0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan19 halaman

Kebijakan Pengurangan Sampah Bandung

Alternatif kebijakan pengurangan volume sampah di Kota Bandung meliputi menggalakan kampanye zero waste dengan alat pengompos sampah organik di tingkat RW, membuat kategorisasi pengelolaan sampah bekerja sama dengan pengusaha pengumpul sampah, dan mengurangi penggunaan plastik bekerja sama dengan pelaku pasar. Analisis alternatif menunjukkan penerapan kampanye zero waste dengan biodigester di tingkat RW dapat menyelesaikan masalah sampah

Diunggah oleh

Mikel Mikel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan19 halaman

Kebijakan Pengurangan Sampah Bandung

Alternatif kebijakan pengurangan volume sampah di Kota Bandung meliputi menggalakan kampanye zero waste dengan alat pengompos sampah organik di tingkat RW, membuat kategorisasi pengelolaan sampah bekerja sama dengan pengusaha pengumpul sampah, dan mengurangi penggunaan plastik bekerja sama dengan pelaku pasar. Analisis alternatif menunjukkan penerapan kampanye zero waste dengan biodigester di tingkat RW dapat menyelesaikan masalah sampah

Diunggah oleh

Mikel Mikel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEBIJAKAN PENGURANGAN VOLUME TIMBULAN SAMPAH

DI KOTA BANDUNG

PENDAHULUAN

A. Masalah Publik

Indonesia, seperti halnya negara berkembang lain, menghadapi masalah serius


dalam hal pengelolaan sampah perkotaan (MSW, Municipal Solid Waste). Sayangnya,
peningkatan jumlah sampah perkotaan tidak sejalan dengan pengelolaan persampahan
yang layak1. Seperti Bandung saat ini sampah menjadi isu hangat. Bahkan pada awal
tahun 2014 lalu, Bandung digegerkan oleh sebuah tulisan seorang warga Bulgaria, Inna
Savova, dalam blognya menyebut Bandung sebagai ‘The City of Pigs’2.
Sampah menjadi persoalan struktural di Kota Bandung sejak terjadinya bencana
longsor TPA Leuwigajah pada tanggal 21 Februari 2005 hingga menimbulkan korban
jiwa3. Pasca bencana longsor tersebut tidak ada tempat pembuangan Akhir (TPA)
sampah yang kemudian berdampak pada semakin menumpuknya sampah yang
menunggu untuk diangkut. Upaya pencarian TPA pengganti juga sudah dilakukan oleh
pemerintah. Beberapa daerah sempat dijadikan TPA (yaitu Jelekong, Cicabe, Cikubang,
dan yang terakhir Sarimukti), namun semuanya hanya bersifat sementara karena
keterbatasan kapasitas lahan4.
Masalah sampah kemudian bertambah karena TPA Sarimukti, tempat akhir
dimana seluruh sampah warga Kota Bandung dibuang, akan ditutup pada tahun 2016.
Sedangkan TPA Sarimukti sendiri berlokasi di Kabupaten Bandung Barat, yang artinya
warga Kota Bandung mengakhiri pembuangan sampahnya di Kabupaten orang. Mau
tidak mau, Pemerintah Kota Bandung harus bertindak cepat mengatasi persoalan
1
Mursito, Djoko., Prima Sari, Terra dan Bramono, Eko. 2013. “Mengelola Sampah Perkotaan di
Indonesia, Sebuah Sudut Pandang Pemerintah”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15.
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
2
“Bandung – the city where people think pig meat is too dirty to eat, yet they live in more filth than the
animal itself. It could be a lovely city. Yet it looks (and smells) like a disaster area”.
Available at : [Link]
pada hari Rabu, 3 Desember 2014)
3
Op cit
4
Purwaningsih, Murni Rahayu. 2012. “Analisis Biaya Manfaat Sosial Keberadaan Pembangkit Listrik
Tenaga Sampah Gedebage bagi Masyarakat Sekitar”. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Vol. 23,
No. 3, Desember 2012. (diakses pada Rabu, 3 Desember 2014).
sampah karena setiap hari volume sampah di Kota Bandung terus bertambah. Catatan
tahun 2012 saja Kota Bandung memproduksi sampah hampir 11 ribu ton perhari yang
65 persennya merupakan sampah anorganik5, yang apabila tidak ditangani secara serius
maka sampah akan menjadi persoalan yang lebih luas lagi. Sekalipun terdapat peraturan
yang terpadu tentang pengelolaan sampah baik itu dari UU No. 8 tahun 2008 maupun
Perda Kota Bandung No.9 tahun 2011, namun sampah masih saja menjadi persoalan
perkotaan.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan masalah sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa permasalahan


utama yang dialami oleh Kota Bandung mengenai isu sampah adalah soal timbulan
sampah yang mulai tidak teratasi dan oleh karenanya harus mencari solusi dan alternatif
pengelolaan persampahan yang berwawasan lingkungan serta lebih berkelanjutan
sehingga dalam jangka panjang dapat menjaga dan mempertahankan kualitas
lingkungan.

C. Rumusan Alternatif Kebijakan

a. Alternatif 1
Menggalakan kampanye Zero Waste, “Bandung Zero Waste Community”,
dengan menyediakan alat-alat pengompos sampah organik di tingkat RW (Biodigister6)
dan memberdayakan masyarakat tingkat RT untuk membuat kerajinan tangan dari
sampah-sampah anorganik dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang mana
prinsip ini sesuai dengan prinsip Integrated Solid Waste Management7. Disertai dengan
reward bagi kelompok masyarakat yang aktif dan punishment bagi kelompok
masyarakat yang dianggap apatis. Hal ini sebenarnya sudah pernah dicobakan dengan
membuat kompetisi Bandung Green and Clean (BCG) antar RW sejak tahun 2005,

5
[Link] (diakses
pada Rabu, 3 Desember 2014)
6
Biodigister adalah teknologi pengurai sampah dengan bakteri yang dapat menghancurkan dan mengurai
sampah sehingga volume sampah sisa tidak sebanyak sampah awalnya dan sampah dapat bermanfaat
menjadi pupuk kompos organik.
7
Mursito, Djoko., Prima Sari, Terra dan Bramono, Eko. 2013. “Mengelola Sampah Perkotaan di
Indonesia, Sebuah Sudut Pandang Pemerintah”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15.
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
namun menggantung keberlangsungannya8. Sehingga, alternatif model ini bisa
dibangkitkan kembali dengan menambahkan penerapan teknologi agar lebih efektif.

Gambar 1. Paradigma tentang Pengelolaan Sampah

(Sumber : Mursito, Sari dan Bramono, 20139)

b. Alternatif 2
Membuat kategorisasi pengelolaan sampah produksi maupun konsumsi dimana
pemerintah kota bekerjasama dengan para pengusaha pengumpul sampah (public privat
partnership)10 untuk mengelola sampah sesuai kategorinya, baik sampah organik,
sampah plastik, sampah elektronik atau sampah kain, yang mana para pengusaha
pengelola sampah untuk mengelola persampahan secara berkelanjutan11.

8
Iman, Halwatul dan Kustiwan, Iwan. 2013. “Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
di Kelurahan Tamansari Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 2. No. 2.
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
9
Op cit
10
Butler, Ken. 2013. “Membuka Jalan Bagi Sektor swasta untuk Terlibat dalam Pengelolaan Sampah
Perkotaan di Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013 (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015)
11
Landon, Nigel. 2013. “Sebuah Tinjauan Tentang Sektor Manajemen Persampahan Indonesia”. Jurnal
Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
Gambar 2. Pemangku Kepentingan Utama bagi Solusi Komersial yang
Berkelanjutan

(Sumber : Butler, 201312)

c. Alternatif 3
Mengurangi volume sampah anorganik khususnya penggunaan plastik maupun
styrofoam dimana pemerintah bekerja sama dengan pelaku pasar baik di pasar
tradisional, supermaket, serta pedagang eceran untuk menjual barang dagangannya
dengan plastik ramah lingkungan yang terbuat dari bahan organik yang cepat dan
mudah hancur atau diganti dengan wadah kertas dan goodybag13. Dalam hal ini
pemerintah memberikan juga mekanisme reward and punishment bagi para pelaku
pasar14.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ALTERNATIF KEBIJAKAN

12
Op cit
13
Hal ini dikarenakan presentasi terbesar di Kota Bandung adalah sampah makanan (50-85%). Lihat :
Ruslinda, Yenni, dkk. 2012. “Studi Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah Domestik Kota
Bukittinggi”. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. Vol. 9, No. 1. Januari 2012. (diakses pada hari
Minggu, 4 Januari 2015).
14
[Link] (diakses pada hari Kamis, 23 Oktober
2014)
A. Analisis Alternatif Kebijakan

a. Analisis Alternatif 1

1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan ini dapat membuka kemungkinan penyelesaian masalah
sampah dari penyebab yang ditimbulkan baik dari aspek ekonomi, sosiologis,
politik maupun aspek budaya. Sekaligus mengimplementasikan paradigma
governance dalam kebijakan publik15.
2. Aspek Teknis
Secara teknis, alternatif ini memungkinkan untuk dilaksanakan dengan adanya
kerjasama bersama seluruh stakeholder dari tingkat kecamatan hingga tingkat
RW dan pengawasan yang lebih mudah. Leading sector adalah PD Kebersihan,
sebagai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) sesuai amanat UU No. 18/2008
tentang Pengelolaan Sampah.
3. Aspek Ekonomis
Dari segi harga yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk membeli
biodigister sekitar Rp. 100 Milyar dengan estimasi 1000 unit biodigister yang
tersebar di setiap RT di Kota Bandung dan dengan harga 1 unit Biodigister
sebesar Rp. 10 juta. Besaran dana ini diproyeksikan dari dana CSR (coorporate
social responsibillity) dan dukungan dari APBD 16, sementara keuntungan bisa
dirasakan secara lebih luas dari hasil penggunaan teknologi tersebut, seperti gas
dan kompos yang bernilai ekonomis17.
4. Aspek Sosial
Mekanisme reward dan punishment akan dapat meningkatkan motivasi
masyarakat untuk mengurangi volume sampah di lingkungannya masing-
masing. Selain itu juga dapat menghidupkan kembali nilai gotong royong
diantara warga18.
15
Mahardika, Kani dan Kustiwan, Iwan. 2014. “Potensi Pengembangan Peran Masyarakat dalam
Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan di Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota 2
SAPPK. Vol. 3. No. 3. Oktober 2014. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
16
[Link] (diakses
pada hari Senin, 5 Januari 2015)
17
Mutaqin dan Heru, Totok. 2010. “Pengelolaan Sampah Limbah Rumah Tangga dengan Komposter
Elektrik Berbasis Komunitas”. Jurnal Litbang Sekda DIY Biro Adm. Pembang. Vol. II, No. 2. Tahun
2010 ISSN 2085-9678 (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
18
Iman, Halwatul dan Kustiwan, Iwan. 2013. “Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
di Kelurahan Tamansari Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 2. No. 2.
5. Aspek Politis
Beberapa pembahsan yang mungkin akan mengalami kendala adalah soal
penganggaran untuk membeli mesin biodigister yang mana hal ini akan
berkaitan dengan tender barang dan jasa yang sangat sensitif.
6. Aspek Hukum
Payung hukum tersedia dari UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah, RPJMD Kota Bandung sertaPerda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011
tentang Pengelolaan Sampah.

b. Analisis Alternatif 2
1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan ini bisa menjadi solusi komersial yang berkelanjutan bagi
manajemen persampahan perkotaan karena mengandalkan kegiatan kooperatif
dalam wujud public private partnership. Semua komponen dalam rantai nilai
persampahan perkotaan merupakan peluang bagi partisipasi sektor swasta,
terutama ketika mengajukan usulan solusi teknis kepada Pemerintah Daerah.19
2. Aspek Teknis
Dari segi teknis bisa lebih mudah karena hanya berkaitan dengan PD Kebersihan
sebagai BLUD penanggung jawab dan perusahaan-perusahaan pengelola
sampah bisa berada langsung dalam kordinasi dengan PD Kebersihan.
3. Aspek Ekonomis
Pemerintah akan lebih terbantu dengan keterlibatan sektor swasta dalam
manajemen penanganan sampah. Keduanya sama-sama diuntungkan yakni,
profit untuk swasta dan efisiensi pengelolaan sampah untuk pemerintah.
4. Aspek Sosial
Masyarakat tidak terlibat secara aktif dalam pengurangan volume sampah kota
sehingga dikhawatirkan masih ada sikap apatisme dan kurangnya kesadaran
masyarakat untuk mengurangi produksi sampahnya masing-masing.
5. Aspek Politis
Kemungkinan akan ada beberapa NGO yang bergerak di bidang lingkungan
yang tidak sependapat dengan alternatif kebijakan ini karena menggunakan
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
19
Butler, Ken. 2013. “Membuka Jalan Bagi Sektor swasta untuk Terlibat dalam Pengelolaan Sampah
Perkotaan di Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013 (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015)
sistem PPP (Public Private Partnership) yang mengurangi keterlibatan
kelompok masyarakat dan dikhawatirkan proses PPP yang tidak demokratis atau
bersifat kolusif.
6. Aspek Hukum
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Penglolaan Sampah sudah
membahas soal kerjasama pengelolaan sampah antara pemerintah dan pihak
swasta.

c. Analisis Alternatif 3
1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan serupa dengan pengelolaan sampah yang bekerjasama
dengan pihak swasta namun disertai dengan teknologi penggunaan barang yang
ramah lingkungan .
2. Aspek Teknis
Kendala teknis yang mungkin ditemuai adalah penerapan kebijakan ini bagi
supermarket dan swalayan karena sifatnya hanya sebaga cabang pelaksana dan
mau tidak mau harus berkordinasi secara penuh dengan perushaan supermarket
pusatnya, sehingga kebijakan mengganti kantung dengan palstik organik butuh
kordinasi yang lebih berjenjang. Sementara untuk pasar tradisional bisa
dilakukan oleh PD Pasar.
3. Aspek Ekonomis
Pemerintah kota dalam hal ini tidak banyak mengeluarkan anggaran kecuali
untuk biaya operasional sosialisasi. Serta adanya keuntungan mengurangi
volume sampah anorganik yang hampir 11 ribu ton perhari dalam kisaran 65%
dari total sampah Kota Bandung20.
4. Aspek Sosial
Secara langsung, alternatif kebijakan ini mengajak dan menggugah kesadaran
para pelaku pasar untuk secara bijak mengurangi volume sampah khususnya
sampah anorganik yang tidak bisa diurai dengan sampah orgamik yang lebih
mudah untuk di recycle.
5. Aspek Politis

20
[Link] (diakses
pada senin, 29 september 2014)
Kemungkinan kecil munculnya perdebatan dari alternatif kebijakan ini karena
tidak banyak berkaitan dengan penghitungan dan perumusan anggaran.
6. Aspek Hukum
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 (Paragraf 3 Pelaku Usaha, Pasal 11) 21
tentang Penglolaan Sampah sudah membahas soal kewajiban dan
tanggungjawab swasta untuk terlibat dalam pengurangan volume sampah

Tabel 1. Skor Alternatif Kebijakan

Alternatif Analisis Fisibilitas

Kebijakan Substantif Teknis Ekonomis Sosial Politis Hukum Total

Alterantif 1 9 8 9 9 8 9 59

Alternatif 2 8 6 8 7 6 6 41

Alternatif 3 7 4 4 4 6 8 33

Keterangan Skor :
1-10 (Semakin tinggi fisibilitas semakin besar skor yang diperoleh)
Maksimum skor total = 70

Simpulan Rekomendasi Kebijakan:

Dari tabel di analisis penilaian di atas, alternatif kebijakan yang dipilih yakni:
“Bandung Zero Waste Community”, karena memiliki skor tertinggi dari segi fisibilitas
kebijakan untuk dapat diimplementasikan dalam rangka tujuan mengentaskan masalah
publik yakni mengurangi volume sampah di Kota Bandung.

B. Pengembangan Implementasi Alternatif Kebijakan

Alternatif Kebijakan yang dipilih : “Bandung Zero Waste Community”.


Kebijakan ini diimplementasikan dengan pendekatan Hybrid, dimana top down dalam
rangka penyiapan dan pematangan program oleh pemerintah dan bottom up untuk
evaluasi program dari sudut pandang masyarakat sebagai pihak yang berpartisipasi
dalam implementasi. Program kebijakan ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3 tahun,

21
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah
dengan asumsi tahun pertama dan kedua adalah penanaman kesadaran partisipasi aktif
masyarakat dan tahun ketiga adalah signifikansi pengurangan volume sampah kota. Hal
ini sesuai dengan amanat yang tertuang dalam Perda No. 9/2011 tentang Pengelolaan
Sampah, dengan uraian sebagai berikut :

1. Goals
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi volume sampah Kota
Bandung yang semakin meningkat dengan cara mengikutsertakan masyarakat agar
memiliki kesadaran dan tanggungjawab bersama tentang permasalahan publik
yakni sampah di Kota Bandung
2. Rationales
Mengikuti amanat UU No. 8 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, misi
RPJPD yang tertuang dalam Perda No. 08 Tahun 2008 tentang RPJPD Kota
Bandung Tahun 2005-2025, serta Perda No. 11 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Sampah, yang memiliki misi “Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan
Terpadu Berwawasan Lingkungan” “Mewujudkan Pengelolaan Limbah Padat
yang Efektif dan Bernilai Ekonomis”. Sementara itu, adapun indikator capaian
misinya adalah 90% sampah dapat dikelola, dengan perincian 20% menggunakan
metode 3R(Reduce, Reuse, dan Recycle)
3. Assumptions
Pendekatan sosiologi dan budaya menjadi hal utama, bukan sekadar pendukung.
Prinsip 3R: reduce, reuse, recycle adalah pendekatan sosiobudaya dengan
sentuhan teknologi sederhana dalam recycle. Masyarakat sebagai penimbul
sampah diajak ikut berperan dalam pengelolaan (management) dan
pengolahannya (treatment) dalam skala kecil22. Di sinilah peran pemulung yang
ikut mereduksi volume dan berat sampah yang akan ditimbun di TPA 23, serta
dengan melibatkan warga kota dalam kesadaran mengelola sampah.
4. Target Groups
Seluruh warga masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah administratif Kota
Bandung

22
Friedman, Joel. 2013. “Memperkuat Lingkungan Kelembagaan Untuk Manajemen Persampahan
Perkotaan”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu,
4 Januari 2015).
23
[Link] (diakses pada hari Kamis, 23
Oktober 2014)
5. Agents
Pengurus RW serta masyarakat tingkat RW untuk turut serta dalam kebijakan ini
dan dipersiapkan melalui pelatihan akan dilaksanakan oleh Satgas

6. Implementation Structures
Walikota sebagai penanggungjawab utama sekaligus awal dan akhir alur
kordinasi. Walikota kemudian membentuk Satgas Bandung Zero Waste
Community yang terdiri dari : 3 orang pegawai tata pemerintah kota, 3 orang
pegawai PD Kebersihan, serta 4 orang dari budayawan pegiat lingkungan Kota
Bandung. Satgas kemudian membawahi kordinasi dengan kecamatan, kelurahan
dan RW, dimana di setiap tingkat RW terdapat fasilitator dan di setiap kelurahan
terdapat forum fasilitator.

Gambar 3. Struktur Implementor Kebijakan

PD Kebersihan Kecamatan

Walikota
Satgas Bandung
Zero Waste Kelurahan
Community

RW - Fasilitator

7. Tools
Sarana dan Prasarana : 1000 unit Biodigister untuk 1000 RW
Regulasi yang dibutuhkan :
a) Peraturan Walikota tentang Pembentukan Unit Satuan Tugas (Satgas)
Bandung Zero Waste Community di level PD Kebersihan yang berada di
bawah kordinasi langsung Walikota
b) Surat Keputusan Walikota tentang Standar Operasional Prosedur (SOP)
Satgas
c) Surat Keputusan Walikota tentang Standar Pelayanan (SP)
d) Surat Keputusan Walikota tentang Pengangkatan pegawai Satgas

8. Rules
a) Biodigister disalurkan kepada masing-masing RW
b) Kelurahan wajib memantau dan mengawasi penggunaan biodigister dan
diperkenankan melakukan teguran kepada RW yang tidak memanfaatkan
mesin biodogister
c) Penilaian RW ‘Green and Clean” dilakukan secara berkala yakni selama 3
bulan sekali dengan asumsi, sampah kompos yang dikelola mampu
menyuburkan tanaman obat keluarga maupun tanaman hias
d) Hasil penilaian dilombakan di tingkat kecamatan dan level kota dalam
kurun waktu 1 bulan. Sehingga pada bulan ke empat sudah diketahui
pemenang dan diberikan reward dan diumumkan di media lokal. Begitu juga
dengan predikat RW terkotor diumumkan di media lokal. Hal ini berarti
waktu yang dibutuhkan selama setahun terdapat 3 kali program reward and
punishment.

C. Analisis Konten dan Konteks Implementasi Kebijakan

Konten Kebijakan :

Interest Affected
Dalam kebijakan ini, sangat mendalam pengaruh untuk mengurangi volume sampah
mulai dari hulu yakni dari tingkat rumah tangga. Lapisan masyarakat yang dipengaruhi
oleh kebijakan ini sangat banyak namun tetap terfokus dalam pengawasan yang mudah
yakni di tingkat Rukun Warga (RW)24.
Type of Benefits
Manfaat yang dihasilkan dari kebijakan ini akan sangat terlihat dan dapat langsung
dirasakan oleh masyarakat, yakni dengan keuntungan mengubah sampah organik rumah
tangga langsung menjadi kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
langsung oleh warga sendiri sebagai pengelola, yang merupakan manfaat ekonomis.

24
Hal ini dikarenakan hasil identifikasi timbulan sampah perhari paling tinggi diproduksi dari pemukiman
yakni sebesar 4.591,98 m3/hari. Available at : Rizki Muttaqie, Azhar dan Sugiyantoro. 2014. “Identifikasi
Pengelolaan Sampah Kota Bandung (Studi Kasus: Komplek ujung Berung Indah, Komplek Perumahan
Cibangkong, RW 08 Kel. Ciroyom, RW 02 Kel. Sukabungah, RW 02 Kel. Bina Harapan Cisaranten, dan
Kel. Maleer)”. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK. Vol. 1, No. 2. April 2014. (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015).
Bagi pemerintah, hal ini mengurangi biaya pengolahan sampah jika sampah dikelola di
TPA.

Extent of Change Envisioned


Kebijakan ini diimplementasikan dalam skala kelompok masyarakat yang lebih kecil
namun tetap mudah dikontrol oleh pemerintah karena cakupan wilayah Rukun Warga
dirasa ideal untuk mengembangkan kebijakan ini di level masyarakat maupun di level
pemerintahan. Pengurangan volume sampah yang terjadi juga dapat dirasakan secara
signifikan apabila dikalkulasi secara keseluruhan tetapi tidak sama sekali mengubah
struktur dan kultur masyarakat malah justru mengembalikan budaya kepedulian dan
gotong royong25.

Site of Decision Making


Rukun Warga (RW) diberi kebebasan untuk bisa menyelesaikan masalah penanganan
biodigister ini dengan warga secara musyawarah mengenai bagaimana giliran
penggunaan dan tanggungjawab, pengelolaan kompos dan hal lainnya. Sehingga dalam
hal ini, menempatkan RW sebagai agen menjadi hal yang sangat efektif karena masalah
dapat diselesaikan dengan cepat.

Program Implementors
Implementasi program ini tersusun secara struktural mulai dali Walikota dan PD
kebersihan kemudian di tingkat kecamatan dan kelurahan hingga tingkat RW. Di tingkat
RW diberikan kebebasan bagi masyarakat di RW tersebut untuk memusyawarahkan tim
khusus untuk operator maupun penanggungjawab program sesuai dengan kesepakatan
warga.

Resources Commited
Pengadaan alat biodigister menggunakan dana APBD kota yang bisa dialokasikan di
tahun anggaran 2015 serta pengembangan dari dana CSR. Selain itu dari segi sumber
daya untuk menyiapkan agen disediakan pelatihan untuk menjadi fasilitator dilakukan
oleh PD Kebersihan dan bekerjasama dengan komunitas masyarakat sebagai agen untuk
mengkampanyekan gerakan hijau. Prioritas utama yang diberikan pelatihan adalah

25
Mahardika, Kani dan Kustiwan, Iwan. 2014. “Potensi Pengembangan Peran Masyarakat dalam
Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan di Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota 2
SAPPK. Vol. 3. No. 3. Oktober 2014. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
perangkat RW dan kelompok tim satuan khusus yang akan menjadi agen di tingkat RW
diutamakan adalah kelompok pemuda atau karang taruna masing-masing RW.

Konteks Kebijakan :

Power, Interests, and Strategies Actors Involved


Dari segi pemetaan stakeholder, yang paling utama adalah Walikota yang langsung
menginstruksikan pada pihak kecamatan dan kelurahan serta PD. Kebersihan sebagai
BLUD Kota Bandung. Selain itu, dari sisi publik adanya keterlibatan masyarakat
sebagai subjek kebijakan serta keterlibatan NGO.

Institutions and Regime Characteristic


Dari segi birokrasi pemerintahan Kota Bandung cenderung demokratis dan terbuka
selain karena mempertahankan status prestis sebagai ibukota provinsi dan predikat kota
modern maka kemungkinan besar birokrasi dapat bekerjasama melaksanakan kebijakan
ini.

Compliance and Responsiveness


Dengan performa walikota baru yang serba cepat dan responsif, tingkat kepatuhan
birokrasi untuk melaksanakan kebijakan ini lebih tinggi, ditambah masyarakat yang
urban dan dinamis juga akan lebih mudah menerima kebijakan ini terlebih porsi
keterlibatan masyarakat sebagai subjek kebijakan juga ditunjang dengan adanya
keterlibatan NGO membuat kebijakan ini dirasa sangat demokratis dan partisipatoris.

D. Monitoring dan Evaluasi Kebijakan

Monitoring
Monitoring implementasi dilaksanakan melalui pendekatan hybrid sejalan
dengan pendekatan yang digunakan dalam implementasi program. Monitoring akan
dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang akan dilaksanakan oleh Satgas Bandung
Zero Waste Community dan Fasilitator tingkat RW untuk meninjau penerapan
implementasi di setiap unit agen dan menginventarisir setiap permasalahan yang timbul
dalam pelaksnaan program baik yang mampu diselesaikan oleh agen maupun tidak
terselesaikan. Monitoring yang diadakan setiap enam bulan sekali akan disertakan
pengayaan (evaluasi kinerja) setiap setahun sekali untuk peningkatan efektivitas
program, dengan acuan sebagai berikut :

Tabel 2. Aspek Monitoring yang Diisi Oleh Satgas dan Fasilitator

Aspek Implementasi Input


Frekuensi Frekuensi Performa
Termin
Struktur Musywarah Pemakaian Mesin Hambatan Pemberdaya
tingkat RW Biodigisiter Biodigister
Semester
1
Semester
2

Evaluasi

Evaluasi program kebijakan akan dilaksanakan dengan metode Social Audit ,


yakni dalam bentuk pengisisan kuisoner bagi masyarakat dan dengar pendapat pada
akhir implementasi program. Alasan kebijakan ini menginginkan adanya perubahan
paradigma dan munculnya kesadaran serta partisipasi aktif masyarakat dalam
penanganan sampah sehingga, masyarakat juga dilibatkan untuk melakukan evaluasi
kebijakan baik dari tingkat unit agensi maupun masyarakat secara luas. Evaluasi akan
dilakukan setiap akhir tahun dan Evaluasi menyeluruh pada akhir porgram di tahun ke
tiga. Berikut merupakan acuan untuk social audit Program Bandung Zero Waste
Community :

Tabel 3. Komponen Penilaian Evaluasi

No. Komponen Penilaian Fokus Penilaian


1. Transfer – Eksistensi Apakah masyarakat mengetahui ada atau tidaknya
Kebijakan Program Bandung Zero Waste Community
2. Transfer – Efektivitas Melihat apakah proses transfer program dapat benar
Pelaksanaan dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan
3. Transfer – Akses Melihat apakah informasi mengenai keberadaan Fasilitator
Masyarakat ataupun keberadaan mesin biodigister diketahui oleh
masyarakat dan masyarakt mudah mengaksesnya
4. Distribusi – Eksistensi Melihat apakah aturan yang ada cukup untuk menutupi
Kebijakan berbagai persoalaan yang mungkin terjadi
5. Distribusi– Efektivitas Melihat apakah Satgas, Fasilitator maupun aparat
Pelaksanaan pemerintahan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan
tugasnya dalam implementasi
6. Distribusi – Akses Melihat apakah masyarakat dapat benar-benar terlibat
Masyarakat dalam proses penentuan rencana atau pelaksanaan program
di tingkatan RT/RW
7. Pelaporan – Eksistensi Melihat apakah tersedia kebijakan yang mengharuskan
Kebiijakan pelaporan dan apakah tata cara pelaporan diatur
8. Pelaporan – Efektivitas Melihat Kemampuan Satgas, fasilitator dan aparat
Pelaksanaan pemerintah dalam membuat laporan sesuai dengan
kebijakan yang ada.
9. Pelaporan – Akses Melihat apakah ada dimungkinkan masyarakat melihat dan
Masyarakat mengakses hasil laporan yang telah dibuat
10. Mekanisme Komplain Melihat bagaimana program mewajibkan adanya
– Eksistensi Peraturan penanganan komplain
11. Mekanisme Komplain- Melihat bagaimana upaya penanganan komplain yang
Efektivitas Pelaksanaan dilakukan oleh implementator
12. Mekanisme Komplain Melihat bagaimana masyarakat dapat menggunakan
– Akses Masyarakat mekanisme komplain yang ada
(Sumber : Olahan dari Srimarga, Fahazza dan Heryanto, 2011 : 34-35)26

Gambar 4. Road Map Kebijakan Bandung Zero Waste Community

Penataan
Persiapan
Penataan SDM dan Sosialisasi dan Monitoring
Penyusunan
Kelembagaan Sarana Implementasi dan Evaluasi
Kelembagaan
Prasarana

PENUTUP

A. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan (Constraining Factors) terkait


Rekomendasi Kebijakan
26
Srimarga, I.C., Fahazza, M., dan Heriyanto, Widi. 2011. “Manual Audit Sosial Multi Stakeholder :
Membangun Suara Masyarakat Berbasis Bukti”. Jakarta : PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi
Regional) dan USAID. (diakses pada hari Senin, 5 Januari 2015)
Proses Penganggaran Pengadaan Biodigister

Dalam proses ini apabila tidak dilakukan komunikasi secara intensif dengan
pihak DPRD mengenai pentingnya kebijakan dan besarnya manfaat untuk
pembangunan Kota Bandung, maka dapat menghambat kelancaran proses implementasi.

Proses Tender Mesin Biodigister


Proses tender merupakan proses yang cukup krusial berkaitan erat dengan bisnis
dan politik baik itu menyangkut anggota DPRD maupun pemerintah kota. Sehingga
untuk mengamankan proses ini dibutuhkan komitmen untuk membuka informasi tender
seluas-luasnya dengan berpegang teguh pada prinsip transparansi dan akuntabilitas yang
dapat diawasi bersama oleh masyarakat. Hal ini setidaknya dapat meminimalisir praktik
KKN sekaligus dapat menjadi praktik good governance di Kota Bandung.

B. Faktor-Faktor yang Dipersiapkan (Enabling Conditions) untuk Implementasi


Rekomendasi Kebijakan

Sosialisasi
Faktor yang harus dipersiapkan dalam rencana implementasi kebijakan salah
satunya adalah sosialisasi. Sosialisasi ini penting untuk menyampaikan argumentasi
kebijakan yang diambil adalah sudah layak diimplementasikan. Dalam sosialisasi
nantinya menunjuk tiga sasaran penting, Pertama adalah kepada perumus
kebijakan/parlemen dan stakeholder. Hal ini menjadi penting karena inisiatif
pembentukan kebijakan lahir dari eksekutif atau dalam hal ini Walikota sebagai
pemimpin pemerintah kota. Sosialisasi kepada pihak ini adalah untuk mendapat
dukungan dari segi politik, sehingga implementasi kebijakan dapat dilakukan dengan
legal dan sesuai konstitusi. Kedua adalah kepada target group. Target group kebijakan
ini adalah warga kota secara luas. Sosialisasi kepada pihak ini adalah untuk mendapat
dukungan dari publik mengenai kebijakan yang akan dilakukan. Bagaimana respon
publik kepada kebijakan ini amat menentukan keberlangsungan kebijakan yang akan
diambil selain itu target group juga jadi lebih mengetahui bagaimana kebijakan akan
dilakukan dan bagaimana partisipasi dan kontribusi mereka didalamnya. Ketiga adalah
sosialisasi kepada agen pelaksana dari kebijakan ini yakni pemerintah tingkat
kecamatan dan kelurahan hingga tingkat RW. Sosialisasi kepada agen pelaksana juga
menjadi bagian penting agar implementor juga mengetahui argumen dan alasan dasar
diambilnya kebijakan sehingga dapat menjalankan kebijakan dengan baik.

Dukungan Target Group

Dukungan target group yakni NGO pegiat lingkungan dan warga kota secara
luas dalam implementasi kebijakan ini menduduki posisi yang sangat penting karena
dukungan target group dalam menaati kebijakan yang telah dibuat menjadi salahs atu
indikator keberhasilan implementasi kebijakan. Target group berupaya untuk
berpartisipasi dan berkontribusi dalam kesuksesan kebijakan semata juga untuk
kebaikan bersama mengenai kebersihan dan keindahan kota, selain itu sebagai wujud
kecintaan dan kebanggaan warga terhadap kotanya.

Dukungan dan Komitmen Agen Pelaksana

Salah satu faktor keberhasilan suatu proses implementasi kebijakan adalah


kuatnya komitmen dari seluruh stakeholders.. Mengingat sebagai agen pelaksana,
merekalah yang menjadi ujung tombak implementasi kebijakan. Dengan dukungan agen
pelaksana, menandakan bahwa struktur birokrasi sudah siap menunjang
keberlangsungan implementasi dengan prinsip efektivitas dan akuntabilitas.. Adanya
Agen Pelaksana yang fokus untuk menangani sosialisasi, pendampingan dan
pengawasan implementasi kebijakan merupakan salah satu bentuk komitmen dari
Pemerintah Kota dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses
penyelenggaraan pemerintahan sekaligus pembangunan kota.

REFERENSI

Jurnal /Laporan Penelitian


Butler, Ken. 2013. “Membuka Jalan Bagi Sektor swasta untuk Terlibat dalam
Pengelolaan Sampah Perkotaan di Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur
Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. Available at :
[Link]
%202013%20full-colour%[Link] (diakses pada hari Minggu, 4
Januari 2015)
Friedman, Joel. 2013. “Memperkuat Lingkungan Kelembagaan Untuk Manajemen
Persampahan Perkotaan”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15.
Oktober 2013. Available at :
[Link]
%202013%20full-colour%[Link] ( (diakses pada hari Minggu, 4
Januari 2015).
Iman, Halwatul dan Kustiwan, Iwan. 2013. “Keberlanjutan Pengelolaan Sampah
Berbasis Masyarakat di Kelurahan Tamansari Kota Bandung”. Jurnal
Perencanaan wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 2. No. 2. Oktober 2013.
Available at: [Link]
Keberlanjutan-Pengelolaan-Sampah-Berbasis-Masyarakat-di-Kecamatan-
[Link] (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
Landon, Nigel. 2013. “Sebuah Tinjauan Tentang Sektor Manajemen Persampahan
Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013.
Available at : [Link]
%20Oct%202013%20full-colour%[Link] (diakses pada hari Minggu,
4 Januari 2015)
Mahardika, Kani dan Kustiwan, Iwan. 2014. “Potensi Pengembangan Peran
Masyarakat dalam Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan di Kota Bandung”.
Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota 2 SAPPK. Vol. 3. No. 3. Oktober 2014.
Avaliable at : [Link]
[Link] (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
Mulasari, Husodo & Muhadjir. 2014. “Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan
Sampah”. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vo. 8, No. 8, Mei 2014.
Available at :
[Link] (diakses
pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
Mursito, Djoko., Prima Sari, Terra dan Bramono, Eko. 2013. “Mengelola Sampah
Perkotaan di Indonesia, Sebuah Sudut Pandang Pemerintah”. Jurnal Prakarsa
Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. Available at :
[Link]
%202013%20full-colour%[Link] (diakses pada hari Minggu, 4
Januari 2015)
Mutaqin dan Heru, Totok. 2010. “Pengelolaan Sampah Limbah Rumah Tangga dengan
Komposter Elektrik Berbasis Komunitas”. Jurnal Litbang Sekda DIY Biro
Adm. Pembang. Vol. II, No. 2. Tahun 2010. ISSN 2085-9678. Available at :
[Link]
(diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
Purwaningsih, Murni Rahayu. 2012. “Analisis Biaya Manfaat Sosial Keberadaan
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Gedebage bagi Masyarakat Sekitar”. Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota. Vol. 23, No. 3, Desember 2012. Available at :
[Link]
[Link]. (diakses pada Rabu, 3 Desember 2014).
Rizki Muttaqien, Azhar dan Sugiyantoro. 2014. “Identifikasi Pengelolaan Sampah Kota
Bandung (Studi Kasus: Komplek ujung Berung Indah, Komplek Perumahan
Cibangkong, RW 08 Kel. Ciroyom, RW 02 Kel. Sukabungah, RW 02 Kel. Bina
Harapan Cisaranten, dan Kel. Maleer)”. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
A SAPPK. Vol. 1, No. 2. April 2014. Available at :
[Link]
(diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
Ruslinda, Yenni, dkk. 2012. “Studi Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah
Domestik Kota Bukittinggi”. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. Vol. 9, No. 1.
Januari 2012. Available at :
[Link] (diakses
pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
Srimarga, I.C., Fahazza, M., dan Heriyanto, Widi. 2011. “Manual Audit Sosial Multi
Stakeholder : Membangun Suara Masyarakat Berbasis Bukti”. Jakarta :
PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) dan USAID. Available at :
[Link] (diakses pada
hari Senin, 5 Januari 2015)

Peraturan Perundangan
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah. Avaiable at :
[Link] (diakses
pada hari Minggu, 4 Januari 2015)

Sumber Berita Eltronik dan Website


[Link]
biodigester/ (diakses pada senin, 29 september 2014)
[Link] (diakses pada hari
Kamis, 23 Oktober 2014)
[Link]
pada hari Rabu, 3 Desember 2014)
[Link]
biodigester (diakses pada hari Senin, 5 Januari 2015)
[Link] (diakses
pada hari Kamis, 23 Oktober 2014)

Anda mungkin juga menyukai