0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan6 halaman

Lokasi dan Ketinggian Gunung Merapi

Gunung Merapi berlokasi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 2968 mdpl. Terbentuk dari empat periode yaitu Pra Merapi, Merapi Tua, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru. Aktifitas letusannya berupa letusan efusif dan eksplosif.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan6 halaman

Lokasi dan Ketinggian Gunung Merapi

Gunung Merapi berlokasi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 2968 mdpl. Terbentuk dari empat periode yaitu Pra Merapi, Merapi Tua, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru. Aktifitas letusannya berupa letusan efusif dan eksplosif.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GUNUNG MERAPI

Gunung Merapi berada pada koordinat antara 07° 22’ 33” - 07 °52’ 30” LS dan 110°15’00”-110°37’30”
BT. Berketinggian 2.968 mdpl (9.737 kaki) luas totalnya sekitar 6.410 Ha, dengan 5.126,01 Ha di wilayah
Jawa Tengah dan 1.283,99 Ha di Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara administrasi, lereng sisi selatan
bagian dari Kabupaten Sleman, DI. Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah,
yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten
Klaten di sisi tenggara.
Konon, gunung indah yang menjulang tinggi itu dijaga oleh sepasang kakak beradik pengrajin keris.
Ketika Pulau Jawa nyaris tenggelam karena lebih condong ke arah barat, para dewa berniat
memindahkan Gunung Jamurdwipa ke tengah-tengah pulau sebagai penyeimbang. Sayangnya, saat itu
kedua pengrajin keris belum merampungkan pekerjaannya. Mereka meminta sedikit waktu, namun para
dewa menolak dan segera memindahkan gunung ke lokasi Merapi saat ini. Akhirnya sepasang pengrajin
keris itu mengancam “jika mereka dipindahkan paksa dengan kondisi perapian yang masih menyala
maka kelak akan terjadi petaka abadi”. Benar saja, magma di dalam Merapi hingga kini nggak henti-
hentinya memanas menjadi gunung teraktif di IndonesiaKonon, gunung indah yang menjulang tinggi itu
dijaga oleh sepasang kakak beradik pengrajin keris. Ketika Pulau Jawa nyaris tenggelam karena lebih
condong ke arah barat, para dewa berniat memindahkan Gunung Jamurdwipa ke tengah-tengah pulau
sebagai penyeimbang. Sayangnya, saat itu kedua pengrajin keris belum merampungkan pekerjaannya.
Mereka meminta sedikit waktu, namun para dewa menolak dan segera memindahkan gunung ke lokasi
Merapi saat ini. Akhirnya sepasang pengrajin keris itu mengancam “jika mereka dipindahkan paksa
dengan kondisi perapian yang masih menyala maka kelak akan terjadi petaka abadi”. Benar saja, magma
di dalam Merapi hingga kini nggak henti-hentinya memanas menjadi gunung teraktif di Indonesia

Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sélo, Kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Plalangan, Selo, Boyolali, Desa ini terletak di antara Gunung
Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar 4-5 jam hingga ke
puncak. Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten
Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke
puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten
Klaten, Jawa Tengah.
Geo Edukatif
Berdasarkan studi stratigrafi dan sejarah letusan Gunung Merapi, evolusi pembentukannya
dikelompokkan menjadi empat bagian (Berthommier 1990). Pra Merapi (+400.000 tahun lalu), disebut
sebagai Gunung Bibi dengan magma andesit- basaltik berumur sekitar 700.000 tahun yang terletak di
lereng timur Kabupaten Boyolali. Batuan gunung Bibi bersifat andesit-basaltik tetapi tidak mengandung
orthopyroxen. Berketinggian puncak sekitar 2050 mdpl dengan jarak datar antara puncak Bibi dan
puncak Merapi sekarang sekitar 2.5 km.
Pada masa Merapi Tua (60.000-8.000 tahun lalu), dikenal sebagai fase awal Gunung Merapi dengan
kerucut belum sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan
Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya berupa batuan dengan komposisi andesit
basaltik dari awan panas, breksiasi lava dan lahar.
Merapi Pertengahan (8000-2000 tahun lalu), terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun
bukit Batulawang dan Gajahmungkur. Saat ini nampak di lereng utara Merapi berupa aliran lava,
breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif.
Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan “debris avalanche” ke arah barat yang meninggalkan
morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dan beberapa bukit di lereng barat. Pada
periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.
Merapi Baru (2000 tahun lalu-sekarang), terbentuk kerucut puncak Merapi di dalam kawah Pasarbubar
yang saat ini disebut Gunung Anyar dan menjadi pusat aktivitas Merapi. Batuan dasar diperkirakan
berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar
Merapi di masa lalu yang sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak ±23 km di
selatan. Andreastuti (1999) telah menunjukkan beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI)
sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir sekitar 500 tahun lalu
menghasilkan Selokopo tephra.

Oktariad,Oki & Rudy, Suhendera. 2020. Warisan Geologi Nusantara Kandidat Cagar Alam Geologi.
Bandung : Badan Geologi.

Gunung Lawu
Deskripsi
Gunung lawu merupakan gunungapi berfase istirahat dengan ketinggian 3265 mdpl yang terlekak di
perbatasan kabupaten Karangayar di Jawa Tengah serta kabupaten Magettan di Jawa Timur. Memiiki 3
puncak yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan yang paling tinggi Hargo Dumilah.
Disekitar Gunung Lawu terdapat Candi Sukuh dan Candi Cettho. Candi tersebut merupakan salah satu
saksi sejarah kerajaan Majapahit. Konon katanya raja Brawijaya V yakni raja terakhir Kerajaan Majapahit
bersemayang di puncak gunung Lawu. Hal tersebut terjadi setelah kerajaan Majapahit menyingkir dari
peperangan melawan Kerajaan Keling menuju ke Gunung Lawu. Dan akhirnya sang raja menghabisan
hidupnya sebagai pertapa di puncak gunung Lewu.
Ada juga yang mengatakan jika raja Brawijaya bertapa di puncak Gunung lawu karena berfirasat jika
kerajaan Majapahit diambang kehancuran ditambah lagi dengan risaunya karena putra, Raden Patah
yang memeluk agama islam dan membangun kerajaan demak.
Secara resmi terdapat 5 jalur pendakian 3 diantaranya ada di Jawa Tengah dan 2nya ada di Jawa Timur.
Jalur-jalur tersebut adalah :
1. Cemara Sewu (Jawa Timur)
2. Singolangu (Jawa Timur)
3. Tambak (Jawa Tengah)
4. Candi Cetho (Jawa Tengah)
5. Cemara Kadang (Jawa Tengah)

Geo eduktif
Gunung api Lawu diketahui sebagai gunung api berfase istirahat yang masih mempunyai kemungkinan
erupsi di masa depan (Hadian, 1992; Venzke, 2013). Keterbatasan data rekaman erupsi Gunung api Lawu
dan penelitian terkait menunjukkan perhatian publik yang kurang terhadap bahaya erupsi. Erupsi
selanjutnya dapat berbahaya pada daerah pemukiman yang berada di sekitarnya. Erupsi terakhir
tercatat pernah terjadi pada tahun 1885.
Hasil pemetaan geologi di daerah panas bumi Gunung Lawu yang dilakukan oleh Anonim (2009)
menyebutkan bahwa batuan tertua yang ada di daerah kajian adalah batulempung berumur Miosen
Awal. Pada Kala Miosen Tengah terjadi aktivitas magmatik yang membentuk batuan intrusi berkomposisi
andesit. Kemudian pada Kala Miosen Akhir-Pliosen terjadi proses sedimentasi yang menyebabkan
terbentuknya satuan batugamping. Aktivitas tektonik regional pada Kala Pliosen-Plistosen memicu
terjadinya kegiatan vulkanik yang membentuk batuan vulkanik Gunung Jobolarangan (Lawu Tua) yang
terdiri dari lava berkomposisi andesit-basaltik dan batuan piroklastik yang bersifat asam (silisik).
Selanjutnya aktivitas vulkanik berpindah ke sebelah utara yang ditandai dengan pembentukan batuan
vulkanik Gunung Lawu Muda berkomposisi andesitbasaltik yang membentuk morfologi Gunung Lawu
sekarang.
Setelah fase erupsi Gunung Lawu yang membentuk batuan piroklastik, aktivitas vulkanik Gunung Lawu
berakhir dengan pembentukan kubah lava muda berkomposisi andesit-basaltik di puncak Gunung Lawu
dan kerucut-kerucut Gunung Purung dan Gunung Anak berkomposisi andesit yang merupakan produk
erupsi samping. Proses erosi yang berlangsung sampai saat ini menghasilkan endapan lahar dan aluvium
seperti yang banyak terdapat di sepanjang pedataran dan sungai-sungai besar.
Gunung api Lawu terdiri dari dua sistem gunung api yang terpisahkan oleh Sesar Cemorosewu berarah
timur-barat (van Bemmelen, 1949). Sistem gunung api di sebelah selatan Sesar Cemorosewu, disebut
sebagai Gunung api Lawu Tua atau Gunung api Jobolarangan, berumur lebih tua (Pleistosen) daripada
sistem Gunung api Lawu Muda yang berada di sebelah utara sesar tersebut (Holosen). Hal ini tampak
dari perbedaan morfologi lereng dimana lereng gunung api di sebelah selatan sesar Cemorosewu lebih
terbiku daripada lereng di sebelah utara.
Gunung Lawu juga memilki potensi panas bumi. Manifestasi di daerah panas bumi Gunung Lawu muncul
di lereng selatan berupa fumarol dan mata air panas dengan temperatur sekitar 90°C, serta batuan
ubahan bertipe argilik hingga argilik lanjut, dan tersebar luas di kaki barat dan baratlaut Gunung Lawu
berupa mata air panas dengan temperatur 32°C hingga 40°C

Referensi :

Anonim, 2009. Laporan Survei Terpadu Geologi dan Geokimia Daerah Gunung Lawu, Provinsi Jawa
Tengah dan Jawa Timur, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung (unpublished report)

Hermawan, Dedi & Lano Adhitya Permana 2018. Keprospekan Panas Bumi Gunung Lawu Berdasarkan
Kajian Vulkanostratigrafi. Buletin Sumber Daya Geologi Volume 13 Nomor 3 - 2018 : 199 – 213.

Restu Freski, Yan dkk. 2017. Studi Morfologi Puncak Gunung Api Lawu Muda: Pendekatan Prediksi
Kronologi Erupsi Di Masa Depan. Proceeding, Seminar Nasional Kebumian Ke-10 Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, 30–31 Oktober 2014. Jurusan Teknik Geologi.

Gunung Sumbing
Gunung Sumbing di Jawa Tengah termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo. Puncaknya berketinggian 3371 mdpl.
Dinamakan Gunung Sumbing Karena pada kawah timur laut telah hancur sehingga Nampak seperti bibir
sobek atau sumbing.
Untuk mencapai puncak Gunung Sumbing biasanya pendakian dilakukan dari arah barat laut yaitu dari
Kampung garung (1543 m), Desa Butuh, Kecamatan Kalijajar, Kabupaten Wonosobo. Pendakian bisa juga
dilakukan dari arah utara yaitu dari Kecapit, Parakan; arah timur laut yaitu dari Kampung Butuh atau
Selogowok, Temanggung; arah tenggara yaitu dari Kalegen, Magelang; arah baratdaya yaitu dari
Sapuran, Wonosobo. Bagian lereng yang landai dengan Magelang; arah baratdaya yaitu dari Sapuran,
Wonosobo.
Karena tanahnya sangat subur hampir seluruh daerah lereng yang landai sampai ketinggian lebih kurang
2000 m telah dijadikan daerah perkebunan rakyat, seperti sayur-sayuran (kol, wortel, kentang, kacan-
kacangan dan lain-lain) di samping penanaman tembakau.
geoedu
Satuan morfologi ini disusun oleh batuan hasil letusan yang relatif lunak dan tersayat sangat dalam oleh
aliran sungai. Baatuannya terdiri dari lapili, tuf, tuf pasiran sampai tuf halus berbatu apung. Lereng
bagian bawah menunjukkan daerah bergelombang rendah, batuannya dominan terdiri dari piroklastika.
Bagian lereng yang terjal mempunyai kemiringan sekitar 25° -30° mulai ketinggian di atas 2000 sampai
lebih kurang 3300m dpl. Di lereng bagian atas banyak terdapat gawir-gawir dan alur-alur hulu sungai
yang sempit dan dalam. Bagian lereng yang terjal ini batuannya dominan terdiri dari lava (lava flow)
yang membentuk punggungan bukit di antara alur-alur hulu sungai.
Letusan dalam sejarah hanya tercatat satu kali yaitu tahun 1730 yang terjadi di kawah puncak, dimana
terbentuk kubah lava dengan aliran lava ke arah bibir kawah terendah diperkirakan terjadi pada tahun
tersebut.
Pada tahun 1937 kepulan asap solfatara yang bersuhu lebih kurang 90°C nampak pada kubah lava dan
kubangan lumpur di belakang kubah lava. Pada pemeriksaan puncak/kawah yang dilakukan bulan juni
1989, salah satu bekas lubang letusan yang terletak di sebelah utara sebagian terisi air berwarna keabu-
abuan. Tidak nampak adanya kegiatan vulkanik, kepulan asap solfatara dan fumarola di daerah
puncak/kawah, baik letak maupun hembusannya pada Juni 1989 tidak jauh berbeda bila dibandingkan
dengan keadaan tahun 1977. Kepulan asap solfatara di berbagai tempat menghasilkan endapan kristal
belerang.
Di sebelah barat terdapat dua dataran yang berdekatan, dibataasi oleh bongkah-bongkah lava. Disini
nampak kegiatan vulkanik berupa kepulan solfatara, fumarola dan mata air panas. Dataran sempit di
sebeleah selatan yang diapit oleh kubah lava dan pematang kawah sebelah tenggara-barat daya terisi
oleh bahan lepas yang telah ditumbuhi rerumputan. Di beberapa tempat nampak bekas kegiatan
solfatara dan fumarola berwarna keputih-putihan. pada tahun 1922 kubah lava belum ditutupi tumbuh-
tumbuhan. Baru sejak 1925 mulai ditumbuhi lumut-lumutan dan rerumputan. Pada saat ini kubah lava
tertutup agak lebat oleh tetumbuhan perdu dan rerumputan.

Goa Lawa
Goa Lawa Purbalingga berada di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa
Tengah. Luas Goa diperkirakan sekitar 5 km dengan panjang 1,5 km kira-kira membutuhkan waktu
sekitar 15 menit atau lebih untuk menjelajah seluruh isi goa. Goa Lawa berarti Goa Kelelawar sehingga
terdapat patung kelelawar raksasa yang menjadi ikon dari goa ini. Karena berada di lereng gunung
selamet, udara disekitarnya terasa sejuk. Didalam gowa pun tidak terlalu gelap karena dipasangi lampu
warna warni yang menambah keindahan goa. Di goa ini terdapat sedikitnya 14 ruangan didalam goa.

Goa lawa memiliki sejarah yang berkaitan dengan penyabaran agama islam. Lokasi ini pernah menjadi
tempat persembunyian dua penyebar islam bernama Ahmad dan Mohammad dari senopati Majapahit
Ki Sutaraga selama beberapa hari. Saat mereka keluar, mereka bertemu dengan Ki Sutaraga. Ki Sutaraga
yang belum bertemu dengan kedua orang tersebut itu akhirnya menanyakan dimana keberadaan
Ahmad dan Mohammad. Namun mereka menjawab jika Ahmad dan Mohammad telah dimakan
harimau. Ki sutaraga pun mempercayanya sehingga Ahmad dan Mohammad percaya.

Di goa Lawu terdapat beberapa objek wisata, diantranya :

1. Wahana bermain untuk anak

2. Coffee shop
3. Camping Ground

Kehadiran Gua Lawa berasosiasi dengan kejadian erupsi volkanis efusif (aliran/lelehan). Magma yang
keluar pada permukaan bumi bersifat encer, panas dan berpijar mengalir dari sumber erupsi volkanik.
Lava ini mengalir dari sumbernya di permukaan bumi menuju bagian yang elevasinya lebih rendah.
Akibat kontak antara Lava dengan udara di permukaan, maka bagian tubuh magma yang berada di
permukaan dan di bawahnya akan membeku terlebih dahulu dan berhenti mengalir. Bagian lava yang
berada paling bawah dari tubuh aliran lava akan tetap cair, akibat panas yang masih tinggi. Dikontrol
oleh morfologi purba, lava cair di bagian bawah ini akan terus mengalir menuju tempat-tempat dengan
elevasi yang lebih rendah.

GEOEDU
Gua lawa terbentuk dari jenis batuan beku andesit yang dihasilkan oleh aliran lava dari kegiatan
volkanisme dengan jenis erupsi lelehan. Secara regional, daerah Gua Lawa terdiri dari formasi batuan
lava Gunung Slamet (Qvls) yang terdiri dari lava andesit yang berongga yang melampar di bagian lereng
bagian timur gunung Slamet. Formasi batuan ini menumpang secara tidak selaras di atas Formasi Halang
yang terdiri dari batuan sediment berupa batupasir konglomerat tuffaan dan napal.

Referensi :

Widagdo, Asmoro & Rachmad Setijadi. 2007. Studi Pendahuluan Geologi Gua Lawa Di Purbalingga, Jawa
Tengah. Dinamika Rekayasa Vol. 3 No. 2 Hal 57-60.

Waduk Malahayu adalah sebuah waduk yang terletak di dekat perbatasan Jawa Tengah-Jawa


Barat tepatnya di Kecamatan Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa
Tengah, Indonesia. Awalnya waduk ini menggenang di perbatasan Desa Malahayu dengan
Desa Cipajang dan Desa Penanggapan, tetapi akibat mendangkalan kini secara umum hanya
menggenangi wilayah Desa Malahayu sekaligus lokasi bendungan utamanya. 
Disamping sebagai sarana irigasi lahan pertanian wilayah Kecamatan Kecamatan
Banjarharjo, Kecamatan Kersana, Kecamatan Ketanggungan, Kecamatan Loasari, Kecamatan
Tanjung dan Kecamatan Bulakamba dan pengendali banjir, Waduk Malahayu juga dimanfaatkan untuk
objek wisata. Di objek wisata ini dapat ditemukan panorama alam pegunungan dan perbukitan yang
indah, dikelilingi hutan jati yang luas dan telah dijadikan bumi perkemahan dan wana wisata.
Berbagai fasilitas tersedia di kompleks wisata ini antara lain kolam renang anak, mainan anak, becak air,
perahu pesiar, perahu dayung, panggung terbuka serta disediakan tempat parkir yang cukup luas.
Terkadang diadakan lomba balap perahu, lomba mancing, dan sebagainya. Penduduk setempat juga
menggunakan perahu compreng untuk rekreasi air mengelilingi waduk. Ikan Mujair goreng adalah
hidangan istimewa di lokasi wisata ini. Beberapa warung makan yang mendirikan bangunan di timur
waduk menyediakan ikan mujair goreng dengan harga murah.

geoedu
Sejarah geologi daerah sekitar Waduk Malahayu dimulai pada Kala Miosen Akhir (N14-N18). Pada kala
ini diendapkan Satuan Batuan batupasir selang-seling batulempung (Formasi Halang) dengan
mekanisme arus turbit atau aliran gravitasi kipas bawah laut, ketebalan satuan ini berdasarkan
penampang geologi diatas 1400 m. Kemudian pada umur Miosen Akhir (N18- N19) secara menjemari
diendapkan Satuan Breksi dengan ketebalan 850 m pada lingkungan yang sama yaitu laut dalam, namun
dalam fasies yang berbeda yaitu berada pada fasies kipas atas.
Setelah itu pada umur Pliosen hingga Plistosen di daerah penelitian tidak ditemukan adanya
pengendapan karena di daerah ini terjadi orogenesa yang diperkirakan berumur Plio-Plistosen. Sehingga
terbentuk perlipatan sinklin Dukuh Badag, sinklin Cibeber, sinklin Lebak Ciomas, antiklin Dukuh Badag,
antiklin Cisalak dan sesar mendatar Penanggapan dengan arah hampir BaratlautTenggara. Kemudian
pada akhir Kala Plistosen hingga Holosen mulai terbentuk Satuan Endapan Aluvial yang terjadi karena
proses erosi, transportasi dan sedimentasi dari batuan yang telah terbentuk sebelumnya.

Referensi :
Nasrudin, dkk. Geologi Dan Geotrek Lintasan Gunung Gora – Waduk Malahayu Kecamatan Banjarharjo
Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik – Universitas
Pakuan

Anda mungkin juga menyukai