0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan17 halaman

Definisi dan Habitat Burung Aves

Burung termasuk kelas hewan bertulang belakang yang memiliki bulu, paruh tidak bergigi, dan sayap yang dimodifikasi untuk terbang. Burung menempati berbagai habitat mulai dari hutan hingga lahan pertanian dan perairan. Jenis dan jumlah burung yang hidup di suatu habitat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya seperti makanan, tempat bersarang, dan perlindungan dari predator. Habitat yang baik untuk burung adalah habitat yang mampu memenuhi

Diunggah oleh

Syaiful Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan17 halaman

Definisi dan Habitat Burung Aves

Burung termasuk kelas hewan bertulang belakang yang memiliki bulu, paruh tidak bergigi, dan sayap yang dimodifikasi untuk terbang. Burung menempati berbagai habitat mulai dari hutan hingga lahan pertanian dan perairan. Jenis dan jumlah burung yang hidup di suatu habitat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya seperti makanan, tempat bersarang, dan perlindungan dari predator. Habitat yang baik untuk burung adalah habitat yang mampu memenuhi

Diunggah oleh

Syaiful Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

1 Definisi Burung

Burung termasuk dalam kelas Aves, sub Phylum Vertebrata dan masuk ke

dalam Phylum Chordata, yang diturunkan dari hewan berkaki dua Welty (1982)

dalam Darmawan (2006). Burung dibagi dalam 29 ordo yang terdiri dari 158

famili, merupakan salah satu diantara kelas hewan bertulang belakang. Burung

berdarah panas dan berkembangbiak melalui telur. Tubuhnya tertutup bulu dan

memiliki bermacam-macam adaptasi untuk terbang. Burung memiliki pertukaran

zat yang cepat kerena terbang memerlukan banyak energi. Suhu tubuhnya tinggi

dan tetap sehingga kebutuhan makanannya banyak, (Darmawan, 2006).

Gambar 1. Morfologi burung

Welty (1982) dalam Darmawan (2006), mendeskripsikan burung sebagai

hewan yang memiliki bulu, tungkai atau lengan depan termodifikasi untuk

terbang, tungkai belakang teradaptasi untuk berjalan, berenang dan hinggap,


5

4
paruh tidak bergigi, jantung memiliki empat ruang, rangka ringan, memiliki

kantong udara, berdarah panas, tidak memiliki kandung kemih dan bertelur.

Tiap jenis burung dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri morfologi eksternal yang

relatif mudah diamati. Ciri-ciri tersebut antara lain panjang total tubuh burung

yang di ukur dari paru sampai ekor untuk menentukan besar atau kecilnya tubuh

burung. Warna burung pada bagian-bagian tubuh utama seperti kepala, sayap,

ekor, tubuh bagian depan dan belakang. Selain warna bulu, warna bagian tubuh

lain seperti kaki dan mata juga sering kali dapat menjadi ciri pembeda jenis.

2.2 Penyebaran Burung

Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat

hutan maupun habitat bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman

pertanian, pekarangan, gua, padang rumput, savana dan habitat perairan.

Penyebaran jenis burung dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan tempat hidup

burung, meliputi adaptasi burung terhadap perubahan lingkungan, kompetisi dan

seleksi alam (Welty, 1982).

Pergerakan satwa liar baik dalam skala sempit maupun luas merupakan

usaha untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Burung membutuhkan suatu koridor

untuk melakukan pergerakan yang dapat menghubungkan dengan sumber

keanekaragaman. Penyebaran suatu jenis burung disesuaikan dengan

pergerakkannya atau kondisi lingkungan seperti pengaruh luas kawasan,

ketinggian tempat dan letak geografis. Burung merupakan kelompok satwaliar

yang paling merata penyebarannya, ini disebabkan karena kemampuan terbang

yang dimilikinya, (Alikodra, 2002).


6

Kehadiran suatu burung pada suatu habitat merupakan hasil pemilihan

karena habitat tersebut sesuai untuk kehidupannya. Pemilihan habitat ini akan

menentukan burung pada lingkungan tertentu. Beberapa spesies burung tinggal di

daerah-daerah tertentu, tetapi banyak spesies yang bermigrasi secara teratur dari

suatu daerah ke daerah yang lain sesuai dengan perubahan musim. Jalur migrasi

yang umum dilewati oleh burung yaitubagian Utara dan Selatan bumi yang

disebut Latitudinal. Pada musim panas, burung-burung bergerak atau tinggal di

daerah sedang dan daerah-daerah sub Arktik dimana terdapat tempat-tempat untuk

makan dan bersarang, serta kembali ke daerah tropik untuk beristirahat selama

musim salju. Beberapa spesies burung melakukan migrasi altitudinal yaitu ke

daerah-daerah pegunungan selama musim panas dan ini terdapat di Amerika Utara

bagian Barat, (Pratiwi, 2005).

2.3 Habitat Burung

Habitat adalah suatu lingkungan dengan kondisi tertentu yang dijadikan

tempat suatu jenis atau komunitas hidup. Habitat yang baik akan

mendukung perkembangbiakan organisme yang hidup didalamnya secara

normal. Habitat memiliki kapasitas tertentu untuk mendukung pertumbuhan

populasi suatu organisme. Habitat merupakan bagian penting bagi distribusi dan

jumlah burung, (Bibby et al, 2000).

Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat

hutan maupun habitat bukan hutan. Menurut Welty (1982) dalam Darmawan

(2006), setiap burung yang hidup di alam membutuhkan dua kebutuhan dasar

yaitu bahan dan energi. Bahan menyediakan media untuk hidup burung, seperti

udara dan daratan, sedangkan energi didapatkan burung dari makanan dan energi

matahari.
7

Sebagai komponen habitat burung, pohon dapat berfungsi sebagai cover

(tempat berlindung dari cuaca dan predator, bersarang, bermain beristirahat, dan

mengasuh anak). Selain menyediakan bagian-bagian pohon (daun, bunga, dan

buah) suatu pohon dapat berfungsi sebagai habitat (atau niche habitat) berbagai

jenis organisme lain yang merupakan makanan tersedia bagi burung (Setiawan

dkk, 2006).

Faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan makanan,

tempat untuk istirahat, bermain, kawin, bersarang, bertengger dan berlindung.

Kemampuan areal menampung burung ditentukan oleh luasan, komposisi dan

struktur vegetasi, banyaknya tipe ekosistem dan bentuk areal serta keamanan,

Muhammad (2012). Burung merupakan salah satu margasatwa yang terdapat

hampir di setiap tempat, tetapi untuk hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu

yaitu adanya kondisi habitat yang cocok, baik, serta aman dari segala macam

gangguan.

Habitat yang baik harus dapat menyediakan pakan, air, tempat berlindung,

tempat beristirahat dan tidur malam, serta tempat untuk berkembangbiak baik

ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas. Habitat burung terbentang mulai dari tepi

pantai hingga ke puncak gunung. Burung yang memiliki habitat khusus di tepi

pantai tidak dapat hidup di pegunungan dan sebaliknya. Namun ada pula spesies

burung-burung generalis yang dapat dijumpai di beberapa habitat. Misalnya

burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang dapat dijumpai pada habitat bakau

hingga pinggiran hutan dataran rendah, (Suryadi, 2006).

Tipe habitat utama pada jenis burung sangat berhubungan dengan

kebutuhan hidup dan aktivitas hariannya. Tipe burung terdiri dari tipe burung

hutan (forest birds), burung hutan kayu terbuka (open woodland birds), burung
8

lahan budidaya (cultivated birds), burung pekarangan rumah (rural area birds),

burung pemangsa (raptor birds) dan burung air atau perairan (water birds),

(Kurnia, 2003).

Menurut komposisinya di alam, habitat satwa liar terdiri dari 3 komponen

utama yang satu sama lain saling berkaitan, yaitu: 1. Komponen biotik meliputi:

vegetasi, satwaliar, dan organisme mikro. 2. Komponen fisik meliputi: air, tanah,

iklim, topografi, dll. 3. Komponen kimia, meliputi seluruh unsur kimia yang

terkandung dalam komponen biotik maupun komponen fisik.

Secara fungsional, seluruh komponen habitat di atas menyediakan pakan,

air dan tempat berlindung bagi satwa liar burung. Jumlah dan kualitas ketiga

sumber daya fungsional tersebut akan membatasi kemampuan habitat untuk

mendukung populasi satwa liar. Komponen fisik habitat (iklim, topografi, tanah

dan air) akan menentukan kondisi fisik habitat yang merupakan faktor pembatas

bagi ketersediaan komponen biotik di habitat tersebut, (Irwanto, 2006).

Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat

hutan maupun habitat bukan hutan. Bentuk habitat yang baik untuk kelangsungan

hidup burung adalah habitat yang mampu melindungi dari gangguan maupun

menyediakan kebutuhan hidupnya, (Hernowo, 1989).

Komposisi dan struktur vegetasi juga mempengaruhi jenis dan jumlah

burung yang terdapat di suatu habitat. Jenis tanaman dan ekosistem yang

beragam lebih mampu mendukung kebutuhan burung karena mempunyai

komponen yang lebih lengkap. Suatu habitat yang digemari oleh suatu jenis

burung belum tentu sesuai untuk kehidupan jenis burung yang lain, karena pada

dasarnya setiap jenis burung memiliki preferensi habitat yang berbeda-beda,

(Irwanto, 2006).
9

Menurut Alikodra (2002), kondisi kualitas dan kuantitas habitat akan

menentukan komposisi, penyebaran dan produktifitas satwaliar termasuk

burung. Suatu habitat yang baik untuk perkembang biakan burung biasanya adalah

habitat yang dapat memberikan potensi pakan yang cukup besar.

Ketersediaan makanan merupakan faktor yang sangat penting bagi kelangsungan

hidup suatu jenis burung, banyak jenis mencari makan pada areal yang lebih luas

dan biasanya mereka memperoleh pakan dari daerah yang telah tereksploitasi,

(Harris, 1997).

Pemilihan habitat terbentuk karena beberapa organisme yang tinggal

disuatu tempat yang dihuni lebih mendukung untuk menghasilkan banyak

keturunan yang ditinggalkannya bila dibandingkan dengan organisme-organisme

di tempat lain. Ketika habitat berubah, beberapa jenis tidak mampu beradaptasi

dengan cepat dan oleh karena itu hanya sebagian habitat yang potensial untuk

dijadikan tempat tinggalnya (Krebs, 2013). Sejumlah studi telah menunjukkan

kuatnya pengaruh struktur vegetasi terhadap distribusi jenis burung. Selain itu,

manusia dapat mempengaruhi burung-burung dan habitatnya secara langsung

melalui modifikasi vegetasi dan perburuan (Bibby et al, 2000). Adanya berbagai

tipe vegetasi dengan berbagai bentuk penutupan lahan dan ketinggian suatu

wilayah kecenderungan akan memberikan pengaruh terhadap jenis dan perilaku

satwa yang dijumpai. Struktur vegetasi pada areal hutan tanaman terbagi menjadi

dua strata yaitu tumbuhan bawah dan tumbuhan penutup (Utari, 2000).

2.4 Konservasi Burung

Karena besarnya jumlah penduduk dan meningkatnya tekanan expolitasi

terhadap semua sumber daya yang memiliki, maka tidak dapat dihindarkan bahwa

alam berada dalam status kemunduran. Hutan didesak sampai kepuncak gunung
10

yang paling tinggi, burung-burung diburu untuk di makan, atau di jual. Bagaimana

burung-burung ini dapat bertahan menghadapi perubahan yang terus berlangsung?

Tindakan konservasi apa yang telah diambil untuk melindungi mreka?

Tindakan yang dilakukan oleh pihak pemerintah untuk melakukan

perlindungan terhadap burung adalah dengan adanya Alam di Jawa dan Bali

paling banyak mengalami perubahan, karena 68% populasi penduduk Indonesia

tinggal du pulau ini (yang luasnya hanya 10% luas total Indonesia). Hanya 10%

luas pulau Jawa dan Bali yang masih tetap merupakan hutan, umumnya ada di

daerah pegunungan. Hutan dataran rendah sudah hampir tidak ditemukan. Kurang

dari 3% yang masih tertutup popohonan dan hanya tinggal separuhnya merupakan

kawasan yang di lindungi tidak mengherankan jika jenis burung tampaknya

benarbenar telah menghilang dari pulau Jawa. Beberapa jenis sudah tidak terlihat

selama beberapa tahun terakhir, bahkan beberapa jenis lainnya memang sudah

jarang ditemukan.

Hilangnya jenis-jenis burung di pulau Jawa tentunya memerlukan

perhatian yang serius, karena dapat dijadikan indikator untuk memperkirakan apa

yang akan terjadi di pulau lainnya di Sunda Besar, terutama karena adanya

penebangan hutan. Studi penyebaran burung hutan, dalam berbagai ukuran, sisa

hutan di Jawa memperlihatkan beberapa pulau yang menarik. Misalnya, pulau

Jawa merperlihatkan suatu profil yang abnormal dalam penyebaran burung pada

berbagai ketinggian. Pada diagram memperliahtkan proporsi yang hidup pada

berbagai ketinggian dpl (diatas permukaan laut). Di Jawa dibandingkan dengan

proporsi di Kalimantan dan Sumatra. Hal ini menunjukkan kekayaan jenis burung

yang maksimal di hutan dataran rendah yang kering, dengan pengurangan jumlah

jenis secara bertahap, sesuai dengan peningkatan ketinggian. Jumlah jenis hanya
11

sedikit diimbangi oleh penambahan sejumlah jenis burung pegunungan yang

muncul pada berbagai ketinggian, (Van Balen, 1987).

Kelangkaan burung di pedesaan di Jawa, baik ditinjau dari jumlah maupun

keanekaragamannya, sangat menyedihkan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi

antara penggunaan pestisida, kehilangan habitat, dan penembakan dengan senapan

angin dan ketapel. Di Sumatra, situasinya agar lebih baik, karena masih ada hutan

tertutup seluas 20-30%. Akan tetapi, hutan seluas ini juga dapat menghilang

dengan sangat cepat, apa lagi laju pertambahan penduduk disini lebih cepat di

bandingkan dengan pulau-pulau yang lain.

2.5 Konservasi Satwa

Menurut Undang – undang no.5 tahun 1990 tentang Konservasi

sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya pasal 1 menjelaskan bahwa konservasi

sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang

pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan

persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas

keanekaragaman dan nilainya. Konservasi atau conservation dapat diartikan

sebagai suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam

memanfaatkan sumberdaya alam sehingga dapat menghasilkan keuntungan

sebesar-besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap

memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-

aspirasi generasi generasi yang akan datang.


12

Berdasarkan pengertian tersebut, konservasi mencakup berbagai aspek

positif, yaitu perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan secara berkelanjutan,

restorasi, dan penguatan lingkungan alam. Pengertian tersebut juga menekankan

bahwa konservasi tidak bertentangan dengan pemanfaatan aneka ragam varietas,

jenis dan ekosistem untuk kepentingan manusia secara maksimal selama

pemanfaatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Akan tetapi dalam praktek

di lapangan, kerap kali masih ditemukan pengertian dan persepsi tentang

konservasi yang keliru, yaitu seolah-olah konservasi melarang total pemanfataan

sumberdaya alam. Berlandaskan pada pengertian tersebut masyarakat, khususnya

penduduk setempat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi, dilarang keras

untuk dapat menikmati berbagai manfaat yang diberikan oleh lingkungan

sekitarnya. Penduduk dipisahkan dengan lingkungannya secara paksa, padahal

mereka secara turun-temurun telah lama tinggal di wilayahnya.

Konservasi lahir akibat adanya semacam kebutuhan untuk melestarikan

sumber daya alam yang diketahui mengalami degradasi mutu secara tajam.

Dampak degradasi tersebut, menimbulkan kekhawatiran dan jika tidak diantisipasi

akan membahayakan umat manusia, terutama berimbas pada kehidupan generasi

mendatang pewaris alam ini. Sisi lain, batasan konservasi dapat dilihat

berdasarkan pendekatan tahapan wilayah, yang dicirikan oleh: (1) pergerakan

konservasi, ide-ide yang berkembang pada akhir abad ke 19, yaitu yang hanya

menekankan keaslian bahan dan nilai dokumentasi, (2) teori konservasi modern,

didasarkan pada penilaian kritis pada bangunan bersejarah yang berhubungan

dengan keaslian, keindahan, sejarah, dan penggunaan nilainilai lainnya,

(Rachman, 2012).
13

Dilihat dari sudut pelaku gerakan dan arah yang dilakukan dalam rangka

melaksanakan konservasi, terdapat dua gerakan yang berupaya melaksanakannya.

Pertama, gerakan konservasi kebendaan yang umumnya dilakukan oleh para

arsitek, pakar sejarah arsitektur, perencana kota, pakar geologi dan jurnalis.

Kedua, gerakan konservasi kemasyarakatan, yaitu gerakan konservasi yang

melibatkan para pakar ilmu sosial, arsitek, pekerja sosial, kelompok swadaya

masyarakat, bahkan tokoh politik. Berdasarkan konsep, cakupan, dan arah

konservasi dapat dinyatakan bahwa konservasi merupakan sebuah upaya untuk

menjaga, melestarikan, dan menerima perubahan dan/atau pembangunan.

Perubahan yang dimaksud bukanlah perubahan yang terjadi secara drastis dan

serta merta, melainkanmperubahan secara alami yang terseleksi. Hal tersebut

bertujuan untuk tatap memelihara identitas dan sumber daya lingkungan dan

mengembangkan beberapa aspeknya untuk memenuhi kebutuhan arus modernitas

dan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan demikian, konservasi merupakan

upaya mengelola perubahan menuju pelestarian nilai dan warisan budaya yang

lebih baik dan berkesinambungan. Dengan kata lain bahwa dalam konsep

konservasi terdapat alur memperbaharui kembali (renew), memanfaatkan kembali

(reuse), reduce (mengurangi), mendaurulangkembali (recycle).

2.6 Status Perlindungan Burung

Jenis-jens burung di pulau Kangean perlu di ketahui status

keterancamannya berdasarkan beberapa status perlindungan. Terdapat tiga

kategori status perlindungan yang berlaku di wilayah Indonesia menurut

Sukmantoro dkk, (2007) yaitu :

1. Status keterancaman menurut IUCN (International Union for Conservation

of Nature and Natural Resources) Kategori status keterancaman mengacu pada


14

Redlist IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural

Resources) 2007 yang meliputi CR= Critically Endangered (sangat terancam

punah), EN = Endangered (terancam punah) contonya adalah burung

Ciconia stormi atau bangau storm, Vurnerable (terancam) contohnya adalah

burung Pycnonotus zeylanicus atau Cucak Rawa, NT = Near Threatened

(mendekati terancam) contohnya adalah burung Anhinga melanogaster atau

pecuk ular asia NE = Not Evaluated (belum dievaluasi ), DD = Data Deficient

(data kurang), EX= Extinct (punah), EW= Extinct in the Wild (punah di

dalam), LC= Least Concern (tidak dicantumkan dalam daftar) contohnya adalah

burung Haliastur Indus atau elang bondol.

2. Status Peraturan Perdagangan Internasional menurut CITES CITES

(Convention on International Trade of Endangered Jenis of Wild Fauna and

Flora) mengelompokkan kategori-kategori jenis dalam 3 Appendix

(Lampiran) yaitu Appendix I ( semua jenis yang terancam punah dan berdampak

apabila diperdagangkan. Perdagangan hanya diijinkan dalam kondisi tertentu

misalnya untuk riset ilmiah). Appendix II (jenis yang statusnya belum terancam

tetapi akan terancam punah apabila dieksploitasi berlebihan) contohnya adalah

burung kangkareng perut hitam, kangkareng perut putih, dan cucak rawa.

Appendix III (seluruh jenis yang juga dimasukan dalam peraturan perdagangan

dan Negara lain berupaya mengontrol dalam perdagangan tersebut agar terhindar

dari eksploitasi yang tidak berkelanjutan).

3. Status Perlindungan dan Hukum Negara Republik Indonesia Status

perlindungan jenis menurut tata aturan di Indonesia mengacu pada UU No. 5/1990

tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. PP No.

7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan PP No. 8/1999
15

tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Pycnonotus zeylanicus

merupakan contoh burung yang masuk pada perlindungan UU No. 5/1990, .

PP No. 7/1999, PP No. 8/1999.

Dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang

Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, disebut 93 Burung Langka dilindungi

undang-undang, walau dalam judul disebut jenis namun jika kita baca dengan

seksama dalam lampiran tersebut terdapat daftar 14 famili, empat genus, dan

empat anak jenis, secara keseluruhan terdapat lebih dari 93 jenis burung yang

dilindungi undang-undang.

IUCN Red List pertama kali dikeluarkan pada tahun 1984. Setiap 5-10

tahun dilakukan evaluasi terhadap setiap spesies. Berikut ini status konservasi

versi IUCN Red List, diurutkan dari tingkatan paling bawah :

1. Not Evaluated / NE (Belum dievaluasi)

Spesies yang berstatus seperti ini sama sekali belum pernah dilakukan observasi,

sehingga tidak diketahui berapa populasinya di alam bebas. Mengingat banyaknya

spesies flora dan fauna di seluruh dunia, tentu masih banyak spesies yang

berstatus NE.

2. Data Deficient / DD (Informasi Kurang)

Spesies ini sebenarnya sudah diobservasi, tetapi belum menyeluruh, sehingga

informasi yang terkumpul belum memadai untuk membuat perkiraan akan risiko

kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi. Dalam IUCN Red List

tercatat 5.813 hewan dan 735 tumbuhan yang berstatus DD. Contoh burung

berstatus DD di Indonesia adalah punggok papua (Uroglaux dimorpha ).

3. Least Concern / LC (Berisiko Rendah)


16

Status ini diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi, namun tidak masuk ke

dalam kategori manapun. Dalam IUCN Red List tercatat 17.535 hewan dan 1.488

tumbuhan yang berstatus LC.

4. Near Threatened / NT (Hampir Terancam)

Status NT diberikan kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan

terancam atau mendekati terancam kepunahan, tetapi belum termasuk dalam status

terancam. Dalam IUCN Red List tercatat 2.574 hewan dan 1.076 tumbuhan yang

berstatus NT. Contohnya alap-alap doria, punai sumba, dan cucak rante mas.

5. Vulnerable / VU (Rentan)

Status VU merupakan peningkatan dari NT. Spesies dinyatakan berstatus VU jika

mulai berisiko kepunahan di alam liar pada masa-mada mendatang. Dalam IUCN

Red List tercatat 4.467 hewan dan 4.607 tumbuhan yang berstatus VU. Contohnya

burung kasuari, merak hijau, dan kakatua maluku.

6. Endangered / EN (Genting / Terancam)

Spesies yang berstatus EN menghadapi risiko kepunahan di alam liar di masamasa

mendatang, tetapi kemungkinannya punah lebih besar daripada spesies berstatus

VU. Dalam IUCN Red List tercatat 2.573 hewan dan 2.316 tumbuhan yang

berstatus EN, contohnya burung maleo dan mentok rimba.

7. Critically Endangered / CR (Kritis)

Inilah status yang sekarang disandang elang jawa dan jalak bali. Untuk

nonburung, ada harimau sumatera, badak jawa, badak sumatera, orangutan

sumatera, dan rusa bawean. CR adalah status yang diberikan kepada spesies yang

menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat. Dalam IUCN Red List tercatat
17

1.742 hewan dan 1.577 tumbuhan yang berstatus Kritis.

8. Extinct in the Wild / EW (Punah di Alam Liar)

Ada beberapa spesies yang di alam liar (habitat asli) sudah punah, tetapi masih

bisa dijumpai di tempat penangkaran, kebun binatang, pusat karantina, dan

sebagainya. Spesies seperti inilah yang ditetapkan dalam status EW. Dalam IUCN

Red List tercatat 38 hewan dan 28 tumbuhan yang berstatus EW. Contoh, burung

merpati socorro (Zenaida graysoni).

9. Extinct / EX (Punah)

Inilah yang paling kita takutkan. Jangan sampai spesies burung asli Indonesia

ditetapkan dalam status EX. Status ini diberikan jika spesies yang dimaksud

benar-benar terbukti (tidak ada keraguan lagi) sudah punah, ditandai dengan

kematian individu individu terakhir dari spesies. Dalam IUCN Red List tercatat

723 hewan dan 86 tumbuhan yang berstatus Punah.

Contoh satwa Indonesia yang telah punah antara lain harimau jawa dan harimau

bali. Adapun spesies burung di dunia yang sudah punah antara lain : Elang haast

Harpagornis moorei), Moa (mirip burung emu), keluarga burung Dinornithidae.

2.7 Keanekaragaman Jenis Burung Di Pulau-pulau Kecil

Odum (1993), mengatakan bahwa keanekaragaman jenis tidak hanya

berarti kekayaan atau banyaknya jenis, tetapi juga kemerataan (evenness)

dari kelimpahan individu tiap jenis. Keanekaragaman dibedakan atas tiga

ukuran meliputi kekayaan jenis (species richness), keanekaragaman jenis

(diversity), dan kemerataan jenis (evenness).


18

Keanekaragaman jenis burung berbeda pada setiap habitat, tergantung

kondisi lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Krebs (2013),

menyebutkan bahwa ada enam faktor yang saling berkaitan yang menentukan naik

turunnya keanekaragaman jenis suatu komunitas yaitu waktu, heterogenitas,

ruang, persaingan, pemangsaan, dan kestabilan lingkungan dan produktivitas.

Menurut Sutopo (2008), informasi tentang kekayaan jenis burung dapat diperoleh

dengan menggunakan metode daftar jenis. MacKinnon et al (2010), menyatakan

bahwa daftar jenis burung menjadi jauh lebih berguna jika dapat menunjukkan

kelimpahan jenis. Beberapa keuntungan dengan menggunakan daftar jenis yaitu

tidak terlalu bergantung pada pengalaman dan pengetahuan pengamat, intensitas

pengamatan, dan keadaan cuaca. Indeks kekayaan jenis Shannon-Wiener

merupakan ukuran nisbah keanekaragaman yang paling sering digunakan oleh

para ahli ekologi untuk mengukur keanekaragaman jenis satwaliar (Sutopo, 2008),

karena menurut Magurran (1988) pertimbangan yang mendasari penggunaan

indeks tersebut adalah kepekaan terhadap perubahan ukuran unit contoh (rendah

sampai sedang), kemampuan mendeteksi perbedaan antara unit contoh atau lokasi

(sedang sampai tinggi) dan kemudahan dalam proses perhitungan (semuanya

sederhana).

2.8 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas:

penggunaan lahan semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman

semusim diutamakan untuk tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan

rotasi atau tumpang sari dan panen dilakukan setiap musim dengan periode

biasanya kurang dari setahun. Penggunaan lahan tanaman tahunan merupakan

penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan setelah hasil


19

tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi, seperti pada tanaman

perkebunan. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan yang tidak

diusahakan untuk pertanian, seperti hutan, daerah konservasi, perkotaan, desa dan

sarananya, lapangan terbang, dan pelabuhan.

Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe

penggunaan lahan (Land Utilization Type) yaitu jenis-jenis penggunaan lahan

yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan, masukan yang

diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Setiap jenis penggunaan

lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe penggunaan lahan bukan

merupakan tingkat kategori dari klasifikasi penggunaan lahan, tetapi mengacu

kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya dibawah kategori

penggunaan lahan secara umum, karena berkaitan dengan aspek masukan,

teknologi, dan keluarannya. Sifat-sifat penggunaan lahan mencakup data dan atau

asumsi yang berkaitan dengan aspek hasil, orientasi pasar, intensitas modal,

buruh, sumber tenaga, pengetahuan teknologi penggunaan lahan, kebutuhan

infrastruktur, ukuran dan bentuk penguasaan lahan, pemilikan lahan dan tingkat

pendapatan per unit produksi atau unit areal. Tipe penggunaan lahan menurut

sistem dan modelnya dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound.

Multiple: Tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebih dari

satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu

areal yang sama dari sebidang lahan. Setiap penggunaan memerlukan masukan

dan kebutuhan, serta memberikan hasil tersendiri. Sebagai contoh kelapa ditanam

secara bersamaan dengan kakao atau kopi di areal yang sama pada sebidang lahan.

Demikian juga yang umum dilakukan secara diversifikasi antara tanaman cengkih

dengan vanili atau pisang.


20

Compound: Tipe penggunaan lahan yang tergolong compound terdiri lebih

dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari

sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal.

Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada suatu sekuen atau urutan waktu,

dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak, tetapi pada areal yang

berbeda pada sebidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang sama.

Sebagai contoh suatu perkebunan besar sebagian areal secara terpisah (satu blok

atau petak) digunakan untuk tanaman karet, dan blokatau petak lainnya untuk

kelapa sawit. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama.

Kebun didefenisikan sebagai usahatani tanah darat menetap dengan

penanaman tanaman tahunan (Dephut, 2006). Kebun merupakan penggunaan

lahan yang identik dengan masyarakat pedesaan disekitar wilayah peyangga taman

nasional, dimana usaha tani ini menjadi sumber mata pencaharian utama

masyarakat. Penggunaan lahan kebun di wilayah ini memiliki berbagai tipe

pengelolaan baik yang monokultur maupun polikultur.

Common questions

Didukung oleh AI

Di daerah yang mengalami urbanisasi cepat seperti Jawa dan Bali, tindakan konservasi berupa pembatasan pembangunan, pembentukan koridor ekologis, restorasi habitat alami, dan penerapan kebijakan hukum yang ketat dapat mengurangi risiko kehancuran habitat untuk burung .

Struktur vegetasi berpengaruh besar terhadap distribusi dan jenis burung di suatu habitat. Vegetasi menyediakan komponen biotik seperti konsumsi makanan yang mendukung kehidupan burung, dan struktur vegetasi yang beragam memungkinkan dukungan terhadap beragam spesies. Selain itu, manusia dapat mempengaruhi burung dan habitatnya melalui modifikasi vegetasi .

Perubahan habitat, seperti degradasi atau modifikasi lahan, dapat mengurangi atau merusak komponen biotik dan fisik habitat, menyebabkan gangguan pada ketersediaan sumber daya vital bagi burung. Akibatnya, beberapa spesies mungkin tidak dapat beradaptasi dengan cepat, menurunkan populasi atau menyebabkan kepunahan lokal .

Konservasi bertujuan untuk menjaga dan melestarikan habitat asli burung sambil mengelola perubahan secara berkelanjutan. Upaya ini melibatkan pembaharuan habitat, pengawasan pemanfaatan, serta kontrol perdagangan satwa secara internasional dan lokal seperti diatur dalam CITES dan UU konservasi .

Penyebaran burung di alam liar dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan tempat hidup, adaptasi terhadap perubahan lingkungan, kompetisi, dan seleksi alam. Selain itu, pergerakan dalam skala luas untuk memenuhi tuntutan hidup, ketersediaan koridor untuk pergerakan, serta kondisi lingkungan seperti luas kawasan, ketinggian, dan letak geografis juga berpengaruh .

Lahan non-hutan seperti pekarangan, ladang pertanian, dan savana menjadi habitat alternatif bagi burung yang beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Burung dapat menggunakan vegetasi yang tersedia untuk bersarang dan mencari makan, dan adaptasi ini memungkinkan mereka tetap bertahan meski habitat hutan mulai berkurang .

Migrasi mempengaruhi distribusi geografis dengan memindahkan burung sesuai musim dari satu wilayah ke wilayah lain yang menyediakan makanan dan tempat bersarang yang optimal. Jalur migrasi latitudinal dan altitudinal seperti ke area sub-Arktik pada musim panas atau ke daerah pegunungan saat musim panas menunjukkan kompleksitas pola distribusi burung .

Habitat yang baik mendukung perkembangbiakan burung dengan menyediakan komponen dasar kebutuhan hidup seperti pakan, air, tempat berlindung, dan sarana untuk bersarang. Komposisi dan struktur vegetasi yang beragam dapat mendukung jenis dan jumlah burung, serta menyediakan energi dan bahan yang dibutuhkan burung .

Spesies dengan status "Critically Endangered" menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat dan lebih besar daripada spesies "Near Threatened", yang mungkin berada dalam keadaan mendekati terancam kepunahan tetapi belum termasuk dalam status terancam .

Komponen utama habitat burung meliputi komponen fisik seperti air, tanah, dan iklim; komponen biotik seperti vegetasi dan satwa liar; serta komponen kimia seperti unsur kimia dalam komponen biotik dan fisik. Semuanya berfungsi menyediakan sumber daya dasar seperti pakan, air, dan perlindungan .

Anda mungkin juga menyukai