Kebijakan Pengurangan Sampah Bandung
Kebijakan Pengurangan Sampah Bandung
DI KOTA BANDUNG
PENDAHULUAN
A. Masalah Publik
B. Rumusan Masalah
a. Alternatif 1
Menggalakan kampanye Zero Waste, “Bandung Zero Waste Community”,
dengan menyediakan alat-alat pengompos sampah organik di tingkat RW (Biodigister6)
dan memberdayakan masyarakat tingkat RT untuk membuat kerajinan tangan dari
sampah-sampah anorganik dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang mana
prinsip ini sesuai dengan prinsip Integrated Solid Waste Management7. Disertai dengan
reward bagi kelompok masyarakat yang aktif dan punishment bagi kelompok
masyarakat yang dianggap apatis. Hal ini sebenarnya sudah pernah dicobakan dengan
membuat kompetisi Bandung Green and Clean (BCG) antar RW sejak tahun 2005,
5
[Link] (diakses
pada Rabu, 3 Desember 2014)
6
Biodigister adalah teknologi pengurai sampah dengan bakteri yang dapat menghancurkan dan mengurai
sampah sehingga volume sampah sisa tidak sebanyak sampah awalnya dan sampah dapat bermanfaat
menjadi pupuk kompos organik.
7
Mursito, Djoko., Prima Sari, Terra dan Bramono, Eko. 2013. “Mengelola Sampah Perkotaan di
Indonesia, Sebuah Sudut Pandang Pemerintah”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15.
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
namun menggantung keberlangsungannya8. Sehingga, alternatif model ini bisa
dibangkitkan kembali dengan menambahkan penerapan teknologi agar lebih efektif.
b. Alternatif 2
Membuat kategorisasi pengelolaan sampah produksi maupun konsumsi dimana
pemerintah kota bekerjasama dengan para pengusaha pengumpul sampah (public privat
partnership)10 untuk mengelola sampah sesuai kategorinya, baik sampah organik,
sampah plastik, sampah elektronik atau sampah kain, yang mana para pengusaha
pengelola sampah untuk mengelola persampahan secara berkelanjutan11.
8
Iman, Halwatul dan Kustiwan, Iwan. 2013. “Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
di Kelurahan Tamansari Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 2. No. 2.
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
9
Op cit
10
Butler, Ken. 2013. “Membuka Jalan Bagi Sektor swasta untuk Terlibat dalam Pengelolaan Sampah
Perkotaan di Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013 (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015)
11
Landon, Nigel. 2013. “Sebuah Tinjauan Tentang Sektor Manajemen Persampahan Indonesia”. Jurnal
Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
Gambar 2. Pemangku Kepentingan Utama bagi Solusi Komersial yang
Berkelanjutan
c. Alternatif 3
Mengurangi volume sampah anorganik khususnya penggunaan plastik maupun
styrofoam dimana pemerintah bekerja sama dengan pelaku pasar baik di pasar
tradisional, supermaket, serta pedagang eceran untuk menjual barang dagangannya
dengan plastik ramah lingkungan yang terbuat dari bahan organik yang cepat dan
mudah hancur atau diganti dengan wadah kertas dan goodybag13. Dalam hal ini
pemerintah memberikan juga mekanisme reward and punishment bagi para pelaku
pasar14.
12
Op cit
13
Hal ini dikarenakan presentasi terbesar di Kota Bandung adalah sampah makanan (50-85%). Lihat :
Ruslinda, Yenni, dkk. 2012. “Studi Timbulan, Komposisi dan Karakteristik Sampah Domestik Kota
Bukittinggi”. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. Vol. 9, No. 1. Januari 2012. (diakses pada hari
Minggu, 4 Januari 2015).
14
[Link] (diakses pada hari Kamis, 23 Oktober
2014)
A. Analisis Alternatif Kebijakan
a. Analisis Alternatif 1
1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan ini dapat membuka kemungkinan penyelesaian masalah
sampah dari penyebab yang ditimbulkan baik dari aspek ekonomi, sosiologis,
politik maupun aspek budaya. Sekaligus mengimplementasikan paradigma
governance dalam kebijakan publik15.
2. Aspek Teknis
Secara teknis, alternatif ini memungkinkan untuk dilaksanakan dengan adanya
kerjasama bersama seluruh stakeholder dari tingkat kecamatan hingga tingkat
RW dan pengawasan yang lebih mudah. Leading sector adalah PD Kebersihan,
sebagai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) sesuai amanat UU No. 18/2008
tentang Pengelolaan Sampah.
3. Aspek Ekonomis
Dari segi harga yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk membeli
biodigister sekitar Rp. 100 Milyar dengan estimasi 1000 unit biodigister yang
tersebar di setiap RT di Kota Bandung dan dengan harga 1 unit Biodigister
sebesar Rp. 10 juta. Besaran dana ini diproyeksikan dari dana CSR (coorporate
social responsibillity) dan dukungan dari APBD 16, sementara keuntungan bisa
dirasakan secara lebih luas dari hasil penggunaan teknologi tersebut, seperti gas
dan kompos yang bernilai ekonomis17.
4. Aspek Sosial
Mekanisme reward dan punishment akan dapat meningkatkan motivasi
masyarakat untuk mengurangi volume sampah di lingkungannya masing-
masing. Selain itu juga dapat menghidupkan kembali nilai gotong royong
diantara warga18.
15
Mahardika, Kani dan Kustiwan, Iwan. 2014. “Potensi Pengembangan Peran Masyarakat dalam
Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan di Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota 2
SAPPK. Vol. 3. No. 3. Oktober 2014. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
16
[Link] (diakses
pada hari Senin, 5 Januari 2015)
17
Mutaqin dan Heru, Totok. 2010. “Pengelolaan Sampah Limbah Rumah Tangga dengan Komposter
Elektrik Berbasis Komunitas”. Jurnal Litbang Sekda DIY Biro Adm. Pembang. Vol. II, No. 2. Tahun
2010 ISSN 2085-9678 (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
18
Iman, Halwatul dan Kustiwan, Iwan. 2013. “Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
di Kelurahan Tamansari Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota B SAPPK Vol. 2. No. 2.
5. Aspek Politis
Beberapa pembahsan yang mungkin akan mengalami kendala adalah soal
penganggaran untuk membeli mesin biodigister yang mana hal ini akan
berkaitan dengan tender barang dan jasa yang sangat sensitif.
6. Aspek Hukum
Payung hukum tersedia dari UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah, RPJMD Kota Bandung sertaPerda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011
tentang Pengelolaan Sampah.
b. Analisis Alternatif 2
1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan ini bisa menjadi solusi komersial yang berkelanjutan bagi
manajemen persampahan perkotaan karena mengandalkan kegiatan kooperatif
dalam wujud public private partnership. Semua komponen dalam rantai nilai
persampahan perkotaan merupakan peluang bagi partisipasi sektor swasta,
terutama ketika mengajukan usulan solusi teknis kepada Pemerintah Daerah.19
2. Aspek Teknis
Dari segi teknis bisa lebih mudah karena hanya berkaitan dengan PD Kebersihan
sebagai BLUD penanggung jawab dan perusahaan-perusahaan pengelola
sampah bisa berada langsung dalam kordinasi dengan PD Kebersihan.
3. Aspek Ekonomis
Pemerintah akan lebih terbantu dengan keterlibatan sektor swasta dalam
manajemen penanganan sampah. Keduanya sama-sama diuntungkan yakni,
profit untuk swasta dan efisiensi pengelolaan sampah untuk pemerintah.
4. Aspek Sosial
Masyarakat tidak terlibat secara aktif dalam pengurangan volume sampah kota
sehingga dikhawatirkan masih ada sikap apatisme dan kurangnya kesadaran
masyarakat untuk mengurangi produksi sampahnya masing-masing.
5. Aspek Politis
Kemungkinan akan ada beberapa NGO yang bergerak di bidang lingkungan
yang tidak sependapat dengan alternatif kebijakan ini karena menggunakan
Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015)
19
Butler, Ken. 2013. “Membuka Jalan Bagi Sektor swasta untuk Terlibat dalam Pengelolaan Sampah
Perkotaan di Indonesia”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013 (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015)
sistem PPP (Public Private Partnership) yang mengurangi keterlibatan
kelompok masyarakat dan dikhawatirkan proses PPP yang tidak demokratis atau
bersifat kolusif.
6. Aspek Hukum
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Penglolaan Sampah sudah
membahas soal kerjasama pengelolaan sampah antara pemerintah dan pihak
swasta.
c. Analisis Alternatif 3
1. Aspek Substantif
Alternatif kebijakan serupa dengan pengelolaan sampah yang bekerjasama
dengan pihak swasta namun disertai dengan teknologi penggunaan barang yang
ramah lingkungan .
2. Aspek Teknis
Kendala teknis yang mungkin ditemuai adalah penerapan kebijakan ini bagi
supermarket dan swalayan karena sifatnya hanya sebaga cabang pelaksana dan
mau tidak mau harus berkordinasi secara penuh dengan perushaan supermarket
pusatnya, sehingga kebijakan mengganti kantung dengan palstik organik butuh
kordinasi yang lebih berjenjang. Sementara untuk pasar tradisional bisa
dilakukan oleh PD Pasar.
3. Aspek Ekonomis
Pemerintah kota dalam hal ini tidak banyak mengeluarkan anggaran kecuali
untuk biaya operasional sosialisasi. Serta adanya keuntungan mengurangi
volume sampah anorganik yang hampir 11 ribu ton perhari dalam kisaran 65%
dari total sampah Kota Bandung20.
4. Aspek Sosial
Secara langsung, alternatif kebijakan ini mengajak dan menggugah kesadaran
para pelaku pasar untuk secara bijak mengurangi volume sampah khususnya
sampah anorganik yang tidak bisa diurai dengan sampah orgamik yang lebih
mudah untuk di recycle.
5. Aspek Politis
20
[Link] (diakses
pada senin, 29 september 2014)
Kemungkinan kecil munculnya perdebatan dari alternatif kebijakan ini karena
tidak banyak berkaitan dengan penghitungan dan perumusan anggaran.
6. Aspek Hukum
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 (Paragraf 3 Pelaku Usaha, Pasal 11) 21
tentang Penglolaan Sampah sudah membahas soal kewajiban dan
tanggungjawab swasta untuk terlibat dalam pengurangan volume sampah
Alterantif 1 9 8 9 9 8 9 59
Alternatif 2 8 6 8 7 6 6 41
Alternatif 3 7 4 4 4 6 8 33
Keterangan Skor :
1-10 (Semakin tinggi fisibilitas semakin besar skor yang diperoleh)
Maksimum skor total = 70
Dari tabel di analisis penilaian di atas, alternatif kebijakan yang dipilih yakni:
“Bandung Zero Waste Community”, karena memiliki skor tertinggi dari segi fisibilitas
kebijakan untuk dapat diimplementasikan dalam rangka tujuan mengentaskan masalah
publik yakni mengurangi volume sampah di Kota Bandung.
21
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah
dengan asumsi tahun pertama dan kedua adalah penanaman kesadaran partisipasi aktif
masyarakat dan tahun ketiga adalah signifikansi pengurangan volume sampah kota. Hal
ini sesuai dengan amanat yang tertuang dalam Perda No. 9/2011 tentang Pengelolaan
Sampah, dengan uraian sebagai berikut :
1. Goals
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi volume sampah Kota
Bandung yang semakin meningkat dengan cara mengikutsertakan masyarakat agar
memiliki kesadaran dan tanggungjawab bersama tentang permasalahan publik
yakni sampah di Kota Bandung
2. Rationales
Mengikuti amanat UU No. 8 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, misi
RPJPD yang tertuang dalam Perda No. 08 Tahun 2008 tentang RPJPD Kota
Bandung Tahun 2005-2025, serta Perda No. 11 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Sampah, yang memiliki misi “Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan
Terpadu Berwawasan Lingkungan” “Mewujudkan Pengelolaan Limbah Padat
yang Efektif dan Bernilai Ekonomis”. Sementara itu, adapun indikator capaian
misinya adalah 90% sampah dapat dikelola, dengan perincian 20% menggunakan
metode 3R(Reduce, Reuse, dan Recycle)
3. Assumptions
Pendekatan sosiologi dan budaya menjadi hal utama, bukan sekadar pendukung.
Prinsip 3R: reduce, reuse, recycle adalah pendekatan sosiobudaya dengan
sentuhan teknologi sederhana dalam recycle. Masyarakat sebagai penimbul
sampah diajak ikut berperan dalam pengelolaan (management) dan
pengolahannya (treatment) dalam skala kecil22. Di sinilah peran pemulung yang
ikut mereduksi volume dan berat sampah yang akan ditimbun di TPA 23, serta
dengan melibatkan warga kota dalam kesadaran mengelola sampah.
4. Target Groups
Seluruh warga masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah administratif Kota
Bandung
22
Friedman, Joel. 2013. “Memperkuat Lingkungan Kelembagaan Untuk Manajemen Persampahan
Perkotaan”. Jurnal Prakarsa Insfrastruktur Indonesia. Edisi 15. Oktober 2013. (diakses pada hari Minggu,
4 Januari 2015).
23
[Link] (diakses pada hari Kamis, 23
Oktober 2014)
5. Agents
Pengurus RW serta masyarakat tingkat RW untuk turut serta dalam kebijakan ini
dan dipersiapkan melalui pelatihan akan dilaksanakan oleh Satgas
6. Implementation Structures
Walikota sebagai penanggungjawab utama sekaligus awal dan akhir alur
kordinasi. Walikota kemudian membentuk Satgas Bandung Zero Waste
Community yang terdiri dari : 3 orang pegawai tata pemerintah kota, 3 orang
pegawai PD Kebersihan, serta 4 orang dari budayawan pegiat lingkungan Kota
Bandung. Satgas kemudian membawahi kordinasi dengan kecamatan, kelurahan
dan RW, dimana di setiap tingkat RW terdapat fasilitator dan di setiap kelurahan
terdapat forum fasilitator.
PD Kebersihan Kecamatan
Walikota
Satgas Bandung
Zero Waste Kelurahan
Community
RW - Fasilitator
7. Tools
Sarana dan Prasarana : 1000 unit Biodigister untuk 1000 RW
Regulasi yang dibutuhkan :
a) Peraturan Walikota tentang Pembentukan Unit Satuan Tugas (Satgas)
Bandung Zero Waste Community di level PD Kebersihan yang berada di
bawah kordinasi langsung Walikota
b) Surat Keputusan Walikota tentang Standar Operasional Prosedur (SOP)
Satgas
c) Surat Keputusan Walikota tentang Standar Pelayanan (SP)
d) Surat Keputusan Walikota tentang Pengangkatan pegawai Satgas
8. Rules
a) Biodigister disalurkan kepada masing-masing RW
b) Kelurahan wajib memantau dan mengawasi penggunaan biodigister dan
diperkenankan melakukan teguran kepada RW yang tidak memanfaatkan
mesin biodogister
c) Penilaian RW ‘Green and Clean” dilakukan secara berkala yakni selama 3
bulan sekali dengan asumsi, sampah kompos yang dikelola mampu
menyuburkan tanaman obat keluarga maupun tanaman hias
d) Hasil penilaian dilombakan di tingkat kecamatan dan level kota dalam
kurun waktu 1 bulan. Sehingga pada bulan ke empat sudah diketahui
pemenang dan diberikan reward dan diumumkan di media lokal. Begitu juga
dengan predikat RW terkotor diumumkan di media lokal. Hal ini berarti
waktu yang dibutuhkan selama setahun terdapat 3 kali program reward and
punishment.
Konten Kebijakan :
Interest Affected
Dalam kebijakan ini, sangat mendalam pengaruh untuk mengurangi volume sampah
mulai dari hulu yakni dari tingkat rumah tangga. Lapisan masyarakat yang dipengaruhi
oleh kebijakan ini sangat banyak namun tetap terfokus dalam pengawasan yang mudah
yakni di tingkat Rukun Warga (RW)24.
Type of Benefits
Manfaat yang dihasilkan dari kebijakan ini akan sangat terlihat dan dapat langsung
dirasakan oleh masyarakat, yakni dengan keuntungan mengubah sampah organik rumah
tangga langsung menjadi kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
langsung oleh warga sendiri sebagai pengelola, yang merupakan manfaat ekonomis.
24
Hal ini dikarenakan hasil identifikasi timbulan sampah perhari paling tinggi diproduksi dari pemukiman
yakni sebesar 4.591,98 m3/hari. Available at : Rizki Muttaqie, Azhar dan Sugiyantoro. 2014. “Identifikasi
Pengelolaan Sampah Kota Bandung (Studi Kasus: Komplek ujung Berung Indah, Komplek Perumahan
Cibangkong, RW 08 Kel. Ciroyom, RW 02 Kel. Sukabungah, RW 02 Kel. Bina Harapan Cisaranten, dan
Kel. Maleer)”. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK. Vol. 1, No. 2. April 2014. (diakses pada
hari Minggu, 4 Januari 2015).
Bagi pemerintah, hal ini mengurangi biaya pengolahan sampah jika sampah dikelola di
TPA.
Program Implementors
Implementasi program ini tersusun secara struktural mulai dali Walikota dan PD
kebersihan kemudian di tingkat kecamatan dan kelurahan hingga tingkat RW. Di tingkat
RW diberikan kebebasan bagi masyarakat di RW tersebut untuk memusyawarahkan tim
khusus untuk operator maupun penanggungjawab program sesuai dengan kesepakatan
warga.
Resources Commited
Pengadaan alat biodigister menggunakan dana APBD kota yang bisa dialokasikan di
tahun anggaran 2015 serta pengembangan dari dana CSR. Selain itu dari segi sumber
daya untuk menyiapkan agen disediakan pelatihan untuk menjadi fasilitator dilakukan
oleh PD Kebersihan dan bekerjasama dengan komunitas masyarakat sebagai agen untuk
mengkampanyekan gerakan hijau. Prioritas utama yang diberikan pelatihan adalah
25
Mahardika, Kani dan Kustiwan, Iwan. 2014. “Potensi Pengembangan Peran Masyarakat dalam
Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan di Kota Bandung”. Jurnal Perencanaan wilayah dan Kota 2
SAPPK. Vol. 3. No. 3. Oktober 2014. (diakses pada hari Minggu, 4 Januari 2015).
perangkat RW dan kelompok tim satuan khusus yang akan menjadi agen di tingkat RW
diutamakan adalah kelompok pemuda atau karang taruna masing-masing RW.
Konteks Kebijakan :
Monitoring
Monitoring implementasi dilaksanakan melalui pendekatan hybrid sejalan
dengan pendekatan yang digunakan dalam implementasi program. Monitoring akan
dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang akan dilaksanakan oleh Satgas Bandung
Zero Waste Community dan Fasilitator tingkat RW untuk meninjau penerapan
implementasi di setiap unit agen dan menginventarisir setiap permasalahan yang timbul
dalam pelaksnaan program baik yang mampu diselesaikan oleh agen maupun tidak
terselesaikan. Monitoring yang diadakan setiap enam bulan sekali akan disertakan
pengayaan (evaluasi kinerja) setiap setahun sekali untuk peningkatan efektivitas
program, dengan acuan sebagai berikut :
Evaluasi
Penataan
Persiapan
Penataan SDM dan Sosialisasi dan Monitoring
Penyusunan
Kelembagaan Sarana Implementasi dan Evaluasi
Kelembagaan
Prasarana
PENUTUP
Dalam proses ini apabila tidak dilakukan komunikasi secara intensif dengan
pihak DPRD mengenai pentingnya kebijakan dan besarnya manfaat untuk
pembangunan Kota Bandung, maka dapat menghambat kelancaran proses implementasi.
Sosialisasi
Faktor yang harus dipersiapkan dalam rencana implementasi kebijakan salah
satunya adalah sosialisasi. Sosialisasi ini penting untuk menyampaikan argumentasi
kebijakan yang diambil adalah sudah layak diimplementasikan. Dalam sosialisasi
nantinya menunjuk tiga sasaran penting, Pertama adalah kepada perumus
kebijakan/parlemen dan stakeholder. Hal ini menjadi penting karena inisiatif
pembentukan kebijakan lahir dari eksekutif atau dalam hal ini Walikota sebagai
pemimpin pemerintah kota. Sosialisasi kepada pihak ini adalah untuk mendapat
dukungan dari segi politik, sehingga implementasi kebijakan dapat dilakukan dengan
legal dan sesuai konstitusi. Kedua adalah kepada target group. Target group kebijakan
ini adalah warga kota secara luas. Sosialisasi kepada pihak ini adalah untuk mendapat
dukungan dari publik mengenai kebijakan yang akan dilakukan. Bagaimana respon
publik kepada kebijakan ini amat menentukan keberlangsungan kebijakan yang akan
diambil selain itu target group juga jadi lebih mengetahui bagaimana kebijakan akan
dilakukan dan bagaimana partisipasi dan kontribusi mereka didalamnya. Ketiga adalah
sosialisasi kepada agen pelaksana dari kebijakan ini yakni pemerintah tingkat
kecamatan dan kelurahan hingga tingkat RW. Sosialisasi kepada agen pelaksana juga
menjadi bagian penting agar implementor juga mengetahui argumen dan alasan dasar
diambilnya kebijakan sehingga dapat menjalankan kebijakan dengan baik.
Dukungan target group yakni NGO pegiat lingkungan dan warga kota secara
luas dalam implementasi kebijakan ini menduduki posisi yang sangat penting karena
dukungan target group dalam menaati kebijakan yang telah dibuat menjadi salahs atu
indikator keberhasilan implementasi kebijakan. Target group berupaya untuk
berpartisipasi dan berkontribusi dalam kesuksesan kebijakan semata juga untuk
kebaikan bersama mengenai kebersihan dan keindahan kota, selain itu sebagai wujud
kecintaan dan kebanggaan warga terhadap kotanya.
REFERENSI
Peraturan Perundangan
Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah. Avaiable at :
[Link] (diakses
pada hari Minggu, 4 Januari 2015)