0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan14 halaman

Pendidikan Kesehatan Diabetes Melitus

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang satuan acara pembelajaran yang membahas diabetes mellitus. Pembelajaran ini bertujuan untuk memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga Bapak N yang menderita diabetes tentang pengertian, gejala, perawatan, dan pencegahan diabetes. Materi pembelajaran meliputi pengertian, penyebab, gejala, komplikasi, dan perawatan diabetes. Strategi yang digunakan adalah ceramah, stimulasi, dan diskusi. Evaluasi dilak

Diunggah oleh

deni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan14 halaman

Pendidikan Kesehatan Diabetes Melitus

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang satuan acara pembelajaran yang membahas diabetes mellitus. Pembelajaran ini bertujuan untuk memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga Bapak N yang menderita diabetes tentang pengertian, gejala, perawatan, dan pencegahan diabetes. Materi pembelajaran meliputi pengertian, penyebab, gejala, komplikasi, dan perawatan diabetes. Strategi yang digunakan adalah ceramah, stimulasi, dan diskusi. Evaluasi dilak

Diunggah oleh

deni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

(STIKes PERTAMEDIKA)
FARAH YUMNA NURUL AINI
21118017/Akt. VIII/2018
Program Profesi SI Keperawatan

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Diagnosa Keperawat : Ketidakstabilan kadar gula darah pada


keluarga Bpk. N khususnya Bpk. N dengan
Diabetes Mellitus
Topik : Diabetes mellitus
Pokok Bahasan : Perawatan pasien dengan diabetes mellitus
Sasaran : Keluarga Bpk. N khususnya Bpk. N
Hari/Tanggal : Rabu, 14 Maret 2018
Waktu : 30 Menit
Tempat : Jl. Rawa Papan RT 08/006 Kelurahan Bintaro,
Kecamatan pesanggrahan

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama ± 30 menit, keluarga Bpk. N
khususnya Bpk. N mampu memahami dan mengerti tentang penyakit diabetes
serta mengontrol dan melakukan pengobatan di rumah dengan benar.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai setelah pembelajaran ini antara lain:
Kognitif: Keluarga Bpk. N khususnya Bpk. N mampu menyebutkan
pengertian, penyebab, tanda dan gejala, akibat (komplikasi), cara
perawatan dengan diabetes serta mendemonstrasikan cara
pembuatan obat tradisional secara sederhana untuk penderita
diabetes mellitus.
Afektif: Keluarga Bpk. N khususnya Bpk. N memahami bahwa penyakit
diabetes melitus dapat dikontrol.
Psikomotor:Adanya perubahan perilaku pada keluarga binaan, setelah
diberikan penyuluhan kesehatan mengenai perawatan keluarga
dengan diabetes.
C. Materi
1. Mampu menyebutkan pengertian diabetes melitus.
2. Mampu menyebutkan penyebab diabetes melitus.
3. Mampu menyebutkan tanda dan gejala diabetes melitus.
4. Mampu menyebutkan komplikasi diabetes melitus.
5. Mampu menyebutkan cara perawatan diabetes melitus di rumah.

D. Strategi Penyampaian
Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan kesehatan dengan sub
topic diabetes mellitus antara lain:
a. Ceramah
Metode ini digunakan sebagai pengantar untuk memberikan penekanan
pengertian diabetes mellitus dan cara perawatannya.
b. Stimulasi
Stimulasi digunakan bila penyuluh menjelaskan tentang penyakit
diabetes mellitus sehingga klien dapat mengerti dengan jelas.
c. Tanya Jawab
Metode ini digunakan baik pada saat dilangsungkannya penyuluhan atau
pada saat diakhirinya penyuluhan yang memungkinkan klien
mengemukakan hal-hal yang belum dimengerti.

E. Media danAlat
1. Leaflet tentang diabetes melitus.
2. Lembar balik tentang diabetes melitus.
3. Media leaflet makanan yang dianjurkan dan yang dihindari
4. Alat tulis
F. Penataan Strategi Pengorganisasian

Keterangan:
= Media
= Penyaji
= Keluarga
G. Penetapan Strategi Pengorganisasian
Materi Diabetes Mellitus Terlampir

H. Kegiatan Pembelajaran Kesehatan Evaluasi

Alat dan
No Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Klien Bahan Waktu
yang
digunakan

1 Pendahuluan 5 menit

a. Perkenalan a. Menjawab
Mengucapkan salam, salam,
memperkenalkan diri, mendengarkan
b. Tujuan b. Menyimak
Menjelaskan tujuan umum c. Menyimak
dan tujuan khusus.
c. Kontrak waktu
Memberitahu waktu yang
akan digunakan dan strategi
pelaksanaan.

2 Kegiatan Inti 15 Menit

a. Pengertian diabetes Klien menyimak Lembar


b. Penyebab diabetes Balik
c. Tanda dan gejala diabetes Leaflet
d. Komplikasi diabetes
e. Cara perawatan pasien
dengan diabetes
3 Penutupan 10 Menit

a. Tanya jawab dengan a. Diharapkan


memberikan kesempatan peserta
kepada peserta untuk maubertanya
bertanya tentang materi tentang materi
yang belum dimengerti. yang belum
b. Evaluasi dengan dimengerti.
mengajukan pertanyaan b. Menjawab
secara lisan. pertanyaan
yang diberikan
penyuluh.

c. Mengucapkan salam Menjawab salam

I. Evaluasi
1. Prosedur : Setelah proses penyuluhan kesehatan
2. Waktu : 5 Menit
3. Bentuk Soal : Lisan
4. Jumlah Soal : 5 Buah

Butir Soal:
1. Apa yang anda tahu tentang pengertian diabetes?
2. Apa yang anda tahu tentang penyebab diabetes?
3. Apa yang anda tahu tentang tanda dan gejala dari diabetes?
4. Apa yang anda tahu tentang komplikasi diabetes?
5. Bagaimana pencegahan dan cara merawat diabetes?
LAMPIRAN MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN
DIABETES MELITUS

A. DEFINISI
Diabetes Melitus (DM) atau yang lebih dikenal masyarakat dengan penyakit
kencing manis adalah salah satu penyakit degeneratif yang mendapat
perhatian khusus dunia medis. World Health Organization (WHO)
mengestimasikan bahwa lebih dari 346 juta orang di seluruh dunia menderita
DM. Jumlah ini kemungkinan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada
tahun 2030 tanpa intervensi apapun (Shrivastava, 2013).

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, diabetes melitus


merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
kedua-duanya (Perkeni, 2011).

Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau


mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna
manis atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang
mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi.
Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan
ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel
terhadap insulin (Corwin, 2009).

Definisi DM menurut WHO (2005) adalah kadar glukosa darah puasa ≥ 126
mg/dl, kadar glukosa darah 2 jam post prandial > 200 mg/dl dan kadar
glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl, kadar glukosa darah antara 100 – 125
mg/dl (6,1-7,0 mmol/L) pre diabetes.

B. KLASIFIKASI
Dokumen konsesus tahun 1997 oleh American Diabetes Association’s Expert
Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus,
menjabarkan 4 kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009)
1. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes Melitus
tergantung insulin (DMTI)
5% - 10% penderita diabetik adalah tipe I. Sel-sel beta dari pankreas
yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan oleh proses autoimun.
Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah.
Awitannya mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30 tahun.

2. Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/ Diabetes


Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
90%-95% penderita diabetik adalah tipe II. Kondisi ini diakibatkan oleh
penurunan sensitivitas terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat
penurunan jumlah pembentukan insulin. Pengobatan pertama adalah
dengan diit dan olah raga, jika kenaikan kadar glukosa darah menetap,
suplemen dengan preparat hipoglikemik (suntikan insulin dibutuhkan,
jika preparat oral tidak dapat mengontrol hiperglikemia). Terjadi paling
sering pada mereka yang berusia lebih dari 30 tahun dan pada mereka
yang obesitas.

3. DM tipe lain
Karena kelainan genetik, penyakit pankreas (trauma pankreatik), obat,
infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain, dan penyakit dengan
karakteristik gangguan endokrin.

4. Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM)


Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak
mengidap diabetes.

C. ETIOLOGI

1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)


a) Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi
mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah
terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada
individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte
Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung
jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b) Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan
normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang
dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c) Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai
contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu
dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β
pancreas.

2. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)


Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic
diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.

Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung


insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang
lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat
timbul pada masa kanak-kanak.

Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama
dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin
yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia
(Price, 1995 cit Indriastuti 2008).
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II,
diantaranya adalah:
a) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65
tahun)
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga
d)  Kelompok etnik

D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan, sering kencing
terutama pada malam hari, banyak makan serta berat bdan menurun
[Link] itu terkadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan
dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan jadi kabur, gairah sex
menurun, luka sukar sembuh. Terkadang ada pasien yang tidak merasakan
adanya keluhan, mereka mengetahui ada diabetes karena pada saat periksa
kesehatan terdapat kadar gula darah tinggi (Soegondo S, dkk. 2007)

Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut :


Pada tahap awal sering ditemukan :
a) Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic
diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga
klien mengeluh banyak kencing.

b) Polidipsi (banyak minum)


Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan
banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak
minum.
c) Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami
starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan.
Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya
akan berada sampai pada pembuluh darah.

d) Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.


Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa,
maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang
lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka
tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh
termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan
DM walaupun banyak makan akan tetap kurus.

e) Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi)
yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan
sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
(Arjatmo, Tjokronegoro. 2002)

E. PENATALAKSANAAN
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai
penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatan
pelayanan kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai
usaha, antaranya:
a. Perencanaan Makanan.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan
kecukupan gizi baik yaitu :
1) Karbohidrat sebanyak 60 – 70 %
2) Protein sebanyak 10 – 15 %
3) Lemak sebanyak 20 – 25 %

b. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama
kurang lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi
penyakit penyerta (Iwan S, 2010). Sebagai contoh olah raga ringan adalah
berjalan kaki biasa selama 30 menit, olehraga sedang berjalan cepat
selama 20 menit dan olah raga berat jogging (Iwan S, 2010).

c. Penyuluhan Kesehatan
Untuk merancanakan pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil
yang maksimal. Edukator bagi pasien diabetes yaitu pendidikan dan
pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan
menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman pasien
akan penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang
optimal. Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidup yang lebih baik.
Edukasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan diabetes
(Bare & Suzanne, 2002).

F. PENCEGAHAN

1. Mengatur makanan yang sehat


2. Menjalani pemeriksaan gula darah
3. Berolah raga secara teratur
4. Menjaga keseimbangan berat badan
5. Menggunakan obat sesuai anjuran dokter

G. KOMPLIKASI
H. Akut
I.  Koma hipoglikemia
J.  Ketoasidosis
K.  Koma hiperosmolar non ketotik
L. b. Kronik
M.  Makroangiopati mengenai pembuluh darah besar: pada jantung, pada
tepi, pada otak
N.  Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopat diabetik,
nefropati diabetik.
O.  Neuropati diabetik
P.  Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru, gingivitis, dan infeksi saluran
kemih
Q.  Kaki diabetik
R. (Arif Mansjoer, 1999
S. Akut
T.  Koma hipoglikemia
U.  Ketoasidosis
V.  Koma hiperosmolar non ketotik
W. b. Kronik
X.  Makroangiopati mengenai pembuluh darah besar: pada jantung, pada
tepi, pada otak
Y.  Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopat diabetik,
nefropati diabetik.
Z.  Neuropati diabetik
AA.  Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru, gingivitis, dan infeksi
saluran kemih
BB.  Kaki diabetik
CC. (Arif Mansjoer, 1999
DD. Akut
EE. Koma hipoglikemia
FF.  Ketoasidosis
GG.  Koma hiperosmolar non ketotik
HH. b. Kronik
II.  Makroangiopati mengenai pembuluh darah besar: pada jantung, pada
tepi, pada otak
JJ.  Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopat diabetik,
nefropati diabetik.
KK.  Neuropati diabetik
LL. Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru, gingivitis, dan infeksi saluran
kemih
MM.  Kaki diabetik
NN. (Arif Mansjoer, 1999
Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk, 1999) adalah
1. Akut
a. Hipoglikemia dan hiperglikemia
b. Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar, penyakit
jantung koroner (cerebrovaskuler, penyakit pembuluh darah kapiler).
c. Penyakit mikrovaskuler, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati,
nefropati.
d. Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas), saraf otonom
berpengaruh pada gastro intestinal, kardiovaskuler (Suddarth and
Brunner, 1990).

2. Komplikasi menahun Diabetes Mellitus


a. Neuropati diabetic
b. Retinopati diabetic
c. Nefropati diabetic
d. Proteinuria
e. Kelainan koroner
f. Ulkus/gangren
Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain:
1) Grade 0 : tidak ada luka
2) Grade I :kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit
3) Grade II :kerusakan kulit mencapai otot dan tulang
4) Grade III :terjadi abses
5) Grade IV :Gangren pada kaki bagian distal
6) Grade V :Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal

O. MAKANAN YANG DIANJURKAN


Ayam tanpa kulit, telur rendah kolesterol, daging tanpa lemak, tempe, tahu,
kacang merah, oyong, timun, labu air, kembng kol, brokoli, tomat, timun

I. MAKANAN YANG TIDAK DIANJURKAN


Keju, susu full cream, durian, nangka, manisan buah kaleng, gula pasir, gula
batu, tape, sirup, madu, soft drink, selai, mie, sarden .

J. OBAT TRADISIONAL

1. Rebusan daun sirsak


a. Cuci bersih 10-15 lembar daun sirsak
b. Rebus 10-15 lembar daun sirsak dengan sekitar 3 gels air
c. Tunggu hingga mendidih, sehingga air menusut tersisa sekitas 1 gelas
d. Kemudian di saring
e. Minum ketika sudah hangat sehari 3x

2. Rebusan buah mahkota dewa


a. Mahkota dewa 5–6 buah
b. diiris -Air bersih 5 gelas
c. Cara Membuat : Rebus hingga tinggal 3 gelas,saring.
d. Minum 3 x 1 hari tiap minum 1 gelas.

3.  Rebusan daun salam


a. Ambil Daun salam segar sebanyak kurang lebih 10 lembar.
b. Daun salam dicuci, lalu direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1
gelas.
c. Setelah dingin, air disaring lalu diminum sekaligus pada malam
[Link] rutin setiap hari untuk mendapatkan hasil yang
memuaskan.

4.  Daun sambiloto
a. Siapkan satu genggam daun sambiloto, lalu bersihkan dengan air yang
mengalir.
b. Selanjutnya tumbuk daun sambiloto sampai halus dan tambahkan
dengan ½ gelas air masak.
c. Kemudian saring airnya dan diminum langsung, lakukan cara ini
secara rutin sampai sembuh

5. Teh Rosella
Teh rosella diberikan dengan cara menyeduh 3 kuntum kelopak rosela
kering (teh rosella) dengan 200 cc (1 gelas belimbing) air panas, diamkan
sesaat hingga air berwarna merah. Teh rosela ini dapat dikonsumsi dalam
kondisi dingin atau pun hangat.

 
 

 
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC

Brunner & Suddarth. 2002.  Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC

PERKENI. 2011. Konsensus pengelolaan diabetes melitus tipe 2 di indonesia


2011. Semarang: PB PERKENI.

Arjatmo, T, 2002. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Balai Penerbit


FKUI, Jakarta.

Smeltzer, C. Suzanne, Bare G. Brenda., 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal –


Bedah. Alih Bahasa: dr. H. Y. Kuncara. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai