0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan14 halaman

Analisis Broken Stowage di MV Aurora Christine

Bab 4 membahas hasil penelitian mengenai broken stowage yang terjadi pada kapal MV Aurora Christine. Terjadi karena muatan batubara tidak dimuat secara merata di seluruh ruang palka, sehingga menyebabkan ruang yang kosong dan muatan kurang maksimal. Penyebabnya antara lain peletakan muatan yang kurang efektif oleh buruh bongkar muat serta kondisi palka dan jenis muatan batubara yang besar-besar.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan14 halaman

Analisis Broken Stowage di MV Aurora Christine

Bab 4 membahas hasil penelitian mengenai broken stowage yang terjadi pada kapal MV Aurora Christine. Terjadi karena muatan batubara tidak dimuat secara merata di seluruh ruang palka, sehingga menyebabkan ruang yang kosong dan muatan kurang maksimal. Penyebabnya antara lain peletakan muatan yang kurang efektif oleh buruh bongkar muat serta kondisi palka dan jenis muatan batubara yang besar-besar.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

23

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM PENELITIAN

Berikut ini adalah beberapa gambaran dari pengalaman atau data-

data yang pernah dialami oleh penulis pada waktu melaksanakan praktek laut

selama 12 bulan di MV. AURORA CHRISTINE, milik perusahaan [Link]

MULIA TRANSPASIFIK dan rincian data kapal / ship particular terlampir.

Berikut akan diuraikan mengenai bagian – bagian kapal yang

berkaitan dengan penelitian penulis mengadakan penelitian.

1. Palka

Palka ( cargo hold ) adalah suatu tempat untuk tempat

pemadatan muatan diatas kapal, maka dari itu untuk konstruksi cargo

hold harus watertight dari air hujan ataupun air laut.

Adapun palka ( cargo hold ) dari penulis melaksanakan praktek

laut terdapat 5 buah palka berbentuk persegi, memiliki masing – masing

dua hatch cover yang berjenis butterfly foulding, Dan palka penulis

melakukan penelitihan terletak di tengah – tengah kapal, diantara water

ballast tank (WBT) diatas double bottom tank (DBT) dan dibawah top

side tank (TST), palka tersebut selalu diisi muatan yang sama dan tidak

pernah berganti jenis muatan yaitu memuat batubara, kapasitas yang

dimiliki masing – masing palka adalah sama sekitar kurang lebih 9300

ton, kecuali pada palka 3 yang berkapasitas lebih banyak sekitar 10.000

ton dan palka 1 memiliki kapasitas dibawah 9300 ton, dimana palka yang
24

masing – masing berbeda ukuran volume di setiap masing – masing

palka.

Gambar 4.4 Palka MV. AURORA CHRISTINE

Sumber : MV. Aurora Christine

Hold Dimension of Hatch


(meters)
1 14.40 x 15.60 M

2 20.0 x 15.60 M

3 20.0 x 15.60 M

4 20.0 x 15.60 M

5 20.0 x 15.60 M

Dan pada setiap bagian masing – masing palka terdapat

konstruksi atau bentuk tambahan didalamnya seperti gading – gading


25

atau bangunan yang memiliki sisi ruang tersendiri dan disitu letak broken

stowage yang sering terjadi

Gambar 4.5 palka 5 MV. Aurora Christine

Sumber : MV. Aurora Christine

Gambar 4.6 konstruksi palka MV. Aurora Christine

Sumber : MV. Aurora Christine


26

2. Jenis muatan

Jenis muatan ditempat penulis melakukan praktek hanya satu

jenis muatan yaitu hanya mengangkut batubara, batubara merupakan

salah satu bahan bakar fosil atau batuan sedimen yang dapat terbakar,

terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa – sisa tumbuhan

dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.

Ditempat penulis melakukan penelitihan terdapat 3 jenis kualitas

batubara yang biasa dimuat di atas MV. Aurora Christine, berikut ini

adalah jenis batubara sesuai kualitasnya :

a) Batubara kualitas no 1 : batubara ini merupakan jenis batubara yang

memiliki kualitas paling bagus, dengan ciri – ciri berukuran besar

mengkilap, keras dan tidak mengandung unsur debu dan pasir yang

banyak.

Gambar 4.7 batubara kualitas no 1

Sumber : MV. Aurora Christine


27

b) Batubara kualitas no 2 : batu bara jenis ini merupakan jenis batu bara

yang berkualitas sedang, berukuran besar tetapi mudah rapuh dan

kandungan debu tidak seberapa banyak.

Gambar 4.8 batubara kualitas no 2

Sumber : MV. Aurora Christine

c) Batubara kualitas no 3 : batubara ini adalah jenis batubara yang

berkualitas rendah, bentuk batu bara seluruhnya hampir menyerupai

pasir, mengandung unsur debu yang sangat banyak.

Gambar 4.9 batubara kualitas no 3

Sumber : MV Aurora Christine


28

B. PENYAJIAN DATA

Permasalahan yang dialami penulis mengenai terjadinya broken

stowage ketika melakukan praktek berlayar diatas MV. Aurora Christine

terjadi saat kapal sedang memuat di pelabuhan Muara Satui di sekitar bulan

November 2018 saat itu ketika kapal hendak selesai memuat masih terdapat

sisa banyak muatan yang berada di tongkang dan tidak bisa masuk seluruhnya

kedalam palka. Sehingga menyebabkan muatan yang dipesan oleh pencarter

menjadi berkurang, hal itu terjadi pada saat cek draft yang seharusnya draft

yang diharuskan 12.02 m tetapi fakta di kapal draft masih 10.90 m dan di rata

– rata palka sudah penuh dan menggunung. Setelah itu terjadi, mualim 1,

mualim jaga, juru mudi jaga dan kadet memeriksa di masing – masing palka

ternyata terdapat ruang – ruang yang belum terisi muatan terutama bagian

sudut atau pojok masing – masing palka, yang dikerjakan tidak melaksanakan

sesuai prosedur, adapun beberapa prosedur pemuatan yang dibuat oleh kapal

yaitu setelah memperoleh shipping instruction dari owner atau pencharter,

data terlampir :

1. Siapkan Loading Squence

2. Siapkan Stowage Plan

3. Siapkan palka dan sesuaikan dengan muatan yang akan dimuat

4. Sesuaikan peletakan muatan dengan benar

5. Siapkan dan maintenance alat bongkar muat

6. Hindari broken Stowage


29

Pada penyajian ini penulis melakukan wawancara kepada mualim 1

dan mualim jaga sebagai informan, berikut adalah hasil wawancara penulis

dengan informan :

1. Wawancara :

Pertanyaan Jawaban

Bagaimana cara pengawasan saat Mualim jaga : melihat sudah berapa

pemuatan berlangsung? banyak muatan yang sudah masuk

diatas palka, dan memperhatikan

kondisi kapal dan palka saat

pemuatan itu berlangsung.

Apa permasalahan yang sering Mualim 1 : kebiasaan buruh

ditemukan mengenai pemuatan yang menumpuk atau mencurahkan

menjadikan kerugian seperti broken muatan yang hanya pada satu titik

stowage? Dan bagaimana cara yang menyebabkan muatan itu

mengatasinya? menggunung dan tidak mengisi

semua konstruksi palka dan tidak

sesuai dengan kapasitas yang

ditampung.

Mengarahkan buruh saat berkerja

untuk tidak tergesah – gesah saat

proses pemuatan dan meratakan

peletakan atau mencurah kan

muatan disetiap sisi palka supaya

semua muatan yang diharuskan bisa


30

masuk semua.

Apa saja yang selain dari perkerjaan Mualim 1: kondisi palka juga

buruh yang dapat menyebabkan mempengaruhi pengisian muatan

terjadinya broken stowage yang karena ketidak sesuaian bentuk dari

terjadi dikapal ini? konstruksi palka dan bentuk muatan

sehingga menjadikan ruang rugi atau

bagian yang tidak bisa terisi.

Lalu jenis muatannya, karena kapal

ini selalu muat batubara, jadi jenis

batu bara juga mampengaruhi jika

palka diisi dengan batu bara yang

jenis bagus, itu akan berpotensi

menimbulkan broken stowage,

karena jenis batu bara yang bagus

berukuran besar sehingga tidak

dapat mengisi sempurna konstruksi

palka seperti dibalik gading –

gadingnya.

Bagaimana cara meminimalisir dari Mualim 1 : melakukan trimming

terjadinya broken stowage terutama atau perataan muatan menggunakan

pada kapal ini? alat berat, dan menghitung setiap

tongkang untuk memastikan berapa

jumlah muatan yang sudah masuk.


31

C. Analisis Data

Bedasarkan kejadian yang penulis alami diatas kapal mengenai

broken stowage penulis menganalisa bahwa penyebab terjadinya broken

stowage pada MV. Aurora Christine yaitu.

1. Peletakkan batubara yang kurang efektif saat dimuat didalam palka

Kurang terampilnya buruh atau TKBM yang tidak mematuhi

arahan mualim 1 pada saat memuat yaitu meletakkan muatan atau

mencurahkan muatan hanya disatu titik saja yang mengakibatkan muatan

itu jadi menggunung dan melebihi batas penutup palka (hatch cover)

muatan tidak merata, serta ruang sudut – sudut palka tidak rata terisi. Hal

itu terjadi yang seharus nya muatan dapat masuk sesuai kapasitas palka,

karena peletakan yang tidak benar jadi tidak dapat masuk seluruhnya.

2. Jenis batubara

Jenis batu bara juga mempengaruhi terjadinya broken stowage,

pada kejadian tersebut penulis sedang memuat jenis batubara yang

berkualitas bagus dan berukuran besar, oleh karena itu potensi

terjadinya broken stowage itu ada, karena ukuran yang besar dan

bentuk yang tidak rata sehingga tidak dapat mengisi sempurna pada

konstruksi palka terutama di balik gading – gading nya.

Sedangkan jika kapal memuat muatan dengan jenis kualitas rendah

potensi terjadinya broken stowage itu kecil, karena sifat muatan yang
32

sangat kecil dan seperti pasir, maka akan sempurna mengisi di masing

– masing sudut palka.

D. Pembahasan

Setelah penulis menganalisa permasalahan yang terjadi selama

melaksankan praktek berlayar, didapatkan pembahasan mengenai masalah

tersebut yaitu:

1. Peletakan muatan yang secara efektif

Dalam kegiatan pemuatan terdapat 5 prinsip dalam memuat

yaitu:

a. Melindungi ABK dan Buruh

b. Melindungi kapal

c. Melindungi muatan

d. Bongkar muat secara cepat dan sistematis

e. Penggunaan ruang muat semaksimal mungkin

Pada masalah yang dialami oleh penulis prinsip yang paling berkaitan

dengan terjadinya broken stowage adalah prinsip yang ke 5 yaitu dalam

melakukan pemuatan harus diusahakan agar semua ruangan palka terisi

penuh oleh muatan / kapal dapat muat sampai muatan yang ada di

tongkang bisa masuk seluruhnya ke dalam kapal sesuai dengan stowage

plan.

Untuk menghindari ruang rugi atau broken stowage yang

terjadi didalam palka hendaknya buruh atau TKBM meletakkan muatan

yang telah diambil secara merata kedalam palka, mengisi terlebih dahulu

bagian – bagian sudut ataupun bagian yang sedikit sulit terjangkau


33

sehingga pemadatan muatan didalam palka akan sempurna, singkat dan

sistematis, adapun jika muatan didalam palka sudah menggunung bisa

dilakukan dengan melaksanakan trimming atau memasukkan alat berat ke

palka untuk meratakan lagi muatan yang ada didalam palka, bisa dengan

memasukkan buldozer ke dalam palka, ataupun menggunakan grab dan

diratakan kembali ke ruang – ruang yang masih kosong.

Dan mualim 1 menginstruksikan foreman atau kepala kerja

buruh untuk menyampaikan kepada masing – masing buruh mengenai

peletakkan yang baik dan benar.

2. Jenis batubara

Untuk mendapatkan pemadatan yang sempurna batubara yang

berkualitas yang paling rendah yang paling sempurna mengisi setiap

konstruksi palka yang dikarenakan sifat dari batubara yang berkualitas

rendah itu seperti pasir dan berukuran sangat kecil. Jika memuat batubara

yang berukuran besar atau yang berkualitas bagus maka broken stowage

tetap ada dan presentasenya sangat kecil sekali karena jenis batubara

yang besar tidak memungkinkan mengisi bagian – bagian yang sempit

maka dari itu trimming menggunakan alat berat seperti dozer adalah hal

yang tetap dilakukan untuk memadatkan dan memaksimalkan pemuatan

dan meminimalisir broken stowage.


34

Gambar 4.10 kegiatan trimming pada saat akhir pemuatan

Sumber : MV. Aurora Christine


35

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan untuk meminimalisir

terjadinya Broken Stowage dapat disimpulkan bahwa

1. Pengawasan terhadap buruh pada saat peletakan muatan saat melakukan

pemuatan ke palka atau hold sangatlah berpengaruh guna mencegah

kerugian akibat penumpukan cargo dan menyebabkan tertidak terisinya

salah satu bagian ruang muat yang terutama pada sudut – sudut palka.

2. Jenis batubara juga dapat mempengaruhi terjadinya broken stowage maka

dari itu jika batubara yang dimuat berkualitas bagus atau berbentuk besar

potensi broken stowage pasti terjadi yang dikarenakan tidak sempurnanya

mengisi bagian konstruksi yang tertentu terutama pada bagian gading –

gading maka kegiatan trimming tetap dilakukan untuk memaksimalkan

pemadatan cargo di ruang muat. Dan apabila yang dimuat batubara

berkualitas rendah atau yang berbentuk seperti pasir jika peletakan

dilakukan dengan baik dan tidak menumpuk maka trimming tidak perlu

dilakukan karena partikel jenis batubara yang berkualitas rendah sangatlah

kecil, jadi akan lebih sempurna mengisi setiap bagian konstruksi.

B. SARAN

Setelah melakukan penelitian, penulis mengemukakan beberapa saran

sebagai berikut:

1. Dilakukannya safety meeting saat sebelum pemuatan itu dimulai mengenai

pengawasan saat pemuatan itu berjalan kepada perwira jaga bersama


36

jurumudi jaga, dan perwira mengarahkan kepada foreman atau kepala

kerja TKBM untuk menginstruksikan kepada anggotanya untuk

melakukan prosedur pemuatan yang benar yang sesuai arahan mualim 1.

2. Pengecekan perjam ke masing – masing palka untuk memastikan bahwa

yang dilakukan atau dikerjakan buruh saat meletakkan muatan itu sudah

benar sesuai instruksi.

Anda mungkin juga menyukai