0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan6 halaman

Model Waterfall dalam Pengembangan Perangkat Lunak

Model Waterfall menggambarkan proses pengembangan perangkat lunak secara sistematis dan berurutan melalui beberapa tahapan mulai dari analisis, desain, implementasi, pengujian, hingga pemeliharaan. Model ini populer karena mudah diterapkan tetapi memiliki kelemahan seperti membutuhkan waktu yang lama dan fleksibel terhadap perubahan persyaratan. Model ini lebih cocok digunakan untuk proyek baru dengan persyaratan yang jelas.

Diunggah oleh

Fauzi F
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan6 halaman

Model Waterfall dalam Pengembangan Perangkat Lunak

Model Waterfall menggambarkan proses pengembangan perangkat lunak secara sistematis dan berurutan melalui beberapa tahapan mulai dari analisis, desain, implementasi, pengujian, hingga pemeliharaan. Model ini populer karena mudah diterapkan tetapi memiliki kelemahan seperti membutuhkan waktu yang lama dan fleksibel terhadap perubahan persyaratan. Model ini lebih cocok digunakan untuk proyek baru dengan persyaratan yang jelas.

Diunggah oleh

Fauzi F
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL WATERFALL

4.1. Sejarah model waterfall

Nama model ini sebenarnya adalah “Linear Sequential Model”. Model ini sering disebut
dengan “classic life cycle” atau model waterfall. Model ini pertama kali yang
diperkenalkan oleh Winston Royce sekitar tahun 1970 sehingga sering dianggap kuno,
tetapi merupakan model yang paling banyak dipakai didalam Software Engineering
(SE). Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan berurutan. Disebut dengan
waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap
sebelumnya dan berjalan berurutan.

4.2. Pengertian Waterfall

Waterfall atau AIR terjun adalah model yang dikembangkan untuk pengembangan
perangkat lunak, membuat perangkat lunak. model berkembang secara sistematis dari
satu tahap ke tahap lain dalam mode seperti air terjun.

Model ini mengusulkan sebuah pendekatan kepada pengembangan software yang


sistematikdan sekuensial yang mulai dari tingkat kemajuan sistem pada seluruh analisis,
desain, kode, pengujian dan pemeliharaan. Model ini melingkupi aktivitas-aktivitas
sebgai berikut : rekayasa dan pemodelan sistem informasi, analisis kebutuhan, desain,
koding, mengujian dan pemeliharaan.

Model pengembangan ini bersifat linear dari tahap awal pengembangan system yaitu
tahap perencanaan sampai tahap akhir pengembangan system yaitu tahap pemeliharaan.
Tahapan berikutnya tidak akan dilaksanakan sebelum tahapan sebelumnya selesai
dilaksanakan dan tidak bisa kembali atau mengulang ke tahap sebelumnya.

4.3. Tahapan atau fase model waterfall

Ini adalah gambar tahapan atau fase yang paling umum tentang model waterfall

Akan tetapi Roger S. Pressman memecah model ini menjadi 6 tahapan meskipun secara
garis besar sama dengan tahapan-tahapan model waterfall pada umumnya. Berikut
adalah Gambar dan penjelasan dari tahap-tahap yang dilakukan di dalam model ini
menurut Pressman:

1. System / Information Engineering and Modeling.


Permodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem
yang akan diaplikasikan ke dalam bentuk software. Hal ini sangat penting,
mengingat software harus dapat berinteraksi dengan elemen-elemen yang
lain seperti hardware, database, dsb. Tahap ini sering disebut dengan Project
Definition.

2. Software Requirements Analysis


Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan pada software.
Untuk mengetahui sifat dari program yang akan dibuat, maka para software
engineer harus mengerti tentang domain informasi dari software, misalnya
fungsi yang dibutuhkan, user interface, dsb. Dari 2 aktivitas tersebut
(pencarian kebutuhan sistem dan software) harus didokumentasikan dan
ditunjukkan kepada pelanggan.

3. Design
Proses ini digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan diatas menjadi
representasi ke dalam bentuk “blueprint” software sebelum coding dimulai.
Desain harus dapat mengimplementasikan kebutuhan yang telah disebutkan
pada tahap sebelumnya. Seperti 2 aktivitas sebelumnya, maka proses ini juga
harus didokumentasikan sebagai konfigurasi dari software.

4. Coding
Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, maka
desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk yang dapat dimengerti
oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui proses coding.
Tahap ini merupakan implementasi dari tahap design yang secara teknis
nantinya dikerjakan oleh programmer.

5. Testing / Verification
Sesuatu yang dibuat haruslah diujicobakan. Demikian juga dengan software.
Semua fungsi-fungsi software harus diujicobakan, agar software bebas dari
error, dan hasilnya harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang sudah
didefinisikan sebelumnya.

6. Maintenance
Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk di dalamnya adalah
pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya hanya seperti
itu. Ketika dijalankan mungkin saja masih ada errors kecil yang tidak
ditemukan sebelumnya, atau ada penambahan fitur-fitur yang belum ada
pada software tersebut. Pengembangan diperlukan ketika adanya perubahan
dari eksternal perusahaan seperti ketika ada pergantian sistem operasi, atau
perangkat lainnya.

4.4. Karakteristik

Dalam model ini terdapat beberapa sifat-sifat yang menojol dan cenderung menjadi
permasalahan pada model waterfall.

1. Ketika problem muncul, maka proses berhenti karena tidak dapat menuju ke
tahapan selanjutnya. Apabila terdapat kemungkinan problem tersebut
muncul akibat kesalahan dari tahapan sebelumnya, maka proses harus
membenahi tahapan sebelumnya agarproblem ini tidak muncul.
2. Karena pendekatannya secara sequential, maka setiap tahap harus menunggu
hasil dari tahap sebelumnya. Hal itu tentu membuang waktu yang cukup
lama, artinya bagian lain tidak dapat mengerjakan hal lain selain hanya
menunggu hasil dari tahap sebelumnya.

4.5. Mengapa model ini sangat populer?

Selain karena pengaplikasian menggunakan model ini mudah, kelebihan dari model ini
adalah ketika semua kebutuhan sistem dapat didefinisikan secara utuh, eksplisit, dan
benar di awal project, maka SE dapat berjalan dengan baik dan tanpa masalah.
Meskipun seringkali kebutuhan sistem tidak dapat didefinisikan seeksplisit yang
diinginkan, tetapi paling tidak, problem pada kebutuhan sistem di awal project lebih
ekonomis dalam hal uang (lebih murah), usaha, dan waktu yang terbuang lebih sedikit
jika dibandingkan problem yang muncul pada tahap-tahap selanjutnya.

Meskipun demikian, karena model ini melakukan pendekatan secara urut / sequential,
maka ketika suatu tahap terhambat, tahap selanjutnya tidak dapat dikerjakan dengan
baik dan itu menjadi salah satu kekurangan dari model ini.

4.6. Kapan model waterfall di gunakan?

Salah satu model tradisional dan mudah yang tahapannya mengalir satu arah seperti air
terjun adalah Waterfall Model atau Linear Sequential Model. Pertanyaannya, kapan
sebaiknya model tersebut digunakan?
Teori-teori lama menyimpulkan ada beberapa hal, yaitu:

1. Ketika semua persyaratan sudah dipahami dengan baik di awal


pengembangan.
2. Definisi produk stabil dan tidak ada perubahan saat pengembangan untuk
alasan apapun seperti perubahan eksternal, perubahan tujuan, perubahan
anggaran atau perubahan teknologi. Untuk itu, teknologi yang digunakan
pun harus sudah dipahami dengan baik.
3. Menghasilkan produk baru, atau versi baru dari produk yang sudah ada.
Sebenarnya, jika menghasilkan versi baru maka sudah masuk incremental
development, yang setiap tahapnya sama dengan Waterfall kemudian
diulang-ulang.
4. Porting produk yang sudah ada ke dalam platform baru.

Dengan demikian, Waterfall dianggap pendekatan yang lebih cocok digunakan untuk
proyek pembuatan sistem baru. Tetapi salah satu kelemahan paling dasar adalah
menyamakan pengembangan perangkat keras dengan perangkat lunak dengan
meniadakan perubahan saat pengembangan. Padahal, galat diketahui saat perangkat
lunak dijalankan, dan perubahan-perubahan akan sering terjadi.

4.7. Tahap Pengembangan Waterfal

Tahap – tahap pengembangan waterfall model adalah :

1. Analisis dan definisi persyaratan Pelayanan, batasan, dan tujuan sistem ditentukan
melalui konsultasi dengan user.
2. Perancangan sistem dan perangkat lunak Kegiatan ini menentukan arsitektur sistem
secara keseluruhan.
3. Implementasi dan pengujian unit Perancangan perangkat lunak direalisasikan
sebagai serangkaian program.
4. Integrasi dan pengujian sistem Unit program diintegrasikan atau diuji sebagai
sistem yang lengkap untuk menjamin bahwa persyaratan sitem telah terpenuhi
5. Operasi dan pemeliharaan Merupakan fase siklus yang paling lama. Sistem diinstall
dan dipakai. Perbaikan mencakup koreksi dari berbagai error, perbaikan dan
implementasi unit sistem dan pelayanan sistem.

4.8. Keuntungan dari Model Waterfall

1. Merupakan model pengembangan paling handal dan paling lama digunakan.


2. Cocok untuk system software berskala besar.
3. Cocok untuk system software yang bersifat generic.
4. Pengerjaan project system akan terjadwal dengan baik dan mudah dikontrol

4.9. Kelemahan Waterfall

1. Waktu pengembangan lama. hal ini dikarenakan input tahap berikutnya adalah
output dari tahap sebelumnya. Jika satu tahap waktunya molor, maka waktu
keseluruhan pengembangan juga ikut molor.
2. Biaya juga mahal, hal ini juga dikarenakan waktu pengembangan yang lama
3. Terkadang perangkat lunak yang dihasilkan tidak akan digunakan karena sudah
tidak sesuai dengan requirement bisnis customer. hal ini juga dikarenakan waktu
pengembangan yang lama. selain itu dikarenakan waterfall merupakan aliran yang
linear, sehingga jika requirement berubah proses tidak dapat diulang lagi.
4. Karena tahap-tahapan pada waterfall tidak dapat berulang, maka model ini tidak
cocok untuk pemodelan pengembangan sebuah proyek yang memiliki kompleksitas
tinggi.
5. Meskipun waterfall memiliki banyak kelemahan yang dinilai cukup fatal, namun
model ini merupakan dasar bagi model-model lain yang dikembangkan setelahnya.

4.10. Contoh Gambar Model Waterfall


1. Communication (Project Initiation & Requirements Gathering)
Sebelum memulai pekerjaan yang bersifat teknis, sangat diperlukan
adanya komunikasi dengan customer demi memahami dan mencapai
tujuan yang ingin dicapai. Hasil dari komunikasi tersebut adalah
inisialisasi proyek seperti menganalisis permasalahan yang dihadapi
dan mengumpulkan data-data yang diperlukan, serta membantu
mendefinisikan fitur dan fungsi dari aplikasi. Pengumpulan data-data
tambahan bisa juga diambil dari jurnal, artikel, paper dan internet.
2. Planning (Estimating, Scheduling, Tracking)
Tahap berikutnya adalah tahapan perencanaan yang menjelaskan
tentang estimasi tugas-tugas teknis yang akan dilakukan, resiko-resiko
yang dapat terjadi, sumber daya yang diperlukan dalam membuat
sistem, produk kerja yang ingin dihasilkan, penjadwalan kerja yang
akan dilaksanakan, dan tracking proses pengerjaan sistem.
3. Modeling (Analysis & Design)
Tahapan ini adalah tahap perancangan dan pemodelan arsitektur sistem
yang berfokus pada perancangan struktur data, arsitektur software,
tampilan interface, dan algoritma program. Tujuannya untuk lebih
memahami gambaran besar dari apa yang akan dikerjakan.
4. Construction (Code & Test)
Tahapan ini merupakan proses penerjemahan bentuk desain menjadi
kode atau bentuk bahasa yang dapat dibaca oleh mesin. Setelah
pengkodean selesai, dilakukan pengujian terhadap sistem dan juga kode
yang sudah dibuat. Tujuannya untuk menemukan kesalahan yang
mungkin terjadi untuk nantinya diperbaiki.
5. Deployment (Delivery, Support, Feedback)
Tahapan terakhir ini merupakan tahapan implementasi software ke
customer, perbaikan software, evaluasi software, dan pengembangan
software berdasarkan umpan balik yang diberikan agar sistem dapat
tetap berjalan dan berkembang sesuai dengan fungsinya.

Referensi:
[Link]
t_Lunak
Pressman, R.S. (2015). Rekayasa Perangkat Lunak: Pendekatan Praktisi Buku I.
Yogyakarta: Andi
[Link]

Anda mungkin juga menyukai