0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan38 halaman

Analisis Risiko Pertambangan Nikel

Proposal penelitian ini membahas analisis potensi bahaya dan pengendalian risiko di PT. Bersama Nikel Sukses Konawe Utara khususnya pada tahap muat angkut dan hauling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan mengkaji langkah pengendalian risikonya guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Hasilnya diharapkan dapat menunjang penerapan K3 di perusahaan.

Diunggah oleh

Fadly Dame13
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan38 halaman

Analisis Risiko Pertambangan Nikel

Proposal penelitian ini membahas analisis potensi bahaya dan pengendalian risiko di PT. Bersama Nikel Sukses Konawe Utara khususnya pada tahap muat angkut dan hauling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan mengkaji langkah pengendalian risikonya guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Hasilnya diharapkan dapat menunjang penerapan K3 di perusahaan.

Diunggah oleh

Fadly Dame13
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS POTENSI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO

PERTAMBANGAN NIKEL PADA TAHAP MUAT ANGKUT


DAN HAULING DI PT. BERSAMA NIKEL
SUKSES KONAWE UTARA

PROPOSAL PENELITIAN

FADLY
09320180102

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR
2022
HALAMAN PENGESAHAN

FADLY
09320180102

ANALISIS POTENSI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO


PERTAMBANGAN NIKEL PADA TAHAP MUAT ANGKUT
DAN HAULING DI PT. BERSAMA NIKEL
SUKSES KONAWE UTARA
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik (S-1)
pada Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia

Disetujui oleh,
Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Abdul Salam Munir, S,T., M.T Ir. Firman Nullah Yusuf, ST., MT., IPP.
Nips. 109 17 1485 Nips. 109 10 1032

Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Pertambangan
Universitas Muslim Indonesia

Ir. Firman Nullah Yusuf, ST., MT., IPP.


Nips. 109 10 1032

ii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamual’aikum warahmatullahi wabarakatu
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang memberikan
hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian sebelum
melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Debu Jalan Tambang Nikel Pada
Risiko Kesehatan Dan Keselamatan Kerja”, semoga masa pendidikan program
sarjana ini bisa mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan dalam dunia kerja dan
semoga ilmunya berkah beserta dengan gelarnya.
Laporan ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya partisipasi dari berbagai
pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih pada:
1. Orang tua yang tersayang dan terhormat serta saudara-saudara yang selalu
memberikan dukungan baik moril maupun materil selama penulis menempuh
pendidikan.
2. Bapak Ir. Firman Nullah Yusuf, S.T., M.T., IPP. Selaku Ketua Jurusan
Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim
Indonesia. Sekaligus selaku Pembimbing II yang telah membimbing dan
mengarahkan sampai terselesainya tugas akhir.
3. Bapak Ir. Hasbi Bakri, S.T., M.T., IPM., ASEAN., ENG. Selaku pembimbing
akademik
4. Bapak Ir. Abdul Salam Munir, S,T., M.T. selaku Pembimbing I yang telah
membimbing dan mengarahkan sampai terselesainya tugas akhir.
5. Seluruh Dosen, Staf Karyawan dan Karyawati Universitas Muslim Indonesia.
6. Seluruh kerabat, sahabat, dan teman yang selalu mendukung dan membantu
dalam kegiatan penelitian penulis.
7. Last but not least, i wanna thank me i wanna thank me for believing in me, i
wanna thank me for doing all this hard work, i wanna thank me for having no
days off, i wanna thank me for never quitting, i wanna thank me for just being
me at all times.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari masih banyak yang perlu
dievaluasi dalam laporan ini maka masukan dan kritikan sangat diharapkan untuk
memperbaiki dan menjadi bahan evaluasi penulis.

iii
Billahi wafik, wassalamu a’laikum warahmatullahi wabarakatuh

Makassar, April 2022

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR...............................................................................................iii
DAFTAR ISI.............................................................................................................vii
DAFTAR TABEL....................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Maksud dan Tujuan........................................................................................2
1.4 Batasan Masalah............................................................................................2
1.5 Manfaat Penelitian.........................................................................................2
1.6 Alat dan Bahan...............................................................................................2
1.7 Lokasi dan Kesampaian Daerah.....................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................4
2.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).......................................................4
2.2 Kecelakaan Kerja...........................................................................................6
2.3 Penyakit Akibat Kerja....................................................................................8
2.4 Pengendalian Risiko.......................................................................................9
2.5 Proses Produksi............................................................................................12
2.6 Debu.............................................................................................................13
2.7 Nikel Laterit.................................................................................................14
BAB III TAHAPAN DAN METODOLOGI PENELITIAN................................17
3.1 Tahap Pendahuluan......................................................................................17
3.2 Tahap Pengambilan Data.............................................................................17
3.3 Tahap Pengolahan Data...............................................................................17
3.4 Tahap Penyusunan Laporan.........................................................................18
3.5 Seminar........................................................................................................18
3.6 Skripsi..........................................................................................................18
BAB IV RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN WAKTU.................................20
4.1 Rencana Anggaran Biaya.............................................................................20
4.2 Rencana Jadwal Kegiatan............................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................21

vii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Peta Lokasi Penelitian................................................................. 3
Gambar 2.2 Dampak Kecelakaan Kerja........................................................... 8
Gambar 2.3 Debu Jalan Tambang................................................................... 12
Gambar 2.4 Profil Endapan Nikel Laterit........................................................ 14

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 4. 1 Rencana anggaran biaya...........................................................................18


Tabel 4. 2 Rencana jadwal kegiatan penelitian..........................................................18
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan merupakan sebuah organisasi yang didirikan untuk memperoleh


keuntungan sebanyak-banyaknya. Untuk menjalankan roda usahanya, sebuah
perusahaan tentunya membutuhkan sumber daya manusia. Pada sebuah perusahaan
dibutuhkan sumber daya manusia yang baik dalam bekerja sebagai upaya
memperoleh kondisi operasional yang aman sehingga memerlukan pengelolaan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penerapan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja merupakan syarat bagi setiap proses pekerjaan atau tempat kerja yang
merupakan tanggung jawab pekerja dan juga menjadi tanggung jawab perusahaan.
K3 pada kegiatan pertambangan secara umum dikenal sebagai Sistem
Manejemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pertambangan (SMK3P) yang
mengatur bagaimana dan apa bentuk pencegahan dan pengendalian baik potensi
bahaya atau risiko terjadi selama kegiatan pertambangan berlangsung. Sasaran yang
ingin dicapai Keselamatan dan Kesehatan Kerja diantaranya adalah untuk mencegah
atau mengurangi kerugian yang ditimbulkan dari kecelakaan, kebakaran, peledakan
dan penyakit akibat kerja serta menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman
dan sehat. Banyak hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja maupun faktor
yang membawa penyakit akibat kerja, terutama pada proses produksi mempunyai
potensi risiko yang sangat besar terjadinya kecelakaan kerja.
Kegiatan muat angkut dan hauling merupakan kegiatan yang menyebabkan
banyak potensi kecelakaan kerja. PT. Bersama Nikel Sukses telah merumuskan
manajemen resiko untuk dapat diterapkan oleh seluruh karyawan. Namun karena
tidak adanya himbauan dan pemeriksaan rutin terhadap program kesehatan dan
keselamatan kerja membuat para karyawan yang bertugas selama jam kerja menjadi
lalai dalam melaksanakan tugas. Hal-hal yang dapat menimbulkan risiko potensi
bahaya pun bermunculan dilingkungan kerja tambang. Oleh sebab itu perlu diadakan
analisis risiko bahaya untuk meminimalisir atau menghilangkan adanya potensi
bahaya yang bermunculan demi terselenggaranya produktivitas yang baik di dalam
lingkungan kerja PT. Bersama Nikel Sukses.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:


1. Bagaimana potensi bahaya yang terjadi pada saat kegiatan muat angkut dan
Hauling.
2. Bagaimana pengendalian risiko yang dilakukan pada saat kegiatan muat
angkut dan Hauling.

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud
Maksud dari kegiatan penelitian ini yaitu mengetahui potensi bahaya yang
terjadi pada saat kegiatan muat angkut dan Hauling dan melakukan kegiatan
pengendalian risiko untuk meminimalisirkan bahaya pada saat tahap muat angkut
tersebut.
1.3.2 Tujuan
1. Mengetahui dan mempelajari faktor – faktor potensi bahaya pada saat
kegiatan muat angkut dan Hauling
2. Mengetahui langkah-langkah pengendalian risiko yang dilakukan untuk
meminimalisir bahaya yang terjadi pada tahap muat angkut dan Hauling.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah pada penelitian ini adalah mengetahui potensi bahaya dan
Langkah-langkah pengendalian risiko pertambangan nikel pada tahap muat dan
Hauling.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Mendapatkan pengalaman di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


dalam hal ini potensi bahaya dan pengendalian risiko pada kegiatan muat
angkut dan Hauling.
2. Memberikan masukan hasil penelitian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3) kepada perusahaan terkait potensi bahaya dan pengendalian risiko
pertambangan nikel pada tahap muat angkut dan Hauling.

1.6 Alat dan Bahan


1.6.1 Alat
Adapun alat yang dibutuhkan selama berkegiatan atau penelitian adalah:
1. Alat pelindung diri (APD);
2. Alat tulis menulis;
3. Kamera;
4. Laptop;
1.6.2 Bahan
Adapun bahan yang diperlukan selama penelitian adalah:
1. Bahan wawancara untuk informan

1.7 Lokasi dan Kesampaian Daerah


Secara administratif lokasi penelitian berada di Desa Mandiodo, Kecamatan
Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Sedangkan secara
geografis letak lokasi kerja praktek berada pada 3°31’12”S dan 122°09’12”E.
Lokasi penambangan PT. Bersama Nikel Sukses dapat dicapai dari kota makassar
dengan rute perjalanan sebagai berikut:
1. Dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Haluoleo
Kendari menggunakan pesawat udara yang ditempuh dalam waktu 1 jam
2. Dari Kendari menuju lokasi penambangan PT. Bersama Nikel Sukses
menggunakan mobil yang ditempuh sekitar 2 jam 30 menit.
Terdapat opsi lain untuk transportasi menuju ke lokasi penambangan
misalnya dari jalur darat dari makassar menuju bone dan menyeberang menggunakan
kapal ferry selama 9 jam menuju kolaka kemudian dilanjutkan perjalanan darat ke
konawe utara sekitar 3 jam perjalanan.
Gambar 2.1 Peta Lokasi Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Selalu ada risiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/aktifitas


pekerjaan, baik itu disebabkan perencanaan yang kurang sempurna, pelaksanaan
yang kurang cermat, maupun akibat yang tidak disengaja seperti keadaan cuaca,
bencana alam, [Link] satu risiko pekerjaan yang terjadi adalah adanya kecelakaan
[Link] kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, akan
mengakibatkan efek kerugian (loss), oleh karena itu sebisa mungkin dan sedini
mungkin, kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/dihilangkan, atau
setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. (As & Bakri, 2017)
Secara filosofi, keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai sebuah
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan: tenaga kerja dan
manusia pada umumnya (baik jasmani maupun rohani), hasil karya dan budaya
menuju masyarakat adil, makmur dansejahtera. Sedangkan ditinjau dari keilmuan,
keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan,
pencemaran, penyakit, dan sebagainya
Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah melindungi
keselamatan dan kesehatan para pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui
upaya-upaya pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang ada di lingkungan
tempat kerjanya. Bila semua potensi bahaya telah dikendalikan dan memenuhi batas
standar aman, maka akan memberikan kontribusi terciptanya kondisi lingkungan
kerja yang aman, sehat, dan proses produksi menjadi lancar, yang pada akhirnya
akan dapat menekan risiko kerugian dan berdampak terhadap peningkatan
produktivitas.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan daya upaya yang terencana
untuk mencegah terjadinya musibah kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat
kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang penting dan perlu
diperhatikan oleh pihak perusahaan, karena dengan adanya jaminan keselamatan dan
kesehatan kerja kinerja karyawan akan lebih meningkat.
2.1.1 Dasar Hukum K3
1. UU No. 4 Tahun 2009 mengenai Pertambangan Mineral dan Batubara.
2. UU No. 13 Tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan
3. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
4. Kepmen ESDM Republik Indonesia No. 1827 K/30/MEM/2018
5. Permen No. 19 Tahun 1973 mengenai Peraturan dan Pengawasan
Keselamatan Kerja diBidang Pertambangan
6. Permen No. 50 Tahun 2012 mengenai Penerapan SMK3
7. Kemenakertrans No. 609 Tahun 2012 mengenai Pedoman Penyelesaian
Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
8. [Link] No. 02/1992 mengenai Ahli K3
9. [Link] No. 05/1996 mengenai SMK3
10. PP No. 19 / 1973 Pengaturan dan Pengawasan K3 di bidang Pertambangan.
11. Keppres No. 22/1993 Penyakit akibat Kerja l. Permenaker No. 03/1978
Penunjukan, Wewenang dan Kewajiban Pegawai Pengawas K3 dan Ahli K3
12. Permenaker No. 02/1980 Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam
Penyelenggaraan K3
13. Permenaker No. 02/1986 Biaya Pemeriksaan dan Pengawasan K3 di
Perusahaan
14. Kepmenaker No. 245/1990 Hari K3 Nasional.
2.1.2 Tujuan Penerapan K3
Tujuan Penerapan K3 Tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain :
1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di
tempat kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas nasional.
Dengan mempelajari materi diatas diharapkan dapat memahami dan
mengembangkan bangunan kebijakan K3, menetapkan dan mengembangkan tujuan
K3, membangun organisasi dan tanggung jawab pelaksanaan K3, mengidentifikasi
bahaya, menyiapkan Alat Pelindung Diri, memanfaatkan statistik kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, serta mengembangkan program K3 dengan mitra kerja.
2.2 Kecelakaan Kerja

Pengertian kejadian menurut standar (Australian AS 1885, 1990) adalah suatu


proses atau keadaan yang mengakibatkan kejadian cidera atau penyakit akibat kerja.
Ada banyak tujuan untuk mengetahui klasifikasi kejadian kecelakaan kerja, salah
satunya adalah dasar untuk mengidentifikasi proses alami suatu kejadian seperti
dimana kecelakaan terjadi, apa yang karyawan lakukan, dan apa peralatan atau
material yang digunakan oleh karyawan. Penerapan kode-kode kecelakaan kerja akan
sangat membantu proses investigasi dalam meginterpretasikan informasi-informasi
yang tersebut diatas. Ada banyak standar yang menjelaskan referensi tentang kode-
kode kecelakaan kerja, salah satunya adalah standar Australia AS 1885-1 tahun 1990.
2.2.1 Dampak Kecelakaan Kerja
Berdasarkan model penyebab kerugian yang dikemukakan oleh Det Norske
Veritas (DNV, 1996), terlihat bahwa jenis kerugian akibat terjadinya kecelakaan
kerja meliputi manusia/pekerja, properti, proses, lingkungan, dan kualitas.

Gambar 2.2 Dampak Kecelakaan Kerja

2.2.2 Klasifikasi Cidera Akibat Kecelakaan Kerja


Jenis cidera akibat kecelakaan kerja dan tingkat keparahan yang ditimbulkan
membuat perusahaan melakukan pengklasifikasian jenis cidera akibat kecelakaan.
Tujuan pengklasifikasian ini adalah untuk pencatatan dan pelaporan statistik
kecelakaan kerja. Banyak standar referensi penerapan yang digunakan berbagai oleh
perusahaan, salah satunya adalah standar Australia AS 1885-1 (1990).
Tujuan menganalisa cidera atau sakit yang mengenai anggota bagian tubuh
yang spesifik adalah untuk membantu dalam mengembangkan program untuk
mencegah terjadinya cidera karena kecelakaan, sebagai contoh cidera mata dengan
penggunaan kaca mata pelindung. Selain itu juga bisa digunakan untuk menganalisis
penyebab alami terjadinya cidera karena kecelakaan kerja. Berikut adalah
pengelompokan jenis cidera dan keparahannya:
a. Cidera fatal (fatality) Adalah kematian yang disebabkan oleh cidera atau
penyakit akibat kerja Cidera yang menyebabkan hilang waktu kerja (Loss Time
Injury)adalah suatu kejadian yang menyebabkan kematian, cacat permanen,
atau kehilangan hari kerja selama satu hari kerja atau lebih. Hari pada saat
kecelakaan kerja tersebut terjadi tidak dihitung sebagai kehilangan hari kerja.
b. Cidera yang menyebabkan kehilangan hari kerja (Loss Time Day) adalah semua
jadwal masuk kerja yang mana karyawan tidak bisa masuk kerja karena cidera,
tetapi tidak termasuk hari saat terjadi kecelakaan. Juga termasuk hilang hari
kerja karena cidera yang kambuh dari periode sebelumnya. Kehilangan hari
kerja juga termasuk hari pada saat kerja alternatif setelah kembali ke tempat
kerja. Cidera fatal dihitung sebagai 220 kehilangan hari kerja dimulai dengan
hari kerja pada saat kejadian tersebut terjadi.
c. Tidak mampu bekerja atau cidera dengan kerja terbatas (Restrictedduty) Adalah
jumlah hari kerja karyawan yang tidak mampu untuk mengerjakan pekerjaan
rutinnya dan ditempatkan pada pekerjaan lain sementara atau yang sudah di
modifikasi. Pekerjaan alternatif termasuk perubahan lingungan kerja pola atau
jadwal kerja.
d. Cidera dirawat di rumah sakit (Medical Treatment Injury) kecelakaan kerja ini
tidak termasuk cidera hilang waktu kerja, tetapi kecelakaan kerja yang ditangani
oleh dokter, perawat, atau orang yang memiliki kualifikasi untuk memberikan
pertolongan pada kecelakaan.
e. Cidera ringan (first aid injury) adalah cidera ringan akibat kecelakaan kerja
yang ditangani menggunakan alat pertolongan pertama pada kecelakaan
setempat, contoh luka lecet, mata kemasukan debu, dan lain-lain.
f. Kecelakaan yang tidak menimbulkan cidera (Non Injury Incident) adalah suatu
kejadian yang potensial, yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja atau
penyakit akibat kerja kecuali kebakaran, peledakan dan bahaya pembuangan
limbah.
2.2.3 Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja
Faktor penyebab terjadinya kecelakaankerja ada beberapa pendapat. Faktor
yang merupakan penyebab terjadinya kecelakaan pada umumnya dapat diakibatkan
oleh 4 faktor penyebab utama (Husni:2003) yaitu :
a. Faktor manusia yang dipengaruhi oleh pengetahuan,ketrampilan, dan sikap.
b. Faktor material yang memiliki sifat dapat memunculkan kesehatan atau
keselamatan pekerja.
c. Faktor sumber bahaya yaitu, Perbuatan berbahaya, hal ini terjadi misalnya
karena metode kerja yang salah, keletihan/kecapekan, sikap kerja yang tidak
sesuai dan sebagainya; Kondisi/keadaan bahaya, yaitu keadaan yang tidak
aman dari keberadaan mesin atau peralatan, lingkungan, proses, sifat
pekerjaan.
d. Faktor yang dihadapi, misalnya kurangnya pemeliharaan/perawatan
mesin/peralatan sehingga tidak bisa bekerja dengan sempurna
Selain itu, faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja menurut Bennet dan
Rumondang (1985) pada umumnya selalu diartikan sebagai “kejadian yang tidak
dapat diduga“. Sebenarnya, setiap kecelakaan kerja itu dapat diramalkan atau diduga
dari semula jika perbuatan dan kondisi tidak memenuhi persyaratan. Oleh karena itu
kewajiban berbuat secara selamat dan mengatur peralatan serta perlengkapan
produksi sesuaidengan standar yang diwajibkan. Kecelakaan kerja yang disebabkan
oleh perbuatan yang tidak selamat memiliki porsi 80 %dan kondisi yangtidak selamat
sebayak 20%. Perbuatan berbahaya biasanya disebabkan oleh: Sikap dalam
pengetahuan, keterampilan dan sikap Keletihan Gangguan psikologis.

2.3 Penyakit Akibat Kerja

Terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja


perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Penyakit Akibat Kerja (PAK) di kalangan
petugas kesehatan dan non kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik.
Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan
kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang
meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun
sudah tersedia. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan
hidupnya.
Dalam bekerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor
yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit
dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga, dan lingkungannya. Salah satu
komponen yang dapat meminimalisir penyakit akibat kerja adalah tenaga kesehatan.
Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban yang terpapar
penyakit akibat kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk
menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Tujuan memahami penyakit
akibat kerja ini adalah untuk memperoleh informasi dan pengetahuan agar lebih
mengerti tentang penyakit akibat kerja dan dapat mengurangi korban yang terpapar
penyakit akibat kerja guna meningkatkan derajat kesehatan dan produktif kerja-kerja.
Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa alamiah
maupun ulah manusia,yaitu lewat kegiatan industri dan teknologi. Partikel yang
mencemari udara banyak macam dan jenisnya, tergantung pada macam dan jenis
kegiatan industri dan teknologi yang ada. Partikel-partikel udara sangat merugikan
kesehatan manusia. Pada umumnyaudara yang tercemar oleh partikel dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh
adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap didalam paru-paru. Penyakit
pneumoconiosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk
atau terhisap kedalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang
banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi,
yaitu silikosis, asbestosis, bisinosisi, antrakosis, dan beriliosis.

2.4 Bahaya dan Risiko

Menurut Tarwaka (2008), potensi bahaya adalah sesuatu yang berpotensi


menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cedera, sakit, kecelakaan, atau bahkan
dapat menyebabkan kematian yang berhubungan dengan proses dan sistem kerja.
Potensi bahaya dapat dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori umum atau juga
disebut sebagai energi potensi bahaya sebagai berikut :
1. Potensi bahaya dari bahan-bahan berbahaya (Hazardous Substances)
2. Potensi bahaya udara bertekanan (Pressure Hazards)
3. Potensi bahaya udara panas (Thermal Hazards)
4. Potensi bahaya kelistrikan (Electrical Hazards)
5. Potensi bahaya mekanik (Mechanical Hazards)
6. Potensi bahaya gravitasi dan akselerasi (Gravitational and Acceleration
Hazards)
7. Potensi bahaya radiasi (Radiation Hazards)
8. Potensi bahaya mikrobiologi (Microbiological Hazards)
9. Potensi bahaya kebisingan dan vibrasi (Vibration and Noise Hazards)
10. Potensi bahaya ergonomi (Hazards relating to human Factors)
11. Potensi bahaya lingkungan kerja (Enviromental Hazards)
12. Potensi bahaya yang berhubungan dengan kualitas produk dan jasa, proses
produksi, properti, image publik, dan lain-lain.
Risiko adalah kombinasi atau akumulasi dari potensi berbahaya/kemungkinan
kejadian berpotensi bahaya serta paparan dengan keparahan dari cidera atau
gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut (OHSAS
18001, 2019). Risiko juga merupakan kemungkinan kecelakaan (kerusakan pada alat
atau proses, cedera pada manusia, dan lingkungan sekitar) dan dapat dikatakan juga
bahwa risiko adalah penyebab terhadap bahaya.
Nilai yang sudah dibobot, dilakukan pembobotan total dengan cara sesuai
dengan persamaan berikut :

Nilai Risiko=Likelihood x Exposure x Severity /Consequences .…..……..…(1)

total dari nilai akan menetukan pengklasifikasian bahaya dan risiko kedalam
tingkatan pengendalian. Dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 2.1 Tingkat Risiko (AS/NZS 4360, 1999)
Tingkat Kategori Tindakan
>350 Very High Aktivitas harus dihentikan hingga
resiko dapat dikurangi
180-350 Priority 1 Pengendalian sesegera mungkin
70-80 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan
secara teknis
20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan
secara berkesinambungan
<20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko
dikurangi

2.4.1 Kemungkinan (Likelihood)


Edwards (1992) mendefinisikan Aksioma Kemungkinan sebagai kombinasi
alami dari Hukum Kemungkinan dan Prinsip Kemungkinan. Hukum Kemungkinan
menyatakan bahwa “dalam kerangka model statistik, satu set data tertentu
mendukung satu statistik hipotesis lebih baik dari yang lain jika kemungkinan
hipotesis pertama, pada data, melebihi kemungkinan hipotesis kedua” (Edwards,
1992,).
Likelihood atau kemungkinan, untuk menghitung kemungkinan tersebut
dilakukan dengan mengetahui atau menyoroti jenis kegiatan yang dilakukan saat
kerja serta menentukan atau memprediksi risiko yang dapat terjadi pada pekerja
maupun alat yang di gunakan saat berkerja. Likelihood memiliki tingkatan/nilai
rating yang mewakili setiap kemungkinan bahaya dan risiko yang di terima.
Tabel 2.2 Kemungkinan (AS/NZS 4360, 1999)
Kriteria Penjelasan Ratin
g
Almost Certain Kejadian yang sering terjadi 10
Likely Kemungkinan terjadi 0-50% 6
Unusually Jarang terjadi namun 3
mungkin terjadi
Remotely Possible Sangat kecil kemungkinannya 1
untuk terjadi
Conceivable Mungkin terjadi, tetapi belum 0,5
pernah terjadi meskipun
paparan bertahun
Practically Impossible Sangat tidak mungkin terjadi 0,1
2.4.2 Konsekuensi (severity)
Konsekuensi (Severity) atau tingkat keparahan merupakan ukuran keparahan
kecelakaan yang mungkin terjadi dan merupakan efek dari timbulnya risiko pada
setiap tahapan pekerjaan.
Tabel 2.3 Kosekuensi (AS/NZS 4360, 1999)
Level Uraian Keparahan Cidera Rating
1 Catastrophic Kerusakan fatal, terhentinya
aktifitas, dan kerusakan 100
lingkungan yang sangat
parah
2 Disaster Kehilangan
nyawa/kematian, kerusakan 50
kecil namun permanen
terhadap lingkungan.
3 Very Serious Penyakit yang permanen dan
kerusakan sementara pada 25
lingkungan
4 Serious Cidera yang serius tapi
bukan penyakit parah yang 15
permanen
5 Important Cidera yang membutuhkan
penanganan medis, tidak 5
menimbulkan kerusakan
6 Noticeable Cidera ringan, memar 1
bagian tubuh

2.4.3 Paparan (Exposure)


Paparan adalah tingkat keseringan (frekuensi) interaksi antara sumber risiko
yang ada pada wilayah kerja dengan pekerja dan menggambarkan kemungkinan
terjadinya dan kesempatan sumber risiko menjadi kecelakaan bila di ikuti dengan
kemungkinan dan kosekuensi yang akan timbul. Berikut adalah tingkat frekuensi
yang di bagi dalam beberapa kategori
Tabel 2.4 Paparan (AS/NZS 4360, 1999)
Kategori Deskripsi Rating
Continously Terjadi menerus setiap 10
hari
Frequently Terjadi 1 kali disetiap 6
hari
Occasionally Terjadi satu kali
seminggu sampai dengan 3
satu kali sebulan
Infrequent Terjadi satu kali sebulan
sampai dengan satu kali 2
setahun
Rare Jearang terjadi, diketahui 1
kapan terjadinya
Very Rare Sangat jarang, tidak
dikatahui kapan 0,5
terjadinya

2.5 Pengendalian Risiko

Prinsip analisa keselamatan dan kesehatan kerja adalah mencari penyebab


dari seluruh tingkat lapisan, dari lapisan umum sampai dengan pokok penyebabnya
dicari secara tuntas, hingga dapat diketahui penyebab utamanya dan melakukan
perbaikan. Pencegahan kecelakaan kerja adalah mencegah terjadinya kecelakaan
kerja, sebelumnya harus dimulai dari pengenalan bahaya di tempat kerja, estimasi,
tiga langkah pengendalian, dalam pengenalan bahaya perlu adanya konfirmasi
keberadaan bahaya di tempat kerja, memutuskan pengaruh bahaya dalam
mengestimasi bahaya perlu diketahui adanya tenaga kerja di bawah ancaman bahaya
pajanan atau kemungkinan pajanan, konfirmasi apakah kadar pajanan sesuai dengan
peraturan, memahami pengendalian perlengkapan atau apakah langkah manajemen
sesuai persyaratan; dalam pengendalian bahaya perlu mengendalikan sumber bahaya,
dari pengendalian jalur bahaya, dari pengendalian tambahan terhadap tenaga kerja
pajanan, menetapkan prosedur pengamanan.
Bahaya yang sudah diidentifikasi dan dinilai, maka selanjutnya harus
dilakukan perencanaan pengendalian risiko untuk mengurangi risiko sampai batas
maksimal. Pengendalian risiko dapat mengikuti Pendekatan Hirarki Pengendalian
(Hirarchy of Control). Hirarki pengedalian risiko adalah suatu urutan-urutan dalam
pencegahan dan pengendalian risiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa
tingkatan secara berurutan. Di dalam hirarki pengendalian risiko terdapat 2 (dua)
pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan ”Long Term Gain” yaitu pengendalian berorientasi jangka
panjang dan bersifat permanen dimulai dari pengendalian substitusi,
eliminasi, rekayasa teknik, isolasi atau pembatasan, administrasi dan terakhir
jatuh pada pilihan penggunaan alat pelindung diri.
b. Pendekatan ”Short Term Gain”, yaitu pengendalian berorientasi jangka
pendek dan bersifat temporari atau sementara. Pendekatan pengendalian ini
diimplementasikan selama pengendalian yang bersifat lebih permanen belum
dapat diterapkan. Pilihan pengendalian risiko ini dimulai dari penggunaan alat
pelindung diri menuju ke atas sampai dengan substitusi (Tarwaka, 2008).
Heirarki Pengendalian Risiko merupakan suatu urutan-urutan dalam
pencegahan dan pengendalian risiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa
tingkatan secara berurutan.
2.5.1 Rencana Pengendalian Risiko
a. Eliminasi (Elimination)
Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yang bersifat
permanen dan harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama.
Eliminasi dapat dicapai dengan memindahkan obyek kerja atau sistem kerja
yang berhubungan dengan tempat kerja yang tidak dapat diterima oleh
ketentuan, peraturan atau standar baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai
Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan. Cara pengendalian yang baik
dilakukan adalah dengan eliminasi karena potensi bahaya dapat ditiadakan.
b. Substitusi (Substitution)
Cara pengendalian substitusi adalah dengan menggantikan bahan-
bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan bahan dan peralatan
yang kurang berbahaya atau yang lebih aman.
c. Rekayasa Teknik (Engineering Control)
Pengendalian rekayasa teknik termasuk merubah struktur obyek kerja
untuk mencegah seseorang terpapar potensi bahaya. Cara pengendalian yang
dilakukan adalah dengan pemberian pengaman mesin, penutup ban berjalan,
pembuatan struktur pondasi mesin dengan cor beton, pemberian alat bantu
mekanik, pemberian absorber suara pada dinding ruang mesin yang
menghasilkan kebisingan tinggi, dan lain-lain.
d. Isolasi (Isolation)
Cara pengendalian yang dilakukan dengan memisahkan seseorang
dari obyek kerja, seperti menjalankan mesin-mesin produksi dari tempat
tertutup (control room) menggunakan remote control.
e. Pengendalian Administrasi (Admistration Control)
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyediakan suatu
sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi
bahaya yang tergantung dari perilaku pekerjanya dan memerlukan
pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian administrasi ini.
Metode ini meliputi penerimaan tenaga kerja baru sesuai jenis pekerjaan yang
akan ditangani, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk
mengurangi kebosanan dan kejenuhan, penerapan prosedur kerja, pengaturan
kembali jadwal kerja, training keahlian dan training K3.
f. Alat Pelindung Diri (Administration Control)
Alat pelindung diri yang digunakan untuk membatasi antara
terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang diterima oleh tubuh. Dalam
menentukan pengendalian risiko atas bahaya yang kita identifikasi, harus
diperhatikan beberapa hal misalnya. Apakah telah ada control pengendalian
risiko yang telah lalu, Jika telah ada, apakah kontrol tersebut telah memadai
atau belum? Jika belum memadai, tentukan tindakan pengendalian baru untuk
menghilangkan atau menekan risiko sampai pada tingkat serendah mungkin.
2.4.2 High Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC)
Metode yang secara umum dan biasa digunakan untuk mencegah dan
meminimalisir kecelakaan kerja yang mungkin terjadi. Metode HIRARC memiliki
beberapa tahapan seperti mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi,
penilaian risiko , dan yang kemudian akan di lakukan pengendalian risiko.

2.6 Proses Produksi

Prosess produksi merupakan bagian yang sangat penting dalam pertambangan


dimana pada tahap ini banyak resiko bahaya Kesehatan dan keselamatan kerja yang
berbahaya bagi para pekerja. Tahap angkut, muat dan hauling merupakan beberapa
tahapan-tahapan proses produksi dalam pertambangan.
a. Pemuatan (Loading)
Pemuatan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memasukan
material bahan galian dari hasil kegiatan pembongkaran kedalam alat angkut.
Pemuatan dikerjakan dengan menggunakan alat muat yang kemudian akan
mengisi material hasil pembongkaran kedalam alat angkut, dan dilakukan
setelah kegiatan penggusuran. pengangkutan dilakukan dengan cara atau
sistem siklus/ritase, yang artinya alat angkut yang telah termuati langsung
berangkat tanpa harus menunggu alat angkut yang lain dan setelah dumping
muatan langsung kembali ke lokasi pemuatan untuk dimuati kembali.
b. Pengangkutan (Hauling)
Pengangkutan Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
memindahkan atau membawa bahan atau endapan bijih dari satu tempat
(tambang) ke stock pile (tempat penimbunan/ pengolahan). Pengangkutan
terdapat beberapa tahapan seperti, menunggu (queue) keadaan dimana truk
menunggu untuk manuver sebelum pemposisian untuk proses pemuatan,
pemposisian (spot) keadaan di mana alat angkut mengambil posisi,
pengisisan (load) tahap di mana alat angkut diberi muatan pengangkutan,
haul tahap di mana alat angkut membawa muatan, dan pembuangan (dump)
keadaan dimana material yang di angkut tempatkan stock pile.
c. Dumping
Merupakan proses akhir setelah proses pemuatan material ke dalam
alat angkut (loading) dan proses Hauling yaitu, perjalanan dari lokasi
pemuatan material (loading point) menuju tempat penyimpanan (stock pile)
atau langsung menuju crusher. Dumping yaitu, proses penurunan material
dari alat angkut ke Stock pile.

2.7 Debu

Debu adalah partikel-partikel yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan alami


atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan yang
cepat, peledakan dan lain-lain dari bahan-bahan baik organik maupun anorganik
misalnya batu, kayu, bijih logam, arang batu, butir-butir zat-zat dan sebagainya.
Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang
melayang di udara (Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran 1 mikron
sampai dengan 500 mikron.
2.7.1 Debu Nikel
Debu nikel adalah material lapisan batuan lapisan nikel yang terbentuk bubuk
(powder), yang berasal dari hancuran batuan ketika terjadi pemrosesannya (breaking,
blending, transporting, and weathering). Kandungan pada endapan nikel laterit
mempengaruhi risiko Kesehatan dan keselamata kerja yang ditimbulkan,. Penelitian
tentang kandungan nikel yang ada di Sorowako juga telah dilakukan oleh Adi T.
(2009) dengan mengambil lokasi sampel penelitian pada topografi yang memiliki
kemiringan relatif bergelombang menerus. Yang menjadi fokus dalam penelitian ini
adalah ketebalan lapisan batuan limonit dan saprolit yang mengandung nikel namun
tetap menunjukkan persentase unsur/senyawa lainnya yang ada dalam lapisan limonit
dan saprolit tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa untuk lapisan limonit
memiliki kadar ketebalan nikel rata-rata 2,45 meter dengan kandungan unsur lainnya
antara lain Fe di atas 35 %, MgO kurang dari 5% dan SiO2 di bawah 10%.
Gambar 2.3 Debu jalan tambang
Sedangkan untuk lapisan saprolit memiliki kadar ketebalan nikel rata-rata
7,04 meter dengan kandungan unsur lainnya antara lain Fe (10 – 35%), MgO (5 –
30%) dan SiO2 (10 – 40%). Widi (2012) juga melakukan analisis komposisi
kandungan nikel laterit baik limonit maupun saprolit yang diambil pada wilayah
pertambangan Morowali (Sulawesi Tengah).
Analisis tersebut digunakan dalam upaya memproduksi nikel pig iron
menggunakan mini blast furnace. Hasil analisis komposisi nikel laterit untuk lapisan
limonit komposisinya terdiri atas SiO2 5,2%, Al2O3 14,96%, Fe2O3 61,31%, Ni
0,72%, Cr2O3 1,66% dan LOI 14,42% dan beberapa senyawa lain dalam jumlah yang
lebih kecil. Lapisan saprolit komposisinya terdiri atas SiO 2 36,2%, Al2O3 4,1%,
Fe2O3 22,37%, Ni 2,53%, Cr2O3 0,97% dan LOI 10,74% dan beberapa senyawa lain
dalam jumlah yang lebih kecil.

2.8 Nikel Laterit

Laterit nikel merupakan residu hasil pelapukan kimia pada batuan ultramafik.
Proses lateritisasi berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik
tersingkap di permukaan bumi sampai menghasilkan berupa residu nikel yang
diakibatkan oleh faktor laju pelapukan, struktur geologi, iklim, topografi, reagen-
reagen kimia dan vegetasi, dan waktu. Pengaruh iklim tropis di Indonesia
mengakibatkan proses pelapukan yang intensif didukung oleh pecahan bentukan
geologi methamorphic belt di Timur dan Tenggara. Selain itu kondisi ini juga tidak
terlepas oleh iklim, reaksi kimia, struktur, dan topografi Sulawesi yang cocok
terhadap pembentukan nikel laterit. Pelapukan pada batuan dunit dan peridotit
menyebabkan unsur-unsur bermobilitas rendah sampai immobile seperti Ni, Fe dan
Cr mengalami pengayaan secara residu dan sekunder (Burger, 1996).
2.8.1 Pembentukan Nikel Laterit
Proses konsentrasi nikel pada endapan nikel laterit dimulai dari air
permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan kembali oleh
material–material organik di permukaan meresap ke bawah permukaan tanah sampai
pada zona pelindihan, di mana fluktuasi air tanah berlangsung. Akibat fluktuasi ini,
air tanah yang kaya akan CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang masih
mengandung batuan asal dan melarutkan mineral–mineral yang tidak stabil seperti
olivin, serpentin dan piroksin. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai dengan
aliran air tanah dan akan memberikan mineral–mineral baru pada proses
pengendapan kembali (Hasanuddin, 1992). Boldt (1967), menyatakan bahwa proses
pelapukan dimulai pada batuan ultrabasa (peridotit, dunit, serpentin), di mana pada
batuan ini banyak mengandung mineral olivin, magnesium silikat, dan besi silikat
yang pada umumnya mengandung 0,30 % nikel.
`Batuan tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air
tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara luar dan tumbuh–tumbuhan akan
menghancurkan olivin. Terjadi penguraian olivin, magnesium, besi, nikel dan silika
ke dalam larutan, cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel–partikel
silika yang submikroskopis. Di dalam larutan besi akan bersenyawa dengan oksida
dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan
air dengan membentuk mineral–mineral karat, yaitu hematit dan kobalt dalam jumlah
kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan permukaan tanah.
Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi akan menyebabkan unsur Fe,
Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral–mineral
oxida atau hidroksida, seperti limonit, hematit, dan goetit (Hasanudin, 1992).
Umumnya endapan nikel terbentuk pada batuan ultrabasa dengan kandungan Fe di
olivin yang tinggi dan nikel berkadar antara 0,2% - 0,4%. Berikut merupakan gambar
proses pembentukan nikel laterit yang dapat dilihat pada Gambar 2.4
Gambar 2.4 Profil endapan nikel laterit
Endapan nikel laterit memiliki perbedaan karakteristik pada setiap daerah,
perbedaan karakteristik ini membuat setiap tipe endapan nikel dapat berbeda cara
pemurniannya. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
karakteristik endapan nikel laterit dengan membuat peta sebaran unsur kimia yang
terkandung, menganalisis pengaruh unsur kimia dalam penentuan jenis endapan
berdasarkan batuan dasarnya dan mineral pembawa Ni, serta merekomendasikan
metode ekstraksi Ni pada pabrik pengolahan.

2.9 Peralatan Pertambangan

Berkat kemampuan teknologi manusia dewasa ini, berbagai jenis alat-alat


berat dan attachmentnya telah berhasil diciptakan sesuai dengan kegunaannya.
Berikut merupakan beberapa peralatan yang digunakan di dalam dunia
pertambangan.
2.9.1 Bull Dozer
Bulldozer adalah traktor beroda rantai, serba guna dan memiliki kemampuan
traksi yang besar. Digunakan untuk bermacam - macam pekerjaan, seperti menggali,
mendorong, menggusur, mengurug dan sebagainya. Efisien untuk kondisi medan
kerja yang berat sekalipun, seperti daerah berbukit, berbatu, hutan dan sebagainya.
Mampu beroperasi pada tanah kering hingga lembab. Pada kondisi tanah yang sangat
lunak (liat berlumpur), dapat dipergunakan Swamp Bulldozer. Jarak pemindahan
tanah dengan menggunakan bulldozer masih efisien sampai sejauh 100 meter.
2.9.2 Alat muat (Excavator)
Yang termasuk didalam alat gali adalah backhoe, power shovel atau juga
dikenal sebagai front shovel, dragline dan clamshell. Backhoe dan power shovel juga
disebut alat penggali hidrolis karena bucket digerakkan secara hidrolis. Alat-alat
penggali ini mempunyai diantara alat penggeraknya dan badan mesin sehingga alat
berat tersebut dapat melakukan gerakan memutar walaupun tidak ada gerakan pada
alat penggerak.
Pemilihan alat tergantung dari kemampuan alat tersebut pada suatu kondisi
lapangan tertentu. Perbedaan setiap alat gali adalah pada benda yang dipasang di
bagian depan, akan tetapi semua alat tersebut mempunyai kesamaan pada alat
penggerak yaitu roda ban atau crawler. Alat beroda crawler umumnya dipilih jika
alat tersebut akan digunakan pada permukaan kasar atau kurang padat. Selain itu juga
karena alat tersebut di dalam pengoperasiannya tidak perlu melakukan banyak gerak.
2.9.3 Hidraulic Exavator
Hydraulic Excavator adalah alat serba guna yang dapat dipergunakan untuk
menggali, memuat dan mengangkat material. Terutama dipergunakan untuk
menggali parit-parit saluran air atau pipa (pipe line). Dengan mengganti kelengkapan
kerja tambahan (attachment). Alat ini dapat juga dipakai untuk memecah batu,
mencabut tunggul, membongkar aspal dan lain-lain. Konstruksi bagian atas dari
hydraulic excavator dapat berputar 360 derajat, sehingga memungkinkan alat ini
bekerja ditempat yang relatif sempit sekalipun
2.9.4 Wheel Loader
Wheel loader adalah alat pemuat beroda karet (ban), penggunaannya hampir
sama dengan dozer shovel. Perbedaannya terletak pada landasan kerjanya, dimana
landasan kerja untuk wheel loader harus relatif rata, kering dan kokoh. Dipergunakan
terutama pada pengoperasian yang menuntut kecepatan & mobilitas tinggi, serta
tidak diperlukan traksi yang besar (umumnya material yang dikerjakan dalam
keadaan gembur dan tidak berat).
2.9.5 Motor Grader
Digunakan untuk mengupas/ stripping, memotong serta meratakan
permukaan tanah, terutama pada tahap-tahap penyelesaian, agar diperoleh kerataan
permukaan dengan tingkat ketelitian yang lebih baik. Motor grader digunakan juga
untuk aplikasi lain seperti membuat kemiringan pada tanah/badan jalan, membentuk
kemiringan tebing/slope atau membuat saluran air secara sederhana.
2.9.6 Compactor
Alat ini digunakan untuk memadatkan tanah agar mencapai nilai kepadatan
yang diinginkan, sesuai dengan beban/muatan serta frekuensi lintasan yang akan di
derita oleh material yang dipadatkan tadi. Compactor dengan vibro / getaran akan
lebih cepat memadatkan material untuk mencapai kepadatan yang diinginkan.
Pemakaian kelengkapan smooth drum dipakai untuk memadatkan material yang
bersifat lepas dan kandungan air (moisture contents) rendah, atau untuk pemadatan
finishing, sedangkan kelengkapan pad-foot drum digunakan untuk material/tanah
yang bersifat lunak dengan kandungan air cukup tinggi.
2.9.7 Dumptruck
Merupakan peralatan utama dalam pekerjaan pemindahan material jarak
menengah sampai jarak jauh (>500m). Pengisian muatan ke dump truck dilakukan
oleh alat muat, sedangkan untuk pembongkaran muatan dapat dilaksanakan sendiri.
Jenis Rigid Dump Truck digunakan pada medan kerja yang cukup terpelihara, tidak
terlalu banyak tikungan tajam dan tanjakan tinggi. Dimana dalam kondisi ini Rigid
Dump Truck mampu menerima beban penuh serta beroperasi dengan kecepatan
tinggi. Rigid Dump Truck terbagi dua, yaitu Dump Truck off road , biasanya
berkapasitas besar (40-240 ton) dan digunakan di pertambangan besar. Sedangkan
yang on-road adalah truk yang berkapasitas antara 10-30 ton . Articulated Dump
Truck teristimewa dipergunakan pada medan kerja yang berat, berlumpur, banyak
tikungan tajam dan tanjakan tinggi.
Pada dunia pertambangan yang biasa digunakan adalah Quarry dump truck
ysng merupakan tipe dump truck yang berfungsi untuk mengangkut hasil – hasil
tambang seperti batu bara. Truck ini mempunyai kapasitas angkut yang sangat besar,
sehinngga perawatannya pun relatif mahal. Berdasarkan sistem geraknya Quarry
Dump Truck termasuk kaku sehingga kinerja alat berat ini sama dengan Rigid Dump
Truck, yang membedakan adalah fungsi disaat penggunaan pada waktu pelaksanaan.
Keunggulan jenis alat berat ini dapat mengangkut material yang baru ditambang dari
tempat penambangan dengan kapasitas besar. Sedangkan kekurangan alat berat ini
adalah gerak yang tidak fleksibel dan membutuhkan ruang gerak yang besar.
2.10 Pengangkutan (Hauling)

Pengangkutan adalah kegiatan memindahkan material galian dari satu tempat


ke tempat lain dengan menggunakan dumptruck. Hal-hal yang menjadi pertimbangan
dalam menentukan transportasi (hauling) ini, antara lain :
1. Karakteristik material yang akan diangkut
2. Jarak angkut
3. Kondisi jalan dan tanjakan (slope) maksimum jalan
4. Skala produksi yang akan dicapai (target produksi)
5. Modal yang tersedia
Alat yang biasa digunakan pada proses pengangkutan adalah Bulldozer,
apabila jarak kerja/dozing dibawah 100 meter, lebih sesuai dengan lapisan tanah
penutup yang tidak terlampau tebal . Wheel loader, apabila jarak kerja antara 50 –
150 meter, Motor scraper, bila jarak kerja antara 150 – 2000 meter. Dump truck,
dengan jarak kerja 200 – 5.000 meter. Belt Conveyor, bila diinginkan kontinuitas
pengangkutan, jarak kerja antara 3.000 sampai 15.000 meter. Kereta api/lori, dengan
jarak kerja diatas 5.000 meter.
Kesesuaian kerja pemuatan dan pengangkutan harus sangat diperhatikan
Yang dimaksud disini adalah keselarasan loader dan haulernya, sehingga operasi
pemuatan dapat berjalan dengan baik dan lancar dengan sesedikit mungkin
terbuangnya waktu menunggu unit dalam bekerja baik dari loader maupun
haulernya. Untuk mencapai hal tersebut tentunya perlu dilakukan pengkajian yang
layak dalam menentukan cara kerja, jenis alat, ukuran dan kemampuannya dengan
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi seperti tersebut dimuka, baik
loader maupun haulernya. Hasil kegiatan kerja yang optimal hanya dapat dicapai bila
masing-masing alat yang berlainan jenis bekerja secara optimum.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metode pengambilan data pada rencana penelitian ini dimulai dari tahap
pendahuluan, tahap pengambilan data, tahap pengolahan data, tahap penyusunan
laporan penelitian, tahap seminar dan evaluasi.

3.1 Tahap Pendahuluan

Pada tahap ini persiapan awal yang dilakukan berupa kelengkapan


administrasi dan studi pustaka yang dilakukan di Jurusan Teknik Pertambangan,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim Indonesia dan melakukan tahapan
administrasi kedua di PT. Bersama Nikel Sukses.

3.2 Tahap Pengambilan Data

Tahap pengambilan data merupakan tahap pelaksanaan penelitian, dimana


segala data yang dibutuhkan yang menunjang kegiatan penyusunan laporan nantinya.
Pengambilan data ini diperoleh dari hasil pengamatan langsung di PT. Bersama
Nikel Sukses, dimana data tersebut menjadi dua metode pengambilan data yaitu:
3.2.1 Data primer
Data primer merupakan data hasil pengamatan kegiatan secara langsung di
area tambang seperti dokumentasi kegiatan sebagai referensi dalam memahami
segala bentuk kegiatan secara langsung dan interview sebagai hasil wawancara
tentang hal-hal yang berkaitan masalah pertambangan. Sampel pada penelitian ini
merupakan objek penelitian yang terdiri dari :
1. Data rincian kerja muat, angkut dan hauling
2. Data identifikasi Potensi Bahaya dan risiko dari kegiatan kerja muat, angkur
dan hauling menggunakan metode HIRARC
3. Data wawancara pada informan
3.2.2 Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diberikan oleh perusahaan yang sesuai
dengan hasil kegiatan dan pengamatan langsung di lapangan, dimana data-data
tersebut akan digunakan pada pengolahan data untuk mengetahui potensi-potensi
bahaya pada kegiatan muat, angkur dan hauling di PT. Bersama Nikel Sukses
Adapun data-data tersebut ialah data koordinat lokasi penambangan PT. Bersama
Nikel Sukses.

3.3 Tahap Pengolahan Data

Tahap pengolahan data meliputi melakukan analisis data seperti penilaian


pada jenis-jenis bahaya menggunakan metode analisis semi kuantitatf. Kemudian
melakukan rencana pengendalian resiko dari bahaya-bahaya tersebut.

3.4 Tahap Penyusunan Laporan

Tahap penyusunan laporan adalah kegiatan tertulis teoritis dan ilmiah dari
hasil penelitian dilapangan, sebagai bentuk pembukuan segala hal yang berkaitan
dengan penilitian termasuk hasil dari penelitian, mulai dari dokumentasi, teori yang
terkait hingga hasil olah data dari data mentah yang didapat dilapangan dan hasil
akhir tertulis penelitian.

3.5 Seminar

Seminar adalah penyampaian rencana dan hasil penelitian yang dilaksanakan


di lokasi penelitian dengan cara presentasi didepan penguji sebagai bentuk evaluasi
atau revisi dari penelitian yang tentu tidak dapat sempurna 100%. Adapun seminar
tersebut terdapat 2 seminar yaitu:
3.5.1 Seminar proposal
Seminar proposal adalah penyampaian dengan cara mempresentasikan apa
yang akan diteliti, pengujian pemahaman akan apa yang diteliti serta evaluasi
rencana dan pemaparan anggaran dan kebutuhan rencana penelitian.
3.5.2 Seminar hasil
Seminar hasil adalah pemaparan hasil penilitian baik secara teoritis maupun
ilmiah dan sebagai bentuk evaluasi hasil penelitian.

3.6 Skripsi

Skripsi adalah laporan akhir tertulis atas pertanggungjawaban penelitian yang


teoritis dan ilmiah dan merupakan akhir dari terampungnya segala aktivitas
penelitian
Tahap Pendahuluan
1. Administrasi Kampus
2. Administrasi Perusahaan
3. Perlengkapan APD
4. Perlengkapan Alat dan Bahan
5. Pengenalan Lingkungan

Tahap Pengambilan Data

Data Primer
1. Data rincian kerja muat, Data Sekunder
angkut dan hauling
1. Peta lokasi penelitian.
2. Data identifikasi Potensi
2. Sejarah Perusahaan.
Bahaya dan risiko dari
kegiatan kerja muat, angkur
dan hauling menggunakan
metode HIRARC
3. Data wawancara pada
informan

Tahap Pengolahan Data


1. Analisa Kadar Sampel
2. Analisis Risiko
Kecelakaan Kerja

Tahap Penyusunan Laporan

Skripsi
Analisis Potensi Bahaya Dan Pengendalian Risiko
Pertambangan Nikel Pada Tahap
Muat Angkut Dan Hauling
BAB IV
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN WAKTU

4.1 Rencana Anggaran Biaya

Dalam melakukan kegiatan penelitian terdapat kebutuhan yang akan


diperlukan selama berkegiatan mulai dari persiapan hingga penyusunan laporan,
adapun rencan anggaran yang akan dikeluarkan sebabagi berikut:
Tabel 4. 1 Rencana anggaran biaya

No
Keterangan Biaya
.
1. Keperluan perisapan Rp. 300.000
2. Transportasi Udara Rp. 600.000
3. Wifi Rp. 50.000
4. Seminar skripsi Rp. 2.700.000
5. Biaya tak terduga Rp. 2.000.000
Total Biaya Rp. 6.000.000

4.2 Rencana Jadwal Kegiatan

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tahap persiapan di pekan pertama bulan
April 2022 sampai dengan seminar tugas akhir dengan rencana di pekan ke empat
bulan Juni 2022, adapun jadwal rencana kegiatan sebagai berikut:
Tabel 4. 2 Rencana jadwal kegiatan penelitian

April Mei Juni


No. Kegiatan 2022 2022 2022
I II III IV I II III IV I II III IV

1. Persiapan
2. Studi literatur

3. Konsultasi ke
dosen pembimbing
4. Seminar proposal
5. Pengambilan data
6. Pengolahan data
7. Penyusunan
laporan
7. Konsultasi ke
dosen pembimping
8. Seminar tugas
akhir
DAFTAR PUSTAKA

As, I. W., & Bakri, H. (2017). Analisis Fundamental Sampling Error Terhadap
Quality Assurance Dan Quality Control , Kab . Luwu Timur , Sulawesi
Selatan. 5(3), 124–128.

Application Engineering Dept. 2020. Manajemen Alat Berat. PT. United Tractors
Tbk. Jakarta.
Djatmiko, Riswan Dwi. 2016. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta:
Deepublish.

Ichsannudin, Purwoko Budhi, Herlambang Yoga. 2016. “Kajian Teknis Produktivitas


Alat Gali Muat (Excavator) Hitachi Zx210-5 Dan Alat Angkut (Dump Truck)
Mitsubishi Fn 527 Ml Untuk Mencapai Target Produksi Penambangan Batu
Granit Di Pt Hansindo Mineral Persada Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten
Mempawah Provinsi Kalimantan Barat”. Jurusan Teknik Pertambangan.
Fakultas Teknik. Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Kusuma Bagus Miko. 2010. Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pada
Pertambangan Batubara Di Pt. Marunda Grahamineral, Job Site Laung Tuhup
Kalimantan Tengah. Program Diploma Iii Hiperkes Dan Keselamatan Kerja.
Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Nugraha Candra. 2019. Pengelolaan Lingkungan Pertambangan. Kepak Indonesia.


Bandung. Kepak Indonesia. Bandung

Puspita Galuh Cyntia. 2011. “Pengaruh Paparan Debu Batubara Terhadap Gangguan
Faal Paru Pada Pekerja Kontrak Bagian Coal Handling PT. PJB Unit
Pembangkitan Paiton”. Bagian Kesehatan Lingkungan Dan Kesehatan
Keselamatan Kerja. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember.

Raivel, Firman. 2020. Karakteristik Endapan Nikel Laterit di Bawah Molasa


Sulawesi Daerah Tinanggea, Sulawesi Tenggara. Program Studi Teknik
Pertambangan. Fakultas Teknik UMK. Kendari

Sujiono, E. H., & Diantoro, M. (2014). Karakteristik Sifat Fisis Batuan Nikel Di
Sorowako Sulawesi Selatan. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 10(2), 163–

27
167. [Link]

Tim K3 FT UNY. 2014. Buku Ajar Keselamatan Dan Keselamatan Kerja (K3).
Fakultas Teknik. Universitas Negeri Yogyakarta.
Tim Penyusun. 2017. Buku Kontrol Pelaksanaan Dan Pedoman Umum Penyusunan
Skripsi Dan Kerja Praktek. Teknik Pertambangan. Fakultas Teknologi
Industri. Universitas Muslim Indonesia. Makassar

28

Anda mungkin juga menyukai