0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
235 tayangan23 halaman

Permintaan Pelayanan Kesehatan dan Faktor-Faktornya

Makalah ini membahas tentang permintaan (demand) pelayanan kesehatan dengan menjelaskan: 1. Pengertian demand kesehatan dan perbedaan antara demand for health dan demand for health care. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi demand terhadap pelayanan kesehatan dan rumah sakit seperti kebutuhan fisiologis, penilaian status kesehatan, faktor ekonomi, asuransi kesehatan, dan faktor demografi. 3. Penggunaan konsep demand

Diunggah oleh

BEM IST Buton
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
235 tayangan23 halaman

Permintaan Pelayanan Kesehatan dan Faktor-Faktornya

Makalah ini membahas tentang permintaan (demand) pelayanan kesehatan dengan menjelaskan: 1. Pengertian demand kesehatan dan perbedaan antara demand for health dan demand for health care. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi demand terhadap pelayanan kesehatan dan rumah sakit seperti kebutuhan fisiologis, penilaian status kesehatan, faktor ekonomi, asuransi kesehatan, dan faktor demografi. 3. Penggunaan konsep demand

Diunggah oleh

BEM IST Buton
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERMINTAAN (DEMAND)

PELAYANAN KESEHATAN

VIRNO HARYANTO BAY


3201020001

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IST BUTON
TAHUN AJARAN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun hanturkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
petunjuk-Nya sehingga penyusunan makalah Prinsip-Prinsip Organisasi dapat
diselesaikan meskipun dalam bentuk yang sederhana.
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, tidak terlepas dari bantuan dan
partisipasi dari teman-teman dan juga dosen pengampub mata kuliah Ekonomi
Kesehatan yakni Bapak Amrun, SKM, [Link].
Makalah ini sangat penting terutama bagi saya selaku mahasiswa program
studi kesehatan masyarakat dimana saat menyusun makalah ini saya dapat
mengetahui tentang Apa itu ekonomi kesehatan serta hal-hal penting yang
mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Sebagai sebuah pengantar untuk mahasiswa kesehatan masyarakat,
pemahaman dasar atas ekonomi kesehatan sangat diperlukan. Dengan memahami
pengetahuan mengenai ilmu ekonomi kesehatan akan sangat bermanfaat untuk
mahasiswa kesehatan masyarakat yang apabila nanti akan menjadi seseorang yang
mengatur dana dalam penganggaran dan pembiayaan kesehatan dimasa
mendatang.
Sebuah harapan kiranya makalah ini bermanfaat terutama bagi saya sebagai
penyusun dan para pembaca dalam menambah wawasan dan pengetahuan tentang
ekonomi kesehatan yang akan menunjang perkembangan ilmu kesehatan dimasa
mendatang.
Ucapan terima kasih penyusun hanturkan atas bantuan dan bimbingan yang
telah diberikan dalam penyusunan makalah ini, Semoga segala kebaikan dan
bantuan yang diberikan bernilai ibadah dan menjadi pahala di menjadi penyebab
dilimpahkan kebaikan oleh Allah SWT.

Baubau, 9 Maret 2022

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB 1................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Tujuan................................................................................................................2
1.2.1 Tujuan Umum.............................................................................................2
1.2.2 Tujuan Khusus............................................................................................2
BAB 2................................................................................................................................3
PEMBAHASAN................................................................................................................3
2.1 Pengertian Demand Pelayanan Kesehatan..........................................................3
Penggunaan Analisis Demand for Health dan Demand for Health Care.....................8
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan Kesehatan
dan Rumah Sakit..........................................................................................................10
Kebutuhan Berbasis Fisiologis.................................................................................10
Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan..................................................................10
Variabel-Variabel Ekonomi Tarif.............................................................................11
Penghasilan Masyarakat...........................................................................................11
Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan............................................................12
Variabel-Variabel Demografis dan Umur.................................................................12
Jenis Kelamin...........................................................................................................12
Pendidikan................................................................................................................13
Faktor-Faktor Lain...................................................................................................13
2.3 Menggunakan Konsep Demand untuk Perencanaan Rumah Sakit.........................14
Riset Pasar................................................................................................................14
Forecasting Demand.................................................................................................17
Kelemahan Analisis Demand untuk Rumah Sakit....................................................18
BAB 3..............................................................................................................................19
PENUTUP.......................................................................................................................19
3.1 Kesimpulan......................................................................................................19
3.2 Saran................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................20

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemerintah telah mencanangkan Visi Indonesia 2025 yaitu menjadi negara
maju pada tahun 2025 nanti. Namun Pemerintah juga sepenuhnya menyadari
bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi suatu tantangan
dalam mewujudkan visi dimaksud. Para pakar dibidang SDM menyatakan bahwa
kualitas SDM secara dominan ditentukan oleh kemudahan akses pada pendidikan
dan juga pemanfaatan fasilitas kesehatan yang berkualitas. Bahkan UNDP (United
Nations Development Programme) memperkenalkan Indeks Pembangunan
Manusia yang dua dari tiga indikatornya (peluang hidup, pengetahuan dan hidup
layak) terkait dengan kesehatan.
Dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dari kesehatan, maka Pemerintah
baik di tingkat pusat maupun daerah telah melakukan beberapa upaya untuk
meningkatkan upaya kesehatan agar lebih diarahkan kepada upaya yang benar-
benar dibutuhkan masyarakat pada fasilitas kesehatan. Selain itu, pemanfaatan
sarana pelayanan kesehatan juga merupakan indikator yang sangat penting dalam
sistem pelayanan kesehatan agar pemerintah dapat mengukur apakah pelayanan
kesehatan sudah merata dan terjangkau atau sebaliknya.
Kebutuhan atau need yang berupa kebutuhan yang dirasakan atau perceived
need merupakan penjumlahan dari kebutuhan individu terhadap suatu pelayanan
kesehatan. Sedangkan kebutuhan normatif atau normative need adalah kebutuhan
yang seharusnya diberikan oleh pemberi pelayanan (provider) kepada penderita
berdasarkan standar ilmu kesehatan.
Keadaan status kesehatan seseorang menimbulkan suatu kebutuhan yang
dirasakan (felt need) dan membuat seseorang mengambil keputusan untuk
mencari pertolongan atau tidak. Ekspresi dari felt need tersebut dinamakan
Demand. Pemanfaatan pelayanan kesehatan juga merupakan hal yang penting
dalam masyarakat yang bertujuan untuk membantu dalam menentukan derajat
kesehatan masyarakat. Dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan juga dipengaruhi
oleh kebutuhan (Demand) masyarakat tersebut (Amalia, 2018).

1
Di dalam pelayanan kesehatan, tidak semua kebutuhan yang dirasakan
tersebut berupa menjadi demand walaupun terdapat kemampuan konsumen untuk
membeli. Masalah availabilitas, aseptabilitas, aksesibilitas merupakan faktor yang
harus lebih dipertimbangkan daripada pertimbangan ekonomi. Pemanfaatan unit
pelayanan kesehatan relatif masih rendah yang diakibatkan oleh beberapa faktor.
Di dalam makalah ini akan dibahas tentang demand pelayanan kesehatan.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum


Tujuan umum makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
permintaan (demand) dalam pelayanan kesehatan.

1.2.2 Tujuan Khusus


Adapun tujuan khusus dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian demand kesehatan,
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi demand
terhadap pelayanan kesehatan dan rumah sakit, dan
3. Untuk memahami penggunaan konsep demand dalam perencanaan
rumah sakit.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Demand Pelayanan Kesehatan


Pengertian Demand Kesehatan Dalam membahas konsep demand sektor
kesehatan, perlu ada pembedaan mengenai demand for health dan demand for
health care. Hal ini penting untuk dibahas mengingat terdapat berbagai hal dalam
sektor kesehatan yang berbeda dengan sektor lainnya (lihat Bagian II). Beberapa
pertanyaan kunci dalam membahas demand for health dan demand for health care:
Mengapa orang ingin sehat? Apa yang menentukan demand seseorang untuk
menjadi sehat? Apa pengaruh pelayanan kesehatan dalam meningkatkan status
kesehatan?
Dalam pemikiran rasional, semua orang ingin menjadi sehat. Kesehatan
merupakan modal untuk bekerja dan hidup untuk mengembangkan keturunan.
Timbul keinginan yang bersumber dari kebutuhan hidup manusia. Tentunya
demand untuk menjadi sehat tidaklah sama antarmanusia. Seseorang yang
kebutuhan hidupnya sangat tergantung dari kesehatannya tentu akan mempunyai
demand yang lebih tinggi akan status kesehatannya. Sebagai contoh, seorang atlet
profesional akan lebih memperhatikan status kesehatannya dibanding seseorang
yang menganggur.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana hubungan antara demand terhadap
kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan? Menurut Teori Blum,
kesehatan dipengaruhi oleh keturunan, lingkungan hidup, perilaku, dan pelayanan
kesehatan. Akan tetapi konsep ini dinilai sulit untuk menerangkan hubungan
antara demand terhadap kesehatan dan demand terhadap pelayanan kesehatan.
Untuk menerangkan hubungan tersebut digunakan konsep yang berasal dari
prinsip ekonomi. Pendekatan ekonomi menekankan bahwa kesehatan merupakan
suatu modal untuk bekerja. Pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit merupakan
salah satu input dalam proses menghasilkan hari-hari sehat. Dengan berbasis pada
konsep produksi, pelayanan kesehatan dapat dilukiskan pada Gambar 8.1. Dengan
konsep ini, maka pelayanan kesehatan merupakan salah satu input yang digunakan
untuk proses produksi yang akan menghasilkan kesehatan. Demand terhadap
pelayanan rumah sakit tergantung terhadap demand akan kesehatan sendiri.

3
Gambar 8.1 Proses produksi sehat

Serupa dengan model ekonomi di atas, Grossman (1972) dalam penelitian


yang sangat berpengaruh dalam khasanah ekonomi kesehatan menggunakan teori
modal manusia (human capital) untuk menggambarkan demand untuk kesehatan
dan demand untuk pelayanan kesehatan. Dalam teori ini disebutkan bahwa
seseorang melakukan investasi untuk bekerja dan menghasilkan uang melalui
pendidikan, pelatihan, dan kesehatan.
Grossman menguraikan bahwa demand untuk kesehatan memiliki beberapa
hal yang membedakan dengan pendekatan tradisional demand dalam sektor lain:
1. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan, bukan
pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan derived demand
sebagai input untuk menghasilkan kesehatan.
2. Masyarakat tidak membeli kesehatan dari pasar secara pasif. Masyarakat
menghasilkannya, menggunakan waktu untuk usahausaha peningkatan
kesehatan, di samping menggunakan pelayanan kesehatan.
3. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan investasi karena tahan lama dan
tidak terdepresiasi dengan segera.
4. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan konsumsi sekaligus sebagai bahan
investasi.
Awal pembahasan mengenai demand terhadap kesehatan dapat dilakukan
melalui pengertian tentang keinginan (wants), permintaan (demand), dan
kebutuhan (needs). Pengertian ini dibutuhkan mengingat demand dalam
pelayanan kesehatan merupakan suatu hal yang agak berbeda dibandingkan
dengan demand untuk komoditi atau pelayanan lain.

4
Gambar 8.2 Konsep keinginan (wants), permintaan (demand), dan kebutuhan (needs)

Pada bab ini pembahasan mengenai demand terhadap pelayanan kesehatan


akan dilakukan lebih mendalam dengan pendekatan-pendekatan sosial ekonomi.
Dalam membahas pengertian ini, model dari Cooper (Posnett, 1988) merupakan
kajian untuk dibahas. Secara skematis model tersebut digambarkan dalam Gambar
8.2.
Dalam model ini dapat dilihat pula hubungan antara demand for health dan
demand for health care. Berdasarkan model Grossman, keinginan seseorang
bekerja menghasilkan pendapatan membutuhkan modal, antara lain kesehatan.
Dalam istilah sosial disebut dengan keinginan untuk sehat. Dengan konsep
keinginan ini seseorang dapat menilai dirinya sendiri. Kasus di bawah ini dapat
dipergunakan untuk menerangkan demand for health dan demand for health care.
Dra. Sartika, wanita berumur 45 tahun merasa sakit di bawah perut. Sebagai
seorang sekretaris direktur perusahaan, dia merasakan bahwa sakit perutnya
mengganggu pekerjaannya sehari-hari. Dia mempunyai keinginan (wants) untuk
sehat, bebas dari rasa sakitnya. Pada titik ini, konsep human capital dari Grossman
(1972) sangat relevan. Tanpa mempunyai kesehatan yang baik, Dra. Sartika tidak
dapat bekerja dengan baik.

5
Untuk mencoba mengatasi sakit yang dirasakannya, Dra. Sartika minum obat
pengurang sakit perut yang dijual bebas. Informasi mengenai obat tersebut di
perolehnya dari iklan sebuah acara televisi swasta. Akan tetapi setelah dua hari
minum obat, ternyata rasa sakit perut belum berkurang. Sesuai anjuran iklan
televisi, Dra. Sartika kemudian mendatangi dokter perusahaannya untuk
berkonsultasi. Dengan demikian, dari keinginannya menjadi sehat (dalam model
Grossman disebut sebagai demand untuk kesehatan),
Dra. Sartika telah merubah demand akan kesehatan menjadi demand
(permintaan) akan pelayanan tenaga medis, khususnya dokter umum. Pada
keadaan ini sudah terjadi demand for health care. Oleh dokter perusahaan
kemudian ia diberi obat, tetapi ternyata rasa sakitnya tidak berkurang.
Selanjutnya, dokter perusahaan merujuk Dra. Sartika ke dokter spesialis
penyakit dalam karena diduga ada kelainan di bagian perutnya. Dengan
dikirimnya ke dokter spesialis penyakit dalam, demand Dra. Sartika telah
"meningkat" menjadi demand terhadap pelayanan kedokteran spesialis. Pada
pemeriksaan di tingkat dokter spesialis ini maka ada berbagai kemungkinan yang
berkaitan dengan pemakaian teknologi tinggi, misalnya penggunaan USG atau CT
Scan sebagai alat bantu diagnosis.
Berbeda dengan pembelian dan penggunaan barang-barang ekonomi lain,
Dra. Sartika tidak dapat menggunakan USG sesuai dengan keinginannya. Demand
terhadap pemeriksaan USG akan ditentukan berdasarkan needs yang ditetapkan
oleh dokter. Pada titik ini terjadi berbagai kemungkinan.
Kemungkinan pertama, berbasis pada need, Dra. Sartika tidak perlu
mempunyai demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra.
Sartika mungkin merupakan gejala penyakit psikosomatis akibat stress pekerjaan.
Kemungkinan kedua, berbasis pada need, Dra. Sartika perlu mempunyai demand
terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra. Sartika mungkin
merupakan suatu gejala penyakit yang serius (misalnya tumor kandungan).
Pada kemungkinan pertama, terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai
Supplier Induced Demand. Istilah ini menggambarkan suatu keadaan seorang
dokter menetapkan demand pasiennya dengan cara tidak berbasis pada need. Patut
ditekankan bahwa keadaan ini bukan suatu "over-treatment".

6
Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak seimbangnya informasi yang
ada pada dokter dengan pasiennya (Rice 1998). Dokter meningkatkan demand
pasiennya berbasis pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatannya.
Folland dkk (2001), memberikan suatu pernyataan bahwa supplier induced
demand adalah penyalahgunaan hubungan dokter-pasien oleh dokter dalam usaha
memperoleh keuntungan pribadi dokter.
Sebagai gambaran dalam kasus tersebut, berbasis pada pendidikan dan
pengalamannya, dokter lebih menguasai informasi keluhan sakit perut dibanding
Dra. Sartika yang mengeluh. Dokter dalam hal ini bertindak sebagai pemberi jasa
sekaligus bertindak sebagai wakil dari pasien untuk mendapatkan jasa lain,
misalnya obatobatan, pemeriksaan, atau tindakan dokter lain.
Pemahaman pasien mengenai prosedur tindakan kesehatan sangat terbatas
dan dokter mempunyai wewenang untuk bertindak atas nama pasien. Keadaan
informasi yang dimiliki oleh penjual dan pembeli yang tidak seimbang ini serupa
dengan hubungan kerja antara montir mobil dan pemilik mobil yang awam soal
mesin dan hubungan pengacara dengan kliennya yang awam soal hukum.
Akibat ketidakseimbangan pengetahuan ini maka hubungan kerja dapat
disalahgunakan untuk keuntungan dokter, montir, ataupun pengacara. Supplier
induced demand terutama terjadi pada sistem pembayaran fee-for-service. Apabila
tidak terdapat etika yang kuat, maka dengan mudah akan terjadi penyimpangan
profesi seperti diperiksanya Dra. Sartika dengan USG walapun secara medis tidak
ada indikasi untuk hal tersebut. Pada keadaan ini dokter spesialis yang
memberikan perintah agar Dra. Sartika diperiksa USG mendapat jasa medik atau
keuntungan pribadi dari pemeriksaan tersebut, walaupun dokter menyadari bahwa
Dra. Sartika tidak mempunyai need untuk menjalani pemeriksaan USG.
Dengan bergesernya sifat rumah sakit menjadi suatu lembaga ekonomi, maka
risiko penyimpangan profesi akan semakin tinggi akibat tuntutan investasi. Pada
kasus di atas, apabila pembelian USG dilakukan atas dasar pinjaman kredit bank,
maka kaidah-kaidah investasi harus diperhatikan misalnya melalui payback
period. Prinsip bahwa "bangsal rumah sakit harus diisi" atau “peralatan medik
harus digunakan” dapat mendorong terjadinya Supplier Induced Demand.

7
Sebaliknya dapat terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier
Reduced Demand. Istilah ini mencerminkan keadaan bahwa justru dokter atau
rumah sakit menetapkan demand di bawah yang seharusnya. Pada kasus Dra.
Sartika seharusnya diperiksa menggunakan USG. Akan tetapi, mungkin
reimburstment asuransi kesehatan yang dimiliki perusahaan tersebut memberikan
ganti rugi di bawah unit-cost pemeriksaan USG. Rumah sakit akan rugi jika
menggunakan USG untuk Dra. Sartika.
Secara perhitungan ekonomi, tidak diperiksanya Dra Sartika dengan USG
akan menghindarkan rumah sakit dari kerugian. Dengan demikian, need Dra.
Sartika tidak dapat terwujud sebagai demand. Contoh lain, pada sistem
pembiayaan rumah sakit yang berbasis pada anggaran. Apabila rumah sakit dapat
menyelenggarakan pelayanan di bawah anggaran, misalnya 90% maka 10%
sisanya dapat masuk sebagai jasa rumah sakit. Dengan konsep seperti ini rumah
sakit akan mempunyai insentif untuk melakukan Supplier Reduced Demand.

Penggunaan Analisis Demand for Health dan Demand for Health Care
Secara umum keadaan demand dan need pelayanan kesehatan dapat
dilukiskan dalam suatu konsep yang disebut fenomena gunung es (Iceberg
phenomenon). Konsep ini mengacu pada pengertian bahwa demand yang benar
seharusnya merupakan bagian dari need. Secara konsepsual, need akan pelayanan
kesehatan dapat berwujud suatu gunung es yang hanya sedikit puncaknya terlihat
sebagai demand. "Sedikit" tersebut bersifat variatif. Di negara-negara maju
mungkin puncak gunung es akan terlihat relatif besar bila dibanding dengan
negara-negara yang masih dalam keadaan miskin. Pelayanan kesehatan tentunya
berusaha agar batas air menjadi serendah mungkin.

8
Gambar 8.3 Need untuk pelayanan kesehatan

Besar kecilnya demand dan need sebaiknya dipahami dengan baik oleh
tenaga-tenaga kesehatan. Dalam hal ini harus ada pengertian mengenai faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi demand for health dan demand for health care
melalui analisis yang tepat. Analisis demand yang pada akhirnya akan
menghasilkan peramalan demand merupakan hal penting untuk dilakukan oleh
suatu rumah sakit.
Dari peramalan demand ini akan timbul berbagai pertanyaan seperti: (1)
berapa jumlah dan jenis tenaga medis yang diperlukan untuk memenuhi demand
terhadap pelayanan rumah sakit pada masa mendatang?; (2) apakah produksi
pelayanan rumah sakit saat ini sudah cukup untuk memenuhi demand? ; dan (3)
apakah sarana, prasarana, dan berbagai kegiatan pokok rumah sakit dapat
diandalkan untuk memenuhi demand pada masa mendatang?
Pada prinsipnya analisis demand merupakan aktivitas dasar dalam
manajemen rumah sakit karena memberikan basis untuk menganalisis pengaruh
pasar pada jenis kegiatan yang dihasilkan rumah sakit dan mengadaptasikannya.
Selain itu analisis demand juga akan mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi demand dan memberikan arah untuk perencanaan rumah sakit.

9
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan
Kesehatan dan Rumah Sakit
Faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain:
kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status
kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, jenis kelamin, ada tidaknya
sistem asuransi, penghasilan, variabel-variabel demografis dan organisasi. Di
samping faktor-faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan,
pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengaruh inflasi.
Faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait secara kompleks.

Kebutuhan Berbasis Fisiologis


Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan
petugas medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat pelayanan
medis. Keputusan petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan
status kesehatannya. Berdasarkan situasi ini maka demand pelayanan kesehatan
dapat ditingkatkan atau dikurangi. Faktor-faktor ini dapat diwakilkan dalam pola
epidemiologi yang seharusnya diukur berdasarkan kebutuhan masyarakat. Akan
tetapi, data epidemiologi yang ada sebagian besar menggambarkan puncak
gunung es yaitu demand, bukan kebutuhan (needs).

Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan


Secara sosio-antropologis, penilaian pribadi akan status kesehatan
dipengaruhi oleh kepercayaan, budaya dan norma-norma sosial di masyarakat.
Indonesia sebagai negara Timur sejak dahulu telah mempunyai pengobatan
alternatif dalam bentuk pelayanan dukun ataupun tabib. Pelayanan ini sudah
berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa demand terhadap pelayaanan
pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai contoh, untuk berbagai
masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. Di samping itu, masalah
persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. Sebagian masyarakat
sangat memperhatikan status kesehatannya, sebagian lain tidak
memperhatikannya.

10
Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif.
Semakin tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting
untuk dicatat bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan
pasien yang mempunyai pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand
pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter.
Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan,
keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan
yang membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak
berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat
[Link] contoh, operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila
tidak ditolong segera, maka korban dapat meninggal atau cacat seumur hidup.
Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan
normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus
rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah
dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi
orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit.

Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan
kesehatan yang sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada pula
sebagian pelayanan kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu adanya
kenaikan penghasilan masyarakat justru menyebabkan penurunan konsumsi. Hal
ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai kota dan kabupaten.
Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi tidak menyukai
pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini diantisipasi oleh
rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan mampu. Masa
tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi dengan
menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor
penghasilan masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam
analisis demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.

11
Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam
hal demand pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat
tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi
kesehatan. Di samping itu, dikenal pula program pemerintah dalam bentuk
jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua. Program pemerintah
ini sering disebut sebagai asuransi sosial.
Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan
demand terhadap pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi
kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi
kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif sebagai hambatan untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit.
Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard.
Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan
pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, semakin banyak
penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demand akan pelayanan
kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi.

Variabel-Variabel Demografis dan Umur


Faktor umur sangat mempengaruhi demand terhadap pelayanan preventif dan
kuratif. Semakin tua seseorang sendiri meningkat demand-nya terhadap pelayanan
kuratif. Sementara itu, demand terhadap pelayanan kesehatan preventif menurun.
Dengan kata lain, semakin mendekati saat kematian, seseorang merasa bahwa
keuntungan dari pelayanan kesehatan preventif akan lebih kecil dibandingkan
dengan saat masih muda. Fenomena ini terlihat pada pola demografi di negara-
negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua. Pengeluaran untuk pelayanan
kesehatan menjadi sangat tinggi.

Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap
pelayanan kesehatan oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki.
Hasil ini sesuai dengan dua perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi
penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Kedua, karena angka kerja

12
wanita lebih rendah maka kesediaan meluangkan waktu untuk pelayanan
kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Akan tetapi, pada kasus-kasus
yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki tidaklah nyata.

Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang
lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran
akan status kesehatan, dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan
kesehatan.

Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan, yaitu
pengiklanan, tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta inflasi.
Iklan merupakan faktor yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas
ekonomi untuk meningkatkan demand. Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan
secara tradisional dilarang karena bertentangan dengan etika dokter dan apabila
akan diberikan maka dalam bentuk informasi mengenai pelayanan rumah sakit.
Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional seperti para tabib, dukun,
dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat kabar dan
majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor
pengiklanan sebagai salah satu cara peningkatan demand.
Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain
yang meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua
faktor lain tetap, kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan
meningkatkan jumlah operasi sebesar 3%.
Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan
mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan meningkatkan demand untuk
operasi tonsilektomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit
kandungan dengan peralatan operasi akan meningkatkan demand untuk pelayanan
bedah caesar. Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan
pada tarif pelayanan rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga, dan asuransi
kesehatan. Faktor ini harus diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi
tinggi, ataupun pada resesi ekonomi, demand terhadap pelayanan kesehatan akan

13
dapat terpengaruh. Pada saat krisis ekonomi di Indonesia, tercatat berbagai rumah
sakit di Yogyakarta tidak mengalami penurunan demand. Justru bangsal-bangsal
VIP tidak menurun penghuninya, bahkan menunjukkan kecenderungan naik.
Salah satu dugaan adalah pasien kaya yang biasa pergi ke Jakarta atau Singapura,
mengubah perilakunya untuk mencari penyembuhan pada rumah sakit di
Yogyakarta.
Ketika kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) merebak di
Singapura, pengamatan menunjukkan bahwa BOR kelas VIP di sebuah kota besar
di Indonesia ternyata meningkat. Ada kemungkinan penduduk Indonesia yang
demand mencari pengobatan biasa ke Singapura, kemudian mengubahnya ke
Indonesia akibat takut terkena SARS.

2.3 Menggunakan Konsep Demand untuk Perencanaan Rumah Sakit


Demand terhadap pelayanan kesehatan merupakan hal penting yang
mempengaruhi masa depan ataupun survival suatu rumah sakit. Oleh karena itu
informasi mengenai demand perlu diketahui. Informasi mengenai demand
membutuhkan pengukuran yang benar. Kesalahan melakukan penilaian terhadap
demand akan berakibat fatal dalam manajemen rumah sakit, terutama pada
pengembangan baru yang menggunakan kredit komersial.
Pengukuran demand menjadi penting karena secara tradisional pembelian
alat-alat atau pembangunan fasilitas baru rumah sakit pemerintah biasa dilakukan
berdasarkan proyek, tanpa melakukan pengukuran demand. Secara garis besar
pengukuran demand untuk pelayanan rumah sakit dapat dilakukan melalui analisis
pasar atau melakukan peramalan demand.

Riset Pasar
Tujuan analisis pasar adalah menyediakan informasi mengenai keadaan pasar
saat ini dan kemungkinan trend pasar di masa mendatang. Melalui informasi yang
diperoleh, rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan, menetapkan kebijakan
pelayanan baru, menetapkan tarif dan strategi promosi. Analisis pasar akan
menghasilkan profil pasar yang sebaiknya memuat informasi mengenai
konsumen, kinerja (performance) rumah sakit, dan keadaan pasar.

14
Pada profil pasar dalam hal konsumen akan diteliti mengenai jumlah total
konsumen, data epidemiologi, distribusi daerah tempat tinggal, pendapatan total,
pendapatan per rumah tangga, distribusi pendapatan, selera konsumen, ciri-ciri
dan frekuensi penggunaan pelayanan kesehatan oleh konsumen.
Profil mengenai keadaan pasar mencakup berbagai hal misalnya data
mengenai efek dari kenaikan tarif yang terkait dengan pengukuran elastisitas
harga. Adanya data mengenai efek kenaikan atau penurunan pendapatan
masyarakat dan pengaruhnya terhadap konsumsi rumah sakit akan menyangkut
elastisitas rumah sakit terhadap pendapatan.
Data lain adalah keunikan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit,
identifikasi pelayanan kesehatan, jumlah dan sifat pesaing. Situasi persaingan ini
harus dapat dianalisis tidak hanya dalam batas-batas wilayah tetapi juga
mencakup ke jangkauan transportasi ataupun kemampuan masyarakat dalam
menggunakan rumah sakit.
Kasus persaingan rumah sakit di Medan menunjukkan bahwa masyarakat
Sumatera Utara juga menggunakan rumah sakit di Malaysia. Bentuk kompetisi
yang dilakukan sudah seperti melakukan perjalanan wisata dengan operator yang
mengatur perjalanan untuk mencari kesehatan.
Dalam profil pasar rumah sakit perlu digambarkan pula mengenai pola sistem
rujukan kesehatan. Hal ini terkait dengan besarkecilnya rumah sakit dan
tersedianya fasilitas dan tenaga medis yang ahli dalam menangani suatu penyakit.
Sistem rujukan merupakan salah satu hal yang spesifik dalam karakteristik pasar
rumah sakit yang jarang ditemui di sektor lain. Sebagai contoh, pasar untuk
operasi jantung merupakan proses dari suatu sistem rujukan yang dapat dimulai
dari dokter umum, dokter spesialis jantung atau penyakit dalam, hingga dokter
ahli bedah jantung. Sistem rujukan ini dapat menjadikan suatu keadaan yang
monopoli atau perilaku monopoli dari dokter tertentu.
Contoh lain dari keadaan khas profil pasar rumah sakit adalah perubahan
teknologi pelayanan kesehatan. Dalam hal ini teknologi kesehatan berkembang
sangat cepat sehingga terkadang sulit untuk dipahami oleh konsumen. Cara
memahami perkembangan teknologi tentunya dengan mengikuti perkembangan
terakhir ilmu kedokteran melalui jurnal atau konferensi ilmiah.

15
Di dalam sektor kesehatan tidak dapat dihindari adanya produk substitusi
seperti pengobatan tradisional, tabib, sinshe, dukun yang memberikan pelayanan
kesehatan. Profil pasar perlu mencatat hal ini termasuk mempunyai data tarif
produk substitusi termasuk tarif dukun yang memberikan pelayanan rawat inap
seperti ahli patah tulang yang menyediakan tempat pemondokan.
Seperti sektor lainnya, profil pasar rumah sakit perlu mempunyai data
mengenai hal-hal umum dalam masyarakat, misalnya keadaan harga barang-
barang kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa ternyata
masyarakat Indonesia lebih memilih membelanjakan uang untuk rokok
dibandingkan untuk kesehatan. Perbandingan seperti ini penting untuk memahami
demand terhadap pelayanan kesehatan. Di samping itu, perlu diperhatikan
mengenai keadaan ekonomi, tingkat kegiatan, tingkat pengangguran, kebijakan
ekonomi dan kesehatan pemerintah serta besarnya pajak.
Data penting lain adalah perbandingan kinerja antarrumah sakit dalam suatu
wilayah. Dalam hal ini perlu dibandingkan besarnya BOR, Length of Stay, Turn
Over Interval dari tempat tidur, dan angka kunjungan berbagai rawat jalan. Dalam
perbandingan ini perlu dilihat trend yang terjadi. Dalam membandingkan data
tersebut akan terlihat pangsa pasar (market share) yang ada serta kelemahan dan
kekuatan kinerja setiap rumah sakit.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa pengukuran demand untuk pelayanan
rumah sakit merupakan hal sulit dan kompleks. Patut dicatat bahwa rumah sakit
merupakan lembaga yang multi produk. Jasa yang dihasilkan rumah sakit meliputi
rawat jalan, rawat inap, laboratorium, apotek, dan berbagai produk lainnya dengan
berbagai macam jenis spesialisasi. Oleh karena itu, konsep demand and supply
ilmu ekonomi yang membutuhkan ceteris paribus merupakan hal yang sangat sulit
dijumpai dalam sektor rumah sakit. Akan tetapi yang paling penting bahwa
terdapat konsep demand and supply yang harus diperhitungkan dalam mengelola
rumah sakit. Hasil analisis profil pasar ini akan sangat berguna untuk penyusunan
rencana usaha (business plan) rumah sakit.
Metode analisis pasar dapat menggunakan wawancara dan survei. Sebagai
contoh, jika tarif bangsal VIP rumah sakit dinaikkan apakah sasaran potensial
akan masih menggunakannya? Pertanyaanpertanyaan ini ditujukan ke sampel

16
sasaran melalui questionnaire. Agar dapat mewakili maka jumlah sampel harus
cukup besar. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan keadaan. Pertanyaan
mengenai penggunaan rumah sakit apabila tidak dirancang secara hati-hati dapat
menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah mengharapkan responden untuk jatuh
sakit. Cara lain adalah dengan mengadakan diskusi kelompok secara riset
kualitatif. Sekelompok sasaran potensial dikumpulkan untuk diajak membahas
pola kenaikan tarif bangsal VIP.

Forecasting Demand
Tindakan ini mempunyai pengertian kegiatan peramalan. Data yang ada akan
dianalisis untuk mendapatkan peramalan penggunaan rumah sakit di masa
mendatang. Masa mendatang ini dapat berupa jangka pendek (setahun) ataupun
jangka menengah dan panjang. Perlu diingat bahwa semakin panjang jangka
waktu yang diramalkan, maka potensi meleset hasil peramalan menjadi lebih
besar. Dalam hal ini terdapat tiga tahap peramalan demand.
Tahap 1, penilaian keadaan umum ekonomi nasional dan lokal. Penilaian ini
akan memberikan informasi mengenai kebijakan pemerintah dan
kemungkinankemungkinan dampak kebijakan baru terhadap tingkat pendapatan
masyarakat, trend kependudukan, epidemiologi, dan potensi sumber daya
masyarakat untuk pelayanan kesehatan. Pada tahap 2, dilakukan penilaian
terhadap demand total penduduk terhadap pelayanan kesehatan, khususnya rumah
sakit. Berbagai faktor demand yang ada harus diperhatikan dan disusun dalam
suatu model. Pada tahap 3, dilakukan penilaian posisi rumah sakit terhadap total
demand yang ada. Pada tahap ini dapat diuji coba beberapa tindakan, misalnya
merubah tarif untuk menguji pasar atau melakukan kegiatan-kegiatan pemasaran
sosial.
Cara peramalan demand ini dapat menggunakan ekonometrik yang
menggabungkan teori ekonomi dengan alat matematik dan statistik (Pappas dan
Hirschey, 1993). Beberapa keuntungan menggunakan teknik ekonometrik yaitu
pertama berbagai variabel yang mempengaruhi demand dapat diukur secara
eksplisit dan ditentukan hubungan sebab-akibatnya. Hal ini memberikan manfaat
berupa penyediaan hasil peramalan yang logis.

17
Manfaat kedua, pendekatan ekonometrik sangat tepat untuk menilai demand
dari periode waktu ke periode waktu lainnya (time-series). Manfaat ketiga dari
metode ekonometrik yaitu dapat memberikan informasi mengenai besarnya
pengaruh variabel dan arah pengaruhnya. Sebagai gambaran metode ekonometrik
dapat dipergunakan untuk mengukur demand pelayanan kesehatan yang
mempunyai model sebagai berikut:

Kelemahan Analisis Demand untuk Rumah Sakit


Analisis demand dalam rumah sakit mempunyai berbagai kelemahan yang
bersumber pada asumsi perilaku demand pada umumnya. Kelemahan pertama
bahwa masyarakat dapat memilih suatu jasa secara penuh (asas completeness).
Sebagai contoh, pada kasus tindakan bedah appendisitis akut, pasien tidak
mempunyai pilihan untuk membandingkan pelayanan dokter bedah, apalagi
pilihan untuk menunda operasi.
Dengan demikian, pilihannya terbatas yaitu dioperasi secepat mungkin. Di
sektor rumah sakit, akan sulit ditemui adanya pilihan konsumen yang bersifat
independen, bebas, tidak terpengaruh oleh faktor-faktor lain. Dalam hubungan
dokter dengan pasien, pilihan pasien dipengaruhi oleh dokter. Kasus pemakaian
USG merupakan contoh pemakaian alat kesehatan yang harus atas pengaruh
dokter. Pembelian obat dengan resep dokter merupakan contoh klasik dari tidak
adanya pilihan pasien.
Kelemahan analisis demand berikutnya terkait dengan asumsi non-satiation,
konsumen selalu memilih lebih banyak barang daripada sedikit. Dalam hal
konsumsi pelayanan rumah sakit, seseorang yang normal tentu tidak mengharap
ingin tinggal lama di bangsal rumah sakit atau terus-menerus mengunjungi
poliklinik rumah sakit.

18
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pada dasarnya konsep demand menyangkut tentang pengertian mengenai
keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs).
Kesimpulannya demand dapat diartikan sebuah keinginan seseorang untuk
menjadi lebih sehat dalam hidup yang didasarkan pada penilaian diri
terhadap status kesehatannya, kemudian keinginan untuk lebih sehat
tersebut diwujudkan dalam perilaku mencari pertolongan tenaga
kedokteran sehingga keadaan kesehatan yang oleh tenaga kedokteran
dinyatakan mendapatkan penanganan medis.
2. Terdapat 9 faktor yang mempengaruhi demand pada pelayanan kesehatan
& rumah sakit yaitu aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status
kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, jenis kelamin, ada
tidaknya sistem asuransi, penghasilan, variabel-variabel demografis dan
organisasi. Di samping itu, terdapat juga faktor lain misalnya,
pengiklanan, pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan,
serta pengaruh inflasi dimana faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait
secara kompleks.
3. Pada dasarnya demand terhadap pelayanan kesehatan merupakan hal
penting yang mempengaruhi masa depan ataupun survival suatu rumah
sakit. Informasi mengenai demand sangat penting diketahui karena
kesalahan melakukan penilaian terhadap demand akan berakibat fatal
dalam manajemen rumah sakit, terutama pada pengembangan baru yang
menggunakan kredit komersial. Dan kesimpulan terakhir adalah
pengukuran demand untuk pelayanan rumah sakit dapat dilakukan melalui
analisis pasar atau melakukan peramalan demand.

3.2 Saran

19
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Rafiy, 2019. Ekonomi Kesehatan. Kendari : AA-DZ Grafika

Mnadhir, 2017. Buku Ajar Ekonomi Kesehatan. Makassar : Research Gate

Ivan, 2017. Modul Ekonomi Kesehatan. Medan : AcerDate

Wasis, 2017. Analisis Permintaan (Demand Analysis) Pelayanan Kesehatan


Puskesmas Di Kabupaten Mojokerto. Surabaya : Badan Litbang Kesehatan

Haning Eriska, Ira, dan Thinni. 2018. Need and Demand Analysis of Health
Services at Puskesmas Siwalankerto Surabaya in National Health Insurance Era.
Surabaya : Poltekkes Program Studi Keperawatan Waingapu

Ayu Putu, Rini, dan Santi. 2018. Ekonomi Kesehatan. Denpasar : Universitas
Udayana

Widiani Irna, Junaid, dan Lisnawaty. 2015. Faktor Yang Berhubungan Dengan
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Puskesmas Tomia Timur
Kelurahan Tongano Timur Kabupaten Wakatobi Tahun 2015. Kendari :
Universitas Haluoleo

20

Anda mungkin juga menyukai