0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan224 halaman

Bukti Musyawarah Sunan Gunung Giri

Tesis ini membahas internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diharapkan dapat member

Diunggah oleh

Wahyudi Ramdhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan224 halaman

Bukti Musyawarah Sunan Gunung Giri

Tesis ini membahas internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diharapkan dapat member

Diunggah oleh

Wahyudi Ramdhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK

KARAKTER SANTRI
(Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang)

TESIS

Oleh :

MOCH. IRFAN UBAIDILLAH


NIM. 15770023

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2019
INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK
KARAKTER SANTRI
(Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang)

TESIS

Diajukan kepada Pascasarjana


Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Magister
Pendidikan Agama Islam

Oleh :

MOCH. IRFAN UBAIDILLAH


NIM. 15770023

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Agustus, 2019

i
ii
iii
iv
MOTTO

               

  

Artinya: “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan


takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan
bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”
(Q.S. Al Maidah: 5 : 2)1

1
Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Bandung: CV. Jabal Rodhotul Jannah,
2010), Hal. 106
v
PERSEMBAHAN

Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Syukurku pada-Mu atas
segala nikmat dan kasih-Mu, jadikanlah karya ini sebagai amal ibadahku. Aamiin

Karya ini saya persembahkan kepada:

Bapak ku Moch. Zaini dan Ibuku Zainab yang tak pernah berhenti memberikan
materi, berdoa, berjuang, berusaha, dan menguatkan siang dan malam demi
keselamatan, keberhasilan dan kesuksesan putra-putrinya di dunia dan akhirat.

Bapak/Ibu Guru saya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Pondok Pesantren dan tidak
lupa kepada Bapak/Ibu Dosen S-1 dan S-2 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
yang selalu sabar dalam membimbing dan mengajar sehingga saya bisa sampai
disini

Ketiga adikku yang saya cintai Irfatuddiana, Moch. Cholil Abror dan Nadi
Nasrullah yang selalu memberikan semangat dan doa

Keluarga Besar MPAI Angkatan 2015 khususnya MPAI-B yang selalu


memberikan bantuan, dukungan, motivasi dan inspirasi

Keluarga Besar Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang dan Ma’had Dar El-
Ulum El-Qur’aniyyah (MADUQU) yang selalu memberikan penulis bimbingan
moral dan spiritual untuk menjadi orang yang bermanfaat

Kepada seseorang yang telah memasuki jenjang kehidupanku yang lebih


mendalam

Semoga segera berkenan untuk dihalalkan. Aamiin

vi
KATA PENGANTAR

   


Assalamu’alaikum [Link]

Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT

yang telah memberikan kenikmatan tiada terkira, baik nikmat Iman, Islam, dan

Ihsan, sehingga peneliti mampu menyelesaikan sebuah karya tulis ini dengan baik

tanpa adanya hambatan yang berarti.

Sholawat serta salam selalu terlimpahkan kepada Baginda Agung Nabi

Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju masa

Islam dan akan kita nantikan syafa’atnya di akhir nanti.

Terselesaikannya penulisan Tesis yang berjudul “Internalisasi Nilai-Nilai

Agama Islam dalam Membentuk Karakter Santri (Studi Kasus Di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang)” ini, tidak terlepas dari bimbingan, bantuan serta

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti patut mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Abdul Haris, [Link] selaku rektor Universitas Islam Negeri Maulana

Malik Ibrahim Malang.

2. Prof. Dr. H. Mulyadi, [Link].I selaku Direktur Pascasarjana Universitas Islam

Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan para Asisten Direktur atas segala

layanan dan fasilitas yang telah di berikan selama peneliti menempuh studi.

3. Dr. H. Muhammad Asrori, [Link] selaku Ketua Program Studi Magister

Pendidikan Agama Islam dan Dr. H. Muhammad Amin Nur, M.A selaku

vii
Sekretaris Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam di Pascasarjana

UIN Maliki Malang.

4. Dr. H. Muhammad Zainuddin, MA dan Dr. Muhammad Walid, MA, selaku

Dosen Pembimbing I dan II yang dengan penuh kesabaran dan kearifan telah

memberikan bimbingan, amanah, koreksi dan masukan-masukan ilmiah

kepada peneliti demi sempurnanya penulisan tesis ini.

5. Segenap Dosen Pascasarjana UIN Maliki Malang yang telah memberikan

kontribusi keilmuan kepada peneliti selama belajar di Pascasarjana UIN

Maliki Malang.

6. Ketua Yayasan, Kyai dan Asatidz Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peneliti untuk

melakukan research guna untuk menyelesaikan tesis dan memenuhi salah

satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam.

7. Bapak dan ibuk tersayang yang telah memberikan dorongan baik moril,

materiil, maupun spiritual. Serta ketiga adikku dan semua keluargaku yang

telah memberikan do’a, semangat dan nasehat sehingga terselesaikannya tesis

ini dengan baik.

8. Teman-teman MPAI Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam

angkatan 2015, terimaksih atas do’a dan motivasinya dalam penyelesaian

Tesis ini. Serta teman-teman MPAI-B yang juga banyak memberikan

masukan dan semangat dalam pengerjaan tesis ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu dalam memberikan

doa, motivasi, dan bantuan sehingga terselesaikannya tesis ini.

viii
ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN

Penulisan trensliterasi Arab-Latin dalam Tesis ini menggunakan pedoman

transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no.0543 b/u/1987 yang

secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Huruf
‫ =ا‬a ‫ =ز‬z ‫ =ق‬q
‫ =ب‬b ‫ =س‬s ‫ =ك‬k
‫ =ت‬t ‫ =ش‬sy ‫ =ل‬l
‫ =ث‬ts ‫ =ص‬sh ‫ =م‬m
‫ =ج‬j ‫ =ض‬dl ‫ =ن‬n
‫ =ح‬h ‫ = ط‬th ‫ =و‬w
‫ = خ‬kh ‫ =ظ‬zh ‫ =ه‬h
‫ =د‬d ‫’ =ع‬ ‫ =ء‬,
‫ = ذ‬dz ‫ =غ‬gh ‫ =ي‬y
‫ =ر‬r ‫ =ف‬f

B. Vokal Panjang C. Vokal Diftong


Vokal (a) panjang = â ‫أَ ْو‬ = aw
Vokal (i) panjang = î ْ َ‫أ‬
‫ي‬ = ay
Vokal (u) panjang = û ‫أ ُ ْو‬ = û
‫ي‬
ْ ِ‫إ‬ = î

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii

LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. iv

MOTTO ..................................................................................................................v

LEMBAR PERSEMBAHAN .............................................................................. vi

KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ...........................................................................x

DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL.................................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii

ABSTRAK ........................................................................................................ xviii

BAB I: PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Konteks Penelitian ..................................................................................1

B. Fokus Penelitian ......................................................................................15

C. Tujuan Penelitian.....................................................................................16

D. Manfaat Penelitian ..................................................................................16

E. Orisinalitas Penelitian..............................................................................17

F. Definisi Istilah .........................................................................................25

xi
G. Sistematika Penulisan .............................................................................26

BAB II: KAJIAN PUSTAKA. .................................................................................28

A. Kajian tentang Internalisasi .....................................................................28

1. Pengertian Internalisasi ......................................................................28

2. Tahapan Internalisasi ..........................................................................32

3. Metode Internalisasi ...........................................................................36

B. Kajian tentang Nilai-Nilai Agama Islam .................................................39

1. Pengertian Nilai-Nilai Agama Islam ..................................................39

2. Macam-Macam Nilai Agama Islam ...................................................46

C. Kajian tentang Karakter ..........................................................................58

1. Pengertian Karakter ............................................................................58

2. Nilai-Nilai Karakter ............................................................................61

3. Tahap Pembentukan Karakter ............................................................64

4. Metode Pembentukan Karakter ..........................................................70

5. Karakter Santri....................................................................................73

D. Kerangka Berfikir ....................................................................................77

BAB III: METODE PENELITIAN ........................................................................78

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...........................................................78

B. Kehadiran Peneliti.................................................................................81

C. Latar Penelitian .....................................................................................83

D. Data dan Sumber Data Penelitian .........................................................84

E. Teknik Pengumpulan Data ....................................................................87

F. Teknik Analisis Data .............................................................................92

xii
G. Pengecekan Keabsahan Data ................................................................94

BAB IV: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ..............................99

A. Deskripsi Objek Penelitian ................................................................99

1. Sejarah Berdirinya Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang........99

2. Profil Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.............................106

3. Visi dan Misi Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ................106

4. Motto Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ............................108

5. Data Dewan Kyai dan Ustadz Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang..............................................................................................108

6. Data Santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang....................109

7. Kondisi Sarana dan Prasarana Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang..............................................................................................110

B. Paparan Data Penelitian ....................................................................112

1. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........112

2. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........123

3. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........136

C. Temuan Penelitian ..............................................................................143

1. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........143

xiii
2. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........146

3. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang .........148

BAB V: PEMBAHASAN .........................................................................................150

A. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ................150

B. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ................154

C. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ................159

BAB VI: PENUTUP .................................................................................................163

A. Kesimpulan ...........................................................................................163

B. Saran .....................................................................................................165

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................166

LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian .......................................................................... 22
Tabel 1.2 Posisi Penelitian ................................................................................... 24
Tabel 2.1 Nilai-Nilai Agama Islam ...................................................................... 47
Tabel 2.2 Nilai Karakter Bangsa .......................................................................... 62
Tabel 4.1 Profil Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ................................. 106
Tabel 4.2 Jumlah Santri Berdasarkan Letak Kamar ............................................. 110
Tabel 4.3 Kondisi Sarana dan Prasarana Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang .................................................................................................. 111
Tabel 4.4 Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang .................................................................................................. 116
Tabel 4.5 Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga
Tinggi Pesantren Luhur Malang ........................................................... 144
Tabel 4.6 Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga
Tinggi Pesantren Luhur Malang ........................................................... 147
Tabel 4.7 Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi
Pesantren Luhur Malang ....................................................................... 149
Tabel 5.1 Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga
Tinggi Pesantren Luhur Malang ........................................................... 152
Tabel 5.2 Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi
Pesantren Luhur Malang ....................................................................... 161

xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 2.1 Kerangka Berpikir .......................................................................... 77
Gambar. 5.1 Konseptual Temuan Penelitian ....................................................... 162

xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian
Lampiran 2. Surat Ijin Selesai Penelitian
Lampiran 3. Instrumen Penelitian
Lampiran 4. Transkip Wawancara
Lampiran 5. Jadwal KBM Madrasah Diniyah
Lampiran 6. Jadwal Pengajian Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
Lampiran 7. Dokumentasi Penelitian
Lampiran 8. Biodata Mahasiswa

xvii
ABSTRAK

Ubaidillah, Moch. Irfan. 2019. Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam dalam


Membentuk Karakter Santri (Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang). Tesis, Program Studi Pendidikan Agama Islam
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
Ibrahim\Malang, Pembimbing: (1) Dr. H.M. Zainuddin, M.A. (2) Dr.
Muhammad Walid, MA
Kata Kunci: Internalisasi, Nilai-Nilai Agama Islam, Karakter Santri
Internalisasi adalah proses menanamkan dan menumbuhkambangkan suatu
nilai dan budaya menjadi bagian diri orang yang bersangkutan. Sedangkan nilai-
nilai agama Islam adalah standar atau patokan norma yang mempengaruhi
manusia dalam menentukan pilihannya yang menitikberatkan pada pertimbangan
baik-buruk, benar-salah, hak dan batil, diridhoi atau dimurkai.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih luas dan mendalam
Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Karakter Santri, dengan
cakupan: (1) Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk
karakter santri (2) Metode internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk
karakter santri (3) Dampak internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk
karakter santri. Penelitian yang dilaksanakan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Studi Kasus.
Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data peneliti menggunakan
teknik triangulasi. Sedangkan informan dalam penelitian ini adalah Ketua Majelis
Santri, Kepala Madrasah Diniyah dan Santri.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses dilakukan dengan
cara transformasi nilai, transaksi nilai dan trans-internalisasi; (2) Metode dari
internalisasi nilai-nilai agama Islam adalah peneladanan, pembiasaan, pergaulan,
penegak aturan dan pemotivasian yang dikemas melalui metode pembelajaran,
yaitu: bandongan, sorogan, presentasi, tanya jawab dan uswah hasanah (teladan
yang baik). (3) Dampaknya kepada santri berupa semakin bertanggungjawab
terhadap segala kegiatan-kegiatan pesantren baik yang bersifat wajib maupun
tidak dan dalam kehidupan sehari-harinya di luar pesantren. Santri memiliki sikap
yang ikhlas dalam menjalankan kegiatan yang menjadi rutinan dan membiasakan
diri terhadap segala kegiatan yang ada di pesantren sehingga seiring berjalannya
waktu dapat dilaksanakan dengan ikhlas tanpa adanya beban. Santri memiliki
karakter mandiri dalam merawat pesantren dan mengatur jalannya kegiatan
pesantren tanpa selalu bergantung kepada Pengasuh, Kyai maupun Ustadz. Santri
memiliki sifat yang suka bersosial dengan tanpa adanya sekat diantara santri,
menjadikan suasana kekeluargaan yang tinggi dan menumbuhkan rasa ta’awun
(tolong menolong).

xviii
ABSTRACT

Ubaidillah, Moch. Irfan. 2019. The Internalization of Islamic Values of Forming


the Students’ Characters (Case Study of Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang). Thesis, Islamic Education Department, Postgraduate Program of
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Advisors: (1) Dr. H.M.
Zainuddin, M.A. (2) Dr. Muhammad Walid, MA

Keywords: Internalization, Islamic Values, Santri’s Characters

Internalization is a process for instilling and developing the value and the
culture to become part of the person concerned. While Islamic values are
standards or norms that influence human of determine their choices. Those focus
on consideration of good, right-wrong, right and vanity, blessed or wrathful.
This research aims to determine more broadly and deeply the internalization
of Islamic values in forming students (Santri)’s characters, with coverage: (1) The
process of the internalization of Islamic values in forming Santri’s characters, (2)
the methods of the internalization of Islamic values in forming Santris’ characters,
(3) the impact of the internalization of Islamic values in forming Santri’s
characters. It carried out at Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. It used a
qualitative approach with the type of Case Study. Data collection used interviews,
observation, and documentation. Data analysis techniques included data
reduction, data presentation, and conclusion drawing. For checking the validity of
the data the researcher used triangulation techniques. The informants in this
research were the Chairperson of Majelis Santri, the Head of Madrasah Diniyah
and Santri.
This research shows that: (1) The process the internalization of Islamic
values in forming Santri’s characters is carried out by means of value
transformation, value transactions and trans-internalization; (2) The method of the
internalization of Islamic values in forming Santri’s characters is exemplary,
habituation, association, law enforcement and motivation. It is packaged through
learning methods, namely: bandongan, sorogan, presentation, question and
answer and uswah hasanah (good example); (3) The impact of the internalization
of Islamic values in forming Santri’s characters for Santri is to be increasingly
responsible for all Islamic boarding school (pesantren) activities both compulsory
and not in daily life outside pesantren. Santri have a sincere attitude in carrying
out routine activities and familiarize themselves with all activities that exist in
pesantren. Thus they can carry out sincerely without any burden. Santri have an
independent character in caring for pesantren and arranging the activities of it
without depend on caregivers, Kyai and Ustadz. Santri have a social-like nature
without the existence of a barrier between them, making a high family atmosphere
and fostering a sense of ta'awun (helping each other).

xix
‫مستخلص البحث‬

‫عبيد اهلل‪ ،‬حممد عرفان‪ .9102 .‬غرس القيم اإلسالمية في تكوين شخصية طلبة المعهد (دراسة الحالة في‬
‫المعهد العالي لوهور ماالنج)‪ .‬رسالة املاجستري‪ ،‬قسم الرتبية اإلسالمية‪ ،‬كلية الدراسات العليا جبامعة موالنا‬
‫مالك إبراهيم اإلسالمية احلكومية ماالنج‪ .‬املشرف األول‪ :‬د‪ .‬احلاج زين الدين‪ ،‬املاجستري‪ .‬املشرف الثاين‪ :‬د‪.‬‬
‫حممد وليد‪ ،‬املاجستري‪.‬‬
‫الكلمات الرئيسية‪ :‬االستيعاب الداخلي‪ ،‬القيم الدينية اإلسالمية‪ ،‬حرف سانرتي‬
‫الغرس هو عملية دمج وتنشئة قيمة وثقافة لتكون جزءا من الشخص نفسه‪ .‬يف حني أن القيم اإلسالمية‬
‫هي معيار أو مؤشر أخالقي يؤثر على اإلنسان يف حتديد خياراته اليت يركز على النظر يف حسنتها أو سيئتها‪،‬‬
‫صحتها أو خطأها‪ ،‬حقها أو باطلها‪ ،‬مرضية أو مغضبة‪.‬‬
‫يهدف هذا البحث إىل معرفة غرس القيم اإلسالمية يف شكل أوسع ومتعق يف تكوين شخصية طلبة‬
‫املعهد يف النطاق التالية‪ )0( :‬عملية غرس القيم اإلسالمية يف تكوين شخصية طلبة املعهد‪ )9( ،‬طريقة غرس‬
‫القيم اإلسالمية يف تكوين شخصية طلبة املعهد‪ ،‬و (‪ )3‬اآلثار املرتتبة من غرس القيم اإلسالمية يف تكوين‬
‫شخصية طلبة املعهد‪ .‬البحث الذي أجري يف املعهد العايل لوهور ماالنج استخدم منهج البحث الكيفي بنوع‬
‫دراسة احلالة‪ .‬مت مجع البيانات من خالل املقابلة‪ ،‬املالحظة والوثائق‪ .‬ومشلت تقنية حتليل البيانات حتديدها‪،‬‬
‫عرضها واالستنتاج منها‪ .‬وللتحقيق من صحة البيانات استخدم الباحث طريقة التثليث‪ .‬واملخربون يف هذا البحث‬
‫يتكون من رئيس جملس طلبة املعهد‪ ،‬رئيس املدرسة الدينية وطلبة املعهد أنفسهم‪.‬‬
‫أظهرت نتائج هذا البحث ما يلي‪ )0( :‬أجريت العملية عن طريق حتويل القيمة‪ ،‬نقلها واالستيعاب‬
‫الداخلي‪ )9( .‬احتوت طريقة غرس القيم اإلسالمية على القدوة‪ ،‬التعويد‪ ،‬املعاملة‪ ،‬إنفاذ األنظمة والتشييعات‬
‫اليت تشكل يف أساليب التعليم؛ وهي‪ :‬باندونغان (‪ ،)bandongan‬سوروغان (‪ ،)sorogan‬تقدمي العرض‪،‬‬
‫احملاكاة وأسوة حسنة‪ )3( .‬اآلثار املرتتبة منه هي يكون طلبة املعهد أكثر مسؤولية عن مجيع أنشطة املعهد؛ سواء‬
‫كانت أنشطة ملزمة أو غري ملزمة وكذلك يف حياهتم اليومية خارج املعهد‪ .‬ميتلك الطلبة موقف صادق يف تنفيذ‬
‫األنشطة املعتادة ويتعود على األنشطة املوجودة داخل املعهد‪ ،‬حيث مع مرور الوقت ميكن تنفيذها باإلخال‬
‫دون أي عبء‪ .‬ويكون الطلبة شخصية مستقلة يف رعاية املعهد وترتيب مسار أنشطته دون االعتماد على مدير‬
‫املهعد‪ ،‬الشيخ أو األساتذة‪ .‬فضال أهنم يتصفون باإلنسان اإلجتماعي مع عدم وجود تقسيمات بينهم‪ ،‬مما جيعل‬
‫اجلو األسري عالية وينمي شعور التعاون‪.‬‬

‫‪xx‬‬
BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Pendidikan agama merupakan suatu sistem pendidikan yang mencakup

seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam rangka

meningkatkan penghayatan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama,

berbangsa dan bernegara.

Ahmad D. Marimba mengatakan, pendidikan Islam adalah bimbingan

jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada

terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan

pengertian yang lain, kepribadian utama tersebut dengan istilah Kepribadian

muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan

memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung

jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.2

Diketahui saat ini dampak globalisasi yang terjadi membawa masyarakat

Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa. Padahal “pendidikan

karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu

ditanamkan sejak dini kepada anak-anak”.3

Di Indonesia pendidikan karakter saat ini memang dirasakan mendesak,

gambaran situasi masyarakat bahkan situasi dunia pendidikan di Indonesia

menjadi motivasi pokok pengharus utamaan implementasi pendidikan karakter.

Pendidikan karakter di Indonesia amat perlu pengembangannya bila mengingat


2
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), cet ke-2, Hal. 9
3
Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2011), Hal. 1.
1
2

makin meningkatnya tawuran antar pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan

remaja terutama di kota-kota besar, pemerasan/kekerasan, kecenderungan

dominasi senior terhadap yunior, penggunaan narkoba dan lain-lain. Bahkan

yang paling memperihatinkan, keinginan untuk membangun sifat jujur pada

anak-anak melalui kantin kejujuran disejumlah sekolah banyak yang gagal.

Di pihak lain, Internalisasi nilai-nilai agama yang diberikan dalam

lembaga pendidikan tidak sesuai dengan realitas sosial yang ada. Pembelajar

menjadi bingung ketika nilai dan norma yang diterima di lembaga pendidikan

sangat jauh berbeda dengan perilaku masyarakat. Krisis keteladanan dari

pemegang kendali dalam masyarakat. Krisis etika dan moral sebagai akibat

kurang efektifnya proses internalisasi sikap-sikap dan nilai-nilai agama dalam

proses pembelajaran atau akibat dipisahkanya urusan agama dan dunia.

Sejak bergulirnya era reformasi tahun 1998 di Indonesia, media massa

mulai tumbuh subur dan berkembang dengan pesat. Apalagi setelah

ditetapkannya undang-undang tentang kebebasan pers oleh DPR RI, media

massa di Indonesia semakin tumbuh subur bagaikan jamur dan hampir-hampir

tidak dapat dikendalikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan

berlindung di bawah undang-undang kebebasan pers, banyak sekali

bermunculan media massa baik elektronik maupun cetak yang hanya mengejar

keinginan untuk meraup keuntungan belaka, menyuguhkan informasi-

informasi dan tayangan yang kurang bermoral tanpa memperhatikan dampak

negatif yang dapat ditimbulkannya pada masyarakat.


3

Perkembangan media massa saat ini, di satu sisi merupakan gejala yang

cukup positif untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya kesadaran

masyarakat akan demokrasi. Namun, di sisi lain perkembangan media massa

saat ini juga dapat membahayakan perkembangan kepribadian, sikap dan

perilaku moral anak-anak bangsa. Berbagai macam tayangan yang tidak

mendidik dari berbagai macam media massa telah berlangsung terus-menerus

dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat. Tayangan-tayangan

yang tidak mendidik dan jauh dari nilai-nilai moral tersebut dengan mudahnya

dapat dilihat dan dinikmati oleh siapa saja tidak terkecuali oleh anak-anak.

Banyaknya suguhan yang tidak mendidik oleh media massa baik cetak

maupun elektronik yang tidak pantas dan belum saatnya diterima oleh anak-

anak, secara perlahan tapi pasti telah mulai berdampak pada rusaknya moral

dan kepribadian anak-anak bangsa. Dalam tubuh lembaga pendidikan banyak

terjadi kesenjangan dan penyimpangan, seperti tawuran antar pelajar,

pornografi dan pornoaksi yang diperankan oleh para pelajar, penyalahgunaan

narkoba, dan penyalahgunaan media yang semakin canggih. Pendidikan saat

ini seolah hanya mengajar angka kelulusan dan kurang memperhatikan nilai-

nilai agama yang menyentuh spiritual kaum pelajar, setiap materi yang

diajarkan seolah tidak membekas di hati dan tidak tercermin dalam tingkah

laku mereka. Kasus kenakalan yang dilakukan oleh remaja sudah merambah

keseluruh wilayah Indonesia, mulai dari perkotaan hingga daerah pedesaan

yang terpencil.
4

Sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari

kalangan pelajar dan mahasiswa. Angka tersebut kemungkinan meningkat

kembali karena beredarnya sejumlah narkotika jenis baru. Data tersebut didapat

dari penelitian Puslitkes Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika

Nasional (BNN) pada 2016 lalu. "(Hasil penelitian menyebutkan) pengguna

narkoba pelajar dan mahasiswa mencapai 27,32 persen," ujar Kepala

Subdirektorat Lingkungan Pendidikan BNN Agus Sutanto, Senin (30/10), di

sela-sela deklarasi pelajar anti-narkoba, kekerasan anak, dan pencegahan HIV-

AIDS di Stadion Korpri di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.4

Selain kasus narkoba ada pula kasus yang akhir-akhir ini menghantui

masyarakat khususnya generasi muda yakni pergaulan bebas yang ikut

melanda para pelajar. Setidaknya berdasarkan hasil survei Komnas

Perlindungan Anak (KPA) di 33 provinsi pada Januari sampai Juni 2008

sebanyak 62,7 persen remaja SMP dan SMA pernah melakukan pergaulan

bebas. “Sebanyak 21,2 persen remaja mengaku aborsi, 97 persen lagi

menyatakan pernah menonton film porno.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia khususnya

pendidikan agama belum dikatakan maksimal, oleh sebab itu peran pendidikan

dalam menyikapi permasalahan ini sangat penting sekali. Bagaimana lembaga

pendidikan memberikan pemahaman kepada para pelajar, bagaimana

memanfaatkan media yang semakin canggih, bagaimana menyikapi informasi-

informasi miring baik dalam media cetak maupun audiovisual, seperti

4
[Link]
pengguna-narkoba-pelajar-dan-mahasiswa (Diakses pada: 25-04-2018, pukul 14.05 WIB)
5

pendangkalan akidah melalui simbol-simbol yang diperankan oleh selebritis

favorit mereka, pornoaksi, tawuran dan sebagainya. Justru ini membutuhkan

perhatian serius dari lembaga pendidikan dalam membina kepribadian

siswanya agar dapat membentengi diri, dan tidak mudah terjebak dalam

kondisi tersebut.

Sebagaimana diketahui pada usia pelajar tingkat SMA, merupakan masa

pencarian jati diri oleh masing-masing individu serta tingkat pubertas yang

tinggi. Apabila pada masa usia tersebut para pelajar kurang mendapatkan

pembinaan akhlak dan nilai-nilai moral, maka akan mudah terpengaruh oleh

derasnya arus globalisasi karena akses informasi yang semakin canggih dan

serba cepat dan tidak bisa dipungkiri peranan agama sangat penting di era

global ini agar dapat membentengi diri dari pengaruh yang negatif.

Globalisasi telah membawa perubahan-perubahan penting baik positif

maupun negatif. Dalam sejarah perkembangan Islam pada periode permulaan

dakwah, Nabi Muhammad Saw tidak langsung menuntut sahabat-sahabatnya

mengamalkan syariat Islam secara sempurna sebagai yang dijabarkan dalam

lima rukun Islam, akan tetapi selama 10 tahun di Makkah beliau mengajarkan

Islam lebih dahulu menitik beratkan pada pembinaan landasan fundamental

yang berupa keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Karena dari

landasan inilah manusia akan berakhlak yang baik. Hal ini merupakan

impelementasi dari aqidah.

Karakter menjadi amat penting dan mendesak untuk di lembagakan

dalam suatu pola pendidikan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia


6

yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri Sendiri, sesama

manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,

perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum,

tata krama, budaya dan adat istiadat. Manusia itu pada hakikatnya adalah baik.

Hanya saja, dalam perjalanan berbagai hal mempengaruhi hidupnya, sehingga

menjadilah ia sebagai mana ia menjadi. Tetapi perlu diingat, bahwa karakter

bukanlah sesuatu yang bersifat statik, permanen, ia tidak lain hanyalah jalinan

yang tercipta dari suatu kebiasaan, sedang kebiasaan itu bisa diubah.

Lembaga pendidikan mempunyai peranan yang cukup penting dalam

membentuk kepribadian dan tingkah laku moral anak. Lembaga pendidikan

juga mempunyai peranan yang cukup penting untuk memberikan pemahaman

dan benteng pertahanan kepada anak agar terhindar dari jeratan negatif media

massa. Oleh karena itu, sebagai antisipasi terhadap dampak negatif media

massa tersebut, lembaga pendidikan selain memberikan bekal ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), serta keterampilan berfikir kreatif,

juga harus mampu membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian,

bermoral, beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam rancangan pendidikan nasional, profil yang ingin ditampilkan

adalah figur anak yang memiliki intelektual-moralitas-agamis yang memahami

tujuan esensial (dari pendidikan untuk menterjemahkan makna kemaslahatan

dan keadilan). Dalam hal ini, jelas bahwa arah pendidikan pada hakekatnya

mengerucut pada satu arah yaitu melahirkan atau menghasilkan generasi

berbobot atau berisi dan beriman yang memiliki komitmen dalam menciptakan
7

kemaslahatan dan keadilan. Pendidikan merupakan sarana untuk membentuk

kesadaran hidup anak, yang memiliki tujuan kembali pada hakekat

kemanusiaannya. Bahkan, pendidikan berkewajiban menanamkan kesadaran

yang tinggi pada diri anak melalui proses penghayatan untuk mampu

mengamalkan dan melestarikan aturan atau tata nilai-nilai agama Islam.5

Agar nilai-nilai agama Islam menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka

diperlukan suatu proses dalam mendukung keberhasilan di setiap kegiatannya

yaitu dengan proses internalisasi nilai-nilai agama Islam. Dalam kamus besar

bahasa Indonesia, internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman,

penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan

sebagainya.6 Dalam bahasa Inggris, internalized berarti to incorporate in one

self (memasukkan atau menggabungkan dalam satu jiwa). Jadi, internalisasi

adalah proses menanamkan dan mengembangkan suatu nilai atau budaya

menjadi bagian diri orang yang bersangkutan. Sedangkan, nilai-nilai agama

Islam adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh-kembangnya

kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah

dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan Ilahi

untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.7

Penanaman dan perkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai

didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. Berdasarkan konsep internalisasi

5
Abd. Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, (Yogyakarta:
Ar-Ruz Media, 2011), Hal. 34.
6
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1989), Hal. 336.
7
Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah Upaya Mengembangkan PAI dari
Teori ke Aksi, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2009), Hal. 71.
8

nilai-nilai agama Islam di atas, salah satu tujuan terpentingnya adalah untuk

meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan spiritual anak. Internalisasi

nilai-nilai agama Islam juga mengajarkan pentingnya religiusitas dan

menajamkan kualitas kecerdasan spiritual dengan menginternalisasikan nilai-

nilai kejujuran, keadilan, kebajikan, kebersamaan, kesetiakawanan dan

sebagainya yang diperoleh melalui sikap keteladanan dalam setiap proses

pendidikan.8

Apabila nilai-nilai religius tersebut telah tertanam dalam diri pelajar

(santri) dan dipupuk dengan baik sesuai nilai-nilai dari ajaran Islam, maka

dengan sendirinya dalam diri santri akan tumbuh menjadi jiwa agama. Jika

jiwa agama telah tumbuh dengan subur dalam diri santri, maka tugas guru

adalah menjadikan nilai-nilai agama tersebut sebagai sikap beragama santri.

Sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang

yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya

kepada agama. Munculnya sikap keagamaan tersebut karena adanya karena

adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif,

perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif dan perilaku terhadap agama

sebagai unsut psikomotorik. Jadi, sikap keagamaan pada santri sangat

berhubungan erat dengan gejala kejiwaan santri yang terdiri dari tiga aspek

tersebut.

Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, lembaga pendidikan di Indonesia

tidak hanya didapat melalui lembaga pendidikan formal sebagaimana yang

8
Ibid., Hal. 33.
9

telah dipaparkan di atas, akan tetapi juga bisa didapat melalui lembaga

pendidikan non formal, seperti Pondok Pesantren. Ribuan bahkan jutaan

pondok pesantren telah berdiri tegak menjalankan misi untuk mengajarkan dan

memahamkan ilmu-ilmu agama kepada santri-santri yang berkenan nyantri di

setiap Pondok Pesantren.

Istilah santri pada mulanya dipakai untuk menyebut murid yang

mengikuti pendidikan Islam. Istilah ini merupakan perubahan bentuk dari kata

shastri (seorang ahli kitab suci Hindu). Kata Shastri diturunkan dari kata

shastra yang berarti kitab suci atau karya keagamaan atau karya ilmiah. Santri

adalah peserta didik yang belajar atau menuntut ilmu di pesantren. Jumlah

santri biasanya menjadi tolak ukur sejauh mana pesantren telah bertumbuh

kembang. Manfred Ziemek mengklarifikasikan istilah santri ini kedalam dua

kategori, yaitu santri mukim (santri yang bertempat tinggal di pesantren) dan

santri kalong (santri yang bertempat tinggal diluar pesantren yang mengunjungi

pesantren secara teratur untuk belajar agama).9

Pola kehidupan pesantren termenifestasikan dalam istilah “pancajiwa”

yang didalamnya memuat “lima jiwa” yang harus diwujudkan dalam proses

pendidikan dan pembinaan karakter santri. Kelima jiwa ini adalah sebagai

berikut:10

9
Bambang Pranomo, Paradigma Baru Dalam Kajian Islam Jawa, (Pustaka Alvabet: 2009), Hal.
299.
10
Halim Soehabar, Modernisasi Pesantren, (Yogyakarta: Lkis Printing Cemerlang, 2013), Hal.
39-46.
10

1. Jiwa Keikhlasan

Jiwa ini tergambarkan dalam ungkapan “sepi ing pamrih”, yaitu

perasaan semata-mata untuk beribadah yang sama sekali tidak termotivasi

oleh keinginan keuntungan-keuntungan tertentu. Jiwa ini terdapat dalam diri

kiai dan jajaran ustadz yang disegani oleh santri dan jiwa santri yang

menaati-suasana yang didorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa hormat.

2. Jiwa Kesederhanaan

Kehidupan di pesantren diliputi suasana kesederhanaan yang

bersahaja yang mengandung kekuatan unsur kekuatan hati, ketabahan, dan

pengendalian diri didalam menghadapi berbagai macam rintangan hidup

sehingga dapat membentuk mental dan karakter dan membentuk jiwa yang

besar, berani, dan pantang mundur dalam segala keadaan.

3. Jiwa Kemandirian

Seorang santri bukan berarti harus belajar mengurus keperluan sendiri,

melainkan telah menjadi menjadi semacam prinsip bahwa sedari awal

pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak pernah menyandarkan

kelangsungan hidup dan perkembangannya pada bantuan dan belas kasihan

orang lain, kebanyakan pesantren dirintis oleh kiai dengan hanya

mengandalkan dukungan dari para santri dan masyarakat sekitar.

4. Jiwa Ukhuwah Islamiah

Suasana kehidupan di pesantren selalu diliputi semangat persaudaraan

yang sangat akrab sehingga susah senang dilalui bersama, tidak ada
11

pembatas antara mereka meskipun sejatinya mereka berbeda-beda dalam

berbagai hal.

5. Jiwa Kebebasan

Para santri diberi kebebasan dalam memilih jalan hidup kelak di

tengah masyarakat. Mereka bebas menentukan masa depan dengan berbekal

pendidikan selama berada di pesantren

Berawal dari agenda kegiatan Kongres Al-Islam Indonesia kedua tanggal

2-7 Mei 1939 terekam dalam majalah Berita Nahdlatoel ‘Oelama’ tahun 1940.

Kongres tersebut dihadiri oleh 25 ulama besar dari berbagai organisasi Islam di

Indonesia, antara lain LT PSII di Batavia Centrum, H.B. Muhammadijah di

Djogjakarta, HB Persatoean Islam di Bandung, HB Ahmadijah (Centrum

Lahore) di Solo, Persatoean Islam Bima (PIB) di Bima, dan beberapa

organisasi lain termasuk didalamnya Hoofd-Comite Pesantren Luhur Solo. 11

Pembentukan kader-kader fanatik Islam merupakan tujuan utama

didirikannya Pesantren Luhur, salah satu poin yang dibicarakan pada

pertemuan itu. Identitas utama Pesantren Luhur adalah memperdalam kitab-

kitab salafiyah namun berkiprah sebagaimana perguruan tinggi. Pesantren ini

umumnya diletakkan di sentra kota besar dihimpit beberapa universitas

ternama. Kesenjangan untuk memposisikan diri disitu adalah untuk

menanggulangi efek negatif perkuliahan dan mengambil keuntungan

daripadanya demi kemajuan agama. Dua kemungkinan kontradiktif muncul

dari adanya perkuliahan. Mahasiswa yang lepas dari pantauan orang tua akan

11
Lia Sholicha, Mujtahid, Mujaddid, Mujahid (Percikaan Perjalanan Spiritualitas dan
Intelektualitas Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, SH), (Lamongan: UNISLA Press, 2011), Hal. 221.
12

mudah lalai, banyak daripadanya menjadi penderita ODHA, pelaku free sex

dan tukang nyabu.

Disisi lain, masa-masa kuliah merupakan masa yang mampu berfikir

mandiri. Mahasiswa dijadikan sebagai objek sasaran pesantren ini, sebab

banyak dari mereka telah mengenal proses berfikir dan mampu mendeteksi

kekeliruan-kekeliruan yang eksis di dalamnya, mereka sekaligus dinilai telah

mengenyam keragaman wacana sebagai satu hal yang penting untuk dimiliki

akademisi agar tidak berpikiran cupet dan close-minded. Kedua hal itu

merupakan bekal menjadi kader berkualitas. Harapannya, mahasiswa yang

telah berkecimpung dalam dunia pesantren dapat memberi imbas positif

terhadap mereka yang kurang beruntung di atas. Mereka diharapkan, bisa

menjadi trendsetter atas lingkungannya dengan menjadi akademisi yang

berilmu ilmiah ilahiyah, intelektual yang ulama untuk mahasiswa dan kalangan

universitas umum atau ulama yang intelektual untuk kalangan IAIN. Visi

tersebut direalisasikan dengan konkritisasi pesantren seperti tertuang dalam

poin ke enam belas majalah Berita Nahdlatoel ‘Oelama’, tertulis dalam teks

otentik,

“XVI. Congres sangat setoejoe pada praeadvies jang dilahirkan oleh


saudara Dr. Satiman, Ketoea Hoofd Comite Pesantren Loehoer Solo jang
sangat mulia itoe, dengan menjerahkan hal tersebut atas pendapatan dan
kebidjaksanaan perhimpoenan masing-masing, dengan menjeroekan
soepadja perhimpoenan-perhimpoenan Islam di seloeroeh Indonesia
membantoe pendirian terseboet”.12
Adanya keputusan itu, secara simultan merangsang tiap wilayah untuk

mendirikan Pesantren Luhur, termasuk di wilayah Malang, Jawa Timur. Abah

12
Ibid., Hal. 221-222
13

Mudlor menunjukkan majalah yang berisi keputusan perencana pembangunan

Pesantren Luhur kepada Prof. Dr. Moch. Choesnoe. Rektor UNNU tersebut

menunjukkan respon positif, lalu menyampaikannya kepada sang mertua

Anshor Sekjen Menteri Agama. Dari Anshor informasi di majalah itu

disampaikan kepada atasannya, yakni KH. Syaifuddin Zuhri. Menteri Agama

inipun menunjukkan respon yang sama. Sebagai wujud aktualisasi program

Depag, pada awal tahun 1961 didirika Pesantren Luhur di Malang oleh tokoh-

tokoh Islam setempat, antara lain KH. Ghozali, Prof. Dr. Moch. Choesnoe, KH.

Usman Mansur dan Prof. Dr. Kh. Achmad Mudlor, SH. 13

Perkembangan Pesantren Luhur mengalami perjalanan yang fluktuatif,

pesantren ini mengalami tiga “fase perubahan”. Fase pertama, berlokasi di

jalan Claket no. 10 (yang sekarang dikenal dengan Jalan Jaksa Agung). Prof.

Dr. Moch. Choesnoe, tokoh NU yang ikut andil dalam pendirian Pesantren

Luhur Malang dinobatkan sebagai pengasuh periode pertama.14 Selanjutnya,

pada fase kedua, berlokasi di UNSURI (yang selanjutnya berganti nama

menjadi UNISMA) dengan nama Pesantren Luhur Malang Islam Sunan Giri.

Kali ini tonggak kepemimpinan dipegang KH. Usman Mansur. KH. Usman

Mansur direkrut oleh Prof. Dr. Moch. Choesnoe atas dasar keilmuannya, meski

tidak memiliki titel akademis.15 Abah Mudlor menginisiasi berdirinya kembali

Pesantren Luhur pada fase ketiga. Berdirinya kembali pesantren ini memiliki

hubungan ideologis dengan Pesantren Luhur sebelumnya, tidak demikian

dengan hubungan institusionalnya. Dari kepengurusan yang baru ini, muncul


13
Ibid., Hal. 222-223.
14
Ibid., Hal. 223.
15
Ibid., Hal. 223-224.
14

inisiatif mendirikan Yayasan Bina Pesantren Jawa Timur di bawah empat

orang Pembina, yaitu Letjend (purnawirawan) H. Sutjipto, Drs. KH. Muchtar

Bisri, Drs. H. Anwar Yoko dan Kapten Syahrul Ramadhan, S.E, MM.

Awalnya, Pesantren Luhur Malang fase ini diberi nama Al-Ma’had Al-‘Ali Al-

Islami. Lambat laun berubah menjadi Al-Ma’had Al-‘Ali atau biasa disebut

Pesantren Luhur dengan alasan nama itu sesuai kongres yang diadakan di

Solo.16

Pada perkembangannya, hingga saat ini Pesantren Luhur merupakan

Pesantren yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Malang, seperti

Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas

Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN MALIKI), Politeknik Negeri

Malang (POLINEMA), Universitas Islam Malang (UNISMA). Letaknya yang

strategis di tengah jantung kota menjadikan pesantren ini begitu diminati dan

menjadi buruan bagi mahasiswa untuk menimba ilmu di pesantren.

Internalisasi nilai-nilai agama sangat diperlukan, dalam hal ini, Pesantren

Luhur mewujudkannya melalui kegiatan yang dilakukan dalam bentuk formal

di Pesantren Luhur berupa kajian kitab klasik (fiqih, qur’an, hadits, tasawuf,

akhlak, nahwu dan shorof), forum halaqoh (ilmu hukum, filsafat, pendidikan

dll) dan madrasah diniyah. Sedangkan, kegiatan semi formal merupakan

kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti FORKAFI (Forum Kajian Fiqih)

dan LUBAB (Kajian Ilmiah) yang dapat membantu dan meningkatkan

pengembangan wawasan santri serta menjadi sarana praktek bagi santri dalam

16
Ibid., Hal. 225.
15

mengimplementasikan proses nilai-nilai agama Islam sehingga dapat

membentuk karakter santri. Dari beberapa dasar inilah yang akan menjadikan

perbedaan santri yang nyantri di Pesantren Luhur dengan santri di pesantren

lain, sehingga kedua dasar ini menjadi pondasi Pesantren Luhur untuk

menginternalisasi nilai-nilai agama dan ciri khas sekaligus keunggulan yang

dimiliki oleh Pesantren Luhur.

Melalui beberapa keterangan latar belakang di atas, peneliti begitu

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Internalisasi Nilai-Nilai

Agama Islam dalam Membentuk Karakter Santri (Studi Kasus di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang)”. Penelitian ini diharapkan

mampu menjawab keresahan yang terjadi atas degradasi nilai-nilai Islam yang

dialami mahasiswa sehinga terjadi problema-problema yang tidak diinginkan

hingga sampai saat ini. Peneliti juga berharap agar penelitian ini menjadi

referensi terkini atas berbagai macam permasalahan tentang internalisasi nilai-

nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri, sehingga tercipta

lingkungan dan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan hasil pemaparan yang telah dijelaskan di atas, perlu kiranya

untuk memberikan titik fokus pembahasan ke dalam bentuk pertanyaan agar

memudahkan operasional dalam proses penelitian.

1. Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang?


16

2. Bagaimana metode internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang?

3. Bagaimana hasil dari internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam

membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang?

C. Tujuan Penelitian

Dengan adanya fokus penelitian di atas, peneliti menyimpulkan hasil dari

tujuan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Mengetahui proses internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

2. Mengetahui metode internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

3. Mengetahui hasil internalisasi nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan secara teoritis maupun

praktis:

1. Manfaat Teoritis

Memperkaya wawasan dan pemahaman dalam Pendidikan Agama Islam,

khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai dalam Islam dan

menjadikannya sebagai konsep baru berupa sebuah referensi keilmuan


17

terutama dalam hal internalisasi nilai-nilai Agama Islam untuk membentuk

karakter santri.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat menjadi salah satu sumbangsih pemikiran bagi

pendidikan dalam internalisasi nilai-nilai Agama Islam sebagai

pembentukan karakter santri yang merupakan bagian integral dari khazanah

keilmuan.

E. Orisinalitas Penelitian

Orisinalitas penelitian ini diperlukan guna menghindari adanya

pengulangan kajian atau penelitian yang sama. Dengan adanya pembahasan

operasionalitas penelitian, akan ditemukan perbedaan-perbedaan dari penelitian

yang telah dilakukan oleh peneliti yang lebih dahulu melakukan penelitian.

Berdasarkan penelusuran dan pencarian yang dilakukan, peneliti menemukan 2

jurnal dan 5 tesis yang masih berhubungan dengan pembahasan internalisasi

nilai-nilai Agama Islam dalam membentuk karakter santri.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Isnaini17 menghasilkan

temuan diantaranya; Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan

yang menekankan pada pembentukan (internalisasi) nilai-nilai positif (akhlak

karimah) pada setiap anak. Pendidikan karakter merupakan wahana

menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak baik dari aspek kognitif, afektif

maupun psikomotor.

17
Muhammad Isnaini, “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di Madrasah”, (Jurnal Al-
Ta’lim, Jilid 1, nomor 6, 2013), Hal. 445-450.
18

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan

adalah sama dalam hal melakukan internalisasi. Sedangkan perbedaannya

terletak dari segi objeknya, penelitian terdahulu menjadikan madrasah sebagai

objek penelitiannya, sedangkan penelitian yang akan dilakukan adalah

Pesantren khusus mahasiswa. Penelitian terdahulu lebih berfokus pada

internalisasi nilai-nilai pendidikan, sedangkan penelitian yang akan dilakukan

lebih fokus kepada nilai-nilai agama Islam.

Berikutnya penelitian dari Wibawati Bermi,18 membuat sebuah konklusi

bahwa nilai-nilai agama Islam memuat aturan-aturan Allah yang antara lain

meliputi aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah,

hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam

secara keseluruhan. Manusia akan mengalami ketidak-nyamanan, ketidak-

harmonisan, ketidak-tentraman, atau pun mengalami permasalahan dalam

hidupnya, jika dalam menjalin hubungan-hubungan tersebut terjadi

ketimpangan atau tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Terbukti dari adanya proses internalisasi nilai-nilai agama Islam di SDIT Al-

Mukminun telah berpengaruh pada sikap dan perilaku siswa yang taat kepada

Allah, berakhlakul karimah kepada sesama manusia dan alam, serta

berkepribadian yang baik, cerdas, pemberani dan kritis.

Persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah pada fokus penelitiannya tentang internalisasi nilai-nilai

agama Islam. Namun, yang menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu


18
Wibawati Bermi, “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam untuk Membentuk Sikap dan Perilaku
Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Mukminun”, (Jurnal Al-Lubab, Volume 1, nomor 1,
2016), Hal. 1-18.
19

dengan penelitian yang akan dilakukan adalah objek penelitiannya, penelitian

terdahulu menjadikam sikap dan perilaku siswa Sekolah Dasar sebagai objek

penelitian, sedangkan penelitian yang akan dilakukan menjadikan karakter

santri sebagai ranah objek penelitian.

Penelitian dari Siti Fatimah,19 dengan fokus penelitian mengkaji tentang

strategi dan pendekatan manajemen pendidikan dalam pelaksanaan

penginternalisasian nilai-nilai agama Islam dalam manajemen pendidikan di

MAN 3 Malang.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan

adalah penginternalisasian nilai-nilai agama Islam. Sedangkan perbedaan

antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan adalah fokus

penelitiannya, penelitian terdahulu berfokus pada pelaksanaan manajemen

pendidikan, sedangkan penelitian yang akan dilakukan fokus pada membentuk

karakter santri.

Kemudian penelitian dari Sunarto,20 dengan fokus penelitian mengkaji

pada penciptaan suasana keagamaan di lingkungan sekolah dalam upaya

pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama Islam.

Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah sama dalam hal internalisasi nilai-nilai agama. Akan tetapi,

yang menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang

akan dilakukan adalah fokus penelitiannya, penelitian terdahulu fokus pada

19
Siti Fatimah, “Penginternalisasian Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pelaksanaan Manajemen
Pendidikan di MAN 3 Malang”, Tesis. (Universitas Islam Negeri Malang, 2003).
20
Sunarto, “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Melalui Penciptaan Suasana Keagamaan di
Lingkungan MTsN 01 Malang”, Tesis. (Universitas Muhammadiyah Malang, 2001).
20

penciptaan suasana keagamaan, sedangkan penelitian yang akan dilakukan

fokus pada membentuk karakter santri.

Selanjutnya penelitian dari Indra,21 dengan fokus penelitian pembentukan

peserta didik berkarakter mulia melalui upaya internalisasi nilai-nilai agama

Islam agar warga sekolah memiliki karakter yang mulia menurut nilai-nilai

ajaran Islam.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan

adalah sama dalam hal internalisasi nilai-nilai agama Islam dan membentuk

karakter peserta didik. Sedangkan yang menjadi perbedaan antara penelitian

terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada objek

penelitian, dimana penelitian terdahulu menjadikan peserta didik SMA sebagai

objek penelitian, sedangkan penelitian yang akan dilakukan menjadikan santri

yang berstatus mahasiswa sebagai objek yang akan diteliti.

Kemudian penelitian dari Siti Uswatun Khasanah,22 dengan fokus

penelitian dalam karya ini adalah melakukan proses internalisasi nilai-nilai

agama Islam untuk pembinaan mental anak-anak yang ada di panti asuhan

Hajjah Khadijah untuk memiliki karakter keagamaan yang kuat dengan melalui

metode pembiasaan dan keteladanan.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang hendak

dilaksanakan adalah pada internalisasi nilai-nilai agama Islam. Sedangkan

21
Indra, “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Peserta Didik Berkarakter
Mulia di SMAN 15 Binaan Nenggeri Antara Takengan Aceh Tengah”, Tesis. (Universitas Islam
Negeri Malang, 2012).
22
Siti Uswatun Khasanah, “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembinaan Mental
Melalui Pembiasaan dan Keteladanan di Panti Asuhan Hajjah Khadijah”, Tesis. (Universitas
Islam Negeri Malang, 2006),
21

perbedaannya pada fokus penelitiannya, penelitian terdahulu fokus pembinaan

mental melalui pembiasaan dan keteladanan, penelitian yang akan dilakukan

fokus kepada membentuk karakter santri.

Terakhir penelitian dari Fitria Kurniawati,23 dengan fokus penelitian

kegiatan dalam membentuk kepribadian remaja muslim dengan diterapkannya

nilai-nilai agama pada kelurahan tersebut sehingga mencerminkan

sebagaimana kepribadian seorang muslim.

Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah membentuk kepribadian atau karakter. Sedangkan yang

menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan

dilakukan pada fokus penelitiannya, penelitian terdahulu fokus meneliti

pengaruh nilai-nilai agama, namun penelitian yang akan dilakukan fokus pada

internalisasi nilai-nilai agama Islam.

Penelitian yang penulis lakukan ini berbeda dengan hasil karya dari

peneliti sebelumnya dan penelitian lainnya, karena penelitian ini fokus

kajiannya pada membentuk karakter santri melalui proses internalisasi nilai-

nilai agama Islam dari segi proses dan dampak yang dapat membentuk karakter

santri. Disamping itu, lokasi objek penelitian yang diambil penulis, juga

berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya sehingga hasil penelitian

yang penulis kumpulkan memiliki orisinalitas penelitian yang layak untuk

diteliti.

23
Fitria Kurniawati, “Pengaruh Nilai-Nilai Agama dalam Membentuk Kepribadian Remaja
Muslim di Dusun Rambangan Kelurahan Landungsari Kecamatan DAU Malang”, Tesis.
(Universitas Islam Negeri Malang, 2007).
22

Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian

No Nama Penelitian, Judul Persamaan Perbedaan Orisinalitas


dan Tahun Penelitian Penelitian
1. Muhammad Isnaini yang Menganalisis Fokus pada Kajian
dimuat dalam Jurnal Al- tentang nilai-nilai penelitian ini
Ta’lim, Jilid 1, Nomor 6 Pembentukan positif (akhlak) berfokus pada:
November 2013, hlm. Karakter 1. Proses
445-450, dengan judul berlangsung
“Internalisasi Nilai-Nilai nya
Pendidikan Karakter di internalisasi
Madrasah” nilai-nilai
2. Wibawati Bermi, yang Menganalisis Pembentukan agama Islam
telah dimuat di Jurnal Al- tentang sikap dan dalam
Lubab, Volume 1, internalisasi perilaku siswa membentuk
Nomor 1 2016, hlm. 1- nilai-nilai di sekolah karakter
18, membahas tentang agama Islam dasar santri
“Internalisasi Nilai-Nilai Lembaga
Agama Islam untuk Tinggi
Membentuk Sikap dan Pesantren
Perilaku Siswa Sekolah Luhur
Dasar Islam Terpadu Al- Malang,
Mukminun”. baik ketika
3. Siti Fatimah, judul Menganalisis Mengkaji kegiatan
“Penginternalisasian internalisasi tentang strategi formal
Nilai-Nilai Agama Islam nilai-nilai dan maupun non
dalam Pelaksanaan agama Islam pendekatan formal
Manajemen Pendidikan manajemen 2. Menemukan
di MAN 3 Malang”. pendidikan dampak dari
Tesis. 2003. keberlangsu
4. Sunarto, dengan judul Menganalisis Fokus ngan
“Internalisasi Nilai-Nilai pelaksanaan penelitian ini internalisasi
Agama Melalui internalisasi mengkaji pada nilai-nilai
Penciptaan Suasana nilai-nilai penciptaan agama Islam
Keagamaan di agama Islam suasana dalam
Lingkungan MTsN 01 keagamaan di membentuk
Malang”. Tesis. lingkungan karakter
Universitas sekolah santri di
Muhammadiyah Malang. Lembaga
2001. Tinggi
23

5. Indra, dengan judul Menganalisis Fokus Pesantren


“Internalisasi Nilai-Nilai tentang penelitian pada Luhur
Agama Islam dalam internalisasi pembentukan Malang
Membentuk Peserta nilai-nilai peserta didik 3. Obyek yang
Didik Berkarakter Mulia agama Islam berkarakter menjadi
di SMAN 15 Binaan mulia bahan acuan
Nenggeri Antara penelitian
Takengan Aceh Tengah”. ini adalah
Tesis. Universitas Islam santri-santri
Negeri Maulana Malik di Lembaga
Ibrahim Malang. 2012. Tinggi
6. Siti Uswatun Khasah, Menganalisis Fokus pada Pesantren
“Internalisasi Nilai-Nilai proses pembinaan Luhur
Agama Islam dalam internalisasi mental anak- Malang
Pembinaan Mental nilai-nilai anak
Melalui Pembiasaan dan agama Islam
Keteladanan di Panti
Asuhan Hajjah
Khadijah”. Tesis.
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim
Malang. 2006.
7. Fitria Kurniawati, dengan Penerapan Pengembangan
judul “Pengaruh Nilai-
internalisasi kegiatan
Nilai Agama dalam
nilai-nilai pembentukan
Membentuk Kepribadian
Remaja Muslim di Dusun agama Islam kepribadian
Rambangan Kelurahan
remaja muslim
Landungsari Kecamatan
DAU Malang”. Tesis.
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim
Malang. 2007.
24

Tabel 1.2 Posisi Penelitian

Penelitian Masalah Metode, Fokus Hasil yang


dan Judul yang akan Jenis Penelitian Diharapkan
Penelitian Diteliti Rancangan
dan Subyek
Penelitian
Moch. Irfan Nilai-Nilai Kualitatif, 1. Proses 1. Mengetahui
Ubaidillah, Agama Studi Kasus, Internalisasi Proses
“Internalisasi Islam untuk Lembaga Nilai-Nilai Internalisasi
Nilai-Nilai Membentuk Tinggi Agama Nilai-Nilai
Agama Islam Karakter Pesantren Islam dalam Agama Islam
Dalam Santri Luhur Membentuk dalam
Membentuk Malang Karakter Membentuk
Karakter Santri Karakter Santri
Santri” 2. Metode 2. Mengetahui
Internalisasi Metode
Nilai-Nilai Internalisasi
Agama Nilai-Nilai
Islam dalam Agama Islam
Membentuk dalam
Karakter Membentuk
Santri Karakter Santri
3. Dampak 3. Adanya Dampak
Internalisasi Internalisasi
Nilai-Nilai Nilai-Nilai
Agama Agama Islam
Islam dalam dalam
Membentuk Membentuk
Karakter Karakter Santri
Santri
Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berbeda dengan penelitian-

penelitian terdahulu yang telah disebutkan di atas. Peneliti memfokuskan pada

bagaimana proses, metode dan dampak dari internalisasi nilai-nilai agama

Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang. Objek utama dalam penelitian ini adalah santri, dimana santri yang

tinggal di Pesantren Luhur berstatus sebagai mahasiswa. Penelitian yang


25

digunakan yakni penelitian kualitatif berjenis studi kasus, dengan tujuan agar

mendapatkan data dan hasil yang lebih mendalam mengenai internalisasi nilai-

nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang.

F. Definisi Istilah

Untuk memperjelas pemahaman tentang internalisasi nilai-nilai Agama

Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang, maka istilah-istilah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai

berikut:

1. Internalisasi adalah proses pembelajaran yang diakukan oleh seseorang

secara berkesinambungan untuk mengembangkan kepribadiannya sebagai

upaya penyesuaian keyakinan, sikap, praktik, nilai dan aturan-aturan baku

dalam diri seseorang.

2. Nilai-nilai agama Islam adalah kumpulan dari prinsip-prinsip hidup, ajaran-

ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia itu menjalankan

kehidupannya di dunia ini, prinsip yang satu dengan prinsip yang lainnya

saling terkait dalam membentuk satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat

dipisahkan. Nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam sangatlah luas,

namun pada intinya semua itu dikategorikan menjadi tiga pokok, yakni;

nilai aqidah, nilai syari’ah dan nilai akhlak. Nilai Aqidah yaitu kepercayaan

yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur

dengan keraguan serta memberikan pengaruh terhadap pandangan hidup


26

seseorang. Nilai Syari’ah adalah panduan yang diberikan Allah dalam

membimbing manusia untuk mengikuti ajaran-ajaran yang telah ditetapkan

dalam hal beribadah. Nilai Akhlak yaitu apabila seorang hamba beribadah

kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah dan jika tidak dapat melihat-Nya

maka ia meyakininya bahwa Allah-lah yang dapat melihatnya

3. Karakter merupakan serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors),

motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) santri yang terbentuk dari

hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan

sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak,

sehingga ia dapat hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga,

masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan karakter santri adalah bentuk

karakter yang disandarkan kepada nilai-nilai Islami berdasarkan syari’at

Islam.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan tesis ini tentang “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam

membentuk Karakter Santri (Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang)”, secara keseluruhan terdiri dari enam bab, masing-masing bab

disusun secara rinci dan sistematis. Adapun sistematika pembahasan dan

penulisannya sebagai berikut:

BAB I Pada bab ini berisikan Pendahuluan yang menguraikan konteks

penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, orisinalitas

penelitian, definisi istilah dan sistematika penulisan.


27

BAB II merupakan kajian teori yang berfungsi sebagai acuan teoritik dalam

melakukan penelitian. Pada bab ini dijelaskan tentang internalisasi nilai-nilai

agama Islam dalam membentuk karakter santri.

BAB III mengemukakan metode penelitian, yang berisis tentang pendekatan

dan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran penelitian, data dan sumber

data, pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-

tahap penelitian.

BAB IV berisi paparan data dan temuan penelitian. Pada bab ini akan

membahas tentang deskripsi objek penelitian, proses internalisasi nilai-nilai

agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang, metode internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang dan hasil

internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

BAB V pada bab ini berisikan hasil penelitian tentang “Internalisasi Nilai-Nilai

Agama Islam dalam membentuk Karakter Santri (Studi Kasus di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang).”

BAB VI merupakan bab terakhir, yaitu penutup. Pada bab ini berisi tentang

kesimpulan dan saran-saran dari hasil penelitian dan implikasi teoritis.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian tentang Internalisasi

1. Pengertian Internalisasi

Secara etimologis, internalisasi menunjukkan suatu proses. Dalam

kaidah bahasa Indonesia akhiran-isasi mempunyai definisi proses. Dalam

kamus besar bahasa Indonesia, kata internalisasi diartikan sebagai

penghayatan, pendalaman atau proses penguasaan secara mendalam yang

berlangsung melalui pelatihan, binaan, bimbingan, penyuluhan atau

penataran.24

Internalisasi (internalization) diartikan sebagai penggabungan atau

penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam

kepribadian.25

Reber, sebagaimana dikutip Mulyana mengartikan internalisasi

sebagai menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi

merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik dan aturan-aturan

baku pada diri seseorang.26 Pengertian ini mengisyaratkan bahwa

pemahaman nilai yang diperoleh harus dapat dipraktikkan dan berimplikasi

pada sikap. Internalisasi ini akan bersifat permanen dalam diri seseorang.

Sedangkan Ihsan memaknai internalisasi sebagai upaya yang

dilakukan untuk memasukkan nilai-nilai ke dalam jiwa sehingga menjadi

24
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1989), Hal. 336.
25
J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), Hal. 256.
26
Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), Hal. 21.
28
29

miliknya.27 Jadi masalah internalisasi ini tidak hanya berlaku pada

pendidikan agama saja, tetapi pada semua aspek pendidikan, pada

pendidikan pra-sekolah, pendidikan sekolah, pengajian tinggi, pendidikan

latihan perguruan dan lain-lain.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann memberikan penjelasan

mengenai internalisasi. Internalisasi adalah individu-individu sebagai

kenyataan subyektif menafsirkan realitas obyektif atau peresapan kembali

realitas oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-

struktur dunia obyektif kedalam struktur-struktur dunia subyektif. Pada

momen ini, individu akan menyerap segala hal yang bersifat obyektif dan

kemudian akan direalisasikan secara subyektif. Internalisasi ini berlangsung

seumur hidup seorang individu dengan melakukan sosialisasi. Pada proses

internalisasi, setiap indvidu berbeda-beda dalam dimensi penyerapan. Ada

yang lebih menyerap aspek ekstern, ada juga juga yang lebih menyerap

bagian intern. Selain itu, selain itu proses internalisasi dapat diperoleh

individu melalui proses sosialisasi primer dan sekunder.

Sosialisasi Primer merupakan sosialisasi awal yang dialami individu

masa kecil, disaat ia diperkenalkan dengan dunia sosial pada individu.

Sosialisasi sekunder dialami individu pada usia dewasa dan memasuki dunia

publik, dunia pekerjaan dalam lingkungan yang lebih luas. Sosialisasi

primer biasanya sosialisasi yang paling penting bagi individu, dan bahwa

27
Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Hal. 155.
30

semua struktur dasar dari proses sosialisasi sekunder harus mempunyai

kemiripan dengan struktur dasar sosialisasi primer.28

Dalam proses sosialisasi, terdapat adanya significant others dan juga

generalized others. Significant others begitu signifikan perannya dalam

mentransformasi pengetahuan dan kenyataan obyektif pada individu. Orang-

orang yang berpengaruh bagi individu merupakan agen utama untuk

mempertahankan kenyataan subyektifnya. Orang-orang yang berpengaruh

itu menduduki tempat yang sentral dalam mempertahankan kenyataaan.

Selain itu, proses internalisasi yang disampaikan Berger juga menyatakan

identifikasi. Internalisasi berlangsung dengan berlangsungnya identifikasi.

Si anak mengoper peranan dan sikap orang-orang yang mempengaruhinya.

Artinya ia menginternalisasi dan menjadikannya peranan atas sikapnya

sendiri. Dalam akumulasi proses pengenalan dunianya, si anak akan

menemukan akumulasi respon orang lain terhadap tindakannya. Dimana si

anak mulai mengeneralisasi nilai dan norma atas akumulasi respon orang

lain. Abstraksi dari berbagai peranan dan sikap orang-orang yang secara

konkrit berpengaruh dinamakan orang lain pada umumnya (generalized

others).29

Adapun fase terakhir dari proses internalisasi ini adalah terbentuknya

identitas. Identitas dianggap sebagai kunci dari kenyataan subyektif, yang

juga berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas dibentuk

oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudnya, ia dipelihara, di


28
Peter L. Berger & Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi
Pengetahuan, (Jakarta: LP3ES, 1990), Hal. 188.
29
Ibid., Hal. 189-191.
31

modifikasi, atau malahan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial.

Bentuk-bentuk proses sosial yang terjadi mempengaruhi bentuk identitas

seorang individu, apakah identitas itu dipertahankan, dimodifikasi atau

bahkan dibentuk ulang. Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul

dari dialektika antara individu dengan masyarakat.30

Ketiga proses yang ada tersebut akan terus berjalan dan saling

berkaitan satu sama yang lain, sehingga pada prosesnya semua akan kembali

ke tahap internalisasi dan begitu seterusnya. Hingga individu dapat

membentuk makna dan perilaku baru apabila terdapat nilai-nilai baru yang

terdapat didalamnya.

Berdasarkan penjelasan dari teori Peter L. Berger dan Thomas

Luckmann. Maka dapat diketahui bahwa individu merupakan produk

sekaligus pencipta pranata sosial. Melalui aktivitas kreatifnya, manusia

mengkonstruksikan masyarakat dan berbagai aspek lainnya dari kenyataan

sosial. Kenyataan sosial yang diciptakannya itu lalu mengkonfrontasi

individu sebagai kenyataan eksternal dan obyektif. Individu lalu

menginternalisasikan kenyataan ini sedemikian rupa sehingga menjadi

bagian dari kesadarannya. Bahwa diluar sana terdapat dunia sosial obyektif

yang membentuk individu-individu, dalam arti manusia adalah produk dari

masyarakatnya. Realitas yang obyektif ini dipantulkan oleh orang lain dan

diinternalisir melalui proses sosialisasi oleh individu pada masa kanak-

kanak, dan disaat mereka dewasa merekapun tetap menginternalisir situasi-

30
Ibid., Hal. 248.
32

situasi baru yang mereka temui dalam dunia sosialnya. Oleh karena itu,

dalam memahami suatu konstruksi sosial diperlukan tiga tahapan penting

yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi.

Dalam kaitannya dengan nilai, pengertian-pengertian yang diajukan

oleh beberapa ahli tersebut pada dasarnya memiliki substansi yang sama.

Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa internalisasi sebagai proses

penanaman nilai kedalam jiwa seseorang sehingga nilai tersebut tercermin

pada sikap dan perilaku yang ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari

(menyatu dengan pribadi). Suatu nilai yang telah terinternalisasi pada diri

seseorang memang dapat diketahui ciri-cirinya dari tingkah laku.

2. Tahapan Internalisasi

Pelaksanaan pendidikan nilai melalui beberapa tahapan, sekaligus

menjadi tahap terbentuknya internalisasi yaitu:31

a. Tahap Transformasi Nilai

Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh ustadz

dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik.

Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara ustadz dan santri,

yakni bentuk komunikasi yang menggunakan tulisan ataupun lisan. Pada

tahap transformasi nilai ini, sifatnya sebatas pemindahan pengetahuan

dari ustadz ke santrinya. Nilai-nilai agama Islam yang disampaikan oleh

ustadz masih berada pada ranah kognitif santri saja, secara tidak langsung

pengetahuan ini dimungkinkan hilang jika ingatan seseorang tidak kuat.

31
Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), Hal. 153.
33

b. Tahap Transaksi Nilai

Pada tahap ini pendidikan nilai dilakukan melalui komunikasi dua

arah yang terjadi antara ustadz dan santri yang bersifat timbal balik

sehingga terjadi proses interaksi.32 Dengan adanya transaksi nilai, ustadz

dapat memberikan pengaruh pada santrinya melalui contoh nilai yang

telah ia jalankan. Di sisi lain, santri akan menentukan nilai yang sesuai

dengan dirinya.

c. Tahap Trans-Internalisasi

Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini

bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal (lisan atau tulisan)

saja, tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi, pada tahap ini

komunikasi kepribadian yang berperan aktif.33 Dalam tahap ini, ustadz

harus betul-betul memperhatikan sikap dan perilakunya agar tidak

bertentangan yang ia berikan kepada santri. Hal ini disebabkan adanya

kecenderungan santri untuk meniru apa yang menjadi sikap mental dan

kepribadian gurunya.

Secara garis besar tujuan pembelajaran memuat tiga aspek pokok,

yaitu: knowing, doing, dan being atau dalam istilah yang umum dikenal

aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Internalisasi merupakan

pencapaian aspek yang terakhir (being). Untuk selanjutnya peneliti akan

memaparkan ketiga aspek tujuan pembelajaran tersebut secara singkat.

32
Ibid., Hal. 153.
33
Ibid., Hal. 153.
34

1) Mengetahui (knowing)

Disini tugas ustadz ialah mengupayakan agar santri mengetahui

suatu konsep. Dalam bidang keagamaan misalnya santri diajar

mengenai pengertian sholat, syarat dan rukun sholat, tata cara sholat,

hal-hal yang membatalkan sholat, dan lain sebagainya. Ustadz bisa

menggunakan berbagai metode seperti; diskusi, tanya jawab, dan

penugasan. Untuk mengetahui pemahaman santri mengenai apa yang

telah diajarkan ustadz, tinggal melakukan ujian atau memberikan

tugas-tugas rumah. Jika nilainya bagus berarti aspek ini telah selesai

dan sukses.34

2) Mampu Melaksanakan atau Mengerjakan yang ia Ketahui (doing)

Masih contoh seputar sholat, untuk mencapai tujuan ini seorang

ustadz dapat menggunakan metode demonstrasi. Ustadz melakukan

demonstrasikan sholat untuk diperlihatkan kepada santri atau bisa juga

dengan memutarkan film tentang tata cara sholat selanjutnya santri

secara bergantian mempraktikkan seperti apa yang telah ia lihat di

bawah bimbingan ustadz. Untuk tingkat keberhasilannya ustadz dapat

mengadakan ujian praktik sholat, dari ujian tersebut dapat dilihat

apakah santri telah mampu melakukan sholat dengan benar atau

belum.35

34
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan
Manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), Hal. 229.
35
Ibid., Hal. 229.
35

3) Menjadi seperti yang ia ketahui (being)

Konsep ini seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi

menjadi satu dengan kepribadiannya. Santri melaksanakan sholat yang

telah ia pelajari dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika sholat itu

telah melekat menjadi kepribadiannya, seorang santri akan berusaha

sekuat tenaga untuk menjaga sholatnya dan merasa sangat berdosa

jika sampai meninggalkan sholat. Jadi, ia melaksanakan sholat bukan

karena diperintah atau karena dinilai oleh ustadz.36

Di sinilah sebenarnya bagian yang paling sulit dalam proses

pendidikan karena pada aspek ini tidak dapat diukur dengan cara yang

diterapkan pada aspek knowing dan doing. Aspek ini lebih

menekankan pada kesadaran santri untuk mengamalkannya. Aspek

tersebut tak bisa dipisahkan dengan segala bidang keilmuan, karena

satu kesatuan antara ilmu dan amal. Tahap tersebut perlu diketahui

dan dipahami dengan betul, setelah paham terhadap ilmu tersebut,

selanjutnya tidak akan terjadi mall function atau salah kaprah dalam

pengamalannya. Peran orang tua dan lingkungan disekitar santri

sangat berpengaruh. Dalam kajian psikologi, kesadaran seseorang

dalam melakukan suatu tindakan tertentu akan muncul tatkala

tindakan tersebut telah dihayati (terinternalisasi).

36
Ibid., Hal. 229.
36

3. Metode Internalisasi

Internalisasi dilksanakan melalui beberapa metode, diantaranya

sebagai berikut:

a. Peneladanan

Pendidik meneledankan kepribadian muslim, dalam segala

aspeknya baik pelaksanaan ibadah khusus maupun yang umum. Pendidik

adalah figur yang terbaik dalam pandangan anak, dan anak akan

mengikuti apa yang dilakukan pendidik. Peneladanan sangat efektif

untuk internalisasi nilai, karena peserta didik secara psikologis senang

meniru dan sanksi-sanksi sosial yaitu seseorang akan merasa bersalah

bila ia tidak meniru orang-orang di sekitarnya. Dalam Islam bahkan

peneladanan sangat diistimewakan dengan menyebut bahwa Nabi itu

tauladan yang baik (uswah hasanah). Metode keteladanan (uswatun

hasanah) yaitu yang diterapkan dengan cara memberikan contoh-contoh

teladan yang baik berupa prilaku nyata, khususnya ibadah dan akhlak

bagi setiap umat manusia.37

b. Pembiasaan

Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan

pembentukan peserta didik. upaya ini dilakukan karena mengingat

manusia mempunyai sifat lupa dan lemah. Pembiasaan merupakan

stabilitas dan pelembagaan nilai-nilai keimanan dalam peserta didik yang

diawali dengan aksi ruhani dan aksi jasmani. Pembiasaan bisa dilakukan

37
Binti Maunah, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009), Hal.
94.
37

dengan terprogram dalam pembelajaran dan tidak terprogram dalam

kegiatan sehari-hari.38

c. Pergaulan

Melalui pergaulan, pendidik dan peserta didik saling berinteraksi

saling menerima dan saling memberi. Pendidikan dalam pergaulan sangat

penting. Melalui pergaulan, pendidik mengkomunikasikan nilai-nilai

luhur agama, baik dengan jalan berdiskusi maupun tanya jawab.

Sebaliknya peserta didik dalam pergaulan ini mempunyai kesempatan

banyak untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas baginya. Dengan

demikian, wawasan mereka mengenai nilai-nilai agama Islam itu akan

terinternalisasi dengan baik, karena pergaulan yang erat akan menjadikan

keduanya tidak merasakan adanya jurang. 39

d. Penegak Aturan

Penegak disiplin biasanya dikaitkan penerapan aturan (Rule

Enforcement). Idealnya dalam menegakan aturan hendaknya diarahkan

pada “Takut pada aturan bukan pada orang”. Orang melakukan sesuatu

karena taat pada aturan bukan karena taat pada orang yang memerintah.

Jika hal ini tumbuh menjadi suatu kesadaran maka akan menciptakan

kondisi yang nyaman dan aman.40

38
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), Hal. 230-
231.
39
Ibid., Hal. 230-231.
40
Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradapan Bangsa, (Surakarta: Yuma
Pustaka, 2010), Hal. 48-49.
38

e. Pemotivasian

Motivasi merupakan latar belakang yang menggerakkan atau

mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, motivasi

merupakan suatu landasan psikologis (kejiwaan) yang sangat penting

bagi setiap orang dalam melaksanakan sesuatu aktivitas. Apalagi

aktivitas itu berupa tugas yang menuntut tanggung jawab yang tinggi.

Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi

instrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri

kita, sedangkan motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari

dalam diri kita. Dalam menegakkan disiplin, mungkin berawal

berdasarkan motivasi ekstrinsik. Orang melakukan sesuatu karena

paksaan, pengaruh orang lain, atau karena keinginan tertentu. Akan

tetapi, setelah berproses orang tersebut dapat saja berubah ke arah

motivasi intrinsik. Setelah merasakan bahwa dengan menerapkan disiplin

memiliki dampak positif bagi dirinya kemudian orang tersebut

melakukan sesuatu dilandasi dengan kesadaran dari dalam dirinya

sendiri. Idealnya menegakkan disiplin itu sebaiknya dilandasi oleh

sebuah kesadaran. Diantara teknik untuk menimbulkan motivasi peserta

didik adalah hadiah dan hukuman. Dalam pembinaan akhlak

pemotivasian bisa dilakukan dengan cara targhib, tarhib, perumpamaan,

maudhiah (nasehat), dan kisah.41

41
Ibid., Hal. 48-49.
39

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Aang Kunaepi bahwa

metode internalisasi nilai yang bisa dipakai adalah dengan menggunakan

metode pembiasaan dan keteladanan dalam internalisasi nilai Islam.

Kebiasaan mempunyai peranan paling penting dalam kehidupan manusia,

karena kebiasaan akan menghemat energi pada manusia. Namun,

demikian kebiasaan juga akan menjadi penghalang manakala tidak ada

“penggeraknya”. Sedangkan metode keteladanan diterapkan secara

bersama-sama dengan metode pembiasaan. Sebab, pembiasaan itu perlu

adanya keteladanan dari seorang guru dan dengan contoh tersebut guru

diharapkan menjadi teladan yang baik. Islam menggunakan kebiasaan itu

sebagai salah satu teknik pendidikan, lalu ia merubah seluruh sifat-sifat

baik menjadi kebiasaan.42

B. Kajian tentang Nilai-Nilai Agama Islam

1. Pengertian Nilai-Nilai Agama Islam

Sebelum membahas lebih mendalam tentang nilai-nilai agama Islam,

terlebih dahulu di sini akan diuraikan tentang pengertian dari nilai itu

sendiri. Menurut Muhaimin yang mengutip pendapatnya Webster

menjelaskan bahwa “A value is a principle or quality regarded as

worthwhile or desirable”, yaitu nilai adalah prinsip, standart atau kualitas

yang dipandang bermanfaat dan sangat diperlukan. Nilai adalah suatu

keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang atau


42
Aang Kunaepi, Membangun Pendidikan Tanpa Kekerasan Melalui Internalisasi PAI dan
Budaya Religius, (Semarang: Universitas Negeri Semarang, Nadwa. Jurnal Pendidikan Islam Vol.
6, Nomor 1, April, Tahun 2012), Hal. 59-60.
40

sekelompok orang untuk memilih tindakannya atau menilai sesuatu yang

bermakna bagi kehidupannya.43

Nilai menurut Gordon Allport adalah keyakinan yang membuat

seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Bagi Allport sebagai ahli

psikologis, nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut keyakinan.

Keyakinan ditempatkan sebagai psikologis yang lebih tinggi dari wilayah

lainnya seperti hasrat, motif, sikap, keinginan dan kebutuhan. Oleh karena

itu, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-jelek pada wilayah ini

merupakan rangkaian proses psikologis yang kemudian mengarahkan

seseorang pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan pilihannya. 44

Sedangkan nilai dalam pandangan Zakiyah Darajat yang dikutip oleh

Muhaimin, adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini

sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus kepada pola

pemikiran perasaan, keterikatan maupun perilaku.45

Dari beberapa pengertian nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai

adalah suatu prinsip yang diyakini dalam memilih tindakan yang bermakna

dalam kehidupan sebagai suatu identitas yang memberikan corak khusus

pada pola pemikiran, perasaan maupun tingkah laku. Dengan demikian,

untuk mengetahui suatu nilai harus melalui pemaknaan terhadap kenyataan

lain yang berupa tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sikap seseorang atau

sekelompok orang.

43
Muhaimin, [Link]., Hal. 148.
44
Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: VC. Alfabeta, 2004), Hal. 9.
45
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), Hal. 260.
41

Setelah menyebutkan beberapa pengertian tentang nilai-nilai di atas,

perlu disebutkan pula pengertian dari agama Islam dalam melengkapi

pemahaman tentang nilai-nilai agama Islam. Nilai-nilai di dunia sangat luas,

tetapi nilai yang dijadikan sebagai berometer atau pedoman hidup bagi

manusia terutama bagi seorang muslim khususnya dalam menjalankan

kehidupan sehari-hari adalah nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran

agama Islam. Dengan demikian, memahami agama Islam secara

keseluruhan merupakan hal sangat penting dalam pelaksanaan internalisasi

nilai-nilai agama Islam yang dapat memberikan pengaruh pada kecerdasan

spiritual seseorang. Sehingga proses internalisasi nilai-nilai agama Islam

dapat lebih mudah diwujudkan dalam meningkatkan kecerdasan spiritual

pada santri dengan baik.

Kata agama diambil dari bahasa sanskerta yaitu dari kata a artinya

tidak, dan gama yang berarti kacau atau kocar kacir. Dengan demikian,

agama memiliki arti tidak kacau, tidak kocar kacir, teratur.46 Pengertian

agama dilihat dari sudut perannya yang harus dimainkan adalah agar setiap

orang yang berpegang terhadap ajaran-ajaran agama yang diyakininya dapat

memperoleh ketenangan, ketentraman, keteraturan, kedamaian dan jauh dari

kekacauan. Selain dari kata agama, dikenal pula kata ad-din dari bahasa

Arab, religi dari bahasa Eropa, religion dari bahasa Inggris, Prancis, Jerman

dan religie dari bahasa Belanda. Agama menurut bahasa adalah taat, tunduk,

46
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian
Muslim, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), Hal. 27.
42

keyakinan, peraturan dan ibadah.47 Sedangkan agama menurut istilah dalam

pandangan Mahmut Syaltut yang dikutip oleh Muhammad Alim adalah

ketetapan-ketetapan ilahi yang diwahyukan kepadan Nabi-Nya untuk

menjadi pedoman hidup.48

Menurut Thaib Tahir Abdul Mu’in dalam Muhammad Alim, agama

adalah sebagai peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang

mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendaknya

sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan di

akhirat.49

Dari uraian di atas, yang menjelaskan tentang pengertian agama secara

bahasa dan istilah, kemudian dilanjutkan dengan pengertian dari kata Islam.

Islam menurut bahasa adalah selamat, sentosa dan damai. Kata Islam

berasal dari bahasa Arab yaitu salima yang dibentuk menjadi kata aslama,

yuslimu, islaman yang berarti memeliharakan dalam keadaan selamat,

sentosa dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat.50

Islam menurut istilah adalah suatu nama bagi agama yang ajaran-

ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.51

Islam memiliki ajaran yang lengkap, menyeluruh dan sempurna yang

mengatur tata cara kehidupan manusia, baik ketika dalam beribadah maupun

ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

47
Ibid.
48
Ibid., Hal. 32.
49
Ibid.
50
Ibid., Hal. 91.
51
Ibid., Hal. 92.
43

Jadi, pengertian agama Islam menurut ulama Islam adalah peraturan

Allah yang diberikan kepada manusia yang berisi ajaran-ajaran meliputi

sistem kepercayaan, sistem peribadatan dan sistem kehidupan manusia

dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.52

Sedangkan agama Islam menurut Muhammad Alim adalah seperangkat

ajaran nilai-nilai kehidupan yang harus dijadikan barometer bagi

pemeluknya dalam menentukan pilihan dan tindakan dalam kehidupannya. 53

Nilai-nilai itu disebut dengan nilai agama, oleh sebab itu, nilai-nilai agama

merupakan seperangkat standar kebenaran dan kebaikan.

Nilai-nilai agama Islam menurut Amsyari Fuad adalah kumpulan dari

prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia

itu menjalankan kehidupannya di dunia ini, prinsip yang satu dengan prinsip

yang lainnya saling terkait dalam membentuk satu kesatuan yang utuh dan

tidak dapat dipisahkan.54

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nilai-nilai agama Islam atau

nilai-nilai keIslaman adalah bagian dari nilai material yang terwujud dalam

kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilai-nilai agama Islam

merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi

(insan kamil). Nilai-nilai Islam besifat mutlak kebenarannya, universal dan

suci. Kebenaran dan kebaikan agama mengatasi rasio, perasaan, keinginan,

52
Ibid., Hal. 32.
53
Ibid., Hal. 10.
54
Amsyari Fuad, Islam Kaffah Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia, (Jakarta: Gema
Insani, 1995), Hal. 22.
44

nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampaui subjektifitas golongan, ras,

bangsa dan stratifikasi sosial.55

Nilai-nilai agama Islam bagi seorang Muslim menurut pemikiran

Imam al-Ghazali ialah al-ikhlas (keikhlasan), al-sidq (jujur), al-amanah

(amanah) serta al-mas’uliyyah (bertanggungjawab) dan al-kamal

(kesempurnaan). Nilai-nilai ini akan dikaji berdasarkan karya-karyanya

seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din.56

Nilai-nilai agama Islam dapat dilihat dari dua segi yaitu segi nilai

normatif dan segi nilai operatif. Segi nilai normatif dalam pandangan

Kupperman adalah standar atau patokan norma yang mempengaruhi

manusia dalam menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif

yang menitikberatkan pada pertimbangan baik-buruk, benar-salah, hak dan

batil, diridhoi atau dimurkai. Pengertian nilai normatif ini mencerminkan

pandangan dari sosiolog yang memiliki penekanan utamanya pada norma

sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi tingkah laku manusia.57 Secara

garis besarnya, penggunaan kriteria benar-salah dalam menetapkan nilai ini

adalah dalam hal ilmu (sains), semua filsafat kecuali etika madzhab tertentu.

Sedangkan nilai baik-buruk yang digunakan dalam menetapkan nilai ini

adalah hanya dalam etika.

Sedangkan segi nilai operatif menurut Muhaimin dan Abdul Mujib

adalah suatu tindakan yang mengandung lima kategori yang menjadi prinsip

55
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, [Link], Hal. 340.
56
Mohd Hasrul Shuhari, Nilai-Nilai penting Individu Muslim menurut Imam Al-Ghazali,
(Universiti Malaya: Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari, 2015), Hal. 43.
57
Rohmat Mulyana, [Link]., Hal. 9.
45

standarisasi tingkah laku manusia; yaitu sangat baik, baik, netral, kurang

baik dan buruk yang dapat dijelaskan lebih lengkap sebagai berikut:

a. Wajib (sangat baik), nilai yang sangat baik dilakukan oleh manusia,

ketaatan akan memperoleh imbalan jasa (pahala) dan kedurhakaan akan

mendapat sanksi (dosa).

b. Sunnah (baik), nilai yang baik dilakukan oleh manusia, sebagai

penyempurnaan terhadap nilai yang sangat baik atau wajib sehingga

ketaatannya diberi imbalan jasa dan kedurhakaannya tanpa mendapat

sanksi.

c. Mubah (netral), nilai yang bersifat netral, mengerjakan atau

maninggalkan, tidak akan berdampak imbalan jasa atau sanksi.

d. Makruh (kurang baik), nilai yang sepatutnya untuk ditinggalkan. Di

samping kurang baik, juga memungkinkan untuk terjadinya kebiasaan

buruk yang pada akhirnya akan menimbulkan keharaman.

e. Haram (buruk), nilai yang buruk karena membawa kemudharatan dan

merugikan diri sendiri maupun ketentraman pada umumnya, sehingga

apabila subjek yang melakukan akan mendapatkan sanksi, baik langsung

(di dunia) atau tidak langsung (di akhirat).58

Kelima nilai di atas, cakupannya menyangkut seluruh bidang nilai

yaitu nilai ilahiyah ubudiyah, ilahiyah muamalah dan nilai etik insani yang

terdiri dari nilai sosial, rasional, individual, biofisik, ekonomi, politik dan

estetik. Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai

58
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka
Dasar Operasionalnya, (Bandung: Triganda Karya, 1993), Hal. 117.
46

agama Islam adalah seperangkat ajaran nilai-nilai luhur yang ditransfer dan

diadopsi ke dalam diri untuk mengetahui cara menjalankan kehidupan

sehari-hari sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dalam membentuk

kepribadian yang utuh. Oleh karena itu, seberapa banyak dan seberapa jauh

nilai-nilai agama Islam tersebut bisa mempengaruhi dan membentuk sikap

serta tingkah laku seseorang sangat tergantung dari seberapa dalam nilai-

nilai agama yang terinternalisasi dalam diri seseorang, maka kepribadian

dan sikap religiusnya akan muncul dan terbentuk.

2. Macam-Macam Nilai Agama Islam

Peran agama memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan

hidup dan pembentukan karakter Islami khususnya bagi santri yang masih

membutuhkan pembinaan ajaran agama Islam. Nilai-nilai agama Islam yang

terkandung dalam ajaran agama Islam menjadi patokan atau standarisasi

bagi tercapainya karakter Islami santri.

Macam-macam nilai agama Islam yang dapat memberikan pengaruh

dalam meningkatkan karakter Islami santri diantaranya terdiri dari nilai

aqidah, syari’ah dan akhlak. Nilai-nilai agama Islam tersebut perlu

ditanamkan terhadap diri seseorang untuk lebih mudah dalam meningkatkan

karakter Islami sesuai dengan ajaran agama Islam. Sebelum menanamkan

nilai-nilai agama Islam, terlebih dahulu yang dilakukan adalah memahami

ajaran-ajaran agama Islam yang mencakup tiga hal pokok, yaitu:

a. Iman (aqidah), yaitu kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan

penuh keyakinan, tidak bercampur dengan keraguan serta memberikan


47

pengaruh terhadap pandangan hidup seseorang, yang meliputi rukun

iman, yaitu; iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya,

Hari Akhir, Qadha dan Qadar Allah.

b. Islam (syari’ah), adalah panduan yang diberikan Allah dalam

membimbing manusia untuk mengikuti ajaran-ajaran yang telah

ditetapkan dalam hal beribadah, yang meliputi rukun Islam, yaitu;

mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat,

berpuasa di Bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji bagi yang

mampu.

c. Ihsan (akhlak), adalah seorang hamba yang beribadah kepada Allah

seolah-olah ia melihat Allah dan jika tidak dapat melihat-Nya maka ia

meyakininya bahwa Allah-lah yang dapat melihatnya. 59

Tabel 2.1 Nilai-Nilai Agama Islam


Bidang Nilai Karakter
Iman (Aqidah) 1. Iman kepada Allah 1. Percaya dan yakin
bahwa Allah satu-
satunya Tuhan yang
layak disembah
2. Iman kepada 2. Percaya dan yakin
Malaikat bahwa malaikat itu
ada
3. Iman kepada Kitab 3. Percaya dan yakin
bahwa kitab-kitab
Allah ada 4, yakni
Taurat, Zabur, Injil
dan Al-Qur’an
4. Iman kepada Rasul 4. Percaya dan yakin
kepada bahwa Rasul
adalah utusan Allah
5. Iman kepada hari
5. Percaya dan yakin
59
Muhammad Alim, [Link]., Hal. 125-153.
48

akhir (hari kiamat) bahwa kelak akan


datang hari kiamat
6. Iman kepada Qadha’ 6. Percaya dan yakin
dan Qadar bahwa segal sesuatu
telah ditetapkan oleh
Allah melalui Qadha
dan QadarNya
Islam (Syari’ah) 1. Membaca 1. Memperkuat iman
Syahadatain (dua
Syahadat)
2. Mendirikan shalat 2. Mudah berbuat baik
dan mejauhkan diri
dari maksiat
3. Menunaikan zakat 3. Jiwa sosial tinggi
4. Berpuasa di bulan 4. Melatih sabar dalam
Ramadhan lapar
5. Menunaikan ibadah 5. Meningkatkan
haji (bagi yang kualitas iman
mampu)
Ihsan (Akhlak) 1. Bentuk 1. Mawas diri dan
penghambaan yang muhasabah
dipenuhi rasa harap
atau keinginan di
setiap ibadah yang
dipenuhi dan rasa
takut serta cemas
dari siksaNya
Nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam tersebut sangat luas,

namun pada intinya semua itu dikategorikan menjadi tiga pokok, yaitu:

1) Nilai Aqidah

Aqidah memiliki peranan penting dalam ajaran Islam, sehingga

penempatannya diletakkan pada posisi pertama. Aqidah secara

etimologis berarti yang terikat atau perjanjian yang teguh, kuat dan

tertanam di dalam hati yang paling dalam. Secara terminologis aqidah

berarti credo, creed yaitu keyakinan hidup iman dalam arti khas, yaitu
49

pengikraran yang bertolak dari hati. Dengan demikian aqidah adalah

urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, menentramkan

jiwa dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan. 60

Aqidah atau keimanan merupakan landasan atau pondasi dalam

kehidupan umat Islam, sebab aqidah dalam Islam mengandung arti

adanya keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib

disembah, ucapan dalam lisan bentuk kalimat syahadat dan perbuatan

dengan bentuk amal shalih. Oleh karena itu, seseorang agar bisa

disebut muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Akan

tetapi, pengakuan tersebut tidak sekedar ucapan lisan saja, tetapi harus

disertai keyakinan dalam hati dan dibuktikan dengan amal. Untuk itu,

antara aqidah, syari’ah dan akhlak memiliki hubungan yang saling

mengisi, sehingga praktik ketiga bidang tersebut tidak mungkin dapat

dipisahkan.61 Hal tersebut seperti yang dijelaskan dalam hadits yang

diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi:

‫صلَّى اهللُ َع ْلي ِه َو َسلَّ َم يَ ْوًما بَا ِرًزا‬ ِ َ َ‫َع ْن اَبِ ْي ُه َريْ َرةَ ق‬
َ ‫ َكا َن َر ُس ْو ُل اهلل‬:‫ال‬
ِ ِ‫ اَ ْن تُ ْؤِمن ب‬:‫ال‬
‫اهلل‬ َ َ‫اإليْ َما ُن؟ ق‬ ِ ‫ يارسو ُل‬:‫ال‬
ِْ ‫اهلل َما‬ ِ ‫لِلن‬
ُ ْ ُ َ َ َ ‫َّاس فَاتَاهُ َر ُج ٌل فَ َق‬
)‫(رَواهُ ُم ْسلِ ٌم‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِِ ِ ِ ِ ِ ِ ِ
َ ‫َوَم َالئ َكته َوكتَابِه َول َقائه َوُر ُسله َوتُ ْؤم ُن بِالْبَ ْعث االَخ ِر‬
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. Dia berkata, “Pada hari Rasulullah

SAW berada di tengah-tengah para sahabatnya, tiba-tiba datang

seorang laki-laki, seraya bertanya, Wahai Rasulullah apakah iman itu?

Beliau menjawab, (Yaitu) engkau beriman kepada Allah SWT, para

60
Ibid., Hal. 124.
61
Ibid., Hal. 125.
50

malaikat-Nya, kitab-Nya, Hari Pertemuan dengan-Nya, para Rasul-

Nya dan beriman kepada kebangkitan terakhir.”(HR. Muslim: 2) 62

Aqidah sebagai keyakinan akan dapat meningkatkan kecerdasan

spiritual seseorang, bahkan mempengaruhi kehidupan seorang

muslim. Menurut Abu A’la al-Maududi, pengaruh aqidah dalam

kehidupan sehari-hari sebagai berikut:

a) Menjauhkan manusia dari pandangan yang sempit dan picik

b) Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi

setiap persoalan dan situasi

c) Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan tau harga diri

d) Menanamkan sifat kesatria, semangat dan berani serta tidak gentar

menghadapi resiko

e) Membentuk manusia menjadi jujur dan adil

f) Membentuk pendirian yang teguh, sabar, taat dan disiplin dalam

menjalankan peraturan Ilahi

g) Menciptakan sikap hidup damai dan ridha.63

2) Nilai Syari’ah

Syari’ah menurut bahasa berarti tempat jalannya air atau secara

maknawi syari’ah artinya sebuah jalan hidup yang ditentukan oleh

Allah sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan di dunia untuk

menuju kehidupan di akhirat. Panduan yang diberikan oleh Allah

kepada umat Islam dalam membimbing manusia harus berdasarkan


62
Muhammad Nasruddin Al Albani, Ringkasan Shahih Muslim (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007),
Hal. 6.
63
Muhammad Alim, [Link]., Hal. 131.
51

kepada sumber utama hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah

serta sumber kedua yaitu akal manusia dalam ijtihad para ulama’ atau

sarjana Islam.64

Kata syari’ah menurut pengertian hukum Islam adalah hukum-

hukum atau aturan yang diciptakan oleh Allah untuk semua hamba-

Nya agar diamalkan demi kebahagiaan dunia akhirat.65 Syari’ah juga

bisa diartikan sebagai salah satu sistem Ilahi yang mengatur hubungan

antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia

dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Menurut Muhammad

Syaltout dalam Muhammad Alim, syari’ah sebagai peraturan-

peraturan atau pkok-pokoknya digariskan oleh Allah agar manusia

berpegang kepadanya, dalam mengatur hubungan manusia dengan

Tuhannya, sesama manusia dan alam.66

Menurut Taufik Abdullah, syari’ah mengandung nilai-nilai baik

dari aspek ibadah maupun muamalah. Nilai-nilai tersebut diantaranya

adalah:

a) Kedisiplinan, dalam beraktifitas untuk beribadah. Hal ini dapat

dilihat dari perintah shalat dengan waktu-waktu yang telah

ditentukan

b) Sosial dan kemanusiaan, contoh: zakat mengandung nilai sosial,

puasa menumbuhkan rasa kemanusiaan dengan menghayati

kesusahan dan rasa lapar yang dialami oleh fakir miskin


64
Ibid., Hal. 139.
65
Ibid.
66
Ibid. Hal. 140.
52

c) Keadilan, Islam menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Hal ini bisa

dilihat dalam waris, jual beli, haad (hukuman), maupun pahala dan

dosa

d) Persatuan, hal ini terlihat pada shalat berjamaah, anjuran

pengambilan keputusan dan musyawarah serta anjuran untuk saling

mengenal

e) Tanggung jawab, dengan adanya aturan-aturan kewajiban manusia

sebagai hamba kepada Tuhannya dapat melatih manusia untuk

bertanggung jawab atas segala hal yang telah dilakukan.67

Bila syariat Islam dikaji secara utuh, terlihat bahwa di dalamnya

terdapat norma-norma dan nilai-nilai luhur dalam ajaran agama Islam

yang ditetapkan oleh Tuhan bagi segenap manusia yang akan dapat

mengantarkannya pada makna hidup yang hakiki.

Hidup yang dibimbing dengan berpegang pada syari’ah (aturan

Allah) akan melahirkan kesadaran hidup untuk menjalankan

kehidupan dengan ketentuan dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Sejalan dengan hal tersebut, kualitas iman seseorang dapat juga

dibuktikan dengan pelaksanaan ibadah secara sempurna dan

terealisasinya nilai-nilai syari’ah dalam menjalankan kehidupannya

sehari-hari.

3) Nilai Akhlak

67
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Dunia Islam Jilid III, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,
2002), Hal. 7.
53

Dalam agama Islam, akhlak atau perilaku seorang muslim dapat

memberikan suatu gambaran akan pemahamannya terhadap agama

Islam. Maka, nilai-nilai yang mengandung akhlak sangat penting bagi

agama Islam untuk diketahui dan diaktualisasikan oleh seorang

muslim atau seseorang yang dalam proses pembinaan untuk

meningkatkan kecerdasan spiritualnya sehingga mencerminkan

sebagai seorang muslim sejati. Secara etimologi, pengertian akhlak

berasal dari bahasa Arab yang berarti budi pekerti, tabi’at, perangai,

tingkah laku, kejadian, buatan dan ciptaan.68

Adapun pengertian akhlak secara terminologi yang mengutip

pendapat dari ulama’ Ibnu Maskawaih dalam bukunya Tahdzib al-

Akhlaq yang mendefinisikan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa

seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa

terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan. 69 Selanjutnya

dari Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din menyatakan

bahwa akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang

daripadanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa

memerlukan pemikiran dan pertimbangan.70

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa

akhlak adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia. Oleh karena

itu, suatu perbuatan tidak dapat disebut akhlak kecuali memenuhi

beberapa syarat, yaitu:


68
Muhammad Alim, [Link]., Hal. 151.
69
Ibid.
70
Ibid.
54

a) Perbuatan tersebut telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang

sehingga telah menjadi kepribadian

b) Perbuatan tersebut dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran. Ini

bukan berarti perbuatan itu dilakukan dalam keadaan tidak sadar,

hilang ingatan, tidur, mabuk atau gila

c) Perbuatan tersebut timbul dari dalam diri orang yang

mengerjakannya tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar

d) Perbuatan tersebut dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-

main, pura-pura atau sandiwara.71

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam.

Akhlak diibaratkan sebagai “buah” pohon Islam yang berakarkan

aqidah, bercabang dan berdaun syari’ah.72 Pentingnya kedudukan

akhlak dapat dilihat dalam Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan

dengan akhlak. Dalam Al-Qur’an disebutkan pada surat Al-Qalam: 4

yang berbunyi:

    

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang


agung.” (Al-Qalam: 4)73
Ruang lingkup ajaran akhlak adalah sama dengan ruang lingkup

ajaran Islam itu sendiri, khususnya berkaitan dengan pola hubungan

antara Tuhan dan sesama manusia. Akhlak dalam ajaran Islam

71
Ibid.
72
Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), Hal.
348.
73
Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Sygma Publishing, 2011), Hal. 564.
55

mencakup berbagai aspek, dimulai akhlak terhadap Allah hingga

kepada sesama makhluk. Lebih jelasnya akan dipaparkan oleh

Muhammad Alim sebagai berikut:

(1) Akhlak terhadap Allah

Banyak cara yang dilakukan dalam berakhlak kepada Allah

dan kegiatan menanamkan nilai-nilai akhlak kepada Allah.

Diantara nilai-nilai ketuhanan yang sangat mendasar adalah:

(a) Iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Tuhan,

yang kemudian meningkat menjadi sikap mempercayai Tuhan

dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.

(b) Ihsan, yaitu kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah

senantiasa hadir atau bersama manusia dimanapun manusia

berada

(c) Taqwa, yaitu berusaha berbuat hanya sesuatu yang diridhai

Allah dengan menjauhi atau menjaga diri dari sesuatu yang tidak

diridhai-Nya

(d) Ikhlas, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan

semata-mata demi memperoleh keridhoan Allah dan bebas dari

pamrih

(e) Tawakkal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah

dengan penuh harapan dan keyakinan bahwa Dia yang akan

menolong manusia dalam memberikan jalan yang terbaik


56

(f) Syukur, yaitu sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan

atas semua nikmat dan karunia yang tak terhitung

(g) Sabar, yaitu sikap tabah dalam menghadapi segala kepahitan

hidup. Dengan kata lain, sabar adalah sikap batin yang tumbuh

karena kesadaran akan asal dan tujuan hidup, yaitu mencari

Ridho Allah SWT.74

(2) Akhlak terhadap Manusia

Nilai-nilai akhlak terhadap sesama manusia sangat banyak,

dan berikut ini diantara nilai-nilai tersebut yang patut

dipertimbangkan, yaitu:

(a) Silaturrahim, yaitu menyambung rasa cinta kasih sesama

manusia

(b) Persaudaraan (ukhuwwah), yaitu semangat untuk tidak mudah

merendahkan orang lain

(c) Persamaan (musawwah), yaitu pandangan bahwa semua

manusia itu sama harkat dan martabatnya

(d) Adil, yaitu wawasan yang seimbang dalam memandang,

menilai atau menyikapi sesuatu atau seseorang

(e) Baik sangka (khusnudhon), yaitu sikap berpikiran positif

terhadap orang lain

(f) Rendah hati (tawadhu’), yaitu sikap yang tumbuh karena

kesadaran bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah

74
Muhammad Alim, [Link]., Hal. 152-154.
57

(g) Tepat janji (wafa’), yaitu selalu menepati janji apabila membuat

perjanjian

(h) Lapang dada (insyiraf), yaitu sikap penuh kesadaran

menghargai pendapat dan pandangan orang lain

(i) Dapat dipercaya (amanah), yaitu penampilan diri yang dapat

dipercaya

(j) Perwira (‘iffah dan ta’affuf), yaitu sikap penuh harga diri namun

tidak sombong, tetap rendah hati dan tidak mudah menunjukkan

sikap memelas

(k) Hemat (qawamiyyah), yaitu sikap tidak boros dan tidak kikir

dalam menggunakan harta

(l) Dermawan (sakhiy), yaitu sikap memiliki kesediaan yang besar

dalam menolong sesama manusia.75

Nilai-nilai akhlak terhadap sesama manusia di atas sama

halnya dengan nilai-nilai ketuhanan yang dapat membentuk

ketakwaan, maka nilai-nilai kemanusiaan yang membentuk akhlak

di atas tentu masih bisa ditambah lagi dengan beberapa nilai yang

banyak sekali.

(3) Akhlak terhadap Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

manusia, baik itu binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-

benda yang tidak bernyawa. Pada dasarnya, nilai-nilai akhlak

75
Ibid., Hal. 155-157.
58

terhadap lingkungan ini bersumber dari fungsi manusia sebagai

khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi manusia dengan

sesamanya dan terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti

pengayoman, pemeliharaan serta bimbingan agar setiap makhluk

mencapai tujuan penciptaannya.76

Hal ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati

proses-proses yang sedang berjalan dan juga proses yang sedang

terjadi. Yang demikian itu, dapat mengantarkan manusia agar

bertanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan perusakan

terhadap lingkungan.

Dari uraian di atas, memperlihatkan bahwa akhlak Islam

sangat komprehensif, menyeluruh dan mencakup berbagai makhluk

yang diciptakan Allah SWT. Hal yang demikian dilakukan karena

seluruh makhluk satu sama lain saling membutuhkan.

C. Kajian tentang Karakter

1. Pengertian Karakter

Secara bahasa, kata karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu

“charassein”, yang berarti barang atau alat untuk menggores, yang di

kemudian hari dipahami sebagai stempel/cap. Jadi, watak itu stempel atau

cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang. Watak sebagai sikap seseorang

dapat dibentuk, artinya watak seseorang berubah, kendati watak

76
Ibid., Hal. 157-158.
59

mengandung unsur bawaan (potensi internal), yang setiap orang dapat

berbeda. Namun, watak amat sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu

keluarga, sekolah masyarakat, lingkungan pergaulan, dan lain-lain.77

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter merupakan sifat-sifat

kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan

yang lain.78

Sutarjo Adisusilo, dengan mengutip pendapat F.W. Foerster

menyebutkan bahwa karakter adalah sesuatu yang mengualifikasi seorang

pribadi. Karakter menjadi identitas, menjadi ciri, menjadi sifat yang tetap,

yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Jadi, karakter

adalah seperangkat nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga

menjadi sifat tetap dalam diri seseorang, misalnya kerja keras, pantang

menyerah, jujur, sederhana, dan lain-lain.79

Menurut Darmiyati Zuhdi, karakter adalah seperangkat sifat yang

selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebajikan, dan kematangan

moral seseorang. Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pendidikan karakter

adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima

secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab.80

Arismantoro, dengan mengutip pendapat Alwisol, menyebutkan

bahwa karakter diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan

77
Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013),
Hal. 77.
78
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2013), Hal.
521.
79
Sutarjo Adisusilo, [Link]., Hal. 78.
80
Darmiyati Zuhdi, Humanisasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), Hal. 11.
60

nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit.

Karakter berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian

dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality)

maupun karakter terwujud tingkah laku yang ditunjukkan ke lingkungan

sosial.81

Menurut Thomas Lickona, karakter diartikan sifat alami seseorang

dalam merespons situasi secara bermoral. Lickona menekankan tiga hal

dalam mendidik karakter, yang dirumuskan dengan indah: knowing, loving,

and acting the good.82 Menurut Ngainun Naim karakter adalah serangkaian

sikap (attitude), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan

keterampilan (skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk

melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual, seperti sikap kritis dan

alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab,

mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan,

kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang

berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk

berkonstribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. 83 Menurut Agus

Wibowo, karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang

yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang

81
Arismantoro, Character Building, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), Hal. 27.
82
Thomas Lickona, Mendidik untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah dapat Memberikan
Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Tanggung Jawab, alih bahasa Juma Abdu Wamaungo,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013), Hal. 81.
83
Ngainun Naim, Character Building, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), Hal 55.
61

diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir,

bersikap, dan bertindak.84

Dari berbagai definisi sebagaimana telah diuraikan diatas, dapat

diperoleh sebuah pengertian yang konkret, yaitu karakter sebagai

serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations),

dan keterampilan (skills) seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi

berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan

untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak, sehingga ia dapat

hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa,

dan negara.

2. Nilai-Nilai Karakter

Nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa berasal dari nilai-nilai

luhur universal, yakni:

a. Cinta Tuhan dan ciptaan-Nya

b. Kemandirian dan tanggung jawab

c. Kejujuran/amanah dan diplomatis

d. Hormat dan santun

e. Dermawan, suka menolong, gotong-royong, dan kerja sama

f. Percaya diri dan kerja keras

g. Kepemimpinan dan keadilan

h. Baik dan rendah hati

i. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.85

84
Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), Hal.
67.
62

Menurut Suyadi, nilai karakter bangsa terdiri atas sebagai berikut:

Tabel 2.2 Nilai Karakter Bangsa


No. Karakter Indikator
1. Religius Ketaatan dan kepatuhan dalam
memahami dan melaksanakan ajaran
agama (aliran kepercayaan) yang
dianut, termasuk dalam hal ini adalah
sikap toleransi terhadap pelaksanaan
ibadah agama (aliran kepercayaan)
lain, serta hidup rukun dan
berdampingan.
2. Jujur Sikap dan perilaku yang mencerminkan
kesatuan antara pengetahuan, perkataan
dan perbuatan (mengetahui yang benar,
mengatakan yang benar dan melakukan
yang benar), sehingga menjadikan
orang yang bersangkutan sebagai
pribadi yang dapat dipercaya.
3. Toleransi Sikap dan perilaku yang mencerminkan
penghargaan terhadap perbedaan
agama, aliran kepercayaan, suku, adat,
bahasa, ras, etnis, pendapat, dan hal-hal
lain yang berbeda dengan dirinya
secara sadar dan terbuka, serta dapat
hidup tenang di tengah perbedaan
tersebut.
4. Disiplin Kebiasaan dan tindakan yang konsisten
terhadap segala bentuk peraturan atau
tata tertib yang berlaku.
5. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya
secara sungguh-sungguh (berjuang
hingga titik darah penghabisan) dalam
menyelesaikan berbagai tugas
permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain
dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif Sikap dan perilaku yang mencerminkan

85
Anas Salahuddin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis Agama
dan Budaya Bangsa, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2013), Hal. 54.
63

inovasi dalam berbagai segi dalam


memecahkan masalah, sehingga selalu
menemukan cara-cara baru, bahkan
hasil-hasil baru yang lebih baik dari
sebelumnya.
7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak
tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan berbagai tugas maupun
persoalan. Namun dalam hal ini bukan
berarti tidak boleh kerjasama secara
kolaboratif, melainkan tidak boleh
melemparkan tugas dan tanggung
jawab kepada orang lain.
8. Demokratis Sikap dan cara berpikir yang
mencerminkan persamaan hak dan
kewajiban secara adil dan merata
antara dirinya dengan orang lain.
9. Rasa ingin tahu Cara berpikir, sikap dan perilaku yang
mencerminkan penasaran dan
keingintahuan terhadap segala hal yang
dilihat, didengar, dan dipelajari secara
lebih mendalam.
10. Semangat kebangsaan Sikap dan tindakan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi atau individu dan
golongan.
11. Cinta tanah air Sikap dan perilaku yang mencerminkan
rasa bangga, setia, peduli dan
penghargaan yang tinggi terhadap
bahasa, budaya, ekonomi, politik, dan
sebagainya, sehingga tidak mudah
menerima tawaran bangsa lain yang
dapat merugikan bangsa sendiri.
12. Menghargai prestasi Sikap terbuka terhadap prestasi orang
lain dan mengakui kekurangan diri
sendiri tanpa mengurangi semangat
berprestasi yang lebih tinggi.
13. Bersahabat/komunikatif Sikap dan tindakan terbuka terhadap
orang lain melalui komunikasi yang
santun sehingga tercipta kerja sama
64

secara kolaboratif dengan baik.


14. Cinta damai Sikap dan perilaku yang mencerminkan
suasana damai, aman, tenang dan
nyaman atas kehadiran dirinya dalam
komunitas atau masyarakat tertentu.
15. Gemar membaca Kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk
menyediakan waktu secara khusus
guna membaca berbagai informasi,
baik buku, jurnal, majalah, koran, dan
sebagainya, sehingga menimbulkan
kebijakan bagi dirinya.
16. Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya menjaga dan melestarikan
lingkungan sekitar.
17. Peduli sosial Sikap dan perbuatan yang
mencerminkan kepedulian terhadap
orang lain maupun masyarakat yang
membutuhkan.
18. Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya,
baik yang berkaitan dengan diri sendiri,
sosial, masyarakat, bangsa, negara
maupun agama.86

3. Tahap Pembentukan Karakter

Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting

untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan

dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan

karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik

dengan tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong

peserta didik tumbuh dengan kapasitas komitmennya untuk melakukan

berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar serta

86
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013),
Hal. 8-9.
65

memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan dalam membentuk

karakter anak melalui orang tua dan lingkungan.

Karakter peserta didik dikembangkan melalui beberapa tahapan,

yaitu:87

a. Tahap pengetahuan (knowing)

b. Pelaksanaan (acting)

c. Kebiasaan (habit)

Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang

memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai

dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk

melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan

kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang

baik (components of good character), yaitu:88

1) Pengetahuan tentang moral (moral knowing)

Dimensi-dimensi dalam moral knowing yang akan mengisi

ranah kognitif adalah kesadaran moral (moral awareness),

pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values),

penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral

reasoning), dan pengenalan diri (self knowledge).

87
Zainal Aqid dan Sujak, Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Yrama Widya,
2011), Hal. 9.
88
Ibid.
66

2) Perasaan/penguatan emosi (moral feeling)

Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik

untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan

bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu

kesadaran akan jati diri (conscience), percaya diri (self esteem),

kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran

(loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan

hati (humility).

3) Perbuatan bermoral (moral action)

Moral action merupakan perbuatan atau tindakan moral yang

merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya.

Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan

yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari

karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan

kebiasaan (habit).

3 komponen tersebut diperlukan agar peserta didik atau warga sekolah

lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat

memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan) nilai-

nilai kebajikan (moral). Pengembangan atau pembentukan karakter dalam

suatu sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen

karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku, yang dapat dilakukan atau

bertindak secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-

nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya
67

baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa,

dan negara, serta dunia internasional.

Pengembangan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domain

affection atau emosi). Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut

juga dengan “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat kebaikan.

Pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “knowing

the good” (moral knowing), tetapi juga “desiring the good” atau “loving the

good” (moral feeling), dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu

semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh suatu

paham tertentu. Dengan demikian jelas bahwa karakter dikembangkan atau

dibentuk melalui tiga langkah, yaitu:89

a) Mengembangkan moral knowing

b) Mengembangkan moral feeling

c) Mengembangkan moral action

Dengan kata lain, semakin lengkap komponen moral yang dimiliki

manusia maka akan semakin membentuk karakter yang baik atau unggul

dan tangguh. Pengembangan karakter dapat direalisasikan dalam mata

pelajaran agama, kewarganegaraan, atau mata pelajaran lainnya, yang

program utamanya cenderung mengolah nilai-nilai secara kognitif dan

mendalam sampai ke panghayatan nilai secara efektif. Pengembangan

karakter seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai secara kognitif,

pengenalan nilai secara afektif, akhirnya ke pengenalan nilai secara nyata.

89
Zainal Aqid dan Sujak, [Link]., Hal. 10.
68

Untuk sampai ke arah praktis, ada satu peristiwa batin yang sangat penting

dan harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang sangat

kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa tersebut disebut conatio,

dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini disebut

langkah konatif. Pendidikan karakter seharusnya mengikuti langkah-langkah

yang sistematis, dimulai dari pengenalan nilai secara kognitif, langkah

memahami dan menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan

tekad secara konatif. Ki Hajar Dewantara menerjemahkannya dengan kata-

kata cipta, rasa, dan karsa.90

Sri Narwanti, dengan mengutip pendapat Anis Matta menyebutkan

ada beberapa kaidah pembentukan karakter dalam membentuk karakter

muslim, yaitu sebagai berikut:

(1) Kaidah Kebertahapan

Proses pembentukan dan pengembangan karakter harus dilakukan secara

bertahap. Orang tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai yang diinginkan

secara tiba-tiba dan instan. Namun, ada tahap-tahap yang harus dilalui

dengan sabar dan tidak terburu-buru. Orientasi kegiatan ini adalah pada

proses bukan pada hasil.

(2) Kaidah Kesinambungan

Seberapapun kecilnya porsi latihan yang terpenting adalah

kesinambungan. Proses yang berkesinambungan inilah yang nantinya

90
Zainal Aqid dan Sujak, Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Yrama Widya,
2011), Hal. 11.
69

membentuk rasa dan warna berpikir seseorang lama-lama akan menjadi

kebiasaan dan seterusnya menjadi karakter pribadi yang jelas.

(3) Kaidah Momentum

Penggunaan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan

latihan. Misalnya bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar,

kemauan yang kuat, kedermawanan, dan seterusnya.

(4) Kaidah Motivasi Intrinsik

Karakter yang kuat akan terbentuk sempurna jika dorongan yang

menyertainya benar-benar lahir dari dalam diri sendiri. Jadi, proses

“merasakan sendiri”, “melakukan sendiri” adalah hal penting. Hal ini

sesuai dengan kaidah umum bahwa mencoba sesuatu akan berbeda

hasilnya antara yang dilakukan sendiri dengan yang hanya dilihat atau

diperdengarkan saja. Pendidikan harus menanamkan motivasi atau

keinginan yang kuat dan lurus serta melibatkan aksi fisik yang nyata.

(5) Kaidah Pembimbingan

Pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa seorang guru dan

pembimbing. Kedudukan seorang guru atau pembimbing ini adalah untuk

memantau dan mengevaluasi perkembangan sesorang. Guru atau

pembimbing juga berfungsi sebagai unsur perekat, tempat “curhat” dan

sarana tukar pikiran bagi muridnya. 91

91
Sri Narwanti, Pendidikan Karakter: Pengintegrasian 18 Pembentukan Karakter dalam Mata
Pelajaran, (Yogyakarta: Familia, 2011), Hal. 6-7.
70

4. Metode Pembentukan Karakter

Pembentukan karakter peserta didik tentunya membutuhkan suatu

metodologi yang efektif, aplikatif, dan produktif agar tujuan yang

diharapkan dapat tercapai dengan baik. Menurut Doni Koesoema A,

metodologi dalam membentuk karakter peserta didik adalah sebagai

berikut:92

a. Mengajarkan

Pemahaman konseptual tetap membutuhkan sebagai bekal konsep-

konsep nilai yang kemudian menjadi rujukan bagi perwujudan karakter

tertentu. Mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman pada

peserta didik tentang struktur nilai tertentu, keutamaan (bila

dilaksanakan), dan maslahatnya (bila tidak dilaksanakan). Mengajarkan

nilai memiliki dua faedah, pertama memberikan pengetahuan konseptual

baru, kedua menjadi pembanding atas pengatahuan yang dimiliki oleh

peserta didik. Karena itu, maka proses mengajarkan tidaklah monolog,

melainkan melibatkan peran serta peserta didik.

b. Keteladanan

Keteladanan menempati posisi yang sangat penting. Guru harus

terlebih dahulu memiliki karakter yang diajarkan. Guru adalah sosok

yang digugu dan ditiru, peserta didik akan meniru apa yang dilakukan

gurunya ketimbang apa yang dilaksanakan sang guru. Bahkan, sebuah

pepatah kuno memberi suatu peringatan pada para guru bahwa peserta

92
Bambang Q. Anees dan Adang Hambali, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2009), Hal. 108.
71

didik akan meniru karakter negatif secara lebih ekstrem ketimbang

gurunya “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Keteladanan tidak hanya bersumber dari guru, melainkan juga dari

seluruh manusia yang ada di lembaga pendidikan tersebut, dan juga

bersumber dari orang tua, karib kerabat, dan siapapun yang sering

berhubungan dengan peserta didik. Pada titik ini, pendidikan karakter

membutuhkan lingkungan pendidikan yang utuh, saling mengajarkan

karakter.

c. Menentukan Skala Prioritas

Penentuan prioritas yang jelas harus ditentukan agar suatu proses

evaluasi atas berhasil tidaknya pendidikan karakter dapat menjadi jelas.

Tanpa prioritas, pendidikan karakter tidak dapat terfokus, sehingga tidak

dapat dinilai berhasil atau tidak berhasil. Pendidikan karakter

menghimpun kumpulan nilai yang dianggap penting bagi pelaksanaan

dan realisasi visi lembaga. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki

beberapa kewajiban:93

1) Menentukan tuntutan standar yang akan ditawarkan pada peserta didik

2) Semua pribadi yang terlibat dalam lembaga pendidikan harus

memahami secara jernih apa nilai yang ingin ditekankan dalam

lembaga pendidikan karakter

93
Bambang Q. Anees dan Adang Hambali, [Link]., Hal. 109.
72

3) Jika lembaga ingin menetapkan perilaku standar yang menjadi ciri

khas lembaga maka karakter standar itu harus dipahami oleh anak

didik, orang tua, dan masyarakat.

d. Praktis Prioritas

Unsur lain yang sangat penting bagi pendidikan karakter adalah

bukti dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut.

Berkaitan dengan tuntutan lembaga pendidikan atas prioritas nilai yang

menjadi visi kinerja pendidikannya, lembaga pendidikan harus mampu

membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah telah dapat direalisasikan

dalam lingkup pendidikan skolastik melalui berbagai macam unsur yang

ada di dalam lembaga pendidikan itu sendiri.

e. Refleksi

Karakter yang dibentuk oleh lembaga pendidikan melalui berbagai

macam program dan kebijakan senantiasa perlu dievaluasi dan

direfleksikan secara berkesinambungan dan kritis. Sebab sebagaimana

yang dikatakan oleh Sokrates “hidup tidak direfleksikan merupakan

hidup yang tidak layak dihayati.”

Tanpa ada usaha sadar untuk melihat kembali sejauh mana proses

pendidikan karakter ini direfleksikan dan dievaluasi, tidak akan pernah

terdapat kemajuan. Refleksi merupakan kemampuan sadar khas

manusiawi, dengan kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi

diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan baik.94

94
Bambang Q. Anees dan Adang Hambali, [Link]., Hal. 110.
73

Metodologi pembentukan karakter tersebut menjadi catatan penting

bagi semua pihak, khususnya guru yang berinteraksi langsung kepada

peserta didik. Tentu, lima hal ini bukan satu-satunya, sehingga masing-

masing tertantang untuk menyuguhkan alternatif dan gagasan untuk

memperkaya metodologi pembentukan karakter yang sangat dibutuhkan

bangsa ini dimasa yang akan datang.

5. Karakter Santri

Kata santri sendiri, menurut C. C Berg berasal dari bahasa India,

shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang

sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A. H. John

menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti

guru mengaji.95 Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam

pandangannya, asal usul kata “Santri” dapat dilihat dari dua pendapat, yaitu;

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “Santri” berasal dari kata

“sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf.

Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santri kelas

literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-

kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan

bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata

“cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru

ini pergi menetap.96 Dari pengertian tersebut, bisa kita ambil kesimpulan

95
Babun Suharto, Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantrendi Era Globalisasi,
(Surabaya: Imtiyaz, 2011 ), Hal. 9.
96
Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), Hal. 61.
74

bahwa, santri adalah seorang yang melek huruf dan paham tentang ilmu

agama serta selalu patuh dan tunduk atas perintah dan kemanapun guru

pergi menetap dengan tujuan agar bisa menimba ilmu kepadanya.

Setiap kelompok manusia memiliki ciri khas karakter pada kelompok

tersebut. Begitu pula seseorang bisa dikatakan atau dikategorikan sebagai

santri bila ia memiliki beberapa karakter sebagai berikut;

a. Kepatuhan

Kepatuhan bagi seorang santri kepada kyai dan guru adalah

niscaya. Bagi santri, kyai dan guru adalah murobbi ruhihi atau orang

yang membina kebaikan jiwanya. Kedudukannya bahkan lebih tinggi dari

bapak-ibunya, sebab kalau bapak-ibu adalah orang tua yg bersifat

biologis, maka guru atau kyai adalah orang tua yang bersifat ruhiyyah

atau spiritual.

Kyai atau guru sekali lagi bukan hanya orang yang berlaku sebagai

mediator atau sekedar mentransfer pengetahuan, tetapi kyai adalah orang

yang membimbing kejiwaan dan memberikan bekal pengetahuan

keagamaan santri sekaligus memberikan keteladanan dalam semua aspek

kehidupan.

Keberadaan kyai sebagai murabbir-ruh mengharuskan santri

memberikan ketaatan dan kepatuhan sepenuh hati; memberikan

penghormatan tanpa henti, dan melaksanakan semua tugas yang

diperintahkannya tanpa bertanya lagi untuk yang kedua kali. Barangkali

ini adalah bentuk dan pengejawantahan maqalah dari Sahabat Ali ibn
75

Abi Thalib karramallahu wajhah yang artinya: (Saya adalah hamba

sahaya dari orang yang telah mengajariku (meskipun) satu huruf saja).

b. Kemandirian

Sebagaimana ciri penting lembaga pesantren, kemandirian juga

menjadi salah satu karakter utama bagi santri. Di pesantren, santri diajari

me-manage dirinya sendiri; dibiasakan mengatur waktunya sendiri dan

memilih teman yang sesuai dengan seleranya sendiri. Fal-hasil, sejak

pertama kali datang, santri memaksa dirinya mengurus dan memenuhi

segala keperluannya sendiri.

Aspek pendidikan yang terpenting dalam hal ini tentu saja adalah

masalah kedewasaan, yaitu bagaimana santri tidak terbiasa cengeng dan

mudah mengeluh dengan masalah sehari-hari. Aspek ini selanjutnya

mendorong santri berlaku jujur, cerdas, terampil, kreatif dan disiplin

menghadapi segala sesuatunya sendiri.

c. Kesederhanaan

Kesederhanaan juga menjadi aspek terpenting bagi karakter santri.

Sebagaimana lembaga pesantren yang umumnya dikelola swasta-

swadaya, tentu kekurangan fasilitas adalah masalah yang lumrah dan

biasa. Kesederhanaan membiasakan santri untuk berlaku qona`ah dan

tidak bersikap berlebih-lebihan.

Kesederhanaan juga mengajarkan santri agar membiasakan diri

memandang setara terhadap sesama tanpa membeda-bedakan status


76

sosialnya. Aspek ini kemudian mendorong santri agar terbiasa dengan

keadaan apa adanya dan mengajari santri bisa hidup di mana saja.

d. Kebersamaan dan Kekeluargaan

Sikap kebersamaan dan kekeluargaan juga menjadi ciri pembeda

santri dengan pelajar lainnya. Sikap ini bisa muncul dikarenakan

kehidupan santri mengharuskan mereka mesti bergaul, berinteraksi dan

hidup berdampingan selama sehari semalam, dalam berbagai bentuk

kegiatan.

Tentu dalam pergaulan ada suka dan duka. Hal ini yang justru

memberi warna dan semakin mengokohkan ukhuwwah di antara mereka,

seperti sebuah keluarga. Sikap ini pada gilirannya akan menimbulkan

persatuan, kebersamaan, toleransi, kesetiakawanan, gotong royong,

tolong-menolong dan saling membantu dalam segala urusan mereka,

bahkan sesudah mereka selesai belajar di pesantren.97

Karakter-karakter di atas menjadi inti kejiwaan dari seorang yang

disebut santri. Karakter ini akan menjadikan seorang santri menjadi pribadi

yang kuat dan tangguh, serta siap hidup di tengah masyarakat. Apabila

santri mampu mentransfer karakter dan kepribadiannya ke tengah

masyarakat luas, tentu automatically dia akan mampu mewarnai karakter

kehidupan bangsa ini.

97
[Link] (Diakses pada: 30-07-2019, 14.16 WIB)
77

D. Kerangka Berpikir

Implikasi Teori

Fokus Penelitian
1. Bagaimana proses
internalisasi nilai-nilai
Internalisasi
Agama Islam dalam Grand Theory
Nilai-Nilai membentuk karakter
santri di Pesantren 1. Teori Peter L
Agama Islam
dalam Luhur Malang. Berger :
E. Internalisasi
Membentuk 2. Bagaimana metode
Karakter Santri internalisasi nilai-nilai 2. Amsyari H
di Pesantren Agama Islam dalam Fuad: Nilai- A
Luhur Malang membentuk karakter Nilai Agama S
F. Islam
santri di Pesantren I
Luhur Malang? 3. Thomas
G. L
3. Bagaimana hasil dari Likona :
internalisasi nilai-nilai Karakter P
H.
Agama Islam dalam E
membentuk karakter N
santri di Pesantren E
Luhur Malang. L
I
T
I
Tujuan Penelitian
A
1. Mengetahui proses internalisasi nilai-nilai N
Agama Islam dalam membentuk karakter
santri di Pesantren Luhur Malang.
2. Mengetaui metode internalisasi nilai-nilai
Agama Islam dalam membentuk karakter
santri di Pesantren Luhur Malang.
3. Mengetahui hasil internalisasi nilai-nilai
Agama Islam dalam membentuk karakter
santri di Pesantren Luhur Malang.

Implikasi Teori
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini berupaya untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang

strategi pesantren dan ustadz-ustadz dalam menginternalisasikan nilai-nilai

agama dalam membentuk karakter santri. Dalam penelitian ini, peneliti

berupaya mengamati secara mendalam dan mencari faktor-faktor yang dapat

menjelaskan kondisi subjek dan objek yang diteliti.

Sesuai permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini, maka

penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan

penelitian studi kasus (case study). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang

menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan

pengertian atau pemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang

berkonteks khusus. Menurut Moleong, penelitian kualitatif merupakan

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang

dialami oleh objek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan,

dan lain-lain secara holistik dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu

konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai bentuk

metode alamiah.98

Penelitian kualitatif ini berakar pada latar ilmiah sebagai keutuhan,

mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode

kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, mengarahkan sasaran

98
Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), Hal. 5.
78
79

penelitiannya pada usaha menentukan teori dasar, lebih mementingkan proses

dari pada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria

untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara,

dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak (peneliti dan subjek

peneliti).99

Dari berbagai definisi yang dikemukakan maka peneliti dapat

menyimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian

yang dilakukan oleh seorang peneliti dengan cara terjun langsung dan

melakukan pengamatan langsung pada objek peneliti melalui wawancara

terbuka untuk memahami sikap, perasaan, dan perilaku individu atau

sekelompok orang.

Oleh karenanya, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam

penelitian ini, karena dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif

lebih dapat memahami setiap fenomena yang sekarang belum diketahui, dan

dapat membantu penulis dalam menelaah tentang sesuatu yang menjadi

permasalahan yang akan penulis teliti.

Sedangkan pembahasan tentang studi kasus (case study) menurut Basuki

yang dikutip dalam buku Andi Prastowo merupakan kajian mendalam yang

dilakukan secara intensif dan mendetail terhadap suatu kasus yang bisa berupa

peristiwa, lingkungan dan situasi tertentu yang memungkinkan

mengungkapkan atau memahami sesuatu hal. Hal tersebut memungkinkan

terlewati dalam penelitian survei yang luas. Karena sifatnya yang mendalam

99
Ibid., Hal. 27.
80

dan mendetail itu, studi kasus (pada umumnya) mengahasilkan gambaran yang

longitudinal.100

Jenis penelitian studi kasus menurut John W. Best dalam Yatim Riyanto

yaitu penelitian yang berkenaan dengan segala sesuatu yang bermakna dalam

sejarah atau perkembangan kasus yang bertujuan untuk memahami siklus

kehidupan, atau perkembangan kasus yang bertujuan untuk memahami siklus

kehidupan, atau bagian dari siklus kehidupan, atau bagian dari siklus

kehidupan suatu unit individu (perorangan, keluarga, kelompok, pranata sosial

suatu masyarakat).101 Penelitian studi kasus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Menggambarkan subjek penelitian di dalam keseluruhan tingkah laku dan

hal-hal yang melingkunginya, dan lain-lain yang berkaitan dengan tingkah

laku tersebut

2. Dilakukan dengan mencermati kasus secara mendalam dan berhati-hati

3. Dilakukan karena cenderung untuk keperluan pemecahan masalah.

Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini menggunakan jenis

studi kasus, merupakan penelitian tentang subjek penelitian yang berkenaan

dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas, penelitian

menekankan pada penelitian sosial, kecenderungan pendekatannya induktif dan

peneltian identik dengan penelitian kualitatif.102 Oleh karena itu, tujuan

penelitian ini adalah memberikan gambaran secara mendetail tentang latar

belakang Pesantren Luhur, sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus,

100
Andi Prastowo, Memahami Metode-metode Penelitian, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011),
Hal. 129.
101
Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan¸ (Surabaya: Penerbit SIC, 2010), Hal. 24.
102
Masyhuri dan M. Zainuddin, Metodologi Penelitian (Pendekatan Praktis dan Aplikatif),
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2008), Hal. 35.
81

individu atau santri dan kelompok institusi berkaitan dengan internalisasi nilai-

nilai agama dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang.

B. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus

sebagai pengumpul data utama.103 Sedangkan instrumen selain manusia dapat

pula digunakan namun fungsinya tersebut sebagai pendukung dan pembantu

dalam penelitian. peneliti sebagai instrumen, peneliti dimaksudkan

pewawancara dan pengamat, yang mana peneliti melakukan penelitian secara

terus menerus untuk mendapatkan kevalidan data. Disini kedudukan peneliti

sebagai peneliti studi kasus yaitu penelitian yang mempelajari secara intensif

mengenai unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok dan

masyarakat, sedangkan studi kasus yang berkenaan dengan segala sesuatu yang

bermakna dalam sejarah atau perkembangan kasus yang bertujuan untuk

memahami siklus kehidupan suatu unit individu. Di dalam penelitian berperan

penuh sebagai pengamat untuk mendapatkan suatu data yang berguna bagi

penelitian tersebut.

Dalam penelitian kualitatif kehadiran penelitian dilapangan sangatlah

diperlukan, karena instrumen penelitian pada penelitian ini adalah peneliti

sendiri. Sedangkan lokasi penelitian adalah tempat yang akan diteliti. Oleh

sebab itu, instrumen penelitian diharuskan langsung turun kelapangan untuk

103
Chalid Narboko, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), Hal. 9.
82

melihat dan menganalisis objek penelitian dan kehadiran peneliti dilapangan

sangatlah menentukan kesuksesan peneltian.

Jadi, dalam melakukan penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer,

pengumpul data, menganalisis data serta sekaligus sebagai pelapor hasil

penelitian. Selain itu, keadaan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah

sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data dan

akhirnya pelapor hasil penelitian.

Menurut Moleong “kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif

sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,

penafsir data dan pada akhirnya menjadi pelopor hasil penelitian.”104 Oleh

karena itu, peneliti sendiri langsung ke lokasi untuk mengamati dan

mempelajari secara langsung kondisi pesantren dan terlibat langsung dalam

observasi (mengamati saat proses belajar mengajar berlangsung, melihat sarana

dan prasarana dalam pembelajaran, dan melihat kegiatan santri yang berkaitan

dengan pembentukan karakter tersebut) serta wawancara kepada ustadz-ustadz,

ketua majelis (ketua pondok) dan santri. Peneliti hadir untuk mengobservasi,

melakukan wawancara, dan menganalisis data-data serta mengkaji secara lebih

mendalam hasil yang diperoleh tersebut, semuanya terfokus pada satu lembaga

saja, yakni Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang selanjutnya akan di

gunakan untuk sumber data.

104
Lexy Moleong., Metodologi, Hal. 125.
83

C. Latar Penelitian

Latar penelitian merupakan tempat yang digunakan peneliti dalam

penelitian untuk memperoleh data yang telah diinginkan. Penelitian dilakukan

di Kota Malang, Jawa Timur, tepatnya di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang, yang berlokasi di jalan raya Sumbersari nomor 88 Malang. Adapun

peneliti memilih penelitian di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang karena

terdapat beberapa alasan:

1. Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang termasuk salah satu Pesantren

yang bersejarah dalam pemersatuan kader-kader fanatik dari berbagai

organisasi Islam pada masa-masa perjuangan sebelum kemerdekaan bangsa

Indonesia.

2. Meskipun tergolong masih menggunakan teori-teori klasik seperti

bendongan atau sorogan dalam proses belajar mengajarnya baik dengan

kyai atau dengan ustadz di madrasah diniyah, Pesantren Luhur memiliki

keunikan lain, yaitu memiliki kegiatan ekstra berupa FORKAFI (Forum

Kajian Fiqih) dan LUBAB sebagai ekstra yang membahas kajian tentang

agama, sehingga santri mendapat tambahan pemahaman tentang hal-hal

yang bersifat agama dan selanjutnya menjadi pendorong karakter Islami.

3. Memiliki ciri khas yang menjadi ideologi bagi seluruh santri di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, yakni 3 CO; Co. Ownership, Co.

Determination dan Co. Resposibility. Halaqoh ilimiah setiap pagi ba’da

shubuh serta istighosah setiap ba’da shubuh dan maghrib.


84

4. Lokasi strategis dan mudah dijangkau, dekat dengan kampus-kampus

ternama di Kota Malang, seperti Universitas Islam Negeri Maulana Malik

Ibrahim Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan

Politeknik Negeri Malang.

D. Data dan Sumber Data Penelitian

Data adalah informasi yang dikatakan oleh manusia yang menjadi subjek

penelitian, hasil observasi, fakta-fakta, dokumen yang sesuai dengan fokus

penelitian dapat diperoleh secara verbal melalui wawancara atau dalam bentuk

tertulis melalui analisa dokumen.105

Menurut cara memperolehnya, data dikelompokkan menjadi dua macam,

yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang

dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh peneliti data sumber pertama.

Sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan

oleh pihak lain yang biasanya dalam bentuk publikasi dan jurnal.106

Data primer dalam penelitian ini adalah informasi verbal yang berasal

dari hasil wawancara dengan para informan, yang kemudian dicatat melalui

catatan tertulis atau perekaman video/audio tape serta pengambilan gambar.

Sedangkan data yang diambil dari pengamatan langsung peneliti dan catatan

lapangan, dapat diperoleh setelah melakukan observasi terhadap subjek

105
Ruslam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif, (Malang: UIN-Malang Press,
2005), Hal. 63.
106
Hadari Nawawi dan Mimi Martini, Penelitian Terapan, (Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1994), Hal. 73.
85

penelitian yang terkait dengan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam

membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Data Sekunder diperoleh peneliti dari informan pihak lain yang disajikan

dalam bentuk publikasi atau jurnal terkait subjek penelitian. Adapun data

sekunder adalah data yang bersumber dari dokumen-dokumen, foto-foto, dan

benda-benda, yang dapat digunakan sebagai pelengkap data primer yang

berhubungan dengan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk

karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan

tindakan selebihnya merupakan data tambahan seperti dokumen dan sumber

data yang lain.107 Jadi, sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata yang

diperoleh dari informan dan dokumen yang merupakan data tambahan. Dalam

hal ini, sumber data penelitian yang diperoleh melalui wawancara kepada

Pengasuh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, Ketua Majelis Santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, Asatidz atau para pengajar di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang dan para santri di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang. Sedangkan, sumber data dokumen yang diperoleh

melalui observasi adalah lokasi penelitian, yakni Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dari internalisasi nilai-nilai

agama Islam dalam membentuk karakter santri, beberapa area di setiap

lingkungan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang yang dalam

pelaksanaannya dapat menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam dalam

107
Lexy Moleong, [Link]., Hal. 112.
86

membentuk karakter santri dan arsip-arsip Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang yang berkaitan dengan pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama

Islam dalam membentuk karakter santri.

Adapun sumber data ini diperoleh dari dokumentasi dan beberapa arsip

di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, antara lain:

a. Deskripsi Lokasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

b. Sejarah Singkat Berdirinya Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

c. Visi dan Misi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

d. Motto Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

e. Struktur Organisasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

f. Dewan Kyai di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

g. Asatidz di Madrasah Diniyah At-Tahdhibiyyah Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang

h. Data Santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

i. Sarana dan Prasarana Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

j. Data-data yang terkait dengan yang penelitian lainnya.

Penjaringan data diperoleh dari sumber yang dapat memberikan

informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti. Dalam mengumpulkan

data melalui wawancara menggunakan teknik sampling bola salju diibaratkan

bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin besar. Artinya,

dalam memperoleh informasi secara terus menerus dan baru akan berhenti

setelah informasi yang diperoleh sama dari satu informan ke informan lainnya.
87

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah merupakan suatu yang sangat penting dalam

penelitian ilmiah. Pengumpulan data adalah prosedur yang sangat sistematis

dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan oleh peneliti dalam

pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi biasanya diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti luas,

observasi sebenarnya tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan

baik secara langsung maupun tidak langsung. 108 Observasi atau pengamatan

digunakan sebagai untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, untuk

mengetahui secara sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan

gejala-gejala psikis yang terjadi di lapangan.

Menurut S. Margono, observasi diartikan sebagai pengamatan dan

pencatatan secara sitematis terhadap gejala yang tampak pada objek

penelitian. Pengamatan dan pencatatan ini dilakukan terdapat objek

ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.109

W. Gulo menyatakan bahwa observasi adalah metode pengumpulan

data dimana peneliti kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana

mereka menyaksikan selama penelitian, baik menyaksikan ataupun

menggunakan pendengaran, penglihatan dan merasakan yang dicatat secara


108
Sutrisno Hadi, Metode Research, (Jakarta: Yayasan penerbit Fak Psikologi UGM), Hal. 136.
109
Nurul Zariyah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),
Hal. 173.
88

subjektif.110Metode ini merupakan pencatatan dan pengamatan secara

sistematik terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa observasi adalah

suatu cara untuk memperoleh kegiatan penelitian yang dilakukan secara

langsung terhadap fenomena-fenomena yang berada pada obyek penelitian

dengan mengadakan pencatatan secara sistematis terhadap kejadian yang

dibutuhkan.

Peneliti melakukan observasi tanpa ikut dalam kegiatan yang

dilakukan oleh informan, peneliti hanya mengamati, mencatat, dan jika

perlu mendokumentasikan kegiatan, kejadian, peristiwa yang sedang

berlangsung di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, mulai dari

sebelum pembelajaran dimulai, saat pembelajaran berlangsung, saat

istirahat, saat kegiatan lain, hingga saat pembelajaran selesai.

2. Interview

Interview atau sering disebut dengan wawancara adalah suatu proses

tanya jawab lisan, yang mana dua orang atau lebih berhadap hadapan secara

fisik, yang satu dapat melihat yang lain dan mendengar dengan telinga

sendiri. Wawancara adalah metode pengumpul data dengan jalan tanya

jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada

tujuan penyelidikan.111

Menurut W. Gulo interview atau wawancara adalah bentuk

komunikasi langsung terhadap peneliti dan responden atau bisa dikatan


110
W. Gulo, Metode Penelitian, (Jakarta: Grasido, 2002), Hal. 116.
111
Mardalis, Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), Hal.
63.
89

sebagai sebuah dialog yang digunakan oleh pewawancara untuk

memperoleh informasi dari terwawancara secara langsung. 112

Metode ini juga sering disebut dengan quisioner lisan, adalah sebuah

dialog yang dilakukan dengan jalan wawancara untuk memperoleh

informasi dari narasumber. Atau bisa disebut juga dengan alat untuk

mengumpulkan informasi data dengan cara mengajukan beberapa

pertanyaan secara lisan.

Dengan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode interview

adalah metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab atau komunikasi

secara langsung maupun secara tidak langsung secara sistematis dan

berlandaskan pada tujuan penelitian.

Namun, penelitan yang penulis lakukan menggunakan interview tidak

struktur. Interview tidak terstruktur adalah peneliti mengajukan pertanyaan

secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat dengan susunan pertanyaan yang

telah dipersiapkan sebelunnya.113 Adapaun tahapan pertama dari interview

tidak terstruktur ialah menentukan siapa yang akan diwawancarai. Mereka

adalah yang berperan, yang pengetahuannya luas tentang daerah atau

lembaga tempat penelitian. Langkah kedua mencari tahu bagaimana cara

yang sebaiknya untuk mengadakan kontak dengan mereka. Langkah ketiga

mengadakan persiapan yang matang untuk melaksanakan wawancara.

Dengan menggunakan metode atau teknik ini peneliti dapat

mengembangkan ide-ide atau gagasan secara bebas namun tetap terarah,


112
W. Gulo, Op,cit , Hal. 119.
113
Sanafiah Faisal, Format dan Penelitian (Dasar Dasar dan Aplikasi), (Jakarta: Rajawali Press,
1995), Hal. 62.
90

serta tetap berfokus pada data utama yaitu mengenai internalisasi nilai-nilai

Agama dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang.

3. Dokumentasi

Pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip,

termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil atau hukum, dan lain-lain

yang berhubungan dengan masalah penelitian disebut dokumentasi atau

studi dokumenter.

Dapat disebut alat pengumpulan data yang sumber datanya

menggunakan dokumen yang berupa benda-benda, tulisan atau arsip.

Seperti dalam pengertiannya dibawah ini.

Metode dokumentasi adalah suatu metode sebagai usaha penelitian

atau penulisan terhadap benda-benda tertulis seperti buku, majalah,

dokumen, surat kabar, artikel dan sebagainya. 114

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwasannya

metode dokumentasi adalah sumber informasi yang berupa buku-buku

tertulis atau catatan yang mana cara pengumpulan datanya dengan mencatat

sumber-sumber dokumen yang sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan.

Dalam melakukan metode dokumentasi penulis menggunakan

dokumen resmi yang terbagi menjadi dua yakni dokumen internal dan

dokumen eksternal. Adapun dokumen internal berupa memo, pengumuman,

instruksi, notulen rapat, aturan suatu lembaga masyarakat tertentu yang

114
Suharsimi Artikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka cipta,
1993), Hal. 149.
91

digunakan dalam kalangan sendiri. Dokumen tersebut dapat menyediakan

informasi tentang keadaan, aturan, disiplin dan dapat memberikan petunjuk

gaya kepemimpinan. Sedangkan dokumen ekternal berisi tentang buku-

buku, majalah, dokumen, catatan harian, pernyataan, dan berita yang

disiarkan kepada media massa.115

Akan tetapi, obyek tidak dibatasi, yang paling penting adalah obyek

tersebut masih berkaitan dengan tema utama yakni internalisasi nilai-nilai

Agama dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang. Berkaitan dengan hal tersebut, metode dokumentasi

dibutuhkan oleh peneliti sebagai penunjang dan sebagai salah satu teknik

dalam pengumpulan data yang nantinya menjadi pelengkap untuk

menuntaskan penelitian.

Dalam hal ini, peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan yang

terkait dengan permasalahan. Dokumen tersebut dapat berupa profil

Pesantren Luhur, struktur pengurus Pesantren Luhur, foto-foto kegiatan,

peraturan dan atau kebijakan, serta dokumen lainnya yang terkait dengan

internalisasi nilai-nilai Agama dalam membentuk karakter santri di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

115
Ibid., Hal. 135.
92

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini adalah dalam bentuk analisis data

kualitatif yaitu data yang diperoleh dianalisa dan dibandingkan dengan teori-

teori dan kemudian dievaluasi.

Metode analisa data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini dengan

berfikir yaitu suatu cara berfikir yang kemudian dihadapkan untuk pemecahan,

kemudian setelah data terkumpul secara keseluruhan maka data yang yang

bersifat kualitatif tersebut dideskripsikan atau digambarkan dengan kata-kata

atau kalimat kemudian di pisah-pisah menurut kategori masing-masing untuk

memperoleh kesimpulan.

Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja

dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang

dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa

yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang

lain.116

Dalam hal ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif. Menurut Nana

Sudjana, penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan

atau menggambarkan suatu gejala peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat

sekarang.117 Penelitian semacam ini disebut dengan penelitian yang berusaha

mencari informasi aktual yang mendetail dengan mendeskripsikan gejala-

gejala yang ada, juga berusaha untuk mendefinisikan masalah-masalah atau

116
Lexy Moleong, [Link]. Hal. 248
117
Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982),
Hal. 475.
93

mendapatkan justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang

berlangsung.118

Langkah analisis interaktif terdiri atas beberapa komponen kegiatan yang

terkait satu sama lain, dimulai dari pengumpulan data kemudian reduksi data,

penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.119 Untuk lebih jelasnya,

peneliti menggambarkan sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan upaya peneliti untuk memilih, memfokuskan,

dan mentransformasikan data berserakan dari catatan lapangan. Peneliti

secara terus menerus melakukan reduksi data selama penelitian berlangsung

pada saat di lapangan untuk mengurut dan mensistematiskan data. Reduksi

data sebagai bagian dari kegiatan analisis, maka dalam penelitian nanti

peneliti akan melakukan analisis sekaligus memilih mana data yang

diperlukan dan mana yang tidak. Sehingga dalam penelitian memperoleh

data yang akurat terkait dengan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam

membentuk karakter santri.

2. Penyajian Data

Pada tahap peneliti akan mengorganisasikan data yang sudah

direduksi. Data tersebut mula-mula disajikan secara terpisah antara satu

tahap dengan tahap yang lain tetapi setelah kategori terakhir direduksi, maka

keseluruhan data dirangkum dan disajikan secara terpadu. Proses ini

118
Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1987), Hal. 1.
119
Matthew B. Miles, A. Michel Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang
Metode-Metode Baru, Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi, (Jakarta: UI Press, 2009), Hal. 16.
94

dilakukan dengan cara membuat bagan, tabel dan diagram sehingga data

yang ditemukan lebih sistematis.

3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan upaya peneliti menemukan makna

secara menyeluruh dari berbagai preposisi yang ditemukan tentang fokus

penelitian. Makna menyeluruh sebagai suatu kesimpulan memerlukan

verifikasi ulang pada catatan lapangan atau diskusi dengan teman sejawat

untuk membangun kesepakatan yang inter subjektif.

G. Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data penelitian adalah kegiatan penting bagi peneliti dalam

upaya jaminan dan menyakinkan pihak lain bahwa temuan penelitian tersebut

benar-benar valid. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik

pemeriksaan. Pelaksanaan teknis pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria

tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan

(credibility), keteralihan (transferebility), kebergantungan (dependebelity), dan

kepastian (Confirmability). Pengecekan keabsahan data yang akan digunakan

dalam penelitian ini, antara lain:

1. Derajat Kepercayaan (Credibility)

Untuk mencapai kredibilitas dalam penelitian ini, yang akan peneliti

lakukan adalah sebagai berikut:

a. Perpanjangan Kehadiran, yaitu untuk memperoleh data yang akurat dan

memiliki keabsahan, penelitian ini dilakukan dengan tidak hanya sekedar


95

memperoleh data saja tetapi juga peneliti perlu memperpanjang

kehadirannya untuk mengadakan konfirmasi data dengan sumbernya.

Peneliti harus berulang kali datang ke lokasi penelitian untuk

mendapatkan data yang akurat.

b. Ketekunan Pengamatan, yaitu dengan mengadakan observasi secara

intensif terhadap subjek penelitian guna memahami gejala lebih

mendalam terhadap aspek-aspek penting kaitannya dengan internalisasi

nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang.

c. Triangulasi peneliti di gunakan untuk memeriksa keabsahan data yang

diperoleh dari berbagai sumber dan beragam metode dengan cara

membandingkan satu dengan yang lain. Pengecekan dan keabsahan data

dengan triagulasi ini dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

1) Menggunakan berbagai Sumber

Triangulasi menurut sumber adalah membandingkan dan

mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh

melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. 120

Dengan teknik ini, data pengamatan yang diperoleh dari lapangan

akan dibandingkan dengan data hasil wawancara dan dokumentasi

yang diperoleh dalam penelitian. Membandingkan kebenaran

informasi yang diperoleh dari wawancara Ketua Majelis dengan

Ustadz di Madrasah Diniyah At-Tahdhibiyyah Lembaga Tinggi

120
Lexy Moleong, Metodologi, Hal. 330.
96

Pesantren Luhur Malang.

2) Menggunakan Metode

Triangulasi metode dapat dilakukan dengan dua strategi, yaitu

pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan

beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat

kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Data

yang diperoleh diperiksa keabsahannya dengan strategi tersebut.

Misalnya, peneliti mencocokkan data hasil dari observasi, wawancara

dan dokumentasi yang terkait dengan fokus penelitian kemudian hasil

dari perbandingan ini dapat menyatukan persepsi atas data yang

diperoleh. Disamping itu, perbandingan ini akan memperjelas bagi

peneliti tentang latar belakang perbedaan persepsi tersebut.

3) Menggunakan Teori

Triangulasi teori dilakukan dengan anggapan bahwa fakta

tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau

lebih teori. Oleh karena itu, pengecekan keabsahan data akan

dilakukan dengan membandingkan beberapa teori dengan masalah

yang diteliti.

d. Member check, yakni proses pengecekan data yang diperoleh peneliti

kepada informan (pemberi data). Setelah data penelitian disepakati oleh

para informan, maka peneliti perlu membuat semacam pengesahan

member check yang ditanda tangani oleh para informan agar lebih

otentik.
97

2. Keteralihan (Transferebility)

Dalam kriteria keteralihan, peneliti dalam membuat laporannya atau

menyajikan hasil temuan penelitiannya terkait internalisasi nilai-nilai agama

Islam dalam membentuk karakter santri harus memberikan hasil penelitian

ini sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut,

maka peneliti dalam membuat laporan hasil penelitian harus memberikan

uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Peneliti juga harus

mengaitkan atau mendialogkan hasil penelitian dengan landasan teori yang

berkaitan serta menjelaskan kontribusi yang didapat dari penelitian tersebut

bagi masyarakat luas, khususnya dalam dunia pendidikan, agar hasil

penelitian yang diperoleh tersebut dapat dipahami oleh pembaca secara

holistik dan komprehensif.

3. Kebergantungan (Dependibility)

Kebergantungan adalah kriteria penilaian apakah proses penelitian

berkualitas atau tidak. Agar data tetap valid dan terhindar dari kesalahan

dalam memformulasikan hasil penelitian, maka kumpulan interpretasi data

yang dikonsultasikan dengan berbagai pihak, untuk ikut serta dalam

memeriksa proses penelitian yang dilakukan peneliti, agar temuan penelitian

dapat dipertahankan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kriteria ini

peneliti gunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan

kesalahan dalam konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data,

interpretasi temuan, hingga pelaporan hasil penelitian nantinya. Cara untuk

menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertahankan adalah dengan


98

kebergantungan kepada audit independen guna menelaah kegiatan yang

dilakukan oleh peneliti. Dalam hal ini yang akan menjadi auditor adalah

para dosen pembimbing yaitu Dr. H. Muhammad Zainuddin, MA dan Dr.

Muhammad Walid, MA.

4. Kepastian (Confirmability)

Konfirmabilitas dalam penelitian ini akan dilakukan bersamaan

dengan dependabilitas, perbedaannya terletak pada orientasi penilaiannya.

Konfirmabilitas digunakan untuk menilai hasil penelitian, terutama yang

berkaitan dengan deskripsi temuan penelitian dan diskusi hasil penelitian.

Sedangkan dependabilitas digunakan untuk menilai proses penelitian sejak

pengumpulan data sampai pada bentuk laporan yang terstruktur dengan

baik. Maka, kriteria yang digunakan untuk menilai hasil penelitian ini yaitu

dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian

yang didukung dengan materi yang ada. Untuk itu, dalam konfirmabilitas

penelitian ini dibimbing oleh pembimbing (1) Dr. H. Muhammad

Zainuddin, MA, dan Pembimbing (2) Dr. Muhammad Walid, M.A.


BAB IV

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Berdasarkan majalah NU (Nadhatul ‘Ulama) yang terbit pada tahun

1940, pada tahun 1939 terlaksana konggres umat Islam ke-2 di Solo.

Konggres tersebut dihadiri oleh 25 orang ulama’ besar dari berbagai

organisasi Islam yang ada di Indonesia, antara lain PSII, Muhammadiyah

Yogyakarta, PERSIS, NU Surabaya, Al-Irsyad dan sebagainya. Kongres

tersebut menghasilkan keputusan mengenai Pesantren Luhur.

Nama Pesatren Luhur bukanlah nama yang diberikan oleh para pendiri

Pesantren Luhur yang ada di Malang, melainkan sudah sejak dari dulu, yang

dilahirkan oleh organisasi Islam se-Indonesia tersebut. Dokumentasi tentang

keputusan rencana mendirikan Pesantren Luhur di berbagai kota besar

diberikan oleh Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH. kepada Prof. Dr. Kyai

H. Moh. Khoesnoe yang untuk selanjutnya di sampaikan kepada sekjen

Depag yaitu Bapak H. Moh. Anshor (Mertua Prof. Khoesnoe). Pada waktu

itu menteri agama dijabat oleh Kyai H. Syaifuddin Zuhri. Karena beliau

tertarik dengan gagasan tersebut, maka dikalangan Depag dibentuk Dirjen

Pesantren Luhur dan Perguruan Tinggi. Untuk merespon program Depag

tersebut, maka di Malang pada awal tahun 1960 didirikan Pesantren Luhur

oleh tokoh-tokoh Islam Malang antara lain Kyai H. Ghozali, Prof. Dr. M.

Khoesnoe, Kyai H. Usman Mansyur dan Prof. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH.

99
100

Ciri-ciri pokok Pesantren Luhur tersebut diantaranya adalah memperdalam

kitab-kitab salafiyah namun berkiprah sebagaimana perguruan tinggi,

khusunya dalam merealisir Tri Darma Perguruan Tinggi.

Pesantren Luhur banyak melakukan hal di bidang pengajaran kajian

kitab kuning yang biasanya dikaji oleh pesantren-pesantren salafiyah,

karena santrinya adalah mahasiswa lulusan madrasah aliyah atau sederajat.

Selain itu, Pesantren Luhur pernah mengadakan simposium nasional tentang

“Ahlul Sunnah Wal Jama’ah” yang dihadiri oleh menteri agama Syaifuddin

Zuhri. Pada kesempatan tersebut menteri agama melontarkan gagasan

mengenai usaha mendirikan IAIN di Jawa Timur. Pada waktu itu tokoh

pendiri Pesantren Luhur dan rektor UNNU yaitu Prof. Dr. M. Khoesnoe

yang berperan sebagai tokoh umat Islam yang mana menyatakan sanggup

mendirikan IAIN di Jawa Timur dengan berbagai syarat. Diantarannya

tokoh-tokoh yang memenuhi syarat akademik diangkat menjadi dosen IAIN

dan ijazah UNNU secara otomatis disamakan dengan ijazah IAIN. Syarat

lainnya yaitu meminta bantuan tanah yang sekarang ditempati UNISMA.

Antara tahun 1965-1970 Pesantren Luhur mengalami kevakuman

karena angggotanya disibukkan dengan pendirian IAIN dan menjadi dosen

pada perguruan tinggi tersebut. Mengingat pesantren Luhur adalah milik

umat, maka pesantren Luhur di hidupkan kembali oleh sebagian anggota

yang lama, yaitu Prof. Dr. Moh. Khoesnoe, Prof. Dr. Kyai H. Ahmad

Mudlor SH, Drs. H. Wiyono SH, Ust. Bukhori LAS, Ali Budiarto, SH, Kyai

H. Muhammad bin Hafidz, Ust. Assegaf, dan Kyai H. Mujib.


101

Pada periode ini Pesantren Luhur juga berkiprah pada berbagai bidang

seperti penyenlenggaraan Seminar Manaqib yang dihadiri oleh seluruh

tokoh dan ulama’ Jawa Timur dan juga Seminar Tahlil. Pada tahun 1972

sampai 1975 Pesantren Luhur mengadakan riset Sunan Giri, menyusun buku

Wali Songgo dan Sunan Giri yang dicetak dan diedarkan untuk khalayak

umum. Pada tahun itu, Pesantren Luhur mengadakan Seminar Manaqib,

yang mana hasil seminar tersebut diperbanyak oleh KH. Musta’in Romli

dari Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang. Selain

itu, Pesantren Luhur juga berhasil menuntut pemindahan pemakaman

Tionghoa yang berdekatan makam Sunan Giri, karena dikhawatirkan akan

dijadikan gunung Kawi ke-2 oleh orang-orang awam. Selanjutnya,

Pesantren Luhur memugar gunung Sekar Kedaton sebagai pusat penyebaran

agama Islam yang pertama di Jawa Timur. Pada saat itu, Lokasi Pesantren

Luhur adalah di Jl. Mayjend Haryono 193. Hal ini dibuktikan dengan

adanya Majalah Pesantren Luhur yang terbit pada tanggal 1 Agustus 1975.

Pada saat itu, Pesantren Luhur berjasa dalam mendirikan Majelis Persatuan

Santri Indonesia yang ditindak lanjuti dengan pendirian STIH (Sekolah

Tinggi Ilmu Hukum) di Malang. Pada tahun 1976, tokoh Pesantren Luhur

dan tokoh UNSURI mengubah UNSURI menjadi UNISMA. Sejak

berdirinya STIH dan UNISMA, Pesantren Luhur mulai kekurangan

perhatian karena tenaga-tenaga aktif dalam dua perguruan tinggi tersebut.

Pesantren Luhur Malang berada di jalan raya sumbersari no 88

Malang dengan kondisi yang strategis. Hal tersebut sangat mendukung


102

aktivitas santri yang merupakan mahasiswa/i dari berbagai universitas di

Malang (UB, UM, UMM, UIN MALIKI, POLTEKES, POLINEMA dan

STIH). Keragaman ini meningkatkan solidaritas dan triple Co. (Co

ownership, Co determination, Co responsibility) merupakan semboyan

santri yang sering didengungkan oleh pengasuh LTPLM. Secara fisik

Pesantren Luhur Malang terdiri atas empat lantai serta terdapat tiga menara

kembar yang menjulang tinggi diatasnya. Kompleks putri menempati 4

lantai yang terbagi dalam beberapa blok (Blok Mbak Daris, A, B, C, D, E, F

dan gedung azka, sedangkan untuk kompleks putra menempati 3 lantai yang

terbagi dalam tiga blok (A, B dan C). Pesantren Luhur memiliki beberapa

fasilitas lainnya seperti Masjid sebagai tempat berbagai aktivitas, seperti

sholat berjamaah, pengajian, maupun musyawarah serta dilengkapi dengan

tiga aula luas yang berada di lantai dua (bersebelahan dengan masjid), di

lanatai satu (diantara kompleks putra) dan di lantai tiga (kompleks putri).

Jumlah santri yang mendiami Pesantren Luhur pada bulan Agustus

2017 berjumlah 430 orang. Dengan rincian 171 putri dan 125 putra. Dari

tahun ke tahun jumlah santri terus bertambah, seingga pengasuh selalu

mengadakan pembangunan dan renovasi agar pesantren dapat berkembang

dan memfasilitasi santri-santrinya dengan baik. Dikompleks putri tersedia

kamar mandi yang jumlahnya cukup banyak, untuk putri terdapat 18 kamar

mandi, sedangkan untuk santri putra terdapat 8 kamar mandi.

Kegiatan pengajian yang terdapat di Pesantren Luhur Malang

dilaksanakan pada hari Senin sampai dengan Jumat. Pengajian dilakukan


103

setiap bada ashar dan bada isya. Pengkajian kitab kuning dikaji oleh dewan

asatidz antara lain : Drs. Kyai H. Badrul Munir (Jombang), Drs. Kyai H.

Chamzawi, M. Hi, Kyai H Mukhtar Bisri, Dr. Kyai H. Badruddin, M. Hi.,

Kyai H. Misbahul Munir., Dr. Kyai H. Noer Yasin, M. Hi., Dr. Kyai H. A.

Suwandi, M. Hi., Ust. Bahrun Amiq, M. Psi, Ust. Dr. Danial Hilmi, M. Pd.I,

Ust. Busro Karim, M. Pd.I., Ust. Zakaria dan Ust. Dwi Ary Mursodo.

Selain pengkajian kitab kuning, di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang juga terdapat kegiatan Halaqoh ilmiah, hal ini yang menjadikan

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang berbeda dengan pesantren lain

pada umumnya. Kegiatan Halaqoh ilmiah berlangsung setiap Senin-Sabtu

ba’da Istighosah subuh. Kegiatan Halaqoh inilah yang membuat santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang tidak hanya belajar ilmu agama

dan ilmu yang dipelajari dikampus saja, melainkan semua ilmu umum yang

di pelajari, sehingga ilmu yang dipelajari dapat seimbang. Kemudian ada

pula kegiatan istighosah yang dilakukan setiap hari setelah pelaksanaan

shalat maghrib dan subuh secara berjamaah. Istighosah ini adalah ijazah

yang diberikan Prof. Dr. KH. Ahmad Mudlor SH, kepada seluruh santri

sebagai benteng diri. Selain kegiatan-kegiatan diatas, adapun kegiatan yang

menjadi rutinitas di Pesantren ini, yaitu memperingati hari-hari besar Islam

yang selalu ada kegiatan terupdate, bermanfaat, berfaedah dan tidak pernah

membosankan.

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang memiliki prosedur yang

unik saat menerima santri baru. Ada berbagai tahapan yang harus dilalui
104

oleh calon santri untuk dapat bergabung di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang, yaitu meliputi tes baca Al-Qur’an, tes baca kitab, psikotest

dan tes pengetahuan umum lainnya. Seleksi ini dilakukan guna untuk

menjaring santri-santri yang memiliki kemauan, tanggung jawab dan

kesungguhan untuk menjadi santri. Seleksi ini diadakan oleh pengurus

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Pesantren Luhur Malang dilengkapi dengan koperasi, kantin dan

warnet sebagai sumber ekonomi yang dapat diatur sirkulasinya oleh santri.

Pengaturan tersebut di handle oleh Pengurus Majelis Santri Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang yang secara langsung dibentuk oleh santri atas

persetujuan pengasuh. Majelis Santri merupakan sebuah organisasi yang

terdiri atas perangkat kerja seperti Pengurus inti (Ketua, Sekretaris dan

Bendahara) dan departemennya (Peribadatan, Lingkungan Hidup, Sarana

dan Prasarana, Komunikasi dan Informasi, Penelitian dan Pengembangan,

Kesejahteraan Santri, Keamanan dan Ketertiban, Minat Bakat, dan Takmir).

Majelis santri merupakan pengurus yang bertanggung jawab menjalankan

dan menertibkan kegiatan Pesantren Luhur agar berjalan sesuai dengan

instruksi pengasuh. Saat ini, ketua umum Majelis Santri masa bakti

2018/2019 dijabat oleh Mujiburroman.

Pengasuh sering menegaskan bahwa santri yang menempati pesantren

Luhur selama ≥ 4,5 tahun, akan menjadi Ahlul ma’had yang

keistimewaannya akan selalu mendapatkan kiriman doa dari para santri

setiap selesai shalat berjamaah di setiap harinya. Sedangkan mereka yang


105

kurang dari atau ≤ 4,5 tahun dianggap sebagai alumni. Banyak alumni

maupun Ahlul ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang yang

menjadi “orang” yang menduduki jabatan penting, seperti rektor UNISLA

Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor SH., Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang Prof. Dr. Imam Suprayogo, dan Dr. H. Shodiqi, SH., sebagai rektor

UNISMA serta jabatan penting lain seperti ketua dan anggota DPRD di

berbagai kabupaten dan kotamadya di Jawa Timur.

Menilik manfaat dan pegaruh serta peran Pesantren Luhur, akhirnya

para tokoh baru yang muncul mulai menemukan ide-ide cemerlang seperti

pembuatan Yayasan Bina Pesantren Jawa Timur, mendirikan gedung

pesantren yang bertempat dijalan raya Sumbersari no. 88 Malang dan

mendirikan Yayasan Pendidikan MTs Muallimin Pesantren Luhur di jalan

Kolonel Sugiono gang 10 Mergosono, Malang. Tokoh yang berperan dalam

hal tersebut di atas antara lain Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor SH., Prof.

Drs. KH. Muhktar Bisri., KH. Mujib., Drs. KH. Yahya Ihsan., KH. Mastur

Anwar dan Bapak Sarwo Wibisono.

Kini pesantren Luhur diasuh oleh Gus Danial Farafish putra Prof. Dr.

Kyai H Achmad Muhdlor yang sekaligus menjabat sebagai ketua Yayasan

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, dengan beberapa orang yang

berpengaruh yaitu Letjend (Purn) H. Sutjipto (Alm.), Drs. Kyai H. Mukhtar

Bisri., Drs. H. Anwar Yoko dan Letkol Syahrul Ramadhan SE, MM..121

121
Profil, Sejarah dan Wirid Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang 2018.
106

2. Profil Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Tabel 4.1 Profil Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang


1. Nama Lembaga Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang
2. Alamat Jl. Raya Sumbersari no. 88 Malang
Telp. (0341) 567520-569021, Kode
Pos: 65145
3. SK Menkum HAM:
Nomor [Link].01.04
Tahun 2010
4. Nama Pengasuh Muhammad Danial Farafish, SH.,
[Link]., [Link].
5. Waktu Pagi: 05.00-06.30 WIB (Halaqoh
Penyelenggaraan Ilmiah)
Belajar Sore: 15.30-17.00 WIB (Pengajian
Kitab Kuning)
Malam: 19.30-21.00 WIB
(Pengajian Kitab Kuning dan
Madrasah Diniyah)

3. Visi dan Misi Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Adapun visi dan misi dari Pesantren Luhur yang selalu dijadikan

acuan untuk menjaga amanahnya yaitu:

A. Visi:

1) Membentuk manusia yang mulia di hadapan Allah dan di hadapan

sesama hamba Allah

2) Membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berbudi luhur

berkepribadian bangsa, berwibawa, cerdas, kreatif dan inovatif

3) Membentuk manusia yang berpengetahuan agama


107

B. Misi :

1) Mewujudkan manusia yang taat terhadap ajaran agama serta aturan-

aturan yang berlaku dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan

bernegara

2) Mewujudkan manusia yang istiqomah beribadah dan bermanfaat di

tengah-tengah kehidupan dan pergaulan masyarakat dalam

membangun masyarakat adil, makmur dan sejahtera dunia akhirat

3) Mewujudkan manusia yang aktif berjihad dalam menegakkan

keadilan, keagamaan dan kedamaian dalam pergaulan beragama,

berbangsa dan bernegara122

Sebagaimana diketahui dari visi dan misi Pesantren ini,123 dapat

diketahui oleh peneliti bahwa Pesantren ini menerapkan dan menjunjung

tinggi kaidah Hablun minallah wa Hablun minannaas yang diharapkan

mampu berperan besar di masyarakat seperti memimpin tahlilan, yasinan,

diba’an dan kegiatan-kegiatan islami lainnya. Tujuan tersebut sebagai

wujud cita-cita dari Pesantren Luhur untuk mencetak santri yang aktif dalam

menegakkan keadilan, keagamaan dan kedamaian dalam pergaulan

beragama, berbangsa dan bernegara.

122
[Link] (Diakses pada: 13-07-2018, pukul 19.30 WIB)
123
Hasil Observasi pada tanggal 03-05-2017
108

4. Motto Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Pesantren Luhur memiliki motto triple CO yang selalu ditegakkan dan

dijadikan pedoman dalam pesantren, baik terhadap pesantren dan kepada

seluruh santri di dalamnya. Adapun motto triple CO tersebut antara lain:124

A. Co. Ownership (Saling Memiliki)

B. Co. Determination (Saling Menentukan)

C. Co. Responsibility (Saling Bertanggung Jawab)

Saling memiliki terhadap hal-hal atau benda-benda yang ada di

Pesantren dengan saling menjaga segala sesuatunya seperti merawat dan

melestarikan dengan semestinya. Saling memutuskan terhadap segala

perkara ataupun masalah yang terjadi di Pesantren, lebih utamanya yang

“lebih” berkuasa disini adalah Majelis Santri sebagai perwakilan dari santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur. Saling bertanggung jawab terhadap

kekurangan yang ada di Pesantren Luhur dengan cara saling menutupi dan

menjaga nama baik Pesantren Luhur. Dari ketiga komponen inilah Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur tetap lestari dan berdiri dengan tegak di tengah-

tengah zaman millenial dengan memegang teguh konsep 3 CO. 125

5. Data Dewan Kyai dan Ustadz Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang

Peran Kyai dan Ustadz sebagai pendidik atau dalam istilah pesantren

sering disebut dengan Murabbi sangat penting dalam menentukan kualitas

proses belajar mengajar yang akan berdampak pada perkembangan santri

124
[Link], Ibid,.
125
Hasil Observasi pada tanggal 10-05-2017
109

baik dalam segi memahami agama, pengetahuan umum dan etika atau

akhlak. Oleh sebab itu, kuantitas dan kualitas Kyai dan Ustadz merupakan

suatu keharusan dalam sebuah lembaga pendidikan atau pesantren. Di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang terdapat 34 pengajar dengan

rincian 6 Kyai, 5 ustadz pengajar santri secara keseluruhan dan 23 ustadz

khusus mengajar Madrasah Diniyah saja. Dari segi kualitas, pengajar

dengan kualifikasi S-3 berjumlah 6 orang, pengajar dengan kualifikasi S-2

sebanyak 7 orang dan pengajar dengan kualifikasi S-1 21 orang. Dengan

demikian, diketahui bahwa pengajar di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang rata-rata sudah memenuhi syarat sebagai sosok pengajar atau

Murabbi yang berkualitas.126

6. Data Santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Peserta didik merupakan salah satu komponen dalam proses belajar

mengajar diantara komponen-komponen yang lain. Dalam hal ini, lebih

khususnya Pesantren, peserta didik lebih dikenal atau disebut dengan santri.

Santri merupakan salah satu peran sentral atas terlaksananya kegiatan-

kegiatan di Pesantren. Tanpa adanya santri, sesungguhnya tidak akan terjadi

proses belajar mengajar. Adapun jumlah santri secara keseluruhan Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang pada Tahun 2017/2018 berjumlah 237

santri. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah santri putra berjumlah 85 orang.

Sedangkan untuk santri putri berjumlah 152 orang. Untuk lebih jelasnya

dapat dilihat melalui tabel berikut ini.

126
Profil, Sejarah dan Wirid Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang 2018.
110

Tabel 4.2 Jumlah Santri Berdasarkan Letak Kamar


No Letak Kamar Santri Putra Santri Putri Jumlah
1 Lantai 1 22 - 22
2 Lantai 2 28 - 28
3 Lantai 3 23 - 23
4 Abdul Hamid 12 - 12
(AH)
5 Blok Mbak Daris - 13 13
(MD)
6 Blok A - 9 9
7 Blok B - 16 16
8 Blok Azka - 22 22
9 Blok C - 25 25
10 Blok D - 8 8
11 Blok E - 26 26
12 Blok F - 33 33
Jumlah 85 152 237
Berdasarkan tabel di atas jumlah keseluruhan santri adalah 85 santri

putra dan 152 santri putri.

7. Kondisi Sarana dan Prasarana Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang

Untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, pesantren ini dilengkapi dengan berbagai

fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar

mengajar. Dalam hal ini, keadaan bangunan atau fasilitas sarana prasarana

pendidikan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang cukup memadai,

tertata dengan rapi dan bersih, bangunan secara permanen dan semi

permanen yang berada pada lokasi yang strategis hingga menunjang proses
111

pendidikan transfer of knowlage. Lebih jelasnya dapat dilihat tabel

berikut:127

Tabel 4.3 Kondisi Sarana dan Prasarana Lembaga Tinggi Pesantren


Luhur Malang
Keterangan
No. Fasilitas Jumlah
Baik Buruk
1 Gedung Pesantren 1 
2 Masjid 1 
3 Kantor Pesantren 2 
4 Auditorium/Aula 6 
5 Perpustakaan 2 
6 Pusat Informasi 1 
7 Papan Informasi 5 3 2
8 Papan Tulis 6 
9 Tempat Baca 1 
10 Koperasi 1 
11 Kantin 1 
Ruang Operator
12 1 
Jaringan
13 Ruang TV 2 1 1
14 Studio 1 1
15 Ruang Asatidz 2 1 1
16 Ruang Kelas 7 
17 Gudang 6 5 1
18 Kamar Mandi 26 23 3
Kamar Mandi
19 4 4
Tamu
20 Meja Kelas 30 25 5
21 Meja Asatidz 2 
22 Mimbar 2 
23 Karpet 7 6 1
24 Komputer 3 
25 Proyektor 1 
26 Layar Proyektor 1 
27 Pesawat Telepon 2 

127
Dokumentasi Sarana dan Prasarana Majelis Santri Masa Jabatan 2017/2018
112

28 Genset 1 
29 Sumber Air 3 2 1
30 Pompa Air 4 
31 Filtron 3 
32 Tandon Air 2 
Tempat
33 Pembuangan 2 
Sampah
34 Tempat Sampah 14 

B. Paparan Data Penelitian

Data yang peneliti kemukakan di sini adalah hasil penelitian yang

diperoleh dari pengamatan/observasi peneliti pada saat proses pembelajaran, di

luar pembelajaran dan wawancara langsung terhadap subjek penelitian yang

berkaitan dengan kebutuhan penelitian, seperti Ketua Majelis Santri, Kepala

Madrasah Diniyah dan Santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang serta

beberapa dokumentasi untuk mendapatkan informasi yang diperlukan peneliti

tentang proses, metode dan dampak dari internalisasi nilai-nilai agama Islam

dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Adapun hasil yang peneliti peroleh dari Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang adalah sebagai berikut:

1. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Setelah melakukan penelitian dengan cara observasi dan wawancara

kepada beberapa ustadz dan santri,128 serta berdasarkan sejarah singkat, visi,

128
Wawancara bersama Ketua Majelis Santri, Kepala Madin, Asatidz dan Santri pada tanggal 22-
09-2018 sampai 02-10-2018.
113

misi dan motto Pesantren ini,129 maka peneliti mendapatkan data tentang

proses internalisasi nilai-nilai agama Islam. Secara garis besar proses

internalisasi di Pesantren Luhur ini terpusat pada 3 kegiatan, yakni kajian

kitab kuning (klasik), halaqah dan Madrasah Diniyah. Proses pengajian

kitab kuning di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur masih menerapkan

metode pembelajaran klasik, seperti bendongan dan sorogan. Bendongan

merupakan metode belajar kuno yang menuntut Kyai atau Ustadz untuk

menjadi Teacher center (terpusat pada guru), jadi Kyai atau Ustadz tersebut

menerangkan dan menjelaskan materi, sedangkan santri hanya sekedar

mendengarkan dan lebih cenderung pasif. Sebaliknya, metode belajar

sorogan menuntut santri lebih aktif atau lebih cenderung student center

(terpusat pada murid), dimana santri maju satu persatu untuk membacakan

kitab yang telah dipelajarinya dihadapan Kyai atau Ustadz. Sedangkan pada

kagiatan halaqah, proses internalisasi nilai-nilai agama Islam lebih

interaktif, karena terfokus pada dua pemateri (santri putra dan santri putri)

yang kemudian ada sesi tanya jawab berkenaan dengan materi yang dibahas

saat itu. Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam selanjutnya terdapat di

Madrasah Diniyah yang dibagi beberapa kelas kecil sesuai kemampuan

santri, sehingga lebih terfokus dan efisien dalam memahami nilai-nilai

agama Islam. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Mujiburrohman

selaku ketua majelis santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang:

“Jadi, untuk proses internalisasi sendiri menurut saya tentunya dalam


kegiatan pengajian kitab kuning seperti di pesantren umumnya,

129
Profil, Sejarah dan Wirid Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang 2018.
114

pesantren umumnya ya pengajian kitab kuning disitulah ditanamkan


nilai-nilai tersebut. Untuk pelaksanaan pengajian kitab itu setiap sore
dan juga malam jadi mengkaji kitab-kitab fiqih, hadits, tauhid dan
lain-lain seperti itu. Jadi, menurut saya untuk proses internalisasi ini
ada di pengajian kitab kuning dengan para kiai seperti itu. Jadi, ya
untuk proses pengajian kitab dengan kiai ini lebih seperti istilahnya
dari kiai sebagai sumber keilmuan agama dengan nilai-nilai yang
ditanamkan dan santri sebagai pendengar dengan khidmat
mendengarkan apa yang disampaikan oleh dewan kiai. Adalagi untuk
proses internalisasi lain terkait nilai-nilai disini ada yang namanya
halaqah. Halaqah pelaksanaannya disini setiap habis istighotsah subuh
itu istilahnya ada 2 pemateri dari santri putra dan putri diberikan judul
terkait keilmuan agama maupun keilmuan umum, filsafat dan lain-lain
disitu terjadi proses tanya jawab jadi kegiatannya ini lebih interaktif
lah dalam penanaman nilai-nilai yang disebutkan tadi, kemudian ada
lagi untuk madrasah diniyah di sini kalau waktu malam itu, istilahnya
untuk santri baru 1 sampai 2 tahun nanti ada di madrasah diniyah. Di
sini lebih interaktif untuk proses belajar mengajarnya dengan ustadz-
ustadz yang ada jadi istilahnya lebih bisa berinteraksi dengan
ustadznya daripada ketika pengajian dengan Kyai. Soalnya kalau
menurut saya pengajian dengan Kyai tentu bisa mendengarkan dengan
khidmat tanpa tanya jawab sedangkan di diniyah tentu santri lebih bisa
bertanya bila kurang paham, seperti itu”130

Pernyataan dari Mujiburrohman selaku Ketua Majelis santri Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur tersebut diperkuat oleh Ustadz Abd. Kholiq selaku

Kepala Madrasah Diniyah bahwa:

“Untuk proses internalisasinya sama seperti pesantren pada umumnya


jadi terdapat kajian-kajian yang bersifat teoritis seperti pengajian kitab
ada kitab fiqih, ada kitab akidah dan kitab akhlak yang diampu oleh
beberapa pengajar yang tentunya memiliki karakter yang berbeda, itu
kalau untuk pengajian sehari-hari.”131
Pada umumnya, pesantren menerapkan kajian-kajian kitab secara

teoritis yang diampu atau diasuh oleh Kyai maupun Ustadz yang telah

130
Hasil wawancara dengan Ketua Majelis Santri Mujiburrohman hari Sabtu, 22 September 2018
dari jam 22.30 - 23.30 WIB di Kamar AHA 9.
131
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
115

kompeten dalam bidangnya. Adapun proses internalisasinya dilakukan

melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Transformasi Nilai

Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh Kyai atau

Ustadz dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang

baik. Pada tahap ini, hanya terjadi komunikasi verbal antara Kyai atau

Ustadz dengan santri. Transformasi nilai ini sifatnya hanya pemindahan

pengetahuan dari Kyai atau Ustadz ke santrinya. Nilai-nilai yang

diberikan masih berada pada ranah kognitif santri dan pengetahuan ini

dimungkinkan hilang jika ingatan seseorang tidak kuat.

Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Kyai atau Ustadz adalah sosok yang sangat

berperan dalam melakukan proses internalisasi nilai-nilai agama Islam.

Kajian kitab yang dilakukan oleh Kyai atau Ustadz dilaksanakan pada

sore hari, tepatnya setelah kegiatan shalat Ashar berjamaah, kemudian

dilanjutkan dengan kegiatan mengaji kitab kuning yang diawali dengan

membaca nadhoman atau pembacaan shalawat oleh santri. Kegiatan

tersebut berakhir pada pukul 17.00 WIB yang memberikan sedikit waktu

luang bagi santri untuk persiapan shalat Maghrib berjamaah. Dilanjut

pada kegiatan malam hari, yakni tepatnya ba’da Isya’ pukul 19.30 WIB

sampai pukul 21.00 WIB santri mengaji kitab kuning lagi kepada Kyai

atau Ustadz yang mengampu materi sesuai jadwal yang telah ditentukan.
116

Kegiatan pada malam hari terbagi menjadi dua bentuk pengajian,

yakni mengaji kitab kuning secara umum bersama Kyai atau Ustadz dan

mengaji kitab kuning di Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah yang hanya

terfokus bagi santri baru saja.132 Kegiatan-kegiatan yang dimaksud

merupakan kegiatan yang bertujuan untuk melaksanakan proses

internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri.

Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai agama Islam yang diterapkan di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur terbagi menjadi 3 pokok nilai, yakni

nilai aqidah, nilai akhlak dan nilai syari’at.

Berikut bentuk nilai-nilai agama Islam yang diterapkan di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, antara lain:

Tabel 4.4 Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi Pesantren


Luhur
No. Jenis Nilai Bentuk Nilai
1. Nilai Aqidah 1. Pembacaan istighosah atau wirid khusus
yang rutin setiap ba’da maghrib dan subuh
2. Pembacaan dzikir fida’ setiap sebelum
pelaksanaan HARLAH dan HAUL
Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
(Ijazah langsung dari Pengasuh Lembaga
Tinggi Pesantren Luhur Malang, Prof. Dr.
KH. Achmad Mudlor, S.H.)
3. Pelaksanaan kegiatan insidental hari besar
Islam, seperti peringatan Muharram,
Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’
Mi’raj dsb.
4. Pengajian kitab yang memuat nilai-nilai
aqidah, seperti Aqidatul Awwam dan Nurud
Dholam.
5. Pembacaan tahlil rutin setiap hari kamis

132
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Kamis, 12 Juli 2018 dari jam
14.00 – 22.00 WIB di lingkungan pesantren.
117

ba’da pengajian malam.


6. Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir
Al Jilani pada hari kamis ba’da pengajian
malam, sebulan sekali.
7. Pembacaan shalawat kepada Nabi
Muhammad SAW setiap hari ahad malam
ba’da shalat isya’.
2. Nilai Syari’at 1. Peduli lingkungan, seperti kegiatan ro’an
(bersih-bersih pesantren secara bersama)
2. Persatuan, seperti pelaksanaan shalat 5
waktu berjamaah, yang paling diutamakan
di pesantren ini ialah shalat maghrib dan
subuh.
3. Tanggung jawab, seperti menjalankan
semua kegiatan pesantren sebagai bentuk
kewajiban santri.
4. Pengajian kitab yang mengandung nilai
syari’at seperti Fathul Qorib, Asybah wa
Nadhair dan Subulus Salam.
3. Nilai Akhlak 1. Ukhuwwah, seperti menghormati yang lebih
tua dan menyayangi yang lebih muda.
2. Silaturrahim, saling menegur sapa baik
ketika di dalam maupun di luar pesantren.
3. Sabar dalam melaksanakan segala kegiatan
pesantren.
4. Istiqomah dalam melaksanakan semua
kegiatan pesantren.
5. Dermawan, seperti shodaqoh setiap hari
jum’at (setiap santri di Lembaga Tinggi
Pesantren Luhur Malang di didik oleh Prof.
Dr. KH. Achmad Mudlor, S.H. agar selalu
bershodaqoh setiap hari jum’at ketika shalat
jum’at di masjid pesantren)
6. Pengajian kitab yang mengandung nilai
akhlak seperti Nashoihul ‘Ibad, Adabul
‘Alim wal Muta’allim dan Taisirul Kholaq.
Sumber: Observasi dan wawancara dengan informan Lembaga Tinggi
Pesantren Luhur Malang
118

b. Tahap Transaksi Nilai

Pada tahap ini pendidikan nilai dilakukan melalui komunikasi dua

arah yang terjadi antara ustadz dan santri yang bersifat timbal balik

sehingga terjadi proses interaksi. Dengan adanya transaksi nilai, ustadz

dapat memberikan pengaruh pada santrinya melalui contoh nilai yang

telah ia jalankan. Di sisi lain, santri akan menentukan nilai yang sesuai

dengan dirinya. Berikut pernyataan dari beberapa informan, yaitu:

Pernyataan dari santri Fatkhur Rozi bahwa:

“Pertama cara dewan kiai untuk mengajarkan kepada santrinya


yaitu yang pertama adalah uswatun hasanah, nah biasanya dengan
kiai selain beliau memberi tausiyah, beliau juga memberi contoh
yang baik dulu. Seperti nilai ketakwaan ya beliau menunjukkan
bagaimana seorang muslim yang taqwa kepada Allah itu seperti
apa. Kemudian nilai akhlak, bagaimana akhlak beliau kepada
sesama teman, kepada orang yang lebih tua, dan kepada orang yang
lebih muda itu seperti apa, itu mungkin.”133

Pernyataan tersebut diperkuat oleh santri Alfin Khoirun Ni’am,

yaitu:

“Sebelum itu menginternalisasikan ada beberapa tahapan, nah


tahapan internalisasi sendiri awal yang pertama yaitu mengajarkan,
memberitahu kepada santri bagaimana mengajarkan ilmu tersebut.
Mulai dari awal sebagai contoh kita ambil dalam bidang syari’at
mungkin kita namanya sholat bagaimana kiai ataupun ustadz di
pesantren ini menjelaskan teori ataupun menjelaskan tata cara
sholat, tata cara sholat dengan benar, baik dari takbirotul ihrom
sampek salam itu dijelaskan secara rinci, secara jelas bagaimana
pelaksanaannya. Nah untuk setelah itu kan diadakan percontohan
oleh ustadz tersebut sendiri bagaimana caranya bukan hanya teori
bagaimana juga caranya dengan benar mungkin salah satu kalau
ada ilmu dan mungkin salah satu contoh ada sunnah-sunnah ketika
mengangkat tangan, mungkin kalau di kitab hanya bertulis sebelum
rukuk setelah rukuk, berdiri setelah duduk tahiyat awal. Itu kalau

133
Hasil wawancara dengan santri Fatkhur Rozi hari Rabu, 26 September 2018 dari jam 21.40 –
22.15 WIB di kamar B.2.
119

langsung masuk teori saja mungkin santri juga akan ngebayang-


bayangkan. Nah disitu ustadz langsung mencontohkan bagaimana
cara pelaksanaan syari’at itu. Mungkin disisi lain dalam hal wudhu
juga menjelaskan tentang rukun-rukunnya dan sunnah-sunnahnya,
beliau juga langsung ataupun kalau tidak langsung beliau mengisi
ataupun semacam video interaksi ataupun media yang lain yang
digunakan untuk memperjelas bagaimana setelah melakukan
pemahaman teori juga harus pemahaman praktek yang dilakukan
oleh ustadz tersebut.”134

Faiq Dzhinan selaku santri juga menguatkan pernyataan tersebut,

sebagai berikut:

“Penyampaian baik secara teori dalam kitab kemudian ada juga


dengan teladan karena beberapa ustadz dipesantren luhur ini juga
santri senior sehingga kehidupan sehari-harinya pun kita juga ikut
berbaur sehingga peneladanan juga sangat berpengaruh terhadap
internalisasi nilai-nilai agama islam tersebut. Kemudian mereka
juga sering mengarahkan santrinya misal ketika kita ada yang salah
langsung dibenarkan dan seperti itu juga.”135

Pun juga diperkuat oleh penyataan santri M. Syarifuddin Al-

Mubarok, yaitu:

“Dalam menginternalisasi nilai-nilai agama islam di Pesantren


Luhur ini, saya kira sudah cukup bagus dimana para Kyai itu sudah
mengajarkan kitab terkait dengan kitab akhlak, kitab akidah dan
sebagainya itu diajarkan semua di Pesantren Luhur. Tapi disini
kalau di Pesantren Luhur, Dewan Kyai itu mengajarkan secara
menyeluruh tapi kalau dalam aktualisasinya itu ditopang oleh
Majelis Santri bagaimana cara keamanan dalam mengcover santri
seperti pengajian, jamaah, halaqoh dan kegiatan Pesantren lainnya.
Itu tercover oleh Majelis Santri dimana peran Majelis Santri itu
untuk mengawal teman-teman, mengawal santriwan santriwati
untuk aktif dalam kegiatan tersebut. Untuk bisa sumbangsih dalam
kegiatan tersebut, untuk mengimplementasi nilai-nilai yang sudah
diajarkan oleh Dewan Kyai dalam kehidupan santriwan santriwati
itu sendiri. Saya kira sudah tercover oleh hal tersebut sehingga
santri mampu mempelajari apa itu nilai akidah, nilai hubungan
dengan manusia, nilai hubungan dengan Allah, nilai hubungan
134
Hasil wawancara dengan santri Alfin Khoirun Ni’am hari Selasa, 25 September 2018 dari jam
21.30 – 22.40 WIB di Studio Bunga Tanjung.
135
Hasil wawancara dengan santri Faiq Dzihnan hari Sabtu, 29 Septermber 2018 dari jam 17.10 –
17.40 WIB di kamar AHA 7.
120

dengan lingkungan itu semua sudah tercover, insyaallah seperti


itu.”136
Dapat disimpulkan dari pernyataan di atas bahwa seorang Kyai

atau Ustadz tidak hanya berhenti di teori saja dalam menjelaskan nilai-

nilai agama Islam, melainkan dalam bentuk realita atau kenyataannya,

Kyai atau Ustadz memberikan contoh kepada santri, baik dari segi nilai-

nilai syari’at seperti sunnah-sunnah dalam shalat maupun wudhu. Begitu

pula dari segi nilai-nilai akhlak, Kyai atau Ustadz memberikan contoh-

contoh yang baik sebagai sosok uswatun hasanah bagi para santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur. Ada pula Majelis Santri selaku

penggerak dari hasil nilai-nilai agama Islam yang telah diajarkan oleh

Kyai atau Ustadz, sehingga apa yang telah disampaikan oleh Kyai atau

Ustadz dapat tercover dan terkontrol secara penuh oleh Majelis Santri.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ustadz Abd. Kholiq selaku

kepala Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah, tentunya yang berkaitan

dengan Madrasah Diniyah, namun masih sama dalam tahap transaksi

nilai, yaitu:

“Untuk kegiatan diniyah lebih interaktif dibanding ketika teman-


teman ngaji diluar, jadi kalau di madin selain sekedar belajar
penjelasan teori-teori yang ustadz jelaskan. Namun, ada juga timbal
balik, biasanya itu di pesantrennya lebih aktif untuk mengeksplor
diri dan mencari masalah-masalah aktual yang bagi dirinya.” 137
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Mujiburrohman selaku ketua

Majelis santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang sebagai berikut:

136
Hasil wawancara dengan santri M. Syarifuddin Al-Mubarok hari Selasa, 02 Oktober 2018 dari
jam 18.22 – 19.10 WIB di Studio Bunga Tanjung.
137
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
121

“Kemudian ada lagi untuk madrasah diniyah di sini kalau waktu


malam itu, istilahnya untuk santri baru 1 sampai 2 tahun nanti ada
di madrasah diniyah. Di sini lebih interaktif untuk proses belajar
mengajarnya dengan ustadz-ustadz yang ada jadi istilahnya lebih
bisa berinteraksi dengan ustadznya daripada ketika pengajian
dengan Kyai. Soalnya kalau menurut saya pengajian dengan Kyai
tentu bisa mendengarkan dengan khidmat tanpa tanya jawab
sedangkan di diniyah tentu santri lebih bisa bertanya bila kurang
paham, seperti itu.”138

Jadi, dapat diambil kesimpulan pada tahap transaksi nilai di

Pesantren Luhur begitu aktif. Selain terjadi proses pada pengajian kitab

kuning dengan Dewan Kyai atau Ustadz, juga terjadi pada proses belajar

mengajar di Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah. Dimana Kyai atau

Ustadz memberikan contoh secara langsung dan terjadi proses tanya

jawab yang relevan, sehingga santri dapat menerima dan memahami

secara komprehensif dari nilai-nilai agama Islam yang di internalisasikan.

c. Tahap Trans-Internalisasi

Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap tahap-tahap sebelumnya.

Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi

juga sikap mental dan kepribadian. Jadi, pada tahap ini komunikasi

kepribadian yang berperan aktif. Dalam tahap ini, Kyai atau Ustadz

sangat memperhatikan sikap dan perilakunya agar tidak bertentangan

dengan apa yang telah ia berikan atau sampaikan kepada santri. Hal ini

disebabkan adanya kecenderungan santri untuk meniru apa yang menjadi

sikap mental dan kepribadian dari gurunya.

138
Hasil wawancara dengan Ketua Majelis Santri Mujiburrohman hari Sabtu, 22 September 2018
dari jam 22.30 - 23.30 WIB di Kamar AHA 9.
122

Di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, antara Kyai atau

Ustadz dengan santri tidak ada jarak sama sekali, layaknya antara teman

dengan teman yang saling akrab satu sama lain, namun tetap menjaga

etika dan nilai-nilai kesantrian terhadap gurunya. Hal tersebut terbukti

dari adanya beberapa santri yang kongkow bareng Kyai atau Ustadz

setiap selesai melakukan proses pengajian kitab kuning, baik sore

ataupun malam hari. Santri seringkali konsultasi dan mencurahkan

masalah tentang problema yang dihadapi di pesantren kepada Kyai atau

Ustadz guna mendapatkan pemecahan masalah yang lebih solutif dan

matang. Para Kyai atau Ustadz yang mengajar di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur notabene adalah sahabat atau murid dari Pengasuh

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur, yakni Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor,

S.H., sehingga para santri merasa nyaman dan lebih mengena ketika

konsultasi kepada Dewan Kyai atau Ustadz, karena beliau lebih

memahami seluk beluk tentang Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang.139

Selain itu, ada pula Asatidz (bentuk jamak: Ustadz) pengajar

Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah yang tinggalnya juga di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, hal tersebut benar-benar membuat

Asatidz lebih menjaga diri dan mawas diri akan sikapnya agar sesuai

dengan apa yang telah disampaikan dan diterangkan ketika di kelas

Madrasah Diniyah. Demikian halnya para santri, menjadi lebih selektif

139
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Kamis, 09 Agustus 2018 dari
jam 07.00 – 22.00 WIB di lingkungan pesantren.
123

dalam memperhatikan dan mengambil nilai-nilai agama Islam yang telah

dilakukan oleh Asatidz.

Asatidz di Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah pada umumnya

adalah santri aktif di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Namun,

mereka diangkat menjadi pengajar atau ustadz karena keilmuannya yang

dianggap cukup mumpuni dan melebihi teman-teman yang lainnya,

sampai dalam waktu minimal 2 tahun di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur barulah kemudian diresmikan menjadi Ustadz di Madrasah

Diniyah At-Tahdzibiyyah.140

2. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Nilai-nilai agama Islam di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

mencakup nilai aqidah, nilai syari’at dan nilai akhlak sudah menjadi suatu

nilai yang diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari santri di

pesantren. Hal tersebut perlu dilakukan sebuah ke-istiqomah-an dalam

menerapkannya, karena internalisasi nilai-nilai agama Islam bukanlah

sesuatu yang instan tetapi merupakan sesuatu yang membutuhkan proses,

maka hal ini tentunya membutuhkan upaya-upaya tertentu yang dilakukan

oleh dewan Kyai atau Ustadz begitu juga Majelis Santri dalam mencapai

keberhasilan internalisasi nilai-nilai agama Islam guna membentuk karakter

santri.

140
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Kamis, 16 Agustus 2018 dari
jam 15.00 – 22.00 WIB di lingkungan pesantren.
124

Beberapa upaya yang dilakukan oleh pihak pesantren dalam

menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang yaitu dengan menerapkan metode bandongan, sorogan,

presentasi, tanya jawab dan uswah hasanah (teladan yang baik). Metode-

metode tersebut merupakan faktor penting untuk melaksanakan internalisasi

nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri. Adapun metode

atau teknik yang dilakukan untuk internalisasi nilai-nilai agama Islam

sebagai berikut:

a. Bandongan

Sistem bandongan adalah sistem transfer keilmuan atau proses

belajar mengajar yang ada di pesantren salaf di mana Kyai atau Ustadz

membacakan kitab, menerjemah dan menerangkan. Sedangkan santri

atau murid mendengarkan, menyimak dan mencatat apa yang

disampaikan oleh Kyai. Dalam sistem ini, sekelompok santri

mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, dan

menerangkan buku-buku Islam dalam bahasa Arab, baik dalam ilmu

fiqih, aqidah, akhlak, nahwu, shorof dsb. Kelompok kelas dari sistem

bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok santri yang

belajar dibawah bimbingan seorang guru.

Sistem bandongan dibangun di atas filosofis, bahwa 1) pendidikan

yang dilakukan secara berjamaah akan mendapatkan pahala dan berkah

lebih banyak dibandingkan secara individual, 2) pendidikan pesantren

merupakan upaya menyerap ilmu dan barokah sebanyak-banyaknya,


125

sedangkan budaya "pasif" (diam dan mendengar) adalah sistem yang

efektif dan kondusif untuk memperolah pengetahuan tersebut, 3)

pertanyaan, penambahan, dan kritik dari santri pada kyai merupakan hal

yang tidak biasa atau tabu, agar tidak dianggap sebagai tindakan suu' al-

adab (berakhlak yang tidak baik).

Dalam sistem ini, sekelompok santri (antara 5 sampai 500)

mendengarkan seorang Guru/Kyai yang membaca, menerjemahkan,

menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa

Arab. Setiap santri memperhatikan buku/kitabnya sendiri dan membuat

catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau

buah pikiran yang sulit. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini

disebut halaqah yang artinya lingkaran santri, atau sekelompok santri

yang belajar di bawah bimbingan seorang guru. Metode pengajaran

bandongan ini adalah metode bebas, sebab tidak ada absensi santri, dan

tidak ada pula sistem kenaikan kelas. Santri yang sudah menamatkan

sebuah kitab boleh langsung menyambung ke kitab lain yang lebih tinggi

dan lebih besar.

Pengamatan yang dilakukan peneliti selama di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur, santri putra dan santri putri secara keseluruhan yang

tidak bentrok dengan jadwal kuliah, mengikuti kegiatan pengajian

bersama Kyai atau Ustadz setiap selesai shalat Ashar berjamaah.

Pengajian tersebut dimulai dari pukul 15.30 WIB sampai pukul 17.00

WIB. Santri putra dan santri putri berkumpul dalam suatu tempat yang
126

terpisah antara Masjid dan aula sebagai tempat untuk melaksanakan

pengajian bersama Kyai atau Ustadz. Pada kegiatan sore hari ini, semua

kegiatan pesantren terfokus pada pengajian, sehingga semua santri

merasakan bagaimana pelaksanaan dari metode bendongan/wetonan.141

Sedangkan pada malam hari, kegiatan santri terpecah menjadi dua

bagian, yakni 1) pengajian bersama Kyai atau Ustadz di Masjid dan Aula,

2) pengajian Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah sesuai masing-masing

kemampuan yang telah diklasifikasikan oleh Asatidz Madrasah Diniyah

At-Tahdzibiyyah. Jadi, kegiatan tidak terfokus pada pengajian di Masjid

dan Aula yang menggunakan metode bandongan/sorogan, akan tetapi

terdapat beberapa metode yang diterapkan oleh Asatidz Madrasah

Diniyah At-Tahdzibiyyah, menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada di

kelas yang diajarnya.

Kyai atau Ustadz yang mengajar di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang kebanyakan alumni dari Pesantren-Pesantren salaf,

sehingga beliau sangat paham betul dengan metode bandongan ini,

bagaimana cara menerapkannya dan mempraktekkannya. Sehingga,

metode bandongan yang dilakukan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang ini tidak jauh beda dengan metode bandongan yang ada di

pesantren lain. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Ustadz

Abdul Kholiq selaku Kepala Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah,

sebagai berikut:

141
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Rabu, 12 September 2018 dari
jam 07.00 – 20.00 WIB di lingkungan pesantren.
127

“Untuk metodenya itu hampir sama dengan pesantren umumnya ya


untuk pengajiannya di sini kan dibagi dua, pengajian umum dan
diniyah. Untuk pengajian umum biasanya dengan Kyai-Kyai sepuh,
jadi santri ya cuma jadi penyimak, mendengarkan, memaknai, tidak
ada interaksi aktif dari pesertanya.”142

Jadi, metode bandongan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang tidak jauh beda dengan metode bandongan yang ada di pesantren

salaf pada umumnya. Dimana para Kyai yang menjelaskan materi nilai-

nilai Islam secara detail, kemudian santri-santri menyimak,

mendengarkan, memaknai dan mencatat hal-hal yang penting dari

keterangan yang dijelaskan oleh Kyai tersebut.

b. Sorogan

Sistem sorogan adalah sistem membaca kitab secara individual

atau seorang santri nyorog (menghadap guru sendiri-sendiri) untuk

dibacakan (diajarkan) oleh gurunya dengan beberapa bagian dari kitab

yang dipelajarinya, kemudian santri menirukannya berulang kali. Pada

prakteknya, seorang santri mendatangi guru yang akan membacakan

kitab-kitab berbahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa

ibunya (misalnya: Sunda atau Jawa). Pada gilirannya, murid mengulangi

dan menerjemahkannya kata demi kata, sepersis mungkin seperti apa

yang diungkapkan oleh gurunya. Sistem penerjemahan dibuat sedemikian

rupa agar santri mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam

suatu rangkaian kalimat Arab.

142
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
128

Dengan cara sistem sorogan, setiap murid mendapat kesempatan

untuk belajar secara langsung dari Kyai. Sorogan memungkinkan Kyai

dapat membimbing, mengawasi dan menilai kemampuan santri. Ini

sangat efektif guna mendorong peningkatan kualitas santri. Dari segi

ilmu pendidikan modern, metode ini disebut metode independent

learning, karena antara santri dan Kyai saling mengenal erat, Kyai

menguasai benar materi yang harus diajarkan, dan santri akan belajar

serta membuat persiapan sebelumnya, antara Kyai dan santri dapat

berdialog secara langsung mengenai materi.

Sistem ini biasanya diberikan dalam pengajian kepada santri-santri

yang telah menguasai pembacaan kitab kuning atau kitab berbahasa

Arab. Dalam sistem tersebut, santri diwajibkan menguasai cara

pembacaan dan terjemahan secara tepat dan hanya boleh menerima

tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang mendalami pelajaran

sebelumnya. Sistem sorogan inilah yang dianggap fase yang tersulit dari

sistem keseluruhan pengajaran pesantren, karena di sana menuntut

kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari santri sendiri.

Santri seharusnya sudah paham tingkat sorogan ini sebelum dapat

mengikuti pendidikan selanjutnya di pesantren.

Di sini banyak santri yang tidak menyadari bahwa sebenarnya

mereka harus mematangkan diri dalam metode tersebut sebelum dapat

mengikuti sistem lainnya. Sebab, pada dasarnya santri yang telah

menguasai sistem sorogan inilah yang dapat memetik manfaat keilmuan


129

dari sistem bandongan di pesantren. Menurut pernyataan Ustadz Abdul

Kholiq, yaitu:

“Disini ada juga pembagian kelas, ada kelas A, B, C. Untuk kelas B


dan C lebih condong ke pasif tapi tetap ada tanya jawab. Berbeda
dengan kelas A, di kelas ini santri dituntut untuk membaca materi
yang sudah dipelajari ke hadapan Ustadz, nama metodenya tuh
sorogan jadi fokus aktif utamanya lebih ke santri bagaimana bisa
mereka membaca kitab dan memaknainya.” 143

Berdasarkan beberapa paparan di atas, dapat peneliti simpulkan

bahwa metode sorogan adalah metode yang berfokus kepada

kemampuan santri dalam membaca, mengartikan, menjelaskan dan

memahami suatu materi dari kitab, yang kemudian dibacakan langsung

dihadapan seorang Kyai atau Ustadz sebagai pembimbing dan pengatur

jalannya proses sorogan. Metode ini jelas diterapkan di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur. Baik dari segi pengajian umum pada sore hari, yang

dibimbing langsung oleh para Dewan Kyai maupun pengajian khusus di

kelas-kelas tertentu yang dibimbing oleh para Asatidz di Madrasah

Diniyyah At-Tahdzibiyyah pada malam hari.

c. Presentasi

Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak

pendengar. Presentasi merupakan salah satu jenis komunikasi antara

pembicara dan pendengar. Pada Intinya Presentasi adalah menjelaskan

dan meyakinkan audience tentang hal apa yang akan dibicarakan.

143
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
130

Presentasi juga bisa disebut sebagai aktivitas menunjukkan,

menggambarkan atau menjelaskan sesuatu kepada sekelompok orang.

Pelaku atau orang yang melakukan presentasi disebut presenter.

Namun, dapat kita ketahui bahwa istilah “presenter” lebih dikuasai dunia

radio dan televisi, yaitu menjadi sebuah nama atau profesi dari orang

yang membawakan acara radio dan televisi. Padahal, sebenarnya istilah

presenter tersebut adalah sebutan bagi orang yang melakukan presentasi

terkait dengan kepentingan yang dimilikinya. Namun, tak ada salahnya

pula bila digunakan dalam dunia radio dan televisi, karena istilah tersebut

juga bermakna sebagai pembawa acara atau penyampai pesan.

Bila ditarik dalam ranah pendidikan, presentasi menjadi salah satu

metode dalam melakukan proses belajar mengajar, dimana ada seorang

santri atau beberapa orang yang maju ke depan kelas dihadapan teman-

temannya, yang kemudian menjelaskan dan menyampaikan maksud dan

isi dari tugas yang telah diberikan oleh Ustadz kepada santri tersebut.

Ada beberapa macam tujuan dengan dilakukannya metode

presentasi ini, diantaranya adalah untuk memberikan informasi, untuk

membujuk atau meyakinkan, untuk memberikan hiburan (dalam hal ini

lebih cocok di dunia entertaint), untuk memotivasi, untuk memberikan

inspirasi dan untuk memberikan suatu pengetahuan yang baru.

Berikut pernyataan dari Ustadz Abdul Kholiq selaku kepala

Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah:

“Jadi untuk metodenya itu hampir sama dengan pesantren


umumnya ya untuk pengajiannya disini kan dibagi dua, pengajian
131

umum dan diniyah. Untuk pengajian umum biasanya dengan kiai-


kiai sepuh ya cuma jadi penyimak, mendengarkan, memaknai,
tidak ada interaksi aktif dari pesertanya. Namun, beda ketika nanti
untuk ke diniyah biasanya ustadz-ustadznya sebagian mennjelaskan
dulu baru kemudian nanti ada sesi tanya jawab. Namun juga ada
lain pengampu yang memiliki metode lain. Kadang santri diberi
tugas untuk semacam presentasi-presentasi tentang materi
terkait.”144

Dari pernyataan tersebut dapat kita pahami bahwa presentasi

menjadi salah satu metode dalam melakukan proses internalisasi nilai-

nilai agama Islam untuk membentuk karakter para santri di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang. Pun dapat kita pahami bahwa, di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang tidak begitu kaku dalam

melakukan internalisasi nilai-nilai agama Islam. Hal tersebut dapat kita

lihat dari jawaban Ustadz Abdul Kholiq, yang menandakan tidak ada

acuan metode secara khusus yang harus diterapkan oleh Asatidz dalam

melakukan proses belajar mengajar di Madarasah Diniyah At-

Tahdzibiyyah. Sehingga, Asatidz yang mengajar di Madarasah Diniyah

At-Tahdzibiyyah bisa mengeksplor secara baik dan leluasa dalam

menjalankan tugasnya sebagai pengajar dan membuat santri-santri tidak

begitu bosan hanya dengan beracuan pada satu metode saja.

d. Tanya Jawab

Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk

pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari Ustadz kepada santri,

tetapi dapat pula dari santri kepada Ustadz. Tanya jawab ini dapat

144
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
132

dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi santri untuk

mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada guru

dan juga bisa kepada berbagai sumber belajar seperti kitab, kamus,

ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.

Dalam melakukan metode tanya jawab harus memperhatikan

beberapa hal sebagai berikut; merumuskan dengan jelas tujuan dari tanya

jawab dalam bentuk tujuan khusus, menetapkan kemungkinan pertanyaan

dan jawaban yang akan dikemukakan, memberikan pertanyaan kepada

santri yang bersifat pengembangan atau pengayaan, memberikan

kesempatan kepada santri untuk menjawab pertanyaan yang relevan dan

sifatnya pengembangan atau pengayaan dan menyimpulkan jawaban

yang relevan dengan materi secara khusus.

Seperti yang telah peneliti amati, pelaksanaan metode tanya jawab

ini hanya terjadi di kelas-kelas diniyah saja, khususnya kelas diniyah B

dan C. Sebelum melaksanakan metode ini, Ustadz menerangkan

beberapa materi pembahasan yang sesuai dengan silabus yang kemudian

di akhiri dengan metode tanya jawab. Ada pula penggabungan antar dua

metode, yakni metode presentasi dan tanya jawab, dimana beberapa

santri yang bertugas menjelaskan materi yang telah diamanahkan oleh

Ustadz dan sisanya menjadi audience yang tidak hanya mendengarkan

saja, melainkan di sesi akhir pertemuan diadakan tanya jawab terhadap

materi yang telah dibahasnya. Sehingga, materi yang disampaikan lebih

mendalam dan lebih luas pemahamannya, akan tetapi tidak menyimpang


133

dari pembahasan awal, karena Ustadz juga berfungsi sebagai penengah

maupun penegas terhadap pembahasan materi.145

Dalam hal ini, mengambil kembali dari pernyataan dari Ustadz

Abdul Kholiq selaku kepala Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah:

“Jadi untuk metodenya itu hampir sama dengan pesantren


umumnya ya untuk pengajiannya disini kan dibagi dua, pengajian
umum dan diniyah. Untuk pengajian umum biasanya dengan kiai-
kiai sepuh ya cuma jadi penyimak, mendengarkan, memaknai,
tidak ada interaksi aktif dari pesertanya. Namun, beda ketika nanti
untuk ke diniyah biasanya ustadz-ustadznya sebagian mennjelaskan
dulu baru kemudian nanti ada sesi tanya jawab. Namun juga ada
lain pengampu yang memiliki metode lain. Kadang santri diberi
tugas untuk semacam presentasi-presentasi tentang materi
terkait.”146

Dapat disimpulkan dari paparan di atas bahwa metode tanya jawab

merupakan salah satu metode yang digunakan di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang. Terkadang berfokus hanya menggunakan

metode tanya jawab atau bisa pula menggunakan mix method, yakni

menggabungkan metode presentasi dan metode tanya jawab sebagaimana

dari hasil observasi yang telah peneliti lakukan.

e. Uswah Hasanah (Teladan yang Baik)

Metode keteladanan berarti memberikan contoh yang baik (uswah

hasanah) dalam setiap ucapan dan perbuatan kepada santri. Sifat dan

sikap yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. sepanjang

hidupnya merupakan contoh yang baik dan sangat cocok untuk konteks

ini. Cukup beralasan, karena beliau adalah cermin kandungan Al-Quran

145
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Jum’at, 14 September 2018
dari jam 19.30-21.00 WIB di lingkungan pesantren.
146
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
134

secara utuh. Dalam diri Nabi Muhammad, seolah-olah Allah ingin

menunjukkan suatu petunjuk tentang metode pendidikan Islam. Nabi

Muhammad merupakan teladan terbesar bagi segenap umat manusia.

Nabi Muhammad adalah seorang pendidik, pejuang dan seorang yang

memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia dengan

berbagai Sunnahnya.

Kepribadian seorang Kyai atau Ustadz akan memengaruhi respon

santri saat proses pembelajaran. Kompetensi profesional dan pedagogis

tidak akan efektif jika kepribadian Kyai atau Ustadz tidak matang. Maka,

selain harus selalu belajar, Ustadz juga harus melatih jiwanya agar

kepribadiannya matang. Membaca Al-Quran, zikir, dan tadabur alam,

merupakan metode pendidikan hati agar hati bersih, sehingga yang

bersangkutan berkepribadian mantap.

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan, Asatidz yang mengajar

di Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah kebanyakan merupakan santri

aktif di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, sedangkan sebagian

merupakan alumni yang tetap aktif untuk mengajar di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang. Jadi, dalam kesehariannya, Asatidz Madrasah

Diniyah At-Tahdzibiyyah yang masih aktif sebagai santri selalu berbaur

dengan santri-santri yang diajarnya, bahkan ada pula yang tinggalnya

satu kamar dengan santrinya. Mau tidak mau, itu merupakan sebuah

tuntutan bagi Asatidz Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah untuk

memberikan teladan yang baik (uswah hasanah) sesuai dengan materi-


135

materi yang telah diajarkannya dikelas, terutama bagi pengampu materi

akhlaq.147

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Faiq Dzhinan selaku santri aktif

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, yaitu:

“Ya kalau cara-cara menginternalisasi, jadi yang pertama pastinya


dengan penyampaian secara langsung ketika pengajian, penyampaian
baik secara teori dalam kitab kemudian ada juga dengan teladan
karena beberapa ustadz di Pesantren Luhur ini juga santri senior
sehingga kehidupan sehari-harinya pun kita juga ikut berbaur,
sehingga peneladanan juga sangat berpengaruh terhadap internalisasi
nilai-nilai agama Islam tersebut. Kemudian mereka juga sering
mengarahkan santrinya misal ketika kita ada yang salah langsung
dibenarkan.”148

Kemudian juga didukung oleh pernyataan Fatkhur Rozi sebagai santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, yakni:

“Pertama cara Dewan Kyai untuk mengajarkan kepada santrinya yaitu


uswatun hasanah. Nah, biasanya Dewan Kyai ketika mengisi
pengajian kitab kuning selain beliau memberi mauidhah hasanah,
beliau juga memberi contoh yang baik dulu. Seperti salah satu
contohnya nilai ketakwaan, ya beliau menunjukkan bagaimana
seorang muslim yang taqwa kepada Allah itu sepaerti apa. Kemudian
nilai akhlak, bagaimana akhlak beliau kepada sesama teman, kepada
orang yang lebih tua, dan kepada orang yang lebih muda itu seperti
apa, itu mungkin.”149
Dari penjelasan dan pemaparan data di atas, dapat dipahami bahwa

internalisasi nilai-nilai agama Islam di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang dapat diwujudkan melalui metode bandongan, sorogan, presentasi,

tanya jawab dan uswah hasanah (teladan yang baik). Metode tersebut

147
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Rabu, 12 September 2018 dari
jam 07.00 – 20.00 WIB di lingkungan pesantren.
148
Hasil wawancara dengan santri Faiq Dzihnan hari Sabtu, 29 Septermber 2018 dari jam 17.10 –
17.40 WIB di kamar AHA 7.
149
Hasil wawancara dengan santri Fatkhur Rozi hari Rabu, 26 September 2018 dari jam 21.40 –
22.15 WIB di kamar B 2.
136

merupakan bentuk dari adanya proses internalisasi nilai-nilai agama Islam

baik pada tahap transformasi nilai (bandongan), transaksi nilai (sorogan,

presentasi, tanya jawab) dan trans-internalisasi (uswah hasanah).

3. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Sebuah proses pembelajaran yang dilakukan oleh setiap orang pasti

akan menghasilkan suatu hal baru bagi kedua belah pihak yang melakukan

kegiatan tersebut, baik itu hasil positif atau hasil negatif. Internalisasi nilai-

nilai agama Islam yang dilakukan oleh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

akan meghasilkan sesuatu pada sikap sosial santri. Sikap sosial adalah

kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata untuk bertingkah laku

dengan cara tertentu terhadap orang lain dan mementingkan tujuan-tujuan

sosial daripada tujuan pribadi. Hasil dari adanya internalisasi nilai-nilai

agama Islam dalam membentuk karakter santri tentunya cenderung pada

keberadaan hasil positif yang ditimbulkan, karena nilai-nilai tersebut

merupakan nilai-nilai yang baik, penting dan diperlukan dalam kehidupan

sehari-hari, yang secara asumtif hasil positif merupakan wujud dari adanya

tahapan-tahapan dalam internalisasi nilai-nilai agama Islam tersebut.

Mengenai hasil internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam

membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang,

dapat dipaparkan di bawah ini berdasarkan data-data yang diperoleh dari

pesantren. Setelah melakukan penelitian, peneliti menemukan pola tingkah

laku yang sangat baik dan menarik untuk diamati yang menjadi karakter dari
137

santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Adapun gambaran

tentang hasil dari internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk

karakter santri sebagai berikut:

a. Bertanggungjawab

Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku

atau perbuatan baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja.

Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan

kewajiban. Tanggung jawab bersifat kodrati, yang artinya tanggung

jawab itu sudah menjadi bagian kehidupan manusia bahwa setiap

manusia akan memikul suatu tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Apabila

seseorang tidak mau bertanggung jawab, maka tentu ada pihak lain yang

memaksa untuk melakukan tindakan tanggung jawab tersebut. Dengan

demikian, dapat kita pahami bahwa tanggung jawab memiliki dua sudut

pandang, yaitu:

1. Dari sisi yang berbuat

2. Dari sisi yang berkepentingan (pihak lain)

Tanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab (berbudaya).

Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau

buruk dari perbuatan dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan

pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan

kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan,

penyuluhan, keteladanan dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


138

Sikap tanggung jawab di internalisasikan kepada seluruh santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur oleh Kyai atau Ustadz melalui materi-

materi agama Islam yang diajarkan di setiap pengajian maupun kelas-

kelas diniyah dan diterapkan oleh Majelis Santri melalui kegiatan-

kegiatan keagamaan yang bersifat wajib seperti, istighosah, ngaji dan

halaqoh. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alfin selaku santri

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, yaitu:

“Salah satu contoh pelaksanaan akhlak mungkin internalisasi yang


saya dapatkan bagaimana kita memiliki rasa yang namanya rasa
tanggungjawab, rasa memiliki pesantren ini. Itu selain diajarkan kita
juga langsung setiap hari kita praktekkan dengan santri-santri yang
lain. Apabila kita ada rasa tersebut, kita mungkin atau saya sendiri
menjadi orang yang sedikit berbeda, makanya lambat laun saya berada
disini karakter saya sendiri itu berubah seiring mengikuti nilai yang
terkandung di pesantren ini seperti nilai yang terkandung di sini salah
satu contohnya itu 3 co, yaitu: co. ownership, co. determination, co.
responsibility. Saling memiliki, saling menentukan dan saling
tanggung jawab, itu lambat laun saya memiliki hal tersebut karena
ditunjukkan dari ciri khas pesantren itulah yang terjadi membentuk
karakter-karakter santri yang nyantri di Pesantren Luhur ini.”150

Dari keterangan Alfin di atas dapat dipahami bahwa Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang memiliki motto [Link], yaitu: co.

Ownership, co. Determination dan co. Responsibility yang masing-

masing artinya adalah saling memiliki, saling menentukan dan saling

bertanggungjawab. Motto ini selalu ditegakkan dan selalu dijadikan

pedoman oleh seluruh santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang,

sehingga tak diragukan lagi bila seluruh santri mempunyai karakter yang

150
Hasil wawancara dengan santri Alfin Khoirun Ni’am hari Selasa, 25 September 2018 dari jam
21.30 – 22.40 WIB di Studio Bunga Tanjung.
139

bertanggungjawab dalam kesehariannya di setiap kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan.

b. Ikhlas

Ikhlas ialah niat mengharap Ridha Allah saja dalam beramal tanpa

menyekutukanNya dengan yang lain. Ikhlas merupakan perilaku yang tak

kasat mata, karena yang bisa memahami bahwasanya seseorang

berprilaku ikhlas ialah orang itu sendiri dan tentunya Allah SWT Yang

Maha Mengetahui keadaan hati hamba-hambaNya. Namun, secara

dhahiriyah kita bisa menilai melalui amaliyah kesehariannya yang

dilakukan dengan tanpa pamrih dan tanpa paksaan orang lain.

Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alfin selaku santri Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, sebagai berikut:

“Ya baik terimakasih, terkhusus saya sendiri bagaimana proses


tersebut bisa membentuk karakter saya. Mungkin awal salah satu
contoh kegiatan istighotsah tadi itu bisa mengajarkan saya mulai dari
keterpaksaan menjadi ikhlas dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
Itu salah satu contoh pelaksanaan ibadah.”151

Dari keterangan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa salah

satu sifat yang terinternalisasi kepada santri Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang adalah sifat ikhlas. Sifat ini tidak serta merta langsung

menancap di dalam sanubari tiap santri, perlu adanya latihan dan

pembiasaan serta penyesuaian terhadap hati masing-masing santri.

semuanya dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan ibadah yang telah

151
Hasil wawancara dengan santri Alfin Khoirun Ni’am hari Selasa, 25 September 2018 dari jam
21.30 – 22.40 WIB di Studio Bunga Tanjung.
140

menjadi menu wajib bagi seluruh santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang.

c. Mandiri

Mandiri adalah sikap (perilaku) dan mental yang memungkinkan

seseorang untuk bertindak bebas, benar, dan bermanfaat; berusaha

melakukan segala sesuatu dengan jujur dan benar atas dorongan dirinya

sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan

kewajibannya, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang

dihadapinya; serta bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang

telah diambilnya melalui berbagai pertimbangan sebelumnya. Mandiri

merupakan sikap yang tidak bergantung kepada orang lain, ia

melaksanakan suatu tugas atau sikap atau pekerjaan tanpa intervensi

maupun ketergantungan kepada orang lain.

Dalam realitanya, santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

memiliki indikator sikap kemandirian antara lain:152

1) Tingkat kepercayaan diri santri yang tinggi

2) Memiliki sikap amanah pada diri sendiri maupun terhadap pesantren

3) Dapat mengontrol diri baik dalam kondisi marah maupun terhadap

larangan pesantren

4) Dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan

maupun kegiatan pesantren

5) Memiliki sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pesantren

152
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Rabu, 12 September 2018 dari
jam 07.00 – 20.00 WIB di lingkungan pesantren.
141

6) Mengelola seluruh proses berjalannya sirkulasi pesantren, baik berupa

kegiatan, peraturan, listrik, air dan pembangunan

Sebagaimana yang telah di paparkan oleh Ust. Abd. Kholiq selaku

kepala Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah, yaitu:

“Jadi insyaallah sebagian sudah ada yang berubah dari karakter


teman-teman, namun mungkin ada tambahan lagi untuk di pesantren
ini, apa ya mungkin ada hal yang berbeda dengan pesantren yang lain.
Khususnya pesantren salaf, kalau pesantren salaf kan biasanya banyak
hafalan, banyak hal yang harus dihafal, sedangkan di sini itu kurang
lebih mungkin karena namanya pesantren mahasiswa jadi bagaimana
kita bisa lebih menonjolkan sesuatu, bahasanya itu kemandirian. Jadi,
kalau di pesantren ini dituntut mau gak mau harus mandiri. Jadi, nanti
tergantung individu masing-masing, memang semangatnya kuat dari
awal masuk sampai akhir, insyaallah nanti jika awalnya masih nol ada
perubahan. Dari beberapa santri yang dilihat emang dari awal masih
kurang tapi karena iktikadnya baik ya berubah. Tapi disisi lain,
kembali kesadaran sendiri-sendiri kadang yang dari awal baik malah
kelamaan mungkin ada yang berkurang, jadi kembali ke diri sendiri
khusuhnya dipesantren ini, misalnya kurang ada tuntutan dari temen-
temen mungkin misalnya.”153

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa santri di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur dituntut agar berproses menjadi pribadi yang

mandiri dan tidak selalu bergantung dengan orang lain. Sebagai salah

satu contoh dalam hal ibadah, tanpa menunggu obrakan dari pengurus

Majelis Santri sudah berangkat dengan sendirinya untuk shalat

berjamaah, turutama pada jamaah subuh dan maghrib.

d. Hidup Bersosial

Internalisasi nilai-nilai agama Islam yang diupayakan untuk

membentuk karakter santri salah satunya berdampak pada kehidupan

153
Hasil wawancara dengan Kepala Madrasah Diniyah Ustadz Abd. Kholiq hari Kamis, 27
September 2018 dari jam 21.45 – 22.30 WIB di kamar AHA 7.
142

sosial antar santri, tidak adanya sekat atau gengsi antar santri baik teman

sejawat maupun kepada seniornya. Hal ini peneliti temukan ketika

observasi di lingkungan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Santri

berkumpul dan berbaur antara yang senior maupun yang junior tanpa

batasan apapun dengan melakukan musyawarah baik berupa kegiatan

kepesantrenan maupun tentang akademik kampus.154

Di setiap awal masuk pesantren, ada salah satu kegiatan wajib yang

harus diikuti oleh santri baru, yakni ORSABA (Orientasi Santri Baru).

Kegiatan seperti inilah yang menjadi salah satu tumpuan penghilang

sekat antara senior dan junior dan semakin menumbuhkan sikap hidup

bersosial yang tinggi tanpa apatis dan acuh tak acuh dengan segala hal

yang berkaitan dengan pesantren. Sebagaimana yang telah dipaparkan

oleh Faiq Dzihnan, yaitu:

“Ya jadi seperti yang saya sebutkan tadi di Pesantren Luhur ini, santri
yang masuk ada yang namanya orientasi santri baru. Nah, di dalam
orientasi santri baru ini, yang lebih ditekankan adalah aspek akhlak.
Nah, jadi aspek akhlak ini menurut teman-teman pesantren luhur ini
sangat penting sehingga ketika orientasi sangat ditekankan, saya
sebagai santri baru ya dulu sangat merasakan sekali perubahan-
perubahan yang saya alami, karena ketika santri baru dulu saya masih
agak apatis dengan kegiatan pondok, masih kurang bergaul dengan
teman-teman santri senior sehingga ketika orientasi itu saya
disadarkan bahwa kita pada dasarnya di sini sebagai salah satu
masyarakat juga sehingga kita juga memiliki kewajiban untuk berbaur
berinteraksi dengan santri-santri yang lain dan juga ikut berjuang
dalam kegiatan pesantren luhur ini baik secara ikhlas maupun
tidak.”155

154
Hasil observasi di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang hari Rabu, 12 September 2018 dari
jam 07.00 – 20.00 WIB di lingkungan pesantren.
155
Hasil wawancara dengan santri Faiq Dzihnan hari Sabtu, 29 Septermber 2018 dari jam 17.10 –
17.40 WIB di kamar AHA 7.
143

Dari paparan tersebut dan dari observasi peneliti, ada hasil yang

ditimbulkan dari internalisasi nilai-nilai agama Islam, seperti santri

menjadi semakin akrab karena setiap hari bertemu dan berbaur serta

bermusyawarah, saling peduli terhadap kegiatan dan kondisi lingkungan

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang serta timbulnya sikap

mu’awanah (saling tolong menolong).

C. Temuan Penelitian

1. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Berdasarkan data penelitian yang telah dipaparkan dan dijelaskan di

atas, peneliti menemukan bahwa proses internalisasi dilakukan dengan 3

tahapan yaitu transformasi nilai, transaksi nilai dan trans internalisasi.

Adapun tujuan dari internalisasi nilai-nilai agama Islam yang dilakukan oleh

pihak Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang untuk membantu santri

dalam menambah pengetahuan tentang agama Islam sekaligus bisa

mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan

pesantren, kampus ataupun masyarakat sesuai dengan nilai-nilai agama

Islam yang telah diajarkan oleh para Kyai dan Asatidz.

Secara garis besar proses internalisasi di Pesantren Luhur ini terpusat

pada 3 kegiatan, yakni kajian kitab kuning (klasik), halaqah dan Madrasah

Diniyah. Proses pengajian kitab kuning di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

masih menerapkan metode pembelajaran klasik, seperti bendongan dan


144

sorogan. Bendongan merupakan metode belajar kuno yang menuntut Kyai

atau Ustadz untuk menjadi Teacher center (terpusat pada guru), jadi Kyai

atau Ustadz tersebut menerangkan dan menjelaskan materi, sedangkan santri

hanya sekedar mendengarkan dan lebih cenderung pasif. Sebaliknya,

metode belajar sorogan menuntut santri lebih aktif atau lebih cenderung

student center (terpusat pada murid), dimana santri maju satu persatu untuk

membacakan kitab yang telah dipelajarinya dihadapan Kyai atau Ustadz.

Sedangkan pada kagiatan halaqah, proses internalisasi nilai-nilai agama

Islam lebih interaktif, karena terfokus pada dua pemateri (santri putra dan

santri putri) yang kemudian ada sesi tanya jawab berkenaan dengan materi

yang dibahas saat itu. Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam

selanjutnya terdapat di Madrasah Diniyah yang dibagi beberapa kelas kecil

sesuai kemampuan santri, sehingga lebih terfokus dan efisien dalam

memahami nilai-nilai agam Islam.

Agar mudah dipahami, proses internalisasi nilai-nilai agama Islam di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang tersebut dapat dilihat pada tabel

berikut ini.

Tabel 4.5 Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga


Tinggi Pesantren Luhur Malang
No. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Keterangan
Agama Islam
1. Kajian Kitab Kuning (klasik) Proses cenderung ke pasif,
karena santri hanya duduk
dan mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Kyai atau
Ustadz yang mengajar.
Proses ini dilakukan pada
145

sore hari pukul 15.30-17.00


WIB dan malam hari pukul
19.30-21.00 WIB
2. Halaqah Proses cenderung lebih
interaktif, dimana semua
santri berkumpul, lalu ada
satu santri putra dan santri
putri yang naik ke masing-
masing podium untuk
menjelaskan materi yang
telah ditugaskan kepadanya
dalam bentuk paper,
kemudian ada tim pembahas
sebagai penguat atau
penambah tentang materi
yang dimaksud, kemudian
ada sesi tanya jawab yang
dilakukan oleh audience.
Proses ini dilakukan pada
pagi hari pukul 5.30-06.30
WIB
3. Madrasah Diniyah Proses ini cenderung
variatif, karena Ustadz yang
mengajar di Madrasah
Diniyah menggunakan
metode yang berbeda-beda
tidak monoton hanya satu
metode saja. Dibagi menjadi
beberapa kelas sesuai
kemampuan santri. Proses
ini dilakukan pada malam
hari pukul 19.30-21.00 WIB

Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam yang dapat peneliti

temukan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang terfokus pada 3

kegiatan, yaitu: Kajian Kitab Kuning (Klasik), Halaqah dan Madrasah

Diniyah. Ada pula melalui kegiatan-kegiatan yang bernuansa Islami seperti


146

pembacaan istighosah, tahlil, manaqib, maulid dan shalat berjamaah

sebagaimana yang telah peneliti paparkan pada pembahasan di atas. Melalui

kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang tersebut, maka terinternalisasikanlah nilai-nilai agama Islam

kepada santri sehingga terbentuklah karakter para santri sesuai nilai-nilai

agama Islam tersebut.

2. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Berdasarkan paparan data penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya

berkenaan dengan metode internalisasi nilai-nilai agama Islam, peneliti

menemukan bahwa ada beberapa metode yang dilakukan di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang, upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak

pesantren dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam yaitu dengan

menerapkan metode bandongan, sorogan, presentasi, tanya jawab dan

uswah hasanah (teladan yang baik).

Metode-metode tersebut diterapkan melalui beberapa forum belajar

sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Metode bandongan

diterapkan ketika kajian kitab kuning (klasik) baik di pengajian umum dan

Madrasah Diniyah, metode sorogan diterapkan ketika Madrasah Diniyah,

metode presentasi diterapkan ketika halaqah dan Madrasah Diniyah, tanya

jawab diterapkan ketika halaqah dan Madrasah Diniyah, dan uswah hasanah

(teladan yang baik) diterapkan selama aktivitas sehari-hari oleh Asatidz

Madrasah Diniyah.
147

Agar lebih mudah dalam memahaminya, peneliti merangkum dan

memaparkannya ke dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 4.6 Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga


Tinggi Pesantren Luhur Malang
No. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Keterangan
Agama Islam
1. Bandongan Santri hanya duduk dan
mendengarkan tanpa ada
timbal balik dari santri
(teacher center).
Diterapkan ketika kajian
kitab kuning (klasik) dan
Madrasah Diniyah
2. Sorogan Santri lebih aktif,
sedangkan Ustadz hanya
mengoreksi kesalahan dari
santri (student center).
Diterapkan ketika
Madrasah Diniyah
3. Presentasi Santri memaparkan materi
yang telah ditugaskan oleh
Ustadz maupun Majelis
Santri.
Diterapkan ketika halaqah
dan Madrasah Diniyah
4. Tanya Jawab Santri melakukan feedback
atas apa yang diterangkan
oleh Ustadz atau santri
yang bertugas presentasi.
Diterapkan ketika halaqah
dan Madrasah Diniyah
5. Uswah Hasanah (teladan yang baik) Kyai atau Ustadz
memberikan sikap atau
akhlak yang positif sesuai
yang telah beliau ajarkan
kepada santri.
Diterapkan ketika aktivitas
sehari-hari.
148

Terdapat beberapa metode internalisasi nilai-nilai agama Islam yang

dapat peneliti temukan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, yaitu

bandongan, sorogan, presentasi, tanya jawab dan uswah hasanah (teladan

yang baik). Melalui metode-metode tersebut diharapkan mampu membentuk

karakter santri yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

3. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Berdasarkan temuan peneliti tentang adanya dampak positif yang

dapat dikatakan sebagai bentuk hasil dari internalisasi nilai-nilai agama

Islam dalam membentuk karakter santri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang, pada dasarnya menghasilkan sesuatu hal positif yang relatif

signifikan berupa berubahnya karakter-karakter santri menjadi lebih baik.

Dengan adanya internalisasi nilai-nilai agama Islam yang terdiri dari

nilai aqidah, akhlak dan syari’at yang dilakukan Kyai maupun Ustadz

melalui kegiatan-kegiatan positif bersifat kepesantrenan dan bernuansa

Islami berupa kegiatan-kegiatan yang bersifat wajib, maka akan

menghasilkan sesuatu pada karakter santri dan akan tertanam pada diri

santri nilai-nilai agama Islam tersebut yang terinpresentasikan melalui sikap

bertanggungjawab, ikhlas, mandiri dan hidup bersosial.

Dari temuan peneliti di lapangan melalui interview dan observasi yang

dilakukan peneliti terhadap beberapa informan, akhirnya peneliti

menemukan sebuah informasi yang dalam hal ini dapat diamati rinciannya

pada uraian berikut:


149

Tabel 4.7 Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga


Tinggi Pesantren Luhur Malang
No. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Keterangan
Agama Islam
1. Bertanggungjawab Melaksanakan perintah dan
aturan yang diterapkan oleh
pesantren
2. Ikhlas Tidak terbebani dalam
melaksanakan kegiatan
pesantren
3. Mandiri Tidak menunggu perintah
dari pengurus untuk
mengikuti kegiatan pesantren
dan mengelola sirkulasi
kehidupan pesantren melalui
Majelis Santri
4. Hidup Bersosial Antusias dalam berkumpul,
baik antar santri atau dengan
Ustadz dan tidak adanya
sekat antara senior junior
Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa hasil dari adanya internalisasi

nilai-nilai agama Islam memunculkan sebuah karakter yang positif bagi

santri berupa sikap bertanggungjawab, ikhlas dalam beramal, mandiri dan

hidup bersosial.
BAB V

PEMBAHASAN

Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya, telah ditemukan data

dari hasil observasi, wawancara maupun dokumentasi tentang internalisasi nilai-

nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren

Luhur Malang, pada bab ini akan peneliti sajikan uraian bahasan sesuai dengan

rumusan masalah dan tujuan penelitian. Peneliti juga akan mengintregasikan

temuan yang ada di lapangan kemudian menyamakan dengan teori-teori yang ada.

Dalam sub bab ini akan disajikan analisa data yang diperoleh, baik data primer

maupun data sekunder, kemudian di intrepetasikan secara terperinci.

A. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Karakter

Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Proses dari internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk

karkter santri akan peneliti ulaskan. Menurut Peter L. Berger proses

internalisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu

mulai saat ia dilahirkan sampai akhir hayat. Sepanjang hayatnya seorang

individu terus belajar untuk mengelola segala perasaan, hasrat nafsu dan emosi

yang mmbentuk kepribadiannya. Tetapi wujud dan pengaktifannya sangat

dipengaruhi oleh berbagai macam situasi yang berada dalam alam sekitar,

lingkungan sosial maupun budayanya.156

Pelaksanaan pendidikan nilai melalui beberapa proses tahapan, sekaligus

menjadi tahap terbentuknya internalisasi yaitu:

156
Peter L. Berger & Thomas Lukhmann, [Link]., Hal. 112.
150
151

a. Tahap Transformasi Nilai

Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh ustadz dalam

menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik. Pada tahap

ini hanya terjadi komunikasi verbal antara ustadz dan santri. Dengan kata

lain, pada tahap ini cenderung santri lebih pasif, karena santri hanya

pemindahan keilmuan yang bersifat kognitif saja. Oleh karena itu,

transformasi nilai ini sifatnya hanya pemindahan pengetahuan dari ustadz ke

santrinya. Nilai-nilai yang diberikan masih berada pada ranah kognitif santri

dan pengetahuan ini dimungkinkan hilang jika ingatan seseorang tidak kuat.

b. Tahap Transaksi Nilai

Pada tahap ini pendidikan nilai dilakukan melalui komunikasi dua

arah yang terjadi antara ustadz dan santri yang bersifat timbal balik sehingga

terjadi proses interaksi. Dengan adanya transaksi nilai, ustadz dapat

memberikan pengaruh pada santrinya melalui contoh nilai yang telah ia

jalankan. Di sisi lain, santri akan menentukan nilai yang sesuai dengan

dirinya dan memungkinkan terjadinya proses yang lebih aktif daripada

tahapan sebelumnya, sebab di dalamnya terdapat proses transaksi antara

ustadz dan santri yang sifatnya feedback.

c. Tahap Trans-Internalisasi

Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini

bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental

dan kepribadian. Jadi, pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan

aktif. Dalam tahap ini ustadz harus betul-betul memperhatikan sikap dan
152

perilakunya agar tidak bertentangan yang ia berikan kepada santri. Hal ini

disebabkan adanya kecenderungan santri untuk meniru apa yang menjadi

sikap mental dan kepribadian gurunya. Penilaiannya lebih kepada aktivitas

atau kehidupan sehari-hari yang dilakukan Ustadz.157

Berdasarkan tahapan tersebut, Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

mengimplementasikan prosesnya melalui beberapa kegiatan yang bersifat

wajib bagi seluruh santri, untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut ini:

Tabel 5.1 Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi


Pesantren Luhur Malang
No. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Keterangan
Agama Islam
1. Kajian Kitab Kuning (klasik) Proses cenderung ke pasif,
karena santri hanya duduk
dan mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Kyai atau
Ustadz yang mengajar.
Proses ini dilakukan pada
sore hari pukul 15.30-17.00
WIB dan malam hari pukul
19.30-21.00 WIB
2. Halaqah Proses cenderung lebih
interaktif, dimana semua
santri berkumpul, lalu ada
satu santri putra dan santri
putri yang naik ke masing-
masing podium untuk
menjelaskan materi yang
telah ditugaskan kepadanya
dalam bentuk paper,
kemudian ada tim pembahas
sebagai penguat atau
penambah tentang materi
yang dimaksud, kemudian

157
Muhaimin, [Link]., Hal. 153.
153

ada sesi tanya jawab yang


dilakukan oleh audience.
Proses ini dilakukan pada
pagi hari pukul 05.30-06.30
WIB
3. Madrasah Diniyah Proses ini cenderung
variatif, karena Ustadz yang
mengajar di Madrasah
Diniyah menggunakan
metode yang berbeda-beda
tidak monoton hanya satu
metode saja. Dibagi menjadi
beberapa kelas sesuai
kemampuan santri. Proses
ini dilakukan pada malam
hari pukul 19.30-21.00 WIB
Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam yang diterapkan melalui

kegiatan wajib pesantren ini kiranya tidak sebatas penerapan saja, melainkan

perlu diteruskan dengan ke konsistenan dalam implementasi di kehidupan

sehari-hari, baik antar santri, dengan Kyai atau Ustadz maupun dengan

masyarakat sekitar. Perlu kiranya dilakukan pemahaman secara mendalam

melalui tadabbur akan nilai-nilai yang terlah diinternalisasikan tersebut agar

terwujud tujuan membentuk karakter santri.

Dari ketiga kegiatan wajib tersebut, sangat berkaitan dengan tahapan-

tahapan yang telah dijelaskan sesuai teori di atas. Kegiatan kajian kitab kuning

mewakili terinterpretasikannya tahapan transformasi nilai, sebab pada kegiatan

ini santri cenderung sebatas mendengarkan keterangan atau penjelasan

keilmuan tentang nilai-nilai agama Islam oleh Kyai atau Ustadz yang

mengampu sesuai materinya. Beikutnya kegiatan halaqah dan Madrasah

Diniyah mewakili daripada tahapan transaksi nilai, sebab pada kegiatan ini
154

terjadi proses komunikasi antar Ustadz dengan santri atau antar santri dengan

santri yang dikemas dalam proses tanya jawab. Terakhir, keseharian Ustadz

yang berbaur dengan santri mewakili proses tahap trans-internalisasi, sebab

Ustadz yang mengajar di Madrasah Diniyah sebagian juga masih menetap di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, sehingga Ustadz bisa mengontrol

bagaimana sampainya keilmuan pada diri santri sekaligus memberikan contoh

yang baik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai agama Islam

yang telah diajarkan.

Selain itu, nilai-nilai agama Islam yang diinternalisasikan di Lembaga

Tinggi Pesantren Luhur Malang bertujuan untuk menciptakan santri yang

memiliki jiwa 3 co, sesuai dengan motto Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang, yakni co. Ownership (saling memiliki), co. Determination (saling

menentukan) dan co. Responsibility (saling bertanggungjawab). Juga bertujuan

membentuk manusia yang mulia di hadapan Allah dan di hadapan sesama

hamba Allah, membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berbudi luhur

berkepribadian bangsa, berwibawa, cerdas, kreatif dan inovatif seerta

membentuk manusia berpengetahuan agama yang luas.

B. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Internalisasi dijalankan melalui beberapa metode, diantaranya sebagai

berikut:
155

1. Peneladanan

Pendidik meneledankan kepribadian muslim, dalam segala aspeknya

baik pelaksanaan ibadah khusus maupun yang umum. Pendidik adalah figur

yang terbaik dalam pandangan anak, dan anak akan mengikuti apa yang

dilakukan pendidik. Peneladanan sangat efektif untuk internalisasi nilai,

karena peserta didik secara psikologis senang meniru dan sanksi-sanksi

sosial yaitu seseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang-

orang di sekitarnya. Dalam Islam bahkan peneladanan sangat diistimewakan

dengan menyebut bahwa Nabi itu tauladan yang baik (uswah hasanah).

Metode keteladanan (uswatun hasanah) yaitu yang diterapkan dengan cara

memberikan contoh-contoh teladan yang baik berupa prilaku nyata,

khususnya ibadah dan akhlak bagi setiap umat manusia.158

2. Pembiasaan

Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan

pembentukan peserta didik. Upaya ini dilakukan karena mengingat manusia

mempunyai sifat lupa dan lemah. Pembiasaan merupakan stabilitas dan

pelembagaan nilai-nilai keimanan dalam peserta didik yang diawali dengan

aksi ruhani dan aksi jasmani. Pembiasaan bisa dilakukan dengan terprogram

dalam pembelajaran dan tidak terprogram dalam kegiatan sehari-hari.159

3. Pergaulan

Melalui pergaulan, pendidik dan peserta didik saling berinteraksi

saling menerima dan saling memberi. Pendidikan dalam pergaulan sangat

158
Binti Maunah, [Link]., Hal. 94.
159
Ahmad Tafsir, [Link].,, Hal. 230-231.
156

penting. Melalui pergaulan, pendidik mengkomunikasikan nilai-nilai luhur

agama, baik dengan jalan berdiskusi maupun tanya jawab. Sebaliknya

peserta didik dalam pergaulan ini mempunyai kesempatan banyak untuk

menanyakan hal-hal yang kurang jelas baginya. Dengan demikian, wawasan

mereka mengenai nilai-nilai agama Islam itu akan terinternalisasi dengan

baik, karena pergaulan yang erat akan menjadikan keduanya tidak

merasakan adanya jurang.

4. Penegak Aturan

Penegak disiplin biasanya dikaitkan penerapan aturan (Rule

Enforcement). Idealnya dalam menegakan aturan hendaknya diarahkan pada

“Takut pada aturan bukan pada orang”. Orang melakukan sesuatu karena

taat pada aturan bukan karena taat pada orang yang memerintah. Jika hal ini

tumbuh menjadi suatu kesadaran maka akan menciptakan kondisi yang

nyaman dan aman.160

5. Pemotivasian

Motivasi merupakan latar belakang yang menggerakkan atau

mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, motivasi

merupakan suatu landasan psikologis (kejiwaan) yang sangat penting bagi

setiap orang dalam melaksanakan sesuatu aktivitas. Apalagi aktivitas itu

berupa tugas yang menuntut tanggung jawab yang tinggi.

Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi

instrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri

160
Furqon Hidayatullah, [Link]., Hal. 48.
157

kita, sedangkan motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam

diri kita. Dalam menegakkan disiplin, mungkin berawal berdasarkan

motivasi ekstrinsik. Orang melakukan sesuatu karena paksaan, pengaruh

orang lain, atau karena keinginan tertentu. Akan tetapi, setelah berproses

orang tersebut dapat saja berubah ke arah motivasi intrinsik. Setelah

merasakan bahwa dengan menerapkan disiplin memiliki dampak positif

bagi dirinya kemudian orang tersebut melakukan sesuatu dilandasi dengan

kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Idealnya menegakkan disiplin itu

sebaiknya dilandasi oleh sebuah kesadaran. Diantara teknik untuk

menimbulkan motivasi peserta didik adalah hadiah dan hukuman. Dalam

pembinaan akhlak pemotivasian bisa dilakukan dengan cara targhib, tarhib,

perumpamaan, maudhiah (nasehat), dan kisah.161

Berdasarkan teori yang telah dijelaskan sebelumnya berkenaan dengan

metode internalisasi nilai-nilai agama Islam, peneliti menemukan bahwa ada

beberapa metode yang dilakukan di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang,

upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak pesantren dalam menginternalisasikan

nilai-nilai agama Islam yaitu:

a. Bandongan. Metode klasik yang mengandalkan ceramah dari seorang Kyai


atau Ustadz dengan materi-materi yang dipaparkannya sedangkan santri
hanya duduk dan mendengarkan tanpa ada timbal balik dari santri (teacher
center). Kaitannya dengan teori yang telah dijelaskan sebelumnya adalah
terinterpretasinya metode peneladanan dan pembiasaan dari metode
Bandongan ini, karena dalam kegiatan tersebut terdapat cara penyampaian
materi yang otomatis akan terekam oleh santri dan menjadi suatu nilai yang

161
Ibid., Hal. 49.
158

baik bagi santri serta kegiatannya yang bersifat wajib menjadikan


pembiasaan bagi santri agar terdorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan
pesantren dengan istiqomah.
b. Sorogan. Metode klasik yang mengandalkan pemaparan dari seorang santri

yang di simak langsung satu persatu oleh Ustadz, metode ini kebalikan dari

metode Bandongan, pada metode ini santri lebih aktif, sedangkan Ustadz

hanya mengoreksi kesalahan dari santri (student center). Pada metode

Sorogan ini, kaitannya antara teori dengan hasil temuan tidak jauh beda

dengan keterkaitan metode Bandongan yang telah peneliti jelaskan di atas.

c. Presentasi. Metode yang mengandalkan keberanian mental dari seseorang

untuk berbicara di hadapan banyak hadirin atau salah satu bentuk

komunikasi verbal, dalam hal ini terdapat komunikasi antar Ustadz dengan

santri atau santri dengan santri. Keterkaitan dengan teori yang ada ialah

terdapat sebuah pergaulan antara Ustadz dengan santri sehingga tidak

menutup kemungkinan nilai-nilai agama dapat tersampaikan secara

maksimal dan lebih leluasa.

d. Tanya Jawab. Penyampaian pelajaran dengan cara Ustadz mengajukan

pertanyaan dan santri menjawab atau bisa juga sebaliknya santri melakukan

feedback atas apa yang diterangkan oleh Ustadz dengan memberikan

pertanyaan kepada Ustadz. Keterkaitan dengan teori yang ada hampir sama

dengan presentasi, karena metode ini bisa dijadikan satu paket dengan

metode presentasi, tapi dalam kenyataannya metode ini bisa pula dilakukan

di luar jam pelajaran, dengan cara banyak bergaul kepada Ustadz sehingga

akan muncul proses tanya jawab yang begitu signifikan.


159

e. Uswah Hasanah (Teladan yang Baik). Tindakan atau perilaku yang dapat

ditiru atau diikuti oleh seseorang dari orang lain yang melakukan atau

mewujudkannya, sehhingga orang yang diikuti disebut dengan teladan.

Dalam hal ini, Kyai atau Ustadz memberikan sikap atau akhlak yang positif

sesuai yang telah beliau ajarkan kepada santri. Keterkaitan dengan teori

yang ada ialah terdapat pada metode peneladanan dan pemotivasian, sebab

uswah hasanah tidak hanya dilakukan dalam ruang kelas saja, melainkan

dalam kehidupan sehari-hari, sehingga harus menampakkan hal-hal yang

positif sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Pada akhirnya, hal tersebut

akan menjadi sebuah motivasi ekstrinsik bagi santri dan akan berakhir

menjadi motivasi instrinsik.

C. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Karakter

Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Berdasarkan penelitian pada hasil internalisasi nilia-nilai agama Islam

dalam membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang,

terfokus pada pengembangan, pembentukan sikap santri dan kebiasaan yang

dilakukan santri serta keteladanan yang dimunculkan oleh Kyai dan Ustadz

melalui beberapa kegiatan yang menunjang.

Manusia tidak dilahirkan dengan sikap tertentu, melainkan dapat

dibentuk sepanjang perkembangannya. Dengan demikian, pembentukan sikap

tidak dengan sendirinya tetapi berlangsung melalui interaksi sosial.


160

Pembentukan sikap pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil.

Dalam hal ini, pendidik pertama adalah orang tua kemudian guru. 162

Untuk itu, lingkungan pesantren yang telah dibentuk sedemikian rupa

dengan segala ketentuan dan program akan berpengaruh terhadap sikap. Hal ini

sesuai dengan penjelasan bahwa sikap sosial secara umum adalah hubungan

antara manusia dengan manusia yang lain, saling ketergantungan dengan

manusia lain dalam berbagai kehidupan masyarakat.163

Sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam K-13

bahwasanya siswa (santri) dituntut tidak hanya cerdas dalam kognitif atau

pengetahuan saja, akan tetapi juga sosialnya. Oleh karena itu, dalam proses

pembelajaran yang menjadi titik tekan utama adalah nilai spiritual, sosial,

setelah itu baru pengetahuan. Hal ini juga sesuai dengan nilai-nilai pendidikan

agama Islam yang ditanamkan kepada santri yang tergolong dari nilai Ilahiyah

dan nilai Insaniyah.

Berdasarkan paparan tersebut, maka internalisasi nilai-nilai agama Islam

sedikit banyak akan menghasilkan sesuatu pada karakter santri terutama

terhadap sikap sosialnya. Dalam paparan sebelumnya untuk

menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam adalah dengan metode

peneladanan, pembiasaan, pergaulan, penegak aturan dan pemotivasian yang di

interpretasikan melalui metode pembelajaran berupa bandongan, sorogan,

presentasi, tanya jawab dan uswah hasanah (teladan yang baik) akan

membentuk karakter santri. Dampaknya adalah keakraban terhadap teman yang

162
Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), Hal. 62.
163
Agus Suyanto, Psikologi Umum, (Jakarta: PT. Aksara Baru, 1979), Hal. 75.
161

lain. Hal ini terjadi karena kuantitas pertemuan semakin sering dan hubungan

interaksi pun akan terjalin sehingga keakraban semakin erat.

Dengan upaya yang dilakukan oleh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur

Malang dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam, akan menjadi

inspirasi dan pemandu utama dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

Dengan nilai-nilai agama, pesantren dapat membentuk sikap dan kepribadian

yang kuat, memompa semangat keilmuan, membangun karakter dan pribadi

yang sholeh serta membangun sikap peduli.

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan hasil

internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter santri sebagai

berikut:

5.2 Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam di Lembaga Tinggi


Pesantren Luhur Malang
No. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Keterangan
Agama Islam
1. Bertanggungjawab Melaksanakan perintah dan
aturan pesantren
2. Ikhlas Tidak terbebani dalam
melaksanakan kegiatan
pesantren
3. Mandiri Tidak menunggu perintah
dari pengurus untuk
mengikuti kegiatan pesantren
dan mengelola sirkulasi
kehidupan pesantren melalui
Majelis Santri
4. Hidup Bersosial Antusias dalam berkumpul
antar santri dan tidak adanya
sekat antara senior junior
162

Internalisasi Nilai-Nilai
Agama Islam dalam
Proses Internalisasi Nilai- Membentuk Karakter Hasil Internalisasi Nilai-
Nilai Agama Islam dalam Santri Nilai Agama Islam dalam
Membentuk Karakter Santri Membentuk Karakter
di Lembaga Tinggi Santri di Lembaga Tinggi
Pesantren Luhur Malang Pesantren Luhur Malang
Metode Internalisasi
Nilai-Nilai Agama
Islam dalam 1. Santri hanya duduk dan
Proses melalui beberapa
Membentuk Karakter
tahapan diantaranya: mendengarkan tanpa ada
Santri di Lembaga
1. Tahap Transformasi Tinggi Pesantren timbal balik dari santri
Nilai Luhur (teacher center).
2. Tahap Transaksi Nilai 2. Santri lebih aktif, sedangkan
Bandongan Ustadz hanya mengoreksi
3. Tahap Trans- kesalahan dari santri (student
Internalisasi center).
Sorogan
Diwujudkan dengan
3. Santri memaparkan materi
adanya proses kegiatan
yang telah ditugaskan oleh
belajar mengajar berupa: Presentasi
Ustadz maupun Majelis
A. Kajian Kitab Kuning Santri.
(Klasik) Tanya Jawab
4. Santri melakukan feedback
B. Halaqah
atas apa yang diterangkan
C. Madrasah Diniyah
Uswah oleh Ustadz atau santri yang
Hasanah bertugas presentasi.

5. Kyai atau Ustadz


memberikan sikap atau
akhlak yang positif sesuai
yang telah beliau ajarkan
kepada santri.

1. Santri bertanggungjawab terhadap perintah dan aturan pesantren dengan baik dan
benar
2. Santri ikhlas dengan tidak terbebani dalam melaksanakan kegiatan pesantren
3. Santri mandiri dengan tidak menunggu perintah dari pengurus untuk mengikuti
kegiatan pesantren dan mengelola berjalannya aktivitas pesantren melalui Majelis
Santri
4. Santri antusias dalam berkumpul, baik antar santri atau dengan Ustadz dan tidak
adanya sekat antara senior junior
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan temuan penelitian yang telah dipaparkan dan dibahas pada

bab sebelumnya terkait dengan internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam

membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, maka

dapat diambil kesimpulan sebagai beikut:

1. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Proses internalisasi nilai-nilai agama Islam di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang dilakukan dengan 3 tahapan, yakni transformasi

nilai, transaksi nilai dan trans-internalisasi yang diterapkan melalui kegiatan

yang bersifat wajib berupa kajian kitab kuning (klasik), halaqah dan

Madrasah Diniyah. Adapun lebih rincinya, nilai-nilai agama Islam di

Lembaga Tinggi Pesantren Luhur yang masuk pada tahap transformasi nilai

diantaranya istighosah, dzikir fida’, pengajian kitab kuning pada sore atau

malam hari, pembacaan tahlil, pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qodir

Jilani, dan pembacaan shalawat Nabi Muhammad SAW. Berikutnya nilai-

nilai agama Islam yang termasuk dalam tahap transaksi nilai, antara lain

menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menjaga

persatuan dan istiqomah. Sedangkan niai-nilai agama Islam yang termasuk

dalam tahap trans-internalisasi diantaranya bertanggung jawab, rasa sosial

163
164

tinggi, suka tolong menolong dan mandiri dalam menjalankan aktivitas

pesantren.

2. Metode Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Pelaksanaan internalisasi nilai-nilai agama Islam di Lembaga Tinggi

Pesantren Luhur Malang melalui beberapa metode, diantaranya

peneladanan, pembiasaan, pergaulan, penegak aturan dan pemotivasian

yang dikemas melalui metode pembelajaran, yaitu: bandongan, sorogan,

presentasi, tanya jawab dan uswah hasanah (teladan yang baik).

3. Hasil Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk

Karakter Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Adapun hasil dari adanya internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam

membentuk karakter santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

adalah santri semakin bertanggungjawab terhadap segala kegiatan-kegiatan

pesantren baik yang bersifat wajib maupun tidak dan dalam kehidupan

sehari-harinya di luar pesantren. Santri memiliki sikap yang ikhlas dalam

menjalankan kegiatan yang menjadi rutinan dan membiasakan diri terhadap

segala kegiatan yang ada di pesantren sehingga seiring berjalannya waktu

dapat dilaksanakan dengan ikhlas tanpa adanya beban. Santri memiliki

karakter mandiri dalam merawat pesantren dan mengatur jalannya kegiatan

pesantren tanpa selalu bergantung kepada Pengasuh, Kyai maupun Ustadz.

Santri memiliki sifat yang suka bersosial dengan tanpa adanya sekat
165

diantara santri, menjadikan suasana kekeluargaan yang tinggi dan

menumbuhkan rasa ta’awun (tolong menolong).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka dengan ini peneliti

memberikan saran kepada beberapa pihak:

1. Bagi Pengasuh pesantren hendaknya senantiasa meningkatkan intensitas

dalam mengayomi, melaksanakan dan melakukan evaluasi keterlaksanaan

kegiatan-kegiatan pesantren yang berkaitan dengan internalisasi nilai-nilai

agama Islam dalam membentuk karakter santri

2. Para Kyai dan Ustadz serta pesantren diharapkan berupaya untuk selalu

menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam agar Para Kyai, Ustadz dan

pesantren semakin lebih baik melaksanakan internalisasi nilai-nilai agama

Islam dalam membentuk karakter santri. Lebih penting lagi, para Kyai dan

Ustadz dapat memberikan teladan yang baik terkait nilai-nilai agama Islam

3. Para santri diharapkan untuk selalu melaksanakan nilai-nilai agama Islam

dengan penuh kesadaran diri, tenggungjawab serta amanah dalam

menerapkannya di kehidupan sehari-hari

4. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian lanjutan yang

lebih komprehensif lagi mengenai internalisasi nilai-nilai agama Islam

dalam membentuk karakter santri


166

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 2002. Ensiklopedi Dunia Islam Jilid III. Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve.

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.

Ahmadi, Ruslam. 2005. Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang:


UIN-Malang Press.

Al Albani, Muhammad Nasruddin. 2007. Ringkasan Shahih Muslim. Jakarta:


Pustaka Azzam.

Ali, Muhammad Daud. 2006. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Alim, Muhammad. 2006. Pendidikan Agama Islam dalam Upaya Pembentukan


Pemikiran dan Kepribadian Muslim. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2011. Bandung: Sygma Publishing.

Anees, Bambang Q. dan Adang Hambali. 2009. Pendidikan Karakter Berbasis Al-
Qur’an, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Aqid, Zainal dan Sujak. 2011. Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter.
Bandung: Yrama Widya.

Arismantoro. 2008. Character Building. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Artikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka cipta.

Berger, Peter L. & Thomas Luckmann. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan:
Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES.

Bermi, Wibawati. 2016. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam untuk Membentuk


Sikap dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Mukminun. Jurnal
Al-Lubab, Volume 1, nomor 1.

Chaplin, J.P. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Darajat, Zakiyah. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Jakarta: Balai Pustaka.
167

Faisal, Sanafiah. 1995. Format dan Penelitian Dasar dasar dan Aplikasi. Jakarta:
Rajawali Press.

Fatimah, Siti. 2003. Penginternalisasian Nilai-Nilai Agama Islam dalam


Pelaksanaan Manajemen Pendidikan di MAN 3 Malang. Tesis. Universitas
Islam Negeri Malang.

Fuad, Amsyari. 1995. Islam Kaffah Tantangan Sosial dan Aplikasinya di


Indonesia. Jakarta: Gema Insani.

Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha


Nasional.

Gulo, W. 2002. Metode Penelitian. Jakarta: Grasindo.

Hadi, Sutrisno. Metode Research. Yogyakarta: Yayasan penerbit Fak. Psikologi


UGM.

Hidayatullah, Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradapan


Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Ihsan, Fuad. 1997. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Indra. 2012. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Peserta


Didik Berkarakter Mulia di SMAN 15 Binaan Nenggeri Antara Takengan Aceh
Tengah. Tesis. Universitas Islam Negeri Malang.

Isnaini, Muhammad. 2013. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di


Madrasah. Jurnal Al-Ta’lim, Jilid 1, nomor 6.

Khasanah, Siti Uswatun. 2006. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam


Pembinaan Mental Melalui Pembiasaan dan Keteladanan di Panti Asuhan
Hajjah Khadijah. Tesis. Universitas Islam Negeri Malang.

Kunaepi, Aang. 2012. Membangun Pendidikan Tanpa Kekerasan Melalui


Internalisasi PAI dan Budaya Religius. Semarang: Universitas Negeri
Semarang, Nadwa. Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6, Nomor 1.

Kurniawati, Fitria. 2007. Pengaruh Nilai-Nilai Agama dalam Membentuk


Kepribadian Remaja Muslim di Dusun Rambangan Kelurahan Landungsari
Kecamatan DAU Malang. Tesis. Universitas Islam Negeri Malang.

Lickona, Thomas. 2013. Mendidik untuk Membentuk Karakter: Bagaimana


Sekolah dapat Memberikan Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Tanggung
Jawab, alih bahasa Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
168

Mardalis. 2003. Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi


Aksara.

Masyhuri dan M. Zainuddin. 2008. Metodologi Penelitian (Pendekatan Praktis


dan Aplikatif). Bandung: PT. Refika Aditama.

Maunah, Binti. 2009. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Yogyakarta: Sukses


Offset.

Miles, Matthew B. dan A. Michel Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif:


Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi.
Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda


Karya.

Muhaimin. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media.

Mujib, Abdul dan Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis
dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Triganda Karya.

Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung:


Alfabeta.

Muslich, Mansur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab tantangan Krisis


Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Naim, Ngainun. 2012. Character Building. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Narboko, Chalid dan Abu Achmadi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara.

Narwanti, Sri. 2011. Pendidikan Karakter: Pengintegrasian 18 Pembentukan


Karakter dalam Mata Pelajaran. Yogyakarta: Familia.

Nawawi, Hadari dan Mimi Martini. 1994. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.

Poerwadarminta, W.J.S. 2013. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai


Pustaka.

Pranomo, Bambang. 2009. Paradigma Baru Dalam Kajian Islam Jawa. Pustaka
Alvabet
169

Prastowo, Andi. 2011. Memahami Metode-metode Penelitian. Jogjakarta: Ar-


Ruzz Media.

Salahuddin, Anas dan Irwanto Alkrienciehie. 2013. Pendidikan Karakter:


Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Shuhari, Mohd Hasrul. 2015. Nilai-Nilai penting Individu Muslim menurut Imam
Al-Ghazali. Universiti Malaya: Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari.

Soehabar, Halim. 2013. Modernisasi Pesantren. Yogyakarta: Lkis Printing


Cemerlang.

Suharto, Babun. 2011. Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi


Pesantrendi Era Globalisasi. Surabaya: Imtiyaz.

Sunarto. 2001. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Melalui Penciptaan Suasana


Keagamaan di Lingkungan MTsN 01 Malang. Tesis. Universitas
Muhammadiyah Malang.

Suryabrata, Sumadi. 1987. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Suyanto, Agus. 1979. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Aksara Baru.

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani, dan
Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uhbiyati, Nur. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. Cet ke-
2.

Wahab, Abd. dan Umiarso. 2011. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan


Spiritual. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.

Wibowo, Agus. 2013. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Yasmadi. 2005. Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap


Pendidikan Islam Tradisional. Jakarta: Ciputat Press.

Zariyah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta:


Bumi Aksara.

Zuhdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.


170

[Link]
27-persen-pengguna-narkoba-pelajar-dan-mahasiswa (Diakses pada: 25-04-2018,
pukul 14.05 WIB)

[Link] (Diakses pada: 30-07-2019,


14.16 WIB)
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 Surat Izin Selesai Penelitian
Lampiran 3 Instrumen Penelitian
INSTRUMEN PENELITIAN
TENTANG
INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK
KARAKTER SANTRI (STUDI KASUS DI LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR
MALANG)
PETUNJUK
1. Daftar wawancara ini hanya ditulis secara garis besarnya saja dan dapat dikembangkan dalam
proses wawancara
2. Dalam pelaksanaan wawancara dilengkapi dengan alat pengumpulan data berupa buku
catatan, tape recorder dan kamera
3. Wawancara dapat dilakukan secara berulang-ulang sesuai dengan data yang diperlukan
A. PEDOMAN DOKUMENTASI
1. Sejarah singkat berdirinya Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
2. Visi dan Misi Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
3. Data Dewan Kyai, Ustadz, dan Santri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
4. Dokumen sarana dan prasarana di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang
5. Peraturan dan kebijakan yang melandasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk
karakter santri
B. PEDOMAN OBSERVASI
Berilah tanda checklist pada kolom ada dan tidak di bawah ini
No Objek Indikator ada Tidak Keterangan
1 Keadaan Lembaga Tinggi √
Pesantren Luhur Malang
2 Keadaan sarana dan √
prasarana nilai-nilai agama
Islam
3 Respon santri terhadap √
nilai-nilai agama Islam
untuk membentuk karakter
santri
4 Keteladanan asatidz dalam √
memberikan contoh kepada
santri terkait kegiatan
pesantren
5 Proses internalisasi nilai- √
nilai agama Islam
6 Perhatian dan respon santri √
terhadap nilai-nilai agama
Islam melalui kegiatan
pesantren
7 Slogan/Poster tentang nilai- √
nilai agama Islam
8 Pemeliharaan √
ruang dan
Bangunan
Pencahayaan √
dan ventilasi
Kesehatan Lingkungan
Fasilitas Sanitasi √
Pesantren:
Kantin/ √
Koperasi
Pesantren
Lingkungan √
yang bersih dan
sejuk

C. PEDOMAN WAWANCARA
a. Ketua Majelis Santri
1. Nilai-nilai agama Islam apa saja yang dikembangkan di Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang?
2. Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter
santri?
3. Apakah ada kegiatan-kegiatan yang diprogramkan dalam rangka menginternalisasi
nilai-nilai agama Islam tersebut?
4. Siapa saja yang terlibat dalam menginternalisasi nilai-nilai agama Islam tersebut?
5. Apakah ada faktor pendukung dan penghambat dengan adanya internalisasi nilai-nilai
agama Islam dalam membentuk karakter santri?
6. Apa ada dampak dari internalisasi nilai-nilai agama Islam terhadap karakter santri?
7. Bagaimana hasil yang telah dicapai (apakah sudah berhasil atau kurang maksimal atau
gagal)? Bagaimana tanggapan anda tentang nilai-nilai agama Islam?
b. Kepala Madrasah Diniyah
1. Nilai-nilai agama Islam apa saja yang dikembangkan di Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang?
2. Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam membentuk karakter
santri?
3. Bagaimana metode yang dilaksanakan dalam menerapkan internalisasi nilai-nilai
agama Islam?
4. Bagaimana upaya untuk menginternalisasi nilai-nilai agama Islam kepada santri
sehingga dapat membentuk karakter santri?
5. Apakah ada faktor pendukung dan penghambat dengan adanya internalisasi nilai-nilai
agama Islam dalam membentuk karakter santri?
6. Apa ada dampak dari internalisasi nilai-nilai agama Islam terhadap karakter santri?
7. Bagaimana hasil yang telah dicapai (apakah sudah berhasil atau kurang maksimal atau
gagal)? Bagaimana tanggapan anda tentang nilai-nilai agama Islam?
c. Santri
1. Nilai-nilai agama Islam apa saja yang dikembangkan di Pesantren Luhur?
2. Bagaimana cara seorang Kyai atau Ustadz dalam menginternalisasi nilai-nilai agama
Islam terhadap santri?
3. Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk melakukan internalisasi nilai-nilai agama Islam
di Pesantren Luhur?
4. Apa dampak yang anda rasakan dari internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam
membentuk karakter anda?
5. Bagaimana cara anda melaksanakan nilai-nilai agama Islam yang sudah disampaikan
oleh Kyai atau Ustadz ketika anda di luar Pesantren Luhur?
Lampiran 4 Transkip Wawancara
TRANSKIP WAWANCARA DENGAN KETUA MAJELIS SANTRI
Informan : Mujiburrohman
Hari/Tanggal : Sabtu, 22 September 2018
Tempat : Kamar AHA 9 Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Nilai agama islam yang dikembangkan
dikembangkan di Pesantren Luhur? disini yang pertama yakni nilai akidah.
Nilai yang kedua yakni nilai syari‟ah,
Kemudian yang ketiga adalah nilai akhlak
2 Bagaimana Proses internalisasi nila-nilai Untuk proses internalisasi sendiri terdapat
agama islam dalam membentuk karakter pada kegiatan pengajian kitab kuning
santri? seperti dipesantren umumnya, disitulah
ditanamkan nilai-nilai tersebut. Adalagi
proses internalisasi lain terkait nilai-nilai
agama Islam, yakni halaqah. Halaqah
dilaksanakan setelah istighotsah subuh
dimana ada 2 pemateri dari santri putra
dan putri yang diberikan judul terkait
keilmuan agama maupun keilmuan
umum, filsafat dan lain-lain. Kemudian
ada lagi untuk madrasah diniyah disini
kalau waktu malam
3 Apakah ada kegiatan-kegiatan yang Ada. Dalam hal ini, yang menjadi
diprogramkan secara khusus dalam rangka koordinator kegiatan santri adalah majelis
menginternalisasi nilai-nilai agama Islam? santri, ada departemen-departemen yang
menjalankan kegiatan di pesantren ini.
Sebagai contoh ada departemen
peribadatan dan takmir yang mengurus
terkait pengajian dan juga kegiatan
istighotsah, dzikir dan lain-lain. Ada lagi
contoh seperti nilai sosial kemanusiaan
yang dikoordinir oleh kesra dalam hal
kesehatan santri. Kemudian sarpras,
misalkan ada proses pembenahan
pesantren, nanti dari sarpras yang menjadi
penanggungjawab. Kemudian untuk
masalah tahlil dan lain-lain ke ranah
depkom info

4 Siapa saja yang terlibat dalam Pertama tentu Gus Danial dan Ibu Nyai
menginternalisasi nilai-nilai agama Islam Uti Nur Hidayati selaku pengasuh
tersebut? sekarang ini menggantikan almarhum
Prof. Dr. KH. Ahmad Muhdhor,
kemudian majelis santri yang
mengkoordinir semua kegiatan pesantren.
Nah, tak kalah penting juga yakni santri
sendiri yang tentu ikut mensukseskan
proses
5 Apakah ada faktor pendukung dan Faktor pendukung yang pertama menurut
penghambat dengan adanya internalisasi saya dari segi keilmuan yang dimiliki
nilai-nilai agama Islam dalam membentuk dewan Kyai, kemudian faktor
karakter santri? kenyamanan yang ada di pesantren ini
dan juga tergolong murah, lalu dengan
adanya kegiatan-kegiatan yang mampu
mengoptimalisasi bakat-bakat yang ada
pada santri karena disini juga ada banyak
ekstra seperti FORKAFI, JQH dan ekstra-
ekstra yang lain. Kemudian untuk faktor
penghambat kalau menurut saya pertama
rasa malas yang sering muncul, juga
karena terlalu capek untuk tugas-tugas
dikampus
6 Apa ada dampak dari internalisasi nilai- Jelas ada, kenapa saya bilang demikian,
nilai agama Islam terhadap karakter santri? seperti bertambahnya pengetahuan agama.
Dengan bertambahnya pengetahuan
agama tersebut, santri menjadi lebih
paham bagaimana bersikap kepada
sesama dan bagaimana bersikap kepada
Allah SWT. Seperti jadi taat dalam
menjalankan ibadah kepada Allah dengan
menjalankan perintahNya dan menjauhi
laranganNya dan untuk bersikap kepada
sesama seperti menghormati yang lebih
tua dan menyayangi yang lebih muda,
termasuk juga taat dalam menjalakankan
peraturan yang ada di pesantren ini
7 Bagaimana hasil yang telah dicapai Hasil yang dicapai dari program-program
(apakah sudah berhasil atau kurang kegiatan yang ada disini dapat dilihat dari
maksimal atau gagal)? Bagaimana setiap akhir tahun pengurusan, nanti ada
tanggapan anda tentang nilai-nilai agama laporan pertanggungjawaban yang
Islam? menjadi laporan kepada seluruh santri dan
juga kepada ndalem jadi dalam
keterkaitan dengan hasil sudah atau bisa
dikatakan berhasil tapi mungkin ada
beberapa yang kurang maksimal karena
dengan banyaknya program tentunya
masih ada, celah sebagaimanapun anda
memprediksi dari awal sampai akhir tapi
tetap dalam perjalanannya proses akan
ada rintangan yang mana nanti bisa
menjadi hambatan juga. Secara
keseluruhan saya rasa cukup berhasil
meskipun ada beberapa yang kurang
maksimal.

TRANSKIP WAWANCARA DENGAN KEPALA MADRASAH DINIYAH


Informan : Ust. Abd. Kholiq
Hari/Tanggal : Kamis, 27 September 2018
Tempat : Kamar AHA 7 Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Nilai-nilai keislaman yang dikembangkan
dikembangkan di Pesantren Luhur? dilembaga tinggi luhur ini sebenarnya
sama dengan pesantren umumnya yang
berkaitan dengan pokok-pokok islam yang
dalam hadits, ada istilah iman, islam dan
ihsan. Kalau iman melambangkan kita
belajar akidah, islam tentang syari‟ah
aturan-aturan sehari-hari, ihsan itu
bagaimana kebaikan kita tata cara
berperilaku, cuma ruang lingkupnya kita
kan dipesantren yang bagi mahasiswa.
Jadi, bagaimana ketika poin tersebut bisa
diterapkan di mahasiswa yang notabennya
kalau mahasiswa dikampus itu kan punya
ego yang lebih tinggi dibandinga dengan
sekedar mahasiswa yang masih sekolah
SMA, Mts dan lainnya
2 Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai Untuk proses internalisasinya sama seperti
agama Islam dalam membentuk karakter pesantren pada umumnya. Jadi, terdapat
santri? kajian-kajian yang bersifat teoritis seperti
pengajian kitab; ada kitab fiqih, ada kitab
akidah dan kitab akhlak yang diampu oleh
beberapa pengajar yang tentunya memiliki
karakter yang berbeda. Disisi lain, untuk
pengajian yang dipesantren luhur yang
sifatnya umum, teman-teman yang sudah
tidak diniyah itu ngaji langsung ke dewan
Kyai karena dianggap sudah mampu,
sudah memiliki beberapa bekal mengaji
kitab yang lebih tinggi. Namun, disisi lain
ada beberapa santri-santri yang memang
notabenenya masih baru masuk pesantren
ataupun yang dulu pernah mondok tapi
kemampuannya masih kurang, jadi
mereka masuk ke kelas diniyah. Diniyah,
di Pesantren Luhur ini terbatas waktunya
tidak seperti pesantren yang lain, kalau di
pesantren lain kan diniyahnya lebih
banyak waktunya, lebih panjang dan
mungkin bahasanya lebih teratur. Kalau
disini biasanya temen-temen kalau sudah
empat tahun kebanyakan sudah boyong,
jadi mau gak mau diniyah disini lebih
dipres difokuskan ke pemahaman, jadi
paling tidak santri sudah masuk satu
sampai dua tahun minimal sudah ada
bekal nanti untuk siap ngaji bersama
dewan kiai karena sudah ada pokok-
pokok yang bisa diamalkan di kehidupan
sehari-hari.
3 Bagaimana metode yang dilaksanakan Metodenya dapat kita lihat melalui
dalam menerapkan internalisasi nilai-nilai pengajian. Di pesantren ini pengajian
agama Islam? dibagi dua, pengajian umum dan diniyah.
Untuk pengajian umum biasanya dengan
Kyai-Kyai sepuh, ya cuma jadi penyimak,
mendengarkan, memaknai, tidak ada
interaksi aktif dari pesertanya. Namun,
beda ketika nanti untuk ke diniyah
biasanya ustadz-ustadznya sebagian
mennjelaskan dulu baru kemudian nanti
ada sesi Tanya jawab, namun juga ada
lain pengampu yang memiliki metode
lain. Kadang santri diberi tugas untuk
semacam presentasi-presentasi tentang
materi terkait. Diniyah dibagi menjadi 3
kelas ada kelas A, B, C.
4 Bagaimana upaya untuk menginternalisasi Jadi, upaya-upaya yang dilakukan untuk
nilai-nilai agama Islam kepada santri menginternalisasi ajaran agama islam
sehingga dapat membentuk karakter santri? yuang pertama kalau dari pengampunya
sendiri, kita dalam waktu seminggu sekali
ada yang namanya upgrading, jadi para
pengampu nanti ada semacam ajang
menaikkan level ajarannya, kita sharing
dengan yang lain materi-materi bahasan
nanti untuk pengajaran agar ada yang
lebih baik lagi ataupun ada yang kurang
nanti di evaluasi. Terus untuk yang
pengajaran di kelas biasanya ada tugas,
mungkin ada yang buat tugas harian atau
ada yang buat pr dan di sini juga ada UTS
juga Ujian Tengah Semester jadi nanti
kalau masuk pertengahan semester ada
ujian terkait materi-materi yang diajarkan
dari awal sampai tengah semester dan
juga untuk yang diakhir semester ada
Ujian Akhir Semester (UAS). Khusus
untuk diniyah ujiannya lebih beda kalau
diniyah B dan C itu ujiannya fokus ke
tulis dan untuk diniyah A mereka ujiannya
disuruh tampil untuk murojaah atau
mengaji dihadapan temen-temen ketika
ada Kyai yang berhalangan hadir
5 Apakah ada faktor pendukung dan Sebenarnya yang saya amati itu sebagian
penghambat dengan adanya internalisasi teman-teman itu diberi contoh yang baik
nilai-nilai agama Islam dalam membentuk kadang tidak mengikuti apalagi tidak
karakter santri? diberi contoh. Namun, di sisi lain juga ada
beberapa orang yang memang termotivasi
dengan beberapa santri senior, misalnya
yang rajin sholat yang rajin ibadah dan
sebagainya ada yang menginspirasi.
Namun di sisi lain juga ada juga santri
yang sudah melihat orang itu harus perfect
semua jadi seolah-olah tidak boleh
melakukan hal yang salah, seandainya dia
memiliki sesuatu yang istiqomah jadi rajin
ngaji ya rajin yang lain-lain, namun suatu
ketika dia ada udzur sehingga dia tidak
melaksanakan, pandangan si santri
tersebut bisa langsung berubah, jadi faktor
pendukung yang utama itu contoh yang
baik (uswah hasanah) itu biasanya dari
para santri senior kepada juniornya. Jadi,
upaya yang mendukung internalisasi itu
pertama yaitu diberi contoh, khususnya
dari para pengajar di madin. Para ustadz-
ustadznya itu paling tidak menunjukkan
karakter mereka sebagai ustadz. Jadi,
tidak hanya ketika mereka di kelas
mengajarkan teori-teori ini aja tapi juga
benar-benar diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga, santri
memandang bahwa benar-benar
mengamalkan ilmunya, jadi mereka
termotivasi untuk mengamalkan. Beda
lagi nanti kalau gurunya cuma
menjelaskan materi-materi, di praktek
kehidupannya pun juga tidak menjalankan
kan gurunya dianggap sebagai bualan
belaka. Jadi kalau bagi saya factor
pendukung utama yaitu uswatun hasanah.
Penghambatnya yaitu di sini kan kita
mahasiswa, ada banyak kesibukan
dikampus. Nah itu yang jadi kendala
maksudnya bagaimana kita bisa
melakukan hal yang baik kepada si murid,
kadang kita terkendala kesibukan kita
dikampus. Misalnya kan jam sore habis
ashar kita harus ngaji, ternyata tugas
dengan kegiatan kita kuliah dikampus
atau kegiatan yang lain, sehingga khawatir
kalau si murid itu tidak paham dikira yang
senior atau guru kita malah tidak
mencontohkan hal-hal yang baik, itu yang
menghambat kurang lebih seperti itu
6 Apa ada dampak dari internalisasi nilai- Jadi insyaallah sebagian sudah ada yang
nilai agama Islam terhadap karakter santri? berubah dari karakter teman-teman,
namun mungkin ada tambahan lagi untuk
di pesantren ini, ada hal yang berbeda
dengan pesantren yang lain. Khususnya
pesantren salaf, kalau pesantren salaf kan
biasanya banyak hafalan, banyak hal yang
harus dihafal, sedangkan di sini itu kurang
lebih kita bisa hidup dalam kemandirian.
Jadi, kalau di pesantren ini dituntut mau
gak mau harus mandiri. Nanti tergantung
individu masing-masing, memang
semangatnya kuat dari awal masuk
sampai akhir, insyaallah nanti jika
awalnya masih nol ada perubahan. Dari
beberapa santri yang dilihat memang dari
awal masih kurang tapi karena iktikadnya
baik ya berubah. Tapi di sisi lain kembali
pada kesadaran sendiri-sendiri kadang
yang dari awal baik malah kelamaan
mungkin ada yang berkurang, jadi
kembali ke diri sendiri khusuhnya di
pesantren ini
7 Bagaimana hasil yang telah dicapai Jadi tanggapan terkait nilai-nilai islam
(apakah sudah berhasil atau kurang seperti yang bagaimana seperti pertanyaan
maksimal atau gagal)? Bagaimana awal itu nilai islam kembali ketika tentang
tanggapan anda tentang nilai-nilai agama iman, islam, ihsan dan ketika porsi
Islam? tersebut kalau bisa itu harus imbang
kesemuanya, tidak boleh ada yang terlalu
condong, ekstrim salah satunya, misalkan
ada orang yang terlalu fokus ke masalah
syari‟ah fiqih tapi tidak mengedepankan
masalah akhlak dan akidah nanti kan kaku
dan begitu juga sebaliknya ada orang yang
fokus ke masalah akhlak dan
mengabaikan masalah fiqih dan akidah.
Itu nanti menjadi macam orang yang
liberal lah. Jadi, kita itu orang islam itu ya
bahasanya itu moderat tidak terlalu
ekstrim kanan tidak terlalu ekstrim kiri.
Kita bisa menerima perubahan, kita juga
tidak terlalu bebas, tidak terlalu kaku
berkaitan bagaimana menjalankan tujuan
kita sebagai orang islam.
TRANSKIP WAWANCARA DENGAN SANTRI
Informan : Alfin Khoirun Ni‟am
Hari/Tanggal : Selasa, 25 September 2018
Tempat : Studio Bunga Tanjung Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Ada 3 hal pokok yang menjadi nilai
dikembangkan di Pesantren Luhur? agama Islam yang pertama bidang akidah,
kedua bidang syari‟at ataupun
penghambaan kita cara menyembah
kepada Allah dan yang ketiga dalah
bidang akhlak. Nah, apa saja yang
dikembangkan di Pesantren Luhur ini
insyaallah ketiganya sudah mencakup
yang diajarkan di pesantren ini mulai dari
akidah, syari‟at ataupun akhlak. Yang
mana nilai tersebut diajarkan melalui
pengajian ataupun madrasah diniyah, ada
pembelajaran tauhid, mulai dari kitab
awal yakni aqidatul awwam sampai
syarahnya nurud dholam. Saat pelajaran
syari‟at disini juga menggunakan dasar
seperti kitab taqrib sampai fathul qorib
juga diajarkan lagi nanti kalau sudah lulus
dari madrasah diniyah langsung ke
pengajian dibawah bersama Kyai. Nah,
untuk akhlak sendiri juga diajarkan di sini
menggunakan kitab adabul „alim wal
muta‟allim dan juga pernah mengkaji
kitab taisirul kholaq dengan dewan Kyai
itulah beberapa poin pengajaran di
Pesantren Luhur ini.
2 Bagaimana cara seorang Kyai atau Ustadz Sebelum itu dalam menginternalisasikan
dalam menginternalisasi nilai-nilai agama nilai-nilai ada beberapa tahapan, nah
Islam terhadap santri? tahapan internalisasi sendiri yang pertama
yaitu mengajarkan dan memberitahu
kepada santri bagaimana mengajarkan
ilmu tersebut. Mulai dari awal, sebagai
contoh kita ambil dalam bidang syari‟at
seperti sholat, bagaimana Kyai ataupun
Ustadz di pesantren ini menjelaskan teori
ataupun menjelaskan tata cara sholat
dengan benar, baik dari takbirotul ihrom
sampek salam itu dijelaskan secara rinci.
Setelah itu diadakan percontohan oleh
Ustadz tersebut bagaimana caranya
melakukan dengan benar mungkin salah
satunya ada sunnah-sunnah ketika
mengangkat tangan, mungkin kalau di
kitab hanya bertulis sebelum rukuk
setelah rukuk, berdiri setelah duduk
tahiyat awal. Itu kalau langsung masuk
teori saja mungkin santri juga akan
ngebayang-bayangkan. Nah di situ Ustadz
langsung mencontohkan bagaimana cara
pelaksanaan syari‟at itu
3 Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk Untuk kegiatan yang dilakukan dalam
melakukan internalisasi nilai-nilai agama menginternalisasi nilai-nilai agama Islam
Islam di Pesantren Luhur? di Pesantren Luhur, ada kegiatan yang
wajib ataupun lazim dilakukan oleh santri
baru yaitu ada yang namanya evaluasi
istighotsah dimana penanaman
pembiasaan istighotsah tersebut kepada
santri baru “dipaksa” untuk menghafalkan
apa yang namanya istighotsah-istighotsah
khusus ataupun ciri khas dari Pesantren
Luhur. Tapi, di situ ditanamkan
bagaimana setelah santri tersebut
menghafal istighotsah secara baik, secara
kontinyu santri-santri merasakan gimana
nikmatnya melakukan istighotsah nanti
setelah menghafalkan istighotsah secara
menyeluruh dia akan terbiasa, santri
tersebut akan merasa bila tidak
melaksanakan istighotsah ada yang
kurang dalam kegiatannya sehari-hari.
Mungkin dari sisi madin, yang diwajibkan
untuk santri satu maupun dua tahun di
sini.
4 Apa dampak yang anda rasakan dari Salah satu contoh kegiatan istighotsah tadi
internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam itu dari saya bisa mengajarkan mulai dari
membentuk karakter anda? keterpaksaan menjadi sampai kita ikhlas
dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
Juga salah satu contoh pelaksanaan akhlak
internalisasi yang saya dapatkan
bagaimana kita memiliki rasa
tanggungjawab, rasa memiliki pesantren
ini. Apabila kita ada rasa tersebut, kita
mungkin menjadi orang yang sedikit
berbeda, makanya lambat laun saya
berada di sini karakter saya sendiri itu
berubah seiring mengikuti nilai yang
terkandung di pesantren ini, seperti nilai
yang terkandung di sini contohnya itu
triple co, co. relationship, co.
determination, dan co. responsibility.
Saling memiliki, saling menentukan dan
saling tanggung jawab, itu lambat laun
saya memiliki karena ditunjukkan dari ciri
khas pesantren itulah yang terjadi
membentuk karakter-karakter santri yang
nyantri di Pesantren Luhur ini.
5 Bagaimana cara anda melaksanakan nilai- Caranya dengan mengistiqomahkan apa
nilai agama Islam yang sudah disampaikan yang saya dapatkan di pesantren ini untuk
oleh Kyai atau Ustadz ketika anda di luar dibawa keluar lingkungan pesantren
Pesantren Luhur? seperti contoh kita memiliki istighotsah
yang berbeda mungkin bagaimana kita
caranya mengistiqomahkan istighotsah
tersebut setiap subuh dan maghrib. Itu
mungkin jadi tantangan bagi kita tetapi
kita mencoba untuk terus melanggengkan,
terus membudayakan budaya yang
menjadi ciri khas pesantren ini dan sudah
membentuk karakter-karakter santri. Pun
juga 3 co itu bagaimana kita
menerapkannya di luar pesantren, di luar
lingkungan pesantren luhur dan dibawah
lingkungan rumah masyarakat itu kan
juga menjadi sebuah tantangan antara
saya mungkin secara sederhana yaitu saya
mencoba untuk melanggengkan apa yang
sudah saya dapatkan di sini dan apa yang
sudah saya lakukan di sini untuk dibawa
ke rumah secara terus menerus begitu

TRANSKIP WAWANCARA DENGAN SANTRI


Informan : M. Syarifuddin Al Mubarok
Hari/Tanggal : Selasa, 02 Oktober 2018
Tempat : Studio Bunga Tanjung Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Untuk nilai-nilai agama Islam yang
dikembangkan di Pesantren Luhur? dikembangkan di Pesantren Luhur ini
saya kira sudah mencakup apa yang
disebut dengan nilai islam itu sendiri
secara general. Jadi, kalau seumpama
disebutkan seperti ada nilai akidah, ada
juga nilai syari‟ah, dan juga nilai akhlak
semua itu diajarkan dipesantren luhur.
Pada dasarnya di semua pesantren itu
diajarkan seperti itu, contohnya
seumpama nilai akidah itu sudah
terinternalisasi dan istilahnya sudah
diajarkan di diniyah ataupun di ngaji-gaji
Dewan Kyai. Seperti mempelajari kitab,
pada tingkatan diniyah itu diajarkan kitab
taisirul kholaq kemudian di pengajian
Dewan Kyai itu kita diajarkan kitab
adabul „alim wal muta‟allim. Nah, itu
sudah diajarkan secara teoritis bagaimana
kita berhubungan, menyusun hubungan
dengan Allah, hablum minallah, hablum
minannas, dan juga kita bagaimana
berhubungan dengan lingkungan itu sudah
diajarkan semua disana bagai penuntut
ilmu
2 Bagaimana cara seorang Kyai atau Ustadz Cara seorang kiai atau ustadz dalam
dalam menginternalisasi nilai-nilai agama menginternalisasi nilai-nilai agama Islam
Islam terhadap santri? di Pesantren Luhur ini, saya kira sudah
cukup bagus dimana para Kyai itu sudah
mengajarkan kitab terkait dengan kitab
akhlak, kitab akidah dan sebagainya itu
diajarkan semua di Pesantren Luhur.
Dewan Kyai itu mengajarkan secara
menyeluruh tapi kalau dalam
aktualisasinya itu ditopang oleh majelis
santri bagaimana cara keamanan dalam
mengcover santri seperti pengajian,
seperti jamaah, seperti halaqoh dan lain
sebagainya. Itu tercover oleh majelis
santri dimana peran majelis santri itu
untuk mengawal teman-teman, mengawal
santriwan santriwati untuk aktif dalam
kegiatan tersebut. Untuk bisa sumbangsih
dalam kegiatan tersebut, untuk
mengimplementasi nilai-nilai yang sudah
diajarkan oleh Dewan Kyai dalam
kehidupan santriwan santriwati itu sendiri.
Saya kira sudah tercover oleh hal tersebut
sehingga santri mampu mempelajari apa
itu nilai akidah, nilai hubungan dengan
manusia, nilai hubungan dengan Allah,
nilai hubungan dengan lingkungan
3 Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk Internalisasi nilai-nilai agama Islam di
melakukan internalisasi nilai-nilai agama Pesantren Luhur sangat banyak
Islam di Pesantren Luhur? kegiatannya, banyak seperti yang pertama
kegiatan wajib di Pesantren Luhur ada
jamaah, jamaah yang diwajibkan adalah
jamaah subuh dan maghrib yang terus
dicover oleh majelis santri. Karena setelah
jamaah subuh dan jamaah maghrib itu ada
kegiatan lainnya seperti kegiatan wajib
istighotsah, kemudian ada halaqoh.
Istighotsah itu membentuk karakter santri
dimana santri itu menghafalkan wirid-
wirid, menghafalkan hizib-hizib yang
nantinya akan sangat berguna bagi
teman-teman santriwan santriwati untuk
bisa diaplikasikan di kehidupan sosial.
Kemudian dengan pengajian saya rasa
sudah cukup untuk menjawab dengan
pertanyaan pertama tadi, kemudian ada
kegiatan sunnah lainnya seperti kegiatan
roan, kerja bakti, hal itu diajarkan di
Pesantren Luhur dimana roan itu sendiri
merupakan cara-cara santriwan santriwati
untuk bekerjasama untuk merawat
lingkungan pesantren. Hal itu sangat
berguna bagi teman-teman santriwan
santriwati untuk memberikan sumbangsih
terhadap masyarakat yang ada di
daerahnya kelak. Kemudian ada kegiatan
lainnya seperti halaqoh, halaqoh itu
sendiri merupakan salah satu kajian
ilmiah dimana santriwan santriwati itu
mengkaji terkait dengan tema yang sangat
umum, sangat luas. Kegiatan lainnya
seperti yang kita ketahui bersama ada
pembacaan sholawat nabi, sholawat
berjanzi dan juga maulid simtudduror,
kegiatan ini merupakan kegiatan sunnah
untuk santri dimana dilaksanakan di tiap
malam senin dan itu sangat berguna bagi
santri dimana santri diajarkan untuk cinta
kepada nabinya, cinta kepada Allah dan
juga kegiatan lain seperti kegiatan
tahlilan, yasinan yang mana hal ini juga
dijadwal, jadi semua santri itu diharapkan
bisa untuk memimpin tahlilan, memimpin
yasinan yang ada di masyarakat kelak
4 Apa dampak yang anda rasakan dari Dampak yang saya rasakan dari
internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam
membentuk karakter anda? karakter saya, kalau di pesantren ini
sendiri memang islam diajarkan ajaran
komplit dimana islam itu diajarkan dari
segi fiqihnya, akhlaknya, dari segi
tasawwufnya dan lain sebagainya itu
diajarkan di pesantren ini. Impactnya
terhadap yang saya rasakan dimana saya
merasa lebih baik, istilahnya ketimbang
dibandingkan dengan saya tidak mondok
di pesantren mungkin saya tidak memiliki
kapabilitas untuk mengerti tentang Islam
itu sendiri. Saya rasa dipesantren luhur ini
sudah diajarkan semua tentang
internalisasi nilai-nilai agama Islam yang
ada di kehidupan. Tergantung cara
santriwan santriwati untuk menjalankan
hal tersebut
5 Bagaimana cara anda melaksanakan nilai- Menjalankan nilai-nilai agama Islam itu
nilai agama Islam yang sudah disampaikan tidak terbatas oleh waktu, tidak terbatas
oleh Kyai atau Ustadz ketika anda di luar tempat, ataupun tidak terbatas oleh
Pesantren Luhur? suasana dan lain sebagainya, jadi tidak
terbatas akan hal tersebut. Tapi yang
paling penting dalam internalisasi nilai-
nilai tersebut adalah sejauh mana dia
paham, sejauh mana ia akan melakukan,
sejauh mana ia akan mengetahui dan
sejauhmana ia akan menjadi. Nah, itu
merupakan hal yang terpenting, jadi
bagaimana dia mempelajari learning to
do, yang pertama itu learning to know
bagaimana cara dia untuk mengerti
kemudian bagaimana cara dia belajar
untuk memahami kemudian bagaimana
dia belajar untuk melakukan internalisasi
nilai-nilai tersebut kemudian bagaimana
cara dia untuk menjadi insan yang lebih
baik dari sebelumnya

TRANSKIP WAWANCARA DENGAN SANTRI


Informan : Faiq Dzihnan
Hari/Tanggal : Sabtu, 29 September 2018
Tempat : Kamar AHA 7 Lembaga Tinggi Pesantren Luhur
Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Nilai-nilai agama Islam yang
dikembangkan di Pesantren Luhur? dikembangkan di Pesantren Luhur ini
mencakup segala hal, mulai dari nilai
akidah, maupun nilai syari‟ah dan nilai
akhlaknya, semuanya dikembangkan di
Pesantren Luhur. Kalau nilai akidah
mungkin dalam pengajian kita mengaji
kitab-kitab tauhid, dimana membahas
tentang sifat ilahiyah dan nanti
hubungannya dengan iman kita, jadi itu
nilai akidah. Kemudian untuk nilai
syari‟ahnya kita juga mengkaji kitab-kitab
fiqih, seperti kitab Asybah wa Nadhoir,
fathul qorib dan lain-lainnya yang
tujuannya itu agar kita mengerti syari‟ah
dalam ibadah-ibadah sehari-hari kita.
Kemudian untuk nilai akhlak, seperti
nashoihul „ibad, mencakup segala hal
dalam kehidupan yang berkaitan dengan
akhlak yang baik
2 Bagaimana cara seorang Kyai atau Ustadz Yang pertama pastinya dengan
dalam menginternalisasi nilai-nilai agama penyampaian secara langsung ketika
Islam terhadap santri? pengajian, penyampaian baik secara teori
dalam kitab kemudian ada juga dengan
teladan karena beberapa Ustadz di
Pesantren Luhur ini juga santri senior
sehingga kehidupan sehari-harinya pun
kita juga ikut berbaur sehingga
peneladanan juga sangat berpengaruh
terhadap internalisasi nilai-nilai agama
Islam tersebut. Kemudian, mereka juga
sering mengarahkan santrinya misal
ketika kita ada yang salah langsung
dibenarkan
3 Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk Ya kalau secara struktural, di sini ada
melakukan internalisasi nilai-nilai agama peraturan yang sifatnya memaksa
Islam di Pesantren Luhur? terhadap santri. Jadi, santri ini diwajibkan
untuk ikut di beberapa kegiatan. Nah,
ketika kita tidak mengikuti maka otomatis
ada ta‟zirannya. Nah, itu proses kegiatan
yang menginternalisasi nilai-nilai agama
Islam tersebut, akan tetapi pada dasarnya
kan karena santrinya juga mahasiswa,
mereka kan sudah mengetahui apa yang
baik bagi mereka dan apa yang tidak baik
bagi mereka.
4 Apa dampak yang anda rasakan dari Saya sebagai santri baru dulu sangat
internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam merasakan sekali perubahan-perubahan
membentuk karakter anda? yang saya alami, karena ketika santri baru
dulu saya masih agak apatis dengan
kegiatan pondok, masih kurang bergaul
dengan teman-teman santri senior
sehingga dengan adanya orientasi saya
disadarkan bahwa kita pada dasarnya di
sini sebagai salah satu masyarakat juga
sehingga kita juga memiliki kewajiban
untuk berbaur berinteraksi dengan santri-
santri yang lain dan juga ikut berjuang
dalam kegiatan Pesantren Luhur ini baik
secara ikhlas maupun tidak
5 Bagaimana cara anda melaksanakan nilai- Sekali lagi kita kembali ke akhlak, jadi
nilai agama Islam yang sudah disampaikan saya sangat setuju sekali ketika di
oleh Kyai atau Ustadz ketika anda di luar pesantren ini akhlak ditekankan karena
Pesantren Luhur? ketika kita di masyarakat, keintelektualan
kita itu nomor dua, yang lebih penting itu
akhlak. Jadi, meskipun kita pintar tapi
ketika akhlak kita tidak baik dengan
tetangga-tetangga kita, maka kita akan
dipandang rendah sehingga akhlak itu
benar sekali ketika ditekankan di sini.
Kemudian, untuk nilai-nilai lain seperti
syari‟at, dalam penerapannya ketika
dimasyarakat misalnya kita disuruh
tahlilan ya kita memiliki kewajiban untuk
maju mungkin ketika tidak ada yang bisa
menjadi imam tahlil, kita berkewajiban
untuk menjadi imamnya, ketika kita
disuruh melakukan hal-hal yang berkaitan
dengan agama misalnya perawatan
jenazah mungkin ataupun hal-hal yang
lain yang mungkin untuk orang awam
yang tidak mengerti agama, yang tidak
nyantri itu sangat-sangat susah sekali. Nah
itu menjadi kewajiban kita sebagai santri

TRANSKIP WAWANCARA DENGAN SANTRI


Informan : Fatkhur Rozi
Hari/Tanggal : Rabu, 26 September 2018
Tempat : Kamar B.2 Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

No Transkip Wawancara Jawaban


1 Nilai-nilai agama Islam apa saja yang Di Pesantren Luhur ini banyak sekali
dikembangkan di Pesantren Luhur? nilai-nilai agama Islam yang pertama
yaitu nilai ketakwaan, nilai ketakwaan di
pesantren ini sangat dikuatkan terutama
dalam hal jamaah, jamaah diwajibkan
bagi semua santri terutama jamaah
maghrib dan subuh karena disitu kita ada
istighotsah bersama. Istighotsah bersama
itu berbeda dengan pesantren-pesantren
lain yaitu karena banyak rangkaian wirid
yang sudah disusun oleh Prof. Dr. KH
Ahmad Muhdhor, S.H. dari situ dari
amalam-amalan tersebut diharapkan
seluruh santri bisa mengimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari sehingga
nantinya ketika lulus dari sini yaitu
menjadi manusia yang minimal menjadi
semakin baik, seperti itu. Yang kedua
yaitu nilai-nilai akhlak, bagaimana
caranya, yaitu ada materi-materi yang
mengenai akhlak seperti adabul „alim wal
muta‟allim di sini tuh dikaji rabu malam
kamis dengan dewan Kyai yaitu Ustadz
Zakaria, beliau juga salah satu alumni
atau ahli ma‟had Pesantren Luhur ini
2 Bagaimana cara seorang Kyai atau Ustadz Pertama cara dewan Kyai untuk
dalam menginternalisasi nilai-nilai agama mengajarkan kepada santrinya yaitu denga
Islam terhadap santri? uswatun hasanah, nah biasanya dengan
memberi tausiyah, beliau juga memberi
contoh yang baik dulu. Seperti nilai
ketakwaan ya beliau menunjukkan
bagaimana seorang muslim yang taqwa
kepada Allah itu seperti apa. Kemudian
nilai akhlak, bagaimana akhlak beliau
kepada sesama teman, kepada orang yang
lebih tua, dan kepada orang yang lebih
muda
3 Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk Kalau dipesantren luhur malang ini
melakukan internalisasi nilai-nilai agama kegiatannya sangat banyak sekali ya mas
Islam di Pesantren Luhur? terutama kegiatan di pagi hari itu ada
jamaah subuh disambung dengan
istighotsah, kemudian ada halaqoh ilmiah.
Halaqoh ilmiah itu biasanya dimulai
setengah enam sampai jam enam lima
belas, terkadang juga sampai jam enam
tiga puluh. Disitu kita mempelajari
berbagai macam ilmu baik ilmu agama
maupun ilmu pengetahuan umum,
kemudian disambung ketika sore itu ada
pengajian kitab salaf ada berbagai bidang
kitab nahwu, ada kitab akhlak, dan ada
juga kitab mengenai fiqih dan tasawwuf.
Kemudian malamnya juga disambung
dengan pengajian lagi yaitu setelah sholat
isyak ada pengajian-pengajian kitab salaf
juga, nah seluruh santri diwajibkan
mengikuti kegiatan pengajian tersebut,
ada yang kegiatan di diniyah dan ada juga
yang mengikuti pengajian umum.
Biasanya yang diniyah itu yang santri
baru, baik yang satu tahun di Pesantren
Luhur ini ataupun dua tahun di pesantren
4 Apa dampak yang anda rasakan dari Dampak yang saya rasakan selama saya
internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam menjadi santri di Pesantren Luhur ini,
membentuk karakter anda? yakni yang pertama banyak sekali
pengetahuan-pengetahuan yang belum
saya dapatkan di luar pesantren ini karena
di sini mempelajari berbagai macam ilmu,
dari ilmu agama, ilmu pengetahuan
umum, ilmu sosial dan lain-lainnya.
Dampaknya ya saya bisa memetik ilmu-
ilmu tersebut meskipun belum sempurna
terutama dalam kehidupan sosial bisa
berinteraksi dengan masyarakat,
berinteraksi dengan orang yang lebih
muda, yang lebih tua kemudian
dampaknya lagi yaitu kita sebagai santri
itu bisa mengatur jadwal agar semua bisa
terlaksana dengan baik, baik kuliah
maupun kegiatan pesantren. Itu sebagai
santri kita seharusnya bisa memanage diri
kita sendiri, seperti itu mas
5 Bagaimana cara anda melaksanakan nilai- Cara saya melaksanakan nilai-nilai agama
nilai agama Islam yang sudah disampaikan di luar pesantren, yang pertama saya
oleh Kyai atau Ustadz ketika anda di luar berusaha keras bagaimana diri saya bisa
Pesantren Luhur? melakukan kegiatan-kegiatan di pesantren
itu dapat saya terapkan di luar pesantren,
contohnya ketika jamaah sholat, di sini
dilatih untuk jamaah minimal sholat
subuh maghrib, kalau bisa ya seluruh lima
waktu itu kita jamaah. Alhamdulillah
setelah saya di sini saya kurang lebih tiga
tahun saya bisa merubah diri saya dan
bisa melakukan itu. Yang pertama jamaah
dan yang kedua kegiatan-kegiatan yang
positif seperti ada tadarus Al-Qur‟an,
pengajian-pengajian oleh dewan Kyai dan
lain-lain itu bisa diterapkan diluar
pesantren yaitu seperti mengikuti
kegiatan-kegiatan ta‟lim seperti mengikuti
kegiatan pengajian, majelis sholawat dan
lain-lain
Lampiran 5 Jadwal KBM Madrasah Diniyah
JADWAL KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR SEMESTER GANJIL
MADRASAH DINIYAH AT-TAHDZIBIYAH TAHUN AJARAN
2017/2018
HARI KELAS KELAS A KELAS B KELAS B KELAS C KELAS KELAS
A PA PI Pa Pi Pa C1 Pi C2 Pi
Senin Sorogan - Nahwu (6) Nahwu (5) Tajwid (5) Shorof Nahwu (9)
(4) (11)
Selasa - Sorogan Tajwid (5) Tajwid (10) Fiqih (3) Nahwu (9) Tauhid
(3) dan Imla‟
(4)
Rabu Sorogan Sorogan Shorof (10) Fiqih (5) Nahwu (8) Fiqih (6) Shorof
(4) (1) (11)
Kamis - - Tauhid dan Shorof (7) Tauhid dan Tauhid (4) Tajwid (8)
Imla‟ (9) Imla‟ (7)
Jumat Sorogan Sorogan Fiqih (4) Tauhid dan Shorof (1) Tajwid (8) Fiqih (6)
(2) (2) Imla‟(4)
Keterangan:
Ustadz Madin: Ustadzah Madin :
1. Ustadz Arif Subekti, 1. Ustadzah Tazkiyah
[Link].,M.A 2. Ustadzah Nabila Afada, S.H
2. Ustadz Moh. Yaskun, [Link].I 3. Ustadzah Lu‟luil Masruroh,
3. Ustadz M. Irfan Ubaidillah, [Link]
[Link].I 4. Ustadzah Siti Ilmiyah, [Link]
4. Ustadz Abdul Kholiq 5. Ustadzah Nilna Husnatin
5. Ustadz Fatkhurrozi, [Link] Zuhriyah, [Link]
6. Ustadz M. Alfin Khoirun 6. Ustadzah Choirun Nillah
Na‟im 7. Ustadzah Rifa Maulida
7. Ustadz Ibnu Ubaidillah Hidayati
8. Ustadz Hakmi Kurniawan, 8. Ustadzah Umi Mahfudloh
S.H.,[Link].I 9. Ustadzah Siti Masithoh
9. Ustadz M. Syarifuddin Al 10. Ustadzah Lailatus Sholihah
Mubarok 11. Ustadzah Ani Hardiyanti
10. Ustadz Faiq Dzihnan Attamami
Lampiran 6 Jadwal Pengajian Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

JADWAL PENGAJIAN HARIAN

LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR MALANG TAHUN 2018

NO HARI KITAB DEWAN KYAI WAKTU


1. Senin Al-qowaidun nahwi al-wadhifi Dr. KH. Nur Yasin Sore
 „Idhotun Nasyiin
 Jawahirul Balaghoh Dr. KH. Badrudin, [Link] Malam
 Al-adzkar an-nawawiyyah

2. Selasa Nashoihul „ibad Dr. KH. Suwandi, M.H Sore

 Tafsir jalalain Ust. Bahrun Amiq, [Link] Malam


 Bulughul Marom
3. Rabu Al-kawakib ad-durriyyah Dr. KH. Suwandi, M.H Sore

 Adabul „alim wal muta‟allim


Ust. Muhammad Zakariya, Malam
[Link]
4. Kamis Bada‟iuzzuhur Dr. Danial Hilmi, M,pd.i Sore
 Subulus salam
 Mau‟idhotul mukminin Dr. [Link], [Link] Malam

5. Ust. Busyro karim, [Link].i


Jum‟at Al-Ashbah wan-nadhoir, Sore

 Al-qur‟anul Karim/Ust Dwi Ary KH. Misbahul Munir Malam


Mursodo
Lampiran 7 Dokumentasi Penelitian
\

Kegiatan Halaqah
Kegiatan Istighosah

Kegiatan Kajian Kitab Kuning


Kegiatan Shalat Berjamaah

Kegiatan Shalat Berjamaah


Kegiatan Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah At-Tahdzibiyyah

Wawancara dengan santri Wawancara dengan santri

Wawancara dengan santri


Wawancara dengan santri

Wawancara dengan Rektor Madrasah


Diniyah Ust. Abd. Kholiq

Wawancara dengan Ketua Majelis Santri


Mujiburrohman
Lampiran 8 Biodata Mahasiswa
BIODATA MAHASISWA

Nama : Moch. Irfan Ubaidillah


NIM : 155770023
Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 07 Nopember 1993
Program Studi : Magister Pendidikan Agama Islam
Tahun Masuk : 2015/2016
Alamat Rumah : Belakang Pasar Pegirian no. 47 Rt.004 / Rw.013
Ampel, Semampir, Surabaya
No. Tlp Rumah/Hp : 085655833774
Riwayat Pendidikan :
1. MI KHM Noer Surabaya
2. SMP Wachid Hasyim Pusat 1 Surabaya
3. SMA Nurul Jadid Probolinggo
4. S1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
5. S2 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Alamat Email : alubaid27@[Link]

Malang, 11 Februari 2019


Mahasiswa,

Moch. Irfan Ubaidillah


NIM. 15770023

Anda mungkin juga menyukai