dengan Agustus

2020
8

4. Ruang Lingkup Tempat

Tempat penelitian direncanakan di Wilayah Desa Blang Geulanggang

Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen.

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada

balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen

Tahun 2020

Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada

balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten

Bireuen Tahun 2020.

b. Untuk mengetahui hubungan sikap ibu dengan kejadian diare pada balita di

Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Tahun

2020.

c. Untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian diare pada

balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten

Bireuen Tahun 2020.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah ilmu

untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita
9

di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Tahun

2020

2. Bagi pustaka

Sebagai dokumentasi dan referensi di perpustakaan STIKES Darussalam

3. Bagi Institusi Pendidikan

Untuk bahan masukan agar dapat lebih meningkatkan mutu pendidikan

sehingga tercipta generasi baru kesehatan khususnya bagi mahasiswa jurusan

kebidanan.

4. Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi informasi untuk peneliti

sendiri dan untuk peneliti selanjutnya.

F. Keaslian Penelitian

1. Penelitian Meityn D. Kasaluhe (2018) dengan judul, faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe diperoleh hasil bahwa sebanyak

28,2% balita pernah mengalami diare. Berdasarkan hasil uji statistik

menggunakan chi square menunjukkan bahwa probabilitas antara perilaku

memberikan ASI p=0,002 (p<0,05), perilaku menggunakan air bersih p= 0,000

(p<0,05), perilaku mencuci tangan dengan p= 0.000 (p<0,05), perilaku

menggunakan jamban p=0.002 (p<0,05), perilaku menimbang balita dengan p=

0.435(p>0,05). Ada hubungan antara perilaku memberikan ASI,

menggunakaan air bersih, mencuci tangan, menggunakan jamban dengan

kejadian diare pada balita dan tidak ada hubungan antara perilaku menimbang
10

balita dengan kejadian diare. Disarankan kepada ibu-ibu yang mempunyai

balita, untuk dapat memperhatikan perilaku pemberian ASI, menggunakan air

bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun serta menggunakan jamban

sehat sebagai upaya dalam mencegah penyakit diare pada balita. Kesamaan

dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang kejadian diare pada

balita. Perbedaan dalam penelitian ini adalah variabel yang diteliti yaitu

perilaku memberikan ASI, perilaku menggunakan air bersih, perilaku mencuci

tangan, perilaku menggunakan jamban, dan perilaku menimbang balita,

sedangkan perbedaan dalam penelitian ini yaitu variabel independen,

responden dan tempat yang berbeda, variabel yang digunakan yaitu untuk

mengetahui tentang pengetahuan, sikap dan personal hygiene ibu yang

mempunyai balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan

Kabupaten Bireuen.

2. Penelitian Intan Listya Winanti (2016) dengan judul, Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kejadian Diare Pada Anak SDN Brujul di Kecamatan Jaten Kabupaten

Karanganyar. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional.

Jumlah Sampel sebanyak 80 siswa. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan

lembar observasi. Data dianalisis menggunakan uji Chi square. Sedangkan

variabel yang digunakan yaitu untuk mengetahui hubungan kondisi jamban,

kondisi jamban, kebiasaan cuci

tangan, tingkat pendapatan, sumber air, tingkat pengetahuan dan status

pekerjaan. Kesamaan pada penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang

kejadian diare, sedangkan perbedaan dalam penelitian ini yaitu variabel


11

independen, responden dan tempat yang berbeda, variabel yang digunakan

yaitu untuk mengetahui tentang pengetahuan, sikap dan personal hygiene ibu

yang mempunyai balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan Peusangan

Kabupaten Bireuen.

3. Penelitian Hairil Akbar (2019) dengan judul, Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kejadian Diare Pada Anak Balita Di Kecamatan Sindue Kabupaten

Donggala. Desain penelitian ini menggunakan Cross Sectional. Populasi pada

penelitian ini adalah seluruh balita umur 12-59 bulan yang berada di Wilayah

kerja Puskesmas Toaya Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala tahun 2016

sebanyak 1882 balita. Sampel dalam penelitian ini adalah balita umur 12-59

bulan yang terpilih sebagai sampel di Wilayah kerja Puskesmas Toaya

Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala sebanyak 94 balita. Cara pengambilan

sampel dengan Simple Random Sampling, variabel yang digunakan yaitu untuk

mengetahui hubungan imunisasi campak, riwayat pemberian zinc dan  kejadian

diare pada anak balita. Kesamaan pada penelitian ini adalah sama-sama

membahas tentang kejadian diare, sedangkan perbedaan dalam penelitian ini

yaitu variabel independen, responden dan tempat yang berbeda, variabel yang

digunakan yaitu untuk mengetahui tentang pengetahuan, sikap dan personal

hygiene ibu yang mempunyai balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan

Peusangan Kabupaten Bireuen.

4. Penelitian Sarnita Nurnaningsi (2017) dengan judul, Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Abeli Bagian

Pesisir Kota Kendari. Desain penelitian ini menggunakan penelitian


12

observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam

penelitian ini adalah 61 balita yang berdomisili di wilayah pesisir yang tersebar

di 3 (tiga) kelurahan, sedangkan variabel yang digunakan yaitu untuk

mengetahui hubungan penyediaan air bersih, pembuangan air limbah, sarana

pembuangan sampah. Kesamaan pada penelitian ini adalah sama-sama

membahas tentang kejadian diare, sedangkan perbedaan dalam penelitian ini

yaitu variabel independen, responden dan tempat yang berbeda, variabel yang

digunakan yaitu untuk mengetahui tentang pengetahuan, sikap dan personal

hygiene ibu yang mempunyai balita di Desa Blang Geulanggang Kecamatan

Peusangan Kabupaten Bireuen.

Anda mungkin juga menyukai