Komponen Pendukung Model Pembelajaran Kooperatif-TTW
1. Dalam TTW terdapat beberapa komponen penting yang cukup berperan dalam
memperlancar jalannya strategi think talk write pada pembelajaran yaitu:
2. Guru yang berkompeten dan profesional.
3. Anak didik yang aktif dalam proses pembelajaran.
4. Buku bacaan yang sesuai dengan topik materi yang diajarkan dengan jumlah yang banyak
dan bervariasi.
5. Beberapa teknik pembelajaran yang mempunyai peranan cukup penting dalam
terlaksananya strategi think talk write dalam pembelajaran, agar dapat tercapai tujuan yang
telah ditentukan.
Peranan dan Tugas Guru dalam Usaha Mengefektifkan TTW
Peranan dan tugas guru dalam usaha mengefektifkan penggunaan strategi TTW ini,
sebagaimana yang di kemukakan Silver dan Smith (dalam Yamin, 2008) adalah:
1. Mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan, menantang setiap
siswa berpikir.
2. Mendengar secara hati-hati ide siswa.
3. Menyuruh siswa mengemukakan ide secara lisan dan tulisan.
4. Memutuskan apa yang di gali dan di bawa siswa dalam diskusi.
5. Memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasi persoalan-persoalan,
menggunakan model, membimbing dan membiarkan siswa berjuang dengan kesulitan.
6. Memonitoring dan menilai partisipasi siswa dalam diskusi, dan memutuskan kapan dan
bagaimana mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi.
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif TTW
Setiap model pembelajaran pasti memliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing
sesuati dengan karakteristiknya. Berikut kelebihan dan kekurangan model pembelajaran
Kooperatif Tipe TTW.
A. Kelebihan
1. Mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar.
2. Dengan memberikan soal open ended dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis
dan kreatif siswa.
3. Dengan berinteraksi dan berdiskusi dengan kelompok akan melibatkan siswa secara aktif
dalam belajar.
4. Membiasakan siswa berpikir dan berkomunikasi dengan teman, guru, dan bahkan dengan
diri mereka sendiri.
B. Kelemahan
1. terkecuali kalau soal open ended tersebut dapat memotivasi, siswa di mungkinkan bekerja
sibuk.
2. Ketika siswa bekerja dalam kelompok itu mudah kehilangan kemampuan dan kepercayaan,
karena di dominasi oleh siswa yang mampu. Hal ini dapat diantisipasi dengan pembentukan
kelompok yang heterogen, baik dalam hal kognitif, maupun yang lainnya.
3. Guru harus benar-benar menyiapkan semua media dengan matang agar dalam menerapkan
strategi think talk write tidak mengalami kesulitan. Hal ini diantiipasi dengan komitmen
guru untuk menerapkan model ini dalam pembelajaran demi tercapainya tujuan
pembelajaran.
Sintak Model Pembelajaran Kooperatif-TTW
Langkah-langkah model pembelajaran Kooperatif tipe Think Talk Write (TTW). Menurut
Yamin, 2008, model pembelajaran kooperatif tipe TTW melibatkan 3 tahap penting yang harus
dikembangkan dan dilakukan dalam pembelajaran biologi, yaitu:
1. Think (Berpikir) Dalam tahap ini siswa secara individu memikirkan kemungkinan jawaban
atau strategi penyelesaian, dan hal-hal yang tidak dipahaminya sesuai dengan bahasanya
sendiri. Pada tahap ini siswa akan membaca sejumlah masalah yang diberikan pada Lembar
Kegiatan Siswa (LKS), kemudian setelah membaca siswa akan menuliskan hal-hal yang
diketahui dan tidak diketahui mengenai masalah tersebut (membuat catatan individu).
2. Talk (Berbicara atau Berdiskusi) Pada tahap talk siswa diberi kesempatan untuk
merefleksikan, menyusun, dan menguji ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Pada
tahap talk memungkinkan siswa untuk terampil berbicara. Pada tahap ini siswa akan berlatih
melakukan komunikasi biologis dengan anggota kelompoknya secara lisan.
3. Write (Menulis) Aktivitas menulis siswa pada tahap ini meliputi: menulis solusi terhadap
masalah/pertanyaan yang diberikan termasuk perhitungan, mengorganisasikan semua
pekerjaan langkah demi langkah (baik penyelesaiannya, ada yang menggunakan diagram,
grafik, ataupun tabel agar mudah dibaca dan ditindaklanjuti), mengoreksi semua pekerjaan
sehingga yakin tidak ada perkerjaan yang ketinggalan, dan meyakini bahwa pekerjaannya
yang terbaik, yaitu lengkap, mudah dibaca dan terjamin keasliannya.
Teori Belajar
Teori belajar yang mendasari pembelajaran dengan teknik Think-Talk-Write (TTW)
antara lain adalah teori belajar penemuan (discovery) dan konstruktivisme. Teori belajar
discovery menegaskan bahwa siswa belajar bukan untuk memperoleh kumpulan pengetahuan
belaka, tetapi dengan adanya belajar siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir dan
berpartisipasi dalam memperoleh pengetahuan. Artinya, pembelajaran discovery lebih
menekankan proses daripada produk. Selain discovery, teori belajar lain yang mendasari
pembelajaran dengan teknik TTW adalah konstruktivisme dengan ide utamanya adalah sebagai
berikut.
1. Pengetahuan tidak diberikan dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa membentuk
pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya, melalui proses asimilasi
dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru ke dalam pikiran. Akomodasi
adalah penyusunan kembali (modifikasi) struktur kognitif karena adanya informasi baru,
sehingga informasi itu mempunyai tempat.
2. Agar pengetahuan diperoleh, siswa harus beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi
merupakan suatu keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andaikan dengan proses
asimilasi seseorang tidak dapat melakukan adaptasi terhadap lingkungannya, terjadilah
ketidakseimbangan (disequlibrium).
3. Pertumbuhan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidakseimbangan dan keadaan seimbang (disequlibrium-equilibrium). Akan tetapi, bila
tidak terjadi kembali keseimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang
lebih tinggi daripada sebelumnya.
Menurut pandangan tersebut, teori konstruktivisme dapat dikatakan berkenaan dengan
bagaimana anak memperoleh pengetahuan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pola
intelektual untuk berinteraksi dengan lingkungannya adalah melalui asimilasi. Bila seorang siswa
tidak memiliki pengetahuan memadai untuk menanggapi suatu situasi yang datang dari
lingkungannya, maka ia harus mengubah intelektualnya, sehingga melakukan akomodasi
terhadap lingkungannya. Apabila siswa sudah mampu menyatukan atau mengintegrasikan antara
pengetahuan yang ada pada dirinya atau pengalamannya dengan pengetahuan yang timbul dari
lingkungannya (keseimbangan antara asimilasi dan adaptasi), maka dapat dikatakan siswa telah
mengadakan adaptasi. Dengan demikian, ciri-ciri pembelajaran yang berbasis konstruktivisme
dan discovery sangat sesuai dengan teknik Think-Talk-Write, sehingga peranan guru dalam
teknik ini sebagai simulation of learning benar-benar dapat membantu siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan.
Sistem Sosial
Sistem sosial dari model pembelajaran ini, ditandai dengan guru melakukan pengendalian
terhadap aktivitas, tetapi dapat juga menjadi diskusi aktif oleh siswa. Dalam setiap fase, interaksi
peserta didik diarahkan secara intensif oleh guru. Dalam pengorganisasian kegiatan
pembelajaran ini diharapkan peserta didik akan berinisiatif untuk melakukan proses induktif
bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri pada setiap proses
pembelajaran. Dalam unsur sintem sosial ini ditekankan pola interaksi kedekatan guru sebagai
teman belajar siswa, peran guru sebagai transmiter pengetahuan, interaksi sosial yang efektif,
latihan menjalani “learning to be” yakni untuk membentuk peserta didik “menjadi dirinya
sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu
dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.
Prinsip Reaksi
Reaksi pendidik dalam setiap tahap adalah dalam membantu pebelajar dalam
mengungkapkan ide-idenya dan melakukan diskusi atau interaksi sosial dalam diskusi kelompok.
Hal tersebut dapat ditampilkan secara lisan dan tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi
dan konstruksi. Pertanyaan resitasi bertujuan memberi peluang kepada siswa memanggil
pengetahuan yang telah dimiliki dan pertanyaan konstruksi bertujuan memfasilitasi, menegosiasi,
dan mengkonfrontasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. Pendidik harus dapat
memimpin diskusi sehingga diskusi berlangsung seperti dalam suasana ilmuwan
mengkomunikasikan konsepsi mereka tentang sesuatu yang dibicarakan. Dalam proses kegiatan
pembelajaran ini, hendaknya berdasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan, yaitu sebagai
berikut.
1. Berikan dukungan dengan menitik beratkan pada sifat konsep dari diskusi-diskusi yang
berlangsung.
2. Berikan bantuan kepada peserta didik dalam mempertimbangkan sifat-sifat dan tipe dari
konsep yang dipelajarinya.
3. Pusatkan perhatian para peserta didik terhadap contoh-contoh konsepnya yang lebih spesifik
4. Bantulah peserta didik dalam mendiskusikan dan menilai strategi berfikir yang mereka
gunakan dalam pembelajaran.
Sistem Pendukung
Sistem pendukung dalam model pembelajaran Kooperatif Tipe TTW ini berupa sarana
pendukung yang diperlukan berupa bahan-bahan dan data yang terpilih serta terorganisasi dalam
bentuk unit-unit yang memiliki fungsi memberikan contoh-contoh dan menjelaskan konsep. Bila
para peserta didik sudah dapat berfikir kompleks, mereka akan dapat bertukar pikiran dan
bekerja sama dalam membuat unit-unit data atau memberikan contoh-contoh lainnya. Adapun
himpunan material yang dapat mengundang keingintahuan, misalnya isi kurikulum yang dapat
dijabarkan dalam bentuk masalah atau permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan
pembelajar yang masih relevan dengan isi kurikulum. Pendidik hendaknya adalah orang yang
memahami proses dan strategi konstruktivis. Selain itu, material sumber yang dapat dipakai
memecahkan permasalahan adalah materi yang dapat disediakan dalam lingkungan sekolah atau
lingkungan lokal.
Dampak Intruksional dan Pengiring
Dampak instruksional ini sudah ditetapkan terlebih dulu dalam tujuan pengajaran. Jadi
dampak instruksional merupakan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun
model kognitif konflik akan berdampak instruksional, yakni mencapai tujuan pemahaman pada
hakikat konsep dan interaksi sosial. Sedangkan dalam pembelajaran tersebut akan dicapai .
Dampak pengiring yang harus diupayakan muncul dalam setiap pelaksanaan proses belajar
mengajar atau dapat pula ditulis dalam tujuan pengajaran, yakni peserta didik akan peka terhadap
penalaran secara logis dalam komunikasinya sehari-hari.