Permintaan Pelayanan Kesehatan dan Faktor-Faktornya
Permintaan Pelayanan Kesehatan dan Faktor-Faktornya
PELAYANAN KESEHATAN
Puji syukur penyusun hanturkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
petunjuk-Nya sehingga penyusunan makalah Prinsip-Prinsip Organisasi dapat
diselesaikan meskipun dalam bentuk yang sederhana.
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, tidak terlepas dari bantuan dan
partisipasi dari teman-teman dan juga dosen pengampub mata kuliah Ekonomi
Kesehatan yakni Bapak Amrun, SKM, [Link].
Makalah ini sangat penting terutama bagi saya selaku mahasiswa program
studi kesehatan masyarakat dimana saat menyusun makalah ini saya dapat
mengetahui tentang Apa itu ekonomi kesehatan serta hal-hal penting yang
mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Sebagai sebuah pengantar untuk mahasiswa kesehatan masyarakat,
pemahaman dasar atas ekonomi kesehatan sangat diperlukan. Dengan memahami
pengetahuan mengenai ilmu ekonomi kesehatan akan sangat bermanfaat untuk
mahasiswa kesehatan masyarakat yang apabila nanti akan menjadi seseorang yang
mengatur dana dalam penganggaran dan pembiayaan kesehatan dimasa
mendatang.
Sebuah harapan kiranya makalah ini bermanfaat terutama bagi saya sebagai
penyusun dan para pembaca dalam menambah wawasan dan pengetahuan tentang
ekonomi kesehatan yang akan menunjang perkembangan ilmu kesehatan dimasa
mendatang.
Ucapan terima kasih penyusun hanturkan atas bantuan dan bimbingan yang
telah diberikan dalam penyusunan makalah ini, Semoga segala kebaikan dan
bantuan yang diberikan bernilai ibadah dan menjadi pahala di menjadi penyebab
dilimpahkan kebaikan oleh Allah SWT.
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB 1................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Tujuan................................................................................................................2
1.2.1 Tujuan Umum.............................................................................................2
1.2.2 Tujuan Khusus............................................................................................2
BAB 2................................................................................................................................3
PEMBAHASAN................................................................................................................3
2.1 Pengertian Demand Pelayanan Kesehatan..........................................................3
Penggunaan Analisis Demand for Health dan Demand for Health Care.....................8
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan Kesehatan
dan Rumah Sakit..........................................................................................................10
Kebutuhan Berbasis Fisiologis.................................................................................10
Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan..................................................................10
Variabel-Variabel Ekonomi Tarif.............................................................................11
Penghasilan Masyarakat...........................................................................................11
Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan............................................................12
Variabel-Variabel Demografis dan Umur.................................................................12
Jenis Kelamin...........................................................................................................12
Pendidikan................................................................................................................13
Faktor-Faktor Lain...................................................................................................13
2.3 Menggunakan Konsep Demand untuk Perencanaan Rumah Sakit.........................14
Riset Pasar................................................................................................................14
Forecasting Demand.................................................................................................17
Kelemahan Analisis Demand untuk Rumah Sakit....................................................18
BAB 3..............................................................................................................................19
PENUTUP.......................................................................................................................19
3.1 Kesimpulan......................................................................................................19
3.2 Saran................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................20
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1
Di dalam pelayanan kesehatan, tidak semua kebutuhan yang dirasakan
tersebut berupa menjadi demand walaupun terdapat kemampuan konsumen untuk
membeli. Masalah availabilitas, aseptabilitas, aksesibilitas merupakan faktor yang
harus lebih dipertimbangkan daripada pertimbangan ekonomi. Pemanfaatan unit
pelayanan kesehatan relatif masih rendah yang diakibatkan oleh beberapa faktor.
Di dalam makalah ini akan dibahas tentang demand pelayanan kesehatan.
1.2 Tujuan
2
BAB 2
PEMBAHASAN
3
Gambar 8.1 Proses produksi sehat
4
Gambar 8.2 Konsep keinginan (wants), permintaan (demand), dan kebutuhan (needs)
5
Untuk mencoba mengatasi sakit yang dirasakannya, Dra. Sartika minum obat
pengurang sakit perut yang dijual bebas. Informasi mengenai obat tersebut di
perolehnya dari iklan sebuah acara televisi swasta. Akan tetapi setelah dua hari
minum obat, ternyata rasa sakit perut belum berkurang. Sesuai anjuran iklan
televisi, Dra. Sartika kemudian mendatangi dokter perusahaannya untuk
berkonsultasi. Dengan demikian, dari keinginannya menjadi sehat (dalam model
Grossman disebut sebagai demand untuk kesehatan),
Dra. Sartika telah merubah demand akan kesehatan menjadi demand
(permintaan) akan pelayanan tenaga medis, khususnya dokter umum. Pada
keadaan ini sudah terjadi demand for health care. Oleh dokter perusahaan
kemudian ia diberi obat, tetapi ternyata rasa sakitnya tidak berkurang.
Selanjutnya, dokter perusahaan merujuk Dra. Sartika ke dokter spesialis
penyakit dalam karena diduga ada kelainan di bagian perutnya. Dengan
dikirimnya ke dokter spesialis penyakit dalam, demand Dra. Sartika telah
"meningkat" menjadi demand terhadap pelayanan kedokteran spesialis. Pada
pemeriksaan di tingkat dokter spesialis ini maka ada berbagai kemungkinan yang
berkaitan dengan pemakaian teknologi tinggi, misalnya penggunaan USG atau CT
Scan sebagai alat bantu diagnosis.
Berbeda dengan pembelian dan penggunaan barang-barang ekonomi lain,
Dra. Sartika tidak dapat menggunakan USG sesuai dengan keinginannya. Demand
terhadap pemeriksaan USG akan ditentukan berdasarkan needs yang ditetapkan
oleh dokter. Pada titik ini terjadi berbagai kemungkinan.
Kemungkinan pertama, berbasis pada need, Dra. Sartika tidak perlu
mempunyai demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra.
Sartika mungkin merupakan gejala penyakit psikosomatis akibat stress pekerjaan.
Kemungkinan kedua, berbasis pada need, Dra. Sartika perlu mempunyai demand
terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra. Sartika mungkin
merupakan suatu gejala penyakit yang serius (misalnya tumor kandungan).
Pada kemungkinan pertama, terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai
Supplier Induced Demand. Istilah ini menggambarkan suatu keadaan seorang
dokter menetapkan demand pasiennya dengan cara tidak berbasis pada need. Patut
ditekankan bahwa keadaan ini bukan suatu "over-treatment".
6
Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak seimbangnya informasi yang
ada pada dokter dengan pasiennya (Rice 1998). Dokter meningkatkan demand
pasiennya berbasis pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatannya.
Folland dkk (2001), memberikan suatu pernyataan bahwa supplier induced
demand adalah penyalahgunaan hubungan dokter-pasien oleh dokter dalam usaha
memperoleh keuntungan pribadi dokter.
Sebagai gambaran dalam kasus tersebut, berbasis pada pendidikan dan
pengalamannya, dokter lebih menguasai informasi keluhan sakit perut dibanding
Dra. Sartika yang mengeluh. Dokter dalam hal ini bertindak sebagai pemberi jasa
sekaligus bertindak sebagai wakil dari pasien untuk mendapatkan jasa lain,
misalnya obatobatan, pemeriksaan, atau tindakan dokter lain.
Pemahaman pasien mengenai prosedur tindakan kesehatan sangat terbatas
dan dokter mempunyai wewenang untuk bertindak atas nama pasien. Keadaan
informasi yang dimiliki oleh penjual dan pembeli yang tidak seimbang ini serupa
dengan hubungan kerja antara montir mobil dan pemilik mobil yang awam soal
mesin dan hubungan pengacara dengan kliennya yang awam soal hukum.
Akibat ketidakseimbangan pengetahuan ini maka hubungan kerja dapat
disalahgunakan untuk keuntungan dokter, montir, ataupun pengacara. Supplier
induced demand terutama terjadi pada sistem pembayaran fee-for-service. Apabila
tidak terdapat etika yang kuat, maka dengan mudah akan terjadi penyimpangan
profesi seperti diperiksanya Dra. Sartika dengan USG walapun secara medis tidak
ada indikasi untuk hal tersebut. Pada keadaan ini dokter spesialis yang
memberikan perintah agar Dra. Sartika diperiksa USG mendapat jasa medik atau
keuntungan pribadi dari pemeriksaan tersebut, walaupun dokter menyadari bahwa
Dra. Sartika tidak mempunyai need untuk menjalani pemeriksaan USG.
Dengan bergesernya sifat rumah sakit menjadi suatu lembaga ekonomi, maka
risiko penyimpangan profesi akan semakin tinggi akibat tuntutan investasi. Pada
kasus di atas, apabila pembelian USG dilakukan atas dasar pinjaman kredit bank,
maka kaidah-kaidah investasi harus diperhatikan misalnya melalui payback
period. Prinsip bahwa "bangsal rumah sakit harus diisi" atau “peralatan medik
harus digunakan” dapat mendorong terjadinya Supplier Induced Demand.
7
Sebaliknya dapat terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier
Reduced Demand. Istilah ini mencerminkan keadaan bahwa justru dokter atau
rumah sakit menetapkan demand di bawah yang seharusnya. Pada kasus Dra.
Sartika seharusnya diperiksa menggunakan USG. Akan tetapi, mungkin
reimburstment asuransi kesehatan yang dimiliki perusahaan tersebut memberikan
ganti rugi di bawah unit-cost pemeriksaan USG. Rumah sakit akan rugi jika
menggunakan USG untuk Dra. Sartika.
Secara perhitungan ekonomi, tidak diperiksanya Dra Sartika dengan USG
akan menghindarkan rumah sakit dari kerugian. Dengan demikian, need Dra.
Sartika tidak dapat terwujud sebagai demand. Contoh lain, pada sistem
pembiayaan rumah sakit yang berbasis pada anggaran. Apabila rumah sakit dapat
menyelenggarakan pelayanan di bawah anggaran, misalnya 90% maka 10%
sisanya dapat masuk sebagai jasa rumah sakit. Dengan konsep seperti ini rumah
sakit akan mempunyai insentif untuk melakukan Supplier Reduced Demand.
Penggunaan Analisis Demand for Health dan Demand for Health Care
Secara umum keadaan demand dan need pelayanan kesehatan dapat
dilukiskan dalam suatu konsep yang disebut fenomena gunung es (Iceberg
phenomenon). Konsep ini mengacu pada pengertian bahwa demand yang benar
seharusnya merupakan bagian dari need. Secara konsepsual, need akan pelayanan
kesehatan dapat berwujud suatu gunung es yang hanya sedikit puncaknya terlihat
sebagai demand. "Sedikit" tersebut bersifat variatif. Di negara-negara maju
mungkin puncak gunung es akan terlihat relatif besar bila dibanding dengan
negara-negara yang masih dalam keadaan miskin. Pelayanan kesehatan tentunya
berusaha agar batas air menjadi serendah mungkin.
8
Gambar 8.3 Need untuk pelayanan kesehatan
Besar kecilnya demand dan need sebaiknya dipahami dengan baik oleh
tenaga-tenaga kesehatan. Dalam hal ini harus ada pengertian mengenai faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi demand for health dan demand for health care
melalui analisis yang tepat. Analisis demand yang pada akhirnya akan
menghasilkan peramalan demand merupakan hal penting untuk dilakukan oleh
suatu rumah sakit.
Dari peramalan demand ini akan timbul berbagai pertanyaan seperti: (1)
berapa jumlah dan jenis tenaga medis yang diperlukan untuk memenuhi demand
terhadap pelayanan rumah sakit pada masa mendatang?; (2) apakah produksi
pelayanan rumah sakit saat ini sudah cukup untuk memenuhi demand? ; dan (3)
apakah sarana, prasarana, dan berbagai kegiatan pokok rumah sakit dapat
diandalkan untuk memenuhi demand pada masa mendatang?
Pada prinsipnya analisis demand merupakan aktivitas dasar dalam
manajemen rumah sakit karena memberikan basis untuk menganalisis pengaruh
pasar pada jenis kegiatan yang dihasilkan rumah sakit dan mengadaptasikannya.
Selain itu analisis demand juga akan mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi demand dan memberikan arah untuk perencanaan rumah sakit.
9
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan
Kesehatan dan Rumah Sakit
Faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain:
kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status
kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, jenis kelamin, ada tidaknya
sistem asuransi, penghasilan, variabel-variabel demografis dan organisasi. Di
samping faktor-faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan,
pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengaruh inflasi.
Faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait secara kompleks.
10
Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif.
Semakin tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting
untuk dicatat bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan
pasien yang mempunyai pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand
pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter.
Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan,
keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan
yang membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak
berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat
[Link] contoh, operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila
tidak ditolong segera, maka korban dapat meninggal atau cacat seumur hidup.
Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan
normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus
rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah
dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi
orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit.
Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan
kesehatan yang sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada pula
sebagian pelayanan kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu adanya
kenaikan penghasilan masyarakat justru menyebabkan penurunan konsumsi. Hal
ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai kota dan kabupaten.
Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi tidak menyukai
pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini diantisipasi oleh
rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan mampu. Masa
tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi dengan
menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor
penghasilan masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam
analisis demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.
11
Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam
hal demand pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat
tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi
kesehatan. Di samping itu, dikenal pula program pemerintah dalam bentuk
jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua. Program pemerintah
ini sering disebut sebagai asuransi sosial.
Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan
demand terhadap pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi
kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi
kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif sebagai hambatan untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit.
Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard.
Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan
pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, semakin banyak
penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demand akan pelayanan
kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi.
Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap
pelayanan kesehatan oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki.
Hasil ini sesuai dengan dua perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi
penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Kedua, karena angka kerja
12
wanita lebih rendah maka kesediaan meluangkan waktu untuk pelayanan
kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Akan tetapi, pada kasus-kasus
yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki tidaklah nyata.
Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang
lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran
akan status kesehatan, dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan
kesehatan.
Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan, yaitu
pengiklanan, tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta inflasi.
Iklan merupakan faktor yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas
ekonomi untuk meningkatkan demand. Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan
secara tradisional dilarang karena bertentangan dengan etika dokter dan apabila
akan diberikan maka dalam bentuk informasi mengenai pelayanan rumah sakit.
Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional seperti para tabib, dukun,
dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat kabar dan
majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor
pengiklanan sebagai salah satu cara peningkatan demand.
Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain
yang meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua
faktor lain tetap, kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan
meningkatkan jumlah operasi sebesar 3%.
Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan
mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan meningkatkan demand untuk
operasi tonsilektomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit
kandungan dengan peralatan operasi akan meningkatkan demand untuk pelayanan
bedah caesar. Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan
pada tarif pelayanan rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga, dan asuransi
kesehatan. Faktor ini harus diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi
tinggi, ataupun pada resesi ekonomi, demand terhadap pelayanan kesehatan akan
13
dapat terpengaruh. Pada saat krisis ekonomi di Indonesia, tercatat berbagai rumah
sakit di Yogyakarta tidak mengalami penurunan demand. Justru bangsal-bangsal
VIP tidak menurun penghuninya, bahkan menunjukkan kecenderungan naik.
Salah satu dugaan adalah pasien kaya yang biasa pergi ke Jakarta atau Singapura,
mengubah perilakunya untuk mencari penyembuhan pada rumah sakit di
Yogyakarta.
Ketika kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) merebak di
Singapura, pengamatan menunjukkan bahwa BOR kelas VIP di sebuah kota besar
di Indonesia ternyata meningkat. Ada kemungkinan penduduk Indonesia yang
demand mencari pengobatan biasa ke Singapura, kemudian mengubahnya ke
Indonesia akibat takut terkena SARS.
Riset Pasar
Tujuan analisis pasar adalah menyediakan informasi mengenai keadaan pasar
saat ini dan kemungkinan trend pasar di masa mendatang. Melalui informasi yang
diperoleh, rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan, menetapkan kebijakan
pelayanan baru, menetapkan tarif dan strategi promosi. Analisis pasar akan
menghasilkan profil pasar yang sebaiknya memuat informasi mengenai
konsumen, kinerja (performance) rumah sakit, dan keadaan pasar.
14
Pada profil pasar dalam hal konsumen akan diteliti mengenai jumlah total
konsumen, data epidemiologi, distribusi daerah tempat tinggal, pendapatan total,
pendapatan per rumah tangga, distribusi pendapatan, selera konsumen, ciri-ciri
dan frekuensi penggunaan pelayanan kesehatan oleh konsumen.
Profil mengenai keadaan pasar mencakup berbagai hal misalnya data
mengenai efek dari kenaikan tarif yang terkait dengan pengukuran elastisitas
harga. Adanya data mengenai efek kenaikan atau penurunan pendapatan
masyarakat dan pengaruhnya terhadap konsumsi rumah sakit akan menyangkut
elastisitas rumah sakit terhadap pendapatan.
Data lain adalah keunikan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit,
identifikasi pelayanan kesehatan, jumlah dan sifat pesaing. Situasi persaingan ini
harus dapat dianalisis tidak hanya dalam batas-batas wilayah tetapi juga
mencakup ke jangkauan transportasi ataupun kemampuan masyarakat dalam
menggunakan rumah sakit.
Kasus persaingan rumah sakit di Medan menunjukkan bahwa masyarakat
Sumatera Utara juga menggunakan rumah sakit di Malaysia. Bentuk kompetisi
yang dilakukan sudah seperti melakukan perjalanan wisata dengan operator yang
mengatur perjalanan untuk mencari kesehatan.
Dalam profil pasar rumah sakit perlu digambarkan pula mengenai pola sistem
rujukan kesehatan. Hal ini terkait dengan besarkecilnya rumah sakit dan
tersedianya fasilitas dan tenaga medis yang ahli dalam menangani suatu penyakit.
Sistem rujukan merupakan salah satu hal yang spesifik dalam karakteristik pasar
rumah sakit yang jarang ditemui di sektor lain. Sebagai contoh, pasar untuk
operasi jantung merupakan proses dari suatu sistem rujukan yang dapat dimulai
dari dokter umum, dokter spesialis jantung atau penyakit dalam, hingga dokter
ahli bedah jantung. Sistem rujukan ini dapat menjadikan suatu keadaan yang
monopoli atau perilaku monopoli dari dokter tertentu.
Contoh lain dari keadaan khas profil pasar rumah sakit adalah perubahan
teknologi pelayanan kesehatan. Dalam hal ini teknologi kesehatan berkembang
sangat cepat sehingga terkadang sulit untuk dipahami oleh konsumen. Cara
memahami perkembangan teknologi tentunya dengan mengikuti perkembangan
terakhir ilmu kedokteran melalui jurnal atau konferensi ilmiah.
15
Di dalam sektor kesehatan tidak dapat dihindari adanya produk substitusi
seperti pengobatan tradisional, tabib, sinshe, dukun yang memberikan pelayanan
kesehatan. Profil pasar perlu mencatat hal ini termasuk mempunyai data tarif
produk substitusi termasuk tarif dukun yang memberikan pelayanan rawat inap
seperti ahli patah tulang yang menyediakan tempat pemondokan.
Seperti sektor lainnya, profil pasar rumah sakit perlu mempunyai data
mengenai hal-hal umum dalam masyarakat, misalnya keadaan harga barang-
barang kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa ternyata
masyarakat Indonesia lebih memilih membelanjakan uang untuk rokok
dibandingkan untuk kesehatan. Perbandingan seperti ini penting untuk memahami
demand terhadap pelayanan kesehatan. Di samping itu, perlu diperhatikan
mengenai keadaan ekonomi, tingkat kegiatan, tingkat pengangguran, kebijakan
ekonomi dan kesehatan pemerintah serta besarnya pajak.
Data penting lain adalah perbandingan kinerja antarrumah sakit dalam suatu
wilayah. Dalam hal ini perlu dibandingkan besarnya BOR, Length of Stay, Turn
Over Interval dari tempat tidur, dan angka kunjungan berbagai rawat jalan. Dalam
perbandingan ini perlu dilihat trend yang terjadi. Dalam membandingkan data
tersebut akan terlihat pangsa pasar (market share) yang ada serta kelemahan dan
kekuatan kinerja setiap rumah sakit.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa pengukuran demand untuk pelayanan
rumah sakit merupakan hal sulit dan kompleks. Patut dicatat bahwa rumah sakit
merupakan lembaga yang multi produk. Jasa yang dihasilkan rumah sakit meliputi
rawat jalan, rawat inap, laboratorium, apotek, dan berbagai produk lainnya dengan
berbagai macam jenis spesialisasi. Oleh karena itu, konsep demand and supply
ilmu ekonomi yang membutuhkan ceteris paribus merupakan hal yang sangat sulit
dijumpai dalam sektor rumah sakit. Akan tetapi yang paling penting bahwa
terdapat konsep demand and supply yang harus diperhitungkan dalam mengelola
rumah sakit. Hasil analisis profil pasar ini akan sangat berguna untuk penyusunan
rencana usaha (business plan) rumah sakit.
Metode analisis pasar dapat menggunakan wawancara dan survei. Sebagai
contoh, jika tarif bangsal VIP rumah sakit dinaikkan apakah sasaran potensial
akan masih menggunakannya? Pertanyaanpertanyaan ini ditujukan ke sampel
16
sasaran melalui questionnaire. Agar dapat mewakili maka jumlah sampel harus
cukup besar. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan keadaan. Pertanyaan
mengenai penggunaan rumah sakit apabila tidak dirancang secara hati-hati dapat
menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah mengharapkan responden untuk jatuh
sakit. Cara lain adalah dengan mengadakan diskusi kelompok secara riset
kualitatif. Sekelompok sasaran potensial dikumpulkan untuk diajak membahas
pola kenaikan tarif bangsal VIP.
Forecasting Demand
Tindakan ini mempunyai pengertian kegiatan peramalan. Data yang ada akan
dianalisis untuk mendapatkan peramalan penggunaan rumah sakit di masa
mendatang. Masa mendatang ini dapat berupa jangka pendek (setahun) ataupun
jangka menengah dan panjang. Perlu diingat bahwa semakin panjang jangka
waktu yang diramalkan, maka potensi meleset hasil peramalan menjadi lebih
besar. Dalam hal ini terdapat tiga tahap peramalan demand.
Tahap 1, penilaian keadaan umum ekonomi nasional dan lokal. Penilaian ini
akan memberikan informasi mengenai kebijakan pemerintah dan
kemungkinankemungkinan dampak kebijakan baru terhadap tingkat pendapatan
masyarakat, trend kependudukan, epidemiologi, dan potensi sumber daya
masyarakat untuk pelayanan kesehatan. Pada tahap 2, dilakukan penilaian
terhadap demand total penduduk terhadap pelayanan kesehatan, khususnya rumah
sakit. Berbagai faktor demand yang ada harus diperhatikan dan disusun dalam
suatu model. Pada tahap 3, dilakukan penilaian posisi rumah sakit terhadap total
demand yang ada. Pada tahap ini dapat diuji coba beberapa tindakan, misalnya
merubah tarif untuk menguji pasar atau melakukan kegiatan-kegiatan pemasaran
sosial.
Cara peramalan demand ini dapat menggunakan ekonometrik yang
menggabungkan teori ekonomi dengan alat matematik dan statistik (Pappas dan
Hirschey, 1993). Beberapa keuntungan menggunakan teknik ekonometrik yaitu
pertama berbagai variabel yang mempengaruhi demand dapat diukur secara
eksplisit dan ditentukan hubungan sebab-akibatnya. Hal ini memberikan manfaat
berupa penyediaan hasil peramalan yang logis.
17
Manfaat kedua, pendekatan ekonometrik sangat tepat untuk menilai demand
dari periode waktu ke periode waktu lainnya (time-series). Manfaat ketiga dari
metode ekonometrik yaitu dapat memberikan informasi mengenai besarnya
pengaruh variabel dan arah pengaruhnya. Sebagai gambaran metode ekonometrik
dapat dipergunakan untuk mengukur demand pelayanan kesehatan yang
mempunyai model sebagai berikut:
18
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pada dasarnya konsep demand menyangkut tentang pengertian mengenai
keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs).
Kesimpulannya demand dapat diartikan sebuah keinginan seseorang untuk
menjadi lebih sehat dalam hidup yang didasarkan pada penilaian diri
terhadap status kesehatannya, kemudian keinginan untuk lebih sehat
tersebut diwujudkan dalam perilaku mencari pertolongan tenaga
kedokteran sehingga keadaan kesehatan yang oleh tenaga kedokteran
dinyatakan mendapatkan penanganan medis.
2. Terdapat 9 faktor yang mempengaruhi demand pada pelayanan kesehatan
& rumah sakit yaitu aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status
kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, jenis kelamin, ada
tidaknya sistem asuransi, penghasilan, variabel-variabel demografis dan
organisasi. Di samping itu, terdapat juga faktor lain misalnya,
pengiklanan, pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan,
serta pengaruh inflasi dimana faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait
secara kompleks.
3. Pada dasarnya demand terhadap pelayanan kesehatan merupakan hal
penting yang mempengaruhi masa depan ataupun survival suatu rumah
sakit. Informasi mengenai demand sangat penting diketahui karena
kesalahan melakukan penilaian terhadap demand akan berakibat fatal
dalam manajemen rumah sakit, terutama pada pengembangan baru yang
menggunakan kredit komersial. Dan kesimpulan terakhir adalah
pengukuran demand untuk pelayanan rumah sakit dapat dilakukan melalui
analisis pasar atau melakukan peramalan demand.
3.2 Saran
19
DAFTAR PUSTAKA
Haning Eriska, Ira, dan Thinni. 2018. Need and Demand Analysis of Health
Services at Puskesmas Siwalankerto Surabaya in National Health Insurance Era.
Surabaya : Poltekkes Program Studi Keperawatan Waingapu
Ayu Putu, Rini, dan Santi. 2018. Ekonomi Kesehatan. Denpasar : Universitas
Udayana
Widiani Irna, Junaid, dan Lisnawaty. 2015. Faktor Yang Berhubungan Dengan
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Puskesmas Tomia Timur
Kelurahan Tongano Timur Kabupaten Wakatobi Tahun 2015. Kendari :
Universitas Haluoleo
20