2.
1 Definisi Burung
Burung termasuk dalam kelas Aves, sub Phylum Vertebrata dan masuk ke
dalam Phylum Chordata, yang diturunkan dari hewan berkaki dua Welty (1982)
dalam Darmawan (2006). Burung dibagi dalam 29 ordo yang terdiri dari 158
famili, merupakan salah satu diantara kelas hewan bertulang belakang. Burung
berdarah panas dan berkembangbiak melalui telur. Tubuhnya tertutup bulu dan
memiliki bermacam-macam adaptasi untuk terbang. Burung memiliki pertukaran
zat yang cepat kerena terbang memerlukan banyak energi. Suhu tubuhnya tinggi
dan tetap sehingga kebutuhan makanannya banyak, (Darmawan, 2006).
Gambar 1. Morfologi burung
Welty (1982) dalam Darmawan (2006), mendeskripsikan burung sebagai
hewan yang memiliki bulu, tungkai atau lengan depan termodifikasi untuk
terbang, tungkai belakang teradaptasi untuk berjalan, berenang dan hinggap,
5
4
paruh tidak bergigi, jantung memiliki empat ruang, rangka ringan, memiliki
kantong udara, berdarah panas, tidak memiliki kandung kemih dan bertelur.
Tiap jenis burung dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri morfologi eksternal yang
relatif mudah diamati. Ciri-ciri tersebut antara lain panjang total tubuh burung
yang di ukur dari paru sampai ekor untuk menentukan besar atau kecilnya tubuh
burung. Warna burung pada bagian-bagian tubuh utama seperti kepala, sayap,
ekor, tubuh bagian depan dan belakang. Selain warna bulu, warna bagian tubuh
lain seperti kaki dan mata juga sering kali dapat menjadi ciri pembeda jenis.
2.2 Penyebaran Burung
Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat
hutan maupun habitat bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman
pertanian, pekarangan, gua, padang rumput, savana dan habitat perairan.
Penyebaran jenis burung dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan tempat hidup
burung, meliputi adaptasi burung terhadap perubahan lingkungan, kompetisi dan
seleksi alam (Welty, 1982).
Pergerakan satwa liar baik dalam skala sempit maupun luas merupakan
usaha untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Burung membutuhkan suatu koridor
untuk melakukan pergerakan yang dapat menghubungkan dengan sumber
keanekaragaman. Penyebaran suatu jenis burung disesuaikan dengan
pergerakkannya atau kondisi lingkungan seperti pengaruh luas kawasan,
ketinggian tempat dan letak geografis. Burung merupakan kelompok satwaliar
yang paling merata penyebarannya, ini disebabkan karena kemampuan terbang
yang dimilikinya, (Alikodra, 2002).
6
Kehadiran suatu burung pada suatu habitat merupakan hasil pemilihan
karena habitat tersebut sesuai untuk kehidupannya. Pemilihan habitat ini akan
menentukan burung pada lingkungan tertentu. Beberapa spesies burung tinggal di
daerah-daerah tertentu, tetapi banyak spesies yang bermigrasi secara teratur dari
suatu daerah ke daerah yang lain sesuai dengan perubahan musim. Jalur migrasi
yang umum dilewati oleh burung yaitubagian Utara dan Selatan bumi yang
disebut Latitudinal. Pada musim panas, burung-burung bergerak atau tinggal di
daerah sedang dan daerah-daerah sub Arktik dimana terdapat tempat-tempat untuk
makan dan bersarang, serta kembali ke daerah tropik untuk beristirahat selama
musim salju. Beberapa spesies burung melakukan migrasi altitudinal yaitu ke
daerah-daerah pegunungan selama musim panas dan ini terdapat di Amerika Utara
bagian Barat, (Pratiwi, 2005).
2.3 Habitat Burung
Habitat adalah suatu lingkungan dengan kondisi tertentu yang dijadikan
tempat suatu jenis atau komunitas hidup. Habitat yang baik akan
mendukung perkembangbiakan organisme yang hidup didalamnya secara
normal. Habitat memiliki kapasitas tertentu untuk mendukung pertumbuhan
populasi suatu organisme. Habitat merupakan bagian penting bagi distribusi dan
jumlah burung, (Bibby et al, 2000).
Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat
hutan maupun habitat bukan hutan. Menurut Welty (1982) dalam Darmawan
(2006), setiap burung yang hidup di alam membutuhkan dua kebutuhan dasar
yaitu bahan dan energi. Bahan menyediakan media untuk hidup burung, seperti
udara dan daratan, sedangkan energi didapatkan burung dari makanan dan energi
matahari.
7
Sebagai komponen habitat burung, pohon dapat berfungsi sebagai cover
(tempat berlindung dari cuaca dan predator, bersarang, bermain beristirahat, dan
mengasuh anak). Selain menyediakan bagian-bagian pohon (daun, bunga, dan
buah) suatu pohon dapat berfungsi sebagai habitat (atau niche habitat) berbagai
jenis organisme lain yang merupakan makanan tersedia bagi burung (Setiawan
dkk, 2006).
Faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan makanan,
tempat untuk istirahat, bermain, kawin, bersarang, bertengger dan berlindung.
Kemampuan areal menampung burung ditentukan oleh luasan, komposisi dan
struktur vegetasi, banyaknya tipe ekosistem dan bentuk areal serta keamanan,
Muhammad (2012). Burung merupakan salah satu margasatwa yang terdapat
hampir di setiap tempat, tetapi untuk hidupnya memerlukan syarat-syarat tertentu
yaitu adanya kondisi habitat yang cocok, baik, serta aman dari segala macam
gangguan.
Habitat yang baik harus dapat menyediakan pakan, air, tempat berlindung,
tempat beristirahat dan tidur malam, serta tempat untuk berkembangbiak baik
ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas. Habitat burung terbentang mulai dari tepi
pantai hingga ke puncak gunung. Burung yang memiliki habitat khusus di tepi
pantai tidak dapat hidup di pegunungan dan sebaliknya. Namun ada pula spesies
burung-burung generalis yang dapat dijumpai di beberapa habitat. Misalnya
burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang dapat dijumpai pada habitat bakau
hingga pinggiran hutan dataran rendah, (Suryadi, 2006).
Tipe habitat utama pada jenis burung sangat berhubungan dengan
kebutuhan hidup dan aktivitas hariannya. Tipe burung terdiri dari tipe burung
hutan (forest birds), burung hutan kayu terbuka (open woodland birds), burung
8
lahan budidaya (cultivated birds), burung pekarangan rumah (rural area birds),
burung pemangsa (raptor birds) dan burung air atau perairan (water birds),
(Kurnia, 2003).
Menurut komposisinya di alam, habitat satwa liar terdiri dari 3 komponen
utama yang satu sama lain saling berkaitan, yaitu: 1. Komponen biotik meliputi:
vegetasi, satwaliar, dan organisme mikro. 2. Komponen fisik meliputi: air, tanah,
iklim, topografi, dll. 3. Komponen kimia, meliputi seluruh unsur kimia yang
terkandung dalam komponen biotik maupun komponen fisik.
Secara fungsional, seluruh komponen habitat di atas menyediakan pakan,
air dan tempat berlindung bagi satwa liar burung. Jumlah dan kualitas ketiga
sumber daya fungsional tersebut akan membatasi kemampuan habitat untuk
mendukung populasi satwa liar. Komponen fisik habitat (iklim, topografi, tanah
dan air) akan menentukan kondisi fisik habitat yang merupakan faktor pembatas
bagi ketersediaan komponen biotik di habitat tersebut, (Irwanto, 2006).
Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat
hutan maupun habitat bukan hutan. Bentuk habitat yang baik untuk kelangsungan
hidup burung adalah habitat yang mampu melindungi dari gangguan maupun
menyediakan kebutuhan hidupnya, (Hernowo, 1989).
Komposisi dan struktur vegetasi juga mempengaruhi jenis dan jumlah
burung yang terdapat di suatu habitat. Jenis tanaman dan ekosistem yang
beragam lebih mampu mendukung kebutuhan burung karena mempunyai
komponen yang lebih lengkap. Suatu habitat yang digemari oleh suatu jenis
burung belum tentu sesuai untuk kehidupan jenis burung yang lain, karena pada
dasarnya setiap jenis burung memiliki preferensi habitat yang berbeda-beda,
(Irwanto, 2006).
9
Menurut Alikodra (2002), kondisi kualitas dan kuantitas habitat akan
menentukan komposisi, penyebaran dan produktifitas satwaliar termasuk
burung. Suatu habitat yang baik untuk perkembang biakan burung biasanya adalah
habitat yang dapat memberikan potensi pakan yang cukup besar.
Ketersediaan makanan merupakan faktor yang sangat penting bagi kelangsungan
hidup suatu jenis burung, banyak jenis mencari makan pada areal yang lebih luas
dan biasanya mereka memperoleh pakan dari daerah yang telah tereksploitasi,
(Harris, 1997).
Pemilihan habitat terbentuk karena beberapa organisme yang tinggal
disuatu tempat yang dihuni lebih mendukung untuk menghasilkan banyak
keturunan yang ditinggalkannya bila dibandingkan dengan organisme-organisme
di tempat lain. Ketika habitat berubah, beberapa jenis tidak mampu beradaptasi
dengan cepat dan oleh karena itu hanya sebagian habitat yang potensial untuk
dijadikan tempat tinggalnya (Krebs, 2013). Sejumlah studi telah menunjukkan
kuatnya pengaruh struktur vegetasi terhadap distribusi jenis burung. Selain itu,
manusia dapat mempengaruhi burung-burung dan habitatnya secara langsung
melalui modifikasi vegetasi dan perburuan (Bibby et al, 2000). Adanya berbagai
tipe vegetasi dengan berbagai bentuk penutupan lahan dan ketinggian suatu
wilayah kecenderungan akan memberikan pengaruh terhadap jenis dan perilaku
satwa yang dijumpai. Struktur vegetasi pada areal hutan tanaman terbagi menjadi
dua strata yaitu tumbuhan bawah dan tumbuhan penutup (Utari, 2000).
2.4 Konservasi Burung
Karena besarnya jumlah penduduk dan meningkatnya tekanan expolitasi
terhadap semua sumber daya yang memiliki, maka tidak dapat dihindarkan bahwa
alam berada dalam status kemunduran. Hutan didesak sampai kepuncak gunung
10
yang paling tinggi, burung-burung diburu untuk di makan, atau di jual. Bagaimana
burung-burung ini dapat bertahan menghadapi perubahan yang terus berlangsung?
Tindakan konservasi apa yang telah diambil untuk melindungi mreka?
Tindakan yang dilakukan oleh pihak pemerintah untuk melakukan
perlindungan terhadap burung adalah dengan adanya Alam di Jawa dan Bali
paling banyak mengalami perubahan, karena 68% populasi penduduk Indonesia
tinggal du pulau ini (yang luasnya hanya 10% luas total Indonesia). Hanya 10%
luas pulau Jawa dan Bali yang masih tetap merupakan hutan, umumnya ada di
daerah pegunungan. Hutan dataran rendah sudah hampir tidak ditemukan. Kurang
dari 3% yang masih tertutup popohonan dan hanya tinggal separuhnya merupakan
kawasan yang di lindungi tidak mengherankan jika jenis burung tampaknya
benarbenar telah menghilang dari pulau Jawa. Beberapa jenis sudah tidak terlihat
selama beberapa tahun terakhir, bahkan beberapa jenis lainnya memang sudah
jarang ditemukan.
Hilangnya jenis-jenis burung di pulau Jawa tentunya memerlukan
perhatian yang serius, karena dapat dijadikan indikator untuk memperkirakan apa
yang akan terjadi di pulau lainnya di Sunda Besar, terutama karena adanya
penebangan hutan. Studi penyebaran burung hutan, dalam berbagai ukuran, sisa
hutan di Jawa memperlihatkan beberapa pulau yang menarik. Misalnya, pulau
Jawa merperlihatkan suatu profil yang abnormal dalam penyebaran burung pada
berbagai ketinggian. Pada diagram memperliahtkan proporsi yang hidup pada
berbagai ketinggian dpl (diatas permukaan laut). Di Jawa dibandingkan dengan
proporsi di Kalimantan dan Sumatra. Hal ini menunjukkan kekayaan jenis burung
yang maksimal di hutan dataran rendah yang kering, dengan pengurangan jumlah
jenis secara bertahap, sesuai dengan peningkatan ketinggian. Jumlah jenis hanya
11
sedikit diimbangi oleh penambahan sejumlah jenis burung pegunungan yang
muncul pada berbagai ketinggian, (Van Balen, 1987).
Kelangkaan burung di pedesaan di Jawa, baik ditinjau dari jumlah maupun
keanekaragamannya, sangat menyedihkan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi
antara penggunaan pestisida, kehilangan habitat, dan penembakan dengan senapan
angin dan ketapel. Di Sumatra, situasinya agar lebih baik, karena masih ada hutan
tertutup seluas 20-30%. Akan tetapi, hutan seluas ini juga dapat menghilang
dengan sangat cepat, apa lagi laju pertambahan penduduk disini lebih cepat di
bandingkan dengan pulau-pulau yang lain.
2.5 Konservasi Satwa
Menurut Undang – undang no.5 tahun 1990 tentang Konservasi
sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya pasal 1 menjelaskan bahwa konservasi
sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas
keanekaragaman dan nilainya. Konservasi atau conservation dapat diartikan
sebagai suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam
memanfaatkan sumberdaya alam sehingga dapat menghasilkan keuntungan
sebesar-besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap
memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-
aspirasi generasi generasi yang akan datang.
12
Berdasarkan pengertian tersebut, konservasi mencakup berbagai aspek
positif, yaitu perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan secara berkelanjutan,
restorasi, dan penguatan lingkungan alam. Pengertian tersebut juga menekankan
bahwa konservasi tidak bertentangan dengan pemanfaatan aneka ragam varietas,
jenis dan ekosistem untuk kepentingan manusia secara maksimal selama
pemanfaatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Akan tetapi dalam praktek
di lapangan, kerap kali masih ditemukan pengertian dan persepsi tentang
konservasi yang keliru, yaitu seolah-olah konservasi melarang total pemanfataan
sumberdaya alam. Berlandaskan pada pengertian tersebut masyarakat, khususnya
penduduk setempat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi, dilarang keras
untuk dapat menikmati berbagai manfaat yang diberikan oleh lingkungan
sekitarnya. Penduduk dipisahkan dengan lingkungannya secara paksa, padahal
mereka secara turun-temurun telah lama tinggal di wilayahnya.
Konservasi lahir akibat adanya semacam kebutuhan untuk melestarikan
sumber daya alam yang diketahui mengalami degradasi mutu secara tajam.
Dampak degradasi tersebut, menimbulkan kekhawatiran dan jika tidak diantisipasi
akan membahayakan umat manusia, terutama berimbas pada kehidupan generasi
mendatang pewaris alam ini. Sisi lain, batasan konservasi dapat dilihat
berdasarkan pendekatan tahapan wilayah, yang dicirikan oleh: (1) pergerakan
konservasi, ide-ide yang berkembang pada akhir abad ke 19, yaitu yang hanya
menekankan keaslian bahan dan nilai dokumentasi, (2) teori konservasi modern,
didasarkan pada penilaian kritis pada bangunan bersejarah yang berhubungan
dengan keaslian, keindahan, sejarah, dan penggunaan nilainilai lainnya,
(Rachman, 2012).
13
Dilihat dari sudut pelaku gerakan dan arah yang dilakukan dalam rangka
melaksanakan konservasi, terdapat dua gerakan yang berupaya melaksanakannya.
Pertama, gerakan konservasi kebendaan yang umumnya dilakukan oleh para
arsitek, pakar sejarah arsitektur, perencana kota, pakar geologi dan jurnalis.
Kedua, gerakan konservasi kemasyarakatan, yaitu gerakan konservasi yang
melibatkan para pakar ilmu sosial, arsitek, pekerja sosial, kelompok swadaya
masyarakat, bahkan tokoh politik. Berdasarkan konsep, cakupan, dan arah
konservasi dapat dinyatakan bahwa konservasi merupakan sebuah upaya untuk
menjaga, melestarikan, dan menerima perubahan dan/atau pembangunan.
Perubahan yang dimaksud bukanlah perubahan yang terjadi secara drastis dan
serta merta, melainkanmperubahan secara alami yang terseleksi. Hal tersebut
bertujuan untuk tatap memelihara identitas dan sumber daya lingkungan dan
mengembangkan beberapa aspeknya untuk memenuhi kebutuhan arus modernitas
dan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan demikian, konservasi merupakan
upaya mengelola perubahan menuju pelestarian nilai dan warisan budaya yang
lebih baik dan berkesinambungan. Dengan kata lain bahwa dalam konsep
konservasi terdapat alur memperbaharui kembali (renew), memanfaatkan kembali
(reuse), reduce (mengurangi), mendaurulangkembali (recycle).
2.6 Status Perlindungan Burung
Jenis-jens burung di pulau Kangean perlu di ketahui status
keterancamannya berdasarkan beberapa status perlindungan. Terdapat tiga
kategori status perlindungan yang berlaku di wilayah Indonesia menurut
Sukmantoro dkk, (2007) yaitu :
1. Status keterancaman menurut IUCN (International Union for Conservation
of Nature and Natural Resources) Kategori status keterancaman mengacu pada
14
Redlist IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural
Resources) 2007 yang meliputi CR= Critically Endangered (sangat terancam
punah), EN = Endangered (terancam punah) contonya adalah burung
Ciconia stormi atau bangau storm, Vurnerable (terancam) contohnya adalah
burung Pycnonotus zeylanicus atau Cucak Rawa, NT = Near Threatened
(mendekati terancam) contohnya adalah burung Anhinga melanogaster atau
pecuk ular asia NE = Not Evaluated (belum dievaluasi ), DD = Data Deficient
(data kurang), EX= Extinct (punah), EW= Extinct in the Wild (punah di
dalam), LC= Least Concern (tidak dicantumkan dalam daftar) contohnya adalah
burung Haliastur Indus atau elang bondol.
2. Status Peraturan Perdagangan Internasional menurut CITES CITES
(Convention on International Trade of Endangered Jenis of Wild Fauna and
Flora) mengelompokkan kategori-kategori jenis dalam 3 Appendix
(Lampiran) yaitu Appendix I ( semua jenis yang terancam punah dan berdampak
apabila diperdagangkan. Perdagangan hanya diijinkan dalam kondisi tertentu
misalnya untuk riset ilmiah). Appendix II (jenis yang statusnya belum terancam
tetapi akan terancam punah apabila dieksploitasi berlebihan) contohnya adalah
burung kangkareng perut hitam, kangkareng perut putih, dan cucak rawa.
Appendix III (seluruh jenis yang juga dimasukan dalam peraturan perdagangan
dan Negara lain berupaya mengontrol dalam perdagangan tersebut agar terhindar
dari eksploitasi yang tidak berkelanjutan).
3. Status Perlindungan dan Hukum Negara Republik Indonesia Status
perlindungan jenis menurut tata aturan di Indonesia mengacu pada UU No. 5/1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. PP No.
7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan PP No. 8/1999
15
tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Pycnonotus zeylanicus
merupakan contoh burung yang masuk pada perlindungan UU No. 5/1990, .
PP No. 7/1999, PP No. 8/1999.
Dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, disebut 93 Burung Langka dilindungi
undang-undang, walau dalam judul disebut jenis namun jika kita baca dengan
seksama dalam lampiran tersebut terdapat daftar 14 famili, empat genus, dan
empat anak jenis, secara keseluruhan terdapat lebih dari 93 jenis burung yang
dilindungi undang-undang.
IUCN Red List pertama kali dikeluarkan pada tahun 1984. Setiap 5-10
tahun dilakukan evaluasi terhadap setiap spesies. Berikut ini status konservasi
versi IUCN Red List, diurutkan dari tingkatan paling bawah :
1. Not Evaluated / NE (Belum dievaluasi)
Spesies yang berstatus seperti ini sama sekali belum pernah dilakukan observasi,
sehingga tidak diketahui berapa populasinya di alam bebas. Mengingat banyaknya
spesies flora dan fauna di seluruh dunia, tentu masih banyak spesies yang
berstatus NE.
2. Data Deficient / DD (Informasi Kurang)
Spesies ini sebenarnya sudah diobservasi, tetapi belum menyeluruh, sehingga
informasi yang terkumpul belum memadai untuk membuat perkiraan akan risiko
kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi. Dalam IUCN Red List
tercatat 5.813 hewan dan 735 tumbuhan yang berstatus DD. Contoh burung
berstatus DD di Indonesia adalah punggok papua (Uroglaux dimorpha ).
3. Least Concern / LC (Berisiko Rendah)
16
Status ini diberikan untuk spesies yang telah dievaluasi, namun tidak masuk ke
dalam kategori manapun. Dalam IUCN Red List tercatat 17.535 hewan dan 1.488
tumbuhan yang berstatus LC.
4. Near Threatened / NT (Hampir Terancam)
Status NT diberikan kepada spesies yang mungkin berada dalam keadaan
terancam atau mendekati terancam kepunahan, tetapi belum termasuk dalam status
terancam. Dalam IUCN Red List tercatat 2.574 hewan dan 1.076 tumbuhan yang
berstatus NT. Contohnya alap-alap doria, punai sumba, dan cucak rante mas.
5. Vulnerable / VU (Rentan)
Status VU merupakan peningkatan dari NT. Spesies dinyatakan berstatus VU jika
mulai berisiko kepunahan di alam liar pada masa-mada mendatang. Dalam IUCN
Red List tercatat 4.467 hewan dan 4.607 tumbuhan yang berstatus VU. Contohnya
burung kasuari, merak hijau, dan kakatua maluku.
6. Endangered / EN (Genting / Terancam)
Spesies yang berstatus EN menghadapi risiko kepunahan di alam liar di masamasa
mendatang, tetapi kemungkinannya punah lebih besar daripada spesies berstatus
VU. Dalam IUCN Red List tercatat 2.573 hewan dan 2.316 tumbuhan yang
berstatus EN, contohnya burung maleo dan mentok rimba.
7. Critically Endangered / CR (Kritis)
Inilah status yang sekarang disandang elang jawa dan jalak bali. Untuk
nonburung, ada harimau sumatera, badak jawa, badak sumatera, orangutan
sumatera, dan rusa bawean. CR adalah status yang diberikan kepada spesies yang
menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat. Dalam IUCN Red List tercatat
17
1.742 hewan dan 1.577 tumbuhan yang berstatus Kritis.
8. Extinct in the Wild / EW (Punah di Alam Liar)
Ada beberapa spesies yang di alam liar (habitat asli) sudah punah, tetapi masih
bisa dijumpai di tempat penangkaran, kebun binatang, pusat karantina, dan
sebagainya. Spesies seperti inilah yang ditetapkan dalam status EW. Dalam IUCN
Red List tercatat 38 hewan dan 28 tumbuhan yang berstatus EW. Contoh, burung
merpati socorro (Zenaida graysoni).
9. Extinct / EX (Punah)
Inilah yang paling kita takutkan. Jangan sampai spesies burung asli Indonesia
ditetapkan dalam status EX. Status ini diberikan jika spesies yang dimaksud
benar-benar terbukti (tidak ada keraguan lagi) sudah punah, ditandai dengan
kematian individu individu terakhir dari spesies. Dalam IUCN Red List tercatat
723 hewan dan 86 tumbuhan yang berstatus Punah.
Contoh satwa Indonesia yang telah punah antara lain harimau jawa dan harimau
bali. Adapun spesies burung di dunia yang sudah punah antara lain : Elang haast
Harpagornis moorei), Moa (mirip burung emu), keluarga burung Dinornithidae.
2.7 Keanekaragaman Jenis Burung Di Pulau-pulau Kecil
Odum (1993), mengatakan bahwa keanekaragaman jenis tidak hanya
berarti kekayaan atau banyaknya jenis, tetapi juga kemerataan (evenness)
dari kelimpahan individu tiap jenis. Keanekaragaman dibedakan atas tiga
ukuran meliputi kekayaan jenis (species richness), keanekaragaman jenis
(diversity), dan kemerataan jenis (evenness).
18
Keanekaragaman jenis burung berbeda pada setiap habitat, tergantung
kondisi lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Krebs (2013),
menyebutkan bahwa ada enam faktor yang saling berkaitan yang menentukan naik
turunnya keanekaragaman jenis suatu komunitas yaitu waktu, heterogenitas,
ruang, persaingan, pemangsaan, dan kestabilan lingkungan dan produktivitas.
Menurut Sutopo (2008), informasi tentang kekayaan jenis burung dapat diperoleh
dengan menggunakan metode daftar jenis. MacKinnon et al (2010), menyatakan
bahwa daftar jenis burung menjadi jauh lebih berguna jika dapat menunjukkan
kelimpahan jenis. Beberapa keuntungan dengan menggunakan daftar jenis yaitu
tidak terlalu bergantung pada pengalaman dan pengetahuan pengamat, intensitas
pengamatan, dan keadaan cuaca. Indeks kekayaan jenis Shannon-Wiener
merupakan ukuran nisbah keanekaragaman yang paling sering digunakan oleh
para ahli ekologi untuk mengukur keanekaragaman jenis satwaliar (Sutopo, 2008),
karena menurut Magurran (1988) pertimbangan yang mendasari penggunaan
indeks tersebut adalah kepekaan terhadap perubahan ukuran unit contoh (rendah
sampai sedang), kemampuan mendeteksi perbedaan antara unit contoh atau lokasi
(sedang sampai tinggi) dan kemudahan dalam proses perhitungan (semuanya
sederhana).
2.8 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas:
penggunaan lahan semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman
semusim diutamakan untuk tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan
rotasi atau tumpang sari dan panen dilakukan setiap musim dengan periode
biasanya kurang dari setahun. Penggunaan lahan tanaman tahunan merupakan
penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan setelah hasil
19
tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi, seperti pada tanaman
perkebunan. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan yang tidak
diusahakan untuk pertanian, seperti hutan, daerah konservasi, perkotaan, desa dan
sarananya, lapangan terbang, dan pelabuhan.
Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe
penggunaan lahan (Land Utilization Type) yaitu jenis-jenis penggunaan lahan
yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan, masukan yang
diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Setiap jenis penggunaan
lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe penggunaan lahan bukan
merupakan tingkat kategori dari klasifikasi penggunaan lahan, tetapi mengacu
kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya dibawah kategori
penggunaan lahan secara umum, karena berkaitan dengan aspek masukan,
teknologi, dan keluarannya. Sifat-sifat penggunaan lahan mencakup data dan atau
asumsi yang berkaitan dengan aspek hasil, orientasi pasar, intensitas modal,
buruh, sumber tenaga, pengetahuan teknologi penggunaan lahan, kebutuhan
infrastruktur, ukuran dan bentuk penguasaan lahan, pemilikan lahan dan tingkat
pendapatan per unit produksi atau unit areal. Tipe penggunaan lahan menurut
sistem dan modelnya dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound.
Multiple: Tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebih dari
satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu
areal yang sama dari sebidang lahan. Setiap penggunaan memerlukan masukan
dan kebutuhan, serta memberikan hasil tersendiri. Sebagai contoh kelapa ditanam
secara bersamaan dengan kakao atau kopi di areal yang sama pada sebidang lahan.
Demikian juga yang umum dilakukan secara diversifikasi antara tanaman cengkih
dengan vanili atau pisang.
20
Compound: Tipe penggunaan lahan yang tergolong compound terdiri lebih
dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari
sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal.
Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada suatu sekuen atau urutan waktu,
dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak, tetapi pada areal yang
berbeda pada sebidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang sama.
Sebagai contoh suatu perkebunan besar sebagian areal secara terpisah (satu blok
atau petak) digunakan untuk tanaman karet, dan blokatau petak lainnya untuk
kelapa sawit. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama.
Kebun didefenisikan sebagai usahatani tanah darat menetap dengan
penanaman tanaman tahunan (Dephut, 2006). Kebun merupakan penggunaan
lahan yang identik dengan masyarakat pedesaan disekitar wilayah peyangga taman
nasional, dimana usaha tani ini menjadi sumber mata pencaharian utama
masyarakat. Penggunaan lahan kebun di wilayah ini memiliki berbagai tipe
pengelolaan baik yang monokultur maupun polikultur.