0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan5 halaman

Mencari Gantungan Kunci dan Cinta

Cerita dimulai dengan Arlka yang sedang mencari gantungan kunci yang hilang. Ia kemudian melihat Keyra yang sedang bernyanyi diiringi gitar. Arlka mulai menyukai Keyra. Mereka kemudian pergi ke toko buku bersama Bima, Keyra, dan Nara. Di tengah perjalanan, Arlka terlihat memikirkan perasaannya pada Keyra.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan5 halaman

Mencari Gantungan Kunci dan Cinta

Cerita dimulai dengan Arlka yang sedang mencari gantungan kunci yang hilang. Ia kemudian melihat Keyra yang sedang bernyanyi diiringi gitar. Arlka mulai menyukai Keyra. Mereka kemudian pergi ke toko buku bersama Bima, Keyra, dan Nara. Di tengah perjalanan, Arlka terlihat memikirkan perasaannya pada Keyra.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 1

Langkah tegap, diiringi tatapan tajam dari mata lelaki yang tengah berjalan menyusuri lorong
terasa sangat mengintimidasi. Dedaunan yang bergoyang tertiup angin, serta lingkungan
sekitar yang sepi, menciptakan suasana tenang dengan sedikit bumbu ketengangan layaknya
sebuah film.

Dia sedang menunggu temannya sambil mencari barangnya yang hilang. Sore ini terlihat
cukup cerah, akan terasa agak disayangkan jika hanya dihabiskan untuk menunggu dan
mencari. Langkahnya terus melaju, sedangkan kepalanya terus ia arahkan pada setiap sudut
jalan yang ia lewati. Lelaki itu sedang mencari sebuah gantungan kunci bulan dengan inisial
huruf E yang berada di tengahnya.

Sial! ternyata gantungan itu sulit untuk ditemukan. Mungkin sudah ada orang yang
mengambilnya? Sudahlah, lelaki itu terlihat sudah pasrah. Sepertinya cukup mustahil jika
harus mencari gantungan kunci kecil di sekolah yang besar ini. Ia cukup bodoh dan teledor,
Bagaimana bisa ia kehilangan benda yang begitu spesial?

Dengan langkah berat, ia kembali menyusuri jalan. Tak apa, ia akan kembali memesan
gantungan yang baru. Awalnya ia memutuskan untuk pulang dan meninggalkan temannya
itu, tetapi sesuatu malah menahannya.

Lelaki itu terpaku kala ia melihat seorang gadis sedang bernyanyi diiringi alunan gitar yang ia
petik sendiri. Gadis itu adalah temannya, lelaki itu sudah cukup lama mengenalnya. Bahkan
tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya kalau ia akan menyukai gadis itu.

Suaranya sangat indah, lelaki itu ingin mendengarnya setiap hari. Mereka memang tak
berbagi cerita layaknya teman, hanya mengobrol, bercanda, dan saling memperhatikan. Tapi
setelah melihatnya hari ini, lelaki itu jadi semakin ingin mengenalnya lebih dari seorang
teman.

"Key sini aku yang gitarin," Bima tiba-tiba datang dan mengambil alih gitar dari tangan
Keyra.

"Ditunggu taunya malah kesini," gumam lelaki itu kala melihat Bima menghampiri Keyra.

Lelaki itu dengan cepat langsung acuh pada Bima. Saat ini Ia tengah bersender pada tembok
yang menghadap langsung ke hadapan Keyra. Agar tak terlihat mencolok, dia sesekali
melihat ponselnya, meskipun hanya untuk sekedar membolak balikkan menu.
"Nyanyi apa?" Keyra bergeser agar Bima bisa duduk.
"Payung teduh, akad."
"Oke," Keyra tersenyum.
"Eh ka, sini. ngapain lo di situ?" ucap Bima ketika melihat Arlka, tentu saja Keyra pun
langsung ikut melihat ke arah Arlka ketika Bima memanggilnya.
Keyra tersenyum, kemudian melambaikan tangannya.
Arlka hanya mengangguk, lalu segera menghampiri Bima. Sekolah memang sudah sepi,
karena sudah bubar 30 menit lalu.
Bima mulai memainkan gitarnya, dan Keyra mulai menyanyi.
"Bila nanti saatnya tlah tiba,
kuingin kau menjadi milikku,
berjalan bersamamu dalam terik dan hujan,
berlarian kesana kemari dan tertawa,
namun bila saat berpisah tlah tiba,
izinkanku menjaga dirimu,
berdua menikmati pelukan di ujung waktu,
sudikah kau menjadi temanku,
sudikah kau menjadi,
milikku~"
Setelah mengakhiri lagu, Keyra langsung mendapatkan tepuk tangan dari Bima dan Arlka.
Keyra memang memiliki suara yang bagus, namun dia tidak memiliki minat untuk mengikuti
ajang pencarian bakat menyanyi atau apapun itu. Maka dari itu, ketika Bima dan Arlka
mencoba menyarankan ia untuk ikut lomba menyanyi, Keyra langusng menolak dengan
tegas. Baginya, menanyi hanyalah sebuah hobi untuk melepas penat.

"Kenapa ga ikut lomba nyanyi aja sih Key?" tanya Bima.


Dengan cepat Keyra langsung menolak. "Enggak mau."
"Kok gitu? siapa tau jadi artis."
"Bener tuh Key, coba ikut aja." Arlka ikut menyarankan.
"Pilihan tetep enggak berubah ya. Enggak mau!" tolak Keyra dengan tegas.
"Ya udah deh iya," ucap Bima pasrah. Temannya ini agak sulit untuk dibujuk.

Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang memanggil.
"KEYRAAA!!!" Nara memanggil dari kejauhan dengan 2 buah minuman dingin di
tangannya.
"Siniii!" Keyra memberi isyarat dengan tangannya agar Nara menghampirinya.
"Nih pesenannya," Nara langsung memberikan satu minum yang ia bawa ketika sampai di
depan Keyra.
"Makasih Naraaa," Keyra menerima minuman yang diberikan Nara dengan senyum khasnya.
Bima mengulurkan kedua lengannya dihadapan Dina, sebagai isyarat jika dia meminta
minuman yang sama dengan Keyra.
"Nih!" Dina memberikan satu minuman yang ia bawa.
"Karna kita ga tau Arlka ada di sini, jadi minumnya berdua sama dia," ucap Nara.
"Iya-iya, mau Ka?" tawar Bima.
"Enggak."
"Tuh Arlkanya enggak mau," ucap Bima.
"Udah minum aja," ucap Arlka.
"Beneran nih?" Keyra memastikan sekali lagi kepada Arlka. Siapa tahu ia akan berubah
pikiran.
"Benerrrr," Jawab Arlka dengan penuh keyakinan.
Setelah mendengar konfirmasi dari Arlka, Bima langsung menghabiskan minuman yang
diberikan Dina tanpa tersisa sedikitpun, membuat mereka semua menganga tak percaya.
"Haus?" tanya Nara.
"Pake nanya segala nih mak lampir," jawab Bima dengan sedikit umpatan halus.
"Ditanya tuh di jawab, bukannya ngegas ya daegal!" Nara yang tak mau kalah, ikut
mengumpat dengan halus.
"Bodo, mau pulang kapan?" tanya Bima sambil memperhatikan temannya.
"Sekarang, udah dijemput nih," ucap Dina.
"Yaudah ayo," Bima mengajak semua temannya untuk pulang sekarang dan berjalan ke
parkir sekolah.
Mereka berjalan ke tempat parkir untuk pulang. Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada
beberapa murid yang sedang mengikuti kegiatan ekskul, dan beberapa guru yang sedang
mengecek tugas.
"Balik duluan ya," Dina berpamitan kepada teman-temannya setelah melihat di gerbang
depan seseorang yang menjemputnya.
"Iyaaa hati-hati," ucap Keyra.
Dina melambaikan tangannya, lalu segera berlari menuju gerbang depan.

Kini tersisa Bima, Keyra, dan Nara yang berjalan menuju tempat parkir sekolah.
"Lo pulbar aku Key?" tanya Bima saat sampai di tempat parkir.
"Iya, kan mau beli buku," jawab Keyra.
Bima lupa, ia sudah membuat janji dengan Arlka. Arlka bahkan rela menunggunya cukup
lama tadi. Sebagai solusi, karena Bima sudah terlanjur janji pada Keyra dan Arlka, akhirnya
dia memutuskan untuk mengajak Arlka ke toko buku dan untungnya Arlka menyetujuinya.
Melihat Bima, Keyra dan Arlka yang akan pergi ke toko buku, Nara pun meminta untuk ikut
bersama mereka. Nara mengatakan jika di rumah pun dia tidak melakukan apa-apa, jadi lebih
baik ikut ke toko buku bersama Bima, Arlka, dan Keyra. Akhirnya, mereka pergi ke toko
buku bersama. Keyra yang dibonceng oleh Bima dan Nara oleh Arlka.

"Ikut jugaa, gabut dirumah," ucap Nara sambil menunjukan muka memelasnya pada Keyra
dan Bima
"Boleh, biar rame-ramean," ucap Bima.
"Nebeng," ucap Nara.
"Boleh, gih sama Arlka," ucap Bima.
"Ka.... nebeng yaaa plissss," Nara menatap Arlka penuh harap.
"Naik."
"Yes, makasihhhh Arlkaa," Nara naik perlahan ke atas motor besar Arlka.

Dari tadi Arlka tak bisa fokus pada jalan di depannya, matanya sesekali melihat ke arah
Keyra dan Bima yang sedang tertawa, mereka sungguh terlihat sangat bahagia. Seolah tak
pernah memiliki beban dalam hidupnya.
Kadang Arlka selalu berpikir, apakah ia harus berani? Jujur saja, ia masih agak takut
semenjak ditinggalkan seseorang yang berharga untuknya. Dia tidaklah lemah, dia adalah
lelaki yang sangat kuat. Tapi semua orang memiliki ketakutan masing masing bukan? dia pun
begitu, karena tak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

"Sampeee," ucap Bima ketika mereka sampai di depan toko buku yang cukup besar.
"Parkir dulu, sampe-sampe," ucap Keyra di dekat telinga Bima. Agar lelaki itu mendengarnya
dengan jelas.
Mereka memang sudah sampai, tetapi baru sampai di pinggir jalannya, bukan sampai di
tempat parkir. Keyra memang sudah hafal betul sifat sahabatnya ini, mereka sudah berteman
sejak TK. Rumah mereka bahkan hanya terhalang satu rumah saja.
"Sampaiinya beneran.." ucap Bima ketika sudah sampai di tempat parkir.
"Iya-iya," Keyra turun perlahan dari motor Bima.
Nara menghampiri Keyra yang baru saja turun dengan terburu-buru, ia menarik Keyra agak
menjauh dari Bima, kemudian membisikkan sesuatu padanya.
"Key, Leon nungguin di depan, dia liat aku dibonceng Arlka."
"Leon?"
"Iyaa, gue ke sana dulu ya?" Nara terlihat sangat cemas.
"Enggak bisa, bareng aja."
"Nanti dia marah Key."
"Aku udah bilang berkali-kali Nara. Putusin Leon."
"Enggak bisa."
"Alasannya sayang dia? Basi Ra," Keyra berusaha menyadarkan sahabatnya dengan kata-
kata.
"Key pliss, biar aku aja yang kesana sendiri ya?" Nara mulai smemohon.
Bima sempat heran saat Nara menarik Keyra untuk menjauh, tadinya Bima ingin segera
menyusulnya, tapi motornya belum terparkir dengan benar. Ia memilih untuk memarkirkan
motornya terlebih dahulu, dan setelah itu baru pergi menghampiri mereka.
"Lagi apa nih, kok bisik-bisik?" tanya Bima. Setelah memarkirkan motor, ia langsung
menghampiri Nara dan keyra.
"Enggak kok Bim hehe," Nara memberi kode pada Keyra untuk tidak memberi tahu Bima,
dan Keyra langsung mengerti.
"Nara mau beli makan katanya," ucap Keyra.
"Bareng aja kalau gitu," Bima menyarankan, karena ia pun sudah merasa sedikit merasa
lapar.
"Nanti kesorean. Ya udah gih Ra, jangan lama-lama. Langsung nyusul ke atas ya," ucap
Keyra agar Bima tak lagi meminta Nara untuk pergi bersama.
"Ya udah, duluan ya," Nara berpamitan pada Keyra dan Bima. Ia harus berterima kasih pada
Keyra karena telah menyelamatkannya dari Bima.
Bima memang selalu berdebat dengan Nara. Tapi dibalik itu, Bima adalah lelaki yang baik. Ia
sangat tak suka jika teman-temannya tersakiti.
Bima melihat ke arah Arlka, lelaki itu masih menerima telepon dari Ibunya. Saat Arlka
menurunkan ponsel dari telinganya Bima langsung menghampirinya.
"Udah nelponnya?" tanya Bima pada Arlka.
Arlka mengangguk dan Bima langsung menggandeng tangan Keyra.
"Ayoo!"

Anda mungkin juga menyukai