Dina Suharti
Tanggal 14 Juni 2022
Pelaksaanaan
Kegiatan
Judul Laporan Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian ASI Eksklusif
Kegiatan
Identitas pasien/ MQP, 26 hari, BBL: 3200 gram, PB: 52 cm
Keterangan terkait
pasien
Latar Belakang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses meletakkan bayi baru lahir pada
dada atau perut ibu agar bayi secara alami dapat mencari sendiri sumber air susu
ibu atau ASI dan mulai menyusu. Bayi akan mendapatkan kekebalan tubuh. IMD
bermanfaat bagi ibu karena dapat membantu mempercepat proses pemulihan
pasca persalinan. Dalam 1 jam kehidupan pertama bayi dilahirkan ke dunia, bayi
dipastikan untuk mendapatkan kesempatan melakukan IMD (Kemenkes RI,
2017). Berdasarkan penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2011,
ditemukan sebagian besar ibu sudah meletakkan bayi di dadanya segera setelah
kelahiran. Namun 87% bayi hanya diletakkan dengan durasi kurang dari 30 menit,
padahal IMD yang tepat harus dilakukan minimal 1 jam atau sampai bayi mulai
menyusu
ASI eksklusif yaitu air susu ibu yang diberikan kepada bayi sampai 6 bulan
tanpa ditambahkan dengan makanan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air
teh, air putih, pisang, bubur susu, biskuit, dan lainnya. Bayi yang diberikan ASI
eksklusif dapat terhindar dari berbagai penyakit. Bayi yang sakit diberikan ASI
secara eksklusif dapat mempercepat proses penyembuhan. ASI juga dapat
membantu proses pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Bayi yang tidak
diberikan ASI secara eksklusif mempunyai IQ (Intellectual Quotient) yang lebih
rendah, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI
secara eksklusif. Hal ini dikarenakan didalam ASI terdapat berbagai macam
nutrisi yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan otak yaitu berupa taurin,
laktosa, DHA, AA, Omega 3 dan Omega 6
Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia yang mengalami kemajuan
pesat dalam pengurangan kematian balita. Namun hingga kini, angka kematian
bayi baru lahir dan bayi masih tetap memperlambat keseluruhan kemajuan
Indonesia dalam mengurangi angka kematian balita, sehingga diperlukan
akselerasi perawatan bagi bayi baru lahir. Tahun 2017, angka kematian bayi atau
infant mortality rate (IMR) di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24/1.000
kelahiran hidup.(Kemenkes RI, 2019) Salah satu metode yang efektif adalah
kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusu dini bagi bayi baru lahir dalam masa
satu jam pertama sejak bayi dilahirkan. Sebuah studi yang dipublikasikan di
Pediatrics tahun 2006 menunjukkan bahwa IMD ini dapat mengurangi kematian
bayi baru lahir akibat dari infeksi, diare, hipotermia dan masalah pernapasan.
Rendahnya pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Indonesia
merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas bayi.
Berdasarkan data Riskesdas (2013), pemberian ASI kepada bayi dalam kurun
waktu kurang dari satu jam adalah 34,5%. Untuk Sumatera Barat, pemberian ASI
pada kurun waktu kurang dari satu jam yaitu 44,2%. Hal ini menunjukkan bahwa
IMD belum terlaksana dengan baik, karena masih kurangnya pengetahuan ibu
tentang informasi pentingnya pelaksanaan IMD sehingga banyaknya ibu yang
belum mengetahui dan memahami secara pasti mengenai pelaksanaan IMD. Ini
juga diduga menjadi salah satu alasan ketidakpedulian ibu terhadap pentingnya
pelaksanaan IMD pada saat persalinan. Ibu lebih peduli terhadap persiapan
sebelum persalinan seperti uang dan kendaraan dibandingkan dengan pelaksanaan
IMD.
Profil data kesehatan Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan pemberian
ASI eksklusif sebesar 52,3% yang berarti hasil tersebut masih dibawah target
nasional yaitu sebesar 80%. Hasil capaian pemberian ASI eksklusif masih rendah
karena kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI
eksklusif masih relatif rendah.
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang
merekomendasikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai tindakan penyelamat
kehidupan karena IMD dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal
sebelum usia satu bulan (Depkes RI, 2010). Kenyataannya masih banyak ibu yang
tidak memberikan Inisiasi Menyusui dini pada bayinya segera setelah dilahirkan.
Gambaran Pasien lahir normal di RS Datu beru pada 18 Mei 2022 dan melakukan inisiasi
Pelaksanaan menyusui dini
Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa
menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan
kulit bayi.
Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi
dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari
sendiri putting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu).
Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung
dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu
sampai proses menyusu pertama selesai
Saat ini pasien di berikan ASI eksklusif selama 26 hari, tidak disertai makanan
tambahan dan susu formula.
Selanjutnya mengedukasi pasien untuk memberikan ASI eksklusi. ASI eksklusif
adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol
sampai enam bulan (6 x 30 hari). Hanya ASI satu-satunya makanan dan minuman
yang diperlukan oleh seorang bayi dalam enam bulan pertama. Tidak ada
makanan atau minuman lain, termasuk air putih, yang diperlukan selama periode
ini. ASI adalah makanan terbaik un tuk bayi Anda. Susu hewan, susu formula
(bahkan yang harganya paling mahal), susu bubuk, teh, minuman yang
mengandung gula, air putih, pisang dan padi-padian tidak memiliki kandungan
sebaik ASI. Pasien juga di berikan edukasi terkait personal hygiene
Catatan/Usulan
ke/dari Pendamping
Tanggal 30 Juli 2022
Pelaksaanaan
Kegiatan
Judul Laporan Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian ASI Eksklusif
Kegiatan
Identitas pasien/ IA, 5 hari, BBL: 3500 gram, PB: 53 cm
Keterangan terkait
pasien
Latar Belakang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses meletakkan bayi baru lahir pada
dada atau perut ibu agar bayi secara alami dapat mencari sendiri sumber air susu
ibu atau ASI dan mulai menyusu. Bayi akan mendapatkan kekebalan tubuh. IMD
bermanfaat bagi ibu karena dapat membantu mempercepat proses pemulihan
pasca persalinan. Dalam 1 jam kehidupan pertama bayi dilahirkan ke dunia, bayi
dipastikan untuk mendapatkan kesempatan melakukan IMD (Kemenkes RI,
2017). Berdasarkan penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2011,
ditemukan sebagian besar ibu sudah meletakkan bayi di dadanya segera setelah
kelahiran. Namun 87% bayi hanya diletakkan dengan durasi kurang dari 30 menit,
padahal IMD yang tepat harus dilakukan minimal 1 jam atau sampai bayi mulai
menyusu
ASI eksklusif yaitu air susu ibu yang diberikan kepada bayi sampai 6 bulan
tanpa ditambahkan dengan makanan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air
teh, air putih, pisang, bubur susu, biskuit, dan lainnya. Bayi yang diberikan ASI
eksklusif dapat terhindar dari berbagai penyakit. Bayi yang sakit diberikan ASI
secara eksklusif dapat mempercepat proses penyembuhan. ASI juga dapat
membantu proses pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Bayi yang tidak
diberikan ASI secara eksklusif mempunyai IQ (Intellectual Quotient) yang lebih
rendah, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI
secara eksklusif. Hal ini dikarenakan didalam ASI terdapat berbagai macam
nutrisi yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan otak yaitu berupa taurin,
laktosa, DHA, AA, Omega 3 dan Omega 6
Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia yang mengalami kemajuan
pesat dalam pengurangan kematian balita. Namun hingga kini, angka kematian
bayi baru lahir dan bayi masih tetap memperlambat keseluruhan kemajuan
Indonesia dalam mengurangi angka kematian balita, sehingga diperlukan
akselerasi perawatan bagi bayi baru lahir. Tahun 2017, angka kematian bayi atau
infant mortality rate (IMR) di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24/1.000
kelahiran hidup.(Kemenkes RI, 2019) Salah satu metode yang efektif adalah
kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusu dini bagi bayi baru lahir dalam masa
satu jam pertama sejak bayi dilahirkan. Sebuah studi yang dipublikasikan di
Pediatrics tahun 2006 menunjukkan bahwa IMD ini dapat mengurangi kematian
bayi baru lahir akibat dari infeksi, diare, hipotermia dan masalah pernapasan.
Rendahnya pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Indonesia
merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas bayi.
Berdasarkan data Riskesdas (2013), pemberian ASI kepada bayi dalam kurun
waktu kurang dari satu jam adalah 34,5%. Untuk Sumatera Barat, pemberian ASI
pada kurun waktu kurang dari satu jam yaitu 44,2%. Hal ini menunjukkan bahwa
IMD belum terlaksana dengan baik, karena masih kurangnya pengetahuan ibu
tentang informasi pentingnya pelaksanaan IMD sehingga banyaknya ibu yang
belum mengetahui dan memahami secara pasti mengenai pelaksanaan IMD. Ini
juga diduga menjadi salah satu alasan ketidakpedulian ibu terhadap pentingnya
pelaksanaan IMD pada saat persalinan. Ibu lebih peduli terhadap persiapan
sebelum persalinan seperti uang dan kendaraan dibandingkan dengan pelaksanaan
IMD.
Profil data kesehatan Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan pemberian
ASI eksklusif sebesar 52,3% yang berarti hasil tersebut masih dibawah target
nasional yaitu sebesar 80%. Hasil capaian pemberian ASI eksklusif masih rendah
karena kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI
eksklusif masih relatif rendah.
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang
merekomendasikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai tindakan penyelamat
kehidupan karena IMD dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal
sebelum usia satu bulan (Depkes RI, 2010). Kenyataannya masih banyak ibu yang
tidak memberikan Inisiasi Menyusui dini pada bayinya segera setelah dilahirkan.
Gambaran Pasien lahir normal di RS Datu beru pada 25 Juli 2022 dan melakukan inisiasi
Pelaksanaan menyusui dini
Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa
menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan
kulit bayi.
Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi
dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari
sendiri putting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu).
Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung
dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu
sampai proses menyusu pertama selesai
Saat ini pasien di berikan ASI eksklusif selama 5 hari, tidak disertai makanan
tambahan dan susu formula.
Selanjutnya mengedukasi pasien untuk memberikan ASI eksklusi. ASI eksklusif
adalah pemberian AsI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol
sampai enam bulan (6 x 30 hari). Hanya ASI satu-satunya makanan dan minuman
yang diperlukan oleh seorang bayi dalam enam bulan pertama. Tidak ada
makanan atau minuman lain, termasuk air putih, yang diperlukan selama periode
ini. ASI adalah makanan terbaik un tuk bayi Anda. Susu hewan, susu formula
(bahkan yang harganya paling mahal), susu bubuk, teh, minuman yang
mengandung gula, air putih, pisang dan padi-padian tidak memiliki kandungan
sebaik ASI. Pasien juga di berikan edukasi terkait personal hygiene
Catatan/Usulan
ke/dari Pendamping
ANC K1-K3
Tanggal Pelaksanaan 29 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemeriksaan Antenatal Care
Identitas Pasien M, 35 tahun, BB: 53kg, TB: 148cm
Latar Belakang Antenatal care (ANC) adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Tujuan
ANC yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin. Antenatal care sebagai salah satu upaya penapisan
awal dari faktor resiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama
kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan
dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan
kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin
ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera
dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care.
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC
komprehensif yang berkualitas minimal 6 kali. Kunjungan pertama ANC
sangat dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu. Pada tahun 2015, hampir
seluruh ibu hamil (95,75%) di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan pertama (K1) dan 87,48% ibu hamil sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan lengkap dengan frekuensi minimal 4 kali sesuai ketentuan tersebut
(K4) (Kemenkes RI, 2016)
Tujuan dari pemeriksaan ANC salah satunya adalah mempersiapkan
wanita dalam menghadapi persalinan (NICE, 2012). Kesiapan persalinan
adalah perencanaan awal dan persiapan melahirkan yang bertujuan untuk
membantu perempuan, suami dan keluarga agar siap untuk melahirkan dengan
membuat rencana menghadapi komplikasi dan hal tak terduga (FCI, 2016;
WHO, 2006). Kesiapan persalinan dapat dinilai di enam level yaitu level
individu perempuan, suami atau keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan dan kebijakan. Pada level individu, perempuan hamil dan
suaminya dapat mempersiapkan persalinan dan menghadapi komplikasi
dengan mengenal tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan bayi, mengidentifikasi penolong persalinan terlatih
dan tempat persalinan, menyediakan tabungan dan mengatur transportasi,
sedangkan pada level keluarga dan lingkungan dapat mengidentifikasi
pendonor darah. Seorang wanita yang telah mempersiapkan keenam unsur
kesiapan persalinan yang telah di jelaskan WHO dikategorikan siap dan
sebaliknya bila mempersiapkan kurang dari keenam unsur kesiapan persalinan
dikategorikan tidak siap.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya wanita yang
dikategorikan siap dalam kesiapan persalinan. Salah satu faktor yang
mendorong kesiapan persalinan adalah kunjungan ANC. Terdapat proporsi
kesiapan yang lebih tinggi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC 6 kali
atau lebih dibandingkan yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk melakukan antenatal untuk
mempersiapkan persalinan
Gambaran Pelaksanaan Melakukan kegiatan ANC terpadu pada ibu hamil saat kunjungan K4 di poli
KIA Puskesmas Lut Tawar pada tanggal 29 Agustus 2022 pukul 08.00-13.00
WIB.
Metode:
Alur yang dilakukan pada pelaksanaan ANC yaitu:
Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini,
data kehamilan saat ini seperti HPHT , kehamilan keberapa dan riwayat
kehamilan lalu seperti jumlah anak, abortus, riwayat persalinan, riwayat
KB, riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi saat ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan berat badan (BB), tinggi badan (TB),
tekanan darah (TD), lingkar lengan (LILA), dan pemeriksaan obstetrik
seperti (TFU, DJJ janin). Semua hasil tersebut kemudian di catat di rekam
medis pasien serta buku KIA.
Kemudian jika pasien kunjungan baru dilakukan ANC terpadu, diberikan
surat pengantar ke laboratorium untuk pengecekan darah lengkap,
golongan darah, urine (protein dan reduksi), gula darah sewaktu (GDS),
triple eliminasi. Setelah hasil keluar pasien diminta kembali ke poli KIA
untuk menyerahkan hasil. Setelah hasil laboratorium keluar selanjutnya
dilakukan analisa oleh dokter umum mengenai kondisi pasien dan
dilanjutkan untuk konseling mengenai kondisi pasien.
Kemudian pasien diberikan vitamin untuk dibawa pulang seperti tablet
besi (Fe), kalsium atau asam folat. Ingatkan untuk kembali kontrol.
Untuk pasien kunjungan baru diarahkan untuk menuju ke poli gizi untuk
pemeriksaan lebih lanjut (ANC terpadu)
Data Pasien
Identitas : Ny.M (35 tahun)
Diagnosa : G3P1A1 hamil 27-29 minggu dengan Anemia
HPHT : 27 Maret 2022
TTP : 4 Januari 2023
Intervensi : Melakukan 10T ANC
1. BB/TB: 53kg / 149cm
2. TD : 110/80 mmHg
3. Status Gizi (LILA): 25 cm (Gizi Baik)
4. TFU : 21 cm
5. Denyut Jantung Janin: 142 x/menit
6. Suntik TT : TT5
7. Memberikan suplemen tablet Fe (90 tab selama hamil)
8. Melakukan tes lab sederhana
Hb: 10,4 g/dl
GDS: 79 mg/dl
Golongan darah: O
HbsAg/ Sifilis/ HIV: Non reaktif
Reduksi: -
Protein:-
9. Temu wicara/ konseling: ANC rutin, makan sehat, istirahat cukup
10. Tatalaksana kasus :
Besi (II) sulfat 200g + Asam folat 0,25mg 2x1
Asam Askorbat (Vit C) tablet 100mg 1x1
Kalsium laktat 1x1
Evaluasi 30 hari untuk cek hb ulang
Monitoring dan Evaluasi:
Pentingnya pemeriksaan ANC rutin di Dokter Kandungan, Puskesmas ataupun
bidan praktek swasta. Karena, dengan melakukan antenatal care yang baik dan
teratur maka Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
dan mengurangi penyulit masa antepartum; Mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan jamani dan rohani ibu hamil dalam menghadapi
proses persalinan; Dapat meningkatkan kesehatan ibu pasca persalinan dan
untuk dapat memberikan ASI; melakukan proses persalinan secara aman dan
memelihara kesehatan ibu sehingga mengurangi kejadian prematuritas,
kelahiran mati dan berat bayi lahir rendah
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 30 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemeriksaan Antenatal Care
Identitas Pasien N, 24 tahun, BB: 52,4kg, TB: 149cm
Latar Belakang Antenatal care (ANC) adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Tujuan
ANC yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin. Antenatal care sebagai salah satu upaya penapisan
awal dari faktor resiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama
kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan
dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan
kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin
ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera
dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care.
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC
komprehensif yang berkualitas minimal 6 kali. Kunjungan pertama ANC
sangat dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu. Pada tahun 2015, hampir
seluruh ibu hamil (95,75%) di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan pertama (K1) dan 87,48% ibu hamil sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan lengkap dengan frekuensi minimal 4 kali sesuai ketentuan tersebut
(K4) (Kemenkes RI, 2016)
Tujuan dari pemeriksaan ANC salah satunya adalah mempersiapkan
wanita dalam menghadapi persalinan (NICE, 2012). Kesiapan persalinan
adalah perencanaan awal dan persiapan melahirkan yang bertujuan untuk
membantu perempuan, suami dan keluarga agar siap untuk melahirkan dengan
membuat rencana menghadapi komplikasi dan hal tak terduga (FCI, 2016;
WHO, 2006). Kesiapan persalinan dapat dinilai di enam level yaitu level
individu perempuan, suami atau keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan dan kebijakan. Pada level individu, perempuan hamil dan
suaminya dapat mempersiapkan persalinan dan menghadapi komplikasi
dengan mengenal tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan bayi, mengidentifikasi penolong persalinan terlatih
dan tempat persalinan, menyediakan tabungan dan mengatur transportasi,
sedangkan pada level keluarga dan lingkungan dapat mengidentifikasi
pendonor darah. Seorang wanita yang telah mempersiapkan keenam unsur
kesiapan persalinan yang telah di jelaskan WHO dikategorikan siap dan
sebaliknya bila mempersiapkan kurang dari keenam unsur kesiapan persalinan
dikategorikan tidak siap.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya wanita yang
dikategorikan siap dalam kesiapan persalinan. Salah satu faktor yang
mendorong kesiapan persalinan adalah kunjungan ANC. Terdapat proporsi
kesiapan yang lebih tinggi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC 6 kali
atau lebih dibandingkan yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk melakukan antenatal untuk
mempersiapkan persalinan
Gambaran Pelaksanaan Melakukan kegiatan ANC terpadu pada ibu hamil saat kunjungan K1 di poli
KIA Puskesmas Lut Tawar pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 08.00-13.00
WIB.
Metode:
Alur yang dilakukan pada pelaksanaan ANC yaitu:
Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini,
data kehamilan saat ini seperti HPHT , kehamilan keberapa dan riwayat
kehamilan lalu seperti jumlah anak, abortus, riwayat persalinan, riwayat
KB, riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi saat ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan berat badan (BB), tinggi badan (TB),
tekanan darah (TD), lingkar lengan (LILA), dan pemeriksaan obstetrik
seperti (TFU, DJJ janin). Semua hasil tersebut kemudian di catat di rekam
medis pasien serta buku KIA.
Kemudian jika pasien kunjungan baru dilakukan ANC terpadu, diberikan
surat pengantar ke laboratorium untuk pengecekan darah lengkap,
golongan darah, urine (protein dan reduksi), gula darah sewaktu (GDS),
triple eliminasi. Setelah hasil keluar pasien diminta kembali ke poli KIA
untuk menyerahkan hasil. Setelah hasil laboratorium keluar selanjutnya
dilakukan analisa oleh dokter umum mengenai kondisi pasien dan
dilanjutkan untuk konseling mengenai kondisi pasien.
Kemudian pasien diberikan vitamin untuk dibawa pulang seperti tablet
besi (Fe), kalsium atau asam folat. Ingatkan untuk kembali kontrol.
Untuk pasien kunjungan baru diarahkan untuk menuju ke poli gizi untuk
pemeriksaan lebih lanjut (ANC terpadu)
Data Pasien
Identitas : Ny.N(24 tahun)
Diagnosa : G1P0A0 hamil 13-15 minggu
HPHT : 4 Juli 2022
TTP : 10 April 2023
Intervensi : Melakukan 10T ANC
1. BB/TB: 52,4kg / 152cm
2. TD : 90/60 mmHg
3. Status Gizi (LILA): 27 cm (Gizi Baik)
4. TFU : 21 cm
5. Denyut Jantung Janin: 152 x/menit
6. Suntik TT : Sudah TT1
7. Memberikan suplemen tablet Fe (90 tab selama hamil)
8. Melakukan tes lab sederhana
Hb: 13,2 g/dl
GDS: 140 mg/dl
Golongan darah: B
HbsAg/ Sifilis/ HIV: Non reaktif
Reduksi: -
Protein:-
9. Temu wicara/ konseling: ANC rutin, makan sehat, istirahat cukup
10. Tatalaksana kasus :
Asam Folat 400mcg 1x1
Monitoring dan Evaluasi:
Pentingnya pemeriksaan ANC rutin di Dokter Kandungan, Puskesmas ataupun
bidan praktek swasta. Karena, dengan melakukan antenatal care yang baik dan
teratur maka Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
dan mengurangi penyulit masa antepartum; Mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan jamani dan rohani ibu hamil dalam menghadapi
proses persalinan; Dapat meningkatkan kesehatan ibu pasca persalinan dan
untuk dapat memberikan ASI; melakukan proses persalinan secara aman dan
memelihara kesehatan ibu sehingga mengurangi kejadian prematuritas,
kelahiran mati dan berat bayi lahir rendah
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 30 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemeriksaan Antenatal Care
Identitas Pasien MS, 22 tahun, BB: 89kg, TB: 151cm
Latar Belakang Antenatal care (ANC) adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Tujuan
ANC yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin. Antenatal care sebagai salah satu upaya penapisan
awal dari faktor resiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama
kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan
dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan
kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin
ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera
dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care.
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC
komprehensif yang berkualitas minimal 6 kali. Kunjungan pertama ANC
sangat dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu. Pada tahun 2015, hampir
seluruh ibu hamil (95,75%) di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan pertama (K1) dan 87,48% ibu hamil sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan lengkap dengan frekuensi minimal 4 kali sesuai ketentuan tersebut
(K4) (Kemenkes RI, 2016)
Tujuan dari pemeriksaan ANC salah satunya adalah mempersiapkan
wanita dalam menghadapi persalinan (NICE, 2012). Kesiapan persalinan
adalah perencanaan awal dan persiapan melahirkan yang bertujuan untuk
membantu perempuan, suami dan keluarga agar siap untuk melahirkan dengan
membuat rencana menghadapi komplikasi dan hal tak terduga (FCI, 2016;
WHO, 2006). Kesiapan persalinan dapat dinilai di enam level yaitu level
individu perempuan, suami atau keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan dan kebijakan. Pada level individu, perempuan hamil dan
suaminya dapat mempersiapkan persalinan dan menghadapi komplikasi
dengan mengenal tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan bayi, mengidentifikasi penolong persalinan terlatih
dan tempat persalinan, menyediakan tabungan dan mengatur transportasi,
sedangkan pada level keluarga dan lingkungan dapat mengidentifikasi
pendonor darah. Seorang wanita yang telah mempersiapkan keenam unsur
kesiapan persalinan yang telah di jelaskan WHO dikategorikan siap dan
sebaliknya bila mempersiapkan kurang dari keenam unsur kesiapan persalinan
dikategorikan tidak siap.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya wanita yang
dikategorikan siap dalam kesiapan persalinan. Salah satu faktor yang
mendorong kesiapan persalinan adalah kunjungan ANC. Terdapat proporsi
kesiapan yang lebih tinggi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC 6 kali
atau lebih dibandingkan yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk melakukan antenatal untuk
mempersiapkan persalinan
Gambaran Pelaksanaan Melakukan kegiatan ANC terpadu pada ibu hamil saat kunjungan K1 di poli
KIA Puskesmas Lut Tawar pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 08.00-13.00
WIB.
Metode:
Alur yang dilakukan pada pelaksanaan ANC yaitu:
Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini,
data kehamilan saat ini seperti HPHT , kehamilan keberapa dan riwayat
kehamilan lalu seperti jumlah anak, abortus, riwayat persalinan, riwayat
KB, riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi saat ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan berat badan (BB), tinggi badan (TB),
tekanan darah (TD), lingkar lengan (LILA), dan pemeriksaan obstetrik
seperti (TFU, DJJ janin). Semua hasil tersebut kemudian di catat di rekam
medis pasien serta buku KIA.
Kemudian jika pasien kunjungan baru dilakukan ANC terpadu, diberikan
surat pengantar ke laboratorium untuk pengecekan darah lengkap,
golongan darah, urine (protein dan reduksi), gula darah sewaktu (GDS),
triple eliminasi. Setelah hasil keluar pasien diminta kembali ke poli KIA
untuk menyerahkan hasil. Setelah hasil laboratorium keluar selanjutnya
dilakukan analisa oleh dokter umum mengenai kondisi pasien dan
dilanjutkan untuk konseling mengenai kondisi pasien.
Kemudian pasien diberikan vitamin untuk dibawa pulang seperti tablet
besi (Fe), kalsium atau asam folat. Ingatkan untuk kembali kontrol.
Untuk pasien kunjungan baru diarahkan untuk menuju ke poli gizi untuk
pemeriksaan lebih lanjut (ANC terpadu)
Data Pasien
Identitas : [Link](22 tahun)
Diagnosa : G1P0A0 Hamil 23-25 minggu
HPHT : 13 Maret 2022
TTP :18 Desember 2022
Intervensi : Melakukan 10T ANC
1. BB/TB: 89kg / 151cm
2. TD : 120/80 mmHg
3. Status Gizi (LILA): 32 cm (Gizi Baik)
4. TFU : 25 cm
5. Denyut Jantung Janin: 148 x/menit
6. Suntik TT : Sudah Lengkap
7. Memberikan suplemen tablet Fe (90 tab selama hamil)
8. Melakukan tes lab sederhana
Hb: 11,5 g/dl
GDS: 116 mg/dl
Golongan darah: B
HbsAg/ Sifilis/ HIV: Non reaktif
Reduksi: -
Protein:-
9. Temu wicara/ konseling: ANC rutin, makan sehat, istirahat cukup
10. Tatalaksana kasus :
Rujuk poli Obgyn RS Fandika untuk USG
Monitoring dan Evaluasi:
Pentingnya pemeriksaan ANC rutin di Dokter Kandungan, Puskesmas ataupun
bidan praktek swasta. Karena, dengan melakukan antenatal care yang baik dan
teratur maka Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
dan mengurangi penyulit masa antepartum; Mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan jamani dan rohani ibu hamil dalam menghadapi
proses persalinan; Dapat meningkatkan kesehatan ibu pasca persalinan dan
untuk dapat memberikan ASI; melakukan proses persalinan secara aman dan
memelihara kesehatan ibu sehingga mengurangi kejadian prematuritas,
kelahiran mati dan berat bayi lahir rendah
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 31 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemeriksaan Antenatal Care
Identitas Pasien RH, 31 tahun, BB: 60,6kg, TB: 159cm
Latar Belakang Antenatal care (ANC) adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Tujuan
ANC yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin. Antenatal care sebagai salah satu upaya penapisan
awal dari faktor resiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama
kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan
dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan
kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin
ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera
dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care.
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC
komprehensif yang berkualitas minimal 6 kali. Kunjungan pertama ANC
sangat dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu. Pada tahun 2015, hampir
seluruh ibu hamil (95,75%) di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan pertama (K1) dan 87,48% ibu hamil sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan lengkap dengan frekuensi minimal 4 kali sesuai ketentuan tersebut
(K4) (Kemenkes RI, 2016)
Tujuan dari pemeriksaan ANC salah satunya adalah mempersiapkan
wanita dalam menghadapi persalinan (NICE, 2012). Kesiapan persalinan
adalah perencanaan awal dan persiapan melahirkan yang bertujuan untuk
membantu perempuan, suami dan keluarga agar siap untuk melahirkan dengan
membuat rencana menghadapi komplikasi dan hal tak terduga (FCI, 2016;
WHO, 2006). Kesiapan persalinan dapat dinilai di enam level yaitu level
individu perempuan, suami atau keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan dan kebijakan. Pada level individu, perempuan hamil dan
suaminya dapat mempersiapkan persalinan dan menghadapi komplikasi
dengan mengenal tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan bayi, mengidentifikasi penolong persalinan terlatih
dan tempat persalinan, menyediakan tabungan dan mengatur transportasi,
sedangkan pada level keluarga dan lingkungan dapat mengidentifikasi
pendonor darah. Seorang wanita yang telah mempersiapkan keenam unsur
kesiapan persalinan yang telah di jelaskan WHO dikategorikan siap dan
sebaliknya bila mempersiapkan kurang dari keenam unsur kesiapan persalinan
dikategorikan tidak siap.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya wanita yang
dikategorikan siap dalam kesiapan persalinan. Salah satu faktor yang
mendorong kesiapan persalinan adalah kunjungan ANC. Terdapat proporsi
kesiapan yang lebih tinggi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC 6 kali
atau lebih dibandingkan yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk melakukan antenatal untuk
mempersiapkan persalinan
Gambaran Pelaksanaan Melakukan kegiatan ANC terpadu pada ibu hamil saat kunjungan K1 di poli
KIA Puskesmas Lut Tawar pada tanggal 31 Agustus 2022 pukul 08.00-13.00
WIB.
Metode:
Alur yang dilakukan pada pelaksanaan ANC yaitu:
Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini,
data kehamilan saat ini seperti HPHT , kehamilan keberapa dan riwayat
kehamilan lalu seperti jumlah anak, abortus, riwayat persalinan, riwayat
KB, riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi saat ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan berat badan (BB), tinggi badan (TB),
tekanan darah (TD), lingkar lengan (LILA), dan pemeriksaan obstetrik
seperti (TFU, DJJ janin). Semua hasil tersebut kemudian di catat di rekam
medis pasien serta buku KIA.
Kemudian jika pasien kunjungan baru dilakukan ANC terpadu, diberikan
surat pengantar ke laboratorium untuk pengecekan darah lengkap,
golongan darah, urine (protein dan reduksi), gula darah sewaktu
(GDS)triple eliminasi. Setelah hasil keluar pasien diminta kembali ke poli
KIA untuk menyerahkan hasil. Setelah hasil laboratorium keluar
selanjutnya dilakukan analisa oleh dokter umum mengenai kondisi pasien
dan dilanjutkan untuk konseling mengenai kondisi pasien.
Kemudian pasien diberikan vitamin untuk dibawa pulang seperti tablet
besi (Fe), kalsium atau asam folat. Ingatkan untuk kembali kontrol.
Untuk pasien kunjungan baru diarahkan untuk menuju ke poli gizi untuk
pemeriksaan lebih lanjut (ANC terpadu)
Data Pasien
Identitas : [Link] (31 tahun)
Diagnosa : G4P3A0 Hamil 19-21 minggu
HPHT : 13 Maret 2022
TTP : 20 Desember 2022
Intervensi : Melakukan 10T ANC
1. BB/TB: 60kg / 159cm
2. TD : 100/70 mmHg
3. Status Gizi (LILA): 26,3 cm (Gizi Baik)
4. TFU : 13 cm
5. Denyut Jantung Janin: 118 x/menit
6. Suntik TT : TT5
7. Memberikan suplemen tablet Fe (90 tab selama hamil)
8. Melakukan tes lab sederhana
Hb: 13,2 g/dl
GDS: 140 mg/dl
Golongan darah: B
HbsAg/ Sifilis/ HIV: Non reaktif
Reduksi: -
Protein:-
9. Temu wicara/ konseling: ANC rutin, makan sehat, istirahat cukup
10. Tatalaksana kasus :
Besi (II) sulfat 200g + Asam folat 0,25mg 1x1
Asam Askorbat (Vit C) tablet 100mg 1x1
Edukasi Pola makan
Monitoring dan Evaluasi:
Pentingnya pemeriksaan ANC rutin di Dokter Kandungan, Puskesmas ataupun
bidan praktek swasta. Karena, dengan melakukan antenatal care yang baik dan
teratur maka Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
dan mengurangi penyulit masa antepartum; Mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan jamani dan rohani ibu hamil dalam menghadapi
proses persalinan; Dapat meningkatkan kesehatan ibu pasca persalinan dan
untuk dapat memberikan ASI; melakukan proses persalinan secara aman dan
memelihara kesehatan ibu sehingga mengurangi kejadian prematuritas,
kelahiran mati dan berat bayi lahir rendah
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 1 September 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemeriksaan Antenatal Care
Identitas Pasien M, 32 tahun, BB: 53kg, TB: 154cm
Latar Belakang Antenatal care (ANC) adalah pengawasan sebelum persalinan terutama
ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Tujuan
ANC yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin. Antenatal care sebagai salah satu upaya penapisan
awal dari faktor resiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama
kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan
dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan
kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin
ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera
dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care.
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC
komprehensif yang berkualitas minimal 6 kali. Kunjungan pertama ANC
sangat dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu. Pada tahun 2015, hampir
seluruh ibu hamil (95,75%) di Indonesia sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan pertama (K1) dan 87,48% ibu hamil sudah melakukan pemeriksaan
kehamilan lengkap dengan frekuensi minimal 4 kali sesuai ketentuan tersebut
(K4) (Kemenkes RI, 2016)
Tujuan dari pemeriksaan ANC salah satunya adalah mempersiapkan
wanita dalam menghadapi persalinan (NICE, 2012). Kesiapan persalinan
adalah perencanaan awal dan persiapan melahirkan yang bertujuan untuk
membantu perempuan, suami dan keluarga agar siap untuk melahirkan dengan
membuat rencana menghadapi komplikasi dan hal tak terduga (FCI, 2016;
WHO, 2006). Kesiapan persalinan dapat dinilai di enam level yaitu level
individu perempuan, suami atau keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan dan kebijakan. Pada level individu, perempuan hamil dan
suaminya dapat mempersiapkan persalinan dan menghadapi komplikasi
dengan mengenal tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan bayi, mengidentifikasi penolong persalinan terlatih
dan tempat persalinan, menyediakan tabungan dan mengatur transportasi,
sedangkan pada level keluarga dan lingkungan dapat mengidentifikasi
pendonor darah. Seorang wanita yang telah mempersiapkan keenam unsur
kesiapan persalinan yang telah di jelaskan WHO dikategorikan siap dan
sebaliknya bila mempersiapkan kurang dari keenam unsur kesiapan persalinan
dikategorikan tidak siap.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih rendahnya wanita yang
dikategorikan siap dalam kesiapan persalinan. Salah satu faktor yang
mendorong kesiapan persalinan adalah kunjungan ANC. Terdapat proporsi
kesiapan yang lebih tinggi pada wanita yang melakukan kunjungan ANC 6 kali
atau lebih dibandingkan yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 6 kali
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk melakukan antenatal untuk
mempersiapkan persalinan
Gambaran Pelaksanaan Melakukan kegiatan ANC terpadu pada ibu hamil saat kunjungan K1 di poli
KIA Puskesmas Lut Tawar pada tanggal 30 Agustus 2022 pukul 08.00-13.00
WIB.
Metode:
Alur yang dilakukan pada pelaksanaan ANC yaitu:
Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini,
data kehamilan saat ini seperti HPHT , kehamilan keberapa dan riwayat
kehamilan lalu seperti jumlah anak, abortus, riwayat persalinan, riwayat
KB, riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
riwayat alergi dan obat-obatan yang dikonsumsi saat ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan berat badan (BB), tinggi badan (TB),
tekanan darah (TD), lingkar lengan (LILA), dan pemeriksaan obstetrik
seperti (TFU, DJJ janin). Semua hasil tersebut kemudian di catat di rekam
medis pasien serta buku KIA.
Kemudian jika pasien kunjungan baru dilakukan ANC terpadu, diberikan
surat pengantar ke laboratorium untuk pengecekan darah lengkap,
golongan darah, urine (protein dan reduksi), gula darah acak (GDS), triple
eliminasi. Setelah hasil keluar pasien diminta kembali ke poli KIA untuk
menyerahkan hasil. Setelah hasil laboratorium keluar selanjutnya
dilakukan analisa oleh dokter umum mengenai kondisi pasien dan
dilanjutkan untuk konseling mengenai kondisi pasien.
Kemudian pasien diberikan vitamin untuk dibawa pulang seperti tablet
besi (Fe), kalsium atau asam folat. Ingatkan untuk kembali kontrol.
Untuk pasien kunjungan baru diarahkan untuk menuju ke poli gizi untuk
pemeriksaan lebih lanjut (ANC terpadu)
Data Pasien
Identitas : Ny.M (32 tahun)
Diagnosa : G1P0A0 hamil 18-20 minggu
HPHT : 2 April 2022
TTP : 9 Januari 2023
Intervensi : Melakukan 10T ANC
1. BB/TB: 53kg / 154cm
2. TD : 100/70 mmHg
3. Status Gizi (LILA): 23,5 cm (Gizi Baik)
4. TFU : 17 cm
5. Denyut Jantung Janin: 139 x/menit
6. Suntik TT : TT5
7. Memberikan suplemen tablet Fe (90 tab selama hamil)
8. Melakukan tes lab sederhana
Hb: 10,4 g/dl
GDS: 95 mg/dl
Golongan darah: A
HbsAg/ Sifilis/ HIV: Non reaktif
Reduksi: -
Protein:-
9. Temu wicara/ konseling: ANC rutin, makan sehat, istirahat cukup
10. Tatalaksana kasus :
Besi (II) sulfat 200g + Asam folat 0,25mg 1x1
Asam Askorbat (Vit C) tablet 100mg 1x1
Kalsium laktat 1x1
Edukasi minum tablet tambah darah dan efek sampingnya
Monitoring dan Evaluasi:
Pentingnya pemeriksaan ANC rutin di Dokter Kandungan, Puskesmas ataupun
bidan praktek swasta. Karena, dengan melakukan antenatal care yang baik dan
teratur maka Mengurangi dan menegakkan secara dini komplikasi kehamilan
dan mengurangi penyulit masa antepartum; Mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan jamani dan rohani ibu hamil dalam menghadapi
proses persalinan; Dapat meningkatkan kesehatan ibu pasca persalinan dan
untuk dapat memberikan ASI; melakukan proses persalinan secara aman dan
memelihara kesehatan ibu sehingga mengurangi kejadian prematuritas,
kelahiran mati dan berat bayi lahir rendah
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
KB Suntik
Tanggal Pelaksanaan 13 September 2022
Judul Laporan Kegiatan KB Suntik
Identitas Pasien HS, 28 tahun
Latar Belakang Pasien sudah memiliki 1 anak, ingin menggunakan KB Suntik 3 bulan
untuk mengatur jarak kelahiran dan pasien takutlupa jika menggunakan KB
pil. Sebelumnya pasien menggunakan Kondom
Gambaran Pelaksanaan 1. Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
2. Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini
3. Menjelaskan bagaimana KB Suntik mencegak kehamilan (mencegah
keluarnya sel telur, mengentalkan lender serviks)
4. Menerangkan efektivitas dan keuntungan, kerugian, efek samping KB
Suntik
5. Menjelaskan jadwal penyuntikan tiap 3 bulan sekali
6. Menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan
7. Mencuci dan mengeringkan tangan
8. Menggunakan sarung tangan
9. Membuka kemasan spuit, jarum dan obat tanpa terkontaminasi
10. Mengencangkan jarum suntik
11. Mengambil obat dalam vial serta mengganti jarum dengan jarum baru
12. Mengatur posisi pasien untuk penyuntikan di daerah bokong
13. Membersihkan kulit tempat suntikan menggunkan KAPAS dtt dengan
gerakan melingkar
14. Menusukkan jarum menyuntik secara IM
15. Melakukan aspirasi
16. Jika tidak terlihat darah terhisap, masukkan obat perlahan sampai
seluruh obat masuk
17. Mencabut jarum secara cepat
18. Menekan tempat bekas jarum suntik menggunakan kapas alkohor tanpa
digosok
19. Buang peralatan yang sudah tidak terpakai pada tempatnya
20. Melepaskan sarung tangan, merendam dalam larutan klorin dan
mencuci tangan
21. Merapikan pasien
22. Mengisi kartu KB dan menyerahkan ke pasien
23. Memberi tahu tanggal suntik kembali
Catatan/Usulan dari/ke
pendamping
Tanggal Pelaksanaan 17 September 2022
Judul Laporan Kegiatan KB Suntik
Identitas Pasien DS, 29 tahun
Latar Belakang Pasien sudah memiliki 2 anak, ingin menggunakan KB Suntik 3 bulan
untuk mengatur jarak kelahiran dan pasien takut lupa jika menggunakan
KB pil. Sebelumnya pasien juga menggunakan KB suntik
Gambaran Pelaksanaan 1. Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
2. Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini
3. Menjelaskan bagaimana KB Suntik mencegak kehamilan (mencegah
keluarnya sel telur, mengentalkan lender serviks)
4. Menerangkan efektivitas dan keuntungan, kerugian, efek samping KB
Suntik
5. Menjelaskan jadwal penyuntikan tiap 3 bulan sekali
6. Menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan
7. Mencuci dan mengeringkan tangan
8. Menggunakan sarung tangan
9. Membuka kemasan spuit, jarum dan obat tanpa terkontaminasi
10. Mengencangkan jarum suntik
11. Mengambil obat dalam vial serta mengganti jarum dengan jarum baru
12. Mengatur posisi pasien untuk penyuntikan di daerah bokong
13. Membersihkan kulit tempat suntikan menggunkan kapas DTT dengan
gerakan melingkar
14. Menusukkan jarum menyuntik secara IM
15. Melakukan aspirasi
16. Jika tidak terlihat darah terhisap, masukkan obat perlahan sampai
seluruh obat masuk
17. Mencabut jarum secara cepat
18. Menekan tempat bekas jarum suntik menggunakan kapas alkohor tanpa
digosok
19. Buang peralatan yang sudah tidak terpakai pada tempatnya
20. Melepaskan sarung tangan, merendam dalam larutan klorin dan
mencuci tangan
21. Merapikan pasien
22. Mengisi kartu KB dan menyerahkan ke pasien
23. Memberi tahu tanggal suntik kembali
Catatan/Usulan dari/ke
pendamping
KB IUD
Tanggal Pelaksanaan 15 September 2022
Judul Laporan Kegiatan Pemasangan KB IUD
Identitas Pasien SY, 20 tahun
Latar Belakang Pasien sudah memiliki 1 anak, ingin menggunakan KB IUD untuk
mengatur jarak kelahiran karena pasien takut lupa jika menggunakan KB
pil atau KB Suntik. Sebelumnya pasien menggunakan KB Kondom
Gambaran Pelaksanaan 1. Pasien mendaftar, kemudian akan di panggil untuk masuk ke poli KIA
2. Melakukan kegiatan diawali dengan anamnesis keluhan pasien saat ini
3. Menjelaskan bagaimana KB IUD mencegah kehamilan (mencegah
keluarnya sel telur, mengentalkan lender serviks)
4. Menerangkan efektivitas dan keuntungan, kerugian, efek samping KB
IUD
5. Jelaskan proses pemasangan AKDR dan apa yang akan klien rasakan
pada saat proses pemasangan dan setelah pemasangan dan persilahkan
klien untuk mengajukan pertanyaan.
Masukkan lengan AKDR Cu T380A di dalam kemasan sterilnya :
Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat kebelakang
Masukkan pendorong kedalam tabung inserter tanpa menyentuh
benda tidak steril
Letakkan kemasan pada tempat yang datar
Selipkan karton pengukur dibawah lengan AKDR
Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter
sampai ke pangkal lengan sehingga lengan akan melipat
Setelah lengan melipat sampai menyentuh tabung inserter, tarik
tabung inserter dari bawah lipatan lengan
Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk
memasukkan lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut ke dalam
tabung inserter.
Pastikan cincin biru sejajar dengan arah lengan AKDR, cocokkan
dengan ukuran kavum uteri
Pastikan ujung pendorong menyentuh ujung AKDR
AKDR siap diinsersikan ke kavum uteri
6. Pakailah sarung tangan yang baru
7. Pasanglah spekulum vagina untuk melihat serviks
8. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali
9. Jepit serviks dengan tenakulum secara hati-hati (takik pertama)
10. Masukkan sonde uterus dengan teknik “Tidak menyentuh” (no touch
tehnique) yaitu secara hati-hati memasukkan sonde ke dalam kavum
uteri dengan sekali masuk tanpa menyentuh dinding vagina ataupun
bibir spekulum.
11. Tentukan posisi dan kedalaman kavum uteri dan keluarkan sonde
12. Ukur kedalaman kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada
di dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung
inserter, kemudian buka seluruh plastik penutup kemasan
13. Angkat tabung AKDR dari kemasannya tanpa menyetuh permukaan
yang tidak steril, hati-hati jangan sampai pendorongnya terdorong.
14. Pegang tabung AKDR dengan leher biru dalam posisi horisontal
(sejajar lengan AKDR). Sementara melakukan tarikan hati-hati pada
tenakulum, masukkan tabung inserter ke dalam uterus sampai leher
biru menyentuh serviks atau sampai terasa adanya tahanan.
15. Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu tangan
16. Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawl yaitu
menarik keluar tabung inserter sampai pangkal pendorong dengan tetap
menahan pendorong
17. Keluarkan pendorong, kemudian tabung inserter didorong kembali ke
serviks sampai leher biru menyentuh serviks atau terasa adanya
tahanan.
18. Keluarkan sebagian dari tabung inserter dan gunting benang AKDR
kurang lebih 3-4 cm
19. Keluarkan seluruh tabung inserter, buang ke tempat sampah
terkontaminasi
20. Lepaskan tenakulum dengan hati-hati, rendam dalam larutan klorin
0,5%
21. Periksa serviks dan bila ada perdarahan dari tempat bekas jepitan
tenakulum, tekan dengan kasa selama 30-60 detik
22. Keluarkan spekulum dengan hati-hati, rendam dalam larutan klorin
0,5%
23. Rendam semua peralatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit untuk dekontaminasi
24. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dipakai lagi (kasa, sarung tangan
sekali pakai) ke tempat yang sudah disediakan (tempat sampah medik)
25. Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5%, buka dalam keadaan terbalik dan rendam dalam
klorin 0,5%
26. Cuci tangan dengan air dan sabun
27. Pastikan klien tidak mengalami kram hebat dan amati selama 15 menit
sebelum memperbolehkan klien pulang
28. Ajarkan klien bagaimana cara memeriksa sendiri benang AKDR dan
kapan harus dilakukan
29. Jelaskan pada klien apa yang harus dilakukan bila mengalami efek
samping
30. Beritahu kapan klien harus datang kembali ke klinik untuk kontrol
31. Ingatkan kembali masa pemakaian AKDR Cu T 380A adalah 10 tahun
32. Yakinkan klien bahwa ia dapat datang ke klinik setiap saat bila
memerlukan konsultasi, pemeriksaan medik atau bila menginginkan
AKDR tersebut dicabut.
33. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan
34. Lengkapi rekam medik dan kartu AKDR untuk klien
Catatan/Usulan dari/ke
pendamping
KB Implan
Tanggal Pelaksanaan 26 September 2022
Judul Laporan Kegiatan Pemasangan Implan
Identitas Pasien K, 27 tahun
Latar Belakang Pasien sudah memiliki 1 anak, ingin menggunakan KB implan untuk
mengatur jarak kehamilan, sebelumnya pasien juga menggunkan KB
implant
Gambaran Pelaksanaan - Dilakukan pengukuran pada tempat pemasangan implant
- Desinfeksi daerah pemasangan implant dan ditutup dengan
menggunakan doek steril
- Dilakukan anestesi local dengan metode infiltrasi pada daerah
pemasangan
- Trochar berisi kapsul implant dimasukkan ke bawah kulit, kapsul
implant dimasukkan di keluarkan perlahan dengan menggunakan
pendorong sambil menarik trochar
- Dilakukan penutupan luka bekas trochar dengan kasa dan plester
Catatan/Usulan dari/ke
pendamping
Tindakan Medis
Tanggal Pelayanan 23 Juli 2022
Data Dasar Pasien SA, 15 tahun
Nama DPJP dr. Linda Yanthy, M.K.M
Diagnosa Vulnus Excoriatum a/r dorsum pedis sinistra
Tindakan Medis Bedah Minor
Ringkasan Penatalaksanaan 1. Menjelaskan tindakan medis yang dilakukan
2. Informed consent (penandatanganan persetujuan tindakan) oleh
keluarga pasien
3. Menyiapkan alat dan bahan
4. Mencuci tangan dan keringkan kemudian memakai sarung tangan steril
5. Membersihkan luka dengan cairan antiseptic
6. Melakukan eksisi, nekrotomi (debridement) pada luka pasien
7. Melakukan eksisi sampai jaringan necrotic dan kotor bersih secara
keseluruhan
8. Permukaan kulit paska eksisi dibersihkan dengan normal saline
9. Keringkan daerah luka, kemudian oleskan salep antibiotic untuk
mencegah infeksi
10. Merapikan pasien dan menanyakan respons pasien terhadap tindakann
yang kita lakukan.
11. Melepas sarung tangan dan memberisihkan alat
12. Mencuci tangan
13. Mendokumentasikan tindakan dan mengisi rekam medis
Umpan Balik dari
Pendamping
Tanggal Pelayanan 17 September 2022
Data Dasar Pasien R, 65 tahun
Nama DPJP dr. Linda Yanthy, M.K.M
Diagnosa Hipertensi Urgency + Susp. Aritmia
Tindakan Medis Pemasangan Infus
Ringkasan Penatalaksanaan 1. Melakukan Anamnesis
S/ Pasien datang dengan keluhan kepala sakit sejak 2 hari yang lalu,
disertai oyong dan jantung berdebar-debar
O/
TD 200/110mmHg
HR: 87 x/menit, irregular
RR: 19 x/menit
T: 36,8C
A/ Hipertensi Urgency+Susp Aritmia
P/ Rujuk IGD RS Datu Beru
2. Menjelaskan tindakan medis yang dilakukan
3. Informed consent (penandatanganan persetujuan tindakan) oleh
keluarga pasien
4. Menyiapkan alat dan bahan
5. Bebaskan lengan pasien dari lengan baju/kemeja
6. Hubungkan cairan infus dengan infus set dan gantungkan.
7. Alirkan cairan infus melalui selang infus sehingga tidak ada udara di
dalamnya.
8. Kencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan
kesterilan.
9. Kencangkan tournikuet/manset tensi meter (tekanan dibawah tekanan
sistolik).
10. Anjurkan pasien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali,
palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk
11. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu
diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Arah
melingkar dari dalam keluar lokasi tusukkan.
12. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm
dibawah tusukkan.
13. Pegang jarum pada posisi 30 derajat pada vena yang akan
ditusuk. setelah pasti masuk lalu tusuk perlahan.
14. Rendahkan posisi jarum sejajar pada kulit dan tarik jarum sedikit lalu
teruskan plastik iv catheter kedalam vena
15. Tekan dengan jari ujung plastik iv catheter
16. Tarik jarum infus keluar
17. Sambungkan plastik iv catheter dengan ujung selang infus.
18. Lepaskan manset
19. Buka klem infus sampai cairan mengalir lancar.
20. Fiksasi posisi plastik iv catheter dengan plester.
21. Atur tetesan infus sesuai ketentuan, pasang stiker yang sudah diberi
tanggal.
22. Evaluasi hasil kegiatan
23. Bereskan alat-alat
24. Cuci tangan
Umpan Balik dari
Pendamping
Tanggal Pelayanan 17 September 2022
Data Dasar Pasien TE, 72 tahun
Nama DPJP dr. Linda Yanthy, M.K.M
Diagnosa Hipertensi Urgency + Susp. Bradikardi
Tindakan Medis Pemasangan Infus
Ringkasan Penatalaksanaan 1. Melakukan Anamnesis
S/ Pasien datang dengan keluhan kepala sakit sejak 2 hari yang lalu,
disertai oyong dan jantung berdebar-debar
O/
TD 210/110mmHg
HR: 51 x/menit, regular
RR: 18 x/menit
T: 36,5C
A/ Hipertensi Urgency+Susp Bradikardi
P/ Rujuk IGD RS Datu Beru
2. Menjelaskan tindakan medis yang dilakukan
3. Informed consent (penandatanganan persetujuan tindakan) oleh
keluarga pasien
4. Menyiapkan alat dan bahan
5. Bebaskan lengan pasien dari lengan baju/kemeja
6. Hubungkan cairan infus dengan infus set dan gantungkan.
7. Alirkan cairan infus melalui selang infus sehingga tidak ada udara di
dalamnya.
8. Kencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan
kesterilan.
9. Kencangkan tournikuet/manset tensi meter (tekanan dibawah tekanan
sistolik).
10. Anjurkan pasien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali,
palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk
11. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu
diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Arah
melingkar dari dalam keluar lokasi tusukkan.
12. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm
dibawah tusukkan.
13. Pegang jarum pada posisi 30 derajat pada vena yang akan
ditusuk. setelah pasti masuk lalu tusuk perlahan.
14. Rendahkan posisi jarum sejajar pada kulit dan tarik jarum sedikit lalu
teruskan plastik iv catheter kedalam vena
15. Tekan dengan jari ujung plastik iv catheter
16. Tarik jarum infus keluar
17. Sambungkan plastik iv catheter dengan ujung selang infus.
18. Lepaskan manset
19. Buka klem infus sampai cairan mengalir lancar.
20. Fiksasi posisi plastik iv catheter dengan plester.
21. Atur tetesan infus sesuai ketentuan, pasang stiker yang sudah diberi
tanggal.
22. Evaluasi hasil kegiatan
23. Bereskan alat-alat
24. Cuci tangan
Umpan Balik dari
Pendamping
Tanggal Pelayanan 12 Oktober 2022
Data Dasar Pasien HA, 40 tahun
Nama DPJP dr. Linda Yanthy, M.K.M
Diagnosa Vulnus Laceratum a/r dorsum pedis sinistra
Tindakan Medis Bedah Minor
Ringkasan Penatalaksanaan 1. Persiapan Alat dan Bahan
2. Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang tujuan dan prosedur yang
akan dilakukan
3. Mencuci tangan.
4. Menyiapkan dan mendekatkan peralatan
5. Membuka set angkat jahitan
6. Menambahkan kasa steril dan lidi kapas steril secukupnya kedalam set
ganti balut.
7. Memakai handscoen bersih.
8. Meletakkan handuk menutup bagian tubuh privasi klien yang terbuka.
9. Meletakkan perlak dibawah luka.
10. Mengatur posisi yang nyaman dan tepat untuk perawatan luka.
11. Membuka plester searah tumbuhnya rambut dan membuka balutan
secara hati- hati, masukkan balutan kotor kedalm kantong plastik yang
sudah disediakan.
12. Membuka handscoen bersih dan ganti dengan handscoen steril.
13. Membersihkan sekitar luka dengan alkohol swab. Beri bethadine pada
luka, dengan arah dari daerah bersih ke arah kotor.
14. Memegang pinset anatomis dengan tangan yang tidak dominan dan
gunting pada tangan yang dominan.
15. Mengangkat simpul benang dengan pinset dan memasukkan ujung
gunting disela-sela antara benang dengan kulit
16. Menggunting benang jahitan dan tarik secara perlahan-lahan.
17. Menggunting sisa benang yang ada dengan prosedur yang sama satu-
persatu, sambil diobservasi adanya luka jahitan yang masih belum
tertutup
18. Membersihkan darah yang mengering pada daerah bekas jahitan
dengan cairan antiseptic / bethadine.
19. Menutup luka dengan kasa steril, lalu fiksasi dengan plester.
20. Membereskan alat-alat dan merapihkan klien.
21. Melepaskan handscoen dan mencucui tangan.
22. Mengevaluasi hasil tindakan
Umpan Balik dari
Pendamping
Tanggal Pelayanan 15 Oktober 2022
Data Dasar Pasien K, 56 tahun
Nama DPJP dr. Linda Yanthy, M.K.M
Diagnosa Post Op Fraktur Os Humerus dextra
Tindakan Medis Bedah Minor
Ringkasan Penatalaksanaan 1. Menjelaskan tindakan medis yang dilakukan
2. Informed consent (penandatanganan persetujuan tindakan) oleh
keluarga pasien
3. Menyiapkan alat dan bahan
4. Mencuci tangan dan keringkan kemudian memakai sarung tangan steril
5. Membersihkan luka dengan cairan antiseptic
6. Melakukan eksisi, nekrotomi (debridement) pada luka pasien
7. Melakukan eksisi sampai jaringan necrotic dan kotor bersih secara
keseluruhan
8. Permukaan kulit paska eksisi dibersihkan dengan normal saline
9. Keringkan daerah luka, kemudian oleskan salep antibiotic untuk
mencegah infeksi
10. Merapikan pasien dan menanyakan respons pasien terhadap tindakann
yang kita lakukan.
11. Melepas sarung tangan dan memberisihkan alat
12. Mencuci tangan
13. Mendokumentasikan tindakan dan mengisi rekam medis
Umpan Balik dari
Pendamping
Deteksi Stunting
Tanggal Pelaksanaan 14 Juli 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemantauan Tumbuh Kembang Untuk Deteksi Stunting
Identitas Bayi/Anak/ AN, Laki-laki, 3 tahun 0 bulan 7 hari
Kelompok Sasaran
Latar Belakang Kegagalan pertumbuhan linier adalah bentuk paling umum akibat
kekurangan gizi secara global yang terwujud dalam bentuk postur tubuh
pendek (stunting). Stunting merupakan masalah gizi utama yang akan
berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti
jelas bahwa individu yang pendek (stunting) memiliki tingkat kematian lebih
tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Pendek
(stunting) akan memengaruhi kinerja fisik dan fungsi mental dan intelektual
akan terganggu.
Pendek (stunting) dapat memberikan dampak bagi kelangsungan hidup
anak. World Health Organization (WHO) (2013) membagi dampak stunting
menjadi dua yaitu dampak jangka pendek berupa penurunan perkembangan
kognitif, motorik dan bahasa dan peningkatan pengeluaran biaya kesehatan.
Dampak jangka panjang berupa perawakan yang pendek, peningkatan risiko
obesitas dan komorbidnya, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan
prestasi, kapasitas belajar dan penurunan kemampuan dan kapasitas kerja.
Diperkirakan 165 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia terkena
dampak kekurangan gizi. Salah satunya kegagalan pertumbuhan linier atau
stunting. Stunting telah diidentifikasi sebagai prioritas kesehatan masyarakat
utama, dan ada target khusus untuk mengurangi kejadian pendek (stunting)
sebesar 40% antara tahun 2010 dan 2025. Data WHO menegaskan bahwa
diperkirakan terdapat 162 juta balita pendek pada tahun 2012, jika upaya
mengurangi kejadian stunting berlanjut secara berkesinambungan,
diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025 (Kemenkes RI, 2016).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada tahun 2018 Indonesia
memiliki prevalensi kejadian Stunting sebesar 30,8%, angka ini menunjukkan
penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama 5 tahun
yaitu sebanyak 37,2% pada tahun 2013.
Menurut Bappenas (2013) bahwa pendek (stunting) bukan persoalan baru,
melainkan persoalan lama yang sampai saat ini masih belum menjadi perhatian
bagi masyarakat (khusus ibu sebagai pengasuh balita) maupun seluruh pejabat
yang berkepentingan. Selama ini, pendek (stunting) kurang mendapat
perhatian khusus karena ada persepsi di masa lalu bahwa pendek (stunting)
bukan suatu yang membahayakan di masa jangka pendek tetapi berbahaya
pada jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah dan kementerian atau
lembaga terkait lainnya seperti Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) perlu
memperhatikan bagaimana pendek (stunting ) ini menjadi masalah serius
terhadap jangka panjang ke depannya.
Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk memperbaiki masalah gizi balita
terutama stunting dengan mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 83 tahun
2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi yang berfokus pada 1000
Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak dalam kandungan (270
hari) hingga sampai dengan anak berusia 6 tahun. Program ini merupakan
langkah awal yang paling penting untuk dilakukan sebagai pemenuhan gizi
pada anak sejak dini. Gerakan 1000 HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik
dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh
sektor kesehatan meliputi, imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring
pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat pada ibu hamil,
promosi ASI ekslusif, MPASI dan lain-lain. Intervensi sensitif adalah berbagai
kegiatan pembangunan luar sektor yang menyasar masyarakat umum seperti
penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan,
ketahanan pangan dan gizi, kesetaraan gender dan lain-lain.
Gambaran Pelaksanaan Ibu pasien datang posyandu ingin memantau tumbuh kembang anak,
memantau status gizi balita
Pasien lahir dengan BBL 3100 gram dan TB 49 cm
Pendaftaran
Melakukan pendaftaran di meja 1 posyandu, kemudian melanjutkan
penimbangan dan pengukuran tinggi badan di meja 2
Menimbang Balita
- Menggunakan timbangan yang kokoh dan akurat
- Pastikan jarum menunjukkan angka 0 (nol) dalam keadaan tanpa muatan
- Timbangan harus diletakkan secara horizontal saat menimbang
- Timbang berat balita, pastikan balita menggunakan pakaian yang
tipis/ringan
- Pastikan jarum penunjuk telah berhenti bergerak pada saat membaca hasil
timbangan
- Gunakan timbangan sesuai kapasitas maksimalnya
Mengukur Tinggi Badan
- Melakukan pengukuran tinggi badan di permukaan lantai dan tembok yang
rata
- Lepaskan alas kaki, topi dan aksesoris rambut
- Pastikan kepala, bahu, bokong, betis dan tumit menyentuh permukaan
dinding
- Tarik microtoise hingga menyentuh puncak kepala balita
- Lihat angka pada microtois
Hasil Pengukuran:
BB: 12 kg
TB: 88 cm
BB/U: -2SD s/d -2SD (Normal)
TB/U: -2SD s/d -3SD (Stunted)
BB/TB: -1SD s/d -1SD (Normal)
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 14 Juli 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemantauan Tumbuh Kembang Untuk Deteksi Stunting
Identitas Bayi/Anak/ AD, Laki-laki, 2 tahun 10 bulan 1 hari
Kelompok Sasaran
Latar Belakang Kegagalan pertumbuhan linier adalah bentuk paling umum akibat
kekurangan gizi secara global yang terwujud dalam bentuk postur tubuh
pendek (stunting). Stunting merupakan masalah gizi utama yang akan
berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti
jelas bahwa individu yang pendek (stunting) memiliki tingkat kematian lebih
tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Pendek
(stunting) akan memengaruhi kinerja fisik dan fungsi mental dan intelektual
akan terganggu.
Pendek (stunting) dapat memberikan dampak bagi kelangsungan hidup
anak. World Health Organization (WHO) (2013) membagi dampak stunting
menjadi dua yaitu dampak jangka pendek berupa penurunan perkembangan
kognitif, motorik dan bahasa dan peningkatan pengeluaran biaya kesehatan.
Dampak jangka panjang berupa perawakan yang pendek, peningkatan risiko
obesitas dan komorbidnya, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan
prestasi, kapasitas belajar dan penurunan kemampuan dan kapasitas kerja.
Diperkirakan 165 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia terkena
dampak kekurangan gizi. Salah satunya kegagalan pertumbuhan linier atau
stunting. Stunting telah diidentifikasi sebagai prioritas kesehatan masyarakat
utama, dan ada target khusus untuk mengurangi kejadian pendek (stunting)
sebesar 40% antara tahun 2010 dan 2025. Data WHO menegaskan bahwa
diperkirakan terdapat 162 juta balita pendek pada tahun 2012, jika upaya
mengurangi kejadian stunting berlanjut secara berkesinambungan,
diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025 (Kemenkes RI, 2016).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada tahun 2018 Indonesia
memiliki prevalensi kejadian Stunting sebesar 30,8%, angka ini menunjukkan
penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama 5 tahun
yaitu sebanyak 37,2% pada tahun 2013.
Menurut Bappenas (2013) bahwa pendek (stunting) bukan persoalan baru,
melainkan persoalan lama yang sampai saat ini masih belum menjadi perhatian
bagi masyarakat (khusus ibu sebagai pengasuh balita) maupun seluruh pejabat
yang berkepentingan. Selama ini, pendek (stunting) kurang mendapat
perhatian khusus karena ada persepsi di masa lalu bahwa pendek (stunting)
bukan suatu yang membahayakan di masa jangka pendek tetapi berbahaya
pada jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah dan kementerian atau
lembaga terkait lainnya seperti Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) perlu
memperhatikan bagaimana pendek (stunting ) ini menjadi masalah serius
terhadap jangka panjang ke depannya.
Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk memperbaiki masalah gizi balita
terutama stunting dengan mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 83 tahun
2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi yang berfokus pada 1000
Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak dalam kandungan (270
hari) hingga sampai dengan anak berusia 6 tahun. Program ini merupakan
langkah awal yang paling penting untuk dilakukan sebagai pemenuhan gizi
pada anak sejak dini. Gerakan 1000 HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik
dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh
sektor kesehatan meliputi, imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring
pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat pada ibu hamil,
promosi ASI ekslusif, MPASI dan lain-lain. Intervensi sensitif adalah berbagai
kegiatan pembangunan luar sektor yang menyasar masyarakat umum seperti
penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan,
ketahanan pangan dan gizi, kesetaraan gender dan lain-lain.
Gambaran Pelaksanaan Ibu pasien datang posyandu ingin memantau tumbuh kembang anak,
memantau status gizi balita
Pasien lahir dengan BBL 3000 gram dan TB 50 cm
Pendaftaran
Melakukan pendaftaran di meja 1 posyandu, kemudian melanjutkan
penimbangan dan pengukuran tinggi badan di meja 2
Menimbang Balita
- Menggunakan timbangan yang kokoh dan akurat
- Pastikan jarum menunjukkan angka 0 (nol) dalam keadaan tanpa muatan
- Timbangan harus diletakkan secara horizontal saat menimbang
- Timbang berat balita, pastikan balita menggunakan pakaian yang
tipis/ringan
- Pastikan jarum penunjuk telah berhenti bergerak pada saat membaca hasil
timbangan
- Gunakan timbangan sesuai kapasitas maksimalnya
Mengukur Tinggi Badan
- Melakukan pengukuran tinggi badan di permukaan lantai dan tembok yang
rata
- Lepaskan alas kaki, topi dan aksesoris rambut
- Pastikan kepala, bahu, bokong, betis dan tumit menyentuh permukaan
dinding
- Tarik microtois hingga menyentuh puncak kepala balita
- Lihat angka pada microtois
Hasil Pengukuran:
BB: 11 kg
TB: 87 cm
BB/U: -2SD s/d -3SD (BB Kurang)
TB/U: -2SD s/d -3SD (Stunted)
BB/TB: -2SD s/d -1SD (Normal)
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 14 Juli 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemantauan Tumbuh Kembang Untuk Deteksi Stunting
Identitas Bayi/Anak/ Q, Perempuan, 3 tahun 9 bulan 10 hari
Kelompok Sasaran
Latar Belakang Kegagalan pertumbuhan linier adalah bentuk paling umum akibat
kekurangan gizi secara global yang terwujud dalam bentuk postur tubuh
pendek (stunting). Stunting merupakan masalah gizi utama yang akan
berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti
jelas bahwa individu yang pendek (stunting) memiliki tingkat kematian lebih
tinggi dari berbagai penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Pendek
(stunting) akan memengaruhi kinerja fisik dan fungsi mental dan intelektual
akan terganggu.
Pendek (stunting) dapat memberikan dampak bagi kelangsungan hidup
anak. World Health Organization (WHO) (2013) membagi dampak stunting
menjadi dua yaitu dampak jangka pendek berupa penurunan perkembangan
kognitif, motorik dan bahasa dan peningkatan pengeluaran biaya kesehatan.
Dampak jangka panjang berupa perawakan yang pendek, peningkatan risiko
obesitas dan komorbidnya, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan
prestasi, kapasitas belajar dan penurunan kemampuan dan kapasitas kerja.
Diperkirakan 165 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia terkena
dampak kekurangan gizi. Salah satunya kegagalan pertumbuhan linier atau
stunting. Stunting telah diidentifikasi sebagai prioritas kesehatan masyarakat
utama, dan ada target khusus untuk mengurangi kejadian pendek (stunting)
sebesar 40% antara tahun 2010 dan 2025. Data WHO menegaskan bahwa
diperkirakan terdapat 162 juta balita pendek pada tahun 2012, jika upaya
mengurangi kejadian stunting berlanjut secara berkesinambungan,
diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025 (Kemenkes RI, 2016).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada tahun 2018 Indonesia
memiliki prevalensi kejadian Stunting sebesar 30,8%, angka ini menunjukkan
penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama 5 tahun
yaitu sebanyak 37,2% pada tahun 2013.
Menurut Bappenas (2013) bahwa pendek (stunting) bukan persoalan baru,
melainkan persoalan lama yang sampai saat ini masih belum menjadi perhatian
bagi masyarakat (khusus ibu sebagai pengasuh balita) maupun seluruh pejabat
yang berkepentingan. Selama ini, pendek (stunting) kurang mendapat
perhatian khusus karena ada persepsi di masa lalu bahwa pendek (stunting)
bukan suatu yang membahayakan di masa jangka pendek tetapi berbahaya
pada jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah dan kementerian atau
lembaga terkait lainnya seperti Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) perlu
memperhatikan bagaimana pendek (stunting ) ini menjadi masalah serius
terhadap jangka panjang ke depannya.
Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk memperbaiki masalah gizi
balita terutama stunting dengan mengeluarkan Peraturan Presiden
nomor 83 tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi yang
berfokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak
dalam kandungan (270 hari) hingga sampai dengan anak berusia 6
tahun. Program ini merupakan langkah awal yang paling penting untuk
dilakukan sebagai pemenuhan gizi pada anak sejak dini. Gerakan 1000
HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.
Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan
meliputi, imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan
balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat pada ibu hamil, promosi
ASI ekslusif, MPASI dan lain-lain. Intervensi sensitif adalah berbagai
kegiatan pembangunan luar sektor yang menyasar masyarakat umum
seperti penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan
kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, kesetaraan gender dan lain-lain.
Gambaran Pelaksanaan Ibu pasien datang posyandu ingin memantau tumbuh kembang anak,
memantau status gizi balita
Pasien lahir dengan BBL 3000 gram dan TB 50 cm
Pendaftaran
Melakukan pendaftaran di meja 1 posyandu, kemudian melanjutkan
penimbangan dan pengukuran tinggi badan di meja 2
Menimbang Balita
- Menggunakan timbangan yang kokoh dan akurat
- Pastikan jarum menunjukkan angka 0 (nol) dalam keadaan tanpa muatan
- Timbangan harus diletakkan secara horizontal saat menimbang
- Timbang berat balita, pastikan balita menggunakan pakaian yang
tipis/ringan
- Pastikan jarum penunjuk telah berhenti bergerak pada saat membaca hasil
timbangan
- Gunakan timbangan sesuai kapasitas maksimalnya
Mengukur Tinggi Badan
- Melakukan pengukuran tinggi badan di permukaan lantai dan tembok yang
rata
- Lepaskan alas kaki, topi dan aksesoris rambut
- Pastikan kepala, bahu, bokong, betis dan tumit menyentuh permukaan
dinding
- Tarik microtois hingga menyentuh puncak kepala balita
- Lihat angka pada microtois
Hasil Pengukuran:
BB: 12,6 kg
TB: 91 cm
BB/U: -2SD s/d -2SD (Normal)
TB/U: -2SD s/d -3SD (Stunted)
BB/TB: -1SD s/d -1SD (Baik)
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Suplementasi Gizi
Tanggal Pelaksanaan 29 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan
Identitas Bayi/Anak/ AD, Laki-Laki, 2 tahun 10 bulan 1 hari
Kelompok Sasaran
Latar Belakang Anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi,
terutama masalah kekurangan gizi seperti kurus, pendek, dan gizi kurang.
Kurang gizi pada anak juga mempengaruhi kemampuan kognitif dan
kecerdasan anak, serta juga menyebabkan rendahnya produktivitas anak.
Status gizi balita dapat mempengaruhi beberapa aspek. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa kurang gizi membawa dampak negatif pada balita, seperti
mengganggu pertumbuhan fisik maupun mental, yang dapat menghambat
prestasi belajar. Dampak lainnya yang ditimbulkan yaitu penurunan daya
tahan, menyebabkan hilangnya masa hidup sehat balita, serta meningkatkan
angka kesakitan, kecacatan, hingga angka kematian pada balita.
Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2016, sekitar
45% kematian pada anak balita di dunia berhubungan dengan gizi kurang dan
sekitar 17 juta anak balita sangat kurus serta 52 juta anak balita kurus.
Berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014, sebanyak 55,7% balita
mempunyai asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE).
Kurangnya asupan anak merupakan salah satu penyebab kurang gizi.
Berdasarkan teori United Nations Children’s Fund (UNICEF), penyebab
langsung kurang gizi yaitu asupan makanan yang tidak seimbang dan penyakit
infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung kurang gizi yaitu persediaan
pangan yang tidak cukup, pola asuh yang kurang baik, pelayanan kesehatan
yang tidak memadai, dan sanitasi yang kurang baik. Penyebab utama kurang
gizi yaitu kemiskinan, pendapatan, kurang pendidikan, pengetahuan, dan
keterampilan. Akar masalah untuk kurang gizi yaitu krisis ekonomi, politik,
dan sosial.
Sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun
2011 mengenai anggaran untuk kegiatan Pemberian Makanan Tambahan
(PMT) Penyuluhan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan
Bagi Balita Gizi Kurang melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK),
maka diperlukan kriteria – kriteria untuk menentukan siapa saja yang layak
untuk mendapatkan bantuan PMT Pemulihan yang sasaran prioritasnya
merupakan balita gizi kurang usia 6 – 59 bulan dari keluarga miskin.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah program intervensi bagi
balita yang menderita gizi kurang yang bertujuan untuk meningkatkan status
gizi anak dan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar tercapai status
gizi dengan kondisi yang baik sesuai dengan umur anak. Makanan untuk
pemulihan gizi adalah makanan pada energi yang diperkaya dengan vitamin
dan mineral yang diberikan kepada balita yang menderita gizi kurang selama
masa pemulihan.
Makanan tambahan yang diberikan kepada anak terutama di negara
berkembang sebaiknya harus difortifikasi dengan zat gizi mikro seperti zat
besi, kalsium, dan zink. Penatalaksanaan diet merupakan cara untuk
menanggulangi masalah gizi kurang pada balita oleh pemerintah dengan PMT
selama 90-120 hari. PMT Pemulihan hanya sebagai makanan tambahan, bukan
dikonsumsi sebagai pengganti makanan utama sehari-hari bagi balita usia 6-59
bulan
PMT Pemulihan adalah suplementasi gizi dalam bentuk makanan
tambahan dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan
mineral yang diperuntukkan bagi kelompok sasaran sebagai tambahan
makanan untuk pemulihan status gizi.(11) Menurut Kemenkes, sasaran
program PMT adalah anak dengan status gizi Bawah Garis Merah (BGM) dan
balita dari keluarga miskin.
Gambaran Pelaksanaan Pasien lahir dengan BBL 3000 gram dan TB 50 cm
Saat ini status gizi pasien
BB: 11 kg
TB: 87 cm
BB/U: -2SD s/d -2SD (Kurang)
TB/U: -2SD s/d -3SD (Stunted)
BB/TB: -2SD s/d -2SD (Baik)
Pdi berikan biscuit makanan tambahan untuk 4 minggu, 1 hari pasien di
berikan 12 keping biscuit, biscuit hanya boleh di konsumsi oleh pasien
Setelah 1 minggu, pasien akan ditimbang kembali untuk menilai tumbuh
kembang dan kenaikan berat badan
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 29 Agustus 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan
Identitas Bayi/Anak/ AP, Perempuan, 3 tahun 3 bulan 6 hari
Kelompok Sasaran
Latar Belakang Anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi,
terutama masalah kekurangan gizi seperti kurus, pendek, dan gizi kurang.
Kurang gizi pada anak juga mempengaruhi kemampuan kognitif dan
kecerdasan anak, serta juga menyebabkan rendahnya produktivitas anak.
Status gizi balita dapat mempengaruhi beberapa aspek. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa kurang gizi membawa dampak negatif pada balita, seperti
mengganggu pertumbuhan fisik maupun mental, yang dapat menghambat
prestasi belajar. Dampak lainnya yang ditimbulkan yaitu penurunan daya
tahan, menyebabkan hilangnya masa hidup sehat balita, serta meningkatkan
angka kesakitan, kecacatan, hingga angka kematian pada balita.
Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2016, sekitar
45% kematian pada anak balita di dunia berhubungan dengan gizi kurang dan
sekitar 17 juta anak balita sangat kurus serta 52 juta anak balita kurus.
Berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014, sebanyak 55,7% balita
mempunyai asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE).
Kurangnya asupan anak merupakan salah satu penyebab kurang gizi.
Berdasarkan teori United Nations Children’s Fund (UNICEF), penyebab
langsung kurang gizi yaitu asupan makanan yang tidak seimbang dan penyakit
infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung kurang gizi yaitu persediaan
pangan yang tidak cukup, pola asuh yang kurang baik, pelayanan kesehatan
yang tidak memadai, dan sanitasi yang kurang baik. Penyebab utama kurang
gizi yaitu kemiskinan, pendapatan, kurang pendidikan, pengetahuan, dan
keterampilan. Akar masalah untuk kurang gizi yaitu krisis ekonomi, politik,
dan sosial.
Sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun
2011 mengenai anggaran untuk kegiatan Pemberian Makanan Tambahan
(PMT) Penyuluhan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan
Bagi Balita Gizi Kurang melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK),
maka diperlukan kriteria – kriteria untuk menentukan siapa saja yang layak
untuk mendapatkan bantuan PMT Pemulihan yang sasaran prioritasnya
merupakan balita gizi kurang usia 6 – 59 bulan dari keluarga miskin.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah program intervensi bagi
balita yang menderita gizi kurang yang bertujuan untuk meningkatkan status
gizi anak dan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar tercapai status
gizi dengan kondisi yang baik sesuai dengan umur anak. Makanan untuk
pemulihan gizi adalah makanan pada energi yang diperkaya dengan vitamin
dan mineral yang diberikan kepada balita yang menderita gizi kurang selama
masa pemulihan.
Makanan tambahan yang diberikan kepada anak terutama di negara
berkembang sebaiknya harus difortifikasi dengan zat gizi mikro seperti zat
besi, kalsium, dan zink. Penatalaksanaan diet merupakan cara untuk
menanggulangi masalah gizi kurang pada balita oleh pemerintah dengan PMT
selama 90-120 hari. PMT Pemulihan hanya sebagai makanan tambahan, bukan
dikonsumsi sebagai pengganti makanan utama sehari-hari bagi balita usia 6-59
bulan
PMT Pemulihan adalah suplementasi gizi dalam bentuk makanan
tambahan dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan
mineral yang diperuntukkan bagi kelompok sasaran sebagai tambahan
makanan untuk pemulihan status gizi.(11) Menurut Kemenkes, sasaran
program PMT adalah anak dengan status gizi Bawah Garis Merah (BGM) dan
balita dari keluarga miskin.
Gambaran Pelaksanaan Pasien lahir dengan BBL 3500 gram dan TB 51 cm
Saat ini status gizi pasien
BB: 10,5 kg
TB: 90 cm
BB/U: -2SD s/d -3SD (Kurang)
TB/U: -2SD s/d -2SD (Normal)
BB/TB: -3SD s/d -2SD (Baik)
Pasien berikan biscuit makanan tambahan untuk 4 minggu, 1 hari pasien di
berikan 12 keping biscuit, biscuit hanya boleh di konsumsi oleh pasien
Setelah 1 minggu, pasien akan ditimbang kembali untuk menilai tumbuh
kembang dan kenaikan berat badan
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tracing Penyakit Menular
Tanggal Pelaksanaan 13 September 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Tracing Penyakit Menular (Varicella)
Identitas Target Tracing PDP
(ODR/ODP/PDP, dsb) A, 9 tahun, BB: 25kg TB: 131 cm
Latar Belakang Penyakit menular adalah penyakit yang dapat berpindah dari individu
yang sakit ke individu yang sehat atau rentan terkena penyakit tersebut.
Penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus dan
jamur. Untuk beberapa penyakit menular, seperti tuberkulosis, hepatitis,
malaria, cacar air, dan influenza, penularan dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung (melalui perantara).
Penyebaran penyakit menular menjadi suatu kegundahan juga menjadi
suatu ancaman bagi masyarakat, karena penyakit menular umumya bersifat
dadakan tanpa disadari dan dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dalam
waktu tertentu, penyebaran penyakit menular dapat ditularkan secara langsung
maupun tidak langsung. Varicella merupakan salah satu penyakit yang dapat
ditularkan melalui kontak langsung
Varicella juga disebut dengan chickenpox, di Indonesia sendiri sering
dikenal dengan sebutan cacar air. Menurut Theresia & Hadinegoro, (2016)
mengatakan bahwa cacar air termasuk jenis penyakit menular yang menjangkit
manusia, Varisela dapat mengenai semua kelompok umur termasuk neonatus,
tetapi hampir 90% kasus menyerang anak dibawah umur 10 tahun dan paling
banyak pada umur 5 hingga 9 tahun tidak terkecuali pada usia dewasa ada juga
yang terjangkit penyakit varicella atau cacar air tersebut. Hal tersebut
disebabkan oleh Virus Varicella Zoster (VZV). Infeksi varicella sendiri
biasanya memiliki keparahan rendah. Prevalensi serologis meningkat dengan
bertambahnya usia, mulai dari 86% di antara anak-anak usia 6 hingga 11 tahun
hingga 99,9% di antara orang dewasa yang berusia 40 tahun atau lebih.
Cacar air disebabkan oleh infeksi suatu virus yang bernama virus
varicella zoster (VZV) yang dapat disebarkan oleh manusia melalui cairan,
selain dari cairan percikan ludah juga dari cairan yang berasal dari vesikel kulit
orang yang menderita penyakit cacar air. Varicella Zoster Virus (VZV)
termasuk bagian dari alphaherpes yang merupakan sebagai jenis virus
imunogenik, sehingga menjadi penyakit endemik akut yang umum sering
menyerang manusia menyatakan bahwa Infeksi varisela bersifat pandemik dan
sangat menular. Penularan dari droplet saluran pernafasan dari seseorang yang
terinfeksi virus fase akut, virus yang bergabung dengan udara atau kontak
langsung dengan penderita melalui lesi pada kulit.
Perkiraan beban penyakit tahunan global karena varicella adalah
substansial menurut memperkirakan beban penyakit varicella tiap tahunnya
mencapai 4,2 juta komplikasi, termasuk 4.200 kematian. Walaupun
begitu,angka ini masih lebih rendah dibandingkan kematian akibat penyakit
menular lain seperti campak, pertussis, dan rotavirus. Angka insidensi dan
prevalensi serologis cacar air di Indonesia kurang diperhatikan, sehingga
Margha & Wardhana, (2020) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
epidemiologis varicella di Indonesia penting dilakukan, hal tersebut
disampaikan juga dalam penelitian Sely et al., (2021) bahwa di Indonesia tidak
banyak penelitian yang mencatat kasus Varicella atau cacar air.
Penyakit cacar air ditandai dengan munculnya gejala yaitu sakit kepala,
demam, kelelahan ringan kemudian diikuti dengan munculnya ruam pada kulit
dan rasa gatal (Wicaksono et al., 2019), dan munculnya fase prodromal dengan
klinis gejala demam dan malaise diikuti erupsi dan muncul rash/ruam yang
khas (Rosyidah & Anam, 2020). Theresia & Hadinegoro, (2016) mengatakan
bahwa meskipun gejala klinis varisela tidak berat namun pada remaja, orang
dewasa dan anak dengan status imunitas menurun dapat meningkatkan angka
kesakitan hingga kematian.
Gambaran Pelaksanaan Pasien datang dengan keluhan muncul bintil bintil berisi air sejak 3 hari
yang lalu, awalnya bintil berisi air timbul di wajah kemudian menyebar ke
dada perut dan seluruh tubuh. Sebelum muncul bintil pasien demam tidak
terlalu tinggi dan pasien hanya minum paracetamol. Pasien tidak mengeluhkan
batuk, pilek maupun diare.
Pasien tinggal berlima dalam satu rumah, nenek pasien mengalami keluhan
yang sama 2 minggu yang lalu, saat ini abang pasien juga mengalami keluhan
yang sama, Akan tetapi Ayah, dan Ibu tidak mengalami keluhan serupa
Dari tracing didapatkan bahwa pasien tertular dari nenek pasien
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping
Tanggal Pelaksanaan 13 September 2022
Kegiatan
Judul Laporan Kegiatan Tracing Penyakit Menular (Varicella)
Identitas Target Tracing PDP
(ODR/ODP/PDP, dsb) A, 13 Tahun, BB: 30 kg, TB: 142 cm
Latar Belakang Penyakit menular adalah penyakit yang dapat berpindah dari individu
yang sakit ke individu yang sehat atau rentan terkena penyakit tersebut.
Penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus dan
jamur. Untuk beberapa penyakit menular, seperti tuberkulosis, hepatitis,
malaria, cacar air, dan influenza, penularan dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung (melalui perantara).
Penyebaran penyakit menular menjadi suatu kegundahan juga menjadi
suatu ancaman bagi masyarakat, karena penyakit menular umumya bersifat
dadakan tanpa disadari dan dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dalam
waktu tertentu, penyebaran penyakit menular dapat ditularkan secara langsung
maupun tidak langsung. Varicella merupakan salah satu penyakit yang dapat
ditularkan melalui kontak langsung
Varicella juga disebut dengan chickenpox, di Indonesia sendiri sering
dikenal dengan sebutan cacar air. Menurut Theresia & Hadinegoro, (2016)
mengatakan bahwa cacar air termasuk jenis penyakit menular yang menjangkit
manusia, Varisela dapat mengenai semua kelompok umur termasuk neonatus,
tetapi hampir 90% kasus menyerang anak dibawah umur 10 tahun dan paling
banyak pada umur 5 hingga 9 tahun tidak terkecuali pada usia dewasa ada juga
yang terjangkit penyakit varicella atau cacar air tersebut. Hal tersebut
disebabkan oleh Virus Varicella Zoster (VZV). Infeksi varicella sendiri
biasanya memiliki keparahan rendah. Prevalensi serologis meningkat dengan
bertambahnya usia, mulai dari 86% di antara anak-anak usia 6 hingga 11 tahun
hingga 99,9% di antara orang dewasa yang berusia 40 tahun atau lebih.
Cacar air disebabkan oleh infeksi suatu virus yang bernama virus
varicella zoster (VZV) yang dapat disebarkan oleh manusia melalui cairan,
selain dari cairan percikan ludah juga dari cairan yang berasal dari vesikel kulit
orang yang menderita penyakit cacar air. Varicella Zoster Virus (VZV)
termasuk bagian dari alphaherpes yang merupakan sebagai jenis virus
imunogenik, sehingga menjadi penyakit endemik akut yang umum sering
menyerang manusia menyatakan bahwa Infeksi varisela bersifat pandemik dan
sangat menular. Penularan dari droplet saluran pernafasan dari seseorang yang
terinfeksi virus fase akut, virus yang bergabung dengan udara atau kontak
langsung dengan penderita melalui lesi pada kulit.
Perkiraan beban penyakit tahunan global karena varicella adalah
substansial menurut memperkirakan beban penyakit varicella tiap tahunnya
mencapai 4,2 juta komplikasi, termasuk 4.200 kematian. Walaupun
begitu,angka ini masih lebih rendah dibandingkan kematian akibat penyakit
menular lain seperti campak, pertussis, dan rotavirus. Angka insidensi dan
prevalensi serologis cacar air di Indonesia kurang diperhatikan, sehingga
Margha & Wardhana, (2020) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
epidemiologis varicella di Indonesia penting dilakukan, hal tersebut
disampaikan juga dalam penelitian Sely et al., (2021) bahwa di Indonesia tidak
banyak penelitian yang mencatat kasus Varicella atau cacar air.
Penyakit cacar air ditandai dengan munculnya gejala yaitu sakit kepala,
demam, kelelahan ringan kemudian diikuti dengan munculnya ruam pada kulit
dan rasa gatal (Wicaksono et al., 2019), dan munculnya fase prodromal dengan
klinis gejala demam dan malaise diikuti erupsi dan muncul rash/ruam yang
khas (Rosyidah & Anam, 2020). Theresia & Hadinegoro, (2016) mengatakan
bahwa meskipun gejala klinis varisela tidak berat namun pada remaja, orang
dewasa dan anak dengan status imunitas menurun dapat meningkatkan angka
kesakitan hingga kematian.
Gambaran Pelaksanaan Pasien datang dengan keluhan muncul bintil bintil berisi air sejak 2 hari
yang lalu, awalnya bintil berisi air timbul di wajah kemudian menyebar ke
dada perut dan seluruh tubuh. Sebelum muncul bintil pasien demam tidak
terlalu tinggi tapi pasien belum minum obat.. Pasien tidak mengeluhkan batuk,
pilek maupun diare.
Pasien tinggal berlima dalam satu rumah, nenek pasien mengalami keluhan
yang sama 2 minggu yang lalu, saat ini adik pasien juga mengalami keluhan
yang sama, Akan tetapi Ayah, dan Ibu tidak mengalami keluhan serupa
Dari tracing didapatkan bahwa pasien tertular dari nenek dan adik pasien
Catatan/Usulan dari/ ke
Pendamping